Anda di halaman 1dari 15

Struktur Dan Mekanisme Pencernaan Manusia

Stefi Tauran

102013397

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat

Email: stefi.2013fk397@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan

Sistem pencernaan merupakan sistem yang amat erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-
hari. Hidup manusia tidak pernah terlepas dari makan dan minum yang merupakan cara tubuh
kita untuk mencapai homeostasis sekaligus untuk penyerapan energi yang digunakan untuk
motilitas dan berbagai aktivitas pada tingkat selular lainnya. Saluran cerna merupakan saluran
yang sangat sensitif dan terdiri atas banyak organ yang memungkinkan terjadinya masalah
dengan tingkatan yang lebih bervariasi dan kompleks. Oleh karena itu penting bagi seorang calon
dokter untuk memahami tentang saluran cerna secara baik dan mendalam, terutama fungsi
normalnya sehingga lebih mudah untuk mendiagnosa kelainan yang mungkin terjadi akibat dari
abnormalnya fungsi tersebut.

Pembahasan

A. Struktur Makroskopis

1. Cavum Oris

Cavum oris ialah ruangan yang dimulai dari rima oris dan berkahir pada isthmus faucium.
Rongga ini selain berfungsi sebagai bagian dari saluran cerna juga berfungsi sebagai
ruang yang dapat dilalui udara pernapasan dan juga berperan penting dalam pembentukan
suara. Rongga ini terbagi atas 2 daerah yaitu vestibulum oris dan cavum oris proprium.
Vestibulum oris merupakan daerah di antar bibir dan pipi di sebelah luar dan gigi bersama
processus alveolarisnya di sebelah dalam. Sedangkan cavum oris proprium adalah daerah
yang berada di belakang vestibulum oris yang berhadapan dengan palatum durum dan
palatum molle di bagian atasnya. Ruang ini berakhir di isthmus faucium serta berisi organ
sensibel yang berfungsi dalam pengecapan yaitu lingua/lidah.1
Gigi-geligi pada manusia berjumlah 32 buah yang terbagi 2 menjadi 16 buah masing-
masing pada bagian atas dan bawah. 16 gigi tersebut terdiri dari 2 gigi seri (dens
incisivus), 1 gigi taring (dens caninus), 2 gigi geraham depan (dens premolaris) dan 3 gigi
geraham belakang (dens molaris).
Langit-langit mulut terdiri dari palatum durum yang merupakan tulang dan palatum molle
yang merupakan suatu aponeurosis yang merupakan tempat lekat beberapa otot seperti m.
tensor veli palatini, m. levator veli palatini, mm. uvulae, m. palatoglossus serta mm.
palatopharyngeus.1
Lidah merupakan struktur yang lentur berfungsi dalam proses berbicara. Organ ini juga
memiliki kuncup pengecap yang menjadikannya juga berfungsi sebagai organ perasa.
Lidah dapat dibedakan menjadi bagian oral yang terdiri dari apex dan corpus, serta
bagian pharingeal yang padanya terdapat akar lidah (radix lingua). Corpus dan radix
lingua dibatasi oleh alur yang disebut dengan sulcus terminalis. Dorsum linguae
merupakan bagian yang disebut juga dengan punggung lidah. Pada garis tengahnya
terdapat sulcus medianus yang bersesuaian dengan septum lingue di bagian bawahnya
yang berjalan secara vertikal.
2
3 bagian depan dari dorsum linguae mengandung selaput lendir yang memiliki

1
papila. Papila terdiri atas papilla filiformis, fungiformis, foliatae dan vallatae. 3

bagian belakangnya terdiri aras kelenjar getah bening yang disebut dengan tonsila
lingualis yang akan membentuk cincin Waldeyer bersama dengan tonsilae palatinee dan
tonsila pharyngea (adenoid). Lidah memiliki otot ekstrinsik yaitu M. genioglossus, M.
hyoglossus, M. styloglossus dan M. palatoglossus. Selain itu, ada otot intrinsik lidah
yaitu M. verticalis, M. longitudinalis superior, M. longitundinalis inferior dan M.
transversalis.1
Pada cavum oris terdapat kelenjar ludah yaitu glandula parotis, glandula submandibularis
dan glandula sublingualis. Glandula parotis berbentuk seperti piramid dan terletak pada
fossa mandibula antara os mandibula dan m. sternocleidomastoideus. Dalam kelenjar ini
terletak n. fascialis, v. fascialis posterior dan a. carotis externa. Saluran keluar dari
glandula parotis ialah ductus parotideus yang sejajar dengan arcus zygomaticus.2
Glandula submandibularis terdiri dari 2 bagian yaitu bagian yang dangkal dan yang
dalam. Saluran keluarnya disebut dengan ductus submandibularis Whartoni dan bermuara
di caruncula sublingualis s. Papila salivaris inferior yang terletak di belakang gigi seri
rahang bawah. Glandula sublingualis merupakan kelenjar dengan bentuk memanjang dan
terletak di dasar rongga mulut dekat dengan frenulum linguae antara m. geniohyoideus
dan m. genioglossus pada bagian medial dan m. hyoglossus pada bagian lateral. Saluran
keluarnya disebut dengan ductus sublingual major dan minor.
Rongga mulut berakhir di isthmus faucium. Isthmus faucium ini menghubungkan rongga
mulut dengan saluran selanjutnya yaitu oropharynx. Isthmus faucium dibatasi oleh tepi
bebas dari palatum molle, arcus palatoglossus dan dorsum linguae. Pada daerah ini
terdapat 2 arcus yaitu arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus. Di antara kedua
arcus ini terdapat sinus tonsilaris yang berisi tonsila palatina.

