Anda di halaman 1dari 24

RINGKASAN

I. HAK AZASI MANUSIA DALAM TRANSISI POLITIK

1. TRANSISI POLITIK MENUJU DEMOKRASI

A. Dari Otoritarianisme Ke Demokrasi : Kemunculan Negara-

Negara Demokrasi Baru

Otoriter dan totaliter adalah suatu ideologi negara yang kekuasaan

tertingginya dipegang oleh militer sehingga muncullah diktator. Negara-

negara yang tadinya otoriter, lama kelamaan berubah menjadi demokrasi

dikarenakan oleh kegerahan masyarakatnya yang ditindas.

Demokrasi adalah suatu ideologi negara yang berasal, dari, dan untuk

rakyat. Merupakan pengharapan baru bagi pemimpin-pemimpin negara yang

memakai paham demokrasi, antara lain : Yunani, Spanyol, Argentina, Chile,

Brazil, Uruguay, Polandia, Jerman Timur, Hongaria, Afrika Selatan, dan lain

sebagainya. Untuk memajukan negara yang sudah demokrasi maka tidak

terlepas dari rekonsiliasi dengan masa lampau negaranya yang berupa

pelanggaran HAM.

Menurut Samuel P. Huntington, negara yang otoriter dulunya berubah

menjadi demokrasi adalah lebih dari 40 (empat puluh) negara. Adapun

perubahan tersebut dengan cara, antara lain :

- Ada perubahan dengan cara yang signifikan;

1
- Penguatan kelompok reformis yang mengambil inisiatif untuk

mendorong transisi;

- Negosiasi dengan kelompok oposisi; dan

- Intervensi Amerika Serikat sebagai negara adi kuasa.

Menurut Anthony Giddens fungsi pemerintah dalam hal transisi,

antara lain :

- Menyediakan sarana untuk kepentingan-kepentingan yang beragam;

- Menawarkan sebuah forum untuk rekonsiliasi kepentingan-

kepentingan yang saling bersaing;

- Menciptakan dan melindungi ruang publik yang terbuka, dimana debat

bebas mengenai isu-isu kebijakan bisa terus dilanjutkan;

- Menyediakan beragam hal untuk memenuhi kebutuhan warga negara,

termasuk bentuk-bentuk keamanan dan kesejahteraan yang kolektif;

- Mengatur pasaar menurut kepentingan publik, dan menjaga

persaingan pasar ketika monopoli mengancam;

- Menjaga keamanan sosial melalui kontrol sarana kekerasan dan

melalui penetapan kebijakan;

- Mendukung perkembangan sumber daya manusia melalui peran

utamanya dalam sistem pendidikan;

- Menopang sistem hukum yang efektif;

2
- Memainkan peran ekonomis secara langsung, sebagai pemberi kerja

dalam intervensi makro maupun mikro – ekonomi, plus penyediaan

infrastruktur;

- Membudayakan masyarakat – pemerintah merefleksikan nilai dan

norma yang berlaku secara luas, tetapi juga bisa membantu

membentuk nilai dan norma tersebut, dalam sistem pendidikan dan

sistem-sistem lainnya; dan

- Mendorong aliansi regional dan transnasional, serta sasaran-sasaran

global.

Negara totaliter bukan sekedar hanya mengontrol kehidupan

masyarakat, mempertahankan kekuasaan sebuah elit politik, juga bukan

sekedar rezim seorang diktator yang haus kuasa, tetapi juga sebuah sistem

politik yang melebihi bentuk kekuasaan negara yang mengontrol,

menguasai, dan memobilisasi segala segi kehidupan masyarakat.

Ada 2 (dua) rezim totaliter yang dikenal pada abad ini, yaitu :

pemerintahan Nasional – Sosialisme (NAZI), Adolf Hitler (1933-1945) di

Jerman; dan kekuasaan Bolshevisme Soviet di bawah kepemimpinan Jossif

W. Stalin (1922-1953), yang kemudian menyebar ke negara lain di Eropa

Timur, Cina, Korut, dan Indocina.

