Anda di halaman 1dari 269

STRUKTUR KONSTRUKSI BAHAN BANGUNAN 3

RIGID FRAME SYSTEM STRUCTURE

Disusun oleh :

Felix Yossy Andhy Kusuma 140115321

Iwa Bhaskara 140115443

Meylisa Rustiyanti 140115452

Indra Aji Nugroho 140115461

Veronika Artamova Styastuti 140115475

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK

ARSITEKTUR

2016
DAFTAR ISI

BAB 1. BEBAN DAN GAYA PADA BANGUNAN BERTINGKAT..1


1.1 Prinsip desain struktur yang dikaitkan dengan aktivitas/fungsi
Secara umum..1
1.2 Beban-beban dan gaya yang terjadi pada bangunan...4
1.3 Responsi gaya akibat beban...13
1.4 Kemungkinan pengaruh dilatasi pada bangunan tinggi..17
1.5 Sistem sirkulasi vertikal dan horizontal pada bangunan tinggi..21
1.6 Faade struktural..30
BAB 2. BENTUK DEFLEKSI, DIAGRAM GAYA GESER DAN DIAGRAM GAYA
MOMEN..33
2.1 Struktur bangunan....33
2.2 Permasalahan struktur.41
2.3 Responsi pendekatan perancangan sistem struktur...45

BAB 3. SISTEM STRUKTUR DAN PONDASI.50


3.1 Sub sistem pondasi...50
3.2 Sub sistem kolom - balok plat lantai78
3.3 Sub sistem dinding & lubang bukaan.90
3.4 Sub sistem tangga struktural...96
3.5 Sub sistem atap.99
3.6 Sub sistem plafond..106
3.7 Sub sistem lantai..111

BAB 4. SISTEM UTILITAS.115


4.1 Fungsi utilitas bangunan secara umum.....115
4.2 Jaringan air bersih & air kotor.....129
4.3 Penghawaan..138
4,4 Penangkal petir..144
4.5 Proteksi kebakaran...146
4.6 Transportasi vertikal.....158
4.7 Jaringan Telekomunikasi.167
4.8 Kelistrikan...170
BAB 5. STUDI PRESEDEN (STRUKTUR).176
5.1 Hotel merapi merbabu.176
5.1.1 Sistem struktur kesulurahan176
5.1.2 Core.178
5.1.3 Pondasi...178
5.1.4 Kolom & balok179
5.1.5 Dinding & lubang bukaan.180
5.1.6 Lantai...182
5.1.7 Plafon...182
5.1.8 Atap..183
5.2 Faroe Island education center.185
5.2.1 Sistem struktur keseluruhan.185
5.2.2 Cantilever & core188
5.2.3 Pondasi189
5.2.4 Kolom & balok.190
5.2.5 Dinding & lubang bukaan..191
5.2.6 Lantai192
5.2.7 Plafon...192
5.2.8 Atap..193
5.3 The Alpha/Tony Owen Partners..194
5.3.1 Sistem struktur keseluruhan.195
5.3.2 Core..196
5.3.3 Pondasi197
5.3.4 Kolom dan balok.198
5.3.5 Dinding dan lubang bukaan..199
5.3.6 Lantai201
5.3.7 Atap..201
5.3.8 Detail202
BAB 6. STUDI PRESEDEN (UTILITAS)..205
6.1 Sistem air bersih206
6.2 Sistem air kotor..213
6.3 Sistem penghawaan (HVAC)...220
6.4 Sistem penangkal petir.224
6.5 Sistem proteksi kebakaran.............226
6.6 Sistem telekomunikasi..233
6.7 Sistem televisi....239
6.8 Sistem internet...246
6.9 Sistem kelistrikan...251
6.10 Sistem keamanan260
6.11 Sistem tata suara.262
BAB 1
BEBAN DAN GAYA PADA BANGUNAN BERTINGKAT
1.1 PRINSIP DESAIN STRUKTUR YANG DIKAITKAN DENGAN
AKTIVTAS /FUNGSI SECARA UMUM
STRUKTUR
Struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban dan akibat
penggunaan atau kehadiran bangunan ke dalam tanah (Schodek,
1991),dari kutipan tersebut stuktur merupakan suatu kesatuan pada
bangunan yang digunakan untuk menopang beban dan menyaluran gaya
dari atas(atap) sampai bawah(tanah) untuk menunjang aktivitas di
dalamnya.

Gambar :1.1.1 Klasifikasi Elemen Struktur

Sumber : Schodek, Daniel L.1991,Struktur

S K B B 3 - 1 | 265
Struktur dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a. GEOMETRI DASAR

Geometri dasar terdiri dari 2 yaitu bentuk elemen garis dan bentuk elemen
permukaan.Pada elemen Garis terdiri dari 2 jenis yaitu Garis Lurus dan Garis
Lengkung,sedangkan pada bentuk elemen permukaan terdiri dari bentuk datar
dan lengkung-lengkung(Lengkung tunggal serta lengkung ganda

b. KEKAKUAN

- STRUKTUR KAKU

Misalnya batang, karena tidak mengalami perubahan bentuk yang cukup


besar di bawah pengaruh gaya atau pada perubahan gaya diakibatkan oleh
beban-beban.
- STRUKTUR TIDAK KAKU ATAU FLEKSIBLE

Misalnya kabel baja atau rantai baja, karena cenderung mempunyai bentuk
tertentu pada suatu kondisi pembebanan.

Gambar 1.1.2 Struktur Kaku dan Tidak Kaku

Sumber : Schodek, Daniel L.1991,Struktur

S K B B 3 - 2 | 265
c. SISTEM SATU ARAH DAN DUA ARAH

Gambar 1.1.3 Struktur Satu Arah dan Dua Arah

Sumber : Schodek, Daniel L.1991,Struktur, hal: 6

- Sistem Satu Arah : mekanisme transfer beban dari struktur untuk


menyalurkan beban ke tanah merupakan aksi satu arah saja
- Sistem Dua Arah : arah mekanisme transfer beban lebih rumit, tetapi selalu
terdiri dari dua arah

d. MATERIAL

Mengklasifikasi struktur berdasarrkan jenis bahannya :


Misalnya : kayu, baja, beton bertulang, dan lain-lain

www.carajadikaya.com www.steelindonesia.com elisa.ugm.ac.id

S K B B 3 - 3 | 265
1.2 BEBAN-BEBAN DAN GAYA YANG TERJADI PADA BANGUNAN
-PENGERTIAN BEBAN : Beban adalah semua berat yang ditanggung oleh bangunan.

Gambar 1.2.1 Pembagian Beban

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi

Beban yang bekerja pada suatu struktur ditimbulkan secara langsung oleh 2 sumber dasar
beban bangunan, yaitu geofisik dan buatan manusia. Gaya geofisik yang
dihasilkan oleh perubahan-perubahan yang senantiasa berlangsung di alam dapat
dibagi lagi menjadi gaya gravitasi, meteorology, dan seismologi. Karena gravitasi,
maka berat bangunan itu sendiri akan menghasilkan gaya struktur yang
dinamakan beban mati, dan beban ini akan tetap berlangsung sepanjang usia
bangunan. Beban meteorology berubah menurut waktu dan tempat serta tampil
berwujud angin, suhu, kelembaban, hujan, salju, dan es. Gaya seismologi
dihasilkan oleh gerak tanah yang tak beraturan (gempa).
Pembebanan yang bersumbernya buatan manusia dapat berupa ragam
kejutan yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, elevator (lift), mesin, dan
sebagainya, atau dapat pula oleh pergerakan manusia dan barang, ataupun akibat
ledakan dan benturan.

S K B B 3 - 4 | 265
Selanjutnya gaya-gaya dapat terkurung di dalam struktur (locked-in stresses)
selam proses pembuatan dan pelaksanaannya. Kekuatan bangunan mungkin
akan menuntut penggunaan praktekan sehingga menginduksi gaya.

-MACAM-MACAM PEMBEBANAN PADA BANGUNAN TINGGI


Pada dasarnya beban pada bangunan dibedakan menjadi dua kelompok utama
bergantung pada gaya gravitasi yang bekerja pada bangunan tersebut, yaitu beban
statis dan beban dinamis.

-BEBAN STATIS
Merupakan beban yang bersifat tetap dan mudah atau dapat diprediksikan dalam
perhitungan analitis metematis secara struktural serta mudah
dipertanggungjawabkan keandalannya. Yang termasuk ke dalam beban statis, yaitu :

A).BEBAN MATI(DEAD LOAD)


Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu bangunan yang bersifat
tetap, termasuk segala unsure tambahan, mesin-mesin serta peralatan tetap (fixed
equipment) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari bangunan itu
(perlengkapan/peralatan bangunan). Merupakan beban struktur dan elemen-elemen
konstruksi yang biasa berpengaruh pada gaya-gaya aksial atau gravitasi (kolom,
balok, plat lantai, atap, dinding selubung, dll).

http://slideplayer.info/slide/3102986/

Beban Mati

B).BEBAN HIDUP(LIFE LOAD)


Merupakan semua beban yang terjadi akibat penghunian (occupancy load) atau
penggunaan suatu bangunan, dan di dalamnya termasuk beban-beban pada lantai
yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah (moveable equipment),
mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
bangunan dan dapat diganti selama masa hidup dari bangunan itu, sehingga
mengakibatkan perubahan pada pembebanan lantai dan atap bangunan tersebut.
Beban hidup bersifat beubah-ubah atau dapat berpindah tempat, mencakup : berat
manusia, perabot, partisi yang dapat dipindahkan, lemari besi, buku, lemari arsip,
perlengkapan mekanis, kendaraan bermotor, perlengkapan industri, dan semua
beban semi permanen atau beban sementara lainnya yang berpengaruh terhadap
sistem bangunan, tetapi bukan bagian dari beban struktur dan tidak dianggap
sebagai beban mati. Dengan adanya hal hal yang tak terduga dari bangunan tinggi,
maka hampir mustahil untuk memperkirakan keadaan beban hidup yang mungkin
S K B B 3 - 5 | 265
terjadi yang akan mempengaruhi struktur. Akan tetapi, melalui pengalaman,
penyelidikan, dan analisis, nilai beban yang dianjurkan untuk berbagai penggunaan
telah dikembangkan. Hasilnya berbentuk daftar tabel beban yang dimuat dalam
persyaratan bangunan dan berisi faktor keamanan empiris yang menyatu untuk
mengimbangi kemungkinan keadaan beban maksimum.
Nilai-nilai beban ini berupa beban merata ekuivalen dan beban terpusat yang
telah diketahui sebelumnya. Beban merata ekuivalen mencerminkan keadaan beban
pemakaian yang sesungguhnya. Beban terpusat menunjukkan kemungkinan adanya
aksi beban tunggal pada tempat tempat kritis seperti pada tangga, langit langit,
garasi (misalnya dongkrak untuk mengganti ban), dan daerah daerah bahaya
lainnya yang akan mendapat perlakuan gaya tekan terpusat yang tinggi.
Secara umum penyelesaian beban struktur pada beban hidup :
a. Apabila tidak terjadi beban terpusat, unsur unsur struktur (kolom) dan lantai yang
membentang antara kolom harus dirancang untuk mendukung beban merata atau
terpusat yang ada atau yang member tegangan lebih besar.
b. Untuk beban hidup tersebar merata yang bekerja pada balok yang mendukung
luas lantai tertentu selain daerah gudang dan parker kendaraan, dapat dilakukan
pengurangan beban.

Dari segi pandang struktur, pemilihan system struktur yang memadai bergantung
pada pemahaman terhadap tiga faktor :
a. Baban yang akan dipikul
b. Sifat bahan konstruksi
c. Aksi struktur yang mengarahkan gaya gaya beban melalui komponen
struktur ke tanah

junaidawally.blogspot.com

Beban Hidup
C).BEBAN AIR HUJAN DAN SALJU

Biasanya beban air hujan atau salju jarang diperhitungkan ketika membuat
perhitungan beban hidup. Namun harus diingat, berat jenis air 62,4 lb/ft 3 akan
menghasilkan beban yang cukup besar. Beban hujan ini biasanya menimbulkan
masalah pada atap datar yaitu genangan (ponding) yang dapat menyebabkan
runtuhnya atap. Genangan diakibatkan oleh lendutan atap yang semakin besar.

S K B B 3 - 6 | 265
Gambar 1.2.2 Beban Salju Minimum

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi, hal: 14

D).BEBAN PENURUNAN TANAH (SETTLEMENTl)

Merupakan beban yang ditimbulkan oleh adanya perbedaan daya dukung tanah
pada suatu lokasi yang mengakibatkan retaknya struktur (daya dukung tanah tidak
mendukung) sehingga harus terlebih dahulu diselidiki daya dukung tanahnya karena
apabila hal tersebut tidak dilakukan maka bangunan akan turun (anjlok). Sehingga untuk
mengatasi hal ini selain dengan penyelidikan daya dukung tanah juga perlu dilakukan
dilatasi pada bangunan sehingga bangunan menjadi lebih stabil.

Bangunan awal Bangunan turun


Dilakukan dilatasi dan perkerasan

Gambar 1.2.3 Penurunan Bangunan

Sumber : google.com

Gambar 1.2.4 Penurunan Bangunan Akibat


Beban

Sumber : google.com

E)BEBAN TEKANAN AIR TANAH

S K B B 3 - 7 | 265
Beban tekanan air tanah terjadi pada wilayah atau lokasi tanahnya mengandung air
yang cukup signifikan, sedangkan bangunan tersebut memanfaatkan ruang
basement untuk kebutuhan ruangnya. Beban tekanan air tanah akan mendesak
bangunan baik dari sisi bawah maupun samping bangunan. Hal ini pun diperlukan
adanya penyelidikan tanah yang cermat.

Lantai basement naik dan dinding pun terdesak Penebalan pada Dinding Basement
Gambar 1.2.5 Beban Tekanan Air Tanah

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi

BEBAN DINAMIS
Merupakan beban yang bersifat tetap dan sulit untuk dapat diprediksikan dalam
perhitungan analitis matematis secara structural, karena beban tersebut sulit
ditentukan besaran, dan arah beban, kapan datangnya, dst. Sehingga, dalam
perhitungan biasanya dikalikan indeks tertentu (I,5 atau 2 atau 2,5) tergantung dari
lokasi diman banguan tersebut didirikan. Indeks tersebut akan memberi fakta
keamanan bagi keandalan bangunan. Yang termasuk ke dalam kategori beban
dinamis yaitu :
a. Beban angin
Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada bangunan atau bagian
bangunan yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban angin
lebih terkait pada dimensi ketinggian bangunan.
Beberapa faktor penentu yang dapat mempengaruhi kecepatan rah dan
prilaku angina ketika berkerja pada bangunan :

1. Kecepatan angin kecepatan angina rata-rata pada umumnya


bertambah dengan bertambahnya ketinggian. Semakin meningkat
ketinggian terjadi pula kecepatan maksimum.

S K B B 3 - 8 | 265
Gambar 1.2.6 Tingkat Kecepatan Angin

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur


Bangunan Bertingkat Tinggi

2. Topografi sebagai penentu tekanan angin

Adalah udara yang melalui ruang tertentu kemudian menabrak


permukaan bangunan akan meningkat sangat tinggi.
Tekanan angin paling tinggi terjadi di tengah-tengah muka datangnya
angina dimana gerakan angina berhenti, berkurang sedangkan
kecepatan angin meningkat.

Gambar 1.2.7 Beban Angin

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan


3. Arah angin
Bertingkat Tinggi

Tekanan angin terbesar apabila arah anginnya membentuk bidang


bangunan secara tegak lurus, dan akan mengakibatkan terjadinya gaya
guling.
Gaya guling yang terjadi akan sangat besar apabila :
tekanan angin besar
bidang permukaan sangat luas

Aksi angin yang membentur bidang > 1 muka dapat mengakibatkan lentur
ganda.

S K B B 3 - 9 | 265
Gambar 1.2.8 Arah Angin

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan


Bertingkat Tinggi

4. Tekanan angin

Tekanan angin berasal dari kedua komponen : kecepatan rata-rata


dan kecepatan hembusan.

Gambar 1.2.9 a. kecepatan Rata-Rata dan b. Kecepatan Keras

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan


Bertingkat Tinggi

5. Turbulensi

Apabila massa udara yang bergerak menemui hambatan, seperti


bangunan, maka ia akan berlaku seperti cairan dengan bergerak ke sisi-
sisinya, lalu mengikuti kembali aliaran udara utama. Kecepatan angin
bertambah dengan bergeraknya massa udara yang lebih besar melalui
daerah yang kuasnya konstan pada waktu bersamaan, dan terjadilah aliran
udara turbulen.

S K B B 3 - 10 | 265
Gambar 1.2.10 Turbulensi Terjadi Ketika Massa Udara Bergerak
Melalui Ruang Sempit Diantara Bangunan Tinggi

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan


Bertingkat Tinggi

Gambar 1.2.10 Gerak Yang Terjadi Umumnya Tegak Lurus


Terhadap Arah Datangnya Angin

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan


Bertingkat Tinggi

b. Beban gempa (seismik)


Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada
bangunan atau bagian bangunan yang menirukan pengaruh dari gerakan
tanah akibat gempa itu. Terjadinya Gempa adalah akibat adanya pergeseran
lapisan bumi, energi gelombang yang terjadi dijalankan ke semua arah. Maka
terjadi gerakan permukaan bumi yang arahnya tidak menentu.

S K B B 3 - 11 | 265
Gambar 1.2.11 Beban Gempa

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi

Gambar 1.2.12 Beberapa Bentuk Patahan

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi

S K B B 3 - 12 | 265
Pada tingkatan tertentu semua bangunan adalah fleksibel. Akan tetapi
struktur yang sangat fleksibel, yang mempunyai waktu getar alamiah yang
mendekati waktu getar gelombang permukaan, dapat mengalami gaya yang
jauh lebih besar yang ditimbulkan oleh gerak permukaan yang berulang-ulang
yang pergeseran pada bangunan

Gambar 1.2.13 Pengaruh Beban Gempa pada Bangunan

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat


Tinggi, hal: 32

c. Beban ledakan (impact)


Beban ledakan terjadi tergantung pada kondisi yang ada namun demikian
beban ini sering kali juga menimbulkan kehancuran atau kegagala struktur.
Bangunan tidak harus hanya menahan gaya eksternal, tetapi juga gaya
internal yang terjadi karena ledakan. Beban ledakan internal berupa ledakan
oleh bahan peledak karena sabotase atau pengapian gas yang mudah
terbakar karena kebocoran yang tak disengaja atau api. Sedangkan beban
ledakan eksternal berkisar dari sonic boom hingga ledakan nuklir.

d. Beban konstruksi
Merupakan jenis beban saat bangunan tersebut dilaksanakan, beban ini
biasanya berupa material pendukung dan peralatan-peralatan pembangunan
yang berpengaruh pada struktur yang dapat menimbulkan tambahan seperti
getaran mesin dan tumpukan material.

e. Kombinasi beban
Kemungkinan terjadinya beban kombinasi harus dievaluasi secara statistik
dan diramalkan akibatnya. Apabila penentuan aksi beban dilakukan labih
tepat, maka faktor keamanan yang dibuat untuk mencegah hal-hal yang tidak
diketahui dapat dikurangi. Kombinasi beban yang efektif disyaratkan dalam
peraturan.

1.3 RESPONSI GAYA AKIBAT BEBAN


Cara yang sangat berguna dalam memahami perilalu struktur rangka sederhana
adalah dengan membandingkan perilaku beban dengan struktur post-and-beam.
Perilaku kedua-duanya berbeda dalam hal titik hubung, yaitu titik hubung ini bersifat
kaku pada rangka dan tidak kaku pada struktur post-and-beam.

S K B B 3 - 13 | 265
Gambar 1.2.14 Perbedaan Antara
Struktur Post-and-Beam Dengan
Struktur Rangka Kaku

Sumber : Schodek, Daniel


L.1991,Struktur, hal: 363

BEBAN VERTIKAL

Apabila suatu rangka kaku mengalami beban vertikal, seperti halnya pada struktur
post-and-beam, beban tersebut akan dipikul oleh balok, diteruskan ke kolom, dan
akhirnya diterima oleh tanah. Beban itu menyebabkan balok tersebut cenderung
berotasi. Akan tetapi, pada jenis struktur rangka ini, karena ujung atas kolom dan balok
berhubungan secara kaku, maka rotasi bebas pada ujung balok tidak dapat terjadi.
Adanya hubungan kaku tersebut mengandung arti kolom cenderung mencegah rotasi
bebas balok. Hal ini menyebabkan terjadinya hal-hal penting. Salah satunya adalah
balok tersebut lebih bersifat mendekati balok berujung jepit-jepit. Hal yang penting
sebagai akibat hubungan kaku adalah bahwa karena ujung kolom cenderung
memberikan tahanan rotasionalnya, maka kolom menerima juga momen lentur selain
tentu saja menerima gaya aksial

S K B B 3 - 14 | 265
Gambar 1.2.15 Gaya Dorong (thrust) Pada Struktur Rangka Kaku Yang Memikul
Beban Vertikal

Sumber : Schodek, Daniel L.1991,Struktur


BEBAN HORIZONTAL

Pada rangka struktur rangka kaku ada kemampuan memikul beban lateral apabila
memang didesain dengan benar. Karena adany titik hubung kaku, balok dapat
menahan kolom dari rotasi bebas yang diakibatkan oleh beban horizontal. Aksi beban
lateral pada rangka menimbulkan lentur, gaya geser, dan gaya aksi pada semua
elemen (balok maupun kolom). Momen lentur yang diakibatkan oleh beban lateral
(angina atau gempa) sering kali mencapai maksimum pada penampang dekat titik
hubung. Kolom terbawa pada gedung bertingkat banyak pada umumnya memikul gaya
aksial dan momen lentur terbesar. Apabila beban lateral ini sudah sangat besar, maka
umumnya diperlukan kontribusi elemen struktur lain untuk memikulnya, misalnya
dengan menggunakan bracing 9pengekang) atau dinding geser (shear walls).

S K B B 3 - 15 | 265
Gambar 1.2.16 Efek Beban Lateral Pada Struktur Rangka Kaku Bertingkat
Banyak

Sumber : Schodek, Daniel L.1991,Struktur

RANGKA BERTINGKAT BANYAK ; BEBAN LATERAL

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan analisis


rangka bertingkat banyak yang mengalami beban lateral. Salah satunya metode
kantilever yang pertama kali memperkenalkan pada tahun 1908. Pada umumnya,
asumsi pada metode kantilever adalah :
1. Adanya titik belok di tengah bentang setiap balok;
2. Adanya titik belok di tengah tinggi setiap kolom; dan
3. Besar gaya aksial yang terjadi di setiap kolom pada suatu tingkat
sebanding dengan jarak horizontal kolom tersebut ke pusat berat
semua kolom di tingkat tersebut.
Asumsi-asumsi ini secara diagram diilustrasikan dalam gambar 3.20. gambar itu
juga mengilustrasikan tinjauan perilaku rangka bertingkat banyak yang mengalami
beban.

S K B B 3 - 16 | 265
Gambar 1.2.17 Rangka Bertingkat Banyak

Sumber : Schodek, Daniel L.1991,Struktur

1.4 KEMUNGKINAN PENGARUH DILATASI PADA BANGUNAN TINGGI

PENGERTIAN, FUNGSI, DAN SYARAT PEMISAHAN BANGUNAN TINGGI


Dilatasi bangunan pemisahan massa bangunan secara struktural.
Fungsi memisahkan bangunan sebab apabila terjadi penurunan bangunan
maka bangunan lain tidak ikut turun, menghindari patahan.
Dilatasi baik digunakan pada pertemuan antara bangunan yang rendah dengan
yang tinggi.
Syarat Pemisahan bangunan (dilatasi) dilakukan jika :
1. bangunan yang mempunyai tinggi berbeda-beda ( pertemuan antara bangunan
yang rendah dengan yang tinggi
2. Pemisahan bangunan induk dengan bangunan sayap
3. Bangunan yang memiliki kelemahan geometris
4. Bangunan yang memiliki panjang > 30 meter
5. Bangunan yang berdiri diatas tanah yang kurang rata
6. Bangunan yang ada didaerah gempa
7. Bangunan yang mempunyai bentuk denah bangunan L, T, Z, O, H, dan U

Gambar 1.4.1 Bentuk Bangunan L, T, X, dan H

Sumber : Materi Presentasi Kuliah SKBB 3 (Format pdf).2009, hal: 1

S K B B 3 - 17 | 265
Gambar 1.4.2 Denah Kurang Aman & Denah Lebih Aman Pemisahan
Bangunan

Sumber : google.com

Gambar 1.4.3Dilatasi Pada Bangunan

Sumber : Materi Presentasi Kuliah SKBB 3 (Format pdf).2009, hal: 2

S K B B 3 - 18 | 265
Gambar 1.4.4 Ragam Dilatasi pada
Bangunan

Sumber : Schueller,
Wolfgang.1989.The Vertical Building
Structure

JENIS JENIS DILATASI PADA BANGUNAN TINGGI

1. DILATASI DENGAN DUA KOLOM

Pemisahan struktur dengan dua kolom terpisah merupakan hal yang paling
umum digunakan, terutama pada bangunan yang bentuknya memanjang (linear).

Gambar 1.4.5 Dilatasi dengan Dua Kolom

Sumber : http://cv-yufakaryamandiri.blogspot.com/2012/10/dilatasi-
pada-sebuah-bangunan.html

S K B B 3 - 19 | 265
2. DILATASI DENGAN BALOK KANTILEVER

Mengingat bentang balok kantilever


terbatas panjangnya (maksimal
bentang balok induk), maka pada
lokasi dilatasi terjadi perubahan
bentang antar kolom, yaitu sekitar
bentang antar kolom.

Gambar 1.4.6 Dilatasi dengan Balok Kantilever

Sumber : http://cv-yufakaryamandiri.blogspot.com/2012/10/dilatasi-
pada-sebuah-bangunan.html

3. DILATASI DENGAN BALOK GERBER

Untuk mempertahankan jarak antar kolom yang sama, maka pada balok
kantilever diberi balok gerber. Namun dilatasi dengan balok gerber ini jarang
digunakan, kerena dikuatirkan akan lepas dan jatuh, jika mengalami deformasi
arah horizontal yang cukup besar (akibat beban gempa bumi).

Gambar 1.4.7 Dilatasi dengan Balok Gerber

Sumber : http://cv-yufakaryamandiri.blogspot.com/2012/10/dilatasi-
pada-sebuah-bangunan.html

S K B B 3 - 20 | 265
4. DILATASI DENGAN KONSOL

Dilatasi jenis ini banyak digunakan pada bangunan yang menggunakan konstruksi
prapabrikasi, dimana keempat sisi kolom diberi konsol untuk tumpuan balok prapabrikasi.

Gambar 1.4.8 Dilatasi dengan Konsol

Sumber : http://cv-
yufakaryamandiri.blogspot.com/2012/10
/dilatasi-pada-sebuah-bangunan.html

1.5 SISTEM SIRKULASI VERTIKAL DAN HORIZONTAL PADA


BANGUNAN TINGGI

SISTEM SIRKULASI HORIZONTAL

1 Lorong Melayani Dua Arah (Double Loaded Corridor System)


Sistem ini sangat ekonomis. Banyak digunakan untuk proyek-proyek perkantoran,
pendidikan, flat-flat, rumah sakit dan sekolah-sekolah/bangunan-bangunan pendidikan.

Gambar 1.5.1 Sistem Melayai Dua Arah

Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan Konstruksi Bangunan Tinggi,


hal: 24
S K B B 3 - 21 | 265
Gambar 1.5.2 Sistem Melayai Dua Arah Dengan Ruang Yang Dilayani Tidak Sama
Lebar

Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan Konstruksi Bangunan Tinggi, hal: 25

Gambar 1.5.3Double Loaded Corridor Slab


2 Lorong Melayani Satu Arah (Single Loaded Corridor System)
Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan Konstruksi Bangunan Tinggi, hal: 29
Sistem ini kurang ekonomis. Banyak digunakan untuk hotel-hotel, dan sekolah/bangunan
pendidikan.

Gambar 1.5.4 Lorong Melayani Satu Arah

Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan Konstruksi Bangunan Tinggi,


hal: 24

S K B B 3 - 22 | 265
Gambar 1.5.5 Single Loaded Corridor Slab

Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan Konstruksi Bangunan Tinggi,


hal: 29

3 Lorong Pinggiran (Perimeter Corridor/Exterrior Corridor)


Bila ruang yang dilayani bentangnya besar, maka sistem ini banyak dipakai.
Kecuali itu ada alasan aklimatisasi, ialah bahwa lorong pinggiran sekaligur
berfungsi sebagai penahan sinar matahari. Sistem ini banyak dipakai untuk
bangunan pendidikan.

Gambar 1.5.6 Lorong Tepi

Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan Konstruksi Bangunan Tinggi,


hal: 25

SISTEM SIRKULASI VERTIKAL


Sarana Sirkulasi vertikal dalam bangunan bertingkat sangat menentukan
keamanan bangunan tersebut, terutama pada waktu terjadi kebakaran dan gempa. Di
dalam sarana sirkulasi vertikal terdapat sarana-sarana untuk lalu lintas orang, barang,
S K B B 3 - 23 | 265
benda (kotoran padat, dan cair, air bersih), hawa bersih/AC, dan istalassi listrik,
telepon.
Untuk lalu lintas orang digunakan : tangga, escalator dan lift.
Untuk lalu lintas barang digunakan ; lift, conveyor.
Untuk lalu lintas benda padat/cair : pipa-pipa dalam tabung pemipaan.
Untuk lalu lintas hawa bersih : tabung-tabung/koker/ducts.
Untuk membuat prarencana, luas denah untuk sirkulasi vertikal ditaksir sekitar 20-
25% dari luas denah per lantai, tergantung tinggi gedung, dan fungsi gedung.

Gambar 1.5.7 Sirkulasi Vertikal

Sumber :Poerbo, Ir Hartono. Struktur dan


Konstruksi Bangunan Tinggi, hal: 27

Gambar 1.5.8 Inti Ganda Double


Core

Sumber :Poerbo, Ir Hartono.


