Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Polipropilen

Polypropylene / Polipropilen merupakan polimer jenis termoplastik, yaitu


dapat meleleh bila dipanaskan dan bila didinginkan dapat kembali kebentuk
semula. Polipropilen dihasilkan dari reaksi polimerisasi propilen dengan bantuan
katalis. Katalis yang digunakan adalah katalis Ziegler-Natta yang mana dapat
menghasilkan polipropilen dengan keteraturan tinggi dalam konfigurasi
polimernya.

Polimer yang dihasilkan PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk. Plant PP


Production Train II adalah polimer dengan jenis homopolimer dan kopolimer
random (random copolymer), pengelompokkan jenis itu didasarkan atas struktur
polipropilen atau penggunaan bahan aditif dalam proses produksi polipropilen.

2.1.1. Homopolimer

Homopolimer adalah polimer yang disusun oleh monomer-monomer


sejenis dan diproduksi secara langsung dalam sebuah reactor. Penggunaan produk
akhir polimer jenis ini untuk aplikasi yang memerlukan sifat-sifat kekakuan,
kekasaran dan kuat tarik yang tinggi.

Karakteristik homopolimer adalah sebagai berikut:


a. Memiliki berat jenis paling ringan dengan perbandingan berat dan
kekuatan yang tinggi
b. Memiliki daya tahan panas yang paling tinggi
c. Kejernihannya baik
d. Permukaan kristalnya halus

e. Tahan terhadap tumbukan, tahan lembab, tahan abrasi dan tahan gesekan

2.1.2. Kopolimer Acak (Random Copolymer)

Kopolimer cak (Random Copolymer) adalah ko-polimer yang


mengandung etilen atau monomer olefin lain yang langsung digabungkan pada

9
saat pertumbuhan rantai polimer dalam sebuah reactor. Produk jenis ini
menghasilkan plastik yang lebih bening dibanding jenis plastik homopolimer.

Karakteristik random copolymer adalah sebagai berikut:


a. Kristalinitas rendah
b. Lebih jernih
c. Titik lelehnya lebih rendah
d. Kekakuannya lebih rendah
e. Kekuatan susut lebih rendah
f. Tahap terhadap tumbukan

Produk-produk tersebut digunakan untuk injection molding, benang, serat


dan film. Produk tersebut dibuat dalam berbagai spesifikasi untuk memenuhi
konsumen yang bermacam-macam.

2.1.3. Kopolimer Impak (Impact Copolymer)


Kopolimer impak (impact copolymer) bukan merupakan polimer
sesungguhnya karena merupakan campuran homopolimer dengan karet propilen-
etilen. Jenis ini diproduksi secara bertahap menggunakan dua reactor. Tahap
pertama yaitu pembentukan homopolimer propilen di dalam reactor I dan
dilanjutkan dengan pencampuran ko-polimer etilen-propilen di dalam reactor II.
Krakteristik impact copolymer adalah sebagai berikut:
a. Kekakuan dan kekerasannya kurang bila dibandingkan dengan
homopolimer
b. Melewati dua atau lebih fasa lelehan dengan titik leleh tinggi akibat
kandungan homopolimer didalamnya
c. Terdapat fasa karet yang terputus-putus, fasa keduanya menyebar
d. Tidak tembus cahaya (opaque)

e. Ketahanan terhadap tumbukan dan temperature cukup rendah

Berdasarkan kualitasnya, produk polipropilen dapat digolongkan menjadi


tiga jenis, yaitu:
1. Prime
Merupakan produk yang memenuhi spesifikasi yang diinginkan
2. Near Prime
Merupakan produk yang memiliki penyimpangan yang relatif kecil dari
spesifikasi yang diinginkan
3. Utility
Merupakan produk yang tidak memenuhi kwalitas yang diinginkan.

10
Selain ketiga jenis kualitas produk tersebut, sebagai hasil sisa dari produk
juga dihasilkan enam jenis limbah (scrap) yang masing-masing memiliki nilai jual
tertentu dan disimpan di gudang pokok. Keenam jenis hasil sisa tersebut yaitu:

1. Rebagging
Merupakan produk yang dikumpulkan dari tumpahan pellet akibat karung
yang berlubang atau rusak dari proses bagging maupun loading. Produk ini
dikemas dalam karung dan masih dapat diolah tetapi harus
dipertimbangkan adanya kontaminasi.
2. Trash
Merupakan produk yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan tetapi ukuran
pelletnya lebih besar atau lebih kecil dari yang ditentukan
3. Sweeping
Merupakan produk yang dikumpulkan dari tumpahan pellet namun
kandungan pengotornya banyak
4. Dust
Merupakan debu dari resin yang dihasilkan yang harus dihilangkan pada
proses produksi
5. Resin
Merupakan bubuk hasil reaksi yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak
memenuhi kualifikasi sehingga tidak diproses menjadi pellet
6. Bongkahan

Merupakan lelehan resin yang keluar dari pelletizer dan memadat yang
harus dibuang karena adanya masalah dalam proses produksi

Polipropilena memiliki resistansi tinggi terhadap zat kimia, larut dalam


hidrokarbon alifatik dan aromatik berberat molekul tinggi. Pada temperatur tinggi.
Polipropilena juga dapat teroksidasi oleh oksidator seperti H2SO4 dan HNO3
pekat. Hal ini dikarenakan pada struktur kimia polipropilena terdapat atom C
primer, sekunder, dan tersier. Atom H yang terikat pada atom C tersier pada rantai
molekul polipropilena bersifat kurang stabil dibandingkan dengan yang terikat
pada atom C primer dan sekunder.

