Anda di halaman 1dari 4

KLAMIDIASIS

1. Definisi1
Klamidiasis genital adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Chlamidia
trachomatis, berukuran 0,2-1,5 mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak, dan merupakan
parasi intrasel oblogat.

2. Etiologi1
Terdapat 3 spesies yang pathogen terhadap manusia yaitu, Chlamidia pneumonia,
Chlamidia psittaci, dan Chlamidia trachomatis. Chlamidia trachomatis sendiri
mempunyai 15 macam serovar. Serovar A, B, Ba, dan C merupakan penyebab trachoma
endemic, serovar B, D, E, F, G, H, I, J, K, dan M merupakan penyebab infeksi traktus
genitourinarius serta pneumonia pada neonatus. Sementara itu, serovar L1, L2, dan L3
menyebabkan penyakit limfagranuloma verereum. Yang menjadi dasar pembagian
reservoir CT adalah ekspresi major outer membrane protein (MOMP).

3. Epidemiologi2
Klamidiasis menyerang 70 persen wanita dan 50 persen pada pria. Menurut penelitian
sebagian besar penyakit ini terjadi pada remaja dan wanita antara umur 20 dan 24 tahun.
Ditularkan dan menyebar melalui kontak pasangan seks yang terinfeksi,

4. Patomekanisme1,2
Semua klamidia mempunyai urutan peristiwa umum dalam reproduksinya. Partikel
infeksiusnya adalah suatu sel yang kecil (badan elementer) dengan diameter kira-kira 0,3
mikrometer dengan nucleoid yang padat electron. Glikosaminoglikan seperti heparin
sulfat pada permukaan Chlamidia trachomatis diperlukan untuk perlekatan sel inang.
Setelah perlekatan, badan elementer dibawa oleh fagositosis ke dalam sel inang dalam
vakuola yang berasal dari selaput permukaan sel inang. Badan elementer ini disusun
kembali menjadi bentuk yang besar (badan retikulat) yang ukurannya kira-kira 0,5-1
mikrometer dan sama sekali tidak mengandung nucleoid yang padat electron. Dalam
vakuola yang melekat pada selaput, partikel besar tumbuh dan membelah berulang-ulang
dengan pembelahan binner. Akhirnya, seluruh vakuola terisi partikel kecil yang berasal
pembelahan biner dari badan-badan besar, untuk membentuk suatu inklusi dalam
sitoplasma sel inang. Partikel kecil yang baru terbentuk dapat dilepaskan dari sel inang
untuk menginfeksi sel-sel baru. Siklus perkembangan ini memerlukan waktu 24-48 jam.
Masa inkubasi berkisar 1-3 minggu. Manifestasi klinis infeksi CT merupakan efek
gabungan berbagai faktor, yaitu kerusakan jaringan akibat replikasi CT, respon inflamasi
terhadap CT, dan bahan nekrotik dari sel pejamu yang rusak. Sebagian besar infeksi CT
merupakan asimptomatik dan tidak menunjukkan gejala klinik spesifik. Endoserviks
merupakan organ pada perempuan yang paling sering terinfeksi CT. walaupun umumnya
infeksi CT asimptomatik, 37% perempuan memberikan gejala klinik duh mukopurulen
dan 19% ektopik hoperto[i. servisitis dapat ditegakkan bila ditemukan duh serviks yang
mukopurulen, ektopi serviks, edema dan perdarahan serviks baik spomtan maupun
dengan apusan ringan lidi kapas. Infeksi pada serviks dapat menyebar melalui rongga
endometrium hingga mencapai tuba fallopi. Secara klinis dapat memberi gejala
menoragia dan metroragia.
Sebanyak 10% CT pada serviks akan menyebar secara ascendens dan menyebabkan
penyakit radang panggul (PRP). Infeksi CT yang kronik dan/atau rekuren menyebabkan
jaringan parut pada tuba. Komplikasi jangka panjang yang sering adalah kehamilan
ektopik dan infertilitas akibat obstruksi. Komplikasi lain dapat pula terjadi seperti artritis
reaktif dan perihepatitis (sindroma Fitz-Hugh-Curtis).
Dampak infeksi CT pada kehamilan dapat mengakibatkan abortus spontan, kelahiran
premature, dan kematian perinatal. Disamping itu, juga mengakibatkan konjungtivitis
pada neoatus dan pneumonia infantile. Oleh karena itu, untuk perempuam hamil dengan
resiko tinggi juga dianjurkan untuk dilakukan skrining terhadap infeksi CT pada saat
dating untuk pertama kali antenatal dan juga pada trimester ketiga kehamilan.

