Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN HASIL PRAKLNIK

DI YAYASAN PENYANDANG ANAK CACAT ( YPAC ) MAKASSAR

OLEH

NUR HIDAYAH AKBAR


PO. 71.3.241.14.1.084

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


JURUSAN FISIOTERAPI
TAHUN 2016 - 2017

1
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karma rahmat dan karunianyalah sehingga Kami
dapat menyelesaikan laporan . Selain itu Salam dan taslim tak lupa Kami panjatkan kepada Nabi
Muhammad SAW karena berkat jasa beliau sehingga kita sebagai seorang manusia diberi
kesempatan untuk mengecap suatu nikmat yang sangat besar yaitu pendidikan dengan keadaan
beriman kepada Allah SWT

Terselesainya makalah ini tidak terlepas dari dukungkan dan motivasi dari beberapa pihak yang
telah membantu kami, baik itu bantuan Materil maupun Moril. Oleh karena itu kami sebagai
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang mendukung kami sehingga
makalah ini dapat terselesaikan.

Sebagai penulis Kami menyadari bahwa laporan yang kami buat ini masih memiliki banyak
kekurangan oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan .

2
BAB I

( PENDAHULUAN )
A. Latar Belakang

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tercantum tujuan pembangunan bangsa Indonesia

yaitu memajukan kesejahteraan umum, dan untuk mencapai tujuan tersebut maka dilaksanakan

pembangunan di segala bidang secara terarah, terpadu, dan menyeluruh sehingga peningkatan

kualitas kehidupan rakyat Indonesia dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan tersebut maka salah

satu faktor penting yang harus diperhatikan yaitu pembangunan dalam bidang kesehatan.

Pembangunan kesehatan diperlukan untuk mencapai derajad kesehatan yang optimal sehingga

masyarakat mempunyai kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat yang akan

menyangkut semua aspek kehidupan, baik fisik, mental maupun sosial ekonomi ( UU No 23

tahun 1992).Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal, yang semula berupa upaya

penyembuhan berkembang menuju upaya peningkatan kualitas kesehatan yang menyeluruh serta

melibatkan masyarakat untuk ikut berperan dan mendukungnya. Upaya tersebut meliputi, upaya

penigkatan ( promotif), upay pencegahan ( preventif ) tanpa mengabaikan upaya penyembuhan

( curatif ), dan pemulihan ( rehabilitatif ). ( Depkes RI, 1999 ).

Fisioterapi merupakan salah satu disiplin ilmu dan bagian dari tenaga kesehatan yang mempunyai

peran untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, intervensi yang diberikan adalah yang

berhubungan dengan gerak dan fungsi. Fisioterapi juga juga bertanggung jawab dalam upaya

meningkatkan kesehatan yang optimal, baik dari segi promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif( Depkes RI, 1996) . Dalam lingkup tumbuh kembang anak fisioterapi mempunyai

peran penting yaitu memberikan pelayanan secara optimal pada tahapan tumbuh kembang anak,

3
baik pada anak dengan tumbuh kembang yang normal maupun pada anak dengan hambatan pada

tumbuh kembang.

Pelayanan kesehatan pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting untuk

dilaksanakan karena pada masa ini merupakan tahap-tahap yang menentukan keberhasilan

pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Baik atau tidaknya kulitas pertumbuhan dan

perkembangan anak ditentukan oleh berbagai banyak faktor. Baik faktor internal yang

berhubungan dengan proses pematangan organ-organ tubuh ataupun faktor eksternal yang

berhubungan dengan keadaan lingkungan sekitar anak yang mendukung proses tersebut.

Terjadinya gangguan terhadap proses pematangan organ-organ penting yaitu susunan saraf

menjadi salah satu faktor penyebab yang serius terjadinya gangguan pertumbuhan dan

perkembangan anak. Gangguan proses pematangan susunan saraf pada anak dapat terjadi pada

saat dalam kandungan sampai dengan masa pertumbuhan anak di luar kandungan. Pada

umumnya kerusakan pada CP terjadi pada cortek cerebri, ganglia basalis, dan cerebellum.

Kerusakan jaringan otak tersebut bersifat non progresif dan mengganggu perkembangan otak

normal dengan gambaran klinis dapat berubah selama hidup dan menunjukkan kelainan dalam

sikap dan pergerakan, disertai kelainan neurologis berupa kelumpuhan spastis.

