Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup
dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang
60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel
untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya.
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan
fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh
mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan
osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan
mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan
ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari
air dan garam tersebut.
Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen
dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-
paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat dijabarkan antara lain :
1. Apakah yang dimaksud dengan keseimbangan asam basa ?
2. Apakah yang dimaksud dengan luka bakar ?
Bagaimana asuhan keperawatan pada kegawatdaruratan pasien luka bakar dengan gangguan keseimbangan asam basa ?

C. Tujuan
Tujuan umum:
1. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pasien luka bakar dengan gangguan keseimbangan asam basa.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat 2.
Tujuan khusus :
1. Pengkajian dan analisa data yang ditemukan.
2. Menyusun diagnosa yang muncul.
3. Menyusun rencana asuhan keperawatan.
4. Merumuskan intervensi keperawatan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP LUKA BAKAR


1. Defenisi Luka Bakar
Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh terutama kulit akibat trauma panas, elektrik, kimia dan radiasi
(Smith, 1998). Luka bakar adalah kerusakan pada kulit diakibatkan oleh panas, kimia atau radio aktif (Wong, 2003).
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut dapat dipindahkan
melalui konduksi dan radiasi elektro magnetic. (Effendi. C, 1999).
Jadi, Luka bakar merupakan kerusakan jaringan kulit yang disebabkan perpindahan energi dari sumber panas ke
tubuh melalui konduksi dan radiasi elektro magnetic serta bahan kimia
2. Etiologi Luka Bakar
Menurut Wong 2003, luka bakar dapat disebabkan oleh ;

Panas basah (air panas,minyak), kering (uap, metal, api)


Asam kuat seperti AsamSulfat, Basa kuat seperti
Kimia
Natrium Hidroksida
Listrik Voltage tinggi,petir
Radiasi x-ray

3. Tanda dan Gejala


Menurut Wong and Whaleys 2003, tanda dan gejala pada luka bakar adalah

Grade 1 Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar), kulit kering


kemerahan, nyeri sekali, sembuh dalam 3 - 7 hari dan tidak ada

3
jaringan parut.
Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar) dan dermis (kulit
bagian dalam), terdapat vesikel ( benjolan berupa cairan atau
nanah) dan oedem sub kutan (adanya penimbunan dibawah
Grade 2
kulit), luka merah dan basah,
mengkilap,sangatnyeri,sembuhdalam21-28 hari tergantung
komplikasi infeksi.
Kerusakan pada semua lapisan kulit, nyeri tidak ada, luka
merah keputih-putihan (seperti merah yang terdapat serat putih
dan merupakan jaringan mati) atau hitam keabu-abuan (seperti
Grade 3
luka yang kering dan gosong juga termasuk jaringan mati),
tampak kering, lapisan yang rusak tidak sembuh sendiri (perlu
skin graf).

Metode Rule of Nines untuk menentukan daerah permukaan tubuh total (Body surface Area : BSA) untuk orang dewasa
adalah :

a. Kepala dan leher : 9%


b. Ekstremitas atas kanan : 9%
c. Ekstremitas atas kiri : 9%
d. Ekstremitasbawahkanan : 18%,
e. Ekstremitasbawahkiri : 18%
f. Badanbagiandepan : 18%
g. Badanbagianbelakang : 18%
h. Genetalia : 1%

100%
4
Kartu Penilaian Luka Bakar menurut Nelson, 1992
Usia
Tubuh Bagian 1-4 5-9 (tahun)10-14 Dewasa
.10 %
Kepala 19 % 15 % 13%

