Anda di halaman 1dari 10

Geomorfologi berasal dari bahasa yunani kuno, terdiri dari tiga akar kata, yaitu Ge(o) = bumi,

morphe = bentuk dan logos = ilmu, sehingga kata geomorfologi dapat diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari bentuk permukaan bumi. Berasal dari bahasa yang sama, kata geologi
memiliki arti ilmu yang mempelajari tentang proses terbentuknya bumi secara keseluruhan.
Definisi ; Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi serta
proses - proses yang berlangsung terhadap permukaan bumi sejak bumi terbentuk sampai
sekarang. Berdasarkan pengertian dan definisi geomorfologi, maka bidang ilmu geomorfologi
merupakan bagian dari geologi yang mempelajari bumi dengan pendekatan bentuk rupa bumi
dan arsitektur rupa bumi.

Sumber : http://pinterdw.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-geomorfologi.html

Aspek Geomorfologi

Selama sejarah perkembangan Geografi, dikenal dua objek kajian utama, yaitu: Geografi Fisik,
yang mendasarkan pada objek bentang alami (natural landscape) dengan penekanan pada
bentuklahan (landform), dan Geografi Sosial, yang mendasarkan kepada objek bentang budaya
(cultural landscape).
Dalam Geografi, dikaji fenomena geosfer melalui 3 (tiga) pendekatan, yaitu: (a) pendekatan
keruangan, (b) ekologi, dan (c) kompleks wilayah. Fenomena geosfer merupakan hasil dari
interaksi faktor alam dan faktor manusia. Kenampakan fenomena geosfer pada hakekatnya ada 3
(tiga) paham utama, yaitu: (a) deterministik (faktor alam mempengaruhi kondisi manusia), (b)
posibilistik (faktor manusia mempengaruhi alam), dan (c) probabilistik (faktor alam dan manusia
sama-sama memberikan kemungkinan terbentuknya fenomena geosfer).
Aspek geomorfolog
iAspek-aspek geomorfologi meliputi:
1. Aspek morfologi:

a) Morfografi adalah suatu bentuk lahan yang dinyatakan dalam kualitatif

b) Morfometri adalah suatu bentuk lahan yang dinyatakan dalam kuantitatif

2. Aspek morfogenesis

Menyangkut asal usul dari bentuk lahan. Morfogenesis terkait dengan tenaga dan proses
geomorfologi
3. Aspek morfoklonologis

Membahas tentang urutan kejadian suatu lahan yang diwujudkan dalam bentuk peta.
4. Aspek morfosiasi
Membahas tentang urutan kejadian antara satu bentuk lahan dengan bentuk lahan yang lain.

Asal usul bentuk lahan (genesis) yaitu:


1. Bentuk lahan asal proses structural yaitu bentuk lahan yang diakibatkan oleh tenaga endogen
terutama dengan struktur geologi;

a) Lipatan

b) Patahan

c) Pengangkatan

2. Bentuklahan asal proses vulkanik yaitu bentuklahan yang disebabkan oleh proses gunung api.
Satuan bentuklahannya yaitu:

a) Kawah yaitu suatu cekungan yang terbentuk oleh aktivitas dari magma

b) Lava field (medan lava) yaitu terjadi dari akibat pembekuan dari lava. Cirri-cirinya memiliki
topografi yang halus,tekstur batuannya kasar.

c) Medan lahar yaitu terbentuk dari pembekuan dari lahar

d) Kerucut gunung api yaitu terbentuk dari bagian puncak gunung api dan memiliki lereng yang
terjal

e) Lereng atas yaitu bagian dari gunung api yang biasanya ditandai oleh lereng yang sangat curam
dan memiliki vegetasi lumut

f) Lereng tengah yaitu terletak pada bagian tengah gunung api yang ditandai lereng yang sangat
curam dan memiliki vegetasi bermacam-macam

g) Lereng bawah yaitu bagian gunung api yang dekat dengan kakinya yang ditandai dengan yang
miring

