Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS


DENGUE HAEMORHAGIC FEVER

1. Tinjauan Teori
1.1 Definisi
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak
dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang
disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan
masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (betina)
(Soeparman , 2009).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan
oleh 4 tipe serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4 gejala klinis utama yaitu
demam yang tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda tanda
kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan (sindrom renjatan dengue) sebagai
akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. (Abdul Rohim,
dkk, 2007)
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty dan beberapa
nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat
menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2008).

1.2 Etiologi
Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue yang terdapat dalam tubuh
nyamuk Aedes aegepty (betina). Virus ini termasuk famili Flaviviridae yang
berukuran kecil sekali yaitu 35-45 mm. Virus ini dapat tetap hidup (survive) di
alam ini melalui 2 mekanisme. Mekanisme pertama, transmisi vertikal dalam tubuh
nyamuk, dimana virus yang ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya yang
nantinya akan menjadi nyamuk. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan
pada nyamuk betina melalui kontak seksual. Mekanisme kedua, transmisi virus dari
nyamuk ke dalam tubuh manusia dan sebaliknya. Nyamuk mendapatkan virus ini
pada saat melakukan gigitan pada manusia yang pada saat itu sedang mengandung
virus dengue pada darahnya (viremia). Virus yang sampai ke lambung nyamuk
akan mengalami replikasi (memecah diri/berkembang biak), kemudian akan
migrasi yang akhirnya akan sampai di kelejar ludah. Virus yang berada di lokasi ini
setiap saat siap untuk dimasukkan ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk
(Darmowandowo, 2005).

1.3 Klasifikasi
1) Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari,
Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
2) Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan
seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
3) Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan
cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg), tekanan darah
menurun, (120/80 120/100 120/110 90/70 80/70 80/0
0/0)
4) Derajat IV
Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung 140x/mnt)
anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

1.4 Tanda dan gejala


Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DBD dengan
masa inkubasi antara 3-15 hari. Penderita biasanya mengalami demam akut atau
suhu meningkat tiba-tiba, sering disertai menggigil, saat demam pasien compos
mentis. Gejala klinis lain yang sangat menonjol adalah terjadinya perdarahan pada
saat demam dan tak jarang pula dijumpai pada saat penderita mulai bebas dari
demam. Perdarahan yang terjadi dapat berupa :
a. Perdarahan pada kulit atau petechie, echimosis, hematom.
b. Perdarahan lain seperti epistaksis, hematemesis, hematuri dan melena.
c. Trombositopenia (100.000 sel/ mm3 atau kurang)
d. Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih
e. Hemetamesis dan atau melena.
f. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi,hipotensi,
kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah
Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas DBD, gambaran
klinis lain yang tidak khas dijumpai pada penderita DBD adalah :
a. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit pada waktu
menelan.
b. Keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi.
c. Keluhan sistem tubuh yang lain : nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot tulang
dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri uluhati, pegal-pegal pada seluruh tubuh,
kemerahan pada kulit, muka, pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan
fotofobia, otot-otot sekitar mata sakit bila disentuh dan pergerakan bola mata
terasa pegal.
d. Pada hari pertama sakit, penderita panas mendadak secara terus-menerus dan
badan terasa lemah atau lesu. Pada hari kedua atau ketiga akan timbul bintik-
bintik perdarahan, lembam atau ruam pada kulit di muka, dada, lengan atau
kaki dan nyeri ulu hati serta kadang-kadang mimisan, berak darah atau muntah.
Antara hari ketiga sampai ketujuh, panas turun secara tiba-tiba. Kemungkinan
yang selanjutnya adalah penderita sembuh atau keadaan memburuk yang
ditandai dengan gelisah, ujung tangan dan kaki dingin dan banyak
mengeluarkan keringat. Bila keadaan berlanjut, akan terjadi renjatan (lemah
lunglai, denyut nadi lemah atau tidak teraba) kadang kesadarannya menurun
(Mubin, 2005).
Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986 (dalam Arif. M, 2001; 429) adalah
a. Demam akut yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis.
Demam disertai gejala tidak spesifik
b. Manifestasi perdarahan.
c. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus
d. Dengan/adanya renjatan
e. Kenaikan nilai hematokrit.