Lengan Kanan 9 '/2 % 9'/2 % 9'/2 % 9%

Lengan Kiri 9 '/2 % 9'/2 % 9'/2 % 9%

Badan Depan Dan 32 % 32 % 32 % 36 %


Belakang
Kaki Kanan 15 % 17 % 18 % 18 %

Kaki Kiri 15 % 17 % 18 % 18

4. Patofisiologi
Luka bakar (combustio) pada tubuh dapat terjadi karena konduksi panas langsung atau radiasi elektromagnetik.
Setelah terjadi luka bakar yang parah, dapat mengakibatkan gangguan hemodinamika, jantung, paru, ginjal serta
metabolik akan berkembang lebih cepat. Dalam beberapa detik saja setelah terjadi jejas yang bersangkutan, isi curah
jantung akan menurun,mungkin sebagai akibat dari refleks yang berlebihan serta pengembalian vena yang
menurun.Kontaktibilitas miokardium tidak mengalami gangguan.
Segera setelah terjadi jejas, permeabilitas seluruhh pembuluh darah meningkat, sebagai akibatnya air, elektrolit,
serta protein akan hilang dari ruang pembuluh darah masuk ke dalam jarigan interstisial,baik dalam tempat yang luka
maupun yang tidak mengalami luka. Kehilangan ini terjadi secara berlebihan dalam12 jam pertama setelah terjadinya
luka dan dapat mencapai sepertiga dari volume darah. Selama 4 hari yang pertama sebanyak 2 pool albumin dalam

5
plasma dapat hilang, dengan demikian kekurangan albumin serta beberapa macam protein plasma lainnya merupakan
masalah yang seringdidapatkan.
Dalam jangka waktu beberapa menit setelah luka bakar besar, pengaliran plasma dan laju filtrasi glomerulus
mengalami penurunan, sehingga timbul oliguria.
Sekresi hormon antideuretika dan aldosteron meningkat. Lebih lanjut lagi mengakibatkan penurunan pembentukan
kemih, penyerapan natrium oleh tubulus dirangsang,ekskresi kalium diperbesar dan kemih dikonsentrasikan secara
maksimal.
Albumin dalam plasma dapat hilang, dengan demikian kekurangan albumin serta beberapa macam protein plasma
lainnya merupakan masalah yang sering didapatkan. Dalam jangka waktu beberapa menit setelah luka bakar besar,
pengaliran plasma dan laju filtrasi glomerulus mengalami penurunan, sehingga timbul oliguria. Sekresi hormon
antidiuretika dan aldosteron meningkat. Lebih lanjut lagi mengakibatkan penurunan pembentukan kemih, penyerapan
natrium oleh tubulus dirangsang,ekskresi kalium diperbesar dan kemih dikonsentrasikan secara maksimal.

5. WOC
terlampir
B. KONSEP KESEIMBANGAN ASAM DAN BASA PADA LUKA BAKAR
1. Keseimbangan Asam dan Basa
Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion H+. Walaupun produksi akan terus menghasilkan ion H+ dalam
jumlah sangat banyak, ternyata konsentrasi ion H+ dipertahankan pada kadar rendah 40 + 5 nM atau pH 7,4. Pengaturan
keseimbangan asam basa diselenggarakan melalui koordinasi dari 3 sistem:
a. Sistem Buffer
Menetralisir kelebihan ion H+, bersifat temporer dan tidakmelakukan eliminasi. Fungsi utama sistem buffer adalah
mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organic pada cairan ekstraseluler.
Sebagai buffer, sistem ini memiliki keterbatasan yaitu:
1) Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang disebabkan karena peningkatan karbon dioksida
(CO2).
2) Sistem ini hanya berfungsi bila sistem respirasi dan pusat pengendalian sistem pernafasan bekerja normal.

6
3) Kemampuan menyelenggarakan sistem buffer tergantun pada tersediannya ion bikarbonat ( HCO3-).

Sistem buffer ada 4 yaitu :

1) Buffer bikarbonat : merupakan sistem yang terdapat dicairan ekstrasel terutama untuk perubahan yangdisebabkan
oleh non-bikarbonat.
2) Buffer protein : merupakan sistem yang terdapat di cairan ekstrasel dan intrasel.
3) Buffer hemoglobin : merupakan sistem yang terdapat di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat.
4) Buffer fosfat : merupakan sistem yang terdapat di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

