Anda di halaman 1dari 2

BIDAI DAN BALUT

Oleh : Edi Susmanto


NPM : 2015740067

1. Pengertian
Pemasangan bidai adalah memasang alat untuk immobilisasi (mempertahankan
kedudukan tulang yang patah)

2. Tujuan Pemasangan Bidai


a. Mencegah pergerakkan tulang yang patah (mempertahankan posisi tulang yang
patah)
b. Mencegah bertambahnya perlukaan pada patah tulang.
c. Mengurangi rasa sakit/nyeri.
d. Mengistirahatkan daerah patah tulang (immobilisasi)

Indikasi Pemasangan Bidai: Pada klien patah tulang terbuka/tertutup.

Persyaratan Bidai yang Baik


Terbuat dari bahan yang kaku (papan,triplek)
Cukup panjang untuk immobilisasi persendian diatas dan dibawah fraktur.
Cukup luas untuk kesesuaian anggota tubuh secara nyaman.
Bagian yang menempel tubuh dilapisi dengan kapas dan dibalut dengan
verban.

Macam-macam Bidai
Rigid splint: papan panjang, plastic keras, besi, kayu.
Soft splint: splint udara untuk memperlambat perdarahan, bantal untuk
stabilisasi dislokasi bahu dan mitella untuk fiksasi trauma klavikula, bahu,
lengan atas, siku.
Traction splint (ekstremitas bawah): tujuannya mengurangi spasme pada otot.

3. Persiapan Alat
a. Pelindung diri (masker, sarung tangan)
b. Bidai dengan ukuran sesuai kebutuhan.
c. Kassa steril dan desinfektan.
d. Verban/mitella.

4. Persiapan Pasien
a. Berikan penjelasan tindakan yang dilakukan
b. Petugas harus benar-benar melihat luka.
c. Periksa dan catat sensasi distal dan sirkulasi sebelum dan setelah splinting.
d. Jika ekstremitas menunjukkan angulasi, denyut nadi tidak ada, klien harus
dilakukan traksi yang halus untuk meluruskan angulasi tersebut. Traksi tidak
boleh lebih dari 5 kg.
e. Luka terbuka harus dibalut dengan alat steril sebelum dilakukan splint. Splint
harus selalu dilakukan dari sisi berlawanan dari luka terbuka untuk mencegah
nekrosis.
f. Atur posisi pasien sesuai kebutuhan dan keadaan.
g. Lingkungan bersih dan tenang
h. Petugas lebih dari 1 orang

5. Prosedur Pelaksanaan Splinting


a. Petugas menggunakan masker dan sarung tangan.
b. Petugas 1 mengangkat daerah yang akan dipasang bidai.
c. Petugas 2 meletakkan bidai melewati dua persendian anggota gerak.
d. Jumlah dan ukuran bidai yang dipakai disesuaikan dengan lokasi patah tulang.
e. Petugas 1 mempertahankan posisi, sementara petugas 2 mengikat bidai.
f. Pengikatan tidak boleh terlalu kencang atau kendor.
g. Mengatur posisi klien sesuaikan dengan kondisi luka.
h. Pada fraktur terbuka atau tertutup dengan luka, rawat luka terlebih dahulu dan
tutup luka dengan kassa steril.
i. Mencatat respond an tidakan yang telah dilakukan dalam catatan perawat.

6. Pendokumentasian
a. Respon/keluhan pasien.
b. Observasi tekanan darah, nadi, pernapasan.
c. Pengikatan tidak boleh terlalu kencang/longgar.
d. Observasi vaskularisasi daerah distal.

7. Komplikasi
a. Kompartemen sindrom

8. Daftar pustaka
a. Mancini, Marry E 1994. Prosedur Keperawatan Darurat. Jakarta : EGC
b. Purwadianto, Agus. 2000. Kedaruratan Medik. Jakarta : Binarupa Aksara