Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dalam menyusun
makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas
mata kuliah study ke-PGRI-an tentang Hubungan PGRI Secara Vertikal dan
Horizontal, serta Hubungan Luar Negeri. Kami berharap makalah ini dapat
berguna bagi kita semua.
Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan pihak yang
mendorong dan memotivasi pembuatan makalah ini supaya lebih baik dan lebih
efisien. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Hj. Rodiah Mukhtar,
M.Pd sebagai dosen pembimbing dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
yang kurang sempurna dalam pembahasan ini, oleh karena itu bagi pihak yang
membaca makalah ini bisa memberikan kritik dan saran untuk mengembangkan
serta dalam penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan bagi para pembaca.

Lubuklinggau, 15 Oktober 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3 Pembatasan Masalah..................................................................................2

1.4 Tujuan Penulisan........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hubungan dan Kerjasama Vertikal.............................................................3

2.2 Hubungan dan Kerjasama Horizontal.........................................................5

2.3 Hubungan Luar Negeri...............................................................................6

a. Tingkat Regional...........................................................................7

b. Tingkat Internasional.....................................................................7

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan...............................................................................................11

3.2 Saran........................................................................................................11

DAFTAR PUSATAKA..........................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbagai persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan sampai lembaga


pendidikan di era globalisasi menuntut tim pekerja yang solid antara pihak
sekolah itu sendiri dengan pihak luar, baik instansi atasan maupun masyarakat.
Melalui hubungan kerjasama PGRI antar instansi, maka administrasi hubungan
merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan terutama di kedua instansi tersebut.
Ketika hubungan PGRI antar instansi ini dapat berjalan harmonis dan
dinamis dengan sifat pedagogis, sosiologis dan produktif, maka diharapkan
tercapai tujuan utama yaitu terlaksananya proses pendidikan di kedua wilayah
secara produktif, efektif, efisien dan berhasil sehingga menghasilkan out-put
yang berkualitas secara inteletual, spritual dan social.
Sesuai dengan asas perjuangan nya, PGRI sejak permulaan berdiri nya
sudah mulai berusaha mencari hubungan dengan organisasi - organisasi guru
dan serikat -serikat buruh luar negeri. Pada masa permulaan revolusi dulu,
hubungan tersebut hanya bisa diusahakan melalui surat - menyurat saja.
Di luar dugaan, tanggapan pertama datang dari Australia yang sekaligus
menyampaikan undangan untuk berkunjung ke negerinya supaya wakil kita bisa
memberi informasi tentang keadaan dan perjuangan RI di sana. Kemudian
datang pula undangan perkenalan dari NEA untuk berkunjung ke Amerika,
perkenalan tertulis tersebut menjadi permulaan hubungan PGRI dengan WOTP.
Pada akhir Juni 1952 diadakan kongres terakhir WOTP yang
menghasilkan keputusan pembubaran WOTP dan mendirikan organisasi profesi
keguruan sedunia yaitu WCOTP (World Confederation of Organization of the
teaching Profesion) PGRI juga termasuk menjadi anggota dari organisasi
tersebut.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah


sebagai berikut:
1. Bagaiamana hubungan dan kerjasama PGRI secara veritkal?
2. Bagaimana hubungan dan kerjasama PGRI secara horizontal?
3. Bagaimana hubungan dan kerjasama dengan luar negeri?

1.3 Pembatasan Masalah


Agar pembahasan diskusi kita lebih fokus dan terarah, serta tidak meluas
dari pembahasan kelompok kami, maka kami membatasi makalah ini dalam
ruang lingkup Hubungan Kerjasama PGRI secara Vertikal dan Horizontal,
serta Hubungan Luar Negeri.

1.4 Tujuan Penulisan


Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah ke-PGRI-an.

2. Untuk mengetahui hubungan kerjasama PGRI secara vertikal dan


horisontal.

3. Untuk mengetahui hubungan PGRI Luar Negeri


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hubungan dan Kerjasama Vertikal


Hubungan kerjasama PGRI secara vertikal yang dimaksud adalah
hubungan antara Pengurus besar, Pengurus Provinsi, Pengurus
Kabupaten/Kota, Pengurus Cabang, dan Pengurus Ranting.

