Anda di halaman 1dari 13

3.1.

Pendahuluan
Mekanika Batuan merupakan ilmu pengetahuan yang secara teori maupun pada prakteknya membahas tentang
perilaku mekanis batuan termasuk di dalamnya membahas tentang berbagai metoda perancangan perilaku batuan
yang sesuai dengan disiplin ilmu teknik yang diperlukan.
Sebagian besar batuan diklasifikasikan sebagai material rapuh (brittle) yakni material yang dapat hancur bila diberi
suatu beban yang melebihi daya tahan material tersebut. Penghancuran suatu batuan tidak melalui tahap aliran
plastis (plastic flow) seperti halnya pada material ductile. Dengan kata lain, dengan pemberian suatu gaya, maka
batuan akan berubah bentuk secara elastis dan kemudian akan hancur tanpa melalui perubahan bentuk secara
plastis (plastic flow).
Sifat batuan yang cukup penting adalah hubungan kerapuhan relatif batuan terhadap tegangan (tension). Dalam
kenyataannya, kuat tekan (compressive strength) batuan dapat menjadi dua kali lipat dari kuat tarik (tensile strength)
batuan tersebut. Sifat batuan seperti ini akan sangat berguna untuk pelaksanaan perekahan hidrolik. Pada dasarnya
perekahan hidrolik meliputi kekeuatan penghancuran dinding lubang bor yakni kemampuan menghancurkan dinding
batuan reservoir.

3.2. Asumsi
Penyelesaian terhadap masalah mekanika batuan di sini akan menggunakan model penyelesaian secara matematis.
Seperti halnya semua ilmu keteknikan, penyelesaian terhadap masalah-masalah yang ada akan menggunakan
beberapa asumsi. Dalam mekanika batuan, suatu batuan dapat diasumsikan sebagai suatu material yang bersifat
elastis, seragam (homogen), dan isotropis.

3.2.1. Elastisitas
Bila suatu material mengalami perubahan bentuk (deformasi) akibat beban yang diberikan dari luar dan material
tersebut akan berubah kembali ke bentuk semula setelah beban tersebut dihilangkan maka material tersebut
dikatakan bersifat elastis.
Sebuah yang material yang kembali sepenuhnya kepada bentuk semula dinamakan elastis sempurna, sedangkan
apabila tidak sepenuhnya kembali kepada bentuk semula setelah beban dihilangkan disebut elastis parsial. Di dalam
hal benda elastis sempurna, usaha yang dilakukan oleh gaya-gaya luar selama deformasi sepenuhnya
ditransformasikan ke dalam tenaga potensial regangan. Sedangkan di dalam hal benda elastis parsial, sebagian dari
usaha yang dilakukan oleh gaya-gaya luar selama deformasi diubah dalam bentuk panas yang timbul dalam benda
itu selama berlangsungnya deformasi non-elastis.
Di sini batuan dapat dikategorikan elastis namun tidak semua batuan bersifat elastis. Biasanya terdapat beberapa
jenis batuan akan menampakan sifat elastisnya untuk harga-harga tertentu tergantung dari besarnya tegangan yang
diberikan. Teori tentang elastisitas telah menghasilkan banyak penyelesaian yang akurat terhadap masalah-masalah
yang timbul dalam ilmu mekanika batuan.
Pada kasus di mana batuan menampakan sifat elastisnya bila diberi beban, solusi untuk asumsi elastisitas akan
benar selama beban yang diberikan tersebut tidak melebihi batas elastis dari batuan tersebut. Elastisitas merupakan
teori yang sebagian besar dapat diaplikasikan di lapangan namun penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
mengakibatkan masalah tersebut sangat susah untuk dipecahkan.

3.2.2. Homogenitas.
Suatu material dikatakan homogen bila elemen-elemen terkecil dari material tersebut memiliki sifat fisik yang sama.
Dapat dikatakan bahwa batuan bukan merupakan material yang homogen karena batuan mengandung mineral dan
kristal dengan jenis yang beraneka ragam, rekahan besar dan kecil, serta keanekaragaman lainnya. Namun asumsi
homogenitas adalah cukup beralasan untuk dipakai bila dianggap batuan yang direkahkan merupakan suatu bagian
yang amat kecil apabila dibandingkan dengan keseluruhan luas batuan formasi.