1.5 Patofisilogi
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue hingga saat ini masih
diperdebatkan (Suhendro, 2006). Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang
kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah
dengue dan sindroma syok dengue (dengue shock syndrome). Virus dengue masuk
ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama kali mungkin memberi
gejala demam dengue. Reaksi tubuh merupakan reaksi yang biasa terlihat pada
infeksi virus. Reaksi yang amat berbeda tampak, bila seseorang mendapat infeksi
berulang dengan tipe virus yang berlainan. Berdasarkan hal ini Halstead pada tahun
1973 mengajukan hipotesis yang disebut secondary heterologous infection atau
sequential infection hypothesis. Hipotesis ini telah diakui oleh sebagian besar para
ahli saat ini (Hendarwanto, 1996). Respon imun yang diketahui berperan dalam
patogenesis DBD adalah respon imun humoral. Respon humoral berupa
pembentukan antibodi yang berperan dalam proses netralisasi virus, sitolisis yang
dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap
virus dengue berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau
makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enhancement (ADE). Limfosit
T, baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imun seluler
terhadap virus dengue. Diferensiasi T-helper yaitu TH1 akan memproduksi
interferon gamma, interleukin-2 (IL-2) dan limfokin, sedangkan TH2 memproduksi
IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis
virus. Namun, proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan
sekresi sitokin oleh makrofag. Selain itu, aktivasi oleh kompleks imun
menyebabkan terbentuknya senyawa proaktivator C3a dan C5a, sementara
proaktivator C1q, C3, C4, C5-C8, dan C3 menurun.
Faktor-faktor di atas dapat berinteraksi dengan sel-sel endotel untuk
menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular melalui jalur akhir nitrat oksida.
Sistem pembekuan darah dan fibrinolisis diaktivasi, dan jumlah faktor XII (faktor
Hageman) berkurang. Mekanisme perdarahan pada DBD belum diketahui, tetapi
terdapat hubungan terhadap koagulasi diseminata intravaskular (dissemintated
intravascular coagulation, DIC) ringan, kerusakan hati, dan trombositopenia.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme supresi
sumsum tulang, serta destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit. Gambaran
sumsum tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) menunjukkan keadaan hiposeluler
dan supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir tercapai akan terjadi peningkatan
proses hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar trombopoietin dalam
darah pada saat terjadi trombositopenia justru mengalami kenaikan, hal ini
menunjukkan terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai mekanisme kompensasi
terhadap keadaan trombositopenia. Destruksi trombosit terjadi melalui pengikatan
fragmen C3g, terdapatnya antibodi virus dengue, konsumsi trombosit selama
proses koagulopati dan sekuestrasi di perifer. Gangguan fungsi trombosit terjadi
melalui mekanisme gangguan pelepasan senyawa adenin-di-fosfat (ADP),
peningkatan kadar -tromboglobulin dan faktor prokoagulator IV yang merupakan
penanda degranulasi trombosit.
Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang
menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya
koagulopati konsumtif pada demam berdarah dengue stadium III dan IV. Aktivasi
koagulasi pada demam berdarah dengue terjadi melalui jalur ekstrinsik (tissue
factor pathway). Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi faktor XIa namun
tidak melalui aktivasi kontak (kalikrein C1-inhibitor complex) (Suhendro, 2006).
Kebocoran kapiler menyebabkan cairan, elektrolit, protein kecil, dan, dalam
beberapa kejadian, sel darah merah masuk ke dalam ruang ekstravaskular.
Redistribusi cairan internal ini, bersama dengan defisiensi nutrisi oleh karena
kelaparan, haus, dan muntah, berakibat pada penurunan hemokonsentrasi,
hipovolemia, peningkatan kerja jantung, hipoksia jaringan, asidosis metabolik dan
hiponatremia (Halstead, 2007).
Penelitian tentang patogenesis yang menjelaskan keparahan penyakit
dengue sudah banyak dilakukan. Survei berkala terhadap serotipe DENV memberi
pandangan bahwa beberapa subtipe secara lebih umum dikaitkan dengan keparahan
dengue. Muntaz et al. (2006) dalam penelitiannya menemukan DEN-3
menyebabkan infeksi lebih parah dibandingkan serotipe lainnya. Hal ini dikaitkan
dengan kemampuan virus untuk bereplikasi untuk menghasilkan titer virus yang
lebih tinggi