Oesophagus

Merupakan suatu pipa musculair sepanjang 25 cm, yang merupakan lanjutan pharynx dan mulai
di tepi bawah cartilage cricoidea setinggi vertebra C6, dan berakhir di cardia ventriculi setinggi
vertebra Th X-XI. Selama perjalannya ke distal, ia mengikuti lengkung-lengkung columna
vertebralis, yang terletak tepat di belakangnya. Pada oesophagus dapat dibedakan 3 bagian,
yaitu1

1 Pars cervicalis ( C6-7)

Bagian ini turun lurus di bagian median, kemudian melengkung sedikit ke kiri dan bagian akhir.
Huubungan dengan alat-alat di sekitarnya, yaitu:

o Di sebelah anterior berhubungan dengan trachea dan glandula thyroidea


o Di sebelah posterior berhubungan dengan corpora vertebra C6 dan 7
o Di sebelah lateral kanan/kiri berbatasan dengan Aa. Carotis communis dan
nn.Recurrens/laryngea inferior
o Di sebelah lateral kiri berhubungan dengan a. subclavia dan ductus thoracicus.1

2 Pars thoracalis (Th I-X)

Di bagian ini oesophagus masuk ke mediastinum superius, kemudian melalui mediastinum


posterius. Ia berjalan dari sisi kiri garis median membelok ke tengah lagi setinggi vertebra Th V
untuk kemudian membelok ke depan dan kiri sampai hiatus oesophagesu diaphragmatic setinggi
vertebra Th. X di depan aorta descendens. Hubungannya dengan alat-alat di sekitarnya adalah
dari atas ke bawah: 1

o Di sebelah anterior berhubungan dengan trachea, bronchus principalis sinistra,pericardium


parietale, atrium sinistra dan diaphragma yang merupakan bagian otot.
o Di sebelah posterior berbatasan dengan corpora vertebrae Th I-X, ductus thoracicus, vena
azygos, dan aorta descendens/aorta thoracalis.
o Di sebelah lateral kiri berbatasan dengan arcus aortae dengan n. recurrens sinistra, arteri
subclavia sinistra, ductus thoracicus, serta pleura mediastinalis sinistra.

Di sebelah lateral kanan berbatasan dengan pleura mediastinalis dextra dan vena azygos.

Lambung (Gaster)

Merupakan bagian saluran pencernaan yang melebar dan memiliki fungsi:

Menyimpan makanan
Mencampur makanan dengan getah lambung untuk membentuk chymus yang setengah
cair
Mengatur kecepatan pengiriman chymus ke usus halus sehingga pencernaan dan absorpsi
yang efesien dapat berlangsung.

Gaster terletak dibagian atas abdomen dan terbentang dari permukaan bawah arcus costalis
sinistra sampai region epigastrica dan umbilicalis. Sebagian besar gaster terletak dibawa costae
bagian bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf J dan mempunyai 2 lubang yaitu:

Ostium cardiacum
Merupakan tempat oesophagus masuk keg aster. Osthium ini tidak memiliki sphincter,
tetapi disini terdapat mekanisme fisiologis yang mencegah regurgitasi isi lambung ke
dalam esophagus.
Ostium pylorichum
Dibentuk oleh canalis pyloricus yang panjangnya sekitar 1 inci. Tunika muscularis
stratum circulare yang meliputi gaster jauh lebih tebal didaerah ini dan membentuk
m.sphincter pyloricus. Pylorus terletak pada planum transpyloricum, dan posisinya dapat
dikenali dengan adanya sedikit konstriksi pada permukaan lambung. M.spinchter
pyloricus berfungsi untuk mengatur kecepatan pengeluaran isi gaster ke duodenum.

