Anda di halaman 1dari 30

BAB II

PENGUJIAN ASPAL
2.1 Penetrasi
2.1.1 Definisi dan Tujuan
Penetrasi adalah parameter penunjuk konsistensi aspal secara empiris dengan
menunjukkan nilai kekerasan aspal. Pengujia ini dilakukan dengan meggunakan
jarum penetrasi berdiameter 1 mm dan beban 50 gram.
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui kekerasan aspal yang
dinyatakan sebagai kedalaman masuknya jarum penetrasi standar secara vertikal yang
dinyatakan dalam satuan 0,1 mm pada kondisi beban, waktu, dan temperatur yang
diketahui.

2.1.2 Spesifikasi
Pengujian ini menggunakan metoda SNI 2456-2011. Spesifikasi penetrasi
aspal padat menurut spesifikasi umum divisi 6 PU tahun 2010 Revisi 3 adalah 60-70.

2.1.3 Prosedur Pengujian

Mulai

Persiapan
Bahan

Persiapan Alat

Prosedur

Periksa dan Letakkan cawan berisi Lepaskan pemegang


bersihkan benda uji pada jarum selama 5
jarum penetrometer detik
Letakkan Turunkan jarum ke atas Baca angka
pemberat 50 permukaan benda uji penetrasinya
gram

Analisis Data

(1) (2)

Gambar 2.1 Flowchart Penetrasi


(1) (2)

Kesimpul
an
Tida
Sesuai

Ya

Selesai

Gambar 2.2 Flowchart Penetrasi (lanjutan)


1. Alat
Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah :

a. Penetrometer
b. Pemberat
c. Jarum penetrasi
d. Cawan benda uji
e. Bak perendam
f. Transfer dish
g. Stopwatch
2. Bahan
Aspal sebanyak 100 gram yang bersih dan bebas dari air serta minyak ringan.
3. Berikut prosedur pengujian penetrasi bahan bahan bitumen :
a. Pemegang jarum diperiksa terlebih dahulu agar jarum dapat dipasang
dengan baik, lalu jarum penetrasi dibersihkan dengan toluene atau pelarut
lain yang sesuai, kemudian dikeringkan dengan lap bersih.

b. Pemberat 50 gram diletakkan pada pemegang jarum untuk memperoleh


berat total 100 gram 0,1 gram kecuali disyaratkan berat total yang lain.

c. Bila pengujian penetrometer dilakukan dalam bak perendam, cawan berisi


benda uji diletakkan langsung pada alat perendam.
d. Posisi alat penetrometer dipastikan dalam keaadan rata dengan memeriksa
waterpass pada alat.

e. Jarum diturunkan perlahan lahan sampai jarum menyentuh permukaan


benda uji. Hal ini dilakukan dengan cara menurunkan jarum ke
permukaan benda uji sampai ujung jarum bersentuhan dengan bayangan
jarum dalam benda uji. Agar bayangan jarum dalam benda uji tampak
jelas maka digunakan lampu sorot. Kemudian aturlah angka 0 pada arloji
penetrometer sehingga jarum penunjuk berada pada posisi 0 pada jarum
penetrometer.

f. Pemegang jarum dilepaskan selama waktu yang disyaratkan yaitu 5 detik.


Apabila benda uji bergerak pada saat pengujian maka pengujian dianggap
gagal.

g. Arloji penetrometer di atur atau di putar untuk mengukur nilai penetrasi


dan angka penetrasi yang ditunjukkan jarum dibaca pada angka 0,1 mm
terdekat.

h. Pengujian untuk benda uji ini dilakukan paling sedikit tiga kali pengujian
untuk benda uji yang sama, dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan
berjarak tidak kurang 10 mm dari dinding cawan dan tidak kurang 10 mm
dari satu titik pengujian dengan titik pengujian lainnya.

