Anda di halaman 1dari 21

Copyright 2015 Wolters Kluwer Health, Inc All rights reserved.

dIUNDANG KOMENTAR

Penggunaan metamizol pada anak-anak dan risiko

agranulositosis

Apakah manfaat sebanding dengan risikonya?

Victoria Rollason dan Jules Alexandre Desmeules

European Journal of Anestesi 2015, 32: 837-838

Dalam edisi terbaru dari European Journal of Anestesi,

Fieler et al.1 menyajikan observasional multisenter

studi yang mengevaluasi penggunaan metamizol pada anak-anak sampai

6 tahun menjalani operasi. Studi dibayar

perhatian khusus untuk masalah keamanan. Seribu satu

ratus empat puluh lima pasien muda dimasukkan (usia

35,8? 18,1 bulan) dan semua menerima dosis tunggal

metamizol (17,3? 2.9mgkg? 1) untuk nyeri pasca operasi.

Pruritus, pembengkakan dan eksantema diamati dalam

tunggal pasien saja, memperkuat dalam pikiran penulis 'yang

probabilitas reaksi obat yang serius yang merugikan (ADR)

lebih rendah dari 0,3% dan metamizol dapat digunakan secara aman

pada anak-anak di bawah usia 6 tahun.

Kami ingin mengomentari asumsi ini. metamizol,

juga dikenal sebagai dipyrone, adalah NSAID pyrazolone,

dikenal karena kecenderungan untuk menginduksi agranulositosis. Itu

deskripsi pertama ini ADR-mengancam kehidupan metamizol

tanggal kembali ke 1.936,2 Setelah banyak laporan dari


agranulositosis, beberapa di antaranya fatal, metamizol

ditarik dari pasar di Amerika Serikat dan Inggris.

Secara paralel, penggunaan metamizol di Eropa menurun

di tahun-tahun berikutnya, tetapi sekali lagi mendapatkan

kepopuleran. Alasan untuk ini adalah persepsi bahwa

kejadian agranulositosis dengan metamizol tidak tinggi

cukup untuk membenarkan larangan penggunaannya. Pandangan ini ditantang

oleh beberapa studi yang mengkonfirmasi risiko yang signifikan dari agranulositosis

terkait dengan metamizol. Berlin

Kasus-Kontrol Surveillance Studi (FAKOS), yang dievaluasi

program surveilans 10-tahun dari 51 bentuk

nonchemotherapeutic akibat obat agranulositosis,

menunjukkan bahwa spektrum obat menyebabkan agranulositosis

mirip selama bertahun-tahun, dan bahwa metamizol adalah

masih menjadi penyebab utama di adults.3,4 melaporkan insiden

bervariasi. Sebuah studi di Swedia menemukan bahwa sekitar

salah satu resep dari metamizol pada tahun 1439 hasil di agranulositosis,

5 sementara studi internasional lain menemukan

risiko jauh lebih rendah sekitar 1,1 kasus per 1 juta patients.6

Perhitungan berdasarkan data yang tersedia menunjukkan bahwa

metamizol dikaitkan dengan setidaknya 7000 kasus per tahun

agranulositosis worldwide.7

The mechanismof metamizol diinduksi agranulositosis adalah

dianggap istimewa melalui mekanisme imun.

8 latency Its, setelah pengenalan metamizol, bisa


Kisaran from3 hari sampai beberapa bulan. Sebuah study9 terbaru dari 858

laporan ADR hematologis metamizol terkait,

dimana latency yang tersedia, menemukan bahwa setengah kasus

muncul pada minggu pertama pengobatan.

WHO database global, bernama VigiBase, mengumpulkan

semua laporan keselamatan kasus individu (ICSRs) yang dikirim oleh

pusat pharmacovigilance nasional saat ini 120

negara. Dalam database ini dengan lebih dari 10 000 000

ICSRs, agranulositosis dengan metamizol mewakili

4,6% dari semua kasus agranulositosis (1078 kasus dengan metamizol

dan total 23 286 kasus untuk semua obat pada 15

Februari 2015). Sebagai perbandingan, pada tanggal 15 Februari 2015,

hanya ada 183 kasus agranulositosis dilaporkan untuk

diklofenak, NSAID suntik jenis lain, meskipun

jumlah laporan adalah empat kali dari metamizol,

Eur J Anaesthesiol 2015; 32: 837-838

Komentar Diundang ini menyertai berikut

artikel asli:

Fieler M, Eich C, Becke K, et al. metamizol untuk

terapi nyeri pasca operasi di 1.177 anak. SEBUAH

calon, multisenter, observasional, postauthorisation

studi keselamatan. Eur J Anaesthesiol 2015; 32: 839-

843.

Dari Divisi Farmakologi Klinik dan Toksikologi, Departemen Anestesiologi, Farmakologi Klinik
dan Toksikologi, dan Intensive Care Medicine, Jenewa
Universitas Rumah Sakit (VR, JAD) dan Fakultas Kedokteran, Universitas Jenewa (JAD),
Jenewa, Swiss

Korespondensi Dr Victoria Rollason, Divisi Farmakologi Klinik dan Toksikologi, Geneva


University Hospitals, Rue Gabrielle-Perret-Gentil 4, CH-1211

Jenewa 14, Swiss

Telp: +41 22 372 99 34; fax: +41 22 372 99 40; e-mail: victoria.rollason@hcuge.ch

0265-0215 Copyright? 2015 European Society of Anestesi. Seluruh hak cipta. DOI: 10,1097 /
EJA.0000000000000275

Copyright 2015 Wolters Kluwer Health, Inc All rights reserved.

65 789 untuk diklofenak dan 14 080 untuk metamizol. Apa saja

Kesimpulan harus didekati dengan hati-hati karena

ada penjelasan lain untuk peningkatan ini dilaporkan dalam

agranulositosis dengan metamizol. Ini termasuk

tingkat penggunaan obat, tingkat pemastian

dan sifat dari reaksi. Kami juga harus dicatat

bahwa kita tidak memiliki informasi tentang jumlah pasien

terkena setiap drug.10 spesifik Tapi karena peningkatan ini

tidak diamati dengan diklofenak, besar kemungkinan bahwa

adalah karena obat, bukan sekunder untuk metho yang


Kanulasi Vena Sentral

INDIKASI KATETERISASI VENA SENTRAL


1. Untuk menginfus cairan atau obat-obatan yang mungkin mengiritasi vena perifer.
2. Kanulasi jangka panjang untuk obat-obatan dan cairan, contohnya total nutrisi parenteral
atau kemoterapi.
3. Penderita syok.
4. Kanulasi cepat ke jantung terutama untuk pemberian obat-obatan dalam situasi resusitasi.
5. Bila kanulasi ke vena perifer sulit dilakukan akibat vena yang kolaps seperti pada
hipovolemia, ketika vena periper sulit ditemukan misalnya pada orang gemuk atau tranfusi
cairan dibutuhkan secara cepat.
6. Pada kerusakan vena, digunakan pada beberapa pasien dimana semua vena perifer telah
digunakan atau rusak.
7. Pengukuran tekanan vena sentral (Central Venous Pressure)
8. Prosedur khusus, contohnya pemacu jantung, hemofiltrasi atau dialisis.