h) Lereng kaki yaitu bagian dari gunung api yang memiliki lereng yang landai
i) Dataran alluvial gunung api yaitu terbentuk dari material yang halus dan memiliki lereng yang
datar (0 2%)

j) Dataran antar gunung api yaitu ditandai oleh lereng yang datar dan memiliki 2 jenis batuan

k) Sadle intermountain yaitu cekungan antar gunung api

l) Bocca yaitu suatu kubah yang terbentuk akibat aktivitas magma yang keluar dibagian
samping/tengah

m) Dike yaitu aktivitas magma yang menyerupai tiang

n) Barranco yaitu lembah dari gunung api/ tempat lewatnya lahar piroklastik

3. Bentuklahan asal proses denudasional merupakan bentuk lahan yang disebabkan oleh tenaga
eksogen (pelapukan, erosi, sedimentasi, mass movement). Satuan bentuklahannya yaitu:

a) Pegunungan denudasional terkikis

b) Perbukitan denudasional terkikis

c) Perbukitan terisolasi

d) Peneplain

e) Kerucut talus

f) Pledmont

g) Pediment

4. Bentuklahan asal proses fluvial yaitubentuklahan yang disebabkan oleh air yang mengalir dan
terjadinya sedimentasi. Bentukanlahannyab adalah:

a) Dataran alluvial yang memiliki ciri-ciri topografi yang datar 0 2%, batuannya alluvial, terjadi
akibat proses pengendapan dan penggunaan lahan beraneka ragam
b) Tanggul alam (natural levee) yang memiliki topografi yang blebih tinggi, kualitas air yang
sangat bagus karena berasal dari sedimen yang lebih kasar, terbentuk akibat proses luapan

c) Rawa belakang (back swamp) memiliki topografi yang yang cekung, daerahnya selalu tergenang
air.

d) Ledok fluvial

e) Point bar yaitu endapan yang terdapat pada bagian luar meander sungai

f) Channel bar yaitu pulau yang terdapat ditengah sungai yang terjadi karena adanya batuan yang
menghambat.

g) Oxbow lake

h) Crevasse-splays yaitu hasil luapan sungai

i) Kipas alluvial (Alluvial fan) yaitu terjadi pada mulut suatu jeram atau lembah pada suatu
pegunungan yang berbatasan dengan daratan

j) Dataran banjir yaitu mempunyai topografi datar dan merupakan daerah yang sering tergenang
air banjir dengan periode 1 p- 2 tahun

k) Cekungan fluvial yaitu bagian terendah dari dataran banjir sungai, tersusun dari material sangat
halus dari muatan suspense dengan tebal penimbunan sekitar 1 hingga 2 cm, untuk setiap
peristiwa banjir.

l) Teras alluvial yaitu bentuklahan yang dibatasi oleh dataran yang berlereng curam disuatu sisi
dan lereng landai/datar disisi lain

m) Delta

5. Bentuklahan asal proses marin yaitu bentuklahan yang berasal dari air laut. Bentuklahannya
adalah:

a) Platform

b) Cliftf dan notch


c) Spit,lidah gosong pasir laut

d) Ledok antar beting pasir laut

e) Hamparan lumpur, mudflat

f) Dataran Gisik

g) Beting gisik

h) Tombolo

i) Dataran alluvial pantai

j) Teras marin

k) Lagun

6. Bentuklahan asal proses solusional/karst yaitu bentuklahan yang diakibatkan oleh proses
pelarutan. Bentuklahannya terbagi 2 yaitu:

a) Bentuklahan negative:

Doline adalah ledokan yang berbentuk corong pada batu gamping dengan diameter dari beberapa
meter hingga 1 Km dan kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter.

Uvala adalah ledokan tertutup yang luas yang terbentuk oleh gabungan dari beberapa doline .

Polje adalah ledokan tertutup yang luas dan memanjang didaerah topografi karst yang
mempunyai dasar mendatar dan dinding terjal.

