Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Empiema ialah proses supurasi yang terjadi di rongga tubuh, dimana


rongga tersebut secara anatomis sudah ada. Empyema dapat terjadi di rongga
pleura yang dikenal dengan nama empyema thoraks, dan dapat juga terjadi di
kandung empedu dan pelvic.
Hippocrates telah mengenalnya sejak 2.400 tahun yang lampau dan dialah
yang pertama kali melakukan torakosintesis dan drainase pada pleural empyema,
kemudian oleh Graham dan kawan-kawannya dari suatu komisi empyema waktu
Perang Dunia I diberikan cara-cara perawatan dan pengobatan (pengelolaan)
empyema yang dianut sampai sekarang, walaupun cara pengelolaan empyema di
berbagai rumah sakit beraneka ragam, namun tindakan standar masih tetap
dipertahankan.
Penyakit tersebut dapat pula disebabkan oleh
A. Trauma pada dada (sekitar 1-5% kasus mendorong ke arah empyema)
B. Pecahnya abses dari paru-paru ke dalam rongga plaura
C. Perluasan suatu infeksi yang bukan dari paru-paru (misalnya: madiastinitis,
peritonitis)
D. Trauma pada esofagus
E. Iatrogenie infeksi saat merawat luka di sekitar daerah dada.
Empyema mempunyai tingkat kematian yang cukup tinggi, biasanya
akibat dari kegagalan bernafas dan sepsis . Dengan ditemukannya antibiotika yang
ampuh, maka angka prevalensi dan mortalitas empyema mula-mula menurun,
akan tetapi pada tahun-tahun terakhir oleh karena perubahan jenis kuman
penyebab dan resistensi terhadap antibiotik, morbiditas dan mortalitas empyema
tampak naik lagi.

1
Empyema thoraks masih merupakan masalah penting, meskipun ada
perbaikan teknik pembedahan dan penggunaan antibiotik baru yang lebih efektif.
Empyema dapat terjadi sekunder akibat infeksi ditempat lain, untuk itu
perlu dilakukan pengobatan yang adekuat terhadap semua penyakit yang dapat
menimbulkan penyulit pada empyema.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah Empiema ?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1Tujuan Umum
Setelah mendapatkan pembelajaran mengenai asuhan keperawatan
pada pasien dengan masalah Empiema Di Ruang Soka Atas RSUP
Persahabatan, diharapkan pengetahuan mahasiswa mengenai asuhan
keperawatan pada pasien dengan masalah Empiema menjadi meningkat.
1.3.2 Tujuan Khusus
Untuk dapat memahami dan mengetahui tentang :
A. Definisi, etiologi, tanda dan gejala, patofisiologi, penatalaksanaan
medis dari Empiema.
B. Proses perawatan mulai pengkajian sampai intervensi secara teori

C. Analisa sesuai kasus diatas dan tegakan diagnosa keperawatan sampai


intervensi dan rasional minimal 2 secara prioritas.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari bab I ; pendahuluan, bab II ;


tinjauan pustaka, bab III ; penutup.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI EMPIEMA

Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga


pleura. Awalnya rongga pleura adalah cairan encer dengan jumlah leukosit rendah,
tetapi sering kali berlanjut menjadi yang kental. Hal ini dapat terjadi jika abses
paru-paru meluas sampai rongga pleura. Empiema juga di artikan sebagai
akumulasi pus diantara paru dan membran yang menyelimutinya (ruang pleura)
yang dapat terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Pus ini berisi sel sel darah putih
yang berperan untuk melawan agen infeksi (sel sel polimorfonuklear) dan juga
berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan (fibrin). Ketika pus
terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada paru
sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring dengan berlanjutnya
perjalanan penyakit maka fibrin-fibrin tersebut akan memisahkan pleura menjadi
kantong kantong (lokulasi). Pembentukan jaringan parut dapat membuat sebagian
paru tertarik dan akhirnya mengakibatkan kerusakan yang permanen. Empiema
biasanya merupakan komplikasi dari infeksi paru (pneumonia) atau kantong
kantong pus yang terlokalisasi (abses) dalam paru. Meskipun empiema sering kali
merupakan dari infeksi pulmonal, tetapi dapat juga terjadi jika pengobatan yang
terlambat.

rongga pleura normal empyema di rongga pleura

3
2.2 ETIOLOGI EMPIEMA

A. Stapilococcus

Staphylococcus adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab


dikenal sebagai Staph, yang dapat menyebabkan banyak penyakit-penyakit
sebagai akibat dari infeksi beragam jaringan-jaringan tubuh. Bakteri-bakteri
Staph dapat menyebabkan penyakit tidak hanya secara langsung oleh infeksi
(seperti pada kulit), namun juga secara tidak langsung dengan menghasilkan
racun-racun yang bertanggung jawab untuk keracunan makanan dan toxic
shock syndrome. Penyakit yang berhubungan dengan Staph dapat mencakup
dari ringan dan tidak memerlukan perawatan sampa berat/parah dan
berpotensi fatal.

