Anda di halaman 1dari 27

BAB I

IKHTISAR KASUS

1.1. IDENTIFIKASI
Nama : Tn. AH
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 1 Juli 1961 (55 tahun)
Pekerjaan : Pedagang Tembakau
Alamat : Dusun Polotan, desa Pondok Wuluh, Leces
Status : Menikah
Suku : Madura
Agama : Islam
MRS : 10 November 2016
Anamnesa : 12 November 2016
No. Rek Med : 616946

1.2. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
BAK berdarah sejak 15 hari yang lalu
b. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan BAK berdarah sejak 15 hari yang lalu.
Kencing bercampur darah berwarna seperti air cucian daging mulai dari awal
hingga akhir kencing. Terkadang pasien harus mengedan ketika BAK dan ketika
sesuatu keluar seperti gumpalan darah kencing kembali lancar. Pada awalnya
tidak ada keluhan nyeri yang menyertai, tetapi dalam seminggu terakhir
penderita mulai merasakan nyeri saat buang air kecil. BAK tidak puas (-), BAK
berpasir (-), merasa panas ketika BAK (-). Nyeri pada panggul juga kadang-
kadang dikeluhkan oleh pasien. BAB tidak ada gangguan. Demam (-), badan
lemas (+).
Penonjolan pada daerah suprapubik (-), bengkak pada kedua kaki (-), nyeri
suprapubik (-), nyeri tulang (-), nyeri pinggang (-), mual dan muntah (-).

c. Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Terdahulu
Riwayat penyakit pada traktus urogenital sebelumnya disangkal. Tidak ada
riwayat kecelakaan atau trauma, tidak ada riwayat penyakit perdarahan, dan
tidak ada riwayat minum OAT.
e. Riwayat Penyakit Keluarga

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 1


Keluhan seperti ini dalam keluarga disangkal oleh penderita. Riwayat
penyakit keganasan dalam keluarga juga disangkal.
f. Riwayat Alergi
Disangkal
g. Riwayat Psikososial
Penderita mengaku memiliki kebiasaan merokok dalam sehari sebanyak
40 batang selama lebih dari 20 tahun, tapi sekarang sudah sangat jarang.
Riwayat mengonsumsi kopi tiap pagi dan minuman berenergi seminggu 3 kali
selama kurang lebih 1 tahun.

1.3. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
Kadaan umum : lemah
Kesadaran : compos mentis
Tekanan Darah : 120/70mmHg
Pernapasan : 22 x/menit
Nadi : 86 x/menit
Suhu : 36,7oC

Kepala dan Leher


Kepala : normochepal
Mata : konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor,
reflex cahaya (+/+), diameter 3mm/3mm
Hidung : cuping hidung (-), sekret (-), deviasi septum (-), epistaksis (-)
Telinga : normotia
Mulut : bibir pucat (+), bibir kering (+)
Leher : tidak ada pembesaran KGB

Thorax
Paru
I : bentuk dada simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-), deformitas (-),
jejas (-)
P : vocal fremitus kanan=kiri, nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak ada
P : sonor diseluruh lapangan paru
A : suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Jantung
I : iktus cordis tidak terlihat
P : iktus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra
P : batas atas ICS II linea midclavikularis sinistra, batas kiri ICS IV linea
para sternalis sinistra, batas kiri ICS III linea aksilaris anterior sinistra
A : bunyi jantung I/II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 2


I : datar, tidak tampak massa tumor, jejas tidak ada
A : BU (+) normal
P : timpani
P : distensi (-), hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan suprapubik (-), tidak
teraba benjolan

Ekstremitas
Tidak ada deformitas, pucat (-), sianosis (-), akral hangat, edema (-), CRT <2

Status Lokalis
Regio Flank D/S
Insp : Bulging -/-, tanda radang -/-
Palp : Massa -/-, nyeri tekan -/-, Ginjal tidak teraba -/-
Perc : Nyeri ketok CVA -/-
Regio Suprapubis
Insp : Bulging (-) tanda radang (-)
Palp : Massa -, nyeri tekan -, distensi (+)
Regio Penoscrotal
Tidak ada kelainan, terpasang DC.

Pemeriksaan Fisik Tambahan


Rectal touche: Sfingter mencekik, mukosa licin, ampulla rektum berisi feses, tidak
teraba pembesaran prostat ke arah rektum, pada palpasi bimanual tidak teraba
benjolan atau massa dari buli-buli.
Handschoen : feses ada, darah tidak ada, lendir tidak ada.

1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi
Hemoglobin 2,6 g/dL (N:12-16 g/dL)
Leukosit 5.130 /mm3 (N: 4.000-11.000 /mm3)
Trombosit 306.000 /mm3 (N:150.000-350.000 /mm3)

Kimia Klinik

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 3


BUN 47,1 mg/dL (N: 10-20 mg/dL)

Kreatinin 3,7 mg/dL (N:0,5-1,7 mg/dL)

b. Pmeriksaan USG

Interpretasi:
1. Hidronefrosis ringan dextra
2. Hidronefrosis sedang-berat sinistra
3. Masa pada vesika urinaria dengan diameter 9 cm

1.5. Diagnosis kerja


- Hematuria e.c. suspek karsinoma buli-buli
- Hedronefrosis ringan dextra dan Hedronefrosis sedang-berat sinistra
- Anemia gravis

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 4


1.6. Penatalaksanaan
a. Pasang triway cateter
b. IVFD RL 20 tpm
c. Transfusi darah
d. Inj. Asam Tranexamat 250mg
e. Inj. Asam Folat
f. Inj. Vitamin K
g. Konsul dokter Spesialis Bedah Urologi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hematuria


Hematuria adalah suatu gejala yang ditandai dengan adanya darah atau sel
darah merah dalam urin. Secara klinis, hematuri dapat dikelompokkan menjadi:

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 5


Hematuria makroskopis (gross hematuria) adalah suatu keadaan urin bercampur
darah dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Keadaan ini dapat terjadi bila 1
liter urin bercampur dengan 1 ml darah. Hematuria mikroskopis yaitu hematuri
yang hanya dapat diketahui secara mikroskopis atau tes kimiawi.1,2