2.1.4 Data Pengujian

PENGUJIAN PENETRASI
SK SNI 21-1990-1

Dikerjakan tanggal = Senin, 15 Februari 2016


Selesai tanggal = Senin, 15 Februari 2016
Nama Penguji = Salma Neni.K.P
Ulfie Nadiah.K
Genna Budhiantari
Ayangga Mahardika

Tabel 2.1 Data Pengujian Penetrasi

Penetrasi pada suhu 25C, 5 Benda uji I Benda uji II


detik (beban 100 gr) (beban 50 gr)
Pengamatan 1 98 74
Pengamatan 2 101 74,5
Pengamatan 3 99 74,5
Pengamatan 4 100 70
Pengamatan 5 101 70
Rata-rata 99,8 72,6
Kesulitan : bak perendam membatasi pandangan untuk menempatkan jarum, sehingga
kemungkinan jarum tidak tepat berada di atas permukaan aspal.

2.1.5 Kesimpulan dan Dokumentasi


Dari hasil pengujian di dapatkan bahwa pengamatan 1 dengan rata-rata
sebesar 99,8 tidak memenuhi spesifikasi karena menggunakan beban 100 gr
sedangkan pengamatan 2 dengan rata-rata sebesar 72,6 tidak memenuhi spesifikasi
karena kemungkinan terjadi kesalahan saat malakukan pengujian walaupun sudah
menggunakan beban 50 gr. Kesalahan bisa terjadi karena penempatan jarum tidak
tepat di atas permukaan dan suhu pada air rendam dapat berubah.
Gambar 2.3 Alat Penetrasi

Gambar 2.4 Pengaturan Jarum Penetrasi

.2 Berat Jenis Aspal Padat


2.2.1 Definisi dan Tujuan
Berat jenis aspal padat adalah pebandingan antara berat jenis aspal dan berat
air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu.
Untuk mengukur berat jenis aspal dengan menggunakan piknometer serta
berdasarkan perbandingan berat di udara dengan berat di dalam air.
2.2.2 Spesifikasi
Spesifikasi untuk berat jenis aspal padat menurut ketentuan SNI 2441:2011
untuk tipe 1 aspal penetrasi 60 sampai 70 yaitu lebih 1,0.

2.2.3 Prosedur Pengujian

Mulai

PersiapanBaha
n
PersiapanAlat

Prosedur

(1)
(2)
Gambar 2.5 Flowchart Berat Jenis Aspal
(1) (2)

Timbang Timbang Timbang Tambahkan air


piknometer piknometer piknometer hingga penuh
kosong yang terisi yang berisi pada
penuh oleh air piknometer
suling 3 berisi benda
4 uji lalu

Analisis Data

Kesimpulan

Tidak
Sesuai

Ya

Selesai

Gambar 2.6 Flowchart Berat Jenis Aspal Keras (lanjutan)


1. Alat
Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah :
a. Termometer
b. Bak perendam
c. Piknometer dengan kapasitas 30 ml
d. Bejana gelas (gelas kimia) kapasitas 600 ml
e. Timbangan dengan kapasitas 200 gram
2. Bahan
Aspal padat.

3. Berikut prosedur pengujian berat jenis aspal keras :


a. Bejana di isi dengan air suling sehingga diperkirakan bagian atas
piknometer yang terendam adalah 40 mm. Kemudian rendam dan
jepitlah bejana tersebut dalam bak perendam sehingga terendam
sekurang-kurangnya 100 mm.

b. Aturlah suhu bak perendam pada suhu 25C.


c. Piknometer dibersihkan, dikeringkan dan ditimbang dengan ketelitian
1 mg (A).
d. Bejana di angkat dari bak perendam dan piknometer di isi dengan air
suling kemudian tutuplah piknometer tanpa ditekan.

e. Bejana di letakkan ke dalam piknometer dan tekanlah penutup hingga


rapat, kembalikan bejana berisi piknometer ke dalam bak perendam.
Diamkan bejana tersebut di dalam bak perendam selama
sekurangkurangnya 30 menit, kemudian angkatlah piknometer dan
keringkan dengan lap. Timbanglah dengan ketelitian 1 mg (B).