Dan gaster memiliki 2 curvatura yaitu:


a. Curvature major
Lebih panjang daripada curvature minor dan terbentang dari sisi kiri ostium cardiacum,
melalui kubah fundus, dan sepanjang pinggir kiri gaster sampai ke pylorus. Di curvatura
major ini terdapat ligamentum, yaitu ligamentum gastrolienale yang membentang dari
bagian atas curvatura major hingga ke lien, dan omentum majus terbentang dari bagian
bawah curvature major sampai ke colon transversum.1
b. Curvatura minor
Membentuk pinggir kanan gaster dan terbentang dari ostium cardiacum sampai pylorus.
Curvatura minor ini digantung pada hepar oleh omentum minus.1

Gaster terbagi menjadi bagian-bagian berikut:

Fundus gastricum, berbentuk kubah, menonjol ke atas dan terletak di sebelah kiri ostium
cardiacum. Biasanya fundus ini berisi penuh dengan udara.
Corpus gastricum, terbentang dari ostium cardiacum hingga incisura angularis. Incisura
angularis ini merupakan suatu lekukan yang selalu ada pada bagian bawah curvatura
minor.
Anthrum pyloricum, terbentang dari incisura angularis hingga pylorus.
Pylorus merupakan bagian gaster yang berbentuk tubular. Dimana dinding ototnya tebal
sehingga membentuk m. sphincter pyloricus. Pada pylorus terdapat rongga yang
dinamakan canalis pyloricus.

Intestinum tenue ( Usus halus )

Merupakan bagian yang terpanjang dari saluran pencernaan dan terbentang dari pylorus pada
gaster sampai juncture ileocaecalis. Sebagian besar pencernaan dan absorpsi makanan
berlangsung di dalam intestinum tenue ini. Intestinum tenue ini terbagi menjadi:1
Duodenum
Merupakan saluran berbentuk huruf C dengan panjang sekitar 10 inci, yang merupakan
organ penghubung gaster dengan jejunum. Duodenum adalah rongga penting karena
merupakan tempat bermuaranya ductus choledocus dan ductus pancreaticus. Duodenum
melengkung di sekitar caput pancreatic. Satu inci pertama duodenum menyerupai gaster,
yang permukaan anterior dan posteriornya diliputi oleh peritoneum dan mempunyai
omentum minus yang melekat pada pimggir bawahnya. Bursa omentalis terletak di
belakang segmen yang pendek ini. Sisa duodenum yang lain terletak retroperitoneal,
hanya sebagian saja yang diliputi oleh peritoneum. Duodenum terletak pada region
epigastrica dan umbilicalis dan di bagi menjadi 4 bagia, yaitu: 1
Pars superior duodenum
Panjangnya 2 inci, dimulai dari pylorus dan berjalan ke atas dankebelakang pda sisi
kanan vertebra lumbalis I. Jadi bagian ini terletak pada planum transpyloricum.2
Pars descendens duodenum
Panjangnya 3 inci dan berjalan ventrikal ke bawah di depan hilum renale dextra, di
sebelah kanan vertebra lumbales II dan III. Kira-kira pertengahan arah ke bawah, pada
margo medialis, ductus choledocus dan ductus pancreaticus menembus dinding
duodenum. Kedua ductus ini bergabung untuk membentuk ampula hepatopancreatica
yang akan bermuara pada papilla duodeni major. Jika ada ductus pancreaticus acessorius,
ia akan bermuara ke dalam duodenum sedikit lebih tinggi, yaitu pada papilla duodeni
minor.1
Pars horizontalis duodenum
Panjangnya 3 inci dan berjalan horizontal ke kiri pada planum subcostale, berjalan di
depan columna vertebralis dan mengikuti pinggir bawah caput pancreatis.2
Pars ascendens duodenum
Panjangnya 2 inci dan berjalan ke atas dan ke kiri ke flexura duodenojejunalis. Flexura ini
di fiksasi oleh lipatan peritoneum, ligamentum Treitz, yang melekat pada crus dextrum
diaphragma.1
Jejunum dan Ileum
Panjangnya 20 kaki, 2/5 bagian atas merupakan jejunum. Masing-masing bagian
mempunyai gambaran yang berbeda, tetapi terdapat perubahan yang bertahap dari bagian
yang satu ke bagian yang lainnya. Jejunum di mulai dari juncture duodenojejunalis dan
ileum berakhir pada juncture ileocaecalis.2 Lengkung-lengkung jejunum dan ileum dapat
bergerak dengan bebas dan melekat pada dinding posterior abdomen dengan perantaraan
lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dan terkenal sebagai mesenterium. Pinggir
bebas lipatan yang panjang meliputi usus halus yang bebas bergerak. Sedangkan pankal
lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai peritoneum parietale pada dinding posterior
abdomen sepanjang garis yang berjalan ke bawah dan ke kanan dari sisi kiri vertebra
lumbalis II ke daerah articulation sarcoiliaca dextra. Radix mesenterii ini memungkinkan
keluar dan masuknya cabang-cabang arteria dan vena mesenterica superior, pembuluh
limf, serta saraf-saraf ke dalam ruangan di antara kedua lapisan peritoneum yang
membentuk mesenterium.

