Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Mata merupakan organ penglihatan yang dimiliki manusia. Mata dilindungi oleh
area orbit tengkorak yang disusun oleh berbagai tulang seperti tulang frontal, sphenoid,
maxilla, zygomatic, lakrimal, dan ethmoid. Sebagai struktur tambahan mata, dikenal
berbagai struktur aksesori mata, salah satunya adalah apparatus lakrimalis.1

Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa kelenjar
lakrimal dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimal, kanalikuli lakrimal,
sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, dan meatus inferior.2 Kelenjar lakrimal diinervasi
oleh serat-serat parasimpatis dari nervus fasialis. Kelenjar ini menghasilkan air mata
yang keluar dari kelenjar air mata melalui berbagai duktus nasolakrimalis dan
menyusuri permukaan anterior bola mata. Tindakan berkedip dapat membantu
menyebarkan air mata yang dihasilkan kelenjar lakrimal.3 Air mata tidak hanya dapat
melubrikasi mata melainkan juga mampu melawan infeksi bakterial melalui enzim
lisozim, garam serta gamma globulin. Kebanyakan air mata yang diproduksi akan
menguap dari permukaan mata dan kelebihan air mata akan dikumpulkan di bagian
medial mata di kanalikuli lakrimalis. Dari bagian tersebut, air mata akan mengalir ke
saccus lakrimalis yang kemudian menuju duktus nasolakrimalis. Duktus nasolakrimalis
berakhir pada meatus inferior kavum nasalis dibawah konka nasalis inferior.1

Kelainan pada apparatus lakrimalis bisa dikarenakan sistem sekresi atau sistem
ekskresinya. Keluhan yang sering ditemui pada penderita dengan kelainan sistem
lakrimal ialah mata kering, lakrimasi dan epifora. Mata kering disebabkan oleh
kurangnya produksi air mata. Lakrimasi ialah kelebihan produksi air mata yang
disebabkan oleh rangsangan kelenjar lakrimal. Epifora adalah keadaan dimana terjadi
gangguan sistem ekskresi air mata.4

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Lakrimasi

Air mata melewati empat proses yaitu produksi dari aparatus atau sistem
sekretori lakrimalis, distribusi oleh berkedip, evaporasi dari permukaan okular, dan
drainase melalui aparatus atau sistem ekskretori lakrimalis. Abnormalitas salah satu saja
dari keempat proses ini dapat menyebabkan mata kering.5

2.1.1. Aparatus Lakrimalis


Aparatus atau sistem lakrimalis terdiri dari aparatus sekretori dan aparatus
ekskretori yaitu : 5,6,7

Gambar 2.1. Anatomi Sistem Lakrimalis5

a. Aparatus Sekretorius Lakrimalis.


Aparatus sekretorius lakrimalis terdiri dari kelenjar lakrimal utama, kelenjar
lakrimal assesoris (kelenjar Krausse dan Wolfring), glandula sebasea palpebra (kelenjar
Meibom), dan sel-sel goblet dari konjungtiva (musin). 5,6,7

2
Sistem sekresi terdiri dari sekresi basal dan refleks sekresi. Sekresi basal adalah
sekresi air mata tanpa ada stimulus dari luar sedangkan refleks sekresi terjadi hanya bila
5,6,7
ada rangsangan eksternal. Sekresi basal air mata perhari diperkirakan berjumlah
0,75-1,1 gram dan cenderung menurun seiring dengan pertambahan usia.8
Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang terletak
di fossa lakrimalis pada kuadran temporal di atas orbita. Kelenjar yang berbentuk
seperti buah kenari ini terletak didalam palpebra superior. Setiap kelenjar ini dibagi oleh
kornu lateral aponeurosis levator menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus
palpebra yang lebih kecil. Setiap lobus memiliki saluran pembuangannya tersendiri
yang terdiri dari tiga sampai dua belas duktus yang bermuara di forniks konjungtiva
superior. Sekresi dari kelenjar ini dapat dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan
menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epiphora).
Persarafan pada kelenjar utama berasal nukleus lakrimalis pons melalui nervus
intermedius dan menempuh jalur kompleks dari cabang maksilaris nervus trigeminus.
Kelenjar lakrimal tambahan, walaupun hanya sepersepuluh dari massa utama,
mempunya peranan penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan kelenjar
utama yang menghasilkan cairan serosa namun tidak memiliki sistem saluran. Kelenjar-
kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama forniks superior. Sel goblet
uniseluler yang tersebar di konjungtiva menghasilkan glikoprotein dalam bentuk musin.
Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis di tepian palpebra memberi substansi
lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang juga ikut
membentuk film prekorneal.5,6,8

b. Aparatus Ekskretorius Lakrimalis.


Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan
penguapannya sehingga hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi.6 Sistem ekskresi
terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis.9 Dari punkta,
ekskresi air mata akan masuk ke kanalikulus kemudian bermuara di sakus lakrimalis
melalui ampula. Pada 90% orang, kanalikulus superior dan inferior akan bergabung
menjadi kanalikulus komunis sebelum ditampung dalam sakus lakrimalis. Di
kanalikulus, terdapat katup Rosenmuller yang berfungsi untuk mencegah aliran balik air
mata. Setelah ditampung di sakus lakrimalis, air mata akan diekskresikan melalui

3
duktus nasolakrimalis sepanjang 12-18 mm ke bagian akhir di meatus inferior. Disini
juga terdapat katup Hasner untuk mencegah aliran balik.6,7
Setiap berkedip, palpebra menutup mirip dengan risleting, mulai di lateral,
menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan menyalurkannya ke dalam
sistem ekskresi pada aspek medial palpebra. Setiap kali mengedip, muskulus orbicularis
okuli akan menekan ampula sehingga memendekkan kanalikuli horizontal. Dalam
keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan penguapannya, dan itulah
sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila memenuhi sakus
konjungtiva, air mata akan masuk ke punkta sebagian karena hisapan kapiler.
Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pre-tarsal yang mengelilingi
ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. Secara bersamaan, palpebra ditarik ke
arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi sakus lakrimalis berakibat
memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negatif pada sakus. Kerja pompa
dinamik mengalirkan air mata ke dalam sakus, yang kemudian masuk melalui duktus
nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jaringan ke dalam meatus
inferior hidung. 10.

Gambar 2.2. Gerakan Mengedip yang Menyebarkan Air Mata5

2.1.2. Air Mata


Permukaan bola mata yang terpapar dengan lingkungan dijaga tetap
lembab oleh air mata. Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7-10 m yang
menutupi epitel kornea dan konjungtiva. Fungsi dari lapisan ini adalah (1)
membuat kornea menjadi permukaan licin optik dengan meniadakan
ketidakteraturan permukaan epitel kecil-kecil; (2) membasahi dan melindungi

4
permukaan epitel kornea dan konjungtiva yang lembut; (3) menghambat
pertumbuhan mikroorganisme dengan guyuran mekanik dan kerja antimikroba;
dan (4) memberikan substansi nutrien yang diperlukan.11
a. Lapisan Lapisan Film Air Mata
Film air mata terdiri atas tiga lapisan, yaitu:11
1) Lapisan superfisial adalah film lipid monomolekular yang berasal
dari kelenjar meibom. Diduga lapisan ini menghambat penguapan dan
membentuk sawar kedap-air saat palpebra ditutup.
2) Lapisan akueosa tengah yang dihasilkan oleh kelenjar lakrimal mayor
dan minor; mengandung substansi larut-air (garam dan protein).
3) Lapisan musinosa dalam terdiri atas glikoprotein dan melapisi sel-sel
epitel kornea dan konjungtiva. Membran sel epitel terdiri atas
lipoprotein dan karenanya relatif hidrofobik. Permukaan yang
demikian tidak dapat dibasahi dengan larutan berair saja. Musin
diadsorpsi sebagian pada membran sel epitel kornea dan oleh mi-
krovili ditambatkan pada sel-sel epitel permukaan. Ini menghasilkan
permukaan hidrofilik baru bagi lapisan akuosa untuk menyebar secara
merata ke bagian yang dibasahinya dengan cara menurunkan
tegangan permukaan.