B. Reposisi Hubungan Sipil – Militer

Bagi negara-negara yang baru menganut demokrasi maka diperlukan

untuk memisahkan hubungan antara sipil – militer, membangun kekuasaan

3
wilayah publik, merancang konstitusi baru, menciptakan sistem kompetisi

partai dan institusi-institusi demokrasi, liberalisasi, privatisasi, dan bergerak

ke arah ekonomi pasar, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan

menahan laju inflasi dan pengangguran, mengurangi defisit anggaran,

membatasi kejahatan dan korupsi, serta mengurangi ketegangan dan konflik

antar etnis dan kelompok agama.

Seperti di Indonesia setelah ORBA (Orde Baru), kekuasaan militer

masih sangat besar. Terlihat pada rangkap jabatan yang berlaku pada masa

itu. Contoh : seorang TNI-POLRI bisa menduduki kursi DPR (Dewan

Perwakilan Rakyat). Maka langkah yang harus diambil adalah recovery

militer untuk kembali kepada fungsinya yang dasar yaitu sebagai pertahanan

dan keamanan negara.

C. Perumusan Kebijakan Baru Untuk Menyelesaikan Hubungan

Dengan Rezim Sebelumnya

Dikarenakan adanya perubahan politik dari totaliter ke demokrasi

yang disebut dengan transisi politik maka diperlukan kebijakan-kebijakan

baru, yang menurut Solon adalah memberikan perlindungan yang besar

terhadap populasi penduduk, langkah ini disebut dengan kekuasaan hukum

termasuk di dalamnya adalah instrumen-instrumen demokratis dari majelis

rakyat dan pemeriksaan pengadilan yang adil, disamping itu juga

perlindungan kepada hak-hak anak juga harus diperhatikan.

4
Selanjutnya dikembangkan oleh Bronkhorst yaitu : memperbaharui

tatanan sosial baru; membuat suatu propaganda yang mengatakan bahwa

salah untuk menghina pihak-pihak yang dulu kaya dan sangat berkuasa

dengan tujuan untuk menghindari proses balas dendam dikarenakan pihak-

pihak yang dulunya berkuasa dapat dengan mudah mengambil alih

kekuasaan mereka kembali. Sumber daya yang ada pada penguasa yang

lama adalah sangat diperlukan untuk proses rekonstruksi sebuah negara;

dan melakukan pembersihan pada setiap lini pemerintahan.

D. Demiliterisasi Tidak Hanya Berkaitan dengan Militer

Dalam Paradigma Baru ada yang disebut sebagai kelompok reformis

yang menyarankan agar militer tetap berperan dalam mempengaruhi

perkembangan politik tetapi tidak lagi untuk mendominasi kursi

pemerintahan. Pada kenyataan yang ada, pihak militer tidak akan melakukan

intervensi jika tidak ada dukungan dari pihak sipil.

Menurut Harold Crouch, ada 5 (lima) langkah yang perlu ditempuh

untuk mengubah paradigma TNI-POLRI tersebut, yaitu :

- Mengurangi peran TNI-POLRI di dalam pemerintahan;

- Penghapusan kekaryaan;

- Menetralisasi politik;

- Pemisahan POLRI dari TNI; dan

- Orientasi pertahanan.

5
Dengan adanya langkah yang ditempuh oleh TNI-POLRI di Indonesia

tersebut, tampak bahwa kepemimpinan TNI-POLRI yang baru telah

menunjukkan dukungan terhadap demokratisasi dan secara berkala merujuk

pada “supremasi sipil” suatu terminologi yang selalu dihindari oleh kelompok

militer masa lalu.

Menurut Robert Lowry mengenai peningkatan anggota militer dengan

sipil seharusnya meningkat 24% selama 19 tahun dari tahun 1993 – 2019.

Jika kenaikan tersebut tercapai maka hal itu merupakan suatu kenaikan yang

signifikan dan dapat merubah dan memperkuat struktur keanggotaan militer

dalam konteks perbandingan antara jumlah personil yang berdinas aktif

dibandingkan dengan jumlah penduduk.

2. HAK AZASI MANUSIA DALAM TRANSISI POLITIK

A. Kasus Pembunuhan Steven Biko di Afrika Selatan

Steven Biko adalah seorang pemimpin gerakan kulit hitam yang

kharismatik, ia ditangkap di pos polisi penghadang jalan. Ia ditahan di dalam

pos tersebut dan meninggal ditempat sekitar 1 (satu) bulan dari waktu

penahanannya. Meninggal dengan mulut berbusa dan penuh luka bekas

pukulan.

