Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TAHUNAN

PROGRAM SURVEILANCE
PUSKESMAS BEBER
TAHUN 2014

UPTD PUSKESMAS BEBER


JL.JENDRAL SUDIRMAN
KABUPATEN CIREBON
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia-


Nya kami dapat menyelesaikan laporan Tahunan Kegiatan Program
Survailans UPT Puskesmas DTP Beber untuk tahun 2015.
Dalam penyusunan Laporan ini kami sajikan berbagai data
upaya kegiatan Survailans yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas
Beber sebagai Kecamatan Beber selama kurun waktu tahun 2015.
Kami menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu saran yang sifatnya membangun dan menyempurnakan laporan
ini dari semua pihak sangat kami harapkan, dan harapan kami
laporan ini tidak mengurangi gambaran hasil pelaksanaan tugas yang
telah kami laksanakan secara keseluruhan.
Demikian laporan ini kami susun, semoga laporan ini
bermanfaat .

Beber, Februari 2016

Penyusun,

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Perbaikan kesehatan masyarakat dilakukan melalui upaya
peningkatan pencegahan, Penyembuhan,dan pemulihan dengan
mendekatkan dan memeratakan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Pembangunan kesehatan ditujukan kepada
peningkatan pemberantasan penyakit menular dan penyakit
rakyat, peningkatan keadaan gizi rakyat, peningkatan pengadaan
sarana air bersih terhadap bahaya narkotika dan penggunaan
obat yang tidak memenuhi syarat serta penyuluhan kesehatan
masyarakat untuk memasyarakatkan prilaku hidup sehat yang
di mulai sedini mungkin.
Pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan
akan mempengaruhi cara hidup dan perkembangan pola
penyakit,termasuk penyakit yang dapat menimbulkan
wabah.dengan demikian suatu jenis penyakit yang semula tidak
merupakan masalah dapat menjadimasalah atau sebaliknya.Yang
dimaksud pola penyakit adalah keadaan atau situasi penyakit
yang memberi kejelasan mengenal jenis penyakit dan sifat-sifat
epidemiologis penyakit yaitu tentang distribusi,frekuensi,waktu
kejadian, serta semua factor penentu yang mempengaruhi
jalannya penyakit.Pola penyakit tersebut dapat dipengaruhi oleh
perkembangan lalu lintas internasional dan perubahan
lingkungan hidup.
Wabah yang dapat menimbulkan malapetaka dari dulu
sampai sekarang maupun masa yang akan datang tetap
merupakan ancaman terhadap kelangsungan hidup dan
kehidupan. Selain wabah mmbahayakan kesehatan masyarakat
karena dapat mengakibatkan sakit, cacat, dan kematian, juga
akan mengakibatkan hambatan dalam pelaksanaan
pembangunan nasional. Kesehatan merupakan komponen
penting dari kesejahteraan.
Salah satu fungsi utama survailans adalah menyediakan
informasi epidemiologi yang peka terhadap perubahan yang
terjadi di masyarakat. Upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit akan sangat efektif apabila kegiatan survailans tersebut
dilakukan secara sistematis dan terus menerus melalui proses
pengumpulan data, pengolahan data dan penyebaran informasi
epidemiologi kepada penyelenggara program.

I.2 TUJUAN
Untuk mengetahui

Survailans adalah kegiatan analisis secara sistematis dan


terus menerus terhadap penyakit atau masalah dan kondisi yang
menpengaruhi terjadinya peningkatan penyakit dan penularan
penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien
melalui proses pengumpulan data, dan penyebaran informasi
kepada penyelenggara program. (Kepmenkes RI
No.1479.2003.23 Okt 2003).

Tujuan Survailans antara lain :


Mempelajari riwayat alamiah penyakit
Melakukan besaran masalah kesehatan
Perencanaan, monitoring, evaluasi program pencegahan dan
pemberantasan penyakit.
Trend penyakit
Kewaspadaan dini penyakit
Melihat factor resiko (prilaku,lingkungan, dll) dihubungkan
dengan kejadian penyakit.

