Anda di halaman 1dari 7

JOURNAL READING

KLINIK KITAMURA

A. PENDAHULUAN
Prevalensi diabetes mellitus pada orang dewasa diseluruh dunia menempati
urutan ke 4 dan ini berarti bahwa lebih dari 150 juta orang yang terkena penyakit ini.
Masalah kaki diabetik merupakan penyebab utama amputasi tungkai bawah non
traumatis. Patofisiologi penyakit kaki diabetik meliputi neuropati perifer, penyakit
arteri perifer dan infeksi. Patologi ini menyebabkan pengembangan ulserasi, Charcot
foot, nyeri neuropati, gangren dan amputasi. (Turns, 2012). Lebih dari sepertiga
(33%) dari pasien diabetes yang ditemukan berada pada risiko tinggi untuk terkena
diabetic foot ulcer. (Mugambi, 2009)
Pepaya telah diteliti dari perpektif farmakologi. Pepaya Hijau kaya akan 2
enzim (papain dan chymopapain) yang memiliki sifat pencernaan yang sangat kuat,
dengan kemampuan untuk melarutkan jaringan mati. Ekstrak buah pepaya yang
masak atau mentah dan biji pepaya aktif terhadap bakteri gram positif. Dosis yang
besar efektif terhadap bakteri gram negatif. Substansi dari pepaya sendiri memiliki
sifat protein dan menghasilkan aglikon dari glucotropaeolin benzil Isothiocynate
(BITC) yang bakteriostatik, bakterisida dan fungicidal.(Hewitt, 2002)

B. ANALISIS JURNAL
Pada penelitian ini jumlah sampel yang digunakan adalah 43 orang dengan
semua derajat luka dengan kriteria inklusi manajemen awalnya mendapatkan terapi
antibiotik empirik, debridemen pembedahan atau amputasi, kontrol glikemik dan
perawatan luka yang menggunakan dressing pepaya. Penelitian ini menggunakan biji
dan kulit papaya dalam bentuk krim yang digunakan sebagai dressing luka diabetes.
Umur sampel berada pada kisaran 40-70 tahun. Kriteria pasien dengan DFU berulang,
kontrol gula darah yang buruk, iskemik perifer, gagal ginjal kronik, hepatitis dan
maligna Dressing selalu diganti setiap 48 jam. Luka dianggap sembuh jika jaringan
pada luka tumbuh granulasi dan epitelisasi .
Mean usia pada penelitian ini adalah 54,84 tahun yang menujukan DFU umum
terjadi pada kelompok usia 50 tahun ke atas. Dressing pepaya secara signifikan
menurunkan resiko dilakukannnya intervensi pembedahan mulitpel dan amputasi.
Mean durasi penyembuhan DFU pada penelitian ini adalah 19,23 hari. Penyembuhan
diberi label untuk luka-luka yang memiliki sehat jaringan granulasi dan memiliki
tumbuh epitel pada margin mereka. Luka-luka tersebut ditandai jika memiliki jaringan
granulasi yang sehat dan tumbuhnya epitelium. Penelitian lainnya tentang
manajemen perawatan luka yang menggunakan dressing pepaya dan normal salin
menunjukan durasi penyembuhan luka yang lambat yaitu 28-43 hari. (Ahmad et all
2001). Penurunan penyembuhan luka dan kebutuhan minimal 2 intervensi dapat
dipengaruhi oleh enzimatik mikro-debridemen dari dressing pepaya. Efek tambahan
dressing pepaya selain mikro-debridemen adalah memiliki sifat antibakterial.
( Dawkins, et all. 2003)
Dressing pepaya topikal pada pasien diabetic foot ulcer dapat menurunkan
durasi penyembuhan dan menurunkan intervensi pembedahan karena adanya mikro-
debridemen enzimatik dan juga memerlukan biaya yang tidak mahal.

