Anda di halaman 1dari 21

BAB III

HASIL DAN PEMBASAHAN

A. Curah Hujan Rancangan

Sebelum melakukan rancangan suatu sistem penyaliran tambang,

terlebih dahulu dilakukan perhitungan terhadap besarnya debit rancangan yang

masuk ke area tambang tersebut. Besarnya debit rancangan ini dapat ditentukan

dengan beberapa cara atau metode sesuai dengan data yang tersedia untuk

perhitungan debit rancangan tersebut. Data yang tersedia untuk melakukan

perhitungan debit rancangan pada laporan project job ini adalah data curah

hujan harian maksimum.

Data curah hujan harian maksimum yang digunakan adalah data yang

diberikan oleh dosen pembimbing. Yaitu data curah hujan harian maksimum

dari tahun 2001 2015, yang dapat dilihat pada tabel 7, di bawah ini.

Tabel 7. Curah hujan di lokasi penelitian


No. Tahun CH maks Tahun CH maks Tahun CH maks
1 2001 145 2006 125 2011 137
2 2002 120 2007 135 2012 144
3 2003 130 2008 140 2013 155
4 2004 150 2009 147 2014 160
5 2005 160 2010 150 2015 120
Sumber: Tamrin, tahun 2015

Berdasarkan data yang tersedia di atas, maka dapat dilakukan analisis

terhadap data curah hujan untuk mengetahui nilai curah hujan rancangan

dengan tujuan untuk memperoleh curah hujan dengan beberapa periode ulang.

Ada beberapa macam analisis data curah hujan, seperti yang dijelaskan pada

bab sebelumnya. Namun pada project job ini analisis dilakukan dengan metode

31
32

Distribusi Log Pearson Type III. Berikut akan dijelaskan bagaimana

perhitungan data curah hujan rancangan, berdasarkan metode Distribusi Log

Pearson Type III

Tabel 8. Perhitungan curah hujan rancangan


Metode Distribusi Log Pearson Type III
No. Tahun CH maks logx (logx
logx)2 (logx
logx)3
1 2001 145 2.1614 0.0002 0.0000
2 2002 120 2.0792 0.0047 -0.0003
3 2003 130 2.1139 0.0012 0.0000
4 2004 150 2.1761 0.0008 0.0000
5 2005 160 2.2041 0.0031 0.0002
6 2006 125 2.0969 0.0026 -0.0001
7 2007 135 2.1303 0.0003 0.0000
8 2008 140 2.1461 0.0000 0.0000
9 2009 147 2.1673 0.0004 0.0000
10 2010 150 2.1761 0.0008 0.0000
11 2011 137 2.1367 0.0001 0.0000
12 2012 144 2.1584 0.0001 0.0000
13 2013 155 2.1903 0.0018 0.0001
14 2014 160 2.2041 0.0031 0.0002
15 2015 120 2.0792 0.0047 -0.0003
32.2202 0.0240 -0.0003
Sumber: 1102362, tahun 2015

Pada penerapan metode ini ada beberapa data yang perlu dihitung

terlebih dahulu sebelum menghitung nilai curah hujan rancangannya.

Diantaranya yaitu curah hujan rata-rata, standar deviasi, dan koefisien

kemencengan (skewness).

Perhitungan curah hujan rata-rata:


=
logx

33

32.2202 mm

logx =
15

logx = 2.148 mm

Perhitungan standar deviasi:

( )2
= =1
1

0.0240 mm2
=
15 1

0.0240 mm2
=
14

= 0.0414 mm

Perhitungan koefiesien kemencengan (skewness):

=1( )3
=
( 1) ( 2) 3

15 (0.0003) mm3
=
(15 1) (15 2) (0.0414 mm)3

= 0.404

Selanjutnya menentukan besaran faktor frekuensi k untuk agihan

Log Pearson Type III. Nilai koefisien skewness yang telah diperoleh dan

periode ulang tahun yang telah ditentukan dapat digunakan untuk penentuan

nilai faktor frekuensi k. Pada analisis data di atas diperoleh bahwa nilai

koefisien skewness pada lokasi penelitian ini adalah 0.404. Berdasarkan

tabel faktor frekuensi k untuk agihan Log Pearson Type III yang dijelaskan
34

pada BAB sebelumnya dapat diketahui bahwa nilai koefisien skewness pada

lokasi penelitian tersebut berada diantara 0.4 sampai 0.5.