2.2 Etiologi

Gambar 2.1. Etiologi hematuria berdasarkan lokasi kelainan

Hematuria dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan yang berada di dalam


sistem urogenitalia atau kelainan yang berada di luar urogenitalia. Kelainan yang
berasal dari sistem urogenitalia antara lain:4
a. Infeksi/inflamasi, antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis, dan
uretritis
b. Tumor jinak/tumor ganas, antara lain tumor Wilm, tumor Grawitz, tumor pielum,
tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, dan hiperplasia prostat jinak.
c. Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain kista ginjal dan ren mobilis

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 6

Gambar 1
d. Trauma yang mencederai sistem urogenitalia
e. Batu saluran kemih

2.3. Diagnosis dan Diferensial Diagnosis

Hematuria merupakan gejala yang penting dan serius, serta dapat disebabkan oleh
berbagai penyakit. Agar diagnosis penyebab hematuria dapat ditegakkan secara pasti,
diperlukan pemeriksaan yang sistematik dan terarah meliputi anamnesis, pemerikasaan
fisik, laboratorium dan pemeriksaan khsusus lainnya, dan menghindari pemeriksaan
yang tidak perlu.1 Karakteristik suatu hematuria dapat dipakai sebagai pedoman untuk
Terjadi pada Inisial Total Terminal
Tempat kelainan Uretra, Prostat Buli-buli, ureter, buli-buli, Prostat
ginjal
memperkirakan lokasi penyakit primernya, yaitu apakah terjadi pada awal miksi, semua
proses miksi, atau pada akhir miksi.
Tabel 2.1. Porsi hematuri pada saat miksi4

2.4. Definisi Karsinoma Buli-Buli

Karsinoma buli-buli merupakan suatu karsinoma yang berasal dari jaringan


pada buli-buli. Sebagian besar karsinoma buli-buli merupakan karsinoma sel
transisional (karsinoma yang berasal dari sel yang secara normal berada pada

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 7


lapisan terdalam dari buli-buli). Tipe lain dari karsinoma buli-buli yakni
karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. (1)
Karsinoma buli-buli merupakan 2% dari keganasan dan merupakan
keganasan kedua terbanyak pada sistem urogenitalia setelah karsinoma prostat.
Rata-rata usia penderita adalah 65 tahun. (2) (3) Karsinoma ini lebih sering terjadi
pada kelompok golongan kulit putih dibanding orang kulit hitam dimana rasio
laki-laki dibanding perempuan yaitu 2,7:1. 85% terlokalisasi di buli-buli dan 15%
(3)
menyebar ke limfonodus regional atau ke tempat yang lebih jauh . Sekali
diagnosis ditegakkan maka tendensi untuk berulang sepanjang waktu dan lokasi
yang baru pada traktus urinarius dapat terjadi sehingga diperlukan monitoring
yang berkelanjutan. (4)

2.5. Epidemiologi

Berdasarkan data dari Global Cancer Statistic, pada tahun 2008 ditemukan
386.300 kasus baru karsinoma buli-buli di seluruh dunia dengan angka kematian
mencapai 150.200. Insiden terbanyak ditemukan di negara-negara Eropa, Amerika
Utara dan Afrika Utara dan insiden paling rendah di negara-negara Melanesia dan
Afrika Tengah. Di Asia Tenggara ditemukan pada pria 4,5/100.000 penduduk dan
(6)
pada wanita 1,3/100.000 penduduk . Di Indonesia berdasarkan data yang
dikumpulkan di Universitas Indonesia pada tahun 1991, karsinoma buli-buli
menempati urutan ke 9 dari 10 kanker terbanyak pada laki laki dengan jumlah
3,97%. (7)
Karsinoma buli-buli merupakan kanker yang kebanyakan terjadi pada laki-
laki dengan predileksi usia 50-70 tahun. Penyebabnya hingga saat ini kebanyakan
belum jelas namun terdapat faktor terkait yang saat ini umum diakui yakni
lingkungan dan pekerjaan, merokok, metabolisme, serta faktor lain seperti iritasi
dan infeksi. (2)

2.6. Anatomi

Saat terisi buli-buli memiliki kapasitas sekitar 500 ml dan berbentuk ovoid
dan pada saat kosong buli-buli berbentuk tetrahedral dan memiliki permukaan

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 8


superior yaitu pada urakus, dua permukaan inferolateral dan permukaan
posteroinferior atau dasar dengan leher buli-buli pada bagian terendah. (8)
Urakus menggantungkan buli-buli pada dinding abdomen anterior. Urakus
terdiri dari otot polos longitudinal yang terbentuk dari dinding buli-buli. Semakin
dekat dengan umbilius, urakus semakin banyak jaringan ikat dan biasanya bersatu
dengan arteri umbilikalis. (8)
Permukaan superior dari buli-buli ditutupi oleh peritoneum. Di anterior,
peritoneum berjalan hingga ke dinding anterior abdomen. Saat mengalami
distensi, buli-buli terangkat ke rongga pervis dan memisahkan antara peritoneum
dan dinding anterior abdomen. Hal ini memungkinkan dilakukannya sistostomi
suprapubik tanpa beresiko masuk kedalam kavum peritoneal. Di bagian posterior,
peritoneum berjalan hingga level vesika seminalis dan bergabung dengan
peritoneum yang berada pada anterior rektum dan membentuk ruang rektovesika.
Pada perempuan, peritoneum pada permukaan superior berjalan di depan uterus
dan membentuk kantung vesicouterine dan berlanjut ke posterior menbentuk
kantung rektouterine. (8)
Pada bagian anteroinferior dan lateral dari buli-buli dilindungi dari dinding
lateral pelvis oleh bantalan lemak retropubis dan perivesika serta jaringan ikat
longgar. Pada bagian dasar dari buli-buli berhubungan dengan vesika seminalis,
ampulla vas deverens dan ureter terminalis. Leher buli-buli terletak pada meatus
uretra internus sekitar 3-4 cm dibelakang titik tengah simfisis pubis dan difiksasi
oleh fascia pelvis. Akibat hubungannya dengan prostat maka posisinya sedikit
berubah dengan berbagai kondisi pada buli-buli dan rektum. (8)

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 9


Gambar 2.2. Anatomi rongga pelvis8

Mukosa buli-buli terdiri dari epitel transisional. Dibawahnya terdapat jaringan


submukosa yang terdiri dari jaringan ikat dan jaringan elastis. Dibagian luar dari
mukosa terdiri dari otot detrusor yang merupakan campuran dari serat otot polos
yang tersusun secara acak dari longitudinal, sirkuler, dan spiral yang tidak
memiliki orientasi kecuali ada daerah sekitar orificium uretra interna dimana
terdiri dari tiga lapis yakni longitudinal dibagian dalam, sirkuler di tengah dan
longitudinal di bagian terluar. (9)