C. LANDASAN TEORI
1. Pepaya (Carica papaya L.)
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari
Amerika tropis. Pusat penyebaran tanaman diduga berada di daerah Meksiko
bagian selatan dan Nikaragua. Bersama pelayar-pelayar bangsa Portugis di abad
ke 16, tanaman ini turut menyebar ke berbagai benua dan Negara, termasuk ke
benua Afrika dan Asia serta negara India. Dari India, tanaman ini menyebar ke
berbagai Negara tropis lainnya, termasuk Indonesia dan pulau-pulau di Lautan
Pasifik di abad ke 17(Kalie, M.B, 2000).
Meski semakin banyak jenis dan ragam buah impor, pepaya tetap populer di
Indonesia. Selain murah, zat gizi yang dikandungnya pun lengkap. Biji, daun,
batang, dan akarnya sangat bermanafaat sebagai obat. Pepaya juga dikenal sebagai
buah yang murah harganya dan enak rasanya. Varietas yang beragam dan
ketersediaannya sepanjang tahun turut memperkokoh posisi pepaya sebagai
buah idola (Anonim, 2010).
Disamping gizinya yang tinggi, pepaya adalah buah yang memiliki kandungan
tinggi antioksidan. Ini termasuk vitamin C, flavonoid, folat, vitamin A, mineral,
magnesium, vitamin E, kalium, serat dan vitamin B. Antioksidan memerangi
radikal bebas dalam tubuh dan menjaga kesehatan sistem kardiovaskular dan
memberikan perlindungan terhadap kanker usus besar (Superkunam,2010)
Karena pepaya merupakan sumber antioksidan yang sangat baik, buah pepaya
membantu mencegah oksidasi kolesterol dalam hati. Kolesterol tinggi dapat
menyebabkan serangan jantung dan stroke. Ini dapat dicegah dengan
mengkonsumsi buah pepaya secara teratur. Selain itu pepaya juga sarat akan
serat yang kemudian dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam hati.
Asam folat yang ditemukan dalam pepaya menghilangkan zat-zat berbahaya
yang dapat merusak dinding pembuluh darah dan menyebabkan serangan
jantung. Salah satu manfaat buah pepaya lainnya yaitu sebagai pencegahan
penyakit jantung, dan diabetes.
Manfaat buah pepaya yang tidak kalah pentingnya adalah berperan dalam
mencegah kanker usus besar. Ini tidak lepas karena banyaknya kandungan serat.
Serat ini juga sangat berguna bagi mereka yang kesulitan buang air besar. Vitamin
A yang ada dalam buah pepaya, sangat bermanfaat bagi orang-orang yang
memiliki paru-paru yang lemah. Termasuk pepaya dalam makanan
mereka, akan mengurangi kemungkinan mereka tertular penyakit yang muncul
sebagai hasil dari paru-paru yang lemah, seperti bronkitis, kanker dan lain-lain
(Superkunam, 2010).

2. Manfaat Pepaya
Pepaya sebagai Antikanker
Penelitian Otsuki tahun 2011 menyatakan bahwa ekstrak daun pepaya
memiliki aktivitas immunomodulator dan dapat menghambat perkembangan sel
line tumor seperti kanker serviks (sel hela), kanker payudara (sel MCF 7), kanker
hati (sel HepG20), kanker paru-paru (sel PC14), kanker pancreas (sel Panc-1) dan
kanker mesothelioma (sel H2452) dan sel line hemopoetik seperti kanker limfoma
sel T (sel Jurkat), leukeumia plasma (se ARH77), Limfoma burkitt (sel raji),
limfoma sel besar anaplastik (sel Karpas-299) dengan menginduksi kematian sel
termasuk apoptosis.
Ekstrak daun pepaya dengan variasi konsentrasi 0.62520 mg/ml memiliki
efek biologis secara in vitro yang menunjukkan efek anti proliferative terhadap sel
tumor, meningkatkan produksi sitokin tipe Th1, meningkatkan sitotoksisitas
terhadap sel tumor, dan komponen aktif ekstrak pepaya harus terkandung dalam
fraksi dengan komponen yang massa molekulernya kurang dari 1000.

Pepaya sebagai Antioksidan

Aktivitas antioksidan ekstrak Carica papaya yang diuji


menggunakan metode DPPH dinyatakan berhubungan dengan
kadar fenolik dan flavonoidnya. Okoko pada tahun 2012
menyatakan bahwa ekstrak daun papaya dapat digunakan
sebagai produk farmasi atau nutrasetikal karena telah terbukti
memiliki aktivitas antioksidan saat diuji secara in vitro terhadap
eritrosit yang diinduksi dengan hydrogen peroksida sebagai
prooksidan walaupun tidak lebih baik dibandingkan dengan asam
askorbat.

Pepaya dapat menjadi antioksidan karena kandungan kimia


pada daun pepaya terdiri atas antraquinon, alkaloid seperti
karpain, flavonol, vitamin C, dan vitamin E yang memiliki
aktivitas biologis yang luas

Pepaya sebagai Antidiabetes

Ekstrak tanaman pepaya terbukti memiliki efek mengurangi


kondisi hiperglikemik pada mencit yang diinduksi diabetes oleh
streptozocin melalui mekanisme pengaturan sel beta pancreas
yaitu secara signifikan memicu regenerasi sel beta sebagai bukti
dari penurunan kadar glukosa darah. Ekstrak biji dan daun
pepaya juga terbukti memiliki efek antidiabetes pada tikus yang
diinduksi diabetes menggunakan streptozocin yang memicu
penurunan sekresi insulin oleh sel beta.