Penelitian ini menggunakan periode ulang tahun selama 8 tahun.

Hal ini sesuai dengan umur tambang yang direncanakan. Berdasarkan tabel

faktor frekuensi k untuk agihan Log Pearson Type III yang dijelaskan pada

BAB sebelumnya dapat diketahui bahwa periode ulang tahun tersebut

berada diantara tahun 5 10 tahun. Sehingga berdasarkan perhitungan

interpolasi, maka nilai faktor frekuensi k dapat dianalisis. Berikut penjelas

tentang penentuan nilai faktor frekuensi k pada lokasi penelitian:

Perhitungan kala ulang 8 tahun:

= 0.4 5 = 0.855

= 0.4 10 = 1.231

Maka 8 :

85
8 = 0.855 + ( ) (1.231 0.855)
10 5

3
8 = 0.855 + ( ) (0.376)
5

8 = 1.0806

Dan

= 0.5 5 = 0.856

= 0.4 10 = 1.216

Maka 8 :

85
8 = 0.856 + ( ) (1.216 0.856)
10 5
35

3
8 = 0.856 + ( ) (0.36)
5

8 = 1.072

Sehingga nilai faktor frekuensi k adalah:

= 0.4 8 = 1.0806

= 0.5 8 = 1.072

0.404 (0.4)
8 ( = 0.404) = 1.0806 + ( ) (1.081 1.072)
0.5 (0.4)

0.004)
8 ( = 0.404) = 1.0806 + ( ) (0.0086)
0.1)

8 ( = 0.404) = 1.080256

Setelah nilai curah hujan rata-rata, standar deviasi, dan faktor

frekuensi k diketahui, selanjutnya yaitu menghitung curah hujan rancangan.

Berikut ini penjelasan tentang perhitungan curah hujan rancangan:

log =
log() + (
log())

log =
log() + 8

log = 2.148 mm + 1.080256 0.0414 mm

log = 2.1927 mm

Maka = anlog 2.1927 mm

Maka = 155.848 mm

B. Catchment Area

Catchment area merupakan daerah tangkapan hujan yang batasan

wilayah tangkapannya ditentukan berdaasarkan titik-titik elevasi tertinggi.

Pada akhirnya catchment area ini akan membentuk suatu poligon tertutup yang
36

polanya disesuaikan berdasarkan kondisi topografi, mengikuti kecendrungan

arah gerak air. Untuk menghitung besaran catchment area, dapat dilakukan

dengan menggunakan beberapa perangkat lunak seperti Datamine, Autocad,

Corel Draw, dan lain-lain.

Pada analisis project job ini, perhitungan besaran catchment area

menggunakan softwere Datamine. Berdasarkan perhitungan yang telah

dilakukan maka diperoleh data catchment area pada lokasi penelitian adalah

sebesar 1980907.18 m2.

Sumber: 1102362, tahun 2015


Gambar 5. Catchment area lokasi penelitian

C. Intensitas Hujan

Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada

suatu kurun waktu di mana air tersebut berkonsentrasi. Data perhitungan curah

hujan rancangan di atas dapat digunakan untuk analisis besaran intensitas curah

hujan yang terjadi di daerah penelitian. Pada project job ini, perhitungan

besaran Intensitas Hujan dilakukan dengan memanfaatkan persamaan menurut


37

Rudy Sayoga dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015. Penjelasan perhitungan

Intensitas Hujan adalah sebagai berikut.