Struktur dan Konstruksi Bangunan
Tinggi, hal: 28

Sistem Inti Tunggal (Single Core)


Dalam sistem ini semua sarana sirkulasi dan ruang pelayanan disimpan dalam
satu inti gedung yang melayani sirkulasi horizontal dalam jarak tempuh yang aman
ialah sekitar 30 meter. Bila gedungnya panjang gepeng vertikal atau denah luas,
disediakan beberapa inti yang jaraknya diatur sedemikian sehingga masih dalam

S K B B 3 - 24 | 265
batas jarak pencapaian maksimum ( 30 meter). Dengan demikian akan terjadi
sistem inti banyak (multi-core system).

PEMBAGIAN INTI

Telah diketahui bahw dalam inti gedung terdapat :


- tabung elevator/lift.
- Tangga Kebakaran.
- Ruang-ruang pelayanan (toilet, gudang, dapur kecil, ruang pemeliharaan
gedung, ruang mesin AC).
- Tabung-tabung instalasi (air bersih, air kotor, listrik, telepon, vertikal conveyor,
untuk gedung perpustakaan).
4. Tabung Elevator/ lift
Tabung elevator lazimnya dicapai dari satu pengantar (lift lobby) lebarnya 1,5
sampai 2 kali kedalaman ruang tabung lift. Luas tabung elevator sekitar 2,5 m 2 per
1000 m2 luas lantai kotor. Sedangkan luas rongga liftnya bruto 0,5 m 2/orang
kapasitas atau netto 0,3 m2/orang kapasitas lift. Luas inti total sekitar 5-10 kali luas
tabung lift.

Gambar 1.5.9 Potongan Lift

Sumber : http://www.alizo.co.id/produk/machine.html

S K B B 3 - 25 | 265
Letak Lift (Sirkulasi Vertikal)

Gambar 1.5.10 Letak Lift Pada Bangunan Condotel

Sumber : www.google.com

5. Tangga Kebakaran
Lokasi tangga kebakaran dalan inti gedung harus di atur demikian hingga
pencapainnya mudah dan masih dalam batass jarak maksimum yang lazim ( 30
meter atau tergantung peraturan Dinas Pengawasan Pembangunan Kota di suatu
Kota/Negara)
Tangga kebakaran harus berukuran minimum untuk dua orang lewat atau 2 x 0,60
= 1,20 m. Setiap 0,60 m lebar anak tangga diperhitungkan dapat melewati 60
orang/menit, sedangkan waktu pengosongan gedung dalam keadaan darurat
kebakaran/gempa diperhitungkan sekitar 5 menit.
Tangga kebakaran dalam bangunan tinggi harus dibungkus dengan bahan beton
bertulang sehingga tidak mudah runtuh pada waktu ada gempa, kebakaran, atau
gempa + kebakaran. Tabung tangga kebakaran tidak boleh diberi perlemahan-
perlemahan/ lubang-lubang yang penutupnya mudah rusak pada waktu
kebakaran/ gempa, sehingga orang-orang yang sedang turun tangga tidak
disongsong oleh asap. Bila diperlukan lubang-lubang pengaman, harus ditutup
dengan bahan yang tahan api (fire proof) dalam arti sedikitnya tahan dua jam tidak
hancur oleh api.

S K B B 3 - 26 | 265
Gambar1.5.10 Tangga Darurat

Sumber : www.google.com

Gambar 1.5.11 Tangga Darurat Di Luar Gedung

Sumber : www.google.com

Gambar 1.5.12 Letak Tangga Darurat Pada Bangunan


Condotel

Sumber : www.google.com
S K B B 3 - 27 | 265
6. Ruang-Ruang Pelayanan

Dalam proyek perkantoran, ruang-ruang pelayanan dalam inti gedung berupa :


toilet-toilet, dapur pemeliharaan gdung (janitor), ruang pengelola udara AC (air
handling unit) bila diadakan sistem pengelahan udara tersebut. Dalam proyek-
proyek flat ruang-ruang pelayanan hanya terdiri dari ruang pemeliharaan gedung
(janitor), ruang pengolah udara AC (bila digunakan sistem tersebar), ruang
pelayanan instalasi listrik (dekat tabung istalasi listrik).
Jadi inti gedung flat bertingkat hanya mengandung : tabung lift, tangga
kebakaran, ruang pengolah udara AC, ruang pelayanan instalasi listrik.

7. Tabung-Tabung Instalasi

Tabung-tabung instalasi berupa tabung pipa (pipa shaft)


(1) Pemipaan air bersih (air dingin, air panas).
(2) Pemipaan air kotor (air kotor dan kotoran padat).
(3) Pemipaan air hujan.
(4) Pemipaan air es (chilled water) untuk AC
(5) Pemipaan air pemadam kebakaran
(6) Pemipaan gas
(7) Pemipaan pneumatic tube untuk aliran dokumen-dokumen dengan
cepat pada proyek perkantoran, hotel-hotel.
Pemipaan air bersih, air kotor, dan air hujan diletakan dalam tabung yang melayani
langsung ruang-ruang basah (toilet, dapur, dan lain-lain)

Tabung untuk pemipaan air es (chilled water) untuk AC dengan sistem


pendinginan udara tidak langsung ditempatkan langsung berdekatan dengan
ruang pengolahan udara AC atau AHU.
Tabung untuk pemipaan air untuk pemadam kebakaran harus diletakan
sedemikian hingga mudah dicaai dari lorong-lorong atau lift lobby.
Tabung-tabung pipa gass tidak boleh ditempatkan dekat dengan tangga
kebakaran.
Tabung-tabung instalasi listrik dan telepon harus terpisah meskepin
berdekatan. Letak tabus instalasi listrik dalam inti gedung harus diatur sedemikian
hingga instalasi listrik diarah horizontal dapat diatur dengan mudah.
Tabung-tabung pembuang kotoran/sampah (refuse chute)
Tabung ini diisi pipa plastic/logam yang licin permukaannya untuk membuang
sampah dalam bangunan bertingkat banyak yang telah dimasukan ke dalam
kantong-kantong plastic. Pipa sampah tersebut harus langsung menuju ke lantai
dasar atau dalam tanah di mana sampah untuk seluruh gedung dikumpulkan untuk
di buang

S K B B 3 - 28 | 265
Gambar 1.5.13 Tabung Pembuang Sampah

Sumber : http://www.coateshire.com.au/materials-handling-
hire/rubbish-chutes-hire/rubbish-chutes-hire

S K B B 3 - 29 | 265
1.6 FACADE STRUKTURAL
PENGERTIAN FAADE

Kata fasad atau facade berasal dari bahasa latin yaitu facies, yang berarti wajah
utama atau tampak dari bangunan yang dapat di lihat dari jalan atau area public lainnya.
Elemen-elemen yang bersama-sama membentuk fasad dapat bermacam-macam bagian
mulai dari permukaan dinding, struktur, pengaturan bukaan dan ornamentasi. Dapat juga
dikatakan bahwa fasad merupakan bagian eksterior dari sebuah bangunan, bagian depan,
samping, ataupun belakang. Secara harfiah dari asal bahasanya facade berarti depan atau
muka. Gambar dibawah ini menunjukan beberapa cara bangunan menampilkan fasadnya

Gambar 1.6.1 Mikimoto Ginza

Sumber : http://figure-ground.com/mikimoto/0002/

S K B B 3 - 30 | 265
HUBUNGAN ANTARA FAADE DENGAN STRUKTUR

Pemanfaatan pengakuan lateral untuk bangunan tinggi tidak hanya terbatas


padainti internal, diding geser dan rangka pengaku lain, namun juga dapat dinyatakan
pada fasade eksterior, sehingga fungsi estetika maupun struktural bangunan tinggi,
sistem pengakuan rangka akan menghambat sirkulasi ruangan untuk kegiatan. Jarak
antar kolom disarankan lebih dekat guna mengurangi ketebalan plat lantai.
Sistem fasade struktur dapat dibagi 2 kelompok :
a. Grid fasade seragam yang berulang dan sebagian pada seluruh tampak
b. Pola-pola struktur diagonal yang menutup seluruh fasade.

Gambar 1.6.2 Pola Berulang, Grid Fasade Struktur

Sumber : Schueller, Wolfgang.1989. Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi, hlm : 101

S K B B 3 - 31 | 265
Pada sistem grid menggunakan bentuk kekakuan terhadap lentur balok yang
langsung dihubungkan dengan kolom rangka kaku (rigrid frame) atau dinding
berlobang (perforated wall). Sistem bentangan yang paling panjang seperti balok
plat (plate girder) rangka berlobang (vierendeel truss) serta rangka besar (warren
truss) memungkinkan lebih banyak cahaya alami memasuki ruangan. Bentang
paling pendek yaitu struktur tabung berlobang akan lebih kaku hingga
memungkinkan bangunan menjadi lebih tinggi.
Struktur fasade tidak harus seragaram pada seluruh fasade, tetapi
dikelompokkan di tempat yang tepat untuk menahan gaya-gaya secara efisien.
Rangka sabuk dan kepala sekeliling bangunan, misalnya, ditempatkan pada
lantai-lantai yang dapat memikat unit bangunan bersama-sama secara efisien
kedalam suatu kesatuan yang kohesif.
Prinsip-prinsip pada keseluruhan struktur fasade bisa berupa rangka
segitiga dan rangka keliling sampai inti eksterior dan rangka multilantai. Semua
metode fasad struktur mengunkapkan daya tanggap suatu bangunan terhadap
beban-beban yang bekerja pada bangunan tersebut sehingga menghasilkan
estetika arsitektur yang alami.

S K B B 3 - 32 | 265
BAB 2
BENTUK DEFLEKSI, DIAGRAM GAYA GESER DAN DIAGRAM GAYA MOMEN

2.1. STRUKTUR BANGUNAN


2.1.1. STRUKTUR CORE INTI (BANGUNAN INTI)
Struktur core wall bisa dijumpai dalam aplikasi konstruksi bangunan tinggi ada bermacam-
macam. Antara lain adalah bentuk , O, atau core wall dua cell dengan pengaku di tengahnya
berbentuk . Bangunan tinggi yang mempunyai struktur core wall, dibuat dengan salah satu
pertimbangan adalah fleksibilitas untuk pengaturan posisi (tataletak) yang akan memberikan
penghematan dan efisiensi maksimum pada bangunan secara keseluruhan. Pada sistim core
(inti) sebagai pengaku bangunan secara keseluruhan, dimana gaya-gaya lateral yang bekerja
disalurkan oleh balok-balok menuju ke core/inti sebagai elemen struktur utama. Core sebagai inti
pengaku pendukung utama struktur bangunan, dengan material dari :
Core beton (shear wall atau bearing wall)
Core daristrukturbaja (tube)

Gb.Letak Core
Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

S K B B 3 - 33 | 265
Sistem struktur core wall ini didesain untuk dapat menahan gaya torsi yang timbul akibat tekanan
angin yang eksentrisitas dan seragam pada pusat geser struktur core wall. Struktur core wall
pada dasarnya adalah system struktur yang dibuat untuk mampu menahan gaya-gaya lateral
yang timbul akibat gaya angin atau gempa yang merupakan beban dinamis. Untuk proses analisis
mekanikanya, pengaruh gaya-gaya akibat beban angin dan gempa tersebut (yang merupakan
beban dinamis) diperlakukan sebagai beban statis dan mengabaikan sifat dinamisnya.

Gb. Core ditengah bangunan


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

Untuk yang menggunakan system struktur inti, inti dapat dipergunakan untuk menempatkan
system transportasi vertikal, tangga, wc, shaft, dan jaringan utilitas lainnya sehingga kadang
bangunan mempunyai inti yang lebih dari satu. Beberapa bangunan tinggi menggunakan inti dan
rangka. Dari segi perilaku denah ini diterapkan untuk memuaskan sistem plat datar atau dinding
rangka geser bersama belt trusses. Inti dapat terbuat dari beton, baja atau konbinasi antara beton
dan baja. Keuntungan inti baja, dalam perakitan lebih cepat karena pabrikasi. Sedangkan inti dari
beton menghasilkan ruang yang sekaligus memikul beban. Juga dapat dipakai untuk
perlindungan saat kebakaran. Bentuk denah yang bermcam-macam menungkinkan perletakan
sejumlah inti bangunan. Sistem inti ini dikaitkan dengan bentuk bangunan yang diatur menurut
letaknya, seperti :
1. Letak inti :
Inti fasade eksterior (diluar)
inti interior : intifasade (sekeliling)
inti di dalam bangunan
2. Jumlah inti :
inti tunggal
inti terpisah
inti banyak

S K B B 3 - 34 | 265
3. Bentuk inti :
inti tertutup : bujursangkar, persegipanjang, bulat, segitiga
inti bentuk terbuka : bentuk X, I dan [
Bentuk inti disesuaikan dengan bentuk bangunan
4. Susunan inti :
Simetris
Asimetris

2.1.2. STRUKTUR RANGKA (SKELETON)


Bentuk struktur rangka adalah perwujudan dari pertentangan antara gaya tarik bumi dan
kekokohan; dan struktur rangka yang modern adalah hasil penggunaan baja dan beton secara
rasional dalam bangunan. Kerangka ini terdiri atas komposisi dari kolom-kolom dan balok-balok.
Unsur vertikal, berfungsi sebagai penyalur beban dan gaya menuju tanah, sedangkan balok
adalah unsur horizontal yang berfungsi sebagai pemegang dan media pembagian lentur. Bahan-
bahan yang dapat dipakai pada struktur ini adalah kayu, baja, beton atau lain-lain bahan yang
tahan terhadap gaya tarik, tekan, punter, dan lentur. Hanya ada kekurangannya, yaitu jarak
antara kolom mempunyai batas maksimum yang relative kecil. Jarak antar kolom yang jauh akan
mempengaruhi dimensi dari balok mendatar yang akan membesar dan akan menjadi tidak
ekonomis.

Gb. Sistem Struktur Rangka


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

Tampak bangunan dengan struktur skeleton mempunyai dua macam aliran. Aliran pertama ialah
dengan memperlihatkan kerangka struktur dari luar, sedangkan yg kedua dgn menutupinya dgn
S K B B 3 - 35 | 265
dinding tirai atau hiasan penghalang sinar matahari. Arsitektur setelah tahun 1950 condong
memperlihatkan rangka struktur bangunan dgn alasan kejujuran, kemudahan diterima dan
kesederhanaan (exposed
skeleton structure).

Gb. Sistem Struktur Rangka


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

Struktur rangka kaku (rigid frame) adalah struktur yang terdiri atas elemen-elemen linear, seperti
kolom dan balok yang ujung-ujungnya dihubungkan dengan joints (titik hubung) yang bersifat
kaku atau rigid, bedakan dengan struktur pos-and-beam yang titik hubungnya bersifat sendi atau
roll. Aksi lateral pada rangka menimbulkan lentur, gaya geser, dan gaya aksial pada semua
elemen (balok dan kolom). Momen lentur akibat lateral akan mencapai maksimum pada
penampang dekat titik hubung. Sehingga ukuran elemen struktur didekat titik hubung harus
dibuat lebih besar atau diperkuat.
Efek beban lateral yang bekerja pada struktur rangka kaku gedung bertingkat banyak, dimana
semakin tinggi gedung semakin besar momen dan gaya-gaya pada setiap elemen. Apabila gaya
yang bekerja sudah sedemikian besar, maka diperlukan kontribusi struktur lain, seperti bracing,
sistim core ataupun dinding geser. Distribusi gaya pada struktur rangka pada gedung tingkat
banyak, apabila gedung mengalami gaya lateral maka akan terjadi kolom yang mengalami gaya
tarik dan mengalami gaya tekan.

S K B B 3 - 36 | 265
Gb. Struktur Rangka dengan Baja
Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat
Beberapa jenis struktur rangka yang dapat dikembangkan, antara lain :
Rangka dengan Grid-Sempit
Rangka dengan Grid-Lebar
Struktur Portal
Struktur Rangka Batang (Trussed Frame)
Struktur Komposit

2.1.3. STRUKTUR SHEAR WALL DAN BEARING WALL


2.1.3.1. BEARING WALL (DINDING PEMIKUL)
Dinding pasangan batu alam atau bata buatan dapat berfungsi sebagai dinding pemikul beban,
khususnya beban vertical bangunan. Struktur massa kecuali sebagai pemikul, juga berfungsi
sebagai penutup ruang dan pelindung terhadap iklim yang sempurna. Tetapi karena dibutuhkan
bahan yang banyakdan upah pemasangan yang mahal, maka menjadi kurang ekonomis. Juga
tidak begitu menguntungkan dengan adanya pembatasan struktural. Biasanya terbatas
bentangan terbuka sampai kira-kira 8 meter, dan juga ketinggian dinding yang tergantung dari
tebalnya. Dinding padat (atau solid) yang tebal adalah baik sekali sebagai penerus gaya-gaya
didalamnya. Begitu pula ketahanan terhadap perubahan temperatur dan panas api. Mengenai
isolasi terhadap suara masih kurang memenuhi syarat akibat dari efek transmisi massa.

S K B B 3 - 37 | 265
Gb. Struktur Bearing Wall
Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

2.1.3.2. SHEAR WALL (DINDING GESER)


Pada bangunan tinggi tahan gempa umumnya gaya-gaya pada kolom cukup besar untuk
menahan beban gempa yang terjadi sehingga umumnya perlu menggunakan elemen-elemen
struktur kaku berupa dinding geser untuk menahan kombinasi gaya geser, momen, dan gaya
aksial yang timbul akibat beban gempa. Dengan adanya dinding geser yang kaku pada
bangunan, sebagian besar beban gempa akan terserap oleh dinding geser tersebut. Kolom-
kolom dianggap tidak ikut mendukung gaya horizontal, sehingga hanya didesain untuk menahan
gaya normal (gaya vertikal) saja. Secara struktural dinding geser dapat dianggap sebagai balok
kantilever vertikal yang terjepit bagian bawahnya pada pondasi atau basemen. Dinding geser
berperilaku sebagai balok lentur kantilever. Oleh karena itu dinding geser atau shear wall selain
menahan geser (shear force) juga menahan lentur. Panjang horisontal dinding geser biasanya 3-
6 meter, dengan ketebalan kurang lebih 30 cm. Beberapa dinding geser dihubungkan oleh plat
lantai beton (sebagai difragma) membentuk suatu sistem struktur 3 dimensi. Dinding geser pada
umumnya bersifat kaku, sehingga deformasi (lendutan) horizontal menjadi kecil. Kerusakan pada
elemen non struktural (dinding pembagi ruang, elemen fasad, langit-langit) baru terjadi pada
gempa yang relatif kuat.

Gb. Struktur Bearing Wall


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

2.1.4. STRUKTUR CANTILEVER


Struktur kantilever lebih banyak dikenal untuk bangunan industri, seperti pabrik, gudang
pelabuhan, atau menara pemancar. Namun sebenarnya, material pabrikasi tersebut cocok pula
diterapkan pada bangunan tinggi. Struktur Cantilever yaitu suatu struktur balok yang hanya
S K B B 3 - 38 | 265
ditumpu oleh satu tumpuan jepit. Tumpuan jepit adalah tumpuan yang dapat menahan gaya
vertikal, horizontal dan momen (rotasi).

Gb. Perilaku beban pada system kantilever


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

Struktur Cantilever merupakan model struktur yang dikatakan sebagai struktur statis tertentu,
karena perletakan jepit mampu menahan gaya pada arah sumbu x, gaya pada arah sumbu y,
dan gaya momen memutar sumbu z. Jadi, kantilever memiliki 3 tahanan, sehingga struktur
kantilever merupakan struktur statis tertentu.

2.1.5. STRUKTUR BRACING


Untuk menjaga kestabilan struktur, karena bekerjanya gaya dua arah dilakukan dengan
merancang sistim diagonal yang berfungsi untuk memikul gaya tekan. Apabila beban horizontal
berbalik arah menyebabkan keruntuhan struktur, maka diperlukan kabel menyilang lainnya atau
dengan satu elemen diagonal yang mampu memikul gaya tarik dan gaya tekan sekaligus untuk
menjamin kestabilan struktur akibat beban yang berbalik arah.

Gb. Perilaku tarik pada elemen diagonal


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

S K B B 3 - 39 | 265
Gb. Perilaku tarik pada elemen diagonal
Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

2.1.6. STRUKTUR TABUNG


Perkembangan mutakhir dalam rancangan struktur tabung, dikembangkan oleh Fazlur Khan.
Seperti bangunan Hancock Building, Sears Building, Standard Oil Building. Sistem ini lebih efisien
karena penggunaan bahan bangunan per-m2 hampir sebanding dengan jumlah yang digunakan
untuk bangunan rangka yang besarnya separuh dari bangunan diatas.
Dalam sistem ini, tabung dianggap fasade struktur bertindak terhadap beban lateral. Dinding
eksterior dapat berfungsi sebagai penahan beban angin sehingga pengaku diagonal interior
dapat ditiadakan. Dinding tabung terbuat dari kolom berjejer yang berdekatan di sekeliling
bangunan yang diikat oleh balok pengikat. Sehingga kekakuan dinding fasade ini sedemikian
tinggi dan tabung eksterior ini dapat memikul semua beban lateral.
Pada dasarnya struktur tabung terbagi menjadi 2 besar yaitu :
Tabung Kosong
Tabung dengan pengaku interior
Dan sistim tabung kosong terbagi dalam :
S K B B 3 - 40 | 265
Tabung rangka (frame tube)
Tabung truss (trussed tube),
dalam sistem ini terbagi menjadi Tabung rangka kolom diagonal dan tabung rangka lattice.
Sedangkan sistim Tabung dengan cara pengaku interior terbagi dalam :
Tabung dengan dinding geser
Tabung dalam tabung (tube in tube)
Tabung yang dimodifikasi (modified tube), dalam sistem ini terbagi dalam tabung rangka
dengan rangka kaku dan tabung dalam semi tabung
Tabung modular (modular tube)

Gb. Sistrem tabung


Sumber :Zuhri, Syaifuddin. 2011. Sistim Struktur pada Bangunan Bertingkat

2.2. PERMASALAHAN STRUKTUR


2.2.1. UMUM
Pertimbangan umum ekonomi
Koordinasi antara arsitek, insinyur, dan kontraktor pada saat merencanakan suatu proyek
akan meningkatkan potensi untuk mencapai pemecahan ekonomis. Kerja sama kelompok
demikian dapat memungkinkan dimulainya pelaksanaan sebelm seluruh gambar kerja
diselesaikan. Apabila kerja sama bisa dipercepat, maka penghematan bangunan dapat
dilakukan.

S K B B 3 - 41 | 265
Kondisi tanah
Kondisi tanah harus diperiksa terlebih dahulu. Apabila kemampuaan daya dukung tanah
kurang di suatu tempat, maka diperlukan tiang pancang untuk mencapai lapisan pendukung
yang diinginkan.
Rasio tinggi-lebar suatu bangunan
Dengan meningkatkan tinggi minimum terhadap lebar suatu banguna, kekakuan bangunan
pun harus ditingkatkan. Kekakuan struktur bangunan bergantung pada ukuran dan jumlah
trave, system struktur, dan kekakuan unsure dan sambungan.
Pertimbangan fabrikan dan pembangunan
Merupakan factor penting dalam pemilihan struktur. Bahkan dapat menjadi pertimbangan
yang mementukan metode konstruksi prefab. Digunkan karena mengurangi biaya upah kerja
dan waktu yang diperlukan untuk pembangunan gedung.
Pertimbangan mekanis
System mekanis terdiri dari sitem-sistem HVAC, lift, listrik, pipa air, dan pembuangan
sampah- rata-rata menghabiskan sepertiga dari keseluruhan biaya pembangunanfaktor yang
cukup menonjol ini jelas menuntut bahwa pemilihan struktur itu penting.
Pertimbangan tingkat bahaya kebakaran
Pada bangunan tinggi, api menjadi pertimbangan penting karena dua hal. Pertama hampir
semua lantaiberada diluar jangkauan tangga pemadam kebakaran, upaya pemadaman dan
penyelamatan hanya mungkin dilakukan dari dalam bangunan. Kedua, evakuasi darurat
yang menyeluruh mustahil dilakukan dalam waktu yang singkat.
Pertimbangan setempat
Setiap kota memiliki persyaratan khusu tersendiri untuk bangunan tinggi. Misalnya
pembatasan ketinggian. Memberikan dampak rencana tinggi tiuap lantai menjadi diusahakan
sekecil mungkin sehingga menyebabkan pemilihan system beton plat datar atau prinsip
pratekan.
Ketersediaan dan harga bahan konstruksi utama
Lokasi bangunan bisa dekat dengan sumber-sumber bahan konstruksi tertentu. Hal ini dapat
mengurai biaya angkutan dan menyebabkan bahan bangunan tidak menjadi factor. Apabila
bahan yang diinginkan sulit diperoleh, maka hail ini akan memyebabkan keterlambatan
penyelesaian bangunan.
2.2.2. KHUSUS
2.2.2.1. Momen
Momen dari satu gaya. Setiap gaya yang bekerja pada suatu benda akan menyebabkan benda
tersebut mengalami translasi dalam arah gaya itu. Bergantung pada titik tangkapnya, gaya itu
juga menyebabkan terjadinya rotasi yang disebut momen. Momen akibat banyak gaya. Efek

S K B B 3 - 42 | 265
rotasional total yang dihasilkan dari pengaruh beberapa gaya terhadap satu titik atau garis yang
sama adalah aljabar dari momen masing masing gaya terhadap titik atau garis tersebut.

Momen terhadap suatu garis. Efek rotasional terhadap benda tegar (rigid body) yang diakibatkan
oleh banyak gaya tidak sebidang, yang bekerja terhadap suatu titik atau garis, tetapi sama
dengan yang diakibatkan apabila gaya - gaya tersebut sebidang.
Momen dari suatu kopel. Kopel adalah system gaya yang terdiri atas dua gaya yang sama besar,
tetapi berlawanan arah, gaya gaya tersebut mempunyai garis kerja yang sejajar dan tidak
terletak pada satu garis lurus Kopel hanya mengakibatkan efek rotasional (tidak ada
translasional) terhadap benda. Momen akibat kopel didapat dari hasil kali antara satu gaya dan
jarak tegak lurus antara kedua gaya tersebut.menghitung momen akibat suatu bentuk beban
terdistribusi yang bekerja pada suatu benda. Tinjauan beban terdistribusi yang besarnya konstan
sebesar w lb/ft atau kN/m.

S K B B 3 - 43 | 265
Gb. Bending Momen dari Berbagai Type Balok Menerus
Sumber: google.com

2.2.2.2. Defleksi
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya pembebanan vertikal
yang diberikan pada balok atau batang. Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat
dijelaskan berdasarkan defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi
diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi yang
diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva elastis dari balok.
Gambar 1(a) memperlihatkan balok pada posisi awal sebelum terjadi deformasi dan Gambar 1(b)
adalah balok dalam konfigurasi terdeformasi yang diasumsikan akibat aksi pembebanan.

S K B B 3 - 44 | 265
Gb. (a)Balok sebelum terjadi deformasi,(b)Balok dalam konfigurasiterdeformasi
Sumber : http://bambangpurwantana.staff.ugm.ac.id/KekuatanBahan

Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu :


Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada batang akan semakin
kecil
Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan besarnya defleksi
yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang dialami batang maka defleksi yang
terjadi pun semakin kecil
Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika karena itu besarnya defleksi
pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari
tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar
dari tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan
jepit.
Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik,keduanya memiliki kurva defleksi yang berbeda-
beda. Pada beban terdistribusi merata slope yang terjadi pada bagian batang yang paling dekat
lebih besar dari slope titik. Ini karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban
titik hanya terjadi pada beban titik tertentu saja (Binsar Hariandja 1996).

2.3. RESPONSI PENDEKATAN PERANCANGAN SISTEM STRUKTUR


Pengendalian respon dinamaik suatu bangunan tinggi dapat dilakukan dengan cara berikut ini :
Dengan meningkatkan kekuatan melalui penggunaan system struktur yang efektif.
Dengan menambah berat bangunan (tidak layak)
Dengan meningkatkan kepadatan bangunan serta menambah bahn pengisi struktur (tidak
layak)

S K B B 3 - 45 | 265
Dengan memeilih bentuk bangunan yang efisien
Dengan memungkinkan gaya-gaya tambahan pada bangunan untuk mengimbngi gaya
lateral dari luar.
Kedua pendekatan terakhir akan dibicarakan secara singkat
2.3.1 Pertimbangan perencanaan
Pertimbangan ekonomi
- Biaya pra dan pasca pembangunan
- Kondisi tanah
- Ratio tinggi lebar bangunan sistem yang dipakai

Pertimbangan fabrikasi dan pembangunan


- Metode konstruksi prefab x waktu, tenaga kerja

Pertimbangan mekanis
Kaitannya dengan sisi struktur, menentukan fasade bangunan, pertimbangan
pelayanan

Pertimbangan tingkat bahaya kebakaran, penting karena :


- Ketinggian lantai diluar jangkauan tangga pemadam kebakaran
- Evakuasi darurat yang menyeluruh mustahil dilakukan dalam waktu singkat.

Syarat pengamanan terhadap bahaya kebakaran :


- Struktur tahan terhadap api dalam jangka waktu tertentu serta tidak
menghasilkan asap.
- Pembatasan penjalaran api agar penyebarannya ke bagian lain dapat dicegah.
- sistem keluar (exit) yang memadai
- Sistem peringatan dini terhadap api dan asap efektif
- springkler dan ventilasi untuk asap dan panas

Pertimbangan setempat
- Peraturan zoning dan ketinggian lantai pengaruh ke sistem struktur
- Upah kerja setempat dan peraturan perburuhan
-Ketersediaan dan harga bahan konstruksi utama.

A. Bentuk bangunan yang efisien


Membatasi bentuk bangunan menjadi prisma persegi yang menurut pandangan geometri agak
rentan terhadap penyimpangan lateral (lateral drift). Dengan memiliki kekuatan inheren dalam
bentuk geometrinya, memungkinkan bangunan menjadi lebih tinggi dengan biaya yang lebih
rendah.

S K B B 3 - 46 | 265
B. Gaya melawan atau respon dinamik
Untuk mengendalikan ayunan dan osilasi pada bangunan dengan cara nonkonvensional. Cara
ini memungkinkan bangunan bertindak secara dinamis alaih-alih statis ketika menahan aksi
lateral dari luar.
Memanfaatkan tendon tegang di dalam struktur untu memungkinkan suatu deformasi melawan.