Gambar 2.3. Gambaran Film Air Mata dan Komposisinya5

Ada beberapa studi yang meneliti stabilitas dari film Prekorneal


dan ada beberapa hipotesis yang menjelaskan mekanisme lapisan
prekorneal pecah. Salah satu hipotesis menjelaskan bahwa stabilitas film

5
tersebut disebabkan oleh penyebaran musin yang meningkatkan tegangan
permukaan film. Ketika lapisan lipid mulai berdifusi ke lapisan mukus,
kemampuan mukus untuk mempertahankan tegangan permukaan mulai
menurun sehingga film prekorneal akhirnya pecah dan membentuk bintik
kering (hydrophobic spots). Hipotesis yang lain menjelaskan bahwa
lapisan mukus yang memisah terjadi akibat gaya Van Der Waals antara
epitel dan lapisan musin sehingga terjadi instabilitas air mata.10

b. Komposisi Air Mata


Volume air mata normal diperkirakan 7 2 L pada setiap mata.
Albumin merupakan 60% dari protein total dalam air mata. Globulin dan lisozim
berjumlah sama banyak pada bagian sisanya. Selain itu, terdapat imunoglobulin
IgA, IgG, dan IgE dengan jumlah yang paling banyak adalah IgA. IgA ini bukan
sepenuhnya berasal dari transudat serum, namun diproduksi juga oleh sel-sel
plasma yang ada di dalam kelenjar lakrimal. Lisozim air mata merupakan 21-
25% dari protein total dan bekerja secara sinergis dengan gamma-globulin dan
faktor anti-bakteri non-lisozim lain, merupakan mekanisme pertahanan penting
terhadap infeksi.11
K+, Na+, dan Cl- terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi dalam air mata
dari dalam plasma. Air mata juga mengandung sedikit glukosa (5 mg/dL) dan
urea (0,04 mg/dL) dan perubahannya dalam konsentrasi darah akan diikuti
perubahan konsentrasi glukosa dan urea air mata. pH rata-rata air mata adalah
7,35, meski ada variasi normal yang besar (5,20-8,35). Dalam keadaan normal,
cairan air mata adalah isotonik. Osmolalitas film air mata bervariasi dari 295
sampai 309 mosm/L.11

6
Gambar 2.4. Komposisi Air Mata

2.2 Dinamika Sekresi Air Mata


Laju pengeluaran air mata dengan fluorofotometri sekitar 3,4 L/menit
pada orang normal dan 2,8 L/menit pada penderita mata kering. Antara dua
interval berkedip, terjadi 1-2 % evaporasi, menyebabkan penipisan 0,1 m PTF
dan 20% pertambahan osmolaritas.12

Distribusi volume air mata pada permukaan okular umumnya sekitar 6-7
L yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni :6

1)
Mengisi sakus konjungtiva sebanyak 3-4 L.
2)
Melalui proses berkedip sebanyak 1 L akan membentuk TF dengan tebal 6-
10 m dan luas 260 mm.
3)
Sisanya sebanyak 2-3 L akan membentuk tear meniscus seluas 29 mm
dengan jari-jari 0,24 mm, TF digabungkan dari tear meniscus atas dan
bawah saat berkedip.

2.3 Reflek Lakrimasi dan Kedipan Mata

Kelenjar air mata dipersarafi oleh12 :

7
1. Nervus Lakrimalis (sensoris), suatu cabang dari devisi pertama Trigeminus.
2. Nervus Petrosus superficialis magna (sekretoris), yang datang dari nukleus
salivarius superior.
3. Saraf simpatis yang menyertai arteria dan nervus lakrimalis.

Sekresi kelenjar lakrimal dipengaruhi oleh reflek lakrimasi yang dipicu oleh
suatu iritasi pada permukaan bola mata. Reseptor sensori merespon kondisi
permukaan bola mata yaitu pada kornea dan konjungtiva. Reseptor ini
selanjutnya akan mengirimkan sinyal aferen ke sistem saraf pusat yang
kemudian akan memberikan impuls eferen berupa parasimpatis dan simpatis
pada kelenjar lakrimal. Kondisi emosi seseorang juga dapat memicu reflek
lakrimasi dan menghasilkan sekresi air mata dalam jumlah yang banyak, dimana
penting untuk melarutkan material asing seperti debu, alergen dan toksin pada
permukaan bola mata .12

Gambar 2.5 Unit Lakrimasi Fungsional12

Delapan puluh persen dari mata berkedip secara sempurna, delapan belas
persen berkedip secara inkomplit dan dua persen twitch. Bila ditinjau
berdasarkan rangsang berkedip, berkedip terdiri dari tiga kategori, yaitu:

8
1. Berkedip involunter yaitu berkedip secara spontan, tanpa stimulus dengan
generator kedipan di otak yang belum diketahui secara jelas.
2. Berkedip volunter yaitu secara sadar membuka dan menutup kelopak mata.
3. Refleks berkedip adalah berkedip yang dirangang bila ada stimulus eksternal
melalui nervus trigeminus dan nervus fasialis.
Berkedip melibatkan dua otot yaitu muskulus levator palpebra superior
dan muskulus orbikularis okuli. Aktivitas berkedip melibatkan nukleus kaudatus
dan girus presentralis dan inhibisi berkedip melibatkan korteks frontal.12