Gambar 2.3. Anatomi buli-buli8


Buli-buli mendapatkan suplai darah dari arteri vesica superior, media dan
inferior yang berasal dari trunkus anterior arteri iliaca interna (hipogastrika) dan
dari percabangan dari arteri gluteal inferior dan obturator. Pada perempuan buli-
buli juga mendapatkan suplai darah dari arteri vaginalis dan arteri uterina. (9)

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 10


2.7. Etiologi

Etiologi karsinoma buli-buli kebanyakan belum jelas. Saat ini faktor terkait
yang umum diakui adalah:
Non Genetik
a. Merokok
Sekitar 50% laki-laki dan 31% perempuan yang menderita karsinoma buli-
buli memiliki riwayat merokok. Risiko terkena karsinoma buli-buli
meningkat dua kali lipat pada perokok dibandingkan dengan yang bukan
perokok.Diduga agen penyebabnya adalah alfa dan beta-naftilamin yang
ditemukan pada urine perokok. (9)
b. Lingkungan dan pekerjaan
Beta-naftilamin, benzidin, 4-aminobifenil merupakan zat karsinogen kandung
kemih, kontak jangka panjang dengan zat tersebut dapat menimbulkan kanker
kandung kemih. Zat pewarna, produk karet-plastik, cat, zat pencuci,dll juga
mungkin menjadi faktor karsinogen. (2)
c. Metabolisme triptofan dan asam nikotinat abnormal
Kelainan metabolisme triptofan dapat menghasilkan beberapa metabolit yang
setelah melalui proses dalam hati lalu dieksresikan ke buli-buli bersifat
karsinogenik. (2)
d. Diet
Beberapa peneliti menghubungkan faktor diet dengan risiko terjadinya
karsinoma buli-buli. Sebuah penelitian case-control menemukan bahwa risiko
meningkat dengan mengonsumsi makanan berminyak atau berlemak dan
risiko menurun dengan mengonsumsi vitamin A. Kualitas air minum dimana
melalui proses klorinisasi dan adanya kandungan arsen dalam air minum
meningkatkan risiko terjadinya karsinoma buli-buli. Konsumsi kopi dan
pemanis buatan belum sepenuhnya diyakini sebagai faktor risiko terjadinya
karsinoma buli-buli. (10)

e. Obat-obatan dan penyakit


Penggunaan analgetik fenasetin berhubungan dengan penyakit ginjal kronik
dan dapat berkembang menjadi kanker pada buli-buli, ureter dan pelvis ginjal.
Penggunaan agen sitotoksik/imunosupresif seperti siklofosfamid

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 11


meningkatkan risiko terjadinya kanker buli-buli hingga 9 kali dengan periode
laten kurang dari 10 tahun. Iradiasi daerah pelvis pada kanker prostat, kanker
serviks atau kanker ovarium dapat meningkatkan risiko terjadinya karsinoma
buli-buli sekunder. (10)
f. Faktor lainnya
Iritasi kronis mukosa buli-buli, seperti infeksi kronis, batu buli-buli serta
obtruksi uretral. Leukoplakia mukosa, sistisis adenomatosa dianggap sebagai
lesi prekanker, dapat menginduksi perubahan ke ganas. Adanya parasit dalam
buli-buli dapat menjadi faktor prediposisi karsinoma buli-buli. (2)

Genetik(3)
Telah dilaporkan adanya abnormalitas pada kromosom 3,5,7,9, dan 11
Abnormalitas utama pada kromosom 9p dan 11p. Kelainan pada kromosom 9p
paling sering ditemukan pada karsinoma superfisial dan kelainan pada kromosom
11p terjadi pada karsinoma invasif.

2.8. Klasifikasi

Karsinoma buli-buli terdiri atas bebrapa tipe yaitu: (11)


a. Karsinoma sel transisional
Karsinoma sel transisional merupakan karsinoma terbanyak dengan presentasi
mencapai 90% dari semua kasus karsinoma buli-buli. Karsinoma ini terdiri
dari:
1) Karsinoma sel transisional tipe papilar merupakan tipe yang berbentuk
frondular eksofitik. Ukuran dan jumlahnya bervariasi. Tipe ini merupakan
bentuk yang paling umum pada karsinoma sel transisional pada buli-buli.
Sebagian besar tumor kecil dan non-invasif.
2) Karsinoma sel transisional tipe sesile muncul dengan bentuk yang kurang
frondular, lebih solid dan dengan dasar yang lebih luas. Tumor ini
memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih invasif.
3) Karsinoma in situ ditandai dengan empat ciri karakteristik yaitu berbentuk
datar, eritema, multifokal dan tingkat keganasan tinggi. Adanya karsinoma
in situ dapat dijadikan indikator peningkatan agresifitas biologis. Tumor

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 12


papiler atau sesile lebih mudah mengalami rekurensi dan invasi
dibandingkan dengan karsinoma insitu.
b. Karsinoma sel skuamosa
Jumlah tipe ini sekitar 7-8% dari karsinoma buli-buli yang biasanya dikaitkan
dengan adanya iritasi kronis pada urotelium (misalnya schistosomiasis, batu
buli-buli atau adanya benda asing pada buli-buli)
c. Adenomaksinoma
Karsinoma ini menyumbang1% sampai 2% dari kasusdan berhubungan
dengan infeksi kronis, ekstrofi buli-buli, atau sisa-sisa urachal dalam kubah
buli-buli. Adenokarsinoma cenderung merupakan tumor penghasil mukus.
d. Karsinoma tipe lain

2.9. Patogenesis

Kanker pada saluran urotelium ditandai dengan kecenderungan untuk


mengalami kekambuhan, baik di tempat yang sama ataupun di tempat yang jauh
dari saluran urotelial. Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa
adanya defek pada urotelium dapat berkembang dan memiliki kecenderungan
untuk membentuk suatu tumor yang baru. Meskipun pendapat bahwa tumor
yang tumbuh pada tempat yang berbeda pada saluran urotelial berasal dari klon
yang sama masih kontroversial, namun beberapa penelitian mendukung hal ini.
(10)

