Anda di halaman 1dari 7

BAB I

18

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Prevalensi penyakit tidak menular (non communicable diseases) diprediksi

akan terus mengalami peningkatan di beberapa negara berkembang. Peningkatan

penderita

penyakit

tidak

menular

tidak

saja

berdampak

pada

morbiditas,

mortalitas, dan disabilitas di masyarakat melainkan juga pada bertambahnya

beban

ekonomi

individu

maupun

negara.

World

Economic

Forum

(2011)

menyatakan untuk 20 tahun ke depan total pengeluaran dunia untuk mengatasi

penyakit tidak menular kemungkinan melebihi angka $ 30 triliun.

Salah satu penyakit tidak menular kronis yang menjadi masalah utama

kesehatan

dunia

adalah

diabetes

mellitus.

Dunia

sedang

menghadapi

perkembangan epidemi diabetes mellitus, berbagai studi epidemiologi global

menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi

diabetes di berbagai penjuru dunia. Diabetes mellitus telah dikategorikan sebagai

penyakit

global

oleh

World

Health

Organization

(WHO).

Data

statistik

International Diabetes Federation Atlas (2013) memperkirakan 382 juta populasi

dewasa di seluruh dunia hidup dengan diabetes, angka ini akan terus meningkat

hingga mencapai 592 juta pada tahun 2035. Meluasnya epidemi diabetes di

seluruh dunia memberikan potensi yang merugikan pada pengembangan sistem

kesehatan dan ekonomi di negara-negara berkembang.

19

Menurut American Diabetes Association (ADA), Indonesia menempati

urutan ke-7 terbesar dengan jumlah penderita diabetes ± 8,5 juta orang. Secara

epidemiologi, Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai ± 237 juta orang

diprediksi akan tetap berada dalam sepuluh besar negara dengan prevalensi

diabetes tertinggi hingga tahun 2030 (Wild et al., 2004). Dari data Indonesian

Basic Health Research (Riskesdas 2013) ditemukan bahwa prevalensi diabetes

dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan terutama di daerah perkotaan

terkait

dengan

kondisi

sosial

ekonomi,

perubahan

gaya

hidup

dan

efek

modernisasi. Jika pada 2007 prevalensi diabetes di Indonesia 5,7% maka jumlah

ini meningkat menjadi 6,9% pada 2013. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis

dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi

Utara

(2,4%),

dan

Kalimantan

Timur

(2,3%).

Prevalensi

diabetes

yang

terdiagnosis dokter atau berdasarkan gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah

(3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara

Timur (3,3%) (Kemenkes RI, 2013 a ).

Diabetes mellitus tidak hanya diderita oleh kalangan atas, namun juga

sudah banyak diderita oleh kalangan tidak mampu. Penderita yang terkena hampir

semua kalangan umur, bukan hanya yang berusia senja, tetapi banyak pula yang

masih berusia produktif. Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik kronis

dan progresif yang menyebabkan berbagai macam komplikasi akut dan kronis.

Komplikasi kronis dapat mengenai mikrovaskular

(retinopati, neuropati

dan

nefropati) dan makrovaskular (gangren/ulcer). Diabetes menjadi penyebab lebih

dari sepertiga kasus baru end stage renal diseases (ESRD), dan hampir setengah

20

dari nontraumatic lower extremity amputations (LEA) (Speckman et al., 2004).

Terapi penyakit diabetes mellitus dilakukan terus menerus seumur hidup sehingga

memerlukan biaya yang sangat besar. Berdasarkan data American Diabetes

Association (ADA) 2012, secara global pengeluaran kesehatan untuk diabetes

mencapai $ 471 milyar atau setara dengan 11,7% dari total pengeluaran kesehatan.

Hasil studi Finkelstein et al., (2014) memperkirakan ditahun 2020 diabetes

mellitus akan meningkatkan beban ekonomi Indonesia mencapai lebih dari $ 1,27

milyar.

DI Yogyakarta sebagai salah satu kota di Indonesia dengan prevalensi

diabetes yang tinggi (2,6%), diperkirakan tercatat terdapat 12.915 penderita

diabetes, baik rawat jalan, rawat inap, atau di instalasi gawat darurat. Laporan

Survailans Terpadu Penyakit (STP) DI Yogyakarta tahun 2012 menunjukkan

penyakit diabetes mellitus (7.434 kasus) menempati urutan ke-5 dari distribusi 10

besar penyakit dan pada tahun 2011 menjadi penyebab kematian di rumah sakit

peringkat ke-7 dengan jumlah kematian sebanyak 214 (Dinkes DIY, 2013).

RSUP Dr. Sardjito merupakan Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas A

yang memiliki 35 Instansi/Unit dengan 24 Satuan Medis Fungsional (SMF) dan

722 tempat tidur. RSUP Dr. Sardjito telah menerapkan program Indonesia Case

Base Groups (INA-CBGs) berdasarkan Permenkes Nomor 69 Tahun 2013 yang

berlaku pada 1 Januari 2014 sebagai landasan penghitungan biaya klaim pasien

rawat inap maupun rawat jalan. RSUP Dr. Sardjito menjadi pusat rujukan untuk

daerah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan terutama untuk kasus

penyakit kronis seperti diabetes mellitus. Dari perspektif rumah sakit komponen

21

biaya medis langsung (direct medical costs) yang dikeluarkan oleh penderita

diabetes untuk pengobatan diabetes meliputi biaya obat, biaya kunjungan dokter,

pemeriksaan laboratorium serta biaya perawatan. Data public health insurer

(Askes 2012) melaporkan biaya medis langsung penderita diabetes mencapai

lebih dari $ 51,1 juta baik rawat jalan maupun rawat inap (Soewondo et al., 2013).