Titik leleh termodinamika untuk propilena kristal murni adalah 187,7oC,


yang diperoleh melalui ekstrapolasi pada kristaisasi polimer secara isothermal.
Nilai tersebut lebih tinggi sekitar 23-28oC daripada yang diperoleh dari sampel
komersial pada kondisi analisis normal. Untuk polipropilena isotaktik, Tq berkisar

11
dari -13 sampai 0oC, sedangkan Tg untuk polipropilena ataktik adalah dari -18
sampai -5oC.
Tabel 2.1. Sifat Fisik Polipropilen
Parameter Nilai
Indeks Bias
1.49
Tensile Strength (psi)
4300 - 5500
Elongation (%)
200 700
Tensile Modus (103, psi)
1.6 2.3
Impact strenght (ft-lb/in of notch)
0.5 2.0
Densitas
0.855 gr/cm3
Titik Leleh
160oC

Polipropilen mempunyai ketahanan yang baik terhadap air, pelarut, lemak,


minyak, alkali, dan bahan-bahan kimia umum lainnya. Contoh-contoh pelarut
yang digunakan adalah karbon tetraklorida, xylene, bromin, kloroform, dan
terpenting. Larutan eter bisa menghilangkan kekuatan pada polipropilen. Selain
itu polipropilen dapat dirusak oleh oksidator kuat seperti asam sulfat 98% dan
asam nitrat.

Gambar 2.1. Rumus Struktur Polipropilen

1. Struktur Molekul Polipropilen


Kristalinitas merupakan sifat penting yang terdapat pada polimer.
Kristalinitas merupakan ikatan antara rantai molekul sehingga menghasilkan
susunan molekul yang lebih teratur. Pada polimer polipropilena, rantai polimer
yang terbentuk dapat tersususn membentuk daerah kristalin (molekul tersususn
teratur) dan bagian lain membentuk daerah amorf (molekul tersususn secara tidak
teratur).

12
Dalam struktur polimer atom-atom karbon terikat secara tetrahedral
dengan sudut antara ikatan C-C 109,5o dan membentuk rantai zigzag planar.
Untuk polipropilena struktur zigzag planar dapat terjadi dalam tiga cara yang
berbedabeda tergantung pada posisi relative gugus metal satu sama lain di dalam
rantai polimernya. Ini menghasilkan struktur (a) isotaktik, (b) ataktik dan (c)
sindiotaktik.

Gambar 2.2. Struktur tiga dimensi dari polipropilena

Ketiga struktur polipropilena tersebut pada dasarnya secara kimia berbeda


satu sama lain. Polipropilena ataktik tidak dapat berubah menjadi polipropilena
sindiotaktik atau menjadi struktur lainnya tanpa memutuskan dan menyususn
kembali beberapa ikatan kimia.

Struktur yang lebih teratur memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk
berkristalisasi dari pada struktur yang tidak teratur. Jadi, struktur isotaktik dan
sindiotaktik lebih cenderung membentuk daerah kristalin dari pada ataktik.

13
Polipropilena berstruktur stereogular seperti isotaktik dan sindiotaktik adalah
sangat kristalin, bersifat keras dan kuat.

Dalam struktur polipropilena ataktik gugus metal bertindak seperti cabang-


cabang rantai pendek yang muncul pada sisi rantai secara acak. Ini mengakibatkan
sulitnya untuk mendapatkan daerah-daerah rantai yang sama (tersusun) sehingga
mempunyai sifat kristalin rendah menyebabkan tingginya kadar oksigen pada
bahan tersebut sehingga bahan polimer ini mudah terdegradasi oleh pengaruh
lingkungan seperti kelembaban cuaca, radiasi sinar matahari dan lain sebagainya.

2. Manfaat Polipropilen

Kebanyakan barang dari plastik untuk keperluan medis atau labolatorium


bisa dibuat dari polipropilena karena mampu menahan panas di dalam autoklaf.
Sifat tahan panas ini menyebabkannya digunakan sebagai bahan untuk membuat
ketel (ceret) tingkat-konsumen.

Wadah penyimpan makan yang terbuat darinya takkan meleleh di dalam


mesin cuci piring dan selama proses pengisian panas industri berlangsung. Untuk
alasan inilah, sebagian besar tong plastik untuk produk susu perahan terbuat dari
propilena yang ditutupi dengan foil aluminium (keduanya merupakan bahan
tahan-panas). Seusai produk didinginkan, tabung sering diberi tutup yang terbuat
dari bahan yang kurang tahan panas, seperti polietilena berdensitas rendah
(LDPE) atau polistirena. Wadah seperti ini merupakan contoh yang bagus
mengenai perbedaan modulus, karena tampak jelas beda kekenyalan LDPE (lebih
lunak, lebih mudah dilenturkan) dengan PP yang tebalnya sama.

Jadi wadah penyimpan makanan dari polipropilena sering memiliki tutup


yang terbuat dari LDPE yang lebih fleksible agar bisa tertutup rapat-rapat.
Polipropilena juga bisa dibuat menjadi botol sekali pakai untuk menyimpat
produk konsumen berbentuk cairan atau tepung, meksi HDPE dan polietilena
tereftalatlah yang umum dipakai untuk membuat botol semacam itu. Ember
plastik, baterai mobil, kontainer penyejuk, piring, dan kendi sering terbuat dari
polipropilena atau HDPE, keduanya memiliki penampilan, rasa, serta sifat yang
hampir sama pada suhu ambien.

14
Gambar 2.3. Tutup kotak permen dari Polypropylene

Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang tak


tertenun. Sekitar 50% digunakan dalam popok atau berbagai produk sanitasi yang
dipakai untuk menyerap air (hidrofil), bukan yang secara alami menolak air
(hidrofobik). Penggunaan tak tertenun lainnya yang menarik adalah saringan
udara, gas, dan cair dimana serat bisa dibentuk menjadi lembaran atau jaring yang
bisa dilipat untuk membentuk kartrij atau lapisan yang menyaring dalam batas-
batas 0,5 sampai 30 mikron.