Blind Valley adalah satu lembah mendadak berakhir/ buntu dan sungai yang terdapat pada
lembah tersebut menjadi lenyap dibawah tanah.

b) Bentuklahan positif:

Kygelkarst adalah bentuklahan yang didirikan oleh sejumlah bukit berbentuk kerucut yang
kadang-kadang dipisahkan oleh cockpit.
Turmkarst yang terdiri atas perbukitan berlereng curam atau vertical yang menjulang tersendiri
diantara dataran alluvial.

7. Bentuklahan asal proses aeolin (angin) yaitu bentuik lahan yang disebabkan oleh angin yang
mengangkut material

8. Bentuklahan asal proses organic yaitu bentuklahan yang diakibatkan oleh aktivitas makhluk
hidup. Bentuklahannya yaitu:

a) Gambut

b) Rataan terumbu

c) Hutan bakau

d) Makhluk hidup yang membuat sarang

9. Bentuklahan asal proses glacial yaitu bentuklahan yang disebabkan oleh proses pencairan es.
Bentuklahannya yaitu:

a) Moraine

b) Horn

c) Cirque

d) Firm

Sumber : http://habib-geo.blogspot.co.id/2012/11/geomorfologi.html
GEOMORFOLOGI

3.1 Definisi Geomorfologi

Pada hakekatnya geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang roman muka bumi
beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Adapun bentangalam (landscape) didefinisikan
sebagai panorama alam yang disusun oleh elemen elemen geomorfologi dalam dimensi yang
lebih luas dari terrain, sedangkan bentuk-lahan (landforms) adalah komplek fisik permukaan
ataupun dekat permukaan suatu daratan yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia.

Pada dasarnya geomorfologi mempelajari bentuk bentuk bentangalam; bagaimana bentangalam


itu terbentuk secara kontruksional yang diakibatkan oleh gaya endogen, dan bagaimana
bentangalam tersebut dipengaruhi oleh pengaruh luar berupa gaya eksogen seperti pelapukan,
erosi, denudasi,sedimentasi. Air, angin, dan gletser, sebagai agen yang merubah batuan atau
tanah membentuk bentang alam yang bersifat destruksional, dan menghasilkan bentuk-bentuk
alam darat tertentu (landform).

Pengaruh struktur (perlipatan, pensesaran, pengangkatan, intrusi, ketidakselarasan, termasuk


didalamnya jenis-jenis batuan) yang bersifat kontruksional, dan proses yang bersifat
destruksional (pelapukan, longsoran kerja air, angin, gelombang, pelarutan, dan lainnya), sudah
diakui oleh para ahli geologi dan geomorfologi sebagai dua buah paramenter penting dalam
pembentukan rupa bumi. Selain itu batuan sebagai bagian dari struktur dan tahapan proses
geologi merupakan faktor cukup penting.

Selama pertengahan awal abad ini, hampir semua kegiatan riset geomorfologi terutama ditujukan
sebagai alat interpretasi geologi saja, dengan menganalisa bentangalam dan bentuk-bentuk alam
yang mengarah pada kecurigaan pada unsur-unsur struktur geologi tertentu atau jenis-jenis
batuan, seperti pembelokan atau kelurusan sungai, bukit-bukit, dan bentuk-bentuk alam lainnya.
Tetapi dalam empat dekade terakhir, riset geomorfologi sudah mulai diarahkan pada studi
tentang proses-proses geomorfologi, walaupun kegiatan interpretasi masih tetap tidak
ditinggalkan dan tetap diperlukan. Selain itu pembangunan fisik memerlukan informasi
mengenai geomorfologi yang menyangkut antara lain:

Geometri bentuk muka bumi

Proses-proses geomorfologi yang sedang berjalan beserta besaran-besarannya, dan


antisipasi terhadap perubahan bentuk muka bumi dalam skala detail dapat mempengaruhi
pembangunan.

