Anda di halaman 1dari 8

JURNAL BELAJAR KE 3

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN BIOLOGI

Nama : Muchammad Andi Ali Ridho


NIM/ Of : 160341801398
Hari, : Selasa, 7 Februari 2017
Tanggal
Tema : Prinsip Pendidikan Kesejagatan
(UNESCO) dan literasi sains untuk
semua dalam aplikasinya di
Indonesia.

A. KONSEP YANG SUDAH DIPAHAMI

4 Pilar 5 Pilar 1. Belajar untuk beriman dan


Pendidikan Pendidikan bertaqwa kepada Tuhan yang
Maha Esa
Diadaptasi di 2. Belajar untuk memahami dan
Indonesia menghayati
3. Belajar untuk mampu
melaksanakan dan berbuat
UU No. 20 secara efektif
Tahun 2003 4. Belajar untuk hidup bersama
Sisdiknas Pasal dan berguna bagi orang lain
5. Belajar untuk membangun dan
Belajar sepanjang menemukan jati diri melalui
hayat

UNESC Fundamental
linguistik, bahasa
bukan penghalang

Penduku
ng

Keterbukaan IT Literasi Sains Pendidikan


Abad 21

B. KONSEP YANG BELUM DIPAHAMI DAN UPAYA MENEMUKAN

PEMAHAMAN KONSEP
Beberapa hal yang belum saya pahami terkait 4 pilar
pendidikan UNESCO dapat saya rinci dalam poin-poin sebagai
berikut.
1. Bagaimanakah tipe pendidikan yang mampu merubah kehidupan
menjadi lebih baik dan membawa kerukunan hidup antar bangsa?
2. Bagaimana prinsip pendidikan sepanjang hayat? Apakah konsep ini
berlaku untuk seluruh negara?
3. Apa usaha UNESCO untuk mengurangi language barrier dalam
pelaksanaan pendidikan yang tidak diskriminatif?
Terdapat beberapa konsep yang belum saya pahami pada tema
pembahasan literasi sains. Berikut ini perincian pertanyaannya.
1. Apa saja pokok pembahasan literasi sains di era pendidikan abad ke
21?
2. Usaha apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk
pemerataan literasi sains?
Berikut ini adalah hasil pencarian saya untuk mengetahui jawaban
pertanyaan yang telah diajukan.
UNESCO
1. Tipe pendidikan yang holistik
UNESCO memiliki banyak program di bidang kebudayaan dan
pendidikan. Program tersebut tidak sendirian disusun oleh UNESCO,
tetapi muncul dari ide-ide kreatif dari seluruh dunia. Ide tersebut dipilih
yang terbaik dan paling mungkin diimplementasikan dengan jumlah
dana yang rasional.
Salah satu program UNESCO yang sedang berjalan adalah Globar
Geopark. UNESCO Global Geoparks adalah area geografis terpadu di
mana situs dan lanskap geologi internasional dikelola dengan konsep
perlindungan holistik, pendidikan dan pembangunan berkelanjutan
melalui pendekatan bottom-up. Saat ini, terdapat 120 UNESCO Global
Geoparks yang tersebar di 33 negara. Pada tahun 2004 terbentuk
Global Geopark Network (GGN) yang menjadi suatu jaringan
pertukaran dan kerjasama global terkait warisan geologi. Pada tanggal
17 November 2015, 195 negara anggota UNESCO meratifikasi UNESCO
Global Geoparks pada Sidang Umum UNESCO ke-38 yang menjadi titik
tolak pengakuan pemerintah akan pentingnya pengelolaan situs
geologi dan lanskap secara holistik.
Geopark resmi diterima sebagai program UNESCO sebagai ikon
baru pemanfaatan Geoheritage berbasis pembangunan berkelanjutan
dan pariwisata Indonesia. Georpark merupakan konsep manajemen
pengembangan kawasan yang dapat disinergikan dengan prinsip
prinsip konservasi dan rencana tata ruang wilayah eksisting di kawasan
yang telah terbangun yang berpilar pada aspek konservasi, edukasi,
penumbuhan nilai ekonomi lokal dan regional. Geopark global adalah
kawasan yang memiliki warisan geologi bernilai internasional, dimana
warisan tersebut digunakan sebagai modal pembangunan masyarakat
setempat secara berkelanjutan berbasis konservasi edukasi dan
ekonomi kreatif.
Tujuan Tim Task Force Geopark adalah merubah perilaku/sikap
untuk menciptakan nilai nilai kebersamaan (shared values) dalam
mengelola alam dan budaya secara berkelanjutan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Tujuan tersebut dicapai melalui perlindungan
keragaman-bumi (geodiversity) & konservasi lingkungan, pelestarian
dan promosi warisan bumi kepada khalayak umum, pendidikan dan
riset ilmu geologi, biologi, budaya secara luas, dan penumbuhan &
pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan terutama melalui
geowisata.

