Anda di halaman 1dari 6

AKUNTANSI PAJAK DAN KOREKSI FISKAL

DISUSUN OLEH :

IMELDA ASRI LESTARI

IKHWAN IZZATURRAHMAN

LITA AGUSTIN PERMATA

UNIVERSITAS WINAYA MUKTI

JL.PAHLAWAN NO.69 BANDUNG


TAHUN 2014/2015
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
A. Akuntansi Pajak
o Pengertian Akuntansi
Akuntansi merupakan seni pencatatan, pengelompokkan, dan pengikhtisaran menurut
cara yang berarti dan dinyatakan dalam nilai uang.
o Pengertian Pajak
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU (yang dapat dipaksakan)
dengan tidak mendapat jasa-timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukan dan
yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Unsur-unsur dari definisi Pajak:
1. Pajak adalah suatu iuran atau kewajiban menyerahkan sebagian kekayaan
(pendapatan) kepada negara
2. Penyerahan itu bersifat wajib. Bagaimana jika tidak dilakukan? hutang itu dapat
dipaksakan dengan kekerasan seperi surat paksa dan sita
3. Perpindahan/ penyerahan itu berdasarkan UU/ Peraturan / Norma yang dibuat oleh
Pemerintah yang berlaku umum.
4. Tidak ada kontraprestasi Langsung dari Pemerintah (Pemungut iuran)
o Prinsip Akuntansi Pajak
Prinsip yang terdapat dalam akuntansi pajak adalah sebagai berikut:
1. Kesatuan Akuntansi
Pada prinsip ini, maka: (1) Perusahaan dianggap satu kesatuan ekonomi yang terpisah
dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumber-sumber perusahaan.
2. Kesinambungan
Prinsip ini mengatakan bahwa suatu entitas ekonomi diasumsikan akan terus menerus
melanjutkan usahanya dan tidak akan dibubarkan.
3. Harga Pertukaran Obyektif
Transaksi keuangan harus dinyatakan dengan nilai uang. Obyektif berarti sebagai
berikut: (a) tidak dipengaruhi oleh adanya hubungan istimewa, (b) dapat diuji oleh pihak
independen, (c) tidak terdapat transfer pricing, (d) tidak ada mark-up, tidak ada KKN, dan
sebagainya.
4. Konsistensi
Prinsip ini mengatakan bahwa penggunaan metode dalam pembukuan tidak bokeh
berubah-ubah. Misalkan: (a) penentuan tahun buku, (b) perhitungan penyusutan, (c)
perhitungan persediaan, (d) pengakuan nilai kurs valuta asing.
B. Koreksi Fiskal
Koreksi atau penyesuaian yang harus dilakukan oleh wajib pajak sebelum menghitung
Pajak Penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan dan wajib pajak orang pribadi (yang
menggunakan pembukuan dalam menghitung penghasilan kena pajak). Koreksi fiskal terjadi
karena adanya perbedaan perlakuan/pengakuan penghasilan maupun biaya antara akuntansi
komersial dengan akuntansi pajak.
Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Beda tetap.
Yaitu penghasilan dan biaya yang diakui dalam penghitungan laba neto untuk
akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam penghitungan akuntansi pajak.
Contoh penghasilan : sumbangan, Penghasilan bunga deposito.
Contoh biaya : biaya sumbangan, biaya sanksi perpajakan.
