Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Kejadian traumatik merupakan peristiwa kehidupan yang dapat mengenai


setiap orang. Dalam setiap kejadian traumatik yang terjadi, selalu ada implikasi
kesehatan jiwa, baik dalam kasus akibat bencana alam, misalnya gempa bumi,
tsunami, angin ribut, atau pada bencana yang diakibatkan oleh manusia, misalnya
perang, serangan teroris, kekerasan interpersonal, dan lain-lain. Dampak dari
kejadian traumatik yang dialami oleh setiap orang tidaklah sama. Anak-anak lebih
rentan dan sensitif terhadap dampak dari kejadian trauma yang dialaminya.
Pada beberapa orang, pengalaman di atas sangat ekstrem sehingga mereka
tidak dapat menerima kenyataan yang dialaminya. Pengalaman traumatis ini
dipersepsikan sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan bagi korban.
Pengalaman traumatis itu bisa menimbulkan perasaan cemas jika bencana itu
terjadi kembali. Selain itu juga akan menimbulkan perasaan tidak terima dengan
kondisi yang ada saat ini dimana para korban telah kehilangan keluarga, tempat
tinggal, pekerjaan, serta harta kekayaannya. Pengalaman traumatis ini bisa
terbawa dalam ingatan korban selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Kejadian traumatik yang dialami bila tidak dapat diatasi dengan baik dapat
menimbulkan suatu kumpulan gejala yang berkaitan dengan kecemasan,
kompleksitas gangguan kecemasan ini dikenal sebagai gangguan stres pasca
trauma (Posttraumatic Stress Disorder/ PTSD).
Diperkirakan 70 persen orang dewasa mendapatkan pengalaman traumatis
sekali dalam hidupnya dan lebih dari 20 persen dari mereka akan berkembang
menjadi PTSD. Setiap orang dapat menderita PTSD, laki-laki, perempuan, anak-
anak, tua dan muda. Korban trauma yang berhubungan dengan serangan fisik dan
seksual menghadapi resiko yang besar untuk berkembang menjadi PTSD. Wanita
dua kali lebih besar mengalami PTSD dari pada laki-laki. Hal ini mungkin
disebabkan karena fakta bahwa wanita lebih mungkin mengalami kekerasan
interpersonal, seperti perkosaan atau pelecehan fisik dan seksual, terutama pada
masa kecil. Wanita juga mengalami trauma yang berulang, sebagaimana pada
kasus kekerasan dalam rumah tangga.

1
Menurut National Center for PTSD, lima juta anak di Amerika Serikat
terpapar dengan kejadian traumatik setiap tahunnya dan 36% di antaranya
mengalami gangguan stress pasca trauma. Menurut Stephen, et al. (2005),
semakin muda usia anak yang mengalami trauma semakin besar kemungkinan
berkembang menjadi gangguan stress pasca trauma. Di Amerika Serikat
sebanyak 39% periode anak awal yang mengalami trauma berkembang menjadi
gangguan stress pasca trauma, 33% pada periode anak akhir, dan 27% pada
periode remaja.
Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Menurut data dari
klinik psikiatri RSCM/FKUI yang difungsikan sebagai Pusat Rujukan nasional
untuk pengobatan psikis bagi korban bencana melihat makin tingginya angka
kejadian bencana yang terjadi di Tanah Air belakangan ini. Kondisi itu membuat
prevalensi penderita gangguan stres pasca trauma meningkat.4 Salah satu
bencana alam yang terbesar yakni, tsunami di Aceh yang terjadi pada tanggal 26
Desember 2004 dan mengakibatkan sekitar 165.708 korban jiwa meninggal. 5
Kejadian ini menyisakan duka yang mendalam akibat ditinggalkan keluarga yang
dicintainya terutama pada anak-anak, mereka masih sangat membutuhkan orang
tuanya dalam menjalani kehidupan dan hal ini dapat menyebabkan gangguan
kejiwaannya dalam masa perkembangannya. Berdasarkan survei dari Universitas
Indonesia (UI) yang dibiayai WHO terhadap anak-anak di Aceh pasca tsunami
menunjukkan bahwa sebanyak 20%-25% di antaranya mengalami ganguan stress
pasca trauma dan membutuhkan pertolongan dari tenaga ahli psikiater.
Memberikan pemahaman dan mencari interfensi sangatlah penting untuk
dapat menangani gejala-gejala yang berlebihan dan menetap, dan dapat menolong
seseorang untuk mendapatkan kembali hidup mereka.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

