Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sekitar 90 jenis unsur terdapat di alam dan sisanya merupakan unsur
buatan. Sebagian dari unsur terdapat sebagai unsur bebas tetapi lebih banyak yang
berupa senyawa. Unsur-unsur gas mulia (helium, neon, argon, krypton, xenon,
radon) terdapat sebagai unsur bebas. Tidak ditemukan satupun senyawa alami dari
unsur bebas gas mulia. Beberapa unsur logam, yaitu emas,platina, dan tembaga.
Juga ditemukan dalam bentuk bebas, disamping sebagai senyawa. Begitu juga
dengan beberapa unsur non logam yaitu oksigen, nitrogen, belerang, dan karbon.
Berbagai jenis unsur kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam industri. Penggunaan suatu unsur bergantung pada sifat-sifat istimewa dari
unsur tersebut. Kita menggunakan tembaga sebagai kabel listrik, karena tembaga
mempunyai daya hantar yang baik, tahan karat dan tersedia dalam jumlah yang
memadai. Kita menggunakan aluminium untuk badan pesawat terbang karena
ringan dan tahan karat.
Seperti yang telah disebutkan diatas, penggunaan suatu unsur didasarkan
pada sifat-sifat dari unsur tersebut. Kita membedakan sifat-sifat dari unsur atas
sifat fisis, dan sifat kimia. Sifat fisis menyangkut penampilan ( seperti wujud,
kekerasan, warna, bau,dan rasa), serta sifat-sifat yang tidak melibatkan
pengubahan unsur itu menjadi zat lain ( seperti jari-jari atom, titik leleh, titik
didih, dan kalor jenis ). Sifat kimia berkaitan dengan reaksi-reaksi yang dapat
dialami oleh zat itu, seperti kereaktifan, daya oksidasi, daya reduksi, asam dan
basa.
Oleh karena itu percobaan sifat-sifat unsur ini dilakukan agar mengetahui
sifat-sifat unsur dan reaksi yang terjadi pada golongan IA dan IIA.
Dalam pembuatan suatu larutan baik dalam bidang kimia maupun industri
kita tidak akan lepas dari unsur-unsur dan berbagai sifatnya. Sebab bila kita
mengabaikan sifat-sifat dari bahan yang akan kita buat maka produk yang akan
kita hasilkan dapat membahayakan bahkan produk itu tidak akan pernah berhasil
dibuat.
Dalam bidang kimia, unsur dibagi menjadi 3, yaitu golongan IA (Alkali),
golongan IIA (Alkali tanah) dan transisi. Dimana yang dimaksud adalah dengan
logam alkali adalah unsur-unsur golongan IA yang dapat membentuk basa-basa
kuat. Logan alkali tanah adalah unsur-unsur golongan IIA dimana unsur ini dapat
membentuk basa namun lebih lemah daripada basa yang dihasilkan oleh logam
alkali, sedangkan yang dimaksud dengan unsur transisi yaitu unsur-unsur diluar
golongan IA dan IIA yang memperlihatkan sifat logam yang khas.

1.2 Tujuan
- Menjelaskan Kereaktifan Logam K dan Mg ketika bereaksi dengan H2O
- Mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada golongan IA dan IIA
- Mengetahui perbedaan reaktifitas pada golongan IA dan IIA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Energi ionisasi dan afinitas elektron adalah dua sifat fisika yang membantu
dalam memahami jenis reaksi yang dialami oleh unsur-unsur dan sifat unsur-unsur
senyawa. Telah kita ketahui bahwa unsur-unsur dalam golongan yang sama
mempunyai sifat kimia yang mirip satu sama lainnya karena mempunyai
konfigurasi elektron terluar yang mirip. Kecenderungan lain kelakuan kimia
unsur-unsur utama adalah hubungan diagonal kemiripan kelakuan antara sepasang
unsur dalam golongan dan periode yang berbeda dalam tabel periodik
(Respati,1986).
Di dalam membandingkan unsur-unsur dalam golongan yang sama, kita
harus melakukan perbandingan yang benar, yaitu harus dipilih unsur-unsur yang
jenisnya sama. Untuk itu kita akan membandingkan unsur-unsur golongan IA dan
golongan IIA karena unsur-unsur dalam kedua golongan tersebut adalah logam
(Respati,1986).
Unsur-unsur golongan IA mempunyai energi ionisasi yang rendah dan
mempunyai kecenderungan yang kuat melepaskan elektron valensi tunggalnya.
Logam-logam ini cukup relatif sehingga jarang ditemukan di alam dalam keadaan
bebas. Unsur-unsur ini bereaksi dengan air menghasilkan gas hidrogen dan logam
hidroksida.
Unsur golongan IIA juga adalah logam reaktif tetapi kurang reaktif jika
dibandingkan dengan logam alkali. Energi ionisasi pertama dan kedua logam-
logam ini menurun dari berilium ke barium jadi kecenderungannya adalah
2+
membentuk ion Mg dan didalam golongan karakter ini meningkat dari atas

