Anda di halaman 1dari 24

Laporan praktek klinik

Di YPAC MAKASSAR

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA GANGGUAN FUNGSIONAL

AKIBAT CP TIPE CAMPURAN (SPASTIK QUADRIPLEGIA)

Oleh :

AISAH LELI LESTARI

PO.1.7.324.108.1.003

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR

JURUSAN FISIOTERAPI

2010
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan status klinik dengan judul penatalaksanaan fisioterapi pada gangguan

fungsional akibat CP tipe campuran (spastic quadriplegia) di susun oleh, AISAH LELI

LESTARI, nim PO.713241081003. Telah disetujui untuk diajukan sebagai salah satu persyaratan

dalam menyelesaikan praktek klinik di YAYASAN PEMBINAAN ANAK CACAT yang di mulai

pada tanggal 17-19 januari 2011

Makassar, Januari 2011

Pembimbing Teknis Klinik

Dwi Rustyanto S.Ft, physio


BAB I

PENDAHULUAN

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu

dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat

kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai

pertumbuhannya. Walaupun lesi serebral bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkembangan

tanda-tanda neuron perifer akan berubah akibat maturasi serebral.

Yang pertama kali memperkenalkan penyakit ini adalah William John Little (1843), yang

menyebutnya dengan istilah cerebral diplegia, sebagai akibat prematuritas atau afiksia

neonatorum. Sir William Olser adalah yang pertama kali memperkenalkan istilahcerebral palsy,

sedangkan Sigmund Freud menyebutnya dengan istilah Infantile Cerebral Paralysis.

Walaupun sulit, etiologi cerebral palsy perlu diketahui untuk tindakan pencegahan.

Fisioterapi dini memberi hasil baik, namun adanya gangguan perkembangan mental dapat

menghalangi tercapainya tujuan pengobatan. Winthrop Phelps menekankan pentingnya

pendekatan multidisiplin dalam penanganan penderita cerebral palsy, seperti disiplin anak, saraf,

mata, THT, bedah tulang, bedah saraf, psikologi, ahli wicara, fisioterapi, pekerja sosial, guru

sekolah Iuar biasa. Di samping itu juga harus disertakan peranan orang tua dan masyarakat.

Potensi kemampuan berjalan anak cerebral palsy sangat menjadi perhatian penting bagi

orang tua dan keluarga. Dari keseluruhan anak cerebral palsy dilaporkan 53 90% dapat

berjalan. Identifikasi dini faktor resiko yang menentukan kemampuan berjalan dapat menjadi
informasi penting untuk menentukan tujuan dan penanganan yang tepat dari cerebral palsy. Dari

beberapa penelitian ada tiga hal utama yang dapat dijadikan sebagai prognosis kemampuan

berjalan pada anak cerebral palsy yaitu : Refleks primitif dan reaksi postural, kemampuan

motorik kasar dan tipe cerebral palsy. Faktor lain yang dilaporkan ikut terlibat adalah adanya

kejang yang memerlukan antikonvulsi, kemampuan melihat dan defisit intelektual.


BAB II

ANATOMI FISIOLOGI

SUSUNAN SARAF PUSAT (SSP)

1. OTAK

a. Pra Enchephalon

1) Telencephalon : Hemisperium cerebri, Telencephalon medium

2) Diencephalon : Thalamus, Metathalamus, Hypothalamus, Subthalamus dan

Epithalamus

b. Mesencephalon

1) Tectum Mesencephalon

2) Tecmentum Mesencephalon

3) Pedunculus Cerebri

c. Rhombencephalon

1) Metencephalon (Pons dan Cerebellum)

2) Myelencephalon (Medula Oblongata)

2. MEDULLA SPINALIS (MS)

a. MS Cervicalis C1-C8
b. MS Thoracalis Th1-Th12

c. MS Lumbalis L1-L5

d. MS Sacralis S1-S5

e. MS Coccygeus Cc0-Cc1,2

BAGIAN-BAGIAN OTAK :