f. Tuangkan benda uji tersebut ke dalam piknometer yang telah kering


hingga terisi bagian.

g. Biarkan piknometer sampai dingin, waktu tidak kurang dari 40 menit


dan timbanglah dengan penutupnya dengan ketelitian 1 mg (C).

h. Piknometer yang berisi benda uji di isi dengan air suling dan
tutuplah tanpa ditekan, diamkan agar gelembung-gelembung udara
keluar.

i. Bejana di angkat dari bak perendam dan letakkan piknometer di


dalamnya dan kemudian tekanlah penutup hingga rapat. Masukkan
dan diamkan bejana ke dalam bak perendam selama sekurang
kurangnya 30 menit.

j. Angkat, keringkan dan timbanglah piknometer (D).

2.2.4 Data Pengujian

PENGUJIAN BERAT JENIS ASPAL KERAS


AASHTO T 228-90
Dikerjakan tanggal = Senin, 15 Februari 2016
Selesai tanggal = Senin, 15 Februari 2016
Nama Penguji = Salma Neni.K.P
Ulfie Nadiah.K
Genna Budhiantari
Ayangga Mahardika

Tabel 2.2 Data Pengujian Berat Jenis Aspal Keras


Benda uji I Benda uji II(kel. 6)
Berat piknometer kosong + contoh 58,3 gram 51,6 gram
Berat piknometer kosong 27 gram 25,8 gram
1 Berat contoh 31,3 gram 25,8 gram
Berat piknometer + air 120 gram 117,7 gram
Berat piknometer 27 gram 25,8 gram
2 Berat air 93 gram 91,9 gram
Berat piknometer + contoh + air 123,3 gram 118,7 gram
Berat piknometer + contoh 58,3 gram 51,6 gram
3 Isi air 65 gram 67,1 gram
Isi contoh = (2 - 3) 28 gram 24,8 gram
31,3
Berat Jenis I = = 1,118
28
25,8
Berat Jenis 2 = = 1,040
24,8
Kesulitan : Pada saat akan melakukan penimbangan, kemungkinan pada dinding
bagian luar piknometer masih terdapat aspal yang menempel sehingga kemungkinan
berat yang didapatkan tidak tepat.

2.2.5 Kesimpulan dan Dokumentasi


Didapatkan berat jenis benda uji 1 sebesar 1,118 dan benda uji 2 sebesar 1,040
,dengan Spesifikasi untuk berat jenis aspal padat menurut ketentuan SNI 2441:2011
untuk tipe 1 aspal penetrasi 60 sampai 70 yaitu lebih 1,0. Maka kedua benda uji
yang telah didapatkan telah memenuhi spesifikasi.
Gambar 2.7 Piknometer Berisi Air

Gambar 2.8 Pengisian Aspal Pada Piknometer


Gambar 2.9 Penimbangan Piknometer+Air+Aspal
.3 Titik Lembek
2.3.1 Definisi dan Tujuan
Titik Lembek adalah suhu pada saat bola baja, dengan berat tertentu,
mendesak turun suatu lapisan aspal atau ter yang tertahan dalam cincin berukuran
tertentu, sehingga aspal atau ter tersebut menyentuh plat dasar yang terletak dibawah
cincin pada tinggi tertentu, akibat pemanasan tertentu.
Untuk mengetahui suhu dimana aspal dan juga tar mulai lembek dan dapat
digunakan dengan menggunakan alat Ring and Ball. Metoda Ring and Ball yang
umumnya diterapkan pada bahan aspal dan ter ini, dapat mengukur titik lembek
bahan semisolid sampai solid.

2.3.2 Spesifikasi
Spesifikasi dari Bina Marga tentang titik lembek untuk aspal keras Pen 40
(Ring and Ball Test) adalah 51C (minimum) dan 63C (maksimum), sedangkan
untuk Pen 60 adalah minimum 48C dan maksimum 58C.