ke bawah. Kebanyakan senyawa berilium di alam adalah senyawa molekul


dibanding senyawa ionik.
Reaktifitas logam alkali tanah terhadap air sangat berbeda-beda. Berilium
tidak bereaksi dengan air, magnesium bereaksi lambat dengan air mendidih.
Kalsium, stransium, dan barium cukup reaktif terhadap air dingin. Sifat-sifat
kimia kalsium dan stransium memberikan suatu contoh yang menarik dalam
sistem periodik (Respati, 1986).
Dalam sistem periodik unsur-unsur alkali terletak pada golongan IA
(kecuali H) dengan elektron valensi 1ns. Adapun untuk unsur alkali tersebut
adalah litium, natrium, kalium, rubidium, senium, fransium. Dengan hanya
memiliki satu elektron dikulit terluar dapatlah diramalkan bahwa atom logam
alkali mudah sekali melepaskan satu elektron agar memiliki elektron stabil seperti
gas mulia. Kenyataannya logam alkali merupakan logam yang paling reaktif,
diantara semua golongan logam. Di alam unsur alkali tidak ditemukan dalam
keadaan bebas melainkan dalam keadaan terikat dalam bentuk senyawa.
Unsur yang banyak ditemui di alam adalah Na dan K, kedua unsur ini
banyak ditemukan dalam air tanah dalam bentuk garam tanah yang terdapat pada
silvit (KCl), karnalit (KCl.MgCl.6 H2O). karena sangat reaktifnya unsur alkali
dengan air maka gas hidrogen yang dibebaskan akan segera terbakar dan menyala
disertai dengan nyala api dan timbul ledakan kecil, larutan yang terbentuk akan
bersifat basa dengan berubahnya larutan menjadi merah saat ditetesi dengan
indikator PP (Fessuda, 1989).
Nama alkali berasal dari bahasa arab yang berarti abu, sebab para ilmuwan
muslim pada abad pertengahan mendapat garam-garan alkali dari abu tumbuhan
laut yang dibakar. Air abu bersifat basa karena logam-logam golongan IA
membentuk basa-basa kuat, maka disebut logam alkali. Golongan IA disebut
sebagai pereduksi yang kuat (reduktor kuat). Sifat reduktornya makin ke kiri
makin kuat sifat reduktornya, alkali berkaitan dengan elektron valensi yang hanya
berjumlah 1 serta jari-jari atom yang relatif besar (Keenan, 1993).
Unsur-unsur golongan IA dan IIA memiliki elektron terluar atau elektron
valensi satu atau dua, sehingga bersifat elektropositif, membentuk ion-ion tidak
berwarna, valensinya sama dengan nomor golongannya karena elektron
valensinya sama. Unsur-unsur golongan IA mempunyai sifat-sifat kimia yang
sama demikian pula unsur-unsur pada golongan IIA (Sukardjo, 1985).
Sepanjang periode, energi ionisasi bertambah dibandingkan dengan Li, Be,
mempunyai tambahan 1 elektron dan 1 proton. Kenaikan energi ionisasi disini
disebabkan oleh muatan yang bertambah pada periode kedua patahan dalam grafik

