Anda di halaman 1dari 12

A.

Anatomi Fisiologi

Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di dalam
pelvis (panggul), antara rektum di belakang dan kandung kencing di depan.
Uterus pada orang dewasa berbentuk seperti buah advokat atau buah peer yang
sedikit gepeng. Ukuran panjang uerus adalah 7-7,5 cm, lebar ditempat yang
paling lebar 5,25 cm, dan tebal 2,5 cm. Uterus terdiri atas korpus uteri dan
serviks uteri. Bagian atas uterus disebut fundus uteri, di situ tuba Fallopii kanan
dan kiri masuk ke uterus.

Fungsi uterus yaitu untuk menahan ovum yang telah di buahi selama
perkembangan Sebutir ovum, sesudah keluar dari ovarium, diantarkan melalui
tuba uterina ke uterus. (pembuahan ovum secara normal terjadi di dalam tuba
uterina). Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi
itu dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu hamil, yang secara
normal berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus bertambah besar,
dindingnya menjadi tipis, tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis
masuk ke dalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan fetus.
Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi
secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar kemudian kembali ke
ukuran normalnya melalui proses yang dikenal sebagai involusi (Pearce, 2009).

B. Definisi
Prolaps uteri adalah turunnya uterus kedalam introitus vagina yang diakibatkan
oleh kegagalan atau kelemahan dari ligamentum dan jaringan penyokong
(fasia).
Prolaps uteri adalah keadaaan yang terjadi ketika ligamen kardinal yang
mendukung rahim dan vagina tidak kembali normal setelah melahirkan
( Bobak LM; 2002 )
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena
kelemahan otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau
turunnya uterus melalui dasar panggul atau genitalis (Wiknjosastro, 2007).

Prolapsus uteri adalah keadaan yang terjadi akibat otot penyangga uterus
menjadi kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser kebawah dan dapat
menonjol keluar dari vagina. Dalam keadaan normal, uterus disangga oleh otot
panggul dan ligamentum penyangga. Bila otot penyangga tersebut menjadi
lemah atau mengalami cedera akan terjadi prolapsus uteri..

C. Etiologi
Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya prolapsus uteri antara lain :
1. Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan
penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk prolaps
yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan
belum lengkap. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nulipara, faktor
penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang
uterus (Wiknjosastro, 2007).
2. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopouse.
Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap,
laserasi dinding vagina bawah pad kala II, penatalaksanaan pengeluaran
plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada menopouse,
hormon estrogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi
atrofi dan melemah (Wiknjosastro, 2007).

D. Patofisiologi
Penyangga organ panggul merupakan interaksi yang kompleks antara otot-otot dasar
panggul, jaringan ikat dasar panggul, dan dinding vagina. Interaksi tersebut
memberikan dukungan dan mempertahankan fungsi fisiologis organ-organ panggul.
Apabila otot levator ani memiliki kekuatan normal dan vagina memiliki kedalaman
yang adekuat, bagian atas vagina terletak dalam posisi yang hampir horisontal ketika
perempuan dalam posisi berdiri. Posisi tersebut membentuk sebuah flap-valve (tutup
katup) yang merupakan efek dari bagian atas vagina yang menekan levator plate
selama terjadi peningkatan tekanan intra abdomen. Teori tersebut mengatakan bahwa
ketika otot levator ani kehilangan kekuatan, vagina jatuh dari posisi horisontal menjadi
semi vertikal sehingga menyebabkan melebar atau terbukanya hiatus genital dan
menjadi predisposisi prolapsus organ panggul. Dukungan yang tidak adekuat dari otot
levator ani dan fascia organ panggul yang mengalami peregangan menyebabkan
terjadi kegagalan dalam menyangga organ panggul.
Prolaps uteri terjadi ketika dasar pelvis yaitu otot dan ligamentum mengalami
peregangan, terjadi kerusakan, dan kelemahan sehingga mereka tidak sanggup
untuk menyokong organ pelvis, sehingga uterus dan organ pelvis lainnya jatuh
ke introitus vaginae

E. Manifestasi Klinis
Gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadangkala penderita yang
satu dengan prolaps yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,
sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.
Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai
a. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genialia
eksterna.
b. Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita
berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang.
c. Prolaps uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:
- Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu
berjalan dan bekerja
- Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena
infeksi serta luka pada portio uteri.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Anamnesis
Keluhan-keluhan penderita dan pemeriksaan ginekologik umumnya dengan
mudah dapat menegakkan diagnosis prolapsus genitalis. Pasien dengan
prolaps uteri biasanya mengeluhkan adanya benjolan yang keluar dari alat
kelaminnya. Pasien biasanya mengeluhkan:
Rasa berat pada atau rasa tertekan pada pelvis.
Pada saat duduk pasien meraskan ada benjolan seperti ada bola atau
kadang-kadang keluar dari vagina.
Nyeri pada pelvis, abdomen, atau pinggang.
Nyeri pada saat berhubungan

