Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PJBL

(TYPHOID)

OLEH Kelompok 12:


1) Sri Wahyu Handayani 201210420311152

2) Susanti 201210420311153

3) Achmad Mudhofir 201210420311154

4) Mega Sari 201210420311155

5) Machriena Fitriani 201210420311156

6) Destya Aryani F.F 201210420311157

7) Alfani Muteara 201210420311159

8) Mohamad Rohkim S 201210420311160

9) Dyan Faqih Pradana 201210420311161

10) Fahrizal Muharram 201210420311162

11) Resti Anggraini 201210420311163

12) Irma Wijayanti 201110420311174

Fakultas Ilmu Kesehatan

Program Studi Ilmu Keperawatan

Universitas Muhammadiyah Malang

Daftar Isi
BAB I

KONSEP TEORI

A. Definisi
Menurut Ali (2013), typoid adalah penyakit yang berasal dari bakteri
Salmonella.
Sedangkan penyakit tipes menurut Tikha (2012) merupakan penyakit yang
disebabkan oleh bakteri salmonella enteric, khususnya turunan dari Salmonella
Typhosa. Bakteri ini masuk kedalam mulut karena tertelan lewat makanan atau
minuman tercemar. Bakteri ini kemudian bersarang di usus halus, lalu menggerogoti
dinding usus, jika kondisi ini dibiarkan, usus bisa luka dan sewaktu-waktu tukak
tipus bisa rusak dan usus jadi berlubang.
Tipes atau thypus adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang
pada aliran darah yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau Salmonella
paratyphi A, B dan C, selain ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan
makanan) dan septikemia (tidak menyerang usus).
Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan, setelah berkembang biak
kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa, masuk ke dalam pembuluh
darah dalam waktu 24-72 jam. Kemudian dapat terjadi pembiakan di sistem
retikuloendothelial dan menyebar kembali ke pembuluh darah yang kemudian
menimbulkan berbagai gejala klinis.
Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus, tetapi
dalam dunia kedokteran disebut TYPHOID FEVER atau Thypus abdominalis,
karena berhubungan dengan usus pada perut.

B. Etiologi
Penyebab dari demam typhoid yaitu dilatarbelakangi oleh bakteri salmonella.
Utami (2010) mengatakan demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi (S.
typhi), basil gram negatif, berflagel, dan tidak berspora. S.typhi memiliki 3 macam
antigen yaitu antigen O (somatik berupa kompleks polisakarida), antigen H (flagel),
dan antigen Vi. Dalam serum penderita demam tifoid akan terbentuk antibodi
terhadap ketiga macam antigen tersebut.
C. Manifestasi Klinis
Terdapat beberapa manifestasi klinis pada penferita typoid. Berikut merupakan
ulasan tentang manifestasi klinis penderita typoid menurut Sulistyawati (2013).

1. Lebih dari seminggu terjadi demam. Biasanya terlihat segar pada siang hari
namun menjelang petang atau malam akan terjadi demam.

2. Lidah kotor. Pada bagian pinggirnya berwarna merah dan bagian tengahnya
berwarna putih. Lidah biasanya akan terasa pahit dan cenderung akan lebih
senang makan yang pedas atau asam.

3. Mual yang terasa berat sampai muntah. Di dalam hati dan limpa bakteri
salmonella typhi akan berkembangbiak yang akan mengakibatkan rasa mual
karena terjadi pembengkakan dan akhirnya akan menekan lambung. Akibat dari
mual yang berlebihan sehingga menyebabkan makanan yang masuk tidak akan
sempurna bisa masuk dan biasanya akan keluar lagi lewat mulut.
4. Mencret atau Diare. Diare terjadi karena gangguan penyerapan cairan yang
disebabkan sifat bakteri yang menyerang saluran cerna.

5. Pusing, lemas dan sakit perut. Lemas dan pusing disebabkan demam yang
tinggi. Sakit perut sendiri disebabkan adanya pembengkakan hati dan limpa.

6. Tak sadarkan diri atau pingsan. Dengan berbaring tanpa banyak pergerakan
biasanya penderita akan lebih merasa nyaman, tetapi akan terjadi gangguan
kesadaran apabila mengalami kondisi yang parah.

