Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Appendix

2.1.1. Anatomi

Appendiks vermiformis adalah organ sempit berbentuk tabung yang

mempunyai otot dan mengandung banyak jaringan limfoid. Panjang appendix

vermiformis bervariasi 3-5 inci (8-13 cm). Lumennya sempit di bagian proksimal

dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi, appendiks berbentuk

kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini

mungkin menjadi sebab rendahnya insidens appendisitis pada usia tersebut. Dasar

appendix vermiformis melekat pada permukaan posteromedial caecum, sekitar 1

inci (2,5cm) dibawah junctura ileocaecalis. Bagian appendix vermiformix diliputi

seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada lapisan bawah mesentrium

intestinum tenue melalui mesentriumnya sendiri yang pendek, mesoappendix.

Mesoappendix berisi arteria, vena, appendicularis dan saraf-saraf.

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti

arteri mesenterika superior dan arteri appendikularis, sedangkan persarafan

simpatis berasal dari nervus thorakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada

appendisitis bermula di sekitar umbilikus. Perdarahan appendiks berasal dari arteri

appendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat,

misalnya karena trombosis pada infeksi, appendiks akan mengalami gangren.11,14


7

2.1.2. Histologi appendix

Gambaran mikroskopis appendix vermiformis secara struktural mirip kolon,

terdapat empat lapisan yaitu, mukosa, submukosa, tunika muskularis, dan tunika

serosa. Kecuali beberapa modifikasi yang khas untuk appendix. Terdapat beberapa

persamaan antara mukosa appendix dan kolon : epitel pelapis dengan banyak sel

goblet ; lamina propria dibaawahnya yang mengandung kelenjar intestinal (kripti

lieberkhun) dan mukosa muskularis. Kelenjar intestinal pada appendix kurang

berkembang, lebih pendek, dan sering terlihat berjauhan letaknya. Jaringan

limfoid diffus di dalama lamina propria sangat banyak dan sering terlihat sampai

ke submukosa berdekatan.

Gambar 2.1 Histologi appendix12

Di tunika muskularis terdapat tempat pertemuan gabungan dari taenia coli.

Submukosanya sangat vaskuler dengan banyak pembuluh darah. Muskularis

eksterna terdiri atas lapisan sirkular dalam dan longitudinal luar. Ketebalan otot

ini bervariasi. 12

2.1.3. Fisiologi
8

Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari. Lendir itu

normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.

Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis

appendisitis.

Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated

lympoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna, termasuk appendix,

ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.

Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun

tubuh karena jumlah jaringan limfe disini sangat kecil sekali jika dibandingkan

dengan jumlahnya di saluran cerna dan seluruh tubuh.14

2.1.4. Definisi

Appendisitis akut adalah peradangan dari appendiks yaitu organ seperti

kantung yang tak berfungsi pada bagian inferior dari sekum dan merupakan

penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah rongga

abdomen serta penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.

Appendisitis merupakan penyakit prototipe yang berlanjut melalui peradangan,

obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi.7,8

Appendisitis perforasi adalah komplikasi utama dari appendisitis akut,

dimana appendiks mengalami ruptur atau telah berlubang sehingga isi appendiks

keluar menuju rongga peritoneum yang dapat menyebabkan peritonitis atau

abses.5,7,8

2.1.5. Insidensi
9

Appendisitis dapat ditemukan pada semua usia, hanya pada anak kurang

dari 1 tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok usia 15-30

tahun, setelah itu menurun.

Sekitar 10% pasien appendisitis berusia kurang dari 10 tahun atau berusia lebih

dari 50 tahun. Usia sangat muda dan sangat tua beresiko lebih tinggi untuk terjadi

perforasi.

Insidensi pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada usia

15-30 tahun, ketika insidensi pada laki-laki lebih tinggi.10,14

2.1.6. Etiologi

Etiologi dari appendisitis akut bersifat multifaktorial. Berbagai hal berperan

sebagai faktor pencetus. Diantaranya adalah :

