Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Guru merupakan orang pertama mencerdaskan manusia, orang yang memberi bekal
pengetahuan, pengalaman, dan menanamkan nilai-nilai, budaya, dan agama terhadap anak
didik, dalam proses pendidikan guru memegang peran penting setelah orang tua dan keluarga
di rumah. Di lembaga pendidikan guru menjadi orang pertama, bertugas membimbing,
mengajar, dan melatih anak didik mencapai kedewasaan. Setelah proses pendidikan sekolah
selesai, diharapkan anak didik mampu hidup dan mengembangkan dirinya di tengah
masyarakat dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang sudah melekat di dalam
dirinya.
Upaya guru mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih anak didik bukan suatu hal
yang mudah dan gampang. Pekerjaan ini membutuhkan pengalaman yang banyak dan
keseriusan, di sana-sini masih juga terdapat kejanggalan dan kekurangan, sang guru
mengurangi sedikit mungkin kekurangan dan kesalahan di dalam mengembangkan tugas
sebagai pendidik, pepatah mengatakan Pengalaman merupakan guru yang paling baik.
Prestasi siswa suatu target yang harus dicapai oleh guru, namun di antara anak didik terdapat
mereka yang berprestasi, dan ada pula yang tidak berprestasi. Siswa yang berprestasi lebih
mudah dibimbing, diajar, dan dilatih dibanding siswa yang belum berprestasi. Sang guru
merasa gelisah dengan anak didiknya yang tidak berprestasi dan tetap mengupayakan
siswanya untuk berprestasi. Kadang-kadang sebagian kecil orang tua menyerah sepenuhnya
pendidikan anak-anaknya kepada guru, sedangkan pendidikan terlaksana manakala adanya
kerjasama semua pihak, guru di sekolah, orang tua di rumah, dan masyarakat tempat anak
tumbuh dan berkembang.
Komite sekolah merupakan badan yang menjembatani orang tua dengan guru-guru di
sekolah, sekolah penyelenggara pendidikan formal, dan orang tua sebagai pendidik di dalam
keluarga, kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan dan memacu
prestasi anak didik, orang tua turut mengontrol pendidikan yang telah dilakukan di sekolah.
Apa kebutuhan anaknya dalam belajar? Bagaimana prestasi anaknya? dan bagaimana pula
upaya orang tua memacu prestasi anak-anaknya?

1
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dibuat sejumlah rumusan masalah,
yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana pengabdian seorang guru dapat membawanya menjadi guru profesional /
guru yang kompeten?
2. Apa saja yang selanjutnya harus dilakukan seorang guru yang telah memberikan
pengabdiannya sehingga ia dapat menjadi seorang guru profesional?
3. Bagaimana hubungan motivasi pada diri guru profesional sehingga ia bisa menjadi
seorang guru yang berprestasi?

C. Tujuan
Secara umum makalah ini bertujuan menjelaskan bahwa profesi guru adalah sebuah
pengabdian, yang pada gilirannya pengabdian tersebut akan mengantarkan guru menjadi guru
yang benar-benar profesional dan berprestasi.
Secara khusus makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang hal-hal berikut:
1. Pengabdian yang dilakukan oleh seorang guru dalam kaitannya dengan pengembangan
profesinya.
2. Hal-hal yang selanjutnya harus dilakukan seorang guru yang telah memberikan
pengabdiannya sehingga dapat menjadi seorang guru profesional.
3. Hubungan motivasi pada diri guru profesional sehingga ia bisa menjadi seorang guru
yang berprestasi.

D. Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai
berikut:
1. Menggugah guru yang membacanya untuk mengabdikan diri secara tulus pada
profesinya.
2. Menjadi salah satu sarana untuk mengajak guru agar meningkatkan kompetensinya
sehingga dapat menjadi guru yang profesional dan berprestasi.
3. Menjadi sebuah wadah bagi penulis untuk menuangkan ide-ide yang dimilikinya sebagai
salah satu bentuk aktualisasi diri, perwujudan sebuah pengabdian dan kecintaan terhadap
profesi guru untuk dibagikan kepada pembaca

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. MENJADI GURU ADALAH SEBUAH PENGABDIAN


Banyak definisi yang telah dirumuskan oleh para ahli mengenai apa itu guru. Salah satunya
seperti pendapat Suparlan, 2005: 12 yang menyebutkan bahwa guru adalah orang yang
tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik
spiritual, emosional, fisikal, intelektual, maupun aspek-aspek lainnya.