5 Intestinum crassum ( Usus besar )

Terbentang dari ileum sampai anus. Fungsi utama dari intestinum crassum ini adalah untuk
mengabsorpsi air dan elektrolit dan menyimpan bahan yang tidak dicerna sampai dapat
dikeluarkan dari tubuh sebagai feces. Intestinum crassum terbagi menjadi:1

Caecum

Merupakan bagian intestinum crassum yang terletak di perbatasan ileum dan intestinum crassum.
Caecum merupakan kantong buntu yang terletak pada fossa iliaca dextra. Panjangnya sekitar 6
cm dan seluruhnya diliputi oleh peritoneum. Caecum mudah bergerak walaupun tidak memiliki
mesenterium. Adanya lipatan peritoneum di sekitar caecum membentuk recessus ileocaecalis
superior, recessus ileocaecalis inferior dan recessus retrocaecalis.1

Seperti pada colon, stratum longitudinal tunica muscularis terbatas pada 3 pita tipis, yaitu taenia
coli yang bersatu pada appendix vermiformis dan membentuk stratum longitudinal tunica
muscularis yang sempurna pada appendix vermiformus. Caecum sering teregang oleh gas dan
dapat diraba melalui dinding anterior abdomen pada orang hidup.1

Pars terminalis ileum masuk ke intestinum crassum pada tempat pertemuan caecum dengan
colon ascendens. Lubangnya mempunyai dua katup yang membentuk sesuatau yaitu papilla
illealis. Appendix vermiformis berhubungan dengan caecum melalui lubang yang terletak di
bawah dan belakang ostium ileale.1

Appendix vermiformis

Merupakan organ yang sempit, berbentuk tabung yang mempunyai otot dan mengandung banyak
jaringan limfoid. Panjangnya bervariasi dari 3-5 inci dan dasarnya melekat pada permukaan
posteromedial caecum, sekitar 1 inci di bawah juncture ileocaecalis. Bagian appendix
vermiformis lainnya bebas. Appendix ini diliputi seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada
laipsan bawah mesenterium intestinum tenue melalui mesenteriumnya sendiri yang pendek, yaitu
mesoappendix, yang mana mesoappendix ini berisi arteria, vena appendicularis dan saraf-saraf.1

Appendix vermiformis terletak di region iliaca dextra, dan pangkalnya diproyeksikan ke dinding
anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaca anterior
superior dan umbilicus.1

Colon ascendens

Panjangnya sekitar 5 inci dan terletak di kuadran kanan bawah. Colon ini membentang ke atas
dari caecum sampai permukaan inferior lobus hepatis dexter, lalu colon ini membelok ke kiri,
membentuk flexura coli dextra, dan melanjutkan diri sebagai colon transversum. Peritoneum
meliputi bagian depan dan samping colon descendens dan menghubungkan colon ascendens
dengan dinding posterior abdomen.1

Colon transversum

Panjangnya sekitar 15 inci dan berjalan menyilang abdomen, menempati region umbilicalis.
Colon ini mulai dari flexura coli dextra di bawah lobus hepatis dexter dan tergantung ke bawah
oleh mesocolon transversum dari pancreas. Kemudian colon ini berjalan ke atas sampai flexura
coli sinistra di bawah lien. Flexura coli sinistra lebih tinggi daripada flexura colli dextra dan
digantung ke diaphragma oleh ligamentum phrenicocolicum.1

Colon descendens
Panjangnya sekitar 10 inci dan terletak di kuadran kiri atas dan bawah. Colon ini berjalan ke
bawah dari flexura coli sinistra sampai pinggir pelvis, di sini colon transversum melanjutkan diri
menjadi colon sigmoideum. Peritoneum meliputi permukaan depan dan sisi-sisinya serta
menghubungkannya dengan dinding posterior abdomen.1

Colon sigmoideum

Panjangnya sekitar 10-15 inci dan merupakan lanjutan dari colon descendens yang terletak di
depan apertura pelvis superior. Di bawah colon sigmoideum berlanjut sebagai rectum yang
terletak di depan vertebra sacralis ketiga. Colon ini mudah bergerak dan tergantung ke bawah
masuk ke dalam cavitas pelvis dalam bentuk lengkungan.1

Colon ini dihubungkan dengan dinding posterior pelvis oleh mesocolon sigmoideum yang
berbentuk seperti kipas. Lengkung-lengkung colon sigmoideum bervariasi, tetapi umumnya
melengkung ke sebelah kanan linea mediana sebelum berhubungan dengan rectum.1

B. Struktur Mikroskopis
1. Cavum Oris
Cavum Oris merupakan rongga yang terdiri atas labium oris, buccal, dentis, gingivae,
linguae, palatum molle dan palatum durum. Labium oris merupakan area yang secara
garis besar dapat terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:
Area Cutanea : merupakan struktur kulit yang tipis.
Area Merah Bibir (Intermedia) : merupakan area yang terdiri atas epitel berlapis
gepeng tidak bertanduk. Epitel disini transparan karena mengadung butir-butir
eleidin. Kemudian papilanya mengandung banyak kapiler.
Area Oral Mukosa : memiliki struktur yang mirip seperti pipi dan memiliki epitel
berlapis gepeng tidak bertanduk. Didapati pula glandula labialis yang bersifat
seromukosa. Selain itu dibawah lapisan submukosa didapati m. orbikularis oris.