1. Hubungan antara pengurus PGRI Besar pengurus PGRI Provinsi secara


Vertikal bersifat Hierarkhies dan Instruktif. Hierarkhies yaitu hubungan
berdasar jenjang atau tingkatan organisasi, dan Instruktif yaitu hubungan
tersebut yang biasanya bersifat kebijakan yang mengikat, harus
dilaksanakan biasanya dari pengurus PGRI jenjang yang lebih tinggi kepada
pengurus PGRI yang jenjangnya lebih rendah. Hal tersebut diatur dalam
AD/ART PGRI dan peraturan organisasi lainnya, Antara lain sebagai berikut:

a. Pengesahan Organisasi PGRI Provinsi.


Pengesahan diberikan apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut :
Pembentukannya telah sesuai dengan syarat-syarat/prosedur yang telah
ditetapkandalam Anggaran Rumah Tangga pasal 13ayat (1), (2), dan (3).
Calon Organisasi PGRI Provinsi telah menyelesaikan administrasi
organisasi.
Memperlihatkan kegiatan organisasi.

b. Penolakan pengesahan Organisasi PGRI Provinsi


Calon Organisasi PGRI Provinsi yang ditolak permintaan pengesahannya
dapat mengajukan permasalahannya kepada Konferensi Kerja Nasional tahun
berikutnya yang wajib diagendakan secara khusus oleh Pengurus Besar.

c. Pembekuan, Pencairan, dan Pembubaran Organisasi PGRI Provinsi (Pasal


15) Pembekuan wajib didahului dengan peringatan tertulis oleh Pengurus Besar
sekurang-kurangnya tiga kali berturut-turut. Sesudah Organisasi Provinsi
dibekukan, segala kegiatan organisasi yang ada didaerahnya diurus langsung
oleh Pengurus Besar dan segala urusan Organisasi PGRI Provinsi menjadi
tanggung jawab Pengurus Besar.

d. Pencairan Organisasi PGRI Provinsi


Pengurus Besar wajib mengidupkan kembali Organisasi PGRI Provinsi
antara lain dengan menyelenggarakan Konferensi PGRI Provinsi, selambat-
lambatnya 6 (enam) bulan setelah dibekukan. Pengurus Besar dapat mencairkan
kembali suatu Organisasi PGRI Provinsi yang dibekukan kalau Organisasi PGRI
Provinsi tersebut telah dapat melakukan tugasnya secara wajar.

e. Pembubaran Organisasi PGRI Provinsi


Organisasi PGRI dibubarkan oleh Konferensi Kerja Nasional jika 12 (dua
belas) bulan sesudah dibekukan dan setelah berbagai upaya menghidupkan
kembali tidak juga berhasil. Sesudah Organisasi PGRI Provinsi dibubarkan,
Organisasi PGRI Kabupaten/Kota dan organisasi dibawahnya yang tetap
memenuhi syarat diurus langsung oleh Pengurus Besar. Kekayaan Organisasi
PGRI Provinsi, utang-piutang dan urusan lain-lain dari Organisasi PGRI Provinsi
yang dibubarkan menjadi tanggungjawab Pengurus Besar. Pembubaran serta
pengalihan segala kekayaan Organisasi PGRI Provinsi oleh Pengurus Besar
wajib diumumkan melalui media massa baik cetak maupun elektronik setempat.

2. Hubungan dengan pengurus PGRI Kabupaten/Kota


Dapat dilakukan melalui unsur wakil ketua, sekretaris umum, bendahara
dan biro menurut bidangnya masing-masing atas arahan ketua
Ketua biro dapat berhubungan dengan pengurus PGRI Kabupaten/Kota
tentang pelaksanaan kebijakan dan kegiatan-kegiatan PGRI Provinsi Jawa
Tengah sesuai dengan bidangnya masing-masing dibawah koordinasi wakil
ketua yang membidanginya
Hubungan surat kepada pengurus PGRI Kabupaten/Kota ditandatangani
oleh ketua dan sekretaris umum atau yang diberi delegasi untuk itu, dan
dibukukan dalam sekretariat

3. Hubungan dengan anak lembaga dan badan khusus himpunan profesi dan
keahlian sejenis, badan penasihat, dan dewan kehormatan organisasi dan
kode etik:
Bersifat kelembagaan sebagaimana diatur pada ART PGRI
Sebagaimana diatur dalam ayat (1) pasal ini dilakukan oleh dan untuk
PGRI Provinsi
Anggota pengurus PGRI dapat berhubungan langsung hanya untuk hal-
hal yang bersifat teknis, dan hasilnya dilaporkan kepada ketua PGRI
Provinsi

2.2 Hubungan dan Kerjasama Horizontal

Adapun yang dimaksud hubungan kerjasama PGRI secara Horizontal


adalah :

1. Hubungan antara Pengurus Besar PGRI dengan organisasi profesi


dan/atau organisasi massa setingkat Pengurus Besar.

