Anda di halaman 1dari 96

BU PATI BO GO R

PERATURAN BUPATI BOGOR


NOMOR 35 TAHUN 2014
TENTANG

PERUBAHAN ATAS
PERATURAN BUPATI NOMOR 83 TAHUN 2009
TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG

BUPATI BOGOR,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang,
telah ditetapkan Peraturan Bupati Nomor 83 Tahun
2009 tentang Pedoman Operasional Pemanfaatan
Ruang sebagai pelaksanaan Peraturan Daerah
Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor Tahun
2005-2025;
b. bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan
pembangunan dan investasi dengan pemanfaatan
ruang yang tetap terkendali, Peraturan Bupati
sebagaimana dimaksud dalam huruf a perlu diubah
dan disesuaikan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu membentuk
Peraturan Bupati tentang Perubahan atas Peraturan
Bupati Nomor 83 Tahun 2009 tentang Pedoman
Operasional Pemanfaatan Ruang;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam
Lingkungan Provinsi Djawa Barat (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 8) sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan
Kabupaten Subang dengan mengubah Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi
Djawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1968 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 2851);

2. Undang-Undang
-2-
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3419);
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3478);
5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4126);
6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4412);
7. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
8. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
9. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4377);

10. Undang-Undang ...


-3-
10. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang
Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4411);
11. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);
12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
13. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4444);
14. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
15. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4851);
16. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 93, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4866);
17. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4959);

18. Undang-Undang ...


-4-
18. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4966);
19. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang
Peternakan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5015);
20. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052);
21. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
22. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5068);
23. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5188);
24. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah
Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5252);
25. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk
Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5280);
26. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5492);

27. Peraturan ...


-5-
27. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang
Hutan Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2002 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4242);
28. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
29. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang
Perencanaan Kehutanan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4425);
30. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang
Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 147, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4453)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004
tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 137, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5056);
31. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 83, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4532);
32. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang
Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007
tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4816);

33. Peraturan ...


-6-
33. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4833);
34. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
35. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858);
36. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang
Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4987);
37. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang
Izin Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5285);
38. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2008 tentang
Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur;
39. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22
Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029
(Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2010
Nomor 22 Seri E);
40. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 8 Tahun
2003 tentang Pengelolaan Usaha Peternakan dan
Perikanan (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun
2003 Nomor 132);
41. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 6 Tahun
2004 tentang Penyelenggaraan Reklame (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2004 Nomor 155);
42. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 6 Tahun
2004 tentang Penyelenggaraan Usaha Kehutanan dan
Usaha Perkebunan (Lembaran Daerah Kabupaten
Bogor Tahun 2004 Nomor 156);

43. Peraturan
-7-
43. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 10 Tahun
2005 tentang Rumah Susun (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2005 Nomor 240, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 14);
44. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun
2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi
Kewenangan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 7);
45. Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2008 tentang
Susunan dan Kedudukan Organisasi Perangkat Daerah
(Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008
Nomor 9);
46. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun
2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Bogor Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten
Bogor Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Nomor 36);
47. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 26 Tahun
2008 tentang Perizinan di Bidang Usaha Industri dan
Perdagangan dan Pendaftaran Perusahaan (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 26);
48. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun
2009 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 41);
49. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 4 Tahun
2011 tentang Pembangunan dan Penggunaan Bersama
Menara Telekomunikasi (Lembaran Daerah Kabupaten
Bogor Tahun 2011 Nomor 4);
50. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 6 Tahun
2011 tentang Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2011 Nomor 6,
Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Bogor
Nomor 56);
51. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 17 Tahun
2011 tentang Pengelolaan Air Tanah (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2011 Nomor 17,
Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor
61);
52. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 6 Tahun
2012 tentang Penanaman Modal (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2012 Nomor 6, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 66);

53. Peraturan ...


-8-
53. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun
2012 tentang Prasarana, Sarana dan Utilitas
Perumahan dan Permukiman (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2012 Nomor 7, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 67);
54. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 10 Tahun
2012 tentang Izin Gangguan (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2012 Nomor 10, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 68);
55. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 Tahun
2012 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern
(Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2012
Nomor 11, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten
Bogor Nomor 69);
56. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 3 Tahun
2013 tentang Kepariwisataan (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2013 Nomor 3, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Nomor 72);
57. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 4 Tahun
2013 tentang Irigasi (Lembaran Daerah Kabupaten
Bogor Tahun 2013 Nomor 4, Tambahan Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Nomor 73);
58. Peraturan Bupati Nomor 83 Tahun 2009 tentang
Pedoman Operasional Pemanfaatan Ruang (Berita
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2009 Nomor 83);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PERUBAHAN ATAS


PERATURAN BUPATI NOMOR 83 TAHUN 2009
TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN
RUANG.

Pasal I

Ketentuan dalam Peraturan Bupati Nomor 83 Tahun 2009


tentang Pedoman Operasional Pemanfaatan Ruang (Berita
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2009 Nomor 83), diubah
sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 angka 33 dan angka 34 dihapus,
angka 35, angka 36, angka 40, angka 41, dan angka
42 diubah, serta diantara angka 47 dan angka 48
disisipkan 1 (satu) angka, yaitu angka 47a, sehingga
Pasal 1 berbunyi sebagai berikut :
Pasal 1
-9-
Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Bogor.
2. Bupati adalah Bupati Bogor
3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah
Kabupaten Bogor.
4. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
5. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang
daratan, ruang lautan dan ruang udara,
termasuk ruang dalam bumi sebagai satu
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk
hidup lainnya, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
6. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan
pola ruang.
7. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat
pemukiman dan sistem jaringan prasarana dan
sarana berfungsi sebagai pendukung kegiatan
sosial ekonomi masysarakat yang secara hirarkis
memiliki hubungan fungsional.
8. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang
dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan
ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budidaya.
9. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
10. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses
untuk menentukan struktur ruang dan pola
ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan
rencana tata ruang.
11. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk
mewujudkan struktur ruang dan pola ruang
sesuai dengan rencana tata ruang melalui
penyusunan dan pelaksanaan program beserta
pembiayaannya.

12. Pengendalian
-10-
12. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya
untuk mewujudkan tertib tata ruang sesuai
dengan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan.
13. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan
tata ruang.
14. Rencana Tata ruang Wilayah Kabupaten Bogor
yang selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil
perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten
Bogor.
15. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan
geografis beserta segenap unsur terkait yang
batas dan sisitemnya ditentukan berdasarkan
aspek administrasi dan/atau aspek fungsional.
16. Sistem wilayah adalah struktur ruang dan pola
ruang yang mempunyai jangkauan pelayanan
pada tingkat wilayah.
17. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama
lindung atau budidaya.
18. Kawasan Hutan adalah wilayah yang ditunjuk
dan/atau ditetapkan oleh pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan
tetap.
19. Kawasan Lindung adalah wilayah yang
ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan.
20. Hutan Konvervasi adalah kawasan hutan dengan
ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok
sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman
tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang
juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga
kehidupan.
21. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang
mempunyai fungsi pokok sebagai perlindung
sistem penyangga kehidupan untuk mengatur
tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi,
mencegah industri air laut, memelihara
kesuburan tanah.

22. Hutan
-11-
22. Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang
mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil
hutan.
23. Kawasan resapan air adalah wilayah yang
mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresapkan air hujan sehingga merupakan
tempat pengisian air bumi yang berguna sebagai
sumber air dan sebagai pengontrol tata air
permukaan.
24. Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang
kiri kanan sungai, termasuk sungai
buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang
mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
25. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang
ditetapkan untuk dibudidayakan atas dasar
kondisi dan potensi dan sumber daya alam,
sumber daya mausia, dan sumber daya buatan.
26. Kawasaan Perdesaan adalah wilayah yang
mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk
pengelolaan sumber daya alam dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman
pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
27. Kawasan pertanian lahan basah adalah kawasan
budidaya pertanian yang memiliki sistem
pengairan tetap yang memberikan air secara
terus menerus sepanjang tahun, musiman, atau
bergilir dengan tanaman utama padi.
28. Kawasan Agropolitan adalah kawasan yang
terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada
wilayah pedesaan sebagai sistem produk
pertanian dan pengelolaan sumber daya alam
tertentu yang ditunjukan oleh adanya
keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan
serta satuan sistem permukiman dan sistem
agrobisnis.
29. Kawasan Strategis Kabupaten adalah wilayah
yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam
lingkup daerah terhadap ekonomi, sosial,
budaya dan/atau lingkungan.
30. Kawasan
-12-
30. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang
mempunyai kegiatan utama bukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
31. Kawasan Industri adalah kawasan tempat
pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi
dengan prasana dan sarana penunjang yang
dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan
kawasan industri yang telah memiliki izin usaha
kawasan industri.
32. Kawasan Peruntukan Industri/Zona Industri
adalah bentangan lahan yang diperuntukan bagi
kegiatan industri berdasarkan rencana tata
ruang wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah
Daerah yang bersangkutan.
33. dihapus.
34. dihapus.
35. Industri adalah seluruh bentuk kegiatan
ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau
memanfaatkan sumber daya industri sehingga
menghasilkan barang yang mempunyai nilai
tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa
industri.
36. Kawasan Puncak adalah kawasan yang terdiri
dari Kecamatan Cisarua, Kecamatan
Megamendung dan sebagian Kecamatan Ciawi
yang terdiri dari Desa Banjar Sari, Desa Citapen,
Desa Jambu Luwuk, Desa Cibedug, Desa
Cileungsi, dan Desa Bojong murni.
37. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian
alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola
dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata
dan rekreasi.
38. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya
disebut KDB adalah perbandingan antara luas
dasar bangunan dan luas persil.

39. Ruang
-13-
39. Ruang Terbuka Hijau adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, serta
sebagai tempat tumbuh tanaman, baik yang
tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja
ditanam.
40. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai
bagian dari permukiman, baik perkotaan
maupun perdesaan yang dilengkapi dengan
prasarana, sarana, dan utilitas sebagai hasil
upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
41. Permukiman adalah bagian dari lingkungan
hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan
perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,
utilitas umum, serta mempunyai penunjang
kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau
kawasan perdesaan.
42. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan
wisata dan didukung berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan oleh masyarakat,
pengusaha, dan Pemerintah Daerah.
43. Wisata Agro adalah suatu bentuk kegiatan
pariwisata yang memanfaatkan usaha agro
(agrobisnis) sebagai obyek wisata dengan tujuan
untuk memperluas pengetahuan, pengalaman,
rekreasi dan hubungan usaha dibidang
pertanian.
44. Hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang
mempergunakan sebagian atau seluruh
bangunan untuk menyedikan jasa pelayanan
penginapan, makan dan minum, serta jasa
lainnya bagi umum yang dikelola secara
komersial, serta memenuhi ketentuan
persyaratan yang ditetapkan.
45. Wisma adalah semua usaha yang menggunakan
suatu bangunan atau sebagian dari suatu
bangunan yang khusus disediakan, dimana
setiap orang dapat menginap tanpa makan (tidak
ada restoran) yang berada dibawah manajemen
wisma tersebut dengan pembayaran.
46. Villa adalah sebuah kawasan yang terencana
untuk tempat menginap, istirahat dan rekreasi.
47. Rumah Tinggal
-14-
47. Rumah Tinggal adalah tempat kediaman dimana
bangunan induk tidak berhimpitan dengan
bangunan lain atau bangunan tetangga.
47a.Rumah komersial adalah rumah yang
diselenggarakan dengan tujuan mendapatkan
keuntungan.
48. Rumah Peristirahatan adalah rumah yang
disediakan untuk tempat tinggal sementara
seseorang yang merupakan kepemilikan pribadi
dan tidak disewakan.

2. Ketentuan Pasal 2 diubah, sehingga Pasal 2 berbunyi


sebagai berikut :
Pasal 2
Pedoman operasional pemanfaatan ruang,
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan
ini.

Pasal II

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal


diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Bupati ini dengan
penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Bogor.

Ditetapkan di Cibinong
pada tanggal
BUPATI BOGOR
Wakil,

NURHAYANTI
Diundangkan di Cibinong
pada tanggal
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BOGOR,

ADANG SUPTANDAR
BERITA DAERAH KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2014 NOMOR
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 35 TAHUN 2014
TANGGAL : 7 NOVEMBER 2014

PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG

A. PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN LINDUNG

STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

I. KAWASAN LINDUNG :
1.1. DI DALAM KAWASAN 1.1.1. Hutan Konservasi
HUTAN : a. Taman Nasional 1. Fungsi Utama :
Pelestarian alam ekosistem Perlindungan sistem penyangga - - 1. Kepada kawasan yang ada pemukiman hak dasar tetap diperhatikan
asli untuk tujuan penelitian, kehidupan, serta pemanfaatan 2. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang
ilmu pengetahuan, pendidikan, secara lestari sumberdaya alam berwenang
wisata alam dan rekreasi alam. hayati dan ekosistemnya
Pengawetan Keanekaragam hayati dan
ekosistem

2. Penunjang Kawasan :
a. Zona inti 1. Ilmu pengetahuan dan pendidikan 1. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
b. Zona rimba 2. Pendidikan dan Pelatihan 2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
3. Religi dan Budaya (A) (A) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
4. Pos Pengaman (A) (A) Kehutanan/Pejabat yang berwenang
5. Penelitian

3. Di Luar Fungsi Kawasan :


a. Zona pemanfaatan 1. Pondok wisata (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
dapt dimanfaatkan : 2. Bumi perkemahan (A) (A) ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
penelitian, ilmu pengetahuan 3. Karavan (A) (A) persetujuan Menteri Kehutanan/Pejabat yang berwenang
pendidikan, wisata alam dan 4. Sarana wisata tirta (A) (A) 2. Bentuk bangunan bergaya arsitektur budaya setempat
rekreasi alam 5. Angkutan wisata (A) (A) 3. Tidak mengubah bentang alam yang ada
6. Sarana wisata budaya (A) (A) 4. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
7. Gazebo/Shelter (A) (A)
8. Pondok pemandangan (A) (A)
9. Kanopi trail (A) (A)
10. Log trail (A) (A)

b. Zona khusus 1. Pemukiman Penduduk 2-5% 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
2. Terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
3. Terbatas untuk penduduk asli