Aplikasi ini bisa ditemukan di dalam rumah sebagai saringan air atau
saringan tipe pengondisian udara. Wilayah permukaan tinggi serta polipropilena
hidrofobik alami yang tak tertenun merupakan penyerap tumpahan minyak yang
ideal dengan perintang apung yang biasanya diletakkan di dekat tumpahan minyak
di sungai.

Militer AS pernah menggunakan polipropilena atau 'polypro' untuk


membuat lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang atau celana
dalam yang panjang. (Saat ini, poliester menggantikan polipropilena dalam
berbagai aplikasi di militer AS. Kaos dari polipropilena tidak mudah terbakar, tapi
bisa meleleh yang berakibat pada bekas terbakar pada bagian baju yang terkena
apapun jenis ledakan atau api.

3. Degradasi Polypropylene

15
Polipropilena dapat mengalami degradasi rantai saat terkena radiasi
ultraungu dari sinar matahari. Jadi untuk penggunaan propilena di luar ruangan,
bahan aditif yang menyerap ultraungu harus digunakan. Jelaga (celak) juga
menyediakan perlindungan dari serangan UV. Polimer bisa dioksidasi pada suhu
yang tinggi, merupakan permasalahan yang umum dalam operasi pencetakan.
Antioksidan normalnya ditambahkan untuk mencegah degradasi atau oksidasi
polimer.

Biosida amonium kuartener serta olaamida yang bocor dari plastik


polipropilena ditemukan memengaruhi hasil eksperimen. Karena polipropilena
digunakan sebagai wadah penyimpan makanan seperti yoghurt, permasalahan ini
sedang dipelajari.

2.2. Bahan Baku dan Bahan Pembantu Produksi Polipropilen

2.2.1. Propilen
Bahan baku utama yang digunakan dalam produksi polipropilen adalah
propilen. Propena, juga dikenal dengan propilen adalah senyawa organik tak jenuh
dengan rumus molekul C3H6. Mempunyai satu ikatan rangkap dua dan merupakan
senyawa alkena paling sederhana kedua setelah etena.

Propilen biasanya diperoleh dari hasil perengkahan steam nafta dan gas oil
pada temperatur 700 950oC. Proses ini biasanya menghasilkan propilen dengan
kemurnian 90 95%. Untuk menjadi propilen dengan spesifikasi polimerisasi
maka propilen tersebut harus dimurnikan hingga 99,5%. Jumlah propilen yang
dibutuhkan bergantung pada jumlah produk yang dihasilkan dan jumlah produk
yang dihasilkan bergantung permintaan pasar.

Berdasarkan Material safety data sheet, bahaya yang mungkin timbul


dalam penanganan propilen antara lain:
a. Bahaya kebakaran
Apabila terjadi kebakaran, sumber api jangan disiram dengan air karena
dapat menilbulkan pembentukan busa dan meningkatkan intensitas api. Akan
tetapi gunakan air untuk menyirami daerah di sekeliling sumber api. Gunakan
pakaian pelindung dan alat bantu pernapasan
b. Bahaya kesehatan

16
Bisa menyebabkan luka bakar dingin, gejala yang timbul jika uapnya
terhirup antara lain sakit kepala, rasa kantuk, pusing, susah konsentrasi, muntah,
hilang kesadaran dan kematian jika berada dalam lingkungan yang kadar
oksigennya rendah.
c. Bahaya kebocoran

Jika terjadi kebocoran, hilangkan segala sumber api seperti alat-alat


listrik, peralatan-peralatan lain yang dapat menimbulkan api, sumber api langsung
dan lain-lain. Uap propilen dapat menyebar dengan cepat.

Pada kondisi atmosfir, propilen berbentuk gas yang lebih berat dari udara
dan mempunyai aroma kemanis-manisan. Senyawa ini mudah teroksidasi dan
dapat dibakar bila telah mencapai temperature penyulutan minimumnya. Propilen
juga tidak baik untuk kondisi panas (temperature 70oC), percikan api dan flame,
tekanan diatas 400 psig. Dibanding dengan propane dan etilena, propilen lebih
reaktif karena adanya gugus metal dan ikatan rangkap yang tidak simetris.

a. Sifat Fisik Propilen :


Berat molekul : 42,0804 kg/kmol
Titik beku : -185 oC
Titik didih pada 748 mmHg : - 48oC
Suhu Kritis : 91,4oC
Tekanan Kritis : 45,6 atm
Densitas cair pada 223 K : 0,612 g/cc
Viskositas : 1,56 cp
Entalpi pembentukan standar : 62,72 kj/mol
Indeks bias : 1,3567
Kelarutan pada 20oC, 1 atm ml gas/100 ml pelarut :
air : 44,6
Etanol : 1250

Asam asetat : 524,5

b. Sifat Kimia Propilen


Sifat kimia yang khas dari propilen adalah satu ikatan rangkap
dan atom hidrogen pada rumus bangun propilen seperti tampak pada
gambar :

17
Gambar 2.4. Rumus bangun Propilena

Atom karbon nomor 1 dan 2 mempunyai bentuk trianguler


planar seperti yang terdapat pada etilen. Atom-atom ini tidak bebas
berotasi karena adanya ikatan rangkap tadi. Atom karbon nomor 3
adalah tetrahedral, seperti pada metana.