Serangkaian peristiwa genetik cenderung mengarahkan ke perkembangan


(peristiwa primer) dan progresi (peristiwa sekunder) dari karsinoma buli-buli.
Hal ini diyakini mengakibatkan aktivasi protoonkogen dan/atau inaktivasi gen
supresor tumor. Beberapa studi menyatakan bahwa hal yang berperan penting
yakni perubahan jalur gen p53 dan kerentanan gen retinoblastoma (RB).
Perubahan ekspresi pada produk retinoblastoma (RB) pada tumor buli-buli dapat
diperoleh melalui spesimen sistektomi atau reseksi transuretral dimana hal ini
dikaitkan dengan perlangsungan yang lebih buruk. Akumulasi protein nuklear
p53 yang diperoleh dari analisis imunohistokimia dikaitkan dengan

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 13


kemungkinan perkembangan tumor superfisial dan kekambuhan pada tumor
yang invasif. Pengaruh dari perubahan gen lain seperti p21 dan p16 saat ini
menjadi sorotan terbaru. (10)

2.10. Diagnosis
Anamnesis
Sekitar 85% pasien dengan karsinoma buli-buli memberikan gejala
hematuria yang bersifat total atau mikroskopik, tidak nyeri, dan bersifat
kambuhan (intermitten). Pada sebagian kecil kasus dapat disertai gejala-gejala
iritasi seperti frekuensi, urgensi dan disuria. Gejala ini sering ditemukan pada
pasien dengan karsinoma insitu atau karsinoma yang telah mengadakan infiltrasi
luas yang menurunkan kapasitas buli-buli atau juga disebabkan oleh overaktivitas
dari buli-buli. (5) (9) (10)
Hematuria dapat menimbulkan retensi bekuan darah sehingga pasien datang
dengan keluhan tidak dapat miksi. Keluhan akibat penyakit yang lebih lanjut
berupa obstruksi saluran kemih bagian atas atau edema tungkai. Edema tungkai
disebabkan karena penekanan aliran limfe oleh massa tumor atau oleh kelenjar
limfe yang membesar pada daerah pelvis. (5)
Nyeri pada karsinoma buli-buli disebabkan karena tumor lokal yang makin
berkembang atau karena telah bermetastasis. Nyeri pada daerah panggul dapat
mengindikasikan adanya obstruksi uretra. Nyeri pada daerah suprapubik dapat
disebabkan karena invasi tumor ke jaringan lunak perivesika, obstruksi pada
muara buli-buli dan adanya retensi urin. Nyeri pada tulang mengindikasikan
bahwa tumor telah bermetastasis ke tulang. (10)

Pemeriksaan fisik
Palpasi bimanual dapat dilakukan dengan narkose umum (agar otot buli-buli
relaks) pada saat sebelum dan setelah reseksi tumor TUR buli-buli. Jari telunjuk
kanan melakukan colok dubur atau colok vagina sedangkan tangan kiri melakukan
palpasi pada daerah suprasimfisis untuk memperkirakan infiltrasi tumor. (5). Selain
itu pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya massa dan

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 14


penyebarannya, ukuran, mobilitas, dan derajat fiksasi pada organ lain. (3) Jika buli-
buli tidak mobile, hal ini menunjukkan fiksasi tumor pada struktur didekatnya
melalui invasi langsung. (5) (9)
Ditemukannya massa saat palpasi di flank area menunjukkan terjadinya
hidronefrosis. (3)
Ditemukannya hepatomegali atau limfadenopati supraklavikuler merupakan
tanda dari metastasis.Pada kasus yang jarang, metastasis dapat terjadi pada organ
yang tidak biasa seperti pada kulit yang menunjukkan nodul yang nyeri yang
disertai dengan ulkus. (9)
Pemeriksaan laboratorium
Tes laboratorium yang dapat dilakukan pada pasien dengan karsinoma buli-
buli yakni:
a. Tes laboratorium rutin
Pada tes ini yang paling sering ditemukan adalah hematuria. Hematuria kadang
disertai dengan pyuria yang disebabkan oleh adanya infeksi traktus urinarius
secara bersamaan. Azotemia terjadi pada pasien dengan oklusi ureter akibat
tumor primer pada buli-buli atau adanya limfadenopati. Anemia ditemukan
pada pasien yang kehilangan darah kronik atau perubahan pada sumsum tulang
akibat metastasis. (9)
b. Sitologi urin
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat sel-sel urotelium yang terlepas
bersama urin. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi adanya tumor pada
pasien dengan gejala simptomatik dan untuk menevaluasi pengobatan (9). Kira-
kira 82-90% menunjukkan hasil positif, 20% memberikan hasil negatif palsu
dan 1-12% positif palsu. (3)
c. Antigen permukaan sel
Pemeriksaan BTA (Bladder Tumor Antigen) merupakan pemeriksaan yang
menggunakan partikel IgG untuk mendeteksi adanya tumor superfisial pada
buli-buli. Pemeriksaan lain berupa nuclear matrix protein (NMP22 test), fibrin
degradation product (FDP assay), telomerase activity dan hyaluronidase level
dapat digunakan untuk skrining sitologi. (12)

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 15


d. Flow cytometry
Pemeriksaan ini untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom pada sel-sel
urotelium. (5)

Pemeriksaan radiologi
a. Pielografi eksretorik
Pemeriksaan ini dapat melihat pelvis renis, ureter apakah terdapat tumor dan
pengaruh tumor terhadap fungsi ginjal. Pencitraan buli-buli dapat melihat defek
pengisian, infiltrasi dinding buli-buli menjadi keras dan tidak beraturan. (2)
b. USG
USG dapat menemukan tumor di atas 0,5 cm, jika dilakukan scanning
transuretral, akurasi dapat mencapai 94%, dapat secara lebih tepat mengetahui
lingkup invasi dan stadium tumor. Akhir-akhir ini penggunaan pencitraan
ultrasonik 3 dimensi dapat menunjukkkan bentuk dan lokasi tumor secara
stereoskopik. (2)
c. CT
Akurasi stadium lebih tinggi dibandingkan dengan USG, dapat mencapai
90%.Peemriksaan ini dapat memahami secara tepat hubungan tumor dan
sekitarnya maupun ada tidaknya metastasis kelenjar limfe regional. (2)
d. Sistoskopi
Sistoskopi merupakan metode paling utama dalam diagnosis, dapat langsung
melihat lokasi, ukuran, jumlah, bentuk, situasi tangkai dan derajat infiltrasi di
basis tumor. Karsinoma in situ selain mukosa setempat yang mengalami
eritema, tidak ada kelainan lain. Pada waktu sistoskopi, harus diperhatikan
hubungan tumor dengan ostium ureter dan leher buli-buli dan dilakukan biopsi.
Belakangan ini terutama diperhatikan lesi patologis mukosa buli-buli,
dilakukan biopsi random, jika secara visual ditemukan karsinoma in situ pada
mukosa normal, hiperplasia atipikal, pertanda prognosis tidak baik. (2)