Jika kita menilik definisi di atas secara seksama maka kita akan menyadari betapa mulianya
tugas seorang guru. Ia adalah sosok yang mempunyai tugas yang sangat penting, yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas ini bukan tugas yang ringan, karena mencerdaskan
kehidupan bangsa di sini meliputi semua aspek kehidupan di antaranya aspek spiritual, aspek
emosional, aspek fisikal, aspek intelektual, maupun aspek-aspek lainnya.

Tugas penting dan tidak ringan tersebut umumnya kita dapati di lapangan, telah dilakukan
guru dengan penuh perasaan cinta, tanggung jawab, dan keikhlasan. Mereka melakukan
pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Guru
melakukannya tanpa paksaan dan tanpa tekanan rasa ketakutan. Apabila ada seorang guru
yang melakukan tugasnya bukan karena rasa pengabdian tetapi karena keterpaksaan atau
karena tekanan rasa ketakutan, maka guru itu sesungguhnya bukanlah seorang guru. Ia tidak
akan dapat memberikan kontribusi bagi tujuan mulia pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa.

Pengabdian seorang guru seringkali bukanlah hal yang mudah dilakukan. Pengabdian seorang
guru bahkan kadang-kadang harus diikuti dengan pengorbanan besar. Banyak guru yang
mengabdi di tempat-tempat yang terpencil: jauh di puncak-puncak pegunungan, di pulau-
pulau kecil di tengah lautan, hingga di antara masyarakat yang masih terasing dari peradaban
modern. Banyak guru yang mengabdi di daerah-daerah rawan konflik yang tentu saja dapat
membahayakan keselamatan jiwanya dan keluarganya. Acapkali pula demi pengabdiannya,
banyak guru terpisah jauh dari keluarga karena harus tinggal di daerah-daerah yang sarana
tranpsortasi dan komunikasinya masih sangat sulit dan minim. Banyak guru yang mengabdi
tanpa terlalu memperhitungkan besaran gaji yang akan mereka terima. Kita tahu, masih
banyak guru-guru non-PNS yang gajinya bahkan sangat jauh di bawah UMR (Upah
Minimum Regional) buruh.

Lalu, jika pilihan hidup untuk mengabdi sebagai seorang guru bukanlah jalan yang mudah
dan mulus untuk dilalui, mengapa hingga sekarang masih banyak orang-orang yang
melakukannya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali memahami makna sebuah
pengabdian. Pilihan hidup menjadi seorang guru apabila dilakukan dengan tulus ikhlas dan
rasa cinta, maka akan membawa seseorang kepada kebahagiaan yang tentu tidak dapat dinilai
dengan materi. Inilah modal terbesar yang akan membawa seseorang pada kesuksesan dalam
menjalani profesi sebagai seorang guru: pengabdian. Apabila seorang guru tidak memiliki

3
rasa pengabdian yang tulus di dalam dirinya, maka guru itu tidak akan dapat bertahan pada
pekerjaannya, dan ia bukanlah seorang guru yang sebenarnya.

B. GURU YANG KOMPETEN DAN BERPRESTASI


Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya dalam tulisan ini, bahwa guru yang
memiliki rasa pengabdian yang tulus di dalam dirinya, maka ia telah memiliki modal terbesar
untuk menjadi guru yang kompeten dan berprestasi. Pertanyaan berikutnya adalah: Hal-hal
apa sajakah yang harus dilakukan oleh seorang guru yang telah mempunyai rasa pengabdian
yang tulus ini agar ia dapat menjadi seorang guru yang kompeten dan berprestasi?