Dua puluh tahun kemudian, para polisi yang berada pada pos tempat

Steven Biko dianiaya meminta pengampunan kepada Komisi Kebenaran dan

Rekonsiliasi Afrika Selatan, namun hal tersebut hanya bisa dikabulkan

6
apabila mereka menceritakan segala tindakan mereka kepada Steven.

Konstitusi Transisi Afrika Selatan mengabulkan permintaan mereka dengan

memperhatikan segala aspek yang akan ditimbulkan dari putusan tersebut.

Jika kekerasan dilawan dengan kekerasan maka tidak akan ada habisnya.

B. Makna Keadilan dalam Proses Rekonsiliasi

Selanjutnya, istri dari Steven Biko adalah Ntsiki Biko mengajukan

tuntutan kepada pelaku yang menganiaya suaminya agar dihukum sebelum

para pelaku tersebut melakukan pengajuan amnesti dari Komisi Kebenaran

dan Rekonsiliasi Afrika Selatan. Bahkan, Ntsiki Biko mengajukan gugatan di

Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan bahwa pengajuan amnesti adalah

inkonstitusional dan bertentangan dengan hukum internasional. Namun,

gugatan tersebut ditolak dan mendalilkan bahwa kewenangan komisi untuk

memberikan amnesti, bahkan juga bila diberlakukan bagi kejahatan terhadap

kemanusiaan.

Pada akhirnya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan

kemudian menyatakan menolak untuk memberikan amnesti terhadap para

pembunuh Steven Biko dikarenakan para pembunuh belum memberikan

kesaksian dengan jujur dan pembunuhan tersebut tidak terkait dengan suatu

tujuan politik.

C. Perspektif Hukum Internasional

Pada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan, pemberian

amnesti kepada pembunuh Steven Biko merupakan inkonstitusional dan

7
bertentangan dengan hukum internasional. Begitu juga dengan negara-

negara domestik lebih memilih penghukuman dari pada amnesti karena

sudah memiliki hukum yang sah untuk menjatuhkan hukuman daripada

upaya untuk pembalasan dendam. Masyarakat internasional dapat dengan

sendirinya menegakkan ketentuan-ketentuan hukum dan menghukum

kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ada perdebatan antara kelompok yang menganut prinsip “inward

looking” versus kelompok yang mengutamakan prinsip “outward looking”.

Outward looking adalah semua ketentuan dan badan internasional bersifat

mengikat (binding) dan harus dilaksanakan sedangkan inward looking adalah

keputusan-keputusan internasional memang perlu dihormati dan

dilaksanakan, sebab konsep kedaulatan negara.

3. PENGALAMAN BEBERAPA NEGARA

A. Negara Amerika Latin

Menurut O’Donnell ada beberapa karakteristik transisi politik di

Amerika Latin dan Eropa Selatan, antara lain : heterogenitas yang lebih

tinggi di Amerika Latin dari pada Eropa Selatan; memenuhi kategori

otoriterisme birokratis; dan memiliki unsur-unsur patrimonialis.

Contoh negara otoriter birokratis dan otoriter tradisional, yaitu :

- Di Nikaragua yang dikuasai oleh rezim Somoza adalah termasuk

salah satu negara yang memenuhi kategori ini;

8
Contoh negara otoriter “populis” adalah Peru.

B. Non – Amerika Latin

- Di Yunani, pada tanggal 21 April 1967 suatu kelompok perwira militer

tingkat menengah yang disebut junta telah mengambil alih

pemerintahan dari Perdana menteri George Papandreou yang

menjamin untuk memegang kekuasaan secara sementara dengan

dalih mengontrol komunis, menghindari korupsi dan mengembalikan

Yunani ke arah demokrasi;

- Di Spanyol, pada tahun 1939 Jenderal Fransisco Franco muncul

sebagai pemenang dalam Perang Sipil Spanyol dengan memerintah

secara totaliter dengan tujuan untuk memberikan pengarahan-

pengarahan kepada masyarakat. Namun, pada tahun 1980-an, rezim

totaliter di Spanyol tersebut diganti dengan rezim yang demokratis

yang benar-benar berbeda dengan pemerintahan sebelumnya.