Lingua merupakan otot yang permukaan dorsalnya dilingkupi oleh papila. Epitel pada
lingua ialah epitel berlapis gepeng bertanduk maupun tidak bertanduk. Papila pada lidah
berfungsi sebagai reseptor perasa. Adapun papila ini tersebar pada 2/3 permukaan
anterior lingua. Papila yang dimaksud adalah:

Papila circumvalata : tersusun dalam sulcus terminalis yang dikelilingi epitel lidah.
Papila filiformis : memiliki epitel berlapis gepeng bertanduk, berbentuk runcing,
serta tidak punya taste bud.
Papila fungiformis : tersebar diantara papila filiformis, memiliki taste bud dan punya
bentuk modifikasi yang disebut papila lentiformis.
Papila foliata: Punya teste bud, memiliki lekuk sumur yang dalan dan rudimenter
pada manusia namun berkembang pada kelinci.

Dentin merupakan bagian terbesar dari gigi yang mengalami mineralisasi seperti halnya
pada tulang. Dentin dibentuk oleh odentoblas, kadar garam kalsiumnya mencapai 80%
dan zat organik lainnya mencapai 20%. Sedangkan email pada gigi tersusun terutama dari
bahan anorganik dan hanya satu persennya yang merupakan bahan organik. Gigi pada
potongan membujur dari atas ke bawah akan terlihat memiliki lapisan mahkota gigi, akar
gigi dan leher gigi. Sementara gusi (ginggiva) adalah membran mukosa yang meliputi
periosteum tulang alveolar dan melekat pada leher gigi. Membran mukosa gusi
merupakan epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk, dimana lamina proprianya
membentuk papil tinggi dan rampin serta memiliki banyak jala kapiler sehingga tampak
merah muda.2

D. Mekanisme saluran pencernaan

Mastikasi (mengunyah) Proses mastikasi terutama diperankan oleh gigi. Seperti yang
telah kita ketahui gigi sudah dirancang sangat tepat untuk menguyah, dimana gigi anterior
(incisivus) bekerja memotong dan gigi posterior (molar) bekerja menggiling. Semua otot rahang
bawah yang bekerja bersama-sama dapat mengatupkan gigi dengan kekuatan 55 pound pada
incisivus dan 200 pound pada molar. Pada umumnya otot-otot penguyah dipersarafi oleh cabang
motorik dari saraf kranialke lima (N. trigeminus) dan proses menguyah dikontrol oleh nukleus
dalam batang otak. Perangsangan daerah retikularis spesifik pada pusat pengecap batang otak
akan menimbulkan pergerakkan mengunyah yang ritmis. Demikian pula, perangsangan area
dihipotalamus, amigdala dan korteks serebri dekat area sensoris untuk pengecap dan penghidu
seringkali menimbulkan gerakan menguyah. Kebanyakan proses mengunyah disebabkan oleh
suatu refleks mengunyah yang dapat dijelaskan sebagai berikut : adanya bolus makanan di dalam
mulut pada awalnya menimbulkan penghambat refleks otot mengunyah, yang menyebabkan
rahang bawah turun. Penurunan ini akan menimbulkan refleks regang pada otot-otat rahang
bawah yang menimbulkan kontraksi rebound. Keadaan ini secara otomatis mengangkat rahang
bawah yang menimbulkan pengatupan gigi, tetapi juga menekan bolus melawan dinding mulut,
yang mengahambat otot rahang bawah sekali lagi, menyebabkan rahang bawah turun dan
kembali rebound pada saat yang lain dan ini terjadi berulang-ulang. Mengunyah sangat penting
untuk pencernaan semua makanan, terutama untuk sebagian besar buah dan sayur-sayuran
mentah karena zat-zat ini mempunyai membrane selulosa yang tidak mudah dicerna. Selain itu,
mengunyah akan membantu pencernaan makanan, hal ini karena enzim-enzim pencernaan hanya
bekerja pada permukaan partikel makanan; karena itu kecepatan pencernaan tergantung
selurunya bergantung pada total area permukaan yang terpapar dengan sekresi pencernaan.
Selain itu, menggiling makanan hingga menjadi partikel-partikel dengan konsistensi sangat halus
akan mencegah ekskoriasi traktus gastrointestinal dan meningkatkan kemudahan pengosongan
makanan dari lambung ke dalam usus halus, kemudian ke semua segmenusus halus berikutnya.