3.2.3. Isotropis
Asumsi isotropis diperlukan untuk penyederhanaan masalah-masalah perekahan secara matematis. Perlu diketahui
bahwa perubahan bentuk (deformasi) dapat terjadi sebagai akibat dari gaya yang diberikan seperti juga pada
pelaksanaan perekahan hidrolik di mana lebar rekahan adalah akibat dari perubahan bentuk (deformasi) yang
diakibatkan oleh kompresi fluida yang diinjeksikan. Di sini asumsi isotropis menghasilkan hubungan secara
matematis yang lebih sederhana antara gaya-gaya yang diberikan dengan bagaimana perubahan bentuk (deformasi)
itu terjadi.
Sebagai contoh, karakteristik dari gaya-deformasi seperti isotropis, homogen, dan elastis dapat dicirikan oleh dua
konstanta yang dikenal sebagai Modulus Young dan Perbandingan Poisson. Bila salah satu konstanta tersebut dalam
pemakaiannya tidak menggunakan asumsi isotropis terhadap suatu material, maka untuk mengidentifikasi material
tersebut akan membutuhkan 21 koefisien yang berdiri sendiri dan ini tentunya akan menyulitkan.
Solusi matematis untuk sebagian besar masalah mekanika batuan nantinya akan menggunakan persamaan-
persamaan tegangan (stress) dan regangan (strain). Definisi teoritis untuk persamaan tersebut akan dibahas pada
bagian-bagian selanjutnya dari bab ini.

3.3. Manfaat
Teori-teori dalam mekanika batuan telah digunakan untuk mengevaluasi berbagai proses kerja pada pelaksanaan
perekahan hidrolik. Manfaat dari memahami tentang ilmu mekanika batuan pada perekahan hidrolik antara lain :
Untuk penentuan distribusi tegangan di tempat (in-situ stress) di sekitar lubang bor.
Untuk memperkirakan tekanan awal rekahan dan orientasi rekahan.
Untuk menentukan geometri rekahan termasuk hubungan antara tekanan dalam rekahan, in-situ stress, keadaan
batuan, dan dimensi rekahan.
Untuk mengevaluasi ketahanan rekahan melalui studi tentang tegangan pada lapisan-lapisan yang berbatasan,
variasi batuan, dan kondisi permukaan.

3.4. Besaran-besaran Mekanika Batuan


3.4.1. Stress dan Strain
Setiap material apabila dikenai beban maka akan mengalami perubahan bentuk (deformasi). Gaya atau tekanan per
satuan luas disebut stress, (). Selain stress, perubahan bentuk dalam hal ini perubahan dalam panjang, ()
dibanding dengan panjang semula, (l) disebut strain, (). Untuk tingkat tegangan yang lemah plot antara stress vs
strain akan membentuk suatu garis lurus seperti yang terjadi pada material logam yang merupakan jenis material
linear elastis. Gambar 3.1. menunjukkan keadaan tersebut.

Gambar 3.1.
Hubungan Stress-Strain untuk Material Elastis4)

Tentu saja ada stress maksimum yang dapat diterima oleh suatu bahan sebelum patah. Material untuk pemipaan
seperti baja, peralon, mempunyai sifat seperti ini, ketika stress dinaikkan sampai tingkat paling tinggi maka patahan
akan terjadi. Pada material rapuh seperti batuan, patahan bisa terjadi tiba-tiba dengan sedikit tambahan strain.
Stress yang dibutuhkan untuk menyebabkan patahan disebut dengan uniaxial compressive strength, (Co).
Closure pressure (stress) adalah harga rata-rata minimum dimana rekahan dapat terjadi. Harga ini dapat meningkat
jika tekanan pori-pori naik (poro-elastic-effect). Dibawah ini akan dibicarakan mengenai mekanika batuan untuk
meramalkan dimensi rekahan.

In-situ Stress
Pada proyek perakahan, perlu diketahui besaran-besaran yang berlaku dibatuan yang bisa didapat dari ilmu
mekanika batuan yang berhubungan dengan sifat batuan yang akan direkahkan.

(3-1)
Gambar 3.2. menunjukkan skematik dari arah stress dan shear pada batuan.

Gambar 3.2.
Skematik Shear dan Normal Stress4)
Rekahan horizontal terjadi bila , atau bilamana . Dengan anggapan gradien 1 psi/ft, v = 0,25, dan To = 1000 psi,
maka kedalaman maksimum akan 3000 ft.