Pengeluaran medis bagi penderita diabetes 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan

mereka yang tidak terkena diabetes. Penderita dengan komplikasi makrovaskular

atau mikrovaskular memiliki biaya tiga kali lebih tinggi dibandingkan penderita

diabetes tanpa komplikasi (Henriksson et al., 2000).

Biaya

kesehatan

dan

pertumbuhan

beban

penyakit

diabetes

mellitus

dengan keparahan komplikasi kronis yang meningkat pesat dari tahun ke tahun

menimbulkan

dampak

negatif

jangka

panjang

yang

cukup

besar

bagi

pembangunan kesehatan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Beban ekonomi

penyakit diabetes harus menjadi perhatian dari pelaksanaan Jaminan Kesehatan

Nasional

(JKN)

dalam

mengelola

masalah

penyakit

tidak

menular

kronis.

Estimasi biaya penyakit (cost of illness) merupakan elemen penting dalam proses

pengambilan keputusan dari penyakit kronis seperti diabetes mellitus (Mateti et

al., 2013). Evaluasi beban ekonomi (economic burden) penyakit secara riil akan

memberikan dasar bagi pemerintah untuk menilai dampak fiskal jangka panjang

dari

penyakit

kronis

guna

efisiensi

ekonomi

dan

pengembangan

strategi,

kebijakan atau program pada sistem pembiayaan kesehatan (Zhuo et al., 2013).

Permasalahan inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian

22

mengenai total biaya penyakit diabetes mellitus berdasarkan perspektif rumah

sakit di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

1. Berapakah total biaya penyakit diabetes mellitus berdasarkan perspektif

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?

2. Apakah ada pengaruh faktor usia dan komplikasi terhadap biaya riil pasien

diabetes mellitus rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?

3. Apakah ada pengaruh faktor usia, komplikasi, lama rawat inap, dan kelas

rawat inap terhadap biaya riil pasien diabetes mellitus rawat inap di RSUP

Dr. Sardjito Yogyakarta?

4. Apakah ada perbedaan antara total biaya riil dengan total tarif paket INA-

CBG’s 2014 pasien diabetes mellitus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk

mengetahui

total

biaya

penyakit

diabetes

perspektif RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

mellitus

berdasarkan

2. Untuk mengetahui pengaruh faktor usia dan komplikasi dengan biaya riil

pasien diabetes mellitus rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

3. Untuk mengetahui pengaruh faktor usia, komplikasi, lama rawat inap, dan

kelas rawat inap dengan biaya riil pasien diabetes mellitus rawat inap di

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

23

4. Untuk mengetahui perbedaan antara total biaya riil dengan total tarif paket

INA-CBG’s 2014 pasien diabetes melitus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti dapat bermanfaat untuk mengetahui gambaran riil mengenai

total biaya penyakit diabetes mellitus dari perspektif rumah sakit.

2. Bagi

RSUP

Dr.

Sardjito

Yogyakarta

hasil

penelitian

diharapkan

dapat

menjadi bahan masukan bagi pihak manajemen dalam pengembangan strategi

dan kebijakan agar pelayanan kesehatan menjadi lebih bermutu, efisien dan

ekonomis.

3. Bagi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dapat bermanfaat sebagai

bahan pertimbangan dalam mengembangkan rencana mengenai alokasi dana

pembiayaan kesehatan nasional yang lebih rasional.

4. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi dasar bagi penelitian

selanjutnya.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian yang pernah dilakukan yang berkaitan dengan analisis biaya penyakit

diabetes mellitus:

1. Evaluasi Biaya Riil Pasien Rawat Inap Jamkesmas dengan Tarif INA-DRG’s

dalam Rangka Penurunan Selisih Biaya Pelayanan Pelayanan di Rumah Sakit

Umum Haji Surabaya (Studi Kasus Diagnosis Diabetes Mellitus) (2011).

24

2. Perbandingan Biaya Riil dengan Tarif Paket INA-CBG’s dan Analisis Faktor

yang Mempengaruhi Biaya Riil pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Inap

Jamkesmas di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta (2013).

Perbedaan penelitian yang dilakukan dengan beberapa penelitian tersebut

adalah pada penelitian ini akan memperkirakan total biaya penyakit diabetes

mellitus dari perspektif penyedia layanan kesehatan yaitu pihak rumah sakit

dengan menggabungkan semua biaya medik langsung pasien diabetes mellitus

tipe 1 dan 2 rawat inap maupun rawat jalan dengan sistem pembayaran fee for

service ataupun prospective payment system. Pada penelitian ini juga akan

mengetahui adanya perbedaan antara total biaya riil dengan total tarif paket INA-

CBG’s 2014 pada pasien rawat inap tetapi juga pasien rawat jalan.