Proses menelan (deglutisi) Menelan adalah mekanisme yang kompleks, terutama karena
faring membantu fungsi pernapasan dan menelan. Faring diubah hanya dalam beberapa
detik menjadi traktus untuk mendorong masuk makanan. Yang terutama penting adalah
respirasi tidak terganggu karean proses menelan. Pada umumnya menelan dapat dibagi
manjadi tahap volunter; yang mencetuskan proses menelan, tahap faringeal; yang bersifat
involunter dan membantu jalannya makanan melalui faring ke dalam oesofagus dan tahap
oesophageal; fase involunter lain yang mengangkut makanan dari faring ke lambung.
Pusat pengaturan penelanan oleh daerah di medula dan pons bagian bawah. Implus
motorik dari pusat menelan ke faring dan esofagus bagian atas dijalarkan secara berturut-
turut oleh saraf kranial ke-5, ke-9, ke-10 dan ke-12.7
-Tahap volunteer
-Tahap faringeal
-Tahap esophageal
-Relaksasi reseptif dari lambung

Sekresi saliva

Sekresi saliva berada dibawah kontrol saraf. Rangsangan pada (1) Inervasi saraf
parasimpatik memegang peran utama stimulus sekresi saliva, dan berpengaruh terhadap
komposisinya. Saraf parasimpatis dari nukleus salivatorius superior(bagian dari nervus
fasialis dan berlokasi di pontine tegmentum) menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah
besar dengan kandungan bahan organik yang rendah. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi
mencolok pada kelenjar, yang disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine
polipeptide). Polipeptida ini adalah co-transmitter dengan asetilkolin pada sebagian
neuron parasimpatis pascaganglion. Rangsangan (2) Saraf simpatis cenderung
mempengaruhi volume sekresinya. Saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan
sekresi sedikit saliva yang akan bahan organik dari kelenjar submandibularis. Pada
kelenjar sub lingual dan kelenjar-kelenjar minor, lebih dipengaruhi oleh respon
kolinergik, sedangkan pada kelenjar lainnya cenderung ke inervasi adrenergik.
Selain dari perbedaan tipe reseptor autonom yang aktif, terdapat dua faktor lain yang
berpengaruh terhadap komposisis saliva, yaitu intensitas dan durasi stimulasi ke kelenjar.
Perbedaan tersebut berpengaruh langsung kepada permeabilitas membran sel-sel sekretori
sebagai akibat dari hilangnya elektrolit sel tersebut.7

Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan cara-cara berikut:


Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet
Kimiawi, oleh rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit, dan pedas.
Neuronal, melalui sistem saraf autonom baik simpatis maupun parasimpatis.
Psikis, stress menghambat sekresi, ketegangan dan kemarahan dapat bekerja sebagai
stimulasi.
Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa yang
dapat menstimulasi sekresi.7

E. Enzim Pencernaan

Pencernaan molekul organik besar seperi karbohidrat, protein dan lemak dibantu oleh enzim
tertentu yang berfungsi mempercepat reaksi sehingga reaksi tidak memakan waktu terlalu lama.
Bahan-bahan yang dapat diserap sebagai hasil pencernaan ini ialah asam amino, monosakarida,
monoasilgliserol, gliserol dan asam lemak serta vitamin dan mineral.

Proses pencernaan secara umum terbagi atas proses pencernaan secara mekanis dan proses
pencernaan kimiawi. Secara mekanis bolus dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil
untuk mempermudah proses pencernaan kimia melalui enzim. Dilihat dari fungsinya enzim
menjadi sangat penting dalam proses pencernaan kimia agar proses kimia tersebut berlangsung
lebih cepat.

Pencernaan telah dimulai dari mulut. Di mulut terdapat saliva yang disekresikan oleh kelenjar
parotis, submandibularis dan submaksilaris. Keluarnya saliva dapat terjadi karena adanya massa
makanan di mulut maupun adanya rangsangan psikis, misalnya berupa bau makanan tertentu.
Saliva terdiri dari 99,5% air dan 0,5% bahan padat seperti albumin dan globulin serta musin.
Selain itu dapat dijumpai sejumlah ion organik seperti kalsium, kalium dan ion bikarbonat.2 Pada
saliva terdapat suatu jenis enzim yaitu amilase saliva atau ptialin. Pada polisakarida, enzim ini
bekerja dengan cara memutuskan ikatan glikosidik 1,4. Enzim ini akan menguraikan polisakarida
menjadi disakarida maltosa. Ion tertentu dapat menjadi aktivator dari enzim ini, antara lain ion
Cl-, Br-, NO3- dan SO42-. Enzim amilase saliva akan bekerja dengan optimal pada pH 6,8. Pada
pH dibawah 4, enzim ini akan menjadi inaktif (misalnya dalam lambung). Selain faktor tingkat
keasaman, faktor suhu, konsentrasi enzim dan konsentari substrat juga turut menentukan
seberapa optimal enzim ini dapat berkerja. Selain mencernakan makanan, saliva juga berfungsi
melindungi mukosa mulut serta melarutkan makanan kering dan padat serta melicinkan
gumpalan makanan agar mudah ditelan.