b. Sistem Ginjal
Ginjal mengatur keseimbangan asam basa dengan sekresi dan reabsorpsi ion H+ dan ion bikarbonat. Pada
mekanisme pemgaturan oleh ginjal ini berperan 3 sistem buffer asam karbonat, buffer fosfat dan pembentukan
ammonia. Ion H+, CO2, dan NH3 diekskresi ke dalam lumen tubulus dengan bantuan energi yang dihasilkan oleh
mekanisme pompa natrium di basolateral tubulus. Pada proses tersebut, asam karbonat dan natrium dilepas kembali ke
sirkulasi untuk dapat berfungsi kembali.
Tubulus proksimal adalah tempat utama reabsorpsi bikarbonat dan pengeluaran asam. Ion H+ sangat reaktif dan
mudah bergabung dengan ion bermuatan negative pada konsentrasi yang sangat rendah.
Pada kadar yang sangat rendahpun, ion H+ mempunyai efek yang besar pada sistem biologi. Ion H+
berinteraksi dengan berbagai molekul biologis sehingga dapat mempengaruhi struktur protein, fungsi enzim dan
ekstabilitas membran. Ion H+ sangat penting pada fungsi normal tubuh misalnya sebagai pompa proton mitokondria
pada proses fosforilasi oksidatif yang menghasilkan ATP. Produksi ion H+ sangat banyak karena dihasilkan terus
menerus di dalam tubuh. Perolehan dan pengeluaran ion H+ sangat bervariasi tergantung diet,aktivitas dan status
kesehatan. Ion H+ di dalam tubuh berasal dari makanan, minuman, dan proses metabolism tubuh. Di dalam tubuh ion
H+ terbentuk sebagai hasil metabolism karbohidrat, protein dan lemak, glikolisis anaerobik atau ketogenesis.
c. Sistem Paru

7
Peranan sistem respirasi dalam keseimbangan asam basa adalah mempertahankan agar Pco2 selalu konstan
walaupun terdapat perubahan kadar CO2 akibat proses metabolism tubuh. Keseimbangan asam basa respirasi
bergantung pada keseimbanagn produksi dan ekskresi CO2. Jumlah CO2 yang berada di dalam darah tergantung pada
laju metabolism sedangkan proses ekskresi CO2 tergantung pada fungsi paru. Kelainan ventilasi dan perfusi pada
dasarnya akan mengakibatkan ketidakseimbanagn rasio ventilasi perfusi sehingga akan terjadi ketidakseimbangan, ini
akhirnya menyebabkan hipoksia maupun retensi CO2 sehingga terjadi gangguan keseimbangan asam basa.
2. Ketidakseimbangan Asam dan Basa
Ketidakseimbangan asam basa terjadi karena adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian pH
tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis.
a. Asidosis

Asisdosis Respiratori Asidosis Metabolic


Asidosis respiratory terjadi akibat keasaman Asidosis metabolic terjadi akibat keasaman
darah yang berlebihan karena penumpukan darah yang berlebihan yang ditandai dengan
CO2 dalam darah akibat dari fungsi paru- rendahnya kadar bikarbonat dalam darah.
paru yang buruk atau pernafasan yang Penyebanya yang paling umum terjadi
lambat. Asidosis respiratory dapat bersifat akibat ketoasidosis karena DM atau
akut dan kronik. Penyebabnya karena kelaparan, akumulasi peningkatan asam
kondisi klinis yang dapat menyebabkan laktat akibat aktivitas otot rangka yang
retensi dalam darah meliputi pneumonia, berlebihan seperti konvolusi, atau penyakit
emfisema, obstrusi kronis saluran ginjal. Diare berat dan berkepanjangan
pernafasan, stroke atau trauma dan obat- disertai hilangnya bikarbonat dapat
obatan yang dapat menekan sistem menyebabakan asidosis metabolic.
pernafasan seperti narkotika, barbiturate dan

8
sedatif. Faktor kompensatornya, jika hiperventilasi
Faktor kompensatornya karena pada saat sebagai respon terhadap stimulasi saraf
CO2 berakumulasi , peningkatan frekuensi adalah tanda klinis asidosis metabolik.
pernafasan respiratorik (hiperventilasi) Bersamaan dengan kompensasi ginjal,
ketika istirahat terjadi untuk mengeluarkan peningkatan frekuensi respiratorik dapat
CO2 dari tubuh. Ginjal mengkompensasi mengembalikan pH darah mendekati tingkat
peningkatan kadar asam dengan normalnya. Asidosis yang tidak
mengekskresi lebih banyak ion H+ untuk terkompensasi akan menyebabakan depresi
mengembalikan pH darah mendekati tingkat sistem saraf pusat dan mengakibatkan
yang normal. Jika penyesuaian respiratorik disorentasi, koma dan kematian.
dan ginjal terhadap pH gagal, akan terjadi
gejala-gejala depresi sistem saraf pusat.

b. Alkalosis

Alkalosis meningkatkan overeksitabilitas sistem saraf pusat. Jika berat alkalosis dapat menyebabakan kontraksi otot
tetanik,konvulsi dan kematian akibat tetanus otot respiratorik.