2.4 Evaluasi Sekresi Air Mata


Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur sekresi lapisan aqueous air mata
adalah dengan tes Schirmer. Tes Schirmer dilakukan dengan meletakkan kertas strip
tipis pada kuldesak inferior. Jumlah pembasahan dapat diukur untuk mengetahui jumlah
produksi akuos. Terdapat berbagai macam cara melakukan tes Schirmer. Tes sekresi
basal (Basal secretion test) dilakukan setelah diteteskan anastetik topikal. Kertas strip
tipis (lebar 5 mm, panjang 35 mm) diletakkan pada pertemuan antara pertengahan dan
1/3 lateral palpebra inferior untuk meminimalisasi iritasi pada kornea selama tes
berlangsung. Tes ini dapat dilakukan dengan mata tertutup ataupun terbuka, meskipun
beberapa ahli merekomendasikan dengan mata yang tertutup untuk membatasi efek dari
berkedip. Meskipun pengukuran normal cukup bervariasi, pemeriksaan yang telah
diulang dengan hasil pembasahan 5 mm dengan anastesi, dapat merupakan sugesti
yang besar terhadap defisiensi lapisan akuos, sedangkan 5-10 mm masih meragukan. 7,11
Tes Schirmer I, dimana cara pemeriksaannya serupa dengan tes sekresi basal
namun dilakukan tanpa anastetik topikal, mengukur keduanya baik basal sekresi dan
refleks sekresi dikombinasikan. Pembasahan 10 mm setelah 5 menit merupakan
diagnostik untuk defisiensi lapisan akuos. Tes Schirmer II yang mengukur refleks
sekresi, dilakukan dengan cara yang serupa tanpa anastetik topikal. Namun setelah
kertas filter diletakkan pada forniks inferior, aplikator dengan ujung kapas digunakan
untuk mengiritasi mukosa nasal. Pembasahan 15 mm setelah 5 menit konsisten dengan
adanya defek pada refleks sekresi.7,11

2.5. Gangguan Pada Sistem Lakrimal

2.5.1 Gangguan Sistem Sekresi11, 13, 14

9
a. Alacrima

Tiadanya air mata sejak lahir. Terjadi pada sindrom Riley-Day (Dysautonomia
familial) dan displasia anhidrotik ektodermal. Pada awalnya tanpa gejala, pasien dapat
menunjukkan tanda keratokonjungtivitis sicca yang khas. Bisa terjadi pula pada
keadaaan terputusnya saraf untuk sekresi air mata, karena neuroma akustik atau operasi
sudut cerebellopontin. Hiposekresi lakrima dapat terjadi pada tumor atau radang
kelenjar lakrimal.

b. Hipersekresi Lakrimal

Hipersekresi primer jarang terjadi, dan harus dibedakan dengan obstruksi


duktulus ekskretoriusnya. Hipersekresi sekunder mungkin psikogenik atau sebagai
reflek akibat iritasi pada epitel permukaan atau retina. Keadaan ini dapat dihentikan
dengan memblokade saraf sekresi air mata di ganglion sphenopalatina.

c. Lakrimasi paradoksal

Ditandai dengan berair mata saat makan, meskipun mungkin kongenital keadaan
ini didapat setelah mengalami Bells Palsy dan akibat dari regenerasi aberran nervus
Fascialis.

d. Air Mata berdarah

Akibat perdarahan konjungtiva karena trauma, diskrasia darah. Bisa juga oleh
karena tumor di sakus lakrimalis. Dapat terjadi juga pada penderita hipertensi yang
sedang mimisan dengan perluasan dari duktus nasolakrimalis.

e. Dakrioadenitis

Radang akut kelenjar lakrimal. Paling sering pada anak-anak sebagai komplikasi
parotitis epidemika, campak, atau influenza. Dan pada orang dewasa berhubungan
dengan gonore. Dakriadenitis menahun mungkin akibat dari infiltrasi limfositik jinak,
Limfoma, leukimia atau tuberclosis. Sering bilateral pada sarcoidosis. Bila disertai

10
pembengkakan kelenjar parotis di sebuit syndrom Mikulicz. Gejalanya nyeri hebat,
pembengkakan dan pelebaarn pembuluh darah di temporal palpebra superior seperti
kurva huruf S.