2
Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stress pasca trauma
merupakan sindrom kecemasan, labilitas otonomik, dan mengalami kilas balik
dari pengalaman yang amat pedih setelah stres fisik maupun emosi ynag
melampaui batas ketahanan orang biasa.1 Selain itu, gangguan stress pascatrauma
(PTSD) dapat pula didefinisikan sebagai keadaan yang melemahkan fisik dan
mental secara ekstrim yang timbul setelah seseorang melihat, mendengar, atau
mengalami suatu kejadian trauma yang hebat dan atau kejadian yang
mengancam kehidupannya.2
National Institute of Mental Health (NIMH) mendefinisikan gangguan stress
pasca trauma (PTSD) sebagai gangguan berupa kecemasan yang timbul setelah
seseorang mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa atau fisiknya.
Peristiwa trauma ini bisa berupa serangan kekekerasan, bencana alam yang
menimpa manusia, kecelakaan ataupun perang.3 Dalam Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, (DSM-IV-TR), PTSD didefinisikan sebagai suatu
kejadian atau beberapa kejadian trauma yang dialami atau disaksikan secara
langsung oleh seseorang berupa kematian atau ancaman kematian, atau cidera
serius, atau ancaman terhadap integritas fisik atas diri seseorang. Kejadian
tersebut harus menciptakan ketakutan ynag ekstrem, horror, atau rasa tidak
berdaya.4 Menurut Departemen Kesehatan RI (Depkes RI) gangguan stress pasca
trauma merupakan reaksi dari individu terhadap kejadian yang luar biasa akibat
dari pengalaman seseorang pada suatu peristiwa yang bersifat amat hebat dan luar
biasa, jauh dari pengalaman yang normal bagi seseorang.5
2.2 Epidemiologi
Secara umum, prevalensi seumur hidup gangguan stress pasca trauma di
Amerika Serikat sekitar 8%. Dari data statistik di Amerika Serikat diperkirakan
setidaknya terdapat lebih dari 40% anak dan remaja pernah mengalami kejadian
trauma dan berkembang menjadi PTSD sebesar 15% pada anak perempuan dan
6% pada anak laki-laki. Dari 3%-6% remaja yang selamat dari kejadian trauma
bencana alam di Amerika Serikat, 30%-60% diantaranya mengalami PTSD. Pada
anak yang melihat orang tuanya dibunuh serta yang mengalami kekerasan fisik
maupun seksual hampir 100% cenderung mengalami PTSD.4

3
Di Indonesia meskipun belum terdapat data yang pasti berapa jumlah anak
yang mengalami PTSD akibat kejadian trauma bencana alam akan tetapi dapat
dikatakan jumlah anak yang mengalami PTSD meningkat seiring dengan angka
kejadian bencana alam yang makin tinggi belakangan ini.4 Di Indonesia sendiri,
angka-angka kekerasan terhadap anak tidak pernah menunjukkan angka menurun,
kecenderungannya selalu meningkat, World Vision yang melakukan pendataan ke
berbagai daerah menemukan angka 1.891 kasus kekerasan selama tahun 2009,
pada tahun 2008 hanya ada 1600 kasus . Sementara pengaduan langsung ke KPAI
tahun 2008 ada 580 kasus dan tahun 2009 ada 595 kasus. Angka pastinya sulit
diperoleh karena banyak kasus kekerasan yang tidak dilaporkan. Akan tetapi,
jelas bahwa angka kekerasan anak di Indonesia terus mengalami peningkatan dan
hal ini berdampak terhadap peningkatan prevalensi PTSD pada anak Indonesia.

2.3 Etiologi
Stresor atau kejadian trauma merupakan penyebab utama dalam
perkembangan gangguan stres pasca trauma. Ketika kita dalam keadaan takut dan
terancam, tubuh kita mengaktifkan respon fight or flight. Dalam reaksi ini tubuh
mengeluarkan adrenalin yang menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut
jantung, glikogenolisis. Setelah ancaman bahaya itu mulai hilang maka tubuh
akan memulai proses inaktivasi respon stress dan proses ini menyebabkan
pelepasan hormon kortisol. Jika tubuh tidak melepaskan kortisol yang cukup
untuk menginaktivasi reaksi stress maka kemungkinan kita masih akan merasakan
efek stress dari adrenalin. Pada korban trauma yang berkembang menjadi PTSD
seringkali memiliki hormon stimulasi (katekolamin) yang lebih tinggi bahkan
pada saat kondisi normal. Hal ini mengakibatkan tubuh terus berespon seakan
bahaya itu masih ada. Setelah sebulan dalam kondisi ini, di mana hormon stres
meningkat pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan fisik. Stresor dapat
berasal dari bencana alam, bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia, ataupun
akibat kecelakaan. Stresor akibat bencana alam antara lain: menjadi korban yang
selamat dari tsunami, gempa bumi, badai. Kejadian trauma akibat ulah manusia
antara lain: menjadi korban banjir, penculikan, perkosaan, kekerasan fisik, melihat

