Anda di halaman 1dari 40

ASLI TIDAKNYA MARK 16:8b-20

Mark 16:1-20 - (1) Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome
membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan pagi-pagi benar pada hari
pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. (3) Mereka berkata seorang
kepada yang lain: Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur? (4) Tetapi ketika
mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. (5) Lalu
mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di
sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: Jangan
takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.
Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-
muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti
yang sudah dikatakanNya kepada kamu. (8a) Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab
gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena
takut. (8b) Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya.
Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridNya memberitakan dari Timur ke Barat berita
yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu. (9) Setelah Yesus bangkit pagi-pagi
pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diriNya kepada Maria Magdalena. Dari
padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. (10) Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada
mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. (11)
Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. (12)
Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya
dalam perjalanan ke luar kota. (13) Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-
teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. (14) Akhirnya Ia
menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela
ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang
telah melihat Dia sesudah kebangkitanNya. (15) Lalu Ia berkata kepada mereka: Pergilah ke seluruh
dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (16) Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,
tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (17) Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang
percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa
yang baru bagi mereka, (18) mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut,
mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu
akan sembuh. (19) Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga,
lalu duduk di sebelah kanan Allah. (20) Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan
Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Asli tidaknya Mark 16:8b dan Mark 16:9-20.

Beberapa penafsir seperti Calvin, Albert Barnes, Matthew Henry tidak berbicara apapun tentang asli
tidaknya Mark 16:8b-20.

Ada hal-hal yang perlu diketahui sebelum kita mulai membahas asli-tidaknya Mark 16:8b-20.

1) Penggunaan istilah-istilah yang perlu diketahui.

a) Tidak ada penafsir yang menggunakan istilah ay 8a atau Mark 16:8a. Itu istilah saya untuk
menunjuk pada kata-kata Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan
dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena
takut.. Para penafsir menyebut bagian ini hanya dengan istilah ay 8 atau Mark 16:8.

b) Shorter ending (= akhiran yang lebih pendek) = Mark 16:8b.


Tidak ada penafsir yang menggunakan istilah ay 8b atau Mark 16:8b; itu istilah saya untuk
menunjuk pada bagian yang saya beri garis bawah tunggal, yaitu kata-kata Dengan singkat
mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri
dengan perantaraan murid-muridNya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan
tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu dalam terjemahan dari LAI. Para penafsir
menggunakan istilah shorter ending (= akhiran yang lebih pendek) untuk bagian ini.

c) Longer ending (= akhiran yang lebih panjang) = Mark 16:9-20.


Para penafsir menyebut Mark 16:9-20 (bagian yang saya beri garis bawah ganda) dengan
istilah longer ending (= akhiran yang lebih panjang).

2) Dalam persoalan Mark 16 ini, ada 4 golongan manuscript:


a) Memuat Mark 16:1-8a, tetapi tidak memuat Mark 16:8b dan Mark 16:9-20.
b) Memuat Mark 16:1-8a dan Mark 16:8b, tetapi tidak memuat Mark 16:9-20.
c) Memuat Mark 16:1-8a dan Mark 16:9-20, tetapi tidak memuat Mark 16:8b.
d) Memuat Mark 16:1-8a, Mark 16:8b, dan Mark 16:9-20.

Catatan: Untuk manuscript-manuscript yang memuat Mark 16:9-20, ada yang disertai suatu
penambahan setelah Mark 16:14.
Donald Guthrie: One MS, Codex W, contains a third ending which comprises verses 9-20, plus an
additional interpolation after verse 14. (= Satu manuscript, Codex W, berisi / mengandung akhiran
ketiga yang terdiri dari ay 9-20, ditambah suatu penyisipan tambahan setelah ay 14) - New Testament
Introduction, hal 76.

Bruce Metzger: (4) In the fourth century the traditional ending also circulated, according to testimony
preserved by Jerome, in an expanded form, preserved today in one Greek manuscript. Codex
Washingtonianus includes the following after ver. 14: And they excused themselves, saying, This age of
lawlessness and unbelief is under Satan, who does not allow the truth and power of God to prevail over the
unclean things of the spirits (or, does not allow what lies under the unclean spirits to understand the truth
and power of God). Therefore reveal your righteousness now - thus they spoke to Christ. And Christ
replied to them, The term of years of Satans power has been fulfilled, but other terrible things draw near.
And for those who have sinned I was handed over to death, that they may return to the truth and sin no
more, in order that they may inherit the spiritual and incorruptible glory of righteousness that is in
heaven. How should the evidence of each of these endings be evaluated? It is obvious that the expanded
form of the long ending (4) has no claim to be original. Not only is the external evidence extremely limited,
but the expansion contains several non-Markan words and expressions (including o( ai)w\n ou!to$,
a(marta/nw, a)pologe/w, a)lhqino/$, u(postre/fw) as well as several that occur nowhere
else in the New Testament (deino/$, o%ro$ prosle/gw). The whole expansion has about it an
unmistakable apocryphal flavor. It probably is the work of a second or third century scribe who wished to
soften the severe condemnation of the Eleven in 16:14 [= (4) Pada abad keempat akhiran yang
tradisional juga beredar, sesuai dengan kesaksian yang dipelihara oleh Jerome, dalam bentuk yang
diperpanjang, dipelihara sekarang dalam satu manuscript Yunani. Codex Washingtonianus mencakup
kata-kata yang berikut setelah ay 14: Dan mereka menjelaskan untuk membela diri mereka sendiri,
dengan berkata, Jaman kedurhakaan / ketidak-adaan hukum dan ketidak-percayaan ini ada di bawah
Iblis, yang tidak mengijinkan kebenaran dan kuasa Allah untuk menang atas hal-hal yang najis dari
roh-roh (atau, tidak mengijinkan apa yang ada di bawah roh-roh yang najis untuk mengerti kebenaran
dan kuasa Allah). Karena itu nyatakanlah kebenaranMu sekarang - demikianlah mereka berkata
kepada Kristus. Dan Kristus menjawab mereka, Masa dari tahun-tahun dari kuasa Iblis telah
digenapi, tetapi hal-hal mengerikan / menakutkan yang lain mendekat. Dan untuk mereka yang telah
berdosa Aku telah diserahkan pada kematian, supaya mereka bisa kembali pada kebenaran dan tidak
berbuat dosa lagi, supaya mereka bisa mewarisi kemuliaan rohani dan yang tidak bisa rusak dari
kebenaran yang ada di surga. Bagaimana bukti dari setiap akhiran ini harus dinilai? Adalah jelas
bahwa bentuk yang diperpanjang dari akhiran yang panjang (4) tidak mempunyai claim sebagai
sesuatu yang orisinil. Bukan hanya bahwa bukti luar / external sangat terbatas, tetapi juga bahwa
perpanjangan itu mencakup beberapa kata-kata dan ungkapan-ungkapan non-Markus (termasuk o(
ai)w\n ou!to$, a(marta/nw, a)pologe/w, a)lhqino/$, u(postre/fw / HO AION
HOUTOS, HAMARTANO, APOLOGEO, ALETHINOS, HUPOSTREPHO) maupun beberapa yang
tidak muncul di tempat lain manapun dalam Perjanjian Baru (deino/$, o%ro$ prosle/gw /
DEINOS, HOROS PROSLEGO). Seluruh perpanjangan mempunyai di sekitarnya suatu bau / rasa
yang tidak bisa salah dari apocrypha. Itu mungkin merupakan pekerjaan dari seorang penyalin abad
kedua atau ketiga yang ingin melunakkan kecaman yang keras terhadap ke 11 rasul itu dalam 16:14] -
A Textual Commentary on the Greek New Testament.
Catatan: Mark 16:14 - Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka
sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak
percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitanNya..

Perlu dicamkan bahwa perbedaan-perbedaan antar manuscript-manuscript inilah yang


menyebabkan timbulnya keraguan akan asli tidaknya Mark 16:8b-20 ini, dan keraguan ini jelas
merupakan sesuatu yang sah dan benar, karena yang menjadi acuan kita adalah manuscript-
manuscript, bukan terjemahan dalam versi manapun!

3) Petunjuk dalam Kitab Suci bahwa Mark 16:8b dan Mark 16:9-20 diragukan keasliannya.
Kitab Suci Indonesia, baik Terjemahan Lama (TL) maupun Terjemahan Baru (TB1-LAI), tidak
memberi petunjuk apapun bahwa bagian ini (Mark 16:8b dan Mark 16:9-20) diragukan keasliannya.
Demikian juga Kitab Suci bahasa Inggris yang kuno, yaitu KJV / AV tidak memberikan petunjuk
apapun tentang hal ini.
Tetapi Kitab Suci Indonesia TB2-LAI dan juga Kitab-kitab Suci bahasa Inggris versi yang lebih baru,
semuanya memberi petunjuk bahwa Mark 16:8b dan Mark 16:9-20 diragukan keasliannya.
William Hendriksen: Did Mark write verses 9-20? Though the Authorized (King James) Version of our
English Bible contains them, modern translations all indicate in one way or another that there is
considerable doubt about their authenticity [= Apakah Markus menulis ay 9-20? Sekalipun Authorized
(King James) Version dari Alkitab bahasa Inggris kita mempunyai ayat-ayat itu, penterjemah-
penterjemah modern semuanya memberi petunjuk dengan satu cara atau lainnya, bahwa di sana ada
keraguan yang penting / layak dipertimbangkan tentang ke-otentik-an ayat-ayat itu] - hal 682.

a) TB2-LAI meletakkan, baik Mark 16:8b maupun Mark 16:9-20, dalam tanda kurung besar / tegak,
dan dalam bagian Kata Pengantarnya (hal 3) dikatakan sebagai berikut: Dalam edisi kedua ini,
teks-teks yang tidak terdapat dalam naskah-naskah yang dinilai paling baik atau kuno
dicantumkan dalam tanda kurung tegak, misalnya dalam Matius 6:13. Nas-nas lain seperti Markus
16:9-20 dan Yohanes 7:53-8:11 juga diberi tanda kurung tegak.

b) NIV memberikan headnote sebagai berikut: the two most reliable early manuscripts do not have
Mark 16:9-20 (= dua manuscript yang paling kuno dan paling bisa dipercaya tidak mempunyai
Mark 16:9-20).

c) NASB memberikan footnote: Some of the oldest mss. do not contain vv 9-20 (= Beberapa dari
manuscript yang paling kuno tidak mempunyai ay 9-20).

d) ASV memberikan footnote / catatan kaki sebagai berikut: The two oldest Greek manuscripts, and
some other authorities, omit from ver. 9 to the end. Some other authorities have a different ending to
the Gospel (= Dua manuscript Yunani yang paling tua, dan beberapa otoritas yang lain,
mengabaikan / menghapuskan dari ay 9 sampai akhir. Beberapa otoritas yang lain mempunyai
akhiran yang berbeda bagi Injil ini).

e) GNB (Good News Bible) meletakkan Mark 16:9-20 di dalam tanda kurung tegak, dan
memberikan headnote / catatan kepala di atas ay 9 yang berbunyi: AN OLD ENDING TO THE
GOSPEL (= SUATU AKHIRAN YANG KUNO BAGI INJIL INI). Juga GNB memberikan
catatan kaki yang berbunyi: Some manuscripts and ancient translations do not have this ending to
the Gospel (verses 9-20) [= Beberapa manuscript-manuscript dan terjemahan-terjemahan kuno
tidak mempunyai akhiran ini bagi Injil ini (ay 9-20)].

Setelah itu GNB memberikan ay 8b dalam tanda kurung tegak (tetapi diberi penomoran ay 9
dan ay 10), dan lalu memberikan catatan kaki tentang bagian ini dengan kata-kata sebagai
berikut: Some manuscripts and ancient tranlations have this shorter ending to the Gospel in addition
to the longer ending (verses 9-20) [= Beberapa manuscript-manuscript dan terjemahan-terjemahan
kuno mempunyai akhiran yang lebih pendek ini sebagai tambahan pada akhiran yang lebih
panjang (ay 9-20)].

f) NEB (New English Bible) memberikan Mark 16:8b setelah Mark 16:8a, dan lalu memberikan
catatan kaki sebagai berikut: Some manuscripts add this paragraph, which in one of them is the
conclusion of the boook (= Beberapa manuscript-manuscript menambahkan paragraf ini, yang
dalam salah satu dari mereka adalah konklusi / penutup dari buku ini).
Lalu NEB menuliskan Mark 16:9-20, dan lalu memberikan catatan kaki yang berbunyi sebagai
berikut: Some manuscripts give verses 9-20 either instead of, or in addition to, the paragraph And
they delivered ... eternal salvation (here printed before verse 9), and so bring the book to a close.
Others insert further additional matter [= Beberapa manuscript-manuscript memberikan ay 9-20,
atau sebagai pengganti dari, atau sebagai tambahan pada, paragraf Dan mereka
menyampaikan .... keselamatan kekal (di sini dicetak sebelum ay 9), dan dengan demikian
mengakhiri buku / kitab ini. Yang lain menyisipkan bahan tambahan lebih banyak lagi].

g) LB (Living Bible) sama sekali tidak menuliskan Mark 16:8b, tetapi memberikan Mark 16:9-20,
dengan catatan kaki sebagai berikut: Verses 9 through 20 are not found in the most ancient
manuscript, but may be considered an appendix giving additional facts (= Ayat 9 sampai 20 tidak
ditemukan dalam manuscript yang paling kuno, tetapi bisa dianggap sebagai suatu apendix /
tambahan yang memberikan fakta-fakta tambahan).

h) RSV memberikan footnote / catatan kaki yang agak panjang yang berbunyi sebagai berikut:
Some of the most ancient authorities bring the book to a close at the end of verse 8. One authority
concludes the book by adding after verse 8 the following: But they reported briefly to Peter and those
with him all that they had been told. And after this, Jesus himself sent out by means of them, from east
to west, the sacred and imperishable proclamation of eternal salvation. Other authorities include the
preceding passage and continue with verses 9-20. In most authorities verses 9-20 follow immediately
after verse 8; a few authorities insert additional material after verse 14 (= Beberapa otoritas /
manuscript yang paling kuno mengakhiri kitab ini pada akhir ayat 8. Satu otoritas / manu script
menyimpulkan kitab ini dengan menambahkan setelah ayat 8 kata-kata ini: Tetapi mereka
menyampaikan secara singkat kepada Petrus dan mereka yang bersama dengan dia semua yang
telah diceritakan kepada mereka. Sesudah ini, Yesus sendiri memberitakannya dengan
perantaraan mereka, dari Timur ke Barat, proklamasi keselamatan yang kudus / sakral dan tak
bisa binasa itu. Otoritas / manuscript yang lain memasukkan bagian sebelumnya dan melanjutkan
dengan ayat 9-20. Dalam kebanyakan otoritas / manuscript ayat 9-20 langsung menyusul ayat 8;
sedikit otoritas / manuscript memasukkan tambahan materi setelah ayat 14).

i) The New Scoffield Study Bible memberikan keterangan sebagai berikut: Verses 9-20 are not
found in the two most ancient manuscripts, the Sinaiticus and Vaticanus; others have them with
partial omissions and variations. But the passage is quoted by Irenaeus and Hippolytus in the second
and third century (= Ayat-ayat 9-20 tidak ditemukan dalam dua manuscript yang paling kuno,
Sinaiticus dan Vaticanus; manuscript-manuscript yang lain mempunyai ayat-ayat ini dengan
penghapusan sebagian dan variasi-variasi / perbedaan-perbedaan. Tetapi bagian ini dikutip oleh
Irenaeus dan Hippolytus dalam abad kedua dan ketiga).

Catatan: Tentang manuscript-manuscript kuno yang diberi nama Sinaiticus dan Vaticanus,
perhatikan komentar-komentar di bawah ini.

J. Harold Greenlee: Codex Aleph (01), Codex Sinaiticus, is now on display in the British Museum.
Written about A. D. 350, it originally contained the Old Testament, the New Testament, and some other
Christian writings. This large manuscript (about 15 by 13-1/2 inches) contains four columns of writing
on each page. It is one of the most important manuscripts of the New Testament. It was taken from
Mount Sinai by Tischendorf and presented to the Czar of Russia. In 1933 the British government
purchased it for about $ 500.000 that had been raised by private donations [= Codex Aleph (01),
Codex Sinaiticus, sekarang dipajang / dipamerkan di Musium Inggris. Ditulis sekitar tahun 350 M.,
itu terutama berisikan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan beberapa tulisan-tulisan Kristen
lain. Manuscript yang besar ini (sekitar 15 x 13 inci / 38 x 34 cm) memuat 4 kolom tulisan pada
setiap halaman. Itu adalah salah satu manuscript yang terpenting dari Perjanjian Baru. Itu
diambil dari Gunung Sinai oleh Tischendorf dan dihadiahkan / diberikan kepada kaisar / raja
Rusia. Pada tahun 1933 pemerintahan Inggris membelinya seharga sekitar 500.000 dolar yang
telah didapatkan / dikumpulkan oleh sumbangan-sumbangan pribadi] - Scribes, Scrolls, &
Scripture, hal 25.

J. Harold Greenlee: Codex B (03), Codex Vaticanus, has rested in the Vatican Library for many
centuries. Written about the middle of the fourth century, it is the most important single manuscript of
the New Testament. This manuscript, too, contained both testaments, written three columns to the
page [= Codex B (03), Codex Vaticanus, telah diletakkan di Perpustakaan Vatican selama banyak
abad. Ditulis sekitar pertengahan abad keempat, itu merupakan manuscript tunggal yang
terpenting dari Perjanjian Baru. Manuscript ini, juga, berisikan kedua perjanjian, ditulis 3 kolom
tiap halaman] - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 26.

Catatan: Codex adalah manuscript dalam bentuk buku. Ini bentuk yang lebih baru / modern
dan lebih praktis dalam penggunaannya dibandingkan dengan bentuk gulungan (scroll) yang
merupakan bentuk manuscript yang lebih kuno. Tidak ada peninggalan manuscript Perjanjian
Baru dalam bentuk scroll (gulungan); semua manuscript Perjanjian Baru yang ada saat ini, ada
dalam bentuk codex.

j) New Geneva Study Bible memberikan keterangan sebagai berikut: Scholars differ regarding
whether these verses were originally part of this Gospel. Some important early Greek manuscripts lack
these verses, other manuscripts have vv 9-20 (known as the longer Ending), and still others have a
Shorter Ending (roughly one verse long). A few manuscripts have both the Shorter Ending and the
Longer Ending. Because of these differences, some scholars believe that vv 9-20 were added later
and not written by Mark. On the other hand, the verses are cited by writers from the late second
century and are found in the overwhelming majority of existing Greek manuscripts of the Gospel of
Mark. For other scholars, these facts establish the authenticity of the passage [= Para ahli berbeda
pendapat tentang apakah ayat-ayat ini merupakan bagian orisinil dari Injil ini. Beberapa
manuscript Yunani kuno tidak mempunyai ayat-ayat ini, beberapa manuscript yang lain
mempunyai ayat-ayat 9-20 (dikenal sebagai Akhiran yang panjang), dan ada lagi manuscript-
manuscript yang lain yang mempunyai Akhiran yang pendek (kira-kira panjangnya satu ayat).
Sedikit manuscript mempunyai baik Akhiran yang pendek maupun Akhiran yang panjang.
Karena perbedaan-perbedaan ini, beberapa ahli percaya bahwa ayat-ayat 9-20 ditambahkan
belakangan dan tidak ditulis oleh Markus. Di lain pihak, ayat-ayat ini dikutip oleh penulis-penulis
dari akhir abad kedua dan ditemukan dalam kebanyakan manuscript Yunani dari Injil Markus.
Untuk para ahli yang lain, fakta-fakta ini menegakkan keaslian dari bagian ini].

4) Sangat jarang ada pendeta / hamba Tuhan yang membahas asli tidaknya Mark 16:8b-20, dan ini
menyebabkan sangat jarang jemaat awam yang mengetahui bahwa bagian ini diragukan
keasliannya.
Mungkin ada 2 alasan mengapa asli tidaknya bagian ini jarang sekali dibahas:

a) Para hamba Tuhan takut bahwa pembahasan hal ini akan menggoyahkan iman jemaat
terhadap Kitab Suci.
Saya berpendapat bahwa ini merupakan alasan yang salah, karena Firman Tuhan merupakan
dasar dari iman (Ro 10:17). Karena itu jemaat perlu tahu bagian mana yang betul-betul Firman
Tuhan dan bagian mana yang diragukan keasliannya atau bahkan dipastikan ketidak-asliannya.

b) Mereka takut bahwa mereka sendiri akan dianggap sebagai Liberal / sesat kalau mengajarkan
bahwa bagian ini diragukan keasliannya.
Untuk itu perlu diketahui 2 hal:
1. Yang memperdebatkan asli tidaknya bagian ini bukanlah kelompok Liberal, tetapi kelompok
orang-orang yang sangat Alkitabiah dan Injili.
2. Berbeda dengan kelompok Liberal yang membuang atau mengabaikan bagian-bagian
tertentu dari Kitab Suci karena memang tidak mempunyai rasa hormat terhadap Kitab Suci
sebagai Firman Tuhan, maka orang-orang yang Alkitabiah dan Injili memperdebatkan hal ini
justru karena rasa hormat mereka terhadap Kitab Suci. Mereka tidak mau apa yang bukan
Firman Tuhan masuk ke dalam Kitab Suci dan sebaliknya mereka juga tidak mau
membuang Firman Tuhan dari Kitab Suci. Karena itu perlu ditentukan lebih dulu asli
tidaknya bagian ini, dan karena itu muncul perdebatan yang luar biasa hebatnya tentang
bagian ini.

5) Tidak ada posisi yang aman dalam hal ini.


Ada banyak orang Kristen yang kurang berpikir, dan menuduh orang yang menolak Mark 16:8b-20
ini sebagai orang yang membuang sebagian dari Kitab Suci. Harus diakui bahwa memang benar
bahwa kalau bagian ini memang asli, maka siapapun yang menolaknya berarti ia membuang
sebagian dari Kitab Suci, dan itu memang merupakan dosa. Tetapi para penuduh ini kelihatannya
lupa bahwa kalau ternyata sebetulnya bagian ini tidak asli, maka siapapun yang menerima bagian
ini sebagai Kitab Suci, itu berarti bahwa ia menambahi Kitab Suci, dan itu sama berdosanya seperti
orang yang mengurangi Kitab Suci. Jadi, tidak ada posisi yang aman dalam persoalan ini. Menurut
saya, setiap orang Kristen, apalagi hamba Tuhan, harus menggumulkan bagian ini, dengan
mempelajarinya sambil banyak berdoa, dan lalu mengambil kesimpulan / keputusan untuk dirinya
sendiri, apakah ia mau menerima atau menolak bagian ini sebagai Kitab Suci. Kalau toh ia salah,
maka itu merupakan kesalahan yang tidak disengaja, dan saya tidak menganggap kesalahan
seperti itu sebagai kesesatan!

6) Untuk Mark 16:8b (shorter ending / akhiran yang lebih pendek) boleh dikatakan tidak ada penafsir
yang menganggap bagian itu sebagai asli. Semua menganggap bagian itu sebagai suatu
penambahan. Dan kalau kita melihat pada terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris, maka
sepanjang yang saya ketahui, tidak ada yang memasukkan ay 8b ke dalam textnya; paling-paling
ada yang memasukkan ay 8b ke catatan kaki, dan NASB menuliskannya setelah ay 20 dengan
cetakan miring dan meletakkannya dalam tanda kurung tegak / besar, disertai catatan kaki yang
mengatakan In a few later mss and versions contain this paragraph, usually after verse 8; a few have it
at the end of chapter (= Dalam sedikit manuscript-manuscript dan versi-versi belakangan berisi
paragraf ini, biasanya setelah ayat 8; sedikit manuscript mempunyainya pada akhir dari pasal).
Catatan: Bruce Metzger mengatakan bahwa ay 8b (shorter ending / akhiran yang lebih pendek) ini
seharusnya diakhiri dengan kata Amin.

