Anda di halaman 1dari 5

SINOPSIS NOVEL AYAT-AYAT CINTA

26 OCTOBER 2015 ADMIN LEAVE A COMMENT

ayat-ayatcinta1Detail Novel

Judu l: Ayat Ayat Cinta

ISBN : 979-3604-02-6

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Republika

Terbit : Desember 2004

Isi : 419 halaman

Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel 411 halaman yang ditulis oleh seorang
novelis muda Indonesia kelahiran 30 September 1976 yang bernama
Habiburrahman El-Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan Mesir dan sekarang
sudah kembali ke tanah air. Sepintas lalu, novel ini seperti novel-novel Islami
kebanyakan yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni,
namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari
novel Islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda.
Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media
penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak
tentang Islam, khususnya buat para kawula muda yang kelak akan menjadi
penerus bangsa.

Sinopsis 1

Kisahnya dibuka dengan keseharian seorang pemuda dari Indonesia bernama


Fahri. Ia seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di salah satu
universitas bergengsi di Cairo, Mesir. Ia digambarkan sebagai tokoh yang saleh,
pintar, santun, baik, dan sederet label sempurna lainnya. Agaknya sang penulis
gagal bercerita pada bagian penokohan si Fahri ini. Banyak yang yang
mencemooh karakternya yang bak nabi, tanpa cacat. Cercaan itu dilengkapi
dengan anugerah fisik sempurna yang dilekatkan sang penulis padanya.
Walhasil, sekurang-kurangnya ada 4 wanita cantik yang menginginkan Fahri
menjadi pendamping. Wanita tersebut adalah Nurul, Noura, Maria dan Aisha.
Keempat wanita tersebut jatuh hati pada kesempurnaan tokoh Fahri, hal ini
bagi sebagian orang terlalu utopis. Meski demikian, dalam ranah fiksi, penulis
adalah tuhan.Fokus utama cerita ini sebenarnya adalah cinta. Tapi penulis
membungkusnya dengan koridor islami. Klimaks konflik dimulai saat Fahri
menikahi seorang wanita bernama Aisha, yang merupakan keturunan beberapa
Negara yakni Palestina, Turki dan Jerman. Ia digambarkan sebagai wanita dengan
mata yang menawan. Ia menggunakan cadar, cerdas, kaya, cantik dan semua
sifat sempurna lainnya. Fahri yang anak seorang pedangang tape ketan cukup
mendapatkan berkah luar biasa dengan menikahi seorang putri milyarder, si
Aisha ini. Kisah kemudian bergulir pada sosok Maria, gadis cantik penganut
Kristen Koptik yang merupakan tetangga Fahri. Dan, entah beruntung atau
memang takdir penulis, ia membuat Maria jatuh hati pada Fahri. Perasaannya
bahkan tak hilang sekalipun Fahri telah menikah. Selain Maria, ada pula Noura
yang pada akhirnya menuduh Fahri hendak memperkosanya karena ia menolak
cinta Noura. Klise memang, tapi toh cerita ini sanggup membuat banyak orang
membeli buku ini.

Lantas apa yang menarik selain kisah-kisah tokoh yang semua nyaris sempurna
itu? Mungkin setting. Penulis novel ini agaknya memahami betul lekuk cantik
Mesir utamanya Cairo. Bagi pembaca, hal ini tentu semacam kunjungan lewat
kata. Menyenangkan! Selain setting, keunggulan buku ini mungkin dari fragmen
adegan yang memukau, sedikit berlebihan, tapi tetap membuat silau. Misalnya
saat Maria sekarat, ia bermimpi bertemu Maryam ibunda Nabi Isa. Ia tidak
diijinkan memasuki pintu Syurga sebelum ber-islam. Kemudian Maria sadar dan
mengucapkan kalimat syahadat kemudian meninggal dalam keadaan ber-islam.
Menyentuh meski sedikit berlebihan.

Dari segi bahasa, penulis bermain aman. Buku ini tidak memiliki cita rasa sastra
yang berani bermain kata. Bahasanya sederhana, runut dan mudah dimengerti.
Hal ini mungkin yang menmbuat semua kalangan membacanya. Sederhana
meski kisahnya terlampau sempurna. Tapi, persoalan selera tak mutlak sama
bukan? Bisa saja Anda membacanya dengan sensasi berbeda. Sinopsis novel
Ayat-ayat Cinta ini tidak bermaksud untuk mengintervensi pendapat Anda.
Hanya mengantarkan Anda pada potongan cerita di novel ini. Sisanya, silahkan
Anda membacanya sendiri. Novel ini layak untuk dibaca.