KONTRAINDIKASI KATETERISASI VENA SENTRAL


1. Kanulasi vena sentral harus dipertimbangkan pemasangannya pada penderita dengan
gangguan pada faal pembekuan darah. Dapat terjadi hema- tom yang berbahaya pada
pemasangan melalui vena subclavia dan jugularis, terutama bila mengenai pembuluh arteri.
2. Bila daerah pemasangan ada infeksi atau tanda-tanda radang harus dicari tempat lain
yang lebih baik.
3. Kelainan anatomi dan taruma thoraks bagian atas misalnya fraktur clavicula,
meningkatkan resiko via clavicula.
4. Penyakit paru yang kritis (COPD, asma) yang akan meningkatkan resiko terjadinya
pneumotoraks pada pendekatan subclavia.
5. Penderita yang sementara di heparinisasi.
6. Trombosis da koagulopati
7. Penderita menolak atau tidak koperatif
8. Operator yang tidak berpengalaman yang tidak diawasi supervisor1,2,3,4,5,9
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kateterisasi ke vena sentral.
1. Sebaiknya pemasangan kateterisasi vena sentral dilakukan diruang tindakan yang steril
(bila ada) dan tidak dilakukan dilakukan di tengah bang- sal ruang perawatan untuk menghindari
kontaminasi dan saling mengganggu dengan pasien lain
2. Buat informed konsen dan persetujuan keluarga.
3. Bila penderita masih sadar, sebelum pemasangan sebaiknya penderita diberitahukan
terlebih dahulu maksud dan tujuan serta prosedur kate- terisasi vena sentral tersebut.
4. Kateterisasi vena sentral harus dilakukan se-asepsis mungkin mirip dengan prosedur
pembedahan.
5. Waspadalah akan masuknya udara, walaupun pasien dalam keadaan head-down.
6. Selalu memikirkan dimana ujung jarum berada.
7. Darah harus dapat diaspirasi dengan mudah dari kateter intravena sebelum cairan infus
atau obat dimasukkan. Bila tidak dapat diaspirasi de- ngan mudah berarti terjadi kesalahan
penempatan sampai dibuktikan sebaliknya.
8. Jangan menarik kembali kateter yang telah/masih ada di dalam jarum logam (misal
venocath) karena bahaya terpotongnya kateter oleh ujung jarum. Bila sampai terpotong maka
pengambilannya hanya bisa dilakukan dengan cara pembedahan.
9. Kanulasi vena sentral dapat memakai kateter panjang untuk pemakaian jangka lama atau
dengan kateter vena yang pendek misalnya abbocath ukuran besar untuk sementara pada keadaan
darurat. Bila vena sudah terisi cairan dapat dilanjutkan dengan kanulasi vena perifer.
10. Dipasaran telah tersedia kateter intra vena dengan berbagai ukuran, diameter dan panjang
yang bervariasi baik dengan single lumen atau multi lumen. Pilihlah yang sesuai dengan
kebutuhan. Sesuaikan dengan lokasi pemasangan, lama pemasangan, indikasi pemasangan dan
kemampuan ekonomi pasien.

TEMPAT KATETERISASI VENA SENTRAL1,2,3,4,5,7,9


Kanulasi vena sentral dapat dipasang melalui beberapa tempat, masing-masing letak mempunyai
keuntungan-keuntungan dan kerugian-keru- gian tersendiri.
Kanulasi vena sentral dapat dilakukan melalui :
1. Vena subclavia (pendekatan infraclavicular dan supraclavicular) .
2. Vena jugularis, pada vena jugularis interna (VJI) dan eksterna (VJE).
3. Vena femoralis
4. Vena antecubital, pada vena basilica atau cephalica.
5. Vena umbilikalis, pada bayi baru lahir.
Akan tetapi tempat yang paling sering dilakukan insersi yaitu : vena subclavia (pendekatan
infraclavicular), vena jugularis interna, vena antecubital dan vena femoralis.

KATETERISASI VENA SUBCLAVIA


Anatomi
Vena subclavia adalah kelanjutan dari vena axillaris. Dimulai pada tepi lateral kosta I, terus
melintas diatas costa dan berakhir saat bergabung dengan vena jugularis interna di medial ujung
klavicula. Ini mempunyai beberapa hubungan penting. Arteri subclavia biasanya terletak di
posterior dan superior (yakni chepalad) dari vena dan dipisahkan oleh m. scalenus anterior pada
tempat insersi otot ini ke kosta I. Arteri dan vena keduanya membentuk sulcus pada permukaan
atas kosta. Pleksus brakhialis terletak di posterior arteri dan dengan demikian terletak di posterior
vena dengan jarak yang lebih dekat. Nervus phrenikus melintas di anterior dan dapat melintas di
bagian medial costa I. Nervus vagus juga berjalan di bagian anterior subclavia tetapi agak sedikit
di medial nervus phrenikus. Nervus laryngeus recurren adalah cabang dari n. vegus. Cabang
kanan terpisah dari vagus setinggi arteri subclavia dan memutar di belakang arteri dan naik ke
atas sehingga berdekatan dengan trachea. Cabang kiri terpisah dari vagus setinggi arkus aorta,
dan memutar di belakang arkus, naik pada fissura antara oesophagus dan trakea. Saraf-saraf
tersebut juga jaraknya dekat dengan vena. Pleura dapat meluas hingga 1 inci diatas bagian
medial clavicula dan mencapai setinggi collum costa I dimana lebih tinggi dibanding dengan
artikulasio sternoclavikularis. Vena dengan demikian berada di sebelah anterior pleura tetapi
pleura meluas pada ke dua arah atas dan bawah dari vena.1,3,7
Teknik Kateterisasi Vena Subclavia
Persiapan peralatan :
1. Disinfektan (betadine,alkohol)
2. Handscoen, masker,penutup kepala, jas sterile dan handuk
3. Spoit 5 ml 2 buah,jarum ukuran 25-gauge.
4. Kateter dan dilator
5. IV tubing dan flush (Infus set, triway dan Nacl 500 ml)
6. Jarum insersi 18-gauge (panjang 5 cm)
7. 0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk no.2,01,2,3,4,5,7

Posisi
Letakkan pasien dengan posisi supine dengan kepala lebih rendah (tredelenberg) 10-15 0hingga
vena dapat terisi. Ini dapat tidak menyenangkan atau bahkan beresiko pada beberapa pasien. Bila
ragu-ragu, pasien dapat diletakkan dengan kepala lebih rendah saat operator telah siap untuk
melakukan punksi vena. Bahu dapat diganjal dengan handuk gulung atau botol cairan diantara
kedua bahu.1,2,3,4,5,7