Strain dapat ditulis sebagai :

(3-2)

3.3.2. Perbandingan Poisson


Pemberian kuat tekan (compressive strength) pada suatu bidang material di sepanjang bidang aksis akan
mengakibatkan material tersebut menjadi semakin pendek dan mengembang ke arah yang tegak lurus dengan
bidang aksis seperti yang terlihat pada Gambar 3.3. Perbandingan harga strain yang berada tegak lurus terhadap
beban stress pada bidang lateral dengan harga strain yang tegak lurus terhadap beban stress pada bidang aksis
disebut sebagai Perbandingan Poisson ().

= = (3-3)

Material yang terkena stress dan berubah bentuk ke arah lateral mempunyai harga sebesar 0,5 dan bila material
tersebut tidak berubah bentuk secara lateral bila dikenai beban aksial, maka harga = 0,0. Besi lunak mempunyai
harga sekitar 0,3. Secara umum, limestone, batupasir, shale, dan garam mempunyai harga masing-masing
sebesar 0.15,0.25, 0.40, dan 0.50.

Gambar 3.3.
Perhitungan Poisson Ratio4)

3.3.3. Modulus Shear


Tegangan geser (shear stress) pada permukaan suatu bidang material akan mengakibatkan bidang permukaan
tersebut berpindah atau bergeser membentuk suatu bidang baru yang letaknya paralel dengan bidang semula
seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.4. Perbandingan antara besar harga shear stress yang diberikan terhadap
sudut yang dibentuk akibat deformasi yang terjadi (kekakuan suatu material) dikenal sebagai Modulus Shear (G).
Secara matematis dapat dituliskan :

G = = = (3-4)

Untuk fluida, besar harga G sama dengan nol sedangkan untuk padatan, G merupakan suatu bilangan terbatas.

Gambar 3.4.
Definisi Shear Modulus4)
3.3.4. Modulus Bulk
Beban compressive yang diberikan terhadap semua bagian suatu balok material pada kondisi hidrostatis, akan
mengakibatkan pengurangan volume bulk total. Perbandingan antara tegangan yang diberikan (gaya per unit luas
permukaan suatu bidang) terhadap perubahan volume untuk setiap satu unit volume awal suatu material dinamakan
Modulus Bulk (K). Secara matematis :

K==
= ...........(3-5)

Modulus Bulk berbanding terbalik terhadap harga kompresibilitas

3.3.5. Modulus Young


Jumlah strain yang disebabkan oleh stress adalah fungsi dari kekakuan material. Kekakuan atau kekenyalan dapat
ditunjukkan dengan lekukan atau kemiringan pada plot antara axial stress dan strain pada daerah linier seperti pada
Gambar 3.5., dan inilah yang dinamakan modulus Young (E). Modulus Young (E) sama dengan tegangan tarik (unit
stress) dibagi dengan regangan tarik (unit strain). Secara sistematis :

E = = = = lb / in2 (3-6)

Gambar 3.5.
Grafik untuk Menunjukkan Modulus Young4)

Untuk besi lunak, Modulus Young-nya berharga 30 x 106 psi sedangkan untuk batuan harga E berkisar dari 0,5
sampai 12 x 106 psi dimana soft rock = 1 dan hard rock = 10. Istilah yang hampir sama dan sering dipakai dalam
perekahan hidraulik adalah plane-strain Modulus (E), ditulis sebagai :
(3-7)

yang mana untuk sandstone, v = 0,25, E = 1,07 E. Variabel lain seperti fracture thoughness (kekenyalan rekahan)
yaitu Klc yaitu pengukuran terhadap kemampuan material untuk menahan berkembangnya suatu rekahan.
Gambar 3.6. menunjukkan tiga cara untuk pembebanan yang memecahkan, pertama dengan opening mode
(membuka), kedua dengan sliding mode (menggeser), dan ketiga dengan tearing mode (merobek). Untuk perekahan
hidraulik hanya opening mode yang berlaku, kecuali ada perekahan alamiah.

