Anda di halaman 1dari 18

KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

Permasalahan dan Solusi Penerapan Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat dan


Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat

Kelompok 7

RAFIQA RAHMAH 1410531021

FITRIA RAHMI 1410531022

PUTRI UTAMI WULANDARI 1410531026

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat dan kasih-Nya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah penulis terima,
serta petunjuk-Nya sehingga memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyusun
makalah ini.

Didalam makalah ini penulis selaku penyusun hanya bisa memberikan sebatas
ilmu yang dirangkum kedalam topik Permasalahan dan Solusi Penerapan
Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Sumatera Barat. Dimana didalam topik ini ada beberapa hal yang penting
untuk dipahami dan dianalisa oleh masyarakat luas, terutama untuk pemerintah daerah.

Penulis menyadari bahwa ada keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang


analisa keuangan negara dan daerah yang digunakan pada makalah ini. Oleh karena itu
masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini
sehingga penulis menerima semua kritikan dan saran demi kesempurnaan penulisan.

Semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita semua. Tidak lupa kami
ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terkait didalam pembuatan makalah
ini.

Padang, 6 Februari 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I : PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan 2
BAB II : LANDASAN TEORI 3
2.1 Pengertian dan Tujuan Desentralisasi Fiskal 3
2.2 Pembagian Kewenangan dan Fungsi Pemerintah 4
2.3 Manfaat dan Masalah Desentralisasi Fiskal 5
2.4 Desentralisasi Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi 6
BAB III : PEMBAHASAN 7
3.1 Implementasi Konsep Desentralisasi Fiskal 7
3.2 Permasalahan dan Solusi Penerapan Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat 10
3.3 Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat 12
BAB IV : PENUTUP 14
4.1 Kesimpulan 14
4.2 Saran 14
DAFTAR PUSTAKA 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Desentralisasi fiskal mulai di berlakukan di Indonesia pada 1999 dengan


dikeluarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah,
akan tetapi pelaksanaan desentralisasi fiskal secara resmi dimulai sejak 1 Januari
2001. Pelaksanaan desentralisasi fiskal yang sudah berjalan kurang lebih selama
enam belas tahun, yaitu mulai tahun 2001 sampai dengan 2017 masih belum
sepenuhnya dapat diwujudkan disetiap daerah yang ada di Indonesia, salah satunya
Sumatra Barat. Masih banyak ketimpangan baik dari segi pemerataan pembangunan,
pembagian dana antar pemerintah daerah, keadilan dan kesetaraan, serta pola
pertanggungjawaban.

Desentralisasi fiskal di Indonesia masih mempunyai berbagai kelemahan dan


kekurangan, baik dalam tataran konsep maupun implementasinya. Masih terdapat
peraturan yang saling berbenturan satu sama lain, masih terdapat perbedaan
pendapat maupun perebutan kewenangan antar level pemerintahan dalam
pengelolaan fiskal daerah, ataupun masih sering terjadi multi-tafsir dalam
implementasi kebijakan di daerah. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kesamaan
persepsi mengenai desentralisasi fiskal di Indonesia. Kesamaan persepsi inilah yang
seharusnya diwadahi dalam suatu grand design desentralisasi fiskal.

Desentralisasi fiskal yang diterapkan tidak serta merta menjadikan seluruh


kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Barat mengalami peningkatan PDRB secara
bersamaan. Hal ini dikarenakan adanya permasalahan-permasalahan yang muncul
karna ketidakefektifan dari desantralisasi fiskal yang berpengaruh langsung terhadap
pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.

Berdasarkan kondisi faktual yang dialami Indonesia, dalam penerapan


desentralisasi dan otonomi daerah penuh, maka perlu dicari tahu apakah
desentralisasi fiskal akan mendorong pertumbuhaan ekonomi daerah. Untuk
mengetahui hubungan antara desentralisasi dan pertumbuhan daerah perlu diketahui
ukuran desentralisasi dan pertumbuhan ekonomi daerah.