Atom-atom hidrogen yang terikat pada atom karbon ini adalah


hidrogen asiklis ikatan rangkap yang ada pada propilen terdiri dari satu
ikatan sigma ( ) yang terbentuk dari overlapping dua orbital sp2 dan
satu ikatan phi () yang terbentuk diatas dan dibawah ruang antar dua
karbon dengan sisi dua orbital p ikatan phi () bertanggung jawab untuk
beberapa reaksi dengan senyawa ini. Ikatan berperan sebagai sumber
elektron untuk reaksi elektrofilik. Contoh sederhana adalah reaksi adisi
dan hidrogen atau suatu halogen.

CH3CH = CH2 + H2 CH3CH2CH3


CH3CH = CH2 + Cl2 CH3CHClCH2Cl

Beberapa reaksi propilen diantaranya adalah :


a) Alkilasi
Reaksi alkalisi terhadap benzena oleh propilen dengan adanya
katalis AlCl3 akan menghasilkan suatu alkil benzena. Reaksi:

C6H6 + C3H6 C6H6CH(CH3)2

b) Khlorinasi
Alkil klorida dapat dibuat dengan cara khlorinasi dan non katalitik
terhadap propilen fase gas pada suhu 500oC dalam reactor

18
adiabatik. Prinsip reaksi ini terdiri dari substitusi sebuah atom
khlorinasi terhadap atom hidrogen pada propilen. Reaksi :

AlCl3
Cl2 + CH2CHCH3 CH2CHCH2Cl + HCL

c) Oksidasi
Propilen dapat dioksidasi menjadi akrolein dengan adanya katalis
CuO. Umpan masuk reaktor dengan komposisi 20% volume
propilen, 20% volume udara dan 60% volume steam dengan waktu
kontak satu detik. Pengambilan produk akrolein adalah dengan
quench serubbing effluent reaktor menggunakan campuran air dan
propilen.

2.2.2. Etilen
Etilen adalah senyawa alkena paling sederhana yang terdiri dari empat
atom hidrogen dan dua atom karbon yang terhubungkan oleh suatu ikatan
rangkap. Karena ikatan rangkap ini, Etilen disebut pula hidrokarbon tak jenuh
atau olefin. Etilen digunakan terutama sebagai senyawa antara pada produksi
senyawa kimia lain seperti plastik.

Sama halnya dengan propilen, etilen juga merupakan gas yang sangat
reaktif. Kontak dengan agen pengoksida, halogen, asam, aluminium klorida dan
halocarbon harus dihindari. Bahaya yang mungkin terjadi adalah bahaya
kebakaran dan bahaya kesehatan. Jika terjadi kebakaran atau cairan tumpah,
pindahkan seluruh sumber titik api dan kurangi kadar gas di udara dengan kabut
atau semprotan air. Tutup kebocoran jika tidak beresiko. Zat pemadam yang dapat
digunakan adalah CO2, Semprotan air dan dry chemical.

a. Sifat Fisik Etilen :


Rumus molekul : C2H4
Berat molekul : 28,05 g/mol
Kenampakan : Gas tidak berwarna
Klasifikasi (oleh Uni Eropa) : Sangat mudah terbakar
Massa jenis : 1,178 kg/m3 di 15 C, fase gas
Titik lebur : -169,2 C (104,0 K, -272,6 F)
Titik didih : -103,7 C (169,5 K, -154,7 F)

19
Flash point : -136 C
Auto ignition temperature : 542,8 C
Kelarutan di air : 3,5 mg/100 ml (17 C)
Kelarutan di etanol : 4,22 mg/L

Keasaman (pKa) : 4

b. Sifat Kimia Etilen


Pada suhu kamar, molekul etena tidak dapat berputar pada ikatan
rangkapnya sehingga semua atom pembentuknya berada pada bidang yang
sama. Sudut yang dibentuk oleh dua ikatan karbon-hidrogen pada molekul
adalah 121,3, sangat dekat dengan sudut 120 yang diperkirakan
berdasarkan hibridisasi ideal sp2.

Etilen/etena adalah senyawa organik yang paling banyak dihasilkan


di dunia. Setiap tahunnya, produksi etilen di seluruh dunia melebihi 100
miliar ton. Etilen digunakan terutama sebagai senyawa antara pada
produksi senyawa kimia lain seperti plastik. Etilen juga dibentuk secara
alami oleh tumbuhan dan berperan sebagai hormon. Ia diketahui terutama
merangsang pematangan buah dan pembukaan kuncup bunga.

2.2.3. Katalis Titanium (IV) Chlorida (TiCl4)


Titanium tetrachloride (TiCl4) adalah precursor yang digunakan untuk
sintesis titanium oxide nanopartikel. Senyawa ini bersifat korosif dan harus
disimpan pada suhu 15 - 25oC dan senyawa ini juga sangat reaktif terhadap air.
Katalis ini berbentuk slurry agar mudah dimasukkan kedalam reactor.

a. Sifat Fisik TiCl4 :


Rumus molekul : TiCl4, Titanium (IV) Chlorida
Densitas (30oC) : 1,726 gr/ml
Titik didih : 136,4oC
Titik Kritis : 507,4 K

Tekanan Kritis : 29,3 atm

b. Sifat Kimia TiCl4 :

20
Sangat reaktif denga air. Kontak dengan udara lembab akan
menghasilkan gas yang mudah terbakar dan dapat menyebabkan iritasi jika
terhirup.

2.2.4. Ko-katalis (TEAL, Tri Ethyl Aluminium)


Fungsi dari kokatalis dalam produksi polipropilen adalah sebagai
pembentuk kompleks katalis aktif yang mempermudah terjadinya polimerisasi.
Kokatalis yang digunakan adalah TEAL yang berwujud cairan pada kondisi
ruang, bening, dan tidak berwarna.