2.11. Stadium

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 16


Tabel 2.2. Stadium karsinoma buli sesuai sistem TNM dan stadium menurut Marshal4
TNM Marshal Uraian
Tis 0 Karsinoma in situ
Ta 0 Tumor papilari non invasif
T1 A Invasi submukosa
T2 B1 Invasi otot superfisial
T3a B2 Invasi otot profunda
T3b C Invasi jaringan lemak prevesika
T4 D1 Invasi ke organ sekitar
N1-3 D1 Metastasis ke limfonoduli regional
M D2 Metastasis homogen

Klasifikasi gradasi menunjukkan tingkat keganasan tumor: (2)


Grade 1 : diferensiasi baik, epitel transisional lebih dari 7 lapis, displasia inti ringan,
mitosis jarang ditemukan.
Grade 2 : epitel menebal, polarisasi sel menghilang, mitosis sering ditemukan, displasia
inti derajat sedang.
Grade 3 : tergolong tidak berdiferensiasi, tidak ada persamaan dengan epitel normal,
mitosis banyak.

2.12. Prognosis

Faktor yang menentukan prognosis karsinoma buli-buli tergantung pada


stadium saat didiagnosis dan derajat diferensiasi tumor. Angka harapan hidup lima
tahun pada pasien dengan tumor superfisial, invasi ke otot, dan tumor yang telah
metastasis yakni berturut-turut 95%, 50%, dan 6%. Usia tua, ekspresi p53,
aneuploid, tomor multifokal dan massa yang teraba merupakan faktor lain yang
dapat memperburuk prognosis penyakit. (13)
Secara klinis dapat ditemukan dua jenis gambaran, yaitu gambaran
superfisial dan yang bertumbuh invasif. Pada karsinoma buli-buli superfisisal,
penderita berulang-ulang ditangani dengan sistoskopi untuk mengontrol reseksi
lokal dan instilasi kemoterapi. Kebanyakan tidak mengalami metastasis sehingga

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 17


prognosis ketahanan hidup agak baik walaupun morbiditasnya cukup berat. Pada
penderita karsinoma buli-buli invasif mengalami riwayat penyakit yang sangat
berbeda dengan karsinoma buli-buli superfisial. Sekitar 90% tidak pernah
mengalami gambaran klinis karsinoma superfisial dan kurang lebih setengahnya
telah bermetastasis jauh samar (occult) yang kebanyakan menjadi jelas dalan
waktu satu tahun. Prognosisnya buruk dalam waktu satu-dua tahun. (14)

2.13. Tata Laksana

Metode terapi pada pasien dengan karsinoma buli-buli meliputi operasi,


radioterapi, kemoterapi dan imunoterapi, namun yang utama adalah operasi.
Penentuan jenis operasi didasarkan atas patologi tumor dan kondisi umum pasien.
(2)

Pasien dengan karsinoma buli-buli superfisial dapat ditangani dengan TUR


yang diikuti dengan kemoterapi atau imunoterapi. Pasien dengan tumor yang kecil
dan stadium rendah memiliki resiko rendah untuk mengalami progresi sehingga
dapat ditangani dengan TUR saja disertai dengan pengawasan ketat atau diberikan
kemoterapi intravesika. Pasien dengan T1, stadium tinggi, multipel, besar, tumor
rekuren atau disertai dengan adanya CIS pada biopsi merupakan tumor yang
berisiko tinggi untuk mengalami progresi dan rekuren sehingga harus
dipertimbangkan pemberian kemoterapi atau imunoterapi intravesika setelah
dilakukan TUR komplit. Reseksi yang kedua pada daerah yang sama dilakukan
untuk menentukan stadium tumor yang lebih akurat dan untuk mementukan
terapi. Reseksi ulangan dapat meningkatkan respon terhadap terapi intavesika.
Penanganan pada pasien dengan T1 hingga saat ini masih kontroversial. Beberapa
klinisi menyarankan untuk dilakukan radikal sistektomi khususnya pada grade III
atau adanya lesi yang beresiko tinggi untuk mengalami progresi. Namun
progresifitas dapat diturunkan dengan pemberian imunoterapi intravesika. (9)

Pasien dengan tumor yang lebih invasif namun masih terlokalisir (T2,T3)
memerlukan tindakan lokal yang lebih agresif berupa parsial atau radikal
sistektomi atau kombinasi antara radiasi dan kemoterapi sistemik. Tumor yang

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 18


lebih cepat perluasannya perlu dilakukan terapi yang lebih agresif. Pasien dengan
tumar yang tidak dapat direseksi T4b dapat diberikan kemoterapi sistemik yang
diikuti oleh operasi. Pasien dengan metastasis jauh diberikan kemoterapi sistemik
dan diikuti pemberian terapi selektif seperti radiasi atau operasi tergantung pada
respon pasien. (9)

Berikut merupakan pilihan terapi inisial pada pasien dengan karsinoma buli-buli:
(9)