2
R 24 24 3
I= ( )
24 t c

Perhitungan besaran lama waktu konsentrasi (t c )

= 0,0195 (0.77 0.385 )

Besaran nilai panjang aliran (L) dan gradien/kemiringan (S)

ditentukan berdasarkan analisis menggunakan softwere datamine. Dari hasil

perhitungan tersebut dapat diketahui nilai L dan beda elevasi (H) dari aliran air

yang ke PIT penambangan. Berdasarkan analisis menggunakan softwere

datamine diperoleh L dan H pada lokasi pengamatan adalah 535. 37 m dan 180

m. Menurut Rudy Sayoga dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015 nilai S dapat

dihitung dengan persamaan berikut:

= 180 m535.37 m

= 0.336

Maka besaran lama waktu konsentrasi (t c ) adalah:

= 0,0195 (535.37 m0.77 0.336 m0.385 )

= 3.74505 jam

Perhitungan Intensitas Hujan (I):


2
R 24 24 3
I= ( )
24 t c
38

2
155.848 mm/hari 24 3
I= ( )
24 3.74505 jam

2
I = 6.49367(6.40846)3

I = 22.404 mm/jam

D. Debit Rancangan

Penentuan besarnya debit air rangcangan pada lokasi penelitian

dilakukan berdasarkan catchment area dan intensitas curah hujan yang telah

diperoleh, serta nilai koefisien limpasan (run off) sebesar 0.9 yang diketahui

berdasarkan tabel 1. Pada subbab sebelumnya. Perhitungan debit air rancangan

pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan persamaan Rudy Sayoga

dalam Intan Agra Siwi, tahun 2015. :

Q = 0.278 C I A

Q = 0.278 0.9 22.404 mm/jam 1980907.18 m2

Q = 11,103,937.16 mm m/jam

Q = 3.085 m3 /s

E. Perencanaan Pompa

1. Perhitungan debit pompa yang dibutuhkan

Debit pompa yang dibutuhkan dihitung berdasarkan waktu kerja

efektif pompa. Pada project job ini waktu kerja efektif pompa diasumsikan

selama 20 jam perhari. Hal ini berdasar pada pengurangan waktu total kerja

pompa dalam sehari, yang dikarenakan oleh adanya penambahan bahan

bakar pompa, perbaikan ataupun pergantian pompa jika terjadi kerusakan,


39

dan lain-lain. Perhitungan debit pompa yang dibutuhkan dapat dijelaskan

sebagai berikut:

Perhitungan debit rancangan perhari:

= 3.085 m3 /s

= 266544 m3 /hari

Perhitungan debit pompa yang dibutuhkan:

Q
= m3 /s
24 D (hari) 3600

266544
= m3 /s
24 20 3600

= 0.15425 m3 /s

2. Perhitungan head total pompa

Head total pompa merupakan besaran energi yang dibutuhkan

pompa untuk dapat mengalirkan sejumlah air pada kondisi tertentu.

Semakin besar debit air yang dipompa, maka head juga akan semakin besar.

Pada project job ini nilai besaran head total pompa dihitung dengan

menggunakan persamaan Sularso dan Tahara (2006) dalam Intan Agra Siwi

(2015):

= + + + +
40

Sumber: 1102362, tahun 2015


Gambar 6. Pit penambangan lokasi penelitian

Sumber: 1102362, tahun 2015


Gambar 7. Rancangan perencanaan pompa pada lokasi penelitian

Perhitungan head statis ():

= 780 660 (m)

= 120 m

Perhitungan perbedaan tekanan atmosfer pada permukaan air (Hp):

Hp = Hpa Hpb
41

ha 5.256
Hpa = 10.33 (1 (0.0065 ))
288

660 5.256
Hpa = 10.33 (1 (0.0065 ))
288

Hpa = 9.406 m

hb 5.256
Hpb = 10.33 (1 (0.0065 ))
288

780 5.256
Hpa = 10.33 (1 (0.0065 ))
288

Hpa = 9.419 m

Hp = 9.406 9.419 (m)

Hp = 0.013 m

Perhitungan head gesekan pada pipa ():

10.6661.85
= 1.85 4.85

Pada penelitian ini direncanakan menggunakan pipa besi cor baru

dengan diameter dalam pipa sebesar 300 mm. Maka dari jenis pipa yang

ditentukan maka dapat diketahui nilai koefisien C (formula Hazen-Wiliam)

adalah 130. Untuk perhitungan nilai L dapat dijelaskan sebagai berikut:

sin 60 = 20 m

20 m
=
sin 60
42

20 m
= (6 ) + (5 10) + 100 (m)
sin 60

= (6 23.094) + 50 + 100 (m)