Adam Clarke (tentang ay 9): Now when Jesus was risen early the first day of the week, he appeared
first to Mary Magdalene, out of whom he had cast seven devils. ... In the margin of the later Syriac
version, there is a remarkable addition after this verse; it is as follows: And they declared briefly all that
was commanded, to them that were with Peter. Afterward Jesus himself published by them, from east to
west, the holy and incorruptible preaching of eternal salvation. Amen (= Setelah Yesus bangkit pagi-
pagi pada hari pertama dari minggu itu, Ia pertama-tama menampakkan diriNya kepada Maria
Magdalena, dari siapa Yesus telah mengusir tujuh setan. ... Di bagian tepi dari versi Syriac
belakangan, ada suatu tambahan yang patut diperhatikan setelah ayat ini; itu adalah sebagai berikut:
Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu
Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridNya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang
kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu. Amin).
Catatan: Jadi menurut kata-kata Clarke ini, dalam versi Syria belakangan, ay 8b ini diletakkan
setelah ay 9!

Bible Knowledge Commentary: Several later manuscripts (seventh century on) and versions supply a
shorter ending after verse 8 which is clearly not genuine but all these manuscripts (except one) continue
on with verses 9-20 [= Beberapa manuscript-manuscript belakangan (abad ketujuh dan selanjutnya)
dan versi-versi belakangan menyuplai suatu akhiran yang pendek setelah ayat 8 yang jelas tidak asli
tetapi semua manuscript-manuscript ini (kecuali satu) melanjutkan dengan ay 9-20].

Donald Guthrie: It remains to discuss the alternative endings. The shorter may be dismissed as obviously
of late origin, but the longer ending would appear to possess greater antiquity (= Sekarang tinggal
mendiskusikan akhiran-akhiran yang harus dipilih. Akhiran yang lebih pendek bisa dibuang /
disingkirkan karena jelas mempunyai asal usul belakangan, tetapi akhiran yang lebih panjang
kelihatannya mempunyai ke-kuno-an yang lebih besar) - New Testament Introduction, hal 79.

William Hendriksen: Since this ending has found even less general acceptance than the longer one, and
its spurious nature is evident even on the surface, additional remarks are unnecessary. This holds also for
other endings (= Karena akhiran ini telah mendapatkan lebih sedikit penerimaan umum dari akhiran
yang lebih panjang, dan sifat palsunya jelas terlihat dari luar, maka tidak perlu ada komentar-
komentar tambahan. Ini juga berlaku untuk akhiran-akhiran yang lain) - hal 687.

Bruce Metzger: The internal evidence for the shorter ending (2) is decidedly against its being genuine.
Besides containing a high percentage of non-Markan words, its rhetorical tone differs totally from the
simple style of Marks Gospel [= Bukti internal untuk akhiran yang lebih pendek (2) pasti menentang
keorisinilannya. Selain memuat persentase yang tinggi dari kata-kata non-Markus, nada retoriknya
berbeda secara total dari gaya yang sederhana dari Injil Markus] - A Textual Commentary on the
Greek New Testament.

7) Tetapi untuk Mark 16:9-20 (longer ending / akhiran yang lebih panjang), ada suatu perdebatan yang
luar biasa hebatnya. Penafsir-penafsir kuno pada umumnya menerima bagian itu sebagai bagian
asli dari Injil Markus, sedangkan penafsir-penafsir modern pada umumnya menganggap bagian itu
tidak asli.

a) Argumentasi untuk menolak Mark 16:9-20.

1. Mark 16:9-20 ini tidak ada dalam 2 manuscript yang paling kuno, dan juga dalam banyak
manuscript kuno dan penting lainnya. Dan ada manuscript yang tidak mempunyai Mark
16:9-20 tetapi memberikan tempat kosong di tempat itu.

Vincent: It is omitted from the two oldest manuscripts (= Itu dihapuskan dari dua manuscript
yang tertua).

UBS New Testament Handbook Series: It is omitted by the two most ancient Greek Uncial
manuscripts of the New Testament, Codex Vaticanus and Codex Sinaiticus, both of the 4th century.
It is also omitted by the Old Latin manuscript k (4th or 5th century), by the oldest Syriac version of
the Gospels, the Sinaitic Syriac (4th or 5th century), and by important codices of the Armenian,
Ethiopic and Georgian versions [= Itu dihapuskan oleh dua manuscript uncial Yunani yang
tertua dari Perjanjian Baru, Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus, keduanya dari abad ke 4.
Itu juga dihapuskan oleh manuscript Latin kuno k (abad ke 4 atau ke 5), oleh versi Syria yang
paling kuno dari Injil-injil, Sinaitic Syriac (abad ke 4 atau ke 5), dan oleh codex-codex penting
dari versi-versi Armenian, Ethiopic dan Georgian].
Catatan: uncial adalah type / bentuk / jenis huruf Yunani yang dipakai untuk menyalin
manuscript. Ada tiga type / jenis huruf Yunani, yaitu uncial, cursive dan minuscule. Mula-
mula yang dipakai adalah uncial (huruf besar), lalu berubah menjadi cursive, dan akhirnya
menjadi minuscule. Karena itu manuscript yang menggunakan uncial biasanya adalah
manuscript yang kuno, yang menggunakan minuscule biasanya adalah manuscript yang
lebih baru (Greenlee, hal 17,28).

Bruce Metzger: The last twelve verses of the commonly received text of Mark are absent from
the two oldest Greek manuscripts (a and B), from the Old Latin codex Bobiensis (it), the Sinaitic
Syriac manuscript, about one hundred Armenian manuscripts, and the two oldest Georgian
manuscripts (written A.D. 897 and A.D. 913) [= Dua belas ayat terakhir dari text Markus yang
pada umumnya diterima, absen dari dua manuscript Yunani yang tertua (a and B), dari
manuscript Latin kuno codex Bobiensis (it), manuscript Syria Sinaitic, sekitar seratus
manuscript Armenian, dan dua manuscript Georgia yang paling kuno (ditulis 897 M. dan 913
M.)] - A Textual Commentary on the Greek New Testament.
Catatan: manuscript yang dinamai a (Aleph = huruf pertama dalam abjad Ibrani) adalah
Codex Sinaiticus, dan yang dinamai B adalah Codex Vaticanus.

Jamieson, Fausset & Brown: All the verses of this chapter, from the 9th to the end, are
regarded by Griesbach, Tischendorf, and Tregelles as no part of the original text of this Gospel,
but as added by a later hand: Because, first, they are missing in B and 'Aleph ( a) - the well-known
Codex Vaticanus and the recently discovered Codex Sinaiticus, being the oldest manuscripts yet
known; in one copy of the Old Latin Version; in some copies of the Armenian Version; and in an
Arabic Lectionary or Church Lesson [= Semua ayat-ayat dari pasal ini, dari ayat ke 9 sampai
akhir, dianggap oleh Griesbach, Tischendorf, dan Tregelles bukan sebagai bagian dari text
orisinil dari Injil ini, tetapi ditambahkan oleh tangan / penulis belakangan: Karena, pertama
ayat-ayat itu tidak ada dalam B dan 'Aleph (a) - Codex Vaticanus yang termasyhur dan Codex
Sinaiticus yang baru ditemukan, yang merupakan manuscript-manuscript tertua yang
diketahui / dikenal; dalam satu copy dari Versi Latin kuno; dalam beberapa copy dari Versi
Armenian; dan dalam suatu Pembacaan atau Pelajaran Gereja dalam bahasa Arab].

Bible Knowledge Commentary: The two earliest (fourth century) uncial manuscripts
(Sinaiticus and Vaticanus) omit the verses though their respective scribes left some blank space
after verse 8, suggesting that they knew of a longer ending but did not have it in the manuscript
they were copying [= Dua manuscript uncial yang paling awal dari abad keempat (Sinaiticus
and Vaticanus) menghapuskan / membuang ayat-ayat itu sekalipun penyalin-penyalin mereka
masing-masing meninggalkan suatu tempat kosong setelah ayat 8, yang menunjukkan bahwa
mereka tahu tentang suatu akhiran yang panjang tetapi tidak mempunyainya dalam
manuscript yang sedang mereka copy / salin].
Catatan: penafsir ini mengatakan kedua manuscript yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 ini
memberi tempat kosong. Tetapi Pulpit Commentary di bawah ini mengatakan bahwa hanya
satu dari 2 manuscript itu yang memberi tempat kosong. Kelihatannya Pulpit Commentary
yang benar, karena UBS New Testament Handbook Series juga berkata demikian (lihat
kutipannya di belakang)

Pulpit Commentary: The two oldest, namely, the Sinaitio and the Vatican, omit the whole
passage, but under different conditions. The Sinaitic omits the passage absolutely. The Vatican
omits it, but with a space left blank between the eighth verse of Mark 16, and the beginning of St.
Luke, just sufficient for its insertion; as though the writer of the manuscript, hesitating whether to
omit or to insert the verses, thought it safest to leave a space for them (= Dua yang tertua,
Sinaiticus dan Vaticanus, menghapuskan seluruh text, tetapi dengan kondisi / keadaan yang
berbeda. Sinaiticus menghapuskan text itu secara mutlak / sama sekali. Vaticanus
menghapuskannya, tetapi dengan suatu tempat dibiarkan kosong di antara ayat ke 8 dari Mark
16, dan permulaan dari Injil Lukas, persis cukup untuk pemasukannya; seakan-akan sang
penulis dari manuscript, ragu-ragu apakah menghapuskan atau memasukkan ayat-ayat itu,
menganggapnya sebagai jalan yang paling aman untuk meninggalkan suatu tempat yang
kosong untuk ayat-ayat itu) - Introduction, hal viii.

Jamieson, Fausset & Brown: in one or two manuscripts in which they are not found, a space is
left to show that something is wanting - not large enough, indeed, to contain the verses, but this
probably only to save space (= dalam satu atau dua manuscript dalam mana mereka / ayat-ayat
ini ditemukan, suatu tempat kosong ditinggalkan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang
kurang - memang tidak cukup besar untuk menampung / memuat ayat-ayat itu, tetapi ini
mungkin hanya untuk menghemat tempat).
Catatan: Pulpit Commentary mengatakan tempat kosong itu persis cukup untuk Mark 16:9-
20 ini, tetapi Jamieson, Fausset & Brown mengatakan tidak demikian. Tetapi Jamieson,
Fausset & Brown memang tidak menyebutkan Sinaiticus dan Vaticanus. Apakah ia
memaksudkan manuscript yang lain lagi?

Perlu dicamkan bahwa kalau saya memberikan kutipan dari penafsir-penafsir di atas, itu
tidak berarti bahwa mereka semua percaya pada pandangan itu. Bisa saja mereka hanya
menyebutkan argumentasi ini tetapi mereka tidak mempercayainya. Misalnya Jamieson,
Fausset & Brown memasukkan hal ini sebagai argumentasi dari pihak yang menolak
Mark 16:9-20 ini, tetapi Jamieson, Fausset & Brown lalu memberikan argumentasi-
argumentasi tandingan, dan akhirnya menyimpulkan bahwa Mark 16:9-20 itu asli. Ini juga
berlaku untuk pengutipan-pengutipan di bawah.
2. Manuscript-manuscript yang mempunyai Mark 16:9-20, mempunyai variasi-variasi /
perbedaan-perbedaan di antara mereka.
Jamieson, Fausset & Brown: the variations in the text itself are just ground of suspicion (=
variasi-variasi dalam text itu sendiri merupakan dasar yang benar tentang keragu-raguan).
Catatan: Memang pada umumnya, suatu ayat / text ada dalam manuscript-manuscript
tertentu, dan tidak ada dalam manuscript-manuscript yang lain, maka dalam manuscript-
manuscript yang mempunyai ayat / text itu, ada variasi-variasi / perbedaan-perbedaan.

3. Manuscript-manuscript yang mempunyai Mark 16:9-20 banyak yang memberikan catatan


bahwa manuscript Yunani yang lebih tua tidak memiliki bagian ini, atau memberikan tanda
yang menunjukkan bahwa bagian ini merupakan suatu penambahan yang palsu.
Bruce Metzger: Not a few manuscripts that contain the passage have scribal notes stating that
older Greek copies lack it, and in other witnesses the passage is marked with asterisks or obeli, the
conventional signs used by copyists to indicate a spurious addition to a document (= Tidak sedikit
manuscript-manuscript yang memuat text itu mempunyai catatan dari penyalin yang
menyatakan bahwa copy-copy Yunani yang lebih tua tidak mempunyai bagian itu, dan dalam
saksi-saksi / manuscript-manuscript yang lain text itu ditandai dengan asterisks atau obeli,
tanda-tanda yang lazim yang digunakan oleh para penyalin untuk menunjukkan suatu
penambahan yang palsu pada suatu dokumen) - A Textual Commentary on the Greek New
Testament.
Catatan: asterisk adalah tanda ; sedangkan obelus (bentuk tunggal dari obeli) adalah
tanda - atau .

4. Gaya bahasa yang berbeda dan perbendaharaan kata yang berbeda antara Mark 16:9-20
dan Mark 1:1-16:8a.

Jamieson, Fausset & Brown: And further, because the style of this portion so differs from the
rest of this Gospel as to suggest a different author (= Dan selanjutnya, karena gaya dari bagian
ini begitu berbeda dari sisa dari Injil ini sehingga menunjukkan seorang pengarang yang
berbeda).

William Barclay: the style of the Greek is so different that they cannot have been written by the
same person as wrote the rest of the gospel (= gaya dari bahasa Yunaninya begitu berbeda
sehingga mereka / ayat-ayat itu tidak mungkin telah ditulis oleh orang yang sama seperti yang
telah menulis sisa dari injil itu) - hal 5.

Bible Knowledge Commentary: The Greek literary style lacks the vivid, lifelike detail so
characteristic of Marks historical narrative (= Gaya literatur Yunaninya tidak mempunyai
detail yang bersemangat, seperti hidup, yang begitu merupakan karakteristik dari cerita
sejarah Markus).

Donald Guthrie: There is a different in Greek style between 16:9-20 and the rest of the Gospel,
and while this would not of itself rule out common authorship it is difficult to believe in common
authorship in face of the combination of stylistic difficulties with textual suspicions (= Ada suatu
perbedaan dalam gaya bahasa Yunani antara 16:9-20 dan sisa dari Injil itu, dan sementara hal
ini sendiri tidak mengesampingkan ke-pengarang-an yang sama, adalah sukar untuk
mempercayai ke-pengarang-an yang sama di hadapan dari gabungan dari kesukaran-
kesukaran yang berhubungan dengan gaya dengan kecurigaan textual) - New Testament
Introduction, hal 77.
Catatan: saya tidak mengerti mengapa Donald Guthrie menganggap bahwa perbedaan
gaya itu sendiri tidak mengesampingkan kemungkinan kepengarangan yang sama.

Bible Knowledge Commentary: About 1/3 of the significant Greek words in verses 9-20 are
non-Marcan, that is, they do not appear elsewhere in Mark or they are used differently from
Marks usage prior to verse 9 (= Sekitar 1/3 dari kata-kata Yunani yang penting / berarti dalam
ayat 9-20 adalah non-Markus, artinya, kata-kata itu tidak muncul dalam Markus atau kata-
kata itu digunakan secara berbeda dari penggunaan Markus sebelum ayat 9).

UBS New Testament Handbook Series: Vocabulary. The Longer Ending contains (in the
Nestle text) 101 different words (the total number of words is 167). Excluding irrelevant words
such as proper names, connectives, numerals, prepositions, negative particles and the definite
article, there is left a total of 75 different significant words in the section. Of these 75 a total of 15
(including 10 verbs) occur which do not appear in Mark, and 11 others are used in a sense
different from that in which they are used in Mark. This means that in the passage slightly over
one-third of the significant words used are not Marcan, that is, either they do not appear in Mark
or they are used in a way differing from that in which Mark uses them. ... In every verse in this
passage there is either a word not found in Mark or else a word or phrase used in a non-Marcan
manner [= Perbendaharaan kata. Akhiran yang lebih panjang berisi (dalam text Nestle) 101
kata-kata yang berbeda (jumlah total dari kata-kata adalah 167). Dengan membuang kata-kata
yang tak relevan, seperti nama-nama pribadi, kata-kata penghubung, bilangan-bilangan, kata-
kata depan, partikel-partikel negatif, dan kata-kata sandang tertentu, disana tersisa sejumlah
75 kata-kata signifikan yang berbeda dalam bagian ini. Dari 75 ini muncul sejumlah 15 kata
(termasuk 10 kata kerja) yang tidak pernah muncul dalam Markus, dan 11 kata lainnya
digunakan dalam arti yang berbeda dari arti dalam mana kata-kata itu digunakan dalam
Markus. Ini berarti bahwa dalam text itu sedikit lebih dari 1/3 dari kata-kata signifikan yang
digunakan adalah non Markus, artinya, atau kata-kata itu tidak muncul dalam Markus, atau
kata-kata itu digunakan dengan cara yang berbeda dari cara dalam mana Markus
menggunakan kata-kata itu. ... Dalam setiap ayat dalam text ini disana ada, atau suatu kata
yang tidak ditemukan dalam Markus, atau suatu kata atau ungkapan / kombinasi kata yang
digunakan bukan dengan cara Markus].

J. Harold Greenlee: The words and forms in these verses are so different from the rest of the
Gospel that a student who had read Mark in Greek up to this point but had not read any of the rest
of the New Testament in Greek would find himself in unfamiliar material in these last verses. ...
There is another small but significant point. In the seven other instances in the New Testament in
which the phrase the first day of the week occurs, including one instance in Mark 16:2, the Greek
form is literally day one rather than the first day. Yet in Mark 16:9 the form is the first day -
which sounds better in English but is not the characteristic New Testament form (= Kata-kata
dan bentuk-bentuk dalam ayat-ayat ini begitu berbeda dari sisa dari Injil ini sehingga seorang
pelajar yang telah membaca Markus dalam bahasa Yunani sampai pada titik ini tetapi tidak /
belum membaca yang manapun dari sisa Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, akan
mendapati dirinya sendiri dalam materi / bahan yang tidak lazim dalam ayat-ayat terakhir
ini. ... Ada suatu hal lain yang kecil tetapi penting / berarti. Dalam tujuh contoh lainnya dalam
Perjanjian Baru dalam mana ungkapan hari pertama dalam minggu itu muncul, termasuk
satu contoh dalam Mark 16:2, bentuk Yunaninya secara hurufiah adalah hari satu dan
bukannya hari pertama. Tetapi dalam Mark 16:9 bentuknya adalah hari pertama - yang
bunyinya lebih baik dalam bahasa Inggris tetapi bukanlah ciri dari bentuk Perjanjian Baru) -
Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 91.

Bruce Metzger: The vocabulary and style of verses 9-20 are non-Markan (e.g. a)piste/w,
bla/ptw, bebaio/w, e)pakolouqe/w, qea/omai, meta\ tau=ta, poreu/omai,
sunerge/w, u%steron are found nowhere else in Mark; and qana/simon and toi=$
met ) au)tou= genome/noi$, as designations of the disciples, occur only here in the New
Testament) [= Perbendaharaan kata dan gaya dari ayat 9-20 adalah non-Markus (misalnya
a)piste/w / APISTEO, bla/ptw / BLAPTO, bebaio/w / BEBAIOO, e)pakolouqe/w
/ EPAKOLOUTHEO, qea/omai / THEAOMAI, meta\ tau=ta / META TAUTA,
poreu/omai / POREUOMAI, sunerge/w / SUNERGEO, u%steron / HUSTERON
tidak ditemukan di tempat lain dalam Markus; dan qana/simon / THANASIMON dan
toi=$ met ) au)tou= genome/noi$ / TOIS MET AUTOU GENOMENOIS, sebagai
penunjukan-penunjukan kepada murid-murid, muncul hanya di sini dalam Perjanjian Baru)] -
A Textual Commentary on the Greek New Testament.
Catatan: semua kata Yunani ini dibahas dan diberi terjemahannya oleh William Hendriksen
di bawah, yang bahkan memberikan lebih banyak lagi kata-kata Yunani yang non-Markus.
Karena itu, di sini saya tidak memberi arti dari kata-kata Yunani ini. Bagian / ungkapan yang
tidak dibahas oleh William Hendriksen adalah:
kata-kata toi=$ met ) au)tou= genome/noi$ / TOIS MET AUTOU
GENOMENOIS (ay 10), yang oleh NIV/NASB diterjemahkan those who had been with
Him (= mereka yang telah bersama-sama dengan Dia). Dalam terjemahan LAI
diterjemahkan mereka yang selalu mengiringi Yesus. Bruce Metzger mengatakan bahwa
ungkapan / istilah ini tidak pernah digunakan dalam sepanjang Perjanjian Baru untuk
menunjuk kepada murid-murid Yesus. Jadi, ini bukan hanya merupakan istilah non-
Markus, tetapi bahkan istilah non-Perjanjian Baru.
kata-kata meta\ tau=ta / META TAUTA ( after these things / sesudah hal-hal ini /
sesudah itu) dalam ay 12 awal. Lenski mengakui bahwa ungkapan / istilah ini hanya
muncul di sini dalam Injil Markus.

Berkenaan dengan gaya yang berbeda dan perbendaharaan kata yang berbeda ini, William
Hendriksen memberikan penjelasan yang sangat terperinci dan panjang lebar. Ada 3 hal
yang saya berikan di sini dari William Hendriksen:
a. Penggunaan kata penghubung bahasa Yunani KAI (= dan) pada awal kalimat atau anak
kalimat. Dalam Mark 16:1-8a kata KAI ini muncul 8 x, tetapi dalam Mark 16:9-20, kata
KAI ini muncul hanya 6 x (atau mungkin 7 x).
William Hendriksen: This means that in the first eight verses KAI occurs, on the average,
once per verse; in the latter twelve verses, on the average, only once (or slightly more than
once) in every two verses. There is accordingly a transition from co-ordination of clauses to
subordination, from paratactic to hypotactic style. The transition, to be sure, is not radical or
absolute: even in the last twelve verses there is a degree of co-ordination. But the difference is,
nevertheless, rather striking [= Ini berarti bahwa dalam 8 ayat pertama kata KAI muncul,
rata-rata satu kali per ayat; dalam 12 ayat belakangan, rata-rata hanya sekali (atau sedikit
lebih dari sekali) dalam setiap dua ayat. Jadi, disana ada suatu peralihan dari koordinasi
dari anak-anak kalimat ke subordinasi, dari gaya menggunakan anak-anak kalimat yang
sejajar ke gaya menggunakan anak-anak kalimat dimana yang satu tergantung pada yang
lain. Memang peralihannya tidaklah radikal atau mutlak: bahkan dalam 12 ayat yang
terakhir ada suatu tingkat dari koordinasi. Tetapi bagaimanapun, perbedaannya agak
menyolok] - hal 685.
Catatan: Websters New World Dictionary mengatakan bahwa dalam gramatika kata
subordination bisa menunjuk pada anak kalimat yang tergantung pada anak kalimat
yang lain, dan yang kalau sendirian tidak membentuk kalimat.
Keterangan: jadi, bukan sekedar perbedaan frekwensi penggunaan kata Yunani KAI (=
dan) yang dipersoalkan oleh William Hendriksen. Penggunaan kata dan yang banyak
dalam ay 1-8 menunjukkan bahwa gaya yang digunakan di sana adalah menggunakan
anak-anak kalimat secara setingkat / sejajar. Sedangkan penggunaan kata dan yang
hanya sedikit dalam ay 9-20 menunjukkan bahwa gaya yang digunakan adalah
menggunakan anak-anak kalimat secara tergantung satu kepada yang lain.

b. Perbedaan / kontras antara gaya yang hidup / bersemangat / menarik dari ay 1-8 dan
gaya yang membosankan dari ay 9-20.
William Hendriksen: Moreover, speaking about style, in making the transition from 16:1-8 to
verses 9-20, who does not sense the striking contrast between the graphic and colorful style of
the former and the prosaic summarizing style of the latter? [= Selanjutnya / lebih lagi,
berbicara tentang gaya, dalam membuat peralihan dari 16:1-8 ke ay 9-20, siapa yang tidak
merasakan kontras yang menyolok antara gaya yang seperti keadaan sebenarnya / aslinya
dan bersemangat / menarik dari yang pertama (ay 1-8) dan gaya yang biasa /
membosankan yang bersifat ringkasan dari yang belakangan (ay 9-20)?] - hal 685.

c. Tentang perbendaharaan kata yang berbeda.