Layanan kesehatan pada anak perlu dilakukan sedini mungkin pada setiap tahapan yang dilalui

anak sejak di dalam kandungan sampai dengan anak tumbuh dan berkembang, sehingga dapat

dilakukan deteksi sedini mungkin apabila terjadi gangguan pada tahap-tahap tersebut. Sangat

penting untuk memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak sejak dalam

kandungan sampai dengan pada awal masa kanak-kanak, mengingat bahwa anak merupakan

generasi penerus bangsa dan negara.

4
Kejadian CP di eropa ( 1950 ) sebanyak 2,5 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan di Skandinavia

sebanyak 1,2 1,5 per 1000 kelahiran hidup. Girloy memeproleh 5 dari 1000 anak

memperlihatkan deficit motorok yang sesuai dengan CP, 50 % termasuk ringan, 10 % termasuk

berat. Yang dimaksudkan ringan adalah penderita yang dapat mengurus dirinya sendiri,

sedangkan yang tergolong berat adalah penderita yang memerlukan perawatan khusus, 25 %

mempunyai intelegensi rata-rata ( normal ), sedang 30 % kasus menunjukan IQ dibawah 70, 35

%disertai kejang.

American Academy for Cerebral palsy mengemukakan klasifikasi gambaran klinis CP sebagai

berikut: klasifkasi neuromotorik yaitu, spastic, atetosis, rigiditas, ataxia, tremor dan mixed.

Klasifikasi distribusi topografi keterlibatan neuromotorik: diplegia, hemiplegia, triplegia dan

quadriplegia yang pada masing-masing dengan tipe spastik (Sunusi dan Nara, 2007). Pada kasus

CP spastik diplegia, anggota gerak bawah tidak berfungsi maksimal jika dibandingkan dengan

anggota gerak atas.

Pada umumnya permasalahan pada kondisi CP spastik diplegi adalah terajadi peningkatan tonus

otot-otot postur karena adanya spastisitas yang kemudian akan mempengaruhi kontrol gerak.

Adanya spastisitas akan berakibat pada gangguan postur, kontrol gerak, keseimbangan, dan

koordinasi yang pada akhirnya akan mengganggu aktifitas fungsional anak penderita CP. Apabila

keadaan tersebut tidak segera memperoleh penanganan yang tepat maka akan berpotensi

terjadinya permasalahan baru, sehingga akan semakin memperburuk postur tubuh dan pola jalan

yang benar. Fisioterapi pada kasus CP berperan dalam memperbaiki postur, mobilitas postural,

Dontrol gerak, dan mengajarkan pola gerak yang benar. Cara yang digunakan yaitu dengan

mengurangi spastisitas, memperbaiki pola jalan, dan mengajarkan pada anak gerakan-gerakan

fungsional sehingga diharapkan anak mampu mandiri untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari.

5
Hal ini telah ditunjukkan dari beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa latihan fungsional

yang dilakukan secara rutin akan dapat meningkatkan kemampuan penderita CP [Wikipedia

Project, 2007]. Demikian juga dengan penguluran yang dilakukan secara pasif akan dapat

memanjangkan jaringan lunak sehingga menurunkan kekakuan atau spastisitas (Kisner dan

Colby, 1996). Penguluran yang dilakukan secara pasif diharapkan dapat memberikan efek

relaksasi pada grup otot yang mangalami spastisitas sehingga dapat meningkatkan mobilitas

postural dan mengontrol gerakan abnormal yang timbul pada penderita CP.

B. Rumusan Masalah

1. Menjelaskan Anatomi- Fisiologi Otak

2. Menjelakan Mengenai Cerebral Palsy Spastik Tipe diplegia

3. Laporan Tipe Cerebral Palsy spastic tipe diplegia

C. Tujuan Makalah

1. Memberikan penjelasan mengenai Anatomi- fisiologi otak

2. Memberikan penjelasan mengenai Cerebral palsy tipe spastic diplegia

3. Melaporkan kasus cerebral palsy tipe spastic

BAB II

6
(PEMBAHASAN )

A. Neuro Anatomi

Otak merupakan bagian pertama dari sistem saraf pusat yang mengalami perubahan dan
pembesaran. Bagian ini dilindungi oleh tiga selaput pelindung (meningen) dan berada di dalam
rongga tulang tengkorak (Chusid, 1990). Pada sub bab ini akan dijelasakan mengenai bagian-
bagian dari susunan saraf otak yang berhubungan dengan permasalahan pada CP.