D. Pemeriksaan Penunjang
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang pada klien yang menderita demam
tifoid. Valiandra (2012) menyatakan bahwa pemeriksaan penunjang ada 4, yaitu :
1. Hematologi
Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit
normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan
hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri, mungkin didapatkan
aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase lanjut. Jumlah trombosit
normal atau menurun (trombositopenia). Penelitian oleh beberapa ilmuwan
mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah
tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi
untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan,
akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat
diagnosis demam tifoid.
2. Urinalisa
Protein : bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam). Leukosit dan
eritrosit normal; bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit.
3. KimiaKlinik
Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan
sampai hepatitis Akut.
4. Imunologi
a) Widal Slide
Diagnosis Demam Tifoid / Paratifoid dinyatakan bila a/titer O = 1/160,
bahkan mungkin sekali nilai batas tersebut harus lebih tinggi mengingat
penyakit demam tifoid ini endemis di Indonesia. Titer O meningkat setelah
akhir minggu.
b) ELISA Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM
Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang
dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi
Demam Tifoid atau Paratifoid. Sebagai tes cepat (Rapid Test) hasilnya juga
dapat segera di ketahui. Diagnosis Demam Typhoid/ Paratyphoid dinyatakan :
bila lgM positif menandakan infeksi akut dan jika lgG positif menandakan
pernah kontak/ pernah terinfeksi/ reinfeksi/ daerah endemik.
c) Tes Tubex
Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang
sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel
yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan
dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang ditemukan
pada Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat untuk diagnosis infeksi
akut karena hanya mendeteksi antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi
IgG dalam waktu beberapa menit.
Tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih baik daripada uji
Widal. Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100%
dan spesifisitas 100%. Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78%
dan spesifisitas sebesar 89%. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan ideal, dapat
digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan
sederhana, terutama di negara berkembang.
d) Mikrobiologi Gall Culture
Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam
Typhoid/ paratyphoid. Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis
pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid. Sebalikanya jika hasil negati, belum
tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid, karena hasil biakan negatif palsu dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit
kurang dari 2mL, darah tidak segera dimasukan ke dalam media Gall (darah
dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam
bekuan), saat pengambilan darah masih dalam minggu 1 sakit, sudah
mendapatkan terapi antibiotika, dan sudah mendapat vaksinasi.
Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu
waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2-7hari, bila belum
ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari). Pilihan bahan spesimen
yang digunakan pada awal sakit adalah darah, kemudian untuk stadium lanjut/
carrier digunakan urin dan tinja.
e) Biologi molekular
PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak
dipergunakan. Pada cara ini di lakukan perbanyakan DNA kuman yang
kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. Kelebihan uji ini
dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensitifitas
tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. Spesimen yang digunakan
dapat berupa darah, urin, cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi.
E. Penatalaksanaan
Dalam berbagai kasus penyakit, pasti terdapat penatalaksanaannya masing-
masing. Berikut adalah penatalaksanaan anak dengan demam tifoid menurut Sodikin
(2011: 241-242).
1. Obati dengan kloramfenikol (50-100 mg/kg/bb dibagi dalam 4 dosis per oral
atau intravena) selama 10-14 hari, tetapi untuk bayi muda perlu di
pertimbangkan secara spesifik
2. Apabila tidak diberikan kloramfenikol, dipakai amoksisisilin 100mg/kgbb/hari
per oral atau ampisilin intravena selama 10 hari, atau kotrimoksazol
48mg/kgbb/hari (dibagi 2 dosis) per oral selama 10 hari
3. Apabila kondisi klinis tidak ada perbaikan, gunakan generasi ketiga sefalosporin
seperti sefriakson (80mg/kgbb IM atu IV, sekali sehari, selama 5-7hari) atau
seiksim oral (20mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari).
4. Perawatan penunjang dilakukan bila anak demam ( 39C) berikan parasetamol
dan lakukan pemantauan terhadap tanda komplikasi.
BAB II
PATOFISIOLOGI dan PATHWAY

A. Patofisiologi

Dari ulasan konsep teori dapat di kumpulkan dalam sebuah bentuk patofisiologi.
Dan berikut merupakan patofisiologi berdasarkan pernyataan Indarto (2009).

Kuman Salmonella masuk bersama makanan/minuman. Setelah berada dalam


usus halus kemudian mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (teutama
Plak Peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan
nekrose setempat, kuman lewat pembuluh limfe masuk ke aliran darah (terjadi
bakteremi primer) menuju ke organ-organ terutama hati dan limfa. Kuman yang tidak
difagosit akan berkembang biak dalam hati dan limfa sehingga organ tersebut
membesar disertai nyeri pada perabaan.