Ekstrak biji pepaya ini terbukti meningkatkan berat badan,


menormalkan kembali kadar glukosa darah, kadar SGOT/SGPT pada
tikus diabetes secara signifikandengan mekanisme meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pancreas atau meningkatkan uptake
glukosa ke jaringan. Adapun ekstrak daun pepaya memiliki efek
hiperglikemik melalui mekanisme stimulasi sel beta yang masih
berfungsi untuk terus mengeluarkan insulin dan bukan dengan
meregenerasi sel beta pancreas untuk meningkatkan kadar
insulin yang dihasilkan. Ekstrak daun pepaya juga terbukti
meningkatkan produksi insulin pada tikus non diabetes. Berbeda
dengan obat standar antidiabetes, ekstrak biji pepaya juga mampu
menormalkan kembali profil lemak dalam serum tikus diabetes
sehingga ini menjadi kelebihan bagi ekstrak biji pepaya untuk dapat
dijadikan pilihan terapi dalam manajemen penyakit diabetes.
Pepaya sebagai Antifertilitas

Ekstrak biji pepaya ditemukan berpotensi untuk dijadikan


bahan kontrasepsi bagi pria karena memiliki kemampuan untuk
menekan proses spermatogenesis yang dimediasi oleh
penekanan enzim esensial untuk sintesis testosteron dan
estradiol yang diperlukan dalam produksi jumlah yang cukup dari
spermatozoa untuk kebutuhan fertilitas pria, enzim tersebut
adalah cholesterol side chain cleavage enzyme dan aromatase.

D. PEMBAHASAN
Biji papaya memiliki nutrisi penting sebagai antibakteri yang efektif melawan
bakteri seperti bakteri E.Coli, Salmonella dan infeksi staphylococcus. Berdasarkan
hasil uji fitokimia diketahui bahwa senyawa triterpenoid merupakan komponen utama
biji papaya. Hasil uji aktivitas didapat bahwa senyawa ini dapat menghambat
pertumbuhan bakteri E. coli dan Staphylococus aureus. (Sukadana, 2008).
Ekstrak tanaman pepaya terbukti memiliki efek mengurangi kondisi
hiperglikemik pada mencit yang diinduksi diabetes oleh streptozocin melalui
mekanisme pengaturan sel beta pancreas yaitu secara signifikan memicu regenerasi
sel beta sebagai bukti dari penurunan kadar glukosa darah. Ekstrak biji dan daun
pepaya juga terbukti memiliki efek antidiabetes pada tikus yang diinduksi diabetes
menggunakan streptozocin yang memicu penurunan sekresi insulin oleh sel
beta. Penurunan berat badan merupakan indikator dari terjadinya diabetes namun
mekanismenya belum jelas, dapat karena kehilangan nafsu makan, kehilangan protein
jaringan, atau meningkatnya buangan otot[13]. Ekstrak biji pepaya ini terbukti
meningkatkan berat badan, menormalkan kembali kadar glukosa darah, kadar
SGOT/SGPT pada tikus diabetes secara signifikandengan mekanisme meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pancreas atau meningkatkan uptake glukosa ke
jaringan. Adapun ekstrak daun pepaya memiliki efek hiperglikemik melalui
mekanisme stimulasi sel beta yang masih berfungsi untuk terus mengeluarkan insulin
dan bukan dengan meregenerasi sel beta pancreas untuk meningkatkan kadar insulin
yang dihasilkan.
Ekstrak daun pepaya juga terbukti meningkatkan produksi insulin pada tikus
non diabetes. (Juarez, 2012). Berbeda dengan obat standar antidiabetes, ekstrak biji
pepaya juga mampu menormalkan kembali profil lemak dalam serum tikus diabetes
sehingga ini menjadi kelebihan bagi ekstrak biji pepaya untuk dapat dijadikan pilihan
terapi dalam manajemen penyakit diabetes.

E. PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan teori yang ada didapat bahwa papaya
memiliki manfaat sebagai antidiabetes terutama biji dan kulitnya yang dapat diubah
menjadi bentuk krim dan digunakan sebagai dressing untuk perawatan luka diabetes
mellitus.

DAFTAR PUSTAKA
Fatimah, Mehjabeen, Saiyad Shah Alam and Hamiduddin. 2015. Importance of Raw Papaya
Dresing in Diabetic Foot Ulcer- A case report. European journal of biomedical and
pharmaceutical sciences. Volume 2.

Muhammad, Ihtasaham, shaukat ali shaikh, haroon ur rashid. 2014. Role of Papaya Dressings
in the Management of Diabetic Foot Ulcers. Journal of Rawalpindi Medical
College.

Pangesti, Tika dkk. Sweet Papaya Seed Candy Antibacterial Escherichia Coli Candy with
Papaya Seed. Universitas Negeri Yogyakarta

Rahayu, Septiani, Ami Tjitaresmi. 2016. Tanaman Papaya (Carica papaya L) dan Manfaatnya
dalam Pengobatan.

Rahayu, Septiani., Ami Tjutraresmi. 2016. Review Artikel: Tanaman Pepaya (Carica papaya
L.) dan Manfaatnya dalam Pengobatan. Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran:
Bandung. Farmaka Vol. 14 No.1 2016.