A. Hemispherium kanan/kiri pembatas Fissura longitudinal cerebri

B. Lobus

1) Lobus Frontalis : 4 = Area Motorik Pyramidalis

6 = Tractus Extra Pyramidalis

8 = Bola mata dan Pupil

9, 10, 11, 12 = Assosiasi Frontalis

2) Lobus Parietalis : 3, 1, 2 = Somatik

5, 7 = Assosiasi sensorik/kesadaran

3) Lobus Temporalis : 41, 42 = Pendengaran

44 = Pusat bicara

38, 40, 20, 21, 22 = Assosiasi

39, 40, 41, 42 = Ingatan


4) Lobus Occipitalis : 17 = Visual

18, 19 = Assosiasi Visual

5) Rhiencephalon : sistim limbik = pusat-pusat kesadaran, assosiasi dan interpretasi

sifatnya psikosomatik

C. Corpus Callosum

1) Mencocokkan 2 benda di ke 2 tangan

2) Mencocokkan 1 benda dilihat oleh mata kanan/kiri

3) Melakukan perintah lisan dengan tangan kiri

D. Ganglia Basalis

1) Corpus Striatum, mengirim efferent proyeksi ke globus palidus

2) Menerima impuls dari Lubus Frontalis

3) Rigid dan spastik pada CP

4) Kelengkapan Extrapyramidalis di ganglia adalah bagian-bagian cel pada ganglia

basalis yang membentuk sirkuit pada sistem Extrapiramidalis, dalam mewujudkan

gerakan koodinasi tubuh di otak

E. Sistem Extrapiramidalis

Secara fisiologis extrapiramidalis dipisahkan dengan pyramidalis, namun timbul masalah

rumit. Dari segi fungsi pyramidalis dan extrapyramidalis sebaiknya dianggap satu

kesatuan sistem saja, yakni satu kesatuan sistem gerak tubuh terdiri atas efferent dan
koordinasi. Dalam bekerja sirkuit (I, II, III) sebagai berikut impuls dimulai dari Cortex,

Nuclei Thalamic, Corpus Striatum, Globus Palidus, Corpus Luisy, Subtantia Nigra,

Subthalamic Sistem Rubra ke Medulla Spinalis sesegment, Sistem Gamma Lop hingga

trbentuk gerakan yang halus, terkoordinir dan bertujuan (sistem gerak). Fungsi utama

adalah mengatur gerakan terutama sikap tubuh dan integrasi autonom.

F. Thalamus (Cortex Sensorik)

Berfungsi sebagai penentu persepsi beberapa tipe sensasi, kemudian diperinci oleh cortex

lebih halus

G. Hypothalamus

Fungsinya sangat banyak, jika terganggu dapat terjadi : Diabetes Insifidus, Obesitas,

Distrofi Sexual dan pengendalian suhu terganggu

H. Mesencephalon (bagian otak yang terpendek)

Terletak diantara Pons dan Hemisferium, jika teganggu dapat terjadi : Paralysis bola mata

keatas (saraf cranialis III, IV) dan trganggu penglihatan satu sisi

I. Pons

Letaknya di ventral cerebellum, tanda-tanda gangguan : Pharesis m. Fascialis dan Rectus

Ipsilateral, Hemiplegia contralateral kadang N. VII (Strabismus) kena dan Cerebral

Ataxic Ipsilateral

J. Medulla Oblongata, merupakan bagian dari batang otak paling bawah


K. Cerebellum (Otak Kecil)

Bila fungsi terganggu akan menimbulkan beberapa gejala tidak tahan dalam ruangan,

terhuyung-huyung dan reflex regangan pada otot-otot penyokong

L. Fisiologi Peredaran Darah Cerebral

Aliran darah akan membawa O2, makanan dan substansi lain yang dibutuhkan ke otak.