= 138.564 + 150 (m)


= 288.564 m
Sehingga adalah:

10.666 0.15425 1.85


= 288.564 (m)
1301.85 0.34.85

10.666 0.15425 1.85


= 288.564 (m)
1301.85 0.34.85

= 4.089 m

Perhitungan head belokan ()

2
= 2 ( )
2

Untuk menghitung nilai 2 digunakan persamaan Sularso dan Tahara dalam

Intan Agra Siwi, tahun 2015:

3,5 0,5
2 = [0,131 + 1,875 ( ) ] ( )
2 90

Dimana:


=
1
tan 2

0.3
=
1
tan 2 60

= 0.5196 m

Berdasarkan nilai R, maka dapat ditentukan nilai 2


43

3,5
0.3 60 0,5
2 = [0,131 + 1,875 ( ) ]( )
2 0.5196 90

2 = [0,131 + 1,875 0.289] 0.817

2 = 0.5488

Perhitungan kecepatan aliran pada pipa ():

0.15425
= (m/s)
1 2

4
0.15425
= (m/s)
1 22
4 7 0.09

= 2.182 m/s

Sehingga :

2
= 12 (2 ( ))
2

2.1822
= 12 (0.5488 ( )) (m)
2 10

= 12 (0.13065) (m)

= 1.5677 m

Perhitungan head akibat kecepatan ():

2
=
2

2.1822
= (m)
2 10

= 0.238 m
44

Berdasarkan nilai head statis, head perbedaan tekanan atmosfer

pada permukaan air, head gesekan pada pipa, head belokan, dan head akibat

kecepatan yang telah diperolah. Maka head total pompa dapat ditentukan,

yaitu sebagai berikut:

= + + + +

= 120 m + (0.013 m) + 4.089 m + 1.5677 m + 0.238 m

= 125.8817 m

3. Pemilihan Pompa

Setelah debit yang dibutuhkan dan head total diketahui, maka

dapat dilakukan pemilihan pompa yang sesuia digunakan untuk

perencanaan pompa pada penelitian ini. Pompa yang digunakan adalah

pompa Multiflo. Berdasarkan grafik pemilihan pompa, Multiflo MF Pump

Unit, pemilihan jenis pompa Multiflo dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sumber: Multiflo MF Brochure, tahun 2010


Gambar 8. Grafik pemilihan unit pompa
45

Berdasarkan grafik pemilihan unit pompa di atas, maka pada

penelitian dapat digunakan pompa Multiflo jenis MF-HP385.

F. Dimensi Sumuran Sump

Pada penelitian ini dimensi sump dihitung berdasarkan selisih

maksimum antara volume air yang masuk ke dalam sump dengan volume air

yang dikeluarkan dari sump (volume pemompaan). Perhitungan dimensi

sumuran sump dapat dijelaskan sebagi berikut:

Tabel 9. Penentuan volume air pada sump

Debit air Volume air Volume air


tc I Selisih
rancangan pada sump pemompaan
(jam) (mm/jam) (m3)
(m3/s) (m3) (m3)
0 0 0 0 0 0
40 4.61946 2.289508482 329689.2213 22212 307477.2213
80 2.91007 1.442299965 415382.3899 44424 370958.3899
120 2.2208 1.100680875 475494.1378 66636 408858.1378
160 1.83323 0.908592043 523349.0168 88848 434501.0168
200 1.57983 0.783000887 563760.6384 111060 452700.6384
240 1.39902 0.693385502 599085.0733 133272 465813.0733
280 1.26239 0.625667453 630672.7921 155484 475188.7921
320 1.15486 0.57237712 659378.4427 177696 481682.4427
360 1.06765 0.529152173 685781.2159 199908 485873.2159
400 0.99523 0.49325965 710293.8954 222120 488173.8954
440 0.93396 0.462892844 733222.2643 244332 488890.2643
480 0.88133 0.436805495 754799.8946 266544 488255.8946
Sumber: 1102362, tahun 2015