1. Korteks cerebri

Korteks cerebri merupakan bagian terluas dari otak yang menutup total hemisferium cerebri.
Kedua hemisferium cerebri membentuk bagian otak yang terbesar, dipisahkan oleh
fissura longitudinalis cerebri. Permukaan hemisferium cerebri berada di dorsalsteral,
medial dan basal. Pada permukaan ini terdapat alur-alur atau parit-parit , yang dikenal
sebagai fissura dan sulcus. Bagian otak yang terletak diantara alur-alur ini dinamakan
konvolusi atau gyrus. Bagian-bagian cerebrum ( otak ) yang utama :
a. ) Lobus frontalis , Lobus frontalis meluas dari ujung frontal dan berakhir pada sulcus
centralis dan disisi samping pada fissura lateralis. Area 4 merupakan daerah motorik yang
utama. Area 6 merupakan sirkuit traktus extrapyramidalis. Area 8 berhubungan dengan
pergerakan mata dan perubahan pupil. Area 9, 10, 11, dan 12 merupakan daerah asosiasi
frontalis.
b. ) lobus parietalis , Lobus parietalis meluas dari sulcus centralis sampai fissura parieto-
occipitalis dan ke lateral sampai setinggi fissura cerebri lateralis. Area 3, 1, dan 2
merupakandaerah sensorik postcentralis yang utama. Area 5 dan 7 adalah daerah asosiasi
sensorik.
c. ) lobus occipitalis , lobus occipitalis merupakan lobus psterior yang berbentuk pyramid
dan terletak dibelakang fissura parieto-occipitalis. Area 17 yaitu corteks striata, corteks
visual yang utama. Area 18 dan 19 merupakan daerah asosiasi visual.
d. ) Lobus temporalis , bagian lobus temporalis dari hemisferium cerbri terletak dibawah
fissura lateralis cerebri ( sylvii ) dan berjalan kebelakang sampai fissura parieto-

7
occippitalis. Area 41 adalah daerah auditorius primer. Area 42 merupakan corteks
auditoris sekunder atau asosiatif. Area 38, 40, 21, dan 22 adalah daerah asosiasi.
Penelitian yang dilakukan Fritsch dan Hitzig pada tahun 1870 mebuktikan bahwa
perangsangan listrik pada korteks serebri akan menimbulkan gerakan anggota tubuh di
sisi kontralateral. Sejak saat itu dapat dilakukan pemetaan somatotropik pada korteks
serebri mengenai pola gerakan tertentu pada otot-otot wajah, tubuh, anggota gerak atas
dan anggota gerak bawah. Pemetaan tersebut menghasilkan gambar suatu homunculus
(manusia kecil) yang terbalik pada girus presentralis. Otot-otot wajah diproyeksikan pada
girus presentralis bagian bawah. Di sebelah atasnya terletak daerah proyeksi dari otot-otot
ekstremitas superior, sedangkan di sebelah atas daerah ini terletak proyeksi dari otot-otot
tubuh. Daerah proyeksi otot-otot ekstremitas inferior dan genitalis berada di permukaan
medial hemisfer serebri yaitu di girus parasentralis (Ngoerah, 1991). Seperti tercantum
pada gambar 2.3.

2) Ganglia basalis

Ganglia basalis ialah massa substansia grisea yang terletak di dalam setiap hemispherium
cerebri. Massa-massa tersebut adalah corpus striatum, nucleus amygdala dan claustrum.
Nucleus caudatus dan nucleus lentiformis bersama fasiculus interna membentuk corpus
striatum yang merupakan unsur penting dalam sistem extrapyramidal. Fungsi dari ganglia
basalis adalah sebagai pusat koordinasi dan keseimbangan yang berhubungan dengan
keseimbangan postur, gerakan otomatis (ayunan lengan saat berjalan) dan gerakan yang
membutuhkan keterampilan. Ganglia basalis diduga mempunyai peran dalam
perencanaan gerakan dan sinergi gerakan (Japardi, 2007).

