Anda di halaman 1dari 6

KAKI DIABETIK

I. DEFINISI
Kaki diabetic adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat
dalam yang berhubungan dengan neuropati dan penyakit vaskuler perifer pada
tungkai bawah. Ulkus diabetic mudah terinfeksi karena respon kekebalan tubuh
penderita diabetes mellitus biasanya menurun. Kaki diabetik merupakan
komplikasi kronik diabetes melitus yang paling ditakuti karena merupakan
penyebab tersering dilakukannya amputasi yang didasari oleh kejadian non
traumatic. Risiko amputasi 15-40 kali lebih sering pada penderita diabetes
mellitus dibandingkan dengan non diabetes mellitus. Komplikasi akibat kaki
diabetic menyebabkan lama rawat penderita menjadi lebih panjang.1,2

II. Patofisiologi kaki diabetic


Terjadinya masalah kaki diawali adanya hiperglikemia pada penyandang
diabetes mellitus yang menyebabkan kelainan neuropati dan kelainan pada
pembuluh darah. 2
- Neuropati diabetic
Penyebab neuropati diaberik belum diketahui secara pasti, diduga berbagai
gangguan metabolisme dan oklusi vasavorum pada saraf memberikan
perubahan degenerasi akson disertai dimielinisasi dan gangguan
remielinisasi.
a. Meningkatnya resiko terjadinya ulkus pada keadaan ini disebabkan
oleh hilangnya sensibilitas yang memberikan perlindungan terhadap
rasa nyeri, tekanan dan suhu.
b. Neuropati motorik menyebabkan atropi dan kelemahan otot-otot
intrinsic (interoseus, lumbrikal) yang menyebabkan deformitas fleksi
sehingga terjadi peningkatan tekanan pada daerah metatarsal dan ujung
jari kaki.
c. Neuropati otonom perifer menyebabkan produksi keringat berkurang,
kulit kering dan mudah pecah. Neuropati ini menyebabkan vasodilatasi
perifer sehingga menyebabkan peningkatan pintasan arteri-arteri yang
menyebabkan perubahan perfusi tulang pada ekstremitas bawah,
terjadi peningkatan resorpsi tulang sehingga mudah terjadi fraktur
neuropati.
d. Gangguan pembuluh darah
Arterosklerosis pada penderita diabetes mellitus akan 2,3 kali lebih
tinggi pada populasi umumnya. Kelainan pembuluh darah jarang
menjadi faktor pencetus ulkus tapi dapat menghambat penyembuhan
luka.2,3

Diabetes
melitus
Neuropati Penyakit vascular
periperal
Neuropati Autonomic
neuropathy
Somatic Masala Limited keringat Aftered
h joint blood
Pain sensation ortope movement flow
Dry skin Engorged
menurun Plantar
fissura vein, warm
Proprioseptive pressure Callus foot

Otot
Ulkus Ischem
pada kaki ic limb

Infeksi

III. Klasifikasi kaki diabetes


Klasifikasi ulkus diabetic menurut wagner, terdiri :
- Wagner 0 : tidak ada luka terbuka, kulit utuh
- Wagner 1 : tukak neuropati/superficial (telapak kaki, dikelilingikalus,
hyperemia)
- Wagner 2 : tukak superficial dorsum dan lateral kaki, tukak neuroiskemik,
meluas ke subkutan, selulitis sekitarnya, gangrene di pinggir dan tanpa
disertai osteomyelitis
- Wagner 3 : tukak dalam (neuroiskemik) sampai ke tumit, osteomyelitis
- Wagner 4 : iskemia, gangrene dua jari dan sebagian kaki depan, hyperemia
dan meliputi semua kematian jaringan
- Wagner 5 : gangrene yang membesar meliputi kematian semua jaringan
kaki2,4
Klasifikasi kaki diabetic menurut Edmonds, terdiri atas :
- Stage 1 : normal foot
- Stage 2 : high risk foot
- Stage 3 : ulcerated foot
- Stage 4 : infected foot
- Stage 5 : necrotic foot
- Stage 6 : unsalvable foot2,5

