Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

KETUBAN PECAH DINI


DI RUANG ALAMANDA II
RSUD. PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

Disusun Oleh:

Dwi Sasmoko Adji 20164030045


Ferry Ardani 20164030045
Rizaluddin Akbar 20164030045

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
Laporan Pendahuluan
Ketuban Pecah Dini (KPD)

A. Pengertian KPD
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan
(Manuaba, 1998).
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada
sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001).
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat
terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan
aterm. (saifudin,2002)
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan
membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut.
Berkurangnya kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari
vagina serviks. (Sarwono Prawiroharjo, 2002)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila
pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Sarwono
Prawirohardjo, 2005)

B. Etiologi KPD
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum
diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan
faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang
lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi
adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari
vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD.
Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun
amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.
4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain
a. Faktor golongan darah
b. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan
kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.
c. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
d. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
e. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

C. Faktor Resiko
Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm
1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
2. riwayat persalinan preterm sebelumnya
3. perdarahan pervaginam
4. pH vagina di atas 4.5
5. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban.
6. flora vagina abnormal
7. fibronectin > 50 ng/ml
8. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada
stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm
9. Inkompetensi serviks (leher rahim)
10. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
11. Riwayat KPD sebelumya
12. Trauma
13. servix tipis / kurang dari 39 mm, Serviks (leher rahim) yang pendek
(<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
14. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis

Faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm


1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatic
2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-
eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi
intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks,
servisitis/vaginitis akut, Ketuban Pecah pada usia kehamilan preterm.
3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan
janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban
pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.
5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau
lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.
6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis,
aktifitas uterus idiopatik
Menurut Taylor menyelidiki bahwa ada hubungan dengan hal-hal berikut :
- Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban
pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis dan vaginitis
terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas rahim ini.
- Selaput ketuban terlalu tipis ( kelainan ketuban )
- Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis )
- Factor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara, malposisi,
disproporsi, cervix incompetent dan lain-lain.
- Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi ), dimana ketuban dipecahkan
terlalu dini.
Fisiologi
Di dalam ruang yang diliputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion
dan lapisan korion terdapat likuora amnii (air ketuban). Volume likuor amnii pada
hamil cukup bulan adalah 1.000-1.500 ml. Warna putih, agak keruh serta mempunyai
bau yang khas yaitu bau amis dan berasa amis. Reaksinya agak alkalis dan netral
dengan berat jenis 1.008. Komposisinya terdiri atas 98% air dan sisanya terdiri atas
garam organik serta bahan organik dan bila teliti dengan benar terdapat rambut lanugo
sel-sel epitel dan vernik kaseosa, protein ditemukan rata-rata 2,6% gr/liter sebagian
besar sebagai albumen.
Peredaran cairan ketuban sekitar 500 cc/jam atau sekitar 1% terjadi gangguan
peredaran pada air ketuban melebihi 1.500 cc air ketuban dapat digunakan sebagai
bahan penelitian untuk kematangan paru-paru janin (Sarwono, 199)
Faal air ketuban :
a. Untuk proteksi janin
b. Mencegah pelengketan janin dengan amnion.
c. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
d. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
e. Meratakan tekanan intra uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban
pecah.
f. Menyebarkan kekuatan his sehingga serviks membuka.
g. Sebagai pelicin saat persalinan.
D. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :
- Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi.
- Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah
pecah dengan mengeluarkan air ketuban.
- Banyak teori, yang menentukan hal hal diatas seperti defek kromosom,
kelainan kolagen sampai infeksi.
- Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler
korion dan trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi
interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin,
menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada
selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah
spontan.

E. Pathway
F. Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan
tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah.
Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah
cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan
dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina
adalah 4 - 4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1 - 7,3. Tes tersebut dapat
memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah,
semen, lendir leher rahim, dan air seni.
1. Ultrasonografi
Ultrasonografi dapat mengindentifikasikan kehamilan ganda, anormaly janin
atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis.
2. Amniosintesis
Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan
paru janin.
3. Pemantauan janin
Membantu dalam mengevaluasi janin
4. ProteinC-reaktif
Peningkatan protein C-reaktif serum menunjukkan peringatan
korioamnionitis

H. Penatalaksaan
Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam
rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensial. Oleh karena itu,
penatalaksanaan ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang rinci, sehingga dapat
menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim. Memberikan
profilaksis antibiotik dan membatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang
perlu diperhatikan. Disamping itu makin kecil umur kehamilan makin besar peluang
terjadi infeksi dalam lahir yang dapat memicu terjadinya persalinan prematuritas
bahkan berat janin kurang dari 1 kg (Manuaba, 1998).
a. Penanganan Konservatif
1) Rawat di rumah sakit
2) Berikan antibiotika (Ampicillin 4 x 500 mg/eritromisin) dan Metronidazole.
3) Jika umur kehamilan 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar
atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Jika umur kehamilan 34-37 minggu belum inpartu, tidak ada infeksi berikan
tokolitik, deksametason dan induksi sesudah 2 jam.
5) Jika umur kehamilan 34-37 minggu ada infeksi beri antibiotik dan lakukan
induksi.
6) Nilai tanda-tanda infeksi.
7) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid untuk memicu kematangan
paru janin (Sarwono, 2001).
b. Penanganan Aktif
1) Kehamilan lebih dari 37 minggu, induksi oxytiksin bila gagal seksio caesaria
dapat pula diberikan Misoprostol 50 mg intra vaginal tiap 6 jam maksimal 4
kali.
2) Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi dan kehamilan
diakhiri.
Konservatif
1) Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
2) Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
3) Umur kehamilan kurang 37 minggu.
4) Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
5) Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid
untuk mematangkan fungsi paru janin.
6) Jangan melakukan periksaan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan.
7) Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.
8) Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka
lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan
terminasi kehamilan.