B. Pnemococcus

Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan


infeksi serius seperti radang paru-paru (pneumonia),meningitis (radang
selaput otak) dan infeksi darah (sepsis). Sebenarnya ada sekitar 90 jenis
kuman pneumokokus, tetapi hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit
gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau kapsul.
Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.
C. Faktor Genetik
Faktor genetik mempunyai peran pada penyakit empiema. Faktor
genetik diataranya adalah atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau
peningkatan kadar imonoglobulin E (IgE) serum, adanya hiper responsive
bronkus, riwayat penyakit obstruksi paru pada keluarga, dan defisiensi protein
alfa 1 anti tripsin.
D. Hipotesis Elastase-Anti Elastase
Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase
dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan jaringan.Perubahan
keseimbangan menimbulkan jaringan elastik paru rusak. Arsitektur paru akan
berubah dan timbul empiema.

4
E. Rokok
Rokok adalah penyebab utama timbulnya empiema paru. Rokok secara
patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas,
menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan
hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia epitel skuamus saluran
pernapasan.
F. Infeksi
Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih hebat
sehingga gejalanya lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti
pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale, dapat mengarah pada
obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya
empiema. Infeksi pernapasan bagian atas pasien bronkitis kronik selalu
menyebabkan infeksi paru bagian dalam, serta menyebabkan kerusakan paru
bertambah. Bakteri yang di isolasi paling banyak adalah haemophilus
influenzae dan streptococcus pneumoniae.
G. Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan empiema. Insiden
dan angka kematian empiema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah
yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat
menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar.
Sebagai faktor penyebab penyakit, polusi tidak begitu besar pengaruhnya
tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi.
H. Faktor Sosial Ekonomi
Empiema lebih banyak didapat pada golongan sosial ekonomi rendah,
mungkin kerena perbedaan pola merokok, selain itu mungkin disebabkan
faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.
I. Obstruksi Jalan Nafas

Empiema terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus,


sehingga terjadi mekanisme ventil. Udara dapat masuk ke dalam alveolus
pada waktu inspirasi akan tetapi tidak dapat keluar pada ekspirasi.
Etiologinya adalah benda asing di dalam lumen dengan reaksi local, tumor
intrabronkial di mediastinum, konginetal. Pada jenis yang terakhir, obstruksi
dapat di sebabkan oleh defek tulang rawan bronkus.

5
2.3 KLASIFIKASI EMPIEMA

A. Empiema dibagi menjadi dua stadium :

1. Empiema akut
Terjadi akibat infeksi sekunder dari tempat lain, bukan primer dari
pleura. Bila pada stadium ini dibiarkan beberapa minggu, maka akan
timbul toksemia ,anemia, dan clubbing finger. Jika pus tidak segera
dikeluarkan akan timbul fistel bronkopleural.
2. Empiema kronis

Batas tegas antara empiema akut dan kronis sukar


ditentukan.Disebut kronis jika empiema berlangsung selama lebih dari 3
bulan.Pada stadium ini,jika klien menerima terapi antimikroba,
manifestasi klinis akan dapat dikurangi.
B. Sedangkan, the American thoracis society membagi empyema thoraks
menjadi tiga :
1. Eksudat
Dimana cairan pleura yang steril di dalm rongga pleura merespons
proses inflamasi di pleura
2. Fibropurulen
Cairan pleura menjadi lebih kental dan fibrin tumbuh di
perrmukaan pleura yang bisa melokulasi pus dan secara perlahan-lahan
membatasi gerak dari paru.
3. Organisasi
Kantong-kantong nanah yang terlokulasi akhirnya dapat
mengembang menjadi rongga abses berdinding tebal, atau sebagai
eksudat yang berorganisasi, paru dapat kolaps. Dan dikelilingi oleh
bungkusan tebal, tidak elastic.

