Anda di halaman 1dari 12

KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

Dampak Otonomi Daerah terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pembangunan

Kelompok 7

RAFIQA RAHMAH 1410531021

FITRIA RAHMI 1410531022

PUTRI UTAMI WULANDARI 1410531026

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat dan kasih-Nya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah penulis terima,
serta petunjuk-Nya sehingga memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyusun
makalah ini.

Didalam makalah ini penulis selaku penyusun hanya bisa memberikan sebatas
ilmu yang dirangkum kedalam topik Dampak Otonomi Daerah terhadap Pengelolaan
Keuangan Daerah dan Pembangunan. Dimana didalam topik ini ada beberapa hal yang
penting untuk dipahami dan dianalisa oleh masyarakat luas, terutama untuk pemerintah
daerah.

Penulis menyadari bahwa ada keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang


analisa keuangan negara dan daerah yang digunakan pada makalah ini. Oleh karena itu
masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini
sehingga penulis menerima semua kritikan dan saran demi kesempurnaan penulisan.

Semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita semua. Tidak lupa kami
ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terkait didalam pembuatan makalah
ini.

Padang, 30 Januari 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I : PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan 2
BAB II : LANDASAN TEORI 3
2.1 Sentralisasi 3
2.2 Desentralisasi 3
2.3 Pengelolaan Pra Otonomi Daerah 3
2.4 Ruang Lingkup dan Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 4
BAB III : PEMBAHASAN 6
3.1 Perbedaan Desentralisasi dan Sentralisasi Serta Pengaruhnya terhadap
Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah 6
3.2 Dampak Otonomi Daerah terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah dan
Pembangunan 7
BAB IV : PENUTUP 8
4.1 Kesimpulan 8
4.2 Saran 8
DAFTAR PUSTAKA 9

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di Indonesia otonomi daerah dimulai sejak keluarnya UU Nomor 1 Tahun 1945,


kemudian UU Nomor 5 Tahun 1974 dan UU Nomor 2 Tahun 1984 tentang pokok-
pokok pemrintahan di daerah. Pada masa reformasi keluarlah UU Nomor 22 Tahun
1999 tentang pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat. Sejak itulah penerapan
otonomi daerah berjalan cepat.

Dalam era otonomi daerah sesuai dengan ketentuan dalam UU Nomor 22 Tahun
1999 tentang pemerintahan daerah, maka kewenangan pemerintah daerah sangatlah
besar sehingga tuntutan untuk meningkatkan kinerja dan penerapan kebijakan sangatlah
dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi daerah bahwa pemerintah daerah
diberi wewenang untuk mengelola daerahnya sendiri termasuk dalam hal keuangan dan
pembangunan.

Undang-undang otonomi yang telah berlaku memberikan kewenangan


penyelenggaraan pemerintah daerah yang lebih luas, nyata, dan bertanggungjawab.
Adanya perimbangan tugas fungsi dan peran antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah tersebut menyebabkan masing-masing daerah harus memiliki penghasilan yang
cukup, daerah harus memiliki sumber pembiayaan yang memadai untuk memikul
tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dengan demikian diharapkan
masing-masing daerah akan dapat lebih maju, mandiri, sejahtera, dan kompetitif dalam
pelaksanaan pemerintahan maupun pembangunan daerahnya masing-masing.

Oleh karena itu berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan
diatas, maka penulis mengangkat tulisan yang berjudul tentang Dampak Otonomi
Daerah terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pembangunan .

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah
yang akan dibahas adalah :

1
a. Apakah perbedaan desentralisasi dan sentralisasi serta pengaruhnya
terhadap pengelolaan keuangan negara dan daerah ?
b. Apakah dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuangan daerah dan
pembangunan ?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Agar dapat memahami perbedaan desentralisasi dan sentralisasi serta
pengaruhnya terhadap pengelolaan keuangan negara dan daerah .
2. Agar dapat mengetahui dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan
keuangan daerah dan pembangunan.

Adapun manfaatnya adalah :

1. Bagi penulisan, agar dapat memperdalam ilmu dan pemahaman penulis


mengenai dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuangan daerah
dan pembangunan.
2. Bagi pembaca, agar bisa menambah wawasan pembaca mengenai otonomi
daerah.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sentralisasi

Sentralisasi adalah pengaturan kewenangan dari pemerintah daerah kepada


pemerintah pusat untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan
prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik
Indonesia (Wikipedia). Sentralisasi adalah penyerahan kekuasaan serta wewenang
pemerintahan sepenuhnya kepada pemerintah pusat. Pemerintah pusat dimaksud adalah
Presiden dan Dewan Kabinet. Kewenangan yang dimaksud adalah kewenangan politik
dan kewenangan administrasi. Kewenangan politik adalah kewenangan membuat dan
memutuskan kebijakan sedangkan kewenangan administrasi adalah kewenangan
melaksanakan kebijakan.