Alkalosis Respiratory Alkalosis Metabolic


Alkalosis respiratory adalah suatu keadan Alkalosis metabolic adalah suatu keadaan
dimana darah menjadi basa karena dimana darah dalam keadaan basa karena
pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga tingginya kadar bikarbonat. Penyebabnya
menyebabkan kadar CO2 dalam darah muntah yang berkepanjangan (pengeluaran

9
menjadi rendah. asam klorida lambung), disfungsi ginjal,
Penyebabnya akibat demam, pengaruh pengobatan dengan diuretik yang
overdosis aspirin pada pusat pernafasan, mengakibatkan hipokalemia dan penipisan
hipoksia karena tekanan udara yang rendah volume CES atau pemakian antasid yang
didataran tinggi atau akibat anemia berat. berlebihan. Faktor kompensatornya ada 2
Faktor kompensatornya, jika hiperventilasi yaitu, kompensasi respiratorik adalah
terjadi akibat kecemasan gejalanya dapat penurunan ventilasi pulmonar dan
diredakan melalui pengisapan kembali CO2 mengakibatkan peningkatan pCO2 dan asan
yang sudah di keluarkan. Ginjal karbonat. Kompensasi ginjal melibatkan
mengkompensasi cairan alkalintubular sedikit ekskresi ion amonium, lebih banyak
dengan mengekskresi ion bikarbonat dan ekskresi ion natrium dan kalium,
menahan ion H+. berkurangnya cadangan ion bikarbonat dan
lebih banyak ekskresi bikarbonat.

3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Asam dan Basa


a. Pemberian asam melalui makanan
b. Penambahan secara endogen dari hasil metabolisme (laktat)
c. Penambahan secara endogen yang tidak fisiologis (DM)
d. Pengeluaran asam basa oleh ginjal dan usus
e. Pengeluaran asam karbonat (H2CO3) oleh paru
f. Pembentukan asam dalam jumlah besar oleh sel-sel lambung

10
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

11
Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari
klien sehingga akan di ketahui berbagai maslah yang ada. (Alimut, Aziz. 2004). Adapun yang dilakukan dalam melakukan
pengkajian
1. Identitas Klien
Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk, dll yang menyangkut data pribadi klien
2. Keluhan
Keluhan utama yang perlu ditanyakan adalah keluhan atau gejala apa yang menyebabkan klien berobat atau keluhan
apa atau gejala saat awal dilakukan pengkajian pertama kali. (Alimut, Aziz. 2004). Pada kasus kegawatdaruratan akronim
PQRST ini digunakan untuk mengkaji keluhan nyeri pada pasien yang meliputi :

apa yang menyebabkan nyeri apakah karna luka bakar karna


kimia, radiasi, termal atau listrik? Apa yang membuat nyerinya
Provokes/ palliates lebih baik? apa yang menyebabkan nyerinya lebih buruk? apa
yang anda lakukan saat nyeri? apakah rasa nyeri itu membuat
anda terbangun saat tidur.
bisakah anda menggambarkan rasa nyerinya?apakah seperti
diiris, tajam, ditekan, ditusuk tusuk, rasa terbakar, kram, kolik,
Quality
diremas? (biarkan pasien mengatakan dengan kata-katanya
sendiri.
apakah nyerinya menyebar? Menyebar kemana? Apakah nyeri
Radiates
terlokalisasi di satu titik atau bergerak?
seberapa parah nyerinya? Dari rentang skala 0-10 dengan 0 tidak
Severity
ada nyeri dan 10 adalah nyeri hebat
Time kapan nyeri itu timbul?, apakah onsetnya cepat atau lambat?
Berapa lama nyeri itu timbul? Apakah terus menerus atau hilang

