Anda di halaman 1dari 15

MANAJEMEN KEUANGAN

FUNDAMENTAL CONCEPTS OF CORPORATE FINANCE

Oleh:
MARIA MAGDALENA NI MADE MEILANY SUBADI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
I. AKUNTANSI BAGI MANAJEMEN KEUANGAN
A. Arus Kas Bersih
Arus kas bersih adalah arus kas aktual yang dihasilkan oleh perusahaan selama 1 periode
tertentu. Arus kas penting karena deviden harus dibayarkan secara tunai dan karena kas
diperlukan untuk membeli aktiva yang dibutuhkan untuk melanjutkan operasi. Suatu arus kas
bersih berbeda dari laba akuntansi (laba bersih perusahaan seperti yang dilaporkan pada
laporan laba ruginya) hubungan antara arus kas bersih dan laba bersih dinyatakan sebagai
berikut :
Arus Kas Bersih = Laba Bersih Pendapatan Nonkas + Beban Nonkas

Umumnya, depresiasi dan amortisasi sering kali adalah pos nonkas terbesar, dan
dikebanyakan kasus pos-pos nonkas yang lainnya secara kasar akan saling menghilangkan
menjadi nol. Untuk alasan ini, kebanyakan analis berasumsi bahwa :

Arus Kas Bersih = Laba Bersih + Depresiasi dan Amortisasi

Depresiasi adalah suatu beban nonkas, sehingga harus ditambahkan kembali kelaba bersih
untuk mendapatkan arus kas bersih.

1. Laporan Arus Kas


Faktor yang akan mempengaruhi posisi kas perusahaan dan dilaporkan pada neraca adalah
a. Arus kas
Jika hal-hal lain dianggap konstan, arus kas positif akan mengarah pada lebih banyak
kas di dalam bank.
b. Perubahan dalam modal kerja
Modal bersih didevinisikan sebagai aktiva lancar kewajiban lancar.
c. Aktiva tetap
Jika sebuah perusahaan berinvestasi pada aktiva tetap hal ini akan mengurangi posisi
kasnya. Di sisi lain, penjualan dari aktiva tetap akan meningkatkan kas.
d. Transaksi sekuritas dan pembayaran deviden
Jika sebuah perusahaan menerbitkana saham atau obligasi selama tahun berjalan dana
yang dikumpulakan akan meningkatkan posisi kasnya. Di sisi lain, jika perusahaan
menggunakan kasnya untuk membeli kembali utang atau ekuitas yang masih beredar,
atau membayar deviden kepada sahamnya hal ini akan menurun kas.

Laporan arus kas memisahkan aktivitas-aktivitas menjadi 3 kategori :


1. Aktivitas operasi, meliputi laba bersih, depresiasi, dan perubahan dalam aktiva
lancar dan kewajiban lancar di luar kas dan utang jangka pendek.
2. Aktivitas investasi, meliputi investasi atau penjualan aktiva tetap.
3. Aktivitas pendanaan, meliputi kas yang dihimpun selama tahun berjalan dengan
menerbitkan utang jangka pendek, jangka panjang, atau saham.

B. Memodifikasi Data Akuntansi Untuk Pengambilan Keputusan Manajerial


1) Aktiva Operasi dan Modal Operasi
Untuk menilai kinerja manajerial kita perlu untuk membandingkan kemampuan para
manager dalam mengahasilkan laba operasi (atau EBIT) dengan aktiva operasi yang ada
berada di bawah kendali mereka.
Langkah pertama dalam memodifikasi kerangka kerja akuntansi tradisional adalah dengan
membagi total aktiva menjadi 2 kategori yaitu : Aktiva operasi adalah kas dan sekuritas,
piutang, persediaan, dan aktiva tetap yang dibutuhkan untuk mengoperasikan bisnis. Aktiva
non operasi adalah kas dan sekuritas di atas tingkat yang dibutuhkan untuk operasi normal,
investasi di anak perusahaan, tanah yang dimiliki untuk penggunaan di masa mendatang, dan
aktivasa tidak penting lainnya. Langkah selanjutnya aktiva operasi dibagi lagi menjadi modal
kerja dan aktiva tetap seperti pabrik dan peralatan. Aktiva lancar yang digunakan dalam
operasi disebut sebagai modal kerja operasi. Modal kerja operasi bersih merupakan
seluruh aktiva lancar yang dikurangi seluruh kewajiban yang tidak dikenakan bunga.
2) Laba Operasi Setelah Pajak (NOPAT)
Jumlah laba yang dihasilkan oleh perusahaan jika tidak memiliki utang dan aktiva non
operasi. NOPAT dinyatakan:
NOPAT = EBIT (1-Tarif Pajak)