2.3.3 Prosedur Pengujian

Mulai

Persiapan Bahan

Persiapan Alat

Prosedur

Benda uji Bejana disisi Termomete Catat suhu dan


dipasang dan air suling dan r waktu pada saat
diatur, telakkan dipanaskan diletakkan aspal menyentuh
pengarah bola diantara plat
di atasnya
Gambar 2.10 Analisis(1)Data
Flowchart
keduaTitik
(2)
(1) (2)

Kesimpulan

Tidak
Sesuai

Ya

Selesai

Gambar 2.11 Flowchart Titik Lembek (lanjutan)


1. Alat
Alat yang digunakan dalam pengujian titik lembek yaitu :
a. Cincin kuningan.
b. Bola baja,diameter 9,53 mm berat 3,45 gram sapai 3,55 gram.
c. Dudukan benda uji lengkap dengan pengarah bola baja dan plat dasar yang
mempunyai jarak tertentu.

d. Bejana gelas.
e. Termometer.
f. Penjepit.
g. Alat pengarah bola.

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengujian titik lembek adalah aspal yang telah
dipanaskan sebanyak 25 gram.
3. Prosedur
Prosedur pengujian titik lembek aspal adalah sebagai berikut :
a. Benda uji adalah aspal atau sebanyak 25 gram

b. Kedua benda uji diatur dan dipasang diatas dudukan yang diberi pengarah
bola diatasnya.
c. Kemudian seluruh peralatan dimasukan ke dalam bejana gelas berisi air
suling baru sehingga tinggi permukaan air berkisar antara 101,6 sampai
108 mm.

d. Termometer diletakan diantara kedua benda uji.


e. Jarak antara benda uji dan pelat dasar diatur sehingga berjarak 25,4 mm.
f. Lalu bola baja diletakkan di atas dan di tengah permukaan masing-masing
benda uji yang bersuhu 5C menggunakan penjepit dengan memasang
kembali pengarah bola.

g. Panaskan bejana sehingga kenaikan suhu menjadi 5C per menit.


Kecepatan pemanasan rata-rata dari awal hingga akhir pekerjaan ini.
Untuk 3 menit pertama perbedaan kecepatan pemanasan tidak boleh
melebihi 5C.

2.3.4 Data Pengujian

PENGUJIAN TITIK LEMBEK


SK SNI M 20 1990-1

Dikerjakan tanggal = Senin, 1 Februari 2016


Selesai tanggal = Senin, 1 Februari 2016
Nama Penguji = Salma Neni.K.P
Ulfie Nadiah.K
Genna Budhiantari
Ayangga Mahardika

Tabel 2.3 Informasi Pengujian


Titik Lembek
Pemeriksaa Pembacaan suhu alat
Mulai jam : 15.20
n temperatur 300 C
Selesai jam : 15.27
Tabel 2.4 Data Pengujian Titik Lembek
Suhu yang diamati C Waktu (detik) Titik Lembek C
I II I II(kel. 6) I II
No
1 27 26 0 0
2 32 31 133 104
3 37 36 213 185
4 42 41 308 259
5 47 46 391 344
6 52 51 458 422 52
7 57 56 466 54
Kesulitan : Bola baja sulit untuk dibersihkan karena masih terdapat aspal yang
menempel.

2.3.5 Kesimpulan dan Dokumentasi


Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, nilai hasil pengujian titik
lembek rata-rata yang didapat adalah 53C. nilai ini sesuai dengan spesifikasi tentang
nilai titik lembek untuk aspal keras PEN 60 yang bernilai minimum 48 dan
maximum 54C.

Gambar 2.12 Aspal Telah Mencapai Titik Lembek


Gambar 2.13 Bola Baja dan Ring

.4 Titik Nyala dan Bakar


2.4.1 Definisi dan Tujuan
Titik nyala adalah suhu pada saat terlihatnya percikan api yang sangat singat
diatas permukaan aspal. Titik bakar adalah suhu pada saat terlihatnya api sekurang-
kurangnya 5 detik di atas permukaan aspal.
Tujuan pengujian ini adalah untuk mengukur suhu dimana aspal mulai
mengeluarkan nyala api dan bakar akibat pemanasan dengan menggunakan
Cleveland Open Cup, hasil yang didapat dari pengujian ini digunakan sebagai
informasi bahaya kebakaran yang sesungguhnya di lapangan.