( Be B dan NO ). Hal ini dapat dijelaskan dengan efek sekaten. Energi

ionisasi boron lebih kecil dibanding dengan ionisasi berilium (Respati, 1986).
Semakin besar afinitas elektron suatu unsur maka energi yang dilepaskan
semakin besar, sedangkan unsur-unsur gas yang memiliki afinitas elektron positif
berarti bahwa unsur-unsur tersebut membutuhkan energi untuk membutuhkan ion
negatif. Natrium dan senyawanya sangat penting, logamnya sebagai aliansi

Na,Rb, dipakai untuk membuat tetra alkil, dan banyak kegunaannya. Na 2+

maupun K+ penting secara fisiologis dalam hewan dan tanaman yaitu : sel-sel

dapat membedakan Na 2+ dan K+ mungkin dengan beberapa jenis

mekanisme pengelompokkan selain sifat ionik yang hakiki dari senyawa golongan
IA terdapat beberapa derajat ikatan kovalen Li dan Na dapat diperoleh dengan
elektrolisis garam leburan atau ekatik bertitik leleh rendah seperti CaCl2 + NaCl.
Karena titik lelehnya yang rendah dan mudah dibuat melalui elektrolisis, namun
diperoleh dengan mengolah lelehan klorida dengan uap Na, Li, Mg atau K dapat
tersebar dengan pelelehan pada berbagai padatan pendukung seperti Na2CO3
kleserghur dengan air Na bereaksi hebat dan K menyala dan Rb serta Cs bereaksi
dengan menimbulkan ledakan. Perbedaan yang mendasar terdapat pada ukuran
kation yang ditunjukan.

Oleh reaksi O2 dalam udara atau O2 pada 1 atm. Logam-logam

yang terbakar Li hanya memberikan Li2O dengan sedikit larutan Li2O2. Na

hanya memberikan prioksida Na2O2. Tetapi akan berlanjut dengan adanya O2

dibawah tekanan serta panas, menghasilkan superoksida NaO2 Rb, Cs


membentuk super oksida NO2 kenaikan stabilan periode dan superoksida sesuai
dengan kenaikan ukuran ion-ion. Alkali merupakan contoh yang khas mengenai
kestabilan anion yang lebih besar dengan kation melalui pengaruh energi kisi
(Cotton, 1976).
Menurut jenis subkulit yang berisi unsur-unsur dapat dibagi menjadi
beberapa golongan unsur utama, yaitu gas mulia, unsur transisi ( atau logam
transisi ) lantanida dan aktinida. Pada sistem periodik unsur-unsur utama adalah
unsur-unsur dalam golongan IA hingga VIIA, yang semuanya memiliki subkulit S
dan P dengan bilangan kuantum utama berfungsi yang belum terisi penuh. Dengan
pengecualian pada helium, seluruh gas mulia (noble gas) (unsur-unsur golongan
VIIIA) mempunyai subkulit P dengan kulit yang terisi penuh, (konfigurasi
2 s s
elektronnya adalah 1 s unruk helium dan ns , np untuk gas mulia yang

lain, dimana n adalah bilangan kuantum utama untuk kulit terluar). Logam transisi
adalah unsur-unsur dalam golongan IB dan IIB hinggan VIIIB, yang mempunyai
subkulit d yang tak terisi penuh (logam-logam ini kadang-kadang disebut dengan
unsur-unsur transisi blok d). Unsur-unsur golongan IIB adalah Zn, Cd, dan Hg,
yang bukan merupakan unsur utama maupun unsur transisi, lantanida dan antinida
kadang kala disebut unsur transisi blok-f karena kedua golongan ini memiliki
subkulit f yang tidak berisi penuh (Respati, 1986).
Pada sistem periodik dapat dilihat bahwa unsur-unsur golongan IA adalah
logam alkali memiliki konfigurasi elektron terluar yang mirip, masing-masing
memiliki inti gas mulia dan konfigurasi elektron. Jumlah elektron valensi yang
sama.
Logam alkali bersifat lunak seperti karet penghapus sehingga dapat diiris
dengan pisau. Hal itu terjadi karena unsur alkali hanya mempunyai satu elektron
valensi yang terlibat dalam pembentukan unsur ikatan logam sehingga logam ini
mempunyai ikatan logam yang lemah. Dalam satu golongan Li ke Cs jari-jari
atom makin besar. Ikatan logam makin kecil (sehingga makin) lunak. Itulah
sebabnya jari-jari atom alkali makin besar (dari atas ke bawah) sehingga titik leleh
dan titik didihnya makin kecil (Sukardjo, 1985).
Sebagai satu golongan gas mulia berperilaku sangat mirip. Dengan
pengecualian kripton dan xenon. Unsur-unsur ini secara kimia bersifat inert.

