Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan adalah suatu kondisi sehat secara fisik, mental spiritual

maupun sosial yang memungkinkan suatu individu untuk hidup produktif secara

sosial maupun ekonomi.1. Salah satu komponen dalam definisi sehat ini adalah

kesehatan Jiwa. Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat

berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut

menyadari kemampuan diri sendiri, mampu mengatasi tekanan, dapat bekerja

secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. 2

Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental yang sejahtera, memungkinkan

seseorang hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas

hidup dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia.3 Jiwa yang sehat

dibutuhkan semua individu sehingga mempunyai perasaan bahagia, mampu

menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan

mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri maupun lingkungan.4

Orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan

perkembangan, dan/atau kualitas hidup memiliki risiko untuk mengalami

gangguan jiwa. Sedangkan orang dengan gangguan jiwa merupakan orang yang

mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi

dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna,

serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi

sebagai manusia.2

1
Derajat kesehatan jiwa masyarakat dapat dilihat dari angka kejadian

gangguan jiwa dan disabilitas. Berdasarkan laporan organisasi kesehatan dunia

WHO pada tahun 2006, satu dari empat orang di dunia akan terkena gangguan

jiwa pada satu tahap kehidupannya. WHO juga menyatakan bahwa 12% dari

global burden disease disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Angka ini lebih

besar dari penyakit dengan penyebab lainnya yang berasal dari faktor fisik.

Prediksi tahun 2020, gangguan jiwa akan menempati urutan ke 2 sebagai

penyebab utama beban penyakit secara global.5

Gangguan kesehatan jiwa tidak tercatat sebagai penyebab kematian

maupun kesakitan utama di Indonesia, namun bukan berarti tidak menimbulkan

masalah. Data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional

(gejala-gejala depresi dan ansietas), sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas. Hal

ini berarti lebih dari 14 juta jiwa menderita gangguan mental emosional di

Indonesia. Sedangkan untuk gangguan jiwa berat seperti gangguan psikosis,

prevalensinya adalah 1,7 per 1000 penduduk. Ini berarti lebih dari 400.000 orang

menderita gangguan jiwa berat (psikotis). Angka pemasungan pada orang dengan

gangguan jiwa berat sebesar 14,3% atau sekitar 57.000 kasus gangguan jiwa yang

mengalami pemasungan. Sumatera Barat memiliki prevalensi yang jauh lebih

besar dengan angka 1.9 per 1000 penduduk, lebih tinggi dari prevalensi nasional.6

Aspek lain dari gangguan jiwa adalah penyalah gunaan napza. Angka

penggunaan napza secara nasional terdapat 2.2% (3.8juta) dimana 1.8 juta

merupakan pengguna regular.6,7

Gangguan jiwa dan penyalahgunaan Napza juga berkaitan dengan

masalah perilaku yang membahayakan diri, seperti bunuh diri. Berdasarkan

2
laporan dari Mabes Polri pada tahun 2012 ditemukan bahwa angka bunuh diri

sekitar 0.5 % dari 100.000 populasi, yang berarti ada sekitar 1.170 kasus bunuh

diri yang dilaporkan dalam satu tahun.6

Prioritas untuk kesehatan jiwa adalah mengembangkan Upaya Kesehatan

Jiwa Berbasis Masyarakat (UKJBM) yang ujung tombaknya adalah Puskesmas

dan bekerja bersama masyarakat untuk mencegah meningkatnya gangguan jiwa

masyarakat. Puskesmas Pauh sebagai salah satu pusat layanan kesehatan primer di

Kota Padang memiliki peranan yang penting dalam menjaga kesehatan jiwa

masyarakat. Program kerja yang dilakukan Puskesmas Pauh berpusat pada deteksi

dini gangguan jiwa, penemuan pasien gangguan jiwa baru, pengobatan dan

memberikan rujukan apabila diperlukan. Data tahun 2015 menunjukkan jumlah

pasien gangguan jiwa yang berobat di Puskesmas Pauh didapatkan total 116 kasus

gangguan jiwa. Berdasarkan data dan kondisi masyarakat tersebut penulis tertarik

untuk mengetahui program kesehatan dan pengelolaan pasien gangguan jiwa di

Puskesmas Pauh.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah pengelolaan kesehatan jiwa masyarakat di Puskesmas

Pauh Padang?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pelaksanaan pengelolaan kesehatan jiwa masyarakat di

Puskesmas Pauh Padang.