6
2.4 TANDA DAN GEJALA

A. Tanda dan gejala empiema secara umum adalah :

1. Demam
2. Keringat malam
3. Nyeri pleural
4. Dispnea
5. Anoreksia dan penurunan berat badan
6. Auskultasi dada, ditemukan penurunan suara napas
7. Perkusi dada, suara flatness
8. Palpasi , ditemukan penurunan fremitus
B. Tanda gejala empiema berdasarkan klasifikasi
1. Emphiema akut:
a.Panas tinggi dan nyeri pleuritik.

b. Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.


c.Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan
toksemia, anemia, dan clubbing finger .
d. Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel
bronco-pleural.
e.Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur
dengan darah dan nanah banyak sekali.
2. Emphiema kronis:
1. Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan.
b. Badan lemah, kesehatan semakin menurun.
c. Pucat, clubbing finger.

d. Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura.


e. Terjadi fibrothorak trakea dan jantung tertarik kearah yang sakit.
f. Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan.

7
2.5 PATOFISIOLOGI EMPIEMA

Akibat invasi basil piogenik ke pleura, maka akan timbul peradangan akut
yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan banyaknya sel
polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya
kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan-endapan
fibrin akan membentuk kantung-kantung yang melokalisasi nanah tersebut.
Apabila nanah menembus bronkus maka timbul fistel bronkopleura, atau apabila
menembus dinding toraks dan keluar melalui kulit maka disebut empiema
nessensiatis. Stadium ini masih disebut empiema akut yang lama kelamaan akan
menjadi kronis.

2.6 PATWAY EMPIEMA

TERLAMPIR

2.7 KOMPLIKASI EMPIEMA

Kemungkinan komplikasi yang terjadi adalah pengentalan pada pleura. Jika


inflamasi telah berlangsung lama, eksudat dapat terjadi di atas paru yang
menganggu ekspansi normal paru. Dalam keadaan ini diperlukan pembuangan
eksudat melalui tindakan bedah (dekortasi). Selang drainase dibiarkan
ditempatnya sampai pus yang mengisi ruang pleural dipantau melalui rontgen

8
dada dan pasien harus diberitahu bahwa pengobatan ini dapat membutuhkan
waktu lama.

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG EMPIEMA

A. Pemeriksan radiologis
Pemeriksaan foto dada sangat membantu dalam menegakkan diagnosis
dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. Foto dada pada empiema paru
terdapat dua bentuk kelainan, yaitu:
1. Gambaran defisiensi arter
Overinflasi, terlihat diafragma yang rendah dan datar,kadang-
kadang terlihat konkaf. Oligoemia, penyempitan pembuluh darah
pulmonal dan penambahan corakan kedistal.

Corakan paru yang bertambah, sering terdapat pada kor pulmonal,


empiema sentrilobular dan blue bloaters. Overinflasi tidak begitu hebat.
2. Pemeriksaan fungsi paru
Pada empiema paru kapasitas difusi menurun karena permukaan
alveoli untuk difusi berkurang.
B. Analisis Gas Darah

Ventilasi, yang hampir adekuat masih sering dapat dipertahankan oleh


pasien emvisema paru. Sehingga PaCO2 rendah atau normal.Saturasi
hemoglobin pasien hampir mencukupi.
C. Pemeriksaan EKG
Kelainan EKG yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila
sudah terdapat kor pulmonal terdapat defiasi aksis ke kanan dan P-pulmonal
pada hantaran II, III, dan aVF.Voltase QRS rendah.Di V1 rasio R/S lebih dari
1 dan di V6 rasio R/S kurang dari 1.

D. Sinar x dada
Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma;
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula

9
(empiema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal
selama periode remisi (asma).
E. Tes fungsi paru
Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan
apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan
derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, misalnya bronkodilator.
1. TLC
Peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma;
penurunan empiema.
2. Kapasitas inspirasi
Menurun pada empiema.
3. Volume residu
Meningkat pada empiema, bronkitis kronis, dan asma.

4. FEV1/FVC
Rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada
bronkitis dan asma.
F. GDA
Memperkirakan progresi proses penyakit kronis. Bronkogram: dapat
menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada
ekspirasi kuat (empiema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada
bronchitis.
G. JDL dan diferensial
Hemoglobin meningkat (empiema luas), peningkatan eosinofil (asma).
H. Kimia darah
Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa
empiema primer.
I. Sputum
Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen;
pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
J. EKG

10
Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia
atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis,
empiema); aksis vertikal QRS (empiema).
EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi
paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi
program latihan.