2. Penunjang Pariwisata 2-5 % 8 meter 1. Terhadap bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan dan
legalitas lahan, wajib menyesuaikan dengan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang
2. Pemanfaatan untuk permukiman penduduk dan penunjang pariwisata hanya
diijinkan untuk penduduk asli setempat dengan luasan tetap dan tidak
mengurangi fungsi lindung kawasan
3. Bentuk bangunan yang struktur bangunannya sesuai
dengan kondisi wilayah, dengan ketentuan :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
5. Terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

3. Tower (A) (A) 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan
2. Terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
3. Terhadap bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan dan legalitas lahan
wajib menyesuaikan dengan Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
5. Konstruksi tidak mengganggu/tidak merubah bentang alam

4. Transmisi/Jaringan (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Bangunan yang merupakan bagian dari suatu jaringan atau transmisi bagi
kepentingan umum, setelah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
Pejabat yang berwenang
3. sistem transmisi/jaringan tidak terkoneksi dengan sistem jaringan regional
4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
Pejabat yang berwenang

b. Taman Wisata Alam 1. Fungsi Utama :


Pariwisata dan rekreasi alam 1. Wisata alam (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
dan pendidikan serta peningkatan ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
kualitas lingkungan persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Hanya dapat diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan penunjang pariwisata
dengan intensitas rendah
3. Sesuai dengan kajian konservasi alam
4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
Pejabat yang berwenang

2. Penunjang Kawasan 1. Penelitian pengembangan (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
2. Ilmu pengetahuan (A) (A) ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
3. Pendidikan, budidaya, wisata alam (A) (A) persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
4. Akomodasi pondok wisata (A) (A) 2. Sesuai dengan kajian konservasi alam
5. Perkemahan (A) (A) 3. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
6. Karavan (A) (A) Pejabat yang berwenang
7. Penginapan (A) (A)
8. Wisata tirta (A) (A)
9. Wisata budaya (A) (A)
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

3. Di Luar Fungsi Utama :


Utilitas Umum Transmisi/Jaringan (SUTT/SUTET) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Bangunan yang merupakan bagian dari suatu jaringan atau transmisi
bagi kepentingan umum, setelah mendapat persetujuan dari Menteri
Kehutanan/ pejabat yang berwenang

1.1.2. Hutan Lindung


1. Fungsi Utama :
Plasma Nutfah, Hidrologis , 1. Pembibitan (A) (A) Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Habitat Flora dan Fauna, 2. Penanaman (A) (A) ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
Pengendali Ekosistem, iklim 3. Pengkayaan (A) (A) persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
mikro dan Penghasil Carbon

2. Penunjang Kawasan
Kehutanan 1. Penangkaran satwa endemik (A) (A) 1. Khusus untuk penangkaran satwa endemik dimungkinkan bangunan
2. Budidaya tanaman obat (A) (A) penunjang non permanen dengan konstruksi sederhana dan
3. Budidaya tanaman hias (A) (A) Tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya
4. Budidaya jamur (A) (A) 2. Pengolahan tanah terbatas
5. Budidaya perlebahan (A) (A) 3. Tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi
6. Budidaya penangkaran satwa (A) (A) 4. Tidak menggunakan peralatan mekanis dan alat berat
7. Rehabilitasi satwa (A) (A) 5. Tidak membangun sarana dan prasarana yang mengubah bentang alam
8. Budidaya hijauan makanan ternak (A) (A) 6. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
9. Perlindungan keanekaragaman hayati (A) (A) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
10. Penyelamatan dan perlindungan lingkungan (A) (A) Kehutanan/pejabat yang berwenang
11. Penyerapan dan/atau penyimpanan karbon (A) (A)

3. Di Luar Fungsi Kawasan : Jaringan telekomunikasi, repiter (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
1. Utilitas Umum telekomunikasi, stasiun pemancar ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
radio, stasiun relai televisi, persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
ketenagalistrikan, instalasi teknologi 2. Bangunan ditempatkan pada lokasi yang memiliki tutupan (vegetasi)
energi terbarukan, instalasi air, dan rendah
jaringan/Fasilitas Transportasi 3. Konstruksi tidak mengganggu/ merubah bentang alam
4. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

2. Pengusahaan obyek dan 1. Obyek dan daya tarik wisata alam


daya tarik wisata a. Taman hutan raya (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
b. Taman wisata alam ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
c. Taman nasional persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
d. Taman satwa 2. Tidak mengubah bentang alam
3. Tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya
4. Tidak merusak keseimbangan unsur-unsur lingkungan
5. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

2. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
antara lain : wisata gua dan ekowisata ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Tidak mengurangi, mengubah, atau menghilangkan fungsi utamanya
3. Tidak mengubah bentang alam
4. Tidak merusak keseimbangan unsur- unsur lingkungan
5. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

3. Pendidikan/Penelitian (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Tidak mengurangi, mengubah, atau menghilangkan fungsi utamanya
3. Tidak mengubah bentang alam
4. Tidak merusak keseimbangan unsur- unsur lingkungan
5. Pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi
penduduk asli dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan sesuai
dengan peraturan perUndang-undangan
6. Memiliki status hak atas tanah sesuai dengan peraturan perUndang-undangan
7. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

4. Sumber Daya Energi dan 1. Pertambangan Mineral dan Batubara (A) (A) 1. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
Mineral 2. Sistem penambangan yang digunakan adalah tambang bawah tanah (under ground
minning)
3. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehitanan/pejabat yang berwenang

2. Panas Bumi (A) (A) 1 Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang

3. Minyak dan Gas Bumi (A) (A) 1. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB, ketinggian dan
sistem jaringan dilakukan melalui kajian teknis

4. Pemanfaatan Air Tanah (A) (A) 1. eksplorasi, pengeboran, penurapan mata air maksimal 5 m2 dan pipa
transmisi
2. Konstruksi bangunan turap tidak melebihi ketinggian muka air semula
dan tekanan air pada bangunan turap tidak mengurangi debit kemunculan
air semula
3. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

5. Sarana/prasarana Sarana/prasarana (A) (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2 Bangunan yang mendukung kegiatan penelitian dan tidak mengganggu
3 Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

6. Pemukiman Rumah tinggal 5% 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
2. Terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
3. Pemanfaatan untuk permukiman penduduk hanya diijinkan untuk penduduk
setempat dengan luasan tetap dengan tidak mengurangi fungsi lindung kawasan
4. Bentuk bangunan yang memiliki struktur bangunannya relatif sesuai dengan kondisi
wilayah, dengan ketentuan :
a. Dapat meresap air
b. Memiliki sifat penghematan energi
c.Tidak merubah bentang alam
d. Permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
5. Tidak dibenarkan menambah dan mendirikan bangunan baru

7. Yang berada diluar kawasan 1. Pertanian dan Perkebunan 20 % 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
hutan yang telah ditetapkan perundang-undangan.
2. Emplasemen pada kegiatan perkebunan 5 % dihitung dari luas lahan dan KDB dihitung dari
emplasemen
3. Emplasemen perkebunan, meliputi: Kantor, Pos Jaga, Rumah Tinggal Karyawan (Mess),
Guest House (Wisma), Kantor Pengelola, Klinik Kesehatan, Jalan di areal perkebunan,
Tempat Pengolahan Hasil Perkebunan, Instalasi Pengolahan Limbah, Gudang dan Bengkel

2. Akomodasi Wisata (Hotel, Villa, Restoran) 5% 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
2. Bentuk bangunan yang memiliki struktur bangunannya relatif sesuai dengan kondisi
wilayah, dengan ketentuan :
a. Dapat meresap air
b. Memiliki sifat penghematan energi
c.Tidak merubah bentang alam
d. Permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
3 Terbatas pada yang sudah memiliki izin dan tidak diperkenankan menerbitkan izin baru.

3. Rumah tinggal 20 % 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
2. Pemanfaatan untuk permukiman penduduk hanya diijinkan untuk penduduk
setempat dengan luasan tetap dengan tidak mengurangi fungsi lindung kawasan
3. Bentuk bangunan yang memiliki struktur bangunannya relatif sesuai dengan kondisi
wilayah, dengan ketentuan :
a. Dapat meresap air
b. Memiliki sifat penghematan energi
c.Tidak merubah bentang alam
d. Permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
4. tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
5. tidak untuk rumah komersial
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

4. Fasilitas Umum dan Sosial 20 % 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
- Pendidikan (SD, SMP dan SMU atau yang perundang-undangan.
sederajat) 2. Bentuk bangunan yang memiliki struktur bangunannya relatif sesuai dengan kondisi
- Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik wilayah, dengan ketentuan :
Pengobatan/Rehabilitasi) a. Dapat meresap air
- Kantor Pemerintahan b. Memiliki sifat penghematan energi
- Sarana Peribadatan c.Tidak merubah bentang alam
d. Permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
3. Terlebih dahulu mendapat kajian teknis mengenai kebutuhan Fasilitas Umum
dan Sosial dari SKPD terkait
4. Lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi gerakan tanah /longsor

1.1.3 Cagar alam 1. Fungsi Utama : Kegiatan perkebunan ini mencakup kegiatan perkebunan besar, perkebunan rakyat,
Pelestarian keanekaragaman 1. Pengawetan jenis tumbuhan dan aneka usaha perkebunan
tumbuhan dan satwa, beserta 2. Pengawetan jenis satwa
ekosistemnya 3. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya
hayati dan ekosistemnya

2. Penunjang Kawasan : 1. Penelitian dan pengembangan (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Ekowisata (A) (A) 2. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

3. Di Luar Fungsi Kawasan :


Utilitas Umum 1. Pos pengamat (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
2. Jalan dan jembatan (A) - sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

1.2. DILUAR 1.2.1. Sempadan Sungai/Irigasi 1. Fungsi Utama :


KAWASAN HUTAN : Waduk/Situ/Mata Air Jalur Hijau 1. Pertamanan (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
2. Usaha Tanaman Hias (A) (A) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
3. Budidaya Tanaman Pelindung (A) (A) Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Kegiatan budidaya yang dilakukan yang dapat menunjang fungsi kawasan dan
mendorong kegiatan wisata pendidikan
3. Terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN
KDB KETINGGIAN

2. Penunjang Kawasan
Bangunan penunjang fungsi
kawasan 1. Bangunan Pengamat Air (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Jalur Inpeksi (A) - ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
2. Jalan/Jalur Inspeksi (A) - persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
3. Turap (A) - 2. Tidak merubah bentang alam
4. Jalan/Jogging Track (A) - 3. Layak secara teknis dan tidak mengganggu nilai estetika lingkungan
5. Bangunan pengendali erosi, sedimentasi, (A) - 4. Tetap mempertahankan vegetasi sebagai konservasi
pengelolaan dan pemanfaatan 5. Kontruksi bangunan turap tidak melebihi ketinggian muka air semula dan
6. Penurapan mata air, bak penampungan, pipa (A) - tekanan air pada bangunan turap tidak mengurangi debit kemunculan air
transmisi semula.
6. Garis sempadan mata air ditetapkan sekurang-kurangnya dengan radius
200 meter

3. Di Luar Fungsi Kawasan:


a. Utilitas Umum Jaringan Transmisi Listrik, Gardu dan (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Jaringan Distribusi Listrik, Jaringan ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
Pembangkit Listrik persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
Gas Alam, Jaringan Telekomunikasi/ 2. Tidak merubah bentang alam
Tower, Jaringan Irigasi, Jalan Usaha 3. Bangunan yang merupakan bagian dari suatu jaringan atau transmisi bagi
Tani, dan Jaringan/Fasilitas kepentingan umum
Transportasi. 4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

b. Sarana dan Prasarana 1. Jembatan dan jalan (A) - 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
2. Pos Pengamanan/Pengamat (A) (A) ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
3. Bangunan prasarana air (A) (A) persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Tidak merubah bentang alam dan tidak mengganggu nilai estitika
lingkungan
3. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

1.2.2. Cagar Budaya dan Ilmu 1. Fungsi Utama :


Pengetahuan

2. Penunjang Kawasan
a. bangunan penunjang 1. Pos jaga (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
fungsi kawasan 2. Balai penelitian 5% 8 Meter ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

b. Pariwisata Wisata pendidikan, budaya dan penelitian 5% 8 Meter terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
B. PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN BUDIDAYA

STANDAR TEKNIS

DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR Pengaturan
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

II. BUDIDAYA :

2.1. HUTAN PRODUKSI : Hutan Produksi Terbatas 1. Pemanfaatan dalam Kawasan Hutan kegiatan yang mempunyai tujuan strategis yang tidak dapat dielakan (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
dan Hutan Produksi Tetap sesuai ketentuan perundang-undangan, antara lain : religi seperti tempat sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
ibadah, pertambangan, instalasi pembangkit, jalan umum, jalan tol, Kehutanan/pejabat yang berwenang
jaringan telekomunikasi, prasarana transportasi, fasilitas umum, sarana 2. Mekanisme dan tata cara ketentuan teknis mengacu kepada ketentuan
dan prasarana sumber daya air, pertahanan dan keamanan, perundang-undangan yang berlaku
penampungan sementara korban bencana alam, dan pertanian tertentu
3. Izin Pemanfaatan Ruang atau izin sejenisnya dan izin - izin lainnya terlebih dahulu
harus mendapatkan Izin dari Menteri Kehutanan/Pejabat yang berwenang

2. Penunjang Kawasan :

a. Kehutanan 1. Budidaya tanaman obat (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
2. Budidaya tanaman hias (A) (A) (A) (A) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
3. Budidaya jamur (A) (A) (A) (A) Kehutanan/pejabat yang berwenang
4. Budidaya perlebahan (A) (A) (A) (A) 2. Tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya
5. Penangkaran satwa (A) (A) (A) (A) 3. Pengolahan tanah terbatas
6. Budidaya sarang burung walet (A) (A) (A) (A) 4. Tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi
7. Budidaya tanaman pangan dibawah tegakan (A) (A) (A) (A) 5. Pengolahan tidak dilakukan secara mekanis
8. pemanfaatan/pemungutan hasil hutan kayu (A) (A) (A) (A) 6. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
9. pemanfaatan/pemungutan hasil hutan non kayu (A) (A) (A) (A) pejabat yang berwenang
10. Pemanfaatan air (A) (A) (A) (A) 7. Pemanfaatan kawasan hutan sesuai ketentuan perundang-undangan
11. Perdagangan karbon (A) (A) (A) (A)
12. Penyelamatan hutan dan lingkungan (A) (A) (A) (A)

b. Pendidikan Penelitian Pertanian dan kehutanan (A) (A) (A) (A) 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah
sesuai dengan peraturan perUndang-undangan.
2. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
pejabat yang berwenang
3. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
pejabat yang berwenang