1.3.2 Tujuan Khusus

3
a. Mengetahui program-program kesehatan jiwa masyarakat di

Puskesmas Pauh.
b. Mengetahui angka kejadian gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas

Pauh.
c. Mengetahui jenis gangguan jiwa yang paling banyak diderita

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pauh.


d. Mengetahui pelaksanaan program kesehatan jiwa masyarakat serta

kekurangan dalam pelaksanaan program kerja tersebut di Puskesmas

Pauh.
e. Mengetahui pencapaian masing-masing program kesehatan jiwa

masyarakat di Puskesmas Pauh.


f. Mengetahui permasalahan dan hambatan dalam pelaksanaan program

kesehatan jiwa masyarakat di Puskesmas Pauh.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan kepustakaan yang merujuk

pada berbagai literatur, laporan tahunan Puskesmas Pauh Padang, serta diskusi

dengan penanggung jawab program kesehatan jiwa masyarakat di Puskesmas

Pauh.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kesehatan Jiwa

4
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental sejahtera yang memungkinkan

hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup

seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia dengan ciri

menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya, mampu menghadapi tekanan hidup

yang wajar, mampu bekerja produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat

berperan serta dalam lingkungan, menerima dengan baik apa yang ada pada

dirinya dan merasa nyaman dengan orang lain.3

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang

secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut dapat bekerja

secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.2


Kesehatan jiwa masyarakat (community mental health) telah menjadi

masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi semua negara. Salah satu pemicu

terjadinya berbagai masalah dalam kesehatan jiwa adalah dampak modernisasi.

Tidak semua orang siap menghadapi cepatnya perubahan, kemajuan teknologi

baru, masuknya budaya baru, pengaruh isu internasional dan lain sebagainya.

Gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung namun akan

menyebabkan penderitanya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi

keluarga penderita dan lingkungan masyarakat sekitarnya.8

2.2 Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat

Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat

kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat

dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang

5
diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh

Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.2

2.2.1 Tujuan Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat

Tujuan dari upaya kesehatan jiwa masyarakat adalah 2

a. Menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik,

menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan,

tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu Kesehatan

Jiwa.

b. Menjamin setiap orang dapat mengembangkan berbagai potensi

kecerdasan.

c. Memberikan pelindungan dan menjamin pelayanan Kesehatan Jiwa

bagi Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan

Gangguan Jiwa (ODGJ) berdasarkan hak asasi manusia.

d. Memberikan pelayanan kesehatan secara terintegrasi, komprehensif,

dan berkesinambungan melalui upaya promotif, preventif, kuratif,

dan rehabilitatif bagi ODMK dan ODGJ.

e. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya dalam

Upaya Kesehatan Jiwa.

f. Meningkatkan mutu Upaya Kesehatan Jiwa sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

g. Memberikan kesempatan kepada ODMK dan ODGJ untuk dapat

memperoleh haknya sebagai Warga Negara Indonesia.

2.2.2 Sasaran Upaya Kesehatan Jiwa

6
Secara nasional, kementrian kesehatan menetapkan sasaran kegiayan

upaya kesehatan jiwa berupa peningkatan mutu dan akses pelayanan kesehatan

jiwa dan napza. Dalam Rencana Strategis Kemenkes 2015-2019 terdapat

beberapa indicator yang harus terpenuhi pada tahun 2019. 9

1. Persentase Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Institusi

Penerima Wajib Lapor (IPWL) pecandu narkotika yang aktif sebesar

50%.

2. Jumlah kabupaten/kota yang memiliki Puskesmas yang

menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa sebanyak 280 kab/kota.

3. Persentase RS Umum Rujukan Regional yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan jiwa/ psikiatri sebesar 60%.

2.3 Klasifikasi Gangguan Kesehatan Jiwa

2.3.1. Gangguan Jiwa Psikotik

Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan

individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau

perilaku kacau atau aneh.4 Gangguan psikotik adalah semua kondisi yg

menunjukkan adanya hendaya berat dalam kemampuan daya nilai realitas, baik

dalam perilaku individu dlm suatu saat maupun perilaku individu dalam

perjalanannya mengalami hendaya berat kemampuan daya nilai realitas.10

Bukti langsung hendaya daya nilai realitas terganggu ditunjukkan dengan

adanya:10

Waham, halusinasi tanpa tilikan akan sifat patologinya

7
Perilaku yg demikian kacau ( grossly disorganized ) misalnya bicara yg

inkoheren, perilaku agitasi tanpa tujuan, disorientasi pada delirium dst

Kegagalan fungsi sosial dan personal dgn penarikan diri dari pergaulan

sosial dan tidak mampu dlm tugas pekerjaan sehari-hari.

