Anda di halaman 1dari 5

CHAPTER 6

AUDIT RESPONSIBILITIES AND SUBJECTIVES

6-4. Mengklasifikasikan Transaksi Saldo Akun Ke Dalam Siklus


Laporan Keuangan serta Mengidentifikasi Manfaat dari
Pendekatan Siklus untuk Mensegmentasi Audit
Audit dilaksanakan dengan membagi laporan keuangan menjadi
segmen segmen atau komponen yang lebih kecil. Pembagian ini
membuat audit lebih mudah dikelola dan membantu pembebanan
tugas ke[ada setiap anggota tim audit. Ada berbagai cara dalam
mensegmentasi audit. Salah satu pendekatannya yaitu memperlakukan
setiap saldo akun dalam laporan keuangan sebagai segmen yang
terpisah. Namun pendekatan semacam itu biasanya tidak efisien. Hal
tersebut dapat mengakibatkan audit yang independen terhadap akun
yang saling berkaitan erat seperti persediaan dan harga pokok penjualan.
Pendekatan Siklus untuk Mensegmentasi Audit
Cara yang umum untuk membagi audit adalah dengan tetap
mempertahankan hubungan yang erat antara jenis (atau kelas) transaksi
dan saldo akun dalam segmen yang sama. Cara ini disebut sebagai
pendekatan siklus (cycle approach). Logika dari pendekatan siklus ini
adalah bahwa hal itu terkait dengan cara transaksi dicatat dalam jurnal
dan diikhtisarkan dalam buku besar serta laporan keuangan. Siklus yang
digunakan dalam buku ini disajikan di bawah ini dan kemudian akan
dijelaskan secara terinci. Jurnal
Buku Besar, Neraca Saldo, Dan Laporan Keuangan
Transaksi

Penjualan Jurnal Penjualan

Buku besar dan buku pembantu


Penerimaan Kas Jurnal Penerimaan Kas

Akuisisi barang dan Jasa Jurnal Akuisi Neraca Saldo, buku besar

Pengeluaran Kas Jurnal Pengeluaran

Laporan Keuangan

Jasa dan Pembayaran Gaji Jurnal Penggajian

Arus Transaksi dari Jurnal ke Laporan Keuangan


Alokasi dan Penyesuaian Jurnal Umum
Hubungan antara Berbagai Siklus
Siklus transaksi merupakan cara yang penting untuk menata audit.
Pada umumnya, para auditor akan memberlakukan setiap siklu tersebut
secara terpisah selama proses audit. Meskipun auditor harus
mempertimbangkan keterkaitan di antara siklus-siklus itu, mereka
biasanya memperlakukan siklus itu secara independen sampai ke batas
praktis dalam rangka mengelola audit yang rumit secara efektif.

Hubungan di Antara Siklus Transaksi

Kas umum

Siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali

Siklus akuisisi danSiklus


pembayaran
penggajian dan personalia
Siklus penjualan dan penagihan

Siklus persediaan dan pergudangan

6-5 Menguraikan Mengapa Auditor Memperoleh Kombinasi


Kepastian dengan Mengaudit Kelas Transaksi serta Saldo Akhir
Akun, Mencakup juga Penyajian dan Pengungkapan
Para auditor melakukan audit atas laporan keuangan dengan
menggunakan pendekatan siklus, yaitu melakukan pengujian audit atas
transaksi-transaksi yang menghasilkan saldo akhir dan juga
melaksanakan pengujian audit atas saldo serta pengungkapan terkait.
Untuk setiap kelas transaksi, beberapa tujuan audit yang harus dipenuhi
sebelum auditor dapat menyimpulkan bahwa transaksi transaksi
tersebut telah dicatat dengan tepat. Tujuan ini disebut sebagai tujuan
audit yang berkaitan dengan transaksi (transaction related audit
objectives) pada pembahasan selanjutnya di buku ini. Demikian pla,
beberapa tujuan audit harus dipenuhi untuk setiap saldo akun, yang
disebut sebagai tujuan audit yang berkaitan dengan saldo (balance-
related audit objectives). Kategori ketiga berkaitan dengan penyajian dan
pengungkapan informasi dalam laporan keuangan, yang disebut tujuan
audit yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan (presentation
and disclosure related audit objectives).