Gambar 3.6.
Cara-cara Perekahan4)
3.3.6. Tekanan Overburden
Tekanan overburden tidak tergantung pada tektonik, dan harganya sama dengan berat batuan formasi di atasnya.
Dengan integrasi pada density log, bisa diperkirakan harganya :
(3-8)
Dimana rata-rata gradient akan disekitar 0,95 1,1 psi/ft. Harga 1,1 psi/ft didapat kalau semua formasi rata memiliki
densitas sekitar 165 lb/ft3 maka gradien stress = 165/144 = 1,1 psi/ft.
Karena formasi ada yang tidak rapat atau berpori, maka harganya bisa saja sampai 0,95. Kalau overburden adalah
harga absolut, yang dialami oleh batuan dan fluida di pori-pori adalah effective stress ( ), yang didefinisikan sebagai :
(3-9)
dimana adalah Konstanta Poroclastic Biot (1956), yang kebanyakan reservoir bernilai 0,7.
Stress vertikal memberi efektif akan diterjemahkan ke arah horizontal dengan perbandingan poisson , dimana :

(3-10)

dimana adalah stress horizontal efektif dan v = poisson ratio. Variabel ini adalah sifat batuan. Untuk sandstone
sekitar 0,25, yang mana menunjukkan bahwa stress horizontal efektif adalah sekitar 1/3 dari vertikal stress efektifnya.
Absolute horizontal stress akan sama dengan efektif stress plus seperti pada Persamaan (3-9).

Harga stress minimum efektif adalah :


(3-11)

Dan harga stress minimum absolut adalah


(3-12)

Stress horizontal absolut berkurang dengan produksi fluida sumurnya. Harga stress di Persamaan (3-6) tidak akan
sama keseluruh arah horizontal. Stress tersebut adalah harga stress horizontal minimum absolut, karena harga
stress horizontal maksimum absolut adalah :
(3-13)

Dimana adalah suatu kontribusi dari gaya tektonik bumi. Gambar 3.7. menunjukkan suatu plot terhadap harga-harga
stress diatas.

Dari persamaan-persamaan diatas, maka ketiga stress utama adalah : . Arah rekahan akan tegak lurus dengan
harga stress terkecil dari ketiganya. Gambar 3.8. menunjukkan suatu skematik dari arah rekahan terhadap ketiga
stress diatas.

Gambar 3.7.
Skematik dari Harga-Harga Stress terhadap Kedalaman4)
Gambar 3.8.
Besar Ketiga Stress Utama dan Arah Rekahan4)

Gambar 3.9. menunjukkan bahwa bila misalnya suatu permukaan mengalami erosi, sehingga kedalamannya hilang,
maka tekanan overburden akan mengecil, tetapi stress horizontal minimum absolut dan maksimum absolut akan
tetap, sehingga mungkin saja dapat mengakibatkan rekahan yang seharusnya vertikal menjadi horizontal.

Gambar 3.9.
Perubahan Permukaan Akibat Erosi4)

Pada kedalaman yang dangkal, sering terjadi perekahan horizontal. Untuk itu Craft, Holden, dan Graves
menunjukkan bahwa stress tangensial (circumferencial) sepanjang tepian sumur adalah dua kali stress horizontal
compressive didekatnya. Untuk membuat rekahan, stress ini dan tensile stress batuan harus dilawan, sehingga
tekanan perekahan adalah :

(3-14)

Rekahan horizontal terjadi bila , atau bilamana . Dengan anggapan gradien 1 psi/ft, v = 0,25, dan To = 1000 psi,
maka kedalaman maksimum akan 3000 ft.

3.5. Konsep Penghancuran Batuan


Jumlah stress yang menyebabkan penghancuran di setiap titik dalam suatu sumur akan dapat dihitung dengan
asumsi bahwa suatu sumur digambarkan sebagai bentuk dari sebuah silinder berdinding tebal dengan lubang di
tengah (thick-walled hollow cylinder) di mana ketebalan pada dinding silinder tersebut adalah tidak terbatas (infinite)
seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.10.