Gangguan psikotik adalah gangguan mental yang ditandai dengan

kerusakan menyeluruh dalam uji realitas seperti yang ditandai dengan delusi,

halusinasi, bicara inkoheren yang jelas, perilaku tidak teratur atau mengacau yang

biasanya tanpa ada kewaspadaan pasien terhadap inkomprehensibilitas dalam

tingkah lakunya.4

Faktor psikodinamik yang harus diperhatikan dalam kelompok gangguan

psikotik adalah stresor pencetus dan lingkungan interpersonal. Saat menggali

riwayat penyakit dan memeriksa pasien, klinisi harus memperhatikan tiap

perubahan atau stres pada lingkungan interpersonal pasien. Pasien rentan terhadap

kebutuhan psikosis untuk mempertahankan jarak interpersonal tertentu. Seringkali

pelanggaran batas pasien oleh orang lain dapat menciptakan stres yang melanda

dan menyebabkan dekompensasi. Demikian juga setiap keberhasilan atau

kehilangan mungkin merupakan stresor yang penting dalam kasus tertentu.10


Pemeriksaan pasien psikotik harus mempertimbangkan kemungkinan

bahwa gejala psikotik disebabkan oleh kondisi medis umum (sebagai contoh

tumor otak) atau ingesti zat (sebagai contoh phencyclidine).5 Kondisi fisik lainnya

seperti neoplasma serebral, khususnya di daerah oksipitalis dan temporalis dapat

menyebabkan halusinasi. Pemutusan sensorik seperti yang terjadi pada orang buta

dan tuli juga dapat menyebabkan pengalaman halusinasi dan waham. Lesi yang

mengenai lobus temporalis dan daerah otak lainnya, terutama di hemisfer kanan

dan lobus parietalis juga akan disertai dengan waham.10

8
Zat psikoaktif adalah penyebab yang umum dari sindroma psikotik. Zat

yang paling sering terlibat adalah alkohol, halusinogen, sebagai contoh; lysergic

acid diethylamid (LSD), amfetamin, kokain. mescalin, phencyclidine (PCP), dan

ketamin. Banyak zat non narkotik lainnya yang dapat menimbulkan halusinasi

seperti steroid dan thyroxine. Obat-obatan golongan fenilpropanolamin

bromocriptine juga dapat menyebabkan atau memperburuk gejala-gejala

psikotik.10

2.3.2 Gangguan Jiwa Neurotik

Neurotik merupakan jenis gangguan mental yang paling ringan, individu

sadar kalau sedang bermasalah namun tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Gangguan neurotik dalam Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa

(PPGDJ) adalah gangguan mental yang tidak mempunyai dasar organik, individu

mempunyai insight dan hubungan dengan realitanya tidak terganggu.4

Gangguan jiwa neurotik adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara

emosional karena tidak dapat diselesaikannya suatu konflik tak sadar. Gejalanya

yaitu kecemasan yang dirasakan secara langsung atau diubah oleh berbagai

mekanisme pertahanan psikologis dan kemudian muncul gejala-gejala subjektif

yang mengganggu.10

2.4 Masalah Kesehatan Jiwa Masyarakat


Berbagai kondisi psikososial yang menjadi indikator taraf kesehatan jiwa

masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan karakteristik kehidupan perkotaan

(urban mental health) meliputi: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kasus

perceraian, anak remaja putus sekolah, kasus kriminalitas anak remaja, masalah

9
anak jalanan, promiskuitas, penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan

zat adiktif (NAPZA) beserta dampak nya (hepatitis C, HIV/AIDS dll),

gelandangan psikotik serta kasus bunuh diri.11


2.4.1 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)12
Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap

seseorang yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual,

psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk

melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan

hukum dalam lingkup rumah tangga. Lingkup rumah tangga terdiri atas suami,

istri dan anak, termasuk juga orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga

karena hubungan darah, perkawinan, pengasuhan, perwalian dengan suami

maupun istri yang menetap bersama dalam rumah tangga.


Dampak kekerasan dalam rumah tangga meliputi gangguan kesehatan fisik

non-reproduksi (luka fisik, kecacatan), gangguan kesehatan reproduksi (penularan

penyakit menular seksual, kehamilan tidak dikehendaki), gangguan kesehatan

jiwa (trauma mental), kematian atau bunuh diri. Kekerasan dalam rumah tangga

juga dapat menjadi salah satu kontributor meningkatnya kasus perceraian, kasus

penelantaran anak, kasus kriminalitas anak remaja serta juga penyalahgunaan

NAPZA.
2.4.2 Anak Putus Sekolah11
Berdasarkan data direktorat pendidikan kesetaraan Departemen Pendidikan

Nasional (Depdiknas) tahun 2005 di Indonesia tercatat jumlah pelajar SLTP yang

putus sekolah adalah sebanyak 1.000.746 siswa/siswi, sedangkan pelajar SLTA

yang putus sekolah adalah sebanyak 151.976. Jumlah lulusan SLTA yang tidak

melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi pada tahun tersebut tercatat sebanyak

691.361 siswa/ siswi.