3) Cerebellum

Cerebellum yang terletak pada fosa posterior tengkorak berada dibelakang pons dan
medulla, dipisahkan dari cerebrum yang berada diatasnya oleh perluasan durameter, yaitu
tentorium cerebelli. Permukaan cerebellum mepunyai banyak sulcus dan alur, yang
memberikan gambaran berlapis-lapis dan makin dipertegas oleh beberapa fisura yang
dalam yang membagi cerebellum menjadi beberapa lobus. Cerebellum terdiri atas bagian
medial yang kecil dan tidak berpasangan, yaitu vermis dan 2 massa lateral yang besar,

8
yaitu hemispherium cerebelli (Chusid, 1990). Struktur interna cerrebelum ditandai oleh
lapisan corteks dan massa interna substansia alba yang didalamnya terdapat sekelompok
nukleus.
Fungsi cerebellum adalah sebagai pusat koordinasi untuk mempertahankan keseimbangan
dan tonus otot. Cerebellum mrupakan bagian dari susunan saraf pusat yang diperlukan
untuk mempertahankan postur dan keseimbangan untuk berjalan dan berlari (Japardi,
2007).

4). Traktus piramidalis

Traktus piramidalis adalah traktus yang melewati piramida medula oblongata (Ngoerah,
1991). Traktus piramidalis dibentuk oleh serabut-serabut frontospinalis dan serabut-
serabut sentrospinalis (Ngoerah, 1991). Fungsi sistem piramidalis adalah sebagai
pengatur kontrol gerak yang berhubungan dengan gerakan terampil dan motorik halus

B. Cerebral palsy

CP merupakan kerusakan otak atau kegagalan perkembangan otak selama didalam kandungan
( uterus ) atau pada awal pertumbuhan anak, kerusakan bersifat non progresif ( tidak berlanjut )
dan terjadi pada otak yang belum matang. Sehingga mengganggu proses pematangan otak yang
normal ( Weinstein dan Trap, 1972 ).
Menurut Eicher dan Batshaw (1993) CP didefinisikan merupakan suatu payung terminologi yang
digunakan unutk mendeskripsikan sekumpulan gannguan non progeresif dengan manifestasi
berupa abnormalitas tonus dan gannguan postur yang merupakan akibat dari kerusakan susunan
saraf pusat pada saat awal dimasa perkembangan otak.
Dalam definisi Ilmu Kesehatan Anak menjelaskan tentang CP yaitu suatu keadaan kerusakan
jaringan otak yang kekal dan bersifat non progresif, terjadi pada waktu masih muda ( sejak
dilahirkan ) dan merintangi perkembangan otak normal dengan gambaran klinis dapat berubah
selama hidup dan menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan
neurologis berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basalis dan cerrebellum, dan kelainan
mental.CP adalah gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam
perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik didalam susunan saraf pusat, bersifat kronik, dan

9
tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jarinagn otak yang belum selesai
pertumbuhannya.

Menurut Shepherd (1995) CP didefinisikan sebagai sekumpulan kelainan otak non progresif yang
menyebabkan lesi atau perkembangan yang abnormal pada kehidupan janin atau awal masa
anak-anak. Miller dan Bachrach (1998) mendefinisikan CP sebagai sekumpulan gangguan
motorik yang diakibatkan dari kerusakan pada otak yang terjadi sebelum, selama dan sesudah
kelahiran. Kerusakan otak pada anak mempengaruhi sistem motorik dan akibatnya anak tersebut
mempunyai koordinasi yang lemah, keseimbangan yang lemah, pola gerak yang abnormal atau
gabungan dari karakteristik tersebut.