4
pembunuhan, perang, dan kejahatan kriminal lainnya di mana ia tinggal. Kejadian
trauma juga dapat terjadi akibat kecelakaan baik, yang menyebabkan cidera fisik
maupun yang tidak. Pada pasien yang menerima hasil diagnosis penyakit yang
mematikan baik terhadap dirinya ataupun orang terdekatnya dapat menjadi
stresor.6 Akan tetapi tidak semua orang akan mengalami gangguan stres pasca
trauma setelah suatu peristiwa traumatik. Walaupun stresor diperlukan, namun
stresor tidaklah cukup untuk menyebabkan gangguan. Terdapat beberapa faktor
yang harus dipertimbangkan antara lain:7
Faktor biologis
Pada anak yang sebelumnya memiliki gangguan cemas memiliki
risiko lebih tinggi berkembang menjadi PTSD setelah mengalami
trauma. Hal ini berhubungan dengan faktor predisposisi genetik di
mana, seseorang yang memiliki riwayat gangguan depresi dan
gangguan cemas di keluarganya menjadi faktor predisposisi PTSD
setelah anak tersebut terpapar dengan kejadian traumatik.
Pada anak yang mengalami PTSD ditemukan beberapa
abnormalitas psikobiologikal antara lain: perubahan kompleks dalam
fungsi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, terjadinya peningkatan
ekskresi metabolit adrenergik dan dopaminergik, volume intrakranial
dan area korpus kolusum yang lebih kecil, defisit memori, dan IQ yang
rendah.
Faktor psikologi
Classical dan operant conditioning dapat diimplikasikan pada
perkembangan terjadinya PTSD. Stresor yang ekstrem secara tipikal
menimbulkan emosi yang negatif ( sedih, marah, takut) sebagai bagian
dari gejala hiperarousal akibat aktivasi dari sistem saraf simpatis
(fight or flight response). Classical conditioning terjadi pada saat
seseorang yang mengalami peristiwa trauma kembali ke tempat
terjadinya trauma maka akan timbul reaksi psikologi yang tidak
disadari dan merupakan respon refleks yang spesifik. Misalnya, pada
anak yang mengalami kecelakaan mobil yang serius akan timbul

5
respon berupa ketakutan, berkeringat, takkardi setiap kali dia melewati
tempat kejadian tersebut. Operant conditioning terjadi sebagai hasil
dari pengalaman kejadian trauma yang dialaminya sehingga
didapatkan tingkah laku yang tidak disukai dan tidak akan diulangi.
Misalnya, pada anak yang mengalami kecelakaan mobil maka ia
akan berusaha untuk menghindari berada di dalam mobil.
Modelling merupakan mekanisme psikologikal lainnya yang turut
berperan dalam perkembangan gejala PTSD. Respon emosional orang
tua terhadap pengalaman traumatik anak merupakan prediksi terhadap
keparahan gejala PTSD anak.
Faktor sosial
Dukungan sosial yang tidak adekuat dari keluarga dan lingkungan
meningkatkan risiko perkembangan PTSD setelah anak mengalami
kejadian traumatik.

2.4 Faktor Risiko


Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam meningkatkan risiko
seseorang mengalami gangguan stres pasca trauma, antara lain:7
Seberapa berat dan dekatnya trauma yang dialaminya. Semakin berat
trauma yang dialami dan semakin dekat ia berada saat kejadian
semakin meningkatkan risiko PTSD
Durasi trauma yang dialamiya. Semakin lama/kronik seseorang
mengalami kejadian trauma semakin berisiko berkembang menjadi
PTSD ( misalnya: kekerasan pada anak di rumah)
Banyaknya trauma yang dialami. Trauma yang multipel lebih berisiko
menjadi PTSD
Pelaku kejadian trauma. Semakin dekat hubungan antara pelaku dan
korban (misalnya: kekerasan anak yang dilakukan oleh orangtuanya
sendiri) semakin berisiko menjadi PTSD
Kejadian trauma yang sangat interpersonal seperti, perkosaan