b. Beda waktu
Yaitu penghasilan dan biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi komersial atau
sebaliknya, tetapi tidak dapat diakui sekaligus oleh akuntansi pajak, biasanya karena
perbedaan metode pengakuan.
Contoh penghasilan : pendapatan laba selisih kurs
Contoh biaya : biaya penyusutan, biaya sewa
o Jenis-Jenis Koreksi Fiskal:
Jenis koreksi fiskal di sini merupakan jenis-jenis perbedaan antara akuntansi
komersial dengan ketentuan fiskal (UU Nomor 10 TAHUN 1994 jo UU Nomor 17 Tahun
2000), yaitu terdiri dari:
1. Beda Tetap :
Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan sedangkan menurut ketentuan
PPh bukan penghasilan. Misalnya dividen yang diterima oleh Perseroan Terbatas
sebagai wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal sebesar 25% atau lebih pada
badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia.
Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut ketentuan
PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final. Penghasilan ini dikenakan pajak
tersendiri (final) sehingga dipisahkan (tidak perlu digabung) dengan penghasilan
lainnya dalam menghitung PPh yang terutang. Misalnya : penghasilan atas bunga
deposito atau tabungan lainnya yang telah dipotong PPh Final oleh Bank sebesar
20%.
2. Beda Waktu :
Beda waktu merupakan perbedaan metode yang digunakan antara akuntansi komersial
dengan ketentuan fiskal, misalnya ;
Metode penyusutan
Metode penilaian persediaan
Penyisihan piutang tak tertagih
Rugi-laba selisih kurs
Dan sebagainya
Koreksi fiskal ada dua macam, yakni koreksi fiskal POSITIF dan koreksi fiskal NEGATIF:
1. Koreksi Fiskal Positif, koreksi yang dilakukan atas Laba Rugi Komersial yang
menghasilkan Laba Fiskal lebih besar dari pada Laba Komersial (atau Rugi Fiskal
lebih kecil dari pada Rugi Komersial).
Contoh:
Uraian Komersial Fiskal Keterangan
Pemberian sembako untuk pegawai diakui Tidak diakui Harus dikoreksi
Pemberian fasilitas rekreasi u/ pegawai diakui Tidak diakui Harus dikoreksi
Pemberian fasilitas tempat tinggal u/pegawai diakui Tidak diakui Harus dikoreksi
Akibat dari adanya koreksi ini maka biaya yang dihitung secara fiskal menjadi lebih
kecil dari pada biaya yang dihitung secara komersial. Akibat selanjutnya laba yang
dihitung secara fiskal menjadi lebih besar dari pada laba yang dihitung secara
komersial. Karena laba yang dihitung secara fiskal menjadi lebih besar maka disebut
koreksi fiskal positif.
Koreksi fiskal positif diantaranya:
a. Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara pendapatan
b. Biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang PKP
c. Biaya yang diakui lebih kecil, seperti penyusutan, amortisasi, dan biaya yang
ditangguhkan menurut WP lebih tinggi
d. Biaya yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
e. Biaya yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final

