Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang mempunyai fungsi utama,

yaitu mempertahankan homeostatis dalam tubuh sehingga terdapat keseimbangan

optimal untuk kelangsungan hidup dan berlangsungnya fungsi sel. Ginjal

mempertahankan homeostasis dengan cara konsentrasi banyaknya konstituen plasma,

terutama elektrolit, air, dan dengan mengestimasi zat-zat yang tidak diperlukan atau

berlebihan di urin (Brunnert and Suddart, 2013).

Chronic Kidney Disease (CKD) atau disebut juga penyakit ginjal kronik

adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan

penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible, yang pada umumnya berakhir

dengan gagal ginjal (Suwitra K, 2010). CKD stadium terminal menyebabkan pasien

harus menjalani terapi pengganti ginjal yaitu hemodialisa (Lubis Aj, 2015)

Meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit ginjal kronik akan

menyebabkan kenaikan jumlah pasien yang menjalani hemodialisis. Pada tahun 2009

di Amerika Serikat sebanyak 570.000 orang menjalani terapi dialysis atau


transplantasi ginjal, sementara di Inggris diperkirakan sekitar 50.000 orang

(Wyld,Morton,Hayen,&Andrew, 2012). Indonesia termasuk Negara dengan tingkat

penderita penyakit ginjal kronik yang cukup tinggi, data dari ASKES tahun 2010

tercatat 17.507 pasien, tahun berikutnya tercatat 23.261 dan data terakhir tahun 2013

Tercatat 24.141 orang pasien(Namawi,2013).

Penyakit ginjal kronik sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan.

Pasien akan mengalami gangguan fisiologis, psikologis dan social ekonomi yang juga

akan berdampak pada keluarga dan masyarakat (Son,Y.J.,Choi,K.S.,Park,Y.R.,B

ae,J.S.,&Lee,J.B,2009). Penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik

dapat dilakukan dengan tindakan dialysis dan transplantasi ginjal

(Schatell&Witten,2012). Hemodialisis (HD) adalah terapi yang paling sering

dilakukan oleh pasien penyakit ginjal kronik diseluruh dunia (Son, et al,2009).

Hemodialisis merupakan suatu proses terapi pengganti ginjal dengan menggunakan

selaput membrane semipermeable yang berfungsi seperti nefron sehingga dapat

mengeluarkan produk sisa metabolism dan mengoreksi gangguan keseimbangan

cairan dan elektrolit pada pasien gagal ginjal (Ignatavicius & Workman, 2009).

Hemodialisis yang dilakukan oleh pasien dapat mempertahankan kelangsungan hidup

sekaligus akan merubah pola hidup pasien. Perubahan ini mencakup diet pasien, tidur

dan istirahat, penggunaan obat-obatan,dan aktivitas sehari-hari (Schatell & Witten,

2012). Pasien yang menjalani hemodialysis juga rentan terhadap masalah emosional
seperti stress yang berkaitan dengan pembatasan diet dan cairan, keterbatasan fisik,

penyakit terkait, dan efek samping obat, serta ketergantungan terhadap dialisisakan

berdampak terhadap menurunnya kualitas hidup pasien (Son,Y.J.,etal, 2009).

Akibatnya pasien dengan CKD akan mengalami stress fisik berupa kecemasan

(Shinta, 2013).

Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang

timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi

sumbernya sebagian besar tidak diketahui secara langsung (Maramis WF, 2010). Rasa

cemas yang dialami pasien bisa timbul karena masa penderitaan yang sangat panjang

(seumur hidup). Selain itu, sering terdapat bayangan tentang berbagai macam pikiran

yang menakutkan terhadap proses penderitaan yang akan terjadi padanya, walaupun

hal yang dibayangkan belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis,

bukan hanya fisik tetapi juga psikologis (Rahmi, 2008).

Proses tindakan invasif merupakan salah satu faktor situasional yang

berhubungan dengan kecemasan. Kondisi ini lebih dominan sehingga kadang

terabaikan apalagi pada pasien penyakit ginjal kronik yang memerlukan tindakan

hemodialisis yang sangat asing bagi masyarakat. Pasien sering mengganggap

hemodialisis merupakan suatu hal yang mengerikan terutama ruangan, peralatan dan

mesin yang serba asing, sehingga pasien sering menolak dan mencari alternatif lain

(Rika D, 2006).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di BLU RSUP Prof. Dr R. D.

Kandou Manado didapatkan data bahwa semua pasien penyakit ginjal kronik (PGK)

yang menjalani proses hemodialisis mengalami kecemasan, umumnya pada kategori

tingkat kecemasan sedang. Pasien PGK yang menjalani proses hemodialisis <6 bulan

memiliki tingkat kecemasan yang signifikan berat dibandingkan dengan yang

menjalani proses hemodialisis >6 bulan (Jhoni, dkk, 2015).

