Anda di halaman 1dari 4

Perkerasan flexible

Perkerasan flexible atau lentur merupakan jenis perkerasan jalan yang menggunakan
campuran asphalt dan agregat sebagai lapisan penutup, dikatakan perkerasan flexible karena
perkerasan asphalt cenderung akan melentur mengikuti beban yang berjalan diatasnya, konsep
dasar dari perkerasan flexible adalah struktur berlapis dengan lapisan teratas diisi dengan
material yang baik untuk mendistribusikan beban secara merata ke lapisan dibawahnya, sehingga
beban yang diterima oleh lapisan dibawahnya sangat kecil dan tidak menyebabkan deformasi
yang signifikan. Jenis materil dan ketebalan dari masing masing lapisan haruslah didesain untuk
bisa bertahan terhadap perubahan temperatur dan kelembapan yang disebabkan oleh perubahan
musim atau cuaca di lokasi,
Dikutip dari Manual Desain Perkerasan yang diterbitkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum
Direktorat Jendral Bina Marga tahun 2013, jenis perkerasan jalan menggunakan perkerasan
lentur dibagi menjadi 3, yang pengklasifikasiannya berdasarkan dengan lokasi tanah eksisting
tempat dibangunnya jalan yaitu
Struktur Perkerasan (untuk lalu lintas berat) pada permukaan tanah asli

Sumber: Kemenpu RI Dirjen Binamarga, Manual Desain Perkerasan (2013)


Struktur perkerasan (untuk lalu lintas berat) pada permukaan tanah galian

Sumber: Kemenpu RI Dirjen Binamarga, Manual Desain Perkerasan (2013)

Struktur perkerasan (untuk lalu lintas berat) pada permukaan tanah timbunan
Sumber :Kemenpu RI Dirjen Binamarga, Manual Desain Perkerasan (2013)

Dari 3 jenis klasifikasi perkerasan diatas, pada setiap lapisa perkerasan terdapat 3 jenis lapisan
asphalt, yaitu AC WC (Asphalt Concrete Weather Course), AC BC (Asphalt Concrete Binder
Course), AC Base, perbedaan dari masing-masing jenis asphalt dijelaskan sebagai berikut
AC Weather Course
Sering juga disebut sebagai Surface Course, merupakan lapisan permukaan yang
dirancan untuk bisa menahan beban akibat lalu lintas padat dan perubahan pada
lingkungan yang memberikan dampak langsung terhadap lapisan permukaan dari
perkerasan, dan untuk alasan kenyamanan dan keamanan, lapisan permukaan juga harus
menyediakan ketahanan terhadap selip, kemampuan untuk mengurangi kebisingan, dan
daya tahan yang mumpuni, lapisan ini harus dirancang untuk memiliki kekakuan yang
terkontrol, dimana tidak memiliki kekakuan yang tinggi disaat cuaca dingin, untuk
menghindari retak pada lapisan
AC Binder Course
Binder course didisain untuk bisa menahan beban geser yang terjadi pada 50-70 mm
dibawah permukaan asphalt, Binder Course diletakkan dibawah Weather Couarse karena
akan sangat sulit melakukan pemadatan lapisan Weather Surface dan Binder Surface
secara bersamaan, lapisan ini dibuat dengan kadar asphalt yang lebih sedikit dan kadar
agregat yanglebih banyak jika dibandingkan lapisan Weather Surface sehingga lapisan
Binder surface relatif lebih murah dari segi biaya, dan lebih kaku,
AC Base
Merupakan bagian yang berguna untuk mendistribusikan beban akibat lalu lintas ataupun
lingkungan secara efektif sehingga lapisan dibawahnya tidak mengalami beban dan
regangan yang terkontrol, oleh karena itu lapisan Base Course ini dirancang memiliki
tingkat kekakuan yang lebih tinggi dari lapisan diatasnya, dan lapisan ini harus memiliki
ketahanan terhadap kelelahan material, lapisan ini juga bersifat permeable yang berperan
menyalurkan air yang masuk (dari hujan, lelehan salju, dan lain-lain) tersalurkan ke
saluran drainase.
Dalam pemilihan suatu jenis perkerasan, harus ditinjau juga durability ata daya tahan dari
lapisan perkerasan tersebut, untuk lapisan perkerasan asphalt, daya tahan jenis perkerasan
tersebut bisa ditinjau dari beberapa aspek diantaranya
Penuaan
Penuaan memiliki efek yang signifikan terhadap kekakuan asphalt, dimana, semakin lama
kekuatan asphalt akan semakin kuat, naun buruknya, material perkerasan asphalt akan
semakin getas, namun salah satu keunikan dari asphalt adalah kemampuan dia untuk
menyembuhkan diri sendiri, retak secara umum mudah terjadi saat musim dingin, dimana
material perkerasan asphalt menjadi kaku karena suhu, namu saat musim panas, karena
sifat viskos dari asphalt itu sendiri, terjadi yang disebut molecular remixing, sifat ini
meningkatkan durasi ketahanan dari lapisan perkerasa, namun kemampuan
menyembuhkan diri ini menurun seiring dengan bertambahnya umur dari lapisan
perkerasan ini.
Kerusakan oleh air
Sangat penting untuk menjaga aggregat tetap kering selama produksi asphalt untuk
menghasilkan adhesi bitumen yang baik, kapur juga perlu ditambahkan untuk
memfasilitasi pembentukan adhesi, dapat disimpulkan bahwa hubungan agregat kering
dan bitumen sangatlah lemah terhadap air, oleh karena itu diperlukan massa jenis yang
besar, dan permeabilitas yang rendah, untuk menjaga air agar tidak masuk dan
terperangkap di daerah ayng lemah terhadap air.
Kerusakan akibat pembekuan
Subjek kerusakan akibat pembekuan sampai saat in belum bisa dikuantifikasi, namun
mekanisme kerusakan yang terjadi bisa dijelaskan, yaitu karena air yang ada di lapisan
perkerasan mengembang dan menjadi es pada musim dingin, hal ini meningkatkan
tekanan pada matrix asphalt, dan menyebabkan retakan lokal pada daerah kontak antar
partikel, hal ini terjadi karena asphalt menjadi sangat getas saat kondisi dingin.
Biodegradation
Asphalt merupakan material yang bisa di degradasi oleh bakteria, dan ini berdampak
buruk untuk penggunaan jangka panjang dari perkerasan asphalt.

Referensi:
1. Thom, Nick. Principle of Pavement Engineering, 2nd Edition. London : ICE Publishing.
2014
2. B. Malick, Rajib; El-Korchi, Tahar. Pavement Engineering: Principle and Practice, 2nd
Edition. CRC Press. 2013
3. Kementrian Pekerjaan Umum Direktur Jendral Bina Marga. Manual Desain Perkerasan
Jalan No 02/M/BM/2013. 2013