TUR buli-buli
TUR merupakan bentuk penatalaksanaan awal karsinoma buli-buli. TUR ini
memungkinkan hasil yang lebih akurat dalam memperkirakan stadium dan tingkat
tumor serta merupakan pengobatan tambahan pada karsinoma buli-buli. Pasien
dengan tumor tunggal, stadium dini dan tumor yang bersifat non invasif dapat
diterapi dengan TUR saja namun tumor yang superfisial dengan stadium lanjut
harus diterapi dengan TUR yang disertai dengan terapi intravesika selektif. TUR
tunggal jarang dilakukan dalam menangani pasien dengan karsinoma yang invasif
karena memiliki tingkat progresifitas dan kekambuhan tinggi. (9)
Operasi
Operasi/pembedahan dilakukan jika penyebaran karsinoma sudah mencapai
otot buli-buli. Jenis operasi yang dapat digunakan dalam menangani karsinoma
buli-buli adalah sistektomi parsial, sistektomi total, dan sistektomi radikal.
Sistektomi parsial merupakan indikasi untuk tumor soliter dengan batas tegas
pada mukosa. Sistektomi total merupakan terapi definitif untuk karsinoma
superfisialis yang mengalami kekambuhan. Sistektomi radikal merupakan suatu
tindakan pilihan jika terapi lain tidak berhasil atau timbul kekambuhan. (4)

a. Sistektomi Parsial
Sistektomi parsial dapat memberikan kemampuan dan fungsi buli-buli
yang normal setelah dilakukan operasi. Jenis operasi ini memiliki angka
(3).
morbiditas dibanding jenis sistektomi lain Pasien dengan tumor yang soliter,
tumor yang menginfiltrasi lokal (T1-T3) di sepanjang dinding posterior lateral
atau di kubah buli-buli merupakan indikasi untuk dilakukan sistektomi parsial,

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 19


begitu juga pada karsinoma yang berada pada divertikulum. (9) selain itu indikasi
dilakukan sistektomi parsial adalah jika tidak ditemukan CIS, letak tumor tidak
berada pada leher buli-buli, dasar ataupun pada prostat, tidak ada riwayat
penyakit yang sama sebelumnya ataupun riwayat keganasan urotelial. (3). Setelah
dilakukan operasi maka untuk meminimalkan inplantasi tumor pada daerah luka
maka pada saat dilakukan operasi dapat diberikan iradiasi dosis terbatas (1000-
1600 cGy) dan dapat diberikan agen kemoterapi intravesika sebelum dilakukan
operasi. (9)
b. Sistektomi Total
Sistektomi total pada laki-laki dilakukan dengan cara mengangkat buli-
buli, prostat, vesika seminalis, lemak perivesika pelvis peritonium, urakus
remnant, uretra dan 1/3-1/4 bawah ureter. Pada perempuan dilakukan dengan
cara mengangkat buli-buli, uretra, dinidng anterior vagina, ovarium, tuba fallopi,
uterus, pelvis peritonium, urakus remnnant dan 1/3-1/4 bawah ureter. (3)
c. Sistektomi radikal
Sistektomi radikal memiliki prosedur yang hampir sama dengan sistektomi
total dengan tambahan dilakukan diseksi pada limfatik disepanjang bifurkasio
aorta. Indikasi dilakukan sistektomi radikal yakni jika ukuran tumor terlalu besar
untuk dilakukan sistektomi parsial, posisi tumor tidak memungkinkan untuk
dilakukan resesksi misalnya pada dasar buli-buli, tumor multipel, karsinoma sel
squamosa dan sarkoma yang radio resisten, ditemukannya leukoplakia dimana
dapat berkembang ke arah keganasan. (3)
d. Diatermi Terbuka
Diatermi terbuka dilakukan jika ditemukan tumor dengan ukuran yang
sangat besar dan pada pemeriksaan histologi ditemukan tumor berdiferensiasi
baik tanpa adanya infiltrasi ke lapisan otot. Cara ini memungkinkan untuk
membuka buli-buli melalui rute suprapubik dan kemudian meresesksi tumor
hingga ke dasarnya. Jika ukuran tumor lebih dari 5 cm dan memunjukkan
infiltrasi pada lapisan otot maka yang dilakukan adalah mengangkat bagian
superfisial kemudian diberikan material radioaktif misalnya emas radioaktif. Hal

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 20


ini dapat mengeradikasi tumor yang berada di bawah yang tidak terangkat pada
eksisi preeliminasi. (3)
Kemoterapi intravesika
Agen imunoterapi atau kemoterapi diinstilasi kedalam buli-buli via kateter
untuk menghindari morbiditas sistemik yang terjadi pada banyak kasus.Terapi
intravesika dapat menjadi propilaksis maupun terapi objektif dimana dapat
menurunkan rekurensi tumor pada pasien yang telah diberikan TUR komplit.
Kemoterapi intravesika digunakan pada dua keadaaan. Diberikan saat setelah
dilakukan TUR yang bertindak sebagai profilaktik untuk mengurangi terjadinya
implantasi sel tumor. Hal ini juga dapat digunakan sebagai terapi untuk
mengurangi resiko terjadinya kekambuhan dan progresifitas tumor superfisisal
dengan resiko rendah. Oleh karena itu kemoterapi atau imunoterapi intravesika
dapat diberikan dalam 3 bentuk yakni adjuvan, profilaksis, maupun terapi. (9)
Di Amerika Serikat agen pengobatan yang biasa digunakan adalah
Mitomisin, Thiotepa, dan BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
a. Mitomisin
Mitomycin-C adalah antitumor, antibiotik, alkylating agen yangmenghambat
sintesis DNA. Dengan berat molekul 329, penyerapan sistemik minimal. Dosis
umum adalah 40 mg dalam 40 cc cairan steril atau larutan garam diberikan sekali
seminggu selama 6 minggu. Dosis yang sama digunakan secara berangsur-angsur
sebagai profilaksis tunggal. Antara 39% dan78% dari pasien dengan riwayat
rekurensi, memberikan respon terhadap pemberian mitomisin-C secara intravesika
dan angka kekambuhan berkurang setelah dilakukan TUR lengkap. Efek samping
yang dicatat dalam 10-43% dari pasien dan sebagian besar terdiri dari gejala iritasi
berkemih termasuk frekuensi, urgensi, dan disuria. Keunikan obat ini adalah
menyebabkan munculnya ruam pada telapak tangan dan alat kelamin kira-kira 6%
dari pasien, tetapi efek ini bisa dikurangi jika pasien mencuci tangan dan alat
kelamin setelah pemberian intravesika. (9)
b. Thiotepa
Thiotepa adalah agen alkilasi denganberat molekul dari 189. Meskipun
berbagai dosis telahdigunakan, 30 mg per minggu tampaknya cukup.Hingga 55%
dari pasien merespon sepenuhnya. Cystitis tidakjarang terjadi setelah pemberian,