William Hendriksen mengatakan (hal 683) bahwa dalam Mark 16:1-8 hanya ada 4 kata
yang tidak pernah digunakan oleh Markus mulai Mark 1:1-15:47. Tetapi dalam Mark
16:9-20 ada sedikitnya 14 kata yang berbeda yang tidak ditemukan dalam Mark 1:1-
16:8. Dan karena kata-kata baru itu ada yang muncul lebih dari sekali, maka total
menjadi 18 kata baru. Inilah kata-kata itu:
ay 10: to go / pergi (Yunani: POREUTHEISA - POREUOMAI).
ay 10: to mourn / berkabung (Yunani: PENTHOUSI - PENTHEO).
ay 11: to see / melihat (Yunani: ETHEATHE - THEAOMAI).
ay 11: to disbelieve / tidak percaya (Yunani: EPISTESAN -
APISTEO).
ay 12: different / berbeda / yang lain (Yunani: HETERA -
HETEROS).
ay 12: form / bentuk / rupa (Yunani: MORPHE - MORPHE).
ay 12: to go / pergi (Yunani: POREUOMENOIS - POREUOMAI).
ay 14: afterward / setelah itu / akhirnya (Yunani: HUSTERON -
HUSTEROS).
ay 14: to see / melihat (Yunani: THEASAMENOIS - THEAOMAI).
ay 15: to go / pergi (Yunani: POREUTHENTES - POREUOMAI).
ay 16: to disbelieve / tidak percaya (Yunani: APISTESAS -
APISTEO).
ay 18: serpent / ular (Yunani: OPHEIS - OPHIS).
ay 18: deadly / mematikan / maut (Yunani: THANASIMON -
THANASIMOS).
ay 18: to harm / mencelakai (Yunani: BLAPHE - BLAPTO).
ay 19: to take up / terangkat (Yunani: ANELEMPHTHE -
ANALAMBANO).
ay 20: to work with / turut bekerja (Yunani: SUNERGOUNTOS -
SUNERGEO).
ay 20: to confirm / meneguhkan (Yunani: BEBAIOUNTOS -
BEBAIOO).
ay 20: to follow, attend / menyertai (Yunani:
EPAKOLOUTHOUNTON - EPAKOLOUTHEO).

A. T. Robertson dan Vincent, yang merupakan ahli-ahli bahasa Yunani, juga memberikan
perbendaharaan kata-kata non Markus dalam Mark 16:9-20 ini.

Vincent (ay 9): The first day of the week (PROOTEE SABBATOU). A phrase which Mark does
not use. In Mark 16:2 it is MIAS SABBATOON [= Hari pertama dari minggu (PROOTEE
SABBATOU). Suatu ungkapan yang tidak biasanya digunakan oleh Markus. Dalam Mark 16:2
ungkapan yang dipakai adalah MIAS SABBATOON].

A. T. Robertson (ay 9): The verb EFANEE (second aorist passive of FAINOO) is here alone of
the Risen Christ (cf. EELIAS EFANEE, Luke 9:8), the usual verb being OOFTHEE (Luke 24:34;
1 Cor 15:5ff.) [= Kata kerja EFANEE (aorist kedua pasif dari FAINOO) hanya di sini saja
tentang Kristus yang telah bangkit (bdk. EELIAS EFANEE, Lukas 9:8), kata kerja yang
biasanya dipakai adalah OOFTHEE (Luk 24:34; 1Kor 15:5-dst)].

A. T. Robertson (ay 9): From whom (PAR HEES). Only instance of PARA with the casting out
of demons, EK being usual (Mark 1:25-26; 5:8; 7:26,29; 9:25) [= Dari siapa (PAR HEES).
Satu-satunya kejadian / contoh dari PARA dengan pengusiran setan, EK merupakan kata yang
lazim dipakai (Mark 1:25-26; 5:8; 7:26,29; 9:25)].

Vincent (ay 9): Out of whom (AF HEES) . An unusual expression. Mark habitually uses the
preposition EK in this connection (Mark 1:25-26; 5:8; 7:26,29; 9:25). Moreover, APO, from, is
used with EKBALLEIN, cast out, nowhere else in the New Testament. The peculiarity is equally
marked if we read with some, PAR HEES [= Keluar dari siapa (AF HEES). Suatu ungkapan
yang tidak lazim. Markus biasanya menggunakan kata depan EK dalam hubungan ini (Mark
1:25-26; 5:8; 7:26,29; 9:25). Lebih lagi, APO, dari, digunakan dengan EKBALLEIN,
mengusir, tak ada di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Kekhasannya / keanehannya
terlihat secara sama jika kita membaca dengan beberapa / sebagian orang lain, PAR HEES].
Catatan: untuk bagian ini ada problem text / perbedaan manuscript. Ada yang menuliskan
PAR HEES, dan ada yang menuliskan AF HEES.

Vincent (ay 10): She (EKEINEE). An absolute use of the pronoun unexampled in Mark. See
also Mark 16:11,13. It would imply an emphasis which is not intended. Compare Mark 4:11; 12:4-
5,7; 14:21. Went (POREUTHEISA). So in Mark 16:12,15. Went, go. This verb for to go occurs
nowhere else in this Gospel except in compounds. Them that had been with him (TOIS MET
AUTOU GENOMENOIS) . A circumlocution foreign to the Gospels [= Ia (EKEINEE). Suatu
penggunaan mutlak kata ganti orang yang tidak ada paralelnya dalam Markus. Lihat juga
Mark 16:11,13. Itu secara implicit menunjukkan suatu penekanan yang tidak dimaksudkan.
Bandingkan dengan Mark 4:11; 12:4-5,7; 14:21. Pergi (POREUTHEISA). Demikianlah dalam
Mark 16:12,15. Pergi. Kata kerja untuk pergi ini tidak muncul di tempat lain manapun
juga dalam Injil ini kecuali digabungkan dengan kata lain. Mereka yang telah bersama-sama
dengan Dia (TOIS MET AUTOU GENOMENOIS). Suatu pemakaian kata yang berlebihan
yang asing bagi Injil-injil].

A. T. Robertson (ay 10): Them that had been with him (TOIS MET AUTOU GENOMENOIS) .
This phrase for the disciples occurs here alone in Mark and the other Gospels if the disciples
MATHEETAI are meant. All these items suggest another hand than Mark for this closing portion
[= Mereka yang telah bersama-sama dengan Dia (TOIS MET AUTOU GENOMENOIS).
Ungkapan ini bagi murid-murid muncul hanya di sini dalam Markus dan Injil-injil yang lain
jika murid-murid (MATHEETAI) yang dimaksudkan. Semua hal-hal ini menunjukkan
tangan yang lain dari pada tangan Markus untuk bagian penutup ini].

A. T. Robertson (ay 11): Disbelieved (EEPISTEESAN). This verb is common in the ancient
Greek, but rare in the New Testament and here again verse 16 and nowhere else in Mark. The
usual New Testament word is APEITHEOO. Luke 24:11 uses this verb EEPISTOUN of the
disbelief of the report of Mary Magdalene and the other women. The verb ETHEATHEE (from
THEAOOMAI) occurs only here and in Mark 16:14 in Mark [= Tidak percaya
(EEPISTEESAN). Kata kerja ini umum dalam bahasa Yunani kuno, tetapi jarang dalam
Perjanjian Baru dan di sini lagi ayat 16 dan tidak ada lagi di tempat lain dalam Markus. Kata
Perjanjian Baru yang umum adalah APEITHEOO. Luk 24:11 menggunakan kata kerja ini
(EEPISTOUN) tentang ketidakpercayaan terhadap laporan dari Maria Magdalena dan
perempuan-perempuan yang lain. Kata kerja ETHEATHEE (dari THEAOOMAI) muncul
hanya di sini dan dalam Mark 16:14 dalam Markus].

A. T. Robertson (ay 12): After these things (META TAUTA). Only here in Mark [= Sesudah
itu / Setelah hal-hal ini (META TAUTA). Hanya di sini dalam Markus].

Vincent (ay 12): After these things (META TAUTA). An expression never used by Mark [=
Sesudah itu / Setelah hal-hal ini (META TAUTA). Suatu ungkapan yang tidak pernah
digunakan oleh Markus].

A. T. Robertson (ay 14): Afterward (HUSTERON) is here alone in Mark, though common in
Matthew [= Sesudah itu / kemudian (HUSTERON) hanya di sini saja dalam Markus,
sekalipun umum dalam Matius].

Vincent (ay 14): Afterward (HUSTERON). Not found elsewhere in Mark. Often in Matthew [=
Sesudah itu / kemudian (HUSTERON). Tidak ditemukan di tempat lain dalam Markus.
Sering dalam Matius].

A. T. Robertson (ay 18): If they drink any deadly thing (KAN THANASIMON TI PIOOSIN) .
This is the only New Testament instance of the old Greek word THANASIMOS (deadly). James 3:8
has THANATEEFOROS, death-bearing [= Jika mereka minum sesuatu yang mematikan
(KAN THANASIMON TI PIOOSIN) . Ini adalah satu-satunya contoh Perjanjian Baru dari
kata Yunani kuno THANASIMOS (mematikan). Yakobus 3:8 mempunyai
THANATEEFOROS, menghasilkan kematian].

A. T. Robertson (ay 20): The Lord working with them (TOU KURIOU SUNERGOUNTOS).
Genitive absolute. This participle not in Gospels elsewhere nor is BEBAIOUNTOS nor the
compound EPAKOLOUTHOUNTOON, all in Pauls Epistles. PANTACHOU once in Luke [=
Tuhan bekerja dengan mereka (TOU KURIOU SUNERGOUNTOS). Genitive mutlak.
Participle ini tidak ada dimanapun dalam Injil-injil, demikian juga BEBAIOUNTOS ataupun
kata gabungan EPAKOLOUTHOUNTOON, semua dalam Surat-surat Paulus. PANTACHOU
sekali dalam Lukas].

Vincent (ay 20): Following (EPAKOLOUTHOUNTOON). Following closely: force of EPI.


Both this and the word for follow, in Mark 16:17, are foreign to Marks diction, though he
frequently uses the simple verb [= Mengikuti (EPAKOLOUTHOUNTOON). Mengikut dari
dekat; kekuatan dari EPI. Baik kata ini maupun kata untuk mengikut, dalam Mark 16:17,
adalah asing bagi gaya menulis Markus, sekalipun ia sering menggunakan kata kerjanya yang
sederhana].

5. Aliran cerita yang tak cocok dari Mark 16:1-8a ke Mark 16:9-20.
Ingat, kalau mau melihat hal ini, kita harus lebih dulu membuang ay 8b-nya (akhiran yang
lebih pendek). Jadi, dari ay 8a ke ay 9-20, aliran ceritanya tidak cocok.

Jewish New Testament Commentary: 9-20. These verses do not appear in the two oldest Greek
manuscripts, their style differs from the rest of Mark, and the transition from v. 8 is awkward (=
9-20. Ayat-ayat ini tidak muncul dalam dua manuscript Yunani yang tertua, gaya mereka
berbeda dari sisa dari Markus, dan peralihan dari ay 8 adalah aneh / kaku / buruk sekali).

Donald Guthrie: Moreover, 16:9 does not well follow on from 16:1-8 since Mary Magdalene is
described as one from whom he had cast out seven demons in spite of the fact that she had
already been mentioned in the first part (= Lebih lagi, 16:9 tidak mengikuti / menyambung
dengan baik 16:1-8, karena Maria Magdalena digambarkan sebagai seseorang dari siapa Ia
telah mengusir 7 setan sekalipun dalam faktanya ia telah disebutkan dalam bagian pertama) -
New Testament Introduction, hal 77.

William Hendriksen: Mary Magdalene has just been mentioned twice (Mark 15:47; 16:1). Then,
in verse 9, she is introduced as if she had not yet been mentioned at all: Mary Magdalene, from
whom he had cast out seven demons (cf. Luke 8:2) [= Maria Magdalena baru saja telah
disebutkan dua kali (Mark 15:47; 16:1). Lalu, dalam ay 9, ia diperkenalkan seakan-akan ia
belum disebutkan sama sekali: Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh
setan (bdk. Luk 8:2)] - hal 686.

J. Harold Greenlee: Furthermore, as we have noted, the connection between verses 8 and 9 is
exceedingly harsh. The subject changes from the women in verse 8 to Jesus in verse 9, and yet
Jesus is not named. In verse 9 the writer tells us who Mary Magdalene is, although she has already
been named in verse 1 (= Selanjutnya, seperti telah kami sebutkan, hubungan antara ay 8 dan
ay 9 sangat kasar / tajam. Subyeknya berubah dari perempuan-perempuan dalam ay 8 ke
Yesus dalam ay 9, tetapi Yesus tidak disebutkan. Dalam ay 9 sang penulis memberitahu kita
siapa Maria Magdalena itu, sekalipun ia telah disebutkan dalam ay 1) - Scribes, Scrolls, &
Scripture, hal 91.

Bible Knowledge Commentary: Internal evidence includes this data: (1) The transition from
verse 8 to verse 9 involves an abrupt change of subject from women to the presumed subject
Jesus since His name is not stated in verse 9 of the Greek text. (2) Mary Magdalene is introduced
with a descriptive clause in verse 9 as though she had not been mentioned already in 15:40,47 and
16:1 [= Bukti internal mencakup data ini: (1) Perpindahan dari ayat 8 ke ayat 9 melibatkan
suatu perubahan subyek yang tiba-tiba / mendadak, dari perempuan-perempuan (mereka) ke
Yesus yang dianggap subyek karena namaNya tidak disebutkan / dituliskan dalam ayat 9 dari
text Yunani. (2) Maria Magdalena diperkenalkan dengan suatu anak kalimat yang
menggambarkan dalam ayat 9 seakan-akan ia belum disebutkan dalam 15:40,47 dan 16:1].

Untuk mengerti dengan lebih jelas apa yang dimaksudkan oleh Bible Knowledge
Commentary ini, perhatikan Mark 15:40, Mark 15:47, dan Mark 16:1-9 di bawah ini (saya
membuang Mark 16:8b-nya!).

Mark 15:40 - Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria
Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome.
Mark 15:47 - Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.
Mark 16:1-9 - (1) Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta
Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan pagi-
pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.
(3) Mereka berkata seorang kepada yang lain: Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi
kita dari pintu kubur? (4) Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang
memang sangat besar itu sudah terguling. (5) Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka
melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat
terkejut, (6) tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: Jangan takut! Kamu mencari
Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah
tempat mereka membaringkan Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-
muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia,
seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu. (8a) Lalu mereka keluar dan lari
meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak
mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. (9) Setelah Yesus (Ia) bangkit pagi-
pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diriNya kepada Maria
Magdalena. Dari padanya Yesus (Ia) pernah mengusir tujuh setan.
Catatan:
a. Dalam ay 9, seperti dikatakan penafsir di atas, dalam bahasa Yunaninya tidak ada kata
Yesus. Seharusnya kedua kata Yesus yang muncul dalam ay 9 dari terjemahan LAI
adalah Ia.
b. Mulai ay 1-8a, kata mereka yang berkali-kali muncul, selalu menunjuk kepada para
perempuan yang diceritakan dalam ay 1. Dalam ay 8a, jelas kata mereka yang menjadi
subyek dari ayat itu, juga menunjuk kepada para perempuan itu. Tetapi dalam ay 9,
terjadi perpindahan subyek yang sangat mendadak, dan sekarang subyeknya adalah
Ia. Seharusnya kalau ada perpindahan subyek seperti itu, nama Yesus dimunculkan,
tetapi ternyata tidak.
Bagi saya, point ini merupakan bukti yang sangat kuat, bahwa Mark 16:9-20 memang
tidak cocok untuk dihubungkan dengan Mark 16:1-8a.
c. Maria Magdalena yang sudah diperkenalkan dalam 16:1, dan bahkan juga sudah dalam
15:40,47, sekarang diperkenalkan lagi dalam 16:9b, seakan-akan ia belum pernah
disebutkan / diperkenalkan sebelumnya.

Bruce Metzger: The connection between ver. 8 and verses 9-20 is so awkward that it is difficult
to believe that the evangelist intended the section to be a continuation of the Gospel. Thus, the
subject of ver. 8 is the women, whereas Jesus is the presumed subject in ver. 9; in ver. 9 Mary
Magdalene is identified even though she has been mentioned only a few lines before (15:47 and
16:1); the other women of verses 1-8 are now forgotten; the use of a)nasta\$ de/ and the
position of prw=ton are appropriate at the beginning of a comprehensive narrative, but they are
ill-suited in a continuation of verses 1-8. In short, all these features indicate that the section was
added by someone who knew a form of Mark that ended abruptly with ver. 8 and who wished to
supply a more appropriate conclusion. In view of the inconcinnities between verses 1-8 and 9-20, it
is unlikely that the long ending was composed ad hoc to fill up an obvious gap; it is more likely
that the section was excerpted from another document, dating perhaps from the first half of the
second century [= Hubungan antara ay 8 dan ay 9-20 begitu aneh / kaku / buruk sekali
sehingga sukar untuk mempercayai bahwa sang penginjil memaksudkan bagian ini sebagai
suatu sambungan / lanjutan dari Injil ini. Lalu, subyek dari ay 8 adalah perempuan-
perempuan, sedangkan Yesus adalah yang dianggap subyek dalam ay 9; dalam ay 9 Maria
Magdalena diperkenalkan sekalipun ia telah disebutkan hanya beberapa baris sebelumnya
(15:47 dan 16:1); perempuan-perempuan yang lain dari ay 1-8 sekarang dilupakan;
penggunaan dari a)nasta\$ de/ (ANASTAS DE = and rose / dan bangkit) dan posisi dari
prw=ton (PROTON = first / pertama-tama / mula-mula) cocok untuk permulaan dari suatu
cerita yang luas / meliputi banyak hal, tetapi mereka tidak cocok dalam suatu sambungan /
lanjutan dari ay 1-8. Singkatnya, semua ciri ini menunjukkan bahwa bagian ini ditambahkan
oleh seseorang yang mengetahui / mengenal suatu bentuk dari Markus yang berhenti secara
mendadak dengan ay 8 dan yang ingin menyuplai suatu akhir / penutup yang lebih sesuai.
Mengingat hal-hal yang tidak harmonis antara ay 1-8 dan 9-20, kecil kemungkinannya bahwa
akhiran yang panjang ini disusun khusus dengan maksud untuk mengisi suatu celah yang
nyata / jelas; adalah lebih memungkinkan bahwa bagian ini dikutip / dipetik dari dokumen
yang lain, yang mungkin berasal dari pertengahan pertama dari abad kedua (antara tahun 100-
150 M.)] - A Textual Commentary on the Greek New Testament.
Catatan: tentang kata ANASTAS DE memang kelihatan kalau tidak cocok kalau diletakkan
di permulaan cerita, tetapi tentang kata PROTON saya tidak mengerti mengapa dianggap
tidak cocok.

6. Isi dari Mark 16:9-20 tak cocok dengan Mark 16:1-8a.

William Hendriksen: Mark leads us to expect great things, a marvelous reunion in Galilee, but
then all of a sudden his message breaks off. ... What we, along with many other interpreters of
various theological positions, are saying is that we probably do not have all that Mark wrote (=
Markus membimbing kita untuk mengharapkan hal-hal yang besar, suatu reuni di Galilea,
tetapi lalu secara mendadak beritanya terputus / terpotong. ... Apa yang kami, bersama-sama
dengan banyak penafsir lain dari bermacam-macam posisi theologia, katakan adalah bahwa
mungkin kita tidak mempunyai semua yang Markus tuliskan) - hal 682.

Bible Knowledge Commentary: Mark would have been expected to include a Resurrection
appearance to the disciples in Galilee (14:28; 16:7), but the appearances in verses 9-20 are in or
near Jerusalem [= Markus diharapkan untuk memuat suatu pemunculan / penampakan
Kebangkitan kepada murid-murid di Galilea (14:28; 16:7), tetapi pemunculan-pemunculan /
penampakan-penampakan dalam ay 9-20 adalah di atau dekat Yerusalem].

Tetapi Pulpit Commentary, yang saya berikan kutipannya di bawah ini, menganggap bahwa
Mark 16:9-20 bukan terjadi di Yerusalem. Kalau Mark 16:15-16 dianggap paralel dengan
Mat 28:19-20, maka kata-kata itu diucapkan oleh Yesus di Galilea.

Pulpit Commentary: St. Mark had already recorded the words of Christ (Mark 14:28), But after
that I am risen, I will go before you into Galilee. How natural, therefore, that he should refer in
some way to our Lords presence in Galilee after his resurrection; which he does in the most
effective manner by quoting the words which St. Matthew (Matt 27:16, etc.) tells us were spoken by
him in Galilee [= Santo Markus telah mencatat kata-kata Kristus (Mark 14:28), Akan tetapi
sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea. Karena itu, alangkah wajarnya
kalau ia menunjuk dengan cara tertentu pada kehadiran Tuhan kita di Galilea setelah
kebangkitanNya; yang ia lakukan dengan cara yang paling efektif dengan mengutip kata-kata
yang Santo Matius (Mat 27:16 dst) beritahukan kepada kita dikatakan olehNya di Galilea] -
Introduction, hal ix.
Catatan: Mat 27:16 itu pasti salah cetak; seharusnya adalah Mat 28:16, yang memang
menceritakan pertemuan Yesus dan murid-murid di Galilea.

Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah memang Mat 28:19-20 dan Mark 16:15-16 itu
paralel?
Mat 28:19-20 - (19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman..
Mark 16:15-16 - (15) Lalu Ia berkata kepada mereka: Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (16) Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Mark 16:15 memang sejalan dengan Mat 28:19, tetapi Mark 16:16 sangat berbeda dengan
Mat 28:20. Memang tetap memungkinkan kedua text ini paralel, tetapi belum tentu.

William Hendriksen: In Mark 16:1-8 the young man dressed in a white robe tells the women to
remind the disciples and Peter that Jesus, risen from the dead, will meet them in Galilee. One
expects, therefore, that if any appearance of the Lord are going to be recorded, they will be those
that took place in Galilee. What actually happens is the very opposite: verses 9-20 never even
mention where the appearances there summarized occurred, whether in Judea or in Galilee. From
the Gospel according to John (20:1,2,11-18) we learn that the appearance to Mary Magdalene
(Mark 16:9-11), mentioned first of all, took place in the Jerusalem region; from Luke (24:13-35),
that the appearance to the two men who were walking into the country (Mark 16:12,13) also
occurred in that general vicinity. Next, Luke (24:36 f.) describes an appearance of Jesus to the
eleven, etc. to which Mark seems to refer in verse 14. That, too, had nothing to do with Galilee.
The only possible connection with Galilee is found in 16:15-20; for Marks verses 15,16 resemble
Matt. 28:19, which records words spoken by the resurrected Lord in Galilee (Matt. 28:16). But
EVEN HERE WHOEVER IT WAS THAT WROTE MARK 16:15f. NEVER MENTIONS
GALILEE AT ALL [= Dalam Mark 16:1-8 seorang muda yang memakai jubah putih
menyuruh perempuan-perempuan itu untuk mengingatkan murid-murid dan Petrus bahwa
Yesus, yang telah bangkit dari antara orang mati, akan menemui mereka di Galilea. Karena
itu, orang mengharapkan bahwa jika ada pemunculan apapun dari Tuhan akan dicatat, itu
akan merupakan pemunculan yang terjadi di Galilea. Apa yang betul-betul terjadi adalah
persis sebaliknya: ay 9-20 bahkan tidak pernah menyebutkan dimana ringkasan pemunculan-
pemunculan itu terjadi, apakah di Yudea atau di Galilea. Dari Injil Yohanes (20:1,2,11-18) kita
mempelajari bahwa pemunculan kepada Maria Magdalena (Mark 16:9-11), disebutkan
pertama dari semua, terjadi di daerah Yerusalem; dari Lukas (24:13-35), bahwa pemunculan
kepada dua orang yang sedang berjalan ke sebuah desa / kampung (Mark 16:12,13) juga
terjadi di daerah sekitar itu. Selanjutnya, Lukas (24:36-dst) menggambarkan pemunculan
Yesus kepada sebelas murid, dsb, yang kelihatannya ditunjukkan oleh Markus dalam ay 14.
Itu, juga, tidak ada hubungannya dengan Galilea. Satu-satunya hubungan yang
memungkinkan dengan Galilea ditemukan dalam 16:15-20; karena ay 15,16 dari Markus
menyerupai Mat 28:19, yang mencatat kata-kata yang diucapkan oleh Tuhan yang sudah
dibangkitkan di Galilea (Mat 28:16). Tetapi BAHKAN DI SINI SIAPAPUN YANG MENULIS
MARK 16:15-dst TIDAK PERNAH MENYEBUTKAN GALILEA SAMA SEKALI] - hal 685-
686.