10
Laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2005 menyatakan

bahwa sebanyak 4,18 juta anak usia sekolah di Indonesia tidak bersekolah dan

sebagainya menjadi pekerja anak perwakilan ILO di Indonesia menyatakan

bahwa banyaknya anak putus sekolah dan menjadi pekerja anak disebabkan

karena biaya pendidikan di Indonesia masih dianggap terlalu mahal dan tak

terjangkau oleh sebagian kalangan masyarakat. Angka partisipasi kasar (APK)

program wajib belajar 9 tahun yang dirilis Depdiknas menunjukan baru mencapai

88,68% dari target 95% partisipasi anak usia sekolah yang diharapkan.
2.4.3 Masalah Anak Jalanan13
Masalah anak di Indonesia meliputi kekerasan pada anak, masalah anak

jalanan, penelantaran anak dan sebagainya yang angka penemuannya masih cukup

tinggi. Berdasarkan data dari Departemen Sosial tahun 2005, jumlah anak jalanan

di Indonesia adalah sekitar 30.000 anak dan sebagian besarnya berada di jalan-

jalan di DKI Jakarta. Selain itu baru terdapat 12 daerah di Indonesia yang

memiliki peraturan daerah tentang anak jalanan. Padahal para anak-anak jalanan

tersebut rentan terjadi berbagai tindak kekerasan, penyimpangan perlakuan,

pelecehan seksual bahkan dilibatkan dalam berbagai tindak kriminal oleh orang

dewasa yang menguasainya.


2.4.4 Kasus Kriminalitas Anak Remaja13
Data Direktorat Jenderal Kemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM

serta Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukan bahwa

pada tahun 2005 di Indonesia terdapat 2.179 tahanan anak dan 802 narapidana

anak yang 7 diantaranya anak perempuan. Tahun 2006 angkanya menjadi 4.130

tahanan anak serta 1.325 narapidana anak, dimana 34 diantaranya adalah anak

perempuan. Menurut survey KPAI penyebab anak masuk LP (Lembaga

Pemasyarakatan) Anak, 40% karena terlibat kasus NAPZA, 20% karena perjudian

11
sedangkan sisanya karena kasus lain-lain. Sekitar 20% tindak kekerasan seksual

pada tahun 2006 pelakunya adalah anak remaja. 72% anak remaja pelaku

kekerasan seksual mengaku terinspirasi tayangan televisi, membaca media cetak

berisikan konten pornografi, menonton film porno, akses pada situs-situs

pornografi, dsb. Laporan KPAI menyatakan bahwa 50-70% anak terlibat dalam

tindak pidana kriminalitas lalu di vonis penjara dan masuk LP Anak, justru

perilakunya akan menjadi lebih jelek, menjadi residivis dan menyusahkan

dikemudian hari.
2.4.5 Penyalahgunaan Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif

lainnya (NAPZA) serta dampaknya (Hepatitis C, HIV/AIDS, dll)


Narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA)

tergolong dalam zat psikoaktif yang bekerja mempengaruhi kerja sistem

penghantar sinyal saraf (neuro-transmiter) sel-sel susunan saraf pusat (otak)

sehingga meyebabkan terganggunya fungsi kognitif (pikiran), persepsi, daya nilai

(judgment) dan perilaku serta dapat menyebabkan efek ketergantungan, baik fisik

maupun psikis.8 Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia saat ini sudah menjadi

ancaman yang serius bagi kehidupan bangsa dan negara. Pengungkapan kasusnya

di Indonesia meningkat rata-rata 28,9 % per tahun. 11 Pada tahun 2005 pabrik

ekstasi terbesar ke 3 di dunia terbongkar di Tangerang, Banten. Di Indonesia

diprediksi terdapat sekitar 1.365.000 penyalahgunaan NAPZA aktif dan data

perkiraan estimasi terakhir menyebutkan bahwa pengguna NAPZA di Indonesia

mencapai 5.000.000 jiwa. Seiring dengan laju perkembangan kasus tersebut

dijumpai pula peningkatan epidemi penyakit hati lever hepatitis tipe-c dan kasus

HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS (Acquired Immune-Deficiency