Modal dasar berupa rasa pengabdian yang tulus apabila ditambah dengan kompetensi yang
wajib dimiliki seorang guru agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya akan membentuk
guru yang kompeten. Guru yang kompeten adalah guru yang memiliki kompetensi-mutlak
untuk menjadi seorang guru. Kompetensi-kompetensi guru ini diperoleh melalui proses
belajar sepanjang hayat. Agar proses belajar sepanjang hayat yang dilakukan guru dapat
efektif, maka ia juga harus membiasakan diri berpikir reflektif. Kebiasaan berpikir reflektif
memungkinkan guru mengetahui potensi yang dimilikinya untuk mengembangkan diri, selain
juga mengetahui kompetensi yang telah dan belum dimilikinya saat ini. Di samping itu, sifat
kreatif dan inovatif juga sangat penting dimiliki oleh seorang guru. Melalui sifat ini guru
akan menjadi role model (teladan) yang pantas untuk dicontoh peserta didik bahkan orang-
orang lain di sekitarnya.

1. Guru yang Kompeten


Pada beberapa tahun belakangan, kita mengenal guru yang kompeten ini sebagai Guru
Profesional. Menurut Suyatno (2008: 15 17), guru dengan predikat profesional ini memiliki
4 bidang kompetensi, yaitu: (a) Kompetensi Pedagogik; (b) Kompetensi Kepribadian; (c)
Kompetensi Sosial; dan (d) Kompetensi Profesional. Keempat bidang kompetensi yang wajib
dimiliki oleh seorang guru ini akan di bahas satu persatu.

a. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik yang harus dimiliki seorang guru meliputi kompetensi:
1) Pemahaman terhadap peserta didik, dengan indikator esensial: memahami peserta didik
dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif dan kepribadian dan
mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik.

4
2) Perancangan pembelajaran, dengan indikator esensial: memahami landasan
kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran
berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta
menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
3) Pelaksanaan pembelajaran, dengan indikator esensial: menata latar (setting)
pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4) Perancangan dan pelaksanaan evaluasi hasil belajar, dengan indikator esensial:
merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara
berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil
belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan (mastery learning); dan memanfaatkan hasil
penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
5) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimiliknya, dengan indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan
berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai
potensi nonakademik.

b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang
mantap dan stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia.
1) Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial: (a) bertindak sesuai
dengan norma hukum; (b) bertindak sesuai dengan norma sosial; (c) bangga sebagai guru; (d)
memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma.
2) Kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: (a) memiliki kemandirian dalam
bertindak; dan (b) memiliki etos kerja sebagai guru.
3) Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial: (a) menampilkan tindakan yang
didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat; (b) menunjukkan
keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4) Kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial: (a) memiliki perilaku yang
berpengaruh positif terhadap peserta didik; dan (b) memiliki perilaku yang disegani.
5) Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator: (a) bertindak sesuai
dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong); dan (b) memiliki
perilaku yang diteladani peserta didik.

5
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar.

d. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam,
yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi
keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi
keilmuannya.
1) Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi yang dipegangnya
memiliki indikator esensial: (a) memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;
(b) memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan
materi ajar; (c) memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan (d) menerapkan
konsep-konsep keilmuan ke dalam kehidupan sehari-hari.
2) Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial: (a) menguasai
langkah-langkah penelitian; dan (b) menguasai kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan
atau materi bidang studinya.

Tentu saja tidak ada ruginya menjadi guru yang profesional atau kompeten di bidangnya.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 40
ayat 1 menyatakan hak-hak pendidik dan tenaga kependidikan, di antaranya: (a) penghasilan
dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai; (b) penghargaan sesuai tugas dan
prestasi kerja; (c) perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan
intelektual; hingga (d) kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas
pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

