Anda di halaman 1dari 30

PENGUKURAN JARAK, SUDUT

& BEDA TINGGI

PENGUKURAN JARAK, SUDUT & BEDA TINGGI Mulkal ST, M.Sc 1

Mulkal ST, M.Sc

1

Materi

Pengukuran Jarak Langsung

Pengukuran Jarak Tidak Langsung

Pengukuran sudut

Pengukuran Beda Tinggi

 Pengukuran Jarak Langsung  Pengukuran Jarak Tidak Langsung  Pengukuran sudut  Pengukuran Beda Tinggi

PENGUKURAN JARAK LANGSUNG

Pengukuran jarak langsung dilakukan untuk pengukuran pekerjaan teknis skala besar dan detil dengan menggunakan pita ukur dan alat bantu lainnya

detil dengan menggunakan pita ukur dan alat bantu lainnya Instrument: - Pita Ukur - Unting-unting -

Instrument:

- Pita Ukur

- Unting-unting

- Jalon/Anjir

- Pegas ukur

Variasi medan pada pengukuran langsung

1. Datar dengan jarak pendek Pada pengukuran langsung jarak pendek dan datar dapat dilakukan dengan sekali bentangan pita ukur.

dengan jarak pendek Pada pengukuran langsung jarak pendek dan datar dapat dilakukan dengan sekali bentangan pita

2. Datar dengan jarak panjang Pengukuran dilakukan dengan membuat pelurusan terlebih dahulu. Kemudian

dilakukan pengkuran tiap slag-nya.

panjang Pengukuran dilakukan dengan membuat pelurusan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan pengkuran tiap slag-nya. 5
panjang Pengukuran dilakukan dengan membuat pelurusan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan pengkuran tiap slag-nya. 5
panjang Pengukuran dilakukan dengan membuat pelurusan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan pengkuran tiap slag-nya. 5

3. Jarak miring pendek Pengukuran dilakukan dengan pita ukur mendatar dengan bantuan unting-unting

3. Jarak miring pendek Pengukuran dilakukan dengan pita ukur mendatar dengan bantuan unting-unting 6

4. Jarak miring panjang Pengkuran harus dilakukan dengan membagi-bagi dalam slag kecil. Pengukuran

dilakukan dengan pita ukur mendatar dengan bantuan unting-unting

dengan membagi-bagi dalam slag kecil. Pengukuran dilakukan dengan pita ukur mendatar dengan bantuan unting-unting 7

5. Pengukuran dengan halangan

Pengukuran dilakukan sedapat mungkin di atas halangan. Pita ukur diusahakan

sedatar mungkin dengan bantuan unting-unting

ukur diusahakan sedatar mungkin dengan bantuan unting-unting Setiap pengukuran jarak tidak cukup dilakukan sekali.

Setiap pengukuran jarak tidak cukup dilakukan sekali. Minimal harus

dilakukan dua kali pergi dan pulang

Sumber kesalahan

1.

Human error (kesalahan pembacaan, kesalahan penulisan)

2.

Faktor alam (suhu, kelembapan, angin)

3.

Instrument (rusak, penarikan tidak pas, terlalu kencang atau sebaliknya)

4.

Metode (Pelurusan tidak sempurna, terlalu banyak slag, pita ukur tidak

datar pada pengukuran slope)

Ketelitian Pengukuran Langsung

Jarak Pergi Jarak Pulang

Ketelitian =

Jarak Rata-rata

PENGUKURAN JARAK TAK LANGSUNG

Pengukuran jarak tak langsung dilakukan dengan bantuan alat seperti total station, water pass, theodolite dan lain-lain

Electromagnetic Distance Measurement (EDM)

Pengukuran jarak dilakukan dengan memanfaatkan pantulan gelombang elektromagnetik, dengan prinsip perbedaan waktu pancar dan pantul

Instrument:

- -
-
-

Total Station (TS)