1. Peranan Lingkungan, Diet,Kebersihan

Kebiasaan makan makanan rendah serat serta konstipasi berperan

terhadap kejadian appendisitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan

intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan

meningkatnya pertumbuhan flora normal koion. Diet menjadi peranan utama

pada pembentukan sifat feses yang mempengaruhi pembentukan fekalit. Diet

tinggi serat menghasilkan konsistensi feses lebih lembek, sedangkan diet

rendah serat menghasilkan feses dengan konsistensi keras. Semuanya ini

memudahkan timbulnya appedisitis.5,7,8,13

2. Peranan Obstruksi

Obstruksi lumen merupakan faktor penyebab dominan dalam


10

appendisitis akut. Penyebab obstruksi antara lain timbunan fekalit,

hyperplasia jaringan limfoid, tumor appendiks, striktur, benda asing dan

cacing ascaris. Namun penyebab paling sering adalah fekalit dan hyperplasia

jaringan limfoid. Fekalit adalah penyebab obstruksi lumen appendiks pada

20% anak dengan appendisitis. Fekalit terdapat pada 40% kasus appendisitis

akut, 65% pada appendisitis gangren dan 90% pada appendisitis perforasi.

Jaringan limfoid pada bagian submukosa appendiks yang mengalami edema

dan hipertropi sebagai respon infeksi virus di sistem gastrointestinal atau

sistem respiratorius dapat menyebabkan obstruksi lumen appendiks.

Megakolon kongenital yaitu obstruksi pada kolon bagian distal yang

diteruskan ke dalam lumen appendiks merupakan salah satu alasan terjadinya

appendisitis pada neonatus.5,7,8,13

3. Peranan Flora Bakterial

Ditemukannya beragam bakteri aerob dan anaerob pada kasus

appendicitis sama dengan penyakit kolon Iainnya. Kultur bakteri dari cairan

peritoneal biasanya negatif pada tahap appendisitis akut tanpa komplikasi.

Namun pada appendisitis supuratif, banyak ditemukan bakteri aerob terutama

Escherichia coli, dan saat gejala semakin berat banyak organisme seperti

Proteus, Klebsiella, Streptococcus dan Pseudomonas dapat ditemukan.

Sebagian besar penderita appendisitis gangrenosa atau perforasi banyak

ditemukan bakteri anaerob terutama Bacteroides fragilis. Penyebab lain yang

mungkin adalah erosi mukosa appendiks karena parasit seperti Entamoebq

histolitica dan benda asing mungkin tersangkut di appendiks dalam jangka


11

waktu lama tanpa menimbulkan gejala, namun dapat meninibulkan resiko

terjadinya perforasi.5,7,8,13

2.1.7. Klasifikasi

Klasifikasi appendisitis berdasarkan perjalanan alaminya adalah :

Appendisitis mukosa

Akut

Appendisitis flegmonosa

Appendisitis dengan nekrosis setempat

Appendisitis supuratif Perforasi

Appendisitis gangrenosa

Gambar 2.2
Bagan Klasifikasi Appendisitis5

2.1.8 Patogenesis dan Patofisiologi

Patogenesis dan patologi appendisitis dapat dilihat dari perjalanan

penyakitnya, yaitu :

1. Appendisitis Mukosa
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Saat dalam keadaan

normal, lendir dicurahkan ke dalam lumen dan mengalir ke sekum. Namun

karena obstruksi, sekresi mukosa akan terbendung, lalu menyebabkan distensi

lumen akut. Kemudian terjadi kenaikan tekanan intraluminer yang dapat


12

mengganggu drainase limfe dan menekan pembuluh darah. Keadaan tersebut

menyebabkan mukosa appendiks menjadi edema, resistensi selaput lendir

berkurang, terjadi kongesti vena dan iskemia arteri. Appendiks rentan

mengalami iskemia karena pembuluh darahnya merupakan end artery.

Kondisi ini dapat menimbulkan luka atau ulserasi mukosa appendiks yang

mengundang invasi bakrteri dari usus besar dan menyebabkan proses radang

akut yang disebut appendisitis mukosa, terjadi proses irreversibel meskipun

faktor obstruksi telah dihilangkan.5,7-9

Gambar 2.3 Apendiktomi

2. Appendisitis Supuratif
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah menimbulkan trombosis

pembuluh darah appendiks dan memperberat iskemia serta edema. Invasi

bakteri terus terjadi kedalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa.

Selanjutnya, eksudasi netrofil pada dinding appendiks semakin banyak

sampai lapisan muskularis yang disebut appendisitis akut flegmonosa, pada

kondisi ini terdapat fokus-fokus purulen dan nekrosis pada mukosa.