6
Jenis kelamin: anak dan remaja perempuan lebih berisiko
dibandingkan laki-laki
Kondisi sosial ekonomi yang rendah (kaum minoritas) berisiko lebih
tinggi akibat dari tingginya angka kekerasan di daerah tempat ia
tinggal.
Usia : PTSD dapat terjadi pada semua golongan usia tetapi anak-anak
dan usia tua (>60 tahun) merupakan kelompok usia yang lebih rentan
mengalami PTSD. Anak-anak memiliki kebutuhan dan kerentanan
khusus jika dibandingkan dengan orang dewasa, teruama karena
masih ketergantungan dengan orang lain, kemampuan fisik dan
intelektual yang sedang berkembang, serta kurangnya pengalaman
hidup dalam memecahkan berbagai persoalan sehingga dapat
mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
Seseorang yang memiliki gangguan psikiatri lainnya seperti: depresi,
fobia sosial, gangguan kecemasan.
Kurangnya dukungan sosial baik dari keluarga maupun lingkungan

2.5 Tanda dan Gejala


Gejala-gejala PTSD dikelompokkan dalam tiga kategori utama. Diagnosis
dapat ditegakkan bila gejala-gejala dalam kategori berlangsung selama lebih dari
satu bulan. Tiga kategori utama gejala yang terjadi pada PTSD adalah pertama,
mengalami kembali kejadian traumatik. Seseorang kerap teringat akan kejadian
tersebut dan mengalami mimpi buruk tentang hal itu. Gejala flashback (merasa
seolah-olah peristiwa tersebut terulang kembali), nightmares (mimpi buruk
tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih), reaksi emosional dan fisik
yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa yang menyedihkan.
Kedua, penghindaran stimulus yang diasosiasikan dengan kejadian terkait
atau mati rasa dalam responsivitas. Orang yang bersangkutan berusaha
menghindari untuk berpkir tentang trauma atau menghadapi stimulus yang akan
mengingatkan akan kejadian tersebut, dapat terjadi amnesia terhadap kejadian
tersebut. Mati rasa adalah menurunnyaa ketertarikan pada orang lain, suatu rasa

7
keterpisahan dan ketidak mampuan untuk merasakan berbagai emosi positif.
Gejala ini menunjukkan adanya menghindari aktivitas, tempat, berpikir,
merasakan, atau percakapan yang berhubungan dengan trauma. Selain itu, juga
kehilangan minat terhadap semua hal, perasaan terasing dari orang lain, dan emosi
yang dangkal.
Ketiga, gejala ketegangan. Gejala ini meliputi sulit tidur atau
mempertahankannya, sulit berkonsentrasi, wasapada berlebihan, respon terkejut
yang berlebihan, termasuk meningkatnya reaktivitas fisiologis.7

2.6 Penegakkan Diagnosa


DSM-IV menyebutkan bahwa gejala pengalaman ulang (reexperiencing),
menghindar dan kesadaran yang berlebihan (hiperarousal) harus berlangsung
lebih dari 1 bulan. Bagi pasien yang gejalanya ditemukan kurang dari satu bulan,
diagnosis yang tepat mungkin adalah gangguan stres akut. Kriteria diagnostik
DSM-IV untuk gangguan stres pascatraumatik yang memungkinkan klinisi
menentukan apakah gangguan adalah akut (jika berlangsung kurang dari tiga
bulan ) atau kronis (jika gejala berlangsung tiga bulan atau lebih). DSM-IV juga
memungkinkan klinisi menentukan bahwa gangguan adalah dengan onset lambat
jika onset gejala adalah enam bulan atau lebih setelah peristiwa stres.7,8

8
Tabel 2.1 Kriteria Diagnostik DSM-IV- TR Gangguan Stress
Pascatrauma

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Stres Pascatraumatik:


A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari
berikut ini terdapat :
1. Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu
kejadian atau kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian
atau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang serius, atau
ancaman kepada integritas fisik diri atau orang lain.
2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak
berdaya atau horor.
B. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu (atau
lebih) cara berikut :
1. Rekoleksi yang menderitakan, rekuren, dan mengganggu tentang
kejadian, termasuk angan pikiran atau persepsi.
2. Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian.
3. Berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi
kembali (termasuk perasaan penghidupan kembali pengalaman
kembali pengalaman, ilusi, halusinasi dan episode kilas balik
disosiatif, termasuk yang terjadi saat terbangun atau saat
terintoksikasi).
4. Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda
internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu
aspek kejadian traumatik.
5. Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau
eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek
kejadian traumatik.
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
dan kaku karena responsivitas umum (tidak ditemukan sebelum trauma),
seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih) berikut ini :

9
1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau
percakapan yang berhubungan trauma
2) Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat atau orang
yang menyadarkan rekoleksi dengan trauma.
3) Tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari
trauma.
4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam
aktivitas yang bermakna
5) Rentang afek yang terbatas
6) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek.
D. Gejala menetap adanya peningkatan kesadaran (tidak ditemukan sebelum
trauma ) yang ditunjukkan oleh dua (atau lebih) berikut :
1) Kesulitan untuk tidur atau tetap tidur
2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan
3) Sulit berkonsentrasi
4) Kewaspadaan berlebihan
5) Respon kejut yang berlebihan
E. Lama gangguan (gejala dalam kriteria b, c, d) adalah lebih dari satu bulan
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.
Sebutkan jika :
Akut : jika lama gejala adalah kurang dari 3 bulan
Kronis : jika lama gejala adalah 3 bulan atau lebih
Sebutkan jika :
Dengan onset lambat : onset gejala sekurangnya enam bulan setelah
stressor
Dikutip dari (3)

10
Tabel 2.2 Kriteria Diagnostik DSM-1V-TR Gangguan Stres Akut

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Stres Akut


A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari
berikut ini ditemukan :
1. Orang tersebut mengalami, menyaksikan, atau menghadapi
peristiwa atau sejumlah peristiwa yang melibatkan kematian atau
cedera serius yang sebenarnya atau mengancam, atau ancaman
terhadap integritas fisik dirinya atau orang lain.
2. Respon orang tersebut melibatkan rasa takut yang kuat, rasa tidak
berdaya atau horor.
B. Saat mengalami atau setelah mengalami peristiwa yang menimbulkan
penderitaan, orang tersebut memiliki tiga (atau lebih) gejala disosiatif
berikut :
1. Rasa bebas subyektif, lepas, atau tidak ada respons emosional
2. Penurunan kesadaran terhadap sekelilingnya (misalnya,
linglung)
3. Derelisasi
4. Depersonalisasi
5. Amnesia disosiatif (yaitu, ketidakmampuan untuk mengingat
aspek penting dari trauma)
C. Peristiwa traumatik secara menetap dialami kembali pada satu (lebih) cara
berikut : bayangan, pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik yang rekuren, atau
suatu perasaan hidupnya kembali pengalaman atau penderitaan saat terpapar
dengan mengingat kejadian traumatik
D. Penghindaran jelas terhadap stimuli yang nyata dan membangkitkan
kembali trauma (misalnya, pikiran, perasaan, percakapan, aktivitas, tempat,
orang).

11
E. Gejala ansietas/meningkatnya keterjagaan yang nyata (misalnya, sulit
tidur, iritabilias, konsentrasi buruk, hypervigilance, respon kaget yang berlebihan,
dan kegelisahan motorik).
F. Gangguan ini menimbulkan distres yang secara klinis bermakna atau
hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain, menganggu
kemampuan individu mengerjakan tugas penting, seperti meminta bantuan yang
penting atau berbagi hal-hal yang personal dengan bercerita pada anggota
keluarga tentang peristiwa traumatik.
G. Gangguan berlangsung selama minimal 2 hari dan maksimal 4 minggu dan
terjadi dalam 4 minggu setelah traumatik
H. Gangguan ini bukan disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat
(misalnya, penyalahgunaan obat, pengobatan) atau kondisi medis umum,
tidak lebih mungkin disebabkan gangguan psikotik singkat dan bukan
hanya eksaserbasi gangguan Aksis I atau Aksis II dan telah ada
sebelumnya.
Dikutip dari (3)

Pedoman diagnostik gangguan stress pasca trauma menurut PPDGJ III (F 43.1)
yaitu:9
Diagnosis baru ditegakkan bilamana gannguan ini timbul dalam kurun
waktu enam bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang
berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai
melampaui enam bulan). Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan
apabila tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan
melebihi waktu enam bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah khas
dan tidak didapat alternatif kategori ganngguan lainnya.
Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang
atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang
kembali (flashbacks)
Gangguan otonomik, gangguan afek, dan kelainan tingkah laku semuanya
dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas

12
Suatu sequelae menahun yang terjadi lambat setelah stress yang luar
biasa, misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasi
dalam kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang berlangsung lama
setelah mengalami katastrofa).9

2.7 Diagnosis Banding


Pertimbangan utama dalam diagnosis PTSD adalah kemungkinan
bahwa pasien juga menderita cedera kepala selama trauma. Pertimbangan
organik yang dapat menyebabkan dan memperberat gejala adalah epilepsi,
gangguan pengguanaan alkohol, dan gangguan terkait zat lain. Intoksikasi
akut atau putus zat juga dapat menunjukkan gambaran klinis yang sulit
dibedakan dengan gangguan ini sampai efek zat hilang. Klinisi harus
mempertimbangkan diagnosis PTSD pada pasien yang memiliki gangguan
nyeri, penyalahgunaan zat, gangguan anxietas lain, dan gangguan mood.7
Pada umumnya PTSD dapat dibedakan dengan wawancara pasien
mengenai pengalaman traumatik sebelumnya, dan dengan sifat gejala saat ini.
Gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiatif, gangguan buatan, dan
malingering juga harus dipertimbangkan. Gangguan kepribadian ambang sulit
dibedakan dengan PTSD karena dapat muncul bersamaan atau bahkan
penyebabnya dapat berkaitan. Pasien dengan gangguan disosiatif biasanya
tidak memiliki derajat perilaku menghindar hyperaurosal otonom atau
riwayat trauma yang dimiliki gangguan PTSD.

Gejala PTSD dapat sulit dibedakan juga dengan gejala gangguan panik
dan Gangguan Cemas Menyeluruh. Hal ini dikarenakan ketiganya
berhubungan dengan kecemasan dan aktivasi gejala autonomik. Kunci untuk
membedakan PTSD adalah relasi waktu antara kejadian traumatik dan gejala.
Depresi mayor juga sering terjadi bersamaan dengan PTSD. Hal ini perlu
dicatat karena akan mempengaruhi terapi PTSD.7,9

2.8 Penatalaksanaan

13
Pendekatan terapi pada PTSD adalah dukungan, dorongan untuk
mendiskusikan peristiwa tersebut, dan edukasi mengenai mekanisme koping
(contohnya relaksasi). Penggunaan obat hipnotik-sedatif juga dapat
membantu. Ketika pasien mengalami peristiwa traumatik masa lalu dan
sekarang memiliki PTSD, penekanan harus pada edukasi mengenai gangguan
dan terapinya baik farmakologis maupun psikoterapinya.

a. Farmakoterapi
Obat yang biasanya digunakan untuk membantu penderita PTSD
meliputi serotonergik antidepresan (SSRI), seperti fluoxetine (Prozac),
sertraline (Zoloft), dan paroxetine (Paxil), dan obat-obatan yang membantu
mengurangi gejala fisik yang terkait dengan penyakit, seperti prazosin
(Minipress) , clonidine (Catapres), guanfacine (TENEX), dan propranolol.7,9
Individu dengan PTSD sangat kecil kemungkinannya untuk mengalami
kambuh penyakit mereka jika pengobatan antidepresan dilanjutkan setidaknya
selama setahun. SSRI adalah kelompok pertama dari obat-obat yang telah
menerima persetujuan oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk
pengobatan PTSD. SSRI cenderung membantu penderita PTSD mengubah
informasi yang diambil dari lingkungan (rangsangan) dan untuk mengurangi
rasa takut. Penelitian juga menunjukkan bahwa kelompok obat-obatan
cenderung mengurangi kecemasan, depresi, dan panik. SSRI juga dapat
membantu mengurangi agresi, impulsif, dan pikiran bunuh diri yang dapat
dikaitkan dengan gangguan ini. Untuk PTSD yang terkait dengan
perkelahian, ada semakin banyak bukti bahwa prazosin dapat sangat
membantu. Meskipun obat lain seperti duloxetine (Cymbalta), bupropion
(Wellbutrin), dan venlafaxine (Effexor) kadang-kadang digunakan untuk
mengobati PTSD, ada sedikit penelitian yang telah mempelajari efektivitas
mereka dalam mengobati penyakit ini.7
Obat kurang efektif secara langsung tapi tetap berpotensi bermanfaat
lainnya untuk mengelola PTSD termasuk mood stabilizer seperti lamotrigin
(Lamictal), tiagabine (Gabitril), natrium divalproex (Depakote), serta sebagai
mood stabilizer yang juga antipsikotik, seperti risperidone (Risperdal),