Peredam adalah pendekatan lain untuk mengurangi efek embusan angin pada struktur bangunan
tinggi. Pada World Trade Center di New York, peredam viskoelastik dipasang di bangunan ujung
bawah dari balok baja dan ke kolom-kolom yang berdekatan. Sesuai dengan namanya,
viskoelatik adalah sifat bahan yang elastis (seperti karet) dan viskus (cenderung mengalir seperti

S K B B 3 - 47 | 265
cairan). Bahan viskoelatik menahan gaya-gaya geser, mengubahnya menjadi panas yang
disebar ke lingkungan sekitarnya. Setelah gaya dilepas perlahan-lahan kembali ke posisi semula.

2.3.2 Pendekatan skematik untuk bangunan

Pertimbangan dalam merancang bentuk bangunan :


1. Rencana tapak (site plan)

Luasan tapak - daya dukung


Mekanis seberapa besar beban yang dapat ditanggung oleh tapak tersebut (daya dukung
tanah)
Volumetris seberapa besar tapak dapat mencukupi kebutuhan dari bangunan.

a) Daya tampung
Berkaiatan dengan kepadatan/ density
b) Topografi
Disebabkan karena permukaan tanah yang berelief
Jenis tanah
Kemiringan tanah X posisi/ kedudukan bangunan
c) Kerapatan tanah/ kepadatan tanah
Kaitannya dengan porositas tanah yaitu kemampuan tanah (biutiran tanah) menahan air
Tanah lembab
Tanah kering
d) Kesuburan tanah
e) Orientasi/ arah
Hubungan tata ruang X bangunan sekitar, orientasi dipengaruhi juga oleh : tradisi, adat,
fungsi
f) Aksesbilitas
Hubungan dengan fungsi/ tapak lain kemudian pencapaian
S K B B 3 - 48 | 265
2. Iklim
Kondisi udara pada suatu daerah
Iklim makro : kepulauan, benua, negara
Iklim meso : kota besar, kota kecil
Iklim mikro : bagian kota, area, blok

3. Ukuran horizontal
Sangat berkaitan erat dengan sistem pembebanan bangunan, kaitannya dengan faktor
alam (daya dukung tanah, beban angin). (semakin lebar semakin besar beban angin
yang harus ditahan, pembebanan pada lapisan tanah juga besar).

4. Proporsi
Yaitu perbandingan ukuran panjang, lebar, dan tinggi bangunan. Proporsi memberi
gambaran tentang stabilitas bangunan.

5. Simetri
Berkaitan dengan keseimbangan (equilibrium) pembebanan pada bangunan. Struktur
yang simetri berarti pusat massa/ gambaran dan pusat reaksinya berada pada titik yang
sama.

6. Distribusi dan konsentrasi


Berkaitan dengan sistem distribusi pembebanan Meskipun (a) dan (b) simetri, ukurannya
sama tetapi (b) lebih stabil terhadap beban gaya yang bekerja lebih banyak kolom,
hubungan kolom balok yang menahan beban, bentang balok lebih pendek, elemen
penahan terdistribusi merata.

7. Kerapatan struktur
Berkaitan dengan sistem struktur yang
dsb. Mls : kerapatan kecil (sistem rangka) atau kerapatan tinggi (sistem dinding
pendukung)
(a) kerapatan struktur kecil sistem rangka
(b) kerapatan struktur besar/ tinggi sistem bearing wall

8. Batas luar penahan


Meskipun (a) dan (b) simetri dan mempunyai jumlah dinding geser yang sama tetapi
kekakuan dalam menahan beban berbeda (b) lebih tahan menahan momen guling (lebih
rigid)

9. Sistem sudut
Berkaitan dengan kekakuan bangunan Adanya sudut berarti ada patahan/ lipatan Sudut
mengakibatkan bangunan menjadi kaku semakin banyak sudut semakin kaku yang
perlu diperhatikan ialah kaitannya dengan beban angin/ gempa perbedaan gerak
bangunan karena adanya sudut.

S K B B 3 - 49 | 265
BAB 3
SISTEM STRUKTUR DAN PONDASI
3.1 Sistem Pondasi
3.1.1 Pengertian Pondasi
Pondasi merupakan komponen struktur bangunan yang paling bawah. Pondasi
berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. Pondasi harus
memenuhi persyaratan aman penyebaran beban yang diteruskan agar tidak melampaui
batas kapasitas atau daya dukung tanah. Dalam merencanakan pondasi harus
memperhitungkan keadaan yang berhubungan dengan sifat dan mekanika tanah.
Pondasi harus diletakan di tanah yang kuat pada kedalaman tertentu. Tanah harus bebas
lumpur, humus dan pengaruh perubahan cuaca. Secara umum telapak pondasi beto
digolongkan sebagai berikut : (Istimawan, 1994)
Syarat Pondasi
Mengingat letaknya yang di dalam tanah dan tertutup oleh lapisan tegel maupun tanah
halaman, maka pondasi harus dibuat :
Kuat
Aman
Stabil
Awet

Hal- hal yang sering dapat mengakibatkan kerusakan pada pondasi adalah :
Adanya perubahan fungsi gedung, sehingga terjadi pembebanan yang melebihi
kapasitas pondasi.
Terjadinya bencana alam seperti : gempa, banjir, tanah longsor atau getaran yang
berulang dari mesin / kendaraan.
Akar pohon besar yang kadang- kadang mampu mengangkat pondasi.
Kerusakan struktur tanah akibat adanya pembangunan gedung yang lebih berat
di dekatnya.
Usia pondasi mengakibatkan kelelahan bahan.
Adanya faktor ketidakpastian dan jenis tanah yang tidak seragam, mengakibatkan
terjadinya salah taksir dalam perencanaan.

Kegagalan fungsi pondasi dapat disebabkan karena base- shear failure atau
penurunan yang berlebihan, dan sebagai akibatnya dapat timbul kerusakan stuktural
pada kerangka bangunan atau kerusakan- kerusakan pada bangunan bagian atasnya.
Misalnya pondasi pecah atau mengalami penurunan, maka pada bangunan bagian atas
akan tampak kerusakan yang berupa :
Dinding retak- retak dan miring,
Lantai bergelombang dan pecah- pecah,
Kedudukan kosen pintu / jendela bergeser, menyebabkan daun pintu / daun
jendela sukar untuk dibuka,

S K B B 3 - 50 | 265
Sudut kemiringan tangga berubah,
Penurunan bangunan, atap bangunan, bahkan mungkin menyebabkan
keruntuhan seluruh bangunan.

3.1.2 Pemilihan Bentuk Pondasi


Untuk memilih pondasi yang memadai, perlu diperhatikan apakah pondasi
sesuai dengan kondisi lapangan dan apakah pondasi tersebut bisa selesai
secara ekonomis sesuai dengan jadwal kerja yang direncakan.
Pertimbangan dalam pemilihan pondasai adalah :
- Keadaan tanah pondasi
- Batasan-batasan akibat konstruksi diatasnya (superstructure)
- Batasan-batasan dari sekelilingnya
- Waktu dan biaya pekerjaan
Dari hal tersebut, keadaan tanah merupakan keadaan yang paling penting,
jenis jenis pondasi yang sesuai dengan keadaan tanah : (Mekanika tanah
& teknik pondasi, 1987)
a. Bila tanah pendukung pondasi terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter
dibawah permukaan tanah pondasi yang digunakan yaitu pondasi telapak (spread
foundation). Gbr 4.1
b. Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman 10 meter dibawah
permukaan tanah pondasi yang digunakan yaitu pondasi tiang atau ondasi tiang
apung (floating pile foundation) untuk memperbaiki tanah pondasi, jika memakai
tiang maka tiang baja atau tiang beton yan dicor ditempat (cast in place) kurang
ekonomis, karena tiang-tiang tersebut kurang panjang. Gbr 4.2
c. Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman 20 meter dibawah
permukaan tanah, ini tergantung dari penurunan (settlement) yang diizinkan.
Pondasi yang dapat digunakan yaitu pondasi tiang pancang (pile driven
foundation). Gbr 4.3

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 51 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 52 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

3.1.3 Pondasi Telapak


Pondasi telapak adalah pondasi yang mendukung bangunan secara
langsung pada tanah pondasi dengan membuat suatu tumpuan yang bentuk dan
dimensi sesuai beban bangunan dan daya dukung tanah. (Mekanika tanah &
teknik pondasi, 1987)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 53 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)
a. Jenis Pondasi Telapak
a. Pondai telapak kolom setempat, sering disebut juga pondasi telapak terpisah.
Bentuk yang digunakan umumnya bujur sangkar, tetapi jika ruangnya terbatas
dapat berbentuk persegi panjang.

Gambar 3.7 Pondasi Telapak Kolom Setempat


Sumber : (http://ilmukonstruksitekniksipil.blogspot.co.id/2016/01/macam-
macam-pondasi.html, t.thn.)

S K B B 3 - 54 | 265
b. Pondasi Telapak Dinding
Beban yang diterima pondasi telapak dinding konsentris, kecuali pondasi untuk
dinding penahan tanah. Pondasi dinding penahan tanah hampir sama dengan
balok kantilever, bagian telapak yang dipisahkan oleh dinding berlaku sebagai
plat kantilever untuk menyangga tanah dari bawah ke atas.

Pondasi telapak dinding bertugas untuk mendukung berdirinya dinding, baik


yang konsentris atau tidak konsentris.
c. Pondasi telapak gabungan yang mendukung dua kolom ata lebih dengan
penampangnya berbentuk persegi panjang (Gambar 3.3) atau trapesium
(Gambar 3.4). Jika ada dua pondasi telapak terpisah, keduanya digabungkan
dengan balok pengikat, pondasi ini dinamakan pondasi telapak kantilever
(Gambar 3.5)
Pondasi gabungan persegi panjang dimana PA=PB. Gaya beban yang terjadi
pada kolom A dan Kolom B memiliki besaran yang sama.
Pondasi telapak gabungan trapesium apabila PA<PB. Gaya beban yang terjadi
pada kolom A lebih kecil dari kolom B.
Pondasi kantilever digunakan bila jarak antar kolom terlalu jauh sehingga dapat
disambung dengan balok kantilever. Balok ini akan meneruskan gaya sehingga
gaya dapat terbagi rata ke dalam tanah.

b. Tanah Pendukung dan Mekanisme Pendukung


Alas pondasi telapak terletak pad lapisan tanah pendukung yang
mempunyai kualitas cukup baik. Biasanya lapisan batuan dasar atau kerikil,
lapisan tanah berpasir (sandy soil). Kedua macam tanah ini memiliki ketebalan
lapisan > 1,5 kali lebar pondasi dan dibawahnya tidak terdapat lapisan tanah
yang kurang baik kualitasnya.

Mekanisme pendukung pondasi langsung, berdasarkan prinsip beban


vertikal dan momen yang bekerja pada pondasi, sebagian ditahan oleh daya
dukung (bearing capacity) tanah pondasi pada dasar pondasi dan beban
mendatar sebagian ditahan oleh hambatan geser (sliding resistance) dari dasar
pondasi. Jika pondasi tertanam dalam, geseran atau tekanan tanah dimuka
pondasi juga ikut menahan beban, tetapi jika pondasi tertanam dangkal, gaya
penahan umumnya kecil dan tanah dimuka pondas kadang-kadang akan
mengalami pengikisan dan pengaruh cuaca sehingga dalam perencanaan gaya
penahan ini diabaikan.
S K B B 3 - 55 | 265
c. Dalamnya pondasi
Dalamnya pondasi yang digunakan ditetapkan melalui pertimbangan
- Kemiringan dasar sungai dan sifat terkikisnya
- Dalamnya tanah yang menimbulkan perubahan volume
- Tergantung dari apa yang tertanam didalam tanah dan bangunan
didekatnya
- Muka air tanah
- Derajat dan besarnya ketebalan lapisan tanah pendukung

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

d. Syarat Perencanaan Pondasi Tapak


- Struktur secara keseluruhan adalah stabil dalam arah vertikal, arah
mendatar dan terhadap guling
- Pergeseran bangunan (besarnya penurunan, sudut kemiringan dan
pergeseran mendatar) harus < nilai yang diizinkan bagi bangunan
bagian atas
- Bagian-bagian pondasi harus memiliki kekuatan yang diperlukan

3.1.4 Pondasi Tiang


Pondasi tiang adalah salah satu konstruksi pndasi yang mampu menahan
gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi dibuat
menjadi kesatuan monolit dengan menyatukan pangkal tiang pancang yang
terdapat dibawah konstruksi dengan tumpuan pondasi

S K B B 3 - 56 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

a. Penggolongan dan Penggunaan Pondasi Tiang

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 57 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)


S K B B 3 - 58 | 265
b. Perencanaan
1. Dasar-dasar perencanaan
Pada tiang umumnya gaya longitudinal (gaya tekan pemancangan maupun gaya
tariknya) dan gaya orthogonal terhadap batang dan momen lentur yang bekerja
pada ujung tiang , seperti gaya luar yang bekerja pada keliling tiang selain dari
kepala tiang. Pondasi tiang harus direncanakan sedemikian rupa sehingga daya
dukung tanah, tegangan pada tiang dan pergeseran kepala tiang akan lebih kecil
dari batas-batas yang diizinkan. Gaya luar yang bekerja pada kepala tiang
adalah berat sendiri bangunan diatasnya, beban hidup, tekanan tanah dan
tekanan air dan gaya luar yang bekerja langsung pada tubuh tiang adalah berat
riang sendiri dan gaya gesekan negatif pada tubuh tiang dalam arah vertikal dan
gaya mendatar akibat getaran ketika tiang melentur dalam arah mendatar. Gbr
6.3

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

c. Daya Dukung Tiang Yang Diizinkan

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

Pondasi tiang pancang digunakan bila tanah bagian atas lunak atau lapisan
tanah keras terletak jauh didalam. Tiang pancang beton bertulang

S K B B 3 - 59 | 265
berpenampang bujur sangkar 0.4 x 0.4 m panjang 12 m atau berupa pipa beton
bertulang prategang dengan ujung pipa dari baja. Diameter pipa beton bertulang
sekitar 0.5 m. Tiang pancang baja digunakan baja projil-H atau pipa baja.
Pondasi tiang pancang mencapai tanah keras pada teganggan terpusat (Stuik)
sebesar 200kg/cm persegi. Sedangkan gesekan tanah diperhitungkan
menambah daya pikul tiang pancang.
(Ir. Hartono Poerbo, 2000)

Gambar 3.7 Pondasi Tiang Pancang


Sumber : (Ir. Hartono Poerbo, 2000)

d. Pelaksanaan Pekerjaan Pemasangan Tiang


Hubungan antara perubahan sifat tanah pada tanah asli akibat pekerjaan-
pekerjaan pemasangan tiang dan teknik pemasangannya
- Cara pemancangan
- Cara penimbunan
- Cara dengan memakai tiang yang dicor ditempat
- (Tanah pondasi akan terpadatkan)
- (Tanah pondasi menjadi mudah terurai)
Alasanya adalah pada pemancanagan sejumlah tanah yang volumenya
samadengan volume tiang akan terdesak ketika tiang ditekan kedalam tanah
dan pada cara penimbunan dan caraa pengecoran ditempat, keseimbangan
tekanan tanah akan lenyap ketika lubang digali dan selanjutnya sejumlah tanah
akan berpindah tempat.

S K B B 3 - 60 | 265
Sebagai hasilnya, keadaan dari tanah asli yang dipakai sebagai pedoman pada
waktu merencanakan tiang akan sedikit berbeda dengan setelah pekerjaan
pemasangan tiang selesai dilakukan. Oleh karena itu, daya dukung tiang yang
diperkirakan juga akan berpindah tempat.
Pada tiang pancang, didapat daya dukung yang melebihi dugaan semula,
sedang pada tiang yang ditanamkan atau pada tiang yang dicor di tempat
timbul masalah berkurangnya daya dukung. Karena sifat-sifat memikul setiap
macam tiang berbeda-beda sesuai dengan kecermatan pengawasan pekerjaan
pemasangan tiang atau keahlian dalam melaksanakan pekerjaan, keamanan
bagi pondasi tiang atau bangunan secara keseluruhan dapat diperlihatkan
menurut garis yang menurun dengan tajamnya, Gbr. 6.32 menunjukkan suatu
contoh tentang bertambahnya derajat kompaksi pada tanah pondasi akibat
pemancangan tiang beton bertulang, dan Gbr. 6.33 memperlihatkan betapa
harga N akan menurun akibat tiang yang ditanamkan atau tiang yang dicor
ditempat (cast in place).

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)


e. Hal-Hal Yang Menyangkut Masalah Pemancangan

S K B B 3 - 61 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 62 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 63 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 64 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 65 | 265
1.1.4 Pondasi Kaison (Caisson Foundation)
Kaison adalah pondasi yang terletak pada lapisan pendukung yang terbenam
ke dalam tanah karena beratnya sendiri dan dengan mengeluarkan tanah
galian dari dasar bangunan bulat yang terbuat dari beton bertulang. Ada 2
jenis :

1. Kaison terbuka (Open Caisson)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 66 | 265
2. Kaison tekanan (Pneumatic Caisson)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 67 | 265
a. Pemakaian Pondasi Caisson
Pondasi kaison dipakai sebagai pondasi bangunan yang besar, bila cara
pemotongan terbuka tidak dapat dipakai akibat ada air yang naik atau
endapan pada dasar pondasi dll, dan disamping itu bila daya dukung
(vertikal) tidak mencukupi dalam pondasi tiang atau bila
penurunan/getaran memegang peranan dalam penilaian pemakaiannya.

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

b. Perbandingan Antara Kaison Terbuka Dengan Kaison Tekanan


Bagi kaison terbuka maupun kaison tekanan, pemilihan jenis kaison
yang akan dipergunakan seringkali menimbulkan perdebatan sengit,
namun kedua jenis ini juga memiliki keunggulan dan kelemahannya
masing-masing. Oleh karena itu, keputusan akhir untuk menentukan
jenis kaison yang dipakai harus didasarkan pada penyelidikan
yang seksama terhadap kondisi lingkungan pada wakt melaksanakan
pekerjaan.
Perbandingan antara kedua cara ini diuraikan dalam Tabel 7.1

S K B B 3 - 68 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 69 | 265
c. Perencanaan Pondasi Kaison
Penggolongan pondasi ditinjau dari segi perencanaannya, kaison dibagi
menjadi dua, yang satu dianggap sebagai pondasi langsung setelah
mengalami penyempurnaan dan yang lainnya dianggap sebagai apa yang
disebut dengan pondasi kaison. Yangpertama termasuk pula pondasi
yang memiliki kedalaman yang effektif kurang dari setengah panjang sisi
kaison yang terpendek, dan yang kedua termasuk pula pondasi yang
memiliki kedalaman yang lebih besar dari pada yang pertama..Karena
akhir-akhir ini terdapat kecenderungan pada pembuatan pondasi tiang
dalam ukuran besar, maka
pondasi tiang yang tak dapat dibedakan dengan pondasi kaisonjuga telah
dibuat. Dalam hal ini umumnya dibuat perbandingan antara perbedaan
kekakuan tubuh pondasi, atau dengan perkataan lain, perbandingan
pergeseran pangkal tubuh kaison akibat perbedaan sifat dinamis antar
tubuh pondasi yang kaku dengan yang elastis, dan hal
ini dipakai untuk menentukan apakah perencanaan tiang itu dianggap
sebagai pondasi kaison atau tidak.

d. Pemilihan Lapisan Pendukung


Karena penampang pondasi kaison umumnya besar, maka reaksi pada
alas kaison akan lebih besar dibandingkan dengan tahanan permukaan
kaison. Oleh karena itu, untuk pemakaian kaison ada suatu pedoman
utama agar kaison dipasangkan sepenuhnya pada pertimbangan
terhadap pengaruh akibat dari kenyataan bahwa tanah di sekitar kaisbn
akan terkikis, pasir dan tanah akan terkuras, permukaan dasar sungai
akan turun, yang menyebabkan kestabilan kaison akan berkurang pula.
Kemudian, pada waktu menentukan dalamnya pemasangan kaison,
harus didasarkan pada pertimbangan terhadap pengaruh akibat dari
kenyataan bahwa tanah di sekitar kaison akan terkikis, pasir dan tanah
akan terkuras, permukaan dasar sungai akan turun, yang menyebabkan
kestabilan kaison akan berkurang pula.

e. Dasar Perencanaan
1. Intensitas reaksi tanah maksimum pada dasar kaison tidak boleh
melebihi
intensitas daya dukung tanah vertikal yang diizinkan pada
kedudukan tersebut. Dengan kata lain, perlu dibuat perbandingan
(q1 4 Q) dari harga maksimum q, untuk intensitas reaksi tanah
seperti yang diperlihatkan dalam Gbr. 7.6.
2. Intensitas reaksi tanah maksimum yang terjadi di bagian luar
kaison tidak boleh melebihi intensitas daya dukung tanah mendatar
yang diizinkan pada kedudukan tersebut.

S K B B 3 - 70 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

1.1.5 Pondasi Tiang Turap

Struktur Pondasi Tiang Turap


a. Bahan-Bahan Yang Digunalkan
Bahan tiang turap yang digunakan untuk pondasi tiang turap adalah
semacam baja yang memiliki sifat kekuatan, kualitas dan penampang
yang harus sesuai dengan sifat-sifat strukturnya

S K B B 3 - 71 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 72 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

b. Bentuk Struktur
- Pondasi Sumuran (Well Foundation) yang terbentuk dengan
memancangkan tiang-tiang turap dengan panjang yang sama

(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 73 | 265
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

Karakteristik terbaik dari pondasi tiang turap adalah bahwa cara


pondasi dapat bersama-sama dipakai dengan cara bendungan elak
didalam satu rencana

e
(Mekanika tanah & teknik pondasi, 1987)

S K B B 3 - 74 | 265
c. Dasar-Dasar Perencanaan
- Intensitas reaksi maksimum tanah pada dasar bagian sumuran dan
pada ujung bagian kaki dalam pondasi tiang turap tidak boleh
melampaui daya dukung satuan yang diijinkan dari tanah pondasi itu
di tempat-tempat tersebut. Untuk mendapatkan kapasitas daya
dukung arah vertikal yang diijinkan, dipakai suatu cara dengan
percobaan pembebanan dan suatu cara dengan rumus statis
dinamis daya dukung. Bila rumus statis dinamis pada pondasi tiang
turap digunakan, bagaimana menetapkan daerah pendukung bila
daya dukung telah dihitung dan persamaan perhitungan daya
dukung diberikan pada Tabel 8.3.
- Gaya tahanan geser pada bagian dasar sumuran pondasi tiang turap
tidaklah boleh melampaui gaya tahartan geser yang diijinkan yang
bekeda antara dasar sumuran dan tanah pondasi. Gaya tahanan
geser pada dasar pondasi tiang turap dan gaya tahanan geser yang
diijinkan yang bekerja antara dasar dan tanah pondasi diperoleh
dengan pendekatan yang sama seperti pada Bab. 7 mengenai
Pondasi Kaison.
- Perpindahan pondasi tiang turap haruslah diamati dengan
memperhatikan besarnya perpindahan yang diijinkan yang
ditentukan dari hubungannya dengan bangunan di atasnya.

d. Pondasi plat merupakan pondasi pondasi telapak menyeluruh dengan telapak


yang luas. Pondasi plat digunakan untuk mendukung semua kolom dan dinding
struktur bangunan. Pondasi ini pada umumnya digunakan apabila bangunan
harus didirikan diatas tanah yang lembek.

e. Pondasi rakit digunakan bila tanah keras tidak terlau dalam, merata dan cukup
tebal dapat menggunakan pondasi rakit beton bertulang yang langsung dipikul
oleh lapisan tanah tersebut. Pondasi rakit harus mencapai tanah keras pada
kedalaman tanah sekitar 10 m.
(Ir. Hartono Poerbo, 2000)

Gambar 3.7 Pondasi Rakit


Sumber : (http://ilmukonstruksitekniksipil.blogspot.co.id/2016/01/macam-
macam-pondasi.html, t.thn.)

S K B B 3 - 75 | 265
3.2 Jenis Pondasi Berdasarkan Material
- Pondasi Telapak Dinding
Pondasi Di pasang di bawah seluruh panjang dinding bangunan dengan lebar
dasar sama besar. Pondasi ini dipakai jika kedalaman tanah baik antara 0,80
1,20 m dari permukaan tanah asli.

3.2.2 Pondasi Beton


- Pondasi telapak dinding dapat berupa beton bertulang atau tanpa tulangan. Jika
tanpa tulangan dipakai bila beban yang terjadi ringan dan tanpa kohesi.

- Pondasi Telapak Kolom Setempat


Pondasi setempat dipasang dibawah kolom-kolom utama pendukung bangunan.
Seluruh beban bangunan dilimpahkan ke kolom-kolom utama, dan diteruskan ke
pondasi di bawahnya, jadi pondasi setempat dapat dikatakan akar dari bangunan
tempat untuk bertumpunya kolom- kolom. Di bawah balok sloof masih tetap
dibutuhkan pondasi batu kali, tapi fungsinya hanya untuk mendukung balok sloof
yang masih basah yang belum mempunyai kekuatan. Setelah balok sloof keras,
seluruh beban dinding di atasnya dilimpahkan ke kolom- kolom yang meneruskan
ke pondasi setempat.

Gambar 3.10 Pondasi Telapak Kolom Setempat

Sumber : Pengantar Teknik Pondas

S K B B 3 - 76 | 265
- Pondasi Bujur Sangkar
Pada pondasi jenis ini, penulangan dipasang tersebar merata ke seluruh lebar pondsi
untuk kedua arah. Ukuran dan jarak batang tulangannya sama. Tinggi pondasi relatif
tidak sama dimasing-masing arah. Dalam pelaksanaan, perancangan memakai tinggi
rata-rata yang ditentukan sama untuk kedua arah.

Gambar 3.10 Pondasi Bujur Sangkar


Sumber : Pengantar Teknik Pondasi

- Pondasi Empat Persegi Panjang


Perbedaan dengan pondasi bujur sangkar yaitu perhitungan dilakukan terpisah disetiap
arahnya. Perhitungan geser dilakukan seperti biasa sedangkan untuk satu arah kerja
dilakukan pemeriksaan hanya melintang pada sisi pendek saja.

Gambar 3.10 Pondasi Empat Persegi Panjang


Sumber : (kampustekniksipil.blogspot.com, t.thn.)

- Pondasi Gabungan
Pondasi untuk menopang lebih dari satu kolom atau dinding. Ada dua pertimbangan
:
- Kolom tepi letaknya langsung bersebelahan dengan batas tanah milik tetangga

S K B B 3 - 77 | 265
- Dua buah kolom jaraknya berdekatan sehingga tidak ekonomis karena terjadi
struktur tumpang tindih

Gambar 3.10 Pondasi Gabungan


Sumber : (bersamakitabelajar.com, t.thn.)

3.2 Sub Sistem Kolom - Balok - Plat Lantai


a. Kolom
Kolom sebagai elemen tekan juga merupakan elemen penting pada konstruksi.
Kolom pada umumnya merupakan elemen vertikal. Namun sebenarnya kolom
tidak harus selalu berarah vertikal, bahkan dinding pemikul (load-bearing wall)
sebenarnya juga dapat dipadang sebagai kolom yang diperluas menjadi suatu
bidang. Umumnya, kolom tidak mengalami lentur secara langsung, karena
tidak ada beban tegak lurus terhadap sumbunya.
Sistem post and beam terdiri dari elemen struktur horisontal (balok) diletakkan
sederhana di atas dua elemen struktur vertikal (kolom) yang merupakan
konstruksi dasar yang digunakan sejak dulu. Pada sistem ini, secara
sederhana balok dan kolom digunakan sebagai elemen penting dalam
konstruksi.
Untuk bangunan tinggi, pengakuan rangka akan menghambat sirkulasi ruang
yang digunakan untuk kegiatan. Kolom-kolom harus berjarak agak dekat untuk
mengurangi ketebalan struktur lantai. (Istimawan, 1994)

1. Persyaratan untuk kolom dengan sengkang


- Ukuran penampang kolom tidak boleh kurang drai 15 cm.
- Luas tulangan memanjang kolom tidak boleh diambil kurang dari 1% luas
penampang beton, dengan minimal 1 batang tulangan dimasing-masing sudut
penampang.
- Luas tulangan memanjang kolom tidak diambil lebih dari 6% dari luas penampang
beton. Jika tulangan memanjang kolom disambung dengan sambungan lewatan
pada stex maka luas tulangan memanjang maksimal dibatasi sampai 4% dari luas
penampang beton yang ada

S K B B 3 - 78 | 265
(KONSTRUKSI BETON 1, 1987)

2. Persyaratan untuk kolom dengan lilitan spiral


- Kolom struktural dengan lilitan spiral tidak boleh mempunyai ukuran < 17 cm.
- Luas tulangan memanjang kolom tidak boleh diambil < 1% luas penanmpang
teras beton dengan minimal 6 batang tulangan diameter tulangan memanjang
tidak boleh kurang dari 12 mm.
- Luas tulangan memanjang kolom tidak diambil lebih dari 6% dari luas penampang
beton. Jika tulangan memanjang kolom disambung dengan sambungan lewatan
pada stex maka luas tulangan memanjang maksimal dibatasi sampai 4% dari luas
penampang teras beton.

(KONSTRUKSI BETON 1, 1987)

S K B B 3 - 79 | 265
3. Prinsip Desain Kolom
Elemen struktur kolom yang mempunyai nilai perbandingan antara panjang
dan dimensi penampang melintangnya relatif kecil disebut kolom pendek.
Kapasitas pikul-beban kolom pendek tidak tergantung pada panjang kolom dan
bila mengalami beban berlebihan, maka kolom pendek pada umumnya akan
gagal karena hancurnya material. Dengan demikian, kapasitas pikul-beban
batas tergantung pada kekuatan material yang digunakan. Semakin panjang
suatu elemen tekan, proporsi relatif elemen akan berubah hingga mencapai
keadaan yang disebut elemen langsing. Perilaku elemen langsing sangat
berbeda dengan elemen tekan pendek. Perilaku elemen tekan panjang
terhadap beban tekan adalah apabila bebannya kecil, elemen masih dapat
mempertahankan bentuk liniernya, begitu pula apabila bebannya bertambah.
Pada saat beban mencapai nilai tertentu, elemen tersebut tiba-tiba tidak stabil,
dan berubah bentuk menjadi seperti tergambar. Hal inilah yang dibuat
fenomena tekuk (buckling) apabila suatu elemen struktur (dalam hal ini adalah
kolom) telah menekuk, maka kolom tersebut tidak mempunyai kemampuan lagi
untuk menerima beban tambahan. Sedikit saja penambahan beban akan
menyebabkan elemen struktur tersebut runtuh.