2. Hubungan antara PGRI dan Pemerintahan dalam tingkat yang sama.

3. Hubungan antara Pengurus PGRI setingkat, misalnya PGRI Provinsi


Jawa Tengah dengan PGRI Provinsi Jawa Timur.

` Hubungan tersebut menggunakan azas manfaat, saling menguntungkan,


saling membantu, kekeluargaan, demokratis dan keterbukaan.

o Asas manfaat yaitu organisasi harus memberikan manfaat sebesar-


besarnya bagi organisasi, anggota, masyarakat dan negara dengan tidak
merugikan dan mengganggu hak serta kepentingan pihak lain
o Asas keterpaduan dan kemitraan PGRI yaitu organosasi yang
mengembangkan sikap kemitraan yang saling menguntungkan, saling
membantu, dan bekerjasama dengan sesama pemangku
kepentingan(stakoholders)
o Asas kebersamaan dan kekeluargaan yaitu organisasi yang
menumbuhkan sikap saling menghargai, memahami, menghormati,
tenggang rasa, ash asih serta asuh dan konsekuen dalam menegakkan
kebenaran dan keluhura moral
o Asas demokrasi yaitu organisasi yang menghargai nilai-nilai luhur
pancasila, nilai-nilai universal, kemanusiaan, keadilan, kebenaran dan
perbedaan pendapat
o Asas keterbukaan yaitu organisasi yang menumbuhkan sikap terbuka
rasa memiliki, mawas diri, partisipasi, tanggung jawab, kepercayaan,
menghindarkan kecurigaan dan meningkatkan kepedulian diantara
sesama anggota dan pengurus
Pengurus besar PGRI dalam rangka mencapai visi & misi organisasi
melakukan hubungan dengan pemerintah pusat. Hubungan tersebut dilakukan
baik dengan eksekutif maupun legislatif maupun lembaga-lembaga lainnya.
Dengan presiden RI pengurus besar PGRI beberapa kali melakukan audiensi
pada waktu mempringati Hari Ulang Tahun PGRI.

2.3 Hubungan Luar Negeri

Hubungan PGRI dengan luar negeri sudah dapat dibuktikan sejak


lahirnya PGRI. Pada periode tahun 1945 sampai 1950, perjuangan PGRI dititik
beratkan melawan NICA-Belanda guna menyelamatkan perang kemerdekaan.
Dalam usaha meningkatkan pendidikan dimulai dengan peralihan pendidikan
yang bersifat kolonial ke pendidikan nasional.
Pada tahun 1950 terjadi 2 kongres PGRI yaitu kongres IV di Yogyakarta
(Februari 1950) dan yang kedua kongres V (Desember 1950) di Bandung dalam
usaha penataan kembali organisasi.
Tahun 1950 merupakan tahun persatuan karena akhirnya kongres itu
membuat suatu maklumat persatuan. PGRI sebagai organisasi kemitraan,
berupaya menumbuhkan rasa semangat persatuan dan kesatuan dengan
membentuk suatu hubungan dengan luar negeri.
Dalam hubungannya dengan luar negeri, mulai 1948 menjalin kerjasama /
hubungan dengan National Education Association (NEA), yaitu Persatuan Guru
di Amerika Serikat. NEA mengundang PGRI untuk mengadakan peninjauan
tentang perkembangan pendidikan di Amerika Serikat selama 8 bulan. PGRI juga
mendapat undangan kongres II WCOTP (World Confideration of Organization of
the Teaching Profession) yang kedua di London pada bulan Juli 1948.
PGRI sudah sejak lama telah memiliki hubungan yang luas dengan guru
di luar negeri. Hubungan tersebut dapat meliputi hubungan kerjasama dalam
tingkat regional dan internasional, diantaranya adalah:

1. Tingkat Regional.

a. ASEAN Council of Teachers (ACT)


ASEAN Council of Teachers (ACT) merupakan organisasi yang
berangotakan guru-guru negara ASEAN. Negara yang menjadi anggota ACT
adalah Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand,
Vietnam, Kamboja, dan Laos. PGRI memprakarsai berdirinya ASEAN Council of
Teachers (ACT) tahun 1974.
b. Pertemuan Guru-Guru Nusantara (PGN)
Pertemuan Guru-Guru Nusantara merupakan organisasi yang
beranggotakan guru-guru yang terbentuk karena didasarkan pada budaya
Melayu. Negara yang menjadi anggota PGN diantaranya adalah Brunei
Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. PGRI memprakarsai
Pertemuan Guru-Guru Nusantara (PGN) 1983 di Singapura yang dipimpin oleh
Prof. Gazali Dunia dan Rusli Yunus.