1.6 Pathway

Arbovirus (melalui Beredar dalam aliran Infeksi virus dengue


nyamuk aedes aegypti) darah (viremia)

Membentuk dan Mengaktifkan system


PGE2 Hipotalamus melepaskan zat C3a, C5a komplemen

Permeabilitas membran
Hipertermi Peningkatan reabsorbsi
meningkat
Na+ dan H2O

Agregasi trombosit Kerusakan endotel Resiko syok hipovolemik


pembuluh darah
Arbovirus (melalui Merangsang dan Rejatan hipovolemik
Ketidakseimbangan dan
nutrisi
nyamukResiko
aedes Syok
aegypti)
Ketidakefektifan Pola Ketidakefektifan
Kekurangan
mengaktifkan Perfusi
Volume
factor kurang hipotensi
dari kebutuhan
Intake inadekuat
Resiko Pendarahan
(hipovolemik)
Nafas Nyeri
JaringanAkut
DICPerifer
Cairan
pembekuan tubuh
Asidosis
Efusi
Paru-paru
pleura
metabolic Penekanan
Hipoksia
Hepatomegali
Perdarahan
Hepar
intraabdomen
jaringan Ke Mual,
Extravaskuler
Ascites
Kebocoranmuntah
plasma
(anorekia)
1.7 Pemeriksaan Penujang
a. Trombositopeni ( 100.000/mm3)
b. Hb dan PCV meningkat ( 20% )
c. Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
d. Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
e. Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam
atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal
hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum/uriene)
f. Rontgen thorax : Efusi pleura.
g. Uji test tourniket (+)

1.8 Penatalaksanaan
Menurut (Mansjoer, 2005) penatalaksanaan demam berdarah dengue
yaitu:
a) DHF tanpa Renjatan
Beri minum banyak ( 1 - 2 Liter / hari )
Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
b) DHF dengan Renjatan
Pasang infus RL
Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20
30 ml/ kg BB )
Tranfusi jika Hb dan Ht turun
Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue Tanpa Penyulit
Menurut (Mansjoer, 2005) terdapat pula penatalaksanaan demam berdarah tanpa
penyulit yaitu :
1) Tirah baring
2) Beri makanan lunak, dan bila belum nafsu makan di beri minum 1.5 2
liter dalam 24 jam dengan air teh, gula atau susu
3) Berikan paracetamol bila demam
4) Monitor TTV (tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan)
5) Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
Indikasi rawat Inap pada dugaan infeksi virus dengue :
a. Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan kurang)
atau kejang-kejang.
b. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet positif /
negatif, kesan sakit keras ( tidak mau bermain ), Hb dan PCV meningkat
c. Panas disertai perdarahan
d. Panas disertai renjatan.
Belum atau tanpa renjatan:
Grade I dan II :
a. Oral ad libitum : Infus cairan Ringer Laktat dengan dosis 75 ml/Kg BB/hari
untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB
< 10 kg bersama-sama diberikan minuman oralit, air buah atau susu
secukupnya.
b. Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum sebnyak-
banyaknya dan sesering mungkin.
c. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus
yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun
waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :
100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg
75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg
60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg
50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg
Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk
anti panas, darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.
Dengan Renjatan :
Grade III
a. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam
b. Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi
teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan
dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan
infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan
dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan
sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan).
Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut :
100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg
75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.
60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.
50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.
c. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan
tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin
maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran
L atau yang lainnya ) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang
maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum
membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi
renjatan.
d. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam
keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi
cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma
atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1
jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.

1.9 Komplikasi
1) Ensefalopati Dengue
Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi syok yang
berkepanjangan dengan pendarahan, tetapi dapat juga terjadi pada DBD
yang tidak disertai syok. Gangguan metabolik seperti hipoksemia,
hiponatremia, atau perdarahan, dapat menjadi penyebab terjadinya
ensefalopati.
2) Kelainan ginjal
Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal, sebagai akibat
dari syok yang tidak teratasi dengan baik. Dapat dijumpai sindrom uremik
hemolitik walaupun jarang.