Prosedur 1,2,3,4,5,7,9
1. Cek semua peralatan sebelum mulai.
2. Sterilisasi dan tutupi area yang akan diinsersi dengan sangat hati-hati.
3. Palpasi fossa subclavikularis dan cek hubungannya pada incisura sternalis. Bila jari
ditempatkan secara subclvikularis pada posisi lateral ter- dapat fossa yang jelas antara clavicula
dan costa II. Gerakkan jari ke arah medial menuju incisura sternalis dan jari akan terhambat pada
ujung medial clavicula. Ini adalah m. subclavius yang berjalan dari costa I menuju permukaan
inferior clavikula memberikan pola yang baik posisi costa I dimana terletak vena subcalvia.
4. Letakkan jari telunjuk pada incisura sternalis dan ibu jari pada daerah pertemuan antara
clavicula dan costa I. Infiltrasi anestesi lokal (lidokain 1%) dengan jarum 25-gauge 2 cm lateral
ibu jari dan 0,5 cm ke kaudal ke arah clavicula atau tepat di lateral dari insersi m. subclavia
costa I.
5. Vena berjalan di bawah clavicula menuju incisura sternalis. Gunakan jarum 18-gauge
yang halus dengan syringe 5 ml, masukkan jarum menusuk kulit dibagian lateral ibu jari dan 0,5
cm di bawah clavikula yang dimaksud untuk membuat posisi khayal pada bagian belakang
incisura sternalis. Posisi jarum horizontal (paralel dengan lantai) untuk mencegah
pneumothoraks, dan bevel menghadap keatas atau ke arah kaki pasien untuk mencegah kateter
masuk ke arah leher. Aspirasi jarum lebih dulu, pertahankan jarum secara cermat pada tepi
bawah clavikula.
6. Jika tidak ada darah vena yang teraspirasi setelah penusukan sampai 5 cm tarik pelan-
pelan sambil diaspirasi jika masih belum ada juga ulangi sekali lagi, dan apabila masih belum
berhasil pindah ke arah kontralateral akan tetapi periksa foto thoraks dahulu sebelum dilakukan
untuk melihat adanya pneumothoraks
7. Bila darah teraspirasi maka posisi vena subclavia telah didapatkan dan kanula atau jarum
seldinger dipertahankan pada posisinya dengan mantap
8. Susupkan kawat, pasang kateter atau dilator dan kateter selanjutnya lepaskan kawat
9. Lakukan dengan hati-hati untuk menghindari ikut masuknya udara untuk itu sebaiknya
ujung kateter tidak dibiarkan terbuka.
10. Cek bahwa aspirasi darah bebas melalui kateter dan tetesan berjalan dengan lancar.
11. Kontrol letak kateter dengan foto thoraks.

Keuntungan kateterisasi Vena Subclavia2


1. Sangat baik untuk kanulasi jangka panjang karena posisi kateter dapat difikasasi dengan
baik sehingga tidak mudah bergerak dan tidak meng- ganggu pergerakan pasien.
2. Vena subclavia hampir selalu ada dan anatomi ini umumnya tetap.
3. Relatif kurang infeksi dibanding pemasangan di tempat lain.
4. Kateter mudah masuk ke vena kava superior serta landmarknya lebih mudah pada orang
yang obes..

Kelemahan Kateterisasi Vena Subclavia2


1. Umumnya dilakukan dengan teknik buta sehingga mudah merusak stuktur di dalam
yang tidak terlihat.
2. Pleura, arteri, nervus phrenicus bahkan trakea mudah terjangkau oleh jarum yang salah
masuk sehingga relatif lebih banyak komplikasi pneumothoraks dibanding teknik lainnya.
3. Bila terjadi komplikasi perdarahan relatif susah untuk ditangani.

Komplikasi kateterisasi vena subclavia1,2,3,4,5,7,8,9,10,11,12


1. Hematom
2. Cellulitis
3. Trombosis
4. Plebitis
5. Cedera pada saraf
6. Penusukan pada arteri
7. Pneumothoraks
8. Hemopneumothoraks
9. Penusukan saraf
10. Fistel arteri-vena
11. Neuropati perifer
12. Kateter terputus/tertinggal di dalam
13. Teknik monitor tidak tepat
14. Posisi kateter tidak tepat
IV.2. KATETERISASI VENA JUGULARIS INTERNA
Anatomi
Vena jugularis interna keluar dari kranium melalui foramen jugularis. Pada titik ini berada
di posterior arteri karotis, tetapi pada saat turun ber- ada di lateral arteri karotis. Berakhir pada
saat bergabung dengan vena subclavia diantara dan dibelakang sternum serta cavut clavikularis
dari m. sternomastoideus. Arteri carotis berada di sebelah medial vena demikian pula halnya
sinus karotikus. Vagus juga terletak diantara vena dan arteri tetapi pada posisi posterior. Trunkus
simpatikus berada di sebelah belakang arteri namun demikian terletak disebelah medial dan
posterior vena. Ganglion stellatum terdiri dari ganglion servikalis inferior dan ganglion torakalis
I, terletak di depan kollum kosta I dan di medial arteri vertebralis. Nervus phrenikus terletak di
sebelah lateral dan posterior vena. Pleura terletak di posterior vena yang hanya pada bagian
bawah pada bagian setinggi thoracic inlet (T1). Setinggi ini, duktur torasikus juga terletak pada
arah posterior pada sisi sebelah kiri. Meluas ke arah anterior di atas arteri subclavia sinistra dan
berakhir ke dalam vena subclavia.1,2,3,7

Teknik Kateterisasi Vena jugularis interna


Persiapan peralatan :
a. Disinfektan (betadine,alkohol)
b. Handscoen, masker,penutup kepala, jas sterile dan handuk
c. Spoit 5 ml 2 buah,jarum ukuran 22- dan 25-gauge.
d. Kateter dan dilator
e. IV tubing dan flush (Infus set, triway dan Nacl 500 ml)
f. Jarum insersi 18-gauge (panjang 5-8 cm)
g. 0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk no.2,01,2,3,4,5,7

Posisi
Pasien diposisikan dengan posisi supine dan tredelenberg, kepala pasien diposisikan lebih
rendah 150 dan 450ke arah kontralateral pada tem- pat penusukan.1,2,3,4,5,7

Prosedur1,2,3,4,5,7,9
1. Jelaskan kepada penderita tentang prosedur yang akan dilakukan.
2. Bersihkan daerah leher pada sisi yang akan diinsersi.
3. Palingkan kepala pasien ke sisi sebelah kiri. (adanya duktus thoracalis di debelah kiri membuat
sisi sebelah kanan menjadi pilihan yang baik.
4. Bila pasien sadar dan bila diminta untuk mengangkat kepala, otot leher akan dengan mudah
ditentukan. M. sternomastoideus mempunyai dua caput, caput sternalis dan caput clavicularis.
Insersinya ke mastoid. Sebuah segitiga dibentuk oleh kedua caput dan apeks dari segitiga ini
adalah titik insersi untuk jarum. Bila pasien tidak sadar anatomi ini mungkin sangat sulit untuk
ditentukan. Pada situasi seperti ini arteri sebaiknya dipalpasi setinggi aspek bawah cartilago
thyroideus, karena vena terletak tepat dilateralnya.
5. Infiltrasi anestesi lokal ke dalam tempat ini.
6. Sebaiknya menggunakan syringe dengan jarung yang halus. Susupkan spoit-jarum pada apeks
segitiga tepat disebelah lateral perabaan pulsasi arteri carotis, selanjutnya arahkan sepanjang
garis yang ditarik antara titik insersi dan papilla mamma pada sisi yang sama. Aspirasi tatkala
jarum dimajukan, hati-hati agar tidak memasukkan sejumlah udara.