3) Arus Kas Bebas (FCF)


Arus kas yang benar-benar tersedia untuk didistribusikan kepada seluruh infestor setelah
perusahaan menempatkan seluruh investasinya pada aktiva tetap, produk-produk baru, dan
modal kerja yang dibutuhkan untuk memertahankan operasi yang sedang berjalan.
Menghitung Arus Kas Bebas
FCF =Arus Kas Operasi Infestasi Bruto pada Modal Operasi
FCF =NOPAT Investasi Bersih pada Modal Operasi

C. Market Value Added and Economic Value Added

1. Market Value Added


Menurut Warsono (2003: 47) tujuan utama manajemen keuangan perusahaan adalah
memaksimumkan kemakmuran bagi para pemegang sahamnya. Tujuan ini jelas bermanfaat
bagi para pegang saham biasa, dan itu juga menjamin bahwa sumberdaya yang terbatas
dialokasikan secara efesien. Kemakmuran bagi para pemegang saham dapat dimaksimumkan
dengan memaksimumkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas dengan jumlah modal ekuitas
yang dipasok oleh para investor kepada perusahaan. Perbedaan ini disebut sebagai nilai
tambah pasar (Market Value Added/MVA).
Sedangkan menurut Sartono (2001: 103) tujuan utama perusahaan adalah
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Selain memberi manfaat bagi pemegang
saham, tujuan ini juga menjamin sumber daya perusahaan yang langka dialokasikan secara
efesien dan memberi manfaat ekonomi. Kemakmuran pemegang saham dimaksimalkan
dengan memaksimalkan kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas nilai modal yang
disetor pemegang saham. Kenaikan ini disebut Market Value Added (MVA).
Ruky (1999: 350) menyatakan bahwa MVA adalah hasil kumulatif kinerja
perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang akan
dilakukan. MVA mencerminkan seberapa sukses investasi baru di masa datang.
Manfaat dari MVA disamping untuk mengukur kinerja perusahaan adalah juga untuk
mengukur nilai perusahan yang berhasil diciptakan nilai perusahaan dalam kaitannya dengan
pasar modal akan tampak pada harga saham perusahaan yang bersangkutan.
Sebagian besar perusahaan memiliki tujuan utama untuk memaksimalkan kekayaan
pemegang saham (investor). Tujuan ini jelas menguntungkan pemegang saham, tetapi juga
bermaksud untuk memastikan bahwa sumber daya yang terbatas telah dialokasikan secara
efisien yang menguntungkan perekonomian. Kekayaan pemegang saham akan menjadi
maksimal dengan memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dengan
jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Perbedaan ini disebut nilai tambah pasar
(Market Value Added) (Brigham dan Houston, 2001:150).
Perbedaan antara nilai pasar saham perusahaan dengan jumlah ekuitas modal investor yang
telah diberikan. Brigham and Philip (2007)

MVA= Nilai pasar dari Saham Ekuitas modal yang diberikan oleh pemegang saham
= (saham beredar)(Harga saham) Total ekuitas saham biasa