3) Odem paru
Odem paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai akibat
pemberian cairan yang berlebihan.
4) Dehidrasi
5) Pendarahan
6) Jumlah platelet yang rendah
7) Hipotensi
8) Bradikardi
9) Kerusakan hati

2. Konsep Asuhan Keperawatan ( Teoritis )


2.1 Pengkajian (data fokus)
1. Identitas pasien : Nama, umur, jenis kelamin, pendidkan, pekerjaan, status
perkawinan, alamat, dan lain-lain.
2. Keluhan utama : Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu
hati, mual dan nafsu makan menurun.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang : Riwayat kesehatan menunjukkan adanya
sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan,
lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4. Riwayat Kesehatan Dahulu : Tidak ada penyakit yang diderita secara
specific.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga : Riwayat adanya penyakit DHF pada
anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF
adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides
aigepty.
6. Pengkajian Per Sistem
1) Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis,
pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar
ronchi, krakles.

2) Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta
pada grade IV dapat trjadi DSS
3) Sistem Cardiovaskuler
Pada garde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif,
trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi
cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari,
pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
4) Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada
epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang,
penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat
hematemesis, melena.
5) Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan
mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.
6) Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat
positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi
perdarahan spontan pada kulit.
7. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
a. Persepsi dan Manajemen : Menggambarkan informasi atau riwayat
pasien mengenai status kesehatan dan praktek pencegahan penyakit,
keamanan/proteksi, tumbuh kembang, riwayat sakit yang lalu,
perubahan status kesehatan dalam kurun waktu tertentu. Biasanya
pada pasien DBD mengalami perubahan penatalaksanaan kesehatan
yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya
b. Nutrisi Metabolik : Menggambarkan informasi tentang riwayat
pasien mengenai konsumsi makanan dan cairan, tipe intake makan
dan minum sehari, penggunaan suplemen, vitamin makanan. Masalah
nafsu makan, mual, rasa panas diperut, lapar dan haus berlebihan.
Biasanya pada pasien DBD adanya mual, penurunan nafsu makan
selama sakit, nyeri saat menelan sehingga dapat mempengaruhi status
nutrisi berubah
c. Eliminasi : Menggambarkan informasi tentang riwayat pasien
mengenai pola BAB, BAK frekwensi karakter BAB terakhir,
frekwensi BAK.
d. Aktivitas dan Latihan : Meliputi informasi riwayat pasien tentang pola
latihan, keseimbangan energy, tipe dan keteraturan latihan, aktivitas
yang dilakukan dirumah, atau tempat sakit.
e. Kognitif dan Persepsi : Meliputi informasi riwayat pasien tentang
fungsi sensori, kenyamanan dan nyeri, fungsi kognitif, status
pendengaran, penglihatan, masalah dengan pengecap dan pembau,
sensasi perabaan, baal, kesemutan
f. Istirahat dan Tidur : Meliputi informasi riwayat pasien tentang
frekwensi dan durasi periode istirahat tidur, penggunaan obat tidur,
kondisi lingkungan saat tidur, masalah yang dirasakan saat tidur.
g. Persepsi dan Konsep Diri : meliputi Terjadi perubahan apabila pasien
tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya
h. Peran dan Hubungan : Meliputi riwayat pasien tentang peran dalam
keluarga dan peran social, kepuasan dan ketidakpuasan dengan peran
i. Reproduksi dan Seksual : Meliputi informasi tentang focus pasutri
terhadap kepuasan atau ketidakpuasan dengan seks, orientasi seksual
j. Koping dan Toleransi Stress : Meliputi informasi riwayat pasien
tentang metode untuk mengatasi atau koping terhadap stress
k. Nilai dan Keyakinan : Meliputi informasi riwayat pasien tentang nilai,
tujuan, dan kepercayaan berhubungan dengan pilihan membuat
keputusan kepercayaan spiritual. Timbulnya distres dalam spiritual
pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan
kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.