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan genikologi biasanya mudah dilakukan, Friedman dan Little


menganjurkan sebagai berikut; Penderita dalam posisi jongkok disuruh
mengejan dan ditentukan dengan pemeriksaan dengan jari, apakah portio
uteri pada posisi normal atau portio telah sampai introitus vagina, atau
apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina. Selanjutnya dengan penderita
berbaring dalam posisi litotomi, ditentukan pula panjangnya serviks uteri.
Serviks uteri yang lebih panjang dari ukuran normal dinamakan elongasio
kolli

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Tes Papanicolaou (Pap smear sitologi) atau biopsi dapat diindikasikan pada
kasus yang jarang terjadi yang dicurigai karsinoma, meskipun ini harus
ditangguhkan ke dokter perawatan primer atau dokter kandungan.
b. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG bisa digunakan untuk membendakan prolaps dari
kelainan-kelainan lain.

G. Penatalaksaan Medis

Pengobatan ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu. Cara ini
dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, atau penderita masih ingin
mendapat anak lagi, atau penderita menolak untuk dioperasi atau kondisinya
tidak mengizinkan untuk dioperasi (Hanifa, 2007).:

1. Latihan-latihan otot dasar panggul


Latihan ini sangat berguna pada prolaps ringan, terutama yang terjadi pada
pasca persalinan yangbelum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk menguatkan
otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Latihan ini
dilakukan selama beberapa bulan. Caranya adalah, penderita disuruh
menguncupkan anus dan jaringan dasar panggul seperti biasanya setelah
hajat atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang
mengeluarkan air kencing dan tiba-tiba menghentikannya. Latihan ini bisa
menjadi lebih efektif dengan menggunakan perineometer menurut Kegel.
Alat ini terdiri dari obturator yang dimasukkan ke dalam vagina, dan yang
dengan satu pipa dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan demikian,
kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur.
2. Stimulasi otot dengan alat listrik
Kontraksi otot-otot panggul dapat pula ditimbulkan dengan alat listrik,
elektrodanya dapat dipasang dalam pesarium yang dimasukkan ke dalam
vagina.
3. Pengobatan dengan pesarium
Pengobatan dengan pessarium sebenarnya hanya bersifat paliatif, yakni
menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh karena jika pessarium
diangkat, timbul prolaps lagi. Prinsip pemakaian pesarium adalah alat
tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas, sehingga
bagian dari vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati
vagian bagian bawah.

4. Pengobatan operatif
Indikasi untuk melakukan operasi pada prolaps uteri tergantung dari
beberapa faktor, seperti umur penderita, keinginan untuk masih mendapat
anak atau untuk mempertahankan uterus, tingkat prolapsus, dan adanya
keluhan.

H. Pengkajian Keperawatan
a. Data Subyektif
Sebelum Operasi
- Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan.
- Nyeri di daerah benjolan.
- Mual, muntah, kembung.
- Konstipasi.
- Tidak nafsu makan.
Sesudah Operasi
- Nyeri di daerah operasi.
- Lemas.
- Pusing.
- Mual, kembung.
b. Data Obyektif
Sebelum Operasi
- Nyeri bila benjolan tersentuh.
- Pucat, gelisah.
- Spasme otot.
- Demam.
- Dehidrasi.
Sesudah Operasi
- Terdapat luka.
- Puasa.
- Selaput mukosa mulut kering.
I. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operatif
1) Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin
2) Cemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan.
3) Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
inkontenensia urin

b. Intra operatif
1) Resiko cidera berhubungan dengan pengaturan posisi bedah,
prosedur invasiv bedah, anastesi regional
2) Resiko perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan.
3) Resiko infeksi berhubungan dengan prosesur tindakan pembedahan

c. Post operatif
1) Nyeri berhubungan dengan luka operasi
2) Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah
setelah pembedahan.
3) Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi

J. Intervensi Keperawatan
a. Pre Operatif
N Diagnosa Tujuan dan Intervensi Keperawatan
o Keperawatan Kriteria Hasil
1 Nyeri berhubungan a. Nyeri berkurang Tindakan Mandiri:
dengan eliminasi sampaihilang 1. Observasi tanda-tanda
urin secara bertahap. vital. / R : Mengetahui
terganggu b. Pasien dapat tindakan yang harus
beradaptasi dilakukan selnajutnaya
dengan nyerinya, 2. Observasi keluhan
nyeri,lokasi, jenis dan
intensitas nyeri. / R : Agar
implementasi keprawatan
tepat dilakukan.
3. Jelaskan penyebab rasa
sakit, cara
menguranginya. / R :
Menambahkan
pengetahuan kepada klien
4. Beri posisi senyaman
mungkin buat pasien. / R :
Dapat meningkatkan rasa
nyaman dan mengurangi
nyeri
5. Ajarkan tehnik-tehnik
relaksasi, tarik nafas
dalam./ R : Nafas dalam
dapat menurunkan rasa
nyeri
6. Ciptakan lingkungan yang
tenang.
Tindakan kolaboratif:
1. Beri obat-obat analgetik
sesuai pesanan dokter. /
R : Gologan obat
analgetik dapat
mengurangi rasa nyeri.
Cemas a. Cemas 1. Kaji tingkat kecemasan
berhubungan berkurang pasien / R : mengetahui
dengan akan b. Ekspresi wajah tingkat kecemasan dan
dilakukan tindakan tenang tepat cara memberikan
pembedahan. asuhan keperawatan
2. Jelaskan prosedur
persiapan operasi seperti
pengambilan darah,
waktu puasa, jam operasi.
/ R : Mempersiapakan
Keadaan Diri dan mental
klien.
2. Dengarkan keluhan pasien
/ R : Membuat paien lebih
tenang
3. Jelaskan pada pasien
tentang apa yang akan
dilakukan di kamar
operasi dengan terlebih
dahulu dilakukan
pembiusan. / R : Agar
klien mengetahui tindakan
yang dilakukan dikamar
operasi dan mengurangi
kecemasan klien
4. Jelaskan tentang keadaan
pasien setelah dioperasi /
R : Agar Klien lebih
tenang
Resiko tinggi Turgor kulit elastis 1. Observasi tanda-tanda
kekurangan vital tiap 4 jam. / R :
volume cairan 2. Timbang berat badan tiap
berhubungan hari. / R : untuk
dengan mengetahui
inkontenensia urin 3. Kalau perlu pasang infus
clan NGT sesuai program
dokter

b. Intra Operatif

N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Keperawatan


o Keperawatan Hasil
1 Resiko cidera Tidak terjadi cedra 1. Atur posisi pasien sesuai dengan
berhubungan dengan kebutuhan operasi / R :untuk
pengaturan posisi memudahkan operasi
bedah, prosedur 2. Pasang pengaman tangan dan
invasiv bedah, kaki / R: Mengurangi resiko
anastesi regional cedera pada klien
3. Pasang patient plate/ elektroda
dengan benar . / R :
Mengurangi pendarahan
ketika operasi

2 Resiko perdarahan Pendarahan dapat teratasi 1. Siapkan instrument operasi


berhubungan dengan dengan lengkap / R :
tindakan pembedahan Mengurangi resiko terjadinnya
mepdarahan
2. Cek persiapan operasi seperti
persediaan darah / R :
Memastikan agar tidak terjadi
kekurangan darah ketika
pendarahan terjadi
3. Kolaborasi dengan dokter dan
tim medis lain bila terjadi
perdarahan / R : Memudahkan
penanganan pendarahan.
3 Resiko infeksi Infeksi tidak terjadi 1. Cuci tangan bedah dengan
berhubungan dengan baik dan benar
prosesur tindakan 2. Lakukan aseptic dengan benar
pembedahan 3. Jaga kesterilan lapang operasi
dan instrument operasi

c. Post Operatif

N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Keperawatan


o Keperawatan Hasil

Nyeri berhubungan Nyeri 1. Kaji intensitas nyeri pasien.


dengan luka operasi berkurang, 2. Observasi tanda-tanda vital
. secara bertahap dan keluhan pasien.
3. Letakkan klien di tempat
tidur dengan teknik yang
tepat sesuai dengan
pembedahan yang dilakukan.
4. Berikan posisi tidur yang
menyenang kan dan aman.
5. Anjurkan untuk sesegera
mungkin beraktivitas secara
bertahap.
6. Berikan therapi analgetik
sesuai program medis
7. Lakukan tindakan
keperawatan dengan hati-
hati.
8. Ajarkan tehnik relaksasi
Resiko Tinggi Turgor kulit elastis, 1. Observasi tanda-tanda vital
Kekurangan Volume tidak kering. Mual tiap 4 jam.
Cairan berhubungan clan muntah ticlak 2. Monitor pemberian infus.
dengan muntah ada 3. Beri minum & makan secara
setelah pembedahan bertahap
4. Monitor tanda-tanda
dehidrasi.
5. Monitor clan catat cairan
masuk clan keluar.
6. Timbang berat badan tiap
hari.
7. Catat dan informasikan ke
dokter tentang muntahnya

Kerusakan Integritas luka operasi bersih, 1. Observasi keadaan luka


kulit berhubungan kering, tidak ada operasi dari tanda-tanda
dengan luka operasi bengkak. tidak ada peradangan : demam, merah,
perdarahan bengkak dan keluar cairan.
2. Rawat luka dengan teknik
steril.
3. Jaga kebersihan sekitar luka
operasi.
4. Beri makanan yang bergizi
dan dukung pasien untuk
makan.
5. Libatkan keluarga untuk
menjaga kebersihan luka
operasi clan lingkungannya.
6. Kalau perlu ajarkan keluarga
dalam perawatan luka operasi
Daftar Pustaka
- Arif Heru. Prolapsus Uteri. Refrat Ginekologi 2013 KKS Obstetri dan
Ginokologi RSUD Bangkinang Kampar.
- Pearce, E. C. (2009). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.
Jakarta: Gramedia.
- Wiknjosastro, H. (2008). Ilmu Kebidanan. Yogyakarta: Yayasan Bina
Pustaka