Setelah polisakarida mengalami pemecahan menjadi disakarida di mulut, bolus akan melanjutkan
perjalanan ke lambung melalui oesophagus. Bagitu tiba di lambung, kimus akan berhadapan
dengan suasana yang asam. Hal ini disebabkan oleh karena adanya sekresi asam klorida dari sel
parietal sebagai respon terhadap eksistensi kimus. Tingkat keasaman yang tinggi ini sebenarnya
juga berfungsi pada denaturasi dari polipeptida yaitu dengan jalan menguraikan struktur tersier
dengan memotong ikatan hidrogen didalamnya.2 Selain itu tingkat keasaman yang tinggi
bersama lisozim dari saliva dapat menghancurkan sebagian besar mikroorganisme yang masuk
ke gastro-intestinal track.

Selain sel parietal, terdapat pula sel chief dan sel leher mukus pada dinding mukosa lambung. Sel
chief berfungsi untuk menghasilkan pepsinogen, suatu zymogen yang bila aktif akan memecah
protein menjadi proteosa dan pepton. Pepsinogen ini menjadi aktif dengan bantuan asam klorida
yang dihasilkan sel parietal tadi. Pepsin ini spesifik bekerja dengan memutuskan ikatan peptida
pada asam amino aromatik ataupun asam amino dikarboksilat.

Renin merupakan suatu enzim yang hanya terdapat pada lambung bayi. Renin berfungsi
menggumpalkan kasein yang ada pada susu sehingga tidak mengalir dengan cepat keluar dari
lambung. Kasein susu yang berkontak dengan kalsium pada renin akan bereaksi membentuk
kalsium parakaseinat yang bila berkontak dengan pepsin dapat pecah kembali.

Pada lambung juga ditemukan lipase. Lipase berfungsi untuk menghidrolisis tri-gliaserol rantai
pendek dan rantai sedang. Namun fungsi lipolitiknya pada lambung tidak terjadi karena pH
optimalnya 7,5 tidak sesuai dengan pH lambung.

Pencernaan pada pankreas dan usus dapat terjadi karena adanya sekresi hormon sekretin pada
duodenum dan jejunum. Hormon sekretin ini disekresikan sebagai bentuk respon terhadap
adanya HCl, lemak, protein, karbohidrat dan sebagian makanan yang telah dicerna dalam
lambung.2 Hormon ini akan mengalir melalui darah portal menuju pankreas, empedu dan hepar
dan merangsang sekresi pankreas. Jenis-jenis sekretin antara lain pankreozimin, hepatokrinin,
kolesistokinin dan enterokrinin.

Getah pankreas dihasilkan sebagai respon terhadapa kerja sekretin. Getah pankreas umumnya
kental seperti saliva, mangandung air, protein, ssedikit senyawa organik, berbagai macam ion
anorganik dan memiliki pH yang sedikit alkalis (7,5 8). Enzim-enzim yang terdapat pada getah
pankreas antara lain:

Tripsin : disekresikan dalam bentuk yang tidak aktif yaitu tripsinogen. Tripsinogen
diaktifkan dalam duodenum oleh enzim enterokinase menjadi tripsin.Protease yang
bergabung dengan tripsin akan menjadi polipeptida. Pepton akan dihidrolisis pada
bagian yang mengandung asam amino lisin/arganin. Tripsin juga dapat mengkoagulasi
susu pada pH optimal 8.
Kimotripsin : juga disekresikan dalam zymogen yaitu kimotripsinogen. Bentuk inaktif
ini akan bereaksi dengan tripsin menjadi kemotripsin. Kimotripsin bisa mengkoagulasi
susu dengan tingkat kekuatan yang lebih tinggi dibanding tripsin.
Karboksipeptidase : merupakan enzim proteolitik yang mengandung Zink. Enzim ini
mengkatalisis hidrolisa pada ikatan peptida di ujung molekul pada sisi karboksil bebas
polipeptida.
Amilase pankreas : bentuknya sama dengan amilase saliva. Bekerja dengan cara
menghidrolisis pati menjadi maltosa dan optimal pada pH netral.
Lipas pankreas : bekerja dengan cara menghidrolisis lemak menjadi asam lemak,
gliserol, monogliserida dan digliserida. Aktivitasnya akan diperkuat dengan kerja garam
empedu.
Kolesterol esterase : akan mengkatalisis reaksi antara kolesterol bebas dan asam lemak
sehingga membentuk kolesterol esterase dan asam lemak. Enzim ini diaktifkan oleh
garam empedu.
RNAase dan DNAase: mengkatalisa asam nukleat menjadi nukleotida.

Pada proses pencernaan lemak, ada suatu zat yang penting yang turut berperan selain lipase
pankreas. Zat tersebut ialah empedu. Empedu disekresikan oleh hati dan bila tidak diperlukan
akan disimpan sementara di kantung empedu. Empedu mengandung asam yaitu asam kolat, asam
deoksikolat, asam kenodeoksikolat dan asam litokolat. Asam empedu dapat berkonjugasi dengan
asam amino glisin atau taurin padu gugus karboksil sehingga dapat larut dalam air.