1
Dengan demikian, berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah
diuraikan diatas, maka penelitian ini berjudul tentang Permasalahan dan Solusi
Penerapan Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat dan Pengaruhnya terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Sumbar.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah
yang akan dibahas adalah :

a. Bagaimana implementasi konsep desentralisasi fiskal ?


b. Bagaimana permasalahan dan solusi penerapan desentralisasi fiskal di
Sumatera Barat dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera
Barat ?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Agar dapat memahami dan mengetahui implementasi konsep desentralisasi
fiskal.
2. Agar dapat mengetahui permasalahan dan solusi penerapan desentralisasi
fiskal di Sumatera Barat dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi
Sumatera Barat.

Adapun manfaatnya adalah :

1. Bagi penulisan, agar dapat memperdalam ilmu dan pemahaman penulis


mengenai permasalahan dan solusi penerapan desentralisasi fiskal di
Sumatera Barat dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera
Barat.
2. Bagi pembaca, agar bisa menambah wawasan pembaca mengenai
permasalahan dan solusi penerapan desentralisasi fiskal di Sumatera Barat
dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian dan Tujuan Desentralisasi Fiskal

Menurut Bernard Dafflon, dalam mengeksplorasi tentang desentralisasi


fiskal maka ada tiga hal utama yang patut diperhatikan. Pertama, asumsinya adalah
bahwa daerah merupakan bagian utama yang akan memberikan pelayanan public.
Kedua, adanya hubungan yang kompleks antara daerah dengan pergerakan
masyarakat. Ketiga, pembagian keuangan kepada masing-masing daerah dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan hubungan antara level pemerintah maupun
hubungan dengan daerah lain.

Menurut Ivar Kolstad dan Odd-Helge Fjeldstad, desentralisasi fiskal


adalah pemberian wewenang belanja dan pengelolaan sumber -sumber pendapatan
kepada pemerintah daerah. Maka secara garis besar, desentralisasi fiskal adalah
penyerahan kewenangan fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah.

Desentralisasi fiskal merupakan salah satu jalan untuk mengatasi


ketidakefisienan pemerintahan, ketidakstabilan makro ekonomi, dan ketidakcukupan
pertumbuhan ekonomi. Desentralisasi fiskal mensyaratkan bahwa setiap
kewenangan yang diberikan kepada daerah harus disertai dengan pembiayaan yang
besarnya sesuai dengan besarnya kewenangan tersebut.

Di Indonesia desentralisasi fiskal memiliki tujuan (Menurut Rahmat


Suryadi), diantaranya :
1. Kesinambungan kebijakan fiskal (fiscal sustainability) secara makro
2. Mengoreksi ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara Pusat dan
daerah
3. Mengoreksi ketimpangan horisontal (horizontal imbalance) antar daerah
4. Meningkatkan akuntabilitas, efektivitas & efisiensi Pemda
5. Meningkatkan kualitas pelayanan publik
6. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembuatan keputusan.