Gambar 3.10.
Tangensial Stress12)

Di sini akan dicari harga-harga stress untuk setiap titik dalam suatu material dalam hubungannya dengan radius
permukaan bagian dalam maupun bagian luar. Harga stress tersebut bergantung pada bagaimana kita
mengasumsikan keadaan material yang dimaksud, apakah berada dalam keadaan elastis ataukah berada dalam
keadaan plastis.
Pada saat suatu material diasumsikan sebagai material yang bersifat elastis, besarnya harga stress pada silinder
dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan Lame12), dimana diasumsikan bahwa pada keadaan awal
besarnya harga axial stress sama dengan nol. Asumsi ini diambil dari hasil percobaan bahwa tidak terdapat
penambahan panjang ke arah axial pada saat silinder tersebut pecah.
3.2.1. Teori Lame
Teori Lame dirumuskan dalam bentuk matematika oleh Scottt sebagai berikut :
(3-15)
(3-16)

Di mana seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.10., adalah stres tangensial (nilai positif adalah tensile stress), dan
adalah radial stres (nilai positif adalah compressive stress).
Dengan membuat rr dalam Persamaan (3-15) dan (3-16) sama dengan ri, stress maksimum berada didalam
permukaan akan menjadi :

(3-17)
(3-18)

Andaikan tekanan bagian dalam adalah pi dan tekanan bagian luar adalah pe sama dengan nol,
(3-19)

(3-20)
Persamaan ini menunjukkan bahwa harga maksimum dan terjadi pada permukaan bagian dalam ketika rr sama
dengan ri. Persamaan juga menunjukkan bahwa harga selalu lebih besar daripada harga dan selalu merupakan
tensile stress.

Gambar 3.11.
Stress vs Strain untuk Baja dan Sandstone12)

Untuk menentukan kapan penghancuran terjadi dalam silinder berdinding tebal, banyak kriteria yang diajukan
memenuhi teori Lame akan stress dan tekanan. Dalam diskusi mengenai hal ini kata penegangan dan pematahan
digunakan secara sinonim, karena ketika contoh batuan formasi pada temperatur atmosfir dijadikan sasaran
pembebanan, penegangan dan pematahan terjadi secara simultan. Penelitian ini bisa dikuatkan dengan memplotkan
hubungan antara stress dan strain batuan yang dijadikan contoh sebagai subjek pembebanan. Peningkatan stress
diantara batas elastis dan titik patahan akan kecil. Sebuah perbandingan hubungan antara stress dengan strain
untuk sandstone dan baja keras dapat dilihat pada Gambar 3.11.
3.5.2. Persamaan Kirsch.
Dari hasil penelitian didapat bahwa besar ketiga stress utama pada batuan adalah tidak sama karena mungkin
adanya pengaruh gaya tektonik di sekitar lubang bor. Untuk menyelesaikan masalah seperti ini maka dapat
digunakan prinsip dari sebuah plat tipis yang dilubangi dibagian tengahnya untuk keperluan percobaan seperti yang
terlihat pada Gambar 3.12.

.. (3-21)

...(3-22)

...(3-23)

Gambar 3.12.
Stress pada Plat Berlubang12)

Dari gambar di atas, dianggap bahwa dinding lubang bebas dari pengaruh gaya luar. Selanjutnya Kirsch menurunkan
persamaan-persamaan sehubungan dengan plat tipis berlubang tersebut. Persamaan-persamaan tersebut untuk
menggambarkan besarnya penyebaran stress di sekitar lubang pada plat tipis terbatas yang dikenai beban yang
seragam pada arah x.
Bila pada plat tersebut juga dikenai beban R untuk arah y seperti yang terlihat pada Gambar 3.13. maka persamaan
menjadi :

..(3-24)
..(3-25)

..(3-26)

Gambar 3.13
Distribusi Stress pada Plat Tipis Terbatas
dengan Lubang di Tengah12)

Solusi ini diperoleh dengan cara menggabungkan dua stress R dan S.


Dalam proses pembuata suatu rekahan, fluida akan diinjeksikan dengan tekanan P1, mengakibatkan adanya stress
di sekitar lubang. Selain itu ada juga stress tektonik yang melekat dalam batuan. Kedua stress tersebut harus
dipertimbangkan dan solusinya didapat dengan menggabungkan persamaan tentang stress dalam silinder dan stress
pada plat sehingga memungkinkan dapat ditentukan stress secara keseluruhan yang harus diberikan pada awal
mula pelaksanaan perekahan hidrolik.
Jika persamaan untuk silinder dan plat digabung, maka akan diperoleh :

...(3-27)

...(3-28)

....(3-29)

Bila r = a pada lingkaran, maka :

(tekanan) ....(3-30)

....(3-31)

.(3-32)