2.4.2 Spesifikasi
Spesifikasi untuk pengujian ini menurut SNI 2433-2011 dengan tipe aspal
PEN berkisar antara 60-70 yang memenuhi spesifikasi yaitu 232.

2.4.3 Prosedur Pengujian

Mulai

Persiapan
Bahan

Persiapan Alat

(1) (2)
Gambar 2.14 Flowchart Titik Nyala
dan Bakar
(1) (2)

Prosedur

Cawan Api Nyala api Pada saat Pemanasan


Claveland penguji dikurangi benda uji dilanjutkan
diisi dinyalaka sampai mulai hingga benda
dengan n hingga suhu benda menyala uji menyala
benda uji temperatu uji 28 di suhu pada da terbkaan
sampai r bawah titik termometer minimal
garis batas mencapai nyala dicatat 5detik dan
pengisihan 56 perkiraan catat suhunya

Analisis Data

Kesimpulan

Tidak
Sesuai

Ya

Selesai

Gambar 2.15 Flowchart Titik Nyala dan Bakar (lanjutan)

1. Alat
Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah :
a. Cawan kuningan (cleveland cup)
b. Termometer
c. Nyala penguji, yaitu nyala api yang dapat di atur dan memberikan
nyala dengan diameter 3,2 sampai 4,8 mm

d. Pemanas terdiri dari logam untuk meletakkan cawan cleveland


e. Pembakaran gas atau tungku listrik atau pembakar alkohol
f. Stop watch
g. Penahan angin

2. Bahan
Pemanas yang terdiri dari logam untuk mengukur meletakan cawan cleveland
3. Prosedur pengujian titik nyala dan bakar aspal adalah sebagai berikut :
a. Contoh bahan di panaskan yang keras atau semi padat sampai cair.
Temperatur pemanasan contoh uji tidak boleh lebih dari 150C.

b. Cawan di isi cleveland dengan contoh uji sampai garis batas


pengisian, dan tempatkan cawan cleveland diatas plat pemanas. Bila
benda uji di isi berlebih pada cawan cleveland, pindahkan bagian
yang lebih dengan vivet atau alat lainnya untuk menghindari bagian
yang meleleh. Bila ada bagian aspal yang menempel pada bagian luar
cawan, bersihkan. Hilangkan gelembung udara atau busa yang terjadi
pada permukaan benda uji dengan pisau yang tajam atau alat
pemotong lainnya dan pertahankan tinggi benda uji. Bila busa tetap
ada sampai tahap akhir dari pengujian, pengujian dihentikan dan di
ulangi.

c. Api di nyalakan penguji dan diameter api atur oleh penguji antara
3,2 mm sampai dengan 4,8 mm, atau nyala api penguji sukuran
dengan ujung pipa api penguji.

d. Lakukan dengan hati-hati penggunaan gas untuk nyala api penguji.


Bila api penguji padam, gas untuk nyala penguji akan mempengaruhi
hasil uji.

e. pemanasan awal dilakukan dengan kenaikan temperatur antara 14 C


sampai dengan 17 C per menit sampai benda uji mencapai
temperatur 56 C di bawah titik nyala-perkiraan. Kurangi pemanasan
hingga kecepatan kenaikan temperatur antara 5C sampai dengan 6C
per menit sampai benda uji mencapai temperatur 28C di bawah titik
nyala-perkiraan.

f. Gunakan nyala penguji pada waktu temperatur benda uji mencapai


lebih kurang 28C dibawah titik nyala-perkiraan dan lintaskan api
penguji setiap kenaikan temperatur 2C. Lintasan api penguji garis
lengkung yang mempunyai jari jari minimum 150 mm c 1 mm.