Syndrome) yang modus penularan melalui penggunaan jarum yang tidak steril

12
secara bergantian pada pengguna NAPZA suntik (Penasus/injecting drug user/

IDU).11
2.4.6 Gangguan Psikotik dan Gangguan Jiwa Skizofrenia
Ganguan jiwa berat merupakan bentuk gangguan dalam fungsi alam

pikiran berupa disorganisasi (kekacauan) dalam isi pikiran yang ditandai antara

lain oleh gejala gangguan pemahaman (delusi waham) gangguan persepsi berupa

halusinasi atau ilusi serta dijumpai daya nilai realitas yan terganggu yang

ditunjukan dengan perilaku-perilaku aneh (bizzare).2 Gangguan ini dijumpai rata-

rata 1-2% dari jumlah seluruh penduduk di suatu wilayah pada setiap waktu dan

terbanyak mulai timbul (onset) nya pada usia 15-35 tahun. Bila angkanya 1 dari

1.000 penduduk saja yang menderita gangguan tersebut, di Indonesia bisa

mencapai 200-250 ribu orang penderita dari jumlah tersebut. Apabila 10%

penderita memerlukan rawat inap di rumah sakit jiwa, maka dibutuhkan

setidaknya 20-25 ribu tempat tidur. Akan tetapi rumah sakit jiwa yang ada saat ini

hanya cukup merawat penderita gangguan jiwa tidak lebih dari 8.000 orang.11
Upaya pencegahan meningkatnya kasus gangguan jiwa berat

memerlukan program intervensi dan terapi yang implentasinya bukan di rumah

sakit tetapi di lingkungan masyarakat (community based psyciatric services).

Kondisi di banyak negara berkembang termasuk Indonesia sebenarnya lebih

menguntungkan jika dibandingkan dengan negara maju. Dukungan keluarga

(primary support groups) yang diperlukan dalam penggobatan gangguan jiwa

berat lebih mudah dilakukan dengan kualitas yang baik di negara berkembang.

Stigma terhadap gangguan jiwa berat tidak hanya menimbulkan konsekuensi

negatif terhadap penderita tetapi juga bagi anggota keluarga. Konsekuensi negatif

tersebut meliputi sikap-sikap penolakan, penyangkalan, disisihkan, dan diisolasi.

13
Penderita gangguan jiwa mempunyai risiko tinggi terhadap pelanggaran hak asasi

manusia.14
2.4.7 Kasus Bunuh Diri
Data WHO menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 800.000 orang di seluruh

dunia melakukan tindakan bunuh diri setiap tahunnya. Laporan di India dan Sri

Langka menunjukkan angka bunuh diri sebesar 11-37 per 100 ribu orang. Menurut

Dr. Benedetto Saraceno dari Departemen Kesehatan Jiwa WHO, lebih dari 90%

kasus bunuh diri berhubungan dengan masalah gangguan jiwa seperti depresi,

psikotik dan akibat ketergantungan zat (NAPZA).14


Hal yang mengkhawatirkan dari kasus bunuh diri adalah pergeseran usia

orang yang melakukan tindak bunuh diri. Saat ini bunuh diri pada anak usia

kurang dari 12 tahun sudah semakin sering ditemukan. Keadaan ini menunjukkan

kegagalan orang tua di rumah, guru di sekolah dan tokoh panutan di masyarakat

membekali keterampilan hidup (life skill) untuk mengatasi tantangan maupun

kesulitan hidup. Kasus bunuh diri sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat

yang serius terutama bila dikaitkan dengan dampak kehidupan modern. Oleh

karena itu WHO memandang bunuh diri sebagai peyebab utama kematian dini

yang seharusnya dapat dicegah.11


Kondisi lain yang perlu mendapat perhatian adalah altruistic suicide atau

bunuh diri karena loyalitas berlebihan dalam bentuk bom bunuh diri. Banyak

ahli mengaitkan hal tersebut sebagai manifestasi dari akumulasi kekecewaan,

perlakuan tidak adil atau tersisihkan. Mengatasi altruistic suicide tidak mudah dan

memerlukan pendekatan multi disiplin antara berbagai pihak terkait seperti aspek

kesehatan jiwa, pendekatan agama, serta penegakan hukum dan sosial.14

14
BAB 3

ANALISIS SITUASI

3.1. Gambaran Umum Puskesmas Pauh


3.1.1 Keadaan Geografis

Puskesmas Pauh terletak di kelurahan Cupak Tangahdengan wilayah kerja

meliputi 9 kelurahan dengan luas146,2 Km2terletak pada 00 58 Lintang Selatan,

1000 21 11 Bujur Timur sebelah timur pusat Kota Padang. Sembilan kelurahan

yang memnjadi wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah sebagai berikut :

1. Kelurahan Pisang
2. Kelurahan Binuang Kp Dalam
3. Kelurahan Piai Tangah
4. Kelurahan Cupak Tangah
5. Kelurahan Kapalo Koto
6. Kelurahan Koto Luar
7. Kelurahan Lambung Bukit
8. Kelurahan Limau Manis Selatan
9. Kelurahan Limau Manis

15
Dengan kondisi 60% dataran rendah dan 40% dataran tinggi. Curah hujan

471 mm/bulan, mempunyai temperature 28O-31O C dengan batas wilayah

sebagai berikut:

a. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Solok.

b. Sebelah barat berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Andalas

(Padang Timur).

c. Sebelah Utara berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Koto Tangah

d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk

Kilangan.

