Anda di halaman 1dari 3

Resume Hall dan Celment

1. Parkinson dkk. 1998; Waskita, 2000) menganggap singkapan batuan basement yang
tersingkap di Jawa Tengah merupakan imbrikasi produk deformasi pada Zaman
Kapur, dengan tepian subduksi yang luasannya mulai dari Jawa Barat yang melalui
Komplek Lok Ulo. Sampai ke Pegunungan Meratus.
2. Parkinson dkk (1998) mengemukakan bahwa subduksi berhenti pada Zaman Kapur,
setelah tumbukan dari fragmen Benua Gondwana yang sekarang di bawah sebagian
Sulawesi Barat.
3. Sribudiyani dkk (2003) menyarankan sebaliknya, bahwa subduksi terus menerus dari
Kapur sampai ke Eosen, dengan kata lain tidak berhenti sampai Kala Eosen. Mereka
mengusulkan agar ada fragmen benua di sebagian besar bagian bawah Jawa Timur
yang bertabrakan dengan busur vulkanik, yang diwakili Formasi Jatibarang, pada
Eosen Akhir, dan mereka menafsirkan Formasi Karangsambung yang berkaitan
dengan bebatuan yang menumpang tindih Komplek Lok Ulo sebagai endapan yang
dihasikan di cekungan muka busur.
4. Dalam penelitian inipun mereka menganggap adanya Kerak Gondwana di bagian
bawah Jawa Timur berdasarkan pendataan umur dari daur ulang mineral Zirkon
(Smyth dkk, 2005, 2007) menunjukkan bahwa danya kerak benua di bawah
Pegunungan Selatan yang memanjang hampir sampai ke bagian barat Yogyakarta.
5. Dalam penelitian ini: merekan setuju dengan pendapat Parkinson dkk (1998) dengan
menyarankan fragmen benua ini bertabrakan di Kapur Akhir yang diakhiri oleh
subduksi pada saat waktu itu juga (Smyth dkk, 2007).
6. Dalam penelitain ini mereka menginterpretasikan bahwa perlipatan di Palung
Kendeng merupakan respon akibat adanya pembebanan vulkanik oleh Busur
Pegunungan Selatan (Smyth dkk, 2005; Waltham dkk, 2008). Yang jadi
pertanyaannya adalah, busur mana yang menghasilkan perlipatan cekungan di Jawa
Tengah?, dari pertanyaan ini mereka menyarankan bahwa Busur Pegunungan Selatan
awalnya hadir di daerah ini, tapi kemudian terdorong ke utara dan telah tererosi. Jawa
Tengah mengekspos struktur yang sangat dalam daripada Jawa Timur ataupun Jawa
Barat dimana lembaran busur vulkanik telah tererosi dan sekarang memperlihatkan
batuan dari palung yang dalam dan menindih batuan dasar yang terksingkap. (Gambar
dibawah).
DISKUSI
Pembagian Struktur di Pulau Jawa
1. Mereka menyarankan Jawa dapat dipisahkan secara struktural menjadi tiga bagian
yang berbeda, yang secara luas sesuai dengan daerah Barat, Tengah dan Jawa Timur
(Gambar 7). Seperti yang telah dijelaskan di atas, di Barat dan Timur Pulau Jawa,
busur vukanik mengalami pengangkatan masih dipertahankan, sedangkan Jawa
Tengah menampilkan level struktur yang sangat dalam di bawah busur gunung api,
yang dimana sebagian besar telah hilang akibat erosional. Namun, perbedaan paling
penting adalah antara Barat-Tengah dan Timur Jawa. Busur Pegunungan Selatan Jawa
Timur yang berumur Paleogen di bentuk di atas kerak benua (Gambar 10;, Smyth
2005; Smyth dkk 2005, 2007, 2008). Hal ini memiliki dua konsekuensi penting, yaitu:
a. Gunung api yang dibangun di daratan atau dekat dengan permukaan laut dan
dengan demikian hal ini yang muncu pada tahap awal.
b. Aktivitas gunung api yang terjadi adalah berupa eksplosif yang bertipe Plinian
sebagian besar berumur Eosen Miosen Awal. Busur gunung api menyuplai
dalam jumlah yang melimpah endapan debris dalam bentuk abu vulkanik ke
Cekungan Kendeng mulai dari Eosen Akhir sampai dengan Miosen Awal.
Sebaliknya, bukti dari Cileteuh menunjukkan bahwa gunung api Jawa Bawat
dan Jawa Tengah yang dibangun di astas batuan dasar ofiolit, aktivitas
vulkanisme paling awal adalah bermula dalam tatanan laut dalam dan
vulkanisme berupa basalatik dan non-eksplosif.
thickened and the volcanic edifice became more substantial.
Thus, the flexural character of the Kendeng Basin is more
obvious because the basin formed on crust initially at sea-level.
In West and Central Java, the flexural contribution by volcanic
loading to subsidence of the basin north of the arc would have
increased with time, but the Karangsambung and Cimandiri
basins formed south of the shelf edge where there was already
a slope and deepening to the south. Because of this morphology
these basins were fed mainly by quartzose debris from
Sundaland until the arc became sufficiently mature to be an
a. important source of material.