7. Bila darah diaspirasi, vena sudah ditemukan. Tindakan berikutnya dapat diulangi dengan
meyakinkan menggunakan jarum yang lebih besar atau kanula.
8. Gunakan teknik Seldinger, jarum ditempatkan dalam vena agar supaya darah dapat dengan
mudah diaspirasi.
9. Masukkan kawat.
10. Susupkan kateter atau dilator dan kateter selanjutnya lepaskan kawat.
11. Cek aspirasi darah perlahan-lahan, fluktuasi tekanan pernapasan dan posisi foto.

Keuntungan kateterisasi vena jugularis interna2


1. Cara pendekatan ini relatif aman bagi yang berpengalaman.
2. Dapat digunakan untuk kanulasi jangka panjang.
3. Kateter mudah masuk ke vena cava superior.
4. Sangat baik bila kanulasi juga digunakan untuk mengukur tekanan vena sentral.
5. Posisi kateter mudah diketahui melalui foto.

Kelemahan Kateterisasi Vena Jugularis Interna2


1. Mudah terjadi komplikasi karena banyak sturktur disekitarnya.
2. Teknik ini sulit dilakukan pada orang dengan leher pendek atau tebal.
3. Punksi arteri karotis sering terjadi. Sangat berbahaya pada orang tua dengan pembuluh darah
yang atherosklerosis.
4. Bisa terjadi kebocoran duktus torasikus bila dilakukan di sebelah kiri.
5. Mudah terjadi infeksi atau trombosis karena gerakan kepala yang mempengaruhi letak kateter.
6. Relatif kurang nyaman buat pasien karena akan mengganggu pergerakan lehernya.

Komplikasi Kateterisasi Vena Jugularis Interna1,2,3,4,5,7,8,9,10,11,12


1. Hematom
2. Cellulitis
3. Trombosis
4. Plebitis
5. Cedera pada saraf
6. Penusukan arteri carotid
7. Pneumotoraks
8. Penusukan saraf
9. Cylothoraks
10. Fistel arteri-vena
11. Neuropati perifer
12. Kateter terputus/tertinggal didalam
13. Monitoring yang tidak akurat
14. Salah posisi kateter

IV.3. KATETERISASI VENA JUGULARIS EKSTERNA


Anatomi
Anatomi Vena superfisial ini mudah terlihat dan diindetifikasi meskipun penderita
menderita hipovolemi. Terbentuk dari cabang posterior vena retromandibularis dan vena
aurikularis posterior, vena jugularis eksterna melewati otot sternokleidomastoideus dan
kemudian menembus fascia sevikais profunda tepat diatas klavikula.1
Teknik kateterisasi vena jugularis eksterna
Persiapan peralatan :
a. Disinfektan (betadine,alkohol)
b. Handscoen, masker,penutup kepala, jas sterile dan handuk
c. Spoit 5 ml 2 buah,jarum ukuran 22- dan 25-gauge.
d. Kateter dan dilator
e. IV tubing dan flush (Infus set, triway dan Nacl 500 ml)
f. Jarum insersi 18-gauge (panjang 5-8 cm)
g. 0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk no.2,01

Posisi
Pasien diposisikan dengan posisi supine dan tredelenberg, kepala pasien diposisikan lebih
rendah 15 0 dan 450ke arah kontralateral pada tempat penusukan.1

Prosedur1
1. Tempatkan pasien dengan kepala lebih rendah dengan muka menghadap ke sisi sebelahnya.
2. Identifikasi letak vena jugularis eksterna dengan menekan bagian proksimalnya.
3. Bersihkan daerah penusukan dengan alkohol.
4. Operator memakai sarung tangan steril selanjutnya desinfeksi daerah penusukan seluas
mungkin. Pasang doek steril yang berlubang.
5. Setelah vena jugularis eksterna tampak tempat tusukan diinfiltrasi dengan obat anestesi lokal.
6. Jarum dihubungkan dengan spoit 10 cc kemudian jarum ditusukkan ke dalam vena sambil
mengaspirasi untuk melihat adanya darah di dalam spoit.
7. Kateter difiksasi dengan baik.
8. Kontrol foto thoraks.

Keuntungan Kateterisasi Vena Jugularis Eksterna.2


1. Letak vena superfisial sehingga relatif mudah dilakukan. Cocok untuk yang kurang pengalaman
melakukan kanulasi vena sentral di vena jugu- laris interna, vena subclavia atau vena femoral.
2. Relatif sedikit struktur penting yang dapat rusak. Seperti penusukan arteri atau saraf.
3. Koagulopati hanya merupakan kontra indikasi relatif.

Kelemahan Kateterisasi Vena Jugularis Eksterna2


1. Kadang-kadang terrjadi kesulitan vena sentral melalui fascia servikalis.
2. Mudah terinfeksi karena letaknya yang superficial.
3. Kurang nyaman buat penderita karena mengganggu pergerakan leher.
4. Sulit melakukan fikasasi dan mudah lepas jika menggunakan plester.

IV.4. KATETERISASI VENA FEMORAL


Anatomi
Anatomi vena femoral relatif konsesisten. Pada apeks segitiga femoral, terbentang dari
posterior ke arteri femoralis tetapi karena ia mengikuti kaki kaki ke atas ligamentum inguinalis
maka ia terletak di medial arteri. Dua petunjuk lokal adalah ligamnetum inguinalis di atas dan
pulsasi arteri sebelah lateral vena. Saraf femoralis disebelah lateral arteri.1

Teknik Kateterisasi Vena Femoral


Persiapan peralatan :
a. Disinfektan (betadine,alkohol)
b. Handscoen, masker,penutup kepala, jas sterile dan handuk
c. Spoit 5 ml 2 buah,jarum ukuran 22- dan 25-gauge.
d. Kateter dan dilator
e. IV tubing dan flush (Infus set, triway dan Nacl 500 ml)
f. Jarum insersi 18-gauge (panjang 5-8 cm)
g. 0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk no.2,01

Posisi
Supine1

Prosedur1
1. Bersihkan dan atur areal sesuai dengan prosedur pembedahan. Salah satu hal yang utama
dalam rute ini adalah adanya kemungkinan sepsis da- erah yang kotor dan teknik asepsis yang
cermat harus sangat hati-hati.
2. Lakukan palpasi pada arteri dan identifikasi ligamentum inguinalis.
3. Masukkan di medial pulsasi dan dorong secara perlahan sambil terus menerus mengaspirasi
melalui jarum sehingga segera darah terlihat begitu pembuluh darah dimasuki. Jika jarum
dimasukkan 45o ke dalam kulit akan lebih mudah mengitrodusir kawat.
4. Masukkan kawat ujung yang terurai terlebih dahulu, melalui jarum kedalam vena. Perhatikan
untuk tidak membiarkan pembuluh darah terbuka di udara karena sewaktu-waktu dapat terjadi
emboli udara.
5. Cabut jarum dan masukkan kateter di sebelah luar kawat.
6. Cabut kawat dan aspirasi darah melalui kateter untuk memastikan keberadaanya dalam
pembuluh darah.
7. Balut dengan pembalut steril.
8. Kontrol foto untuk mrngetahui letak kateter.