Kebutuhan O2 di otak sangat mendesak dan sangat vital, kekurangan O2 kurang lebih 6

menit saja akan mengakibatkan kematian sel otak, sementara tidak ada sistem regenerasi

sel otak yang sudah mati, akan terjadi secara permanent, meskipun ada sistem pembantu

pengambilan fungsi dari area yang lain terdekat melalui mekanisme adaptasi tetapi

tidaklah sempurna. Karena itu sirkulasi darah ke otak haruslah cukup dan konstan.

M. Medulla Spinalis

Medulla Spinalis adalah massa jaringan saraf berbentuk silindris memanjang menempati

2/3 canalis vertebralis kurang lebih 42-45 cm dari C1-L1,2 ujung rostral diteruskan oleh

Medulla Oblongata sedangkan ujung distal diteruskan oleh Conus Medullaris dari sana

keluar serabut saraf berbentuk ekor kuda disebut Cauda Equina bersifat LMN.

Membran / pembungkus Medulla Spinalis yaitu :

1) Duramater : brentuk tabung yang paling luar dari cranial sampai ke sacral sebagai

kantong buntu

2) Arachnoid : pembungkus bagian tengah

3) Piamater : membungkus langsung Medulla Spinalis


SUSUNAN SARAF PERIFER (TEPI)

A. Nervi Cranialis, 12 pasang

N . 1 = N. Olfactorius

N . 2 = N. Opticus

N . 3 = N. Oculomotorius

N . 4 = N. Trohlearis

N . 5 = N. Trigeminus

N . 6 = N. Abduscens

N . 7 = N. Facialis

N . 8 = N. Acusticus

N . 9 = N. Glossofaringeus

N . 10 = N. Vagus

N . 11 = N. Accesorius

N . 12 = N. Hypoglosus

B. Nervus Spinalis (N. Segmentalis), 31 pasang terdiri atas 2 buah radix yaitu :

1) Radix Dorsalis (Radix Sensoris)

2) Radix Ventralis (Radix Motorik)


Akar saraf keluar dari segment columna vertebralis sehingga jumlahnya 31 pasang,

identik dengan segment Medulla Spinalis. Selain itu, pembagian N. Spinalis secara

kelompok membentuk Plexus sbb :

1) Plexus Cervialis C0,1-C4

2) Plexus Brachialis C4,5-Th1

- N. Musculo cutaneus C5,6

- N. Axillaris C5,6

- N. Radialis (Musculo spiralis) C6-8

- N. Medianus C6,8-Th1

- N. Ulnaris C8-Th1

3) Plexus Lumbalis

- N. Thoracalis Th1-12

- N. Femoralis L2-4

- N. Obturatorius L2-4

- N. Sacralis S1-2

4) Plexus Sacralis

- N. Ischiadicus L4,5-S1-2,3

- N. Peroneus Communis L4,5-S1,2


C. Susunan Saraf Visceral

1) S.S Visceral Afferent

2) S.S Visceral Efferent

Secara fungsional susunan saraf dibagi atas 2 komponen :

1) Susunan saraf Somatik

2) Susunan saraf Autonom terdiri atas :

- Susunan saraf Simpatis

- Susunan saraf Parasimpatis


BABA III

PATOLOGI TERAPAN

A. PROSES TERJADINYA CP

Diawali dengan terjadinya kerusakan sel otak pada bagian tertentu sehingga control

gerakan tertentu dari tubuh menjadi terganggu, akibatnya otot-otot salah menerima instruksi.

Sehingga otot menjadi kaku atau lemas yang berakibat anak CP sulit bergerak atau meletakkan

posisi tubuhnya sesuai yang di kehendaki, namun otot tersebut sesungguhnya tidaklah lumpuh.

Bagian otot yang mengalami kerusakan terutama bagian otak yang mengontrol

memori/intelegensi. Penglihatan dan pendengaran mengalami gangguan fungsi yang

menyebabkan munculnya gangguan-gangguan gerak, kesalahan posisi tubuh, kesulitan

belajar/berkomunikasi, gangguan penglihatan dan pendengaran yang pada akhirnya akan

menimbulkan kecacatan fisik, mental dan social bagi anak CP.