3
2.2 Pembagian Kewenangan dan Fungsi Pemerintah
Adanya desentralisasi fiskal, daerah memiliki wewenang untuk mengatur
dan mengelola anggarannya sendiri untuk menggali sumber-sumber pendapatan,
hak untuk menerima transfer dari pemerintahan yang lebih tinggi (pusat) dan
menentukan belanja rutin dan investasi. Dengan kata lain, pemerintah daerah
memiliki kesempatan untuk menentukan regulasi terhadap anggarannya sendiri.
Namun yang menjadi tantangan ialah apabila daerah tersebut belum siap dan tidak
memiliki sumber daya yang cukup, maka desentralisasi fiskal ini akan menjadi
hambatan bagi tujuannya sendiri yaitu memandirikan dan memajukan
pembangunan nasional.
Pelaksanaan sistem desentralisasi telah memberikan tanggung jawab yang
lebih besar kepada pemerintah daerah dalam bentuk wewenang daripada fungsi
pemerintah. Sesuai dengan UU No. 22/1999 tentang pelaksanaan sistem
desentralisasi, sektor-sektor yang wajib ada di tingkat daerah mencakup dinas
kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, lingkungan, perhubungan, transportasi,
pertanian, industri, dan perdagangan, investasi modal, pertanahan, koperasi, tenaga
kerja, dan infrastruktur. Pemerintah provinsi melakukan koordinasi terhadap kinerja
pemerintah kabupaten/kota dan menjalankan sejumlah fungsi yang berpengaruh
terhadap lebih dari satu pemerintah kabupaten/kota. Dalam waktu satu tahun,
sebagian besar tanggung jawab layanan masyarakat sudah didesentralisasikan.
Proporsi anggaran daerah yang tercakup di belanja pemerintah naik menjadi hampir
dua kali lipat, sementara dua pertiga dari pegawai negeri yang ada ditugaskan di
daerah dan lebih dari 16.000 fasilitas layanan masyarakat dialihkan ke pemerintah
daerah.
Kejelasan mengenai kewenangan memang sangat diperlukan untuk
memberikan jaminan akuntabilitas di tingkat daerah. UU No. 32/2004 disahkan
dengan tujuan untuk menentukan kembali secara signifikan hubungan administrasi
antar-pemerintahan. Sistem ini memberikan kejelasan yang lebih besar dalam hal
kewenangan wajib daripada UU No. 22/1999. Akan tetapi, peraturan pelaksanaan
dari pemerintah pusat, yang hendak mengatur fungsi-fungsi ini, belum disahkan
oleh DPR. Selain itu, pemerintah pusat juga perlu menjamin bahwa undang-undang
sektoral yang ditetapkan kementerian teknis tidak memuat penafsiran yang

4
bertentangan mengenai tanggung jawab pemberian layanan di tiap tingkat
pemerintahan.
Di samping itu, UU No. 32/2004 juga memberikan penegasan mengenai
peran baru yang cukup signifikan dari pemerintah provinsi sebagai wakil dari
pemerintah pusat di daerah. Hal ini muncul sejalan dengan pandangan baru dan
fungsi operasional pemerintah provinsi/kabupaten/kota, serta kontrol pemerintah
pusat yang lebih kuat melalui Menteri Dalam Negeri dan Gubernur sebagai wakil
pemerintah pusat. Fungsi dari Pemerintah Pusat hanyalah memberikan advice serta
monitoring pelaksanaan alokasikan belanja daerah. Juga pemerintahan pusat
berupaya untuk mengembangkan pelaksanaan standar minimum yang mungkin
akan membantu untuk memperjelas tanggung jawab disetiap tingkat pemerintahan.

2.3 Manfaat dan Masalah Desentralisasi Fiskal

Menurut Bahl (2008), terdapat dua manfaat dan empat kelemahan


desentralisasi fiskal. Manfaat desentralisasi fiskal adalah:

Efisiensi ekonomis.
Anggaran daerah untuk pelayanan publik bisa lebih mudah disesuaikan dengan
preferensi masyarakat setempat dengan tingkat akuntabilitas dan kemauan
bayar yang tinggi.
Peluang meningkatkan penerimaan pajak dari pajak daerah.
Pemerintah daerah bisa menarik pajak dengan basis konsumsi dan aset yang
tidak bisa ditarik oleh pemerintah Pusat.

Kelemahan desentralisasi fsikal adalah:

Lemahnya kontrol pemerintah pusat terhadap ekonomi makro.


Sulitnya menerapkan kebijakan stabilitas ekonomi.
Sulitnya menerapkan kebijakan pembangunan ekonomi dengan pemerataan.
Besarnya biaya yang harus ditanggung pemerintah daerah daripada keuntungan
yang didapat.

5
Manfaat desentralisasi fiskal adalah untuk menyesuaikan antara
kebutuhan masyarakat dengan alokasi belanja pemerintah daerah, terjadi
efisiensi melalui kompetisi dan peningkatan kemampuan keuangan. Sementara
itu masalah yang timbul karna desentralisasi fiskal adalah ketidak efisienan dari
pengambilan kebijakan dan penggunaan sumber daya, jika ada ekternalitas
positif dan negatif diantara daerah.