Dalam kamus kedokteran dorlan (2005) definisi CP yaitu setiap kelompok gangguan motorik yang
menetap, tidak progresif, yang terjadi pada anak kecil yang disebabkan oleh kerusakan otak
akibat trauma lahir atau patologi intra uterine. Gangguan ini ditandai dengan perkembangan
motorik yang abnormal atau terlambat, seperti paraplegia spastik, hemiplegia atau tetraplegia,
yang sering disertai dengan retardasi mental, kejang atau ataksia.
Definisi spastik menurut kamus kedokteran Dorlan (2005) adalah bersifat atau ditandai dengan
spasme. Hipertonik, dengan demikian otot-otot kaku dan gerakan kaku.
Diplegi adalah paralisis yang menyertai kedua sisi tubuh, paralisis bilateral (Dorlan, 2005).
Diplegia merupakan salah satu bentuk CP yang utamanya mengenai kedua belah kaki (Dorlan,
2005)

Klasifikasi dari CP yaitu (1) spastik, merupakan gangguan pada UMN dengan tanda hiperrefleksia,
bentuk gerak yang abnormal, kelemahan, (2) athetoid, merupakan tanda lesi ekstrapiramidal,
ditandai adanya gerak involunter ( athetosis, dystonia, ataksia dan rigid ), (3) Ataksia, merupakan
lesi dari cerebellum, ditandai dengan adanya gangguan keseimbangan dan kooordinasi, (4)
mixed, merupakan kombinasi dari spastis, athetoid dan ataksia.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CP Spastik Diplegia adalah suatu gangguan tumbuh
kembang motorik anak yang disebabkan karena adanya kerusakan pada otak yang terjadi pada
periode sebelum, selama dan sesudah kelahiran yang ditandai dengan kelemahan pada anggota
gerak bawah yang lebih berat daripada anggota gerak atas, dengan karakteristik tonus postural
otot yang tinggi terutama pada regio trunk bagian bawah menuju ekstremitas bawah. Pada CP

10
spastik diplegia kadang-kadang disertai dengan retardasi mental, kejang dan gambaran ataksia.

Etiologi

Pada umumnya penyebab CP dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu ;


1. Pranatal

Biasanya terjadi akibat infeksi dalam kandungan sehingga menyebabkan kelainan pada janin seperti
toksoplasmosis, rubella, lues, dan penyakit inklusi sitomegalik. Selain itu juga oleh karena
anoksia dalam kandungan, terkena sinar radiasi sinar- X dan keracunan kehamilan.

2.Perinatal
Pada masa ini meliputi ;

a. ) Hipoksia ( anoksia )

Penyebab yang terbanyak ditemukan dalam masa masa perinatal adalah brain injury (cedera pada
otak ). Keadan inilah yang menyebabkan anoksia. Hal ini dapat terjadi pada presentasi bayi
abnormal, disporposi sefalo-pelvis, partus lama, plasenta praevia, partus dengan menggunakan
instrumen tertentu dan lahir dengan sectio caesar.

b. ) Perdarahan otak

Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya, misalnya
perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah
sehingga terjadi anoksia. Perdarahan yang terjadi diruang subarakhnoid akan menyebabkan
penyumbatan cairan cerebrospinal sehingga mengakibatkan hidrocepallus. Perdarahan diruang
subdural dapat menekan cortek cerebri sehingga timbul kelumpuhan spastis.

c. ) Prematuritas

Bayi yang lahir dengan usia kandungan yang belum cukup bulan mempunyai kemungkinan
menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, hal ini karena
pembuluh darah, enzim, dan faktor pembekuan darah masih belum sempurna.

11
d. ) Ikterus

Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak akibat masuknya billirubin
ke ganglia basalis, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah dan faktor Rh.

e. ) Meningitis purulenta

Meningitis purulenta pada masa bayi apabila terlambat atau tidak tepat penangananya akan
mengakibatkan gejala sisa berupa CP.

3. Pascanatal

Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan CP.
Misalnya pada trauma capitis, menigitis, ensefalitis dan luka parut pada otak pasca-operasi, bayi
dengan berat badan rendah.