2. Kebiasaan Berpikir Reflektif


Menurut Arqom (2012), berpikir reflektif adalah berpikir untuk mengingat kembali terhadap
apa yang sudah dilakukan dalam rangka melakukan instropeksi, refleksi dan spirit koreksi
atas berbagai kualitas dan cara kerja yang sudah kita lakukan dalam kehidupan ini.
Berpikir reflektif harus dijadikan kebiasaan karena sangat besar manfaatnya. Adapun manfaat
berpikir reflektif yang berhubungan dengan pengembangan diri seorang guru misalnya:

6
a. Berpikir reflektif memungkinkan guru untuk mengintrospeksi apa yang sudah dan belum
dicapai. Dengan berpikir reflektif, seorang guru dapat mengetahui di posisi mana sekarang ia
berada. Posisi yang dimaksud di sini adalah tingkat kompetensi yang dimilikinya bila
dibandingkan secara normatif dengan guru lainnya, atau secara standar bila dibandingkan
dengan standar kompetensi minimal yang harus dimiliki seorang guru profesional. Adalah
hal yang unik bahwa kadang-kadang seseorang baru menyadari bahwa langkah-langkah
hidupnya tidak produktif, begitu ia menyempatkan diri berpikir reflektif dan mengevaluasi
dirinya di suatu waktu misalnya di akhir pekan.

b. Berpikir reflektif dapat menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki diri menuju ke arah
yang lebih baik. Tidak setiap orang merasa perlu memperbaiki diri. Karena itu, melalui proses
berpikir reflektif dengan penyediaan waktu untuk merenung dan melihat ke belakang, lalu
melihat hal-hal yang belum dikerjakan secara optimal di masa lalu maka muncullah motivasi
untuk memperbaiki diri.

c. Melalui proses berpikir reflektif seorang guru akan mengetahui potensi dan sumber daya
yang dimilikinya. Setiap orang memiliki potensinya masing-masing. Potensi ini bersifat unik
dengan kadar yang berbeda-beda. Bila seorang guru mengetahui potensi dan sumber daya apa
yang dimilikinya, maka ia akan dapat memanfaatkannya secara maksimal untuk
pengembangan kompetensinya. Mereka akan berkembang menjadi guru-guru yang
profesional, kreatif dan inovatif dengan berbagai kelebihannya masing-masing.

3. Prinsip Belajar Sepanjang Hayat


Aziz (2012: 160) menyebutkan bahwa orang-orang terpelajar adalah mereka yang telah
melalui proses belajar dan terus belajar. Mereka tidak mau berhenti belajar kecuali nyawa
telah hilang dari tubuh kasar mereka. Mereka pun tidak hanya belajar, tetapi juga
mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Belajar sepanjang hayat dapat memberikan kesempatan belajar secara wajar dan luas kepada
seorang guru sesuai dengan perbedaan minat, usia, dan kebutuhan belajar masing-masing
(Hufad, 2010). Belajar sepanjang hayat tidak dibatasi oleh waktu, tempat, sarana, media, dan
sumber belajar. Guru dapat belajar setiap hari dari beragam sumber dengan tujuan
memperoleh informasi yang mendukung pengembangan kompetensinya. Guru dapat belajar
melalui seminar, pameran, forum ilmiah, tayangan televisi hingga film-film yang bermutu

7
dan berkorelasi dengan profesinya.
Pada penerapan prinsip belajar sepanjang hayat, guru harus menjadikan membaca sebagai
suatu kebiasaan sehari-hari sehingga menjadi budaya yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupannya. Mereka dapat membaca koran, buku, hingga menggali secara mandiri bahan
bacaan dan informasi dari internet. Pada era informasi sekarang ini, guru harus selektif
memilih bacaan. Ia harus dapat menyeimbangkan antara minat dan kebutuhannya.
Membaca saja tidaklah cukup. Guru harus mempunyai keterampilan menulis. Keterampilan
ini dapat diperoleh guru secara alamiah melalui kebiasaan membaca dan latihan-latihan.
Kebiasaan membaca akan membuat guru mengolah kembali informasi yang didapatnya saat
membaca. Informasi yang telah diolah ini akan membantu guru memunculkan ide-ide baru.
Pada saat ide-ide baru ini muncul, maka guru akan merasa perlu untuk mengekspresikannya
dalam bentuk tulisan. Guru dapat berlatih menuliskan ekspresinya di berbagai media. Saat ini
terdapat beragam media untuk mempublikasikan tulisan dapat dipilih guru, mulai dari media
cetak hingga media virtual seperti jejaring sosial facebook dan blog.