2.4 Desentralisasi Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi


Desentralisasi fiskal menyebabkan efisiensi dalam perekonomian, yaitu
terjadinya efisiensi dalam alokasi sumber daya publik (Oates, 1972).
Desentralisasi fiskal meningkatkan pendapatan dan meningkatkan efisiensi
dalam sektor publik dan memotong defisit anggaran, serta menaikkan
pertumbuhan ekonomi (Biird, 1993; Bird, Wallich,1993;Bahl, Linn, 1992;
Gramlich, 1993 dan Oates, 1993). Menurut Oates (1972) alasan bahwa
desentralisasi fiskal akan meningkatkan efisiensi ekonomi yaitu karena
pemerintah lokal mempunyai posisi yang lebih baik dari pada pemerintah pusat
untuk menyalurkan pelayanan publik yang dibutuhkan oleh pemerintah lokal
yang selanjutnya efisiensi akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi
ditingkat lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional.

6
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Implementasi Konsep Desentralisasi Fiskal

Tantangan utama bagi pembangunan Indonesia bukan lagi untuk memberikan


dana kepada daerah-daerah yang lebih miskin tetapi bagaimana memastikan agar
daerah-daerah tersebut menggunakan dana yang disalurkan dengan sebaik-baiknya.
Sumber dana yang terpenting untuk daerahDana Alokasi Umum (Dana DAU)
mengalami peningkatan nominal hingga 64 persen pada 2006. Sebagian besar daerah
sudah memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan berbagai perbaikan taraf
hidup warganya. Bahkan daerah-daerah yang dulunya dianggap miskin, kini memiliki
DAU per kapita ratarata sebesar AS$425 setiap tahun, jumlah alokasi DAU ini telah
mengalami peningkatan sebesar 75 persen pada tahun 2006.

Lebih dari setengah kenaikan alokasi DAU yang seharusnya digunakan untuk
peningkatan penyediaan layanan kepada masyarakat digunakan untuk membiayai
belanja pegawai pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Kebijakan pembayaran gaji
pegawai daerah secara penuh melalui DAU ini tidak mendorong pemerintah daerah
mengarahkan dana itu untuk peningkatan pelayanan masyarakat.

Pembangunan dalam bidang ekonomi ditujukan agar dapat menciptakan


pertumbuhan yang tinggi. Kuncoro (2004) menyatakan bahwa tolak ukur keberhasilan
ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi, semakin kecilnya
ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Pertumbuhan
ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita (Boediono 1985). Secara tradisional,
pembangunan ekonomi ini ditujukan untuk peningkatan yang berkelanjutan Produk
Domestik Bruto/PDB atau Produk Domestik Regional Bruto/PDRB (Saragih 2003,
Kuncoro 2004).

Desentralisasi fiskal mempunyai peranan yang sangat penting dalam


pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Beberapa alasan yang mendasari adalah. sebagai
berikut :

7
1. Pemerintah daerah mempunyai kewenangan lebih besar untuk berinvestasi dan
membelanjakan lebih banyak untuk berbagai sektor produktif (Lin dan Liu 2000,
Brodjonegoro dan Vasques 2002).

2. Pemerintah daerah mampu menyediakan barang-barang publik dan jasa yang


dibutuhkan. Bagaimanapun pemerintah lokal tetap akan lebih sensitif terhadap kondisi
ekonomi lokal. Pemberian kewenangan (otonomi) yang lebih besar, membuat pemda
lebih leluasa melakukan alokasi yang efisien pada berbagai potensi lokal sesuai dengan
kebutuhan publik (Lin dan Liu 2000, Mardiasmo 2002, Wong 2004). Hal ini pada
gilirannya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan pendapatan per kapita.

3. Adanya pemberdayaan dan penciptaan ruang bagi publik untuk berpartisipasi dalam
pembangunan (Mardiasmo 2002). Bohte dan Meier (2000) menemukan bahwa
pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan lebih tinggi ternyata terjadi pada
pemerintahan yang terdesentralisasi.