Patologi

Kelainan neuropatologis terjadi tergantung dari berat ringannya kerusakan. Jadi kelainan
neuropatologis terjadi sangat kompleks dan difus yang dapat mengenai korteks motorik, traktus
piramidalis, daerah paraventrikular ganglia basalis, batang otak dan ceebellum.
Anoksia cerebri sering merupakan komplikasi perdarahan intraventrikuler dan subependim.
Asfiksia perinatal sering berkombinasi dengan ischemia yang bisa menyebabkab necrosis.
Kern icterus secara klinis memberikan gambaran kuning pada seluruh tubuh dan akan menempati
ganglia basalis, hipocampus, sel-sel nukleus batang otak, dapat mnenyebabkan CP tipe athetoid,
gangguan pendengaran dan mental retardasi.
Infeksi otak dapat mengakibatkan perlengketan meningen, sehingga terjadi obsturksi ruangan
subarachnoid dan timbul hidrocepalus. Perdarahan dalam otak dapat meninggalkan rongga yang
berhubungan dengan ventrikel.
Trauma lahir akan menimbulkan kompressi cerebral atau perobekan sekunder. Trauma lahir
menimbulkan gejala yang irreversibel. Lesi irreversibel lainnya akibat trauma adalah terjadi
sikatriks pada sel-sel hipocampus yaitu pada ammonis, yang bisa mengakibatkan timbulnya
epilepsi.

12
Tanda dan gejala klinik

Gambaran klinik CP tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan,
semisal paralisis, gerakan involunter, dan ataksia.
Pada kondisi CP diplegia spastik yaitu keadaan dimana anggota gerak bawah tidak berfungsi
maksimal dibandingkan dengan anggota gerak atas akibat adanya spastisitas yang terjadi pada
anggota gerak bawah ( kedua tungkai bawah) . Adanya spastisitas menyebabkan kontrol gerak
yang tidak terkendali sehingga mempengaruhi postur tubuh dan keseimbangan. Dengan
demikian dapat mengganggu aktifitas fungsional anak penderita CP.

Prognosis

Prognosis tergantung pada gejala dan tipe CP. Di inggris dan Skandinavia 20 50 % pasien dengan
CP mampu sebagai buruh kerja penuh, sebanyak 30 35 % dari semua pasien CP dengan
retardasi mental memerlukan perawatan khusus. Prognosis paling baik pada derajat fungsional
ringan. Prognosis bertambah berat apabila disertai dengan retardasi mental, kejang, gangguan
penglihatan dan pendengaran. Pengamatan jangka panjang yang dilakukan Cooper dkk seperti
dikutip oleh Suwirno T menyebutkan ada tendensi perbaikan fungsi koordinasi dan motorik
dengan bertambahnya umur pasien CP yang memperoleh rehabilitasi baik.

I. ANAMNESIS

A.Anamnesis Umum

13
Identitas Penderita

Nama : Annisa Novayanti Syam

Umur / Tanggal lahir : 10 Tahun 6 Bulan / 17 November 2006

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat Saat ini : Maccini Tengah Lorong 4

Makassar Sulawesi Selatan Indonesia

Nama Orangtua

Ayah : Syamsuddin

Ibu : Sangnging

Usia Orang tua

Ayah :

Ibu :

Pendidikan Terakhir

Ayah : SMP

Ibu : SMP

Pekerjaan Orang tua

Ayah : Buruh

Ibu : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Jumlah Anggota Keluarga : 3 Orang

a. Riwayat Kehamilan Ibu


1. Penderita Anak ke : Ke 1
2. Jumlah Saudara : 3 Orang
3. Jumlah Kehamilan : 3 kali
4. Jumlah Keguguran : Tidak Pernah
5. Jumlah Kelahiran : 3 kali
6. Jumlah lahir mati :-
7. Jumlah Anak Hidup : 3 Anak
8. Penyakit Kehamilan : Tidak ada

14
B. Anamnesis Khusus

b. Riwayat Persalinan

1. Umur Persalinan : 8 Bulan 7 hari ( Prematur )


2. Cara Kelahiran Penederita : Sungsang
3. Berat Badan ketika Lahir : 2,1 kg
4. Tempat lahir : Puskesmas
5. Keadaan Jasmani : Normal

c. Riwayat Sakit

1. Sakit Kuning : Tidak


2. Kejang : Tidak
3. Sesak nafas sampai biru biru : Ya
4. Panas Tinggi : Ya
a. Panas Tinggi sampai dirawat Umur : 3 Bulan
b. Pernah dirawat dirawat di Rumah sakit : Tidak
c. Karena Sakit apa : Panas Tinggi

d. Riwayat Perkembangan

1. Tengkurap : Pasien belum bisa tengkurap


2. Duduk : Pasien belum bisa duduk jika dibantu atau difasilitasi .
3. Meraih benda : Pasien belum bisa meraih benda yang diberikan
kepadanya
4. Merangkak : Pasien belum bisa merangkak
5. Berjalan : Pasien belum bisa berjalan
6. Bicara satu/dua patah kata : Belum bisa dan Belum mengerti

e. Riwayat Imunisasi

1. BCG : Ya
2. Polio : Ya
3. Campak : Ya
4. DPT : Ya
5. Hepatitis : Ya
6. Kejang Setelah Imuisasi : Tidak

15
f. Riwayat Penyakit Sekarang ( CP )