Gambar 3.1 Peta Batas-batas Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2015
(Sumber : Profil Puskesmas Pauh Tahun 2015)

3.1.2 Keadaan Demografi

Berdasarkan data dari Kantor Kecamatan Kota Padang tahun 2015 yang

dipublikasikan pada tahun 2015, jumlah penduduk Kecamatan Pauh adalah

16
sebanyak 65.515 jiwa, dengan jumlah KK 17638, RT sebanyak 169, dan RW

sebanyak 50 dengan rata rata anggota keluarga 4 orang serta kepadatan

penduduk 489/km2.

Table 3.1. Jumlah Penduduk Kecamatan Pauh Menurut Kelurahan Tahun 2015

No Jumlah
Kelurahan
. KK Jiwa RT RW
1 Pisang 2618 7924 23 7
2 Binuang Kp Dalam 1650 6016 25 6
3 Piai Tangah 1309 5074 18 8
4 Cupak Tangah 1978 7917 26 7
5 Kapalo Koto 2126 7577 20 6
6 Koto Luar 2349 8362 18 5
7 Lambung Bukit 1124 3579 15 4
8 Limau Manis Selatan 2938 13005 12 6
9 Limau Manis 1546 6061 12 4
JUMLAH 17638 65515 169 50
(Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh, 2015)

3.1.3 Sarana dan Prasarana


3.1.3.1 Sarana dan Prasarana Kesehatan

Wilayah Kerja Puskesmas Pauh sangat luas, oleh karena itu untuk

melayani masyarakat, Puskesmas Pauh memiliki 1 buah Puskesmas induk, dan 5

buah Puskesmas pembantu dan 4 buah Poskeskel yang tersebar di wilayah kerja

PuskesmasPauh, yaitu :

a. Puskesmas Pembantu Jawa Gadut


b. Puskesmas Pembantu Pisang
c. Puskesmas Pembantu Ulo Gadut
d. Puskesmas Pembantu Batu Busuk

17
e. Puskesmas Pembantu Piai Tangah
f. Poskeskel Limau Manis Selatan
g. Poskeskel Cupak Tangah
h. Poskeskel Kapalo Koto
i. PoskeskelKoto Lua

Untuk kelancaran tugas pelayanan terhadap masyarakat, Puskesmas Pauh

mempunyai 1 kendaraan roda empat (Puskel) dan 7 buah kendaraan roda dua.

Daftar sarana dan tenaga kesehatan lain yang ada di wilayah kerja Puskesmas

Pauh adalah:

1. Rumah Sakit Pemerintah : 1 buah

2. Rumah Sakit Swasta : 1 buah

3. Klinik Bersalin : 5 buah

4. Dokter Praktek Umum : 5 orang

5. Dokter Praktek Spesialis : 3 orang

6. Bidan Praktek Swasta (BPS) : 5 buah

7. Posyandu Balita : 70 buah

8. Posyandu Lansia : 13 buah

9. Praktek Swasta Dokter Gigi : 2 orang

18
3.1.3.3 Ketenagaan

Tabel 3.3 Distribusi Tenaga Kesehatan di Puskesmas Pauh Tahun 2015

No Jenis Ketenagaan Jumlah Status Kepegawaian


1 Dokter 3 PNS
2 Dokter Gigi 3 PNS
3 Sarjana Kesmas 2 PNS
4 Sarjana Keperawatan 1 PNS
5 Rekam Medik 2 PNS
6 D3 Keperawatan 14 10 PNS, 4 Volunter
7 D3 Kebidanan 21 15 PNS, 6 PTT
8 D3 Gizi 4 2 PNS, 6 PPT
9 D3 Teknisi Gigi 2 PNS
10 D3 Kesling 3 PNS
11 Bidan ( DI ) 3 2 PNS, 1 PPT
12 Perawat ( SPK ) 4 PNS
13 Analis Kimia 2 PNS
14 Apoteker 1 PNS
15 Ass. Apoteker 3 PNS
16 LPCK 1 PNS
17 SMA 4 PNS
JUMLAH 63
(Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 201)

3.2 Rencana Kerja Penanggulangan Kesehatan Jiwa Puskesmas Pauh

Tabel 3.4 Program Kerja Kesehatan Jiwa Puskesmas Pauh

No Program Penanggung Jawab Sasaran Rincian Kegiatan Volume


Kegiatan
1 Penemuan Pemegang program Pasien baruPenemuan pasien Setiap Bulan
Pasien baru, baik yang
datang berobat ke
Puskesmas,
maupun atas
laporan kader
ataupun
masyarakat
2 Pembinaan Pemegang program Pasien dan Melakukan Setiap bulan
keluarga pembinaan dengan
pasien mendatangi
langsung rumah
pasien.