Fungsi empedu antara lain adalah sebagai berikut:

Emulsifikasi : dengan cara menurunkan tegangan permukaan air, garam empedu dapat
mengemulsi lemak dalam usus sehingga lipase dapat bekerja dengan lebih baik. Garam
empedu juga membantu agar vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E, dan K) dapat
membentuk senyawa kompleks yang lebih mudah larut dalam air.
Netralisasi : empedu dapat menetralkan kimus yang berasal dari asam lambung.
Ekskresi : Kolesterol yang berasal dari makanan / disentesis dalam tubuh dapat
disekresikan melalui empedu.
Metabolisme pigmen empedu : pemecahan hemoglobin menghasilkan pigmen empedu
yaitu bilirubin yang akan disekresikan melalui empedu. Bahan ini akan diabsorbsi di
gasto-intestinal track yaitu pada sel epitel mukosa usus halus. Sedangkan pada lambung
tidak terjadi absorbsi kecuali alkohol.

Pencernaan pada usus adalah dengan cara mensekresikan beberapa enzim yang akan terdapat
pada mikrovili intestinal. Selain sekresi enzim, ada pula sekresi getah usus halus oleh kelenjar
Brunner dan Lieberkuhn untuk membentu menetralkan keasaman kimus dari lambung.

Adapun enzim yang diekskresi adalah di usus halus adalah:

Aminopeptidase : mengubah polipeptida menjadi asam amino dan peptida dengan


ikatan yang lebih pendek dengan cara katalisa hidrolisis ikatan peptida di ujung molekul
di sisi yang mengandung asam amino bebas.
Dipeptidase : mengubah peptida menjadi asam amino.
Disakaridase : yaitu sukrase, maltase, isomaltase dan laktase. Mengubah disakarida
menjadi monosakarida.
Fosfatase : melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik yang berasal dari makanan
seperti hexofosfat, gliserofosfat dan nukleotida.
Polinukleotidase : mengubah asam nukleat menjadi nukleotida.
Nukleosida (nukleosida fosforilase) mengkatalisis perubahan nukleosida menjadi
fosforilasi pentosa, uridin, sistidin dan timidin.
Lesitinase mengubah lesitin menjadi gliserol, asam lemak, asam fosfat dan kolin.

Setelah diubah menjadi bentuk yang paling sederhana, maka molekul hasil pencernaan makanan
akan diabsorbsi dengan jalan menggunakan difusi, transpor aktif, sitotaksis, dan persorpsi.
Makanan yang diabsorsi kemudian akan melalui dua jalan yaitu melalui vena porta menuju ke
hati dan melalui pembuluh limfe di sekitar usus lalu menuju duktus thoracicus dan berakhir di
darah.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Setiap organ dalam saluran pencernaan memiliki ciri spesifik yang menjadikannya berbeda
dibandingkan dengan yang lain. Pada struktur makroskopis dapat dilihat perbedaan ciri
tersebut, baik dai penyusunnya, pendarahan, persarafan dan peredaran getah beningnya.
Secara umum struktur mikroskopis saluran pencernaan dapat dilihat dari perbedaan 4
lapisan, yaitu tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis dan tunika adventisia.
Perbedaan setiap organ dapat terlihat pada ada/tidaknya kelenjar dan ciri khas tertentu pada
keempat lapisan tersebut.
Fungsi umum saluran pencernaan dapat dijalankan melalui empat proses dasar pencernaan
yaitu motilitas, sekresi, digesti dan absorbsi. Keempat proses tersebut merupakan proses
dasar dalam pencernaan.
Mekanisme pencernaan karbohidrat terjadi melalui pemecahan polisakarida menjadi
mosakarida melalu sejumlah tahap. Pencernaan protein terjadi dari pemecahan protein
menjadi asam amino. Sedangkan trigliserida pada lemak akan dipecah menjadi asam lemak
dan gliserol.
Banyak enzim yang berperan dalam proses pencernaan. Kerja enzim ini adalah sebagai
katalisator dalam suatu reaksi yang terjadi. Sehingga reaksi dapat berlangsung dalam suhu
tubuh dengan tingkat kecepatan yang lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gunardi S. Anatomi sistem pencernaan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta : 2009.
2. Wibowo S Daniel. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta : Grasindo 2005
3. Junqueria LC, Carneiro J. Histologi Dasar Teks dan Atlas.10 ed . Jakarta :EGC 2007.
4. Ross MH, Reith JR. Histology a text and atlas. Cambridge: Harper & Row Publisher
2000.
5. Johnson KE. Histologi dan biologi sel. Jakarta: Binarupa Aksara 1999.
6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11. Jakarta: EGC 2007.
7. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 20. Jakarta: EGC 2002.
8. Lauralee S. Human physiology : from cells to system. Belmont: Thomson brooks/cole
2007.