Alasannya adalah bahwa seluruh unsur ini subkulit terluarnya ns 2 np6 terisi

penuh yaitu suatu keadaan yang menggambarkan kestabilan yang tinggi walaupun
konfigurasi elektron terluar logam transisi tidak selalu sama dalam golongan dan
tidak ada pula yang teratur dalam perubahan konfigurasi elektron dalam satu
logam ke logam lainnya dalam periode yang sama, seluruh logam transisi
memiliki subkulit d yang tidak terisi penuh. Demikian pula dalam deretnya,
karena mempunyai subkulit l yang tidak terisi penuh (Cotton, 1976).
Konfigurasi elektron kation dan anion, karena banyak senyawa ionik yang
terbentuk dari anion dan kation monoatomik, akan sangat membantu untuk
mengetahui bagaimana menulis konfigurasi elektron spesi-spesi ion ini. Prosedur
untuk menulis konfigurasi elektron ion-ion memerlukan metode yang hanya
sedikit diperluas dari metode yang digunakan untuk atom netral.
Sejumlah sifat fisika termasuk kerapatan, titik leleh dan titik didih,
berhubungan dengan atom, namun ukuran atau sukar untuk didefinisikan secara
praktis kita membayangkan ukuran atom sebagai volum yang mengandung sekitar
20% dari seluruh kerapatan elektron disekitar inti.
Beberapa teknik memungkinkan kita memperkirakan ukuran satu atom.
Pertama-tama perhatikan unsur logam struktur logam bervariasi, tetapi semua
logam sama-sama memiliki satu ciri struktur atom-atomnya, berkaitan satu
dengan yang lainnya (Sukardjo, 1985).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Tabung reaksi
- Gelas kimia
- Pinset
- Hot plate
- Gelas ukur
- Pipet tetes
- Spatula
3.1.2 Bahan
- Logam K
- Pita Mg
- Indikator PP
- Larutan BaCl2 0,1 M
- Larutan CaCl2 0,1 M
- Larutan KOH 0,2 M
- Larutan H2SO4 0,1 M
- Aquades
- Tisu
- Kertas Label

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Kelarutan Garam
- Disediakan 2 tabung reaksi
- Dimasukkan masing-masing 10 tetes BaCl2 0,1 M dan CaCl2 0,1 M pada
masing- masing tabung reaksi
- Ditambah 10 tetes KOH 0,2 M pada masing-masing tabung reaksi
- Dikocok dan dibandingkan endapan yang terbentuk

3.2.2 Kelarutan Asam Sulfat


- Disediakan 2 tabung reaksi
- Dimasukkan masing-masing 10 tetes BaCl2 0,1 M dan CaCl2 0,1 M pada
masing- masing tabung reaksi
- Ditambah 10 tetes H2SO4 0,1 M pada masing-masing tabung reaksi
- Dikocok dan dibandingkan endapan yang terbentuk

3.2.3 Kereaktifan Unsur


3.2.3.1 Logam Magnesium
- Dipanaskan aquades
- Ditambah pita magnesium pada aquades panas
- Diambil 1 pipet larutan tersebut kemudian ditambah 5 tetes indikator PP
- Diamati

3.2.3.2 Logam Kalium


- Disiapkan aquades
- Ditambah logam kalium pada aquades
- Diambil 1 pipet larutan tersebut kemudian ditambah 5 tetes indikator PP
- Diamati
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Perlakuan Pengamatan
Kelarutan Garam
- Disediakan 2 tabung reaksi
- Dimasukkan masing-masing 10 tetes BaCl2 - BaCl : sebelum dikocok : bening,
setelah dikocok, tetap bening terbentuk
0,1 M dan CaCl2 0,1 M pada masing-
endapan.
masing tabung reaksi
- CaCl2 : sebelum dikocok bening,
- Ditambah 10 tetes KOH 0,2 M pada masing-
setelah dikocok berwarna keruh,
masing tabung reaksi terbentuk endapan
- Dikocok dan dibandingkan endapan yang
- Lebih banyak endapan CaCl2
terbentuk