TEAL terdiri dari trietil alumunium 92% berat dan senyawa lain seperti tri
propil alumunium, tri n-butil alumunium, tri isobutyl alumunium, alumunium,
klor serta hibrida dalam bentuk AlH3CH4, etilen dan isobutilen. TEAL berfasa cair
pada kondisi ruang, transparan dan tidak berwarna.

TEAL bersifat phyrophoric, yaitu sangat reaktif terhadap udara dan air.
TEAL dibeli bersama tangki penyimpanan. Hasil dekomposisi TEAL berbahaya,
dapat berupa oksida karbon, oksida alumunium dan uap mudah terbakaryang
mengandung debu. Jika hasil dekomposisi terhirup lama dapat menimbulkan
kerusakan paru-paru.

a. Sifat Fisik TEAL :


Rumus molekul : Al(C2H5)3
Densitas : 0,835 g/ml
Titik didih : 186oC (1 atm)
Titik lebur : -58oC
Titik kritis : 507,4 K

Tekanan kritis : 29,3 atm

b. Sifat Kimia TEAL

Sangat reaktif terhadap air dan udara. TEAL bersifat phyrophoric


yaitu terbakar spontan jika berkontak dengan udara dan akan meledak bila
berkontak dengan air.

2.2.5. Nitrogen (N2)

21
Nitrogen digunakan karena bersifat inert (tidak bereaksi) sehingga tidak
mengganggu reaksi polimerisasi. Sifat lain dari nitrogen adalah tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak mudah terbakar. Niterogen yang digunakan dalam proses
memiliki kemurnian 99,9% dengan kandungan oksigen kurang dari 6 ppm.
a. Sifat Fisik Nitrogen :
Rumus Molekul : N2
Massa atom : 14,0067 g/mol
Titik lebur : -210 C
Titik didih : -195,8 C

Massa jenis : 1,2151 gr/cm3

b. Sifat Kimia Nitrogen


Reaksi nitrogen dengan Oksigen
N2 (g) + O2 (g) 2NO (g)

O2N2 (g) + O2 (g) 2NO2 (g)

Rekasi nitrogen dengan fluor

N2 (g) + 3F2 (g) 2NF2 (g)

Reaksi Nitrogen dengan logam


N2 (g) + 6Li (s) 2 LiN (g)
N2 (g) + 6Ba (s) 2 BaN (g)

N2 (g) + 6Mg (s) 2 MgN (g)

2.2.6. Hidrogen (H2)


Hidrogen merupakan gas yang paling ringan, tidak berwarna dan tidak
berbau serta dalam air kelarutannya kecil. Dalam reaksi polimerisasi, hydrogen
berfungsi sebagai terminator akhir reaksi sehingga diperoleh polimer dengan
panjang rantai dan berat molekul tertentu. Panjang pendeknya rantai yang
terbentuk dapat dilihat dari kekentalan aliran produk (melt flow).

a. Sifat Fisik Hidrogen :


Densitas : 0,06948 gr/ml
Titik didih : -252,8oC
Titik lebur : -259,2oC
Titik kritis : 33,2 K

22
Tekanan kritis : 12,762 atm
Densitas Kritis : 0,031 g/ml
Viskositas : 0,013 cp

Spesifik panas : 19,7 g/mol oK

b. Sifat Kimia Hidrogen

Hidrogen bereaksi dengan O2 membentuk air pada kondisi yang


sesuai. Reaksi berjalan lambat pada suhu di bawah 55oC, tetapi pada suhu
tinggi reaksi disertai ledakan yang keras. Hidrogen dapat bereaksi dengan
golongan halide dan dapat mereduksi oksida logam pada kisaran
temperature tertentu. Pada temperature tinggi hydrogen bereaksi dengan
karbon menghasilkan metana.

2.2.7. Zat Aditif


Untuk mendapatkan produk propilen dengan sifat tertentu yang diinginkan
maka diperlukan penambahan zat aditif saat proses pembuatan polipropilen.
Bentuk dari aditif adalah serbuk, padatan dan cairan. Aditif ditambahkan pada
resin sebelum proses pelleting. Aditif padat ditambahkan ke resin pada mastermix
blender. Sedangkan aditif cair ditambahkan pada mixer hooper sebelum extruder.
Aditif yang ditambahkan berbeda-beda tergantung pada kegunaan akhir produk.
Aditif yang digunakan oleh PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk. adalah sebagai
berikut:
a. Acid receptor (Calcium Stearate-Zinc Oxide)
Untuk Menetralisir residu katalis yang bersifat asam dan dapat
menyebankan korosi.

b. Anti Block Agent (Celite White Mist)


Untuk mencegah produk plastic menempel.
c. Anti Oxidant (Irganox 1010)
Untuk mencegah terjadinya oksidasi rantai polimer dan berwarna kuning.
d. Clarifying Agent (Millad 3988)
Untuk membuat produk plastic terlihat jenih.
e. Heat Stabilizer (Everfos-168)
Untuk mencegah terjadinya degradasi akibat pengaruh udara dan panas.
f. Lubricant (Arcawax C)
Sebagai pelican ketika molding.
g. Nucleating Agent (Millad 3905)
Untuk produk plastic yang pada aplikasinya sering mengalami benturan.

23
h. Slip Agent (Eucamid)
Untuk membuat produk plastic lebih licin.
i. UV Stabilizer (Cysorb UV-3346)
Untuk mencegah kerusakan akibat sinar matahari.

2.3. Proses Produksi Polipropilen

Proses produksi Polipropilen dapat dilakukan dengan berbagai fasa. Salah


satunya adalah fasa gas. Selain itu dapat juga dilakukan menggunakan fasa cair
dan fasa slurry. Berikut adalah tabel perbandingan dari berbagai proses produksi
yang dapat dilakukan dalam memproduksi Polipropilen.