6-6 Membedakan Antara Tiga Kategori Asersi Manajemen tentan


Informasi Keuangan
Asersi manajemen adalah representasi pernyataan yang tersirat atau
diekspresikan oleh manajemen tentang kelas transaksi dan akun serta
pengungkapan yang terkait dalam laporan keuangan. Asersi manajemen
berkaitan langsung dengan prinsip prinsip akuntansi yang berlaku
umum (GAAP/PSAK), karena asersi ini merupakan bagian dari kriteria
yang digunakan manajemen untuk mencatat dan mengungkapkan
informasi akuntansi dalam laporan keuangan. Definisi auditing dalam Bab
1, sebagian, menyatakan bahwa auditing adalah pembandingan
informasi (laporan keuangan) dengan kriteria yang telah ditetapkan
(asersi yang ditetapkan sesuai dengan standar akuntansi). Karena itu,
auditor harus memahami asersi asersi ini untuk melaksanakan audit
yang memadai.
Standar auditing internasional dan standar auditing AICPA
mengklasifikasikan asersi ke dalam tiga kategori:
1. Asersi tentang kelas transaksi dan peristiwa selama periode yang
diaudit
2. Asersi tentang saldo akun pada akhir periode
3. Asersi tentang penyajian dan pengungkapan.
Asersi Tentang Kelas Transaksi dan Peristiwa
Manajemen menyatakan beberapa asersi tentang transaksi. Asersi
asersi tersebut juga berlaku pada peristiwa lain yang dicerminkan dalam
catatan akuntansi, seperti pencatatan penyusutan dan pengakuan
kewajiban penerima.
Keterjadian, Asersi keterjadian bersangkutan apakah transaksi
yang dicatat dalam laporan keuangan benar benar terjadi selama
periode akuntansi itu.
Kelengkapan, Asersi ini menyatakan apakah semua transaksi yang
harus dimasukkan dalam laporan keungan sudah dimasukan
seluruhnya. Asersi kelengkapan mengemukakan hal hal yang
berlawanan dengan asersi keterjadian. Asersi kelengkapan berkaitan
dengan kemungkinan penghilangan transaksi yang harus dicatat,
sementara asersi keterjadian berkaitan dengan pencatatan transaksi
yang seharusnya tidak boleh dicatat. Jadi, pelanggaran atas asersi
keterjadian berkaitan dengan lebih saji akun, sedangkan
pelanggaran atas asersi kelengkapan berkaitan dengan kurang saji
akun.
Keakuratan, Asersi keakuratan menyatakan apakah transaksi telah
dicatat pada jumlah yang benar.
Klasifikasi, Asersi klasifikasi menyatakan apakah transaksi teah
dicatat pad akun yang tepat.
Cutoff, Asersi cutoff menyatakan apakah transaksi telah dicatat
pada periode akuntansi yang benar.
Asersi Tentang Saldo Akun
Asersi tentang saldo akun pada akhir tahun menyatakan eksistensi,
kelengkapan, penilaian dan alokasi, serta hak dan kewajiban.
Eksistensi, Asersi eksistensi bersangkutan dengan apakah aktiva,
kewajiban, dan kepentingan ekuitas dicantumkan dalam neraca benar-
benar ada pada tanggal neraca.
Kelengkapan, Asersi ini menyatakan apakah semua akun yang
harus disajikan dalam laporan keuangan pada kenyataanya sudah
dicantumkan. Asersi kelengkapan mengemukakan hal hal yang
berlawanan dengan asersi eksistensi. Asersi kelengkapan berkaitan
dengan kemungkinan penghilangan transaksi yang harus dicatat,
sementara asersi eksistensi berkaitan dengan pencatatan transaksi
yang seharusnya tidak boleh dicatat. Jadi, pelanggaran atas asersi
keterjadian berkaitan dengan lebih saji akun, sedangkan
pelanggaran atas asersi kelengkapan berkaitan dengan kurang saji
akun.
Penilaian dan alokasi, Asersi penilaian dan alokasi berkaitan
dengan apakah akun asset, kewajiban dan kepentingan ekuitas telah
dimasukan dalam laporan keuangan pad jumlah yang tepat,
termasuk setiap penyesuaian penilaian untuk mencerminkan jumlah
asset pada nilai realisasi bersih.
Hak dan kewajiban, Asersi ini membahas tentang apakah asset
merupakan hak entitas dan apakah kewajiban merupakan kewajiban
entitas pada tanggal tertentu.
Asersi Tentang Penyajian dan Pengungkapan
Dengan semakin kompleknua transaksi dan kebutuhan untuk
memperluas pengungkapan atas transaksi-transaksi tersebut, asersi
tentang penyajian dan pengungkapan menjadi semakin penting. Asersi
ini meliputi asersi keterjadian dan hak serta kewajiban, kelengkapan,
keakuratan, dan penilaian, serta klarifikasi dan dapat dipahami.
Keterjadian serta Hak dan Kewajiban, Asersi ini menyatakan
apakah peristiwa-peristiwa yang diungkapakan telah terjadi dan
merupakan hak serta kewajiban entitas.
Kelengkapan, Asersi ini bersangkutan dengan apakah semua
pengungkapan yang diperlukan telah dicantumkan dalam laporan
keuangan.
Keakuratan dan Penilaian, Asersi keakuratan dan penilaian serta
alokasi bersangkutan dengan apakah informasi keuangan diungkap
secara wajar dan pada jumlah yang tepat.
Klasifikasi dan Dapat Dipahami, Asersi ini berkaitan dengan
apakah jumlah jumlah telah diklasifikasikan secara tepat dalam
laporan keuangan dan catatan kaki, serta apakah uraian saldo dan
pengungkapan yang bertalian dapat dipahami.
Asersi yang relevan mempunyai pengertian menyangkut apakah
akun tersebut disajikan secara wajar dan digunakan untuk menilai risiko
salah saji yang material serta merancang dan melaksanakan prosedur
audit. Setelah arsersi yang relevan diidentifikasi, kemudian auditor
dapat mengembangkan tujuan audit untuk setiap kategori asersi. Tujuan
audit yang dilakukan auditor akan mengikuti dan berhubungan erat
dengan asersi manajemen.
Alasan menggunakan tujuan audit dan bukan asersi adalah
menyediakan kerangka kerja untuk membantu auditor mengumpulkan
bukti yang cukuo dan tepat serta memutuskan jumlah bukti yang tepat
berdasarkan situasi penugasan. Tujuannya sama dari audit ke audit,
tetapi jumlah buktinya bervariasi bergantung pada keadaan.