19
3 Pengobatan Dokter Pasien Melakukan Setiap hari
pengobatan sesuai
dengan SKDI,
melakukan rujukan
bila perlu.
4 Pencatatan Pemegang program Pasien baru Melakukan Setiap hari
dan dan lama pencatatan
pelaporan terhadap pasien
jiwa yang berobat
ke Puskesmas
5 Evaluasi Pemegang program Pasien baru Melakukan Setiap bulan.
dan dokter dan lama kunjungan ke
rumah pasien jiwa
yang telah
diberikan
pembinaan.
6 Penyuluhan Pemegang program Pasien, Melakukan Setiap ada
keluarga penyuluhan kegiatan
pasien, terhadap kesehatan posyandu
masyarakat jiwa. balita dan
lansia.
7 Kerjasama Pemegang program Masyarakat Melakukan Setiap bulan,
lintas kerjasama lintas setiap ada
program sektor, misal kegiatan
dengan pemegang posyandu
program KIA dan balita dan
lansia. lansia.

3.3 Gambaran Umum Penyakit Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh

Penemuan penyakit jiwa kasus baru di puskesmas Pauh dapat dilihat pada

grafik di bawah ini :

20
Gangguan psikotik Epilepsi Gangg.Jiwa Lainnya

Grafik 3.1 Jumlah pasien gangguan kesehatan jiwa baru tahun 2015

Puskesmas Pauh

Dari grafik diatas didapatkan jumlah pasien gangguan jiwa terbanyak yaitu

gangguan jiwa psikotik sebanyak 26 orang dimana 18 diantaranya adalah laki laki.

Kemudian untuk epilepsi sebanyak 12 orang dan untuk gangguan jiwa lainnya

termasuk gangguan belajar sebanyak 14 orang. Secara Keseluruhan total pasien

baru adalah sebanyak 52 orang.

3.4 Permasalahan Penyelenggaraan Program Kesehatan Jiwa Masyarakat

Puskesmas Pauh

Dalam penyelenggaraan program kesehatan jiwa masyarakat di puskesmas

Pauh mengalami beberapa kendala yang menyebabkan program tidak berjalan

dengan baik. Beberapa kendala yang dialami antara lain

- Jumlah tenaga kesehatan jiwa hanya 1 orang

21
o Jumlah ini telah memenuhi syarat, namun pemegang program

juga bekerja sebagai pemegang program posyandu balita

dengan beban kerja yang banyak sehingga tugas sebagai

pemegang program kesehatan jiwa tidak dapat dilakukan

dengan maksimal.
- Belum terbentuknya desa siaga kesehatan jiwa yang rencananya akan

di laksanakan di setiap kelurahan dengan membentuk 5-10 kader tiap

keluharan. Saat ini kader yang sudah terlatih sebanyak 10 orang. Kader

akan melakukan home visite ke setiap rumah penduduk dan

melaporkan kepada petugas apabila menemukan kasus baru.

22
BAB 4

PEMBAHASAN

Puskesmas Pauh merupakan salah satu puskesmas yang menjalankan

program kesehatan jiwa masyarakat sebagai bagian Upaya Kesehatan Jiwa

Berbasis Masyarakat memiliki peranan penting dalam upaya preventif, promotif,

kuratif dan rehabilitatif. Selama tahun 2015 ditemukan 116 kasus pasien gangguan

jiwa. Prevalensi paling tinggi dari keseluruhan kasus adalah gangguan Psikotik

Selain gangguan kejiwaan psikotik, masyarakat di wilayah kerja

Puskesmas Pauh juga ditemukan menderita gangguan kejiwaan lain pada tahun

2015, diantaranya epilepsi dengan jumlah kasus baru 12 orang dan gangguan

kejiwaan lain seperti pelaku kekerasan, retardasi mental, gangguan belajar dsb

dengan jumlah kasus baru 13 orang. Selain itu, berdasarkan laporan tahunan 2015

tidak ditemukan adanya kasus pasung di wilayah kerja puskesmas Pauh.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Puskesmas Pauh dalam