Dakrioadenitis Akut

Pada dakrioadenitis akut sering ditemukan pembesaran kelenjar air mata di


dalam palpebra superior , hal ini dapat ditemukan apabila kelopak mata atas dieversi ,
maka akan kelihatan tonjolan dari kelenjar air mata yang mengalami proses inflamasi .
Pada perabaan karena ini merupakan suatu proses yang akut maka biasanya akan sangat
nyeri dan dapat diikuti oleh gejala klinis lainnya yaitu kemosis (pembengkakkan
konjungtiva), konjungtival injeksi, mukopurulen sekret, erythema dari kelopak mata,
lymphadenopati (submandibular), pembengkakkan dari 1/3 lateral atas kelopak mata (S-
shape ), proptosis , pergerakan bola mata yang terbatas.

Diagnosis banding:

1. Hordeolum internum
2. Abses kelopak mata
3. Selulitis orbita

Dakrioadenitis Kronik
Pada kronis darkrioadenitis gejala klinisnya lebih baik daripada yang akut.
Umumnya tidak ditemukan nyeri , ada pembesaran kelenjar namun mobile, tanda-tanda
ocular minimal, ptosis bisa ditemukan, dapat ditemukan sindroma mata kering .

Diagnosis banding:

1. Periostitis dari kelopak mata atas


2. Lipodermoid

Pengobatan pada dakrioadenitis biasanya dimulai dengan pemberian kompres hangat


dan antibiotik sistemik. Bila terlihat abses maka dapat dilakukan insisi.3

11
Gambar 2.6 Tampak eritema dan edema pada kedua mata8

Gambar 2.7. Tampak kelenjar lakrimalis yang edema pada eversi8

f. Tumor kelenjar lakrimal


Tumor jinak dapat berupa adenoma pleomorfik. Tumor ganas tersering adalah
karsinoma adenoid kistik. Gambaran klinik: benjolan di superotemporal orbita
akibat pembesaran kelenjar lakrimal, ketidaksimetrisan wajah akibat perubahan
posisi bola mata, keterbatasan gerakan bola mata dan diplopia. Pengobatan dapat
dilakukan dengan cara radioterapi, kemoterapi dan pembedahan.

2.5.2 Gangguan Sistem Eksresi11,13,14

a. Dakriosistitis

12
Infeksi dari sakus lakrimalis, biasa terjadi pada bayi atau pada wanita pasca
menopause. Biasanya unilateral dan selalu sekunder terhadap obstruksi duktus
nasolakrimalis. Bisa juga terjadi setelah trauma atau disebabkan oleh suatu dakriolit.
Pada anak-anak sering disebabkan oleh infeksi Haemophilus influenzae dan harus
segera di terapi secara agresif karena resiko timbulnya selulitis orbital. Dakriosistitis
akut pada dewasa biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Streptococcus
hemolitikus. Pada yang menahun biasanya di sebabkan oleh Streptococcus pnemoniae.
Gejalanya berair mata dan sekret mukopurulen. Terapinya antibiotik sistemik yang
memadai, disertai dengan menghilangkan obstruksi dengan cara dakriosistorinostomi.

Dakriosistitis Akut

Pada dakriosistitis akut, didaerah saccus lakrimalis terdapat gejala radang, sakit,
bengkak dan nyeri tekan. Substansi purulen dapat diperas dari saccus.

Diagnosis banding :

1.Hordeolum

2.Orbital selulitis

Dakriosistitis Kronik

Pada dakriosistitis kronis, tanda satu-satunya adalah berair mata. Substansi


mukoid biasanya bisa diperas keluar dari saccus.

Dakriosistitis Kongenital

Pada dakriosistitis kongenital, karena terjadinya obstruksi dari sistem drainase


sehingga terjadi penumpukkan debris dan denudasi daripada epitel permukaan mata,
seringkali gejala klinis yang ditimbulkan adalah konjungtivitis. Biasanya bakteri yang
menginfeksi adalah staphylococcus yang menghasilkan eksotoxin.