Hasil studi Nazemian menunjukkan bahwa setengah dari pasien hemodialisis

(51,4%) memiliki keadaan cemas dan (49,7%) memiliki kecemasan sifat. Cukor

melaporkan bahwa gangguan kecemasan dari akhir pasien stadium gagal ginjal

adalah dua kali lebih banyak dari rata-rata kecemasan umum sehingga ditekankan

untuk mendiagnosa dan menyembuhkan kecemasan untuk pasien ini Studi

Winkelmayer juga menunjukkan yang mengambil obat anti-kecemasan

(Benzodiazepin) memiliki peningkatan mortalitas di antara pasien hemodialisis oleh

15% (Cukor, 2008).

Oleh karena itu prevalensi kecemasan telah dilaporkan tinggi di antara

pasien hemodialisis namun dengan tingkat berbeda. Klaric melaporkan bahwa pasien

hemodialisis memiliki tingkat kecemasan yang sangat tinggi dibandingkan dengan

pasien penyakit kronis lain terutama biasa orang (Thounzand M, 2007) sehingga

perawat harus dapat memeriksa pasien kecemasan, mencegah dan efek samping.
Beberapa metode pengendalian kecemasan untuk pasien ini yaitu secara

farmakologis dan non-farmakologis. Metode yang umum menggunakan obat kimia

terhadap hemodialisis namun memiliki efek samping dan efek sementara, sehingga

perlu dipertimbangkan menggunakan metode non farmakologi atau pengobatan

alternatif komplementer yang paling kurang sisi efek atau dapat digunakan sendiri

atau bersamaan dengan lainnya metode (Hanifi, et al, 2005). Jika metode ini

digabungkan, kemampuan pengobatan mereka akan meningkat (Khousan, 2014)

perawat juga dapat menggunakannya. Salah satu dari ini intervensi yang telah

digunakan dalam studi yang berbeda pada pasien adalah Benson metode relaksasi

(Sou Yi, 2009) yang merupakan salah satu cara efektif untuk menurunkan kecemasan

pada pasien hemodialisa.

Teknik yang disebut relaksasi Benson ini merupakan suatu prosedur

membantu individu yang mengalami situasi penuh stress dan usaha untuk

menghilangkan stress (Dalimartha, 2008). Relaksasi benson merupakan

pengembangan metode respon relaksasi pernafasan dengan melibatkan faktor

keyakinan pasien yang dapat menciptakan suatu lingkungan internal, sehingga dapat

membantu pasien mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih tinggi

(Purwanto, 2006).
Dari beberapa data dan fenomena diatas membuat kami tertarik untuk

mentelaah dan mempelajari lebih lanjut tentang pengaruh terapi Benson terhadap

penurunan kecemasan pada pasien yang menjalani terapi hemodialisa.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penulisan jurnal The effect of Bensons relaxation method on

hemodialysis patients anxiety?


2. Bagaimana isi dari jurnal The effect of Bensons relaxation method on

hemodialysis patients anxiety?

C.Tujuan

1. Tujuan Umum
Mengetahui pengembangan praktik dan pengetahuan baru terkait tindakan

dalam penurunan kecemasan pada pasien hemodialisa yang harus diketahui

dan dipertimbangkan dalam praktik klinis dunia keperawatan agar

meningkatnya profesionalitas keperawatan.


2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui penulisan jurnal The effect of Bensons relaxation method on

hemodialysis patients anxiety.


b. Mengetahui isi atau konten dari jurnal The effect of Bensons relaxation

method on hemodialysis patients anxiety.

D. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan pembelajaran untuk mengurangi kecemasan pada

pasien hemodialisa yang dapat memperburuk kondisi dan perjalanan penyakit

jika tidak segera ditangani dengan baik.


2. Bagi Perawat
Sebagai pengetahuan terbaru dalam praktik klinik yang dapat

mengupgarde profesionalitas dari perawat dalam memberikan asuhan

keperawatan terutama dalam pemberian terapi non-farmakologis untuk

menurunkan kecemasan pada pasien hemodialisa.


3. Bagi Ruangan
Sebagai bahan pertimbangan dalam menggunakan terapi non

farmakologis sesuai dengan jurnal penelitian terbaru yang direkomendasikan

sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian ini menunjukkan pengaruh

metode relaksasi Benson efektif menurunkan kecemasan pada pasien yang

menjalani hemodialisa. Dan pada pasien yang tidak mendapat terapi ini

kecemasannya tidak berubah sama kali.

B. Saran

1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat membagikan informasi mengenai terapi non

farmakologis yaitu terapi benson yang efektif dapat menurunkan kecemasan

pada pasien yang menjalani hemodialisa.


2. Bagi Perawat
Diharapkan dapat menerapkan rekomendasi-rekomendasi dari jurnal

ini sehingga bisa memberikan asuhan keperawatan yang professional kepada

pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa yang

mengalami kecemasan.
3. Bagi Ruangan
Diharapkan dapat membuat SOP pemberian terapi benson dalam

mengurangi kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani

hemodialisa sehingga asuhan keperawatan professional di rumah sakit dapat

tercapai.