Aktif
Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan
tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
1) Induksi atau akselerasi persalinan.
2) Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.
3) Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.

I. Komplikasi
1) infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
2) persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3) prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia
(sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4) oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.
Komplikasi infeksi intrapartum
- komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia),
sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat
banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.
- komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

J. Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul


1) Risiko infeksi, (factor resiko: infeksi intra partum, infeksi uterus berat, gawat
janin)
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Risiko infeksi NOC : NIC :


Immune Status Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko : Knowledge : Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif Infection control Cuci tangan setiap sebelum
- Kerusakan jaringan dan Risk control dan sesudah tindakan
peningkatan paparan Setelah dilakukan keperawatan
lingkungan tindakan keperawatan Gunakan baju, sarung tangan
- Malnutrisi selama pasien sebagai alat pelindung
- Peningkatan paparan tidak mengalami infeksi Ganti letak IV perifer dan
lingkungan patogen dengan kriteria hasil:
- Imonusupresi dressing sesuai dengan
Klien bebas dari petunjuk umum
- Tidak adekuat pertahanan tanda dan gejala Gunakan kateter intermiten
sekunder (penurunan Hb, infeksi
Leukopenia, penekanan untuk menurunkan infeksi
Menunjukkan
respon inflamasi) kandung kencing
kemampuan untuk
- Penyakit kronik Tingkatkan intake nutrisi
mencegah
- Imunosupresi timbulnya infeksi Berikan terapi
- Malnutrisi Jumlah leukosit antibiotik:...............................
- Pertahan primer tidak ..
dalam batas normal
adekuat (kerusakan kulit, Monitor tanda dan gejala
Menunjukkan
trauma jaringan, gangguan infeksi sistemik dan lokal
peristaltik) perilaku hidup sehat
Status imun, Pertahankan teknik isolasi k/p
gastrointestinal, Inspeksi kulit dan membran
genitourinaria mukosa terhadap kemerahan,
dalam batas normal panas, drainase
Monitor adanya luka
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

2) Kecemasan (Ansietas) b.d Perubahan dalam: status kesehatan


Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/ Tujuan dan Kriteria Intervensi
Masalah Kolaborasi Hasil
Kecemasan berhubungan NOC : NIC :
dengan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
Faktor keturunan, Krisis - Koping (penurunankecemasan)
situasional, Stress,
Setelah dilakukan asuhan Gunakan pendekatan yang
perubahan status
selama klien menenangkan
kesehatan, ancaman kecemasan teratasi dgn Nyatakan dengan jelas
kematian, perubahankriteria hasil: harapan terhadap pelaku
konsep diri, kurang Klien mampu pasien
pengetahuan dan mengidentifikasi dan Jelaskan semua prosedur
hospitalisasi mengungkapkan dan apa yang dirasakan
gejala cemas selama prosedur
DO/DS: Mengidentifikasi, Temani pasien untuk
- Insomnia mengungkapkan dan memberikan keamanan
- Kontak mata kurang menunjukkan tehnik dan mengurangi takut
- Kurang istirahat untuk mengontol
- Berfokus pada diri Berikan informasi faktual
cemas
sendiri mengenai diagnosis,
Vital sign dalam
- Iritabilitas tindakan prognosis
batas normal
- Takut Libatkan keluarga untuk
Postur tubuh,
- Nyeri perut mendampingi klien
ekspresi wajah,
- Penurunan TD dan Instruksikan pada pasien
bahasa tubuh dan
denyut nadi tingkat aktivitas untuk menggunakan
- Diare, mual, kelelahan menunjukkan tehnik relaksasi
- Gangguan tidur berkurangnya Dengarkan dengan penuh
- Gemetar kecemasan perhatian
- Anoreksia, mulut kering Identifikasi tingkat
- Peningkatan TD, denyut kecemasan
nadi, RR Bantu pasien mengenal
- Kesulitan bernafas situasi yang menimbulkan
- Bingung kecemasan
- Bloking dalam Dorong pasien untuk
pembicaraan
mengungkapkan perasaan,
- Sulit berkonsentrasi
ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat
anti cemas:........