2.9 PENATALAKSANAAN EMPIEMA

A. Pengosongan Nanah
Prinsip ini seperti yang dilakukan pada abses dengan tujuan mencegah
efek toksik dengan cara membersihkan rongga pleura dari nanah dan
jaringan-jaringan yang mati.
Pengosongan pleura dilakukan dengan cara:
1.Closed drainage = tube thoracostomy = water sealed drainage (WSD)
dengan indikasi:
Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi
Nanah terus terbentuk setelah 2 minggu

Terjadinya piopneumothoraks
Pengeluaran nanah dengan cara WSD dapat dibantu dengan
melakukan penghisapan bertekanan negative sebesar 10-20 cm H2O jika
penghisapan telah berjalan 3-4 minggu, tetaapi tidak menunjukkan
kemajuan, maka harus ditempuh dengan cara lain, seperti pada empyema
thoraks kronis.
B. Drainase terbuka (open drainage)

Karena menggunakan kateter karet yang besar, maka perlu disertai juga
dengan reseksi tulang iga. Open drainage ini dikerjakan pada empiema
kronis, hal ini bisa terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau tidak
adekuat misalnya aspirasi yang terlambat atau tidak adekuat, drainase tidak
adekuat sehingga harus seing mengganti atau membersihkan drain.

11
open window thoracostomy:
open window
thoracostomy :
laggette procedure eloesser flap
C. Antibiotic
Pemilihan antibiotic didasarkan pada hasil pengecatan gram dan
apusan nanah.Antibiotic dapat diberikan secara sistematik atau tropical.
Biasanya diberikan penisilin.
1. Kategori Obat : Antibiotik

Nama Obat Penisilin G (pfizerpen)


Golongan Interferon
Dosis 1-4 mU/4-6j
Kontraindikasi Hipersensitifitas
Perhatian Penggunaan pada penyembuhan fungsi ginjal
Keterangan Interaksi dengan probenecid dapat meningkatkan
efektivitas obat, sedangkan dengan tetracycline
dapat menurunkan efektivitas obat

Nama Obat Vankomisin (vankokin,vancoled,lyphocin)


Golongan Dapat bekerja pada kuman gram positif dan
spesies Enterococcus
Dosis 30 mg/kgbb/hari

Kontraindikasi Hipersensitifitas
Efek Samping Eritema, flushing, reaksi anafilaktik
Keterangan Perlu diperhatikan penggunaan pada gagal ginjal
dan neutropenia
D. Penutupan Rongga Empiema
Pada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak menutup
karena penebalan dan kekakuan pleura. Pada keadaan demikian dilkukan
pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti.
E. Dekortikasi

12
Tindakan ini termasuk operasi besar, dengan indikasi :
1. Drain tidak berjalan baik karena banyak kantung-kantung.
2. Letak empiema sukar dicapai oleh drain.
3. Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura visceralis.

F. Torakoplasti
Jika empiema tidak mau sembuh karena adanya fistel bronkopleura atau
tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada pembedahan ini, segmen dari
tulang iga dipotong subperiosteal, dengan demikian dinding toraks jatuh ke
dalam rongga pleura karena tekanan atmosfer.

G. Pengobatan Kausal
Misalnya subfrenik abses dengan drainase subdiafragmatika, terapi
spesifik pada amoeboiasis, dan sebagainya.
H. Pengobatan Tambahan

Perbaiki keadaan umum lalu fisioterapi untuk membebaskan jalan napas.

2.10 PENANGGULANGAN EMPIEMA

A. Fase I (fase eksudat)


Dilakukan drainase tertutup (WSD) dan dengan WSD dapat dicapai
tujuan diagnostic terapi dan prevensi, diharapkan dengan pengeluaran cairan
tersebut dapat dicapai pengembangan paru yang sempurna.
B. Fase II (fase fibropurulen)

13
Pada fase ini penanggulangan harus lebih agresif lagi yaitu dilakukan
drainase terbuka (reseksi iga open window). Dengan cara ini nanah yanga
ada dapat dikeluarkan dan perawatan luka dapat dipertahankan. Drainase
terbuka juga bertujuan untuk menunggu keadaan pasien lebih baik dan proses
infeksi lebih tenang sehingga intervensi bedah yang lebih besar dapat
dilakukan.
Pada fase II ini VATS surgery sangat bermamfaat, dengan cara ini dapat
dilakukan empiemektomi dan atau dekortikasi
C. Fase III (fase organisasi)
Dilakukan intervensi bedah berupa dekortikasi agar paru bebas
mengembang atau dilakukan obliterasi rongga empyema dengan cara dinding
dada dikolapskan (torakoplasti) dengan mengangkat iga-iga sesuai dengan
besarnya rongga empyema, dapat juga rongga empyema ditutup dengan
periosteum tulang iga bagian dalam dan otot interkostans (air plombage), dan
ditutup dengan otot atau omentum (muscle plombage atau omental
plombage).