Perbandingan Kondisi Sebelum dan Sesudah Penerapan Kebijakan Desentralisasi


Fiskal Tahun 2001

Jenis
Sebelum Desentralisasi Fiskal Setelah Desentralisasi Fiskal
Desentralisasi

Desentralisasi Pemilihan pemimpin nasional dan daerah Pemilihan pemimpin nasional


Politik dilakukan secara semilangsung. dan daerah dilakukan secara
langsung oleh masyarakat.

Desentralisasi Kewenangan Pemerintah Pusat sangat luas, Kewenangan Pemerintah Pusat


Administrasi kewenangan Daerah Tingkat II terbatas. terbatas, kewenangan
Kabupaten/Kota bertambah.

Jumlah wilayah relatif konstan dari tahun ke Pemekaran wilayah


tahun, yaitu 27 Daerah Tingkat I dan 292 berkembang dengan pesat.

8
Daerah Tingkat II. Tahun 2010 tercatat ada 33
provinsi dan 491
kabupaten/kota.

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) Jumlah PNSD mencapai


masih relatif kecil, sekitar 700 ribu orang pada 3.052.865 orang pada tahun
tahun 1999. 2009.

Desentralisasi Transfer ke Daerah sangat terbatas (18% dari Alokasi Transfer ke Daerah
Fiskal belanja APBN 2000). yang masuk ke APBD cukup
besar (33% dari belanja APBN
2010).

Kewenangan memungut pajak bagi daerah Peningkatan kewenangan


masih terbatas. daerah dalam memungut pajak.

Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Perekonomian Daerah

Secara nasional (agregat), transfer per kapita yang meningkat sangat tajam dari
tahun ke tahun selaras dengan pengurangan tingkat kemiskinan dan pengurangan
tingkat pengangguran.

Pada beberapa daerah yang tingkat transfer per kapitanya sangat tinggi, ternyata
mengalami menurunan kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan daerah
lainnya.

Desetralisasi fiskal telah secara nyata memberikan dampak catching-up bagi


daerah-daerah yang sebelumnya sangat tertinggal untuk mengejar
ketertinggalannya.

Telah terjadi peningkatan output layanan publik di daerah:

9
Output pendidikan (Angka Partisipasi Murni/APM Sekolah Dasar)yang
meningkat di seluruh provinsi.

Output kesehatan (Angka Kematian Bayi/IMR) yang menurun signifikan di


seluruh provinsi

3.2 Permasalahan dan Solusi Penerapan Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat

1. Permasalahan Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat

desentralisasi malah menjadi sarng korupsi karena :

a) Rendahnya gaji pegawai negeri,


b) Kompleksnya struktur pajak,
c) Pengawasan yang tidak memadai,
d) Kapasitas pegawai yang terbatas,
e) Otonomi pemerintah daerah di intervensi secara politik,
f) Laporan dan neraca tidak memadai,
g) Audit eksternal dan internal tidak memadai,
h) Kurangnya kesadaran masyarakat di semua level.

Korupsi di Daerah

Berdasarkan keterangan dari Dirjen Otonomi Daerah kemendagri, sebagaimana


diberitakan dalam Republika (9/5) sebanyak 325 kepala daerah terjerat masalah hukum.
Para pejabat kepala daerah yang seharusnya memimpin jalannya pelaksanaan
desentralisasi, justru banyak yang bermasalah dengan hukum. Faktor yang
menyebabkan banyaknya kasus korupsi ini adalah karena mahalnya biaya kampanye
pilkada dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan
desentralisasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Bambang Suprayitno, S.E
sebagaimana dikutip Dedi,dkk., dalam artikel ilmiah yang berjudul Desentralisasi Fiskal
dan Korupsi:

Contoh kasus di Sumatera Barat: Pertama, Gubernur Sumatera Barat Zainal Bakar resmi
sebagai tersangka kasus korupsi anggaran dewan dalam APBD 2002 sebesar Rp 6,4
miliar, oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Kedua, kasus korupsi yang menimpa