4. Analisa Kolom
a. Kolom Pendek
Analisis pada kolom pendek dibagi atas analisa terhadap dua jenis beban yang
terjadi pada elemen tekan tersebut, yaitu:

S K B B 3 - 80 | 265
1. Beban Aksial
Elemen tekan berpotensi gagal karena hancurnya material (tegangan langsung)
dan mempunyai kapasitas pikul-beban tak tergantung pada panjang elemen,
relatif lebih mudah untuk dianalisis.
2. Beban Eksentris
Jika beban bekerja eksentris (tidak bekerja di pusat berat penampang melintang),
distribusi tegangan yang timbul tidak merata. Efek beban eksentris menimbulkan
momen lentur pada elemen yang berinteraksi dengan tegangan tekan langsung.
Bahkan apabila beban itu mempunyai eksentrisitas yang relatif besar, maka di
seluruh bagian penampang yang bersangkutan dapat terjadi tegangan tarik
(Aturan sepertiga-tengah, yaitu aturan yang mengusahakan agar beban
mempunyai titik tangkap di dalam sepertiga tengah penampang (daerah Kern)
agar tidak terjadi tegangan tarik.

Gambar Beban eksentris pada Kolom


Sumber: schodek,1999

S K B B 3 - 81 | 265
b. Kolom Panjang
Analisis pada kolom panjang dibagi atas analisa terhadap dua faktor yang terjadi
pada elemen tekan tersebut, yaitu:

1. Tekuk Euler
Beban tekuk kritis untuk kolom yang ujung-ujungnya sendi disebut
sebagai beban tekuk Euler, yang dinyatakan dalam Rumus Euler :

dimana:
E = modulus elastisitas
I = momen inersia
L = panjang kolom di antara kedua ujung sendi
= konstanta = 3,1416.

2. Tegangan Tekuk Kritis


Beban tekuk kritis kolom dapat dinyatakan dalam tegangan tekuk kritis (fcr), yaitu
dengan membagi rumus Euler dengan luas penampang A. Jadi persamaan
tersebut adalah :

3. Kondisi Ujung
Pada kolom yang ujung-ujungnya sendi, titik ujungnya mudah berotasi namun
tidak bertranslasi. Hal ini akan memungkinkan kolom tersebut mengalami
deformasi.

4. Bracing
Untuk mengurangi panjang kolom dan meningkatkan kapasitas pikulbebannya,
kolom sering dikekang pada satu atau lebih titik pada panjangnya. Pengekang
(bracing) ini merupakan bagian dari rangka struktur suatu bangunan gedung. Pada
kolom yang diberi pengekang (bracing) di tengah tingginya, maka panjang efektif
kolom menjadi setengah panjangnya, dan kapasitas pikul-beban menjadi empat
kali lipat dibandingkan dengan kolom tanpa pengekang. Mengekang kolom di titik
yang jaraknya 2/3 dari tinggi tidak efektif dalam memperbesar kapasitas pikul-
beban kolom bila dibandingkan dengan mengekang tepat di tengah tinggi kolom.

S K B B 3 - 82 | 265
5. Kekuatan Kolom Aktual vs Ideal
Apabila suatu kolom diuji secara eksperimental, maka akan diperoleh hasil yang
berbeda antara beban tekuk aktual dengan yang diperoleh secara teoritis. Hal ini
khususnya terjadi pada pada kolom yang panjangnya di sekitar transisi antara
kolom pendek dan kolom panjang. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor
seperti eksentrisitas tak terduga pada beban kolom, ketidak-lurusan awal pada
kolom, adanya tegangan awal pada kolom sebagai akibat dari proses
pembuatannya, ketidakseragaman material, dan sebagainya. Untuk
memeperhitungkan fenomena ini, maka ada prediksi perilaku kolom pada selang
menengah (intermediate range).

6. Momen dan Beban Eksentris


Banyaknya kolom yang mengalami momen dan beban eksentris, dan bukan hanya
gaya aksial. Untuk kolom pendek, cara memperhitungkannya adalah dinyatakan
dengan M Pe , dan dapat diperhitungkan tegangan kombinasi antara tegangan
aksial dan tegangan lentur. Untuk kolom panjang, ekspresi Euler belum
memperhitungkan adanya momen.

5. Desain Kolom
a. Prinsip-prinsip Desain Umum
Memikul beban rencana dengan menggunakan material seminimum mungkin,
atau dengan mencari alternatif desain yang memberikan kapasitas pikul-beban
sebesar mungkin untuk sejumlah material yang ditentukan. Ada beberapa faktor
yang menjadi pertimbangan dalam desain elemen struktur tekan secara umum :

1. Penampang
Penentuan bentuk penampang melintang yang diperlukan untuk memikul beban,
secara konseptual merupakan sesuatu yang mudah. Tujuannya adalah untuk
memperoleh penampang melintang yang memberikan nilai rx dan ry yang
diperlukan dengan material yang seminimum mungkin.

2. Kolom pada Konteks Gedung


Pada umumnya, akan lebih menguntungkan bila menggunakan bracing pada titik-
titik yang tidak terlalu banyak disertai kolom yang agak besar, dibandingkan
dengan banyak bracing dan kolom kecil.

b. Ukuran Kolom
Prosedur desain yang biasa digunakan adalah dengan mengestimasi tegangan
ijin, ukuran kolom, dengan menggunakan dimensinya untuk menentukan
tegangan ijinnya, lalu kemudian memeriksa apakah kolom tersebut mempunyai
ukuran yang memadai. Tegangan aktual yang ada dibandingkan dengan tegangan
ijin yang dihitung. Bila tegangan aktual melampaui tegangan yang diijinkan, maka
proses diulangi lagi sampai tegangan aktual lebih kecil daripada yang diijinkan.

S K B B 3 - 83 | 265
Gambar Bentuk-bentuk penampang kolom
Sumber: Schodek, 1999

b. Balok
Balok digunakan sebagai elemen penting dalam kosntruksi. Balok mempunyai
karakteristik internal yang lebih rumit dalam memikul beban dibandingkan dengan
jenis elemen struktur lainnya. Balok menerus dengan lebih dari dua titik tumpuan
dan lebih dari satu tumpuan jepit merupakan struktur statis tak tentu. Struktur statis
tak tentu adalah struktur yang reaksi, gaya geser, dan momen lenturnya tidak
dapat ditentukan secara langsung dengan menggunakan persamaan
keseimbangan dasar. Balok statis tak tentu sering juga digunakan dalam praktek,
karena struktur ini lebih kaku untuk suatu kondisi bentang dan beban daripada
struktur statis tertentu. Jadi ukurannya bisa lebih kecil. Kerugian struktur statis tak
tentu adalah pada kepekaannya terhadap penurunan (settlement) tumpuan dan
efek termal.

a. Analisa Balok
1. Tegangan Lentur
Tegangan lentur yang bervariasi secara linier pada suatu penampang merupakan
tanggapan atas aksi momen lentur eksternal yang ada pada balok di titik tersebut.
Hubungan antara tegangan lentur (fy), parameter loaksi (y) dan besaran
penampang (I) dapat dinyatakan dalam hubungan berikut ini :

2. Tekuk Lateral pada Balok


Fenomena tekuk lateral pada balok serupa dengan yang terjadi pada rangka
batang. Ketidakstabilan dalam arah lateral terjadi karena gaya tekan yang timbul
di daerah di atas balok, disertai dengan tidak cukupnya kekakuan balok dalam
arah lateral. Diasumsikan bahwa jenis kegagalan tekuk lateral ini dapat terjadi,
dan tergantung pada penampang balok, pada taraf tegangan yang relatif rendah.

S K B B 3 - 84 | 265
Pencegahan tekuk lateral dapat dilakukan dengan cara membuat balok cukup
kaku dalam arah lateral dan menggunakan pengaku/pengekang (bracing) lateral.

Gambar Pengekang lateral untuk balok kayu


Sumber: Schodek, 1999

1. Tegangan Geser
Yaitu gaya geser internal (VR) sama besar, tetapi berlawanan arah dengan gaya
geser eksternal (VE). Tegangan geser maksimum pada penampang balok adalah 1,5
kali tegangan geser rata-rata penampang balok segiempat.

2. Tegangan Tumpu
Tegangan yang timbul pada bidang kontak antara dua elemen struktur. Contohnya
adalah tegangan yang terjadi pada ujung-ujung balok sederhana yang terletak di atas
tumpuan ujung dengan dimensi tertentu. Banyak material, misalnya kayu, yang
sangat mudah mengalami kegagalan akibat tegangan tumpu. Apabila beban tekan
disalurkan, kegagalan tegangan tekan biasanya terjadi, dan hal ini ditunjukkan
dengan hancurnya material. Kegagalan ini biasanya dilokalisasikan, dan lebih baik
dihindari.

3. Torsi
Torsi adalah puntiran, yang timbul pada elemen struktur apabila diberikan momen
puntir langsung MT atau secara tak langsung.

S K B B 3 - 85 | 265
Gambar Torsi yang terjadi pada balok
Sumber: Schodek, 1999

Gambar Penampang balok ketahanan terhadap torsi


Sumber: Schodek, 1999

4. Pusat Geser
Pada penampang tak simetrik, pemberian beban dapat menyebabkan terjadinya
puntiran. Dengan menerapkan beban melalui pusat geser balok, maka hanya akan
terjadi lentur, tanpa adanya puntir. Pusat geser penampang tak simetris seringkali
terletak di luar penampang.

S K B B 3 - 86 | 265
Gambar torsi yang terjadi pada balok
Sumber: Schodek, 1999

7. Defleksi
Defleksi pada bentang balok disebabkan karena adanya lendutan balok akibat beban.
Defleksi () pada suatu titik tergantung pada beban P atau w, panjang bentang balok L,
dan berbanding terbalik dengan kekakuan balok.
Beberapa kriteria empiris yang digunakan untuk menentukan defleksi
ijin adalah sebagai berikut :
Lantai
Defleksi akibat beban mati
Defleksi akibat beban mati dan bebanhidup
Atap
Defleksi akibat beban hidup
Defleksi akibat beban mati dan bebanHidup

8. Tegangan Utama
Pada balok, interaksi antara tegangan lentur dan tegangan geser dapat merupakan
tegangan normal tekan atau tarik, yang disebut sebagai tegangan utama (principle
stresses). Arah tegangan aksial ini pada umumnya berbeda dengan arah tegangan lentur
maupun tegangan gesernya.

S K B B 3 - 87 | 265
b. Desain Balok

1.Prinsip prinsip Desain Umum


Yang diperhatikan : bentang, jarak balok, jenis dan besar beban, jenis material,
ukuran dan bentuk penampang, serta cara penggabungan atau fabrikasi.
Beberapa faktor yang merupakan prinsip-prinsip desain umum dalam
perencanaan balok, yaitu :
1) Kontrol kekuatan dan kekakuan
2) Variasi besaran material
3) Variasi bentuk balok pada seluruh panjangnya
4) Variasi kondisi tumpuan dan kondisi batas

- Prinsip desain praktis balok kayu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya
adalah sifat kayu yang mempunyai kemampuan untuk memikul tegangan besar
dalam waktu singkat.
- Desain balok baja umumnya didesain berdasarkan beban kerja dan tegangan ijin.
Balok yang digunakan bisa berupa penampang gilas (wideflens / sayap lebar),
kanal, atau tersusun atas elemen-elemen (plat atau siku). Untuk bentang atau
beban yang sangat besar, penampang girder plat yang tersusun dari elemen siku
dan plat sering digunakan.
- Desain balok beton tidak dapat digunakan sendiri pada balok karena sangat
kecilnya kekuatan tarik, dan karena sifat getasnya (brittle). Retakretak yang timbul
dapat berakibat gagalnya struktur, dimana hal ini dapat terjadi ketika balok beton
mengalami lentur. Penambahan baja di dalam daerah tarik membentuk balok
beton bertulang dapat meningkatkan kekuatan sekaligus daktilitasnya. Elemen
struktur beton bertulang menggabungkan sifat yang dimiliki beton dan baja.

1. Prinsip Desain Balok


Pada sistem struktural yang ada di gedung umumnya menggunakan susunan
hirarki balok, dimana beban pada permukaan mula-mula dipikul oleh elemen
permukaan diteruskan ke elemen struktur sekunder, dan selanjutnya diteruskan
ke kolektor atau tumpuan. Semakin besar beban, yang disertai dengan
bertambahnya panjang, pada umumnya akan memperbesar ukuran atau tinggi
elemen struktur. Susunan hirarki bisa sangat bervariasi, tetapi susunan yang
umum digunakan adalah satu dan dua tingkat. Sedangkan susunan tiga tingkat
adalah susunan yang maksimum digunakan. Untuk ukuran bentang tertentu, pada
umumnya sistem dengan berbagai tingkat dapat digunakan. Ukuran elemen
struktur untuk setiap sistem dapat ditentukan berdasarkan analisis bentang, beban
dan material. Ada beberapa kriteria pokok yang harus dipenuhi, antara lain :
kemampuan layan, efisiensi, kemudahan.

S K B B 3 - 88 | 265
Gambar Balok pada gedung
Sumber: schodek, 1999

Sistem pada Gbr 4.11 menggunakan suatu bentuk kekakuan terhadap lentur-
balok yang langsung dihubunngkan dengan kolom (rangka kaku), sistem
rangka atau dinding berlubang (perforated wall). Gambar tersebut
memperlihatkan berbagai metode struktur menurut bentangan yang semakin
kecil (dari atas ke bawah atau kiri ke kanan).

S K B B 3 - 89 | 265
3.3 Sub Sistem Dinding & Lubang Bukaan
Dinding merupakan salah satu elemen vertikal / tegak dari sebuah bangunan yang
berupa sebuah bidang, yang memiliki berbagai fungsi, baik struktural maupun
estetis. Pembagian jenis dinding dapat dilihat dari beberapa aspek meliputi kaidah
arsitektural maupun kaidah struktural.

Gambar Sistem dinding


Sumber: Schodek, 1999

S K B B 3 - 90 | 265
Pada struktur bangunan tinggi yang lazim terjadi adalah dinding dapat dimasukkan
kedalam kelompok unsur permukaan dan unsur spasial.
Untuk dinding yang dapat dikelompokkan kedalam unsur spasial, tentunya juga dilihat
dari fungsi dinding tersebut terhadap struktur bangunan. Dalam unsur spasial ini, terdapat
2 jenis dinding yang dapat masuk kedalam unsur ini, yaitu :

1. Dinding sejajar (parallel bearing wall)


Pada sistem ini terdiri dari unsur-unsur bidang vertikal yang dipraktekkan oleh berat
sendiri, sehingga menyerap gaya aksi lateral secara efisien. Sistem dinding sejajar ini
terutama digunakan untuk bangunan apartemen yang tidak memerlukan ruang bebas
yang luas dan sistem-sistem mekanisnya tidak memerlukan struktur inti.

Gambar Dinding pendukung sejajar


Sumber: Schodek, 1999

2. Inti dan dinding pendukung fasade (core and facade bearing wall)
Unsur bidang vertikal membentuk dinding luar yang mengelilingi sebuah struktur inti. Hal
ini memungkinkan ruang interior yang yang terbuka, yang bergantung pada kemampuan
bentangan dari struktur lantai. Lantai ini memuat sistem-sistem transportasi mekanis dan
vertikal serta menambah kekakuan bangunan.

S K B B 3 - 91 | 265
Gambar Inti dan dinding pendukung
Sumber: Schodek, 1999

Perkembangan teknologi baru dalam penggunaan teknik konstruksi batu dan panel beton
pracetak menjadikan konsep dinding pendukung cukup ekonomis pada bangunan tinggi
berorde sedang. Jenis bangunan yang menuntut banyak pembagian ruang, seperti
apartemen, hotel dan mall, cocok dengan konstruksi ini. Prinsip dinding pendukung dapat
diterapkan pada berbagai tata letak dan bentuk bangunan. Beberapa penggunaannya
pada bangunan tinggi dengan orde antara 10 hingga 20 lantai dapat dilihat jelas pada
penggunaan bentuk denah. Bentuk denah yang digunakan tentunya bukan bentuk denah
yang memiliki kerumitan pada stuktur, melainkan bentuk denah yang juga memudahkan
dalam penyaluran beban struktur bangunan. Bentuk-bentuk yang digunakan antara lain
berbentuk persegi, lingkaran, dan segitiga.

Stuktur dinding pendukung pada umumnya terdiri dari susunan dinding linear. Dan
struktur dinding tersebut dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, berdasarkan
bagaimana dinding ini disusun di dalam bangunan.
Tiga kelompok utama tersebut antara lain :

1. Sistem Dinding Melintang


Terdiri atas dinding-dinding linear yang diletakan tegak lurus terhadap panjang
bangunan, sehingga tidak membatasi (terutama) tampak bangunan.

S K B B 3 - 92 | 265
Gambar Jenis-jenis sistem dinding melintang
Sumber: Schodek, 1999

2. Sistem Dinding Panjang


Terdiri atas dinding linear yang diletakkan sejajar dengan panjang bangunan sehingga
membentuk tampak depan.

Gambar Jenis-jenis sistem dinding


memanjang
Sumber: Schodek, 1999

S K B B 3 - 93 | 265
3. Sistem Dua Arah
Terdiri atas peletakan dinding-dinding pada kedua arah.

Gambar

Jenis-jenis sistem
dinding dua arah
Sumber: Schodek, 1999

SUSUNAN DINDING GESER


Dinding geser adalah unsur pengaku vertikal yang dirancang untuk menahan gaya lateral
atau gempa yang bekerja pada bangunan. Sistem dinding geser, baik didalam maupun
diluar bangunan, dapat disusun secara simetris dan asimetris.(Schodek, STRUKTUR)

Gambar 3.3 Bentuk Tipikal Dinding Geser


Sumber : (Schodek, STRUKTUR)
a. Fisikal
Dilihat dari segi fisikal dinding bangunan, dalam hal ini berhubungan dengan
kemampuan dinding dalam menerima berbagai gangguan yang bersifat fisis,
sehingga dinding juga harus tahan akan gangguan-gangguan fisis baik dari alam
maupun dari pendukung bangunan ini. Segi fisikal ini pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan segi struktural. Bedanya fisikal lebih berhubungan dengan faktor
keamanan, keselamatan serta pemeliharaan bangunan tersebut.

S K B B 3 - 94 | 265
Aspek klimatologi juga diperhitungkan dalam segi fisikal bangunan ini, sebab
pengaruh iklim pada tiap daerah atau regional tersebut berbeda-beda, masalah
psikologi serta kesehatan dari pengguna bangunan tersebut juga menjadi salah satu
perhatian yang perlu untuk dipikirkan dalam sebuah bangunan. Sebab apabila faktor
psikologi dan fisik bangunan tidak diperhatikan maka akibatnya akan menyebabkan
sick building syndrome atau rasa ketidaknyamanan pengguna akibat dari aspek-
aspek dalam bangunan tersebut dengan kata lain situasi dimana penghuni gedung
(bangunan) mengeluhkan permasalahan kesehatan dan kenyamanan yg akut, yang
timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan.

b. Arsitektural

Segi fungsional arsitektural atau dapat pula dikatakan sebagai sistem dinding non-
struktural, biasanya digunakan sebagai pembatas suatu fungsi ruangan atau berfungsi
sebagai dekorasi atau untuk memenuhi fungsi estetis semata. Dinding non-struktur
biasanya terletak di dalam bangunan, dan berfungsi sebagai pemisah antar fungsi
ruangan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dinding ini diletakkan di sisi terluar
bangunan karena sistem struktur bangunan ini telah terpenuhi secara garis besarnya.
c. Material

Pembagian dinding selanjutnya yaitu pembagian dinding berdasarkan material yang


digunakan :

- Dinding bata
Bata merah yang umum digunakan di Indonesia modulnya berukuran
110x220x55mm terbuat dari tanah (liat) yang dicetak dengan tangan atau mesin,
dibakar dengan tungku hingga merah. Sedangkan bata press (batako) terbuat dari
campuran semen/tras, pasir, dan kerikil kecil dengan perbandingan tertentu,
dicetak press dengan alat cetak, dikeringkan dengan diangin-anginkan.
Keuntungan penggunaan bata, adalah bahwa bata relatif tahan lama bisa
mencapai masa pakai 60 tahun, tahan cuaca dan tahan api. Kerugiannya adalah
bata bersifat getas atau kurang mempunyai kekuatan tarik.
Dengan kualitas konstruksi dan adukan yang baik, dinding bata mempunyai
kestabilan yang cukup. Pola keruntuhan bata adalah tarik dan geser. Untuk
mendapatkan kekuatan tarik yang cukup adukan dianjurkan menggunakan
campuran minimum antara pc:pasir 1:6 sampai 1:4 meskipun juga tergantung dan
kualitas jenis pasir dan air yang digunakan.

d. Ferosemen

Ferosemen yang dibuat dari campuran semen, pasir dan air yang diberi
kawat jala halus dan tulangan baja sebagai pengaku merupakan bahan alternatif
yang dapat digunakan untuk konstuksi rumah maupun gedung bertingkat. Teknik
pengerjakan ferosemen tidak jauh berbeda dengan teknik pengerjaan beton
bertulang pada umumnya, namun ferosemen memerlukan volume bahan yang
S K B B 3 - 95 | 265
relatif sedikit bila dibandingkan dengan beton bertulang. Ferosemen telah lama
dikenal dan digunakan sebagai bahan konstruksi, baik pada konstruksi bangunan
maupun konstruksi maritim. Aplikasi ferosemen dapat dijumpai pada konstruksi
bangunan-bangunan arsitektur seperti kubah, atap pelat canggang, bangunan
monumental, menata dan bentuk-bentuk lain seperti bak air, perahu dan
bangunan irigasi. Bahkan di beberapa negara, bahan ferosemen ini telah
digunakan untuk membuat rumah tinggal dengan sistem pracetak.

Untuk di Indonesia, ferosemen mulai dikenal pada lebih 25 tahun terakhir.


Ferosemen sangat tepat dijadikan material pembentuk perumahan karena
ferosemen memiliki kelebihan yang terletak pada kekuatan dan waktu
pengerjaannya yang cepat. Jika ferosemen digunakna sebagai panel pada
bagian-bagian tertentu pada suatu struktur/bangunan, maka proses
pembuatannya tidak membutuhkan biaya yang besar jika dibandingkan dengan
struktur bata secara konvensional. Untuk sifat mekanik ferosemen, ferosemen
memiliki kuat tekan yang biasanya dikontrol dengan menggunakan kuat tekan
mortar penyusun ferosemen tersebut. Kuat tekan mortar dapat dipengaruhi oleh
beberapa parameter seperti perbandingan antara pasir dengan semne dana
perbandingan air dengan semen.

Untuk desain ferosemen secara umum, kuat tekannya dianggap sama


dengan kuat tekan mortar penyusunnya. Kekuatan batas tekan dapat ditentukan
dengan mengabaikan sumbangan kekuatan serat karena cenderung serat
tertekuk. Dan untuk menhan beban tekuk tersebut (buckling), kuat tekan
ferosemen sebesar 80% dari kuat tekan mortar penyusunnya.

e. Gypsum

Papan gipsum merupakan bahan pelapis interior untuk dinding pembatas dan
plafon gipsum, serta dapat diaplikasikan sebagai pelapis dinding bata. Saat ini,
penggunaan papan gipsum untuk interior sudah semakin meluas, disebabkan oleh
karakteristiknya yang tahan api dan finishing yang sangat baik, bobotnya pun
ringan serta pengerjaan yang cepat dan kering. Papan gipsum tetap saja hingga
saat ini tidak tahan akan lembab / air.

3.4 Sub Sistem Tangga Struktural


Merupakan alat transportasi vertikal menghubungkan antar lantai tanpa menggunakan
mesin. Penggunaan tangga pada bangunan bertingkat lebih dari tiga lantai, pada
umumnya adalah untuk keadaan (tangga darurat).

a. Macam-macam bentuk tangga

S K B B 3 - 96 | 265
Gambar 4.1 Jenis Tangga
Sumber : (1015)
Tangga juga merupakan suatu elemen keindahan dalam interior. Jika suatu tangga terdiri
dari anak tangga persegiempat maka terdapat tangga lurus. Jika anak tangga berbentuk
trapesium maka berupa tangga belokan. Kedua hal ini dapat disesuaikan keperluan.
Tinggi anak tangga adalah jarak antara 2 anak tangga berurutan ditambah dnegan tebal
anak tangga, sedangkan lebar adalah ukuran datar antara sisi muka anak tangga yang
satu dengan yang lain.

S K B B 3 - 97 | 265
Pada bidang datar dengan langkah lambat, ukuran langkah ialah 60-65 cm. Suatu bidang
landai atau lantai miring dengan kemiringan 15 derajat dapat ditempuh dnegan nyaman
oleh pengguna.
Jika tinggi anak tangga 17 cm, maka langkah selebar 63 cm akan diperpendek dengan
dua kali tinggi anak tangga, yaitu 2 x 17 cm = 34 cm

Gambar 4.2 Bagian-bagian Tangga


Sumber : (1015)
b. Perhitungan Tirusan Tangga
Pada umumnya, garis langkah ditentukan pada tengah-tengah tangga. Jika letak anak
tangga disesuaikan dengan garis langkah, maka harus diusahakan suatu bentuk anak
tangga yang dengan tetap memperhatikan tinggi anak tangga dan garis langkah
memberikan kemungkinan pembuatan induk tangga dan pegangan yang baik. Sebagai
contoh, tangga kecil dengan belokan 1/8 bawah :

Gambar 4.3 tangga kecil dengan belokan 1/8


Sumber : (Ilmu Konstruksi Bangunan, 1980)

S K B B 3 - 98 | 265
- Konstruksi Tangga Batu Alam
Batu alam digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi tangga adalah batu yang
keras dan tahan lama, seperti granit/pejal, batu menghablur atau batu paras yang keras,
batu kapur, batu marmer. Tidak semua dari batu murni tetapi konstruksi tangga dari beton
lalu dilapisi dengan plat batu alam.
- Konstruksi Tangga Batu Buatan
Misalnya konstruksi tangga dari batu merah berkualitas tinggi. Pembangunan tidak
berneda dengan konstruksi tangga batu alam, hanya bata terdiri dari barisan batu bata
merah melintang yang berdiri.
- Konstruksi Tangga Beton
Konstruksi tangga dari beton bertulang memiliki bagian, seperti bagian tangga, bordes
dan balok pendukung bordes dicor sekaligus. Balok pendukung bordes dipilih sama tinggi
(tebal) dengan bordes.

3.5 Sub Sistem Atap


Fungsi atap adalah untuk melindungi bangunan beserta isinya dari pengaruh atap dan
hujan. Bentuk dan bahan atap harus bisa menambah indah dan anggun serta menambah
nilai dari harga bangunannya. Bentuk atap untuk bangunan brtingkat dapat dibagi
menjadi dua bagian :
1. Atap datar
2. Atap sudut

a. Atap Datar

Atap datar umumnya dubuat dari beton bertulang kedap air, yaitu dibuat dari campuran
1 semen : 1 pasir : 2 keriil + air, diberi tulangan rangkap atas bawah. Tulangan atas
S K B B 3 - 99 | 265
berfungsi sebagai tulangan susut untuk mencegah retak-retak pada permukaan beton
akibat terkena panas matahari, sedang tulangan bawah berfungsi sebagai tulangan
konstruksi untuk menahan lenturan.
Tulangan atas bawah masing-masing dipasang bersilang, diameter tulangan susut
minimum 6 mm dan diameter tulangan konstruksi minimum 8 mm. Plat atap harus dibuat
dengan tebal minimum 7 cm atau lebih.
Untuk mecegah retak-retak pada bidang permukaan dan juga untuk mencegah korosi
betonnya, dapat diberikan lapis pelindung pada seluruh permukaan atap. Lapis pelindung
ini dapat berupa :
- Plesteran keras 1 semen : 2 pasir, yang dibuat kasar agar tidak licin

- Agar indah, dapat ditutup tegel gelar atau jenis ubin lain

- Cairan pekat seperti aspal (water proofing) dengan diberi tebaran pasir

Keuntungan atap beton :


- Di atasnya dapat dipakai untuk ruangan serba guna, seperti gudang,
tempat jemuran, ruang mesin, tempat bak air

- Konstruksi atap yang menjadi satu dengan rangka portalnya, menambah


sifat kaku dari bangunan, sehingga lebih tahan terhadap gaya
horizontal, oleh angin atau gempa

- Karena tahan api, maka dapat mecegah menjalarnya api yang dating dari
arh atas ke dalam ruangan di bawahnya

Gambar 5.4 Tulangan atap beton


Sumber: (Schodek, STRUKTUR)

S K B B 3 - 100 | 265
b. Atap Sudut

Atap sudut atau atap bersudut adalah suatu bentuk atap yang mempunyai kemiringan,
sehingga membentuk suatu sudut dengan rangka bangunnya.
Ditinjau dari bearnya sudut kemiringan, ata sudut dapat dibagi menjadi dua, yaitu ;
1. Atap landai

2. Atap runcing

Atap landai dapat menggunakan penutup atap dengan lembaran-lembaran besar, seperti
seng gelombang atau asbes. Untuk membentuk sudut kemiringan atap, dapat dibuat
konstruksi rangka batang (kuda-kuda) dari kayu atau baja.
Atap runcing memberi kesan megah dan anggun terhadap bangunannya. Pembuatan
rangka atap membutuhkan batang lebih banyak dan luas, bidang atapnya juga lebih
besar dibandingkan atap, jadi harga per satuan luas atap menjadi lebih mahal juga.