Sumber : dikutip dari http://sinopsisnovelku.blogspot.co.id/2013/02/sinopsis-


novel-ayat-ayat-cinta.html

Sinopsis 2

Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda
latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang
studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal
Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah percintaan ini berawal
ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit
dalam sebuah metro (sejenis trem).

Mein Neim Ist Aisha

Pada waktu itu, si pemuda yang bernama lengkap Fahri bin Abdullah Shiddiq,
sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di
Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to
face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah, seorang Syaikh
yang cukup tersohor di seantero Mesir. kepadanya Fahri belajar tentang qiraah
Sabah (membaca Al-Quran dengan riwayat tujuh imam) dan ushul tafsir (ilmu
tafsir paling pokok). Hal ini sudah biasa dilakukannya setiap dua kali seminggu,
setiap hari Ahad/Minggu dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya
walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya
itu merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada
Syaikh Utsman yang sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk
salah seorang yang beruntung.

Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan tempat untuk duduk, mau tidak mau
dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kemudian ia
berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang
Muslim. Merteka bewrcerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian
Ashraf kepada Amerika. Tak berapa lama kemudian, ada tiga orang bule yang
berkewarganegaraan Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik ke dalam
metro. Satu diantara dua perempuan itu adalah seorang nenek yang
kelihatannya sudah sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat
duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapatkan tempat duduk, namun
kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada
Amerika. Sampai pada suatu saat, ketika si nenek hendak duduk menggelosor di
lantai, ada seorang perempuan bercadar putih bersih yang sebelumnya
dipersilahkan Fahri untuk duduk di bangku kosong yang sebenarnya bisa
didudukinya, memberikan kursinya untuk nenek tersebut dan meminta maaf
atas pwerlakuan orang-orang Mesir lainnya. Disinilah awal perdebatan itu terjadi.
Orang-orang Mesir yang kebetulan mengerti bahasa Inggris merasa tersinggung
dengan ucapan si gadis bercadar. Mereka mengeluarkan berbagai umpatan dan
makian kepada sang gadis, dan ia pun hanya bisa menangis. Kemudian Fahri
berusaha untuk meredakn perdebatan itu dengan menyuruh mereka membaca
shalawat Nabi karena biasannya dengan shalawat Nabi, orang Mesir akan luluh
kemarahannya dan ternyata berhasil. Lalu ia mencoba menjelaskan pada mereka
bahwa yang dilakukan perempuan bercadar itu benar, dan umpatan-umpatan itu
tidak layak untuk dilontarkan. Namun apa yang terjadi, orang-orang Mesir itu
kembali mrah dan meminta Fahri untuk tidak ikut campur dan jangan sok alim
karena juz Amma saja belumtentu ia hafal. Kemudian emosi mereka mereda
ketika Ashraf yang juga ikut memaki perempuan bercadar itu, mengatakan
bahwa Fahri adalah mahasiswa Al-Azhar dan hafal Al-Quran dan juga murid dari
Syaikh Utsman yang terkenal itu. Lantas orang-orang Mesir itu meminta maaf
pada fahri. Fahri kemudian menjelaskan bahwasanya mereka tidak seharusnya
bertindak seperti itu karena ajaran Baginda Nabi tidak seperti itu. Lalu ia pun
menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap kepada tamu apalagi orang asing
sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka pun mengucapkan
terima kasih pada fahri karena sudah megingatkan mereka. Sementara itu, si
bule perempuan muda, Alicia, sedang mendengarkan penjelasan tentang apa
yang terjadi dari si perempuan bercadar dengan bahasa Inggris yang
fasih.Kemudian Alicia berterima kasih dan menyerahkan kartu namanya pada
Fahri. Tak berapa lama kemudian metro berhenti dan perempuan bercadar itupun
bersiap untuk turun. Sebelum turun ia mengucapkan terima kasih pada Fahri
karena sudah menolongnya tadi. Akhirnya mereka pun berkenalan. Dan ternyata
si gadis itu bukanlah orang Mesir melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi
di Mesir. Ia bernama Aisha.