2. Tingkat Internasional
a. Konvensi ILO/UNESCO
Tanggal 5 Oktober 1966 Konvensi ILO/UNESCO di Paris menghasilkan
Status of Teachers (Status Guru Dunia). Pemerintah RI dan PGRI (HM Hidajat
dan Ir. GB Dharmasetia) hadir dan menandatangani Konvensi ILO/UNESCO
tersebut.
b. Education International (EI)
Education International (EI) adalah suatu serikat pekerja atau organisasi
guru dan personal pendidikan dengan 25.000.000 anggota. Mereka adalah para
guru dan pekerja di sektor pendidikan dari tingkat pra-sekolah sampai perguruan
tinggi yang berasal dari 311 organisasi di 155 negara. Di asia Pasifik EI
mempunyai 68 anggota organisasi di 34 Negara, termasuk PGRI.

EI bertujuan untuk :
Melindungi hak profesional dan industrial dari para guru dan pekerja
pendidikan.
Mempromosikan perdamaian, demokrasi, keadilan sosial, dan persatuan
kepada seluruh manusia si semua negara, melalui pembangunan
pendidikan umum berkualitas bagi semua.
Memerangi semua bentuk rasialisme dan diskriminasi dalam pendidikan
dan masyarakat.
Memberikan perhatian khusus bagi pembangunan peran kepengurusan
dan keterwakilan wanita di masyarakat, dalam profesi mengajar, dan
dalam organisasi guru dan pekerja pendidikan.
Memastikan hak-hak kelompok kelompok yang terlemah seperti
masyarakat pribumi, etnik minoritas, migran dan anak-anak. EI bertujuan
dan bekerja untuk menghapuskan pekerja anak yang merupakan bagian
penting dari hak asasi manusia.