Pada akhir masa inkubasi (5-9 hari) kuman kembali masuk dalam darah
(bakteremi sekunder) dan menyebar keseluruh tubuh terutama kedalam kelenjar
limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong di atas Plak Peyer. Tukak
tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Pada masa bakteremi
ini, kuman mengeluarkan endotoksin yang mempunyai peran membantu proses
peradangan lokal dimana kuman ini berkembang.

Demam tifoid disebabkan karena Salmonella Typhosa dan endotoksinnya


merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang
meradang. Zat pirogen ini akan beredar dalam darah dan mempengaruhi pusat
termoregulator di hipotalamus yang menimbulkan gejala demam.
B. PATHWAY
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

No. Diagnosa keperawatan Noc Nic


1. Hipertermi Thermoregulation Fever treatment
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor suhu
proses inflamasi. keperawatan selama 1x24 sesering mungkin
Ditandai dengan : jam pasien bertoleransi 2) Monitor warna dan
a. Data Subyektif terhadap aktivitas dengan suhu kulit
- Pasien mengeluh kriteria hasil : 3) Monitor tekanan
pusing 1) Suhu tubuh dalam darah, nadi dan RR
- Pasien mengeluh rentang normal 4) Berikan
demam 2) Nadi dan RR dalam pengobatan untuk
- Pasien mengeluh rentang normal mengatasi penyebab
lemas 3) Tidak ada demam
b. Data Obyektif perubahan warna kulit 5) Berikan
- Suhu tubuh dan tidak ada pusing, pengobatan untuk
meningkat merasa nyaman mencegah terjadinya
- Pasien tampak menggigil
gelisah Vital sign Monitoring
- Mukosa mulut 1) Monitor TD, nadi,
kering suhu, dan RR
- Keringat berlebihan 2) Monitor TD, nadi,
- Frekuensi pernafasan RR, sebelum, selama,
meningkat dan setelah aktivitas
- Kejang 3) Monitor suhu,
- Takikardi warna, dan kelembaban
- Kulit teraba panas kulit
Temperature regulation
1) Monitor suhu
minimal tiap 2 jam
2) Monitor TD, nadi,
dan RR
3) Rencanakan
monitoring suhu secara
kontinyu
4) Monitor warna dan
suhu kulit
5) Monitor tanda-
tanda hipertermi dan
hipotermi
2. Perubahan nutrisi Nutrisi pasien terpenuhi - Kaji pola makan pasien
kurang dari dalam jangka waktu .. - Observasi mual dan
kebutuhan tubuh Dengan Kriteria : muntah
berhubungan dengan - Mual berkurang / hilang - Jelaskan pentingnya
intake yang - Tidak muntah nutrisi yang adequate
inadequate - Nafsu makan meningkat untuk kesembuhan
a. Data Subyektif - Pasien menghabiskan - Auskultasi bising usus,
- Pasien mengatakan makan 1 porsi catat adanya penurunan
mual, muntah - Pasien menyebutkan atau hilangnya bising usus
- Pasien mengatakan manfaat nutrisi - Beri posisi semifowler
tidak nafsu makan - Pasien mengungkapkan saat makan
- Pasien mengatakan kesediaan mematuhi diet - Identifikasi factor
nyeri perut - Tidak ada tanda tanda pencetus mual, muntah,
b. Data Obyektif malnutrisi nyeri abdomen
- Bising usus x/mnt - Nilai Hb, protein dalam - Kaji makanan yang
- Mukosa mulut batas normal. disukai dan tidak disukai
kering sesuai diet
- Vomitus - Sajikan makanan dalam
- Konjungtiva dan keadan hangat dan menarik
selaput lendir pucat - Bantu pasien untuk
- Lidah tampak kotor makan, catat masukan
- Diet tidak habis 1 makanan
Porsi - Hindari makanan dan
minuman yang
merangsang
- Lakukan perawatan
mulut sebelum dan
sesudah makan
Kolaborasi
- Penatalaksanaan diet
yang sesuai (dengan ahli
gizi )
- Pemasangan NGT pada
pasien dengan penurunan
kesadaran
- Pemberian nutrisi
parenteral
- Pemberian antiemetik
- Pemberian abtispasmodik
- Pemberian multivitamin,
cara pemberian makanan /
tambahan
3. Nyeri Akut Nyeri hilang / berkurang - Kaji karakteristik nyeri
berhubungan dengan atau terkontrol dalam dan skala nyeri
proses penyakit jangka waktu - Kaji factor yang dapat
(Hepatomegali, Dengan Kriteria : menurunkan/meningkatkan
Splenomegali ) - Pasien mengatakan nyeri nyeri
Ditandai dengan : hilang / berkurang ( skala 0 - Dorong pasien untuk
a. Data Subyektif 3) mengungkapkan rasa
- Pasien mengeluh - Pasien tampak tenang sakitnya
nyeri / sakit pada - Pasien dapat melakukan - Observasi TNSR per shift
bagian perut teknik relaxasi - Perhatikan gejala nyeri
b. Data Obyektif - TTV stabil non verbal, seperti gelisah,
- Pasien tampak - Ekspresi wajah rileks memegang perut, takikardi,
gelsah - Pasien dapat istirahat keringat berlebihan
- Pasien memegang - Hasil laboratorium dalam - Ajarkan dan Bantu pasien
daerah perut batas normal melakukan teknik relaksasi
- Tampak meringis dan distraksi
menahan sakit - Lakukan semua tindakan
- Terdapat nyeri tekan dengan lembut dan
- Pada palpasi teraba yakinkan pasien bahasa
adanya pembesaran perubahan posisi tidak
hati dan limpa menyebabkan injury
- Skala nyeri 0 10 - Berikan posisi yang
- TTV nyaman
- Laboratorium : - Ciptakan lingkungan
Leukopenia, SGOT yang tenang
SGPT meningkat, uji - Beri masase ,
serologis asidal, pemanas/dingin sebagai
biakan kuman terapi
- Berikan kesempatan
pasien untuk istrirahat
- Berikan obat pengurang
rasa sakit sesuai program
dokter, observasi setelah
30 menit pemberian
Kolaborasi :
- Pemberian analgesik
- Pemberian narkotik
sesuai instruksi
- Berikan oksigen sesuai
kebutuhan