Di Mesir, Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga
berasal dari Indonesia, yaitu Saiful, Rudi, Hamdi dan Misbah. Fahri sudah tujuh
tahun hidup di Mesir. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang
mempunyai dua lantai, dimana lantai dasar menjadi tempat tinggal Fahri dan
empat temannya, sedangkan yang lantai atas ditempati oleh sebuah keluarga
Kristen Koptik yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari
Tuan Boutros, Madame Nahed, dan dua orang anak mereka Maria dan Yousef.
Walau keyakinan dan aqidah mereka berbeda, namun antara keluarga Fahri
(Fahri dkk) dan keluarga Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir,
bukanlah suatu keanehan apabila keluarga Kristen koptik dan keluarga Muslim
dapat hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat. Keluarga ini
sangat akrab dengan Fahri terutama Maria. Maria adalah seorang gadis Mesir
yang manis dan baik budi pekertinya. Kendati demikian, Fahri menyebutnya
sebagai gadis koptik yang aneh, karena walaupun Maria itu seorang non-muslim
ia mampu menghafal dua surah yang ada dalam Al-Quran dengan baik yang
belum tentu seorang Muslim mampu melakukannya. Ia hafal surat Al-Maidah dan
surah Maryam. Fahri juga baru mengetahuinya ketika mereka secara tak sengaja
bertemu di metro. Seluruh anggota keluarga Boutros sangat baik kepada Fahri
dkk. Bahkan ketika Fahri jatuh sakit pun keluarga ini jugalah yang membantu
membawa ke rumah sakit dan merawatnya selain keempat orang teman Fahri.
Apalagi Maria, dia sangat memperhatikan kesehatan Fahri. Keluarga ini juga
tidak segan-segan mengajak Fahri dkk untuk makan di restoran berbintang di
tepi sungai Nil,kebanggaan kota Mesir, sebagai balasan atas kado yang mereka
berikan. Pada waktu itu Madame Nahed berulang-tahun dan malam sebelumnya
Fahri dkk memberikan kado untuknya hanya karena ingin menyenangkan hati
beliau karena bagi Fahri menyenangkan hati orang lain adalah wajib hukumnya.
Setelah makan malam, tuan dan nyonya Boutros ingin berdansa sejenak.
Madame Nahed meminta Fahri untuk mengajak Maria berdansa karena Maria
tidak pernah mau di ajak berdansa. Setelah tuan dan nyonya Boutros melangkah
ke lantai dansa dan terhanyut dengan alunan musik yang syahdu, Maria pun
memberanikan diri mengajak Fahri untuk berdansa, namun Fahri menolaknya
dengan alasan Maria bukan mahramnya kemudian menjelaskannya dengan lebih
detail. Begitulah Fahri, ia selalu berusaha untuk menjunjung tinggi ajaran agama
yang dianutnya dan selalu menerapkannya dalm kehidupan sehari-hari.
Si Muka Dingin Bahadur dan Noura yang Malang

Selain bertetangga dengan keluarga Boutros, Fahri juga mempunyai tetangga


lain berkulit hitam yang perangainya berbanding 180 derajat dengan keluarga
Boutros. Kepala keluarga ini bernama Bahadur yang terkenal dengan julukan si
Muka Dingin karena ia selalu berperangai kasar kepada siapa saja bahkan
dengan istrinya madame Syaima dan putri bungsunya Noura. Bahadur dan
istrinya mempunyai tiga orang putri, Mona, Suzanna, dan Noura. Mona dan
Suzanna berkulit hitam namun tidak halnya dengan Noura, dia berkulit putih dan
berambut pirang. Hali inilah ang membuat Noura dimusuhi keluarganya yang
pada akhirnya membuat dirinya tercebur kedalam penderitaan yang amat
sangat. Bahadur mempunyai watak yang keras dan bicaranya sangat kasar,
Nouralah yang selalu menjadi sasaran kemarahannya. Dan kedua orang
saudaranya yang juga tidak menyukai Noura mengambil kesempatan ini untuk
ikut-ikutan memaki dirinya. Sampai tibalah pada suatu malam yang tragis
dimana Bahadur menyeret Noura ke jalanan dan punggungnya penuh dengan
luka cambukan. Hal ini sudah sering terjadi, namun malam itu yang terparah. Tak
ada satu orang pun yang berani menolong. Selain hari sudah larut, Bahadur juga
dikenal amat kejam. Akhirnya, karena sudah tak tahan lagi melihat penderitaan
Noura, Fahri pun meminta bantuan Maria melaui sms untuk menolong Noura.
Awalnya Maria menolak karena tidak mau keluarganya terlibat dengan keluarga
Bahadur. Namun setelah Fahri memohon agar Maria mau menolongnya demi
kecintaan Maria terhadap Al-Masih, Maria akhirnya luluh juga. Jadilah malam itu
Noura menginap di rumah keluarga Boutros. Malam ini jualah yang akhirnya
menghantarkan Fahri ke dalam penderitaan yang amat sangat dan juga
membuatnya hampir kehilangan kesempatan untuk hidup di dunia fana ini.