Kelarutan Asam Sulfat


- Disediakan 2 tabung reaksi - BaCl : sebelum dikocok : bening,
setelah dikocok, berwarna putih pucat,
- Dimasukkan masing-masing 10 tetes BaCl2
terbentuk endapan.
0,1 M dan CaCl2 0,1 M pada masing-
- CaCl2 : sebelum dikocok bening,
masing tabung reaksi
setelah dikocok tetap bening, tidak ada
- Ditambah 10 tetes H2SO4 0,1 M pada endapan
masing-masing tabung reaksi
- Dikocok dan dibandingkan endapan yang
terbentuk

Kereaktifan Unsur : Logam Magnesium


- Dipanaskan aquades - Terdapat gelembung disekitar pita Mg
- Setelah dimasukkan indikator PP warna
- Ditambah pita magnesium pada aquades
aquades menjadi merah lembayung
panas (basa)
- Diambil 1 pipet larutan tersebut kemudian
ditambah 5 tetes indikator PP
- Diamati

Kereaktifan Unsur : Logam Kalium


- Disiapkan aquades - Kalium langsung bereaksi dan terbakar
- Setelah dimasukkan indikator PP
- Ditambah logam kalium pada aquades
aquades berwarna merah lembayung
- Diambil 1 pipet larutan tersebut kemudian
ditambah 5 tetes indikator PP
- Diamati

4.2 Reaksi

4.2.1 BaCl2 + H2SO4 BaSO4 + 2 HCl

4.2.2 CaCl2 + 2 NaOH Ca(OH)2 + 2 NaCl

4.2.3 Indikator PP + KOH

HO
O H OK O

CO+2
KO
H C+ 2H2O
C COK
O O

4.3 Pembahasan
Pada percobaan kelarutan garam, pada campuran BaCl2 0,1 M dengan
KOH 0,2 M warna campuran tetap bening dan terdapat endapan-endapan
dibawahnya. Dan pada campuran CaCl2 0,1 dengan KOH 0,2 M setelah dikocok
warna larutan menjadi keruh dan terdapat endapan jika dibandingkan maka lebih
banyak endapan CaCl2 daripada BaCl2, hal itu dikarenakan berdasarkan posisi Ca
berada diatas Ba pada golongan yang sama yaitu golongan IA, sehingga barium
lebih bersifat basa dibanding Ca.
Pada percobaan kelarutan asam sulfat, dilakukan dengan cara
menempatkan larutan BaCl 0,1 M dan CaCl 0,1 M pada tabung reaksi yang
berbeda dan ditambahkan masing-masing 10 tetes H2SO4 0,1 M pada tabung
reaksi, lalu kocok masing-masing tabuk reaksi. Pada larutan BaCl2 0,1 M dengan
H2SO4 0,1 M setelah dikocok larutan berwarna putih pukat, dan terbentuk
endapan yang banyak, sementara itu pada larutan CaCl2 0,1 M dengan H2SO4 0,1
M setelah dikocok warna larutan tetap berwarna bening, dan tidak ada terbentuk
endapan. Hal itu terjadi dikarenakan posisi Ba berada dibawah Ca sehingga Ba
lebih bersifat basa dibandingkan dengan Ca.
Selain menggunakan pita megnesium menguji reaktifitas unsur dapat pula
digunakan logam K. hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut. Disiapkan
gelas kimia dan diisi dengan aquadest lalu dimasukkan logam K dengan
menggunakan pinset, lalu diamati ledakan yang terjadi setelah itu ditetesi dengan
menggunakan indikator pp. dapat diperoleh data bahwa dalam percobaan tersebut
terjadi nyala api yang disertai dengan ledakan kecil dan setelah ditetesi dengan
indikator pp larutan aquadest berubah warna menjadi warna ungu.
Dalam sebuah sifat unsur ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhinya, misalnya saja
a. Jari Jari Atom
Bila dalam golongan IA ( logam alkali ) makin banyak ikatan elektron
yang terlibat pada pembentukan ikatan logam. Makin kuat ikatan maka
makin besar jari jari atom. Sedangkan pada golongan IIA ( alkali tanah )
dari berilium ke barium jari jari atom meningkat secara beraturan.
b. Titik Cair dan Titik Didih
Pada golongan IA titik cair dan titik didih cenderung berkurang
sedangkan pada golongan IIA cenderung berkurang dari atas ke bawah.