10
Wakil Bupati Agam. Umar diduga terlibat dalam kasus korupsi proyek swakelola
perbaikan jalan lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam tahun 2008
dengan kerugian negara RP 2.9 miliar (Kompas, selasa, 9 November 2010, Ketiga kasus
korupsi yang menimpa ketua DPRD Kota Payakumbuh Chin Star. Chin Star mengakui
telah menyalahgunakan keuangan APBD di luar ketentuan Peraturan Pemerintah No
110 Tahun 2000, sekitar Rp 167 juta, dan kasus pengalihan tanah negara di Kabupaten
Solok yang dilakukan oleh Wakil Walikota Pariaman Helmi Darlis. Dalam kasus ini
Kejati Sumbar telah menetapkan tujuh tersangka termasuk mantan Bupati Solok,
Gusmal. Dalam kasus ini negara dirugikan sekitar Rp 288 juta (Padangekspress, Sabtu,
9 Juli 2011) serta kasus yang lainnya.

Kebebasan menggali Potensi Daerah Semenjak adanya desentralisasi, telah terjadi


pemekaran daerah baru dan investor asing mulai melirik daerah Sumatera Barat. Kita
dapat merasakan, adanya pembangunan akhir-akhir tahun ini, seperti Bandara
Internasional Minangkabau , Supermarket dan Hotel berbintang

Sehingga aantar Daerah saling berkompetensi untuk meningkatkan pendapatan asli


daerah mereka.

Contoh konkret adalah pembangunan tempat rekreasi air di ranah minang ini. Tergiur
hasil retribusi dan return proyek yang tinggi pemda telah membuat objek rekreasi yang
sama. Bisa kita lihat menjamurnya tempat rekreasi air di Kabupaten Solok, Kabupaten
Agam, Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang.

2. SOLUSI PENERAPAN DESENTRALISASI FISKAL DI SUMATERA BARAT

a. Pemerintah pusat perlu mengatur sistem pemilukada langsung yang hemat biaya
politik. Selain agar biaya politik yang timbul tidak besar, agar pemimpin daerah yang
terpilih merupakan yang terbaik. Dalam kaitannya untuk meminimalisir politik dinasti,
pemerintah juga perlu untuk memperketat persyaratan pencalonan kepala daerah.

b. Perlu dikaji ulang, penempatan investasi untuk setiap daerah. Menjadi daerah yang
unggul, bukan berarti harus berkompetensi di jalur yang sama.

11
c. Sumatera Barat harus lebih bisa menggali potensi yang dapat menambah Pendapatan
Asli Daerah. Penguatan itu dapat dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat daerah ,
pembangunan pasar tradisional dan pasar agribisnis sesuai kebutuhan.

d. Pemerintah pusat sebagai regulator perlu mengupayakan agar pemerintah daerah


dapat mengalihkan porsi belanja lebih besar untuk peningkatan infrastruktur yang
produktif sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

e. Perlu dibuat mekanisme pengukuran kinerja dengan Balanced Scrore Card dalam
rangka pemberian reward dan punishment terkait dengan evaluasi efektivitas
pengelolaan keuangan daerah. Hal ini perlu dilakukan untuk mendorong pemerintah
daerah mengelola keuangan daerahnya dengan lebih baik dan profesional

3.3 Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera


Barat

Dampak desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan


ketimpangan wilayah antar kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Barat selama 8 tahun
periode penelitian yaitu 2002-2009, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota Sumatera Barat selama pelaksanaan


desentralisasi fiskal mengalami peningkatan setiap tahunnya, kecuali pada tahun 2007
mengalami penurunan akibat krisis global yang melanda dunia dan tahun 2009 juga
mengalami penurunan akibat gempa bumi yang menimpa Sumatera Barat. Dengan
melihat peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, maka
pelaksanaan desentralisasi fiskal berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi
kabupaten/kota Sumatera Barat.

2. Tingkat ketimpangan/kesenjangan wilayah antar kabupaten/kota Sumatera Barat


selama pelaksanaan desentralisasi fiskal mengalami penurunan setiap tahunnya. Dengan
melihat penurunan tingkat ketimpangan/kesenjangan wilayah dalam beberapa tahun
terakhir, maka pelaksanaan desentralisasi fiskal berjalan baik dalam menurunkan
kesenjangan wilayah. hal ini mengindikasikan bahwa terjadi pemerataan pembangunan
di kabupaten/kota Sumatera Barat.