Gambar 5.2 Tekanan angin pada atap


Sumber: (Schodek, STRUKTUR)

Makin tinggi tempat dari muka tanah, makin besar pula tekanan anginnya, maka untuk
mencegah agar atap tidak tebang dihembus angin, dalam memasang kuda-kudanya
tidak boleh hanya diletakkan begitu saja, tapi harus diangker kuat atau dibegel pada
kolom pendukungnya.
Bahan penutup atap, terutama dari bahan yang ringan, sebaiknya dipaku atau disekrup
pada batang tumpuannya, agar tidak mudah dihembus angin.
Macam-macam jenis atap sudut :

S K B B 3 - 101 | 265
Rangka Atap
Kuda-kuda dari konstruksi rangka batang (Vakwerk) merupakan rangka batang yang
menjadi satu kesatuan yang kuat dan membentuk rangka atap. Beberapa syarat yang
harus diperhatikan dalam membuat konstruksi rangka batang adalah sebagai berikut
Pada tiap titik buhul (titik simpul, titik sambung), garis sumbu batang dan garis kerja
batang-batang harus bertemu pada satu titik

Gambar 5.3 Titik buhul (titik simpul, titik sambung)


pada rangka atap
Sumber: (Schodek, STRUKTUR)
1. Beban yang bekerja pada batang antara dua titik buhul, harus disalurkan dahulu
ke titik buhul yang terdekat. Berat sendiri rangka batang tida dipertimbangkan
sebagai beban

Gambar 5.4 Gaya yang terjadi pada titik buhul


Sumber: (Schodek, STRUKTUR)

S K B B 3 - 102 | 265
2. Batang yang dipakai harus utuh dan kurus, agar garis sumbunya juga lurus.

Gambar 5.5 Batang rapuh pada rangka atap


Sumber: (Schodek, STRUKTUR)

3. Rangkaian batang harus selalu membentuk segitiga-segitiga supaya konstruksi


stabil

Gambar 5.6 Rangkaian bentuk segitiga pada rangkai atap


Sumber: (Schodek, STRUKTUR)

c. Keuntungan-Kerugian Masing-masing Bahan Kuda-kuda


- Kayu

Gambar 5.7 Kayu sebagai


material Sumber: google

S K B B 3 - 103 | 265
a. Mudah didapat dari alam, sifat kenyal, elastis, kekuatan dan
keawetannya tergantung dari umur kayu dan jenis kayu
b. Mudah dikerjakan oleh tukang biasa dengan alat sederhana, dapat
dibentuk berbagai model yang indah

c. Harga relatif murah, dan karena bahannya ringan dapat memperkecil


ukuran konstruksi bangunan dan pondasinya

d. Dapat terbakar dan mudah menjalarkan api dari satu tempat ke tempat
lain

e. Konstruksi harus terlindung dari panas dan hujan, agar tidak cepat
lapuk

f. Perlu diberi lapis pelindung agar tidak mudah dimakan rayap, bubuk
atau serangga kecil lain

g. Sebaiknya untuk bentangan atap tidak lebih dari 12 m

Gambar 5.6 Rangka atap (kuda-kuda) dari kayu


Sumber: (Schodek, STRUKTUR)

- Baja

Gambar 5.8 Rangka atap (kuda-


kuda) dari baja
S K B B 3 - 104 | 265
a. Bahannya diperoleh dari hasil pabrik, mutu dan kekuatannya tergantung
standar pabrik pembuatnya

b. Sifat bahan yang keras memerlukan alat khusus untuk pembuatannya,


dibentuk di bengkel, di proyek hanya tinggal pasang

c. Harga baja mahal

d. Karena api dan panas yang tinggi, batang dapat terlentur, menggeliat,
dan leleh

e. Karena panas dan hujan, bahan dapat berkarat dan keropos, jadi perlu
diberi lapis pengawet anti karat dan terlindung

Beberapa bentuk kuda-kuda dari baja dapat dilihat pada gambar di bawah
ini :

S K B B 3 - 105 | 265
- Beton Bertulang

a. Dibuat dari beton yang diberi tulangan, perlu waktu untuk pengerasan
betonnya, mutunya sangat tergantung cara pelaksanaanya

b. Umumnya dibuat langsung di tempat

c. Harga relatif masih murah dibanding umurnya yang tidak terbatas,


setelah betonnya mengeras tidak perlu perawatan lagi

d. Merupakan bahan yang tahan api, tidak dapat terbakar, tidak rusak oleh
panas dan hujan, tahan zat kimia

Gambar 5.9 Rangka atap (kuda-kuda) dari beton


bertulang
Untuk bangunan bertingkat, terutama yang mempunyai bentang besar dengan beban
atap yang berat, sebaiknya kuda-kuda menggunakan konstruksi rangka baja karena
mempunyai kekuatan dan keandalan yang lebih tinggi dari kayu.

3.6 Sub Sistem Plafond


Langit-langit atau plafond adalah lapisan yang membatasi rangka bangunan dengan
rangka atap, mempunyai fungsi antara lain :
1. Isolasi panas yang dating dari atap
2. Meredam suara air hujan yang jatuh di atas atap, terutama pada
penutup atap dari logam
3. Sebagai tempat untuk menggantungkan bola lampu, sedang bagian
atasnya untuk meletakkan kabel-kabel listriknya

Tinggi plafond diukur dari permukaan lantai yang ada di bawahnya. Untuk daerah tropis,
tinggi plafond jangan dibuat terlalu rendah, sebaiknya dibuat 3 m atau lebih, agar sirkulasi
udara dapat lancer, sehingga udara dalam ruangan tidak menjadi pengap dan panas.
S K B B 3 - 106 | 265
Rencana plafond untuk setiap ruangan yang dipisahkan oleh dinding penyekat dapat
dibuat sendiri-sendiri, yang disesuaikan dengan fungsi ruangan itu.
Bahan Plafond
Bahan yang banyak digunakan adalah :
1. Eternit : ukuran 1 x 1 m, ada yang polos atau bermotif
2. Triplek : ukuran 1,22 x 2,44 m, yang dapat juga dipotong-potong
menjadi ukuran yang lebih kecil lagi, misalnya 60 x 120 cm, 40 x 80 cm,
atau potongan lain yang disesuaikan dengan lembaran triplek tersebut
3. Acoustic : ukuran 30 x 60 cm
4. Lain-lain : karpet, kaca, papan atau reng, aluminium

Rangka Plafond
Rangka plafond dibuat dari batang-batang kayu, yang dibuat petak-petak dengan ukuran
sesuai ukuran penutup plafond yang dipakai. Untuk eternit, petak-petak rangka
plafondnya dibuat 1 x 1 m2 (as-as).
Pada rangka plafond ini ada yang disebut balok induk, yaitu balok utama rangka plfond
kemudian di antara balok induk ini dipasang batang pembagi pertama dengan ukuran
kayu lebih kecil, dan di antara batang pembagi pertama, sehingga dengan demikian akan
didapat suatu hubungan kayu yang membentuk kotak-kotak atau petak-petak.
Ukuran kayu untuk rangka plafond :
1. Balok induk 6/12 untuk bentang 2-3 m, 8/14 untuk bentang 3-5 m

2. Balok pembagi pertama 6/8 untuk bentang 2-2,5 m, 5/7 untuk bentang
1-2 m

3. Batang pembagi kedua 4/6 untuk bentang 1 m atau kurang

S K B B 3 - 107 | 265
Gambar 6.1 Rangka plafond (kayu)
Sumber: (Schodek, STRUKTUR)
Plafond tidak harus selalu dibuat datar, tapi dapat juga dibuat juga dibuat bervariasi naik
turun atau bergelombang, dari beberapa bahan yang dikombinasikan menjadi satu.
Biasanya untuk bangunan bertingkat, rangka plafond yang digunakan menggunakan
rangka besi hollow (rangka metal furring).
Material Plafond
- Gypsum
Gipsum yang diproduksi biasanya berbentuk papan atau biasa disebut gypsumboard.
Papan gipsum berupa lembaran yang terbuat dari tepung gipsum dicampur dengan serat
fiber yang membuatnya tidak mudah pecah. Memiliki daya dukung 30 kg/m 2 sehingga
ringan.
Macam gipsum:
a. Core (Standard Core Plasterboard) standart

b. Firestop ketahanan api

c. Wetarea ketahanan terhadap lembab

d. Flex (Easiboard-Flexible Plasterboard) mudah dibentuk

Gypsum standart Firestop biasanya Wetarea digunakan


Flex mudah dibentuk
digunakan di dapur di kamar mandi

Gambar 6.2 Jenis gypsum dan peletakkannya

Standart ukuran bahan :


Panjang : 1.20 m

S K B B 3 - 108 | 265
Lebar : 0.60 m

Ketebalan : 12 mm

Kerapatan : 900 1000 kg/m3

Beban tanggungan : 37-58 kg

Konduktivitas suhu : 0.14 0.17 Kcal/m/hr/0C

Gambar 6.3 Rangka plfond gypsum

- Kalsiboard
Kalsiboard adalah panel kalsium-silikat yang menggunakan serat selulosa sebagai
bahan penguat. Pengeringan kalsiboard melalui proses autoclaving yang menjadikan
panel sangat stabil, hampir tidak mengalami muai susut oleh lembab, maupun panas.
KalsiBoard adalah produk yang ekonomis dan ramah lingkungan sebagai alternatif
pengganti papan kayu, karena :
tidak ada penebangan hutan

daya tahan lebih panjang

KalsiBoard merupakan alternatif pengganti gypsum board karena mempunyai sifat tahan
air dan tahan rayap. Selain itu kalsiboard juga dapat digunakan sebagai partisi dinding
yang tahan panas dan meredam suara.

Standar ukuran bahan

S K B B 3 - 109 | 265
Ukuran Berat (kg) Sistem rangka Sistem Pengikatan

2400x1200x6.0 24 Kayu dan metal Sekrup


(metrik)

2400x1200x9.0 36 Kayu dan metal Sekrup


(metrik)

2400x1220x6.0 26 Kayu dan metal Sekrup


(imperal)

2400x1220x9.0 38 Kayu dan metal Sekrup


(imperal)

Tabel 6.1 Standart ukuran bahan kalsiboard

Rangka kalsiboard

S K B B 3 - 110 | 265
3.7 Sub Sistem Lantai
Lantai adalah lapis penutup tanah dalam ruangan untuk berpijak
penghuni, sehingga kebersihan ruangan dapat tetap terjamin dengan tidak
adanya butiran tanah yang tebawa kaki penghuni, selain itu juga ruangan akan
tampak lebih rapi dan sehat.
Untuk mencegah air hujan di halaman tidak dapat mengalir masuk ke
dalam rumah, lamtai bangunan harus dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah
halaman. Beda tinggi lantai dengan perukaan tanah dapat dibuat 20 cm, 30
cm atau lebih. Apabila letak lantai akan dibuat cukup tinggi dari permukaan
tanah, maka pada terasnya dapat dibuat bertangga.
Untuk lantai kamar mandi dibuat miring 1 : 100 ke arah lubang buangan
agar air mandi dapat mengalir terbuang. Lantai rumah harus dibuat keras dan
padat agar kuat menahan beban benda di atasnya. Untuk memasang lantai
harus diberi dasaran urug pasir setebal 20 cm sebagai bantalan untul
memperoleh permukaan lantai yang rata. Urug ini harus dipadatkan dan
disirim air sampai kenyang.
b. Material Penutup Lantai
- Tegel

Tegel terbuat dari campuran semen dan pasir yang dicetak dengan mesin,
sehingga merupakan bahan lantai yang padat, keras, halus, dan indah. Ukuran
tegel untuk lantai ada yang 20 x 20 cm2, 30 x 30 cm2, 40 x 40 cm2, dan ukuran lain
dapat dipesan sesuai kebutuhan ruangan dan selera.
Untuk memasang tegel-tegel ini dipakai perekat dari campuran 1 kapur : 2 pasir.
Sela-sela antara tegel diisi dengan kolotan air semen penuh agar pasangan tegel
tersebut menjadi rapat dan kuat.

Gambar Tegel
Sumber: google

Pada sudut pertemuan tembok dengan lantai dapat dipasang tegel plin
yang dipasang tegak pada temboknya. Ukuran tegel plin sesuai dengan
ukuran tegel lantainya.

S K B B 3 - 111 | 265
- Keramik

Ubin keramik pada lantai sudah sangat umum dipakai. Berbagai keistimewaan
yang dimilikinya menunjang dalam pemasangan, antara lain kekuatan fisiknya,
ketahanan warnanya, serta mudah dalam membersihkannya.

Pemasangan keramik lantai juga bisa untuk memunculkan kesan dekoratif.


Tergantung jenis keramik lantai yang dipilih, bisa memunculkan berbagai suasana
dalam ruangan.

Penggolongan produk dapat dibedakan dalam tiga penggolongan yakni polos,


embossed (permukaan tidak rata), dan dekoratif. Perbedaan polos dan embossed
lebih ditekankan pada posisi di mana keramik ditempatkan. Keramik embossed
yang kasar dan tidak licin permukaanya, serta tahan terhadap gesekan sangat
cocok untuk eksterior seperti di teras, atau di ruang terbuka seperti kolam renang
dan taman.

Gambar 8.6.25 Keramik


Sumber: google

- Lantai Parket

Pemakaian lantai parket atau lantai kayu dalam rumah memang bisa menimbulkan
kesan cozy nan mewah. Apalagi, lantai ini juga bisa menimbulkan kesan hangat,
akrab sekaligus berkelas. Oleh karena itu, banyak apartemen, rumah-rumah
mewah mengandalkan lantai berbahan kayu sebagai finishing-nya. Dan
kenyamanan kayu, yaitu kemampuan kayu menyerap panas dan meredam
pantulan suara.

Meski begitu, tak semua lantai bisa menggunakan parket. Sebab, dengan
karakteristiknya yang khas, lantai parket memang tak cocok untuk semua
ruangan. Apalagi untuk ruangan yang lalulintasnya ramai. Sebab, permukaan
parket rentan terkena goresan. Sifatnya yang mampu menyerap air membuat
lantai parket ini rentan lembab dan mengeluarkan bau.

S K B B 3 - 112 | 265
Saat ini lantai parket untuk rumah tinggal yang ada di pasaran tersedia
dalam dua jenis, yakni pertama, jenis konvensional yang dibuat dari kayu
keras lantak/solid berbentuk keping-keping berukuran kecil dan berukuran
sedang dari kayu lantak dengan ketebalan antara 0,5-1 cm.

Kedua, jenis lainnya adalah lantai parket yang terbuat dari kayu lapis keras
atau particle board yang dilapisi oleh veneer (lapisan tipis dari kayu asli
yang dipilih penampilan permukaannya). Jenis ini diciptakan untuk
kemudahan dan kecepatan pemasangan.

Gambar Parket
Sumber: google
Tidak seperti yang dikhawatirkan oleh banyak orang, lantai kayu amat
mudah dirawat dan dibersihkan. Berkat finish pelindung yang kuat,
pembersihan dan perawatan lantai parket sama mudahnya dengan lantai
keramik. Kalaupun tergores misalnya, lantai kayu amat mudah diperbaiki.
Kalau goresannya ringan, perbaikannya hanya dengan pengamplasan dan
memfinish ulang hanya di bagian yang rusak saja. Kalau goresannya terlalu
dalam atau terkena noda yang sulit dihilangkan, keping yang cacat itu
dengan mudah dapat diganti. Selain itu, tentu saja pada proses
produksinya, lantai parket baik dari jenis lantak maupun dari jenis veneer
telah dibubuhi bahan-bahan antirayap.

Struktur lantai membentuk bidang kaku horizontal. Bidang ini memperkokoh dan
bergabung dengan struktur vertikal sehingga memungkinkan bangunan untuk
bertindak terhadap gaya-gaya. Rangka lantai meneruskan gaya-gaya gravitasi
dan lateral ke kolom atau dinding.

SISTEM-SISTEM LANTAI KOMPOSIT


Sistem lantai komposit sudah mencapai pemecahan optimum untuk bangunan tinggi.
Dek selular baja yang bekerja secara komposit dengan plat beton telat digunakan secara
umum sejak tahun 1960. Penggunaan rancangan balok komposit dalam bangunan tinggi
juga meningkat dengan pesat.

S K B B 3 - 113 | 265
DEK LANTAI KOMPOSIT
Kebanyakan sistem dek ditutup dengan embossments dan tekukan untuk megikat dek
tersebut ke plat beton. Kebanyakan bentuk baja gelombang mempunyai ketebalan antara
1 dan 3 inci. Dek yang tebalnya 3 inci jelas lebih kuat dan mampu membentang antar
12-15 kaki pad aksi komposit. Dek 1 inci memungkinkan plat menjadi lebih tipis
sehingga memungkinkan pengurangan tinggi keseluruhan bangunan.

S K B B 3 - 114 | 265
BAB 4
SISTEM UTILITAS
4.1 FUNGSI UTILITAS BANGUNAN SECARA UMUM
4.1.1 KLASIFIKASI UTILITAS DALAM BANGUNAN GEDUNG

Karya arsitektur yang nyaman dan berwawasan lingkungan, serta ekonomis dan
efisien dalam pengoperasian dan pemeliharaan/perawatannya dapat diwujudkan
dengan adanya perpaduan selaras antara bidang structural, konstruksi, mekanikal dan
elektrikal serta bahan bangunan.
Pada mekanikal dan eletrikal atau bisa disebut juga sebagai penunjang bangunan
atau utilitas terbagi atas beberapa bagian,
yaitu :
1. Sistem air bersih & sistem air kotor (plumbing)
2. Sistem tata udara (penghawaan)
3. Sistem transportasi vertikal
4. Sistem proteksi kebakaran
5. Sistem elektrikal
6. Sistem telekomunikasi
7. Sistem penangkal petir
8. Sistem pengolahan limbah
9. Sistem keamanan
4.1.2 UTILITAS BERFUNGSI SEBAGAI KELENGKAPAN GEDUNG DAN MEMPENGARUHI
DESAIN STRUKTURAL
Utilitas Bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan untuk
menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudahan,
komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan.
Dalam perancangan sistem utilitas pada bangunan terdapat alat-alat utilitas yang dapat
mempengaruhi desain structural dari bangunan tersebut. System utilitas yang mempengaruhi
desain structural bangunan adalah sebagai berikut:
1. Utilitas Pencegahan Kebakaran
a. Sprinkler

Saluran sprinkler

Sprinkler Head

Sprinkler

Sumber : http://projectmedias.blogspot.co.id/
S K B B 3 - 115 | 265
b. Hidran

Hydrant

Hidran
Sumber : http://aloekmantara.blogspot.co.id/

c. Alarm kebakaran

Alarm kebakaran

Sumber : http://olx.co.id/

d. Ventilasi asap bangunan

Ventilasi asap bangunan


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 116 | 265
Ancaman bahaya kebakaran merupakan salah satu bentuk potensi bahaya yang dapat
membawa musibah dengan akibat yang sangat luas karena itu perancangan pencegahan
kebakaran dalam system utilitas harus diperhatikan. Sistem pencegahan kebakaran
dapat berfungsi dengan baik jika telah dilakukan suatu persyaratan pada bangunan itu
sendiri.

Klasifikasi bangunan-bangunan menurut ketentuan struktur utamanya terhadap api:


1. Kelas A
Struktur utama harus tahan api sekurang-kurangnya 3 jam. Bangunan kelas A
meliputi: bangunan untuk kegiatan umum, seperti hotel, pertokoan dan pasar raya,
perkantoran, rumah sakit, bangunan industri, tempat hiburan, museum, dan
bangunan dengan penggunaan ganda/campuran.
2. Kelas B
Struktur utama harus tahan api sekurang-kurangnya 2 jam. Bangunan kelas B
meliputi perumahan bertingkat, asrama, sekolah dan tempat ibadah.
3. Kelas C
Struktur utama harus tahan api selama selama 1 jam, biasanya untuk bangunan-
bangunan yang tidak bertingkat dan sederhana.
4. Kelas D
Bangunan-bangunan yang tidak tercakup ke dalam kelas A, B, C, dan diatur
tersendiri, seperti instalasi nuklir dan gudang-gudang senjata/mesin.
Pembagian bangunan berdasarkan tipe konstruksi:
1. Tipe A
Konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan mampu menahan
secara struktural terhadap beban bangunan. Pada konstruksi ini terdapat
komponen pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran api ke
dan dari ruangan bersebelahan dan dinding yang mampu mencegah penjalaran
panas pada dinding bangunan yang bersebelahan.
2. Tipe B
Konstruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen penahan api mampu
mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam
bangunan, dan dinding luar mampu mencegah penjalaran kebakaran dari luar
bangunan.
3. Tipe C

S K B B 3 - 117 | 265
Konstruksi yang komponen struktur bangunannya adalah dari bahan yang dapat
terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu menahan secara struktural
terhadap kebakaran.

Beberapa cara untuk menjadikan baja tahan api


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

2. Penghawaan
a. AC

Package unit Sistem AC central Sistem AC central

S K B B 3 - 118 | 265
Unit pengatur udara (AHU) Jenis menara pendingin

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Skema Colling
AC tower

AHU

Ducting
( panas /

Diffuser
( panas /

Pipa udara
( panas /

AHU

Mesin AC

Skema AC sentral

S K B B 3 - 119 | 265
Mesin pendistribusian udara dingin

Tipikal saluran tata udara


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 120 | 265
b. Jendela

Konstruksi jendela

3. Utilitas Transportasi
a. Lift.

. Lift dengan Motor Traksi Lift hidrolik


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Contoh eskalator
S K B B 3 - 121 | 265
b. Eskalator

Eskalator

c. Conveyor

S K B B 3 - 122 | 265
Conveyor

d. Tangga

Tangga
Sumber:http://www.skyscrapercity.com/

S K B B 3 - 123 | 265
4. Utilitas Plumbing
a. Air bersih

Contoh lubang pemeriksa di langit-langit Contoh lubang pemeriksa di dinding

Contoh lubang pemeriksa di lanta

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 124 | 265
b. Air kotor

Instalasi pompa kuras untuk sumur basah


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

5. Utilitas Instalasi Listrik


a. Sumber daya PLN

Pasokan listrik ke bangunan


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Instalasi kabel pada pelat lantai


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005
S K B B 3 - 125 | 265
Instalasi kabel di atas plafon
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

b. Sumber daya genset

Generator Set

S K B B 3 - 126 | 265
6. Utilitas instalasi penangkal petir

Penangkal petir sistem faraday


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Contoh kepala penangkal petir

4.1.3 UTILITAS BERFUNGSI SEBAGAI KELENGKAPAN BANGUNAN SAJA


Utilitas Bangunan merupakan kelengkapan dari suatu bangunan gedung, agar bangunan gedung
tersebut dapat berfungsi secara optimal. Disamping itu penghuninya akan merasa nyaman,
aman, dan sehat.

S K B B 3 - 127 | 265
Dasar pertimbangan pemakaian sistem utilitas dan perlengkapan bangunan adalah:
1. Kemudahan dalam penggunaan dan pemeliharaan
2. Kesederhanaan jaringan system
3. Kecilnya faktor resiko crossing antar jaringan
4. Keamanan terhadap pelaku aktifitas
5. Keamanan terhadap lingkungan

Sistem utilitas yang hanya berfungsi sebagai kelengkapan bangunan saja adalah sebagai berikut:
1. Utilitas instalasi komunikasi
a. Instalasi telepon

. Instalasi telepon

2. Instalasi CCTV

S K B B 3 - 128 | 265
Jenis-jenis CCTV
Sumber: http://netcomm.web.id/

3. Utilitas Pencegahan Kebakaran


a. Gas pemadam api
b. Tabung pemadam api ringan

Tabung pemadam api ringan


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.2 JARINGAN AIR BERSIH & AIR KOTOR/ SANITASI & DRAINASE
Pada umumnya setiap kawasan membutuhkkan pasokan air bersih (dari Perusahan
Daerah Air Minum) dan system sanitasi yang memadai. Namun jika pasokan tidak
memungkinkan terkadang pasokan air didapat dari sumur dangkal dan/atau sumur bor/dalam,
tanpa menyadari bahwa sebagai akibat dari system sanitasi yang kurang baik, air bersih yang
dikonsumsi tersebut bisa saja tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Selain itu pemompaan
air berlebihan dan tak terkendali akan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Untuk itu
jaringan air perlu untuk ditangani agar lingkungan sekitar tetap terjaga kualitasnya.
4.2.1 PENGERTIAN, FUNGSI, DAN KLASIFIKASI AIR DALAM BANGUNAN GEDUNG
Terdapat berbagai macam klasifikasi air yang dibedakan menurut fungsinya. Hal ini
dikenal dengan istilah pemipaan atau plumbing. Instalasi pipa pada bangunan tinggi dapat
dibedakan menjadi :
1. Pemipaan air bersih (panas dan dingin)
2. Pemipaan air es untuk keperluan tata udara
3. Pemipaan air untuk keperluan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
4. Pemipaan pembungan air kotor (black water)
5. Pemipaan pembungan air pembuangan (grey water)
6. Pemipaan air hujan
7. Pemipaan air limbah

S K B B 3 - 129 | 265
8. Pemipaan ventilasi
9. Pemipaan gas (seperti saluran oksigen pada rumah sakit)

Contoh shaft dengan pemipaan


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.2.2 SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DAN SISTEM PEMBUANGAN AIR KOTOR
4.2.2.1 Distribusi Air Bersih
Pada umumnya terdapat dua sistem pemasokan air bersih, yaitu :
1. Sistem up feed

S K B B 3 - 130 | 265
Sistem diamana air bersih disalur dari sumber yang ada di bagian bawah menggunakan
tekanan pompa menuju penggunakanya yang ada di atas. Dengan demikian pompa akan
bekerja saat air dibutuhkan. Sumber air dapat berupa saluran langsung dari jaringan air bersih
yang ada maupun tangki air.

Skema pemasokan air dengan sistem up feed


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

2. Sistem down feed


Sistem dimana air bersih disalurkan dari sumber yang ada di bagian atas dengan
memanfaatkan gaya gravitasi. Sumber air berupa tangki air dimana air tersebut berasal
dari pasokan utama yang ada di bawah lalu dialirkan menggunakan tekanan pompa.
Tangki air menggunakan sakelar pelampung, diamana pompa akan berhenti bekerja jika
air di dalam tangki sudah pada batas tertentu.

Skema pemasokan air dengan sistem down feed


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.2.2.2 Distribusi Air Kotor

Air kotor atau air buangan adalah air bekas pakai yang dibuang. Air kotor dapat dibagi
dalam beberapa bagian sesuai dengan hasil penggunaannya, diantaranya :

S K B B 3 - 131 | 265
1. Air bekas buangan,
Air hasil dari penggunaan untuk mencuci, mandi, dsb.
2. Air limbah,
Air hasil dari pembersihan limbah/kotoran.
3. Air hujan,
Air yang berasal dari hujan lalu jatuh ke permukaan tanah atau bangunan.
4. Air limbah khusus
Air bekas cucian dari kotoran-kotoran dan alat-alat tertentu seperti air bekas dari
rumah sakit laboratorium, restoran, dan pabrik.
Untuk itu membuang dan mengalirkan air kotor ini, diperlukan adanya pemisahan dan
penanganan tersendiri melalui sistem plumbing. Perlakuan itu seperti :
1. Air bekas
Untuk pipa pembuangan dapat digunakan pipa-pipa PVC pada bagian vertikal dan
pipa PVC atau pipa beton dengan diameter yang diperhitungkan ukurannya pada
bagian horizontal. Diusahakan sambungan pada pipa menggunakan sudut lebih kecil
dari 90 derajat agar tidak terjadi air balik. Pada sambungan-sambungan horizontal,
dapat digunakan sambungan bersudut lebih dari 90 derajat atau menggunakan bak-
bak control. Pembuangan air bekas ini dapat dialirkan ke saluran lingkungan atau
saluran kota praja.

2. Air limbah
Untuk pembungan dialirkan pada jarak sependek mungkin dan tidak membuat
belokan yang tegak lurus, lalu dialirkan dengan kemiringan 0,5-1% ke dalam bak
penampungan yang disebut septic tank (pada bangunan sederhana) dan pengolah
limbah/sewage treatment plant (pada bangunan dengan banyak penghuni). Pada
sewage treatment plant (STP) air limbah tersebut diberi perlakuan khusus sehingga air
yang keluar dari STP dapat dipompa keluar untuk dibuang melalui saluran kota atau
digunakan kembali, seperti untuk menyiram tanaman.
Sewage treatment plant dapat diletakkan di luar gedung maupun di lantai bagian
bawah/lebih rendah dari toilet terbawah. Di dalam STP, dibutuhkan penerangan
maupun ventilasi (exhaust fan) karena dibutuhkan seseorang untuk mengontrol.

3. Air hujan
Penyalurannya diperlukan pipa-pipa plumbing tersendiri yang dihitung dan diukur
dari atap yang menerima air hujan tersebut. Air tersebut lalu disalurkan melalui talang-
talang vertical denga diameter minimal 3 dan juga saluran horizontal dengan
kemiringan 0,5-1% dengan jarak terpendek menuju ke saluran lingkungan melalui
shaft.

4. Air limbah khusus


Penanganan jenis air ini melalui penampungan di tempat tertentu, dengan
perlakuan tersendiri. Seperti pada restoran besar yang membuang air limbah
khusus/air Bungan yang mengandung lemak, sedangkan lemak tidak dapat
dihancurkan/menyatu dengan air bekas buangan. Oleh karena itu, diperlukan diadakan
perlakuan tertentu dengan menggunakan grease trap atau perangkap lemak.
Untuk menjelaskan bagaimana pipa-pipa pembuangan air kotor, di bawah ini terdapat
beberapa contoh skema pemipaan air kotor.

S K B B 3 - 132 | 265
Skema jaringan pipa air kotor dan ventilasi
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Pengambaran skema jaringan air kotor dapat pula disajikan dalam bentuk isometrik
seperti yang ada di bawah ini

S K B B 3 - 133 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.2.3 PERLENGKAPAN SISTEM


a. Pompa air untuk bangunan tinggi
Digunakan untuk mengisi tangki air

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 134 | 265
b. Pemanas air
Digunakan untuk membuat air panas yang berasal dari tangki air. Sumber tenaga
pemanas air ini dapat menggunakan pembakaran gas,, listrik, maupun tenaga surya.

Pemanas air kapasitas kecil Pemanas air tenaga surya

Pemanas air kapasitas besar


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

c. Alat penyaring air bertekanan


Alat ini digunakan pada bangunan yang membutuhkan pasokan air dengan mutu
terjamin (bebas dari polutan) atau penggunaan air yang didaur ulang. Seperti pada kolam
renang, air disarung melalui alat penyaring lalu ditambahi kaporit yang berguna mematikan
kuman-kuman yang ada melalui alat pemberi kaporit.