Laser Scanner

Prinsip Pengukuran

Prinsip Pengukuran D = Jarak pengukuran c = kecepatan cahaya 300.000 km/detik Δt = Perbedaan waktu

D = Jarak pengukuran

c = kecepatan cahaya 300.000 km/detik

Δt = Perbedaan waktu

Pengukuran Jarak Optis

Pengukuran jarak optis adalah pengukuran jarak secara matematis menggunakan instrument ukur optis seperti theodolit atau water pass

Salah satu metode pengukuran jarak optis menggunakan batang horizontal

dengan ukuran tertentu yang ditempatkan di atas tripod pada objek yang

akan diukur jaraknya

batang horizontal dengan ukuran tertentu yang ditempatkan di atas tripod pada objek yang akan diukur jaraknya
15
15

PENGUKURAN SUDUT

Pengukuran sudut ada empat metode, yaitu :

1. Cara pengukuran seksi tunggal

2. Cara pengukuran seri ( rangkap )

3. Cara pengukuran repetisi

4. Cara pengukuran reiterasi

1. Pengukuran seksi tunggal

B

A = R 1
A = R 1

B

=

B = = R 2 - R 1

=

R 2

-

R 1

C = R 2

Langkah-Langkah Pengukuran

1. Dirikan (setel) alat ukur teodolit di atas titik B dengan bantuan alat centering-nya.

2. Buat sumbu I vertikal dan teropong bidikan pada target di A dengan cara

mematikan klem horisontal dan vertikal bila telah mendekati sasaran, dan penepatannya dengan memutar sekrup penggerak halusnya, baca lingkaran

horisontalnya misal = R 1 .

3. Buka kedua klem dan alat diputar pada sumbu I, dan bidikan ke target di C dengan cara yang sama seperti pada no 2 di atas. Baca lingkaran horisontalnya, misal R 2 .

2. Pengukuran seri rangkap

Setelah langkah ketiga pada pengukuran seksi tunggal, kemudian teropong

diputar balik pada kedudukan luar biasa dan bidikan kembali pada target di C

dan baca lingkaran horisontalnya misal = R’ 2 , dan kemudian dengan cara yang samabidikan pada target di titik A dan baca lingkaran horisontalnya misal = R’ 1 . Besarnya sudut ukuran :

( B = biasa ) = =

( LB = luar biasa) = R’ 2 - R’ 1 = R’ 2 - R’ 1

R 2 - R 1

( LB = luar biasa) = R’ 2 - R’ 1 R 2 - R 1

Pengukuran cara demikian dinamakan dengan pengukuran satu seri rangkap.

Apabila diperlukan lebih dari satu seri rangkap, maka cara tersebut diulang

sedemikian rupa

19

Pengukuran seri rangkap

B

A = R 1 Luar Biasa (LB) Biasa (B)
A = R 1
Luar Biasa (LB)
Biasa (B)

B

=

B = = B + LB 2

=

B

+

LB

2

C = R 2

3. Pengukuran Repetisi

Cara ini hanya dapat dilakukan dengan alat teodolit tipe repetisi.

Langkahnya sebagai berikut :

Setel teodolit di titik B buat sumbu I vertikal.

Bidik titik A. Bacaan pada titik A ini dapat diatur agar angka menjadi nol atau yang lain dengan klem dan penggerak halus limbus. Catat pembacaan ini = p

Klem limbus dimatikan, dan klem horisontal dibuka, teropong bidikan pada titik C, setelah tepat klem horisontal dimatikan, baca Q. Diperoleh sudut = Q - p.

dimatikan, baca Q . Diperoleh sudut = Q - p . • • Pembacaan Q dibawa

Pembacaan Q dibawa ke pembidikan A dengan cara membuka klem limbus, setelah tepat klem limbus dimatikan.