2.2 Diangosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu
akibat spasme otot-otot pernafasan, nyeri, hipovetinlasi
2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kebocoran
plasma darah
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis (penekanan intra
abdomen)
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler
6. Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan perdarahan yang
berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan
yang menurun
8. Resiko pendarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor
pembekuan darah (trombositopeni)
2.3 Intervensi
Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa
NO Tujuan dan Kriterian Hasil Intervensi Paraf
Keperawatan (NOC) (NIC)
1 Ketidakefektifan pola nafas NOC : NIC :
berhubungan dengan jalan Respiratory status : Ventilation
nafas terganggu akibat Respiratory status : Airway patency Airway Management
spasme otot-otot Vital sign Status
pernafasan, nyeri, Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila
hipovetinlasi perlu
Kriteria Hasil :
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, Pasang mayo bila perlu
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada
pursed lips) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada
Lakukan suction pada mayo
suara nafas abnormal)
3. Tanda Tanda vital dalam rentang normal Berikan bronkodilator bila perlu
(tekanan darah, nadi, pernafasan) Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2

Oxygen Therapy
Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang paten
Atur peralatan oksigenasi
Monitor aliran oksigen
Pertahankan posisi pasien
Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Vital Sign Monitoring
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
2 Hipertermi berhubungan NOC : NIC :
dengan proses infeksi virus Thermoregulation
dengue Fever treatment
Kriteria Hasil : Monitor suhu sesering mungkin
1. Suhu tubuh dalam rentang normal Monitor IWL
2. Nadi dan RR dalam rentang normal Monitor warna dan suhu kulit
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak Monitor tekanan darah, nadi dan RR
ada pusing, merasa nyaman
Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik
Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
Selimuti pasien
Lakukan tapid sponge
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil

Temperature regulation
Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
Monitor TD, nadi, dan RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif dari kedinginan
Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang diperlukan
Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang
diperlukan
Berikan anti piretik jika perlu

Vital sign Monitoring


Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
3 Ketidakefektifan perfusi NOC : NIC :
jaringan perifer Circulation status
berhubungan dengan Intrakranial Pressure (ICP) Monitoring (Monitor tekanan
Tissue Prefusion : cerebral
kebocoran plasma darah
intrakranial)
Kriteria Hasil : Berikan informasi kepada keluarga
1. Mendemonstrasikan status sirkulasi yang Set alarm
ditandai dengan : Monitor tekanan perfusi serebral
Tekanan systole dandiastole dalam Catat respon pasien terhadap stimuli
rentang yang diharapkan Monitor tekanan intrakranial pasien dan respon neurology
Tidak ada ortostatikhipertensi terhadap aktivitas
Tidak ada tanda tanda peningkatan Monitor jumlah drainage cairan serebrospinal
tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 Monitor intake dan output cairan
mmHg) Restrain pasien jika perlu
2. Mendemonstrasikan kemampuan kognitif
Monitor suhu dan angka WBC
yang ditandai dengan:
Kolaborasi pemberian antibiotik
Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai
dengan kemampuan Posisikan pasien pada posisi semifowler
Menunjukkan perhatian, konsentrasi Minimalkan stimuli dari lingkungan
dan orientasi
Memproses informasi Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)
Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap
Membuat keputusan dengan benar
3. Menunjukkan fungsi sensori motori cranial panas/dingin/tajam/tumpul
yang utuh : tingkat kesadaran mambaik, tidak Monitor adanya paretese
ada gerakan gerakan involunter Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi
atau laserasi
Gunakan sarun tangan untuk proteksi
Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
Monitor kemampuan BAB
Kolaborasi pemberian analgetik
Monitor adanya tromboplebitis
Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi
4 Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan agen cidera biologis Pain Level,
(penekanan intra abdomen) Pain Management
Pain control,
Comfort level Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
Kriteria Hasil :
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
nyeri, mampu menggunakan tehnik Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, pengalaman nyeri pasien
mencari bantuan) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
menggunakan manajemen nyeri Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
frekuensi dan tanda nyeri) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri dukungan
berkurang
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
5. Tanda vital dalam rentang normal
suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri
secara teratur
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
5 Kekurangan volume cairan NOC: NIC :
berhubungan dengan Fluid balance
pindahnya cairan Fluid management
Hydration
intravaskuler ke
ekstravaskuler Nutritional Status : Food and Fluid Timbang popok/pembalut jika diperlukan
Intake Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi
Kriteria Hasil : adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
1. Mempertahankan urine output sesuai dengan Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN ,
usia dan BB, BJ urine normal, HT normal Hmt , osmolalitas urin )
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas Monitor vital sign
normal
Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas
harian
turgor kulit baik, membran mukosa lembab,
Kolaborasi pemberian cairan IV
tidak ada rasa haus yang berlebihan
Monitor status nutrisi
Berikan cairan
Berikan diuretik sesuai interuksi
Berikan cairan IV pada suhu ruangan
Dorong masukan oral
Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
6 Resiko syok (hipovolemik) NOC : NIC :
berhubungan dengan Syok Prevention
perdarahan yang berlebihan,
Syok Management Syok Prevention
pindahnya cairan
intravaskuler ke Monitor sirkulasi BP, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung,
ekstravaskuler Kriteria Hasil : HR, dan ritme nadi perifer dan kapiler refil
1) Nadi dalam batas yang diharapkan Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan
2) Irama jantung dalam batas yang diharapkan Monitor suhu dan pernafasan
3) Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan Monitor input dan output
4) Irama pernafasan dalam batas yang
Pantau nilai labor : HB, HT, AGD, dan Electrolit
diharapkan
Monitor hemodinamik infasi yang sesuai
5) Natrium serum dalam batas normal Monitor tanda dan gejala asites
6) Kalium serum dalam batas normal Monitor tanda awal syok
7) Klorida serum dalam batas normal Tempatkan pasien pada posisi supine, kaki elefasi untuk
8) Kalsium dalam batas normal
peningkatan preload dengan tepat
9) Magnesium serum dalam batas normal
Lihat dan pelihara kepatenan jalan nafas
10) PH darah serum dalam batas normal
Berikan cairan IV dan atau oral yang tepat
Hidrasi Berikan vasodilator yang tepat
Indicator : mata cekung tidak ditemukan, demam Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda dan gejalaa
tidak ditemukan, TD dalam batas normal, datangnya syok
hematokrit dalam batas normal Ajarkan keluraga dan pasien tentang langkah untuk mengatasi
gejala syok