Terapi untuk dakriosistitis bergantung pada kausanya, pada anak- anak biasanya
diterapi dengan pemijatan pada daerah antara mata dengan hidung untuk membuka
obstruksi yang terjadi dan diberikan pula antibiotik. Apabila obstruksi tidak membaik
pada terapi pemijatan, dapat dilakukan operasi dakriosistorinostomi. Pada penderita

13
dewasa biasanya dilakukan irigasi pada ductus lakrimalis dengan menggunakan salin,
dan diberikan pengobatan topikal antibiotik.

Gambar 2.8: Tampak massa di kantus medialis, eritema8 .

Gambar 2.9: Tampak pus keluar dari punctum lakrimalis8

b. Penyakit Kanalikuli

Stenosis kanalikuli terbagi dalam kelainan kongenital dan didapat.


Kelainan kongenital mencakup puncta imperforata, puncta accecorius, fistula
kanalikuler dan agenesis sistem kanalikuli. Untuk yang didapat biasanya akibat
infeksi virus varicella, herpes simpleks dan adenovirus. Sebab lainnya akibat
obstruksi bahkan obliterasi terjadi pada syndom Stevens-Jhonson dan pemfigoid

14
bullous. Obstruksi total mengharuskan penggunaan sebuah duktus air mata
buatan untuk mengatasi epiphora (konjungtivodakriosistorinostomi) berupa
sebuah tabung kaca pirex yang diletakkan dalam sakus konjungtiva dalam
rongga hidung.

Kanalikulitis merupakan infeksi menahun unilateral disebabkan oleh


Actinomyces israelii, Candida albicans, atau Aspergillus sp. Infeksi biasanya
mengenai kanalikulus bawah, pada orang dewasa menimbulkan konjungtivitis
purulen sekunder. Gejalanya pasien mengeluh mata merah dan ada sekret.
Punctum biasanya sedikit menonjol dan dan isinya dapat dikeluarkan untuk
dikultur. Kemudian dilakukan irigasi untuk menjaga terbukanya saluran kadang
diikuti kanalikulostomi dan dibilas dengan tinctura yodium.

Gambar 2.10 Tampak sekret purulen yang keluar dari kanalikulus8

Gambar 2.11 : Tampak sekret yang keluar setelah dimanipulasi8

15
c. Tumor sakus lakrimal
Tumor sakus lakrimal jarang ditemukan dan kadang-kadang tidak dipikirkan
kemungkinan tumor, karena diragukan dengan peradangan atau penyebab lain
yang menyumbat duktus nasolakrimal. Tumor dalam sakus dapat menimbulkan
epifora. Tumor jinak yang sering ditemui adalah papiloma skuamosa. Karsinoma
epidermoid merupakan tumor ganas yang sering ditemukan. Pengobatan dapat
dilakukan dengan cara tindakan pembedahan, pada tumor limfoid dilakukan
penyinaran.

2.5.3 Gangguan Sistem Distribusi11,9

Sindrom Mata Kering (keratokonjungtivitis sicca)

Dapat disebabkan defisiensi unsur film air mata (aqueus, mucin, atau
lipid), kelainan permukaan palpebra, atau kelainan epitel, tapi yang terpenting
adalah keratokonjungtivitis sicca yang berhubungan dengan arthritis rematoid
dan penyakit autoimun lain disebut sebagai Sindrom Sjogren. Apapun
penyebabnya semua yang secara sekunder menyebakan film air mata tidak
stabil. Ciri histopatologik berupa timbulnya bintik-bintik kering pada kornea dan
epitel konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya sel goblet konjungtiva,
pembesaran abnormal sel epitel non goblet, peningkatan stratifikasi sel dan
penambahan keratinisasi. Gejalanya pasien mengeluh tentang sensasi tergores
(scratchy) atau berpasir (benda asing). Gejala umum lain yaitu gatal,
ketidakmampuan menghasilkan air mata, sekresi mukus berlebihan, sensasi
terbakar, fotosensitif, merah, sakit, sulit menggerakkan palpebra, tapi dapat pula
tanpa gejala. Pada pemeriksaan slit Lamp terlihat tiadanya meniskus air mata di
tepian palpebra inferior. Benang mukus kental kekuningan kadang terlihat dalam
fornix konjungtiva inferior. Konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal
dan mungkin menebal, edema dan hiperemik. Epitel kornea terlihat bertitik halus
pada fisura interpalpebra. Sel epitel konjungtiva yang rusak terpulas dengan
Bengal rose. Dan defek pada epitel kornea dapat terpulas dengan flourescein.
Pada kasus lanjut dapat timbul ulkus pada kornea, penipisan kornea dan
perforasi. Kadang terjadi infeksi bakteri sekunder dan berakibat parut dan
vaskularisasi pada kornea, yang berakibat penurunan penglihatan. Terapinya

16
adalah pengantian cairan berupa air mata buatan dan salep untuk pelumas jangka
panjang.