2.2 Desentralisasi

Desentralisasi (otonomi daerah) adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah


pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri
berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan
Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU


Pemda) menjelaskan pengertian desentralisasi yang terdapat pada Pasal 1 angka 7 yang
menyebutkan bahwa Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Soejipto (Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan,


Strategi, dan Peluang : 2004) bahwa desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan
pemerintah kepada pihak lain untuk dilaksanakan. Soejito juga mengatakan bahwa
desentralisasi sebagai suatu sistem yang dipakai dalam bidang pemerintahan merupakan
kebalikan dari sentralisasi.

2.3 Pengelolaan Pra Otonomi Daerah

3
Pada masa sebelum 1998, kekuasaan pemerintah pusat Negara Republik
Indonesia sangat sentralistik dan semua daerah di republik ini menjadi perpanjangan
tangan kekuasaan Jakarta (Pemerintah pusat). Dengan kata lain, rezim orde baru
mewujudkan kekuasaan sentripetal, yakni berat sebelah memihak pusat bukan pinggiran
(daerah).

Daerah yang kaya akan sumber daya alam di tarik keuntungan produksinya dan
di bagi-bagi di antara elit Jakarta, alih-alih di investasikan untuk pembangunan daerah.
Akibatnya, pembangunan antara daerah dengan Jakarta menjadi timpang. B.J. Habibie
yang menggantikan Soeharto sebagai presiden pasca orde baru membuat kebijakan
untuk mengubah hubungan kekuasaan pusat dan daerah dengan menerbitkan UU
Nomor 5 tahun 1999 tentang pelaksanaan otonomi daerah. Untuk menanggulangi
adanya keinginan provinsi memisahkan diri dari republik seperti Aceh, Riau, dan Papua
menuntut merdeka dan ingin berpisah dari republik Indonesia juga bermunculan aspirasi
dari berbagai daerah yang menginginkan dilakukannya pemekaran provinsi atau
kabupaten. Dengan terbitnya Undang-Undang ini, daerah tidak lagi sepenuhnya
bergantung kepada Jakarta dan tidak lagi mau didikte pusat.

2.4 Ruang Lingkup dan Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara dan
Daerah

Ruang Lingkup Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah

Pasal 2 UU 17/2003 1. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan


mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman; 2. kewajiban negara untuk
menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan
pihak ketiga; 3. Penerimaan Negara; 4. Pengeluaran Negara; 5. Penerimaan Daerah; 6.
Pengeluaran Daerah; 7. kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau
oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang
dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/
perusahaan daerah; 8. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka
penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum; 9. kekayaan pihak
lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.

4
Asas dan Prinsip Pengelolaan Keuangan Negara

Terwujudnya Good Pengelolaan Keuangan


Governance dalam Negara diselenggarakan
Penyelenggaraan Negara secara :

Profesional
Sesuai Pasal Terbuka
23C UUD 1945 Bertanggung jawab

Asas-asas Baru (best practises) :


Asas-Asas Umum
Akuntabilitas berorientasi hasil Pengelolaan Keuangan
Profesionalitas Negara
Proporsionalitas
Keterbukaan dalam PKN
Pemeriksaan keuangan oleh BP
yang bebas & mandiri
Asas-asas yng telah
lama dikenal :

Tahunan
Universalitas
Kesatuan
Spesialitas

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Perbedaan desentralisasi dan sentralisasi serta pengaruhnya terhadap pengelolaan


keuangan negara dan daerah
Segi Pembeda Sentralisasi Desentralisasi
Pengertian penyerahan kewenangan dari penyerahan kewenangan dari
pemerintah daerah kepada pemerintah pusat kepada
pemerintah pusat untuk pemerintah daerah untuk
mengurusi urusan rumah mengurusi urusan rumah
tangganya sendiri berdasarkan tangganya sendiri berdasarkan
prakarsa dan aspirasi dari prakarsa dan aspirasi dari
rakyatnya dalam kerangka rakyatnya dalam kerangka
negara kesatuan Republik negara kesatuan Republik
Indonesia. Indonesia.
Kelemahan Melahirkan suatu pemerintah Keseimbangan dan kesesuaian
yang otoriter antara kepentingan daerah dapat
terganggu
Keputusan yang diambil
memerlukan waktu yang lama
Keunggulan Mempermudah dan Memperingan manajemen
mempercepat pengambilan pemerintah pusat dalam hal
keputusan pendelegasian wewenang
Meningkatkam efisiensi
penyelenggaraan pemerintahan
Meningkatkan pembangunan
ekonomi daerah tertinggal