5. Gejala Klinis1
Hal ini penting untuk menegaskan kembali bahwa banyak orang klamidia mungkin
tidak memiliki gejala, jika ada, mereka mungkin mulai beberapa hari infeksi atau sampai
delapan minggu kemudian.
a. Gejala Chlamydia pada pria:
- Mendesak perlu untuk buang air kecil.
- Rasa terbakar saat buang air kecil.
- Discharge dari penis.
- Gatal atau terbakar di meatus kemih (pembukaan dimana urin keluar).
- Bengkak atau nyeri pada testis.
b. Gejala Chlamydia pada wanita:
- Duh mukopurulen, keputihan berwarna kuning kehijauan (nanah) dan tidak
berbusa/berbuih.
- Rasa terbakar dengan buang air kecil.
- Discharge dari uretra (pembukaan dimana urin keluar)
- Menoragia dan metroragia
- Perdarahan selama atau setelah berhubungan seks.
- Nyeri selama hubungan seksual.
- Penyakit radang panggul (PRP)
- Infeksi kronis : jaringan parut pada tuba.
c. Gejala Chlamydia pada kehamilan
- Abortus spontan
- Kelahiran premature
- Kematian perinatal
d. Gejala Chlamydia pada bayi
- Konjungtivitis neonatal
- Pneumonia infantile.

6. Pemeriksaan penunjang.1, 2
a. Biakan/Kultur : kerokan sel-sel epitel misalnya dari uretra, serviks, vagina, atau
konjungtiva dan biopsy dari salping atau epididymis dapat diinokulasi pada biakan sel
McCoy yang telah diberikan sikloheksimida untuk pertumbuhan CT. Isolat dapat
ditentukan tipenya dengan cara imunoflouresensi dengan menggunakan serum
spesifik. Bahan dari saluran genital yang sama dapat diperiksa juga secara langsung
dengan menggunakan imunoflouresensi untuk partikel klamidia atau dengan EIA
untuk antigen klamidia. Konjungtivitis inklusi pada neonatus, dan kadang-kadang
pada orang dewasa, inklusi sitoplasma dalam sel-sel epitelnya demikian tebal
sehingga mudah ditemukan pada eksudat konjungtiva dan kerokan yang diperiksa
dengan cara imunofluresensi atau pewarnaan giemsa.
b. Deteksi antigen secara: Direct Flourescent Antibody (DFA), Enzyme immune assay/
enzyme linked immunosorbent assay (EIA/ELISA), dan Rapid atau Point of care test.
c. Deteksi asam nukleat: Hibridisasi probe deoxyribonucleic acid (DNA), uji amplikasi
asam nukleat seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), dan Ligase chain reaction
(LCR).
d. Serologi : karena terdapat massa antigen klamidia yang relattif banyak dalam infeksi
saluran genital, maka timbul antibody serum yang lebih banyak daripada trakoma
dengan titer yang lebih tinggi pula. Suatu kenaikan titer terjadi selama dan setelah
infeksi klamidia akut. Akibat prevalensi infeksi klamidia saluran genital yang tinggi
pada beberapa kelompok masyarakat, ditemukan riwayat antibody antiklamidia yang
tinggi pula. Tes serologi untuk mendiagnosis infeksi klamidia saluran genital
umumnya tidak berguna. Pada cairan genital (genital), antibody dapat ditemukan pada
masa infeksi aktif dan ditujukan terhadap imunotipe bakteri penyebab (serovoar).

7. Penatalaksanaan1
Untuk pengobatan, obat yang diberikan terutama yang dapat mempengaruhi sintesis
protein CT, misalnya golongan tetrasiklin dan eritromisin. Obat yang dianjurkan adalah
doksisiklin 100 mg per oral, 2 kali sehari selama 7 hari atau azitromisin 1 g per oral dosis
tunggal, atau tertrasiklin 500 mg per oral 4 kali per hari selama 7 hari, atau eritromisin
500 mg per oral 4 kali selama 7 hari, atau ofloksasin 200 mg 2 kali sehari selama 9 hari.
Untuk kehamilan obat golongan kuinolon dan tetrasiklin tidak dianjurkan
pemakainannya.

8. Pencegahan2
Infeksi klamidia pada genital adalah penyakit-penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seksual dan disebarkan lewat hubungan seksual dengan banyak orang. Oleh
karena itu, dibutuhkan edukasi untuk penggunaan kondom, dan diagnosis dini serta
pengobatan bagi orang yang terinfeksi untuk mencegah penyebarannya.

9. Komplikasi1
Komplikasi jangka panjang yang sering adalah kehamilan ektopik dan infertilitas
akibat obstruksi. Komplikasi lain dapat pula terjadi seperti artritis reaktif dan perihepatitis
(sindroma Fitz-Hugh-Curtis).

Referensi :

1. Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan, Edisi 4. Jakarta:


Yayasan Bina Pustaka. Hal. 925, 926
2. Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikrobiologi Kedokteran. 2008. Edisi 23.
EGC:Jakarta. Hal 340, 344, 345