I.3 RUANG LINGKUP


Epidemiologi adalah studi tentang : distribusi, frekuensi,
dan determinan (gejala) suatu penyakit/ fenomena di
masyarakat.
Sumber data :
Pencatatan kematian
Laporan penyakit
Laporan wabah/penyeleidikan wabah/KLB
Pemeriksaan Laboratorium
Penyelidikan peristiwa penyakit
Survei
Penyelidikan vector, lingkungan, dll
Penggunaan obat-obatan, vaksin, serum, dll
Keterangan Kependudukan , social, ekonomi.
Langkah Survailans :

Keputusan

Pengumpulan Pengolahan Informasi


Bukti
Data Data

Analisis Data
interpretas

kejadian berjangkitnya suatu penyakit dalam masyarakat


yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi
keadaan yang melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah terttentu serta dapat menimbulkan malaapetaka.
Penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan wabah menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
560/MENKES/PER/VIII/1989 adalah :
1. Kolera 10. Demam Bolakbalik
2. Pes 11. Demam
berdarah Dengue
3. Demam Kuning 12. Polio
4. Tifus Bercak Wahabi 13. Pertusisi
5. Campak 14. Malaria
6. Difteri 15. Hepatitis
7. Rabies 16. Meningitis
8. Influenza 17. Antrax
9. Encephalitis 18. Tifoid
BAB II
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS
A. Keadaan umum
1. Luas wilayah dan demorafi
Puskesmas Beber mempunyai wilayah kerja terdiri dari 10 Desa dengan luas
wilayah 247,73 Km 2. Puskesmas Beber dapat dengan mudah dijangkau dengan
kendaraan umum karena terletak dijalur jalan Raya Kuningan Cirebon, dengan
keadaan geografis sebagai berikut :
Tabel 2.1
DATA DEMOGRAFI MENURUT DESA
WILAYAH KERJA PUSKESMAS BEBER TAHUN 2014

RERA
LUAS TA
NAMA JUMLAH JUMLAH PENDUDUK
No WILAY JIWA
DESA
AH (Ha) / KK
RW RT KK L P TOTAL
1 Patapan 26.533 5 13 748 1670 1470 3140
2 Kondangsari 45.783 7 20 1874 4142 4041 8183
3 Beber 46.25 9 28 2076 4075 3783 7858
4 Cipinang 15.771 6 19 923 1651 1594 3245
5 Halimpu 11.871 3 12 770 1625 1442 3067
6 Wanayasa 12.634 4 8 568 1110 1084 2194
7 Sindangkasih 17.953 5 16 1160 1862 1818 3680
8 Sindanghayu 10.571 4 12 571 1059 461 2020
9 Cikancas 28.629 6 18 1011 1930 1895 3825
10 Ciawigajah 315.508 12 29 1798 3969 3627 7596
247,73 61 175 11499 23093 21175 44808

2. Batas Wilayah
Wilayah kerja UPT Puskesmas DTP Beber terletak di Desa Kondangsari Kecamatan
Beber dengan peta wilayah kerja dapat di lihat pada lampiran 1,memiliki batas wilayah
sebagai berikut
Utara : Kecamatan Talun
Barat : Kecamatan Pancalang
Selatan : Kecamatan Cilimus
Timur : Wilayah PKM Kamarang Kecamatan Greged

3. Sumber Daya manusia (Ketenagaan


Jumlah Tenaga Kerja di Puskesmas Beber pelaksanaan tugas pelayanan kesehatan
masyarakat adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2
TENAGA KERJA DI UPT PUSKESMAS BEBER TAHUN 2014

N0 Jenis Ketenagaan Jml kekuranga Status kepegawaian ket


yang ada n
sekaran
g
I Puskemas
1 Dokter 1 PNS
2 Dokter gigi
3 Sarjana ( S1/D4) 13 PNS 7
TKD 1
Sukwan 4
N0 Jenis Ketenagaan Jml kekuranga Status kepegawaian ket
yang ada n
sekaran
g
4 D3
Akper 11 PNS 4
Sukwan 7
Akbid 14 PNS 3
Sukwan 5
PTT 6
Akademi Gizi 1 PNS
Lain-lain 0
5 Bidan 0
6 Perawat (SPK) 2 PNS
7 Perawat gigi 2 1 PNS,1 SUKWAN
8 Sanitarian 2 1 PNS,SPNS 1
9 Tenaga Lab 1 PNS
10 Pengelola obat 1 PNS
11 Lain-lain
II Puskesmas
pembantu
1 Perawat kesehatan 3 PNS1Sukwan 1
2 Tenaga lain 4 PNS 3( Bidan)
Sukwan 1 (Adm)
3 Polindes 1 PNS 1