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 21


tetapi biasanya ringan dan self-limited.
Myelosupresi merupakan leukopenia dan trombositopenia terjadi sampai dengan
9% dari pasien karena penyerapan sistemik. Hitung darah lengkap harus diperiksa
pada semua pasien sebelum instilasi berikutnya. (9)
c. BCG
BCG adalah strain Mycobacteriumbovis yang dilemahkan.Mekanisme yang
tepat dimana BCGmemberikan efek antitumor tidak diketahui, tetapi tampaknya
dimediasi imunologi. BCG telah terbukti sangat efektif baik terapi dan profilaksis
dan menjadi agen intravesika paling baik untuk pengelolaan CIS. (9)
Radioterapi
Penyinaran dengan irradiasi eksternal (5000-7000 cGy) diberikan selama 5-
8 minggu merupakan alternatif pilihan pada pasien dengan sistektomi radikal
dimana karsinoma sangat berinfiltrasi. Pengobatan pada umumnya ditoleransi
dengan baik. Namun kira-kira 15% pasien memberikan komplikasi usus, buli-buli
atau rektal yang signifikan. Angka harapan hidup lima tahun pada pasien dengan
T2-T3 berada pada rentang 18-41%.
Namun sayangnya kekambuhan lokal sering terjadi sekitar 33-68% dari
pasien. Oleh karena itu pemberian radiasi sebagai monoterapi biasanya diberikan
hanya pada pasien yang memberikan respon yang tidak baik jika dilakukan
operasi akibat lanjut usia ataupun ada penyakit penyerta. (9)
Kemoterapi
Sekitar 15% dari pasien dengan karsinoma buli-buli ditemukan adanya
metastasis regional maupun metastasis jauh dan 30-40% pasien dengan penyakit
yang invasif dapat mengalami metastasis jauh meskipun telah dilakukan
sistektomi radikal. Tanpa adanya pengobatan, kelangsungan hidup pasien akan
terbatas. Pemberian agen kemoterapi tunggal dan yang paling sering kombinasi
beberapa obat menunjukkan respon terapi parsial ataupun komplit yang signifikan
terhadap sejumlah pasien karsinoma buli-buli dengan metastasis. Cisplatin
merupakan agen tunggal yang paling aktif yang jika digunakan secara tunggal,
memberikan respon terapi sekitar 30%. Agen efektif lainnya yakni methotrexate,
doxorubicin, vinblastin, siklofosfamid, gemcitabin, dan 5-fluorouracil. Tingkat
respon meningkat dengan mengkombinasikan beberapa bahan aktif. Regimen

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 22


methotrexate, vinblastin, doksorubicin (adriamicin) dan cisplatin (MVAC)
merupakan regimen yang sering digunakan pada pasien karsinoma buli-buli tahap
lanjut dan sekitar 13-15% pasien yang menerima regimen ini memberikan respon
komplit. Namun demikian angka harapan hidup sekitar 20-25%.Pengobatan
dengan MVAC kadang dikaitkan dengan adanya toksisitas substansial meliputi
kematian akibat keracunan sekitar 3-4%. (9)

BAB III
ANALISIS KASUS

ANALISIS
Dari anamnesis diketahui bahwa keluhan utama pada penderita ini gross
hematuria. Keadaan seperti ini dapat terjadi pada berbagai kelainan pre-renal, renal,
atau post renal. Akan tetapi, dari anamnesis lebih lanjut, kemungkinan adanya kelainan-
kelainan pre-renal berupa penyakit perdarahan atau konsumsi obat OAT dapat kita

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 23


singkirkan. Sehingga kemungkinannya adalah berasal dari kelainan renal dan post-renal,
misalnya batu sepanjang traktus urinarius, keganasan, infeksi hebat atau trauma. Untuk
infeksi hebat dan trauma dapat kita singkirkan melalui anamnesis karena tidak
didapatkan riwayat demam dan menggigil serta riwayat kecelakaan maupun trauma.
Sehingga kecenderungan yang dapat kita pertimbangkan adalah kemungkinan adanya
batu atau tumor di sepanjang traktus urinarius.
Bila melihat dari waktu keluarnya hematuri dimana berlangsung dari awal
sampai akhir kencing, atau biasa dinamakan hematuri total, maka kemungkinan yang
dapat dipikirkan adalah adanya batu atau tumor yang berasal dari buli-buli, ureter dan
ginjal. Adanya batu atau tumor ginjal, ureter, dan buli-buli dapat kita singkirkan dari
hal-hal berikut ini:
1 Pada anamnesis didapatkan gross hematuri tidak disertai adanya nyeri kolik pada
kedua pinggang. Sehingga kemungkinan adanya batu atau tumor pada ginjal dan
ureter dapat singkirkan. Tidak ada tanda-tanda obstruksi buli-buli, seperti susah
buang air kecil dan mengedan saat buang air kecil. Hal ini menunjukkan walaupun
terdapat massa di buli-buli, namun massa tidak berada pada orificium uretra
internum. Didapatkan gejala iritasi pada buli-buli berupa polakisuria, urgency,
nokturia, dan disuria.
2. Pada pemeriksaan fisik, tidak ditemukan nyeri ketok pada kedua regio
costovertebralis, yang biasanya ditemukan pada batu ginjal. Selain itu juga tidak
ditemukan adanya ballottement pada salah satu atau kedua ginjal. Batu yang
menyumbat sistem kalises ginjal akan menyebabkan hidronefrosis, demikian pula
bila terdapat batu pada ureter dengan lumen yang sempit sehingga gampang
terjadi obstruksi dan lebih cepat terjadi hidronefrosis, yang pada pemeriksaan fisik
didapatkan sebagai ballottement ginjal.
Dari hal tersebut di atas, maka dapat dipikirkan bahwa kemungkinan besar yang
dapat menyebabkan hematuria berasal dari buli-buli. Beberapa penyakit atau kelainan
yang dipikirkan antara lain tumor dan batu buli-buli. Pada pemeriksaan rectal touche
dengan bimanual tidak didapatkan penonjolan dari buli-buli. Namun, belum dapat
menyingkirkan diagnosis tumor pada buli-buli. Bila ditemukan batu buli-buli pada
perabaan palpasi bimanual, maka massa akan bersifat mobile pada perabaan. Dengan