Keuntungan Kateterisasi Vena Femoral


1. Tekniknya relatif mudah dilakukan
2. Anatominya relatif mudah diingat.
3. Struktur yang penting relatif sedikit di daerah penusukan.

Kelemahan Kateterisasi Vena Femoral


1. Mudah terjadi infeksi dan sepsis
2. Mudah terjadi tombosis dan pembengkakan pada kaki.
3. Relatif kurang nyaman buat pasien.
4. Dapat mengganggu pergerakan penderita, sehingga kurang baik untuk pasien yang direncakan
mobilisasi dini.

Komplikasi Kateterisasi Vena Femoral1,2


1. Hematom
2. Cellulitis
3. Trombosis
4. Plebitis
5. Penusukan arteri
6. Fistel arteri-vena
7. Neuropati perifer
8. Kateter terputus dan tertinggsl di dalam
9. Teknik monitor yang tidak tepat
10. Posisi katetes tidak tepat

IV.5. KATETERISASI VENA ANTECUBITI


Anatomi1

Teknik kateterisasi vena via antecubital


Persiapan peralatan :
a. Disinfektan (betadine,alkohol)
b. Spoit 3 ml 2 buah,jarum ukuran 25-gauge.
c. IV tubing dan flush (Infus set, triway dan Nacl 500 ml)
d. Introducer (14-gauge angiographic catheter)
e. Silastic catheter dengan guidewire
f. Gunting, pemegang jarum, benang silk no.3,0
g. Suture wing,haas steeril dan plester1

Posisi
Pasien diposisikan dengan posisi supine atau duduk dengan abduksi lengan kearah luar
kira-kira 450 dari axis tubuh.1

Prosedur1
1. Daerah antecubital dibersihkan dulu dari lemak dan kotoran tubuh dengan alkohol.
2. Operator memakai masker dan sarung tangan steril dan sebelumnya mencuci tangan seperti
sebelum melakukan pembedahan dengan larutan chlorheksidin atau povidon-iodine surgical
scrub.
3. Desinfeksi dilakukan dengan yodium-alkohol atau povidone-iodine selama 2 menit dan
dibiarkan kering, kemudian ditutup dengan doek lubang steril.
4. Tourniquet dipasang pada lengan atas dan dikencangkan secukupnya sehingga aliran vena
terhenti tanpa menutup aliran arteri.
5. Setelah vena basilika terlihat, tempat tusukan diinfiltrasi dengan obat anestesi lokal seperti
lidokain 2 %.
6. Jarum kateter ditusukkan kedalam vena sampai terasa menembus vena dan terlihat darah keluar.
Jika sudah diperkiranan kateter juga telah menembus vena, mandrein ditarik dan selanjutnya
kateter didorong masuk.
7. Tourniquet dilepas dan kateter dimasukkan dan selanjutnya didorong sampai mendekati ketiak
(15-20 cm).
8. Lengan penderita diabduksi sampai sejajar dengan bahu dan kepala penderita diletakkan dalam
posisi menoleh kearah lengan tersebut.
9. Sambil melihat monitor EKG (untuk melihat bila ada gangguan irama jantung) kateter didorong
terus sampai diperkiran masuk di vena cava superior. Bila tidak ada monitor EKG, irama jantung
dipantau dengan meraba nadi penderita oleh seorang pembantu. Bila ada aritmia supraventrikuler
atau aritmia ventrikuler berarti ujung kateter masuk ke dalam atrium atau ventrikel. Kateter
ditarik sedikit sampai aritmia hilang.
10. Stylet kateter CVP dicabut selanjutnya kateter dihubungkan dengan spoit 10 cc yang berisi
sedikit NaCl untuk mengaspirasi adanya darah keluar. Bila tidak ada darah keluar kateter ditarik
sampai pada aspirasi didapat darah. Bila darah tetap tidak keluar, kateter harus ditarik semua dan
prosedur pemasangan dimulai lagi dari awal.
11. Setelah aspirasi keluar darah, infus dipasang dan klem infus dibuka lebar (hati-hati jangan
sampai ada udara masuk), cairan harus dapat menetes dengan lancar. Tetesan infus selanjutnya
diatur secukupnya.
12. Dengan stylet diurutkan pada perjalanan kateter, maka posisi ujung kateter dapat diperkirakan
dan bila perlu ditarik untuk disesuaikan.
13. Tempat tusukan dapat diolesi salep povidon-iodine, sisa kateter dilingkarkan dan ditutup
dengan kasa steril dan selanjutnya difiksasi dengan plester lebar agar tidak mudah tercabut dan
kateter tidak bergerak keluar masuk.Ditulis tanggal dan jam pemasangan kateter pada plester
tersebut dan pada status penderita.
14. Diambil foto thorax untuk memastikan letak ujung kateter dan bila perlu dilakukan
penyesuaian. Ujung kateter diharapkan pada vena cava superior atau atrium setinggi ruang antar
iga II.

Keuntungan kateterisasi via antecubital2


1. Relatif mudah dilakukan. Terutama pada pemula.
2. Potensi kerusakan arteri atau saraf mudah diidentifikasi dan mudah dihindarkan.
3. Tidak ada bahaya terjadinya komplikasi di dada seperti pneumothoraks.
4. Merupakan pilihan bila ada gangguan pembekuan darah dan relatif mudah dikontrol bila ada
perdarahan.

Kelemahan kateterisasi via antecubital2


1. Sering ditemukan kateter sulit melewati axilla.
2. Pada keadaan tertentu sulit mengidentifikasi vena seperti orang gemuk, penderita edema di
lengan atau vena kolaps.
3. Kateter kadang-kadang bisa masuk ke daerah leher daripada ke dalam dada.
4. Mudah terjadi trombosis atau infeksi bila menggunakan kateter yang panjang.