II. KEADILAN TRANSISIONAL

1. PENGANTAR

A. Pemutusan Kaitan dengan Masa Lalu, Pencarian Jalan Baru

Masyarakat demokrasi yang baru berusaha untuk memutuskan kaitan

dengan pemerintahan otoriter dan mulai membangun. Ada timbul pertanyaan

apakah masyarakat menghukum penguasanya yang lama atau

9
membiarkannya. Namun, biasanya beberapa bangsa hanya menutup mata

terhadap masa lalunya yang kacau.

Menurut Bronkhorst, ada yang perlu dibahas dalam konteks keadilan

pada masa transisi yaitu :

- Kebenaran;

- Rekonsiliasi; dan

- Keadilan.

Meskipun demikian peran keadilan lebih banyak menimbulkan perdebatan

dari pada kebenaran dan rekonsiliasi.

Komisi-komisi pada sekitar 40 (empat puluh) negara yang dibentuk

untuk menuntaskan masalah masa lalu yang otoriter menunjukkan bahwa

pentingnya konsepsi keadilan transisional.

B. Empat Permasalahan Utama : Politik Memori

Menurut Ruti G. Teitel, jika suatu negara yang otoriter sudah berubah

ke arah demokrasi maka permasalahannya sekarang adalah bagaimana

masyarakat memperlakukan kejahatan-kejahatan yang terjadi pada masa

lampau karena berkaitan dengan masa depan negara, antara lain :

- Bagaimanakah pemahaman masyarakat terhadap komitmen suatu

rezim baru terhadap aturan-aturan hukum yang dilahirkannya?

- Tindakan-tindakan hukum apakah yang memiliki signifikansi

transformatif?

10
- Apakah – jika ada – terdapat kaitan antara pertanggungjawaban suatu

negara terhadap masa lalunya yang represif dan prospeknya untuk

membentuk suatu tata pemerintahan yang liberal?

- Hukum apakah yang potensial sebagai pengantar ke arah liberalisasi?

2. KONTEKS INTERNASIONAL PADA WAKTU TRANSISI

A. Internasionalisasi Permasalahan

Permasalahan internasionalisasi pada waktu transisi, antara lain :

- Membersihkan suatu kelompok besar dari para mantan pejabat

komunis dan kolaboratornya; dan

- Menurut Kritz, pemerintahan-pemerintahan asing didorong untuk

memainkan suatu peranan baik dalam bentuk pemberian

perlindungan bagi mereka yang berasal dari rezim sebelumnya atau

memfasilitasi pengeluaran atau ekstradisi mereka untuk diadili.

B. Hukum Internasional dan Keadilan Retroaktif

Konsep penengah dari aturan hukum transisional adalah hukum

internasional. Hukum internasional berguna untuk mengurangi dilemma dari

aturan hukum yang dilontarkan oleh keadilan pengganti dalam waktu transisi

dan untuk menjustifikasi legalitas berkaitan dengan perdebatan mengenai

prinsip retroaktif (azas berlaku surut).

C. Keadilan Retrospektif di Belgia, Perancis, dan Belanda

11
Menurut Lawrence Weschler dalam bukunya yang membahas

mengenai penyelesaian masalah dengan para penyiksa adalah secara

retrospektive, penyiaran kebenaran sampai kepada tahap tertentu untuk

menebus penderitaan korban bekas suatu rezim. Sedikitnya, sampai pada

batas tertentu ini adalah untuk menjawab dan menghargai para korban

tersebut, yang merupakan pembuktian terbalik bagi para penyiksa yang

berpura-pura untuk menuntut sesuatu. Secara prospektif, penyiaran

kebenaran menggunakan banyak cara yang halus dalam hal menuntut para

pelaku kejahatan kemanusiaan. Untuk … hal tersebut adalah struktur pokok

dari penyiksaan bahwa itu terjadi secara rahasia, di dalam kegelapan,

merupakan ganjaran untuk membuat perhitungan dengan membuat malu

para pelaku … para penyiksa tersebut perlu diperlakukan seperti itu dan

dengan tidak seorangpun akan pernah tahu; jika tidak seluruh pernyataan

yang mendasari penalaran memberikan kontribusi miliknya akan dengan

cepat masuk ke dalam pertanyaan.