3. Di Luar Fungsi Kawasan :


a. Permukiman - Rumah Tinggal / tidak terencana 5% 8 meter 5% 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
perUndang-undangan.
2. Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang
3. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan hutan
4. Terhadap bangunan atau hunian penunjang fungsi kawasan yang memiliki luasan
minimal 1 ha diberikan KDB 30% dari emplasement 5%
5. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/
pejabat yang berwenang

b. Utilitas Umum - Penggunaan untuk migas, (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
panas bumi, jaringan sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
telekomunikasi, repiter Kehutanan/pejabat yang berwenang
telekomunikasi, stasiun 2. Konstruksi tidak mengganggu/merubah bentang alam
pemancar radio, stasiun relai 3. Bangunan ditempatkan pada lokasi yang memiliki tutupan (vegetasi) rendah
televisi, ketenagalistrikan, 4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
instalasi teknologi energi
terbarukan, instalasi air, dan
jaringan/fasilitas transportasi (rest area)
STANDAR TEKNIS

DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR Pengaturan
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

c. Fasilitas Umum 1. Tempat Pengolahan Akhir Sampah (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
dan Pengolahan Sampah Terpadu sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Tidak berada pada daerah formasi batu pasir, batu gamping, atau dolomit
berongga dan batuan berkekar lainnya
3. Kemiringan zona < 20 %
4. Memiliki jarak minimal dengan :
a. Jalan : 500 meter
b. Sungai/saluran : 500 meter
c. Permukiman : 500 meter
d. Lapangan terbang : 3000 meter
5. Tidak berada pada lokasi rawan bencana/bahaya geologi
6. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

d. Pengusahaan obyek dan 1. Obyek dan daya tarik wisata alam, antara lain : 10 % 8 meter 5% 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memperoleh ijin dan telah memiliki hak atas
daya tarik wisata a. Taman hutan raya (air terjun) tanah.
b. Taman wisata alam (arung jeram) 2. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
c. Taman nasional (panjat tebing) dll Perundang-undangan.
d. Taman satwa 3. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan hutan
4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

2. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, antara lain : 5 % 8 meter 5% 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memperoleh ijin dan telah memiliki hak atas
a. Obyek wisata agro tanah.
b. Wisata Tirta 2. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan hutan
c. Wisata Gua 3. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

e. Usaha sarana pariwisata Penyediaan akomodasi, antara lain : 1. Terbatas pada lahan yang telah memperoleh ijin
Bumi perkemahan dan telah memiliki hak atas tanah.
2. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan
sebagai kawasan hutan
3. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

f. Peternakan 1. Ternak Besar dan kecil (Ruminansia) (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
2. Ternak Unggas (A) (A) (A) (A) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Memiliki jarak bangunan terhadap :
a. Sungai/anak sungai min 25 meter
b. Jarak bangunan kandang dengan permukiman/rumah penduduk 25 m
3. Ketentuan bangunan tidak permanen adalah bangunan dengan kriteria:
1. dapat meresap air
2. memiliki sifat penghematan energi
3. tidak merubah bentang alam
4. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air
larian
4. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan setelah mendapat rekomendasi dari Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
5. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan hutan
6. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

3. Karantina/Rehabilitasi (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Hewan/Penangkaran ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Memiliki jarak bangunan terhadap
Permukiman/rumah penduduk : 50 meter
3. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
STANDAR TEKNIS

DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR Pengaturan
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

4. Ternak Terpadu (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Kegiatan Hulu-Hilir
3. Memiliki jarak bangunan terhadap :
- Permukiman/rumah penduduk : 25 meter
4. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

5. Rumah Potong Hewan/Unggas (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
6. Rumah Sakit/Klinik Hewan/Praktek Dokter Hewan/Labkes Hewan (A) (A) (A) (A) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Memiliki jarak bangunan minimal terhadap :
a. Sungai/Saluran : berdasarkan kajian teknis dari instansi yang berwenang
dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
b. Permukiman :10 meter (kecuali praktek dokter hewan)
3. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan setelah mendapat rekomendasi dari Menteri
Kehutanan/pejabat yang berwenang
4. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan hutan
5. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

g. Energi dan Sumber Daya Mineral 1. Pertambangan Mineral Logam dan Batubara (A) (A) (A) (A) 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup

2. Pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan (A) (A) - - 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup

3. Pengolahan Hasil Tambang (A) (A) - - 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup

4. Panas Bumi (A) (A) (A) (A) 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup

5. Pembangkit Listrik Tenaga Air (A) (A) (A) (A) 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
(Mikrohidro/Minihidro/pikohidro) 2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup

6. Pembangkit Listrik Tenaga (A) (A) (A) (A) 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
Gas/Uap/Diesel/Biomas/Surya/Energi terbarukan lainnya 2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup

7. Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (A) (A) (A) (A) 1. terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang
2. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup
STANDAR TEKNIS

DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR Pengaturan
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

8. Pemanfaatan Air Tanah (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis dan lingkungan hidup
2. Aquifer yang boleh disadap > 40 bmt
3. Pengambilan air bawah tanah untuk kebutuhan non rumah tangga hanya boleh dilakukan
pada zona aman, yaitu daerah penurunan muka air tanah < 40 % atau penurunan kualitas
yang ditandai dengan kenaikan salinitas kurang dari 1000 liter/cm, yang didahului dengan
kajian teknis dan lingkungan yang mendapat persetujuan dari BLH dan ESDM.
4. Kontruksi bangunan turap tidak melebihi ketinggian muka air semula dan tekanan air
pada bangunan turap tidak mengurangi debit kemunculan air semula.
5. Garis sempadan mata air ditetapkan sekurang-kurangnya dengan radius 200 meter
disekitar air.
6. Untuk yang masuk kedalam kawasan hutan yang telah ditetapkan
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan/pejabat yang berwenang

1. Rumah tinggal - - 20 % 8 meter 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
2. Pemanfaatan untuk permukiman penduduk hanya diijinkan untuk penduduk
setempat dengan luasan tetap dengan tidak mengurangi fungsi lindung kawasan
3. Bentuk bangunan yang memiliki struktur bangunannya relatif sesuai dengan kondisi
wilayah, dengan ketentuan :
a. Dapat meresap air
b. Memiliki sifat penghematan energi
c.Tidak merubah bentang alam
d. Permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
4. tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
5. tidak untuk rumah komersial

h. Yang berada diluar kawasan 2. Fasilitas Umum dan Sosial 5% (A) 5% (A) 1. Terbatas pada lahan yang telah memiliki status tanah sesuai dengan peraturan
hutan yang telah ditetapkan - Pendidikan (SD, SMP dan SMU atau yang sederajat) perundang-undangan.
- Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik Pengobatan/ 2. Bentuk bangunan yang memiliki struktur bangunannya relatif sesuai dengan kondisi
Rehabilitasi) wilayah, dengan ketentuan :
- Kantor Pemerintahan a. Dapat meresap air
- Sarana Peribadatan b. Memiliki sifat penghematan energi
c.Tidak merubah bentang alam
d. Permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
3. Terlebih dahulu mendapat kajian teknis mengenai kebutuhan Fasilitas Umum
dan Sosial dari SKPD terkait
4. Lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi gerakan tanah /longsor

- -
STANDAR TEKNIS

DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR Pengaturan
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN


STANDAR TEKNIS

DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR Pengaturan
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN


C. PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN PERTANIAN

STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2.2. PERTANIAN : 2.2.1. Pertanian 1. Fungsi Utama Kawasan :


Lahan Basah a Budidaya Padi - - - - 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
1. Pengembangan/pencetakan sawah (A) (A) (A) (A) kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Agroindustri 20% 8 Meter 5% 8 Meter 2. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
3. Aneka Usaha Pertanian 20% 8 Meter 5% 8 Meter 3. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan pertanian.
4. Tidak pada lokasi beririgasi teknis ( agroindustri, aneka usaha pertanian ).

b Perikanan Budidaya ikan air tawar, ikan hias, tanaman 10% 8 Meter 5% 1. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
air dan penampungan ikan 2. Menyediakan sumur resapan.
3. Tidak Mengurangi debit air ke persawahan sekitar.

2. Penunjang Fungsi Utama Kawasan :


a Jasa dan perdagangan 1. Kios Sarana Produksi dan Distribusi, Sarana Produksi 10% 8 Meter 5% 8 Meter 1. berada di sekitar perkampungan
pertanian, Peternakan dan Perikanan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
3. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.

2. Pergudangan, pengolahan hasil pertanian 10% 8 Meter 10% 8 Meter 1. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
(penggilingan padi, tempat jemur), 2. Ketersediaan bahan baku disekitar kegiatan.
peternakan dan perikanan dan perbengkelan 3. Terbatas pada bengkel penunjang pertanian, peternakan dan perikanan
yang berbasis pertanian, peternakan dan 4. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan pertanian.
perikanan 5. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.

b Utilitas Umum Jaringan Transmisi Listrik, Gardu (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dan Jaringan Distribusi Listrik, dengan kebutuhan dan kajian teknis
Jaringan Gas Alam, Jaringan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
Telekomunikasi/ Tower, Jaringan 3. Untuk jaringan telekomunikasi/Tower dan sejenisnya harus mendapat persetujuan warga
Irigasi, Jaringan air bersih, Jalan Usaha warga sekitar dalam radius minimal 200 meter.
Tani, dan Jaringan/Fasilitas Transportasi

c Pengusahaan obyek dan daya tarik 1. Obyek dan daya tarik wisata alam, antara lain :
wisata a. Taman wisata alam 20% 8 Meter 10% 8 Meter 1. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
b. Taman satwa 2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
c. Pemandian alam 3. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan untuk wisata berupa persawahan dan
perikanan
4. Penempatan bangunan penunjang yang berada dalam emplasemen harus berada di sekitar
perkampungan dengan jarak maksimal 100 m dari perkampungan
5. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.
6. Khusus Taman satwa memenuhi ketentuan teknis dan persyaratan keamanan

2. Obyek dan daya tarik wisata budaya, berupa 20% 8 Meter 10% 8 Meter 1. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
rekreasi dan hiburan umum, antara lain : 2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
kolam pemancingan 3. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan untuk wisata berupa persawahan dan
perikanan
4. Penempatan bangunan penunjang yang berada dalam emplasemen harus berada di sekitar
perkampungan dengan jarak maksimal 100 m dari perkampungan
5. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.

3. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, antara lain : 20% 8 Meter 10% 8 Meter 1. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
a. Obyek wisata agro 2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
b. Wisata Tirta 3. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan untuk wisata berupa persawahan dan
c. Wisata Gua perikanan
d. Ekowisata 4. Penempatan bangunan penunjang yang berada dalam emplasemen harus berada di sekitar
perkampungan dengan jarak maksimal 100 m dari perkampungan
5. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

d Peternakan 1. Ternak Ruminansia, Ternak Unggas, Aneka Ternak 20 % 8 Meter 10% 8 Meter 1. Terbatas pada kegiatan Ruminansia dan Ternak Unggas terpadu
dan Hewan Kesayangan bagian dari diversifikasi pertanian
2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. Pengelolaan Lahan dan Air (Budidaya Hijauan 3. Membuat Buffer dari lokasi yang dimohon berdasarkan ketentuan teknis yang berlaku
Makanan Ternak, Embung dan Padang 4. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan pertanian.
Penggembalaan) 5. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.

e Permukiman Rumah Tinggal 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1. Terbatas pada penduduk setempat yang telah berdomisili minimal 5 tahun
2. Tidak berada pada lokasi beririgasi teknis.
3. tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
4. tidak untuk rumah komersial (kecuali rumah kontrakan, rumah kost, mess)

f Fasilitas Umum/Sosial 1. Sarana Pendidikan (TK, PAUD, SD/MI, SMP/MTS, 50% 12 Meter 40% 12 Meter 1. Eksisting lokasi tidak berada pada areal persawahan atau bukan berada pada lahan sawah
SMA/Aliyah Sederajat). berkelanjutan.
2. Sarana Peribadatan 2. Tidak merubah atau menghilangkan saluran irigasi
3. Sarana Kesehatan. 3. harus terlayani oleh minimal jaringan jalan lokal (Kabupaten)
4. Kantor Pemerintahan 4. Tidak berlokasi pada daerah rawan bencana
5. Untuk luasan lahan minimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
6. Terintergrasi dengan perkampungan yang telah ada dan untuk melayani masyarakat
7. memiliki fungsi untuk menunjang kawasan
8. Terlebih dahulu mendapat kajian teknis mengenai kebutuhan Fasilitas Umum
dan Sosial dari SKPD terkait
9. Lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi gerakan tanah /longsor

5. Bangunan Sarana Gas Alam (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan perundang-undangan.
2. tidak mengubah fungsi kawasan.
3. Kegiatan terbatas pada pembangunan sistem jaringan prasarana utama.

6. Bangunan Sarana Telekomunikasi (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan perundang-undangan.
2. tidak mengubah fungsi kawasan.
3. Kegiatan terbatas pada pembangunan sistem jaringan prasarana utama.

7. SPPBG/SPBE 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1. minimal terlayani oleh jaringan jalan kabupaten


2. luas minmal 1 ha
3. garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter
4. eksisting tidak berada pada areal persawahan yang masih produktif.
5. setelah adanya pengkajian secara teknis dari instansi yang berwenang.