2. Pendidikan sepanjang hayat


Pendidikan sepanjang hayat adalah jawaban terhadap kritik-kritik
yang ditujukan pada keberadaan sekolah konvensional. Sistem yang
terdapat di sekolah konvensional tidak mendukung perubahan cepat
yang sedang dialami di dunia. Pendidikan harus bersifat fleksibel agar
mampu menyiapkan manusia yang siap hidup di era baru. Melalui
proses belajar sepanjang hayat inilah manusia mampu meningkatkan
kualitas kehidupan secara terus-menerus, mampu mengikuti
perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan masyarakat
yang diakibatkannya dan budaya untuk menghadapi tantangan masa
depan, serta mau dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang.
Pendidikan sepanjang hayat diperlukan supaya meningkatkan
persamaan distribusi pelayanan pendidikan, memiliki implikasi
ekonomi yang menyenangkan, dan esensial dalam menghadapi
struktur sosial yang berubah terdapat alasan-alasan kejuruan untuk
menetapkannya akan menghantarkan peningkatan kualitas hidup.
Gagasan dasarnya bahwa pendidikan harus dikonsepkan secara formal
sebagai proses yang terus-menerus dalam kehidupan individu, mulai
dari anak-anak sampai dewasa.

3. Memperkecil dampak language barrier


Language barrier/hambatan bahasa, dapat berpotensi menjadi
penghalang seseorang untuk belajar hal yang baru. Contoh mudah
yang bisa saya berikan adalah ketika berkuliah, tidak jarang dosen
merekomendasikan penggunaan buku yang berbahasa asing. Sering
kali terdengar suara hela nafas mahasiswa dikarenakan mahasiswa
tersebut kesulitan memahami bahasa asing.
Kesulitan-kesulitan inilah yang rupanya menjadi sorotan beberapa
pihak, termasuk UNESCO. Jangan sampai proses transfer ilmu menjadi
terhalang hanya dikarenakan akses bahasa. Kasus yang saya
sampaikan diatas hanya sebagian kecil contoh saja, masih banyak
kasus lainnya yang terjadi.
Pada Laporan Dunia UNESCO Tahun 2009, yang diterbitkan dalam
sebuah booklet yang berjudul Berinvestasi dalam Keanekaragaman
Budaya dan Dialog Antarbudaya terdapat bab khusus yang menyoroti
bahasa. Peran sentral bahasa sebagai perantara pengalaman,
intelektual, dan lingkungan budaya, alat untuk berhubungan dengan
kelompok manusia, sistem nilai, aturan sosial, dan rasa memiliki.
Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, namun juga mewakili
bagian dari ekspresi budaya, pembawa identitas, nilai, dan pandangan
dunia.
Rekomendasi UNESCO terhadap bahasa disampaikan dalam dua
poin, 1) untuk melestarikan keanekaragaman bahasa dunia sebagai
prasyarat bagi keanekaragaman budaya, 2) untuk mempromosikan
multilingualisme dan penerjemahan (termasuk pada bidang
administrasi, pendidikan, media, dan dunia maya) untuk mendorong
dialog antar budaya. Bahasa merupakan warisan yang perlu
dipertahankan, sebagai kekayaan budaya manusia itu sendiri.

Literasi Sains
1. Pokok literasi sains
Kenyataan bahwa Indonesia menduduki peringkat bawah pada
studi PISA, telah mencerminkan bagaimana mutu pendidikan yang
telah dilaksanakan dalam dekade ini. Banyak pihak yang khawatir
terhadap rendahnya peringkat yang didapatkan Indonesia.
Kekhawatiran itu berkaitan dengan persiapan memasuki pasar bebas
pada tahun 2020.
Capaian pendidikan merupakan salah satu poin yang
diperhitungkan pada Human Development Index (HDI). Dan HDI akan
secara langsung mempengaruhi berbagai transaksi internasional.
Pendidikan pada konteks ini telah memegang peran sentral untuk
menentukan perekonomian negara.
Literasi IPA ( scientific literacy ) didefinisikan sebagai kapasitas
untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan
dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam
semesta dan membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena
aktivitas manusia. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa
dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami
lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang
dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada
teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Usaha pemerintah dalam pemerataan literasi sains


Pemerintah sudah berupaya dengan membuat kebijakan
pendidikan yang berbasis sains, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat(SALINGTEMAS). Upaya tersebut didukung dengan
peningkatan dana APBN untuk pendidikan. Sampai pada titik ini upaya
pemerintah sudah baik dan patut diapresiasi oleh masyarakat.
Pada tataran peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan,
disini masalah mulai timbul. Struktur geografis dan lansekap Indonesia
menjadikan negara dengan puluhan ribu pulau ini mengalami kendala
di bidang distribusi.
Kendala lainnya dikarenakan tingginya disparitas ekonomi di
Indonesia. Untuk membangun pendidikan di Indonesia tidak mudah,
karena pada saat yang sama harus dapat membangun perekonomian
dan membangun manusia itu sendiri.

C. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

Berikut adalah identifikasi masalah yang terjadi saat diskusi kelas.