Syok Management
Monitor fungsi neurologis
Monitor fungsi renal (e.g BUN dan CR level)
Monitor tekanan nadi
Monitor status cairan, input output
Catat gas darah arteri dan oksigen dijaringan
Monitor EKG sesuai
Memanfaatkan pemantauan jalur arteri untuk meningkatkan
akurasi pembacaan tekana darah sesuai
Menggambar gas darah arteri dan memonitor jaringan
oksigenasi
Memantau faktor penentu pengiriman jaringan oksigen
(misalnya, PaO2 kadar hemoglobin SaO2, CO), jika tersedia
Memantau tingkat karbondioksida sublingual dan atau
tonometri lambung, sesuai
Memonitor gejala gagal pernafasan (misalnya, rendah PaO2
peningkatan PaCo2, kelelahan otot pernafasan)
Monitor nilai laboratorium (misalnya, CBC dengan
diferensial), Koagulasi profil, ABC, tingkat laktat, budaya, dan
profil kimia
Memaksukkan dan memelihara besarnya kobosanan akses IV

7 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :


kurang dari kebutuhan Nutritional Status : food and Fluid
tubuh berhubungan dengan Nutrition Management
Intake
intake nutrisi yang tidak Kaji adanya alergi makanan
adekuat akibat mual dan Nutritional Status : nutrient Intake
Weight control Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
nafsu makan yang menurun
dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Kriteria Hasil : Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
1. Adanya peningkatan berat badan sesuai Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
dengan tujuan Berikan substansi gula
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
3. Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi mencegah konstipasi
4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan
5. Menunjukkan peningkatan fungsi ahli gizi)
pengecapan dari menelan Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
berarti Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan

Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan
cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
8 Resiko pendarahan NOC : NIC :
berhubungan dengan Pendarahan Berhenti
penurunan factor-faktor Pencegahan sirkulasi
pembekuan darah Kriteria Hasil : Pantau vital sign
(trombositopeni) 1) Tanda-tanda perdarahan (-)
Pantau tanda-tanda perdarahan dan laporkan
2) TTV normal ( N = 60-100 x/menit, TD =
110-140/70-90 mmHg, S = 36,5-37,50 c, dan Pantau tanda-tanda perubahan sirkulasi kejaringan perifer
RR = 16-24 x/menit) (CRT dan sianosis)
3) Sianosis (-) Pantau hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah merah,
4) CRT < 2 detik trombosit, PT, PTT, dan nilai BUN
5) Akral hangat Pemberian obat antikoagulan
6) Konjungtiva tidak anemis Siapkan pasien untuk transfusi sesuai indikasi
7) Hb dalam batas normal (12-16 g/dL)
2.4 Implementasi
Pada tahap pelaksanaan merupakan kelanjutan dari rencana keperawatan
yang telah ditetapkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara
optimal, pelaksanaan adalah wujud dari tujuan keperawatan pada tahap
perencanaan.