12
3. Uji regresi variabel independen desentralisasi fiskal berpengaruh positif dan tidak
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota Sumatera Barat. Peningkatan
derajat desentralisasi fiskal menciptakan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota
Sumatera Barat menjadi lebih baik, namun belum merata.

4. Variabel independen angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap


pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota Sumatera Barat. Dengan tingginya penyerapan
angkatan kerja akan meningkatkan kegiatan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota
Sumatera Barat yang lebih baik.

5. Variabel independen aglomerasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap


pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota Sumatera Barat. Peningkatan aglomerasi akan
meningkatkan kegiatan konsentrasi ekonomi suatu daerah menjadi tinggi dan
menciptakan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota Sumatera Barat yang lebih baik.

6. Uji regresi variabel independen petumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan


signifikan terhadap ketimpangan wilayah kabupaten/kota Sumatera Barat. Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi akan mendorong penurunan ketimpangan wilayah kabupaten/kota
Sumatera Barat, penurunan ini terjadi karena adanya pemerataan pembangunan.

7. Variabel independen desentralisasi fiskal berpengaruh positif dan tidak signifikan


terhadap ketimpangan wilayah kabupaten/kota Sumatera Barat. Peningkatan derajat
desentralisasi fiskal akan mendorong meningkatkan ketimpangan ekonomi
kabupaten/kota Sumatera Barat, namun belum merata.

8. Variabel independen angkatan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap


ketimpangan wilayah kabupaten/kota Sumatera Barat. Dengan tingginya penyerapan
angkatan kerja akan mendorong penurunan ketimpangan wilayah kabupaten/kota
Sumatera Barat.

9. Variabel independen aglomerasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap


ketimpangan wilayah kabupaten/kota Sumatera Barat.

13
BAB IV
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pelaksanaan desentralisasi fiskal tidaklah akan membawa dampak negatif


terhadap konsep negara kesatuan yang dianut di Indonesia dikarenakan kekuasaan
pemerintahan tertinggi tetap ada pada tangan pemerintah pusat dan pemerintah pusat
berwenang untuk mengatur semua daerah yang ada. Akan tetapi sebaliknya jika
pelaksanaan desentralisasi fiskal dapat diselenggarakan dan dikelola dengan baik oleh
suatu daerah otonom, maka akan membawa dampak yang baik dari daerah itu yaitu
akan terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan terselenggaranya semua urusan
pemerintahan daerah dengan baik. Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Sumatera Barat
menimbulkan berbagai macam masalah salah satunya adalah kasus korupsi yang terjadi
di beberapa wilayah di Sumatera Barat.

3.2 SARAN

Untuk pemerataan pembangunan di daerah, sebaiknya pemerintah pusat tetap


memegang kendali atas sumber-sumber pendapatan yang penting dan strategis, agar
dapat diberikan ke daerah lain yang sumber pendapatannya masih minim dan tepat
sasaran. Perlunya peran Pemerintah untuk memperketat persyaratan pencalonan kepala
daerah agar kepala daerah yang terpilih nantinya tidak melakukan penyimpangan dan
agar tujuan dari desentralisasi fiskal itu dapat tercapai sehingga dapat berpengaruh yang
baik terhadap pertumbuhan ekonomi khususnya di Sumatera Barat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Adi PH. 2006. Dampak Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Jurnal
Kritis. Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Kuncoro, Mudrajad 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi,


Perencanaan, Strategi, dan Peluang. Yogyakarta: Erlangga.

Oates, W.E.,1972. Fiscal Federalism, New York, Harcourt Brace Javanovic

Oates, W.E.,1993. Fiscal Decentralization and Economics Development, National Tax


Journal 46, 237-243.

http://www.wikiapbn.org/desentralisasi-fiskal/ (diakses pada 6 Februari 2017)

http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/desentralisasi-fiskal-seutuhnya (diakses pada 6


Februari 2017)

http://ariplie.blogspot.co.id/2015/05/desentralisasi-fiskal-di-indonesia.html (diakses
pada 6 Februari 2017)

15