Klem horisontal dibuka, bidikan teropong pada titik C, dengan cara ini akan

mendapatkan

teropong pada titik C , dengan cara ini akan mendapatkan lagi. Bila ini diulang – ulang
teropong pada titik C , dengan cara ini akan mendapatkan lagi. Bila ini diulang – ulang

lagi. Bila ini diulang ulang n kali, akan diperoleh n .

Cara ini cukup dicatat pembacaan awal p, pembacaan ke dua Q dan pembacaan terakhir r

Cara ini cukup dicatat pembacaan awal p , pembacaan ke dua Q dan pembacaan terakhir r

B

Cara ini cukup dicatat pembacaan awal p , pembacaan ke dua Q dan pembacaan terakhir r

A

C

4. Pengukuran Sudut Reiterasi

Cara reiterasi mirip dengan repetisi, yaitu setelah mengukur sudut ,

mirip dengan repetisi, yaitu setelah mengukur sudut , pembacaan Q ditambah dengan besaran sudut tertentu misal
mirip dengan repetisi, yaitu setelah mengukur sudut , pembacaan Q ditambah dengan besaran sudut tertentu misal

pembacaan Q ditambah dengan besaran sudut tertentu misal 30 dan

pembacaan ini kemudian dibawa ke A, kemudian klem limbus dimatikan dan

klem horisontal dibuka, dan teropong bidikan ke C lagi. Pekerjaan ini berulang

sampai n kali.

limbus dimatikan dan klem horisontal dibuka, dan teropong bidikan ke C lagi. Pekerjaan ini berulang sampai

Pengukuran sudut reiterasi

Pengukuran sudut reiterasi 24

PENGUKURAN BEDA TINGGI

Pengukuran tinggi dengan water pass

PENGUKURAN BEDA TINGGI Pengukuran tinggi dengan water pass 25

Pengukuran tinggi dengan water pass pada profil memanjang

Pengukuran tinggi dengan water pass pada profil memanjang Pengukuran beda tinggi dilakukan pergi dan pulang 26

Pengukuran beda tinggi dilakukan pergi dan pulang

Ketelitian dan prosedur pengukuran beda tinggi

Ketelitian beda tinggi dihitung dari selisih beda tinggi pergi dan pulang. Toleransi

pengukuran biasanya ditentukan dengan kesalahan penutup maksimum ukuran

pergi-pulang misalnya 12 mm

penutup maksimum ukuran pergi-pulang misalnya 12 mm d (d: dalam kilometer). Prosedur pengukuran • Sebelum

d (d: dalam kilometer).

Prosedur pengukuran

Sebelum alat digunakan harus dicek garis kolimasinya terlebih dahulu.

Pengukuran beda tinggi dalam satu sesi dilakukan pergi pulang dalam satu hari.

Jarak maksimum antara alat sipatdatar ke rambu 60 meter.

Kedudukan alat pada setiap slag pengukuran harus pada jarak yang sama antara jarak instrumen ke rambu depan dan instrumen ke rambu belakang.

Selisih maksimum jumlah jarak ke rambu muka dan jumlah jarak ke rambu belakang sebesar 2%.

Tinggi garis bidik terendah 0,3 meter.

Sumber Kesalahan

Pada waktu melaksanakan pengukuran beda tinggi , perlu diperhatikan adanya

kesalahan pengukuran sebagai berikut :

1. Bersumber dari alat

Kesalahan kolimasi

Kesalahan pada rambu

2. Bersumber dari alam

Refraksi cahaya

Tanah tidak stabil

3. Bersumber dari pengamatan :

Kurang menguasai alat

Kurang teliti

REFERENSI

- W. Schofield. Engineering Surveying. Butterworth - Heinemann, MA. 5 th Ed, 2001. -Diktak Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Fakultas Teknik Geodesi-Geomatika. Universitas Gadjah Mada. 2002 - http://www.fao.org/docrep/R7021E/r7021e00.htm#Contents

TERIMA KASIH!