8. Jaringan Transmisi Listrik, Gardu (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dan Jaringan Distribusi Listrik, dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Jaringan Gas Alam, Jaringan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
Telekomunikasi/ Tower, Jaringan 3. Untuk jaringan telekomunikasi/Tower dan sejenisnya harus mendapat persetujuan warga
Irigasi, Jaringan air bersih, Jalan Usaha sekitar radius minimal 200 meter.
Tani, Jalan Produksi dan Jaringan/Fasilitas Transportasi
Jaringan/Fasilitas Transportasi

g Fasilitas Penunjang Pariwisata Wisata Alam, 20 % 8 Meter 10 % 8 Meter 1. Bangunan penunjang ditempatkan pada kemiringan lahan < 15 %
Wisata Budaya dan Desa Wisata 2. Tidak pada lokasi beririgasi teknis.
3. Tidak mengubah fungsi kawasan.
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

h Energi dan Sumber Daya Mineral 1. Pertambangan mineral logam dan batu bara 30 % (A) 20 % (A) 1. Perlu adanya kajian tentang aspek keseimbangan antara biaya dan manfaat
serta keseimbangan antara resiko dan manfaat dari dinas terkait
2. Emplasemen maks 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
3. Kegiatan yang berdampak besar dan penting terlebih dahulu dikoordinasikan dan
mendapat rekomendasi dari menteri terkait/pejabat berwenang.
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

2. Pertambangan bukan batuan dan mineral bukan logam 30 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1. Perlu adanya kajian tentang aspek keseimbangan antara biaya dan manfaat serta
keseimbangan antara resiko dan manfaat dari dinas terkait
2. terbatas pada lahan yang tidak beririgasi teknis
3. Memiliki jarak minimal (buffer zone) dengan :
a. Batas persil dengan Lahan pertanian : 50 meter
b. Sungai : 50 meter
c. Permukiman : 300 meter
4. Menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil) untuk keperluan
reklamasi/rehabilitasi lahan bekas penambangan
5. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

3. Panas Bumi 30 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

4. Minyak dan Gas Bumi pada kegiatan 30 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
hulu dan hilir kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

5. Pembangkit Listrik Tenaga Air (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
(Mikrohidro/Minihidro/picohidro) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
2. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

6. Pembangkit Listrik Tenaga 30 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Gas/Uap/Diesel/Biomas/ kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Terbaharukan dan sejenisnya 2. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

2.2.2. Pertanian 1. Fungsi Utama Kawasan :


Lahan Kering Pertanian Budidaya Pertanian Lahan Kering - - - - 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

2. Penunjang Fungsi Utama Kawasan :


a Bangunan penunjang pertanian 1. Aneka Usaha Pertanian 30% 8 Meter 10% 8 Meter 1. Emplacement maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplacement
2. Demplot 30% 8 Meter 10% 8 Meter 2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
- bangunan percontohan 30% 8 Meter 10% 8 Meter 3. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan harus mendukung terhadap peningkatan
3. sentra pertanian 30% 8 Meter 10% 8 Meter kegiatan pertanian
4. pergudangan 30% 8 Meter 10% 8 Meter 4. Dilarang mengurangi areal produktif pertanian.
5. outlet tanaman 30% 8 Meter 10% 8 Meter 5. Bangunan tidak merubah fungsi kawasan sebagai kawasan pertanian.
6. green house 30% 8 Meter 10% 8 Meter
7. packing house 30% 8 Meter 10% 8 Meter
8. sub terminal agribisnis 30% 8 Meter 10% 8 Meter
9. bengkel alsintan 30% 8 Meter 10% 8 Meter
10. penggilingan-RMU 30% 8 Meter 10% 8 Meter
11. bangunan pengolahan 30% 8 Meter 10% 8 Meter

b Usaha Jasa Pariwisata 1. Usaha jasa pertemuan, perjalanan insentif, konvensi 20% (A) 10% (A) 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. jasa informasi pariwisata 2. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan harus mendukung terhadap peningkatan
kegiatan pertanian
3. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
4. Khusus di kawasan strategis pariwisata, dimungkinkan usaha sarana pariwisata dengan
kajian teknis dan lingkungan hidup
5. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

c Pengusahaan obyek dan 1. Obyek dan daya tarik wisata alam, antara lain : - - - - 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
daya tarik wisata a. Taman hutan raya 2. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
b. Taman satwa 3. Melakukan penanaman tanaman yang dapat menyimpan air dan bernilai ekonomis
c. pemandian alam 4. Khusus Taman satwa memenuhi ketentuan teknis dan persyaratan keamanan

2. Obyek dan daya tarik wisata budaya berupa


rekreasi dan hiburan umum antara lain :
a. kolam pemancingan - - - - 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. Menggunakan sumber air permukaan/tersedia sumber ait permukaan

b. pentas pertunjukkan wisata 20% (A) 10% (A) 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
3. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

c. sarana olahraga 20% (A) 10% (A) 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
3. Diarahkan pada bangunan olahraga yang berbentuk indoor
4. Membuat sumur resapan per 25 m2
5. Harus ada ijin pemanfaatan air tanah dari Dinas terkait
6. Membuat infrastruktur sendiri
7. Khusus di kawasan strategis pariwisata, dimungkinkan usaha sarana pariwisata dengan
kajian teknis dan lingkungan hidup
8. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

3. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, antara lain : (A) (A) (A) (A) 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
ekowisata dan kegiatan sejenis lainnya 2. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan harus mendukung terhadap peningkatan
kegiatan pertanian
3. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
4. Khusus di kawasan strategis pariwisata, dimungkinkan usaha sarana pariwisata dengan
kajian teknis dan lingkungan hidup
5. Membuat infrastruktur sendiri
6. Dilarang mengurangi areal produktif pertanian dan wisata alam
7. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis

4. Penyediaan makan dan minum antara lain : 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
Restoran, Rumah makan, dan jasa boga 2. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
3. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
4. Khusus di kawasan strategis pariwisata, dimungkinkan usaha sarana pariwisata dengan
kajian teknis dan lingkungan hidup
5. Perlu pengaturan proporsi tutupan dan penghijauan
6. Membuat tandon air/kolam air
7. Membuat sumur resapan per 25 m2
8. Membuat infrastruktur sendiri
9. Bentuk bangunan panggung, dengan KDB berdasarkan tutupan atap terluar
10. Harus ada ijin pemanfaatan air tanah dari Dinas terkait
11. Dilarang mengurangi areal produktif pertanian dan wisata alam
12. Rekayasa arsitektur/sipil untuk pipanisasi sekunder menuju tandon air/sumur resapan

d Industri - Agroindustri 30% 8 Meter 10% 8 Meter 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
- Agrowisata 2. Kegiatan agro industri yang dikembangkan harus mendukung terhadap peningkatan
kegiatan pertanian
3. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
4. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

e Peternakan 1. Ternak Ruminansia, Ternak Unggas, 30% 8 Meter 10% 8 Meter 1. Memiliki jarak bangunan dengan sungai minimal 25 m
Aneka Ternak dan Hewan Kesayangan 2. Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan
3. ketentuan bangunan adalah bangunan dengan kriteria :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian

2. Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) dan Rumah 50% 8 Meter 30% 8 Meter 1. Memiliki jarak bangunan dengan sungai minimal 25 m
Potong Hewan Unggas (RPH-U) 2. Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan
3. ketentuan bangunan adalah bangunan dengan kriteria :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian
4. Memenuhi persyaratan teknis RPH sesuai dengan Ketentuan yang berlaku

3. Karantina, Rehabilitasi, Rumah Sakit, Klinik, Penangkaran 30% 8 Meter 10% 8 Meter 1. Memiliki jarak bangunan dengan sungai minimal 25 m
Hewan 2. Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan
3. ketentuan bangunan adalah bangunan dengan kriteria :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian

4. Ternak Terpadu 30% 8 Meter 20% 8 Meter 1. Kegiatan hulu-hilir atau usaha peternakan dengan beberapa jenis ternak
2. Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan
3. ketentuan bangunan adalah bangunan dengan kriteria :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian

f Perikanan Budidaya ikan air tawar, ikan hias, 30% 8 Meter 20% 8 Meter 1. Tidak memakai air baku tanah atau air permukaan setempat.
dan penampungan ikan 2. Pemakaian air dari saluran outlet kolam ikan harus dialirkan kembali ke saluran irigasi
setempat

g Jasa dan Perdagangan/ Kios/Warung Sarana Produksi, Distribusi dan Sarana 50% 8 Meter 30% 8 Meter 1. dekat dengan kegiatan yang sudah ada (didalam perkampungan)
Komersil Produksi Pertanian, Peternakan dan Perikanan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)

h Utilitas Umum Jaringan Transmisi Listrik, Gardu (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dan Jaringan Distribusi Listrik, dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Jaringan Gas Alam, Jaringan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
Telekomunikasi/ Tower, Jaringan 3. Untuk jaringan telekomunikasi/Tower dan sejenisnya harus mendapat persetujuan warga
Irigasi, Jaringan air bersih, Jalan Usaha sekitar radius minimal 200 meter.
Tani, Jalan Produksi dan Jaringan/Fasilitas Transportasi
Jaringan/Fasilitas Transportasi

i Industri Industri pengolahan 30 % 8 Meter 20 % 8 Meter 1. dekat dengan perkampungan yang telah ada
2. Industri berbasis potensi bahan baku lokal (sektor pertanian, peternakan dan perikanan)
3. Pola kemitraan dengan masyarakat sekitar (inti/plasma)

j Permukiman Rumah Tinggal 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. Bangunan tunggal


2. Terintergrasi dengan perkampungan yang telah ada
3. memiliki fungsi untuk menunjang kawasan
4. Terbatas pada penduduk setempat.
5. tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
6. tidak untuk rumah komersial (kecuali rumah kontrakan, rumah kost, mess)
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

k Fasilitas Umum/Sosial 1. Sarana Peribadatan 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. dekat dengan perkampungan yang telah ada
2. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar

2. Fasilitas Pemerintahan 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter - terbatas pada skala pelayanan lokal

3. Poliklinik/Sarana Pengobatan 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. berada di sekitar perkampungan


2. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar dengan skala pelayanan lokal

4. Pendidikan/Sekolah 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. berada di sekitar perkampungan


2. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar dengan skala pelayanan lokal

5. Tempat Pemakaman Umum 20 % - 10 % - 1. dekat dengan perkampungan yang telah ada


2. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar

6. Tempat Pemakaman Bukan Umum 20 % 8 Meter 10 % 8 Meter - TPBU dibatasi pada lokasi tertentu sesuai kebijakan dan kajian teknis

7. Tempat Pengolahan Sampah (A) (A) (A) (A) 1. Lokasi berada pada kondisi geologi/ kontur cekungan
Akhir dan Pengolahan Sampah 2. Tidak berada pada lokasi rawan bencana/ bahaya geologi
Terpadu 3. Tidak berada pada daerah formasi batu pasir, batu gamping, atau dolomit berongga dan
batuan berkekar lainnya (jointed rocks).
4. muka air tanah 3 m
5. Tingkat kelulusan tanah 10 cm/det
6. Berjarak 100 m dari sumber air minum di hilir aliran
7. Memiliki jarak minimal dengan :
a. Jalan : 500 meter
b. Sungai/saluran : 500 meter
c. Permukiman : 500 meter
8. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

l Usaha sarana pariwisata Penyediaan akomodasi antara lain : 1. terbatas pada lokasi yang telah memiliki ijin
a. Hotel 10% 12 Meter 5% 12 Meter 2. Untuk Perluasan hanya diberikan terhadap lokasi yang terintegrasi dengan ijin sebelumnya
3. Khusus di kawasan strategis pariwisata (puncak dan GSE), dimungkinkan usaha sarana
pariwisata setelah terlebih dahulu dilakukan studi teknis dan studi lingkungan hidup (indeks
konservasi)
4. Tidak merubah bentang alam dan buatan
(sungai, irigasi, jalan dll)
5. Perlu pengaturan proporsi tutupan dan penghijauan
6. Membuat tandon air/kolam air
7. Membuat sumur resapan per 25 m2
8. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
9. Harus ada ijin pemanfaatan air tanah dari Dinas / Instansi terkait

b. Bungalow/Rumah Peristirahatan/Villa/pondok wisata/wisma 20% 8 Meter 10% 8 Meter 1. Bangunan tipe tunggal dengan bangunan
fasilitas penunjangnya
2. Khusus di kawasan strategis pariwisata (puncak dan GSE), dimungkinkan usaha sarana
pariwisata setelah terlebih dahulu dilakukan studi teknis dan studi lingkungan hidup (indeks
konservasi)
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

c. Resort/cottage 20% 8 Meter 10% 8 Meter 1. terbatas pada lokasi yang telah memiliki ijin
2. Khusus di kawasan strategis pariwisata (puncak dan GSE) dan kawasan strategis lainnya
yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dan/atau pemerintah pusat.
3. dimungkinkan usaha sarana pariwisata setelah terlebih dahulu dilakukan studi teknis dan
studi lingkungan hidup (indeks konservasi)
4. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
5. Perlu pengaturan proporsi tutupan dan penghijauan
6. Membuat tandon air/kolam air
7. Membuat sumur resapan per 25 m2
8. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
9. Harus ada ijin pemanfaatan air tanah dari Dinas terkait

d. Bumi Perkemahan (A) (A) (A) (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

m Fasilitas penunjang Wisata Alam, 10 % 8 Meter 5% 8 Meter - Bangunan penunjang ditempatkan pada lahan kemiringan 0-15 % kegiatan
Pariwisata Wisata Budaya dan Desa Wisata

n Energi dan Sumber Daya Mineral 1. Pertambangan mineral logam dan batu bara 30 % (A) 20 % (A) 1. Perlu adanya kajian tentang aspek keseimbangan antara biaya dan manfaat
serta keseimbangan antara resiko dan manfaat dari dinas terkait
2. Emplasemen maks 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
3. Kegiatan yang berdampak besar dan penting terlebih dahulu dikoordinasikan dan
mendapat rekomendasi dari menteri terkait/pejabat berwenang.
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

2. Pertambangan mineral bukan logam dan batuan 30 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1. Perlu adanya kajian tentang aspek keseimbangan antara biaya dan manfaat serta
keseimbangan antara resiko dan manfaat dari dinas terkait
2. Memiliki jarak minimal (buffer zone) dengan :
a. Batas persil dengan Lahan pertanian : 50 meter
b. Sungai : 50 meter
c. Permukiman : 300 meter
3. Menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil) untuk keperluan
reklamasi/rehabilitasi lahan bekas penambangan
4. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

3. Panas Bumi 30 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis
2. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen

4. Minyak dan Gas Bumi 30 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis
2. Kegiatan hulu dan hilir.
3. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen

5. Pembangkit Listrik Tenaga Air (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
(Mikrohidro/Minihidro/picohidro) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
2. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen

6. Pembangkit Listrik Tenaga 30 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
Gas/Uap/Diesel/Biomas/ dengan kebutuhan dan kajian teknis
Terbaharukan 2. Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen
3. Khusus untuk pembangkit tenaga listrik terintegrasi dengan jenis kegiatan yang
telah ada
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

7. SPPBG/SPBE 80 % 12 Meter 60 % 12 Meter 1. tersedianya lahan parkir seluas 30% tutupan lahan
2. Tidak berada di pemukiman penduduk
3. Perlu kajian teknis dari dinas ESDM terutama masalah kebutuhan dan
distribusi
4. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten

8. Bangunan Pengolahan Air Curah 40 % 12 Meter 10 % 12 Meter 1. Garis sempadan bangunan radius 200 m dari sumber air
/ AMDK 2. Sumber air tidak termasuk ijin yang diberikan
3. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten

9. Rest Area 70 % 12 Meter 60 % 12 Meter 1. berada pada fungsi jalan arteri primer dan kolektor
2. luas lahan SPBU di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer minimal 10.000 M
3. memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter

10. Rest Area (Non SPBU) 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1. berada pada fungsi jalan arteri primer dan kolektor
2. luas lahan rest area di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer minimal 5.000 M
3. memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter

2.2.3. Perkebunan/ 1. Fungsi Utama Kawasan :


Tanaman Perkebunan/Tanaman Bangunan Penunjang Perkebunan 30 % 8 Meter 20 % 8 Meter 1. Lokasi mendukung potensi wilayah sekitar (resources based)
Tahunan Tahunan Budidaya Perkebunan/Tanaman Tahunan 2. Hanya diperkenankan untuk jenis bangunan penunjang fungsi kawasan :
a. Rumah tinggal/mess karyawan
b. guest house (wisma)
c. Kantor pengelola
d. Tempat pengolahan hasil kebun
3. Emplasemen pada kegiatan perkebunan 5 % dari luas lahan dan KDB dihitung dari
emplasemen
4. Emplasemen perkebunan, meliputi: Kantor, Pos Jaga, Rumah Tinggal Karyawan (Mess),
Klinik Kesehatan, Jalan di areal perkebunan, Tempat Pengolahan Hasil Perkebunan, Instalasi
Pengolahan Limbah, Gudang dan Bengkel
5. Kegiatan perkebunan ini mencakup kegiatan perkebunan besar, perkebunan rakyat, dan
aneka usaha perkebunan

2. Penunjang Fungsi Utama Kawasan :


a Utilitas Umum Jaringan Transmisi Listrik, Gardu (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dan Jaringan Distribusi Listrik, dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Jaringan Gas Alam, Jaringan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
Telekomunikasi/ Tower, Jaringan 3. Untuk jaringan telekomunikasi/Tower dan sejenisnya harus mendapat persetujuan warga
Irigasi, Jaringan air bersih, sekitar radius minimal 200 meter.
Jaringan/Fasilitas Transportasi 4. untuk jaringan SUTT dan SUTET wajib memiliki jarak bebas:
a. Terhadap bangunan 4,5 - 17 meter sesuai besar tegangan
b. berjarak 25 m dari pompa bensin/tangki bensin ukur
c. 50 meter dari tempat penimbunan bahan bakar

b Peternakan 1. Ternak Ruminansia dan 30% 8 Meter 20% 8 Meter 1. Memiliki jarak bangunan dengan sungai minimal 25 m
Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) 2. Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan
3. ketentuan bangunan adalah bangunan dengan kriteria :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian

2. Ternak Unggas dan Rumah Potong Hewan 50% 8 Meter 30% 8 Meter 1. Memiliki jarak bangunan dengan sungai minimal 25 m
Unggas (RPH-U) 2. Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan
3. ketentuan bangunan adalah bangunan dengan kriteria :
a. dapat meresap air
b. memiliki sifat penghematan energi
c. tidak merubah bentang alam
d. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian

3. Karantina/Rehabilitasi Hewan/Penangkaran 40% 8 Meter 10% 8 Meter Melaksanakan biosecurity intensif dan mendapat persetujuan lingkungan

4. Ternak Terpadu 50% 8 Meter 30% 8 Meter 1. Kegiatan hulu - hilir


2. Memiliki jarak bangunan terhadap Permukiman/rumah penduduk eksisting : 100 meter
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN


STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

c Pertanian 1. Agrowisata 20 % 8 Meter 10 % 8 Meter 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. Kegiatan agro wisata yang dikembangkan untuk wisata berupa perkebunan

2. Agroindustri 20 % 8 Meter 10 % 8 Meter 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2. Kegiatan agro industri yang dikembangkan harus mendukung kegiatan perkebunan

d Permukiman 1. Rumah Tinggal Penduduk 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 1. Bangunan tunggal dibawah 100 m2
2. Terintergrasi dengan perkampungan yang telah ada
3. tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
4. tidak untuk rumah komersial (kecuali rumah kontrakan, rumah kost, mess)

2. Rumah Tunggu / Rumah Jaga 20 % 8 Meter 10 % 8 Meter -

e Fasilitas Umum/Sosial 1. Fasilitas Peribadatan 50 % 12 Meter 50 % 12 Meter 1. Pada lokasi yang telah ada huniannya
2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)

2. Fasilitas Pendidikan/Sekolah 50 % 12 Meter 50 % 12 Meter 1. Pada lokasi yang telah ada huniannya
2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
3. radius terjauh dari perkampungan maksimal 500m
4. berada di sekitar perkampungan

3. Fasilitas Olahraga 50 % 12 Meter 30 % 12 Meter 1. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
2. Tetap mendukung terhadap nilai konservasi kawasan

4. Fasilitas Pemerintah 50 % 12 Meter 50 % 12 Meter 1. Pada lokasi yang telah ada huniannya
2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)

5. Fasilitas Ekonomi (Warung, Toko) 50 % 12 Meter 50 % 12 Meter 1. Pada lokasi yang telah ada huniannya
2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)

6. Tempat Pemakaman Bukan Umum/Tempat Pemakaman Umum 20 % 8 Meter 10 % 8 Meter TPBU dibatasi pada lokasi tertentu sesuai kebijakan dan kajian teknis

7. Tempat Pengolahan Sampah 20 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1. Lokasi berada pada kondisi geologi/kontur cekungan
Terpadu 2. Tidak berada pada lokasi rawan bencana/ bahaya geologi
3. Tidak berada pada daerah formasi batu pasir, batu gamping, atau dolomit berongga dan
batuan berkekar lainnya (jointed rocks).
4. muka air tanah 3 m
5. Tingkat kelulusan tanah 10 cm/det
6. Berjarak 100 m dari sumber air minum di hilir aliran
7. Memiliki jarak minimal dengan :
a. Jalan : 500 meter
b. Sungai/saluran : 500 meter
c. Permukiman : 500 meter

f Usaha Jasa Pariwisata Usaha jasa pertemuan, perjalanan insentif, konvensi (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
3. Diversifikasi usaha perkebunan untuk kegiatan kepariwisataan harus melakukan mekanisme
yang berlaku

g Pengusahaan obyek dan 1. Obyek dan daya tarik wisata alam, antara lain : (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai -
daya tarik wisata a. Taman hutan raya dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
b. Taman wisata alam 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada perkampungan yang telah
c. Taman Nasional ada
d. Taman satwa 3. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4. Diversifikasi usaha perkebunan untuk kegiatan kepariwisataan harus melakukan mekanisme
izin yang berlaku
5. Khusus taman satwa memenuhi ketentuan teknis dan persyaratan keamanan sesuai
ketentuan perundang-undangan
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN


STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2. Obyek dan daya tarik wisata budaya, berupa rekreasi dan (A) (A) (A) (A) 1. Memiliki potensi alam dan budaya
hiburan umum, antara lain : 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada perkampungan yang telah
balai pertemuan umum ada
3. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4. Diversifikasi usaha perkebunan untuk kegiatan kepariwisataan harus melakukan mekanisme
yang berlaku
5. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

3. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, antara lain : (A) (A) (A) (A) 1. Memiliki potensi alam dan budaya
a. Obyek wisata agro 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada perkampungan yang telah
b. wisata gua ada
c. ekowisata 3. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4. Diversifikasi usaha perkebunan untuk kegiatan kepariwisataan harus melakukan mekanisme
izin yang berlaku
5. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

h Usaha sarana pariwisata 1. Penyediaan akomodasi, antara lain : (A) (A) (A) (A) 1. Memiliki potensi alam dan budaya
a. pondok wisata 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada perkampungan yang telah
b. Bungalow/Cottage ada
c. Resort, Wisma 3. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
d. Rumah Peristirahatan 4. Diversifikasi usaha perkebunan untuk kegiatan kepariwisataan harus melakukan mekanisme
e. Bumi Perkemahan yang berlaku
5. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

2. Penyediaan makan dan minum, antara lain : (A) (A) (A) (A) 1. Memiliki potensi alam dan budaya
Restoran, Rumah makan, dan jasa boga 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada
perkampungan yang telah ada
3. Tidak merubah bentang alam dan
buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4. Diversifikasi usaha perkebunan untuk kegiatan kepariwisataan harus melakukan
mekanisme yang berlaku
5. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

i Perikanan Budidaya ikan air tawar, ikan hias, tanaman 30 % 8 Meter 20 % 8 Meter 1. Tidak menganggu fungsi jaringan irigasi
air dan penampungan ikan 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)

j Energi dan Sumber Daya Mineral 1. Pertambangan mineral logam dan batubara 30 % (A) 20 % (A) 1. Perlu adanya kajian tentang aspek keseimbangan antara biaya dan manfaat
serta keseimbangan antara resiko dan manfaat dari dinas terkait
2. Emplasemen maks 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
3. Kegiatan yang berdampak besar dan penting terlebih dahulu dikoordinasikan dan
mendapat rekomendasi dari menteri terkait/pejabat berwenang.
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

2. Pertambangan mineral bukan logam dan batuan 30 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Perlu adanya kajian tentang aspek keseimbangan antara biaya dan manfaat serta
keseimbangan antara resiko dan manfaat dari dinas terkait
2 Memiliki jarak minimal (buffer zone) dengan :
a. Batas persil dengan Lahan pertanian : 50 meter
b. Sungai : 50 meter
c. Permukiman : 300 meter
3 Menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil) untuk keperluan
reklamasi/rehabilitasi lahan bekas penambangan
4 Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen

3 Panas Bumi 30 % (A) 20 % (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis
2 Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

4 Minyak dan Gas Bumi 30 % (A) 20 % (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis
2 Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen
3 Kegiatan Hulu dan Hilir

5 Pembangkit Listrik Tenaga Air (A) (A) (A) (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
(Mikrohidro/Minihidro/picohidro) sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
2 Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen

6 Pembangkit Listrik Tenaga 30 % (A) 20 % (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
Gas/Uap/Diesel/Biomas/ dengan kebutuhan dan kajian teknis
Terbaharukan 2 Emplasemen maksimal 5% dai luas lahan dan KDB dihitung dari luas
emplasemen
3 Khusus untuk pembangkit tenaga listrik terintegrasi dengan jenis kegiatan yang
telah ada

7 SPBU 60 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1 Perlu kajian teknis dari dinas ESDM terutama masalah kebutuhan dan distribusi
distribusi
2 Khusus pada kawasan puncak dilarang untuk pengembangan baru dan terbatas
pada izin yang sudah ada.

8 SPPBG/SPBE (Elpiji) 60 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1 tersedianya lahan parkir seluas 30% Tutupan lahan
2 Tidak berada di pemukiman penduduk
3 Perlu kajian teknis dari dinas ESDM terutama masalah kebutuhan dan distribusi
4 Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten

9 Bangunan Pengolahan Air Curah 40 % 12 Meter 10 % 12 Meter 1 Garis sempadan bangunan radius 200 m dari sumber air
/ AMDK 2 Sumber air tidak termasuk ijin yang diberikan

10 Rest Area 60 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1 berada pada fungsi jalan arteri primer dan kolektor
2 luas lahan SPBU di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer minimal 10.000 M
3 memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter

11 Rest Area (Non SPBU) 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 berada pada fungsi jalan arteri primer dan Kolektor
2 luas lahan rest area di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer minimal 5.000 M
3 memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG DI LUAR PENGATURAN
LINDUNG
KAWASAN HUTAN

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN


Wisata Alam,
Wisata Budaya, Desa Wisata dan
Wisata Agro
D. PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN PERMUKIMAN PERDESAAN

STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
PERUNTUKAN LINDUNG DI LUAR
NO KAWASAN PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG PENGATURAN
RUANG KAWASAN HUTAN
(PD 1)
(PD 2)
KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2.3. PERMUKIMAN : 2.3.1. Permukiman 1. Fungsi Utama Kawasan :


Perdesaan Permukiman 1. Rumah Tinggal Penduduk 40% 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Khusus PD2 terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas
pendukungnya
2 Pada kawasan puncak dilarang pengembangan rumah deret
khusus pada kawasan puncak terbatas untuk penduduk setempat yang dibuktikan
3
dengan KTP setempat
4 tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
5 tidak untuk rumah komersial (kecuali rumah kontrakan, rumah kost, mess)

2. Perumahan 40% 12 meter - - 1 Untuk pengembangan perumahan pada PD1 ditentukan berdasarkan
pertimbangan teknis/daya tampung dan daya dukung lingkungan
2 Penyediaan RTH minimal 5%, diluar fasos/fasum
3 Menyediakan kolam retensi / sumur resapan
4 Menyediakan areal pengolahan sampah
5 Peruntukkan ruang PD1 dan PD2 di KAWASAN PUNCAK Dilarang
melakukan pengembangan perumahan

3. Villa/Bungalow/Wisma/Mess 40% 12 Meter 20 % 12 Meter terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas pendukungnya

4. Rumah Kontrakan / Rumah Sewa 40% 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Khusus PD2 terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas
pendukungnya
2 Pada kawasan puncak dilarang pengembangan rumah deret

2. Penunjang Fungsi Utama


Kawasan : 1. Pasar Tradisional 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1 menyediakan lahan parkir 1 kendaraan untuk tiap 100 m2 luas lantai
a. Jasa dan Perdagangan/ 2 Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
Komersil 3 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

2. Ruko/Rukan 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1 berada pada pusat kota kecamatan
2 khusus waralaba harus terlayani oleh jalan kabupaten
3 Khusus PD2 terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas
pendukungnya lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor
4 Bangunan deret/kopel pada peruntukkan ruang PD1 terlayani minimal oleh jaringan
jalan kabupaten

3. Jasa (Perkantoran,Bank,Kantor 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1 berada pada pusat kota kecamatan
Swasta, dll) 2 Khusus PD2 terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas
pendukungnya
3 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor
4 Bangunan deret/kopel pada peruntukkan ruang PD1 terlayani minimal oleh jaringan
jalan kabupaten
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
PERUNTUKAN LINDUNG DI LUAR
NO KAWASAN PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG PENGATURAN
RUANG KAWASAN HUTAN
(PD 1)
(PD 2)
KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

4. Pergudangan Hasil Pertanian 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1 Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
2 Khusus PD2 terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas
pendukungnya
3 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor

5. Rumah Makan/Restoran 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1 menunjang potensi wilayah ( alam atau wisata/budaya)
2 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor

6. Terminal Agribisnis 40% 12 Meter 20% 12 Meter khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

7. Station Relay Radio/TV 40 % (A) 20 % (A) Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan
perundang-undangan

8. Diklat dan Balai Latihan Kerja/ 40% 12 Meter 20% 12 Meter 1 khusus pemanfaatan ruang PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak
Penelitian terindikasi rentan gerakan tanah/longsor.
2 Untuk ketinggian lebih dari 12 meter diberlakukan pengaturan bangunan tinggi
(highrise building) dan pada lokasi yang telah ditetapkan untuk bangunan tinggi
3. Menyediakan IPAL komunal

b. Fasilitas Umum/Sosial 1. Poliklinik/Balai Pengobatan/Balai 40 % 12 Meter 20% 12 Meter 1 Jarak dari perkampungan maksimal 500 m
Rehabilitasi/Rumah Bersalin 2 menyediakan lahan parkir 1 kendaraan untuk 100m2 luas lantai
3 terlayani jaringan jalan beraspal
4 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor
5 Bangunan deret/kopel pada peruntukkan ruang PD1 terlayani minimal oleh jaringan
jalan kabupaten

2. Terminal/Stasiun Kereta Api (A) (A) (A) (A) Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
pengembangan wilayah

3. Pendidikan 60 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1 Pendidikan yang dimaksud adalah TK, SD, SMP, SMU, ponpes atau yang
sederajat
2 Menyediakan tempat bermain / lapangan Serba Guna (olah raga, Upacara dan
Lapangan bermain)
3 Terpusat pada kawasan pemukiman
4 Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
5 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi gerakan
tanah/longsor

4. Panti Sosial/Panti Asuhan/Panti 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
Jompo/Penitipan Anak gerakan tanah /longsor
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
PERUNTUKAN LINDUNG DI LUAR
NO KAWASAN PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG PENGATURAN
RUANG KAWASAN HUTAN
(PD 1)
(PD 2)
KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

5. Tempat Pemakaman Umum,Tempat 20 % (A) 10 % (A) - Lokasi berada di kecamatan sesuai dengan perencanaan TPU Pemerintah
Pemakaman Bukan Umum Daerah
- Khusus untuk TPBU dibatasi pada lokasi tertentu sesuai dengan kebijakan dan
kajian teknis
- Untuk kegiatan Krematorium dan tempat penyimpanan abu jenazah harus
berada pada lokasi TPBU
- Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan
perundang-undangan

6. Fasilitas Olahraga 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

7. Fasilitas Pemerintahan 40 % 12 Meter 40 % 12 Meter khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

8. Fasilitas Peribadatan 40 % 12 Meter 60 % 12 Meter Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat

9. Tempat Pengolahan Sampah (A) (A) (A) (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Akhir dan Pengolahan Sampah ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
Terpadu ketentuan perundang-undangan
2 Tidak berada pada lokasi rawan bencana/ bahaya geologi
3 Tidak berada pada daerah formasi batu pasir, batu gamping, atau dolomit
berongga dan batuan berkekar lainnya (jointed rocks).
4 Kemiringan zona < 20 %
5 Memiliki jarak minimal dengan :
a. Jalan : 500 meter
b. Sungai/saluran : 500 meter
c. Permukiman : 500 meter
d. Lapangan terbang : 3000 meter
6 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

c. Utilitas Umum - Jaringan Transmisi Listrik, Gardu dan (A) (A) (A) (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Jaringan Distribusi Listrik, Jaringan ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
Gas Alam, Jaringan Telekomunikasi/ ketentuan perundang-undangan
Tower, Jaringan Irigasi, Jaringan air 2 Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
bersih,Jalan Usaha Tani, dan 3 Untuk jaringan telekomunikasi/tower dan sejenisnya harus mendapat
Jaringan/Fasilitas Transportasi persetujuan warga sekitar radius minimal 200 meter.
4 untuk BTS diarahkan pada pemanfaatan secara bersama (lebih dari 3
operator)
5 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

d. Industri 1. Agroindustri pengolahan hasil pertanian 40 % 12 Meter - - 1 Diluar prioritas kawasan puncak
2 Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
3 Lokasi terintegrasi dengan pemukiman/pertanian
4 Berbasis pada pemberdayaan masyarakat sekitar dan sumber daya alam
setempat
5 Diarahkan pada industri pengolahan dengan bahan baku lokal
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
PERUNTUKAN LINDUNG DI LUAR
NO KAWASAN PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG PENGATURAN
RUANG KAWASAN HUTAN
(PD 1)
(PD 2)
KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2. Industri Kecil Non B3 40% 12 Meter 30% 12 Meter Khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

e. Usaha Jasa Pariwisata 1. Usaha jasa pertemuan 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Memiliki potensi alam dan budaya
2. jasa informasi pariwisata 2 Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada
perkampungan yang telah ada
3 Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor

f. Pengusahaan obyek dan 1. Obyek dan daya tarik wisata alam, antara lain : 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Memiliki potensi alam dan budaya
daya tarik wisata a. Taman satwa 2 Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada
b. pemandian alam perkampungan yang telah ada
3 Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor

2. Obyek dan daya tarik wisata budaya, antara lain : 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Memiliki potensi alam dan budaya
a. Museum 2 Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada
b. Taman budaya perkampungan yang telah ada
c. Sanggar seni 3 Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
d. rekreasi dan hiburan umum, (gelanggang 4 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
renang, padang golf, arena latihan golf, gerakan tanah/longsor
kolam pemancingan, gelanggang permainan,
salon kecantikan, balai pertemuan umum,
pentas pertunjukkan wisata, sarana olahraga)

3. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, antara lain : 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Memiliki potensi alam dan budaya
a. Obyek wisata agro, wisata tirta, wisata gua, 2 Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada
b. Wisata Tirta perkampungan yang telah ada
c. Wisata Gua 3 Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
d. Ekowisata 4 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor

g. Usaha sarana pariwisata 1. Penyediaan akomodasi, antara lain : 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Memiliki potensi alam dan budaya
a. pondok wisata, 2 Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada
b. Bungalow/Cottage, perkampungan yang telah ada
c. Resort, 3 Tidak merubah bentang alam dan
d. Villa, buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
e. Wisma, 4 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
f. Pesanggrahan, gerakan tanah/longsor
g. Rumah Peristirahatan
h. Bumi perkemahan

h. Pertanian 1. Budidaya Pertanian 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter

2. Agrowisata 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
2 Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan untuk wisata berupa
persawahan dan perikanan
3 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
PERUNTUKAN LINDUNG DI LUAR
NO KAWASAN PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG PENGATURAN
RUANG KAWASAN HUTAN
(PD 1)
(PD 2)
KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

i. Perikanan Budidaya perikanan Air Tawar dan Ikan Hias 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 berlaku hanya untuk kolam dengan
konstruksi bangunan permanen (batu bata)
2 khusus PD2 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah /longsor

j. Peternakan 1. Ternak Ruminasia 40% 8 Meter 20 % 8 Meter 1 jarak (buffer) bangunan dengan permukiman minimal min 100 m
2 buffer ditanami dengan tanaman yang berfungsi mengurangi polusi bau

2. Ternak Unggas 40% 8 Meter 20% 8 Meter 1 bangunan tdk permanen 40 % bangunan permanen 20 %
2 bangunan tdk permanen 30 % bangunan permanen 10 %
3 jarak (buffer) bangunan dengan permukiman minimal 100 m

3. Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) 40% 8 Meter 20 % 8 Meter 1 jarak (buffer) bangunan dengan permukiman minimal 100 m
2 Luas lahan minimal 10.000 M2

4. Rumah Potong Hewan Unggas (RPH-U) 40% 8 Meter - - jarak (buffer) bangunan dengan permukiman minimal 100 m

5. Penangkaran Hewan 40 % 8 Meter - - 1 Layak secara teknis peternakan jarak (buffer) bangunan dengan
permukiman minimal 100 m

6. Burung Walet/Kapinis 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 tidak mengganggu permukiman sekitar


2 jarak dengan bangunan sekitar minimal 10 m

7. Balai Kesehatan Hewan 40 % 12 Meter - - 1 Layak secara teknis peternakan


2 jarak (buffer) bangunan dengan permukiman minimal 100 m

k. Energi dan Sumber 1. Pertambangan batubara, mineral logam, mineral 30 % (A) 20 % (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan
Daya Mineral bukan logam dan mineral batuan ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
2 Memiliki potensi (deposit) yang secara teknis, ekonomis dan
lingkungan layak tambang
3 jarak minimal (buffer zone) akan disesuaikan dengan jenis dan
metode penambangan yang di atur oleh instansi terkait.
4 Menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil) untuk keperluan
rehabilitasi / reklamasi lahan bekas pertambangan.
5 Pasca penambangan lahan direklamasi kembali kepada fungsi
semula atau dimanfaatkan untuk fungsi lainnya
6 Emplasemen pada kegiatan pertambangan 5 % dari luas lahan dan
KDB dihitung dari emplasemen
7 Emplasemen pertambangan, meliputi: Kantor, Pos Jaga, Rumah
Tinggal Karyawan (Mess), Klinik Kesehatan, Jalan di areal tambang,
Tempat Pengolahan Hasil Tambang, Instalasi Pengolahan Limbah,
Gudang dan Bengkel

2. Bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air 30 % (A) 20 % (A) - Emplasemen pada kegiatan pertambangan 5 % dari luas lahan dan
(Mikrohidro/Minihidro/pikohidro) KDB dihitung dari emplasemen

3. Bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi 30 % (A) 20 % (A) - Emplasemen pada kegiatan pertambangan 5 % dari luas lahan
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN
PERUNTUKAN LINDUNG DI LUAR
NO KAWASAN PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN LINDUNG PENGATURAN
RUANG KAWASAN HUTAN
(PD 1)
(PD 2)
KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

4. Bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas/Uap/ 30 % (A) 20 % (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
Diesel/Biomas/Terbaharukan ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
2 Emplasemen pada kegiatan pertambangan 5 % dari luas lahan
dan KDB dihitung dari emplasemen.
3 Khusus untuk pembangkit tenaga listrik terintergrasi dengan jenis kegiatan
yang telah ada.

5. Pemanfaatan Air Tanah (A) (A) (A) (A) 1 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan
ketinggian sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
2 pengambilan air tanah untuk non rumah tangga hanya boleh
menyadap aquifer> 40 bmt
3 Pengambilan air tanah untuk kebutuhan non rumah tangga
hanya boleh dilakukan pada zona aman, yaitu daerah penurunan
muka air tanah < 40 % atau penurunan kualitas yang ditandai dengan
kenaikan salinitas kurang dari 1000 liter/cm
4 Pengambilan air tanah untuk kebutuhan non rumah tangga
pada zona rawan hanya dibolehkan dengan debit terbatas setelah
melalui kajian teknis yang ketat
5 Kontruksi bangunan turap tidak melebihi ketinggian muka air semula
dan tekanan air pada bangunan turap tidak mengurangi debit
kemunculan air semula.
6 Garis sempadan mata air ditetapkan sekurang-kurangnya dengan
radius 200 meter disekitar air.

6. Bangunan Pengolahan Air 40 % 12 Meter 10 % 12 Meter 1 Terbatas pada kegiatan pengolahan air air baku melalui pipanisasi
Curah / AMDK untuk keperluan non rumah tangga (AMDK)
2 Sumber air tidak boleh dikuasai baik oleh perorangan atau badan
hukum
3 Pemanfaatan sumber air tidak mengurangi kualitas infrastruktur
yang ada
4 Bangunan jauh dari sumber air dan harus menggunakan pipanisasi
5 Kegiatan harus terlayani jalan Kolektor

7. Rest Area 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 berada pada fungsi jalan arteri primeri dan kolektor
2 luas lahan SPBU di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang
terletak di jalan dengan fungsi primer minimal 10.000 M
3 memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25
Meter

8. Rest Area (Non SPBU) 40 % 12 Meter 20 % 12 Meter 1 berada pada fungsi jalan arteri primer dan kolektor
2 luas lahan rest area di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang
terletak di jalan dengan fungsi primer minimal 5.000 M
3 memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25
Meter
E. PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN PERMUKIMAN PERKOTAAN

STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2.3.2. Permukiman 1. Fungsi Utama Kawasan :


Perkotaan
Permukiman : 1. Rumah Tinggal, Rumah Kontrakan 60% 12 Meter 40% 12 Meter 30% 12 Meter 1. Khusus Pp 3 terbatas pada bangunan tunggal dengan fasilitas pendukungnya
/Rumah Karyawan/Mess 2. Pada kawasan puncak dilarang mengembangkan rumah deret
3. tidak mengarah kepada kegiatan pembangunan perumahan
4. tidak untuk rumah komersial (kecuali rumah kontrakan, rumah kost, mess)
5. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor

2. Perumahan 60% 12 Meter 50% 12 Meter 40% 12 Meter 1. Luas Lahan minimal 2500 M dengan jumlah unit rumah minimal 15 unit
2. penyediaan lahan fasos/fasum seluas 12%
3. Terlayani jalan yang terintegrasi dengan jaringan jalan Nasional/Provinsi/Kabupaten, kecuali
untuk akses jalan baru dengan kelas jalan kecil harus memiliki Rumija minimal 9 m.
4. Tidak berada pada lokasi sempadan situ, sempadan sungai dan sempadan daerah irigasi
5. Untuk pengembangan perumahan pada Pp3 ditentukan berdasarkan pertimbangan
teknis/daya tampung dan daya dukung lingkungan
6. Khusus pada Pp3 Penyediaan RTH minimal 5% diluar alokasi fasos/fasum
7. Pada peruntukkan ruang Pp2, Pp3 di Kawasan Puncak dilarang mengembangkan
perumahan
8. penyediaan lahan fasos/fasum wajib diletakkan pada lokasi strategis (centris)
9. Menyediakan lahan pemakaman sebesar 2% dari luas tanah yang dimiliki terletak di
kecamatan setempat dan atau kecamatan sekitarnya yang lokasinya sesuai dengan
perencanaan TPU Pemerintah Daerah .
10. Untuk ketinggian bangunan lebih dari 12 m diatur menurut ketentuan bangunan tinggi
11. wajib menyediakan lahan untuk Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS)
12. Untuk pengembangan perumahan pada lingkungan peternakan harus membuat buffer dari batas persil
tanah terluar sesuai kajian dan ketentuan yang berlaku.
13. Luas kavling minimal 60 m2
14. Jalan masuk utama minimal ROW 7 m, dan jalan lingkungan Perumahan minimal ROW 6 m
15. Pengaturan pada CIBINONG RAYA (Kecamatan Cibinong, Citeureup, Bojong Gede, Sukaraja, Tajur
Halang, Babakan Madang) sebagai berikut :
a. Luas kavling minimal 84 m2
b. Untuk penyediaan lahan fasos/fasum dengan luasan besar disesuaikan dengan rencana
pengembangan wilayah
c. Jalan masuk utama minimal ROW 8 m, dan jalan lingkungan Perumahan minimal ROW 7 m
16. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor

3. Kondominium/Kondotel/Apartemen 40% (A) 40% (A) 30% (A) 1. Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor
3. Pada peruntukan ruang Pp2, Pp3 di Kawasan Puncak dilarang mengembangkan
Kondominium/Kondotel/Apartemen

4 Rumah Susun Sederhana Sewa/Rumah Susun 50 % (A) 40 % (A) 30 % (A) 1. Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Sederhana Milik kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. menyediakan IPAL komunal
3. membuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan
4. menyediakan penangkal petir
Pada peruntukkan ruang Pp2, Pp3 di Kawasan Puncak dilarang mengembangkan
perumahan
5. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2. Penunjang Fungsi utama


Kawasan :
a Jasa perdagangan/Komersil 1. Ruko/Rukan, Minimarket/Toko 60 % (A) 50 % (A) 40 % (A) 1. Pada Kawasan Puncak terbatas pada bangunan tunggal (bukan deret)
2. Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
3. menyediakan IPAL komunal
4. mebuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan
5. menyediakan penangkal petir
6. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor

2. Super Market (Mall) / Pertokoan Besar / Perniagaan 80 % (A) 60 % (A) - - 1. Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Terpadu kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Terlayani oleh jalan dengan fungsi arteri dan kolektor
3. menyediakan IPAL komunal
4. mebuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan
5. menyediakan penangkal petir
6. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor

3. Pasar Tradisional 80 % (A) 60 % (A) 40 % (A) 1. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
2. Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
3. khusus PP3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah /longsor

4. Gedung Parkir Kendaraan 80 % (A) 60 % (A) 40 % (A) Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Bermotor kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

5. Perkantoran 60 % (A) 50 % (A) 40 % (A) Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

6. Perbengkelan Besar dan 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % (A) 1. Perbengkelan menengah dan besar tidak menyatu dengan permukiman
Menengah 2. GSB dan GSS sesuai dangan peraturan perundang-undangan
3. menyediakan IPAL komunal
4. mebuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan
5. menyediakan penangkal petir

7. Perbengkelan Kecil (workshop) 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter -

8. Pergudangan Skala Wilayah 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
2. tidak berdekatan dengan fasilitas pendidikan, kesehatan dan keagamaan

9. Pergudangan Skala Kota/Lokal 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

10. SPBU 80 % 12 Meter 70 % 12 Meter 60 % 12 Meter 1. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
2. untuk SPBU yang berada di jalan arteri perlu dilengkapi dengan fasilitas
pendukung/penunjang lainnya
3. Khusus pada Kawasan Puncak dilarang untuk pengembangan baru dan terbatas pada ijin
yang sudah ada

11. Rest Area 70 % 12 Meter 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 1. berada pada fungsi jalan primer (arteri dan kolektor)
2. luas lahan SPBU di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer minimal 10.000 M memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau
SUTET minimal berjarak 25 Meter
3. Menyediakan IPAL komunal

12. Rest Area (Non SPBU) 40 % 12 Meter 40 % 12 Meter 30 % 12 Meter 1. berada pada fungsi jalan primer (arteri dan kolektor)
2. luas lahan rest area di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer minimal 5.000 M
3. memiliki garis sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter
4. Menyediakan IPAL komunal

13. SPPBG/SPBE/SPPBE (Elpiji) 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. memiliki jarak (garis sempadan) terhadap permukiman minimal 25 m (buffer) dari batas
lahan
2. Terlayani oleh jalan dengan fungsi arteri dan kolektor sesuai dengan ketentuan peraturan
dan perundangan yang berlaku

14. Showroom/Galeri 60 % (A) 50 % (A) 40 % 12 Meter (A) Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

15. Diklat dan Balai Latihan Kerja/ 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. khusus pemanfaatan ruang Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
Penelitian gerakan tanah/longsor.
2. Untuk ketinggian lebih dari 12 meter diberlakukan pengaturan bangunan tinggi (highrise
building) dan pada lokasi yang telah ditetapkan untuk bangunan tinggi
3. Menyediakan IPAL komunal

16. Terminal Agribisnis, 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 50 % 12 Meter - khusus pemanfaatan ruang Pp3 :
a. Lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah/longsor
b. Tembok pagar depan Minimal 10 - 15 m dari as jalan

17. Terminal Peti Kemas 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. Huruf (A) pada kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. khusus pemanfaatan ruang Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor.

18. Station Penyiaran Radio/TV 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter - khusus pemanfaatan ruang Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor.
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

19. Gedung Pertemuan 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter khusus pemanfaatan ruang Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan
gerakan tanah/longsor.

b Utilitas Umum Jaringan Transmisi Listrik, Gardu dan (A) (A) (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
Jaringan Distribusi Listrik, Jaringan dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan
Gas Alam, Jaringan Telekomunikasi/ 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll.)
Tower, Jaringan Irigasi, Jaringan air 3. Untuk jaringan telekomunikasi/tower dan sejenisnya harus mendapat persetujuan warga
bersih,Jalan Usaha Tani, dan sekitar radius minimal 200 meter.
Jaringan/Fasilitas Transportasi 4. khusus Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah
/longsor
5. untuk BTS diarahkan pada penggunaan secara bersama (lebih dari 3 operator)

c Fasilitas Umum/Sosial 1. Rumah Sakit 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. Jika melebihi 12 m, masuk kepada kategori Pengaturan Bangunan tinggi / Highrise building
2. Garis sempadan bangunan minimal 25 m dari as jalan
3. menyediakan IPAL komunal
4. membuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan
5. menyediakan penangkal petir

2. Poliklinik/Balai 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter Pembangunan rumah sakit, poliklinik/balai pengobatan/puskesmas,terminal/stasiun kereta
Pengobatan/puskesmas api, fasilitas pendidikan disesuaikan dengan ketentuan aturan yang berlaku (Norma,
standar, pedoman dan manual)

3. Terminal/Stasiun Kereta Api 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter -

4. Fasilitas Pendidikan 60 % (A) 50 % (A) 40 % (A) 1. TK, SD, SMP, SMU, ponpes : Menyediakan tempat bermain / lapangan Serba Guna
(Olah Raga, Upacara dan Lapangan bermain)
2. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten
3. tidak berbatasan langsung dengan pusat-pusat keramaian (hotel, pusat perbelanjaan,
terminal dan pusat hiburan)
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

5. Panti Sosial/Panti Asuhan/Panti 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. khusus Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah
Jompo/Penitipan Anak /longsor
2. tidak berada pada daerah keramaian
3. menyediakan IPAL komunal
4. mebuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan

6. Taman Pemakaman Umum 30 % 12 Meter 20 % 12 Meter 10% 12 Meter 1. Untuk TPU lokal harus berada di wilayah Kecamatan
2. untuk TPU skala regional lokasi harus mengikuti peraturan perundang-undangan
3. Untuk kewajiban cadangan tanah makam yang disediakan oleh Pengembang Perumahan
harus berada disekitar lokasi pengembangannya / masih di wilayah Kecamatannya atau di
sekitar Kecamatan yang berbatasan

8. Fasilitas Pemerintah 60 % (A) 50 % (A) 40 % (A) 1 Penempatan bangunan diawali dari garis terluar lahan belakang minimal 4 m
2 Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

9. Fasilitas Peribadatan 60 % 12 Meter 60 % 12 Meter 60 % 12 Meter Penempatan bangunan diawali dari garis terluar lahan belakang minimal 4 m

10. Tempat Pengolahan Sampah (A) (A) (A) (A) (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
Akhir dan Pengolahan Sampah dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan
Terpadu 2. Tidak berada pada lokasi rawan bencana/ bahaya geologi
3. Tidak berada pada daerah formasi batu pasir, batu gamping, atau dolomit berongga dan
batuan berkekar lainnya (jointed rocks). Kemiringan zona < 20 %
4. Khusus TPST (tempat Pengolahan Sampah terpadu) melalui kajian teknis
5. Memiliki jarak minimal dengan :
a. Jalan : 500 meter
b. Sungai/saluran : 500 meter
c. Permukiman : 500 meter
d. Lapangan terbang : 3000 meter
6. khusus Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan
tanah/longsor

11. Bangunan Sarana Gas Alam 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 Meter 1. khusus Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan tanah
/longsor
2. Penempatan jaringan pipa sesuai dengan ketentuan teknis

12. Bangunan Sarana 60% (A) 50% (A) 40 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Telekomunikasi kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan
2. luas lahan maksimal 200m2
3. Ada persetujuan warga sekitar tower dengan radius sebanding dengan tinggi tower
4. Khusus tower diatas bangunan gedung harus mendapat persetujuan warga sekitar tower
dan sesuai ketentuan teknis bangunan gedung
5. Pemanfaatan tower bersama harus menggunakan tower yang sudah ada
6. khusus Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan
tanah/longsor

d Industri Industri 60 % 12 Meter 50 % 12 Meter 40 % 12 meter 1. untuk kegiatan industri menengah dan besar terbatas yang telah mendapat izin sebelum
ketentuan ini berlaku, dan tidak diperkenankan untuk melakukan pengembangan kegiatan.
2. Pengembangan industri baru pada ruang Pp3 dimungkinkan pada kawasan yang sudah
teraglomerasi, dan terbatas pada Kecamatan Citeureup, Babakan Madang dan Klapanunggal
untuk industri pengolahan, perakitan (Non Polutif)
3. GSB dan GSS sesuai dangan ketentuan perundang-undangan
4. Non polutif dan tidak mengandung/menghasilkan limbah B3
5. Untuk industri AMDK tidak diperkenankan menggunakan air tanah sebagai bahan baku
6. Khusus kawasan Puncak (Kec. Cisarua, Megamendung, Ciawi) tidak diperkenankan adanya
kegiatan industri (kecuali industri rumah tangga, kerajinan, cinderamata, industri hasil pertanian)

e Usaha Jasa Pariwisata 1. Biro perjalanan wisata 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
2. agen perjalan wisata 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan
3. Usaha jasa pertemuan 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 2. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4. jasa impresariat 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 3. Kegiatan pertanian (agro) yang dikembangkan harus mendukung terhadap peningkatan
5. jasa informasi pariwisata 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) kegiatan pertanian
4. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
5. Khusus di kawasan strategis pariwisata, dimungkinkan usaha sarana pariwisata dengan
kajian teknis dan lingkungan hidup
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

f Pengusahaan obyek dan 1. Obyek dan daya tarik wisata alam, antara lain : 20 % (A) 10 % (A) 10 % (A) 1. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
daya tarik wisata a. Taman hutan raya 2. emplasemen maksimal 5% dari luas lahan dan KDB dihitung dari luas emplasemen
b. Taman satwa 3. Melakukan penanaman tanaman yang dapat menyimpan air dan bernilai ekonomis

2. Obyek dan daya tarik wisata budaya, antara lain : 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 1. Memiliki potensi alam dan budaya
a. Musium 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada perkampungan yang telah
b. Taman budaya ada
c. Sanggar seni 3. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
d. Rekreasi dan hiburan umum 4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
(arena latihan golf, kolam pemancingan, kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.
gelanggang permainan, salon kecantikan,
balai pertemuan umum, pentas pertunjukan
wisata,dan sarana olahraga)

3. Obyek dan daya tarik wisata minat khusus, antara lain : 20 % (A) 20 % (A) 20 % (A) 1. Memiliki potensi alam dan budaya
Obyek wisata agro, dan wisata tirta. 2. Bangunan penunjang kegiatan wisata alam/budaya berada pada perkampungan yang telah
ada
3. Tidak merubah bentang alam dan buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan.

g Usaha sarana pariwisata 1. Penyediaan akomodasi, 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 1. khusus Pp3 lokasi berada pada daerah yang tidak terindikasi rentan gerakan
a. Hotel dan fasilitas penunjang tanah/longsor
b. Pondok wisata 2. Untuk ketinggian lebih dari 12 meter diberlakukan pengaturan bangunan tinggi (highrise
c. Bungalow/Cottage building) dan pada lokasi yang telah ditetapkan untuk bangunan tinggi
d. Resort, Villa, 3. menyediakan IPAL komunal
e. Wisma, Pesanggrahan, Rumah Peristirahatan 4. mebuat sumur resapan sesuai dengan kebutuhan
f. Bumi perkemahan 5. menyediakan penangkal petir
6. Bangunan tipe tunggal dengan bangunan
2. Penyediaan makan dan minum 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) fasilitas penunjangnya
Restoran, Rumah makan, dan jasa boga 7. untuk kawasan puncak khususnya di sepanjang jalan kolektor primer puncak dimungkinkan untuk
diberikan KDB hingga 40 %
3. Kegiatan penyelenggaraan kawasan pariwisata, antara lain : 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 8. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
a. Wisata Kuliner kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan, sedangkan
b. Wisata belanja untuk kawasan puncak ketinggian bangunan maksimal 20 Meter

h Pertanian Aneka Usaha Pertanian 60 % 12 Meter 40 % 12 Meter 30 % 12 Meter -

i Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar/Ikan Hias 60 % 12 Meter 40 % 12 Meter 30 % 12 Meter - Pada daerah yang memiliki/tersedia air
yang cukup berkelanjutan Budidaya ikan dapat dikembangkan

1. pada peruntukan Pp1 dan Pp2 terbatas bagi RPH yang telah memiliki izin

2. pada peruntukan Pp3 wajib Memenuhi persyaratan teknis RPH sesuai dengan SNI dan ketentuan
j Peternakan 1. Rumah Potong Hewan - - - - 50 % 12 Meter peraturan perundang-undangan
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