Namun bagian otak lain yang sehat masih dapat dikembangkan melalui latihan-latihan

yang teratur dan berkesinambungan sedemikian rupa. Meskipun bagian otak yang rusak tidak

akan pernah mengalami perbaikan lagi. Akan tetapi semakin cepat anak CP diajarkan dan di

latih, maka semakin banyak kemampuan yang dapat di perbuat oleh anak tersebut. Tidaklah

bertambah buruk tetapi karena sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka dampaknya akan

semakin nyata misalnya akan muncul deformitas.

B. FAKTOR PENYEBAB CP
Cerebral palsy bukan merupakan salah satu penyakit dengan satu penyebabnya, seperti cacar

air atau campak. Ini adalah kelompok gangguan dengan masalah serupa di kontrol gerakan, tapi

mungkin dengan penyebab yang berbeda. Ketika dokter mencoba untuk mengungkap penyebab

cerebral palsy dalam individu anak, mereka melihat bentuk cerebral palsy, ibu dan riwayat

kesehatan anak, dan awal dari kekacauan.

cerebral palsy kongenital, di sisi lain, hadir saat lahir, meskipun mungkin tidak terdeteksi

selama berbulan-bulan. Dalam kebanyakan kasus, penyebab cerebral palsy kongenital tidak

diketahui. Berkat penelitian, bagaimanapun, para ilmuwan telah menunjuk beberapa peristiwa

tertentu selama kehamilan atau sekitar waktu kelahiran yang dapat merusak pusat-pusat motor di

otak berkembang. Beberapa penyebab cerebral palsy bawaan termasuk:

1. Infeksi selama kehamilan. campak Jerman atau rubella, disebabkan oleh virus yang

dapat menginfeksi wanita hamil dan, oleh karena itu, janin dalam rahim, dapat

menyebabkan kerusakan sistem saraf berkembang. Infeksi lain yang dapat

menyebabkan cedera otak pada janin berkembang meliputi cytomegalovirus dan

toxoplasmosis. Ada bukti relatif baru bahwa infeksi plasenta ibu dan mungkin lainnya

dapat dikaitkan dengan cerebral palsy.


2. Penyakit kuning pada bayi. pigmen empedu, senyawa yang biasanya ditemukan

dalam jumlah kecil di aliran darah, yang diproduksi ketika sel-sel darah dihancurkan.

Ketika banyak sel darah hancur dalam waktu singkat, seperti dalam kondisi yang

disebut inkompatibilitas Rh (lihat di bawah), pigmen berwarna kuning dapat

membangun dan menyebabkan penyakit kuning. Parah, penyakit kuning tidak diobati

bisa merusak sel-sel otak.

3. Rh ketidakcocokan. Dalam kondisi darah, tubuh ibu menghasilkan sel-sel kekebalan

yang disebut antibodi yang menghancurkan sel-sel darah janin, yang mengarah ke

bentuk penyakit kuning pada bayi baru lahir.

4. Parah kekurangan oksigen di otak atau trauma kepala selama persalinan dan

melahirkan. Darah bayi baru lahir adalah khusus dilengkapi untuk mengkompensasi

tingkat rendah oksigen, dan asfiksia (kekurangan oksigen akibat gangguan dalam

bernafas atau suplai oksigen miskin) adalah umum pada bayi selama menekankan

tenaga kerja dan pengiriman. Tetapi jika asfiksia sangat menurunkan suplai oksigen

ke otak bayi untuk jangka panjang, anak dapat mengembangkan kerusakan otak yang

disebut ensefalopati hipoksik-iskemik. Bagian penting dari bayi dengan jenis

kerusakan otak mati, dan lain-lain dapat mengembangkan cerebral palsy, yang

kemudian sering disertai dengan gangguan mental dan kejang.