2. Economic Value Added

Pada dasarnya, pengukuran kinerja keuangan perusahaan bisa dikelompokkan dalam tiga
kategori (Helfert, 2000), yaitu: Earnings Measures, Cash Flow Measures, dan Value
Measures. Value Measures mendasarkan kinerja pada nilai (value based management).
Termasuk dalam kategori ini adalah economic value added (EVA), market value added
(MVA), cash value added (CVA) dan shareholder value (SHV). Metode EVA pertama kali
dikembangkan oleh Stewart & Stern seorang analis keuangan dari perusahaan Stern Stewart
& Co pada tahun 1993. Di Indonesia metode tersebut dikenal dengan metode NITAMI (Nilai
Tambah Ekonomi). EVA/NITAMI adalah metode manajemen keuangan untuk mengukur laba
ekonomi dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta
manakala perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi dan biaya modal (Tunggal
2001). EVA merupakan tujuan perusahaan untuk meningkatkan nilai atau value added dari
modal yang telah ditanamkan pemegang saham dalam operasi perusahaan. Oleh karenanya
EVA merupakan selisih laba operasi setelah pajak (Net Operating Profit After Tax atau
NOPAT) dengan biaya modal (Cost of Capital).
EVA merupakan suatu ukuran kinerja perusahaan yang dapat berdiri sendiri sendiri
tanpa memerlukan ukuran lain baik berupa perbandingan dengan menggunakan perusahaan
sejenis atau menganalisis kecenderungan (trend). Hasil perhitungan EVA mendorong
pengalokasian dana perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah. Sedangkan
menurut Utama (1997:10), manfaat EVA adalah: (1) EVA dapat digunakan sebagai penilaian
kinerja keuangan perusahaan karena penilaian kinerja tersebut difokuskan pada penciptaan
nilai (value creation) (2) EVA akan menyebabkan perusahaan lebih memperhatikan kebijakan
struktur modal .
EVA dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kegiatan atau proyek yang
memberikan pengembalian lebih tinggi daripada biaya-biaya modalnya. Selain manfaat yang
telah dijelaskan diatas, EVA merupakan pengukuran yang sangat penting karena dapat
digunakan sebagai signal terjadinya Financial Distress pada suatu perusahaan (Salmi &
Virtanen, 2001). Jika suatu perusahaan tidak dapat memperoleh profit di atas required of
return, maka EVA akan menjadi negatif, dan hal ini merupakan warning akan terjadinya
Financial Distress bagi perusahaan tersebut.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur EVA, tergantung dari
struktur modal dari perusahaan (Velez, 2000). Secara matematis EVA dapat ditentukan
sebagai berikut :
Nilai yang ditambakan oleh manajemen pada pemegang saham selama satu tahun tertentu.
EVA = NOPAT Biaya modal operasi setelah pajak dalam dolar
= EBIT (1 T) [(Total modal operasi yang diberikan oleh investor) x
(presentase biaya modal setelah pajak)
di mana:
NOPAT = Net Operating Profit After Taxes

Namun, manakala dalam struktur perusahaan terdiri dari hutang dan modal sendiri, secara
matematis EVA dapat dirumuskan sebagai berikut:
EVA = NOPAT (WACC x TA)
di mana:
NOPAT = Net Operating Profit After Taxes
WACC = Weighted Average Cost of Capital
TA = Total Asset (Total Modal)

II. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


Rasio keuangan menjelaskan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah
yang lain dalam suatu laporan keuangan. Tujuan analisis rasio keuangan dimaksudkan agar
perbandingan-perbandingan yang dilakukan terhadap pos-pos dalam laporan keuangan
merupakan suatu perbandingan yang logis, dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu
yang memang telah diakui mempunyai manfaat tertentu pula, sehingga hasil analisisnya layak
dipakai sebagai pedoman pengambilan keputusan.
Menurut Riyanto (2010:331), umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam 4
(empat) tipe dasar, yaitu :
1. Rasio Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya.
2. Rasio Leverage, adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai
dengan hutang.
3. Rasio Aktivitas, adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan
menggunakan sumber dananya.
4. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang mengukur hasil akhir dari sejumlah
kebijaksanaan dan keputusan-keputusan.

A. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk
melunasi semua kewajiban yang harus segera dipenuhi (hutang jangka pendeknya).
Perusahaan yang mempunyai cukup kemampuan untuk membayar hutang jangka pendek
disebut perusahaan yang likuid sedang bila tidak disebut ilikuid. Rasio likuiditas yang umum
dipergunakan untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan antara lain:
1. Current Ratio
Rasio ini membandingkan aktiva lancar dengan hutang lancar. Current Ratio memberikan
informasi tentang kemampuan aktiva lancar untuk menutup hutang lancar. Aktiva lancar
meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan aktiva lainnya. Sedangkan hutang lancar
meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, dan hutang lainnya yang
segera harus dibayar (Sutrisno, 2001:247). Rumus current ratio adalah:

Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan
perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Apabila rasio lancar 1:1 atau 100%
berarti bahwa aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Jadi dikatakan sehat jika
rasionya berada di atas 1 atau diatas 100%. Artinya aktiva lancar harus jauh di atas jumlah
hutang lancar (Harahap, 2002:301)
2. Quick Ratio
Quick ratio disebut juga acid test ratio, merupakan perimbangan antara jumlah aktiva lancar
dikurangi persediaan, dengan jumlah hutang lancar. Persediaan tidak dimasukkan dalam
perhitungan quick ratio karena persediaan merupakan komponen aktiva lancar yang paling
kecil tingkat likuiditasnya. Quick ratio memfokuskan komponen-komponen aktiva lancar
yang lebih likuid yaitu: kas, surat-surat berharga, dan piutang dihubungkan dengan hutang
lancar atau hutang jangka pendek (Martono, 2003:56). Jadi rumusnya:

Jika terjadi perbedaan yang sangat besar antara quick ratio dengan current ratio, dimana
current ratio meningkat sedangkan quick ratio menurun, berarti terjadi investasi yang besar
pada persediaan.
Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang
lancar. Semakin besar rasio ini semakin baik. Angka rasio ini tidak harus 100% atau 1:1.
Walaupun rasionya tidak mencapai 100% tapi mendekati 100% juga sudah dikatakan sehat
(Harahap, 2002:302).
3. Cash Ratio
Rasio ini membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas
dengan hutang lancar. Kas yang dimaksud adalah uang perusahaan yang disimpan di kantor
dan di bank dalam bentuk rekening Koran. Sedangkan harta setara kas (near cash) adalah
harta lancar yang dengan mudah dan cepat dapat diuangkan kembali, dapat dipengaruhi oleh
kondisi ekonomi Negara yang menjadi domisili perusahaan bersangkutan. Rumus untuk
menghitung cash ratio adalah:

Rasio ini menunjukkan porsi jumlah kas + setara kas dibandingkan dengan total aktiva lancar.
Semakin besar rasionya semakin baik. Sama seperti Quick Ratio, tidak harus mencapai 100%
(Harahap, 2002:302).

B. Debt Management Ratio (Rasio Solvabilitas)


Rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
segala kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan
dilikuidasi. Perusahaan yang mempunyai aktiva/kekayaan yang cukup untuk membayar
semua hutang-hutangnya disebut perusahaan yang solvable, sedang yang tidak disebut
insolvable. Perusahaan yang solvabel belum tentu ilikuid , demikian juga sebaliknya yang
insolvable belum tentu ilikuid. Macam-macam rasio keuangan berkaitan dengan rasio
solvabilitas yang biasa digunakan adalah:
1. Total Debt to Total Assets Ratio
Rasio yang biasa disebut dengan rasio hutang (debt ratio) ini mengukur prosentase besarnya
dana yang berasal dari hutang. Hutang yang dimaksud adalah semua hutang yang dimiliki
oleh perusahaan baik yang berjangka pendek maupun yang berjangka panjang. Kreditor lebih
menyukai debt ratio yang rendah sebab tingkat keamanan dananya menjadi semakin baik
(Sutrisno, 2001:249). Untuk mengukur besarnya rasio hutang ini digunakan rumus:

Rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva. Semakin kecil
rasionya semakin aman (solvable). Porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil (Harahap,
2002:304).