Pertama dicurigai ada gangguan : Ketika terlihat perkembangan bayi yang tidak berkembang

sebagaimana mestinya yang ditandai dengan ke tidak mampuan penderita melakukan kegiatan

sesuai dengan perkembangan usianya

Sejak Anak Umur 3 Bulan

Adapun tanda yang ditemukan saat itu anak mengalami demam yang sangat tinggi sehingga anak

step . Orangtua penderita membawanya ke Puskesmas disana Penderita ditangani oleh Bidan..

Vital Sign

1. Suhu Tubuh : C

2. Tinggi Badan : cm

3. Berat Badan : kg

II. INSPEKSI

Inspeksi Statis

1. Posisi Pasien Ekstensi atau Supine Line


2. Elbow Fleksi
3. Shoulder ABD
4. Kaki Plantar Fleksi
5. Palmar grasp reflex ( Refleks menggengam ) masih ditemukan
6. Postur tubuh yang cenderung Khyposis

Inspeksi Dinamis

1. Ketika Fisioterapis memintanya mengambil pulpen penderita tidak bisa mengambil dan

elbow cenderung Fleksi , Shoulder Abd

16
2. Kemudian Penderita tidak bisa Rotasi Trunk
3. Penderita bisa mengikuti objek ketika objek dipindahkan ke berbagai arah
4. Penderita belum terlalu mampu mempertahankan leher ketika dibantu duduk oleh Fts

III. PEMERIKSAAN SPESIFIK

A. Pemeriksaan Tonus Otot

Pemeriksaan tonus otot dengan menggunakan skala asworth, dimana peningkatan tonus otot
dapat dinilai sebagai berikut :
Nilai Keterangan

0 : Tidak ada peningkatan tonus otot


1 : Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai denagan terasanya tahanan minimal
( catch and release ) pada akhirt ROM pada waktu sendi digerakkan fleksi atau
ekstensi.
2 : Ada penigkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan adanya pemberhentian
gerakan ( catch ) dan diikuti dengan adanya tahanan minimal sepanjang sis
ROM, tetapi secara umum sendi tetap mudah digerakkan.
3 : Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjang sebagian besar ROM, tetapi sendi
masih mudah digerakkan.
4 : Peningkatan tonus otot sangat nyata, gerak pasif sulit dilakukan.
5 : Sendi atau ekstrimitas kaku ( rigid ) pada gerakan fleksi atau ekstensi.
Dari Obsevasi yang dilakukan ada beberapa gerakan yang masuk pada kategori diatas yang terdiri

dari gerakan

1. Fisioterapi mempalpasi muscle belly pada keempat anggota gerak kategori otot

( kategori 1)
2. Gerakan Fleksi Knee ( Otot pada Fleksor Knee )
Hasilnya : Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjang sebagian besar ROM,

tetapi sendi masih mudah digerakkan. ( Kategori 1 )

17
IV. PEMERIKSAAN REAKSI OTOMATIS

1. Reaksi tegak (Righting reaction) dengan cara anak diposisikan duduk kemudian trunk

digerakkan ke belakang, ke samping dan ke depan maka anak akan mempertahankan

posisi kepala tetap tegak. Atau Fts melakukan Aproximasi pada kepala maka dengan

sendirinya akan timbul reflex righting reaction terkadang pada anak .


Hasilnya : Pasien bisa mempertahankan posisi kepala selama beberapa detik
2. Reaksi ekstensi protektif (Protective Reaction) dengan cara anak diposisikan Tengkurap

kemudian di dorong ke salah satu sisi dengan fisio ball exercise , dilihat apakah lengan

bereaksi mempertahankan badan dengan ekstensi lengan.