4. Sarana Kesehatan
Sarana Kesehatan yang tersedia di Puskesmas Beber untuk mendukung
pelaksanaan Tugas Pelayanan Kesehatan Masyarakat adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3
KEDAAN SARANA PRASARANA KESEHATAN
DI PUSKESMAS BEBER Tahun 2014

Jenis Kondisi
No Jumlah Rusak Rusak Rusak
sarana/Prasana
ringan Sedang Berat
Sarana Kesehatan
Pustu 2 V
Polindes 1 V
Rumah Dinas 1
Dokter
Rumah Dinas
I Perawat
Rumah Dinas Bidan
Pusling Roda 4 1 V
Ambulance
Sepeda Motor 2

Sarana Penunjang
Komputer
II Mesin TIK 2 1 1
Telepon

BAB III
HASIL KEGIATAN

III.1. SURVEILANS PENYAKIT DBD


A.Pengertian
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu

penyakit yang ditandai dengan demam tinggi mendadak 2-7 hari

tanpa penyebab yang jelas. Terdapat tanda-tanda perdarahan

(bintik-bintik merah/ptekie) misalnya perdarahan pada gusi,

muntah atau berak darah, ada pembesaran hati dan dapat timbull

syok ( pasien gelisah, nadi cepat dan lemah, extremitas dingin,

kulit lembab, kesadaran menurun) pada pemeriksaan

Laboratorium ditemukan peningkatan hematokrit 20 % dan

trombosittopeni ( trombosis 100.000/mm3) ( Depkes RI,2003).

Sumber penularan penyakit adalah manusia dan

nyamuk Aedes . Manusia tertular melalui gigitan nayamuk Aedes

yang telah terinfeksi virus dengue, sebaliknya nyamuk terinfeksi

ketika menggigit manusia dalam stadium viremia. Viremia terjadi

pada sebelum awalnya munculnya gejala dan selama kurang lebih

lima hari sejak timbulnya gejala. Terdapat 2 jenis Vektor, yaitu

Ae.aegypti yang merupakan vektor utama.dan Ae.albopictus.

B. Penyelidikan Epidemologi

Penyelidikan Epidemologi diarahkan untuk

mengidentifikasikan faktor risiko, populasi yang berisiko tertular,

selingga bisa menetapkan program prioritas program

penanggulanagan wabah/KLB dan melakukan perbaikan keadaan

yang menyebabkan timbulnya kerentanan popoulasi yang


nanatinya dapat dijadikan bahan penyelenggaraan Sistem

Kewaspadaan Dini KLB.Penyelidikan Epidemologi KLB DBD lebih

diarahkan pada identifikasi faktor risiko berupa vektor (nyamuk

aedes aegypti) dan tempat perindukan vektor tanpa

mengesampaingkan faktor manusia sebagai populasi risiko.

C. Langkah Langkah Penyelidikan

a. Koordinasikan tim (klinis, progemer, laboratorium,

entomologist, atau tenaga yang memahami antraks).

b.Penyiapan administrasi, alat, dan bahan, (surat tugas, surat

izin investigasi, kuesioner,dll).

c. Pengumpulan data dengan cara :

Petugas melakukan wawancara dengan

penderita/keluarga,baik yang masih dirawat di rumah sakit,

puskesmas atau yang sudah pulang, serta kasus tersangka

yang dilaporkan oleh masyarakat . Data dikumpulkan dengan

maksud antara lain :

Penetapan diagnosis DBD

Identifikasi faktor risiko

Pencarian kasus tambahanDBD


Pengolahan Data

Analisa Data

Membuat laporan hasil Penyelidikan

D. Penemuan Kasus DBD UPT Puskesmas DTP Beber Tahun 2014

N Desa Jumlah Kasus Meninggal


o

1. Wanayasa 0 0

2 Sindangkasih 6 0

3 Sindanghayu 1 0

4 Ciawigajah 0 0

5 Cikancas 1 0

6 Halimpu 1 0

7 Cipinang 1 0

8 Beber 12 0

9 Patapan 1 0

10 Kondangsari 5 0

Jumlah 28 0
Dari tabel di atas dapat di lihat kasus DBD terbanyak adalah Desa

Beber sebanyak 12 kasus,dan desa yang tidak ditemukan kasus DBD

adalah Desa Wanayasa dan Ciawigajah.