penanggulangan penyakit gangguan kejiwaan di antaranya penemuan kasus baru

gangguan jiwa, pembinaan, pengobatan, pencatatan dan pelaporan evaluasi,

penyuluhan, hingga kerja sama lintas sektoral. Penemuan kasus baru dilakukan

saat pasien berkunjung langsung ke Puskesmas atau pemegang program turun ke

lapangan dan mendatangi langsung pasien yang diduga mengalami gangguan

kejiwaan. Selain itu dalam sekali sebulan Puskesmas Pauh melakukan pembinaan

terhadap penderita gangguan kesehatan jiwa, dimana pemegang program akan

mengedukasi keluarga mengenai cara meminum obat yang benar dan memberikan

nasehat mengenai cara perawatan penderita gangguan jiwa di rumah. Pengobatan

23
dan penyuluhan akan dilakukan langsung oleh dokter puskesmas, sedangkan

program kesehatan jiwa lainnya akan dilakukan oleh pemegang program.

Program penanggulangan kesehatan jiwa di Puskesmas Pauh memang

masih memiliki kekurangan karena program tersebut belum mempunyai capaian

target yang jelas baik secara internal puskesmas maupun secara nasional.

Kurangnya sumber daya manusia dengan jumlah petugas pemegang program

hanya 1 orang masih menjadi hambatan utama dalam menjalankan upaya

kesehatan jiwa masyarakat.

Fungsi Puskesmas sebagai ujung tombak deteksi dini gangguan

kesehatan jiwa juga belum maksimal karena petugas lebih banyak menunggu di

balai pengobatan dibandingkan turun ke lapangan.

24
BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Program kesehatan jiwa masyarakat di Puskesmas Pauh terdiri atas

berbagai kegiatan diantaranya; penemuan pasien baru, pembinaan,

pengobatan, pencatatan dan pelaporan, evaluasi, penyuluhan dan

kerjasama lintas sektoral.


2. Angka kejadian gangguan kesehatan jiwa di Puskesmas Pauh cukup

besar dengan ditemukannya penambahan kasus baru pada setiap jenis

gangguan kejiwaan. Pada tahun 2015 ditemukan 52 kasus baru di

wilayah kerja Puskesmas Pauh.


3. Kasus gangguan kesehatan jiwa psikotik merupakan jenis gangguan

kesehatan jiwa tertinggi di tahun 2015.


4. Program kesehatan jiwa masyarakat Puskesmas Pauh masih memiliki

beberapa kekurangan, terutama pelaksanaan fungsi promosi dan

preventif yang belum maksimal.


5. Program kesehatan jiwa masyarakat Puskesmas Pauh masih belum

mempunyai target pencapaian yang jelas.


5.2. Saran
1. Perbaikan terhadap program kesehatan jiwa masyarakat dan tentukan

target capaian yang jelas.


2. Perekrutan kader di setiap kelurahan dan jumlahnya minimal

disesuaikan dengan jumlah posyandu yang ada.


3. Tingkatkan kualitas dan kuantitas pemberian penyuluhan kepada

masyarakat dan pelajar tentang kesehatan jiwa.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Republik Indonesia. 2009. Undang Undang no 36 Tahun 2009 Tentang

Kesehatan. Jakarta : Sekretariat Negara

26
2. Republik Indonesia Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun

2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta : Sekretariat Negara

3. Keputusan Menteri Kesehatan No : 406/Menkes/SK/VI/2009. Departemen

Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

4. Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan

PPGDJ-III. Cetakan 1. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika

Atma Jaya.

5. WHO. The World Health Report 2006. Mental health: new understanding.

New Hope. Geneva.

6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar. 2013.

Jakarta: Depkes RI

7. BNN. 2011. Data Tindak Pidana Narkoba Tahun 2007 2011. Diakses dari

http://www.bnn.go.id/portal/_uploads/post/2012/05/31/20120531153207-

10234.pdf diunduh pada 1 Juni 2016

8. Videback, Sheila.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

9. Keputusan Menteri Kesehatan No : HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang

Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2015 - 2019. Departemen

Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

10. Sadock BJ, Sadock VA. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri

Klinis. Edisi ke-2. Cetakan 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

11. Herman, Ade S. D. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Cetakan

1. Yogyakarta: Nuha Medika.

12. Presiden Republik Indonesia dengan Persetujuan Bersama Dewan

Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2012. Undang-Undang

27
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU RI No.23 Tahun

2004). Cetakan 4. Jakarta: Sinar Grafika.

13. Tim Fokus Media. 2015. Undang-Undang Perlindungan Anak Edisi

Lengkap. Cetakan 1. Jakarta: Fokus Media.

14. Joentak F. S. 2015. Masalah Masalah Kesehatan Jiwa Masyarakat.

Diakses dari http://dokumen.tips/documents/masalah-masalah-kesehatan-

jiwa-masyarakat.html. Diunduh pada 07 Oktober 2016.

28