2. Debt to Equity Ratio


Rasio hutang dengan modal sendiri (debt to equity ratio) adalah imbangan antara hutang yang
dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri
semakin sedikit dibanding dengan hutangnya. Bagi perusahaan sebaiknya, besarnya hutang
tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi. Semakin kecil
rasio ini semakin baik. Maksudnya, semakin kecil porsi hutang terhadap modal, semakin
aman. Rumusnya:

C. Asset Management Ratio (Rasio Aktivitas)


Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-
aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan
tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam padaaktiva-
aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain
yang lebih produktif. Beberapa rasio aktivitas yang digunakan adalah:
1. Perputaran Piutang
Rasio ini mengukur berapa kali, secara rata-rata piutang yang dikumpulkan dalam satu
tahun. Rasio ini mengukur kualitas piutang dan efisiensi perusahaan dalam pengumpulan
piutang dan kebijakan kreditnya. Rasio ini biasanya digunakan dalam hubungan dengan
analisis terhadap modal kerja, karena memberi ukuran seberapa cepat piutang perusahaan
berputar menjadi kas. Angka jumlah hari piutang, menggambarkan lamanya suat u piutang
bisa ditagih (jangka waktu pelunasan). Semakin lama jangka waktu pelunasannya,semakin
besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang (Prastowo dan Juliaty, 2003:82).
Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:

Rasio ini mengukur efektivitas peng elolaan piutang. Semakin tinggi tingkat perputarannya
semakin efektif pengelolaan piutangnya (Sutrisno, 2001:252).
2. Perputaran Persediaan
Seperti halnya perputaran piutang, rasio ini juga menggambarkan likuiditas perusahaan, yaitu
dengan cara mengukurefisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan yang
dimiliki oleh perusahaan.
Perputaran persediaan yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan berputar dalam
satu tahun. Hal ini menandakan efektivitas manajemen persediaaan. Sebaliknya, jika
perputaran persediaan rendah menunjukkan pengendalian atas persediaan kurang efektif
(Hanafi dan Halim, 2000:80). Rumus perhitungannya adalah:
Rasio ini mengukur efektivitas pengelolaan persediaan. Semakin tinggi tingkat perputarannya
semakin efektif pengelolaan persediaanya (Sutrisno, 2001:251).
3. Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan
berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana
efektivitas perusahaan menggunakan aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti
semakin efektif proporsi aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri seperti industri yang
mempunyai proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan.
Sedangkan pada beberapa industri yang lain seperti industri jasa yang mempunyai proporsi
aktiva tetap yang kecil, rasio ini barangkali tidak begitu penting untuk diperhatikan (Hanafi
dan Halim, 2000:81). Perputaran aktiva tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Rasio ini mengukur efektivitas penggunaan aktiva tetap dalam mendapatkan penghasilan.
Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif penggunaan aktiva tetapnya (Sutrisno,
2001:253).
4. Perputaran Total Aktiva
Rasio yang terakhir untuk komponen rasio aktivitas adalah rasio perputaran total aktiva.
Sama seperti halnya rasio perputaran aktiva tetap, rasio ini menghitung efektivitas
penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukkan manajemen yang baik,
sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi,
pemasarannya, dan pengeluaran investasi atau modalnya (Hanafi dan Halim, 2000:81). Rasio
perputaran total aktiva menggunakan rumus:

Rasio ini merupakan ukuran efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif perusahaan memanfaatkan aktivanya
(Sutrisno, 2001:253).