Alat pemberi kaporit

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005


S K B B 3 - 135 | 265
Alat penyaring air bertekanan
d. Perangkap udara
Digunakan untuk menghindari masuknya udara yang baunya tidak sedap. Berupa
genangan air yang tertahan akibat adanya sekat perangkap (menggunakan konsep pipa bejana
berhubungan) sehingga kedap udara. Wujud perangkap udara dapat berupa :
1. Pipa atau tabung
2. Bak control
3. Leher angsa

Perangkap udara pipa dan tabung Bak kontrol


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Leher angsa
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 136 | 265
e. Perangkap lemak
Berfungsi sebagai perangkap minyak/lemak pada air Bungan. Lemak yang terperangkap
nantinya akan dibersihkan dengan cara di sedot

Perangkap lemak
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana 2005
Utilitas bangunan Dwi Tangaro - 2006

f. Clean out
Digunakan untuk memudahkan perbaikan atau pembersihan saluran pipa jika terjadi
penyumbatan yang disebabkan oleh benda-beda atau kotoran.

Clean out
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 137 | 265
4.3 PENGHAWAAN
4.3.1 MUTU UDARA DALAM BANGUNAN
Untuk mencapai kenyamanan, kesehatan, dan kesegaran hidup di dalam suatu
bangunan, khususnya jika dilakukan di area dengan iklim tropis diperlukan adanya usaha untuk
mendapatkan udara segar dari aliran udara alam dan aliran udara buatan. Hal ini disebabkan
iklim tropis mempunyai udara yang panas dan kelembapan udara yang tinggi. Faktor
kenyamanan itu diantaranya adalah kecepatan angin yang tidak boleh lebih dari 5km/jam
dengan suhu <30C.
Mutu udara juga merupakan salah satu faktor kenyamanan bagi penghuni. Namun mutu
udara dapat menurun yang disebabkan diantaranya oleh :
a. Campuran bahan organic yang mudah menguap
Bahan alamiah dan sintetik yang mengandung karbon hydrogen pada tingkat
molekuler, baik berupa benda padat, cair, maupun gas. Mudah menguap pada
temperature kamar, seperti: gas methan, gas hidrokarbon, kapur barus, paraffin,
formaldehid, aseton, karbit, lilin, minuman keras, deterjen, cat dan serat sintetik.
Campuran ini banyak ditemukan pada kayu lapis, papan partikel (particle board),
perekat, cat, fiberglass, cairan pembersih, karpet, plastic dan tenunan.
b. Pestisida
Pada umumnya pestida digunakan untuk perbaikan tanah, sebelum dilakukannya
proses pelaksanan pembangunan, perliindungan terhadap kayu, cat, dan karpet.
c. Bahan yang mudah terbakar/meletup
Diantaranya adalah gas, minyak, arang, kayu, dan tembakau yang terbakar di dalam
ruangan akan menghasilkan asap atau gas (emisi). Emisi itu adalah :
Nitrogen dioksida
Nitrogen oksida
Sulfur oksida
Hidrogen sianida
Karbon mono-oksida
Karbon dioksido
Formaldehida
Hidrokarbon
Senyawa-senyawa di atas dapat ditemukan jika melakukan aktivitas, diantaranya :

Penerangan yang menggunakan bahan bakar minyak/gas


Alat masak yang diletakkan dalam ruangan dengan ventilasi yang kurang
Garasi yang tidak terisolasi secara baik
Tungku pembakaran yang terbuka
Asap rokok
d. Bahan alamiah yang polutan
Seperti akumulasi dari gas radon yang cukup tinggi dapat menyebabkan dampak
buruh akibat kandungan radio aktif yang terkandung di dalamnya. Selain itu logam
seperti aluminium, tembaga, dan timbak yang terakumulasi dalam jaringan manusia
dapat pula menyebabkan penyakit hati, kerusakan otak, dan gagal ginjal. Selanjutnya
adalah polusan yang berasal dari unusr biologis, diantara tepung sari bunga, debu
rumah tangga, serangga/kutu dan jamur, namun hal ini dapat dikurangi dengan
adanya filtrasi (penyaringan).
e. Kelembapan udara

S K B B 3 - 138 | 265
Pada tingkat tertentu kelembapan udara dapat meningkatkan kemungkinan adanya
bakteri, virus, jamur, serangga, dan ganggungan kesehatan lainnya
2.3.2 SISTEM TATA UDARA
Tata udara berfungsi mempertahankan suhu dan kelembapan dalam ruangan dengan
cara menyerap panas yang ada dalam ruangan. Penyerapan panas tersebut memerlukan
adanya penguapan, untuk itu diperlukan adanya kalori (panas). Panas diperoleh dari panas zat
yang ada di sekitar zat yang menguap tadi sehingga membuat zat yang ada di sekitar zat yang
menguap tersebut akan kehilangan panasnya. Dengan demikian zat akan menjadi dingin.
Bahan yang mudah sekali menguap biasa disebut dengan refrigerant. Beberapa contoh
refrigerant yang dikenal dengan istilah Freon adalah :
- 3 4 (Trichloro Mono Fluoro Methan)
- 2 3 4 (Dichloro Difluoro Methan)
- 3 2 6 (Trichloro Trifuoro Ethane)
- 2 2 4 2 6 (Dichloro Tetrafluoro Ethane)
Terdapat banyak jenis mesin tata udara, namun pada dasarnya dibagi atas dua sistem,
yaitu:
1. Sistem tata udara langsung (direct cooling)
Cara kerja sistem ini adalah udara diturunkan suhunya oleh refrigerant lalu
disalurkan ke dalam ruangan tanpa saluran udra (ducting).
Beberapa jenis umum sistem ini adalah :
a. AC window, dengan kapasitas antara 0,5-2 pk
b. AC split unit, dengan kapasitas 05-3 pk
c. AC Package unit, dengan kapasitas hingga 10 pk

a. AC window
Terdiri dari kondensor, kompresor, evaporator, dan blower dalam satu
wadah. Air yang dihasilkan oleh proses kondensasi ditampung di bagian bawah
untuk disalurkan ke luar.

AC window
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

b. AC split unit

S K B B 3 - 139 | 265
Terdiri atas dua bagian, unit pertama ada di luar ruangan (outdoor unit)
yang berisi kondensor dan kompresor sedangkan unit kedua ada di dalam
ruangan (indoor unit) yang berisi evaporator dan kipas udara (fan atau blower).

Skema cara kerja AC split unit


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005
Cara kerja unit ini adalah kompresor memompakan cairan Freon yang
dingin ke unit dalam ruangan melalui pipa tembaga (yang diinsulasi). Lalu pada
unit dalam ruangan, udara akan ditiupkan oleh blower melalui sela-sela
kumparan pipa tembaga (evaporator). Akibat penyerapan panas, cairan Freon
berubah menjadi gas Freon dan dialirkan kembali ke unit luar. Selanjutnya, oleh
kondensor, gas Freon didinginkan dan berubah menjadi cairan dan siap dialirkan
ke unit dalam ruangan. Air akibat dari kondensasi tadi dialirkan keluar melalui
pipa pembuangan.

Sistem AC split unit


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005
S K B B 3 - 140 | 265
c. AC package unit
Pada unit ini terkadang mempunyai dua unit terpisah seperti AC split.
Bagian luar terdiri dari kondensor, kompresor, dan kipas udara. Sedangkan pada
bagian dalam terdiri dari kumparan pendingin (evaporator), saringan udara, filter,
dan panel control

Sistem AC package unit


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

2. Sistem tata udara tidak langsung (indirect cooling)


Dikenal juga dengan sistem tata udara terpusat (Central air conditioning system).
Pada sistem ini refrigeran berupa air es (chilled water) dengan suhu 5C, bukan
freon. Air es dihasilkan oleh chiller, mesin pembuat es yang menggunakan
refrigerant sebagai zat pendingin.

Sistem AC central
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 141 | 265
Bagian-bagian dari sistem ini antara lain :
a. Air Handling Unit (unit pengantar udara) atau AHU
Pada unit ini, udara ditiupkan di antara kumparan yang berisi es dalam uni
AHU. Selain terdapat kumparan pipa berisi air es (coil), terdapat pula blower dan
sarinngan udara.

AHU (unit pengantar udara)


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005
Fungsi AHU adalah sebagai pengolah udara dengan tahapan proses
sebagai berikut :
1. Mencampur udara balik dari ruangan dengan udara luar
2. Mendinginkan udara tersebut sesuai dengan suhu yang diinginkan
3. Menyaring udra
4. Mengalirkan sejumlah udra dingin ke ruangan yang membutuhkan
melalui ducting
Beberapa jenis AHU yang digunakan :
1. Fan-Coil unit
2. Suspended AHU
3. Floor-mounted AHU
4. Built-Up AHU

b. Chiller (mesin pembuat air es)


Terdiri dari kompresor, kondensor, dan pendingin (cooler). Unit ini
menghasilkan sejumlah air dingin yang kemudia dipompakan dan dialurkan
melalui pipa menuju AHU.
Beberapa jenis chiller yang digunakan :
1. Air Cooled Chiller
2. Water Cooled Chiller

Chiller (unit pembuat es)


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 142 | 265
c. Condenser (kondensor)
Berfungsi sebagai pelepas kalor refrigerant ke medium sekelilingnya
(udara atau air). Hal ini bertujuan agar refrigerant dapat dikondensasikan dimana
akan diuapkan kembali ke evaporator.

Condenser (kondensor)
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Beberapa jenis condenser yang digunakan :


1. Air Cooled Condenser
2. Water Cooled Condenser
3. Evaporative Condenser

d. Cooling Tower (Menara pendingin)


Berfungsi sebagai a;at penukar kalor dan massa diantara air dengan
udara. Hal ini menyebabkan air pendingin kondensor dengan suhu tinggi dapat
diturunkan, dan untuk selanjutnya air dapat digunakan kembali untuk kebutuhan
pendingin kondensor.

Cooling Tower (Menara pendingin)


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005
S K B B 3 - 143 | 265
Beberapa jenis cooling tower yang digunakan :
1. Mechanical Draft atau Force Draft
2. Natural Atmospheric Draft atau Induce draft
3. Mechanical & Atmospheric

Mechanical Draft Natural Atmospheric Draft


Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.4 PENANGKAL PETIR


Menurut Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP) untuk bangunan di
Indonesia, Instalasi Penangkal Petir adalah instalasi suatu sistem dengan komponen-
komponen dan peralatan-peralatan yang secara keseluruhan berfungsi untuk menangkap petir
dan menyalurkannya ke tanah. Sistem tersebut dipasang sedemikian rupa sehingga semua
bagian dari bangunan beserta isinya, atau benda-benda yang dilindunginya terhindar dari
bahaya sambaran petir, baik secara langsung maupun tidak langsung (Juwana, 2005). Instalasi
sistem tersebut dikelompokkan menjadi bagian penghantar di atas dan penghantar di dalam
tanah
4.4.1 PERALATAN SISTEM PENANGKAL PETIR
a. Tiang Penangkap Petir (lightning rods)
Penangkap petir adalah penghantar-penghantar di atas atap berupa elektroda
logam yang dipasang tegan dan eletroda logam yang dipasang mendatar. Tiang-tiang dari
logam dan logam lainnya dapat dimanfaatkan sebagai penangkap petir.
Perangkatnya terdiri dari :
- Tiang pendek (finial)
- Kepala penangkap petir (air termination)
b. Penghantar Penyalur Arus Petir (lightning conductors)
Terbagi atas beberapa macam, yaitu :
-Penghantar penyalur utama
Sebuah penghantar dari logam dengan ketentuan luas penampang, jenis
bahan dan lain-lain yang diisyaratkan, dan berfungsi utamanya disebut
penghantar penyalur datar (horizontal conductor) dan jika dipasang
secara tegak disebut sebagai penghantar penyalur tegak (vertical
conductor).

S K B B 3 - 144 | 265
-Penghantar pembantu
Semua penghantar lain seperti pipa air hujan dari logam, konstruk-
konstruksi logam, dan lain-lain yang dimanfaatkan sebagai pembantu
penyalur arus petir.
c. Sistem Pengebumian (grounding system)
Sistem pengebumian adalah suatu sistem dengan elektroda-elektroda
pengebumian yang saling berhubungan dengan penghantar pengebumiannya, dan
berfungsi untuk menyebarkan arus petir ke dalam tanah.
Wujud pengebumian dapat berupa:
- Elektroda pita
Elektroda berbentuk pita atau kawat tanpa mempertimbangkan luas
penampangnya ditanam di dalam tanah.
- Elektroda batang (ground rod)
Elektroda berbentuk batang berbentuk pipa logam, batang logam bulat
pejal atau pelat strip yang ditanam di dalam tanah.

- Elektroda mendatar
Elektroda berupa pelat atau jarring kawat, dan lain-lain yang ditanam di
dalam tanah dengan maksud untuk menghindari terjadinya bahaya tegangan
langkah, yaitu tegangan permukaan tanah yang dapat menyebabkan adanya
beda potensial langkah, antara kaki manusia dan kaki binatang)
- Pengebumian pondasi
Pemngebumian yang memanfaatkan tulangan beton pondasi sebagai
penyebar arus petir ke dalam tanah.
4.4.2 PERLENGKAPAN PENANGKAL PETIR
a. Pemotong Arus Petir (Lightning Arresters)
Digunakan untuk mencegah kerusakan pada peralatan listrik, eleketronik, dan
telepon
b. Terminal Hubung (connectors atau fasteners)
Bagian ini terdiri dari :
- Terminal hubung
Merupakan suatu dudukan dari logam yang berfungsi sebagai titik
hubung bersasma dari beberapa elektroda pengebumian dan benda logam lain
yang akan ditanam dalam tanah (dikebumikan)
- Sambungan

S K B B 3 - 145 | 265
Suatu konstruksi penyambung antara penangkap petir dengan
penghantar dan antara penghantar dengan sistem pengebumian.

4.4.3 JENIS PENANGKAL PETIR


a. Sistem Franklin
Sistem ini menggunakan batang runcing yang terbuat dri bahan copper spit.
Dipasang paling atas dan dihubungkan dengan batang tembaga menuju ke elektroda
yang menuju ke tanah (pengebumian). Batang elektroda pengebumian dibuat bak
control untuk memudahkan pemeriksaan dan pengetesan. Sistem ini cukup praktis dan
biayanya murah, tetapi jangkauaannya terbatas karena diletakkan hanya pada tempat-
tempat tertinggi.
b. Sistem Faraday
Sistem ini hampir sama dengan Sistem Franklin hanya saja jangkauan adalah
seluruh bangunan. Bahan penangkal petir dari bahan konduktor yang baik seperti :
tembaga, kuningan, dengan diameter 10mm dan dipasang pada tiang dengan tinggi
60cm pada puncak-puncak bangunan. Dapat merusak estetika bangunan dan
biayanya lebih mahal dari Sistem Franklin.
c. Sistem Thomas
Sistem ini berbentuk seperti payung dengan semi-radioaktif. Baik untuk
bangunan tinggi dan besar. Ditempatkan pada tempat tertinggi dengan bentangan
perlindungan cukup besar. Menggunakan elemen penghubung pipa tembaga. Dengan
pengebumian pada tanah berair.

4.5 PROTEKSI KEBAKARAN


4.5.1 BAHAYA API
Kehilangan harta dan jiwa yang diakibatkan oleh tidak terkendalinya api sudah diketahui
banyak orang, dan sudah banyak pula upaya yang dilakukan selama bertahun- tahun untuk
mengetahui bagaimana kebakaran dapat terjadi dan pola penjalaran apinya. Titik api pada bahan
organic terjadi jika ada tiga faktor, yaitu :
Bahan bakar
Oksigen
Panas yang hadir dalam jumlah tertentu

Jika oksigen, panas dan bahan bakar yang ada dapat dikurangi di bawah tingkat
tertentu, maka titik api dapat dicegah. Prinsip ini adalah dasar yang digunakan dalam praktek
pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.
Jika titik api telah timbul, maka penyebaran api ke seluruh bangunan gedung dapat terjadi
melalui tiga mekanisme ; konduksi , konveksi, dan radiasi.
Konduksi
Terjadi jika panas dipindahkan langsung melalui auatu bentuk struktur dari sumber api
yang terdekat, sebagaimana yang terjadi pada pengurangan kekuatan tulangan baja pada
struktur beton bertulang jika suhu meningkat di atas 400C.
Konveksi
S K B B 3 - 146 | 265
Terjadi jika gas / udara panas meningkat di dalam gedung, di mana api dengan mudah
menjalar dari tanah ke lantai di atasnya melalui lubang tangga atau lubang saluran (shaft)
Radiasi
Merupakan penjalaran api menurut garis lurus dari bahan yang terbakar ke bahan yang
terdekat yang mkudah terbakar. Jendela kaca merupakan tempat penjalaran radiasi, juga gedung
yang letakknya berdekatan
Bahaya utama bagi manusia adalah keracunan akibat terhirupnya asap ( non termal ).
Sekitar 75% kematian manusia pada bangunan yang terbakar diakibatkan oleh asap, sedang
sekitar 25% kematian disebabkan oleh panas yanh ditimbulkan oleh api ( termal ). Asap akan
menyebabkan orang sulit melihat dan mengaburkan pertimbangan akan tindakan yang ingin
dilakukan ( binggung ), menghalangi pandangan untuk mencapai jalan ke luar, dan penyebaran
asap ini meliputi wilayah yang cukup luas dan jauh dari sumber api. Hal ini juga dapat
memyebabkan timbulnya kepanikan, terutama bagi orang- orang yang kurang memahami dan
mengenal seluk beluk dan tata letak ruang dalam bangunan, sehingga bukan tidak mungkin
mengakibatkan kecelakaan yang menimbulkan luka yang serius akibat kepanikan yang timbul
karena orang berjejal berlari menuju pintu ke luar. Beberapa jenis asap juga dapat berdampak
pada timbulnya kerusakan pada isi bagunan.
Kemudahan penjalaran api di dalam, dan dari suatu bangunan tertentu, tergantung dari
banyaknya bahan- bahan yang mudah terbakar, kemampuan struktur bangunan untuk dapat
bertahan terhadap api dan lokasi gedung terhadap sumber api. Adapun klasifikasi bangunan
terhadap kemungkinan bahaya kebakaran dapat di kelompokkan menjadi lima, yaitu :
Bahaya kebakaran ringan
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, dan kecepatan menjalarnya
lambat.
Bahaya kebakaran rendah kelompok I
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah, penimbunan
bahan yang mudah terbakar sedang dengan tinggi tidak lebuh dari 2,50 meter
dan apabila terjadi kebajaran melepaskan panas sedang, penjalaran api
sedang.
Bahaya kebakaran sedang kelompok II
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan
bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4,00 meter dan
apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga penjalaran api
sedang. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah bagunan komersial dan
industry yang berisi bahan- bahan yang dapat terbakar.
Bahaya kebakaran sedang kelompok III
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila
terjadi kebakaran, melepaskan panas yang tinggi, sehingga menjalarnya api
cepat.
Bahaya kebakaran berat
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan kebakaran tinggi, apabila terjadi
kebakaran akan melepaskan panas yang tinggi dan penjalaran api yang cepat.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah bangunan komersial dan bangunan
industry yang berisi bahan- bahan yang mudah terbakar, seperti karet busa,
cat, spiritus dan bahan bakar lainnya.
Prinsip dasar pencegahan penjalaran api dimaksudkan untuk memastikan bahwa
kerusakan yang terjadi akibat kebakaran hanya terbatas pada bangunan yang terbakar, dan
dapat dimengerti bahwa kemungkinan yang terburuk adalah kerusakan total struktur bangunan

S K B B 3 - 147 | 265
dan isinya. Sedangkan penjalaran api ke bangunan yang berdekatan, entah akibat radiasi atau
percikan api, tergantung dari lokasinya dan bukaan yang ada pada dinding sebelah luar
Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum nomor 02/KPTS/1985, ketentuan
pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran pada bangunan gedung dibagi dalam
beberapa klasifikasi, klasifikasi bangunan- bangunan menurut ketentuan struktur utamanya
terhadap api, dibagi dalam kelas A, B, C, dan D, yaitu;

Kelas A
Struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang- kurangnya 3 jam.
Bangunan kelas A ini biasanya merupakan bangunan untuk kegiatan umum,
seperti hotel, pertokoan dan pasar raya, perkantoran, rumah sakit, bangunan
industry, tempat hiburan, museum, dan bangunan dengan penggunaan ganda /
campuran.
Kelas B
Struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang- kurangnya 2 jam.
Bangunan- bangunan tersebut meliputi perumahan bertingkat, asrama, sekolah,
dan tempat ibadah.
Kelas C
Bangunan bangunan dengan ketahanan api dari struktur utamanya selama 1
jam biasanya bangunan- bangunan yang tidak bertingkat dan sederhana.
Kelas D
Bangunan- bangunan yang tidak tercakup ke dalam kelas A, B, C dan diatur
tersendiri, seperti instalasi nuklir dan gudang- gudang senjata / mesin.
4.5.2 SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN PASIF
Sistem pencegahan secara pasif bertumpu pada rancangan bangunan yang
memungkinkan orang keluar dari bangunan dengan selamat pada saat terjadi kebakaran atau
kondisi darurat lainnya

a. Konstruksi tahan api


Spesifikasi praktis yang digunakan adalah suatu konstruksi yang
mempunyai tingkat kemampuan untuk bertahan terhadap api. Definisi ini
menyatakan beberapa ketentuan yang terkait pada kemampuan struktur untuk
tahan terhadap api tanpa mengalami perubahan bentuk ( deformasi ) yang
berarti, dan mencegah menjalarnya api ke seluruh bangunan.
Salah satu bahan yang diberi perlindungan terhadap api adalah baja.
Baja adalah bahan yang tidak dapat terbakar (fire proof), namun baja akan
meleleh jika terkena panas yang tinggi (non-fire resistant). Perlindungan tersebut
beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

S K B B 3 - 148 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

b. Pintu keluar
Beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh pintu keluar, di antaranya adalah:
a. Pintu harus tahan terhadap api sekurang- kurangnya dua jam.
b. Pintu harus dilengkapi dengan minimal tiga engsel.
c. Pintu juga harus dilengkapi dengan alat penutup pintu otomatis (door closer).
d. Pintu dilengkapi dengan tuas / tungkai pembuka pintu yang berada di luar
ruang tangga (kecuali tangga yang berada di lantai dasar, berada di dalam
ruang tangga ), dan sebaiknya menggunakan tuas pembuka yang
memudahkan, terutama dalam keadaan panic ( panic bar ).
e. Pintu dilengkapi tanda peringatan : TANGGA DARURAT TUTUP KEMBALI
f. Pintu dapat dilengkapi dengan kaca tahan api dengan luas maksimal 1 2 dan
diletakkan di setengah bagian atas dari daun pintu.
g. Pintu harus dicat dengan warna merah

Sumber: Panduan sistem


bangunan tinggi Jimmy
S. Juwana - 2005

c. Koridor dan jalan keluar


Koridor dan jalur keluar harus dilengkapi dengan tanda yang
menunjukkan arah dan lokasi pintu keluar.Tanda EXIT atau KELUAR dengan
anak panah menunjukkan arah menuju pintu keluar atau tangga
kebakaran/darurat, dan harus di tempatkan pada setiap lokasi di mana pintu keluar
terdekat tidak dapat langsung terlihat.
Tanda EXIT harus dapat dilihat dengan jelas, diberi lampu yang
menyala pada kondisi darurat, dengan kuat cahaya tidak kurang dari 50 lux dan
luas tanda minimum 155 2 serta ketinggian huruf tidak kurang dari 15 cm
(tebal huruf minimal 2 cm).

S K B B 3 - 149 | 265
Sumber: Panduan
sistem bangunan tinggi
Jimmy S. Juwana -
2005

Sumber: Panduan
sistem bangunan tinggi
Jimmy S. Juwana -
2005

d. Kompartemen
Fungsi kompartemen adalah menahan dan membatasi penjalaran api
agar dapat melindungi penghuni atau pengguna bangunan dan barang- barang
dalam bangunan untuk tidak secara langsung bersentuhan dengan sumber api.
Pada bangunan tinggi, di mana mengevakuasi seluruh orang dalam gedung
dengan cepat adalah suatu hal yang mustahil, kompartemen dapat menyediakan
penampungan sementara bagi penghuni atau pengguna bangunan untuk
menunggu sampai api dipadamkan atau jalur menuju pintu keluar sudah aman.

S K B B 3 - 150 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005
e. Tangga darurat
Untuk penghuni pada lantai atas suatu bangunan tinggi tempat yang
aman ketika terjadi kebakaran adalah suatu ruangan di dalam bangunan itu yang
dapat menahan bahaya api dalam jangka waktu tertentu. Dindingnya harus dapat
menahan api sekurang-kurangnya selama 2 jam dan pada pintu darurat selama
1,5jam.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Selain itu dilengkapi pula dengan ruang tangga yang bertekenan


(pressurized stair wall) yang diaktifkan secara otomatis guna mencegah
menjalarnya asap dari lokasi yang terbakar ke dalam ruang tangga melalui
pengisian ruang tangga dengan udara segar bertekanan positif. Namun tekanan
udara tidak boleh terlalu tinggi, karena akan menyebabkan pintu tangga sulit
untuk dibuka.

S K B B 3 - 151 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

f. Pengendalian asap
Ruang yang luas, seperti pusat perbelanjaan, mal, bioskop dan ruang
pertemuan/konvensi, berpeualang untuk menghasilkan timbunan asap dan
panas waktu terjadinya kebakaran. Pada situasi seperti ini, asap dapat menjalar
secara horizontal, menghalangi petugas pemadam kebakaran dan menyebabkan
terjadinya panas lebih awal sebelum api menjalar ke tempat itu. Asap panas
dapat menimbulkan titik api baru dan mengurangi efektivitas system sprinkler.
Untuk mencegah terjadinya penjalaran asap secara horizontal, dalam gedung
perlu dipasang tirai penghalang asap.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 152 | 265
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengendalikan asap sangat
tergantung dari fungsi dan luas bangunan, diantaranya :
- Jendela, pintu, dinding/partisi dan lain-lain yang dapat dibuka
sebanding dengan 10% luas lantai.
- Saluran ventilasi udara yang merupakan sistem pengendalian asap
otomatis, berupa peralatan seperti exhaust fan atau blower.
- Ventilasi di atap gedung dapat secara permanen terbuka atau dibuka
dengan alat bantu tertentu maupun secara otomatis.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Selain itu pada tahun 1982 muncul persyaratan bagi atrium yang perlu
diperhatikan, yaitu :
a. Pintu keluar berada pada sekeliling atrium harus menggunakan pintu
tahan api.
b. Bangunan dengan fungsi hotel, apartemen dan asrama hanya boleh
mempunyai atrium maksimal 110 m2 dan dilengkapi dengan pintu
keluar yang tidak menuju atrium.
c. Adanya pemisahan vertical, sehingga lubang atrium maksimal
terbuka setinggi tiga lantai.
d. Pemisahan vertical berlaku pula bagi ruang pertemuan dengan
kapasitas 300 orang atau lebih dan perkantoran yang berada di
bawah apartemen, hotel, atau asrama.
e. Mesanin dibuat dengan bahan tahan api sekurang-kurangnya dua
jam.
f. Ruangan bersebelahan dengan mesanin dibuat dengan bahan tahan
api sekurang-kurangnya satu jam.
g. Jarak dari lantai dasar ke lantai mesanin sekurang-kurangnya 2,2
meter.
h. Mesanin tidak boleh terdiri dari dua lantai.
i. 10% dari luas mesanin dapat ditutup (misalnya untuk kamar kecil,
ruang utilitas dan kompartemen).
j. Ruang mesanin yang tertutup harus mempunyai dua pintu keluar.
S K B B 3 - 153 | 265
k. Jarak tempuh antar pintu keluar maksimum adalah 35 meter.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.5.3 SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN AKTIF


Tinggi bangunan merupakan faktor utama dalam penaggulangan bahaya
kebakaran. Di beberapa negara maju, bangunan yang mempunyai ketinggaian maksimum 25
meter dapat dengan mudah dipadamkan dari luar dengan menggunakan tangga dan selang
penyemprot yang dibawa oleh petugas pemadam kebakaran. Maka dari itu, untuk gedung lebih
dari 25 meter perlu adanya usaha lain untuk memdamkan api diantaranya adalah di bawah ini.
a. Alat pengeinderaan/peringatan dini (detektor)
Detektor asap dan panas akan memberikan peringatan dini dan
memberikan banyak manfaat pada bangunan kerena biasanya evakuasi orang
keluar gedung membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Detektor ini akan memberikan peringatan jika terjadi kebocoran gas
pada tingkat tertentu, sebelum terjadinya kebakaran. Detektor asap merupakan alat
yang diaktifkan oleh fotoelektrik/fotoelektronik atau sel ion sebagai sensornya,
sedang detector panas terdiri dari sebuah elemen yang sensitive terhadap
perubahan suhu dalam ruanga, yang diaktifkan oleh sirkuit elektonik. Selanjutnya,
detector ini dihubungkan dengan alarm dan juga papan indicator untuk mengetahui
lokasi sumber api.
S K B B 3 - 154 | 265
b. Hidran dan selang kebakaran
Berdasarkan peletakkannya hidran dibagi atas :
- Hidran bangunan (kotak hidran/box hydrant)
Hidran perlu ditempatkan pada jarak 35 meter satu dengan
lainnya, karena panjang selang kebakaran dalam kotak hidran adalah 30
meter, ditambah sekitar 5 meter jarak semprotan air. Pada atap
bangunan yang tingginya lebih dari 8 lantai, perlu juga disediakan hidran
untuk mencegah menjalarnya api ke bangunan yang bersebelahan

Sumber: Panduan sistem


bangunan tinggi Jimmy
S. Juwana - 2005

Sebaiknya hidran diletakan di tempat yang mudah terjangkau dan


relative aman. Pada umumnya diletakkan di dekat pintu darurat.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

- Hidran halaman (Pole hydrant)


Diletakkan di luar bangunan pada lokasi yang aman dari api dan
penyaluran pasokan air ke dalam bangunan disalurkan melalui katup
Siamese.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 155 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

- Hidran kota (Fire hydrant)


Berbentuk sama dengan hidran halaman, hanya saja mempunyai
dua atau tiga lubang untuk selang kebakaran.
Beberapa persyaratan teknis untuk hidran kebakaran adalah sebagai
berikut :
1. Sumber persedian air untuk hidran harus diperhitungkan minimum untuk
pemakaian selama 30 menit.
2. Pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran listrik
tersendiri dan sumber daya listrik darurat.
3. Selang kebakaran dengan diameter minimum 1,5 inci (3,8 cm.) harus terbuat
dari bahan yang tahan panas, dengan panjang maksimum 30 meter.
4. Harus disediakan kopling penyambung yang sama dengan kopling dari
Barisan/Unit Pemadaman Kebakaran.
5. Semua peralatan hidran harus dicat dengan warna merah.
c. Sprinkler
Pada sebagian besar bangunan tinggi, sprinkler ini memberikan reaksi
(response) yang cepat pada saat terjadinya api dan memberikan waktu yang cukup
bgi penghuni/pengguna bangunan untuk proses evakuasi.