7. Banyak bapa-bapa gereja, yang tidak tahu tentang ay 9-20 ini, atau yang menolak ay 9-20
ini.
Clement dari Alexandria dan Origen tidak tahu tentang adanya Mark 16:9-20, dan Eusebius
dan Jerome (abad ke 4) menolak Mark 16:9-20 ini.
Catatan: Encyclopedia Britannica 2010 mengatakan bahwa:
Clement dari Alexandria lahir pada tahun 150 M. dan mati sekitar tahun 211-215 M.
Origen lahir tahun 185 M. dan mati tahun 254 M.

Jamieson, Fausset & Brown: Again, because Eusebius and Jerome - most competent witnesses
and judges, of the fourth century - pronounce against them, affirming that the genuine text of this
Gospel ended with Mark 16:8 (= Juga, karena Eusebius dan Jerome - saksi-saksi dan hakim-
hakim yang paling cakap / mampu / memenuhi syarat, dari abad keempat - memberikan
ucapan yang menentang mereka / ayat-ayat itu, menegaskan bahwa text asli dari Injil ini
berhenti dengan Mark 16:8).

Bible Knowledge Commentary: However, Eusebius (Questions to Marinus 1, ca. A.D. 325) and
Jerome (Epistle 120. 3; ad Hedibiam, ca. A.D. 407) said verses 9-20 were missing from Greek
manuscripts known to them [= Tetapi Eusebius (Questions to Marinus 1, ca. A.D. 325) dan
Jerome (Epistle 120. 3; ad Hedibiam, ca. A.D. 407) berkata ay 9-20 tidak ada dalam manuscript
Yunani yang mereka ketahui / kenal].

Bruce Metzger: Clement of Alexandria and Origen show no knowledge of the existence of these
verses; furthermore Eusebius and Jerome attest that the passage was absent from almost all Greek
copies of Mark known to them (= Clement dari Alexandria dan Origen menunjukkan bahwa
mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang keberadaan dari ayat-ayat ini; selanjutnya
Eusebius dan Jerome menegaskan bahwa text itu absen dari hampir semua copy / manuscript
Yunani tentang Markus yang mereka kenal / ketahui) - A Textual Commentary on the Greek
New Testament.

Donald Guthrie: Eusebius of Caesarea cites an apologist who appealed to inaccurate copies of
Mark as evidence against the genuineness of 16:9-20. (= Eusebius dari Kaisarea mengutip
seorang ahli apologetik yang menuntut copy-copy / manuscript-manuscript yang tidak akurat
dari Markus sebagai bukti yang menentang keaslian dari 16:9-20) - New Testament
Introduction, hal 76.

J. Harold Greenlee: The Alexandrian Codices Sinaiticus and Vativanus (Aleph and B) both omit
Mark 16:9-20, as does the second Century Church Father Cyril of Alexandria and a few of other
witnesses. ... Two third-century Church Fathers who quote Scripture very extensively make no
reference to these closing verses in their writings [= Codex Sinaiticus dan Vaticanus (Aleph dan
B) keduanya menghapuskan Mark 16:9-20, seperti yang dilakukan oleh Bapa Gereja abad
kedua Cyril dari Alexandria dan beberapa saksi-saksi yang lain. ... Dua Bapa Gereja abad
ketiga yang mengutip Kitab Suci secara sangat banyak tidak membuat referensi pada ayat-ayat
penutup ini dalam tulisan-tulisan mereka] - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 90.
Catatan: Encyclopedia Britannica 2010 mengatakan Cyril dari Alexandria hidup pada tahun
375-444 M. Jadi, ia adalah bapa gereja abad ke 4-5, bukan abad kedua, seperti yang
dikatakan Greenlee di atas. Mungkin Greenlee memaksudkan Clement of Alexandria, yang
memang merupakan bapa gereja abad 2, dan memang dari tulisan-tulisan bapa gereja ini
terlihat bahwa ia tidak tahu tentang Mark 16:9-20. Lihat kutipan Bruce Metzger di atas.

Tentang bagaimana bapa-bapa gereja mengutip Kitab Suci perhatikan kata-kata J. Harold
Greenlee di bawah ini.

J. Harold Greenlee: The final major source of our knowledge of the text of the New Testament is
the quotation of the New Testament found in the writings of the ancient Christian writers
commonly called the Church Fathers. The writings are known as patristic (from pater, Latin
for father). Most of the Church Fathers wrote in Greek or Latin, but some wrote in Syriac and a
few other languages. The New Testament quotations in these patristic writings are remarkable
extensive. Indeed, it has been said that the whole New Testament could be reconstructed from the
patristic quotations alone [= Sumber besar terakhir dari pengetahuan kita tentang text dari
Perjanjian Baru adalah kutipan dari Perjanjian Baru yang ditemukan dalam tulisan-tulisan
dari penulis-penulis Kristen kuno yang disebut bapa-bapa Gereja. Tulisan-tulisan itu dikenal
sebagai patristic (dari pater, kata bahasa Latin untuk bapa). Kebanyakan dari Bapa-bapa
Gereja menulis dalam bahasa Yunani atau Latin, tetapi beberapa / sebagian menulis dalam
bahasa Syria dan beberapa bahasa lainnya. Kutipan-kutipan Perjanjian Baru dalam tulisan
bapa-bapa gereja ini sangat banyak. Bahkan, telah dikatakan bahwa seluruh Perjanjian Baru
bisa direkonstruksi dari kutipan-kutipan dari tulisan-tulisan bapa-bapa gereja ini saja] -
Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 33.

Karena itu, kalau ternyata dua bapa gereja yang memang terkenal sangat banyak mengutip
Kitab Suci ini ternyata tidak pernah mengutip dari Mark 16:9-20, ini bisa dijadikan
argumentasi yang menunjukkan bahwa, atau mereka tidak mempunyai text itu dalam
manuscript mereka, atau mereka tidak menganggapnya sebagai asli.

8. Matius dan Lukas paralel dengan Markus hanya sampai Mark 16:8a.
Bible Knowledge Commentary: Matthew and Luke parallel Mark until verse 8 and then diverge
noticeably, suggesting that Mark began its literary existence without verses 9-20 (= Matius dan
Lukas paralel dengan Markus sampai ay 8 dan lalu menyimpang secara jelas, menunjukkan
bahwa Markus memulai keberadaan literaturnya tanpa ay 9-20).

9. Motivasi untuk menambahkan Mark 16:9-20 lebih kuat dari motivasi untuk membuang Mark
16:9-20.
Bible Knowledge Commentary: If Mark ended abruptly at verse 8, then it is easy to see why
some early copyist(s) wanted to provide a suitable ending for the Gospel from other authoritative
sources. However, if verses 9-20 were part of the original, it is difficult to see why the early copyists
would have omitted it (= Jika Markus berhenti dengan mendadak pada ay 8, maka adalah
mudah untuk mengerti mengapa beberapa penyalin awal ingin menyediakan suatu akhiran
yang sesuai untuk Injil ini dari sumber-sumber berotoritas yang lain. Tetapi, jika ay 9-20
merupakan bagian dari text asli, adalah sukar untuk mengerti mengapa penyalin-penyalin
awal menghapuskannya).
Dalam point ini saya sangat setuju dengan Bible Knowledge Commentary. Jika manuscript
awal mempunyai ay 9-20, maka penghapusannya, apalagi penggantiannya dengan ay 8b,
merupakan sesuatu yang sangat aneh / tak masuk akal. Kalau akhiran yang asli sebetulnya
ada tetapi lalu sobek / hilang, maka munculnya ay 8b (akhiran yang lebih pendek) atau ay 9-
20 (akhiran yang lebih panjang) bisa dijelaskan dengan menganggap bahwa hilangnya
akhiran yang asli maupun penambahan dengan ay 8b atau ay 9-20, sudah dilakukan pada
manuscript yang sangat awal.

Alan Cole (Tyndale): it seems reasonable to see this as an early attempt, known at least as early
as Irenaeus, to round off a Gospel whose original ending had become in some way maimed or
lost; that several such attempts were made is obvious from the different versions circulating (=
kelihatannya masuk akal untuk melihat hal ini sebagai suatu usaha mula-mula / awal,
diketahui setidaknya seawal Ireneaus, untuk membulatkan / mengakhiri suatu Injil yang
akhiran aslinya karena suatu hal telah menjadi buntung atau hilang; bahwa beberapa dari
usaha-usaha seperti itu dibuat adalah jelas dari versi-versi yang berbeda yang beredar) - hal
258.

10. Adanya manuscript-manuscript yang diakhiri oleh Mark 16:8b menunjukkan bahwa Mark
16:9-20 tidak orisinil.
Bruce Metzger: Finally it should be observed that the external evidence for the shorter ending
(2) resolves itself into additional testimony supporting the omission of verses 9-20. No one who had
available as the conclusion of the Second Gospel the twelve verses 9-20, so rich in interesting
material, would have deliberately replaced them with a few lines of a colorless and generalized
summary. Therefore, the documentary evidence supporting (2) should be added to that supporting
(1) [= Akhirnya harus diperhatikan bahwa bukti luar / external untuk akhiran yang lebih
pendek (2) memutuskan / menentukan dirinya sendiri ke dalam kesaksian tambahan yang
mendukung penghapusan dari ay 9-20. Tak seorangpun yang mempunyai sebagai penutup dari
Injil yang kedua ini 12 ayat 9-20, yang begitu kaya dengan bahan-bahan yang menarik, akan
secara sengaja menggantikan ayat-ayat itu dengan beberapa baris dari suatu ringkasan yang
tidak menarik dan bersifat tidak mendetail. Karena itu, bukti yang bersifat dokumen yang
mendukung (2) harus ditambahkan pada bukti yang mendukung (1)] - A Textual Commentary
on the Greek New Testament.

UBS New Testament Handbook Series: As Warfield Textual Criticism, 200, says: The
existence of the shorter conclusion... is fortiori evidence against the longer one. For no one doubts
that this shorter conclusion is a spurious invention of the scribes; but it would not have been
invented, save to fill the blank. (= Seperti dikatakan oleh Warfield Textual Criticism: Adanya
penutup yang lebih pendek ... merupakan bukti yang kuat terhadap / menentang penutup yang
lebih panjang. Karena tak seorangpun meragukan bahwa penutup yang lebih pendek ini
merupakan penemuan palsu dari penyalin-penyalin; tetapi itu tidak akan ditemukan, kecuali
untuk mengisi kekosongan).

11. Adanya hal-hal yang aneh / tak cocok tempatnya dalam Mark 16:9-20 ini, yaitu:
a. Ay 12 mengatakan Yesus menampakkan diri dalam rupa yang lain. Untuk lebih
jelasnya perhatikan exposisi tentang bagian ini di belakang.
b. Hal-hal yang sebetulnya tak termasuk dalam kitab Injil. Kitab Injil hanya mempersoalkan
inkarnasi Yesus sampai dengan terangkatnya Yesus ke surga.
Bdk. Kis 1:1-2 - (1) Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala
sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, (2) sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum
itu Ia telah memberi perintahNya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilihNya.
Memang yang dibicarakan di sini adalah Injil Lukas, tetapi Injil yang lainpun tak ada
yang menceritakan apapun setelah Yesus naik ke surga. Hal-hal setelah Yesus naik ke
surga diceritakan dalam Kisah Rasul, bukan dalam Injil. Tetapi dalam Mark 16:9-20 ini
ada beberapa hal yang berbau Kisah Rasul, yaitu:

Yesus duduk di sebelah kanan Allah (ay 19). Ini tak ada dalam kitab Injil, karena
Injil menceritakan hanya sampai naiknya Kristus ke surga, sedangkan duduknya
Yesus di kanan Allah terjadi setelah Yesus naik ke surga. Ini berbau Kisah Rasul (Kis
2:33,35 5:31 7:55-56).

Kis 2:33,35 - (33) Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima
Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar
di sini. ... (35) Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu
menjadi tumpuan kakiMu.
Kis 2:33 diterjemahkan berbeda oleh RSV/NIV/NASB.
KJV: by the right hand of God (= oleh tangan kanan Allah).
RSV: at the right hand of God (= di sebelah kanan Allah).
NIV/NASB: to the right hand of God (= ke sebelah kanan Allah).

Kis 5:31 - Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kananNya
menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima
pengampunan dosa.
KJV: with his right hand (= dengan tangan kananNya).
RSV: at his right hand (= di sebelah kananNya).
NIV: to his own right hand (= ke sebelah kananNya sendiri) .
NASB: to His right hand (= ke sebelah kananNya).

Kis 7:55-56 - (55) Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit,
lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. (56) Lalu
katanya: Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah
kanan Allah..

tanda bahasa-bahasa yang baru / bahasa Roh (ay 17,20b). Dalam seluruh kitab-
kitab Injil tak pernah dibicarakan tentang bahasa Roh, karena bahasa Roh baru ada
pada hari Pentakosta (Kis 2:1-dst).
William Hendriksen: It is possible, in fact, that in connection with four of the five items
here mentioned the historical milieu is later than that of Christs earthly sojourn. The
following facts must be borne in mind: Ability to speak in new tongues is never mentioned
in the Gospels (= Dalam faktanya, adalah mungkin bahwa berhubungan dengan empat
dari lima hal yang disebutkan di sini lingkungan / suasana historisnya adalah lebih
belakangan dari pada lingkungan / suasana sejarah dari tinggal-sementaranya Kristus
di bumi. Fakta-fakta berikut ini harus dicamkan: Kemampuan untuk berbicara dalam
bahasa-bahasa baru tidak pernah disebutkan dalam Injil-injil) - hal 691.

Perginya para murid-murid untuk memberitakan Injil kemana-mana (ay 20).


William Hendriksen: In obedience to Christs command (verse 15; cf. Matt. 28:19) the
disciples preached everywhere, a statement which one would naturally associate with a
period of church history considerably later than Pentecost [= Dalam ketaatan pada
perintah Kristus (ayat 15; bdk. Mat 28:19) murid-murid berkhotbah / memberitakan
Injil dimana-mana, suatu pernyataan yang secara wajar akan dihubungkan dengan
suatu periode sejarah gereja yang sangat lebih belakangan dari pada Pentakosta] - hal
692.
Bdk. Kis 1:4,5,8 - (4) Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka,
Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ
menantikan janji Bapa, yang - demikian kataNya - telah kamu dengar dari padaKu.
(5) Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis
dengan Roh Kudus. ... (8) Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun
ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan
Samaria dan sampai ke ujung bumi..

12. Ada satu manuscript Armenian dari abad ke 10 yang menganggap bahwa Mark 16:9-20
berasal dari penatua Ariston, yang mungkin menunjuk kepada Aristion, seseorang yang
sebaya dengan Papias (60-130 M.) yang adalah seorang murid dari rasul Yohanes.

Bible Knowledge Commentary: An Armenian manuscript of the 10th century attributed verses
9-20 to the presbyter Ariston, probably Aristion, a contemporary of Papias (A.D. 60-130) who was
purportedly a disciple of the Apostle John [= Suatu manuscript Armenian dari abad ke 10
menganggap ay 9-20 berasal dari penatua Ariston, mungkin Aristion, seorang yang sejaman
dengan Papias (60-130 M.) yang diakui sebagai seorang murid dari Rasul Yohanes].

A. T. Robertson: One Armenian MS. (at Edschmiadzin) gives the long ending and attributes it to
Ariston (possibly the Aristion of Papias) [= Satu manuscript Armenian (at Edschmiadzin)
memberikan akhiran yang lebih panjang dan menganggapnya berasal dari Ariston (mungkin
Aristion dari Papias)].

b) Argumentasi untuk menerima Mark 16:9-20.


1. Manuscript-manuscript kuno yang mempunyai Mark 16:9-20 hanya lebih muda paling
banyak 50 tahun dari manuscript tertua yang tidak mempunyai Mark 16:9-20.
Jamieson, Fausset & Brown: they are found in all the Uncial or earlier Greek manuscripts,
except the two above-mentioned - including A, or the Alexandrian manuscript, which is admitted to
be not more than fifty years later than the two oldest, and of scarcely less, if indeed of any less,
authority [= mereka / ayat-ayat ini ditemukan dalam semua manuscript Yunani uncial atau
lebih awal, kecuali dua yang telah disebutkan di atas - termasuk A, atau manuscript
Alexandrian, yang diakui belakangan (lebih muda) tidak lebih dari 50 tahun dari pada dua
manuscript yang tertua, dan hampir tidak kurang, jika memang kurang, otoritasnya].

Greenlee mengatakan bahwa Codex Alexandrinus ditulis pada abad ke 5, sedangkan Codex
Sinaiticus pada kira-kira tahun 350 M. Jadi mestinya berbeda usia sedikitnya 50 tahun.
Greenlee mengatakan bahwa Codex Sinaiticus merupakan salah satu manuscript terpenting
dari Perjanjian Baru, dan Codex Vaticanus sebagai the most important single manuscript of
the New Testament (= manuscript tunggal terpenting dari Perjanjian Baru). Tentang
kepentingan / bagusnya dari Codex Alexandrinus ia tidak mengatakan apa-apa (Scribes,
Scrolls, & Scripture, hal 25,27).

Tetapi Halleys Bible Handbook mengatakan ketiganya sebagai paling berharga.


Halleys Bible Handbook: The three oldest, completest, best known and most valuable
manuscripts are: The Sinaitic, Vatican and Alexandrian (= Tiga manuscript yang tertua,
terlengkap, paling dikenal dan paling berharga adalah Sinaiticus, Vaticanus, Alexandrinus) -
hal 751.

Penjelasan lebih terperinci kelihatannya diberikan oleh Encyclopedia Britannica 2010, yang
mengatakan bahwa Codex Alexandrinus merupakan salah satu manuscript uncial utama
pada abad 17-18. Tetapi pada abad ke 19 ada penemuan dan pemeriksaan terhadap
manuscript-manuscript dan ini kelihatannya mengubah penilaian tentang mana manuscript-
manuscript yang terpenting, dan 2 di antaranya adalah Aleph (Sinaiticus) dan B (Vaticanus).
Kutipan dari Encyclopedia Britannica 2010 akan saya berikan di bawah.

2. Manuscript-manuscript yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 memberikan tempat kosong


setelah Mark 16:8a.

Jamieson, Fausset & Brown: in one or two manuscripts in which they are not found, a space is
left to show that something is wanting - not large enough, indeed, to contain the verses, but this
probably only to save space (= dalam satu atau dua manuscript dalam mana mereka / ayat-ayat
ini ditemukan, suatu tempat kosong ditinggalkan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang
kurang - memang tidak cukup besar untuk menampung / memuat ayat-ayat itu, tetapi ini
mungkin hanya untuk menghemat tempat).

Terlihat bahwa adanya tempat kosong dalam manuscript yang tidak mempunyai Mark 16:9-
20, digunakan oleh kedua pihak untuk mendukung pandangan mereka.

Adanya tempat yang kosong memungkinkan beberapa kemungkinan:


a. Penyalin manuscript itu tidak mempunyai Mark 16:9-20 dalam manuscript yang sedang
ia salin, tetapi ia tahu adanya manuscript lain yang mempunyainya.
b. Penyalin manuscript itu mempunyai Mark 16:9-20 dalam manuscript yang sedang ia
salin, tetapi ia tahu kepalsuan bagian itu, atau ia tahu adanya manuscript lain yang tidak
mempunyai bagian itu.

Jadi saya berpendapat bahwa adanya tempat kosong ini sama sekali tidak memberikan
dukungan pada aslinya Mark 16:9-20, tetapi hanya menunjukkan bahwa manuscript-
manuscript sebelum Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus sudah terbagi dalam sedikitnya
2 kelompok. Ada yang punya Mark 16:9-20 dan ada yang tidak punya Mark 16:9-20.

3. Dua manuscript paling kuno yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 sebetulnya sekeluarga,
dan karena itu sebetulnya bisa dikatakan hanya sebagai satu manuscript. Lalu ada satu
manuscript belakangan (abad ke 8) yang juga sekeluarga dengan Codex Sinaiticus dan
Codex Vaticanus, tetapi manuscript yang satu ini mempunyai Mark 16:9-20 (tetapi juga
mempunyai ay 8b).

Pulpit Commentary: But there is another and much later Uncial Manuscript (1), of about the
eighth century. Of this manuscript it may be said that, although some four centuries later, it bears
a strong family resemblance to the Sinaitic and the Vatican. This manuscript does not omit the
passage, but it interpolates between it and the eighth verse an apocryphal addition, and then goes
on with ver. 9. ... It should be added here that there is a strong resemblance between the Sinaitic
and Vatican manuscripts; so that practically the evidential value of these three manuscripts
amounts to little more than one authority. ... the verses are retained in all but two old manuscripts,
and those two in all probability not independent [= Tetapi ada manuscript Uncial yang lain dan
jauh belakangan (1), dari sekitar abad ke 8. Tentang manuscript ini bisa dikatakan bahwa,
sekalipun lebih belakangan 4 abad, manuscript itu mengandung suatu kemiripan keluarga
yang kuat dengan Sinaiticus dan Vaticanus. Manuscript ini tidak membuang / menghapuskan
text itu, tetapi menambahinya di antara text itu (ay 9-20) dan ay 8 suatu tambahan yang
bersifat apocrypha, dan lalu melanjutkan dengan ay 9. ... Harus ditambahkan di sini bahwa
ada suatu kemiripan yang kuat antara manuscript Sinaiticus dan Vaticanus; sehingga secara
praktis nilai bukti dari ketiga manuscript ini adalah sama dengan sedikit lebih dari satu
otoritas. ... ayat-ayat itu (ay 9-20) dipertahankan dalam semua kecuali dua manuscript, dan
yang dua itu mungkin saling tergantung] - Introduction, hal viii.
Catatan: yang dimaksud suatu tambahan yang bersifat apocrypha itu pasti ay 8b (shorter
ending / akhiran yang lebih pendek).

Kalaupun Pulpit Commentary benar dalam hal ini, saya menjawab sebagai berikut:

a. Kedua manuscript ini (Sinaiticus dan Vaticanus) diakui sebagai yang terbaik / terpenting
oleh Greenlee, dan juga hampir sama kekunoannya. Jadi, kalaupun keduanya
sekeluarga, tetap saja manuscript itu mempunyai nilai sangat penting dalam
argumentasi berkenaan dengan asli tidaknya Mark 16:9-20.

b. Tentang manuscript abad ke 8 yang mempunyai Mark 16:9-20 ini:


Menurut saya, tak peduli sekeluarga atau tidak, tetapi usia yang beda jauh lebih
memungkinkan masuknya bahan-bahan / kesalahan-kesalahan lain.
Bisa saja manuscript ini mengutip ay 9-20 itu dari manuscript lain, karena penyalinan
manuscript tidak selalu hanya dari satu manuscript. Bisa dari dua atau lebih
manuscript.
Greenlee, sekalipun memang mengakui adanya keluarga manuscript, tetapi
mengatakan the path from autograph to extant manuscripts can be complicated; for
instance, a given manuscript may have been copied from two different manuscripts (=
jalan dari autograph ke manuscript-manuscript yang masih ada bisa sangat rumit;
sebagai contoh, suatu manuscript tertentu bisa telah disalin dari 2 manuscript yang
berbeda) - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 40.
Jadi, kalaupun manuscript yang dibicarakan Pulpit Commentary itu memang
sekeluarga dengan Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus, tetap bisa saja penyalin
manuscript itu mendapatkan Mark 16:9-20 dari manuscript lain lagi (kalau ia
menyalin manuscriptnya menggunakan lebih dari satu manuscript).
Lalu, ternyata manuscript abad ke 8 itu juga mempunyai Mark 16:8b (akhiran yang
lebih pendek)! Kalau adanya Mark 16:9-20 dalam manuscript itu mau dijadikan
argumentasi yang menunjukkan keaslian dari Mark 16:9-20, maka adanya ay 8b
juga harus diperlakukan secara sama, dan ay 8b harus dianggap sebagai text asli.
Tetapi ternyata Pulpit Commentary sendiri menganggap ay 8b itu sebagai suatu
tambahan yang bersifat apocrypha!