g. Api penguji harus bergerak horizontal dan jarak dengan tepi atas
cawan tidak lebih dari 2 mm. Waktu yang dibutuhkan api penguji
untuk melintasi cawan kurang lebih 1 detik 0,1 detik.

h. Lakukan pemanasan dari temperatur 28 C di bawah titik


nyalaperkiraan sampai. Nyala-perkiraan untuk menghindari
terganggunya nyala api penguji akibat pengaruh angin di atas uap
pada cawan cleveland lakukan lintasan api penguji dengan cepat dan
hati-hati.

i. Perhatikan besarnya nyala api penguji, kecepatan kenaikan


temperatur dan kecepatan gerakan api penguji diatas benda uji.

j. Hasil pengujian di catat dan titik nyala yang diperoleh dari


pembacaan termometer pada saat benda uji mulai menyala.

k. Untuk menentukan titik bakar, lanjutkan pemanasan pada benda uji


setelah titik nyala di catat, kenaikan temperatur 5C sampai dengan 6
C per menit. Teruskan penggunaan nyala penguji pada interval
kenaikan temperatur 2C sampai benda uji nyala dan terbakar
minimal 5 detik. Catat temperatur tersebut sebagai titik bakar benda
uji.

2.4.4 Data Pengujian

PENGUJIAN TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR

SK SNI M 20-1990-F

Dikerjakan tanggal = Senin, 15 Februari 2016


Selesai tanggal = Senin, 15 Februari 2016
Nama Penguji = Salma Neni.K.P
Ulfie Nadiah.K
Genna Budhiantari
Ayangga Mahardika

Tabel 2.5 Data Informasi Pengujian

No Kegiatan Uraian
1 Pembukaan Contoh Contoh dipanaskan Pembacaan suhu oven =
Mulai jam = 08.00 115C
Selesai jam = 08.15
2 Mendinginkan Dididamkan di suhu
Contoh ruangan
Mulai jam = 08.15
Selesai jam = 09.00
3 Pemeriksaan Direndam pada suhu Suhu perkiraan titik
25C nyala = 350C
Mulai jam = 09.00
Selesai jam = 09.30
Tabel 2.6 Data Pengujian Titik Nyala Dan Titik Bakar
o
C dibawah o
Waktu C Keterangan
titik nyala
56 304
51 309
46 82 314
41 146 319
36 214 324
31 270 329
26 375 334
21 470 339
16 670 344
Titik Nyala
11 714 349
6 852 354
Titik Bakar
1 -

Kesulitan : Sedikit sulit memahami mengenai pengujian ini karena tidak ada waktu
untuk mendemonstrasikan secara langsung prosesnya
2.4.5 Kesimpulan dan Dokumentasi
Dari pengujian yang telah dilakukan, aspal telah mencapai titik nyala pada
suhu 344 dan titik bakar pada suhu 354. Dengan spesifikasi untuk pengujian ini
menurut SNI 2433-2011 dengan tipe aspal PEN berkisar antara 60-70 yang
memenuhi spesifikasi yaitu 232, maka hasil yang didapatkan telah memenuhi
spesifikasi.

Gambar 2.16 Alat Uji Titik Nyala dan Bakar

.5 Daktilitas
2.5.1 Definisi dan Tujuan
Pengujian daktilitas adalah cara uji tidak langsung untuk menunjukkan sifat
adhesi dan hohesi aspal. Adhesi adalah kemampuan agregat untuk mengikat aspal
sehingga dihasilkan ikatan yang baik antara agregat dan aspal sedangkahn kohesi
adalah kemampuan aspal untuk tetap mempertahankan agregat tetap di tempatnya
setelah terjadi pengikatan. Pengujian ini dilakukan pada suhu 25 0.5C dengan
kecepatan Tarik mesin 50 mm per menit (dengan toleransi 5%).
Tujuan dilakukannya pengujian daktilitas untuk mengetahui kekenyalan aspal
yang dinyatakan dengan panjang pemuluran aspal yang dapat tercapai hingga
sebelum putus.