C. TANDA TANDA CEREBRAL PALSY

Tanda-tanda dini :

1. Kejang tiba tiba


2. Terkulai

3. Perkembangan Lambat

4. Sulit makan

5. Tingkah laku yang tidak umum

D. TANDA- TANDA LANJUT

1. Reflex abnormal

2. Kelemahan otot

3. Kelainan sensasi proprioseptik dan cutaneus

4. Kelainan fungsi-fungsi tertentu

a. Afasia : hilang kemampuan untuk berbahasa

b. Tuna Rungu : tuli dan bisu

c. Tuna Netra : gangguan penglihatan

5. Gangguan Mental

E. Tipe spastic

1) Tonus otot meninggi

2) Tendon otot tampak menonjol karena otot hampir selalu berkontraksi

3) Hiper reflex
4) Mudah timbul kecacatan

5) Gerak voluntare terhambat

6) Kelainan sikap dan gangguan keseimbangan

F. Tipe Athetoid

1) Gangguan keseimbangan dan mudah jatuh

2) Gerak involunter

3) Terkadang kepala kebelakang, mulut terbuka dan lidah menjulur ke depan

4) Pasien akan mengambil posisi aneh bila terkejut

5) Saat istirahat gerak athetoid berkurang dan akan bertambah saat terkejut

6) Jika dapat berjalan langkahnya terhuyung-huyung dengan lengan dan tungkai meliuk-liuk

7) Reflex normal dan otot dapat berkontraksi


BAB IV

STATUS KLINIK

A. PEMERIKSAAN FISIOTERAPI

1. Anamnesis

a. Umum

Nama : Alif

Usia kalender : 2 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

b. Khusus

a. Riwayat kehamilan

- Kebiasaan ibu saat hamil : Normal

- Kejadian saat hamil : Normal

b. Riwayat persalinan

- Yang menolong saat persalinan : dr.ahli kandungan

- Umur kehamilan saat bersalin : 9 bulan 7 hari

- Berat badan bayi saat lahir :3,2 Kg

- Proses persalinan : Normal

c. Keadaan bayi saat lahir

- Tidak langsung menangis

- Bayi langsung bernafas


d. Riwayat tumbuh kembang bayi

- Ada gangguan keseimbangan

- Ada gangguan koordinasi

- Ada gangguan ADL duduk, berlutut, berdiri dan berjalan

e. Kapan kejadian : Anak berumur sekitar 2 bulan

2. RPP : Anak lahir dengan normal,dan pada usia 2 bulan anak jatuh dari

ayunan dan kemudian tidak tau penyebabnya.

3. Inspeksi

a. Statis

- Air liur anak selalu keluar


- Mulut anak selalu terbuka
- Anak belum bisa duduk dengan sempurna
- Anak belum bisa berdiri dan berjalan dengan sempurna
- Pada saat duduk anak belum dapat menjaga keseimbangan badan terutama kepala
- Kepala anak selalu tidak focus dan tidak dapat diam (kontrol kepala)

b. Dinamis

- Fisioterapi meminta anak melakukan gerakan dari tidur terlentang ke miring kiri

dan kanan kemudian tengkurap dengan stimulasi mainan dan anak mampu

melakukannya

- Pada saat Fisioterapi memberikan mainan anak sudah bisa mengambil dan

memegangnya baik dalam posisi tidur, duduk maupun berdiri


- Pada saat diposisikan duduk, kadang-kadang anak sering melakukan gerakan

leher berupa ekstensi cervical, hal ini berlangsung beberapa detik

- Anak belum dapat menggenggam sesuatu dengan sempurna

- Pada saat duduk tangan anak masih bertumpu pada lantai

4. Pemeriksaan Spesifik

a. Tes Tonus

Fisioterapi melakukan palpasi pada muscle belly

Hasil : tonus otot meningkat

b. Tes Sensorik

Fisioterapi mencubit lembut pada lengan dan tungkai anak

Hasil : anak merasa kesakitan dengan melihat mimik wajah dan suara yang di

keluarkan serta sikap penolakan berupa menghindar atau memberi perlawanan

c. Tes Motorik

Yang bisa dilakukan oleh anak :