2.5 Evaluasi

No Diagnosa Keperawatan Evaluasi


1 Ketidakefektifan pola nafas 1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
berhubungan dengan jalan nafas tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum,
terganggu akibat spasme otot-otot mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
pernafasan, nyeri, hipovetinlasi 2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa
tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang
normal, tidak ada suara nafas abnormal)
3. Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi,
pernafasan)
2 Hipertermi berhubungan dengan 1. Suhu tubuh dalam rentang normal
proses infeksi virus dengue 2. Nadi dan RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa
nyaman
3 Ketidakefektifan perfusi jaringan 1. Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :
perifer berhubungan dengan Tekanan systole dandiastole dalam rentang yang
kebocoran plasma darah diharapkan
Tidak ada ortostatikhipertensi
Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial
(tidak lebih dari 15 mmHg)
2. Mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai
dengan:
Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan
kemampuan
Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi
Memproses informasi
Membuat keputusan dengan benar
3. Menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh : tingkat
kesadaran mambaik, tidak ada gerakan gerakan involunter
4 Nyeri akut berhubungan dengan 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
agen cidera biologis (penekanan menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,
intra abdomen) mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang normal
5 Kekurangan volume cairan 1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ
berhubungan dengan pindahnya urine normal, HT normal
cairan intravaskuler ke 2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
ekstravaskuler
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik,
membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
6 Resiko syok (hipovolemik) 1. Nadi dalam batas yang diharapkan
berhubungan dengan perdarahan 2. Irama jantung dalam batas yang diharapkan
yang berlebihan, pindahnya 3. Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan
cairan intravaskuler ke
4. Irama pernafasan dalam batas yang diharapkan
ekstravaskuler
5. Natrium serum dalam batas normal
6. Kalium serum dalam batas normal
7. Klorida serum dalam batas normal
8. Kalsium dalam batas normal
9. Magnesium serum dalam batas normal
10. PH darah serum dalam batas normal
Hidrasi
ndicator : mata cekung tidak ditemukan, demam tidak ditemukan,
TD dalam batas normal, hematokrit dalam batas normal
7 Ketidakseimbangan nutrisi kurang 1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
dari kebutuhan tubuh 2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
berhubungan dengan intake 3. Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi
nutrisi yang tidak adekuat akibat
4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
mual dan nafsu makan yang
menurun 5. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
8 Resiko pendarahan berhubungan 1. Tanda-tanda perdarahan (-)
dengan penurunan factor-faktor 2. TTV normal ( N = 60-100 x/menit, TD = 110-140/70-90
pembekuan darah mmHg, S = 36,5-37,50 c, dan RR = 16-24 x/menit)
(trombositopeni)
3. Sianosis (-)
4. CRT < 2 detik
5. Akral hangat
6. Konjungtiva tidak anemis
7. Hb dalam batas normal (12-16 g/dL)

DAFTAR PUSTAKA

Aplikasi NANDA NIC NOC 2015

Brunner & Suddarth. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Jakarta: EGC

Doengoes, Marlyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 4. Jakarta : ECG


Hadinegoro, Sri Rezeki H. Soegianto, Soegeng. Suroso, Thomas. Waryadi, Suharyono.
2007. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Depkes &
Kesejahteraan Sosial Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan
Lingkungan Hidup.

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis keperawatan :definisi dan klasifikasi 2012-2014.


Jakarta : ECG

Hendrawanto. 2005. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi Ketiga . Jakarta: ECG

Carpenito, Lynda Juan. 2007.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Edisi 10.Jakarta :


EGC.

Mansjoer, Arif, et al, 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius
FKUI : Jakarta

Price Sylvia, A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 .


Edisi 4. Jakarta: EGC

Sir, Patrick Manson, 2008. Dengue Hemorhagic Fever, Edisi IV. Jakarta : Prima Medika

Soeparman, 2009. Penanganan DBD Dan Pencegahannya. Jogjakarta : Papers Media

Smeltzer Suzanne, C. 2010 Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol
3. Jakarta: EGC.