2.11 ASUHAN KEPERAWATAN EMPIEMA

A. PENGKAJIAN

Pengkajian dilakukan dengan melakukan anamnesis pada pasien. Data-


data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :

1. Identitas Pasien

Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis


kelamin, alamat rumah, agama, suku bangsa, status perkawinan,
pendidikan terakhir, nomor registrasi, pekerjaan pasien, dan nama
penanggungjawab.

14
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering muncul pada pasien dengan
penyakit empiema bervariasi, antara lain: sesak nafas, batuk, dan
nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas. Banyak
sekeret keluar ketika batuk, berwarna kuning kental, merasa cepat
lelah ketika melakukan aktivitas.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan penyakit empiema biasanya diawali dengan
sesak nafas , batuk, dan nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat
bernafas, banyak secret keluar ketika batuk, secret berwarna kuning
kental , merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan juga apakah pasien sebelumnya pernah
menderita penyakit lain seperti TB Paru, DM, Asma,
Kanker,Pneumonia dan lain-lain. Hal ini perlu diketahui untuk
melihat ada tidaknya faktor predisposisi.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit yang sama atau mungkin penyakit-penyakit lain yang
mungkin dapat menyebabkan penyakit empiema.

3. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Bernafas
Pasien umumnya mengeluh sesak dan kesulitan dalam bernafas
karena terdapat sekret.
Episode batuk hilang timbul, biasanya tidak produktif pada
tahap dini, meskipun dapat menjadi produktif.
Faktor keluarga dan keturunan, misalnya defisiensi alpha 1
antitripsin penggunaan oksigen pada malam hari atau terus
menerus.
Tanda:Pernafasan biasanya cepat, dapat lambat
Fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur, nafas
bibir. Penggunaan otot bantu pernafasan misalnya: meninggikan
bahu, rekraksi fosa supra klavikula, melebarkan hidung.
b. Dada
Dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP
(bentuk barrel), atau perbandingan diameter.

15
AP sama dengan diameter bilateral, gerakan diafragma mini
mal.
Bunyi nafas : mungkin redup dengan ekspirasi mengi.
Perkusi : Hipersonor pada area paru.
Warna : klien dengan empiema kadang disebut
pink puffer karena warna kulit normal, meskipun
pertukaran gas tidak normal dan frequensi pernafasan cepat.
Taktil premitus melemah.
c. Makan dan Minum
Observasi seberapa sering pasien makan dan seberapa banyak
pasien menghabiskan makanan yang diberikan. Minum seberapa
banyak dan seberapa sering pasien minum.
d. Eliminasi
Observasi BAB dan BAK pasien, bagaimana BAB atau BAK
nya normal atau bermasalah, seperti dalam hal warna feses /urine,
seberapa sering, seberapa banyak, cair atau pekat, ada darah tau
tidak,dll.
e. Gerak dan Aktivitas
Observasi apakah pasien masih mampu bergerak, melakukan
aktivitas atau hanya duduk saja(aktivitas terbatas). Biasanya pasien
dengan anemia mengalami kelemahan pada tubuhnya akibat
kurangnya suplai oksigen ke jaringan tubuh.
f. Istirahat dan tidur
Kaji kebutuhan/kebiasaan tidur pasien apakah nyenyak/sering
terbangun di sela-sela tidurnya.
g. Kebersihan Diri
Kaji bagaimana toiletingnya apakah mampu dilakukan sendiri
atau harus dibantu oleh orang lain. Berapa kali pasien mandi ?
h. Pengaturan suhu tubuh
Cek suhu tubuh pasien, normal(36-37C), pireksia/demam(38-
40C), hiperpireksia = 40C< ataupun hipertermi <35,5C.
i. Rasa Nyaman
Observasi adanya keluhan yang mengganggu kenyamanan
pasien. Pasien dengan penyakit empiema biasanya mengalami sesak
nafas, batuk, dan nyeri di daerah dada.

j. Rasa Aman
Kaji pasien apakah merasa cemas atau gelisah dengan sakitnya.
k. Sosialisasi dan Komunikasi