F. Perkembangan Kasus DBD dan DSS Menurut Golongan Umur

Wilayah UPT Puskesmas DTP Beber Tahun 2014

1-4 5 - 14 15 - 44 > 44
N < 1 Th Th Th Th Th Total
Desa
o
P M P M P M P M P M P M

1 Wanayasa 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Sindangka 0
2 sih 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 6

Sindangha 0
3 yu 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1

4 Ciawigajah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

5 Cikancas 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0

6 Halimpu 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0

7 Cipinang 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0

8 Beber 0 0 3 3 0 5 0 1 0 12 0

9 Patapan 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0

Kondangs 0 0 0 0 0
10 ari 4 0 1 0 0 0 5

0 3 1
Total 0 0 0 0 14 0 1 0 28 0

Dari tabel di atas dapat di lihat kasus DBD terbayak di temukan pada

golongan umur 15-44 tahun sebanyak 14 kasus.


DATA KASUS DBD UPT PUSKESMAS DTP BEB

TAHUN 2014

Janua Februa Mare Agust Sep


N April Mei Juni Juli
Desa ri ri t us e
o
P M P M P M P M P M P M P M P M P

1 Patapan - - - - - - - - - - - - - - - - -

Kondangsar
2
i - - - - - - - - 1 - 1 - 3 - - - -

3 Beber
- - - - 1 - - - - - 1 - - - - - -

4 Cipinang - - - - 1 - - - - - - - - - - - -

5 Halimpu - - - - 1 - - - - - - - - - - - -

6 Wanayasa - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sindangkasi
7
h 5 - - - - - - - - - - - - - - - 1

Sindanghay
8
u 1 - - - - - - - - - - - - - - - -

9 Cikancas - - 1 - - - - - - - - - - - - - -

10 Ciawigajah - - - - - - - - - - - - - - - - -

TOTAL
6 - 1 - 3 - - - 1 - 2 - 3 - - - 1

KESIMPULAN
Total kasus DBD selama tahun 2014 adalah 28 kasus dengan
distribusi penderita terbanyak pada golongan umur 15-44
tahun.
Insidens rate tertinggi selama tahun 2014 pada bulan
November dengan jumlah kasus mencapai 9 kasus
Pelaksanaan Fogging selama tahun 2014 sebanyak 3 kali.di
desa Beber 2 kali,di desa Kondangsari 1 kali.
III. 2 SURVEILANS CHIKUNGUNYA

A. Pengertian

Chikungunya atau demam Chik yaitu demam mendadak,

nyeri pada persendian dan ruam makulopapuler (kumpulan

bintik-bintik kemerahan) pada kulit yang kadang-kadang disertai

dengan gatal. Gejala lainnya yang dapat dijumpai adlah nyeri

otot, sakit kepala, menggigil, kemerahan, pada konjungktiva,

pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher, mual,

muntah.

B. Epidemologi

Penyebaran penyakit chikungunya terjadi pada daerah

endemis penyakit berdarah dengue.KLB sering terjadi pada

awal dan akhir musim hujan.

Vektor utama penyakit ini sama dengan penyakit DBD yaitu

nyamuk Aedes Aegypti .Penularan Demam Chik terjadi

apabila penderita sakit (dalam keadaan Viremia) digigit oleh

nyamuk penular Aedes aegypt, kemudian menggigit otang

lain. Biasanya penularan terjadi dalam satu rumah, tetngga,

dan dengan cepat menyebar ke satu wilayah

(RT/Rw/dusun/desa).

C. Penyelidikan Epidemologi
Penyelidikan KLB Demam Chik terutam diarahkan pada

upaya pemutusan mata rantai penularan kasus nyamuk

orang sehat. Pengobatan bersifat simpomatis.