IV. Diagnosis kaki diabetic


- Tanda dan gejala
Tanda dan gejala kaki diabetic yaitu : sering kesemutan, nyeri kaki saat
istirahat, sensasi rasa sering berkurang, kerusakan jaringan (nekrosis),
penurunan denyut nadi a.dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi
atrofi, dingin, dan kuku menebal, kulit mengering.
- Pemeriksaan fisik
Inspeksi kaki : terdapat luka/ulkus pada kulit atau jaringan tubuh pada
kaki, pemeriksaan sensasi rasa berkurang atau hilang, palpasi denyut nadi
arteri dorsalis pedis menurun atau hilang.
- Pemeriksaan penunjang
x-ray dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah ulkus
diabetic menjadi infeksi dan menentukan kuman penyebabnya.2,6,7

V. Pengelolaan kaki diabetic


Pengelolaan kaki diabetic dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu :
pencegahan terjadinya kaki diabetes dan terjadinya ulkus (pencegahan primer
sebelum terjadinya perlukaan pada kulit) dan pencegahan agar tidak terjadi
kecacatan yang lebih parah (pencegahan sekunder dan pengelolaan
ulukus/gangrene diabetic yang sudah terjadi).2
- Pencegahan primer
Penyuluhan mengenai terjadinya kaki diabetic sangat penting untuk
pencegahan kaki diabetic. Penyuluhan ini harus selalu dilakukan pada setiap
kesempatan pertemuan dengan penyandang diabetes mellitus, dan harus selalu di
ingatkan tanpa bosan. Keadaan kaki diabetes digolongkan berdasarkan resiko
terjadinya masalah (frykberg) :
1. Sensasi normal tanpa deformitas
2. Sensasi normal dengan deformitas atau tekanan plantar tinggi
3. Insentivitas tanpa deformitas
4. Iskemia tanpa deformitas
5. Kombinasi/complicated : kombinasi insentivitas, iskemia dan/atau
deformitas, riwayat adanya tukak, deformitas charcot
Penyuluhan diperlukan untuk semua kategori risiko tersebut : untuk kaki
yang kurang merasa/insensitive (kategori 3 dan 5), alas kaki perlu diperhatikan
benar untuk melindungi kaki yang insensitive tersebut.
Kalau sudah ada deformitas (kategori resiko 2 dan 5), perlu perhatian
khusus mengenai sepatu/alas kaki yang dipakai, untuk meratakan penyebaran
tekanan pada kaki.
Untuk kasus dengan kategori risiko 4 (permasalahan vascular), latihan
kaki perlu diperhatikan benar untuk memperbaiki vaskularisasi kaki. Untuk ulkus
yang complicated bertujuan untuk menyelamatkan kaki.
- Pencegahan sekunder
Untuk pengelolaan ulkus/gangrene diabetic terdiri dari:
a. Kontrol metabolik
Keadaan umum harus diperhatikan dan diperbaiki. Kadar glukosa darah
diusahakan agar selalu senormal mungkin, untuk memperbaiki berbagai faktor
terkait hiperglikemia yang dapat menghambat penyembuhan luka. Umunya
diperlukan insulin untuk menormalisasikan kadar glukosa darah. Status nutrisi
harus diperhatikan dan diperbaiki. Nutrisi yang baik akan membantu
kesembuhan luka. Berbagai hal yang harus diperhatikan seperti kadar albumin
serum, kadar Hb, derajat oksigenasi jaringan, dan fungsi ginjal. Semua faktor
tersebut tentu akan dapat menghambat kesembuhan luka sekiranya tidak
diperhatikan dan tidak diperbaiki.
b. Kontrol vascular
Kelainan pembuluh darah perifer dapat dikenali melalui cara sederhana
seperti : warna dan suhu kulit, perabaan arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis
posterior serta ditambah pengukuran tekanan darah. Fasilitas untuk
mengevaluasi keadaan pembuluh darah dengan cara non-invassif maupun
yang invasive dan semi-invasif seperti pemeriksaan ankle brachial index,
ankle pressure, toe pressure, TcPO2, dan pemeriksaan echodoppler dan
kemudian pemeriksaan arteriografi. Setelah dilakukan diagnosis keadaan
vaskularnya, dapat dilakukan pengelolaan untuk kelainan pembuluh darah
perifer dari vascular, berupa :
- Modifikasi faktor resiko
a. Stop merokok
b. Memperbaiki berbagai faktor resiko terkait aterosklerosis
(hiperglikemia, hipertensi, dan dislipidemia) dan walking program
latihan kaki merupakan usaha yang dapat diisi oleh jajaran rehabilitasi
medic.
- Terapi farmakologis
Untuk mengatasi infeksi pada kaki diabetic digunakan antibiotic namun
penggunaan antibiotic untuk mengobati infeksi diberikan setelah
dilakukan kultur.2,8,9