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 24


demikian, dugaan lebih cenderung kepada tumor pada buli-buli.
Keganasan pada buli-buli biasanya ditandai dengan trias berupa kencing
bercampur darah disepanjang berkemih (hematuria total), gejala yang berulang
(intermitten), dan tanpa disertai dengan keluhan nyeri (silent hematuri).
Keganasan pada buli-buli dapat dipicu oleh beberapa faktor resiko dan etiologi
non-genetik seperti umur di atas 50 tahun, riwayat kebiasaan mengkonsumsi kopi dan
pemanis buatan. Pada perokok, risiko terkena keganasan pada buli-buli meningkat 4 kali
lipat. Paparan bahan-bahan kimia yang berhubungan dengan pekerjaan seperti bekerja
pada bagian percetakan atau pewarnaan, perusahaan karet, petrolium, kulit dan
pengecatan, juga turut meningkatkan resiko keganasan pada buli-buli. Selain itu, infeksi
kronik schistosomiasis, radiasi pelvis, agen sitotoksik dan trauma urothelium seperti
instrumentasi, kalkuli/batu, pemasangan kateter dalam waktu yang lama meningkatkan
resiko keganasan. Pada penderita ini, dari anamnesis ditemukan kebiasaan
mengkonsumsi kopi, merokok, dan riwayat pekerjaan penderita sebagai buruh bangunan
selama 30 tahun yang meningkatkan risiko paparan penderita terhadap bahan-bahan
kimia. Temuan-temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa tumor buli-buli yang
diderita penderita merupakan suatu keganasan. Meskipun demikian, hal ini harus
ditelusuri lebih jauh lagi, yaitu dengan konfirmasi melalui pemeriksaan patologi
anatomi.
Nyeri pada proses keganasan di buli-buli sendiri dapat terjadi bila proses
keganasan disertai dengan iritasi atau proses inflamasi akibat infeksi atau iritasi buli-
buli oleh massa tumor itu sendiri. Pada penderita ini, terdapat keluhan gejala iritasi
berupa nyeri saat berkemih, sehingga perlu pula dipikirkan kemungkinan adanya infeksi
buli-buli akibat peradangan yang berlangsung lama, kemungkinan ini perlu untuk
dikonfirmasi dengan pemeriksaan analisis urin dan bila terbukti, perlu pula dilakukan
pemeriksaan kultur dan sensitivitas urin untuk terapi antibiotik spesifik.
Dari uraian analisis ini, kita dapat membuat kemungkinan diagnosis yang paling
mendekati adalah: Suspek Karsinoma Buli. Untuk memastikan diagnosis, kita dapat
melakukan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang berupa:
a. USG Abdomen; USG dapat membantu menemukan adanya massa pada buli-
buli, walaupun dapat dikacaukan oleh adanya bekuan darah yang bisa terlihat

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 25


sebagai massa dalam buli-buli. Tidak adanya massa, tidak dapat menyingkirkan
suatu karsinoma buli-buli. USG juga dapat membantu untuk menentukan adanya
pembesaran (hipertropi) prostat serta ukurannya.Selain itu juga dapat membantu
menemukan atau menyingkirkan kemungkinan kelainan-kelainan lain misalnya
adanya batu ginjal/buli-buli (acoustic shadow), tumor ginjal, obstruksi di bagian
distal ginjal (pelviocalyectasis) atau adanya tanda-tanda metastasis jauh
(misalnya nodul pada hepar).
Pada seorang penderita yang dicurigai dengan suatu suspek karsinoma buli, maka
perlu ditentukan stadium dan grading tumornya. Pengobatan penderita bergantung dari
stadium tumor itu sendiri, ada atau tidaknya metastasis, penyebaran lokal serta tingkat
diferensiasi tumornya. Umur serta keadaan umum badan penderita serta fungsi ginjal
sangat berperan dalam hal ini. Karena karsinoma buli-buli sering residif maka instilasi
sitostatika pada buli-buli untuk pencegahan residif pada tumor ini perlu dipikirkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous. National Cancer Institute. [Online]. Available from:


http://www.cancer.gov/cancertopics/types/bladder.
2. Desen W, editor. Buku Ajar Onkologi Klinis. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2008.
3. Palinrungi AM. Lecture Note on Uro-Onkology Makassar: Division of Urology,
Department of Surgery, Faculty of Medicine, Hasanuddin University; 2010.
4. Lumbantobing M. Kanker Vesica Urinaria (Buli-Buli). In Martono H, Pranaka H,
editors. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 26


571-576.
5. Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. 2nd ed. Malang: Sagung Seto; 2003.
6. Jemal A, Bray F, Center MM, Ferlay J, Ward E, Forman D. Global Cancer Statistic.
American Cancer Society. 2011 April; 61.
7. Tjindarbumi D, Mangunkusumo R. Cancer in Indonesia, present and Future. Jpn J
Clinical Oncology. 2001 August; 32.
8. Chung BI, Sommer G, Brooks JD. Anatomy of the Lower Urinary Tract and Male
Genitalia. In Kavoussi LR, Partin AW, Novick AC, Peters CA, editors. Campbel-
Walsh Urology. United state of America: Elsevier; 2012. p. 40-55.
9. Konety BR, Carroll PR. Urothelial Carcinoma: Cancers of Bladder, Ureter & Renal
Pelvis. In Tanagho EA, McAninch JW. Smith's General Urology. United Stated of
America: Lange McGraw Hill; 2008. p. 308-320.
10. Galsky MD, Bajory DF. Bladder Cancer. In Schrier RW, editor. Diseases of The
Kidney & Urinary Tract. Colorado: Lippincott William & Wilkin; 2007.
11. Kramer A, Siroky MB. Neoplasm of Genitourinary Tract. In Siroky MB, Oates RD,
Babayan RK, editors. Handbook of Urology: Diagnosis & Therapy. Massachusetts:
Lippincott Williams & Wilkins; 2004.
12. Bernie JE, Schmidh JD. Bladder Cancer. In Nachtsheim D. Urological Oncology.
California USA: Landes Bioscience; 2005. p. 53-65.
13. Agrawal M, Dahut WL. Bladder Cancer. In Abraham J, Allegra CJ, Gulley J,
editors. Bethesda Handbook of Clinical Oncology. Maryland: Lippincott Williams
& Wilkins; 2005.
14. Umbas R, Manuputty D, Sukasah CL, Swantari NM, Achmad IA, Bowolaksono , et
al. Saluran Kemih dan Alat Kelamin Lelaki. In Jong Wd, Sjamsuhidayat R. Buku
Ajar Ilmu bedah. Jakarta: EGC; 2010. p. 896-899.

Laporan Kasus Hematuria e.c. Suspek Karsinoma Buli Page 27