2.5.2 Spesifikasi
Spesifikasi pada Daktilitas menurut metode pengujian SNI 2432-2011
menurut Tipe Aspal Pen 60-70 yaitu cm.

2.5.3 Prosedur Pengujian


2.5.4
S
jM
5
h
v
y
r
o
b
t
u
p
m
k
g
n
id
a
ls
e
3
6
c
1
,
Data Pengujian

Dikerjakan tanggal
Selesai tanggal
Nama Penguji

No
1

2
Kegiatan
Pembukaan Contoh

Mendinginkan
Contoh
= Senin, 1 Februari 2016
= Senin, 1 Februari 2016
= Salma Neni.K.P
Ulfie Nadiah.K
Genna Budhiantari
Ayangga Mahardika

Tabel 2.5 Data Pengujian Daktilitas

Contoh dipanaskan
Mulai jam = 13.30
Selesai jam = 13.45
Dididamkan di suhu
ruangan
Mulai jam = 13.45
Uraian
Pembacaan suhu oven =
70C
Selesai jam =
3 Pemeriksaan Direndam pada suhu Pembacaan suhu
25C waterbath =
Mulai jam =
Selesai jam =

Daktilitas pada suhu 250C, 5 cm


Pembacaan pengukuran pada alat
per menit
Pengamatan I 112 cm
Pengamatan II 107 cm
Rata-rata
Kesulitan : Tidak mengalami kesulitan karena kami tidak melakukan pengujian secara
langsung.

2.5.5 Kesimpulan dan Dokumentasi


Dari pengujian yang telah dilakukan diperolah bahwa aspal mencapai 112 cm
dan 107 cm, maka dapat disimpulkan bahwa aspal nilai elastistasnya tinggi karena
telah memenuhi spesifikasi yaitu tidak putus < 100 cm.

Gambar 2.7 Mesin uji daktilitas


Gambar 2.8 Penarikan aspal di mesin uji daktilitas
.6 Kehilangan Berat Akibat Pemanasan dengan Thin-Film Oven Test
(TFOT)
2.6.1 Definisi dan Tujuan
Di Indonesia, prosedur yang tersedia untuk mengevaluasi durabilitas matrial
aspal adalah Thin Film Oven Test (TFOT), dengan melakukan pembatasan evaluasi
hanya pada beberapa karateristik aspal seperti kehilangan berat (loss on heating),
penetrasi, daktilitas dan titik lembek. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kehilangan minyak pada aspal akibat pemanasan berulang. Selain itu pengujian ini
juga bertujuan mengukur perubahan kinerja aspal akibat kehilangan berat.

Penurunan berat (%) x 100%


Dengan :
A = berat sampel dan cawan sebelum pemanasan (gram)
B = berat sampel dan cawan setelah pemanasan (gram)

2.6.2 Spesifikasi
Spesifikasi untuk pengujian residu hasil TFOT (SNI-06-2440-1991) atau
RTFOT (SNI-03-6835-2002) dan SNI 06-2441-1991 dengan berat hilang < 0,8 %.
2.6.3

2.6.4
S
jM
5
h
v
y
r
o
b
t
u
p
m
k
g
n
id
a
ls
e
3
6
c
1
,
Prosedur Pengujian

Data Pengujian

Dikerjakan tanggal
Selesai tanggal
Nama Penguji
= Senin, 1 Februari 2016
= Senin, 1 Februari 2016
= Salma Neni.K.P
Ulfie Nadiah.K
Genna Budhiantari
Ayangga Mahardika
Tabel 2.6 Data Pengujian Kehilangan Berat Akibat Pemanasan dengan Thin-
Film Oven Test (TFOT)
No Kegiatan Uraian
1 Pembukaan Contoh Contoh dipanaskan Pembacaan suhu
Mulai jam = 09.30 oven = 60C
Selesai jam = 09.45
2 Mendinginkan Dididamkan di suhu ruangan
Contoh Mulai jam = 09.50
Selesai jam = 10.50
3 Pemeriksaan Kehilangan berat pada suhu Pembacaan suhu
163 waterbath = 163
Mulai jam = 11.00
Selesai jam = 16.05