D. Langkah-langkah Penyelidikan

a.Koordinasikan tim ( progremer ,dokter,laboratorium)

b.Penyiapan administrasi ,alat, dan bahan ( surat tugas,

surat izin investigasi, kuesioner, dll)

c.Pengumpulan data dengan cara

* Petugas melakukan wawncara dengan

penderita/ keluarga

* Pencarian kasus tambahan Demam Chik

d.Pengolahan data

e.Analisa Data

f.Membuat laporan hasil penyelidikan

D.Penemuan Kasus Chikungunya Puskesmas DTP Beber tahun

2014

N Desa Jumlah Kasus Meninggal


o
1. Wanayasa 0 0

2 Sindangkasih 0 0

3 Sindanghayu 0 0

4 Ciawigajah 0 0

5 Cikancas 0 0

6 Halimpu 0

7 Cipinang 0 0

8 Beber 22 0

9 Patapan 0

10 Kondangsari 9 0

Jumlah 31 0

E.Penemuan Kasus Chikungunya Menurut Golongan Umur Wilayah UPT Puskes

Tahun 2014

10 - 15 - 44 > 44
N 1-4 5-9 14 Th Th Th Total
Desa
o
P M P M P M P M P M P M

1 Wanayasa

Sindangka
2 sih

Sindangha
3 yu

4 Ciawigajah

5 Cikancas

6 Halimpu

7 Cipinang

8 Beber 1 13 7

9 Patapan

Kondangs
10 ari 6 4
1
Total 1 6 13 1

III.3 SURVAILANS PENYAKIT CAMPAK

A.Pengertian
Campak merupakan penyakit menular akut. Penyakit ini
disebabkan oleh virus golongan Paramyxoviridae (RNA) jenis
Morbilivirus dengan masa inkubasi antara 8-13 hari atau rata rata
10 hari. Virus mudah rusak terhadap panas dan cahaya. Sumber
penularan yaitu manusia sebagai Penderita. Penularan terjadi dari
orang ke orang melaui batuk, bersin, (sekrasi hidung) sampai 2 Jam
setelah seseorang dengan campak meninggalkan ruangan.
Penularan dapat terjadi 1 3 hari Sebelum panas. Waktu penularan
yang paling sering adalah 4 hari sebelum dan 4 hari setelah Rash.
Penularan maksimum pada 3 4 hari setelah rash. Sangat
menular, lebih dari 90 % diantara Kelompok rentan. Virus campak
pertama kali dikenal pada abad ke 7. Sangat mudah menular, dan
pada Umumnya terjadi pada anak-anak.
Gejala penyakit campak adalah sebagai berikut :
Hari 1 3 :
Panas makin hari makin tinggi
Mata merah dan sakit bila kena cahaya
Anak batuk/pilek
Hari 3 4 :
Panas agak turun
Timbul bercak-bercak merah pada kulit dimulai di belakang
telinga menjalar ke muka
Mata bengkak terdapat cairan kuning kental
Seluruh tubuh terlihat bercak-bercak
Hari 4 6
Bercak berubah menjadi kehitaman dan mulai mongering
Selanjutnya mengelupas secara berangsur-angsur
Akhirnya kulit kembali seperti semula tanpa menimbulkan
bekas Factor Resiko Komplikasi Campak
Usia
Malnutrisi
Populasi padat
Defisiensi immunitas
Defisiensi vitamin A