16
Observasi apakah pasien mampu berkomunikasi dengan
keluarganya, seberapa besar dukungan keluarganya.
l. Prestasi dan Produktivitas
Prestasi apa yang pernah diraih pasien selama pasien berada di
bangku sekolah hingga saat usianya kini.
m. Ibadah
Ketahui agama apa yang dianut pasien, kaji berapa kalipasien
sembahyang, dll.
n. Rekreasi
Observasi apakah sebelumnya pasien sering rekreasi dan
sengaja meluangkan waktunya untuk rekreasi. Tujuannya untuk
mengetahui teknik yang tepat saat depresi.
o. Pengetahuan atau belajar
Seberapa besar keingintahuan pasien untuk mengatasi mual
yang dirasakan dan caranya meningkatkan nafsu makannya.Disinilah
peran kita untuk memberikan HE yang tepat.

4. Pemeriksaan Fisik
a. Rambut dan hygene kepala
Warna rambut hitam, tidak berbau, rambut tumbuh subur, dan kulit
kepala bersih.
b. Mata ( kanan/kiri )
Posisi mata simetris, konjungtiva merah muda, skelera putih, dan
pupil isokor, dan respon cahaya baik.
c. Hidung
Simetris kiri dan kanan, tidak ada pembengkakkan, dan berfungsi
dengan baik.
d. Mulut dan tenggorokan
Rongga normal, mukosa terlihat pecah-pecah, tonsil tidak ada
pembesaran.
e. Telinga
Simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, dan pendengaran tidak
terganggu.
f. Leher
Kelenjer getah bening, sub mandibula, dan sekitar telinga tidak ada
pembesaran.
g. Dada/ thorak
Inspeksi
Pada klien dengan empiema terlihat adanya peningkatan
usaha dan frekuensi pernapasan serta penggunaan otot bantu
napas. Pada inspeksi, klien biasanya tampak mempunyai bentuk

17
dada barrel chest (akibat udara yang terperangkap), penipisan
massa otot, dan pernapasan dengan bibir dirapatkan. Pernapasan
abnormal tidak efektik dan penggunaan otot-otot bantu napas
(sternokleidomastoideus). Pada tahap lanjut, dispnea terjadi saat
aktivitas bahkan pada aktivitas kehidupan sehari-hari seperti
makan dan mandi. Pengkajian batuk produktif dengan sputum
purulen disertai demam mengindikasi adanya tanda pertama
infeksi pernapasan
Palpasi
Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus
biasanya menurun.
Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor
sedangkan diafragma menurun.
Auskultasi
Sering didapatkan adanya bunyi napas ronkhi dan
wheezing sesuai tingkat beratnya obstruktif pada bronkhiolus.
Pada pengkajian lain, didapatkan kadar oksigen yang rendah
(hipoksemia) dan kadar karbondioksida yang tinggi
(hiperkapnea) terjadi pada tahap lanjut penyakit. Pada waktunya,
bahkan gerakan ringan sekalipun seperti membungkuk untuk
mengikatkan tali sepatu, mengakibatkan dispnea dan keletihan
(dispnea eksersional). Paru yang mengalami empiematosa tidak
berkontraksi saat ekspirasi dan bronkhiolus tidak dikosongkan
secara efektif dari sekresi yangf dihasillkan. Klien rentan
terhadap reaksi inflamasi dan infeksi akibat pengumpulan
sekresi ini. Setelah infeksi ini terjadi, klien mengalami mengi
yang berkepanjangan saat ekspirasi. Anoreksia, penurunan berat
badan, dan kelemahan merupakan hal yang umum terjadi. Vena
jugularis mungkin mengalami distensi selama ekspirasi.
h. Kardiovaskular
Irama jantung regular; S1,S2 tunggal.
Nyeri dada ada, biasanya skala 6 dari 10
Akral lembab
Saturasi Hb O2 hipoksia
i. Persyarafan

18
Keluhan pusing ada
Gangguan tidur ada
j. Perkemihan B4 (bladder)
Kebersihan normal
Bentuk alat kelamin normal
Uretra normal
k. Pencernaan
Anoreksi disertai mual
Berat badan menurun
l. Muskuloskeletal/integument
Berkeringat
Massa otot menurun

5. Data Penunjang
a. Analisa gas darah
Pa O2 : rendah (normal 80 100 mmHg)
Pa CO2 : tinggi (normal 36 44 mmHg).
Saturasi hemoglobin menurun.
Eritropoesis bertambah
b. Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi,
mengidentifikasi patogen
c. Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat
obstruksi.
d. Foto sinar X rontgen