2. Peternakan 30 % - 30 % - 30 % 12 Meter 1. Pengembangan peternakan pada ruang Pp1, Pp2 dan Pp3 dimungkinkan dengan
persyaratan sebagai berikut :
a. Peruntukkan Pp1 dan Pp2
1) Terbatas Pada lokasi yang sudah memiliki ijin
2) Menjaga terjadinya pencemaran (udara dan air) yang mengganggu lingkungan sekitar
3) Tidak melakukan perluasan usaha
4) Pelaksanaan pembangunan dan operasional berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan
5) Waktu operasionalnya dibatasi berdasarkan kajian yang dilakukan oleh tim teknis
yang anggotanya terdiri dari Dinas Peternakan dan perikanan serta SKPD terkait.
b. Peruntukkan Pp3
1) Membuat Buffer dari lokasi yang dimohon berdasarkan kajian teknis
2) Menjaga terjadinya pencemaran (udara dan air) yang mengganggu lingkungan sekitar
3) Membuat pagar di sekeliling lokasi peternakan dengan minimal tinggi 3 m
4) Pelaksanaan pembangunan dan operasional berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan
c. Jika pemegang ijin melanggar persyaratan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b
maka harus merelokasi kegiatannya.
2. Kebutuhan pada perluasan usaha yang sudah berjalan dan untuk perluasan itu telah
diperoleh ijin perluasan usaha sesuai ketentuan yang berlaku, sedangkan letak tanah
tersebut berbatasan dengan lokasi usaha yang bersangkutan.
3. Tanah yang akan diperoleh merupakan tanah yang sudah dikuasai oleh perusahaan lain
dalam rangka melanjutkan pelaksanaan sebagian atau seluruh rencana penanaman modal
perusahaan lain tersebut dan untuk itu telah diperolah persetujuan dari instansi yang
berwenang
4. permukaan tanah ditanami dengan tanaman yang berfungsi menahan air larian

k Energi dan Sumber Daya 1. Pembangkit Listrik Tenaga 60 % (A) 40 % (A) 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
Mineral Gas/Uap/Diesel/Biomas/ sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
Terbaharukan 2. Khusus untuk pembangkit listrik terintergrasi dengan perumahan, perkantoran
ataupun penunjang pemanfaatan lainnya yang diperbolehkan di permukiman
perkotaan terintergrasi dengan perumahan, perkantoran ataupun penunjang
pemanfaatan lainnya yang diperbolehkan di permukiman perkotaan
3. Terbatas pada lahan yang jenis kegiatannya telah memiliki perijinan Ijin
Lokasi/IPPT, Site Plan dan IMB
4. Tidak berada pada lokasi rawan bencana geologi

2. Pertambangan bahan galian non strategis dan non (A) (A) (A) (A) (A) (A) 1. Khusus untuk pengangkutan bahan galian strategis dalam rangka penataan lahan
vital dan fasilitas punjang serta pengolahannya untuk kegiatan non pertambangan
(komoditas batuan dan mineral bukan logam) 2. Kegiatan pertambangan khusus untuk yang telah memiliki ijin dan melakukan
perpanjangan ijin sampai dengan depositnya habis terbatas di dalam kawasan
permukiman perkotaan kepadatan rendah
3. Khusus untuk pembangunan kawasan perumahan dalam sekala besar yang diwajibkam
membuat kolam reservoar air
4. Reklamasi lahan bekas penambangan harus mendukung fungsi kawasan
5. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
STANDAR TEKNIS
DI DALAM KAWASAN
DI LUAR KAWASAN LINDUNG LINDUNG DILUAR KAWASAN
HUTAN
PENGATURAN
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
PERMUKIMAN PERKOTAAN
KEPADATAN TINGGI KEPADATAN SEDANG
KEPADATAN RENDAH (Pp 3)
(Pp 1) (Pp 2)

KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN KDB KETINGGIAN

3. Pemanfaatan Air Tanah (A) (A) (A) (A) (A) (A) 1. pengambilan air tanah untuk non rumah tangga hanya boleh
menyadap aquifer> 40 bmt
2. Pengambilan air tanah untuk kebutuhan non rumah tangga
hanya boleh dilakukan pada zona aman, yaitu daerah penurunan
muka air tanah < 40 % atau penurunan kualitas yang ditandai dengan
kenaikan salinitas kurang dari 1000 liter/cm
3. Pengambilan air tanah untuk kebutuhan non rumah tangga
pada zona rawan hanya dibolehkan dengan debit terbatas setelah
melalui kajian teknis yang ketat
4. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian
sesuai dengan kebutuhan dan kajian teknis
F. PEDOMAN OPERASIONAL PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN INDUSTRI

STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN

KDB KETINGGIAN

2.4. INDUSTRI : 2.4.1. INDUSTRI (IN) 1. Fungsi Utama Kawasan : 1. Kawasan Industri 1. Ketinggian bangunan diatas 12 meter perlu memperoleh kajian teknis bangunan sesuai
Industri 80 % (A) ketentuan yang berlaku
80 % (A) 2. Pengelolaan limbah industri harus dikelola secara kolektif menggunakan IPAL Komunal
80 % (A) 3. Proporsi penggunaan tanah adalah 60 % untuk efektif kavling dan 40%
untuk PSU
80 % 12 meter 4. Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai yang dikelola oleh pengelola kawasan sesuai
ketentuan yang berlaku

2. Industri 60 % 12 meter 1. Ketinggian bangunan diatas 12 meter perlu memperoleh kajian teknis bangunan sesuai
ketentuan yang berlaku
2. menyediakan sarana pengelolaan limbah yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku

2. Penunjang Fungsi Utama


Kawasan :
-
a. Perbengkelan 1. Perbengkelan 60 % 12 Meter

2. Showroom 60 % 12 Meter -

b. Pergudangan Pergudangan 60 % 12 Meter -

c. Utilitas Umum Jaringan Transmisi Listrik, Gardu dan (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
Jaringan Distribusi Listrik, Jaringan dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan persetujuan Menteri Kehutanan/pejabat
Gas Alam, Jaringan Telekomunikasi/ berwenang
Tower, Jaringan Irigasi, Jaringan Air Bersih, 2. Tidak merubah bentang alam atau buatan (sungai, irigasi, jalan dll)
Jalan Usaha Tani, dan Jaringan/Fasilitas 3. Untuk jaringan telekomunikasi/tower dan sejenisnya harus mendapat persetujuan warga
Transportasi sekitar dan ketentuan lain yang berlaku dari instansi pemerintah yang berwenang (instansi
yang berwenang ini terkait dengan zona terbang Lanud TNI AU)
4. untuk BTS diarahkan pada penggunaan secara bersama (lebih dari 3 operator)

d. jasa 1. Laundry 40 % 12 Meter - Dilengkapi IPAL/WWT

2. Pool/Parkir Kendaraan 60 % 12 Meter - dirancang untuk memenuhi kebutuhan bersama (pengisi kawasan)

e. Permukiman 1. Rumah Tinggal Penduduk 60 % 12 Meter - pembangunan bangunan rumah tinggal dibatasi pada permukiman yang sudah ada

2. Rumah Susun, Apartemen 40 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

3. Ruko/Rukan 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

4. Rumah Kontrakan / sewa 60 % 12 Meter


STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN

KDB KETINGGIAN

f Jasa perdagangan/Komersil 1. Minimarket/Toko 60 % 12 Meter - Terlayani/terletak pada jaringan jalan kabupaten/jalan


lingkungan

2. Gedung/Lahan Parkir Kendaraan 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Bermotor kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

3. Perkantoran (Bank/Kantor Swasta, dll) 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

4. SPBU 80% 12 Meter 1 Berada pada jalan nasional, propinsi, dan kabupaten
2 Luas lahan SPBU di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
nasional atau propinsi minimal 10.000 m2
3 Jarak dari tegangan tinggi minimal 20 meter

5. SPPBG/SPPBE 80% 12 Meter 1 Memiliki Garis Sempadan, terhadap SUTT atau SUTET minimal berjarak 50 meter
2 Jarak bangunan dari jalan raya minimal 100 m dari as jalan

6. Rumah Makan/Restoran 60 % 12 Meter -

7. Diklat dan Balai Latihan Kerja/ 60 % 12 Meter - Sebagai penunjang kegiatan Industri
Penelitian

8. Hotel/Penginapan/Wisma 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

9. Terminal Peti Kemas 60 % 12 Meter -

g Fasilitas Umum/Sosial 1. Rumah Sakit 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

2. Poliklinik / Balai 60 % 12 Meter -

3. Pengobatan/puskesmas 60 % 12 Meter -

4. Terminal/Station Kereta Api 60 % 12 Meter -

5. Pendidikan / Sekolah 60 % 12 Meter -


STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN

KDB KETINGGIAN

6. Panti Sosial 60 % 12 Meter -

7. Sarana Olahraga 60 % 12 Meter -

8. Kantor dan Sarana Pemerintah 60 % 12 Meter -

9. Sarana Peribadatan 60 % 12 Meter -

10. Tempat Pengolahan Sampah Akhir dan (A) (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan KDB dan ketinggian sesuai
Pengolahan Sampah Terpadu dengan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

11. Bangunan Sarana Telekomunikasi 60 % 12 Meter 1. Tidak berada pada daerah formasi batu pasir, batu gamping, atau dolomit berongga dan
batuan berkekar lainnya (jointed rocks).
2. Kemiringan zona < 20 %

h Pertambangan dan Energi 1. Pembangkit Listrik Tenaga Air 20 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
(Mikrohidro/Minihidro/pikohidro) kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

2. Pembangkit Listrik Tenaga 20 % (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
Gas/Uap/Diesel/Biomas/ Terbaharukan kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan
(bangunan pembangkit, gardu, trafo, jaringan 2. Khusus untuk pembangkit listrik terintergrasi dengan perumahan, perkantoran ataupun
transmisi dan distribusi, dan fasilitas penunjang penunjang femanfaatan lainnya yang diperbolehkan di kawasan industri
lainnya)

3. Pengolahan Hasil Tambang 60 % 12 Meter - Diperuntukan bagi kegiatan pengolahan hasil tambang di luar area KP/SIPD Eksploitasi

4. Pertambangan mineral bukan logam dan batuan - - 1. Terbatas pada lahan yang jenis kegiatannya telah telah memiliki perizinan sesuai ketentuan
dalam rangka penataan lahan untuk kegiatan perundang-undangan
non pertambangan 2. Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten

2.4.2. Zona Industri (ZI)


1. Fungsi utama Kawasan : 1. Kawasan Industri 80 % 12 meter 1. Terlayani oleh jalan dengan fungsi kolektor primer
industri 2. memiliki jarak (garis sempadan) terhadap permukiman dari batas lahan sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku
3. Ketinggian bangunan diatas 12 meter perlu memperoleh kajian teknis bangunan sesuai
ketentuan yang perundang-undangan
4. Pengelolaan limbah industri harus dikelola secara kolektif menggunakan IPAL Komunal
5. Proporsi penggunaan tanah adalah 60 % untuk efektif kavling dan 40%
untuk PSU
6. Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai yang dikelola oleh pengelola kawasan sesuai
ketentuan yang berlaku

2. Industri 60 % 12 meter 1. Ketinggian bangunan diatas 12 meter perlu memperoleh kajian teknis bangunan sesuai
ketentuan yang berlaku
2. menyediakan sarana pengelolaan limbah yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN

KDB KETINGGIAN

2. Penunjang Fungsi Utama


Kawasan :
a. Bangunan penunjang 1. sarana Kesehatan 60 % 12 Meter -
fungsi zona 2. sarana peribadatan 60 % 12 Meter
3. sarana lingkungan 60 % 12 Meter
4. Utilitas Umum 60 % 12 Meter
5. Mess karyawan 60 % 12 Meter

b Permukiman 1. Rumah Tinggal Penduduk 60 % 12 Meter - pembangunan bangunan rumah tinggal dibatasi pada permukiman yang sudah ada

2. Rumah Susun, Apartemen 40 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

3. Ruko/Rukan 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

4. Rumah Kontrakan / sewa 60 % 12 Meter

c Fasilitas Umum/Sosial 1. Prasarana pendidikan 60 % 12 meter 1. memiliki jarak (garis sempadan) terhadap industri antara 15 - 20 meter
2. Batas antara bangunan sekolah dengan industri dibuat tegas dalam bentuk fisik (jalan
lingkungan / sungai buatan)

2. Perkantoran pemerintah 60 % 12 Meter - memiliki jarak (garis sempadan) terhadap industri antara 15 - 20 meter

d Jasa perdagangan/Komersil 1. Toko, kios, pertokoan 60 % 12 Meter -

2. Pasar modern/swalayan 60 % 12 Meter - Terlayani minimal oleh jaringan jalan kabupaten

3. Perbankan / lembaga keuangan lainnya 60 % (A) - Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

4. Laundry 60 % 12 meter - Dilengkapi IPAL/WWT.

e Utilitas umum 1. SPBU/SPPBE/SPPBG/Rest Area 80 % 12 Meter 1. SPBU pada lokasi yang dinilai strategis dan layak secara teknis, berada minimal dijalur jalan kabupaten
2. Memiliki Garis Sempadan, terhadap SUTT atau SUTET untuk :
a. SPBU jarak 20 meter
b. SPPBE/SPPBG jarak 50 meter

3. Khusus untuk Rest Area :


a. Berada pada fungsi jalan arteri primer dan kolektor.
b. luas lahan SPBU di luar kota yang melayani pergerakan antar kota yang terletak di jalan
dengan fungsi primer disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki garis sempadan
terhadap jalan dan SUTT atau SUTET minimal berjarak 25 Meter
STANDAR TEKNIS
NO KAWASAN PERUNTUKAN RUANG PEMANFAATAN JENIS KEGIATAN PENGATURAN

KDB KETINGGIAN

f Sumber Daya Energi dan 1. Pertambangan mineral non logam dan batuan - - - Terbatas pada lahan yang jenis kegiatannya telah memiliki perizinan sesuai ketentuan
Mineral dalam rangka penataan lahan untuk kegiatan perundang-undangan
non pertambangan

2. Pemanfaatan Air Tanah (A) (A) 1. Huruf (A) di dalam kolom standar teknis adalah penentuan ketinggian sesuai dengan
kebutuhan dan kajian teknis berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
2. Aquifer yang boleh disadap > 40 bmt
3. Pengambilan air bawah tanah untuk kebutuhan non rumah tangga hanya boleh dilakukan
pada zona aman, yaitu daerah penurunan muka air tanah < 40 % atau penurunan kualitas
yang ditandai dengan kenaikan salinitas kurang dari 1000 liter/cm
4. Pengambilan air bawah tanah untuk kebutuhan non rumah tangga pada zona rawan hanya
dibolehkan dengan debit terbatas setelah melalui kajian teknis

BUPATI BOGOR
Wakil,

NURHAYANTI