Bertambah buruknya reaksi inflamasi menyebabkan pembentukan abses pada


13

dinding dan pus dalam lumen serta terjadi ulserasi. Tahap ini lapisan serosa

dilapisi oleh eksudat fibrinoid supuratif disertai nekrosis lokal dan disebut

appendisitis supuratif akut.5,7-9

3. Appendisitis Gangrenosa
Kelanjutan dari reaksi diatas adalah pada appendiks terjadi hiperemi

berlebihan dan edema dengan tanda-tanda perdarahan di bawah lapisan

serosa, dari luar tampak eksudat bercampur fibrin dan mesoappendiks yang

membengkak. Iskemia dan nekrosis sepanjang dinding sampai lapisan serosa

akan semakin parah yang kemudian mengakibatkan terjadinya infark. Infark

pun terus berlanjut menjadi gangren, berwarna hitam kehijauan yang sangat

potensial ruptur, tahap ini disebut appendisitis akut gangrenosa. 5,7-9

4. Appendisitis Perforasi
Tahap ini appendiks telah ruptur, pecah atau berlubang dan pus yang

terdapat didalam lumen dapat keluar menyebar ke organ-organ lain maupun

didalam fosa appendiks vermiformis yang dapat mengakibatkan peritonitis.

Pus yang tercurah kedalam rongga peritoneum menyebabkan terjadinya

peradangan peritoneum parietal. 5,7-9

2.1.9. Manifestasi Klinis

Hubungan patofisiologi dan manifestasi klinis apendisitis tergambar dalam

bagan berikut:

Tabel 2.1 Hubungan patofisiologi dan manifestasi klinis appendisitis5

Kelainan Patologi Keluhan dan Tanda


Peradangan awal Nyeri epigastrium
14

Apendisitis mukosa Nyeri tekan kanan bawah

Radang diseluruh ketebalan Nyeri sentral pindah kekanan bawah, mual


dinding apendiks dan muntah

Apendisitis komplit dan radang Rangsangan peritoneum lokal, nyeri pada


peritoneum pareital apendiks gerak aktif dan pasif, defans muskular lokal

Apendisitis gangrenosa Demam sedang, takikardi, mulai toksik,


leukositosis

Apendisitis perforasi Nyeri dan defans muskular seluruh perut

Pembungkusan
-Tidak berhasil Demam tinggi, dehidrasi, syok, toksik
-Berhasil Masa perut kanan bawah, keadaan umum
berangsur membaik
-Abses
Demam remiter), toksik

Terdapat beberapa gejala lain dari appendisitis yang dapat ditemukan.

Gejala tersebut dipengaruhi oleh letak appendiks ketika meradang, gejala tersebut

antara lain :5

1. Letak appendiks retrosekal retroperitoneal

Nyeri perut kanan bawah tidak terasa begitu jelas dan tidak ada tanda

rangsangan peritoneal. Rasa nyeri akan timbul saat melakukan gerakan seperti

bernapas dalam, batuk, mengedan dan berjalan yang disebabkan karna kontraksi

muskulus psoas mayor yang menegang dari dorsal. Appendiks yang dekat dengan

uretra pada lokasi retrocaecal ini dapat menyebabkan frekuensi urinasi bertambah

dan bahkan hematuria.5

2. Letak appendiks di rongga pelvis


Kadang menimbulkan gejala seperti gastroenteritis akut. Appendiks yang

berada menempel atau di dekat rektum dapat menimbulkan gejala serta rangsang
15

sigmoid, akan terjadi peningkatan peristaltis sehingga pengosongan rektum

menjadi lebih cepat dan berulang-ulang yang menyebabkan diare. Bila appendiks

berada menempel atau didekat kandung kemih, perangsangan pada dindingnya

dapat menyebabkan peningkatan frekuensi kemih.5

2.1.10. Penegakan Diagnosis

2.1.10.1. Anamnesis

1. Nyeri perut
Gejala khas dari keluhan utama ini adalah nyeri awal di perut

bagian tengah atau epigastrium dan intensitasnya meningkat pada 24

jam pertama, berpindah dan menetap di kuadran kanan bawah

tepatnya di titik Mc Burney. Nyeri pertama kali merupakan nyeri alih

akibat inervasi visceral dari usus tengah yang terjadi karena

hiperperistaltik akibat obstruksi, hal ini dapat terjadi pada seluruh

saluran cerna sehingga nyeri visceral dirasakan pada seluruh perut.