Dengan berkembang pesatnya teknologi penginderaan jauh, seperti foto udara, citra landsat,
SPOT, radar, Ikonos, Quickbirds dan lainnya, maka geomorfologi semakin menarik untuk
diteliti, baik karena lebih mudahnya interpretasi geologi maupun lebih jelas dan aktualnya data
mengenai proses-proses yang sedang terjadi di permukaan bumi yang diamati. Dengan demikian,
pengamatan terhadap gejala struktur (dan batuan) serta proses, adalah sangat penting dalam
menganalisa bentang alam, baik dengan cara menganalisa peta topografi, foto udara dan citra,
maupun di lapangan. Pengamatan yang baik di lapangan maupun dilaboratorium terhadap alat
bantu yang berupa peta topografi, foto udara, citra satelit, citra radar akan membuat pembuatan
peta geomorfologi menjadi cepat dan menarik. Pembuatan peta geomorfologi tidak dapat lepas
dari skala peta yang digunakan. Pembuatan satuan geomorfologi selain berdasar bentuk, proses
maupun tahapan sangat tergantung pada skala peta yang digunakan. Makin besar skala peta,
makin banyak satuan yang dapat dibuat.

3.2 Peta Geomorfologi

Peta geomorfologi didefinisikan sebagai peta yang menggambarkan bentuk lahan, genesa beserta
proses yang mempengaruhinya dalam berbagai skala. Berdasarkan definisi diatas maka suatu
peta geomorfologi harus mencakup hal hal sebagai berikut:

1. Peta geomorfologi menggambarkan aspek-aspek utama lahan atau terrain disajikan dalam
bentuk simbol huruf dan angka, warna, pola garis dan hal itu tergantung pada tingkat
kepentingan masing-masing aspek.

2. Peta geomorfologi memuat aspek-aspek yang dihasilkan dari sistem survei analitik
(diantaranya morfologi dan morfogenesa) dan sintetik (diantaranya proses geomorfologi,
tanah /soil, tutupan lahan).

3. Unit utama geomorfologi adalah kelompok bentuk lahan didasarkan atas bentuk asalnya
(struktural, denudasi, fluvial, marin, karts, angin dan es).

4. Skala peta merupakan perbandingan jarak peta dengan jarak sebenarnya yang dinyatakan
dalam angka, garis atau kedua-duanya.

Adapun informasi yang terdapat dalam peta geomorfologi berupa bentuk, geometri, serta proses-
proses yang telah maupun sedang terjadi, baik proses endogenik maupun eksogenik. Ada sedikit
perbedaan penekanan antara informasi geomorfologi untuk sains dan informasi geomorfologi
untuk terapan.

1. Untuk tujuan sains maka peta geomorfologi diharap mampu memberi informasi
mengenai hal-hal berikut :

1. Faktor-faktor geologi apa yang telah berpengaruh kepada pembentukan bentang alam
disuatu tempat

2. Bentuk-bentuk bentangalam apa yang telah terbentuk karenanya. Pada umumnya hal-hal
tersebut diuraikan secara deskriptif. Peta geomorfologi yang disajikan harus dapat
menunjang hal-hal tersebut diatas, demikian pula klasifikasi yang digunakan. Gambaran
peta yang menunjang ganesa dan bentuk diutamakan.

1. Sedangkan untuk tujuan terapan peta geomorfologi akan lebih banyak memberi informasi
mengenai :
1. Geometri dan bentuk permukaan bumi seperti tinggi, luas, kemiringan lereng, kerapatan
sungai, dan sebagainya.

2. Proses geomorfologi yang sedang berjalan dan besaran dari proses seperti :

Jenis proses (pelapukan, erosi, sedimentasi, longsoran, pelarutan, dan sebagainya)

Besaran dan proses tersebut (berapa luas, berapa dalam, berapa intensitasnya, dan
sebagainya)

Pada umumnya hal-hal tersebut dinyatakan secara terukur. Peta geomorfologi yang disajikan
harus menunjang hal-hal tersebut diatas, demikian pula klasifikasi yang digunakan. Gambaran
peta diutamakan yang menunjang kondisi parametris (yang dapat diukur) serta proses-proses
exsogen yang berjalan pada masa kini dan yang akan datang.