Sumber: Panduan sistem


bangunan tinggi Jimmy
S. Juwana - 2005

Sprinkler dipasang pada jarar tertentu dan dihubungkan dengan jaringan


pipa air bertekanan tinggi (minimum 0,5 kg/m2 ). Kepala sprinkler dirancang untuk
berfungsi jika panas telah mencapai suhu tertentu (Gambar 7.20). Umumnya sprinkler
dirancang untuk suhu 68 C dan air akan memancar pada radius sekitar 3,50 meter.

Berikut klasifikasi bangunan yang memerlukan sprinkler

S K B B 3 - 156 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Pada sprinkler jenis tabung dan segel dapat diklasifikasikan


berdasarkan warna seperti table yang ada di bawah ini.

Sprinkler tabung

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Sprinkler segel

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

d. Pasokan air
Pada kota besar air mudah didapatkan dari pipa air di jalan-jalan umum,
namun pada daerah pinggiran perlu adanya tempat penyimpanan air tertentu
(reservoir). Jika memungkinkan, suatu tangki penyimpanan air dapat difungsikan
ganda. Selain sebagai kebuthuan sehari-hari juga difungsikan sebagai pemadam
api.

S K B B 3 - 157 | 265
Beberapa yang perlu diperhatikan dalam pasokan air tersebut adalah :
- Tangki air
Untuk bangunan tinggi, diperlukan tangki air di atas bangunan
untuk menyediakann air dengan tekanan tinggi yang dibutuhkan
untuk penyemprotan melalui hidran di bawahnya setidak untuk 30
menit (awal terjadinya api). Tangki dengan kapasitas 25 3 cukup
untuk memasok kebutuhan dua hidran yang beroperasi selama
sekitar 30 menit.

- Tekanan air
Pada umumnya tekanan air tidak cukup kuat untuk hidran/selang
kebakaran yang ditempatkan pada ketinggian lebih dari 14 meter
dari permukaan tanah. Selebihnya diperlukan pompa tekan (booster
pump) atau tangki air di atas bangunan untuk bangunan dengan
ketinggian kurang 25 meter.
Untuk efektivitas pengoperasian, tekanan hidran harus dapat
menjangkau ketinggian antara 26-66 meter (0,5 kg/2 ).
Bangunan dengan tinggi lebih dari 14 meter, perlu ditempatkan
penghubung hidran (Siamese) di luar bangunan, agar ditingkatkan
tekanannya oleh petugas pemadam kebakaran melalui alat yang ada
di mobil pemadam kebakaran.

4.6 TRANSPORTASI VERTIKAL


Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang
nyaman untuk aktifitas perpindahan orang dan barang secara VERTIKAL. Sarana angkut vertikal
yang bekerja secara mekanik elektrik adalah :

Elevator (Lift).
Eskalator
Travelator / Moving walk

Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga
manusia dan binatang merupakan tenaga penggerak. Pada tahun 1850 telah diperkenalkan
elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak baru dalam sejarah elevator yaitu penemuan
elevator yang aman pertama di Dunia oleh Elisha Graves Otis

4.6.1 Elevator (lift)

Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857.
Setelah meninggalnya Otis pada tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton
mengembangkan warisan yang ditinggalkan oleh Otis dengan membentuk Otis Brothers
& Co., pada tahun 1867.

Pada tahun 1873 lebih dari 2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-
gedung perkantoran, hotel, dan department store di seluruh Amerika, dan lima tahun
kemudian dipasanglah elevator penumpang hidrolik Otis yang pertama.Berikutnya adalah
era Pencakar Langit.

S K B B 3 - 158 | 265
Gambar 5.12 Potongan Lift

Sumber : http://www.alizo.co.id/produk/machine.html

Gambar 28. Lift dengan Motor Traksi Gambar 29. Lift hidrolik

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Cara kerja elevator

Pada sistem geared atau gearless (yang masing-masing digunakan pada


instalasi gedung dengan ketinggian menengah dan tinggi), kereta elevator
tergantung di ruang luncur oleh beberapa steel hoist ropes, biasanya dua puli
katrol, dan sebuah bobot pengimbang (counterweight). Bobot kereta dan
counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara puli katrol dan hoist
ropes sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan bergerak serta
menahan kereta tanpa selip berlebihan. Kereta dan counterweight bergerak
sepanjang rel yang vertikal agar mereka tidak berayun-ayun.

S K B B 3 - 159 | 265
Mesin Lift Gearless
Sumber : https://elevatorescalator.wordpress.com

Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya


tepat di atas ruang luncur kereta. Untuk memasok listrik ke kereta dan menerima
sinyal listrik dari kereta ini, dipergunakan sebuah kabel listrik multi-wire untuk
menghubungkan ruang mesin dengan kereta. Ujung kabel yang terikat pada
kereta turut bergerak dengan kereta sehingga disebut sebagai kabel bergerak
(traveling cable).

Jalur Lift (Hoistway) dan ruang mesin di atasnya

Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan lebih tinggi dan drive
sheave dihubungkan dengan poros motor melalui gigi-gigi di kotak gigi, yang dapat
mengurangi kecepatan rotasi poros motor menjadi kecepatan drive-sheave
rendah. Mesin gearless memiliki motor kecepatan rendah dan puli katrol
penggerak dihubungkan langsung ke poros motor.

S K B B 3 - 160 | 265
Sistem pergerakan Elevator/Lift dengan Gearless
Sumber : http://arsitekistn.blogspot.co.id/

Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah,


dengan kecepatan kereta menengah), kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston
panjang yang bergerak naik dan turun di dalam sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat
oli dipompa ke dalam silinder dari tangki oli, sehingga mendorong piston naik. Kereta turun
saat oli kembali ke tangki oli.

Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau


roped (piston terikat ke kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut, pekerjaan
pengangkatan yang dilakukan oleh pompa motor (energi kinetik) untuk mengangkat
kereta ke elevasi yang lebih tinggi sehingga membuat kereta mampu melakukan
pekerjaan (energi potensial). Transfer energi ini terjadi setiap kali kereta diangkat. Ketika
kereta diturunkan, energi potensial digunakan habis dan siklus energi menjadi lengkap
sudah. Gerakan naik dan turun kereta elevator dikendalikan oleh katup hidrolik.
Tata letak elevator
Ruang luncur lift ditentukan dari jumlah dan konfigurasi tata letak lift
dengan jumlah maksimal empat buah dalam satu deretan
Berikut adalah beberapa contoh perencanaan letak ruang lift.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005


S K B B 3 - 161 | 265
Ruang luncur lift
Walau lift mempunyai berbagai macam produsen namun acuan
dimensi ruang lift dapat dijabarkan sebagai berikut.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005


Ruang mesin lift
Ruang mesin perlu disediakan sebagai tempat motor penggerak.
Ditempatkan di atas ruang lift, serta perlu ditambah dengan pit di dasar
ruang luncur untuk menahan mendaratnya lift di lantai dasar

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 162 | 265
4.6.2 Eskalator
Pada tahun 1899, Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co.,
yang mana dari dia timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata
scala, yang dalam bahasa Latin berarti langkah-langkah (step), dengan elevator).

Cara kerja escalator

Pendaratan/Landing

Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan
ke ruang mesin yang berada di bawah floor plates.

Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak.
Comb plate ini sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah
anak tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah permukaan cleat.

Landasan penopang/Truss

Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara


pendaratan bawah dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak
berongga yang terbuat dari bagian-bagian bersisi dua yang digabungkan bersama
dengan menggunakan sambungan bersilang sepanjang bagian dasar dan tepat
dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada penopang beton atau
baja.

Linstasan

Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan


rantai anak tangga, yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat
dua lintasan: satu untuk bagian muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak
tangga) dan satu untuk roda trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda
trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak
tangga muncul dari bawah comb plate untuk membentuk tangga dan menghilang
kembali ke dalam landasan penopang.

S K B B 3 - 163 | 265
Sistem pergerakan eskalator

Lintasan pembalikan di pendaratan atas menggulung anak tangga-anak


tangga mengelilingi bagian ujung dan kemudian menggerakkannya kembali ke arah
yang berbeda. Lintasan overhead berfungsi untuk memastikan bahwa roda trailer
tetap berada di tempatnya saat rantai anak tangga diputar kembali.

S K B B 3 - 164 | 265
Anak tangga (individual steps) dari Eskalator

Dimensi eskalator

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

2.6.3 Moving walk


Moving Walkway adalah alat angkut perpindahan orang dan barang dari
satu tempat ke tempat lain pada satu lantai atau pada lantai yang berbeda level
dan bergerak sesuai dengan prinsip pergerakan pada eskalator. Dengan
demikian, konveyor ini adalah pengembangan ide dari eskalator dan bisa
dipasang pada posisi mendatar (horisontal) ataupun miring (inclined) dengan
kemiringan 10 20 derajat.

S K B B 3 - 165 | 265
Kegunaan dari alat transportasi ini adalah berfungsi untuk
membawa barang-barang bawaan yang diletakkan di dalam kereta dorong
(trolley) naik atau turun dari lantai satu ke lantai lain. Biasanya terdapat di
supermarket, mal, stasiun kereta ekspress, dll.

Bila dipasang secara mendatar pada satu lantai, berfungsi untuk


meringankan beban dari orang yang berjalan dengan membawa barang
dan menempuh jarak yang relatif jauh. Misalnya pada terminal di bandara
internasional yang luas, musium, kebun binatang, atau aquarium (water
world)

Contoh gambar konveyor Moving Walkway

S K B B 3 - 166 | 265
Konstruksi perletakan Moving Walkway pada lantai gedung

4.7 JARINGAN TELEKOMUNIKASI


Jaringan telekomunikasi dapat dikategorikan sebagai jaringan telepon dan
untuk keperluan tata suara sebagai background music serta announcing system.

4.7.1 Jaringan telepon


Penentuan jumlah telepon pada suatu bangunan pada umumnya tidak
diketahui secara tepat dan oleh karena itu perlu direncang secara terpadu
dengan peranganan jaringan utilitas lainnya.
Untuk maksud ini, maka perancangan jumlah saluran didasarkan pada
prakiraan per satuan luas lantai yang akan mempengaruhi alokasi kebutuhan
ruang untuk kebutuhan :
1. Layanan penerimaan telepon, berikut panel utama telepon
2. Saluran vertical (riser), pipa saluran, dan panel distribusi
3. Lemari untuk perlengkapan telekomunikasi
4. Lokasi tempat penambahan sambungan
5. Ruang peralatan untuk perlengkapan khusus telekomunikasi
6. Sistem distribusi, termasuk pipa jaringan, kota sambungan di lantai,dll.
Sistem telepon
Untuk dapat berfungsinya sistem telekomunikasi di dalam
bangunan, diperlukan saluran telepon dari Telkom.
Sistem dalam bangunan terdiri dari :
- Saluran Telkom
- PABX (private automatic distribution exchange)
S K B B 3 - 167 | 265
- MDF (main distribution frame)
- DC (distribution cable)
- JB (junction box)
- Telepon
Bagan jaringan telepon adalah sebagai berikut

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.7.2 Jaringan tata suara


Jaringan ini biasa diintegrasikan dengan sistem keamanan, sistem tanda
bahaya, dan sebagai media pemberitahuan. Sistem tanda bahaya
digunakan untuk pemberitahuan akan adanya kondisi darurat seperti
kebakaran. Sedangkan untuk media pemberitahuan sistem tata suara

S K B B 3 - 168 | 265
dipasang berada di derah lobby, koridor, arena parker, dan ruang
administritasi.

Bagan sistem tata suara

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 169 | 265
4.8 KELISTRIKAN
4.8.1 Dasar instalasi listrik
Listrik dihantarkan oleh kabel yang berfungsi sebagai konduktor. Kabel yang
digunakan beragam jenisnya dan ukurannya, biasanya disesuaikan dengan penggunaan
dan tingkat tegangan yang perlu dihantarkan
Beberapa jenis adalah sebagai berikut

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 170 | 265
Struktur perletakan Moving Walkway pada lantai gedung
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Distribusi listrik dari pemasok


Sumber listrik pada umumnya didistribusikan dari Pembangkit Tenaga
Listrik melalui kabel tengan tinggi (TT, di atas 20.000 volt). Lalu disalurkan
dengan penurunan voltase menjadi tegangan menengah (TM, antara 1.000-
20.000 volt). Kemudian tengan rendah (TR, dibawah 1.000 volt) oleh
transformator yang ditempatkan pada gardu-gardu listrik.

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 171 | 265
Distribusi listrik dalam bangunan
Untuk penyaluran di dalam bangunan dapat diletakan pada :
- Pelat lantai

- Ruang plafon
Biasanya kabel diletakkan pad arak kabel
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 172 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

- Di dalam dinding
Kabel dimasukkan dalam saluran kabehl yang terdiri dari
empat jenis material pembuatnya, yaitu :
- logam
- aluminium
- logam fleksibel
- bukan logam
Dengan selanjutnya pada material yang terbuat dari logam
dibedakan menjadi :
- pipa galvanis (hot-dip galvanized)
- pipa berlapis enamel (enameled)
- pipa berlapis seng (sheranized)
- pipa berlapis plastic (plastic-covered)
Sedangkan untuk pipa yang bukan loga, terbagi atas :
- pipa plastic PVC (Polyvinyl chloride)
- pipa HDPE (high-density polyethylene)
- pipa asbes semen

S K B B 3 - 173 | 265
Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

4.8.2 Jaringan kabel listrik


Berikur adalah bagan instalasi jaringan listrik yang berasal dari PLN
maupun dari pembangkit cadangan berupa generator set (genset).

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 174 | 265
Pada panel distribusi daya listrik, umumnya dibagi atas :
- Daya listrik untuk stop kontak
- Daya listrik untuk penerangan
- Daya listrik untuk perlengkapan/peralatan bangunan
(pemanasan air, lemari es, mesin fotokopi,dsb.)

Sumber: Panduan sistem bangunan tinggi Jimmy S. Juwana - 2005

S K B B 3 - 175 | 265
BAB 5
PRESEDEN SISTEM STRUKTUR
5.1 HOTEL MERAPI MERBABU
5.1.1 SISTEM STRUKTUR KESELURUHAN

Gambar 4.1 Denah Lantai 1

Gambar 4.2 Denah Lantai 2

S K B B 3 - 176 | 265
Gambar 4.3 Denah Lantai 3

Gambar 4.4 Denah Lantai 4

Dari denah terlihat sistem struktur yang digunakan yaitu struktur rigid (kaku)
ditandai dengan penggunaan kolom-kolom sebagai struktur.
KELEBIHAN :
- Struktur pasti (dapat diperhitungan/simulasikan beban, faktor lain misalkan
angin, gempa)
KEKURANGAN
- Bentuk menjadi masif. Tatanan ruang dalam menjadi permanen sehingga tidak
bisa diubah (bentuk menjadi mutlak)

S K B B 3 - 177 | 265
5.1.2 CORE

Gambar 4.5 Denah Lantai 1 (Core)

Dari denah terlihat core tunggal, terletak didalam bangunan dan dengan
bentuk asimetris.
KELEBIHAN :
- Kekuatan horizontal terhadap angin atau gempa
- Kekuatan vertikal terhadap gaya gravitasi
- Ruangan penunjang bangunan

5.1.3 PONDASI

Gambar 4.6 Denah Semi Basement (Pondasi)

S K B B 3 - 178 | 265
Dari denah terlihat pondasi yang dipakai pondasi tiang pancang, digunakan bila
tanah bagian atas lunak atau lapisan tanah keras terletak jauh didalam.
KELEBIHAN :
- Memberi kekuatan pada struktur diatasnya yang ditopang
KEKURANGAN
- Biaya mahal

5.1.4 KOLOM & BALOK

Gambar 4.7 Denah Lantai 1 (Kolom Balok)


Karena struktur yang digunakan adalah rigid (kaku) maka sistem kolom balok
menerus dari bawah ke atas (tipikal).
KELEBIHAN :
- Memberi keseimbangan struktur

S K B B 3 - 179 | 265
5.1.5 DINDING & LUBANG BUKAAN

Gambar 4.8 Denah Semi Basement (Dinding & Lubang Bukaan)

Dinding pada semi basement menggunakan pasangan dinding batu kali.


KELEBIHAN :
- Memberi kekuatan pada struktur diatasnya yang ditopang
KEKURANGAN
- Biaya mahal
Tidak terdapat bukaan mutlak pada semi basement.

S K B B 3 - 180 | 265
Gambar 4.8 Denah Semi Basement (Dinding & Lubang Bukaan)

Dinding pada lantai tipikal menggunakan pasangan dinding batu bata.


KELEBIHAN :
- Efektif & efisien dalam pemasangan dan biaya
Tidak beberapa bukaan yang sifatnya sebagai partisi dan media masuknya
cahaya alami.

S K B B 3 - 181 | 265
5.1.6 LANTAI

Gambar 4.9 Denah Lantai 1 (Lantai)

Dari denah terlihat jenis / type lantai yang digunakan yaitu lantai penuh, artinya
lantai typikal dalam keadaan lantai tertutup / utuh.

5.1.7 PLAFON

Gambar 4.10 Denah Lantai 3 (Plafon)


Tinggi dari lantai ke plafon 2,4m dengan material gypsum rangka sungkai.

S K B B 3 - 182 | 265
5.1.8 ATAP
Atap datar umumnya dubuat dari beton bertulang kedap air, yaitu dibuat dari
campuran 1 semen : 1 pasir : 2 keriil + air, diberi tulangan rangkap atas
bawah. Tulangan atas berfungsi sebagai tulangan susut untuk mencegah retak-
retak pada permukaan beton akibat terkena panas matahari, sedang tulangan
bawah berfungsi sebagai tulangan konstruksi untuk menahan lenturan.
KELEBIHAN :

- Di atasnya dapat dipakai untuk ruangan serba guna, seperti gudang,


tempat jemuran, ruang mesin, tempat bak air

- Konstruksi atap yang menjadi satu dengan rangka portalnya, menambah


sifat kaku dari bangunan, sehingga lebih tahan terhadap gaya
horizontal, oleh angin atau gempa

- Karena tahan api, maka dapat mecegah menjalarnya api yang dating dari
arh atas ke dalam ruangan di bawahnya

Gambar 4.11 Tampak Barat

S K B B 3 - 183 | 265
Gambar 4.12 Tampak Selatan

Gambar 4.13 Tampak Timur

S K B B 3 - 184 | 265
Gambar 4.14 Tampak Timur

5.2 FAROE ISLANDS EDUCATION CENTER


5.2.1 SISTEM STRUKTUR KESELURUHAN

Gambar 5.1 Denah Lantai 1

S K B B 3 - 185 | 265
Gambar 5.2 Denah Lantai 2

Gambar 5.3 Denah Lantai 3

S K B B 3 - 186 | 265
Gambar 5.4 Denah Lantai 4

Dari denah terlihat sistem struktur yang digunakan yaitu struktur rigid (kaku) dan
Cantilever slab ditandai dengan penggunaan kolom-kolom sebagai struktur.
KELEBIHAN :
- Struktur pasti (dapat diperhitungan/simulasikan beban, faktor lain misalkan
angin, gempa)
- Karena bobotnya yang ringan maka dibandingkan kayu, beban yang harus
ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah.

KEKURANGAN
- Bentuk menjadi masif. Tatanan ruang dalam menjadi permanen sehingga tidak
bisa diubah (bentuk menjadi mutlak)
- Karena strukturnya yang seperti jaring ini maka bila ada salah satu bagian
struktur yang salah hitung ia akan menyeret bagian lainnya.

S K B B 3 - 187 | 265
5.2.2 CANTILEVER & CORE

Gambar 4.5 Denah Lantai 4 (Core)

Dari denah terlihat cantilever dan core, terletak didalam lingkaran.


KELEBIHAN :
- Kekuatan horizontal terhadap angin atau gempa
- Kekuatan vertikal terhadap gaya gravitasi
- Ruangan penunjang bangunan
- memungkinkan ruang bebas kolom

S K B B 3 - 188 | 265
5.2.3 PONDASI

Gambar 4.6 Denah Lantai 2 (Pondasi)

Dari denah terlihat pondasi yang dipakai pondasi tiang pancang, digunakan bila
tanah bagian atas lunak atau lapisan tanah keras terletak jauh didalam.
KELEBIHAN :
- Memberi kekuatan pada struktur diatasnya yang ditopang
KEKURANGAN
- Biaya mahal

S K B B 3 - 189 | 265
5.2.4 KOLOM & BALOK

Gambar 4.7 Denah Lantai 1 (Kolom Balok)


Karena struktur yang digunakan adalah rigid (kaku) maka sistem kolom balok
menerus dari bawah ke atas (tipikal).
KELEBIHAN :
- Memberi keseimbangan struktur

S K B B 3 - 190 | 265
5.2.5 DINDING & LUBANG BUKAAN

Gambar 4.8 Potongan (Dinding & Lubang Bukaan)

Dinding pada Potongan menggunakan Inti dan dinding pendukung fasade


KELEBIHAN :
- konsep dinding pendukung cukup ekonomis pada bangunan tinggi berorde
sedang

S K B B 3 - 191 | 265
5.2.6 LANTAI

Gambar 4.9 Denah Lantai 1 (Lantai)

Dari denah,Lantai mengunakan dek lantai komposit


5.2.7 PLAFON

Gambar 4.10 Denah Lantai 4 (Plafon)


Material plafon menggunakan alumunium

S K B B 3 - 192 | 265
5.2.8 ATAP
Pada Potongan terlihat atap yang menunggunakan sistem truss
KELEBIHAN :
-arena bobotnya yang ringan maka dibandingkan kayu, beban yang harus
ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah.
-Baja ringan bersifat tidak membesarkan api (non-combustible).
-Konsumen tidak perlu kuatir baja ringan dimakan rayap.
-Pemasangannya relatif sangat cepat apabila dibandingkan rangka kayu.
-Baja ringan nyaris tidak memiliki nilai muai dan susut.

S K B B 3 - 193 | 265
5.3 The Alpha / Tony Owen Partners

Architects
Tony Owen Partners
Location
McGill Street, Lewisham NSW 2049, Australia
Area
6553.0 sqm
Project Year
2015
Photographs
Steve Back

S K B B 3 - 194 | 265
5.3.1 SISTEM STRUKTUR KESELURUHAN

Gb. Floor Plan Level 1


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

Gb. Floor Plan Level 3

S K B B 3 - 195 | 265
Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

The Alpha merupakan struktur rangka core center irregular dengan bentuk bangunan
segitiga dan memiliki pengaku pada tengah bangunan.
Bangunan tinggi yang mempunyai struktur ini, dibuat dengan salah satu pertimbangan
adalah fleksibilitas untuk pengaturan posisi (tataletak) yang akan memberikan
penghematan dan efisiensi maksimum pada bangunan secara keseluruhan.
Pada sistim core (inti) sebagai pengaku bangunan secara keseluruhan, dimana gaya-
gaya lateral yang bekerja disalurkan oleh balok-balok menuju ke core/inti sebagai elemen
struktur utama.
Sistem struktur core wall ini didesain untuk dapat menahan gaya torsi yang timbul akibat
tekanan angin yang eksentrisitas dan seragam pada pusat geser struktur core wall.
Struktur core wall pada dasarnya adalah system struktur yang dibuat untuk mampu
menahan gaya-gaya lateral yang timbul akibat gaya angin atau gempa yang
merupakan beban dinamis.

5.3.2 CORE

Gb. Floor Plan Level 1


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners
Dari denah terlihat core center irregular dari bentuk susnan ruang dan core berada ditengah
bangunan.
KELEBIHAN :
- Kekuatan horizontal terhadap angin atau gempa

S K B B 3 - 196 | 265
- Kekuatan vertikal terhadap gaya gravitasi
- Ruangan penunjang bangunan

5.3.3 PONDASI

Gb. Section of The Alpha


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

Gb. Floor Plan Level


S K B B 3 - 197 | 265
Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

Dari denah terlihat pondasi yang dipakai pondasi tiang pancang, digunakan bila
tanah bagian atas lunak atau lapisan tanah keras terletak jauh didalam.
KELEBIHAN :
- Memberi kekuatan pada struktur diatasnya yang ditopang

KEKURANGAN
- Biaya mahal

5.3.4 KOLOM DAN BALOK

Karena struktur yang digunakan adalah rigid (kaku) maka sistem kolom balok
menerus dari bawah ke atas (tipikal).
KELEBIHAN :
- Memberi keseimbangan struktur

S K B B 3 - 198 | 265
5.3.5 DINDING DAN LUBANG BUKAAN

Gb. West Elevatiom

Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

S K B B 3 - 199 | 265
Gb. South Elevation
Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners
Dinding dan bukaan yang ada memberi kesan sangat mewah dengan adanya hexagonal dan
memberikan kesan cahaya yang berbeda ke dalam ruang.
KELEBIHAN:
Memberi cahaya yang berbeda ke dalam ruang
KEKURANGAN :
Biaya mahal

S K B B 3 - 200 | 265
5.3.6 LANTAI

Gb. Floor Plan Level 1


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

Dari denah terlihat jenis / type lantai yang digunakan yaitu lantai penuh, artinya
lantai typikal dalam keadaan lantai tertutup / utuh.
5.3.7 ATAP

Gb. Section of The Alpha


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

S K B B 3 - 201 | 265
Atap yang digunakan pada bangunan ini adalah atap datar umumnya dubuat dari beton
bertulang kedap air, yaitu dibuat dari campuran 1 semen : 1 pasir : 2 keriil + air,
diberi tulangan rangkap atas bawah. Dan digunakan sebagai roof top. Tulangan atas
berfungsi sebagai tulangan susut untuk mencegah retak-retak pada permukaan beton
akibat terkena panas matahari, sedang tulangan bawah berfungsi sebagai tulangan
konstruksi untuk menahan lenturan.
KELEBIHAN :

- Di atasnya dapat dipakai untuk ruangan serba guna, seperti gudang, tempat
jemuran, ruang mesin, tempat bak air

- Konstruksi atap yang menjadi satu dengan rangka portalnya, menambah sifat
kaku dari bangunan, sehingga lebih tahan terhadap gaya horizontal, oleh
angin atau gempa

- Karena tahan api, maka dapat mecegah menjalarnya api yang dating dari arh
atas ke dalam ruangan di bawahnya

5.3.8 DETAIL

Gb. Detail A yang digunakan


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

S K B B 3 - 202 | 265
Gb. Detail B yang digunakan
Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners
Lebih memperjelas lagi untuk gambaran bagian hexagon pada fasad bangunan The Alpha. Dan
penerangan mengenai joint dalam setiap hexagon.

Gb. East View


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

S K B B 3 - 203 | 265
Gb. Nourt View
Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

Gb. Nourt-West View


Sumber : http://www.archdaily.com/639376/the-alpha-tony-owen-partners

S K B B 3 - 204 | 265
BAB 6
STUDI PRESEDEN UTILITAS
HOTEL NEO+ AWANANA

Bangunan ini adalah bangunan yang berfungsi sebagai hotel


Deskripsi hotel :
Nama bangunan : Hotel NEO+ Awanana
Lokasi : Jl. Mayjen Sutoyo No.52, Yogyakarta, DIY
Luas bangunan : 13.755,9 m
Tinggi bangunan : 30 m (dari permukaan tanah)
Jumlah lantai bangunan : 10 lantai (1 lantai basement, 1 lantai ground, dan 8
lantai tipikal )
Fungsi : Hotel

S K B B 3 - 205 | 265
6.1 SISTEM AIR BERSIH
Bangunan ini menggunakan sistem pendistrisbusian down-feed system.

Uppertank

pompa

Ground
tank

Hotel ini menggunakan sistem Down Feed. Cara kerja sistem ini adalah air dari
ground tank dipompa ke atas lalu ditampung di water tower, dari water tower tersebut
didrisbusikan pada masing-masing pengguna menggunakan cara gravity flow.
Sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, yaitu :
Kelebihan:
- Pompa tidak bekerja terus menerus
- Awet
- Air bersih selalu tersedia
Kekurangan:
- Adanya biaya tambahan untuk pengadaan tangki tambahan
- Menambah beban pada struktur bangunan
- Adanya biaya pemeliharaan

S K B B 3 - 206 | 265
Daerah yang memerlukan pendistribusian air bersih, yaitu :
- Kamar mandi di kamar pengunjung hotel
- Hidran
- Sprinkler
- Dapur
- Restoran hotel
- Toilet umum
- Kamar mandi pada setiap meeting room
- Pool area
- Kantor karyawan

Bagian-bagian jaringan air bersih


1. Tangki
Menggunakan dua buah tangki, yaitu GWT dan Roof Tank.
Roof Tank mempunyai volume 32m dan terletak di lantai paling
atas bangunan.

Rooftank

GWT mempunyai volume 250 x 2m. Menggunakan filter dalam


300liter/menit. Terletak di bawah permukaan tanah

2. Pemanas
Menggunakan water heater yang terletak di dalam shaft. Untuk setiap 1
unit water heater digunakan oleh 2 kamar.

3. Pipa pendistribusian
Mempunyai diameter 2 inchi. Pipa air bersih, hidran, dan sprinkler terletak
pada tiap shaft yang berada di sisi-sisi koridor. Setiap shaft melayani dua
buah kamar. Shaft yang berdekatan dengan posisi hidran terdapat 2 buah.