4. Kebanyakan manuscript, termasuk TEXTUS RECEPTUS, mempunyai Mark 16:9-20.


UBS New Testament Handbook Series: The Longer Ending, conventionally printed as vv. 9-20
of chapter 16, is found in most manuscripts and versions (= Akhiran yang lebih panjang, yang
biasanya dicetak sebagai ay 9-20 dari pasal 16, ditemukan dalam kebanyakan manuscript dan
versi).
Bible Knowledge Commentary: Most all other manuscripts (fifth century on) as well as early
versions support the inclusion of verses 9-20 [= Kebanyakan dari semua manuscript yang lain
(abad ke 5 dan seterusnya) maupun versi-versi awal mendukung pemasukan dari ay 9-20].
Jamieson, Fausset & Brown: they are found in all the Uncial or earlier Greek manuscripts,
except the two above-mentioned - including A, or the Alexandrian manuscript, ... They are found
in all the Cursive or later Greek manuscripts: They are found in all the most ancient Versions (=
mereka ditemukan dalam semua manuscript uncial atau awal / mula-mula, kecuali dua yang
disebutkan di atas - termasuk A, atau manuscript Alexandrinus, ... Mereka ditemukan dalam
semua manuscript Cursive atau belakangan: Mereka ditemukan dalam semua Versi-versi yang
paling kuno).
A. T. Robertson: The great mass of the documents have the long ending as seen in the English
versions (= Dokumen-dokumen yang sangat banyak mempunyai akhiran yang lebih panjang
seperti terlihat dalam versi-versi bahasa Inggris).
Wycliffe Bible Commentary: By far the greater number of manuscripts have the longer
conclusion, but many of them are of a late date and an inferior quality (= Pasti jumlah
manuscript yang lebih besar mempunyai kesimpulan / penutup yang lebih panjang, tetapi
banyak dari mereka berasal dari tahun yang belakangan dan mempunyai kwalitet yang lebih
rendah).
Bruce Metzger: The traditional ending of Mark, so familiar through the AV and other
translations of the Textus Receptus, is present in the vast number of witnesses, including A C D K
W X D Q P Y 099 0112 f 28 33 al (= Akhiran tradisionil dari Markus, yang begitu akrab
melalui AV dan terjemahan-terjemahan lain dari Text Yang Diterima, hadir dalam jumlah
saksi yang sangat banyak, termasuk A C D K W X D Q P Y 099 0112 f 28 33 al) - A Textual
Commentary on the Greek New Testament.

Tanggapan saya:

a. Apakah TEXTUS RECEPTUS itu?


Textus Receptus (= Received Text / Text yang diterima), merupakan text Yunani
cetakan pertama, yang dibuat oleh Erasmus (1469-1536), dan ini menjadi text yang
digunakan oleh KJV dan versi-versi bahasa Inggris kuno. Apakah ini merupakan text
yang baik? Perhatikan komentar Greenlee di bawah ini.
J. Harold Greenlee: Textus Receptus, or Received Text, the phrase commonly used to
refer to the Greek text of Erasmus and his followers. ... this Greek text of Erasmus and the
editors who followed him was by no means a precise text faithfully preserved from the original
manuscript of the New Testament. Rather, it was based largely on Erasmuss hasty comparison
of a few manuscripts of no unusual value that he happened to find in the University library in
Basel. He did have one tenth-century manuscript, Codex 1, which was older and had a better
text than did his other manuscripts - but the fact that its text differed from that of his other
manuscripts made him doubt its value, and so he did not make much use of it. ... It is by no
means a poor or bad text. In fact it is about as good, or reliable, as the average ancient
manuscript of the New Testament. It gives us the whole Word of God. Yet in numerous details it
is not as close to the exact original text as are the best of the ancient manuscripts, and it is
certainly inferior to the best text that can be determined by a proper comparison of the
manuscripts using sound principles of procedure (= Textus Receptus, atau Text Yang
Diterima, ungkapan yang biasanya digunakan untuk menunjuk pada text Yunani dari
Erasmus dan para pengikutnya. ... text Yunani dari Erasmus dan para editor yang
mengikutinya ini sama sekali bukanlah text yang tepat / seksama yang dipelihara dengan
setia dari manuscript orisinil dari Perjanjian Baru. Sebaliknya, itu sebagian besar
didasarkan pada perbandingan yang tergesa-gesa dari Erasmus tentang beberapa
manuscript yang nilainya tidak istimewa / luar biasa, yang ia dapatkan di perpustakaan
Universitas di Basel. Ia memang mempunyai satu manuscript abad ke 10, Codex 1, yang
lebih tua dan mempunyai text yang lebih baik dari manuscript-manuscriptnya yang lain -
tetapi fakta bahwa textnya itu berbeda dari text dari manuscript-manuscriptnya yang lain
membuatnya meragukan nilainya, sehingga ia tidak banyak menggunakannya. ... Itu sama
sekali bukanlah text yang jelek atau buruk. Dalam faktanya text itu kira-kira sama
baiknya, atau dapat dipercayanya, seperti rata-rata manuscript kuno dari Perjanjian Baru.
Text itu memberi kita seluruh Firman Allah. Tetapi dalam banyak detail-detail text itu
tidak sedekat text orisinil yang persis / tepat seperti manuscript-manuscript kuno yang
terbaik, dan pasti lebih rendah dari text yang terbaik yang bisa ditentukan dengan
perbandingan yang benar dari manuscript-manuscript menggunakan prinsip-prinsip
prosedur yang sehat) - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 47.

b. Banyak tak berarti benar.


Kalau manuscript yang sangat awal ada yang punya Mark 16:9-20, tidak aneh bahwa
banyak manuscript yang punya Mark 16:9-20.
Juga satu hal tak boleh dilupakan bahwa banyak dari manuscript yang mempunyai Mark
16:9-20 itu memberikan catatan / tanda yang menyebabkan bagian itu harus dicurigai
keasliannya. Disamping, seperti kata-kata Wycliffe, manuscript-manuscript yang punya
Mark 16:9-20 itu banyak yang berasal dari tahun-tahun belakangan dan kwalitetnya
rendah.

Eerdmans Family Encyclopedia of the Bible: it was more important to ask how old a
manuscript was and how good it was, than how many copies survived (= adalah lebih penting
untuk menanyakan berapa tuanya suatu manuscript dan berapa bagusnya manuscript itu,
dari pada berapa banyak copy / salinan yang masih ada) - hal 67.

5. Bukti dari versi (terjemahan) yang sangat awal.


Pulpit Commentary: Evidence of Ancient Versions. The most ancient versions, both of the
Eastern and of the Western Churches, without a single exception, recognize this passage. Of the
Eastern versions the evidence is very remarkable. The Peshito Syriac, which dates from the second
century, bears witness to its genuineness; so does the Philoxenian; while the Curetonian Syriac,
also very ancient, far earlier than the Sinaitic or Vatican manuscripts, bears a very singular
testimony. In the only extant copy of that version, the Gospel of St. Mark is wanting, with the
exception of one fragment only, and that fragment contains the last four of these disputed verses.
The Coptic versions also recognize the passage. The same may be said of the versions of the
Western Church. The earlier version of the Vulgate, called the Old Italic, has it. Jerome, who used
the best manuscript of the Old Italic when he prepared his Vulgate, felt himself obliged to admit
this disputed passage, although he did not scruple to allege the objections to its reception, which
were the same as these urged by Eusebius. The Gothic Version of Ulphilas (fourth century) has the
passage from ver. 8 to ver. 12 [= Bukti dari Versi-versi Kuno. Versi-versi yang paling kuno, baik
dari Gereja-gereja Timur dan Barat, tanpa satu perkecualianpun, mengenali text ini. Dari
versi-versi Timur buktinya sangat luar biasa. Peshito Syriac yang berasal dari abad kedua,
memberi kesaksian tentang keasliannya; demikian juga dengan Philoxenian; sementara
Curetonian Syriac, juga sangat kuno, jauh lebih tua dari manuscript Sinaiticus atau Vaticanus,
memberi suatu kesaksian yang sangat istimewa / luar biasa. Dalam satu-satunya salinan yang
masih ada dari versi itu, Injil Markus tidak ada, kecuali hanya satu fragmen / potongan saja,
dan potongan itu berisi empat ayat terakhir dari ayat-ayat yang diperdebatkan ini. Versi-versi
Coptic juga mengenali text ini. Hal yang sama bisa dikatakan tentang versi-versi dari Gereja
Barat. Versi yang paling awal dari Vulgate, disebut Italic Kuno, mempunyainya. Jerome, yang
menggunakan manuscript terbaik dari Italic Kuno pada waktu ia mempersiapkan Vulgate-nya,
merasa dirinya wajib untuk mengakui / menerima text yang diperdebatkan ini, sekalipun ia
tidak keberatan untuk menyatakan (tanpa bukti) keberatan-keberatan terhadap
penerimaannya, yang merupakan hal yang sama dengan hal-hal yang didesakkan oleh
Eusebius. Versi Gothic dari Ulphilas (abad keempat) mempunyai text itu dari ay 8-12] -
Introduction, hal vii-ix.

Tanggapan saya:
a. Kalau manuscript yang sangat awal bisa punya Mark 16:9-20, maka tidak aneh kalau
versi-versi awal juga mempunyainya.
b. Kesaksian tentang Jerome bertentangan dengan kesaksian yang diberikan oleh
penafsir-penafsir yang menolak Mark 16:9-20 (lihat point ke 7. dari argumentasi dari
pihak yang menolak Mark 16:9-20).
c. Versi-versi yang disebutkan oleh Pulpit Commentary itu ada yang hanya mempunyai 4
ayat terakhir (Mark 16:17-20), ada juga yang hanya mempunyai Mark 16:8-12. Mengapa
Pulpit Commentary tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang mencurigakan bagi
keaslian Mark 16:9-20?

6. Mark 16:9-20 dikutip oleh beberapa bapa gereja dari abad kedua, yang berarti lebih tua dari
manuscript-manuscript tertua yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 ini, karena manuscript-
manuscript tertua yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 itu (Codex Sinaiticus dan Codex
Vaticanus) berasal dari abad ke 4.

Bible Knowledge Commentary: Early patristic writers - such as Justin Martyr (Apology 1. 45 ,
ca. A.D. 148), Tatian (Diatessaron , ca. A.D. 170), and Irenaeus who quoted verse 19 (Against
Heresies 3. 10. 6) - support the inclusion of these verses [= Penulis-penulis dari bapa-bapa
gereja awal / mula-mula - seperti Justin Martyr (Apology 1. 45 , ca. A.D. 148), Tatian
(Diatessaron , ca. A.D. 170), dan Irenaeus yang mengutip ayat 19 (Against Heresies 3. 10. 6)].
Catatan: Encyclopedia Britannica 2010 mengatakan Tatian lahir tahun 120 M. dan mati pada
tahun 173 M. ia adalah murid dari Justin Martyr, yang lahir tahun 100 M. dan mati tahun 165
M. Jadi keduanya hidup hampir sejaman. Sedangkan Irenaeus, kelahirannya tak bisa
ditentukan dengan pasti, sekitar tahun 120-140 M. dan mati tahun 200-203 M.

Jamieson, Fausset & Brown: They are quoted by Irenaeus, and so must have been known in the
second century; by one father at least in the third century, and by two or three in the fourth, as part
of this Gospel (= Mereka dikutip oleh Irenaeus, dan karena itu pasti telah dikenal pada abad
kedua; oleh satu bapa gereja sedikitnya pada abad ketiga, dan oleh dua atau tiga dalam abad
keempat, sebagai bagian dari Injil ini).
Pulpit Commentary: Evidence of the Early Fathers. There are some expressions in the
Shepherd of Hermas, written in all probability not later than the middle of the second century,
which are evidently taken from St. Mark (16:16). Justin Martyr (about A.D. 160) quotes the last
two verses. The evidence of Irenaeus (A.D. 177) is yet more striking. In one of his books (Adv.
Haer., 3:10) he quotes the beginning and the end of St. Marks Gospel in the same passage, in the
latter part of which he says, But in the end of his Gospel Mark saith, And the Lord Jesus, after
he had spoken unto them, was received into heaven, and sitteth at the right hand of God,
confirming what was said by the prophet, The Lord saith unto my Lord, Sit thou on my right
hand, until I make thine enemies thy footstool. This evidence of Irenaeus is conclusive as to the
fact that in his time there was no doubt as to the genuineness and authenticity of the passage in
Asia Minor, in Gaul, or in Italy [= Bukti dari Bapa-bapa Gereja Awal. Ada beberapa ungkapan
dalam Shepherd of Hermas, yang mungkin sekali ditulis tidak lebih dari pertengahan abad
kedua, yang jelas diambil dari Santo Markus (16:16). Justin Martyr (sekitar tahun 160 M.)
mengutip dua ayat yang terakhir. Bukti dari Irenaeus (177 M.) lebih menyolok lagi. Dalam
salah satu bukunya (Adv. Haer., 3:10) ia mengutip permulaan dan akhir dari Injil Markus
dalam text yang sama, dalam bagian belakangan tentang mana ia berkata: Tetapi di bagian
akhir dari Injilnya Markus berkata: Dan Tuhan Yesus, setelah Ia berkata-kata kepada
mereka, diterima di surga, dan duduk di sebelah kanan Allah (Mark 16:19), meneguhkan apa
yang telah dikatakan oleh nabi, Tuhan berkata kepada Tuhanku, Duduklah di sebelah
kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu. (Maz 110:1) Bukti
dari Irenaeus ini meyakinkan berkenaan dengan fakta bahwa pada jamannya tidak ada
keraguan berkenaan dengan keaslian dan keotentikan dari text ini di Asia Kecil, di Gaul, atau
di Italia] - Introduction, hal vii-ix.

UBS New Testament Handbook Series: Verbal similarity between v. 20 and a statement by
Justin Martyr in Apol. I.45 (c. A.D. 148) makes it possible (though not conclusively so) that he
knew the passage. Tatian had the Longer Ending to Mark in his harmony of the four Gospels, the
Diatessaron (c. A.D. 170). Irenaeus (c. A.D. 180) is the first writer expressly to quote any part of
this section as being from the Gospel of Mark: in his work Adv. Haer. III.x . 6 he says, Also,
towards the conclusion of his Gospel Mark says... and quotes v. 19 [= Kemiripan verbal antara
ay 20 dan suatu pernyataan oleh Justin Martyr dalam Apol. I.45 (kira-kira 148 M.)
membuatnya mungkin (sekalipun tidak secara meyakinkan demikian) bahwa ia mengetahui /
mengenal text itu. Tatian mempunyai Akhiran yang lebih panjang untuk Markus dalam
harmony dari empat Injilnya, Diatessaron (kira-kira 170 M.). Irenaeus (kira-kira 180 M.)
adalah penulis pertama yang mengutip secara explicit / jelas bagian manapun dari bagian ini
sebagai bagian dari Injil Markus: dalam pekerjaannya / tulisannya Adv. Haer. III.x . 6 ia
berkata: Juga, menjelang akhir dari Injilnya Markus berkata ... dan mengutip ay 19].

Bruce Metzger: The earliest patristic witnesses to part or all of the long ending are Irenaeus and
the Diatessaron. It is not certain whether Justin Martyr was acquainted with the passage; in his
Apology (1:45) he includes five words that occur, in a different sequence, in ver. 20 (tou=
lo/gou tou= i)sxurou= o^n a)po\ )Ierousalh\m oi( a)po/stoloi au)tou=
e)celqo/nte$ pantaxou= e)kh/rucan) [= Saksi-saksi bapa-bapa gereja yang paling
awal pada sebagian atau seluruh dari akhiran yang panjang adalah Irenaeus dan Diatessaron.
Adalah tidak pasti apakah Justin Martyr mengenal text ini; dalam Apology-nya (1:45) ia
memasukkan lima kata yang muncul, dengan suatu urut-urutan yang berbeda, dalam ay 20
(tou= lo/gou tou= i)sxurou= o^n a)po\ )Ierousalh\m oi( a)po/stoloi
au)tou= e)celqo/nte$ pantaxou= e)kh/rucan)] - A Textual Commentary on the
Greek New Testament.

Tanggapan saya:

Tentang Justin Martyr, yang mungkin merupakan bapa gereja tertua dari bapa-bapa gereja
yang dibicarakan dalam point ini, UBS New Testament Handbook Series dan juga Bruce
Metzger hanya memberikan kemungkinan bahwa ia mengutip dari Mark 16:9-20 (padahal
Pulpit Commentary kelihatannya memastikan!).
Ay 20 dalam bahasa Yunani sebetulnya adalah sebagai berikut: evkei/noi de.
evxelqo,ntej evkh,ruxan pantacou/( tou/ kuri,ou sunergou/ntoj kai. to.n
lo,gon bebaiou/ntoj dia. tw/n evpakolouqou,ntwn shmei,wn. Perbedaannya
dengan tulisan Justin Martyr terlalu besar dan karena itu menurut saya ini tidak bisa
dianggap sebagai pengutipan. Tetapi memang bapa-bapa gereja kadang-kadang mengutip
hanya berdasarkan ingatan.

Sekalipun point 6 ini, dan mungkin juga point 5 di atas, menunjukkan adanya manuscript
yang lebih tua dari Sinaiticus dan Vaticanus, dan yang memiliki Mark 16:9-20, ini tidak
merupakan argumentasi yang mutlak. Kalau hilangnya akhiran yang asli dari Injil Markus,
dan penambahan-penambahan yang berbeda-beda ini, sudah terjadi pada manuscript-
manuscript yang sangat awal, maka tidak aneh kalau ada manuscript yang sangat tua yang
mempunyai Mark 16:9-20.

Juga, adanya bapa-bapa gereja seperti Clement dari Alexandria dan Origen, yang hanya
lebih belakangan sedikit dibandingkan dengan Tatian dan Irenaeus, yang menunjukkan
bahwa mereka tidak tahu tentang Mark 16:9-20 (argumentasi ke 7. dari pihak yang menolak
Mark 16:9-20), jelas juga menunjukkan bahwa ada manuscript-manuscript yang lebih tua
dari Sinaiticus dan Vaticanus yang tidak mempunyai Mark 16:9-20.

Jadi menurut saya, dari fakta-fakta berkenaan dengan bapa-bapa gereja ini, jelas bahwa
pada abad ke 2 itu manuscript-manuscript sudah berbeda-beda, ada yang punya Mark 16:9-
20, dan ada yang tidak punya Mark 16:9-20. Jadi, argumentasi ini tidak menentukan bagi
kedua belah pihak.

7. Tentang alur cerita.


Tentang hilangnya perempuan-perempuan yang lain dalam Mark 16:9, bukanlah sesuatu
yang aneh, karena dalam Injil Yohanes juga terjadi hal seperti itu. Dalam Yoh 20:1-10 ada
beberapa perempuan, tetapi dalam Yoh 20:11-dst tertinggal hanya Maria Magdalena saja (J.
A. Alexander, hal 438).

Ini memang benar, tetapi bagaimana dengan perubahan subyek dari mereka (yang
menunjuk kepada perempuan-perempuan itu) ke Ia (yang menunjuk kepada Yesus, tanpa
menyebutkan namaNya)? Saya tidak menemukan satu penafsirpun yang menjawab /
menjelaskan keanehan ini. Lenski memang menjawab dengan kata-kata di bawah ini.
Lenski: It is one of Marks peculiarities that he omits the subject Jesus as he does in the present
instance (= Ini merupakan salah satu kekhususan Markus bahwa ia menghapuskan subyek
Yesus seperti ia lakukan dalam contoh sekarang ini) - hal 757.
Betul-betul aneh kalau Lenski mengatakan ini merupakan one of Marks peculiarities (=
salah satu kekhususan Markus), tetapi tidak memberikan satu contohpun!

8. Variasi / perbedaan yang ada di antara manuscript-manuscript yang mempunyai Mark 16:9-
20, tidak melebihi text-text lain yang diterima keasliannya.

Jamieson, Fausset & Brown: nor do the variations in the text exceed those in some passages
whose genuineness is admitted (= variasi-variasi / perbedaan-perbedaan dalam text ini tidak
melebihi variasi-variasi dalam beberapa text yang keasliannya diakui).

Dalam hal-hal ini kata-kata Jamieson, Fausset & Brown memang masuk akal. Dan saya
sendiri tidak menganggap bahwa variasi text berkenaan dengan Mark 16:9-20 (argumentasi
ke 2. dari pihak yang menolak Mark 16:9-20) sebagai dasar yang kuat untuk memastikan
kepalsuan dari Mark 16:9-20 ini. Variasi text dalam Mark 16:9-20 ini memang jauh lebih
sedikit dari pada variasi text dalam persoalan Yoh 7:53-8:11.

Tetapi bagaimanapun juga, adanya variasi text ini, ditambah argumentasi-argumentasi yang
lain, tetap memberikan dukungan tambahan bagi pihak yang menolak Mark 16:9-20.

9. Gaya bahasa yang berbeda, dan perbendaharaan kata yang berbeda, merupakan sesuatu
yang biasa.

Jamieson, Fausset & Brown: The argument from difference of style is exceedingly slender -
confined to a few words and phrases, which vary, as everyone knows, in different writings of the
same author and even different portions of the same writing, with the varying aspects of the subject
and the writers emotions (= Argumentasi dari perbedaan gaya sangat kecil / lemah - terbatas
pada sedikit kata-kata dan ungkapan-ungkapan, yang berbeda, seperti setiap orang tahu,
dalam tulisan-tulisan yang berbeda dari pengarang yang sama dan bahkan bagian-bagian yang
berbeda dari tulisan yang sama, dengan aspek-aspek yang berbeda dari subyek / pokok dan
emosi dari penulis).

Richard Glover: The new terms found would, to a large extent, be required by the new events,
charges, and promises found here (= Istilah-istilah yang baru yang ditemukan, pada umumnya,
dibutuhkan oleh peristiwa-peristiwa, perintah-perintah, dan janji-janji yang ditemukan di sini)
- A Teachers Commentary on the Gospel of St. Mark, hal 316.
J. A. Alexander (hal 438) mengatakan bahwa perbedaan perbendaharaan kata-kata seperti
itu ada dalam kitab manapun dalam Alkitab, tetapi ia tidak memberikan satupun contoh.

Saya menganggap pembelaan-pembelaan ini lemah sekali. Jamieson, Fausset & Brown
mengatakan confined to a few words and phrases (= terbatas pada sedikit kata-kata dan
ungkapan-ungkapan). Padahal Bible Knowledge Commentary mengatakan 1/3 dari kata-
kata yang significant (= penting / berarti), adalah kata-kata non-Markus! Juga William
Hendriksen menunjukkan 18 kata baru yang tak ada dalam Mark 1:1-16:8a (lihat point ke 4.
dari argumentasi yang menolak Mark 16:9-20).

Juga kalau dikatakan bahwa perbedaan gaya dan perbendaharaan kata disebabkan karena
perbedaan pokok yang ditulis, maka perlu dipertanyakan: mengapa Matius dan Lukas, yang
juga menuliskan bagian-bagian yang mirip dengan yang ada dalam Mark 16:9-20, tidak
mempunyai perbedaan gaya dan perbendaharaan kata itu?

Satu-satunya penafsir yang saya ketahui, yang memberikan pembelaan yang lumayan
dalam hal ini adalah Lenski.
Mari kita mempelajari tafsirannya berkenaan dengan perbendaharaan kata yang berbeda
yang digunakan dalam Mark 16:9-20 dan Mark 1:1-16:8a.