3.3 Skala Peta dan Peta Geomorfologi

Skala peta merupakan rujukan utama untuk pembuatan peta geomorfologi. Pembuatan satuan
peta secara deskriptif ataupun klasifikasi yang dibuat berdasarkan pengukuran ketelitiannya
sangat tergantung pada skala peta yang digunakan.

Di Indonesia peta topografi yang umum tersedia dengan skala 1: 20.000, 1: 1.000.000, 1:
500.000, 1: 250.000, 1: 100.000, 1: 50.000 dan beberapa daerah (terutama di Jawa) telah
terpetakan dengan skala 1 : 25.000 untuk kepentingan-kepentingan khusus sering dibuat peta
berskala besar dengan pembesaran dari peta yang ada, atau dibuat sendiri untuk keperluan teknis,
antara lain peta 1: 10.000, 1: 5.000, dan skala-skala yang lebih besar lagi.

Untuk penelitian, sesuai dengan RUTR, dianjurkan menggunakan peta 1:250.000, 1:100.000
untuk regional upraisal, 1: 50.000 1: 25.000 untuk survey dan 1: 10.000 dan yang lebih besar
untuk investigasi. Untuk mudahnya penggunaan peta-peta tersebut dapat dilihat pada table 3.1.
Dari skala peta yang digunakan akhirnya dapat kita buat satuan peta geomorfologi, sebagai
contoh pada table 3.2.

Tabel 3.1 Skala peta, sifat dan tahap pemetaan, serta proses dan unsur dominan

Skala Sifat Tahap Proses dan unsur geologi


Pemetaan Pemetaan yang dominan
<1: Geoteknik, Geofisik
250.000
<1: Global Regional
250.000
1 : 100.000 Regional Tektonik, Formasi
(batuan utama)
1 : 50.000 Lokal Survey Struktur jenis
batuan/satuan batuan
1 : 25.000 Lokal Batuan, struktur,
pengulangan dan
bentuk/relief, proses
eksogen
1 : 10.000 Detail Investigasi Batuan, proses eksogen,
sebagai unsur utama,
bentuk akibat proses
< 1 : 10.000 Sangat Proses eksogen, dan hasil
Kecil proses

3.4 Interpretasi Geomorfologi

Ada dua cara dasar untuk belajar mengenal dan mengidentifikasi kenampakan-kenampakan
geologi pada peta topografi. Cara pertama adalah dengan mengamati dengan teliti dan detail
terhadap bentuk-bentuk dari struktur geologi yang digambarkan dalam bentuk-bentuk kontur
pada peta topografi. Gambaran / ilustrasi dari bentuk-bentuk semacam ini disebut sebagai kunci
untuk mengenal dan mengidentifikasi kenampakan geologi. Cara kedua adalah melalui metoda
praktek dan pelatihan sehingga memiliki kemampuan melakukan deduksi dalam
mengidentifikasi dan memaknakan kenampakan-kenampakan geologi melalui kajian dengan
berbagai kriteria. Cara kedua ini diyakini sangat dibutuhkan dalam melakukan interpretasi.

Meskipun banyak diilustrasikan disini bahwa kesamaan geologi yang terdapat di banyak tempat
di dunia, baik secara stuktur geologi, stratigrafi dan geomorfologi detail serta hubungan
diantaranya sangatlah unik. Berikut ini adalah beberapa cara dalam mengenal dan
mengidentikasi kenampakan-kenampakan geologi pada peta topografi:

Pembuatan peta geomorfologi akan dipermudah dengan adanya data sekunder berupa peta
topografi, peta geologi, foto udara, citra satelit, citra radar, serta pengamatan langsung
dilapangan. Interpretasi terhadap data sekunder akan membantu kita untuk menetapkan satuan
dan batas satuan geomorfologinya.

Sumber : https://dannbuea.wordpress.com/2010/11/27/geomorfologi/