Komplikasi kateterisasi vena cubital1


1. Perdarahan
2. Arrhytmia
3. Infeksi
4. Catheter cloting dan kingking

V. PENGUKURAN TEKANAN VENA SENTRAL (CVP)


Pengukuran tekanan vena sentral (CVP) merupakan prosedur yang relatif sederhana dan
digunakan sebagai pedoman standar untuk menilai kemampuan sisi kanan jantung menerima
beban cairan. Kalau dilakukan dengan benar, respon CVP pada pemberian cairan membantu
mengevaluasi penggantian volume. CVP merupakan prosedur yang dapat memberikan gambaran
tentang volume intravaskuler, tegangan vena-vena besar serta fungsi jantung kanan.6
Normal CVP yaitu antara 0-8 mmHg ( 3-12 cmH2O) yang diukur melalui kateter yang
dipasang pada vena jugularis interna/eksterna atau vena subclavia yang dapat memberikan
informasi tentang tekanan pada vena sentral yang nantinya dapat digunakan untuk menentukan
seberapa besar volume cairan yang dapat diberikan pada pasien serta mengetahui fungsi jantung
kanan.
Penggunaan transducer tekanan elektronik lebih dianjurkan untuk mengukur manometri
yang dihubungkan dengan triway.Suatu kantong reser- voar cairan dan tabung vertikal yang diisi
dengan cairan, ketinggian dari permukaan cairan dalam tabung manandakan tekanan dari CVP.
Titik 0 pada transduser tekanan diletakkan setinggi atrium kiri (kira-kira pada linea axillaris
media) daripada diletakkan pada sternum yang akan terpengaruh oleh posisi
pasien(supine/semierect/prone). Pastikan tidak terdapat kateter tidak terblok atau kinking dengan
cara mengguyur cairan dari kantong cairan. Setelah itu hubungkan kembali kantong cairan
dengan triway yang terhubung dengan manometer tubing. Setelah triway dibuka maka akan
terlihat level permukaan cairan akan bergerak turun sampai level pengukuran CVP yang dibaca
dalam bentuk cmH20.Pulsasi vena dan perubahan mengikuti pola respirasi harus terlihat pada
jalur tetapi bukan sebagai gelombang tekanan ventrikel kanan (misalnya pada saat kateter masuk
terlalu dalam).4,13

Faktor-faktor yang meningkatkan CVP :


1. Overload cairan
2. Tamponade jantung dan effusi pericard
3. Penyakit katup trikuspid
4. Gagal jantung kanan

Faktor-faktor yang menurunkan CVP :


1. Hipovolemik
2. Dehidrasi
3. Vasodilatasi

Table 5. Guide to interpretation of the CVP in the hypotensive patient

CVP Other features that may Diagnosis to


Treatment
reading be present consider

Rapid pulse Give fluid challenges* until CVP


Blood pressure normal or rises and does not fall back again. If
Low low Hypovolaemia CVP rises and stays up but urine
Low urine output output or blood pressure does not
Poor capillary refill improve consider inotropes

Low or Rapid pulse Sepsis Ensure adequate circulating volume


normal Signs of infection (as above) and consider inotropes or
Pyrexia
or high vasoconstrictors
Vasodilation/constriction

Treat as above. Venoconstriction


Rapid pulse
may cause CVP to be normal. Give
Normal Low urine output Hypovolaemia
fluid challenges* and observe effect
Poor capillary refill
as above.

Unilateral breath sounds


Assymetrical chest
movement Tension Thoracocentesis then intercostal
High
Resonant chest with pneumothorax drain
tracheal deviation
Rapid pulse

Breathlessness
Third heart sound
Oxygen, diuretics, sit up, consider
High Pink frothy sputum Heart failure
inotropes
Oedema
Tender liver

Very Rapid pulse Pericardial


Pericardiocentesis and drainage
High Muffled heart sounds tamponade

*Fluid challenge. In hypotension associated with a CVP in the normal range give repeated
boluses of intravenous fluid (250 - 500mls). Observe the effect on CVP, blood pressure, pulse,
urine output and capillary refill. Repeat the challenges until the CVP shows a sustained rise
and/or the other cardiovascular parameters return towards normal. With severe blood loss,
blood transfusion will be required after colloid or crystalloid have been used in initial
resuscitation. Saline or Ringers lactate should be used for diarrhoea/bowel
obstruction/vomiting/burns etc.

VI. PENCEGAHAN KOMPLIKASI KATETERISASI VENA SENTRAL


Di Amerika Serikat dilaporkan para klinisi telah melakukan kateterisasi vena sentral lebih
dari 5 juta kateter setiap tahunnya. Lebih dari 15 % pasien yang dikateterisasi mengalami
komplikasi. Komplikasi mekanik 5-19 %, Komplikasi berupa infeksi 5-26 %, Komplikasi
thrombosis 2-26 %. Untuk itu dibawah ini akan dijelaskan tentang cara atau metode untuk
mengurangi frekwensi terjadinya komplikasi tersebut diatas.7

VI.1. Tipe-tipe kateter7


Saat ini kateter yang paling sering digunakan untuk kateterisasi vena sentral adalah
kateter yang mengandung antimikroba yaitu kateter yang mengandung kombinasi chlorhexidine
dan silver sulfadiazine serta kateter yang mengandung kombinasi minocyclin dan rifampin. Pada
studi uji klinik secara random keduanya menunjukkan nilai yang rendah pada efek kateter
terhadap terjadinya infeksi sistemik. Berdasarkan bukti saat ini menunjukkan
penggunaan kateter minocyclin dan rifampin adalah lebih efektif dan mempunyai resiko infeksi
lebih rendah dibandingkan dengan kateter chlorhexidine dan silver sulfadiazine.
Jumlah lumen kateter tidak secara langsung mempengaruhi angka kejadian komplikasi
infeksi. Akan tetapi, pemilihan baik itu single lumen ataupun multilumen kateter dibuat
berdasarkan pertimbangan jumlah obat atau nutrisi yang akan diberikan.

VI.2. Karakteristik pasien


Kateterisasi jugularis interna mungkin sulit dilakukan pada pasien yang obes mengingat
penanda pada leher sulit ditemukan. Kateterisasi vena subklavia harus dihindari pada pasien
yang menderita hipoksemia berat karena komplikasi pneumothoraks sering terjadi dan kurang
bisa ditoleransi oleh pasien tersebut. Kateterisasi femoral harus dihindari pada pasien yang
menampakkan tanda-tanda infeksi pada regio inguinal karena insersi kateter femoral memiliki
resiko tinggi untuk menyebabkan infeksi. Jika kanulasi vena sentral dibutuhkan untuk resusitasi
pasien syok, akses vena femoral sebaiknya dipertimbangkan karena cepat dilakukan khususnya
bila kateterisasi vena subklavia dan jugularis interna sulit dilakukan. Setelah resusitasi kateter
dapat dipindahkan ketempat yang lebih tepat untuk pasien ini.7
Adapun pasien-pasien yang menggunakan ventilator sebelum dilakukan pemasangan
kateter sebaiknya sementara dilepas dahulu dari ven- tilator (Tekanan akhir ekspirasi yang
tinggi) mengingat bahaya untuk resiko terjadinya pneumothoraks.2,5