c. Reaktifitas Unsur
Pada golongan IA reaktifitas unsur bertambah dari atas ke bawah.
Sedangkan pada golongan IIA reaktifitas unsur bertambah dari atas ke bawah
d. Reaksi Dengan Air
Pada golongan IA bereaksi lambat dengan air sedangkan pada golongan
IIA dapat bereaksi dengan air dingin.
e.Sifat Reduktornya
Pada golongan IA bersifat reduktor kuat. Sedangkan pada golongan IIA
bersifat reduktor lemah
Logam alkali tanah merupakan unsur yang reaktif. Unsur-unsur alkali
tanah merupakan pereduksi yang kuat semakin kebawah semakin kebawah sifat
pereduksi semakin kuat. Logam alkali tanah meliputi unsur-unsur Berilium,
Magnesium, Kalsium, Stronsium, Barium dan Radium yang terletak pada
golongan IIA. Sifat fisis logam alkali tanah seperti jarijari atom yang meningkat
secara beraturan dari berilium ke barium. Dimana, pertambahan jari-jari
mengakibatkan penurunan energi pengionan dan keelektronegatifan. Titik cair dan
titik didih cenderung menurun dari atas ke bawah. Sifat fisis lainnya seperti titik
cair, rapatan, kekerasan, logam alkali tanah lebih besar dibanding logam alkali
seperiode. Karena, logam alkali tanah mempunyai dua elektron valensi sehingga
ikatan logamnya lebih kuat. Sedangkan untuk sifat kimianya bermiripan dengan
logam alkali, tetapi logam alkali tanah kurang reaktif dibandingkan logam alkali
seperiode. Hal itu disebabkan jarijari atom logam alkali tanah lebih kecil,
sehingga energi pengionan lebih besar.
Jari-jari atom adalah jarak dari suatu inti atom kekulit terluar. Dengan
penjelasan bahwa dalam L golongan (dari atas kebawah) jari-jari suatu atom akan
bertambah sesuai dengan kenaikan nomor atomnya, sehingga jelaslah jari-jari
atomnya juga akan bertambah besar. Sedangkan dalam 1 periode (dari kiri
kekanan) jumlah kulit akan tetap, akan tetapi muatan inti (nomor atom) dan
jumlah elektron pada kulit bertambah sehingga gaya tarik-menarik antara inti
dengan kulit elekron pun semakin besar. Oleh karena itu jari-jari atomnya akan
semakin kecil.
Kereaktifan adalah satu sifat yang mencerminkan seberapa cepat atau
lambatnya suatu unsur itu dapat bereaksi dengan larutan atau campuran dalam L
golongan meningkat dari bawah keatas. Adapun dalam satu periode meningkat
dari kiri kekanan.
Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan suatu atom untuk
melepaskan suatu elektron valensi membentuk ion positif, dalam satu periode
energi ionisasi meningkat dari kiri kekanan.
Dalam satu periode, titik leleh dan titik didih dari kiri kekanan sampai
golongan IVA, kemudian turun drastis. Titik leleh dan titik didih terendah dimiliki
oleh unsur golongan VIIIA. Dalam satu golongan ternyata ada dua jenis
kecenderungan unsur-unsur golongan IA-IVA titik cair dan titik didih makin
rendah dari atas kebawah, unsur-unsur golongan VA-VIIIA titik cair dan titik
didihnya makin tinggi.
Hubungan dengan golongan semakin kebawah letak suatu unsur dalam 1
golongan, maka semakin besar jari-jarinya.
Hubungan dengan periode Semakin kekanan letak suatu unsur dalam 1
periode, maka semakin kecil jari-jarinya.
Logam K harus disimpan dalam kerosin karena logam K sangat mudah
bereaksi dengan air dan oksigen. Bukan hanya logam K saja yang harus disimpan
didalam kerosin tetapi semua logam alkali harus disimpan didalam kerosin karena
unsur-unsur logam alkali sangat reaktif. Oleh karena itu, unsur-unsur logam alkali
tidak terdapat dalam keadaan bebas dialam, melainkan selalu berbentuk senyawa
dan jangan sekali-sekali memegang logam alkali, karena logam itu dapat bereaksi
dengan air pada tangan yang dapat menimbulkan api atau ledakan.
Pada percobaan kereaktifan Mg yang dimasukkan kedalam air yang sudah
dipanaskan terjadi reaksi timbul gelembung udara disekitar Mg kemudian larutan
tersebut berubah warna menjadi merah lembayung.
Pada perlakuan yang sama, tetapi menggunakan unsur K (Kalium) yang
dimasukkan kedalam air yang sudah panas terjadi reaksi yang ditandai dengan
adanya gelembung-gelembung yang lebih banyak dibandingkan dengan Mg
kemudian terjadi ledakan atau percikan api dan setelah ditambahkan indikator pp
warna larutan tersebut berubah menjadi merah lembayung. Logam alkali lebih
reaktif dari pada logam alkali tanah, sehingga K lebih reaktif dari pada Mg. Saat
K dimasukkan kedalam air langsung bereaksi, yaitu menghasilkan logam K yang
terbakar sehingga pada pita Mg hanya timbul gelembung-gelembung udara saja,
hal itu disebabkan logam K terdapat pada alkali sedangkan Mg pada alkali tanah,
jadi yang cepat bereaksi adalah logam K.
Adapun fungsi reagen dalam percobaan yaitu :
- H2SO4 berfungsi untuk menghantarkan larutan yang termasuk unsur logam dan
diketahui keasamannya
- NaOH berfungsi sebagai penghantar basa untuk logam dalam golongan alkali
tanah, untuk mengetahui kelarutannya dalam garam yang bersifat basa
- Indikator pp adalah senyawa reagen yang berfungsi untuk memeriksa apakah
larutan itu bersifat asam atau basa
- Unsur alkali tanah : BaCl2, CaCl2, Sr(NO3)2, Mg dan K untuk diuji
kereaktifannya.
Adapun faktor kesalahan dalam percobaan ini adalah :
- Kurang teliti dalam memasukkan larutannya kedalam tabung reaksi sehingga
volumenya tidak sesuai dengan prosedur percobaannya
- Berlebihan dalam memasukkan campurannya sehingga hasilnya tidak sesuai
dengan reaksi yang terjadi
- Terlalu sedikit memasukkan logam K dan Mg sehingga dilakukkan percobaan
ulang agar dapat terlihat jelas reaksinya