Tabel 2.2. Perbandingan proses produksi polipropilen

Perbandingan Proses Produksi Polipropilen Fasa Gas, Cair dan Slurry


Fasa reaksi Fasa cair Fasa gas Fasa slurry
Tekanan 5 50 bar 10 60 bar 12 bar
Temperatur (oC) 55 - 80 55 - 100 60 - 65
Pemakaian pelarut Ya Tidak Ya
Kapasitas total 400.000 65.000 -
(ton/thn) 1.350.000 1.500.000

Untuk memproduksi Polipropilen, dapat dilakukan dengan fasa gas, fasa


cair dan fasa slurry. Dalam industry, proses yang sering dipakai adalah proses fasa
gas, dikarenakan tidak memerlukannya solvent/pelarut dan kemungkinan
terjadinya aglomerisasi lebih kecil.

Dalam proses produksi Polipropilen dalam fasa gas memiliki beberapa


proses polimerisasi diantaranya Proses Teknologi Unipol, Borstar, Amoco dan
Chisso. Dalam setiap proses tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangannya tersendiri.

2.3.1. Teknologi UNIPOL


Pada tahun 1960-an, Union Carbide mengembangkan teknologi
polimerisasi etilen pada fasa gas menjadi polimerisasi untuk propilen dengan
menggunakan system katalis sangat aktif dari Shell Chemical. Katalis Shell yang
dibangun pada tahun 1981 merupakan katalis yang memiliki aktivitas tinggi,
stereospesifisitas yang tinggi sehingga dengan jumlah katalis yang sedikit dapat

24
digunakan untuk memproduksi satu pon polipropilen. Katalis milik Shell ini ada
tiga macam yaitu SHAC-103, SHAC-201 dan SHAC-205. Versi terbaru, SHAC-
201 memberikan aktivitas tertinggi dan kemampuan untuk mencapai derajat
isotaktik hingga 98%.

Proses sedehana ini, ekonomis dan tangguh. Proses Unipol menggunakan


dua buah reactor unggun terfluidakan yang tersusun secara seri. Satu reactor
digunakan untuk memproduksi homopolimer dan reactor lain berukuran lebih
kecil digunakan untuk memproduksi kopolimer. Bagian produksi utama proses ini
terdiri dari penanganan katalis, pemurnian propilen untuk menghilangkan
sejumlah kecil racun katalis, polimerisasi, pencucian katalis, pembuatan pellet dan
penyimpanan.

Pada proses ini, propilen segar dilewatkan ke dalam degassing column


untuk menghilangkan gas ringan dan melalui molecular sieve atau AL2O3 dryer
untuk menghilangkan kandungan air sebelum memasuki reactor.

Proses poliemrisasi dilangsungkan dalam system reactor yang terdiri dari


bejana tekan dengan bagian atas yang membesar. Panas reaksi dipindahkan
dengan mendinginkan gas recycle dengan alat penukar panas. Katalis yang
digunakan pada proses ini adalah TiCl4 dengan penyangga MgCl2, kokatalis Al-
trialkil, ditambah donor electron berupa alkylphthalate dan alkoxysilanes.
Temperature operasi polimerisasi umumnya 65oC dengan tekanan 30 bar pada
reactor homopolimer dan tekanan 20 bar pada reactor kopolimer. Diagram alir
dari proses ini dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Proses ini telah digunakan pada 36 pabrik di dunia dengan kapasitas


masing-masing berkisar antara 80000-260000 ton/tahun. Lisensor dari proses ini
adalah Union Carbide Corp. Teknologi inilah yang digunakan di PT. Chandra Asri
Petrochemical Tbk.

25
Gambar 2.5. Diagram Alir Proses Unipol

Keuntungan dari proses UNIPOL adalah sebagai berikut:


Secara mekanik sederhana dan teknloginya tangguh
Satu tahap proses untuk homopolimer dan acak, dua tahap untuk
kopolimer impak
Tidak ada bagian yang bergerak dalam reactor, tdak ada siklon atau alat
pemisahan mekanik gas/padat
Kondsi operasi yang lunak, tidak ada solven yang perlu dikembalikan
Resin mengalir dengan gravitasi
Menggunakan kembali aliran vent untuk yield monomer yang tinggi
Konsistensi produk akhir yang tinggi
Mempunyai pengendalian proses yang baik

Keuntungan dari proses UNIPOL secara operasional adalah sebagai berikut:


Kualitas produk yang konsisten karena keseragaman kondisi operasi dalam
suatu fluidized bed yang tercampur sempurna
Jenis produk yang fleksibel
Operasi yang stabil yang menjamin target produksi, target mutu, serta on
stream yang baik

2.3.2. Teknologi Borstar

26
Proses Borstar merupakan proses teknologi yang tangguh. Homopolimer,
kopolimer acak, kopolimer heterofasa dan kopolimer heterofasa dengan
kandungan karet tinggi dapat dihasilkan dengan memilih kombinasi reactor.
Pabrik skala komersil pertama berdasarkan teknologi ini dibangun di Austria.
Lisensor teknologi ini adalah Borealis A/S.

Polipropilen dengan melt flow berkisar antara 0,1 sampai 1200 g/10 menit
dapat dihasilkan dengan proses Borstar. Katalis yang digunakan adalah Ziegler-
Natta namun berpotensi untuk hanya menggunakan satu jenis katalis di kemudian
hari. Untuk memproduksi homopolimer dan kopolimer acak, proses terdiri dari
sebuah loop reactor dan sebuah reactor fasa gas yang tersusun secara seri. Satu
atau dua reactor fasa gas dikombinasikan dengan susunan ini untuk menghasilkan
kopolimer heterofasa.