4. Kreatif dan Inovatif


Menurut Woolfolk (1995), kreatif adalah sifat yang dimiliki seseorang yang berpikir
imajinatif, orisinil, dengan tujuan untuk memecahkan masalah. Sedangkan inovatif adalah
nilai kebaruan dan kemanfaatan dari suatu penerapan pemecahan masalah.

Guru seringkali menemui berbagai kendala dalam melaksanakan pembelajaran di kelasnya


atau tugas-tugas lainnya, misalnya karena keterbatasan sarana dan prasarana. Guru yang
memiliki sifat kreatif dan inovatif tidak akan menganggap keterbatasan ini sebagai kendala
yang berarti. Dengan kreativitas dan kemampuan melakukan inovasinya, mereka akan
mampu memecahkan masalah untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.

Pengembangan kreativitas dan inovasi dapat dilakukan guru melalui berbagai kegiatan,
misalnya mengikuti berbagai workshop untuk meningkatkan kemampuannya dalam bidang-
bidang tertentu yang berhubungan dengan profesinya. Selain itu guru juga dapat mengikuti
berbagai kegiatan yang bersifat lomba kreativitas dan karya inovasi untuk guru. Saat ini
cukup banyak lomba kreativitas dan inovasi yang diadakan untuk guru setiap tahunnya. Ikut
serta dalam kegiatan yang bersifat lomba ini tujuan utamanya bukanlah menjadi juara, akan
tetapi lebih kepada tujuan untuk memperluas wawasan, menambah pengetahuan dan
keterampilan, serta mengasah daya kreativitas dan daya berinovasi yang dimilikinya.

8
5. Motivasi Guru Berprestasi
Teori Maslow pada tahun 1954: 92 dalam Slavin (2009: 109) mengidentifikasi dua jenis
kebutuhan: (1) kebutuhan kekurangan; dan (2) kebutuhan pertumbuhan. Hierarki Kebutuhan
Maslow ditunjukkan oleh Gambar 1 berikut.
Menurut Maslow, seseorang akan termotivasi untuk memuaskan kebutuhan pada bagian
bawah hierarki sebelum berupaya memuaskan kebutuhan pada bagian atas. Bila kita cermati,
kebutuhan fisiologis berupa makanan, minuman, pakaian merupakan kebutuhan dasar yang
merupakan kebutuhan kekurangan yang harus dipenuhi. Tanpa terpenuhi kebutuhan
fisiologis, maka seseorang bahkan tidak akan menganggap penting kebutuhan-kebutuhan lain
yang berada di tingkat lebih atas.

Gambar 1. Hierarki Kebutuhan Maslow. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi,
dalam kaitannya dengan guru profesional, pencapaian sebagai Guru Berprestasi adalah salah
satu bentuk aktualisasi diri (Sumber: Slavin, 2009).

Seorang guru profesional tentu saja merupakan individu yang hampir dapat dikatakan
berhasil memenuhi kebutuhan kekurangan yang meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan
keselamatan, kebutuhan hubungan dan cinta, dan kebutuhan harga diri. Selanjutnya, dengan
kebiasaan berpikir reflektif dan prinsip belajar sepanjang hayat, ia akan mampu memenuhi
kebutuhan pertumbuhan seperti kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, bahkan juga
kebutuhan estetik (rasa keindahan). Pencapaian tertinggi oleh seorang guru profesional
adalah mampu menjadi Guru Berprestasi. Kemampuan memenuhi kebutuhan aktualisasi
diri ini akan mendatangkan rasa kebanggaan dan kebahagiaan yang sepantasnya mereka
9
terima.
Aktualisasi diri seorang guru profesional sebagai guru yang berprestasi akan nampak dalam
perilakunya yang mensyukuri dan menerima keadaan dirinya sendiri dan juga orang lain,
spontanitas, keterbukaan, hubungan akrab dengan orang lain tetapi tetap bersikap demokratis,
kreatif, inovatif, memiliki sense of humor, dan kebebasan. Pada intinya, seorang guru
berprestasi yang telah mampu memenuhi kebutuhan aktualisasi diri ini akan memiliki
kesehatan yang prima secara psikologis. Oleh karena itu, bangga menjadi guru profesional
yang berprestasi adalah hal sangat wajar, karena itu merupakan cermin kebahagiaan batin
(psikologis).