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa selisih maksimum

antara volume air yang masuk ke dalam sump dengan volume air yang harus

dikeluarkan dari sump (volume pemompaan) adalah sebesar 488890.2643 m3,

dimana angka tersebut menunjukan volume sump yang harus dirancang pada

penelitian ini.
46

Pada penelitian ini sump dirancang berbentuk trapezium dengan design

geometri lereng sumuran disesuaikan dengan design geometri lereng pada Pit

penambangan. Sehingga, dengan diketahuinya volume sump dan bentuk sump,

maka dimensi sump pada penelitian dapat ditentukan, yaitu dengan

menggunakan persemaan berikut:

( ( 2 ) + ( 2 ))
= (H)
2


tan 600 =


=
tan 600

20
=
tan 600

= 11.55 m

Maka adalah:

= 2 +

= 2(11.55) +

= 23.09 +
47

Volume sump diketahui sebesar 488890.2643 m3, maka untuk dapat

ditentukan, yaitu:

( 2 + 2 )
= H
2

(23.09 + )2 + 2
488890.2643 = 20
2

48889.02643 = 533.33 + 46.18 + 2 + 2

48889.02643 = 533.33 + 4618 + 2 2

2 2 + 46.18 + 533.33 48889.02643 = 0

2 2 + 46.18 48355.69643 = 0

46.18 46.18 4 2 (48355.69643)


Y12 =
22

46.18 386891.7514
Y12 =
4
46.18 622.01
Y12 =
4
46.18 + 622.01
=
4

575.83
=
4

= 143.95 m

Maka:

= 23.09 + 143.95

= 167.04 m
48

Sumber: 1102362, tahun 2015


Gambar 9. Dimensi sump

G. Saluran Terbuka

Penentuan bentuk penampang saluran terbuka dapat dilakukan

berdasarkan debit aliran air dan kemudahan dalam pembuatannya. Pada

penelitian ini saluran terbuka dirancang berbentuk trapezium. Dengan

memanfaat rumus perhitungan kapasitas pengaliran suatu saluran air atau rumus

Manning, maka perencanaan saluran terbuka dapat ditentukan.

1 2/3
= 1/2

49

Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa:

= ( + )


=
2

/ = 2 {(1 + 2 )0.5 }

1
=
tan 600
1
=
tan 600

= 0.58

= 2 {(1 + 0.582 )0.5 0.58}

= 1.152

Maka A adalah:

= (1.152 + 0.58)

= 1.732 2

Untuk menghitung nilai y dibutuhkan besaran debit aliran yang masuk

ke saluran terbuka, yaitu debit air limpasan dan debit air pemompaan yang

masuk ke dalam saluran terbuka (). Berdasarkan analisis pada sub-bab

sebelumnya telah diketahui nilai debit air pemompaan () adalah 0.15425

m3/s. Sedangkan debit air limpasan dihitung berdasarkan catchment area pada

saluran terbuka tersebut, yang dapat ditentukan dengan menggunakan softwere

datamine. Pada penelitian ini besarnya catchment area pada daerah saluran

terbuka adalah seluar 292251.33 m2.

= 0.278 C I A

Q = 0.278 0.9 22.404 mm/jam 292251.33 m2


50

Q = 1,638,209.219 mm m2 /jam

Q = 0.455 m3 /s

Maka adalah:

= +

= 0.15425 m3/s + 0.455 m3 /s

= 0.60925 m3 /s

Sehingga untuk menghitung nilai y, yaitu:

1 2/3
= ( ) 1/2
2

1 2/3
0.60925 = ( ) 0.0051/2 1.732 2
0.03 2

2/3
0.0182775 = 0.071 1.732 2
1.5874
8
0.02902 = 0.12297 3

8 0.02902
3 =
0.12297
8
3 = 0.2359

= 0.582 (kedalaman aliran)

Selanjutnya ukuran dimensi lainya dapat adalah:

Perhitungan kedalaman saluran:

= (15% ) +

= (15% 0.582) + 0.582

= 0.6692 m
51

Perhitungan lebar dasar saluran:

= 1.152 0.582

= 0.6705 m

Perhitungan lebar permukaan saluran:

= + 2

= 0.6705 + 2 0.58 0.582

= 1.345584 m