Tentang perbedaan istilah hari pertama dan hari satu, Lenski menjawab sebagai berikut.
Lenski: But what law requires that a writer dare not alter his expressions? See how Mark varies
the indentification of the second Mary in 15:40, in 15:47, and again in 16:1 (= Tetapi hukum apa
yang menuntut bahwa seorang penulis tidak berani / boleh mengubah ungkapan-
ungkapannya? Lihat bagaimana Markus membeda-bedakan / mengubah-ubah pengenalan
tentang Maria yang kedua dalam 15:40, dalam 15:47, dan lalu lagi dalam 16:1) - hal 756-757.
Mark 15:40,47 - (40) Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya
Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome. ... (47) Maria Magdalena
dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.
Mark 16:1 - Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome
membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.

Tanggapan saya: menurut saya ini argumentasi yang dipaksakan. Kata / ungkapan yang
berbeda tentu tidak bisa disamakan dengan pemberian penjelasan yang berbeda-beda,
tentang diri seseorang (Maria yang kedua).

Lenski menambahkan bahwa penggunaan kata pertama (PROTE) dalam Mark 16:9,
disesuaikan oleh Markus dengan kata mula-mula (PROTON), yang dalam semua Kitab
Suci bahasa Inggris diterjemahkan first (= pertama-tama).

Lalu tentang ay 11, Lenski berkata sebagai berikut: The fact that Mark uses the verb
APISTEIN only in this connection is no stranger than for Luke to use it in the same connection in
24:11,41. The point in the use of certain words is not whether the writer has used them elsewhere
but whether they fit what he wants to say. This is true also regarding ETHEATHE, which is
certainly the correct term for beholding the glorified body of the Savior whether Marks short
Gospel uses this word elsewhere or not (= Fakta bahwa Markus menggunakan kata kerja
APISTEIN hanya dalam hubungan ini tidaklah lebih aneh dari pada Lukas pada waktu ia
menggunakannya dalam hubungan yang sama dalam 24:11,41. Point dalam penggunaan kata-
kata tertentu bukanlah apakah sang penulis telah menggunakannya di tempat lain tetapi
apakah kata-kata itu cocok dengan apa yang hendak ia katakan. Ini juga benar berkenaan
dengan ETHEATHE, yang pastilah merupakan istilah yang benar untuk melihat tubuh yang
telah dimuliakan dari sang Juruselamat apakah Injil singkat dari Markus menggunakan kata
ini di tempat lain atau tidak) - hal 759.

Luk 24:11,41 - (11) Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong
dan mereka tidak percaya (EPISTOUN) kepada perempuan-perempuan itu. ... (41) Dan ketika
mereka belum percaya (APISTOUNTON) karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia
kepada mereka: Adakah padamu makanan di sini?.

Dan tentang ay 15-18, Lenski berkata: META TAUTA is an entirely innocent phrase although
it appears only here in Mark. Thus far we have been told about events that occurred in the
morning, we are now taken to the evening, hence after these things. (= META TAUTA
merupakan suatu ungkapan yang sama sekali tidak bersalah sekalipun ungkapan itu muncul
hanya di sini dalam Markus. Sejauh ini kita telah diberitahu tentang peristiwa-peristiwa yang
terjadi pada pagi hari, sekarang kita dibawa ke sore / malam, dan karena itu digunakan kata-
kata setelah hal-hal ini) - hal 760.

Lalu tentang ay 20, Lenski berkata: When attention is drawn to the fact that several words
appear here that are not otherwise found in Mark, in fact, not even in the other Gospels
(SUNERGEIN, BEBAIOUN, EPAKOLOUTHEIN, and PANTAKHOU only once in Luke), this
cannot be advanced as proof against the authorship of Mark. All the words are simple, the very
ones that are proper for the thought, and no law exists that in a small book like Marks every word
has to be used at least twice in order to be used at all. Many hapax-legomena occur throughout the
New Testament, and all that is done is to note this interesting fact; the passages in which they
occur are not considered to be of doubtful authorship. Let us treat Mark in the same fair way [=
Pada waktu perhatian ditarik pada fakta bahwa beberapa kata yang muncul di sini tidak
ditemukan di tempat lain dalam Markus, faktanya, bahkan tidak dalam Injil-injil yang lain
(SUNERGEIN, BEBAIOUN, EPAKOLOUTHEIN, dan PANTAKHOU hanya satu kali dalam
Lukas), ini tidak bisa diajukan sebagai bukti untuk menentang kepengarangan Markus. Semua
kata-kata itu adalah kata-kata yang sederhana, kata-kata yang benar untuk pemikirannya, dan
tak ada hukum bahwa dalam suatu kitab / buku kecil seperti Markus, setiap kata harus
digunakan sedikitnya dua kali untuk bisa digunakan. Banyak kata yang hanya muncul satu
kali di sepanjang Perjanjian Baru, dan semua yang dilakukan adalah memperhatikan fakta
yang menarik ini; text-text dalam mana mereka muncul tidak dianggap sebagai text dari
kepengarangan yang meragukan. Marilah kita memperlakukan Markus dalam cara yang sama
adilnya] - hal 774-775.

Tanggapan saya: Lenski menyimpang dari serangan. Yang dipersoalkan bukanlah apakah
kata-kata itu salah atau tidak, atau apakah kata-kata itu cocok atau tidak dengan
kalimatnya, tetapi apakah itu kata-kata yang biasa dipakai Markus, atau merupakan kata-
kata non-Markus. Bahwa setiap orang, baik dalam menulis maupun berbicara, mempunyai
kebiasaan menggunakan perbendaharaan kata tertentu, menurut saya merupakan suatu
fakta yang tidak bisa dibantah! Karena itu, perbendaharaan kata yang berbeda, sekalipun
digunakan secara benar, tetap merupakan argumentasi tentang adanya penulis yang
berbeda yang menambahkan Mark 16:9-20. Memang kalau hanya satu atau dua kata-kata
baru, itu masuk akal. Tetapi kata baru yang digunakan dalam Mark 16:9-20 banyak sekali!
Dari semua argumentasi Lenski yang bisa saya dapatkan, terlihat bahwa ia tidak
menjelaskan semua kata-kata berbeda yang ada, tetapi hanya menjelaskan sedikit, dengan
disertai komentar secara umum, bahwa tidak ada larangan bagi seorang penulis untuk
menggunakan kata yang belum pernah ia pakai selama kata itu digunakan secara benar.
Memang ini ada benarnya, seandainya tidak ada perbedaan manuscript, dan juga tidak ada
semua argumentasi lain dari pihak yang menolak Mark 16:9-20. Tetapi gabungan dari
semua argumentasi dari pihak yang menolak Mark 16:9-20, ditambah dengan perbedaan
perbendaharaan kata, menurut saya membuat perbedaan perbendaharaan kata merupakan
suatu argumentasi yang harus diperhitungkan.
Karena itu, kalau Lenski mendesak untuk memperlakukan Mark 16:9-20 dengan sama
adilnya dengan kata-kata yang muncul hanya satu kali dalam Alkitab, itu justru tidak adil.
Biarpun muncul kata-kata yang hanya muncul satu kali dalam Alkitab, tetapi kalau tak ada
problem text (perbedaan manuscript) dan sebagainya, maka itu tentu sangat berbeda, dan
justru tidak boleh diperlakukan secara sama dengan Mark 16:9-20 ini!

10. Cara Markus memulai Injilnya sama dengan caranya mengakhirinya (kalau Mark 16:9-20
diterima sebagai bagian asli dari Injil Markus).
Pulpit Commentary: On the other hand, having regard to the mode in which St. Mark opens his
Gospel, we might suppose that he would condense at the close as he condenses at the beginning.
The first year of our Lords ministry is disposed of very briefly; we might, therefore, expect a rapid
and compendious conclusion. Two or three important evidences of our Lords resurrection are
concisely stated; then, without any break, but where the reader must supply an interval, he is
transported into Galilee. St. Mark had already recorded the words of Christ (Mark 14:28), But
after that I am risen, I will go before you into Galilee. How natural, therefore, that he should refer
in some way to our Lords presence in Galilee after his resurrection; which he does in the most
effective manner by quoting the words which St. Matthew (Matt 27:16, etc.) tells us were spoken by
him in Galilee. Then another stride from Galilee to Bethany, to the last earthly scene of all - the
Ascension. The whole is eminently characteristic of St. Mark. His Gospel ends, as we might expect
it to end, from the character of its beginning. On the whole, the evidence as to the genuineness and
authenticity of this passage seems irresistible [= Di sisi yang lain, setelah memperhatikan cara
dengan mana Santo Markus membuka / memulai Injilnya, kita bisa menduga bahwa ia akan
memadatkan penutupnya seperti ia memadatkan pembukaannya. Tahun pertama dari
pelayanan Tuhan kita diberikan dengan sangat singkat; dan karena itu, kita bisa
mengharapkan suatu penutup yang cepat dan ringkas (tetapi lengkap). Dua atau tiga bukti
yang penting tentang kebangkitan Tuhan kita dinyatakan dengan ringkas; lalu, tanpa
pemutusan apapun, tetapi dimana pembaca harus menyuplai suatu jangka waktu, Ia
dipindahkan ke Galilea. Santo Markus telah mencatat kata-kata Kristus (Mark 14:28), Akan
tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea. Karena itu, alangkah
wajarnya bahwa ia menunjukkan dengan suatu cara tertentu kehadiran Tuhan di Galilea
setelah kebangkitanNya; yang ia lakukan dengan cara yang paling efektif dengan mengutip
kata-kata yang menurut Santo Matius (Mat 27:16 dst) diucapkan olehNya di Galilea. Lalu satu
langkah yang lain dari Galilea ke Betania, ke suasana / adegan duniawi yang terakhir dari
semua - KenaikanNya ke surga. Seluruhnya dengan jelas adalah karakteristik / ciri dari Santo
Markus. Injilnya berakhir, seperti kita harapkan Injil itu berakhir, dari karakter dari
permulaan Injil itu. Secara keseluruhan, bukti berkenaan dengan keaslian dan keotentikan
dari text ini kelihatannya tidak bisa ditolak] - Introduction, hal ix.
Catatan: Mat 27:16 itu pasti salah; seharusnya adalah Mat 28:16.

Saya menganggap ini sebagai suatu argumentasi yang dibuat-buat, dan sama sekali tidak
kuat. Disamping, seperti sudah saya katakan, belum tentu Mark 16:15-16 paralel dengan
Mat 28:19-20.

11. Lebih masuk akal untuk menganggap bahwa manuscript-manuscript yang tidak mempunyai
Mark 16:9-20, kehilangan bagian itu, dari pada untuk menganggap bahwa manuscript-
manuscript yang mempunyai Mark 16:9-20, telah menambahinya, dalam bentuk yang pada
pokoknya sama.

Richard Glover: It is much more easy to understand how, by mutilation or wear, a bit at the end
should be lost from the one or two manuscripts from which the two copies were made which are
without it, than to understand how it could have got in, in substantially the same form, into those
which contain it (= Adalah jauh lebih mudah untuk mengerti bagaimana, oleh kerusakan atau
pemakaian, sedikit pada bagian akhir hilang dari satu atau dua manuscript dari mana kedua
copy / salinan yang tidak mempunyainya itu dibuat, dari pada untuk mengerti bagaimana
bagian itu bisa masuk, dalam bentuk yang pada pokoknya sama, ke dalam manuscript-
manuscript yang mempunyainya) - A Teachers Commentary on the Gospel of St. Mark, hal
316.

Tanggapan saya: Glover memberikan 2 kemungkinan, yang keduanya didasarkan pada


asumsi bahwa Mark 16:9-20 adalah asli. Seharusnya ada kemungkinan ke 3 dimana
akhiran yang asli sama sekali hilang. Tetapi ini sama sekali tidak ia perhitungkan. Dan dari
kemungkinan yang ia pilih itupun, bagaimana ia menjelaskan munculnya akhiran yang lebih
pendek (ay 8b)?? Juga bagaimana bisa ada manuscript yang mempunyai kedua akhiran itu
(ay 8b dan ay 9-20)? Juga bagaimana mungkin manuscript-manuscript yang mempunyai
kedua akhiran itu, ada yang mendahulukan ay 8b dari ay 9-20, tetapi ada yang sebaliknya?
[lihat catatan kaki dari NASB: In a few later mss and versions contain this paragraph, usually
after verse 8; a few have it at the end of chapter [= Dalam sedikit manuscript-manuscript dan
versi-versi belakangan berisi paragraf ini (maksudnya ay 8b), biasanya setelah ayat 8; sedikit
manuscript mempunyainya pada akhir dari pasal].

Lenski: Which is easier to conceive: a) that Mark left his Gospel unfinished and allowed it to be
published in its unfinished form so that others later on invented an ending for it; or b) that Mark
did finish his Gospel by writing v. 9-20, but that many copies later on omitted these verses? ... as
between the answer that Mark stopped writing at v. 8 and the other that he wrote on to v. 20, it is
beyond question the latter that seems most conceivable (= Mana yang lebih mudah untuk
dipahami / dibayangkan: a) bahwa Markus meninggalkan Injilnya tanpa diselesaikan dan
mengijinkannya untuk dipublikasikan / diterbitkan dalam bentuknya yang belum diselesaikan
sehingga belakangan orang-orang lain menciptakan suatu akhiran baginya; atau b) bahwa
Markus memang menyelesaikan Injilnya dengan menulis ay 9-20, tetapi bahwa banyak salinan
belakangan membuang ayat-ayat ini? ... kalau antara jawaban bahwa Markus berhenti menulis
pada ay 8 dan yang lain bahwa ia menulis sampai ay 20, tak diragukan bahwa yang belakangan
adalah yang kelihatannya paling bisa dibayangkan / dipercaya) - hal 752,755.

Lenski kelihatannya kurang ahli dalam menganalisa kemungkinan. Ada dua hal yang perlu
disoroti:
a. Kalau harus memilih dari dua kemungkinan yang ia berikan, saya sendiri tetap memilih
pilihan dimana Markus tidak menyelesaikan Injilnya (dengan alasan yang tidak kita
ketahui), dan lalu orang-orang yang berbeda-beda memberikan akhiran yang berbeda-
beda juga, dan ada yang tidak mau memberi akhiran apa-apa. Kalau kita memilih pilihan
yang merupakan pilihan dari Lenski sendiri, lalu bagaimana bisa dijelaskan adanya
penyalin-penyalin yang membuang begitu saja akhiran asli itu? Juga bagaimana
mungkin ada penyalin yang mengganti akhiran asli itu dengan akhiran yang lebih
pendek (ay 8b)? Ini merupakan pilihan yang menurut saya jauh lebih tak terbayangkan!
b. Mengapa Lenski tidak memberikan kemungkinan ketiga, yaitu bahwa Markus memang
menuliskan akhiran yang asli, tetapi lalu hilang / sobek, dan penyalin-penyalin ada yang
mengosonginya, ada yang menambahkan akhiran yang lebih pendek (Mark 16:8b), dan
ada yang menambahkan akhiran yang lebih panjang (Mark 16:9-20)? Lenski sebetulnya
memikirkan kemungkinan ini, tetapi ia dengan cepat (terlalu cepat) membuangnya
dengan mengatakan bahwa kalau akhiran yang orisinil hilang, Markus bisa
menuliskannya lagi (hal 754). Apakah ia tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa
hilangnya akhiran yang orisinil itu terjadi setelah Markus mati?

Saya menganggap bahwa dalam point ini, kata-kata dari Bible Knowledge Commentary dan
Alan Cole (Tyndale) jauh lebih masuk akal (lihat point ke 9. dari argumentasi yang menolak
Mark 16:9-20).

12. Mark 16:9-20 dibacakan dalam ibadah gereja abad ke 4 atau lebih awal lagi.
Pulpit Commentary: It has been clearly shown by Dean Burgon that the verses were read in the
public services of the Church in the fourth century, and probably much earlier, as shown by the
ancient Evangelisteria (= Telah ditunjukkan dengan jelas oleh Dekan Burgon bahwa ayat-ayat
ini dibacakan dalam kebaktian umum dari Gereja pada abad keempat, dan mungkin jauh lebih
awal, seperti ditunjukkan oleh Evangelisteria kuno) - Introduction, hal viii.

Tanggapan saya: Di atas sudah kita lihat bahwa memang sangat memungkinkan adanya
manuscript-manuscript yang sangat awal yang mempunyai Mark 16:9-20, dan karena itu
tidak aneh, kalau orang-orang pada saat itu mengira Mark 16:9-20 sebagai Alkitab dan lalu
menggunakannya dalam ibadah / kebaktian.

Kesimpulan: dari adu argumentasi di atas, saya melihat bahwa argumentasi-argumentasi no


3,4,5,6,8,9,10 dari pihak yang menolak Mark 16:9-20, atau tidak dijawab, atau dijawab secara tak
memuaskan oleh pihak yang menerima Mark 16:9-20. Dan sebaliknya, boleh dikatakan tidak ada
argumentasi dari pihak yang menerima Mark 16:9-20, yang tidak bisa dijawab oleh pihak yang
menolak Mark 16:9-20. Karena itu, saya sendiri lebih condong untuk menolak Mark 16:9-20 sebagai
tulisan asli dari Markus.

Donald Guthrie: The following deductions may be made from this evidence: (1) the longer
ending must have been attached to the Gospel at a very early period in its history; (2) the shorter
ending is not well attested and must have been added in an attempt to fill a gap, a testimony to the
circulation of Gospels ending at 16:8; (3) indeed, the most satisfactory explanation of all the
textual evidence is that the original ended at 16:8 and that the three ending were different
editorial attempts to deal with verse 8. If these deductions are correct the mass of MSS containing
the longer ending must have been due to the acceptance of this ending as the most preferable [=
Pengambilan kesimpulan yang berikut ini bisa dibuat dari bukti ini: (1) akhiran yang lebih
panjang pasti telah diberikan pada Injil ini pada masa yang sangat awal dari sejarahnya; (2)
akhiran yang lebih pendek tidak terbukti dengan baik dan pasti telah ditambahkan dalam
suatu usaha untuk mengisi kekosongan, suatu kesaksian pada peredaran dari Injil-injil yang
berhenti pada 16:8; (3) tentu saja, penjelasan yang paling memuaskan dari semua bukti text
adalah bahwa injil orisinilnya berakhir pada 16:8 dan bahwa ketiga akhiran adalah usaha-
usaha mengedit yang berbeda untuk menangani ay 8. Jika kesimpulan ini benar, manuscript-
manuscript yang banyak sekali yang mempunyai akhiran yang lebih panjang pasti telah
disebabkan karena penerimaan dari akhiran ini sebagai yang paling dipilih] - New
Testament Introduction, hal 76-77.
Catatan: yang ia maksudkan dengan akhiran yang ketiga ialah akhiran yang lebih panjang,
yang mempunyai penambahan pada ay 14nya.
Kalau Mark 16:9-20 memang tidak asli / tidak ditulis oleh Markus, lalu apa yang sebenarnya terjadi
yang menyebabkan Mark 16:9-20 ini bisa ada di sana? Apakah Markus memang berhenti hanya
sampai Mark 16:8a? Atau akhiran yang asli sebetulnya ada, tetapi lalu hilang? Dan lalu ada penyalin
yang menambahkan Mark 16:8b, dan ada yang menambahkan Mark 16:9-20, dan ada yang
menambahkan gabungan dari keduanya? Lalu bagaimana sikap kita yang seharusnya tentang Mark
16:9-20?

I) Ada beberapa pandangan mengapa Injil Markus ini berhenti pada Mark 16:8a.
Bible Knowledge Commentary: Four possible solutions for this have been suggested: (1) Mark finished
his Gospel but the original ending was lost or destroyed in some way now unknown before it was copied.
(2) Mark finished his Gospel but the original ending was deliberately suppressed or removed for some
reason now unknown. (3) Mark was unable to finish his Gospel for some reason now unknown - possibly
sudden death. (4) Mark purposely intended to end his Gospel at verse 8 [= Empat solusi yang
memungkinkan untuk ini telah diusulkan: (1) Markus menyelesaikan Injilnya tetapi akhiran yang asli
hilang atau dihancurkan dengan suatu cara yang sekarang tak diketahui sebelum bagian itu disalin. (2)
Markus menyelesaikan Injilnya tetapi akhiran yang asli dengan sengaja dihilangkan atau disingkirkan
karena suatu alasan yang sekarang tidak diketahui. (3) Markus tidak bisa menyelesaikan Injilnya
karena alasan yang sekarang tak diketahui - mungkin kematian yang mendadak. (4) Markus dengan
sengaja bermaksud untuk mengakhiri Injilnya pada ayat 8].

UBS New Testament Handbook Series: By most scholars it is held that the Gospel is not complete, and
various solutions to the problem are proposed: the ending was never written; the ending was lost; the
ending, for some reason, was suppressed. The position which raises the least formidable counter
arguments is that, for some reason or other, the Gospel was never completed. Some, however, hold that the
author did in fact purposely end his Gospel with v. 8 (= Kebanyakan sarjana berpandangan bahwa Injil
ini tidak lengkap, dan bermacam-macam solusi terhadap problem ini diusulkan: akhiran itu tidak
pernah dituliskan; akhiran itu hilang; akhiran itu, karena alasan tertentu, dibuang. Posisi yang
menimbulkan argumentasi kontra yang paling lemah adalah bahwa, karena satu dan lain hal, Injil ini
tidak pernah diselesaikan. Tetapi, beberapa orang berpandangan bahwa sang pengarang dalam
faktanya memang sengaja untuk mengakhiri Injilnya dengan ay 8).

1) Markus memang hanya menulis sampai di sana (Mark 16:8a).


Ini memungkinkan beberapa kemungkinan lagi:

a) Ia memang bermaksud untuk berhenti pada Mark 16:8a.

Bible Knowledge Commentary: Several interpreters believe that Mark concluded his Gospel at
this point. The abrupt ending is consistent with Marks style and punctuates his development of the
themes of fear and astonishment throughout his Gospel. The reader is left to ponder with awe the
meaning of the empty tomb as interpreted by the angels revelatory message [= Beberapa penafsir
percaya bahwa Markus menutup Injilnya di titik ini. Akhiran yang mendadak sesuai dengan
gaya Markus dan menekankan perkembangan thema-themanya tentang rasa takut dan
keheranan dalam sepanjang Injilnya. Pembaca ditinggalkan untuk merenungkan dengan
perasaan kagum / terpesona arti dari kubur yang kosong sebagaimana ditafsirkan oleh berita
yang bersifat wahyu dari malaikat].

Keberatan:

Tak masuk akal kalau Markus betul-betul bermaksud untuk berhenti di tengah jalan seperti
itu. Juga tak masuk akal bahwa suatu Injil / kabar baik diakhiri dengan cerita tentang
perempuan-perempuan yang ketakutan.

Pulpit Commentary: If it is assumed that St. Marks Gospel ended at the close of ver. 8, the
abruptness of the conclusion is very stalking in the English, and still more so in the Greek
(e)fobou=nto ga/r). It seems scarcely possible to suppose that it could have ended here [=
Jika dianggap bahwa Injil dari Santo Markus berhenti pada akhir ay 8, ke-mendadak-an dari
penutup itu sangat kaku dalam bahasa Inggris, dan lebih-lebih lagi dalam bahasa Yunani
(e)fobou=nto ga/r). Kelihatannya tidak mungkin untuk menganggap bahwa Injil itu bisa
berhenti di sini] - Introduction, hal ix.
Catatan: kata-kata bahasa Yunani itu berbunyi: EPHOBOUNTO GAR [= for they were afraid
(= karena mereka takut)].

Donald Guthrie: The question next arises whether the present form of 16:8 (e]fobounto
gar) could conceivably have been Marks intended ending. Many scholars have answered in the
affirmative on the basis of biblical and extra-biblical parallels and yet there is no other example of
a book ending like this. It would be moreover be strange to find a Gospel, a book of good news,
ending on a note of fear. To meet this objection some have understood e]fobounto as
reverential awe rather than fearful apprehension [= Muncul pertanyaan selanjutnya apakah
bentuk present dari 16:8 (e]fobounto gar) bisa secara masuk akal merupakan akhiran
yang dimaksudkan oleh Markus. Banyak sarjana menjawab ya berdasarkan bagian-bagian
yang paralel dalam Alkitab maupun di luar Alkitab, tetapi tidak ada contoh lain dari suatu
kitab yang berakhir seperti ini. Lebih lagi, merupakan sesuatu yang aneh untuk mendapati
suatu Injil, suatu kitab kabar baik, berakhir dengan suatu catatan tentang rasa takut. Untuk
menghadapi keberatan ini beberapa orang lebih mengartikan e]fobounto sebagai perasaan
kagum yang bersifat menghormat dari pada ketakutan] - New Testament Introduction, hal
77-78.