14
olanzapine ( Zyprexa), dan quetiapine (Seroquel). Obat-obatan antipsikotik
tampaknya paling berguna dalam pengobatan PTSD pada mereka yang
menderita agitasi, disosiasi, hypervigilance, kecurigaan intens (paranoia), atau
istirahat singkat dalam menjadi berhubungan dengan realitas (reaksi psikotik
singkat). Obat-obat antipsikotik juga sedang semakin ditemukan menjadi
pilihan pengobatan membantu untuk mengelola PTSD bila digunakan dalam
kombinasi dengan SSRI.7,9
Benzodiazepin (obat penenang) seperti diazepam (Valium) dan
alprazolam (Xanax) sayangnya telah dikaitkan dengan sejumlah masalah
efek samping, termasuk gejala withdrawal dan risiko overdosis, dan belum
ditemukan secara signifikan efektif untuk membantu individu dengan PTSD.
Selektif Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti Sertraline dan
Paroxetine dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama untuk PTSD
karena efektivitas dan tingkat keamanannya. SSRI mengurangi gejala
PTSD dan efektif memperbaiki gejala PTSD yang khas.
Efektivitas Imipramine dan Amitriptilin untuk terapi PTSD secara
klinis terkontrol baik. Dosis Imipramine dan Amitriptilin harus sama
dengan dosis yang digunakan untuk mengobati gangguan depresif dan
lama minum untuk pengobatan adalah 8 minggu. Pasien yang
memberikan respon baik, mungkin harus melanjutkan farmakoterapi
sedikitnya 1 tahun sebelum dicoba penghentian obat.
Obat lain yang dapat berguna dalam terapi PTSD adalah Monoamine
Oksidase Inhibitor (MAOI) contohnya Fenelzine, Trazodon, dan
Antikonvulsan contohnya Karbamazepine dan Valproat.
Hampir tidak ada data positif mengenai penggunaan antipsikotik
sehingga penggunaan obat ini, contohnya Haloperidol harus
dicadangkan untuk mengatasi agresi dan agitasi berat.7,9

b. Psikoterapi
Intevensi psikoterapi PTSD mencakup terapi perilaku, terapi kognitif,
dan hipnosis. Banyak klinisi menyarankan psikoterapi dengan waktu terbatas
pada korban trauma. Terapi seperti ini memerlukan pendekatan kognitif,

15
memberikan dukungan, dan rasa aman. Sifat psikoterapi jangka pendek dapat
meminimalkan resiko ketergantungan dan menjadi kronis. Terapis harus
menghadapi penyangkalan pasien mengenai peristiwa traumatik sehingga
terapis menyarankan mereka bersantai dan menjauhkan mereka dari sumber
stress. Pasien harus disarankan tidur, menggunakan obat jika perlu. Dukungan
dari orang sekitar harus diberikan. Pasien harus diminta mengingat kembali
dan melakukan abreaksi (mengalami emosi yang berkaitan dengan suatu
peristiwa yang dapat membantu pasien) perasaan emosional yang berkaitan
dengan peristiwa traumatik dan merencanakan pemulihan masa mendatang.7
Ketika timbul PTSD, ada 2 pendekatan psikoterapik utama, yang
pertama adalah teknik membayangkan terhadap peristiwa tersebut. Pajanan
ini bertahap seperti pada desensitisasi sistematik. Pendekatan kedua adalah
mengajari pasien, metode penatalaksaanaan stress termasuk teknik relaksasi
dan pendekatan kognitif untuk menghadapi strss. Sejumlah data menunjukkan
bahwa penatalaksanaan stress lebih cepat daripada teknik pemajanan. Akan
tetapi, hasil teknik pemajanan lebih bertahan lama.7
Terapi psikoterapi yang relatif baru dan kontroversial adalah Eye
Movement Desensitization and Reprocessing disini pasien berfokus pada
gerakan lateral jari klinisi sambil mempertahankan bayangan mental tentang
pengalaman trauma. Keyakinan umum adalah bahwa gejala dapat dipulihkan
jika pasien mengingat peristiwa traumatik sambil berada dalam keadaan
relaksasi dalam. Disamping teknik terapi individu, terapi kelompok dan
keluarga sering dilaporkan efektif pada kasus PTSD.
Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) adalah
bentuk terapi kognitif di mana panduan praktisi orang dengan PTSD dalam
berbicara tentang trauma yang diderita dan perasaan negatif yang terkait
dengan peristiwa, sambil memfokuskan pada jari profesional bergerak cepat.
Menangani masalah tidur yang menjadi bagian dari PTSD tidak hanya
membantu meringankan masalah tersebut tetapi dengan demikian membantu
mengurangi gejala PTSD pada umumnya. Secara khusus, melatih cara-cara
adaptif mengatasi mimpi buruk (citra terapi latihan), pelatihan dalam teknik