2. Koreksi Fiskal Negatif, koreksi yang dilakukan atas Laba Rugi Komersial yang
menghasilkan Laba Fiskal lebih kecil dari pada Laba Komersial (atau Rugi Fiskal
lebih besar dari pada Rugi Komersial).
Contoh:
Penyusutan dalam perhitungan Laba Rugi menggunakan Metode Garis Lurus untuk
jangka waktu lima tahun untuk aset senilai Rp100.000.000. Perhitungan penyusutan
Komersial-nya adalah sbb:
Rp100.000.00
Harga perolehan
0
Penyusutan tahun pertama
Rp20.000.000
20%
Penyusutan dalam perhitungan Laba Rugi Fiskal menggunakan Metode Sado
Menurun dengan tarif 25% dari Nilai Sisa Buku. Perhitungan penyusutan Fiskalnya
adalah sbb:
Harga perolehan Rp100.000.000
Penyusutan tahun pertama 25% Rp25.000.000
Penyusutan tahun pertama adalah 25% dari nilai perolehan, karena pada tahun
pertama nilai bukunya sama dengan nilai perolehan. Jika diperbandingkan antara
penyusutan komersial dengan penyusutan komersial akan tampak sebagai berikut:
Uraian Komersial Fiskal Keterangan
Penyusutan Rp20.000.000 Rp25.000.000 Harus dikoreksi sebesar Rp5.000.000
Penyusutan fiskal pada contoh tersebut diatas lebih besar Rp5.000.000 dari pada
penyusutan komer-sial. Karena penyusutan sebagai beban secara fiskal dihitung lebih
besar maka akibatnya penghasilan secara fiskal menjadi lebih kecil. Karena laba
secara fiskal menjadi lebih kecil (atau rugi secara fiskal menjadi lebih besar), maka
disebut koreksi fiskal negative.
Koreksi fiskal negatif diantaranya :
a. Biaya yang diakui lebih besar, seperti penyusutan menurut WP lebih rendah,
selisih amortisasi, dan biaya yang ditangguhkan pengakuannya
b. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
c. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final
o Perbedaan Koreksi Fiskal
Terdapat perbedaan dalam perlakuan penetapan pendapatan dan biaya menurut
Undang-Undang Perpajakan Perbedaan Koreksi Fiskal.
Terdapat perbedaan dalam perlakuan penetapan pendapatan dan biaya menurut
Undang-Undang Perpajakan Nomor 17 Tahun 2000 dengan Standar Akuntansi Keuangan
sebagai akibat dari adanya beda tetap dan beda sementara; perlakuan akuntansi terhadap
perbedaan tersebut perlu dilakukan rekonsiliasi antara laporan keuangan komersil dengan
laporan keuangan fiskal; dan pengaruh perbedaan tersebut terhadap laporan keuangan yaitu
pada besarnya jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha. Nomor 17 Tahun 2000 dengan
Standar Akuntansi Keuangan sebagai akibat dari adanya beda tetap dan beda sementara;
perlakuan akuntansi terhadap perbedaan tersebut perlu dilakukan rekonsiliasi antara laporan
keuangan komersil dengan laporan keuangan fiskal; dan pengaruh perbedaan tersebut
terhadap laporan keuangan yaitu pada besarnya jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha.
o Pengertian Rekonsiliasi Fiskal
Karena terjadi perbedaan pengakuan dalam menyusun laporan keuangan antara
komersil dengan perpajakan maka perlu dilakukan penyesuaian atau rekonsiliasi fiskal.
Rekonsiliasi fiskal adalah suatu mekanisme penyesuaian pelaporan keuangan wajib pajak
badan menurut ketentuan komersial diubah menjadi menurut ketentuan perpajakan atau
fiskal. Rekonsiliasi fiskal adalah sebuah lampiran SPT tahunan PPh Badan berupa kertas
kerja yang berisi penyesuaian antara laba/rugi sebelum pajak menurut komersial dengan
laba/rugi menurut SPT Tahunan (perpajakan).
Untuk melakukan penghitungan PPh Badan, harus diketahui laba fiskal dalam tahun
pajak yang didapat dari rekonsiliasi fiskal. Rekonsiliasi fiskal dilakukan terhadap seluruh
unsur penyusunan laporan laba rugi, meliputi pendapatan dan biaya, secara ringkas
rekonsiliasi fiskal dilakukan terhadap :
1. Wajib pajak yang memiliki penghasilan final
2. Wajib pajak yang memiliki penghasilan yang bukan objek pajak
3. Wajib pajak mengeluarkan biaya-biaya yang tidak boleh menjadi pengurang
penghasilan (pasal 9 UU PPh)
4. Wajib pajak mengeluarkan biaya yang boleh menjadi pengurang (biaya fiskal)
tetapi metode pengakuan biaya tersebut diatur oleh ketentuan fiskal
5. Wajib pajak mengeluarkan biaya yang dikeluarkan bersama untuk mendapatkan
pendapatan yang telah dikenakan PPh final
Dalam rekonsiliasi fiskal terdapat koreksi fiskal. Dimana koreksi fiskal ini terdiri dari
koreksi positif dan koreksi negatif. Koreksi positif adalah koreksi yang mengakibatkan laba
fiskal bertambah atau rugi fiskal berkurang. Koreksi negatif adalah koreksi yang
mengakibatkan laba fiskal berkurang atau rugi fiskal bertambah.