Hasilnya : Pasien belum terlalu bisa tapi dapat melakukannya

V. PEMERIKSAAN REFLEKS PATOLOGIS

a) Babynski, cara anak diposisikan tidur terlentang, gores pada bagian lateral telapak

Hasilnya : timbul gerakan ekstensi jari-jari diikuti abduksi jari-jari kaki ( Positif )
b) Grasp reflek, dengan cara permukaan palmar tangan diberi stimulasi,
Hasilnya : tangan anak kemudian menggenggam .
c) Pattella Refleks , Fts menggerakkan Refleks hammer pada patella
Hasilnya : timbul reaksi berlebihan pada tungkai
d) Refleks Moro , Fts mengejutkan anak dengan cara menepuk tangannya tepat didepan
mata anak
Hasilnya : normal , awalnya anak terkejut namun ketika diulangi yang terjadi anak
nampaknya bersikap biasa dan tidak terkejut lagi

VI. PEMERIKSAAN DEFORMITAS

a) Adanya Kontraktur terutama untuk back muscle

VII. PROBLEMATIKA FISIOTERAPI

1. Adanya gangguan Gangguan keseimbangan dan kontraktur


2. Adanya Gangguan Head kontrol
3. Keterlambatan munculnya releks parasut

18
4. Instabilitas Pelvic
5. Kelemahan Otot Abdomen
6. Adanya Gangguan Pernafasan

VIII. Diagnosa FT

GANGGUAN TUMBUH KEMBANG CEREBRAL PALSY TIPE SPASTIK DIPLEGIA

DENGAN USIA TUMBUH KEMBANG 3 BULAN

VIII. INTERVENSI FISIOTERAPI

1. Penggunaan Fisio Ball Exercise

Tujuan :

1 . Keseimbangan , Strengthening dan stretching

2. Melatih Refleks Parasut

3. Melatih Head Control

Tehnik Pelaksanaan :

1. Anak diletakkan pada Fisioball exercise

2. Posisi anak dalam keadaan prone lying , anak memeluk fisioball

3. FTs memegang bagian pelvis anak

4. Fts menggerakkan bola

5. Pada saat itu secara reflex anak akan memegang lantai untuk mempertahankan

19
dirinya

6. FTs mengembangkan reflex parasut (self protective ) .

Tujuan :

4. Menstabilkan Pelvic

5. Untuk meningkatkan otot Abdbomen

Tehnik Pelaksanaan :

1. Anak diletakkan pada Fisioball exercise

2. Posisi anak supine lying

3. Fts memberikan rangsangan pada area tungkai atas dekat pelvis dengan menekan area

tersebut

4. Sehingga dapat menstabilkan pelvic sekaligus meningkatkan otot abdominal

5. Setiap kali anak akan jatuh Fts juga menggerakkan bola agar reflex protective anak

dapat berkembang .

2. Penggunaan Afo , Splinting , dan wallbar

Tujuan :

1. Sebagai Stabilisasi untuk mengajarkan latihan Berdiri

2. Fasilitasi untuk persiapan berdiri

3. Koreksi postur khususnya pada trunk dan sepanjang tungkai atas dan bawah

20
4. Ekspansi Thoraks

Tenhik Pelaksanaan :

1. Anak tidur terlentang

2. Fts memakaikan alat afo dan Splinting

3. Setelah afo dan splinting terpasang selanjutnya fts membantu anak berdiri

sambil memegangnya

4. kemudian Fts membantu anak mengambangkan koreksi postur dan stabilisasi

dengan menggunakan wallbar

5. Ketiga alat tersebut secara tidak langsung menbantu anak dalam memenuhi

tujuan latihannya.

IX. EVALUASI

1. Setelah Melakukan Terapi Ada beberapa hal yang bisa dilakukan anak yang pada awalnya

belum bisa ia lakukan dengan dilakukan ntervensi FT anak dapat duduk dan

mempertahankan kepalanya sebagai head control untuk beberapa menit


2. Streching dan Latihan menggunakan fisioball exercise pun sangat baik dalam

mengembangkan reflex parasutnya yang kemudian perlahan bisa dilakukan anak

21
3. Dengan penggunaan Avo an Splint anak difasilitasi untuk bisa berdiri dan

mempertahankan tubuhnya sehingga pernafasan anak akan baik seiring dengan ekspnsi

thoraks yang terjadi

22