12
timbul?apakah pernah merasakan nyeri ini sebelumnya?apakah
nyerinya sama dengan nyeri sebelumnya atau berbeda

3. Pengkajian Primer
a. Airways
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara
untuk memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat berbicara dengan jelas maka
jalan nafas pasien terbuka (Thygerson, 2011). Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan bantuan airway dan
ventilasi. Tulang belakang leher harus dilindungi selama intubasi endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala,
leher atau dada. Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar
(Wilkinson & Skinner, 2000). Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :
1) Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau bernafas dengan bebas? Pada kasus luka
bakar kaji jalan pernafasan apakah terdapat cilia pada saluran pernafasan mengalami kerusakan yang disebabkan
oleh asap atau inhalasi.
2) Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
a) Adanya snoring atau gurgling
b) Stridor atau suara napas tidak normal
c) Agitasi (hipoksia)
d) Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
e) Sianosis
3) Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan potensial penyebab obstruksi :
a) Muntahan
b) Perdarahan
c) Gigi lepas atau hilang
d) Gigi palsu
e) Trauma wajah
4) Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka.

13
5) Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien yang berisiko untuk mengalami cedera tulang
belakang.
6) Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai indikasi :
a) Chin lift/jaw thrust
b) Lakukan suction (jika tersedia)
c) Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask Airway
d) Lakukan intubasi
b. breathing
Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien.
Jika pernafasan pada pasien tidak memadai, maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah: dekompresi
dan drainase tension pneumothorax/haemothorax, closure of open chest injury dan ventilasi buatan (Wilkinson &
Skinner, 2000). Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :
1) Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi pasien.
a) Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-tanda sebagai berikut : cyanosis, penetrating
injury, flail chest, sucking chest wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan yanbg disebabkan karna trauma
inhalasi.
b) Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga, subcutaneous emphysema, perkusi berguna untuk
diagnosis haemothorax dan pneumotoraks.
c) Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
2) Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika perlu.
3) Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut mengenai karakter dan kualitas pernafasan
pasien.
4) Penilaian kembali status mental pasien.
5) Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
6) Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau oksigenasi:
a) Pemberian terapi oksigen
b) Bag-Valve Masker
c) Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang benar), jika diindikasikan
d) Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway procedures

14
7) Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan berikan terapi sesuai kebutuhan.
c. Circulation
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara lain :
1) Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
2) CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
3) Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan pemberian penekanan secara langsung.
4) Palpasi nadi radial jika diperlukan:
a) Menentukan ada atau tidaknya
b) Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
c) Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
d) Regularity
5) Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia (capillary refill).
6) Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
d. Dissability
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :

merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi perintah


A-Alert
yang diberikan
mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak bisa
V-Vocalises
dimengerti
responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai
P-Pain jika ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal
untuk merespon)
U - unresponsive to jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri maupun
pain stimulus verbal.

e. Exspnsure
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika pasien diduga memiliki luka bakar yang
mempunyai derajad luka yang tinggi, imobilisasi in-line penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan

15
pemeriksaan pada punggung pasien. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien adalah
mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua pemeriksaan telah selesai dilakukan, tutup
pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien, kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang (Thygerson, 2011).
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang mengancam jiwa, maka Rapid Trauma
Assessment harus segera dilakukan:
1) Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
2) Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa pasien luka dan mulai melakukan transportasi
pada pasien yang berpotensi tidak stabil atau kritis.
4. Pengkajian Sekunder
Survey sekunder merupakan pemeriksaan secara lengkap yang dilakukan secara head to toe, dari depan hingga
belakang. Secondary survey hanya dilakukan setelah kondisi pasien mulai stabil.
a. Anamnesis
Pemeriksaan data subyektif didapatkan dari anamnesis riwayat pasien yang merupakan bagian penting dari pengkajian
pasien. Riwayat pasien meliputi keluhan utama, riwayat masalah kesehatan sekarang, riwayat medis, riwayat keluarga,
sosial, dan sistem. (Emergency Nursing Association, 2007). Pengkajian riwayat pasien secara optimal harus diperoleh
langsung dari pasien, jika berkaitan dengan bahasa, budaya, usia, dan cacat atau kondisi pasien yang terganggu,
konsultasikan dengan anggota keluarga, orang terdekat, atau orang yang pertama kali melihat kejadian. Anamnesis
yang dilakukan harus lengkap karena akan memberikan gambaran mengenai cedera yang mungkin diderita, seperti
terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan CO. Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang
bisa didapat dari pasien dan keluarga (Emergency Nursing Association, 2007):
A : Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester, makanan)
M : Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti sedang menjalani pengobatan hipertensi, kencing manis,
jantung, dosis, atau penyalahgunaan obat
P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit yang pernah diderita, obatnya apa, berapa
dosisnya, penggunaan obat-obatan herbal)