Tabel 2.6 Data Pengujian Kehilangan Berat Akibat Pemanasan dengan Thin-
Film Oven Test (TFOT)
Sampel I Sampel II
Berat Cawan + Aspal Keras 86.2140 g 90.4578 g
Berat Cawan Kosong 31.3420 g 30.1350 g
Berat Aspal Keras 54.8720 g 60.3228 g
Berat Sebelum Pemanasan 86.2140 g 90.4578 g
Berat Sesudah Pemanasan 86.2102 g 90.4562 g
Berat Endapan 0.0038 g 0.0016 g
Kehilangan Berat (%) 0.0044 % 0.0018 %
0.0031
Rata-rata (%) %
Kesulitan : Sedikit sulit memahami mengenai pengujian ini karena tidak ada waktu
untuk mendemonstrasikan secara langsung prosesnya

2.6.5 Kesimpulan dan Dokumentasi


Dari data didapatkan nilai kehilangan berat sebesar 0.0044% dan 0.0018%
dengan rata-ratanya 0.0031%. Dengan spesifikasi SNI 06-2441-1991 yaitu berat
hilang < 0,8 %. Maka hasil pengujian telah memenuhi spesifikasi.
.7 Viskositas Aspal Cair
2.7.1 Definisi dan Tujuan
Untuk menentukan kekentalan dengan metode empiris dari saybolt dari aspal,
minyak untuk jalan atau sisa destilasi aspal cair pada suhu antara 21C-99C. Waktu
yang diperlukan untuk mengalirkan suatu bahan sebanyak 60 ml dalam detik pada
suatu tertentu melalui lubang furol (furol orifice) yang telah di standarkan dan
dinyatakan dalam S.F.S (Saybolt Furol Second).

2.7.2 Spesifikasi
j6
B
M
v
L
A
g
T
o
r
m
b
d
u
c
p
k
t
n
ih
a
ls
e
w
0
2.7.4
Spesifikasi viskositas menggunakan viskositas aspal cair dengan metode SNI
06-441-2000 dengan Tipe Aspal PEN 60-70 300

2.7.3 Prosedur Pengujian

Data Pengujian
Prt No.
Contoh dari
Jenis contoh
Diterima tanggal
Dikerjakan tanggal
Selesai Tanggal
:
:
:
:
: 15 Februari 2016
: 15 Februari 2016

PENGUJIAN VISKOSITAS
AASHTO T 72-90
Nama penguji :
1. Salma Neni K.P
2. Ulfie Nadiah K.
3. Genna Budhiantari
4. Ayangga Mahardika
PEMBACAAN WAKTU PEMBACAAN SUHU
Persiapan mulai jam : 17.06 27
Peralatan mulai jam : 17.09 27
Pemanasan mulai jam : 17.09 27
S/d 60 C selesai jam : 17.24 60
Pemeriksaan mulai jam : 17.30 60
Selesai jam : 17.33 60

Viskositas s. F 60oC CONTOH


Waktu (s) Cst
Pengamatan I (Furol) 379 798
Pengamatan II (Furol) 581 1230,4
Kesulitan : Mesin tidak dinyalakan sehingga mengakibatkan waktu yang diperlukan
untuk mencapai 60C lebih lama karena mesin masih panas.

2.7.5 Kesimpulan dan Dokumentasi


Dari pengujian ini diketahui bahwa waktu yang diperlukan untuk mengisi
60ml labu viskometer adalah 379 detik dan Cst (furol) yang diperoleh sebesar
798.Spesifikasi viskositas menggunakan viskositas aspal cair dengan metode SNI 06-
441-2000 dengan Tipe Aspal PEN 60-70 300. Maka hasil pengujian telah memenuhi
spesifikasi.
Gambar 2. Viskometer saybolt furol

Gambar 2. Penuangan aspal cair