Nyeri juga timbul karena kontraksi appendiks, distensi lumen

appendiks ataupun karena larikan dinding appendiks meradang. Nyeri

lokal diperut kanan bawah disebabkan oleh peradangan sekitar 4-6

jam dan iritasi Iangsung peritoneum parietalis akibat peradangan

lanjut.biasanya penderita dapat menunjukkan letak nyeri karena

bersifat somatik, lebih tajam dan terlokalisir dan lebih hebat bila batuk

ataupun berjalan kaki.7-10

2. Mual dan muntah


Muntah terjadi akibat rangsangan terhadap nervus vagus. Rasa

mual, muntah dan anoreksia terjadi pada 50-60% kasus dan terjadi
16

setelah nyeri muncul. Hampir 75% penderita disertai dengan muntah,

namun jarang berlanjut menjadi berat dan kebanyakan muntah hanya

sekali atau dua kali.muntah yang berat mungkin menandakan onset

awal peritonitis generalisata akibat perforasi appendiks. Sebaliknya

muntah jarang dijumpai pada appendiks non perforasi. 7-10

3. Obstipasi
Obstipasi biasanya terjadi karena penderita takut mengejan.

Keluhan obstipasi biasanya muncul sebelum rasa nyeri dan beberapa

penderita sebaliknya dapat mengalami diare. Terkadang tidak

dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium,tetapi terdapat

konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.

Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah

terjadinya perforasi. 7-10

4. Demam (infeksi akut)


Terkadang appendisitis juga disertai dengan demam derajat

rendah. Suhu tubuh sedikit naik, kira-kira 37,2-38C. bila suhu tubuh

diatas 38C, dapat menjadi pertanda perforasi.9.13

2.1.10.2. Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi

Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk

dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Inspeksi perut tidak

ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita

dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa

dilihat pada masa atau abses appendikuler.9,10,13


17

2. Auskultasi

Didapat peristaltik normal. Auskultasi tidak banyak membantu

dalam menegakkan diagnosis appendisitis, tetapi kalau sudah terjadi

peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus.9,10,13

3. Palpasi

Di daerah titik Mc Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis

lokal yaitu: 9,10,13

Nyeri tekan di Mc Burney : Nyeri tekan perut kanan bawah

merupakan kunci diagnosis dari appendisitis.

Nyeri lepas : Pada perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa

nyeri, serta saat tekanan dilepas juga akan terasa nyeri.

Defans muskular lokal : Defans muskular lokal menunjukan adanya

rangsangan peritoneum parietal. Pada appendiks letak peritoneal,

defans muskular mungkin tak ada, yang ada nyeri pinggang.

Rofsing Sign : Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri

pada perut kanan.

Blumberg Sign : Apabila tekanan diperut kiri bawah dilepaskan juga

terasa nyeri pada perut kanan.

Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam,

berjalan, batuk dan mengedan.

4. Perkusi

Saat dilakukan perkusi biasanya-pasien merasa nyeri.

5. Uji colok dubur


18

Merupakan kunci diagnosis pada appendisitis pelvika. Jika saat

dilakukan colok dubur terasa nyeri, kemungkinan appendiks yang

meradang terletak dibawah pelvis.9,10,13

6. Uji psoas

Dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi

sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian

paha kanan ditahan. Nyeri akan terasa bila appendiks yang meradang

menempel di muskulus psoas mayor. 9,10,13

7. Uji obturator

Dilakukan gerakan flexi dan endorotasi sendi panggul pada

posisi terlentang, nyeri akan terasa bila appendiks yang meradang

kontak dengan muskulus obturator internus yang merupakan dinding

panggul kecil. 9,10,13

Gambar 2.4 Pemeriksaan Mc Burney

2.1.10.3. Pemeriksaan Pcnunjang

1. Laboratorium
19

Gambaran Ieukositosis dengan peningkatan granulosit dipakai

sebagai pedoman untuk appendisitis akut karena leukosit merupakan

marker inflamasi yang sensitif, 70-90% hasil laboratorium nilai

leukosit dan neutrofil akan meningkat. Sensitifitas pemeriksaan ini

diatas 76%. Umumnya jumlah leukosit untuk appendisitis akut adalah

>10.000/mm3 dengan pergeseran kekiri pada hemogramnya ( >70%

neutrofil). Pada penderita appendisitis akut dapat juga ditemukan

jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3 dan bila terjadi perforasi