16
relaksasi, self-talk positif, dan skrining untuk masalah tidur lainnya menjadi
sangat membantu dalam mengurangi masalah tidur yang terkait dengan
PTSD.7

2.9 Prognosis
Kira-kira 30% pasien pulih dengan sempurna, 40% terus menderita
gejala ringan, 20% terus menderita gejala sedang, dan 10% tidak berubah atau
memburuk. Umumnya orang yang sangat muda atau sangat tua lebih
mengalami kesulitan.
Prognosis yang baik dapat dicapai bila kondisi PTSD muncul dalam
waktu singkat, durasinya singkat, fungsi premorbid yang baik, dukungan
sosial yang baik dan tidak adanya kondisi komorbid atau penyalahgunaan
zat.9

17
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yang timbul
setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atau peristiwa-
peristiwa trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasan atau suatu
kecelakaan yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan seseorang memberikan
reaksi dalam keadaan ketakutan, tak berdaya dan mengerikan.
Stressor adalah penyebab utama terjadinya Gangguan Stress Pasca Trauma.
Stressor berupa kejadian yang traumatis misalnya akibat perkosaan, kecelakaan
yang parah, kekerasan pada anak atau pasangan, bencana alam, perang, atau
dipenjara.
DSM-IV menyebutkan bahwa gejala pengalaman ulang, menghindar, dan
kesadaran yang berlebihan harus berlangsung lebih dari satu bulan. Bagi pasien
yang gejalanya ditemukan kurang dari satu bulan, diagnosis yang tepat adalah
gangguan stress akut. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan stress
pascatraumatik memungkinkan klinisi menentukan apakah gangguan adalah akut
(jika gejala berlangsung kurang dari tiga bulan) atau kronis (lebih dari tiga bulan).
Manfaat Imipramin dan Amitriptilin, dua obat Trisiklik dalam pengobatan
gangguan stress pascatraumatik didukung oleh sejumlah uji coba klinisi terkontrol
baik. Obat lain yang mungkin berguna dalam pengobatan gangguan stress
pascatraumatik adalah Serotonin-Specific Reuptake Inhibitors (SSRI), Mono-
Amine Oxidase Inhibitors (MAOI), dan anti konvulsan (carbamazepin). Clonidin
dan Propanol dianjurkan.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan dan Saddock. 2002. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku


Psikiatri Klinis. Binarupa Aksara. Jakarta.
2. Saddock BJ, Saddock VA. Behavior Therapy. Kaplan & Sadocks Synopsis of
Psikiatry Behavoioral Science/Clinical Psychiatry. 10th ed. Lippincott
Williams & Wilkins Publishers. Philadelphia : 2007. 50(2): 1275-1277.
3. Post traumatic Stress Disorder (PTSD). 2010. Diambil dari
http://www.nimh.nih.gov/health/topics/post-traumatic-stress-disorder
ptsd/index.shtml
4. Posttraumatic Stress Disorder. 2009. Diambil dari
http://www.ncvc.org/ncvc/main.aspx?
dbName=DocumentViewer&DocumentID=32364
5. http://www.depkes.go.id/downloads/Psikososial.PDF
6. Volkman MK. Children and Traumatic Incident Reduction: Creative and
Cognitive Approaches. 1th ed. Loving Healing Press: USA. 2007. 15:169-174.
7. Saddock BJ, Saddock VA. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of
Psychiatry. 8th ed. LippincottWilliams & Wilkins. Philadelphia: 2005.
46(2) :3287-3291
8. Elvira Sylvia dan Hadisukanto, G. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: FKUI.
9. Rudi Maslim. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III. Jakarta: PT. Nuh Jaya.

19