3) Defisiensi Pengetahuan b.d keterbatasan kognitif dalam hal mengenal tanda dan
gejala penyakit
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kurang Pengetahuan NOC: NIC :
Berhubungan dengan : Kowlwdge : Kaji tingkat pengetahuan
keterbatasan kognitif, disease process pasien dan keluarga
interpretasi terhadap informasi Kowledge : health Jelaskan patofisiologi dari
yang salah, kurangnya Behavior penyakit dan bagaimana
keinginan untuk mencari Setelah dilakukan hal ini berhubungan dengan
informasi, tidak mengetahui tindakan keperawatan anatomi dan fisiologi,
sumber-sumber informasi. selama . pasien dengan cara yang tepat.
menunjukkan Gambarkan tanda dan
pengetahuan tentang gejala yang biasa muncul
DS: Menyatakan secara verbal proses penyakit pada penyakit, dengan cara
adanya masalah dengan kriteria hasil: yang tepat
DO: ketidakakuratan Pasien dan Gambarkan proses
mengikuti instruksi, keluarga penyakit, dengan cara yang
perilaku tidak sesuai menyatakan tepat
pemahaman Identifikasi kemungkinan
tentang penyakit, penyebab, dengan cara
kondisi, prognosis yang tepat
dan program
Sediakan informasi pada
pengobatan
pasien tentang kondisi,
Pasien dan
dengan cara yang tepat
keluarga mampu
Sediakan bagi keluarga
melaksanakan
prosedur yang informasi tentang kemajuan
dijelaskan secara pasien dengan cara yang
benar tepat
Pasien dan Diskusikan pilihan terapi
keluarga mampu atau penanganan
menjelaskan Dukung pasien untuk
kembali apa yang mengeksplorasi atau
dijelaskan mendapatkan second
perawat/tim opinion dengan cara yang
kesehatan lainnya tepat atau diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat

4) Nyeri akut b.d agen cidera (fisik) luka operasi


Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan: Pain Level, Lakukan pengkajian nyeri
Agen injuri (biologi, kimia, pain control, secara komprehensif
fisik, psikologis), kerusakan comfort level termasuk lokasi, karakteristik,
jaringan Setelah dilakukan durasi, frekuensi, kualitas dan
tinfakan keperawatan faktor presipitasi
DS: selama . Pasien Observasi reaksi nonverbal
- Laporan secara verbal tidak mengalami dari ketidaknyamanan
DO: nyeri, dengan kriteria Bantu pasien dan keluarga
- Posisi untuk menahan nyeri hasil: untuk mencari dan
- Tingkah laku berhati-hati Mampu mengontrol menemukan dukungan
- Gangguan tidur (mata sayu, nyeri (tahu penyebab Kontrol lingkungan yang
tampak capek, sulit atau nyeri, mampu dapat mempengaruhi nyeri
gerakan kacau, menyeringai) menggunakan tehnik seperti suhu ruangan,
- Terfokus pada diri sendiri nonfarmakologi pencahayaan dan kebisingan
- Fokus menyempit untuk mengurangi Kurangi faktor presipitasi
(penurunan persepsi waktu, nyeri, mencari nyeri
kerusakan proses berpikir, bantuan) Kaji tipe dan sumber nyeri
penurunan interaksi dengan
Melaporkan bahwa untuk menentukan intervensi
orang dan lingkungan)
nyeri berkurang Ajarkan tentang teknik non
- Tingkah laku distraksi,
dengan farmakologi: napas dala,
contoh : jalan-jalan,
menggunakan relaksasi, distraksi, kompres
menemui orang lain
manajemen nyeri hangat/ dingin
dan/atau aktivitas, aktivitas
berulang-ulang) Mampu mengenali Berikan analgetik untuk
- Respon autonom (seperti nyeri (skala, mengurangi nyeri: ...
diaphoresis, perubahan intensitas, frekuensi Tingkatkan istirahat
tekanan darah, perubahan dan tanda nyeri) Berikan informasi tentang
nafas, nadi dan dilatasi Menyatakan rasa nyeri seperti penyebab nyeri,
pupil) nyaman setelah berapa lama nyeri akan
- Perubahan autonomic dalam nyeri berkurang berkurang dan antisipasi
tonus otot (mungkin dalam Tanda vital dalam ketidaknyamanan dari
rentang dari lemah ke kaku) rentang normal prosedur
- Tingkah laku ekspresif Tidak mengalami Monitor vital sign sebelum
(contoh : gelisah, merintih, gangguan tidur dan sesudah pemberian
menangis, waspada, iritabel, analgesik pertama kali
nafas panjang/berkeluh
kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum

DAFTAR PUSTAKA
Nanda International, Nursing Diagnosis: Deffintion & Classification 2009-2011.
Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-
2011. Jakarta : EGC. Allih bahasa: Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Etsu Tiar.
Wilkinson, M. Judith. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta :
EGC.
Prawirohajo, sarwono. 2008. Ilmu kebidanan. Jakarta : PT bina pustaka.
Manjoer, arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Jakarta : Aesculapius.
Jhonson, Marion., Meridean Maas. (2000). Nursing Outcomes Classification
(NOC). St. Louis: Mosby