atau peritonitis jumlah leukosit dapat lebih dari 18.000/mm 3. Peneitian

Ferguson tahun 2002 menyatakan bila angka leukosit sudah diatas

15.000/mm3 , maka harus segera dilakukan appendektomi.8,9

Marker peradangan lain yang dapat digunakan dalam diagnosis

appendisitis akut adalah C-Reactive Protein (CRP). Nilai sensitivitas

dan spesifisitas CRP cukup tinggi yaitu 80-90%. Appendiks yang

mengalami peradangan akut dan menempel pada ureter atau vesica

urinaria, pada pemeriksaan urinalisis ditemukan jumlah sel leukosit

10-15 sel tiap lapang pandang.8,9

2. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu dalam

diagnosa appenditis akut, mungkin terlihat adanya fekalit pada

abdomen kanan bawah sesuai dengan lokasi appendiks, gambaran ini

ditemukan pada 20% kasus. Bila sudah terjadi perforasi maka foto

abdomen tegak akan tampak udara bebas dibawah diafragma. Bila


20

sudah terjadi peritonitis yang biasanya disertai dengan kantong-

kantong pus, maka akan tampak udara yang tersebar tidak merata dan

usus-usus yang sebagian distensi mungkin tampak cairan bebas,

gambaran lemak preperitoneal menghilang, pengkaburan psoas

shadow. Walaupun terjadi ileus paralitik tapi mungkin terlihat pada

beberapa tempat adanya permukaan cairan udara {air fluid level) yang

menunjukan adanya obstruksi.13

3. Skor Alvorado

Telah banyak dikemukakan cara untuk menurunkan insidensi

apendiktomi negatif, salah satunya adalah dengan instrumen skor

Alvorado. Alfredo Alvorado tahun 1986 membual sistem skor yang

didasarkan pada tiga gejala, tiga tanda dan dua temuan laboratorium.

Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai

derajat keparahan appendisitis.9

Tabel 2.2. Skor Alvorado

Gejala dan Tanda Skor


Nyeri berpindah 1
Anoreksia 1
Mual-muntah 1
Nyeri fosssa iliaka kanan 2
Nyeri lepas 1
Peningkatan suhu > 37,5C 1
Jumlah leukosit> 10xl03/L 2
Jumlah neutrofil > 75% 1

Total skor: 10
Sumber : American Family Physician

Keterangan :
a. Dinyatakan appendisitis akut bila > 7 point
b. Modified Alvorado score :
21

2-4 dipertimbangkan appendisitis akut (observasi)


5-6 possible appendicitis tidak perlu operasi (antibiotik)
7-9 appendisitis akut perlu pembedahan (operasi)

2.1.11. Diagnosis Banding

Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sabagai

diagnosis banding.14

1. Gastroenteritis

Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa nyeri.

Nyeri perut sifatnya lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai

adanya hiperperistaitis. Panas dan leukositosis kurang menonjoi dibandingkan

dengan appendisitis akut.

2. Kelainan Ovulasi

Folikel ovarium yang pecah pada ovulasi dapat menimbulkan nyeri pada

perut kanan bawah ditengah siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri yang

sama pernah timbul lebih dahulu. Tidak ada tanda radang, nyeri biasa hilang

dalam waktu 24 jam, tetapi mungkin dapat mengganggu selama dua hari.

3. Salphingitis

Salphingitis akut kanan sering dikacaukan dengan appendisitis akut.

Suhu biasanya lebih tinggi dari pada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah

lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai fluor albus dan

infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul nyeri hebat dipanggul jika uterus

diayunkan.

4. Kehamilan ektopik

Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak
22

menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan diluar rahim dengan

perdarahan, akan timbul nyeri yang mendadak difus didaerah pelvis dan

mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada peineriksaan vagina, didapatkan

nyeri.

5. Urolitiasis kanan

Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut yang menjalar ke inguinal

kanan merupakan gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto

polos abdomen dapat memastikan penyakit tersebut.