S K B B 3 - 207 | 265
Keterangan:
Merah : hidran
Hijau : air panas-dingin

Shaft

Keterangan:

Biru : menuju lantai 7 sampai paling atas

Hijau : menuju lantai basement sampai lantai 6

Distribusi pipa roof tank

4. Pompa
Semua pompa terletak di lantai basement.

Pompa di basement

Jenis pompa yang digunakan oleh hotel ini adalah :

1. Pompa sumur dalam


Tujuan : Suplai GWT
Kapasitas : 12,5m/jam
Total head: 105
Daya : 7,5 kW
Jumlah : 1 unit

S K B B 3 - 208 | 265
2. PAB
Tujuan : Suplai roof tank
Kapasitas : 15m/jam
Total head: 60
Daya : 5 kW
Jumah : 1 unit

3. Pompa kuras GWT

Tujuan : Kurasan GWT


Kapasistas : 30liter/menit
Total head : 10
Daya : 250 kW/fase
Jumlah : 1 unit

5. Area perawatan (maintenance)


Ruang perawatan berada di area roof tank dan basement. Dilakukan
dengan cara melakukan uji kelayakan setiap 1 bulan sekali.
Selain itu juga terdapat bukaan pada tiap shaft untuk mengontrol pipa
pendistribusian yang terdapat pada sisi koridor tiap lantai.

Bukaan pada shaft

Perhitungan kebutuhan air bersih


Hidran
Total kebutuhan = jumlah hidran x 200 galon x 60 menit x 3,8
= 16 x 200 galon x 60 menit x 3,8
= 729.600 liter
Hidran halaman
Total kebutuhan = jumlah hidran halaman x 250 galon x 60
menit x 3,8
= 1 x 250 galon x 60 menit x 3,8
= 57.000 liter

Sprinkler
Total kebutuhan = jumlah titik sprinkler x 2,25 x 60 menit x 3,8
= 1110 x 2,25 x 60 menit x 3,8
= 569.430 liter

S K B B 3 - 209 | 265
Kebutuhan AC
Air sirculation (V sirkulasi)= 10 liter/menit/TR
Air pendingin (V pendingin)= 2%
Kebutuhan AC = V sirkulasi x V pendingin
= 10 liter/menit/TR x 2%
= 20 liter
20 x jumlah AC = 20 x 296 kamar
= 5920 liter

Volume air pada tangki


Jumlah keseluruhan kamar = 296
Standar kebutuhan air dingin bagi hotel dengan kamar mandi untuk 2
orang = 227 liter
Jumlah air dingin yang dibutuhkan
= jumlah kamar x standar air kebutuhan
= 296 x 227
= 67.192 liter

Kebutuhan air panas


= 1/3 x air dingin
= 22.397,333
=22.397 liter

Total kebutuhan air bersih


= kebutuhan air bersih + kebutuhan air panas + kebutuhan AC +
kebutuhan hidran + kebutuhan sprinkler
= 67.192 + 22.397 + 5.920 + 1.356.030
= 1.166.824 liter

Volume roof tank


= 15% x volume total (tidak termasuk AC, Hidran, dan sprinkler karena
memiliki pompanya tersendiri)
= 15% x 89.589 liter
= 13.438,35 liter

S K B B 3 - 210 | 265
Analisis
Volume roof tank
Tersedia di Hotel : 32m=32.000 liter
Standar yang harus dipenuhi : 13.438,35 liter
KESIMPULAN : memenuhi

S K B B 3 - 211 | 265
SKEMATIK DISTRIBUSI AIR BERSIH

KETERANGAN

Pipa vertical

Pipa horizontal

S K B B 3 - 212 | 265
6.2 SISTEM AIR KOTOR
Cara pendistribusian
Menggunakan pipa vertical yang dialirkan melalui shaft menuju STP
(Sewage Treatment Plant) yang berada di basement. Kemudian dari STP
diolah menuju drainase.

toilet shaft STP Drainase kota

Shaft terdapat pada setiap lantai tipikal yang terdapat toilet, yaitu lantai
dasar hingga lantai 10. Untuk 1 shaft melayani dua kamar.
Air kotor dari kamar mandi langsung dibuang menuju drainase saluran
kota
Kotoran dari toilet diolah terlebih terlebih dahulu lalu dibuang menuju
drainase saluran kota

Ruang yang dilayani


Ruang yang menghasilkan air kotor adalah :
- 96 kamar
- Restoran
- Dapur
- Meeting room
Perawatan (maintenance)
Untuk hal perawatan dapat menggunakan bukaan pada shaft yang dapat
diakses dari koridor.

Bukaan pada shaft

S K B B 3 - 213 | 265
Perhitungan kebutuhan jaringan air kotor
Rumus perhitungan diameter pipa horizontal

Jumlah alat sanitair X Daya buang alat sanitair

Rumus perhitungan diameter pipa vertikal

Jumlah daya buang pipa horizontal X Jumlah lantai yang dilayani

Tabel kapasitas aliran pipa

S K B B 3 - 214 | 265
Analisis kebutuhan pipa
Pipa horizontal air kotor kamar
Daya buang shower = 2 kamar x 60 lt/menit = 120 lt/menit
Daya buang wastafel = 2 kamar x 50 lt/menit = 100 lt/menit
Total buangan = 120 + 100 = 220 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 1 (240lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal kotoran kamar


Daya buang closet = 2 kamar x 120 lt/menit = 240 lt/menit
Total buangan = 240 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 1 (240 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa vertikal air kotor


Total buangan air kotor X 10 lantai = 220 lt/menit x 10 = 2200 lt/menit
Total buangan air kotor vertical = 1980 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 4 (15000 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 6
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa vertiak air kotoran


Total buangan air kotoran x 10 lantai = 240 lt/menit x 10 = 2400 lt/menit
Total buangan air kotoran vertical = 2400 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 4 (15000 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 6
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal air kotor seluruh kamar


Daya buang pipa vertical air kotor = 2200 lt/menit
Total buangan air kotor vertical = 1980 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 4(15000 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal air kotoran seluruh kamar


Daya buang pipa vertikal air kotoran = 2200 lt/menit
Totall buangan air kotoran vertikal = 2400 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 4(15000 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

S K B B 3 - 215 | 265
Pipa horizontal air kotor lantai 1
Daya buang wastafel = 12 buah x 90 lt/menit = 1080
lt/menit
Daya buang urinoir = 6 buah x 20 lt/menit=120 lt/menit
Total buangan = 1200 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal air kotoran lantai 1


Daya buang closet = 12 buah x 120 lt/menit = 1440 lt/menit
Total buangan = 1440 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa air kotor lantai dasar


Daya buang wastafel = 2 buah x 90 lt/menit = 180 lt/menit
Daya buang urinoir = 3 buah x 20 lt/menit = 60 lt/menit
Total buangan = 240 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa air kotoran lantai dasar


Daya buang closet = 10 buah x 120 lt/menit = 1200 lt/menit
Total buangan = 1200 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal buangan dapur lantai dasar


Daya buang sink = 8 buah x 90 lt/menit = 720 lt/menit
Total buangan = 720 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal air kotor lantai basement


Daya buang wastafel = 2 buah x 90 lt/menit = 180 lt/menit
Daya buang urinoir = 3 buah x 20 lt/menit = 60 lt/menit
Total buangan = 240 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

S K B B 3 - 216 | 265
Pipa horizontal air kotoran lantai basement
Daya buang closet = 10 buah x 120 lt/menit = 1200 lt/menit
Total buangan = 1200 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Pipa horizontal buangan dapir lantai basement


Daya buang sink = 8 sink x 90 lt/menit = 720 lt/menit
Total buangan = 720 lt/menit
Standar diameter pipa minimal = 3 (1800 lt/menit)
Pipa yang digunakan = 4
KESIMPULAN = MENCUKUPI

Analisis kebutuhan septic tank


Hotel ini menggunakan sistem STP, yaitu sewage treatment plant.
Kapasitas yang tersedia adalah = 300 m

Jumlah kamar di hotel ini adalah 296 kamar. Dengan kondisi jika semua
kamar terpakai maka akan mendapat 592 orang. Selain itu terdapat
pegawai sebanyak 125 orang. Maka total keseluruhan adalah 717 orang.

Pengunjung Pegawai TOTAL

592 125 717

S K B B 3 - 217 | 265
SKEMATIK DISTRIBUSI AIR KOTOR

KETERANGAN
Pipa horizontal
Pipa vertikal
STP

S K B B 3 - 218 | 265
LETAK SHAFT PADA LANTAI TIPIKAL

S K B B 3 - 219 | 265
6.3 SISTEM PENGHAWAAN (HVAC)
Sistem yang digunakan
Menggunakan sistem AC Split Duct. Sistem ini merupakan AC yang
pendistribusian hawa dinginnya menggunakan sistem ducting.
Sistem pendistribusiannya sama dengan AC split wall, hanya saja pada
kasus ini menggunakan sistem ducting dan udara dikeluarkan melalui diffuser.

Data preseden
- Tipe AC = Split duct
- Jenis AHU =-
- Ruang AHU = -
- Menggunakan grilles dan diffuser
- Ducting = VIU
- Ukuran duct = 40x40
- Plumbing = dibuang langsung ke saluran kota
- Daya = @21kW
- Area yang dilayani = Lobby (ground) dan restoran (lantai 1)
- Jumlah buka-an
o Ground
Pintu = 2 (timur & selatan)
Jendela =4
o Lantai 1
Pintu = 2 (utara & timur)
Jendela =4
- Tinggi ruang = 2,5m
- Luas area = 1000 m
- Kapasitas = 296 kamar (1 kamar berisi maksimal 2 orang)
= 37 kamar per lantai (maksimal per lantai berisi 74 orang)
Analisis

S K B B 3 - 220 | 265
Beban pendinginan
1. Okupansi = L. Bruto : L. Per orang
= 1.000m : 15m
= 66.66 orang ~ 66 orang

2. Beban kalor melalui bidang kaca (beban sensible)


= Luas bidang x beban kalor
a. Utara = 25,2 m x 800 Btuh/jam/m = 20.160 BTU/jam
b. Selatan = 1,6 m x 400 Btuh/jam/m = 640 BTU/jam
c. Timur = 25,1m x 900 Btuh/jam/m = 25.590 BTU/jam
d. Barat =-

3. Beban kalor melalui bidang dinding (beban sensible)


a. Utara = 32,5 m x 10,75 BTUH/jam/m = 349,375 BTU/jam
b. Selatan = 32,5 m x 10,75 BTUH/jam/m = 349,375 BTU/jam
c. Timur = 65 m x 10,75 BTUH/jam/m = 698,75 BTUH/jam
d. Barat = 65 m x 10,8 BTUH/jam/m2 = 702 BTU/jam
TOTAL = 48.489,5 BTU/jam

BSO (Besan Sensibel Orang) = Okupansi x 200 BTU jam


= 66 x 200 = 13.200 BTU/jam

BLO (Beban Laten Orang) = Okupansi x 250 BTU jam


= 66 x 250 = 16.500 BTU/jam

BSL (Beban Sensibel Lambu) lobby & Lt.1


= (watt)x(1,25)x(3,4) BTU jam
= (31 titik lampu x 18 watt) x 1,25 x3,4
= 2.371,5 BTU/jam

4. Kebutuhan Udara

Rumus pendekatan:

CFM 1 : CFM infiltrasi


CFM 2 : CFM ventilasi
P : Panjang ruangan
L : Lebar ruangan
T : Tinggi ruangan
AC : Jumlah pertukaran udara per jam

CFM 1 = (P x L x T x AC x 35,31) : 60
= (26m x 13m x 2,5m x 5 x 35,31) : 60
= 2.486,41 BTU/jam
CFM 2 = ((t0-t1) x 1,08 + (RH0-RH1) x 0,67)
= 5 x 1,08 + 0,3 x 0.67
S K B B 3 - 221 | 265
= 5,601 BTU/jam

5. Beban Pendinginan

BP = BSB + BSO + BLO + BSL + CFM1 + CFM2


= 48.489,5 + 13.200 + 16.500 + 2.371,5 + 2.486,41 + 5,601
= 83.053,011 BTU/jam

83.053,011/12.000 TR = 6,92 TR x 3,517 kW


= 24,33764 kW

Dari perhitungan yang di atas didapat :

Daya AC hotel = 21 kW
Hasil penghitungan = 24,33764 kW
KESIMPULAN = belum mencukupi

Saran
Agar dapat mencukupi kebutuhan sistem AC, hal yang dapat dilakukan
adalah pemberian AC tambahan sperti AC split wall atau AC floor standing

S K B B 3 - 222 | 265
SKEMATIK PENDISTRIBUSIAN SISTEM PENGHAWAAN

Lantai Ground

Lantai 1

KETERANGAN

Ducting

Condensor

S K B B 3 - 223 | 265
6.4 SISTEM PENANGKAL PETIR
Penangkal petir pada bangunan Hotel Neo+ melindungi bagian
keseluruhan bangunan dengan jenis penangkal petir Thomas. Sistem ini
menggunakan ujung metal yang runcing sebagai pengumpul muatan dan
diletakkan pada tempat yang tinggi sehingga petir diharapkan menyambarujung
metal tersebut terlebih dahulu. Sistem illli memiliki kelemahan di mana apabila
sistem penyaluran arus petir ke tanah tidak berfungsi baik, maka ada
kemungkinan timbul kerusakan pada peralatan elektronik yang sangat
pekaterhadap medan transien.

Sisitem pengebumian

kabel coaxial

JANGKAUAN PEFlLlNDUNGAN

PENANGKAl PETIR

Gambar Detail Penangkal Petir & Sistem Pengebumian


S K B B 3 - 224 | 265
Spesifikasi

Komponen Kriteria Dimensi


Penangkap Penangkal Sistem payung dengan
Petir semi/radioaktif. Ditempatkan
pada tempat tertinggi (TOP
FLOOR). Material Emas/
Tembaga. Berbentuk silinder
ujung ru ncing. III
Tiang Penangkal Petir Berbentuk t abung. Pipa Tinggi 10m
tembaga. Ditempatkan pada (1)2,5" I I
tempat tertinggi (TOP FLOOR).
Konduktor Pena ngkal Menggunakan kabel coaxial. 50mm2
Petir Kabel di klem pad a dinding.
Material tembaga.
Sistem Pengebu mian Menggunakan kabel Be. Di SOmm2
bungkus pipa galvanis. Terdapat
bak control. Di tempatkan di
dalam tanah dengan kedalaman
menca pai t anah basah.

S K B B 3 - 225 | 265
6.5 SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN

Ruang kontrol idrant dan sprinkler

Ruang kontrol Fire detector

S K B B 3 - 226 | 265
TIPIKAL

PADA SHAF

AKSONOMETRI SKEMATIK PENDISTRIBUSIAN DETECTOR DAN FIRE ALARM

AKSONOMETRI SKEMATIK HIDRAN

S K B B 3 - 227 | 265
AKSONOMETRI PEDISTRIBUSIAN SKEMATIK SPRINKLER

PENDISTRIBUSIAN VERTIKAL DARI RUMAH POMPA

S K B B 3 - 228 | 265
HASIL SURVEY TANGGA DARURAT PADA NEO
1.jumlah tangga darurat :2
2. Ruang yang dilayani
-Tangga Darurat Selatan : Ground-Roof Top
- Tangga Darurat Utra : Ground-lantai 10
3.Lebar Tangga Darurat
- Tangga Darurat Selatan : 150 cm
- Tangga Darurat Utara : 150 cm

4. Lebar Koridor : 145 cm

S K B B 3 - 229 | 265
5 Ukuran tangga
*Optrade :15 cm
*antrade :23 cm

6. Lebar pintu
*Tangga Darurat Selatan :110 cm
*Tangga Darurat utara :110 cm

7. Jangkauan Tangga Darurat


*Tangga Darurat sealatan :Ground Roof Top
*Tangga Darurat Utara :Ground Lantai 10

S K B B 3 - 230 | 265
8. tulisan EXIT di pintu :Tidak ada

9.Tulisan EXIT di koridor : ada

S K B B 3 - 231 | 265
10. Kaca tahan api pintu darurat :tidak ada
11. Pelingkup Tahan api :Tidak ada (hanya ada exhaust)
12. jalur keluar : Ground

13. jarak antar EXIT :50 dari pusat ke EXIT : 25m


Lantai tipikal

S K B B 3 - 232 | 265
6.6 SISTEM TELEKOMUNIKASI

SISTEMJARINGAN TELEKOMUNIKASI
Sistem jaringan yang digunakan pada bangunan Hotel Neo+ Awana Jogjakarta adalah sistem kabel
yang mengggunakan media coaxial cable, sistem PABX.

B. PENEMPATANTELEPON

Lantai Basement
Lantai Basement terdapat 3 buah pesawat telepon, yaitu:
House Keeping Room 2 buah Engineering
Room I buah

Lantai Dasar
Lantai Dasar terdapat 22 buah pesawat telepon, yaitu: Receptionist 4 buah

Front Office 4 buah


General Manager Room 1 buah
Sales Room 6 buah
Accounting Room 5 buah
Executive Secretary Room1
buah Loading Dock Area1 buah

Lantai 1
Lantai I terdapat 2 buah pesawat telepon, yaitu: Restaurant I buah Executive Chef I buah

S K B B 3 - 233 | 265
Lantai 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 (81antai, lantai tipikal) Lantai 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10
terdapat 37 buah pesawat telepon x 8 lantai, yaitu 296 buah telepon Kamar Tamu 37
buah teleponAantai tipikal

C. PENDISTRIBUSIAN

I) Vertikal (menggunakan panel) Panel terdapat di depan lift barang yang menempel pada
dinding dan ada pada setiap lantai.

2) Horisontal (menggunakan celiling)

D.RUANG KONTROL

Ruang kontrol (terdapat di lantai dasar)


Ruang panel (terdapat di setiap lantai ~ di samping depan lift barang)

S K B B 3 - 234 | 265
E. DENAH PENEMPATAN TELEPON PADA HOTEL NEO+ AWANA
JOGJAKARTA
Lantai basment

S K B B 3 - 235 | 265
Lantai dasar

S K B B 3 - 236 | 265
Lantai 1 Hotel Neo+ Awana Jogjakarta

Lantai tipikal 2,3,5,6,7,8,9,dan 10

S K B B 3 - 237 | 265
F. SKEMATIK JARINGAN

S K B B 3 - 238 | 265
6.7 SISTEM TELEVISI
A. PENJELASAN
Sistem Jaringan Televisi yang digunakan pada Hotel Neo+ Awana Jogjakarta
Mast Antena Television (MATV) yang dimulai dengan antena untuk O1enerima sinya! TV kemudian
diteruskan ke receiver unit yang terdapat pada ruang operator pada Iantai dasar, dilanjutkan ke unit
penguat siaran yang terletak pada Iantai 5 kemudian diteruskan ke terminal dan menuju pada unit-
unit televisi.

B.RUANG YANG DI LAYANI


Ruang yang menerima jaringan televise semua kamar tidur tamu,lobby,dan restaurant ,dengan
rincian sebagai berikut ;
*lantai basement
-tidak ada
*lantai dasar
-1 unit,yaitu lobby
*lantai 1
-1 unit ,yaitu restaurant
*lantai tipikal (2,3,4,5,6,7,8,9,dan 10)

-kamar hotel tamu (37 kamar /lantai )


-standar room :28 kamar (28 unit tv)
-supreior room :8kamar (8 unit )
-suite room :1kamar (2unit tv)
Total TV / lantai :38 unit
Total TV lantai tipikal :38 unit tv X 8 lantai = 304 unit tv

S K B B 3 - 239 | 265
C. PEDISTRIBUSIAN
1. vertikal (menggunakan panel)
Panel terdapat di depan lift barang yang menempel pada dinding dan ada pada setiap lantai.
2.Horisontal (menggunakan celiling)

D. RUANG KONTROL
*ruang kontrol (terdapat di lantai dasar)
*ruang panel (terdapat di setiap lantai-di samping depan lift barang)

E. DENAH PENEMPATAN ANTENA PADA HOTEL NEO+AWANA JOGJAKARTA

Skematik Penempatan Antenna pada Hotel Neo+logjakarta

S K B B 3 - 240 | 265
F. DENAH PENEMPATAN TELEVISI PADA HOTEL NEO+AWANA JOGJAKARTA

Lantai Dasar Hotel Neo+ Awana logjakarta

S K B B 3 - 241 | 265
Lantai 1 hotel neo+Awana Jogjakarta

Lanatai tipikal (2,3,4,6,7,8,9,dan10)

S K B B 3 - 242 | 265
Denah kamar hotel

G.ANALISIS

S K B B 3 - 243 | 265
H. ISOMETRI

I. KESIMPULAN

Televisi pada Hotel Neo+ Awana Jogjakarta menggunakan sistem MATV pada jaringan
televisinya. Ruang kontrol yang terletak di basement, panel yang terletak dekat lift barang yang ada
pada setiap lantainya. Mempunyai booster sebagai penguat siaran yang terletak pada lantai 5.
Sistem pendistribusian dengan jalur vertikal melalui panel dan jalur horizontal melalui ceiling. Ruang
yang dilayaani semua kamar hotel tamu, lobby, dan restaurant.

S K B B 3 - 244 | 265
Jumlah total TV yang terdapat pada Hotel Neo+ Awana Jogjakarta adalah 306 unit televisi,
dengan rincian sebagai berikut:

Lantai Basement =tidak ada


Lantai Dasar = I unit TV di
Lobby
Lantai 1 = I unit TV di
Restaurant Lantai Tipikal
(Lantai 2, 3, 5,6,7,8,9, dan I 0) =
Kamar Hotel Tamu -7 37
kamarAantai Standard

Room 28 kamar -7 28 unit TV


Superior Room : 8 kamar -7 8 unit TV
Suite Room :I kamar -7 2 unit TV
Total TVAantai : 38 unit TV

Total TV lantai tipikal : 38 unit TV x 8lantai =304 unit TV


Televisi pada Hotel Neo+ Awana Jogjakarta sudah mencukupi dan berjalan dengan baik.

S K B B 3 - 245 | 265
6.8 SISTEM INTERNET

A. SISTEM JARINGAN INTERNET

Sistem Jaringan Internet yang digunakan pada Hotel Neo+ Awana Jogjakarta adalah
sistem Wifi dengan koneksi LAN (semua kamar) di mana hanya terdapat satu komputer sebagai
server yang terletak pada ruang kontrol. Tipe Wifi yang digunakan dengan kecepatan 10 mbkec
dan dibagi pada setiap kamarnya. Adapun saklar pada lantai 3 dan 8.
Ruang server terletak di lantai Dasar.

B. AREA YANG DILAYANI

Semua area Hotel Neo+ Awana Jogjakarta dari basement, lantai dasar, lantai I, lantai
tipikal yaitu lantai 2 hingga lantai 10 (semua area kamar) yang terbagi pada setiap kamarnya.

C. RUANG KONTROL
Ruang kontrol terdapat di basement (bergabung dengan jaringan telekomunikasi) dan ruang panel
yang terletak di samping depan lift barang yang ada pada setiap lantai Hotel Neo+ Awana
Jogjakarta.

S K B B 3 - 246 | 265
Penempatan Ruang Kontrol Hotel Neo+ Awana logjakarta

1 Lantai Dasar Hotel Neo+ Awana logjakarta

S K B B 3 - 247 | 265
Lantai Tipikal (Lantai 2, 3, 5, 6, 7,8, dan 9) Hotel Neo+Awana Jogjakarta

D. ANALISA

S K B B 3 - 248 | 265
E . ISOMETRI

Skematik jalur vertikal pada denah

S K B B 3 - 249 | 265
F. KESIMPULAN

Internet pada Hotel Neo+ Awana sudah sudah mencukupi dan berjalan dengan baik.

Hotel Neo+ Awana logjakarta pada jaringan internet menggunakan sistem wifi dengan koneksi
LAN (semua kamar), yang menerima sinyal melalui sinyal telepon di mana hanya ada satu komputer
sebagai server yang terletak di ruang server. Wifi dengan kecepatan I ombhec dapat melayani seluruh
area Hotel Neo+ Awana logjakarta dari basement hingga lantai 10, dan terdapat saklar sebagai penguat
sinyal pada lantai 3 dan 8. Adapun ruang kontrol yang terletak di basement dan ruang panel yang
terletak pada setiap lantai.

S K B B 3 - 250 | 265
6.9 SISTEM KELISTRIKAN
A. JARINGAN LANGSUNG DARI PLN

B. JARINGAN DARI GENSET

S K B B 3 - 251 | 265
RUANG GENSET HOTEL NEO+ AWANA YOGYAKARTA
Pada ruang genset di basement, dinding ruangan dilengkapi dengan dinding bedapis kapas
(rockwool), kemuadian alumunium sebagai pembungkus kapas yang melindungi
permukaan kapas yang disebut glasswood dengan pengikat kawat. Hal tersebut bertujuan
untuk meredam suara dan getaran yang ditimbulkan oleh genset ketika genset bekerja.
Ruang genset diletakkan di basement agar tidak mengganggu penghuni hotel.

Ruang Genset di basement

RUANG YANG DILAYANI (RUANG YANG MENDAPAT PISTRIBUSI


LISTRIK)

PERLETAKAN PANEL DISTRIBUSI LISTRIK DI HOTEL NEO+ AWANA

Panel elistribusi listrik adalah tempat menyalurkan energi listrik dari panel daya atau sumber
listrik ke beban baik untuk instalasi tenaga maupun instalasi penerangan.

Perletakan panel di Hotel Neo+ Awana antara lain:


I. LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel) berada eli basement
1. Genset berada eli basement
2. Panel pada tiap lantai (termasuk untuk AC dan Lighting lantai tipikal) berada pada samping
lift barang
S K B B 3 - 252 | 265
3. Ruang genset berada eli basement
4. Panel lift dan pompa booster terdapat di rooftop
5. Power panel kitchen berada eli lantai I
6. Lighting panel tiap kamar

CARA PENDISTRIBUSIAN (VERTIKAL DAN HORIZONTAL)

A.HORIZONTAL

B. VERTIKAL

S K B B 3 - 253 | 265
ANALISA JUMLAH JARINGAN (HITUNGAN) DAN STANDAR

DAYA YANGDISEDIAKAN

I. lumlah daya yang disediakan oleh PLN = 2.000 KVA


2. lumlah daya yang disediakan genset (ada 2 genset masing-masing dayanya 650
KVA) =1300 KVA

S K B B 3 - 254 | 265
GAMBAR JARINGAN YANG ADA DI STUDI KASUS
ISOMETRI

S K B B 3 - 255 | 265
PENEMPATAN PANEL PADA DENAH
A.DENAH BASMENT

B. DENAH LANTAI DASAR

S K B B 3 - 256 | 265
C.DENAH LANTAI 1

D.DENAH LANTAI TIPIKAL (2,3,5,6,7,8,10)

S K B B 3 - 257 | 265
E.ROOFTOP

S K B B 3 - 258 | 265
KESIMPULAN
I. Daya yang dibutuhkan oleh Hotel Neo+ Awana Yogyakarta sebesar
655.658 watt karena clari PLN mendapatkan 2000 KVA, sedangkan bila terjadi mati
lampu Genset dapat menghasilkan daya 1300 KVA ( ada 2 genset masing-masing
berclaya 650 KVA digunakan secara bergantian selama 8 jam) sehingga claya
mencukupi untuk mendukung fungsi bangunan.
2. Hotel Neo+ Awana Yogyakarta sudah memenuhi standar clalam utilitas khususnya pada
jaringan listriknya. Perletakan genset dan panel-panelnya telah disesuaikan dengan kondisi
bangunan sehingga tidak mengganggu kenyamanan costume

S K B B 3 - 259 | 265
6.10 SISTEM KEAMANAN
Bangunan ini menggunakan sistem keamanan berupa kamera CCTV dan
tidak menggunakan detector dengan sensor lain untuk sistem keamanan lainnya.

LANTAI JENIS KAMERA


Basement 3 Dome camera
Lantai dasar 3 Dome camera & 2 infrared camera
Lantai 1 3 Dome camera
Lantai 2-3 3 Dome camera
Lantai 4-10 3 Dome camera per lantai

Dome camera infrared camera

Jaringan pendistribusian
Setiap jaringan pada lantai tipikal dihubungan secara horizontal melalui
plafon ke shaft kemudian diteruskan secara vertikal menuju ke bawah hingga lantai
dasar. Pada lantai dasar menujur ruang kontrol/ruang panel.
Sedangkan pada kamera yang berada di lantai basement dihubungkan
secara horizontal melalui pafon kemudian secara salurkan vertikal menuju ke atas
ke ruang control.

S K B B 3 - 260 | 265
Ruang yang dilayani
- Selasar
- Lobby
- Pintu masuk dan keluar
- Ruang servis
- Restoran
- Ruang resepsionis
- Parkiran

S K B B 3 - 261 | 265
6.11 SISTEM TATA SUARA
Sistem yang digunakan
Sistem tata suara pada hotel ini diintegrasikan dengan
sistem tanda bahaya, sehingga bila kondisi darurat terjadi (seperti
kebakaran,dsb.) maka sistem tanda bahaya mendapatkan prioritas
sinyal dari sistem tata suara untuk membunyikan tanda bahaya (berupa
sirine) maupun panduan evakuasi ke seluruh bangunan.
Ruang yang dilayani
1.Basement
* Horn speaker
-Letak : area parkir
>Jumlah :4
* Wall speaker
-Letak : area security, area parker, area
loading dock, area cooking
>Jumlah : 1 buah per area
-Letak : koridor
>Jumlah :5
* Ceiling speaker
-Letak : masing-masing ruang
>Jumlah : 48 buah
-Letak : koridor

2. Lantai dasar
* Wall speaker
-Letak : Selasar
>Jumlah :3
-Letak : Area parkir, dapur
>Jumlah :1

S K B B 3 - 262 | 265
* Ceiling speaker
-Letak : koridor (langit-langit)
>Jumlah : 10 per lantai
3. Lantai 1
* Wall speaker
- Letak : Selasar
> Jumlah :3
* Ceiling speaker
- Letak : meeting room
>Jumlah :8
- Letak : koridor
>Jumlah :5
4. Lantai 2-10 (tipikal)
* Wall speaker
- Letak : selasar
>Jumlah :3
* Ceiling speaker
- Letak : tiap kamar
> Jumlah :1
- Letak : koridor
> Jumlah : 33

Pendistribusian
1. Vertikal
Disalurkan melewati panel yang terletak pada setiap lantai

2. Horizontal

S K B B 3 - 263 | 265
Disalurkan melalui langit-langit

S K B B 3 - 264 | 265
SKEMATIK JARINGAN TATA SUARA

KETERANGAN
Jalur vertikal

Ruang control berada di


besmen

S K B B 3 - 265 | 265