Berdasarkan hal diatas tampak jelas pengaruhnya kepada pengelolaan keuangan


negara dan daerah bahwa pada konsep desentralisasi lebih mempertegas
perimbangan keuangan negara dan daerah, antara pemerintah pusat dan daerah
diberikan proporsi masing-masing yang sama-sama berpengaruh kepada
pembangunan ekonomi. Penghasilan yang dihasilkan daerah akan dikembalikan

6
oleh pemerintah pusat ke daerah sebanyak 75% untuk pengembangan potensi
ekonomi yang dimilki daerah, sedangkan 25% tetap dikelola pemerintah pusat
sebagai biaya penyelenggaraan negara. Hal itu dilakukan sebagai desentralisasi
pengelolaan potensi daerah yang dulunya sangat tergantung dengan keputusan
pemerintah pusat (sentralisasi).

3.2 Dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuangan daerah dan pembangunan
Dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuanangan daerah yakni :
a. Pemerintah daerah diberikan sumber-sumber penerimaan daerah
Berdasarkan pasal 5 UU No. 33 tahun 2004 sumber-sumber penerimaan daerah
adalah pendapatan daerah dan pembiayaan. Pendapatan daerah terdiri dari
Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan.
Dana Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah merupakan mekanisme transfer
pemerintah pusat-daerah terdiri dari Dana Bagi Hasil Pajak dan Sumber Daya
Alam (DBHP dan SDA), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi
Khusus (DAK). Dana pembiayaan daerah berasal dari Sisa Lebih Anggaran
daerah (SAL), pinjaman daerah, dana cadangan daerah dan privatisasi kekayaan
daerah yang dipisahkan.
b. Meningkatnya penerimaan daerah melalui pemberian dana perimbangan dan
pengumpulan dana non perimbangan pada satu sisi akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Peningkatan penerimaan daerah akan memberikan
keleluasaan untuk mendesain kebijakan yang dapat memberikan stimulus pada
pertumbuhan ekonomi.

Sejalan dengan hal tersebut otonomi daerah juga berdampak kepada


pembangunan dareah, dimana pemerintahan daerah memberikan wewenang kepada
masyarakat daerah untuk mengelola sumber daya alam yang dimiliki di masing-masing
daerah, dengan demikian apabila sumber daya alam yang dimiliki telah dikelola secara
maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat.
Dengan begitu masyarakat akan mandiri dan berusaha untuk mengembangkan sumber
daya alam yang mereka miliki, karena mereka lebih mengetahui hal-hal apa saja yang
terbaik bagi mereka. Dengan demikian masyarakat lebih mandiri, sehingga
kesejahteraan atas pembangunana ekonomi makin tercapai.

7
BAB IV
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Sentralisasi adalah pengaturan kewenangan dari pemerintah daerah kepada


pemerintah pusat untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan
prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik
Indonesia dan desentralisasi (otonomi daerah) adalah penyerahan kewenangan dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya
sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara
kesatuan Republik Indonesia

Pengaruh pada pengelolaan keuangan negara dan daerah bahwa pada konsep
desentralisasi lebih mempertegas perimbangan keuangan negara dan daerah, antara
pemerintah pusat dan daerah diberikan proporsi masing-masing yang sama-sama
berpengaruh kepada pembangunan ekonomi.

Dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuanangan daerah adalah


pemerintah daerah diberikan sumber-sumber penerimaan daerah dan meningkatnya
penerimaan daerah melalui pemberian dana perimbangan dan pengumpulan dana non
perimbangan pada satu sisi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Otonomi daerah
juga berdampak kepada pembangunan dareah, dimana pemerintahan daerah
memberikan wewenang kepada masyarakat daerah untuk mengelola sumber daya alam
yang dimiliki di masing-masing daerah, dengan demikian apabila sumber daya alam
yang dimiliki telah dikelola secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan
masyarakat akan meningkat

3.2 SARAN

Berdasarkan pembahasan diatas diharapkan pelaksanaan otonomi daerah


berjalan sesuai dengan konsep awal yang telah dirancang agar tercapai tujuan
semestinya. Oleh karena itu diperlukan peran dari berbagai pihak, salin bekerja sama
agar terlaksana otonomi daerah yang seharusnya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Mafud, MD. 2000, Reformasi Tatanan PenyelenggaraanPemerintah Daerah


(Makalah), Seminar Otonomi Daerah Unibraw.

Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi,


Perencanaan, Strategi, dan Peluang. Yogyakarta: Erlangga.

https://id.wikipedia.org/wiki/Sentralisasi (diakses pada 30 Januari 2017)

http://bagus.staff.gunadarma.ac.id/Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara dan


Daerah (diakses pada 30 Januari 2017)