2.1.12. Komplikasi

1. Massa periappendikuler

Massa appendiks terjadi bila appendisitis gangrenosa atau

mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum atau lekuk usus

halus. Pada pembentukan dinding yang belym sempurna, dapat terjadi

penyebaran pus ke seluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti oleh

peritonitis purulenta generalisata.14

2. Perforasi
3. Syok sepsis
4. Ileus

2.1.12. Penatalaksanaan

Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satu-

satunya pilihan yang baik adalah appendiktomi. Apendiktomi bisa dilakukan

secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi. Bila appendiktomi terbuka,insisi

Mc.Burney paling banyak dipilih oleh ahli bedah. Appendisitis tanpa komplikasi

biasanya tidak diperlukan pemberian anribiotik, kecuali pada appendisitis


23

gangrenosa atau appendisitis perforasi. Penundaan tindakan bedah sambil

memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Appendisitis

perforasi perlu dilakukan laparotomi dengan insisi panjang supaya dapat

dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin

dengan mudah, begitu pula untuk pembersihan kantong nanah. Penderita dengan

diagnosa tidak jelas sebaiknya dilakukan observasi terlebih dahulu. Pemeriksaan

laboratorium dan ultrasonografi bisa dilakukan bila dalam observasi masih

terdapat keraguan. Bila tersedia laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada

kasus meragukan dapat membantu menentukan akan dilakukan operasi atau

tidak.5

2.2. Leukosit

2.2.1. Definisi

Leukosit atau sel darah putih adalah sel darah yang mengandung inti.

Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan

Iain-lain. Bayi baru lahir jumlah leukositnya tinggi, sekitar 10.000-30.000/mm3.

Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000-38.000/mm3.

Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun dengan

jumlah leukosit berkisar antara 4500-11.000/mm3. Saat keadaan normal, jumlah

leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000-10.000/mm 3. Jumlah leukosit

meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari

11.000/mm3.19,20
24

2.2.2. Peranan Leukosit

Leukosit adalah unit pertahanan tubuh yang mobile, sebagian dibentuk

dalam sumsum tulang (granulosit, monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi

dalam jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma). Sel-sel kemudian diangkut

mengikuti aliran darah. Sebagian besar leukosit ditransportasikan khusus pada

daerah yang meradang untuk menyediakan pertahanan terhadap agen-agen

infeksius. Granulosit dan monosit mempunyai kemampuan khusus mencari dan

merusak setiap benda asing yang menyerang. Dalam keadaan normal, pada

sumsum tulang terdapat berbagai leukosit imatur dan matur yang disimpan

sebagai cadangan untuk dilepas dalam sirkulasi darah. Jumlah tiap jenis leukosit

dalam sirkulasi darah perifer sangat terbatas namun dapat berubah sesuai

kebutuhan.16,21

Tabel 2.3 Nilai Normal Komponen Leukosit

Jenis Leukosit Sel/mrn3 (rata-rata) Kisaran Nilai Normal (mm3) (%)


Leukosit total 9000 4000-11.000
Granular :
Neutrofil 5400 3000-6000 50-75
Eosinofil 275 150-300 1-4
Basofil 35 0-100 0,4
Agranular :
Limfosit 2750 1500-4000 20-40
Monosit 540 300-600 2-8
22
Sumber: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
25

Peran Lingkungan, Peran Obstruksi Peran Flora


Diet, dan Kebersihan (Timbunan fekalit, Bakterial (E.Coli,
(Pola makan, hyperplasia jaringan Proteus, Klebsiella,
konstipasi, limfoid, tumor Streptococus,
pembentukan feses appendiks, striktur, Pseudomonas,
dan fekalit) benda asing, cacing Bakteroides
askaris, dll) Fragillis, dll)
Bendungan Cairan Sekresi Appendiks

2.3 Kerangka Teori


Peningkatan Tekanan Intraluminer dan Iskemia Arteria Appendik

Inflamasi Appendiks

Nyeri Epigastrium/ Mc Burney/


seluruh perut

Peningkatan Leukosit 10.000-18.000/mm3 Peningkatan Leukosit > >18.000/mm3

Appendicitis Akut
Appendicitis Perforasi

Appendiktomi Laparotomi Appendektomi


26

Gambar 2.5
Kerangka Teori5,7-10

2.4. Kerangka Konsep

Appendisitis Akut
Jumlah Leukosit
Appendisitis Perforasi

Gambar 2.6
Kerangka Konsep

2.5. Hipotesis
1. Hipotesis Nol (H0)
Tidak ada hubungan jumlah leukosit dengan appendisitis akut dan
27

appendisitis perforasi di RSPBA Bandar Lampung.


2. Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada hubungan jumlah leukosit dengan appendisitis akut dan appendisitis

perforasi di RSPBA Bandar Lampung.