VI. Manajemen kaki diabetic


- Debridement
Sebagai upaya pembersihan benda asing dan jaringan nekrotik pada luka.
Debridemen bedahmerupakan jenis debridement yang paling cepat dan
efisien. Tujuannya adalah untuk mengevakuasi bakteri kontaminasi,
mengangkat jaringan nekrotik sehingga mempercepat penyembuhan,
menghilangkan jaringan kalus, mengurangi risiko infeksi lokal.
- Mengurangi beban tekanan (off loading)
Pada penderita diabetes mellitus yang mengalami neuropati permukaan
plantar kaki mudah mengalami luka menjadi sulit sembuh akibat tekanan
beban tubuh maupun iritasi kronis sepatu yang digunakan. Metode off
loading yang digunakan adalah mengurangi kecepatan saat berjalan kaki,
istirahat, menggunakan kursi roda, alas kaki, sepatu boot ambulatory.
- Perawatan luka
Perawatan luka menekankan metode moist wound healing atau menjaga
agar luka dalam keadaan lembab. Luka akan menjadi cepat sembuh
apabila eksudat dapat dikontrol, luka dalam keadaan lembab, luka tidak
lengket dengan bahan kompres, terhindar dari infeksi dan permeable
terhadap gas.2,8,9
Daftar pustaka
1. Decroli E, Karimi J, Manaf A, Syahbuddin S. Jurnal Kedokteran
Indonesia : Profil Ulkus Diabetik Pada Penderita Rawat Inap Bagian
Penyakit Dalam RSUP Dr M. Jamil Padang. Padang : 2008. Vol. 58;
No. 1.
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 4. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam. 2006. Hal : 1911-1914
3. Frykberg RG. Diabetic foot ulcer : Pathogenesis and Management. Vol.
6. American Family Physician. De Miones University. Lowa. 2006.
4. Hastuti RT. Faktor-Faktor Resiko Ulkus Diabetik Pada Penderita
Diabetes Melitus [Thesis]. Semarang; Universitas Diponegoro
Semarang. 2008.
5. ADA. Diagnosis and Classification Diabetes Melitus. American
Diabetes Assosiation. Vol. 6. Diakses ; 30 Januari 2015. Sumber ;
care.diabetesjournals.org
6. Misnadiarly. Diabetes Mellitus : Ulcer, Infeksi, Ganggren. Penerbit
Populer Obor. Jakarta, 2006.
7. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Perkeni. Jakarta;
2011. Hal : 6-25
8. Reynold F. The Diabetic Foot. 2007. Diakses : 30 Januari 2015.
Sumber : http:/www.Japmoanline.org/search.dtl.
9. Reskinta E. Referat Kaki Diabetik. Bagian Ilmu Penyakit Dalam
RSUD UNDATA-Fakultas Kedoktera dan Ilmu Kesehatan Universitas
Tadulako Palu. 2014.