16
L : Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi, dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian, selain itu juga
periode menstruasi termasuk dalam komponen ini)
E : Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera (kejadian yang menyebabkan adanya keluhan utama)
b. Pemeriksaan fisik
1) Kulit kepala
Seluruh kulit kepala diperiksa. Lakukan inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan wajah untuk melihat derajad dari
luka bakar baik yang ditimbulkan oleh termal, radiasi, listrik maupun kimia.
2) Wajah
Ingat prinsip look-listen-feel. Inspeksi adanya kesimterisan kanan dan kiri. Apabila terdapat cedera di sekitar
mata jangan lalai memeriksa mata, karena pembengkakan di mata akan menyebabkan pemeriksaan mata
selanjutnya menjadi sulit. Re evaluasi tingkat kesadaran dengan skor GCS.
3) Mata
periksa kornea ada cedera atau tidak, ukuran pupil apakah isokor atau anisokor serta bagaimana reflex cahayanya,
apakah pupil mengalami miosis atau midriasis, adanya ikterus, ketajaman mata (macies visus dan acies campus),
apakah konjungtivanya anemis atau adanya kemerahan, rasa nyeri, gatal-gatal, ptosis, exophthalmos,
subconjunctival perdarahan, serta diplopia
4) Hidung
periksa adanya perdarahan, perasaan nyeri, penyumbatan penciuman, luka sekitar mukosa hidung akibat trauma
inhalasi
5) Telinga
periksa adanya nyeri, tinitus, pembengkakan, penurunan atau hilangnya pendengaran, periksa dengan senter
mengenai keutuhan membrane timpani atau adanya hemotimpanum
6) Mulut dan faring
inspeksi pada bagian mucosa terhadap tekstur, warna, kelembaban, dan adanya lesi; amati lidah tekstur, warna,
kelembaban, lesi, apakah tosil meradang, pegang dan tekan daerah pipi kemudian rasakan apa ada massa/ tumor,
pembengkakkan dan nyeri, inspeksi amati adanya tonsil meradang atau tidak (tonsillitis/amandel). Palpasi adanya
respon nyeri

17
7) Vertebra servikalis dan leher
Pada saat memeriksa leher, periksa adanya luka, deformitas dan selalu jaga jalan nafas
8) Toraks

Inspeksi dinding dada bagian depan, samping dan belakang


untuk adanya karna inhalasi, penggunaan otot pernafasan
Inspeksi tambahan dan ekspansi toraks bilateral, apakah terpasang
pace maker, frekuensi dan irama denyut jantung, (lombardo,
2005)
seluruh dinding dada untuk melihat adanya nyeri tekan dan
Palpasi
kedalaman luka
suara nafas tambahan (apakah ada ronki, wheezing, rales)
Aukultasi
dan bunyi jantung (murmur, gallop, friction rub)
Perkusi untuk mengetahui kemungkinan hipersonor dan keredupan