Bila kita mengasumsikan penghancuran batuan dalam tegangan, maka yang perlu diperhatikan adalah cukup pada
tangensial stress ( ) saja.
3.2.2. Teori Mohr
Mohr mengasumsikan bahwa bila terjadi penghancuran pada suatu bidang maka terdapat suatu hubungan fingsional
antara stress normal dan stress shear yang dituliskan :
(3-33)
yang merupakan sifat dari material. Plot dari hubungan ini dapat dibuat pada bidang ( ). Perubahan tanda akan
merubah arah penghancuran tapi tidak akan merubah kondisi batasnya. Kurva yang terjadi akan simetris disekitar
sumbu .
Teori Mohr merupakan suatu metode grafik dalam menentukan batas kekuatan suatu untuk dihancurkan. Bila stress-
stress utama pada sebuah titik diketahui, maka shear stress dan normal stress pada titik ini dapat ditentukan dengan
menggunakan lingkaran Mohr. Aplikasikan stress-stress utama ( ) ditunjukan pada Gambar 3.14. Sebuah lingkaran
Mohr dibentuk seperti Gambar 3.15. O merupakan titik awal; tensile stress berharga positif dan diplot ke arah kanan
sedangkan compressive stress berharga negatif dan diplot ke arah kiri.

Gambar 3.14.
Diagram Stress12)

(3-34)
(3-35)

Gambar 3.15.
Lingkaran Mohr12)

Teori ini dapat diaplikasikan untuk situasi yang berlawanan dengan keadaan di atas di mana normal stress dan shear
stress diketahui sedangkan stress utamalah yang akan dicari. Bila kita mempunyai data yang cukup maka akan bisa
dibuat tiga atau lebih lingkaran Mohr, yang selanjutnya akan bisa digambar suatu kurva atau selubung (envelope)
yang akan bersinggungan dengan lingkaran Mohr dan simetris dengan -axis (lihat Gambar 2.16. dan Gambar
2.17.).
Stress yang berada di dalam kurva MNN1M1 adalah stress-stress yang berada di bawah titik penghancuran (point of
failure) dan di sini dapat dikatakan bahwa material tersebut masih dalam keadaan utuh atau belum pecah. Namun
untuk stress-stress yang berada di luar kurva, hal ini menunjukkan bahwa stress-stress tersebut berada di atas point
of failure sehingga mengakibatkan material tersebut pecah atau hancur.
Pada lingkaran dengan pusat di C (Gambar 2.6.) yang menyentuh kurva, menjelaskan beberapa hal. Penghancuran
pada kasus ini akan terjadi dengan syarat bahwa retakan yang terjadi akan menyentuh titik P dan P secara
bersamaan yang mana merupakan sudut antara bidang normal dengan arah stress utama yang paling besar.

Gambar 3.16.
Amplop Mohr12)

Gambar 3.17.
Amplop Mohr12)