D. Rasio Profitabilitas
Menurut Harahap (2009:309), rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan
perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuannya, dan sumber yang ada seperti
kegiatan penjualan, kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Mengenai
rasio-rasio profitabilitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat
dilihat pada uraian sebagai berikut:
a. Profit Margin
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut :
Laba Bersih
Profit Margin = ------------------
Penjualan

Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap
penjualan. Menurut Harahap (2009:304), semakin besar rasio ini semakin baik karena
dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba.
b. Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets)
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan total aset. Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
Laba Bersih
Return On Assets = ----------------------
Total Aset

Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai
asetnya. Menurut Harahap (2009:305), semakin besar rasionya semakin bagus karena
perusahaan dianggap mampu dalam menggunakan aset yang dimilikinya secara efektif untuk
menghasilkan laba.
c. Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity)
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas. Rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Laba Bersih
Return On Equity = --------------------
Ekuitas
Rasio ini mengukur berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik.
Menurut Harahap (2009:305), semakin besar rasionya semakin bagus karena dianggap
kemampuan perusahaan yang efektif dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan

E. Rasio Pasar
Rasio pasar yaitu rasio yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku. Sudut pandang
rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut investor atau calon investor, meskipun pihak
manajemen juga berkepentingan terhadap rasio-rasio ini.

1. Earning Per Share (EPS)


EPS = Laba Bersih (EAT) / Jumlah Saham
Kadang-kadang pemilik juga menginginkan data mengenai keuntungan yang diperoleh untuk
setiap lembar sahamnya. Keuntungan per lembar saham biasanya merupakan indikator laba
yang diperhatikan oleh para investor yang merupakan angka dasar yang diperlukan dalam
menentukan harga saham. Earning per share atau laba per lembar saham merupakan ukuran
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik.

2. PER (Price Earning Ratio)


PER = Harga Pasar Per Lembar / Earning Per Lembar
PER melihat harga saham relatif terhadap earning-nya. Perusahaan yang diharapkan akan
tumbuh tinggi (mempunyai prospek baik) mempunyai PER yang tinggi, sebaliknya
perusahaan yang diharapkan mempunyai pertumbuhan rendah akan mempunyai PER yang
rendah. Dari segi investor, PER yang terlalu tiggi barangkali tidak menarik karena harga
saham barangkali tidak akan naik lagi, yang berarti kemungkinan memperoleh capital gain
akan lebih kecil.

3. Dividend Yield
Dividend Yield = Dividen Per Lembar / Harga Pasar Saham Per Lembar
Dari segi investor, rasio ini cukup berarti karena dividend yield merupakan sebagian dari total
return yang akan diperoleh investor. Bagian return yang lain adalah capital gain, yang
diperoleh dari selisih positif antara harga jual dengan harga beli. Apabila selisih negatif yang
terjadi, maka terjadi capital loss. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek
pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen
sebagian besar akan diinvestasikan kembali, dan juga karena harga dividen yang tinggi (PER
yang tinggi) yang mengakibatkan dividend yield akan menjadi kecil. Sebaliknya, perusahaan
yang mempunyai prospek pertumbuhan yang rendah akan memberikan dividen yang tinggi
dan dengan demikian mempunyai dividend yield yang tinggi pula.

4. Rasio Pembayaran Dividen (Dividend Pay-Out Ratio)


Rasio Pembayaran Dividen = Dividen Per Lembar / Earning Per Lembar
Rasio ini melihat bagian earning (pendapatan) yang dibayarkan sebagai dividen kepada
investor. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan.
Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio
pembayaran dividen yang rendah, sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya
rendah akan mempunyai rasio yang tinggi. Pembayaran dividen merupakan bagian dari
kebijakan dividen perusahaan.