VI.3. Komplikasi Mekanik


Mayoritas komplikasi mekanik terjadi selama pemasangan kateter vena sentralis,
dimana infeksi dan komplikasi trombotik terjadi bersamaan, komplikasi mekanik yang paling
sering adalah punksi arteri, hematoma, pneumothoraks, dan gangguan syaraf. Resiko
keseluruhan komplikasi ini sama dengan kateterisasi pada vena jugularis interna, kateterisasi
vena subclavia. Dalam analisa yang berskala besar didapati resiko pneumothoraks sama dengan
keteterisasi jugularis interna dan subclavia. Komplikasi mekanik, khususnya punksi arteri dan
formasi hematoma, paling sering terjadi selama pemasangan kanula pada femoralis. Kebanyakan
punksi arteri dapat dikenali pada aspirasi darah warna merah cerah yang tampak pada syringe.
Penderita dengan hipoksemia atau hipotensi, dimana perubahan warna dan denyut melemah
kemungkinan wajar terjadi, hubungan terhadap kateter ke tekanan transduser dapat memperkuat
kanulasi vena. Penggunaan ultrasonic locating devices telah menunjukkan dapat mengurangi
frekwensi dari komplikasi mekanik pada pemasangan garis sentral.3,7,8,9

Penusukan arteri5
a. Pencegahan : 1. Penusukan jarum jangan sampai terlalu dalam
b. Penanganan : 1. Kontrol foto thoraks segera setelah pemasangan
2. Lakukan penekanan secara manual di daerah penusukan selam 5 menit

Pneumothoraks5
a. Pencegahan : 1. Lepaskan pasien dari ventilator sebelum melakukan penusukan
2. Pilih pasang kateter disebelah kanan dibanding yang sebelah kiri
3. Hindari penusukan yang berulang-ulang (Maksimal 2 kali)
b. Penanganan : 1. Kontrol foto thoraks segera setelah pemasangan
2. Jika terjadi tension pneumothoraks segera lakukan punksi dengan abbocath no.14-16
didaerah midclavicular intercostal 2 setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan chest tube
Hematothoraks5
a. Pencegahan : 1. Lepaskan pasien dari ventilator sebelum melakukan penusukan
2. Pilih pasang kateter disebelah kanan dibanding yang sebelah kiri
3. Hindari penusukan yang berulang-ulang (Maksimal 2 kali)
b. Penanganan : 1. Kontrol foto thoraks segera setelah pemasangan
2. Jika terjadi tension pneumothoraks segera lakukan punksi dengan abbocath no.14-16
didaerah midclavicular intercostal 2 setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan chest tube
Iatrogenik bilateral5
Pencegahan : Jika pemasangan keteter tidak berhasil maka selanjutnya usahakan percobaan
berikutnya pada pendekatan ipsilateral jugularis interna atau subclavia sebelum mencoba di
kontralateral vena subclavia.

Disritmia Kardiak5
a. Pencegahan : 1. Minta bantuan seseorang untuk melihat ke monitor EKG apakah ada
disritmia pada saat pemasangan kateter.
b. Penanganan : 1. Reposisikan kembali kateter; jika disritmia menetap maka terapi disritmia
sesuai protokol ACLS
2. Kontrol foto thoraks segera setelah pemasangan

VI.4. Komplikasi Infeksi


Tingkat suspek atau penguatan kateter, sehubungan dengan infeksi aliran darah
merupakan yang tertinggi untuk kateter femoralis dan terendah untuk subclavia. Uji klinis
menunjukkan rendahnya tingkat hubungan antara kateter dengan infeksi aliran darah dengan
penggunaan antimikroba dan pengisian kateter. Pengisian kateter dengan chlorhexidine,
sulfadiziane, minocycline, dan rifampisin paling sering digunakan.
Perkembangan mikroorganisme yang resisten pada pengunaan tipe kateter belum teruraikan.
Persiapan kulit dengan solusi chlorhexidine menuju ke solusi iodine kemungkinan lebih manjur
dalam mencegah infeksi penggunaan rutin antibiotik prophylactic untuk penempatan garis tidak
dapat dibenarkan menyangkut proliferasi antibiotik pada mikroorganisme yang resisten.
Meskipun tindakan pencegahan, kateter yang berhubungan dengan infeksi masih terjadi. Jika
kateter, yang berhubungan dengan infeksi tergolong suspek, sampel darah untuk kultur harus
digambarkan untuk mengukur jumlah bakteri.
Tanda atau gejala sitematik dari sepsis merupakan indikasi empiris untuk terapi antibiotik
pada perawatan infeksi yang disebabkan oleh staphylococcus epidermidis atau S. aureus. Ulasan
gram- negative harus termasuk dalam imunitas penderita neutroperia. Sekali terapi antibiotik
dimulai, kateter dapat diganti. Penderita dengan syok septik dan tanpa etiologi infeksi lain,
kateter harus dipindahkan dan ditempatkan di bagian lain. Jika kultur dari ujung kateter telah
positif diganti dengan kawat, kemudian kateter harus ditarik dan bagian lain diganti yang baru.
Jika ujung kateter negative, lebih mudah terjadi infeksi.3,7,8,9
VI.5. Komplikasi Trombosis.
Penderita dengan kateter yang tidak tertinggal lebih tinggi resiko untuk mengalami
komplikasi trombosis.Resiko kateter sehubungan dengan trombosis tidak berhubungan dengan
penempatan sisi. Persentase tertinggi tejadi kateter femoralis dan yang paling sedikit terjadi pada
subclavia. Dengan semua kateter, trombosit berpotensi untuk emboli. Untuk mencegah
komplikasi trombosis ini, usahakan jangan pernah menarik kateter melewati bevel jarum oleh
karena dapat menggores atau bahkan sampai terputus. Jika komplikasi terjadi maka
penanganannya adalah segera lakukan foto x-ray dan konsul ke dokter yang lebih ahli dalam
melepaskan emboli kateter.5 Semakin sering terjadi komplikasi maka tidak dapat dilakukan
kanulasi pada pembuluh darah.3,7,8,9,12

VI.7 Pengalaman Dalam Kateterisasi


Tingkat pengalaman dalam hal kateterisasi juga dapat menurunkan terjadinya
komplikasi.Insersi kateter oleh klinisi yang telah melakukan lebih dari 50 kali pemasangan
adalah 50% masih lebih baik dan dapat menurunkan komplikasi mekanik dibandingkan dengan
klinis yang telah melakukan insersi kurang dari 50 kali. Jika klinisi tidak berhasil melakukan
insersi sebanyak tiga kali percobaan maka segera minta bantuan kepada orang yang lebih ahli
untuk melakukan pemasangan. Insidens terjadinya komplikasi mekanik pada percobaan
pemasangan kateter 3 kali atau lebih adalah 6 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang hanya
satu kali percobaan.7

VI.8 Penuntun ultrasound


Penggunaan ultrasound sebagai penuntun telah dipromosikan sebagai metode yang dapat
menurunkan ankag resiko komplikasi selama kateterisasi vena sntral. Pada tekhnik ini,
ultrasound probe digunakan untuk melokalisasi vena dan mengukur seberapa dalam dibawah
kulit. Dibawah visualisasi ultrasound,jarum introducer kemudian dituntun melewati kulit ke
dalam pembuluh darah. Selama kateterisasi vena jugularis interna, penuntun ultrasound
menurunkan ankga kejadian komplikasi mekanik, kegagalan penempatan dan waktu yang
digunakan untuk insersi. Namun penggunaannya selama kateterisasi vena subclavia masih
diragukan hasilnya pada uji klinik, kemungkinan olah karena alasan anatomis. Penggunaan
penuntun ultrasound seharusnya rutin dipertimbangkan untuk kasus-kasus kateterisasi pada vena
jugularis interna.7,9,12