D. UU Lustrasi Cekoslovakia

Pada bulan Februari 1948 di Cekoslovakia, komunis melakukan/

mendesak pemerintahan koalisi untuk mundur dan komunis mengambil

kekuasaan tersebut. Rezim komunis di Cekoslovakia tersebut memaksakan

suatu sistem pemerintahan yang sama dengan Uni Soviet dimana partai

melakukan kontrol terhadap negara.

12
Pada tahun 1950-an, kelompok Nasionalis Borjuis membersihkan

pemerintahan negaranya dari komunis dan para pengikutnya, lebih dari

100,000 (seratus ribu) tahanan politik dipenjara dan dipekerjakan di kamp-

kamp perburuhan dan sisanya ada yang dibunuh oleh kekuatan pemerintah

yang berkuasa.

Proses transisi di negara ini menggunakan sistem Uni Soviet juga.

Namun, perekonomian ambruk lalu program ekonomi yang barupun

didiskusikan. Lalu pada Januari 1968 terjadilah reformasi demokrasi dan

ekonomi tapi usaha tersebut sia-sia dikarenakan Cekoslovakia kembali

diduduki oleh rezim komunis yaitu Uni Soviet, Jerman Timur, Hongaria,

Polandia, dan Bulgaria yang menginvasi mereka. Paham komunis kembali

diberlakukan di negara tersebut.

Hal tersebut mengakibatkan munculnya pemerintahan baru yang

dengan cepat melawan warisan-warisan ketidakadilan dari rezim komunis.

Pada tanggal 4 Oktober 1991 diberlakukanlah Law on Lustration. Yang

bertujuan untuk mengungkapkan kasus 100,000 (seratus ribu) tahanan

politik yang diidentifikasikan komunis dan memberikan amnesti kepada

200,000 (dua ratus ribu) orang lainnya.

Law on Lustration selanjutnya di review kembali di Mahkamah

Konstitusi Cekoslovakia atas kritikan dari ILO (International Labor

Organization) karena telah melanggar undang-undang tersebut.

13
Dalam hal lustrasi ini Uhde menyatakan bahwa tingkat pelanggaran

dan kejahatan yang telah dilakukan melawan hak, hak azasi manusia, dan

kebidupan menjadi lebih tinggi dari pada beberapa hukum yang akan

menyelesaikannya. Tetapi ini tidak berarti bahwa kita … seharusnya

memesan pada pencarian kehidupan untuk definisi dan keadilan yang

absolut.

E. Akibat yang Lebih Signifikan dan Empat Skenario Pasca

Komunis

Empat skenario pascakomunis, antara lain :

- Suatu negara pascakomunis secara gradual bertransformasi menjadi

suatu negara yang demokrasi pluralis stabil;

- Dari suatu sistem otoritarian, menurut Holmes beberapa peneliti

menghasilkan suatu gradasi yang baik dari hal ini, dan dapat

diargumentasikan bahwa suatu pembedaan harus dibuat antara

kelompok populis, nasionalis, militer, dan bahkan versi-versi – dengan

asumsi adanya kemungkinan kembalinya ke sistem komunis lama,

meskipun tidak terdapat sinyal-sinyal yang meyakinkan tentang

kemungkina terjadinya hal ini padasaat ini – dalam konteks komunis;

- Secara essential tidak mengarah kepada transisi jangka panjang,

dimana pemerintah berubah dengan frekuensi yang abnormal, dan

tetap berupaya untuk mengubah arah; dan

14
- Skenario yang tidak dapat atau tidak seharusnya dideskripsikan; ia

tidak dapat diprediksi, sejak ia tidak dapat disesuaikan dengan

kategori-kategori yang eksis sebelumnya.

Skenario-skenario ini ditetapkan adalah dengan tujuan agar sebagai

pengelompokan negara-negara komunis dikarenakan ada lebih dari 30 (tiga

puluh) negara yang pernah mengalami rezim otoriter (komunis) jadi tidak

mungkin dilakukan penelitian terhadap negara-negara tersebut.

3. KEADILAN DALAM MASA TRANSISI POLITIK

A. Pandangan Kelompok Realis Versus Kelompok Idealis

Dalam perdebatan tentang hubungan hukum dan keadilan dengan

liberalisasi, terdapat 2 (dua) pandangan yang saling berhadapan, yakni

pandangan kelompok realis versus kelompok idealis, dalam kaitannya

dengan kenyataan bahwa hukum harus menunjang pembangunan

demokrasi.