B. Penyelidikan Epidemologi

Surveilance campak diperlukan untuk mengidentifikasi kasus


dan populasi resiko,deteksi dan investigasi KLB serta evaluasi
strategi imunisasi untuk meningkatkan pencegahan
campak.KLB campak ditetapkan jika di temukan minimal 5
kasus suspek campak yang mengelompok dalam satu wilayah
epidrmiologi dalam periode 3 minggu berturut-turut.
C. Langkah-langkah Epidemologi
Langkah penanggulangan/pencegahan yang harus dilakukan
oleh surveillance apabila ditemukan kasus campak meliputi :
a. Koordinasi tim penyelidikan sesuai dengan bidang
keahliannya atau yang memahami penyakit campak
(laboratories,dokter,epidemiologist (dll)
b. Ambil specimen darah dari 5 kasus saja dengan rash > 3
hari 28 hari
c. Penyiapan penyelidikan epidemiologi (surat
tugas,Kuisioner,Surat izin investigasi dll)
d. Pengumpulan data (data primer,data
sekunder)pengolahan data dan analisa data kemudian
laporkan hasil investigasi ke dinas kesehatan kab.Cirebon
secepatnya
e. Malakukan langkah kolaborasi medis untuk memberikan
pengobatan simtomatis dan antibiotika dan pemberian
vit.A dosis tinggi pada kasus yang ditemukan dilapangan
f. Pemberian vit.A dosis tinggi pada populasi balita beresiko
disekitar daerah KLB
g. Jika diperlikan melakukan vaksinasi campak pada
populasi rentan

PEMBERIAN VIT.A UNTUK TATALAKSANA KASUS CAMPAK

Umur Pada saat Hari *2 mgg


diagnosis berikutnya kemudian
6-11 bulan 100.000 IU 100.000 IU 100.000 IU
>/12 bulan 200.000 IU 200.000 IU 200.000 IU

DISTRIUSI JUMLAH KASUS CAMPAK


PUSKESMAS BEBER TAHUN 2010-2014

Bualan 2010 2011 2012 2013 2014

Januari 1 0 0 0 0

Pebruari 2 0 0 0 0

Maret 0 0 0 0 0

April 0 0 0 0 2

Mei 0 0 0 0 0

Juni 0 2 0 0 0

Juli 0 0 0 0 0

Agustus 0 1 3 0 0

September 2 0 2 4 0
Oktober 2 2 0 3 0

Nopember 0 3 2 0 0

Desember 0 1 0 0 0

Jumlah 7 9 7 7 2

Dari tabel di atas dapat kita lihat kasus Campak terbanak di temukan
pada tahun 2011 sebanyak 9 kasus.

DISTRIUSI JUMLAH KASUS CAMPAK BERDASARKAN


UMUR
PUSKESMAS BEBER TAHUN 2014

UMUR/ DESA 1 TAHUN 1-4 5-19 20-44 45-59


TAHUN
Wanayasa 0 0 0 0 0
Sindangkasih 0 0 0 0 0
Sindanghayu 0 0 0 0 0
Ciawigajah 0 0 0 0 0
Cikancas 0 0 0 0 0
Halimpu 0 0 0 0 0
Cipinang 0 0 0 0 0
Beber 0 0 0 0 0
Patapan 0 1 0 1 0
Kondangsari 0 0 0 0 0
Jumlah 0 1 0 1 0

Dari tabel di atas dapat kita lihat kasus Campak pada tahun 2014
sebnyak 2 kasus pada kelompok umur 1-4 tahun dan 20-44 tahun.

III.4 SURVEILANCE KESEHATAN HAJI


Penyelenggaraan ibadah haji bertujuan untuk memberikan
pembinaan pelayanan dan perlindungan yang sebaik-baiknya
melalui system dan menejemen penyelenggaraan yang terpadu
agar pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan tertibdan
lancer sehingga jemaah haji dapat melaksanakan ibadah haji
secara mandiri sehingga memperoleh haji mabrur.
Kesehatan adalah modal utama dalam perjalanan haji tanpa
kondisi kesehatan yang memadai,niscaya pencapaian ritual
peribadahan menjadi tidak maksimal.
Calon jemaah haji akan mendapat pemeriksaan kesehatan
yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui status kesehatan
dan pembinaan kesehatan.Pemeriksaan kesehatan dilakukan
melalui 2 tahapan.Pemeriksaan tahap pertama dilakukan di
kabupaten/kota.Pemeriksaan ini berfungsi sebagai alat pembinaan
kesehatan calon jemaah haji.Baik yang sehat maupun yang sakit
sehingga yang sehat tetap terpelihara kesehatannya dan yang
sakit menjadi sehat atau terkontrol penyakitnya.Pemeriksaan
tahap II berfungsi sebagai alat untuk pembinaaan dan
menentukan kelaikan mengikuti ibdah haji.