Donald Guthrie: On the whole it seems improbable that Marks resurrection account would have
lacked any personal appearance of the risen Lord (in verses 1-8 only the fact of His resurrection is
mentioned) The author of verses 9-20 clearly recognized this [= Secara keseluruhan
kelihatannya tidak mungkin bahwa cerita kebangkitan Markus tidak mempunyai pemunculan
pribadi dari Tuhan yang bangkit (dalam ay 1-8 hanya fakta dari kebangkitan yang disebutkan).
Pengarang dari ay 9-20 dengan jelas mengerti hal ini] - New Testament Introduction, hal 78.

b) Ia memang ingin berhenti pada Mark 16:8a, dan akan melanjutkannya dalam buku yang
lain.

Donald Guthrie: It has further been suggested that something happened to Mark at this point, so
that he never completed the task, a suggestion which is not impossible, but which in the nature of
the case cannot be confirmed. Yet another idea is that Mark intended a continuation volume
similar to Acts (see p. 371) and would not therefore have regarded 16:8 as the virtual end of his
story [= Selanjutnya diusulkan bahwa sesuatu terjadi terhadap Markus pada titik ini, sehingga
ia tidak pernah menyelesaikan tugas itu, suatu usul yang bukannya tidak mungkin, tetapi yang
dalam kasus seperti ini tidak bisa dikonfirmasikan. Tetapi gagasan yang lain adalah bahwa
Markus memaksudkan suatu kitab lanjutan mirip dengan Kisah Para Rasul (lihat hal 371) dan
karena itu tidak menganggap 16:8 sebagai akhir yang sesungguhnya dari ceritanya] - New
Testament Introduction, hal 78.
Catatan: Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas, boleh dikatakan sebagai lanjutan dari
kitab Injil Lukas.

Saya beranggapan bahwa pandangan ini sama sekali tak berdasar, dan terlalu dibuat-buat.

c) Ia sebetulnya ingin menyelesaikan Injilnya, tetapi terhalang oleh sesuatu, mungkin


kematiannya.

W. B. Godbey: As it is believed that Peter dictated this Gospel to Mark, his faithful amanuensis
and gospel helper, while in Rome, about A.D. 63, some suppose his martyrdom stopped the work,
and consequently some one took it on himself to finish it out somewhat after the order of
Matthews, which had been written A.D. 48 (= Sebagaimana dipercaya bahwa Petrus
mendiktekan Injil ini kepada Markus, penulisnya dan penolong injilnya yang setia, pada waktu
di Roma, sekitar tahun 63 M., beberapa orang menduga kematian syahidnya menghentikan
pekerjaannya, dan karena itu seseorang menyelesaikannya menurut urut-urutan dari Injil
Matius, yang telah ditulis pada tahun 48 M.) - hal 287 (AGES, vol 15).
Catatan: Matius ditulis tahun 48 M.? Saya tak pernah tahu ada orang berpandangan bahwa
Matius ditulis sedini itu, lebih dahulu dari Injil Markus.

Keberatan: Lenski mengatakan bahwa Markus masih hidup dan melayani bertahun-tahun
setelah ia menuliskan Injilnya.

Lenski: Among the arguments and hypotheses is that of Marks sudden death which compelled
him to stop at 16:8; his friends then felt it their duty to publish the book without additions. No;
granting the death, all books of such a nature are published with a note concerning the authors
death in explanation of the unfinished product which he left behind. In ordinary cases, especially
if the part lacking be small, a competent friend adds what is still necessary in the spirit and the
form of the author. But as regards Mark, tradition reports that he lived for some years after writing
his Gospel in Rome, that he labored in Egypt and was the first to found churches in Alexandria,
Eusebius, 2, 16; Zahn, Introduction, II, 431 and 448 (= Di antara argumentasi-argumentasi dan
dugaan-dugaan adalah bahwa kematian mendadak dari Markuslah yang memaksanya untuk
berhenti pada 16:8; lalu sahabat-sahabatnya merasakan sebagai kewajiban mereka untuk
menerbitkan kitab itu tanpa penambahan-penambahan. Tidak; kalaupun kita mau menerima
tentang kematiannya, semua kitab seperti itu diterbitkan dengan suatu catatan berkenaan
dengan kematian sang pengarang sebagai penjelasan tentang hasil yang belum selesai yang ia
tinggalkan. Dalam kasus-kasus biasa, khususnya jika bagian yang kurang itu kecil / sedikit,
seorang sahabat yang mempunyai kemampuan menambahkan apa yang masih perlu dalam roh
dan bentuk dari si pengarang. Tetapi berkenaan dengan Markus, tradisi melaporkan bahwa ia
hidup untuk bertahun-tahun setelah menuliskan Injilnya di Roma, bahwa ia berjerih payah di
Mesir dan merupakan yang pertama-tama mendirikan gereja-gereja di Alexandria, Eusebius,
2, 16; Zahn, Pendahuluan, II, 431 dan 448) - hal 753-754.

2) Markus sebetulnya menuliskan akhiran yang asli, tetapi akhiran yang asli ini lalu hilang.

F. F. Bruce: As appears from the textual evidence, the original ending of this Gospel may have been
lost at a very early date, and the narrative breaks off short at 16:8. (The verses which follow in our
Bibles are a later appendix.) [= Sebagaimana kelihatan dari bukti textual, akhiran yang asli dari
Injil ini bisa telah hilang pada masa yang sangat awal, dan cerita itu putus pada 16:8. (Ayat-ayat
yang mengikutinya dalam Alkitab-Alkitab kita adalah tambahan belakangan)] - The New
Testament Documents: Are They Reliable?, hal 65.

William Barclay: More likely, it may be that at one time only one copy of the gospel remained, and
that a copy in which the last part of the roll on which it was written had got torn off. There was a time
when the church did not much use Mark, preferring Matthew and Luke. It may well be that Marks
gospel was so neglected that all copies except for a mutilated one were lost. If that is so we were within
an ace of losing the gospel which in many ways is the most important of all (= Lebih memungkinkan,
pada suatu saat hanya satu salinan dari injil itu yang tersisa, dan itu adalah suatu salinan dalam
mana bagian terakhir dari gulungan pada mana injil itu dituliskan sobek. Ada suatu masa dimana
gereja tidak banyak menggunakan Markus, karena lebih memilih Matius dan Lukas. Bisa saja
terjadi bahwa injil Markus begitu diabaikan sehingga semua salinan, kecuali yang terpotong itu,
hilang. Jika demikian maka kita hampir kehilangan injil yang dalam banyak hal adalah yang
terpenting dari semua) - hal 5.
Catatan: saya tidak pernah tahu ada penafsir lain yang mengatakan bahwa ada saat dimana
Injil Markus diabaikan, dan saya juga tidak bisa mengerti mengapa Barclay mengatakan bahwa
dalam banyak hal Injil Markus adalah Injil yang terpenting dari semua. Perkataan orang Liberal
ini tidak bisa diterima begitu saja.

Donald Guthrie: But if 16:8 is not likely to have been the intentional ending, could it have been
accidental? It is possible to conjecture that the scroll was damaged, but if so it must have happened to
the original copy, or else to a very early copy. There is no means of ascertaining the correctness or
otherwise of this conjecture (= Tetapi jika 16:8 rasanya tidak mungkin merupakan akhiran yang
dimaksudkan, bisakah itu merupakan sesuatu yang tidak disengaja? Merupakan sesuatu yang
memungkinkan untuk menduga bahwa gulungan itu rusak, tetapi jika demikian itu harus telah
terjadi pada salinan orisinil, atau salinan yang sangat awal. Tidak ada jalan untuk memastikan
benar tidaknya dugaan ini) - New Testament Introduction, hal 77-78.

Wycliffe Bible Commentary: Perhaps the most acceptable explanation is that the end of the original
Gospel may have been torn off and lost before additional copies could be made. Perhaps others
attempted to supply a substitute ending, the most successful of which was that which now appears in
16:9-20 (= Mungkin penjelasan yang paling bisa diterima adalah bahwa akhiran dari Injil yang
asli telah sobek dan hilang sebelum salinan-salinan tambahan bisa dibuat. Mungkin orang-orang
lain berusaha untuk menyuplai suatu akhiran pengganti, dan akhiran pengganti yang paling sukses
adalah apa yang sekarang muncul dalam 16:9-20).

A. T. Robertson: It is difficult to believe that Mark ended his Gospel with Mark 16:8 unless he was
interrupted. A leaf or column may have been torn off at the end of the papyrus roll. The loss of the
ending was treated in various ways. Some documents left it alone. Some added one ending, some
another, some added both (= Sukar untuk percaya bahwa Markus mengakhiri Injilnya dengan
Mark 16:8 kecuali ia diinterupsi. Suatu lembaran atau kolom mungkin telah sobek pada akhir dari
gulungan papirus. Hilangnya akhiran itu ditangani dengan bermacam-macam cara. Beberapa
dokumen membiarkannya begitu saja. Beberapa menambahkan satu akhiran, beberapa lagi
menambahkan akhiran yang lain, dan beberapa lagi menambahkan keduanya).

Bagaimana akhiran asli itu bisa hilang / sobek / rusak?

Bible Knowledge Commentary: Of these options, numbers 1 and 2 are unlikely even though the
view that the original ending was accidentally lost is widely accepted. If Marks Gospel was a scroll
manuscript rather than a codex (leaf form of book) the ending would normally be on the inside of the
scroll and less likely to be damaged or lost than the beginning of the scroll [= Dari pilihan-pilihan
ini, nomor 1 dan 2 sangat kecil kemungkinannya sekalipun pandangan bahwa akhiran yang asli
hilang dengan tidak disengaja diterima secara luas. Jika Injil Markus merupakan manuscript
berbentuk gulungan, dan bukannya codex (lembaran berbentuk buku) maka akhirannya secara
normal ada di bagian dalam dari gulungan itu, dan lebih kecil kemungkinannya untuk rusak atau
hilang dari pada permulaan / awal dari gulungan].

J. Harold Greenlee: The Codex. Although the scroll was the accepted form for a book in the first
Christian century, there are no known surviving ancient manuscripts of the New Testament in scroll
form. ... when a form of book different from the scroll came into use, Christians were quick to see its
advantages and began using this new form for their scriptures when new copies were made. ...
Christians began to copy their scriptures in codex manuscripts at an early date, although we cannot be
sure exactly when. ... scholars speculate that a problem involving the last twelve verses of Mark that we
will investigate in a later chapter could have resulted from the loss of some text from the autograph or
a very early copy. It would have been much easier to lose the final page or quire from a codex than to
lose the last portion of a scroll, since the last portion of a scroll would normally be at the inside of the
roll. ... even the oldest manuscripts of the New Testament known today do not take us back to a time
when it was copied on scrolls. The oldest New Testament manuscript now known, as we mentioned
earlier, is a small papyrus fragment in the Ryland Library of Manchester, England, containing about
four verses of Johns Gospel. It is clearly part of a codex, not a scroll, since the text is written on both
sides of the papyrus (= Codex. Sekalipun gulungan merupakan bentuk yang diterima untuk sebuah
kitab pada abad pertama Kristen, tidak diketahui adanya manuscript kuno yang masih tertinggal
dari Perjanjian Baru dalam bentuk gulungan. ... pada waktu suatu bentuk buku yang berbeda
dengan gulungan mulai digunakan, orang-orang Kristen dengan cepat melihat keuntungan /
manfaatnya dan mulai menggunakan bentuk baru ini untuk Kitab Suci mereka pada waktu
salinan-salinan yang baru dibuat. ... Orang-orang Kristen mulai menyalin Kitab Suci mereka
dalam manuscript codex pada waktu yang sangat awal, sekalipun kita tidak bisa memastikan
saatnya dengan persis. ... sarjana-sarjana berspekulasi bahwa suatu problem yang melibatkan 12
ayat terakhir dari Markus yang akan kita selidiki dalam pasal / bab belakangan bisa telah terjadi
dari hilangnya sebagian text dari autograph atau salinan yang sangat awal. Adalah jauh lebih
mudah kehilangan halaman terakhir dari sebuah codex dari pada kehilangan bagian terakhir dari
sebuah gulungan, karena bagian terakhir dari sebuah gulungan secara normal ada di bagian dalam
dari gulungan itu. ... bahkan manuscript-manuscript tertua dari Perjanjian Baru yang dikenal
jaman ini tidak membawa kita kembali pada masa dimana manuscript itu disalin pada gulungan.
Manuscript Perjanjian Baru tertua yang sekarang dikenal, seperti kami sebutkan di depan, adalah
sebuah potongan papirus di Perpustakaan Ryland, Manchester, Inggris, yang berisikan sekitar 4
ayat dari Injil Yohanes. Itu jelas merupakan bagian dari sebuah codex, bukan sebuah gulungan,
karena textnya ditulis pada kedua sisi dari papirus itu) - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 14,15.

J. Harold Greenlee: How might the final part of the Gospel have been lost? Early in this book we
noted that the original manuscripts - the autographs - of the Gospels were written on papyrus, likely in
scroll form. When someone finished reading a scroll, the outer part of the scroll would be the end of
the book if the reader did not bother to reroll it. It is possible that the autograph of Mark, or a very
early copy, could have been left without being rerolled, in which case the last one or two spirals of the
scrolls could have been accidentally torn off (= Bagaimana bagian terakhir dari Injil ini bisa telah
hilang? Di awal buku ini kami menyebutkan / menuliskan bahwa manuscript asli / orisinil -
autograph - dari Injil-injil ditulis pada papirus, mungkin dalam bentuk gulungan. Pada waktu
seseorang selesai membaca sebuah gulungan, bagian luar dari gulungan itu adalah bagian akhir
dari kitab itu jika si pembaca tidak mau bersusah-susah untuk menggulung kembali gulungan itu.
Adalah mungkin bahwa autograph dari Markus, atau suatu salinan yang sangat awal, dibiarkan
tanpa digulung kembali, dalam kasus mana satu atau dua spiral dari gulungan itu secara tak
sengaja telah sobek) - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 91-92.

J. Harold Greenlee: When a reader or writer had completed a scroll, he would reroll it by holding it
under his chin and rolling it with both hands. It was considered to be a mark of laziness if a reader
failed to reroll his book when he had finished with it (= Pada waktu seorang pembaca atau penulis
telah menyelesaikan sebuah gulungan, ia akan menggulung kembali gulungan itu dengan
memegangnya di bawah dagunya dan menggulungnya dengan kedua tangannya. Dianggap sebagai
suatu tanda kemalasan jika seorang pembaca gagal untuk menggulung kembali kitabnya pada
waktu ia telah selesai dengannya) - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 13.

J. Harold Greenlee: On the other hand, we also noted that at a very early date manuscripts of the
New Testament were also produced in codex form, like our present books; it is possible that even the
original or at least one of the earliest copies was produced in this form. If this were the case, it would
have been even easier for the final quire or the final one or two sheets to have been torn off
accidentally, leaving the Gospel with the abrupt ending at 16:8 (= Pada sisi lain, kami juga sudah
menyebutkan / menulis bahwa pada masa yang sangat awal manuscript dari Perjanjian Baru juga
sudah diproduksi dalam bentuk codex, seperti buku-buku kita sekarang; adalah mungkin bahwa
bahkan salinan orisinil / asli atau setidaknya satu dari salinan-salinan paling awal diproduksi
dalam bentuk ini. Jika ini adalah kasusnya, bahkan adalah lebih mudah bagi halaman terakhir
atau satu atau dua halaman terakhir telah sobek dengan tidak sengaja, meninggalkan Injil ini
dengan akhiran mendadak pada 16:8) - Scribes, Scrolls, & Scripture, hal 91-92.

Problem dengan pandangan ini: Firman Tuhan kok bisa hilang? Mengapa Tuhan biarkan itu
terjadi?
Wiersbes Expository Outlines (New Testament): others think they were added by another author
as a summary because the original text was lost. (It is difficult to believe that a part of inspired
Scripture could be lost.) [= orang-orang lain menganggap bahwa mereka ditambahkan oleh
pengarang yang lain sebagai suaru ringkasan karena text orisinilnya hilang. (Adalah sukar untuk
percaya bahwa suatu bagian dari Kitab Suci yang diilhamkan bisa hilang)].

Harus diakui bahwa kalau akhiran yang asli itu hilang, ini aneh, karena bagaimana Tuhan
membiarkan FirmanNya hilang? Tetapi dalam seluruh Kitab Suci ada banyak bagian yang
salah, dan kalau salah, berarti pasti ada suatu perubahan (baik terjadinya disengaja atau tidak),
dan ini sama saja dengan menganggap bahwa bagian yang asli itu hilang. Kalau keanehan ini
tetap kita terima, mengapa kita tidak mau menerimanya berkenaan dengan akhiran asli dari
Markus?

Saya sendiri sangat condong pada pandangan ini.

II) Sikap kita terhadap Mark 16:9-20.


Setelah akhiran asli itu hilang, lalu muncul penambahan-penambahan. Lalu bagaimana sikap kita
yang seharusnya terhadap penambahan-penambahan itu? Untuk Mark 16:8b semua penafsir
menganggap ini betul-betul palsu. Tetapi tentang Mark 16:9-20, ada beberapa pandangan:

1) Siapapun yang menuliskan Mark 16:9-20, ia juga diilhami oleh Roh Kudus, sehingga Mark 16:9-
20 ini tetap harus dianggap sebagai Alkitab / Firman Tuhan.

Jewish New Testament Commentary: some scholars believe them to be scribal additions. Others
consider them apostolic in origin and inspired by God, but not written by Mark, having been added by
an editor to bring closure to the otherwise abrupt ending (= beberapa sarjana percaya bahwa ayat-
ayat itu merupakan tambahan-tambahan dari para penyalin. Yang lain menganggap ayat-ayat itu
mempunyai asal usul rasuli dan diilhamkan oleh Allah, tetapi tidak ditulis oleh Markus, tetapi
telah ditambahkan oleh seorang editor untuk memberikan penutup pada akhiran yang mendadak
itu).

Bible Knowledge Commentary: A final conclusion to the problem probably cannot be reached on
the basis of presently known data. A view which seems to account for the relevant evidence and to raise
the least number of objections is that (a) Mark purposely ended his Gospel with verse 8 and (b) verses
9-20, though written or compiled by an anonymous Christian writer, are historically authentic and are
part of the New Testament canon (cf. similarly the last chapter of Deut.). ... Possibly these verses were
brief extracts from the post-Resurrection accounts found in the other three Gospels and were known
through oral tradition to have the approval of the Apostle John who lived till near the end of the first
century. Thus the material was included early enough in the transmission process to gain recognition
and acceptance by the church as part of canonical Scripture. These verses are consistent with the rest
of Scripture [= Mungkin suatu kesimpulan akhir terhadap problem ini tidak bisa dicapai
berdasarkan data yang diketahui saat ini. Pandangan yang kelihatannya mempertanggung-
jawabkan / memperhitungkan bukti yang relevan dan menimbulkan keberatan-keberatan yang
paling sedikit adalah bahwa (a) Markus dengan sengaja mengakhiri Injilnya dengan ay 8 dan (b)
ayat 9-20, sekalipun ditulis atau disusun oleh penulis Kristen yang tidak dikenal, otentik /
berotoritas secara sejarah dan merupakan bagian dari kanon Perjanjian Baru (bandingkan dengan
cara yang sama / mirip pasal yang terakhir dari Ulangan). ... Mungkin ayat-ayat ini adalah sari
yang ringkas dari cerita setelah Kebangkitan yang ditemukan dalam ketiga Injil yang lain dan
dikenal / diketahui melalui tradisi oral untuk mendapat persetujuan dari Rasul Yohanes yang
hidup hampir sampai akhir abad pertama. Jadi, materi itu dimasukkan cukup awal dalam proses
transmisi / penyebaran untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan oleh gereja sebagai bagian
dari Kitab Suci yang bersifat kanon. Ayat-ayat ini konsisten dengan sisa Kitab Suci].
Alasan yang dipakai: Musa menulis kitab Kejadian - Ulangan, kecuali Ul 34 yang membicarakan
kematiannya. Mungkin juga bisa ditambahkan kasus akhir dari Injil Yohanes (Yoh 21:24-25)
yang sangat diperdebatkan apakah ditulis oleh Yohanes atau tidak. Tetapi kita toh menganggap
keduanya sebagai Firman Tuhan. Lalu mengapa untuk Mark 16:9-20 ini tidak? Mari kita
sekarang memperhatikan kedua text tersebut.

a) Ul 34:1-12 - (1) Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke
atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya
seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, (2) seluruh Naftali, tanah Efraim dan
Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, (3) Tanah Negeb dan lembah
Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar. (4) Dan berfirmanlah TUHAN
kepadanya: Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan
Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan
engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.
(5) Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman
TUHAN. (6) Dan dikuburkanNyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-
Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. (7) Musa berumur seratus dua
puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. (8) Orang
Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari
tangis perkabungan karena Musa itu. (9) Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan,
sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia
dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. (10) Seperti Musa yang
dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang
Israel, (11) dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di
tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, (12) dan
dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan
Musa di depan seluruh orang Israel.

Calvin: It is not certain who wrote this chapter; unless we admit the probable conjecture of the
ancients, that Joshua was its author. But since Eleazar the priest might have performed this office,
it will be better to leave a matter of no very great importance undecided (= ).

Matthew Henry: This chapter could not be written by Moses himself, but was added by Joshua or
Eleazar, or, as bishop Patrick conjectures, by Samuel, who was a prophet, and wrote by divine
authority what he found in the records of Joshua, and his successors the judges (= ).

Adam Clarke: This chapter could not have been written by Moses. A man certainly cannot give
an account of his own death and burial. We may therefore consider Moses words as ending with
the conclusion of the preceding chapter, as what follows could not possibly have been written by
himself. To suppose that he anticipated these circumstances, or that they were shown to him by a
special revelation, is departing far from propriety and necessity, and involving the subject in
absurdity; for God gives no prophetic intimations but such as are absolutely necessary to be made;
but there is no necessity here, for the Spirit which inspired the writer of the following book, would
naturally communicate the matter that concludes this. I believe, therefore, that Deut 34 should
constitute the first chapter of the book of Joshua. On this subject the following note from an
intelligent Jew cannot be unacceptable to the reader: Most commentators are of opinion that Ezra
was the author of the last chapter of Deuteronomy; some think it was Joshua, and others the
seventy elders, immediately after the death of Moses; adding, that the book of Deuterouomy
originally ended with the prophetic blessing upon the twelve tribes: Happy art thou, O Israel! who
is like unto thee, O people saved by the Lord, etc.; and that what now makes the last chapter of
Deuteronomy was formerly the first of Joshua, but was removed from thence and joined to the
former by way of supplement. This opinion will not appear unnatural if it be considered that
sections and other divisions, as well as points and pauses, were invented long since these books
were written; for in those early ages several books were connected together and followed each
other on the same roll. The beginning of one book might therefore be easily transferred to the end
of another, and in process of time be considered as its real conclusion, as in the case of
Deuteronomy, especially as this supplemental chapter contains an account of the last transactions
and death of the great author of the Pentateuch. - Alexanders Heb. and Eng. Pentateuch. This
seems to be a perfectly correct view of the subject. This chapter forms a very proper
commencement to the book of Joshua, for of this last chapter of Deuteronomy the first chapter of
Joshua is an evident continuation. If the subject be viewed in this light it will remove every
appearance of absurdity and contradiction with which, on the common mode of interpretation, it
stands sadly encumbered (= ).
Jamieson, Fausset & Brown: This chapter appears, from internal evidence, to have been written
subsequently to the death of Moses; and it probably formed at one time an introduction to the book
of Joshua, the first eight verses being probably written by him immediately after the death of
Moses, and the last four verses by Ezra. Josephus says that Moses wrote the account of his death
before his ascent to Nebo (Antiquities, b. iv., ch. viii. , sec. 48) (= ).