Gambar 2. Guru dengan pengabdian yang tulus akan berkembang menjadi guru berprestasi.

Gambar 2 di atas menunjukkan guru yang memiliki rasa pengabdian yang tulus akan mampu
meningkatkan diri menjadi guru profesional. Modal besar yang dimiliki ditambah dengan
kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi
akademik yang diperoleh melalui refleksi diri, semangat sebagai pebelajar sepanjang hayat,
kreatif, inovatif, dan memiliki motivasi yang besar menjadikan mereka mampu mencetak
prestasi gemilang yang pantas dibanggakan. Prestasi ini tentu saja akan dihargai dengan
pantas sebagaimana jaminan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
yaitu Pasal 36 ayat (1), yang berbunyi: Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa,
dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan.

10
BAB III
PENUTUP

A. KESIMUPALAN

Beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari paparan tulisan ini adalah sebagai
berikut:
1. Guru yang mempunyai rasa pengabdian yang tulus dalam melaksanakan tugasnya telah
mempunyai modal yang sangat besar untuk berkembang menjadi guru yang profesional
(kompeten).

2. Guru yang mempunyai rasa pengabdian yang tulus dapat berkembang menjadi guru
profesional apabila ia mempunyai kebiasaan berpikir reflektif dan prinsip hidup sebagai
pebelajar sepanjang hayat, serta kreatif dan inovatif. Dengan berpikir reflektif, guru akan
mengetahui posisi dan potensinya. Dengan prinsip hidup sebagai pebelajar sepanjang hayat,
ia akan terus belajar sehingga memiliki kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, maupun
profesional. Dengan sifat kreatif dan inovatif yang dimiliki, ia akan menjadi guru yang
mampu mengatasi berbagai kendala dan masalah dalam melaksanakan tugasnya.

3. Berdasarkan pemikiran Maslow tentang hierarki motivasi, guru profesional yang


tercukupi kebutuhan-kebutuhannya akan mampu mengaktualisasikan diri untuk berkembang
menjadi guru yang berprestasi dan bangga akan prestasi yang diraihnya dengan tetap
memiliki karakter-karakter luhur.

B. SARAN
Adapun saran-saran yang dapat diberikan agar guru dapat lebih termotivasi untuk
melakukan tugasnya sebagai sebuah bentuk pengabdian dan mampu berkembang sebagai
guru berprestasi adalah sebagai berikut:
1. Apabila seseorang telah menentukan bahwa pilihan profesi yang akan dijalaninya adalah
sebagai seorang guru, maka hendaklah ia benar-benar tulus untuk melaksanakan tugasnya
sebagai sebuah pengabdian.
2. Untuk mengembangkan diri menjadi guru yang profesional, hendaknya pengabdian tulus
yang telah diberikan selalu diimbangi dengan kebiasaan berpikir reflektif, mempunyai prinsip
hidup sebagai pebelajar sepanjang hayat yang selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri
di bidang pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional, dan mengasah kreativitas dan
kemampuan berinovasi.

11
DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2013). Pedoman Pelaksanaan Pemilihan Guru Berprestasi Pendidikan


dasar Tahun 2013. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Suparlan (2005). Menjadi Guru Efektif, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Hikayat


Publishing.

Saondi,Ondi (2012). Etika Profesi Keguruan, Cetakan Kedua. Kuningan: Penerbit


PT Refika Aditama

http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2014/03/contoh-guru-
berprestasi.html

12