VI.6 Mengenali Tertusuknya Arteri dan Mencegah Emboli


Pada pasien dengan tekanan darah normal dan tekanan oksigen arteri yang normal,
tertusuknya arteri biasanya mudah dikenali dengan aliran yang berdenyut dari spoit dan
warnanya berupa warna darah merah terang. Meski demikian, pada pasien yang didapati dengan
hipotensi atau desaturasi arterial, tanda-tanda diatas mungkin tidak didapatkan. Jika terdapat
keraguan apakah jarum intoduser berada dalam arteri atau vena, sebuah kateter lumen tunggal 18
G (termasuk perlengkapannya) sebaiknya diinsersikan melalui mandrin/wire dan menuju
pembuluh darah. Langkah ini tidak membutuhkan penggunaan dilator. Kateter ini selanjutnya
bisa disambungkan ke transducer bertekanan untuk konfirmasi adanya bentuk gelombang vena
dan tekanan vena. Contoh-contoh simultan untuk mengukur gas darah selanjutnya dapat diambil,
satu dari kateter dan yang lainnya dari arteri. Akan didapatkan perubahan substansial pada
tekanan oksigen jika kateter berada dalam vena.
Pernafasan spontan pada pasien menghasilkan tekanan negatif intratorasik selama
inspirasi. Jika kateter terbuka terhadap udara bebas, tekanan intratorasik ini dapat mengalirkan
udara menuju vena yang menyebabkan emboli udara. Meskipun hanya sedikit, emboli udara
dapat bersifat fatal,khususnya jika ditransmisikan ke sirkulasi sistemik melalui defek septum
arterial atau ventrikular. Untuk mencegah komplikasi ini, kateter HUBS harus selalu tertutup
setiap waktu, dan pasien seharusnya diposisikan tredelenberg selama insersi. Jika terjadi emboli
udara, pasien diposisikan tredelenberg dengan condong left lateral dekubitus untuk mencegah
pergerakan udara menuju jalur ventrikular kanan. Oksigen 100%sebaiknya diberikan untuk
mempercepat penyerapan udara. Jika kateter berada dalam jantung, aspirasi udara sebaiknya
dilaksanakan.5,7

VI.7. Antibiotik profilaksis


Banyak penelitian mengenai antibiotikprofilaksis telah didemonstrasikan dan strategi ini
berhubungan dengan pengurangan jumlah infeksi ke dalam darah melalui kateter. Meski
demikian, penggunaan antibiotic diragukan karena perhatian bahwa ini akan meningkatkan
munculnya organisme yang resistensi antibiotic.7

VI.8. Perawatan
Pemeliharaan yang baik dari kateter vena centralis dan penempatan sisi mungkin
memperkecil resiko dari kateter sehubungan dengan komplikasi. Aplikasi rutin dari antibiotik
topikal belum terbukti dalam mengurangi tingkat infeksi aliran darah dan dapat meningkatkan
pertumbuhan bakteri resisten dan jamur.
Sekarang ini, tidak ada fakta-fakta yang kuat mengenai penggunaan kasa atau jas steriil, atau
rekomendasi yang dibuat berkenaan frekwensi penggantian pakaian secara rutin. Bagaimanapun
juga, pemeriksaan visual secara rutin untuk eritema atau pus, dan palpasi harus menjadi
perawatan standar untuk kateter yang tidak tertinggal. Pusat kateter merupakan sumber infeksi
yang paling sering. Pusat kateter ini harus diganti secara rutin, setidaknya setiap tiga hari, untuk
mengurangi insiden infeksi. Resiko infeksi menjadi banyak sekali setelah lima sampai tujuh hari
setelah kateterisasi. Bagaimanapun percobaan penggantian rutin kateter menjadi kawat belum
menunjukkan pengurangan dalam infeksi sehubungan dengan kateter, sementara penempatan
kateter pada bagian lain memberikan hasil yaitu peningkatan jumlah komplikasi mekanik.
Kateter harus dipindahkan sebelum lebih lama lagi untuk infeksi yang dapat meningkat sewaktu-
waktu.3,7

REFERENSI
1. Chen H. M.D., Christopher J.S. M.D., Venous And Arterial access. In : Manual Of Common
Bedside Surgical Procedures, 2nd Edition. Halsted Residents Of The Johns Hopkins
Hospital,Lippincott Williams & Wilkins, 2000, pp.36-57
2. Sanjiv J.Shah,M.D., Carolyn S. Calfee,M.D. High Flow Infusion Technique. In : Clinical
Procedures In Emergency Medicine, 3rd Edition. Philadelphia, WB Saunders,1998, pp. 352
3. Wolf Scott W.,M.D. Intravenous Access In Adults. In : Perioperative Fluid Therapy, Part III,
Departement Of Anesthesiology University Of Texas Medical Branch Of Galveston Texas, USA,
2006, pp. 102-5
4. Singer M. M.D.,Webb A.R. M.D., Central Venous Catheter-Use. In: Critical Care 2 nd Edition,
Oxford Handbook, Departement Of Intensive Care University College London Hospitals,2005,
pp. 114-7
5. Caroline ozment, M.D.,et all. Central Venous Line Placement,Subclavian
Venipuncture,Infraclavicular Approach, Reviw Article Of Intensive Care Medicine, 2003
6. Komisi Trauma ATLS Pusat. Pemantauan Tekanan Vena Sentral. Pada: Buku ATLS Edisi
American College Of Surgeons Committee On Trauma,2007. Hal: 111-2
7. David C.McGee,M.D., Michael K. Gould,M.D., Preventing Complications Of Central Venous
Catheterization. In : Current Concepts Review Article Of New England Journal Of
Medicine,2003.pp. 1123-33
8. Roberto E.Rusminosky, M.D.,MPH,FACS, Complications Of Central Venous Catheterization,
Departement Of Surgery West Virginia University, 2007, pp: 681-9
9. Alan S. Graham,M.D.,et all, Central Venous Catheterization. In : Clinical Medicine, The New
England Journal Of Medicine,2007
10. Lewis A.Eisen, et all, Mechanical Complication Of Central Venous Catheters. In: Journal Of
Intensive Care Medicine,2006. pp: 40-6
11. William T. Mc.Gee. Central Venous Catheterization:Better & Worse. In : Journal Of Intensive
Care Medicine, 2006, pp: 51-2
12. Seong Hoon Ko, et all. Massive Thrombosis After Central Venous Catheterization.In a Patient
With Previously Undiagnosed Bechets Disease. In : Journal Korean Medicine,2001. Pp: 814-6
13. Hocking G. M.D. Central Venous Access and Monitoriing. In : Article of Practical Procedures,
Frimley Park Hospital, Portsmouth Road,2000.