Pertanyaan
1. Faktor ekonomi dan sosial (latar belakang pendidikan orangtua)
berpengaruh pada literasi sains anak, bagaimana cara penyelesaian
masalah ini? (Dian)
2. Bagaimana cara membangun pola pikir literasi sains kepada siswa?
(Zulaikhah)
3. Apa pengaruh literasi sains terhadap sikap siswa? (Randa)
Jawaban
1. Memberikan pengertian kepada orangtua agar memotivasi anaknya
dan memberikan kasih sayang. Hal ini bertujuan agar anaknya
termotivasi untuk melanjutkan sekolah. Hal ini juga didukung oleh
pihak sekolah dan pemerintah.
2. Guru menerapkan pembelajaran konstruktivistik dan melakukan
evaluasi. Selain itu pendidik harus menyusun pembelajaran secara
sistematis dan inovatif. Dengan menerapkan pembelajaran yang
mengakomodir literasi sains maka siswa akan berlatih untuk
menerapkan pola pikir literasi sains.
3. Contoh kecilnya adalah meletakkan sampah pada tempatnya. Selain
itu telah dicontohkan oleh Bapak B. J. Habibie yang telah
menerapkan literasi sains. Peran pendidik yang paling krusial adalah
learning to be, memberikan kesempatan kepada siswa agar mampu
menggali pengalaman belajarnya sendiri sehingga pendidikan lebih
bermakna dengan inovasi model pembelajarannya.
D. REFLEKSI DIRI

Pendidikan akan semakin maju apabila memperhatikan hal-hal


yang holistik. Membangun pendidikan berarti membangun manusia
dan segala peradabannya. Refleksi terhadap pendidikan dapat
disampaikan dalam beberapa poin berikut.
1. Grand Design Pendidikan Indonesia tidak mengikuti kultur Indonesia
yang Agraris dan Maritim, hal ini dapat di lihat dari proposi jumlah
sekolah pertanian dan perikanan yang terbatas, tapi justru sekolah
yang mendukung industri manufaktur yg jauh melebihi kapasitas
supply tenaga kerja
2. Kesalahan ini yang mendorong urbanisasi sehingga banyak generasi
muda ke kota karena pusat industri manufaktur cenderung berada
diwilayah perkotaan. akibatnya desa sebagai potensi terbesar
pertanian dan perikanan tidak didukung oleh sumber daya manusia
yang berkualitas.
3. Sistim pembelajaran di kelas yang cenderung tidak membedahan
potensi kecerdasan tiap anak sehingga anak yang berprestasi
adalah anak anak yang memiliki kecerdasan auditori dengan
kemampuan menyimak penjelasan guru sedang mereka yang
kinestesis cenderung terabaikan bahkan tidak tersalurkan
kecerdasannya.
4. Sistem UN juga menjadi momok yang tidak kalah berpengaruhnya
terhadap psikologi anak dalam arti mereka mengalami tingkat stress
yang lebih besar karena hasil kerja selama bersekolah hanya
ditentukan oleh ujian akhir yg beberapa hari saja.
5. Pendidikan karakter yang terlupakan, gerakan pramuka sebagai
pondasi pendidikan karakter bangsa tidak lagi dipandang sebagai
ekstra kulikuler prioritas dan cenderung terbelakang.
6. Kekuatan dari potensi kebangsaan melalui keragaman seni dan
budaya indonesia yang dimiliki tidak terakomodasi secara maksimal
dalam kurikulum nasional (lebih sebagai pelengkap).
Untuk dapat mencapai enam poin yang telah saya sebutkan
diatas maka perlu upaya maksimal dari berbagai pihak. Peran saya
sebagai mahasiswa adalah memajukan pendidikan dengan kegiatan
akademis. Kegiatan tersebut dapat meliputi aksi sukarela mengajar
peserta didik di daerah yang tertinggal, mengadakan pelatihan
terhadap kompetensi Biologi dan pedagogis, dan masih banyak lagi
potensi yang dapat dikembangkan. Semoga kami dapat memberikan
yang terbaik untuk Indonesia.
KRITERIA PENILAIAN JURNAL BELAJAR
MATAKULIAH PROBLEMATIKA PENDIDIKAN BIOLOGI
SEMESTER GENAP 2016-2017

Skor
No. Elemen Penilaian
Maks
Diri Teman Dosen
I. Identitas
1 Nama dicantumkan 5
2 Identitas waktu dan tema perkuliahan 5
3 Konsep yang dipelajari dicantumkan 5
II. Sistematika
4 Jurnal terorganisasi dengan baik dan lengkap 10
III. Isi Jurnal
5 Mengeksplorasi konsep penting yang telah
15
dipahami
6 Mengemukakan secara rinci konsep yang
belum dipahami disertai upaya menemukan 15
pemahaman konsep tersebut

7 Mengidentifikasi permasalahan beserta


pemecahannya 15
(minimal 5 permasalahan)
IV. Refleksi Diri
8 Jurnal menunjukkan bahwa mahasiswa dapat
melihat dirinya sendiri sebagai pembelajar,
menemukan dan menyelesaikan masalah serta 15
bekerja untuk meningkatkan kebiasaan
belajarnya.
9 Mengemukakan upaya yang akan dilakukan
untuk meningkatkan pemahaman dan 10
keterampilan.
V. Lain-Lain
10 Ketepatan pengumpulan jurnal 5

Jumlah Skor Maksimal 100