Propilen, katalis, kokatalis, donor, hydrogen dan komonomer diumpankan


ke dalam loop reactor. Propilen digunakan sebagai medium polimerisasi
(polimerisasi curah). Loop reactor yang dirancang untuk kondisi superkritik
dioperasikan pada 80oC 100oC dan 50 60 bar. Propilen dan campuran polimer
dari loop reactor dialirkan ke reactor fasa gas unggun terfluidisasi (fluidized bed
gas-phase reactor). Dalam eaktor ini propilen terkonsumsi dalam polimerisasi.
Reaktor ini dioperasikan pada 80oC 90oC dan 25 35 bar. Propilen segar,
hydrogen dan komonomer diumpankan ke dalam reactor ini.

Untuk memproduksi homopolimer atau kopolimer acak, residu


hidrokarbon dipindahkan dari bubuk polimer dan kemudian bubuk polimer
tersebut dimasukkan ke dalam powder silo lalu dimasukkan ke dalam ekstruder.
Pada ekstruder dilakukan penambahan aditif dan pembuatan pellet.

Untuk pembuatan polimer heterofasa, polimer dari reactor fasa gas


dipindahkan ke reactor fasa gas lainnya yang lebih kecil. Pada reactor ini
kopolimer mengandung karet dibuat. Setelah langkah ini, residu hidrokarbon
dikeluarkan dan bubuk polimer dimasukkan ke bagian ekstrusi. Kondisi
polimerisasi pada setiap reactor dapat dikendalikan sehingga memungkinkan
produksi dengan kualitas standard unimodal dan board molecular weight

27
multimodal grades. Rasio laju produksi pada reaktor-reaktor dapat diatur untuk
mencapai sifat produk yang diinginkan.

Gambar 2.6. Diagram Alir Proses Borstar

Teknologi ini dapat menghasilkan produk yang luas. Polimer yang


dihasilkan memiliki sifat dari sangat kaku sampai sangat lembut. Produk yang
dihasilkan dapat diolah lagi untuk mendapatkan polipropilen yang sesuai dengan
kebutuhan konsumen. Produk yang dihasilkan memiliki sifat dasar buatan reactor
sehingga meminimalisasi perlunya pencampuran tambahan atau perlakuan setelah
di luar reactor. Kualitas yang dihasilkan cocok untuk molding, fim, serat dan pipa
untuk kebutuhan teknis.

2.3.3. Teknologi Amoco


Amoco telah mengambangkan reactor fasa gas untuk memproduksi
polipropilen homopolimer dan kopolimer. Polimerisasi berjalan dalam stirred-bed
reactor horizontal dan menggunakan monomer cair untuk mengendalikan
temperatur reaksi unggun. Amoco menggunakan katalis super aktif dengan
penyanggah titanium yang tidak memerlukan prepolimerisasi atau penghilangan
debu dan klor. Katalis yang digunakan merupakan katalis generasi keempat.

Dalam reactor, proses Amoco dapat menghasilkan homopolimer dengan


kisaran melt flow dari pecahan hingga 60 dan kopolimer acak dengan melt flow
dari pecahan hingga 80 dengan kandungan etilen hingga 5% berat. Kopolimer

28
imapak juga dapat diproduksi dengan melt flow dari pecahan hingga 60 dan
kandungan etilen dari 5 17% berat. Kelebihan proses Amoco adalah mampu
memproduksi kopolimer impak dengan kesetimbangan kekakuan tinggi dan
kekuatan impak yang baik. Proses ini terdiri dari:

a. Katalis dan kookatalis yang dimasukkan secara terpisah ke dalam reactor


b. Polimerisasi propilen secara kontinyu dalam gas yang mengandung
hydrogen dan etilen untuk memproduksi kopolimer acak dan
menggunakan monomer cair untuk memindahkan panas polimerisasi.
c. Reaktor kdua yang tersusun secara seri untuk memproduksi kopolimer
impak
d. Deaktivasi katalis yang tersisa dalam produk polimer

Dalam proses, propilen dengan kualitas chemical diumpankan ke dalam


reactor setelah sebelumnya mengalami perlakuan untuk menghilangkan racun
katalis. Katalis kemudian ke dalam reactor dalam bentuk mineral oil slurry.
Kokatalis, alumunium alkil diumpankan kedalam reactor langsung dari tempat
penyimpanan.

Sistem reaksi terdiri dari sebuah stired bed reactor berfasa gas dan daur
gas dan cairan. Propilen cair disemburkan ke dalam reactor, kemudian menguap
karena mendapatkan panas dari reaksi yang terjadi. Dengan menggunakan katalis
beraktivitas sangat tinggi, Amoco dapat mengoperasikan reactor dengan waktu
tinggal kurang dari satu jam dengan ukuran reactor yang kecil.

Hal yang sangat istimewa dari proses ini adalah rancangan reactor yang
unik sehingga memungkinkan pengadukan radial yang baik dan disperse aksial
yang rendah. Reaktor merupakan bejana tekan horizontal yang dilengkapi dengan
pengaduk mekanik. Reaktor dijaga dalam keadaan subfluidisasi dengan
menginjeksikan aliran gas daur ke bagian bawah unggun. Dengan adanya injeksi
katalis pada ujung yang satu dan pengambilan produk pada ujung yang lain,
distribusi waktu tinggal reactor ini mencapai distribusi waktu tinggal reactor
aliran sumbat. Karena distribusi waktu tinggal reactor ini mendekati reactor aliran

29
sumbat, maka katalis dan umpan segar terhindar dari bypass langsung ke reactor
kopolimer.