Kurva MN akan menjadi selubung dari semua lingkaran untuk segala kondisi pada saat perekahan berlangsung dan
dinamakan sebagai selubung Mohr (Mohrs envelope). Tiga lingkaran yang menyentuh kurva dapat dicari lewat suatu
pengujian yang sederhana. Perhatikan lingkaran-lingkaran dengan pusat C1,O,C2 pada Gambar 3.17. yang
diberikan tension, shear, dan compression secara bersamaan. Bila sulit menentukan performa dari ujui shear dan
tensile pada batuan, maka dapat digunakan uji triaxial (triaxial test). Dengan memberi variasi pada tekanan
hidrostatis maka semua lingkaran menuju ke arah kiri dari -axis dapat dicari. Bila ketahanan rekahan meningkat
sesuai tekanan hidrostatis, maka selubung Mohr biasanya akan terus membuka ke arah kiri.
Satu kekurangan dari teori Mohr adalah bahwa Mohr tidak memprediksikan besarnya tegangan untuk perekahan
pada material brittle (rapuh). Selain itu teori ini hanya membahas tentang stress utama maksimum dan minimum
tanpa menjelaskan pengaruh-pengaruhnya, sehingga hasil yang didapat tidak selamanya konsisten dengan hasil di
lapangan.
pengertian material teknik
JUNI 25, 2011
Klasifikasi Material Teknik:
Secara garis besar material teknik dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Material logam
2. Material non logam
Berdasarkan pada komposisi kimia, logam dan paduannya dapat
dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1. Logam besi / ferrous
2. Logam non besi / non ferrous
Logam-logam besi merupakan logam dan paduan yang
mengandung besi (Fe) sebagai unsur utamanya.
Logam-logam non besi merupakan meterial yang mengandung
sedikit atau sama sekali tanpa besi. Dalam dunia teknik mesin,
logam (terutama logam besi / baja) merupakan material yang paling
banyak dipakai, tetapi material-material lain juga tidak dapat
diabaikan. Material non logam sering digunakan karena meterial
tersebut mempunyai sifat yang khas yang tidak dimiliki oleh
material logam.
Material non logam dapat dibedakan menjadi beberapa golongan,
yaitu:
1. Keramik
2. Plastik (polimer)
3. Komposit
Material keramik merupakan material yang terbentuk dari hasil
senyawa (compound) antara satu atau lebih unsur-unsur logam
(termasuk Si dan Ge) dengan satu atau lebih unsur-unsur non
logam. material jenis keramik semakin banyak digunakan, mulai
berbagai abrasive, pahat potong, batu tahan api, kaca, dan lain-lain,
bahkan teknologi roket dan penerbangan luar angkasa sangat
memerlukan keramik.
Plastik (polimer) adalah material hasil rekayasa manusia,
merupakan rantai molekul yang sangat panjang dan banyak
molekul MER yang saling mengikat. Pemakaian plastik juga sangat
luas, mulai peralatan rumah tangga, interior mobil, kabinet
radio/televisi, sampai konstruksi mesin.
Komposit merupakan material hasil kombinasi dari dua material
atau lebih, yang sifatnya sangat berbeda dengan sifat masing-
masing material asalnya. Komposit selain dibuat dari hasil rekayasa
manusia, juga dapat terjadi secara alamiah, misalnya kayu, yang
terdiri dari serat selulose yang berada dalam matriks lignin.
Komposit saat ini banyak dipakai dalam konstruksi pesawat
terbang, karena mempunyai sifat ringan, kuat dan non magnetik.
Sifat mekanik adalah sifat yang menyatakan kemampuan suatu
material / komponen untuk menerima beban, gaya dan energi tanpa
menimbulkan kerusakan pada material/komponen tersebut.
Beberapa sifat mekanik yang penting antara lain:
1. Kekuatan (strength)
Merupakan kemampuan suatu material untuk menerima tegangan
tanpa menyebabkan material menjadi patah. Berdasarkan pada
jenis beban yang bekerja, kekuatan dibagi dalam beberapa macam
yaitu kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan tekan, kekuatan
torsi, dan kekuatan lengkung.
2. Kekakuan (stiffness)
Adalah kemampuan suatu material untuk menerima
tegangan/beban tanpa mengakibatkan terjadinya deformasi atau
difleksi.
3. Kekenyalan (elasticity)
Didefinisikan sebagai kemampuan meterial untuk menerima
tegangan tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang
permanen setelah tegangan dihilangkan, atau dengan kata lain
kemampuan material untuk kembali ke bentuk dan ukuran semula
setelah mengalami deformasi (perubahan bentuk).
4. Plastisitas (plasticity)
Adalah kemampuan material untuk mengalami deformasi plastik
(perubahan bentuk secara permanen) tanpa mengalami kerusakan.
Material yang mempunyai plastisitas tinggi dikatakan sebagai
material yang ulet (ductile), sedangkan material yang mempunyai
plastisitas rendah dikatakan sebagai material yang getas (brittle).
5. Keuletan (ductility)