Keadilan transisional adalah keadilan yang diasosiasikan dengan

konteks ini dan keadaan-keadaan politik. Transisi mengimplikasikan

pergeseran-pergeseran paradigma dalam kosepsi keadilan; karenanya,

fungsi hukum menjadi secara mendalam dan secara inheren berlawanan

azas (paradoxical).

B. Hukum Hanyalah Suatu Produk dari Perubahan Politik

15
Suatu negara apabila kondisi politiknya berubah maka hukumnya

akan berubah juga. Jadi hukum adalah suatu alat untuk melegitimasi

kekuasaan. Berbagai kepentingan menjadi satu dan kepentingan nasionallah

yang ada pada suatu hukum.

C. Tergantung pada Hubungan Antara Hukum dan Politik

Dalam penyusunan teori liberal, yang dominan dalam hukum

internasional dan politik, hukum pada umumnya dipahami sebagai mengikuti

konsepsi idealis bahwa ia secara luas tidak dipengaruhi oleh konteks politik.

Sedangkan dalam konteks penyusunan teori hukum kritis, sebagaimana

kelompok realis menekankan pada kaitan yang erat antara hubungan hukum

dan politik.

Menurut Moh. Mahfud Mahmudin, di Indonesia berdasarkan

penelitiannya menyimpulkan bahwa ada intervensi antara politik terhadap

hukum. Dalam realitanya, hukum tidak steril dalam pembentukannya. Politik

sering berperan dalam pembuatan dan pelaksanaannya.

4. DILEMA PENERAPAN ATURAN HUKUM

A. Dasar Hukum Membawa Rezim Masa Lalu ke Pengadilan

Pada masa transisi politik timbul suatu dilema dalam hal

penghormatan terhadap aturan-aturan hukum, dimana hal ini berkaitan

dengan permasalahan keadilan pada rezim yang menggantikan. Pertanyaan

16
yang muncul adalah dalam hal apa yang membawa rezim masa lalu ke

pengadilan.

Dalam periode ini, mahkamah-mahkamah konstitusi (constitutional

courts) yang baru didirikan telah memikul beban institusional yaitu

bagaimana menetapkan suatu sistem hukum yang rule of law.

B. Perdebatan Hukum tentang Penyelenggaraan Persidangan

Terhadap Para Mantan Kolaborator Nazi

Di Jerman ada 2 (dua) ahli hukum yang saling bertolak belakang

dalam hal penghukuman terhadap para mantan kolaborator Nazi, yaitu : Hart

dan Fueller. Hart menganut aliran positivisme hukum yang menyatakan

bahwa seluruh hukum yang masih berlaku wajib dilaksanakan sebelum ada

ketentuan-ketentuan hukum baru, jadi walaupun tidak bermoral tetap harus

dijalankan. Sedangkan menurut Fueller peraturan yang menghukum para

Nazi tersebut adalah hukum yang baru dibuat berdasarkan demokrasi

karena putusnya hubungan dengan rezim otoriter maka putus pula hubungan

hukum nazi tersebut.

Penyelesaian masalahnya, akhirnya pemerintahan Jerman memakai

cara Fueller untuk menghukum para kolaborator Nazi tersebut.

17
TANGGAPAN

Setelah membaca dan meringkas buku Hak Azasi Manusia dalam

Transisi Politik di Indonesia oleh Prof. Dr. Satya Arinanto, SH, M. Hum.,

adapun tanggapan saya antara lain :

I. KOMUNISME

Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme

dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di

abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan

mengesampingkan buruh. Istilah komunisme sering dicampuradukkan

dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai

komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin

sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme". Dalam komunisme

perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara

ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal

dengan proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika

bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro

sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika

dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi

"tumpul" dan tidak lagi diminati. Komunisme sebagai anti kapitalisme

menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana

18
kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik

rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata.

Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya

komunisme juga disebut anti liberalisme. Secara umum komunisme sangat

membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap candu

yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari

pemikiran yang rasional dan nyata. 1

Banyak orang yang mengira komunisme 'mati' dengan bubarnya Uni

Soviet di tahun 1991, yang diawali dengan kuputusan Presiden Mikail

Ghorbacev. Namun Komunisme yang murni belum pernah terwujud dan tak

akan terwujud selama revolusi lahir dalam bentuk sosialisme (USSR dan

negara-negara komunis lainnya). Dan walaupun komunis sosialis hampir

punah, partai komunis tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif

memperjuangkan hak-hak buruh, pelajar dan anti-imperialisme. Komunisme

secara politis dan ekonomi telah dilakukan dalam berbagai komunitas,

seperti Kepulauan Solentiname di Nicaragua.2

Seperti yang digambarkan Anthony Giddens, komunisme dan

sosialisme sebenarnya belum mati. Ia akan menjadi hantu yang ingin

melenyapkan kapitalisme selamanya. Saat ini di banyak negara, komunisme

berubah menjadi bentuk yang baru. Baik itu Kiri Baru ataupun komunisme

khas seperti di Kuba dan Vietnam. Di negara-negara lain, komunisme masih

1. Wikipedia. Komunisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme. Wikimedia Inc.


2008.
2. Ibid.

19
ada didalam masyarakat, namun kebanyakan dari mereka membentuk

oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.3

Manifesto Komunis (B.Jerman : Das Manifest der Kommunistischen

Partei) atau sering juga disebut dengan Manifesto Partai Komunis adalah

suatu manifesto tertulis yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, dua

guru besar dalam ilmu Sosialisme dan pemimpin pergerakan kaum buruh

modern. Pada awalnya manifesto ini ditujukan untuk Liga Komunis.

Manifesto ini diterbitkan pertama kali pada tanggal 21 Februari tahun 1848 di

London.4

Manuskrip Manifesto ini dikirimkan ke percetakan di London bulan

Januari 1848, beberapa minggu sebelum meletus Revolusi Perancis tanggal

24 Februari 1848. Manuskripnya ditulis dalam bahasa Jerman yang

kemudian segera terjemahannya diterbitkan dalam bahasa Perancis, Inggris,

Denmark, Polandia dan bahasa - bahasa lainnya.5

II. REZIM OTORITER DAN PERUBAHANNYA

Bahwa ada suatu hukum yang mengatur dimana jika ada kekuasaan

yang otoriter berkuasa maka masyarakat pada negara tersebut

3. Ibid.
4. Karl Marx dan Friedrich Engels. Manifesto Partai Komunis 1848 : Pendahuluan.
http://marx.org/indonesia/archive/marx-engels/1848/manifesto/ch01.htm. Edisi
Keterangan. 2008.
5. Ibid.

20
menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Pada masa

perubahan dari rezim otoriter ke rezim demokrasi disebut transisi politik.6

Perubahan situasi politik ke arah otoriter biasanya dilakukan dengan

cara pemberontakan oleh pihak militer. Namun, hal tersebut tidak terlepas

dari kekuasaan orang sipil yang menggerakkan atau bisa disebut sebagai

otak dari pergerakan itu.7

III. PERMASALAHAN YANG MUNCUL

Seluruh permasalahan yang ditimbulkan dalam hal ini adalah tidak

terlepas dari Human Rights (Hak Azasi Manusia)8 dan bagaimana

penyelesaiannya. Terdapat 2 (dua) hukum dalam menghukum para pelaku

kejahatan tersebut antara lain adalah hukum yang berlaku pada zaman

rezim tersebut berkuasa dan hukum yang baru dibuat pada masa transisi.9

Permasalahan yang timbul adalah bagaimana cara membersihkan

seluruh rezim komunis dan para pejabatnya, hal ini menjadikan hal yang

utama pada kalangan internasional.10

Pada masa perubahan/ transisi ada konsep penengah yang lain dari

aturan hukum transisional adalah hukum internasional. Hukum internasional

6. Satya Arinanto. Hak Azasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia. Cet. 3. Pusat
Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2008.
7. Ibid.
8. HAM/ Hak Azasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak
awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat oleh
siapapun. Organisasi. Pengertian, Macam dan Jenis Hak Azasi Manusia/ HAM yang
Berlaku Umum Global – Pelajaran Ilmu PPKN/ PMP Indonesia. www.organisasi.org.
2006.
9. Satya Arinanto. Loc cit. hal. 241 – 243.
10. Loc cit. hal. 130.