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola napas tidak efektif
2. Gangguan pertukaran gas
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
4. Intoleran Aktivitas
5. Risiko infeksi

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
TERLAMPIR

N DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC


O
1 POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF B.D. Pola napas efektif dengan criteria: 1. O

19
Over hidrasi: penumpukan cairan di paru Keluhan sesak berkurang/hilang napa
Asidosis: pernapasan kusmaul Retraksi interkostalis (-) suar
2. A
Anemia Rr 16-20 X/mnt
3. B
Hiperkalemi Pola napas kusmaul (-)
kebu
Sianosis (-) 4. Atur
Karakteristik Hb 10-11 mg/dl kerin
5. Beri
Klien mengeluh sesak Orthopneu (-)
6. Laku
RR > 30 X/mnt Dispneu (-)
perlu
Terdapat pola napas kusmaul Pallor (-) 7. Beri
8. Laku
Retraksi interkostalis (+) Pch (-)
obat
Pernapasan cuping hidung (+)
anem
Sianosis pada akral (+)
Pallor (+)
Ronchi (+)
Hb < 9 mg/dl
Dispneu (+)
Orthopneu (+)
Sputum berbusa darah (+)

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC

2. GANGGUAN PERTUKARAN GAS NOC : NIC :


Respiratory Status: Gas AIRWAY
Definisi : Kelebihan atau kekurangan exchange
dalam oksigenasi dan atau pengeluaran Respiratory Status : ventilation
karbondioksida di dalam membran kapiler Vital Sign Status
alveoli

Kriteria Hasil :
Batasan karakteristik : 1. Mendemonstrasikan
1. Gangguan penglihatan peningkatan ventilasi dan
2. Penurunan CO2
3. Takikardi oksigenasi yang adekuat
4. Hiperkapnia 2. Memelihara kebersihan paru
5. Keletihan
6. somnolen paru dan bebas dari tanda
7. Iritabilitas

20
8. Hypoxia tanda distress pernafasan
9. Kebingungan
3. Mendemonstrasikan batuk
10. Dyspnoe
11. Nasal faring efektif dan suara nafas yang
12. AGD Normal
bersih, tidak ada sianosis dan
13. Sianosis
14. Warna kulit abnormal (pucat, dyspneu (mampu
kehitaman) mengeluarkan sputum,
15. Hipoksemia
mampu bernafas dengan
16. hiperkarbia
17. sakit kepala ketika bangun mudah, tidak ada pursed lips)
18. Frekuensi dan kedalaman nafas
4. Tanda tanda vital dalam
abnormal
rentang normal

Faktor faktor yang berhubungan :


1. Ketidakseimbangan
perfusi ventilasi
2. Perubahan membran kapiler-
alveolar

RESPIR

21
22
23
24
N DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC
O
3 KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI: NOC : MONITO
KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH Status Nutrisi 1. Bera
Definisi: asupan nutrisi tidak cukup untuk norm
memenuhi kebutuhan metabolik Setelah dilakukan tindakan 2. Mon
keperawatan selama x24 jam status bada
Batasan Karakteristik: nutrisi pasien normal dengan 3. Mon
1. Berat badan 20% atau lebih di bawah indikator: yang
rentang berat badan ideal 1. Intake nutrient normal 4. Mon
2. Bising usus hiperaktif 2. Intake makanan dan cairan normal selam
3. Berat badan normal
3. Cepat kenyang setelah makan 5. Mon
4. Masa tubuh normal
4. Diare 6. Jadw
5. Pengukuran biokimia normal
5. Gangguan sensasi rasa tidak
6. Kehilangan rambut berlebihan 7. Mon
7. Kelemahan otot pengunyah pigm
8. Kelemahan otot untuk menelan 8. Mon
9. Kerapuhan kapiler 9. Mon
10. Kesalahan informasi total
11. Kesalahan persepsi 10. Mon
12. Ketidakmampuan memakan makanan 11. Mon
13. Kram abdomen perke
14. Kurang informasi 12. Mon
15. Kurang minat pada makanan keke
16. Membrane mukosa pucat 13. Mon
17. Nyeri abdomen 14. Catat
18. Penurunan berat badan dengan asupan hiper
makan adekuat oval
19. Sariawan rongga mulut 15. C
20. Tonus otot menurun mege