4. Gangguan pola Bowel elimination Diarhea Management


defeksi : diare Setelah dilakukan tindakan 1) Ajarkan pasien
berhubungan dengan keperawatan selama 1x24 untuk menggunakan
proses peradangan jam pasien bertoleransi obat antidiare
pada dinding usus terhadap aktivitas dengan 2) Instruksikan
halus kriteria hasil : pasien/keluarga
1) Feses berbentuk, untukmencatat warna,
BAB sehari sekali- tiga jumlah, frekuenai dan
hari konsistensi dari feses
2) Menjaga daerah 3) Evaluasi intake
sekitar rectal dari iritasi makanan yang masuk
3) Tidak mengalami 4) Monitor tanda dan
diare gejala diare
4) Menjelaskan 5) Hubungi dokter
penyebab diare dan jika ada kenanikan
rasional tendakan bising usus
5) Mempertahankan
turgor kulit
5. Intoleransi Aktivitas
6. Risiko kekurangan
volume cairan
berhubungan dengan
asupan yang kurang,
mual, muntah /
pengeluaran yang
berlebihan, diare,dan
panas tubuh
7.

DAFTAR PUSTAKA

Ali. 2013. Obat Tipes yang Ampuh dan Aman, (Online), (http://mahasiswait.students-
blog.undip.ac.id/2013/12/20/obat-tipes-yang-ampuh-dan-aman/, diakses 23
Desember 2013).

Indarto, A. S. 2009. THYPOID, (Online), (http://ppni-klaten.com/index.php?


option=com_content&view=article&id=77:thypoid&catid=38:ppni-ak-
category&Itemid=66, diakses 23 Desember 2013).

Sodikin. 2011. Asuhan keperawatan Anak : Gangguan Sistem Gastrointestinal dan


Hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika.

Sulistyawati, D. 2013. Mengenal Typoid, (Online),


(http://www.kesehatan.kebumenkab.go.id/index.php/artikel/6-mengenal-
typoid-ii?showall=&start=1, diakses 23 Desember 2013).

Utami, T. N. 2010. DEMAM TIFOID. KTI Faculty of Medicine, hlm. 4.

Valiandra, J. I. tanpa tahun. Demam Typhoid dan Diagnosis


Laboratorium, (Online),
(http://www.sumbarsehat.com/2012/03/demam-typhoid-dan-
diagnosis.html, diakses 23 Desember 2013).

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.