BAB III

KESIMPULAN

Aparatus Lakrimalis terbagi menjadi 2 sistem yaitu sistem sekresi lakrimal


terbagi menjadi kelenjar lakrimalis dan kelenjar asesorius (kelenjar wolfring dan kelenjar
Krause), sedangkan sistem ekskresi lakrimal terbagi menjadi pungtum lakrimalis,
kanalikuli lakrimalis, sakus lakrimalis, duktus nasolakrimalis dan meatus inferior.

Kelenjar air mata dipersarafi oleh nervus lakrimalis (sensoris), nervus petrosus
superficialis magna (sekretoris), dan saraf simpatis yang menyertai arteria dan nervus
lakrimalis.

17
Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7-10 m yang terdiri atas tiga
lapisan yaitu lapisan superficial, lapisan akueosa tengah dan lapisan musinosa.
Fungsi dari lapisan ini adalah (1) membuat kornea menjadi permukaan licin optik
dengan meniadakan ketidakteraturan permukaan epitel kecil-kecil; (2) membasahi
dan melindungi permukaan epitel kornea dan konjungtiva yang lembut; (3)
menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan guyuran mekanik dan kerja
antimikroba; dan (4) memberikan substansi nutrien yang diperlukan.

Apabila terjadi gangguan pada apparatus lakrimalis ada 2 bagian yang


terganggu bisa di bagian sekretori atau ekskresi. Gangguan pada sistem sekresi antara
lain alakrima, hipersekresi lakrimal, lakrimasi paradoksal, air mata berdarah,
dakrioadenitis dan tumor kelenjar lakrimal. Gangguan pada sistem ekskresi yaitu
dakriosistitis, penyakit kanalikuli, dan tumor sakus lakrimal. Sistem distribusi air mata
juga dapat mengalami gangguan berkaitan dengan defisiensi komponen film air mata
yaitu sindroma mata kering (Keratokonjungtivitis sika).

DAFTAR PUSTAKA

1. Rizzo, D.C., 2001. Delmars Fundamentals of Anatomy & Physiology. USA:


Delmar Thomson Learning
2. Seeley, R.R., Stephens, T.D., dan Tate, P., 2006. Anatomy and Physiology .7th
ed. New York: McGraw-Hill
3. Ilyas, Sidarta, S.R. Yulianti. Ilmu Penyakit Mata FKUI Edisi ke-4. Jakarta: EGC.
2012. hal.10-11.
4. James, Bruce, dkk. 2006. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta : EMS
5. Kanski, Jack J. Lacrimal Drainage System. Clinical Ophtalmology sixth edition.
2007

18
6. American Academy of Ophthalmology Staff. 2011-2012a. Fundamental and
Principles of Ophthalmology. United State of America: American Academy of
Ophthalmology. p.237-246
7. American Academy of Ophthalmology Staff. 2011-2012b. External Eye Disease
and Cornea. Unitead State of America: American Academy of Ophthalmology. p.
48-66.
8. American Academy of Ophthalmology Staff. 2011-2012c. Orbit, Eyelid and
Lacrimal System. United State of America: American Academy of
Ophthalmology. p. 243-246.
9. Baudouin, C. 2001. The pathology of dry eye. Surv Ophthalmol, 45: 211-20
10. Lemp, M.A. 2011. Tear Film Evaluation. In : Krachmer, Mannis, Holland,
editors. Cornea: Fundamentals, Diagnosis and Management. 3rd.Ed. Elsevier-
Mosby. p:79-85.
11. Jihn H Sullivan, MD. Apparatus Lakrimalis. Dalam: Vaughan & Asbury.
Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC, 89-95.
12. Marfurt, C. F., Murphy, C. J. and Florczak, J. 2001. Morphology and
neurochemistry of the canine corneal innervation. Invest. Ophthalmol. Vis. Sci,
42,p:2242-2251.
13. Zoukhri, D. 2006. Effect of Inflammation on Lacrimal Gland Function. Exp Eye
Res, 82(5): 885898.
14. Sastrosatomo, et all. Penanganan Gangguan Sistem Ekskresi Lakrimal. FKUI:
RSCM. 1993.

19