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
- Golongan IA dan IIA umumnya mudah bereaksi (sangat reaktif) dan
tidak ditemukan di alam dalam keadaan bebas, merupakan reduktor kuat,
garamnya mudah larut dalam air, bersifat basa, jari-jari atom yang besar.
- Pada golongan IA jika bereaksi dengan air akan menghasilkan basa dan
gas hidrogen sama halnya dengan golongan IIA.
- NaCl digunakan sebagai garam, NaOH sebagai sabun, KCl sebagai
pupuk tanaman itu adalah senyawa-senyawa dari golongan IA,
sedangkan logaman senyawa golongan IIA adalah Mg sebagai pencegah
korosi pipa air, berilium karena ringan sebagai kerangka rudal dan badan
pesawat.

5.2 Saran
Ada bilangan unsur yang digunakan tidak hanya dari golongan IA dan IIA,
tetapi juga IIIa hingga VIIIA agar dapat lebih memahami sifat-sifat unsur.
DAFTAR PUSTAKA

Cotton, F.A. 1976. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Erlangga


Fessuda, Albert.C. Geoffrey,W. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Press
Keenan, K. 1993. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
Respati. 1986. Dasar-dasar Ilmu Kimia. Makassar : Lephas Untas
Sukardjo. 1984. Ikatan Kimia Jilid I. Jakarta : Erlangga