Jemaah haji yang tercatat di puskesmas beber pada tahun


2014 sebanyak 12 orang
Jemaah haji yang berhasil dilakukan kunjungan pelacakan
kesehatan haji pasca melakukan ibadah haji sebanyak 10
orang,2 orang jemaah haji belum terlacak .alasan jemaah haji
yang tidak terlacak antara lain :
a. Jemaah haji bermukim di luar kota hanya numpang alamat.
Presentase hasil pelacakan haji adalah sebesar 75 %
Kondisi kesehatan jemaah haji pasca melakukan ibadah haji
secara keseluruhan berada dalam kondisi SEHAT

III.5 SURVEILANCE TERPADU PENYAKIT


Laporan STP dilaporkan paling telat tanggal 10 tiap
bulannya.isi laporan mengacu pada ICD X.sumber data di dapat
dari register rawat jalan baik dari pelayanan dalan gedung
maupun pelayanan luar gedung misalnya PUSTU,BP Desa atau
Pusling dan register rawat inap di puskesmas.kasus yang tercatat
adalah kasus yang terdata dan berdomisili dalam wilayah
puskesmas beber.
Kasus yang dilaporkan adalah kasus baru,total kunjungan
berarti total kasus baru yang tercatat selama 1 bulan,sedangkan
untuk total kunjungan adalah keseluruhan kunjungan baik
kunjungan lama atau kunjungan baru
Analisa STP dilaksanakan minimal 1 tahun sekali untuk
perencanaan di tingkat kabupaten,umpan balik dari pelaporan STP
dilaksanakan melalui pertemuan validasi data dan pertemuan
evaluasi program surveilans setiap triwulan atau minimal 1 tahun
Analisa dapat berupa :
Analisa pola penyakit terbanyak
Pola peyakit pergolongan umur
Insident rate

ANALISA KELENGKAPAN LAPORAN STP


PROGRAM SURVEILANCE PUSKESMAS BEBER TAHUN
2014

KELENGKAPAN LAPORAN
N0 BULAN
LENGKAP TIDAK LENGKAP
1 Januari V -
2 Februari V -
3 Maret V -
4 April V -
5 Mei V -
6 Juni V -
7 Juli V -
8 Agustus V -
9 September V -
10 Oktober V -
11 Nopember V -
12 Desember V -

Kesimpulan :
Secara keseluruhan laporan STP terlaporkan scara rutin
setiap bulan
Presentasi kelengkapan laporan 100 %
Isi laporan sudah mengacu pada ICD X sesuai dengan kasus
yang tercatat di puskesmas beber.

III.6 SURVEILANS W2KPU


LAPORAN W2KPU dilaporkan rutin setiap minggu.isi laporan
mengacu pada kasus-kasus mingguan dan wabah serta penyakit-
penyakit yang potensial menjadi KLB.misalnya
Diare,Campak,TBC,DBD,Pneumonia,Influensa dll.data di dapat dari
register rawat jalan baik dari pelayanan dalam gedung maupun
pelayanan luar gedung misalnya Pustu atau Pusling dan register
rawat inap di puskesmas.kasus yang terdata dan berdomisili
dalam wilayah puskesmas.
Analisa laporan W2KPU dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kasus untuk melihat waktu kejadian,tempat/desa
dan orang (analisa OTW)
KESIMPULAN :
Program Secara keseluruhan laporan W2KPU terlaporkan secara
rutin setiap minggu
Presentase kelengkapan laporan
Isi laporanas s udah mengacu pada petunjuk teknis dan petunjuk

pelaksanaan dari Dinas

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penemuan kasus DBD selama tahun 2014 adalah 28 kasus, Kelompok

umur yang terkena kasus DBD pada tahun 2014 adalah umur 15-44

tahun dengan jumlah kasus sebanyak 14 kasus.


Penemuan kasus Chikungunya sebanyak 31 kasus, di desa Beber

sebanyak 22 kasus,dan Desa Kondangsari 9 kasus

Penemuan kasus campak dengan hasil laboratorium positif campak

sebanyak 2 kasus di desa Patapan.

B. Saran

Meningkatkan koordinasi dan kerjasama lintas program dan lintas

sektoral dalam menangani kasus penyakit menular.

Meningkatkan Kewaspadaan Dini terhadap KLB