- Anak sudah bisa tidur terlentang ke miring kemudian tengkurap


- Sudah bisa menyebutkan kata tetapi pada saat berkomunikasi masih mengalami

hambatan

- Sudah dapat mengenali seseorang tetapi daya fikir kadang-kadang masih tidak

fokus/hilang konsentrasi

- Melihat anak menggerakkan tungkai dan lengannya dengan memberikan stimulasi

gerak seperti permainan

d. Tes Koordinasi

Teknik : anak dalam posisi tidur terlentang, Fisioterapi meminta anak untuk

- menunjuk mulut, hidung, mata dan menyentuh kepala


- menyentuh tangan Fisioterapi dengan menggunakan tangannya
- menyentuh tangan Fisioterapi dengan menggunakan ujung kakinya

Hasil : - anak belum bisa melakukannya dengan baik

- anak mampu melakukannya tetapi belum terkoordinasi dengan baik dan

gerakan anak agak lanbat.

- Anak belum bisa terkoordinasi dengan baik

e. Tes Keseimbangan

Teknik : untuk posisi duduk pelaksanaanya, anak dalam posisi duduk kemudian diberi

stimulasi berupa dorongan baik kedepan, kebelakang maupun kesamping

kiri dan kanan


Hasil : anak tidak dapat mempertahankan posisi duduknya dengan baik

f. Pemeriksaan Kognitif

Teknik : anak diajak berbicara dengan memberikan beberapa pertanyaan

Hasil : sudah bisa menyebutkan sepatah dua patah kata ( ma..ma.. )

B. DIAGNOSTIK FISIOTERAPI

- Gangguan Aktivitas Fungsional Akibat CP Tipe Spastic-quardiplegia

C. PROBLEMATIK FISIOTERAPI

- Gangguan posture

- Gangguan koordinasi dan keseimbangan

- Gangguan ADL duduk, berdiri dan berjalan

- Adanya kontraktur

D. PERENCANAAN FISIOTERAPI

1. Tujuan jangka pendek

- Mengurangi dan mencegah terjadinya kontraktur lebih lanjut

- Koreksi posture untuk mengurangi spastik

- Melatih koordinasi dan keseimbangan

- Meningkatkan ADL duduk, berdiri dan berjalan


2. Tujuan jangka panjang

- Meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional anak

E. PELAKSANAAN FISIOTERAPI

EXCERCISES

Streatching

Tujuan : mengurangi kontraktur sekaligus koreksi posture

F : 6x / minggu

I : penguluran maksimal

T : passif streatching / pemasangan AFO, splint, dan abduction brace

T : 3x / 8 hitungan (10 menit)

Strengthening

Tujuan : untuk memperkuat otot disekitar vertebra

Teknik : Fisioterapi memberikan penguatan pada vertebra dengan cara melakukan

gerakan pasif yang diberi tahanan kearah flexi, ekstensi, lateral flexi

kanan/kiri dan rotasi kanan/kiri khususnya daerah punggung, panggul dan

pelvic. Untuk melatih penguatan otot tersebut (duduk).


Time : toleransi anak, maksimal 10 menit

Latihan Koordinasi dan Keseimbangan

Tujuan : melatih koordinasi dan keseimbangan

Tekhnik : Fisioterapi memberikan fasilitasi posisi tidur ke duduk, fasilitasi refleks

duduk dengan approximasi, keseimbangan duduk dan berdiri

Fisioterapi memberikan stimulasi bermain pada anak agar melakukan

gerakan flexi, adduksi, eksorotasi

Time : toleransi pasien dengan melihat apakah anak sudah merasa lelah atau

belum, biasanya .

F. EVALUASI

a. Sesaat : anak merasa kelelahan setelah di fisioterapi

b. Berkala : perubahan belum nampak

G. HASIL TERAPI

Sudah nampak adanya perbedaan pada saat pertama di terapi dan setelah beberapa minggu di

terapi, berupa sedikit peningkatan ADL, koordinasi dan keseimbangan. Adapun kontraktur

masih ada tetapi ada sedikit perubahan dari sebelumnya