21
menempatkan institusi-institusi dan proses-proses yang melampaui hukum

dan politik domestik. Dalam periode perubahan politik, hukum

internasionallah yang menawarkan suatu konstruksi alternatif dari hukum

yang ada, walaupun terdapat suatu perubahan politik yang substansial, tetap

berlangsung kekal.11

Hukum internasional berperan untuk mengurangi dilema dari aturan

hukum yang dilontarkan oleh keadilan pengganti dalam waktu transisi dan

untuk menjustifikasi legalitas berkaitan dengan perdebatan mengenai prinsip

retroaktif.12

IV. KOMISI DARI MASA TRANSISI

Gerakan yang timbul setelah masa transisi adalah komisi kebenaran

dan rekonsiliasi untuk menegakkan konsepsi keadilan transisional13

(transisional justice).

Adapun yang diadili pada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi adalah

kejahatan melawan kedamaian, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap

kemanusiaan.14

11. Loc cit. h. 146.


12. Loc cit. h. 211.
13. A. E. Priyono. Demiliterisasi dan Keadilan Transisional dalam Proses Demokratisasi
di Indonesia. http://www.demosindonesia.org/pdf/AEP--
Projek%20Demiliterisasi,%20Keadilan%20Transisional,%20dan%20Politik%20Dem
okratisasi.pdf. 2008.
14. E-Learning. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. www.e-learning.unram.ac.id. 2008.
h. 106.

22
V. PEMUTUSAN HUKUMAN

Unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam pemutusan hukuman dalam

hal genocide15 apabila : membunuh anggota kelompok; menyebabkan

penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota kelompok, dengan

sengaja menciptakan kondisi kehidupan yang akan mengakibatkan

kemusnahan secara fisik, baik seluruhnya atau sebagian, memaksa

tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mencegah kelahiran di dalam

kelompok masyarakat; dan memindahkan secara paksa anak-anak dari

suatu kelompok ke kelompok lain.16

Isi dari buku tersebut begitu ilmiah dan scientific sehingga agak sulit

untuk memahaminya apabila hanya dengan satu kali baca. Banyak kata-kata

yang sulit untuk dimengerti. Penggunaan istilah-istilah sangat bagus. Ada 2

(dua) benturan yang saya dapati belum saya mengerti, yaitu : transitology

dan consolidology.

Demikianlah tanggapan dari saya, lebih dan kurang saya mohon

maaf. Penulisan ringkasan dan tanggapan ini adalah salah satu tugas dari

mata kuliah Politik Hukum agar dapat memenuhi kriteria-kriteria yang

diberikan dalam penulisannya.

15. Genosida atau genosid adalah sebuah pembantaian besar-besaran sistematis


terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan
(membuat punah) bangsa tersebut. Wikipedia. Genosida.
www.wikipedia.org/wiki/genosida. 2008
16. Satya Arinanto. Op cit. h. 171.

23
DAFTAR PUSTAKA

Arinanto, Satya. Hak Azasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia.


Jakarta. Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas
Indonesia. 2008.

E-Learning. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. www.e-


learning.unram.ac.id. 2008. h. 106.

Marx, Karl dan Friedrich Engels. Manifesto Partai Komunis 1848 :


Pendahuluan. http://marx.org/indonesia/archive/marx-
engels/1848/manifesto/ch01.htm. Edisi Keterangan. 2008.

Priyono, A. E. Demiliterisasi dan Keadilan Transisional dalam Proses


Demokratisasi di Indonesia. http://www.demosindonesia.org/pdf/AEP-
-
Projek%20Demiliterisasi,%20Keadilan%20Transisional,%20dan%20P
olitik%20Demokratisasi.pdf. 2008.

Organisasi. Pengertian, Macam dan Jenis Hak Azasi Manusia/ HAM yang
Berlaku Umum Global – Pelajaran Ilmu PPKN/ PMP Indonesia.
www.organisasi.org. 2006.

Wikipedia. Genosida. www.wikipedia.org/wiki/genosida. Wikimedia Inc. 2008

Wikipedia. Komunisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme. Wikimedia


Inc. 2008.

24