Reactor Amoco beroperasi pada temperatur 65 85oC dan tekanan 20 - 23


bar. Laju polimerisasi ditentukan oleh tekanan parsial monomer dalam gas daur.
Hydrogen digunakan untuk mengendalikan berat molekul dan etilen ditambahkan
untuk memproduksi kopolimer random. Laju alir gas cukup rendah untuk
menghindari terjadinya fluidisasi unggun polimer. Reaktor beroperasi sebagai
unggun yang diaduk dengan menggunakan pengaduk internal. Karena tidak ada
cairan atau bubur padatan dalam reactor, maka pada dinding reactor tidak ada
fouling.

Dalam reactor Amoco, bubuk polipropilen mengalir dari unggun teraduk


menuju reactor kopolimer melalui powder transfer system yang juga berfungsi
sebagai gas lock untuk menghindari aliran etilen kembali ke reactor pertama atau
menuju deaktivasi katalis. Nitrogen dan air digunakan untuk agensia pembunuh
dalam deactivator. Bubur kemudian dikirim langsung dari deactivator menuju
ekstruder dan pembuatan pellet.

Dalam pembuatan kopolimer impak, reactor kedua digunakan dengan


umpan tambahan etilen sebagai komonomer. Hal yang perlu diperhatikan pada
reactor kedua ini adalah penggunaan katalis yang menghasilkan partikel
homopolimer yang memiliki morfologi yang baik untuk dapat menerima
kopolimer acak etilen-propilen tanpa menghilangkan kemampuan mengalir
bubuk. Langkah penting lainnya adalah untuk menghindari katalis segar dari
reactor pertama langsung menuju reactor kedua. Sistem gas lock yang efektif juga
penting untuk mentransfer bubuk dari reactor homopolimer menuju reactor
kopolimer.

Hal penting lainnya dalam proses Amoco adalah reaksi polimerisasi dapat
dihentikan dengan mudah menggunakan umpan katalis dan isi bagian dalam
reactor dipertahankan untuk waktu yang lama tanpa kehilangan sifat resin selama
start up. Dalam keadaan darurat, reactor dapat dihentikan dengan sangat cepat

30
dengan mengeluarkan gas dari dalam reactor sehingga tekanan dapat turun. Reaksi
dapat dijalankan kembali dengan meningkatkan tekanan di dalam reactor.

Polimer dari bagian deaktivasi dialirkan menuju bagian penyelesaian


untuk ekstrusi dan pembuatan pellet. Dalam proses ekstrusi, lelehan dari ekstruder
dipotong dalam air. Temperatur die plate dijaga 280oC dengan menggunakan
kukus bertekanan tinggi. Pellet kemudian dialirkan menuju resin handling system.

Gambar 2.7. Diagram Alir Proses Amoco

2.3.4. Teknologi Chisso

Lisensor proses ini adalah Chisso Corporation. Teknologi ini merupakan


sebuah proses untuk menghasilkan homopolimer polipropilen dan kopolimer
etilen-propilen baik acak maupun teratur. Proses ini menggunakan polimerisasi
fasa gas dalam sebuah reactor aliran sumbat horizontal.

Proses ini memerlukan sebuah reactor horizontal berpengaduk dan katalis


dengan unjuk kerja tinggi yang dibuat oleh lisensor. Katalis ini memiliki
morfologi yang dikendalikan, keaktifan yang sangat tinggi dan selektifitas yang

31
sangat tinggi. Proses ini memungkinkan konsumsi energy yang rendah, sifat
kopolimer etilen-propilen yang lebih baik, produk tarnsisi yang minimum,
perolehan polimer yang tinggi dan factor operasi yang tinggi. Setiap langkah
proses telah disederhanakan sehingga teknologi ini memungkinkan investasi
modal awal yang rendah dan mengurangi biaya perakitan namun menghasilkan
produk yang seragam dan control kualitas yang baik.

Gambar 2.8. Diagram Alir Proses Chisso

Pada reactor pertama, polipropilen terus terbentuk secara kontinyu pada


tekanan rendah dengan bantuan katalis. Monomer yang teruapkan kemudian
dikondensasi dan didaur-ulang. Monomer cair dengan propilen segar disemburkan
ke dalam unggun bubuk teraduk sehingga memungkinkan pendinginan
evaporative. Bubuk kemudian dilewatkan melalui sebuah system gas-lock menuju
reactor kedua. Proses yang terjadi sama dengan reactor pertama hanya saja umpan
bukan merupakan propilen murni melainkan propilen dan etilen. Untuk
pembentukan kopolimer, reactor horizontal membuat distribusi waktu tinggal
bubuk seperti pada aliran sumbat. Unggun berpengaduk digunakan untuk
menangani kopolimer dengan etilen tinggi yang tidak mengalir atau terfluidisasi
dengan baik.

Bubuk ini dilepaskan secara periodic ke dalam system pemisahan gas-


bubuk. Bubuk ini kemudian dibersihkan melalui purge column. Pada purge

32
column, nitrogen lembab mendeaktivasi katalis dan memindahkan monomer yang
tertinggal. Monomer ini kemudian didaur-ulang. Bubuk kemudian dibuat dalam
bentuk pellet.

Tabel 2.3. Perbandingan Proses Polimerisasi Fasa Gas

Nama Proses UNIPOL Borstar Amoco Chisso


Tekanan (bar) 30 50 60 20 -23 10
Temperatur (oC) 65 80 100 65 85 55 65
Fluidized Loop reactor Stirred
Jenis reaktor Stirred bed
bed dan fluidized bed
yang digunakan reactor
reactor bed reactor reactor
Kapasitas total 80.000 65.000
200.000 1.500.000
(ton/tahun) -260.000 350.000
Union
BP
Lisensor Carbide Borealis AS Chisso Corp.
Amoco
Corp.

33