F. Analisis Trend

Salah satu teknik dalam menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan adalah
dengan menggunakan metode trend analisis. Dimana menurut S. Munawir (2007:17)
menjelaskan Trend atau tendesi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan
dalam prosentase adalah suatu metode atau teknik analisa untuk mengetahui tendensi dari
pada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun.
Dengan menggunakan teknik analisis tersebut akan diketahui perubahan mana yang
cukup penting untuk dianalisa lebih lanjut. Teknik analisa tersebut hanya akan praktis bila
digunakan untuk menganalisa dua atau tiga (periode) laporan keuangan, karena bila laporan
keuangan yang diperbandingkan lebih dari tiga tahun akan ditemui kesulitan.
Cara yang terbaik untuk menganalisa laporan keuangan yang lebih dari tiga tahun
tersebut adalah dengan menggunakan angka index, dan semua data laporan keuangan yang
dianalisa dihubungkan dengan angka index tersebut yang dinyatakan dalam persentase.
Dengan menganalisa laporan keuangan untuk jangka waktu lebih dari tiga tahun akan
diketahui kecenderungan atau arah atau trend dari posisi keuangan ataupun hasil-hasil yang
telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan, apakah menunjukkan arah yang tetap,
meningkat atau bahkan menurun.
Teknik analisis ini biasanya digunakan untuk menganalisis laporan keuangan yang
meliputi minimal 3 periode atau lebih. Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui
perkembangan perusahaan melalui tentang perjalanan waktu yang sudah lalu dan
memprediksi situasi masa itu ke masa yang akan datang.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa analisis trend atau tendensi
merupakan analisis laporan keuangan yang biasanya dinyatakan dalam persentase tertentu.
Analisis ini dilakukan dari periode ke periode sehingga akan terlihat apakah perusahaan
mengalami perubahan yaitu naik, turun, ataupun menetap, serta seberapa besar perubahan
tersebut yang dihitung dalam persentase.
1. Perhitungan Trend
Hasil perhitungan trend dapat ditunjukkan dalam bentuk persentase atau indeks.
Menurut S. Munawir (2007:52), ada beberapa langkah untuk melakukan analisis trend ini
adalah sebagai berikut :
a. Menentukan tahun dasar. Biasanya data atau laporan keuangan dari tahun yang paling
awal dalam deretan laporan keuangan yang dianalisa tersebut dianggap sebagai tahun
dasar (base year).
b. Tiap-tiap pos yang terdapat dalam laporan keuangan yang dipilih sebagai tahun dasar
diberikan angka index 100.
c. Menghitung angka indeks tahun-tahun lainnya dengan menggunakan angka pos
laporan keuangan tahun dasar sebagai penyebut.

G. Analisis Common Size


Analisis common-size ialah analisis yang disusun dengan menghitung tiap-tiap
rekening dalam laporan laba-rugi dan neraca menjadi proporsi dari total penjualan (untuk
laporan laba-rugi) atau dari total aktiva (untuk neraca). Laporan keuangan dalam persentase
per-komponen (Common-size statement) menyatakan masing-masing posnya dalam satuan
persen atas dasar total kelompoknya. Cara penyusunan laporan keuangan ini disebut teknik
analisis common-size dan termasuk metode analisis vertikal.
Suatu neraca yang disusun dalam persentase per-komponen (Common-size statement)
dapat memberikan informasi sebagai berikut:
1. Komposisi investasi (aktiva) suatu perusahaan dapat memberikan gambaran tentang
posisi relatif aktiva lancar terhadap aktiva tak lancar.
2. Struktur modal (komposisi pasiva), yang dapat memberikan gambaran mengenai
posisi relatif utang perusahaan terhadap modal sendiri.
Apabila Neraca dalam persentase per-komponen disusun secara komparatif (misalnya dua
tahun berturut-turut), dapat memberikan informasi mengenai perubahan komposisi, baik
komposisi investasi maupun struktur modal.
Laporan laba-rugi yang disusun dalam persentase per-komponen (Common-size percentage)
dapat menggambarkan distribusi/alokasi setiap Rp 1,00 penjualan kepada masing-masing
elemen biaya dan laba. Apabila disusun secara komparatif, dapat menggambarkan perubahan
distribusi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Brigham, Eugene F., and Phillip R. Daves. 2007. Intermediate Financial Management. Ninth
Edition. South Western. United States

Harahap, Sofyan, Syafri. 2002. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Edisi Satu, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada

Hanafi, Mamduh M. dan Abdul Halim. 2000. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta : UPP
AMP YKPN.

Sutrisno. 2001. Manajemen Keuangan. Ekonesia: Yogyakarta