Faktor yang berhubungan: MANAJ


1. Faktor biologis 1. Kaji

25
2. Faktor ekonomi 2. Kola
3. Gangguan psikososial mene
4. Ketidakmampuan makan yang
5. Ketidakmampuan mencerna makanan 3. Anju
6. Ketidakmampuan mengabsorpsi nutrient intak
7. Kurang asupan makanan 4. Anju
prote
5. Berik
6. Yaki
meng
menc
7. Berik
dikon
8. Ajark
catat
9. Mon
kalor
10. Berik
nutri
N DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC
O

26
4 INTOLERANSI AKTIVITAS NOC: TERAPI TE
Definisi: Ketidakcukupan energy Terapi terhadap aktivitas 1. Kaji tand
psikologis atau fisiologis untuk Energi Psikomotor ketidakto
mempertahankan atau menyelesaikan memerlu
aktivitas kehidupan sehari-hari yang Setelah dilakukan tindakan keperawatan dan dokte
harus atau yang ingin dilakukan. selama.......x24 jam daya tahan pasien akan 2. Tingkatk
meningkat dengan indikator: sesuai ind
Batasan Karakteristik: 1. Menunjukan kebiasaan rutin 3. Buat jadw
1. Dyspnea setelah beraktivitas 2. Aktivitas bertahap
2. Keletihan 3. Konsentrasi periode i
3. Ketidaknyamana setelah 4. Tertarik dengan lingkungan 4. Berikan s
beraktivitas 5. Pola makan dalam pr
4. Perubahan elektrokardiogram 6. Tidak ada letargi 5. Berikan r
(EKG) 7. Hb normal aktivitas
5. Respons frekuensi jantung 8. Ht normal
abnormal terhadap aktivitas 9. Gula darah normal ENERGI PS
6. Respons tekanan darah abnormal 10. Elektrolit serum normal 1. Bantu p
terhadap aktivitas pilihan-p
2. Rencanak
Faktor yang berhubungan: dimana p
1. Gaya hidup kurang gerak banyak
2. Imobilitas 3. Bantu de
3. Ketidakseimbangan antara suplai 4. Tentukan
dan kebutuhan oksigen penyebab
4. Tirah baring 5. Dorong v
6. Tentukan
7. Monitor
tidur
8. Monitor
9. Batasi sti
10. Batasi pe
11. Dorong b

27
12. Gunakan
menguran

N
DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC
O
5 RISIKO INFEKSI NOC: PROTEKSI
Definisi: Kontrol Infeksi 1. Bersihka
Rentan mengalami invasi dan Proteksi Infeksi pasien la
multiplikasi organisme patogenik yang 2. Pertahan
dapat mengganggu kesehatan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Batasi p

selama .....x24 jam status kekebalan pasien 4. Instruks


Faktor Risiko: meningkat dengan indilaktor: tangan
1. Kurang pengetahuan untuk 1. Tidak didapatkan infeksi berulang berkunju
menghindari pemajanan pathogen 2. Tidak didapatkan tumor 5. Gunakan
3. Status rspirasi sesuai yang diharapkan
2. Malnutrisi 4. Temperatur badan sesuai yang tangan
3. Obesitas diharapkan 6. Cuci ta
4. Penyakit kronis 5. Integritas kulit tindakan
6. Integritas mukosa
5. Prosedur invasif 7. Tidak didapatkan fatigue kronis 7. Gunakan
8. Reaksi skintes sesuai paparan gunakan
9. WBC absolut dbn
dengan
8. Tingkatk

28
9. Berikan
10. Observa
infeksi s
tumor
11. Kaji tem
12. Catat da
WBC
13. Gunakan
infeksi n
14. Istirahat
15. Kaji wa
kulit den
16. Ganti IV
17. Pastikan
18. Pastikan
tepat
19. Berikan
20. Ajari p
gejal
melapor
21. Ajark
bagaima

KONTROL
1. Monitor
2. Monitor
3. Monitor
4. Batasi pe
5. Saring p
menular

29
DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. (2010). Kapita Selekta Kedokteran. Ed: 1. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Bulechek, dkk.(2016). Nursing Intervention Classification. Ed: 6. Elsevier Singapore:
Cv. Mocomedia.
Bulechek, dkk.(2016). Nursing Intervention Outcome. Ed: 6. Elsevier Singapore: Cv.
Mocomedia.
Ester, M. (2015). Nanda International Inc. Nursing Diagnoses: definitions &
classification 2015-2017. Jakarta: EGC.
Nursalam. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (Jilid kedua, Edisi ketiga). Jakarta :
Balai Penerbit FKUI.
Price, Sylvia Anderson, Ph.D., R.N. (2010). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. (Edisi keempat). Jakarta : EGC.

30