Barnes Notes: NOTE: The contents of Deuteronomy consist: (1) of three addresses to the people
delivered by Moses in the 11th month of the 40th year after the Exodus Deut 1-30; and (2) of
certain final acts and words of Moses, namely, the solemn appointment of his successor Deut 31,
his song Deut 32, and blessing Deut 33, which together with the account of his death Deut 34 form
an appropriate conclusion to the book and to the whole Pentateuch. Part (2) was probably added to
the rest by Joshua or some other duly-authorized prophet or leader of the people, after the death of
Moses (= ).

Keil & Delitzsch: A copy of the song of Moses was added to this written work, in all probability
immediately after it had been deposited by the side of the ark of the covenant; and, after his death,
the blessing pronounced upon the tribes before his departure was also committed to writing.
Finally, after the conquest of Canaan, possibly on the renewal of the covenant under Joshua, an
account of the death of Moses was added to these last two testimonies of the man of God, and
adopted along with them, in the form of an appendix, into his book of the law (= ).

Pulpit Commentary: We have come at last to the closing scene. It is evidently recorded by other
hands; for Dan (ver. 2) did not exist by that name till a much later period (see Judy. 18:1, 27-29).
Vers. 10-12 indicate, moreover, a period later still; very possibly, it may have been as far on as the
time of Ezra when those verses were added. And whoever will make use of the formula, - early
authorship, late editorship, as applicable to the Book of Deuteronomy, will have in his hands a key
which will enable him to unlock many of the intricacies with which unbelieving writers seek to
worry us. In all probability there was an ample supply of men in the later schools of the prophets
who would be quite equal to editorial work; and most assuredly, Ezra would not be lacking in
fitness for such service. It is altogether gratuitous and unnecessary to attempt to lower the value of
the book in the eyes of others on account of the manifest touches of a later age. The revision of an
ancient book, freeing it from archaisms, and, as we should say, posting it up to date, would
increase, not diminish its value. By whomsoever written, this closing chapter is a fitting appendix
to the words of the lawgiver himself. For homiletic use it is exceedingly suggestive (= ).

Ada 3 hal yang bisa saya lihat dari penafsir-penafsir yang memberikan komentar tentang
siapa pengarang / penulis sebenarnya dari Ul 34:
1. Mereka semua menyatakan bahwa bukan Musa yang menulis bagian itu (dengan hanya
Josephus sebagai perkecualian, tetapi dia bukan penafsir, tetapi ahli sejarah Yahudi
pada abad 1).
2. Tidak ada satupun penafsir yang meragukan bahwa Ul 34 itu adalah Alkitab / Firman
Tuhan.
3. Tidak ada satupun penafsir yang mengatakan tentang adanya problem textual
berkenaan dengan Ul 34. Jadi, tidak ada manuscript-manuscript yang tidak mempunyai
Ul 34.
Karena itu, tidaklah mengherankan kalau Ul 34 ini diterima secara mutlak sebagai
Alkitab / Firman Tuhan. Ini sangat berbeda dengan Mark 16:9-20, yang mempunyai
problem text, variasi text dan sebagainya.

b) Yoh 21:24-25 - (24) Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang
telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar. (25) Masih banyak hal-hal
lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu,
maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.

Bukan hanya Yoh 21:24-25 ini yang diperdebatkan apakah bagian itu ditulis oleh Rasul
Yohanes atau tidak, tetapi bahkan seluruh Yoh 21. Mengapa? Karena Yoh 20:30-31, yang
merupakan akhir dari Yoh 20, kelihatannya sudah merupakan suatu penutup dari Injil
Yohanes itu.

Yoh 20:30-31 - (30) Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata
murid-muridNya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, (31) tetapi semua yang tercantum di sini
telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu
oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.
Adam Clarke (tentang Yoh 20:31): GROTIUS has conjectured that the Gospel, as written by
John, ended with this chapter, and that the following chapter was added by the church of Ephesus.
This conjecture is supported by nothing in antiquity. It is possible that these two last verses might
have formerly been at the conclusion of the last chapter, as they bear a very great similarity to
those that are found there; and it is likely that their true place is between the 24th and 25th verses
of the succeeding chapter; with the latter of which they in every respect correspond, and with it
form a proper conclusion to the book. Except this correspondence, there is no authority for
changing their present position (= ).

Adam Clarke (tentang Yoh 21:24): This is the disciple. It is, I think, very likely that these two
verses were added by some of the believers at that time, as a testimony to the truth of the preceding
narration; and I allow, with Dr. Pearce and others, that it is possible that John may mean himself
when he says WE know, etc., yet, I think that it is very unlikely. It is certain that this Gospel loses
no part of its authority in admitting the suffrage of the church of God: it rather strengthens the
important truths which are delivered in it; and in the mouths of so many witnesses the sacred
matters which concern the peace and salvation of the world, are still more abundantly established.
See the last note on the preceding chapter. We know. ... It is likely that these verses were added by
those to whom John gave his work in charge (= ).

Adam Clarke (tentang Yoh 21:25): Many other things. Before his disciples, is added by two
MSS. The Scholia in several MSS. intimate that this verse is an addition; but it is found in every
ancient version, and in Origen, Cyril, and Chrysostom (= ).

Pulpit Commentary [tentang Yoh 21 (seluruh pasal)]: There are no rational external grounds
for attributing any portion of ch. 21 (unless it be the two verses, 24 and 25) to any other hand than
to that of the author of the previous portion of the Gospel. Manuscript authority is entirely
unanimous in assuming the integrity of the Gospel in this respect. There could not have been any
period when the first twenty chapters were published without the accompaniment of this
appendix. [= Tidak ada dasar external / luar yang rasionil untuk menghubungkan bagian
manapun dari pasal 21 (kecuali itu adalah dua ayat, 24 dan 25) kepada tangan lain manapun
dari pada tangan dari pengarang dari bagian sebelumnya dari Injil ini. Otoritas manuscripts
dengan suara bulat sepenuhnya menganggap keutuhan dari Injil ini dalam hal ini. Tidak bisa
pernah ada saat manapun dimana dua puluh pasal yang pertama diterbitkan tanpa disertai
oleh tambahan ini] - hal 496.

Pulpit Commentary (tentang Yoh 21:24): and we know (as a matter of fact, oi+damen)
that his testimony is true (a)lhqh/$), veracious. We know him; we believe in his representation;
we know without any shadow of doubt upon our mind that what he has said answers to the fact. It
does not need that any of the elders should have seen the Lord to justify the use of oi+damen.
Meyer supposes that these words, notwithstanding their plural form, simply show that John
identifies himself with his readers, and, from the peculiar delicacy of his mind, hides himself and
his individuality among them or behind them. Alford compares it with John 1:14, We have seen
his glory, and 1 John 4:14,16; 5:18. Chrysostom and Theophylact read, in place of oi+damen
oi+da me/n, I indeed know that his testimony is true. This ingenious method is rejected by
modern scholars, on the principle that the writer would not thus have passed from third person to
first. This does not seem to be insuperable: Paulus adopted this solution. The chief difficulty of
admitting that these words are a note by the Ephesian presbyters, and of ignoring Chrysostoms
suggestion, is that ver. 25 contains an unquestionable reintroduction of the first person in the
oi+mai. This difficulty is, however, surmounted by Meyer, on the supposition that the last verse
is not Johannine. Meyer and Tischendorf (who excludes it from his text) suppose it to have been a
gloss by later hands, one which departs from the gravity and dignity of an apostle by its strong
hyperbole. Still no codex but the Sinaitieus omits it, and the omission may be due to the loss of the
last folio, on which it may have been written; while every other codex contains it. Godet thinks the
writer was one of the elders who had joined in the previous authentication, and refers to the
strange notice which Tischendorf records from a manuscript in the Vatican, that Papias was the
secretary to whom John dictated the entire Gospel, and imagines that the hyperbolic style of sores
of the extant fragments of Papias might account for the extravagance of the statement it contains.
Lange and Alford regard the whole verse, together with ver. 24, as Johannine, and suppose that
John here speaks in propria persona when the fullness of his memory baffled all expression. Some
treat the oi+mai, etc., as a possible saying of Johns which was added by the authors of both
verses. We think that the presence of the oi+mai (a very unusual word in the New Testament) is
possibly accounted for by the recollection which some of those who had often heard the beloved
apostle speak may have had of his way of describing the superlative richness of the life of our
Lord, and that the brief appendix by those who bore this testimony to the veracity and authenticity
and apostolic origin of the whole narrative is of priceless value. Undoubtedly it asserts with perfect
clearness that John the son of Zebedee was the author of the Gospel. If, nevertheless, the work be
that of a forger, who secured an accomplice in his deed of imposition, he is a moral anomaly; for,
while acting so unworthily, he was nevertheless glorifying the doctrine that God is true, and that
every lie is of the devil (John 8:44), and has produced a work which turns from end to end on a
realization of the truth [= ].

A. T. Robertson (tentang Yoh 20:31): This verse constitutes a fitting close for this wonderful
book and John may at first have intended to stop here. But before he published the work he added
the Epilogue (John 21) which is written in the same style and gives a beautiful picture of the Risen
Christ with a sidelight on John and Peter (restored to fellowship) (= ).

A. T. Robertson (tentang Yoh 21:24): And wrote these things. KAI HO GRAPSAS TAUTA .
Here there is a definite statement that the Beloved Disciple wrote this book. We know OIDAMEN.
The plural here seems intentional as the identification and endorsement of a group of disciples
who know the author and wish to vouch for his identity and for the truthfulness of his witness.
Probably we see here a verse added by a group of elders in Ephesus where John had long labored
(= ).

A. T. Robertson (tentang Yoh 21:25): I suppose. OIMAI. Note change back to the first person
singular by the author (= ).

Vincent (tentang Yoh 21:25): Many interpreters think that these two verses were written by some
other hand than Johns. Some ascribe John 21:24-25 to two different writers. The entire chapter,
though bearing unmistakable marks of Johns authorship in its style and language, was probably
composed subsequently to the completion of the Gospel (= ).

UBS New Testament Handbook Series (tentang Yoh 21:24): A witness was referred to in
John 19:35, though he was not explicitly identified. This verse also mentions a witness, who is
responsible for writing at least part of the Gospel and is identified as the disciple whom Jesus
loved (verse 20). At least four problems are involved in the interpretation and translation of this
verse: (1) Who spoke of these things is in the present tense in Greek (RSV who is bearing witness
to these things; Gdsp who testifies to these things), in contrast to the past (aorist) tense of wrote
them down. What is the significance of the present tense here? Some commentators believe that
the use of the present indicates that the witness on whose testimony the Gospel depends (or the part
of the Gospel referred to in these things) was still alive at the time this verse was written; and this
interpretation seems to be the one followed by most translations. However, the present tense may
simply signal that the disciples testimony was considered to be present in the Gospel which he
wrote. (2) What is the precise reference of these things? Does it refer to what immediately
precedes (verses 20-23), to all of Chapter 21, to Chapters 1-20, or to the entire Gospel? Since no
answer to this question is agreed on by all, the translator should render these things with a term
which can refer to any of the possibilities mentioned. (3) What is the meaning of wrote them
down (so also Mft, NAB; JB has written them down)? Did the disciple write down these things
himself or did he cause them to be written down? In John 19:19 wrote was used causatively:
Pilate did not personally write the inscription on the cross. If wrote is understood causatively in
21:24, does it mean that the disciple dictated the Gospel, that he supervised the writing, or merely
that his testimony was the source for the material used (compare 19:35)? If wrote is understood
as referring to the testimony behind the Gospel, then it tells us nothing about the authorship of the
work. Commentators are sharply divided on the meaning of wrote, and the translator should not
favor a particular interpretation in rendering the text. (4) Who does we refer to (we know that
what he said is true)? Some have maintained that the reference is to the disciple who spoke of
these things. However, there is no parallel for the third person (he) and the first person (we)
being used within the same sentence to designate the same individual. Therefore, it is best to take
we as referring to a group which includes the writer of verse 24 but does not include the disciple,
whom Jesus loved (verse 20). In languages which distinguish between an inclusive and an
exclusive first person plural, the exclusive form should be used here [= ].

UBS New Testament Handbook Series (tentang Yoh 20:30-31): It is the consensus of New
Testament scholars that these two verses form the original conclusion to the Gospel (= ).

William Hendriksen (tentang Yoh 21:1): I. Authorship. Who wrote this chapter? ... Absolute
certainty is probably not attainable. If a person chooses to believe that John himself with his own
hand wrote (or at least that he dictated) chapter 21 in its entirety (or with the exception of verses 24
and 25), he will find nothing in its grammar or vocabulary which prevents him from doing this. ...
we, nevertheless, favor the theory that another leader at Ephesus (probably a disciple of John),
under the guidance of the Holy Spirit, and with the full approval of John, wrote 21:1-23 (and
probably also verse 24 in the name of the elders - note the pronoun we - , and again personally
verse 25; note how the we of verse 24 changes to I in verse 25) (= ) - hal 473-474.

Leon Morris / NICNT (tentang Yoh 21): Those who see this section as integral to the Gospel
point to the fact that there is no break in style. As far as we can see this last chapter came from the
same pen as did the first twenty (= Mereka yang melihat bagian ini sebagai pelengkap dari Injil
ini menunjuk kepada fakta bahwa di sana tidak ada perubahan dalam gaya. Sejauh yang bisa
kami lihat pasal terakhir ini datang dari pena / penulis yang sama seperti halnya dua puluh
pasal yang pertama) - hal 858.
Leon Morris / NICNT mengutip kata-kata Strachan (tentang Yoh 21): There is no trace of any
manuscript of the Gospel without this chapter (= Tidak ada jejak dari manuscripts manapun
dari Injil ini tanpa pasal ini) - hal 858 (footnote).
Leon Morris / NICNT mengutip kata-kata Lenski (tentang Yoh 21): No copies of the Fourth
Gospel have ever been found from which chapter 21 is omitted, and no trace of such copies has
ever been discovered (= Tidak ada copy dari Injil Keempat ini yang pernah ditemukan dari
mana pasal 21 dihapuskan, dan tidak ada jejak tentang copy seperti itu yang pernah
ditemukan) - hal 858 (footnote).

Leon Morris / NICNT (tentang Yoh 21:24-25): The last two verses look like a conclusion
written by someone other than the author of the preceding. The conclusion brings in a number of
people to authenticate what has been written. They can say, we know that his witness is true. Who
these people were it is idle to speculate. They have left no indication as to their identity, and we can
only conjecture that they were people who were respected in the church and who knew the facts of
the case. So they tell us now that this disciple wrote these things and they certify that his witness
is to be relied on. The strongest objection to this is that v. 23 is a curious if not impossible way to
end a Gospel. This leads to the suggestion that the author is here supported by others who can
vouch for his testimony and that he then goes on to write v. 25 in his own name (but see 1Thess
2:18 for a transition from the plural to singular when there is no question as to authorship) [=
Dua ayat yang terakhir kelihatannya seperti suatu penutup yang ditulis oleh seseorang yang
lain dari pada pengarang dari bagian yang mendahuluinya. Penutup itu memasukkan /
mengemukakan sejumlah orang untuk membuktikan apa yang telah ditulis. Mereka bisa
mengatakan, kami tahu bahwa kesaksiannya benar. Merupakan sesuatu yang sia-sia untuk
berspekulasi siapa orang-orang itu. Mereka tidak meninggalkan petunjuk berkenaan dengan
identitas mereka, dan kita hanya bisa menerka bahwa mereka adalah orang-orang yang
dihormati dalam gereja dan yang tahu fakta-fakta dari kasus itu. Maka mereka memberitahu
kita bahwa murid ini menulis hal-hal ini dan mereka menyatakan bahwa kesaksiannya bisa
dipercaya. Keberatan yang terkuat terhadap hal ini adalah bahwa ay 23 merupakan suatu cara
yang aneh, kalau bukannya mustahil, untuk mengakhiri suatu Injil. Ini membimbing pada usul
bahwa sang pengarang di sini didukung oleh orang-orang lain yang bisa menjamin
kesaksiannya, dan bahwa ia lalu melanjutkan dengan menulis ay 25 atas namanya sendiri
(tetapi lihat 1Tes 2:18 untuk suatu perpindahan / peralihan dari bentuk jamak ke bentuk
tunggal dimana disana tidak ada pertanyaan berkenaan dengan ke-pengarang-an)] - hal 879.

Ada beberapa hal yang perlu dinyatakan sebagai kesimpulan dari seluruh perdebatan
berkenaan dengan Yoh 21, khususnya ay 24-25 ini:
1. Untuk Yoh 21, kecuali ay 24-25, boleh dikatakan pada umumnya para penafsir masih
menganggap itu ditulis oleh Rasul Yohanes.
2. Tidak ada perbedaan gaya ataupun perbendaharaan kata antara Yoh 21 dengan Yoh 1-
20.
3. Yoh 21 tidak mempunyai problem text.
a. Untuk Yoh 21, dengan ay 25 saja sebagai perkecualian, semua manuscript dan versi
mempunyainya.
b. Untuk Yoh 21:25, hanya satu manuscript, yaitu Codex Sinaiticus, tidak
mempunyainya, tetapi itu kelihatannya karena terpotong / hilang dari manuscript
tersebut.
4. Bahkan untuk Yoh 21:24-25 tetap ada pro kontra siapa yang menulisnya. Saya sendiri
menganggapnya tetap sangat memungkinkan bahwa Yohanes sendiri yang menuliskan
kedua ayat terakhir itu. Argumentasi dari Leon Morris bagi saya merupakan argumentasi
yang sangat kuat.

Setelah membahas Ul 34 dan Yoh 21:24-25, maka saya berpendapat bahwa kasus dari kedua
text tersebut sangat berbeda dengan kasus dari Mark 16:9-20. Jadi, kedua text ini tak bisa
digunakan sebagai dasar untuk menerima Mark 16:9-20 sebagai bagian dari Alkitab / Firman
Tuhan, sekalipun bagian itu tidak ditulis oleh Markus.
Hal lain yang tidak memungkinkan saya menerima pandangan ini adalah: kalau Markus
sebetulnya menuliskan akhiran yang asli dibawah pengilhaman Roh Kudus, maka akhiran asli
itu adalah Firman Tuhan / Alkitab. Lalu akhiran asli itu hilang, dan Tuhan memakai orang lain
untuk menuliskan Mark 16:9-20, juga dibawah pengilhaman Roh Kudus, sehingga Mark 16:9-20
juga adalah Firman Tuhan / Alkitab. Bukankah ini aneh? Tuhan menggunakan Markus untuk
menuliskan akhiran asli yang adalah Firman Tuhan, lalu membiarkan bagian itu hilang, dan lalu
menggunakan orang lain menuliskan Mark 16:9-20, yang sekalipun berbeda dengan akhiran
asli dari Markus, tetapi juga merupakan Firman Tuhan? Jadi, Firman Tuhan digantikan dengan
Firman Tuhan yang lain! Ini menurut saya sangat tidak masuk akal.

2) Sekalipun Mark 16:9-20 itu tidak ditulis oleh Markus, tetapi karena text itu sudah lama ada
dalam Alkitab, maka kita harus menganggapnya sebagai termasuk dalam Alkitab / Firman
Tuhan.
Tanggapan saya:
Ini pandangan yang sama sekali tidak masuk akal. Saya ingin bertanya: Alkitab yang mana
yang kita jadikan acuan? Alkitab yang terjemahan? Atau manuscript-manuscript yang masih
dalam bahasa asli? Atau autographnya? Kalau dijawab Alkitab terjemahan, atau manuscript-
manuscript yang masih dalam bahasa asli, maka perlu diketahui bahwa ada banyak Alkitab
terjemahan, dan juga ada banyak sekali manuscript-manuscript yang masih dalam bahasa asli,
dan semuanya mengandung kesalahan dan bahkan pertentangan satu dengan yang lain. Lalu
bagaimana mungkin ini dijadikan acuan? Itu akan berarti bahwa hal-hal yang salah dan
bertentangan di dalamnya juga harus kita jadikan acuan!
Juga bagaimana sikap kita terhadap Deuterokanonika dari Gereja Roma Katolik yang juga
sudah lama ada dalam Alkitab? Haruskah kita juga menerimanya? Nonsense!
Acuan kita harus adalah autograph. Memang autograph sudah tidak ada. Tetapi dari
manuscript-manuscript yang ada, kita harus berusaha memperkirakan bagaimana
autographnya, dan itu yang menjadi acuan kita.
Jadi, kalau dari manuscript-manuscript dan versi-versi yang ada dan semua bukti-bukti /
argumentasi-argumentasi yang lain kita menyimpulkan bahwa Mark 16:8b dan Mark 16:9-20
tidak ada dalam autographnya, maka kita harus menganggapnya sebagai bukan Alkitab /
Firman Tuhan!

3) Sekalipun Mark 16:9-20 itu benar (tidak mengandung kesalahan atau pertentangan dengan
ayat-ayat lain dari Alkitab), tetapi itu tetap bukan Firman Tuhan / Alkitab, dan karena itu kita
tidak boleh memberikan / menerima ajaran yang hanya didasarkan pada ayat-ayat itu.

Alan Cole (Tyndale): What, then, is the theological value of this Longer Ending? It may be
compared with the story of the woman taken in adultery, in John 8, as an example of an early tradition
which may very well be genuine and is undoubtedly primitive, but does not belong to the actual Gospel
text as it stands (= Lalu, apa nilai theologis dari akhiran yang lebih panjang ini? Itu bisa
dibandingkan dengan cerita tentang perempuan yang tertangkap dalam perzinahan, dalam Yoh 8,
sebagai suatu contoh dari tradisi mula-mula / awal yang mungkin benar dan tak diragukan sangat
kuno, tetapi tidak termasuk dalam text Injil yang sesungguhnya) - hal 258-259.

Alan Cole (Tyndale): it would be unwise to build any theological position upon these verses alone;
and this no responsible Christian group has done (= adalah tidak bijaksana untuk membangun
posisi theologia berdasarkan ayat-ayat ini saja; dan ini belum / tidak pernah dilakukan oleh grup
Kristen yang bertanggungjawab) - hal 259.

W. B. Godbey: I shall neither quote nor expound the ensuing twelve verses; for, like John 8:1-11,
and not a few other isolated passages, they are not in my book [= Saya tidak akan mengutip ataupun
menjelaskan / menguraikan 12 ayat yang berikut; karena, seperti Yoh 8:1-11, dan tidak sedikit text-
text terpisah yang lain, mereka tidak ada dalam Buku (Alkitab) saya] - hal 287 (AGES, vol 15).

William Hendriksen: Since it would be very difficult - perhaps impossible - to defend the thesis that
every word of this ending is without flaw, no sermon, doctrine, or practice should be based solely upon
its contents (= Karena akan sangat sukar - mungkin mustahil - untuk mempertahankan thesis
bahwa setiap kata dari akhiran ini adalah tanpa cacat, tidak ada khotbah, doktrin / ajaran, atau
praktek boleh didasarkan semata-mata pada isi dari akhiran ini) - hal 687.

A. T. Robertson: The great doubt concerning the genuineness of these verses (fairly conclusive proof
against them in my opinion) renders it unwise to take these verses as the foundation for doctrine or
practice unless supported by other and genuine portions of the New Testament [= Keraguan yang
besar berkenaan dengan keaslian dari ayat-ayat ini (bukti yang cukup meyakinkan menentang
mereka dalam pandangan saya) membuatnya tidak bijaksana untuk mengambil ayat-ayat ini
sebagai dasar dari doktrin / ajaran atau praktek kecuali didukung oleh bagian-bagian yang lain
dan asli dari Perjanjian Baru].

UBS New Testament Handbook Series: It would be highly precarious, at the least, for the Church
to base her understanding of the events of the post-resurrection period of her Lords ministry upon
such a document as the Longer Ending (= Merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, sedikitnya,
bagi Gereja untuk mendasarkan pengertiannya tentang peristiwa-peristiwa tentang periode setelah
kebangkitan dari pelayanan Tuhannya pada dokumen seperti Akhiran yang Lebih Panjang).

-o0o-