EI dibentuk pada tahun 1993 sebagai hasil penggabungan antara The


International Federation of Free Teacher Union (IFFTU) dan The World
Confederation of Organizations of The Teaching Profession (WCOTP).
Sekertariat pengurus EI bermarkas di Brussels, Belgia, yang dilengkapi dengan
lima departemen yaitu: pendidikan, serikat sekerja, hak asasi manusia dan
keadilan, pengembangan kerjasama, informasi dan administrasi.
Dengan jumlah anggota sebanyak 25 juta orang. EI menjadi sebuah ITS
(International Trade Secretariate atau Sekretariat Serikat Pekerja Internasional)
yang terbesar di dunia. EI berasosiasi dengan ICFTU (Internatioanal
Confederation of Free Trade Union), yaitu sebuah konfederasi dari pusat-pusat
serikat pekerja naional yang demokratis dan independent di tingkat dunia.
Education International membangun hubungan kerja istimewa dengan sejumlah
organisasi penting.
EI mempunyai hubungan kerja dengan UNESCO, termasuk IBE
(international Buereau of Edication atau Biro Pendidikan Internasional) serta
memiliki status konsultatif dengan United Nation Economics and Social Council
(ECOSOC) atau Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa Bangsa.
Secara khusus, EI bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan bersama dengan
WHO, UNAIDS, ILO, World Bank, dan Organization for Economic Cooperation
and Development (OECD).
Hubungan tersebut memberikan kesempatan bagi EI dalam
mempromosikan tujuan guru dan pekerja pendidikan di forum internasional dan
dalam memberikan masukan dalam diskusi ketika sedang menyusun keputusan
tentang kebijakan penting.
Program dan anggaran belanja EI diadopsi setiap tiga tahun oleh Kongres Dunia
Education International, yang dihadiri oleh semua organisasi anggota EI dan
para pengamat dari organisasi internasional serta lembaga-lembaga antara
negara. Resolusi kebijakan EI diadopsi dan Dewan Pimpinan Pusat dipilih di
Kongres Dunia yang terakhir diselenggarakan di Jontien, Thailand, pada bulan
Juli 2001.
Sekretariat Markas Besar atau Kantor Pusat EI teretak di Brussel Belgia.
Kantor-kantor kawasan terletak di Afrika (Lome, Togo), Asia Pasific (Kuala
Lumpur, Malaysia), dan Fiki, Eropa (Brussel, Belgia), Amerika Latin (San Jose,
Cose Rica) dan Amerika Utara dan Karibia (santalucia). Setiap 3 tahun sekali di
tiap-tiap kawasan diselenggarakan Konvereverensi Regional.
Tujuan PGRI mengikuti organisasi ini adalah:
a. Memperkuat PGRI sebagai serikat pekerja guru.
b. Membuat organisasi yang lebih demokratis, independen, transparan dan
berkelanjutan.
PGRI mengikutsertakan dirinya dalam organisasi ini tentu memperoleh manfaat:
1. Membuat kesadaran serikat buruh, good governance, transparansi dan
akuntabilitas di semua tingkat organisasi.
2. Untuk mendapatkan alokasi anggaran 20% oleh pemerintah untuk
pendidikan di tingkat nasional dan daerah untuk dapat membahas
masalah yang dihadapi oleh pendidikan, guru, anak-anak, dan untuk
mencapai pendidikan berkualitas untuk semua
3. Mempromosikan partisipasi perempuan dan pemimpin muda dalam
proses pengambilan keputusan dan semua kegiatan serikat.
4. Dibuat kolam pelatih terampil di tingkat kabupaten dan propinsi.
5. Berkaitan dengan keuangan organisasi dan membuat organisasi
mandiri secara finansial.
6. Peningkatan proses komunikasi dalam organisasi antara tingkat nasional,
provinsi dan kabupaten.
Keikutsertaan PGRI dalam organisasi ini dapat dibuktikan dengan lima
tahun sekali Kongres PGRI berhasil dilaksanakan diantaranya di Palembang,
Sumatera Selatan, Indonesia, ditangani oleh Presiden Republik Indonesia dan
Sekretaris Jenderal Pendidikan Internasional. Tahun 2001 PB PGRI dan Ketua
provinsi se Jawa Workshop EI di Anyer. Kemudian pada tahun 2003 menjadi 11
provinsi. Pada tahun 2004 menjadi 19 provinsi, pada tahun 2005 menjadi 22
provinsi. Penanggung jawab nasional Prof.Dr. HM Surya, Ketua Umum PB PGRI,
sedangkan National Coordinator PGRI-EI Consortium Project :
1. Tahun 2002 203, Drs. WDF Rindorindo
2. Tahun 2004 sekarang, HM Rusli Yunus.
3. Tahun 2006 Koordinator Nasional (HM Rusli Yunus) didampingi
Koordinator Pelaksana (Ir.Abdul Azis Hoesein, MEngSc)
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

PGRI sebagai organisasi pejuang pendidik dan pendidik pejuang selalu


berusaha menjalin serta mengembangkan kemitraan dalam bentuk kerjasama
yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak, antara lain Hubungan
Kerjasama secara Vertikal, Secara Horizontal bahkan PGRI sudah menjalin
hubungan secara internasional.
Dalam hubungannya dengan luar negeri, mulai 1948 menjalin kerjasama /
hubungan dengan National Education Association (NEA), yaitu Persatuan Guru
di Amerika Serikat. NEA mengundang PGRI untuk mengadakan peninjauan
tentang perkembangan pendidikan di Amerika Serikat selama 8 bulan. PGRI juga
mendapat undangan kongres II WCOTP (World Confideration of Organization of
the Teaching Profession) yang kedua di London pada bulan Juli 1948.
Bentuk kerjasama PGRI dengan Luar Negeri dengan pertukaran pelajar
dapat dibuktikan dengan adanya sembilan mahasiswa IKIP PGRI Semarang
praktik mengajar di Malaysia.
Pada tanggal 17 April sembilan calon guru IKIP PGRI Semarang dilepas oleh
rektor, Muhdi SH. M.Hum untuk melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan di
beberapa sekolah setingkat SLTA di Johor Malaysia.

3.2 Saran
Dari berbagai uraian di atas harapan penulis yaitu semoga para tenaga
kependidikan ikut berpartisipasi aktif dalam organisasi PGRI supaya dapat
meningkatkan kualitas pendidikan sehingga dapat membangun bangsa menjadi
bangsa yang intelek.
DAFTAR PUSTAKA

Diakses pada 15 Oktober 2016


SH, Taruna.dkk. 2007. Pendidikan Sejarah Perjuangan Persatuan Guru
Republik Indonesia.
Semarang:IKIP PGRI SEMARANG PRESS
http://dw-arif-n.blogspot.com/2010/01/7-cara-membangun-hubungan-
kerjasama.html