Adalah sutu sifat material yang digambarkan seprti kabel dengan
aplikasi kekuatan tarik. Material ductile ini harus kuat dan lentur.
Keuletan biasanya diukur dengan suatu periode tertentu, persentase
keregangan. Sifat ini biasanya digunakan dalam bidan perteknikan,
dan bahan yang memiliki sifat ini antara lain besi lunak, tembaga,
aluminium, nikel, dll.
6. Ketangguhan (toughness)
Merupakan kemampuan material untuk menyerap sejumlah energi
tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan.
7. Kegetasan (brittleness)
Adalah suatu sifat bahan yang mempunyai sifat berlawanan dengan
keuletan. Kerapuhan ini merupakan suatu sifat pecah dari suatu
material dengan sedikit pergeseran permanent. Material yang rapuh
ini juga menjadi sasaran pada beban regang, tanpa memberi
keregangan yang terlalu besar. Contoh bahan yang memiliki sifat
kerapuhan ini yaitu besi cor.
8. Kelelahan (fatigue)
Merupakan kecenderungan dari logam untuk menjadi patah bila
menerima beban bolak-balik (dynamic load) yang besarnya masih
jauh di bawah batas kekakuan elastiknya.
9. Melar (creep)
Merupakan kecenderungan suatu logam untuk mengalami
deformasi plastik bila pembebanan yang besarnya relatif tetap
dilakukan dalam waktu yang lama pada suhu yang tinggi.
10. Kekerasan (hardness)
Merupakan ketahanan material terhadap penekanan atau
indentasi / penetrasi. Sifat ini berkaitan dengan sifat tahan aus
(wear resistance) yaitu ketahanan material terhadap penggoresan
atau pengikisan.
Load
Didefinisikan sebagai kekuatan eksternal yang mendukung bagian
dari sutau mesin. Beban ini terdiri dari 3 tipe, yaitu:
Beban tetap (steady load), dikatakan beban tetap apabila beban
dalam keadaan diam dimana benda tersebut tidak dapat erubah
arah.
Beban gerak (variying load), apabila beban dapat dipindahkan
secara kontiyu.
Beban kejut (shock load), apabila bebam digunakan dan
dipindahkan secara tiba-tiba.
Tegangan
Saat gaya atau beban dari system eksternal terjadi pada benda kerja,
gaya internal aka muncul dari dalam benda kerja baik searah
ataupun berlawanan arah sebagai reaksi atas gaya eksternal
tersebut. Stress adalah besarnya gaya internal yangtimbul per
satuan luas area pada benda kerja.
Regangan
Adalah gaya yang diberikan pada suatu benda dengan memberikan
tegangan tarik sehingga benda tersebut juga mengalami perubahan
bentuk.
Tensile Stress / Tegangan Tarik
Adalah suatu sifat bahan hubungan tegangan-regangan pada
tarikan memberikan nilai yang cukup berubah tergantung pada laju
tegangan temperature dll. Umumpnya kekuatan tarik lebih rendah
daripada umpannya seperti baja, duralumin dll.
Compressive Stress / Tegangan Tekan
Compressive in terjadi bila suatu benda kerj ayang menjadi sasaran
aksial yang sama ata berlawanan, dimana tekanan ini disebabakan
pada setiap sisi dari benda kerja dan inilah yang disebut dengan
compressive stress. Pertimbangan lain akan menunjukkan bahwa
dengan adanya tegangan beban, akan ada penurunan penjang
benda kerja dimana perbandingan pengurangan panjang dengan
panjang asli suatu benda kerja dikenal sebagai tegangan regangan.
Shear Stress / Tegangan Geser
Ketika benda kerja menjadi sasaran dua kekuatan yang sama atau
berlawanan, bergerak secara tangensial dengan sisi yang
berlawanan, dimana ini disebabkan pada setiap sisi dari benda kerja
dan inilah yang disebut shear stress. Dan yang berhubungan dengan
regangan dikenal shear strain, yang diukur dengan sudut deformasi
yang berdekatan dengan shear stress
Modulus Young
Hukum Hook menyatakan bahwa ketika benda kerja pada sutu
bahan yang elastis maka tegangan akan seimbang dengan regangan.
Dimana E adalah konstanta maka dapat dikatakan modulus young,
dan satuan yang digunakan adalah kg/cm3 atau N/mm2.
Bearing Stress / Tegangan Dukung
Pembatasan compressive stress pada area antara 2 bagian dikenal
sebagai bearing stress. Bearing stress ini dapat digunakan dalam
mendesign penyambungan paku. Distribusi dari bearing stress ini
tidak selalu sama tetapi bergantung pada bentuk permukaan benda
kerja dan sifat-sifat fisik dari dua material tersebur. Sedangkan
distribusi tekanan akan sama. Bila pendistribusian stress sulit untuk
ditentikan oleh karena itu bearing stress biasanya dikalkuasikan
dengan membagi beban pada beberap area.
Bending Stress / Tegangan Tekuk
Dalam kegiatan perteknikan, bagian-bagian atau anggota structural
mungkin menjadi sasaran pada beban static atau dinamis yang
disebut sebagai bending stress. Sedikit pertimbangan akan
menujukkan karena adanya moment bending, kabel pada bagian
atas benda kerja akan diperpendek karena akompresi terebut.