9) Abdomen
Cedera intra-abdomen kadang-kadang luput terdiagnosis, misalnya pada keadaan cedera kepala dengan penurunan
kesadaran, fraktur vertebra dengan kelumpuhan (penderita tidak sadar akan nyeri perutnya dan gejala defans otot
dan nyeri tekan/lepas tidak ada). Inspeksi abdomen bagian depan dan belakang, untuk adanya trauma dan adanya
perdarahan internal, adakah distensi abdomen, asites, luka, lecet, memar, ruam, massa, denyutan, ecchymosis,
bekas luka , dan stoma. Auskultasi bising usus, perkusi abdomen, untuk mendapatkan, nyeri lepas (ringan). Palpasi
abdomen untuk mengetahui adakah kekakuan atau nyeri tekan, hepatomegali,splenomegali,defans muskuler, nyeri
lepas yang jelas atau uterus yang hamil. Bila ragu akan adanya perdarahan intra abdominal, dapat dilakukan
pemeriksaan DPL(Diagnostic peritoneal lavage, ataupun USG (Ultra Sonography).
10) Pelvis (perineum/rectum/vagina)

18
Cedera pada pelvis yang berat akan nampak pada pemeriksaan fisik (pelvis menjadi stabil), pada cedera berat ini
kemungkinan penderita akan masuk dalam keadaan syok, yang harus segera diatasi. Bila ada indikasi pasang
PASG/ gurita untuk mengontrol perdarahan dari fraktur pelvis (Tim YAGD 118, 2010).
11) Ektremitas
Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi, jangan lupa untuk memriksa adanya luka bukar
dengan kedalaman derajad IV, pada saat pelapasi jangan lupa untuk memeriksa denyut nadi distal dari fraktur pada
saat menggerakan,. Sindroma kompartemen (tekanan intra kompartemen dalam ekstremitas meninggi sehingga
membahayakan aliran darah), mungkin luput terdiagnosis pada penderita dengan penurunan kesadaran atau
kelumpuhan (Tim YAGD 118, 2010).
12) Bagian punggung
Memeriksa punggung dilakukan dilakukan dengan log roll, memiringkan penderita dengan tetap menjaga
kesegarisan tubuh). Pada saat ini dapat dilakukan pemeriksaan punggung (Tim YAGD 118,
2010). Periksa`adanya perdarahan, luka bakar dan kedalaman luka.
13) Neurologis
Pemeriksaan neurologis yang diteliti meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, oemeriksaan
motorik dan sendorik. Peubahan dalam status neirologis dapat dikenal dengan pemakaian GCS. Adanya paralisis
dapat disebabakan oleh kerusakan kolumna vertebralis atau saraf perifer. Imobilisasi penderita
dengan short atau long spine board, kolar servikal, dan alat imobilisasi dilakukan samapai terbukti tidak ada fraktur
servikal.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/
kehilangan cairan.
b. Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. Natrium
awalnya menurun pada kehilangan air.
c. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitial/ gangguan pompa natrium.
d. Urine : adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein.

19
e. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasI
f. Scan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi
g. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik.
h. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
i. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi.
j. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
k. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan.
l. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya.
6. Pengkajian Pola Fungsional Gordon

Pengobatan teratur atau tidak


Pola Persepsi Kesehatan Mengungkapkan perhatian untuk menurunkan
dan Pemeliharaan faktor risiko bagi kesembuhan dan gejala sisa
(menghindari terbentuknya jaringan parut)
Adanya edema jaringan umum
Pola nutrisi -metabolik
Anoreksia, mual atau muntah
Haluaran urine menurun atau tidak ada selama fase
darurat
Warna urine mungkin hitam kemerahan bila terjadi
Pola eliminiasi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam
Penurunan bising usus (khususnya pada luka bakar
> 20% sebagai stress penurunan motilitas atau
peristaltik gastrik)
Pola aktivitas dan Penurunan kekuatan, tahanan
latihan Keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit
Gangguan massa otot, perubahan tonus
Adanya hipotensi (syok)
Penurunan nadi perifer pada ekstremitas yang

20
cidera
Takikardia
Disritmia
Serak, batuk, mengi, partikel karbon dalam sputum,
ketidakmampuan sekresi oral, dan sianosis
Pengembangan torak terbatas
Nero
Berhati-hati pada area yang sakit
Perilaku distraksi, gelisah
Pola sensori-kognitif Perubahan orientasi, afek, perilaku
Aktivitas kejang
Area kebas, kesemutan
Perubahan pada epidermis dan atau dermis
Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab
Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan
Pola persepsi dan konsep
peran
diri Mengekspresikan keraguan terhadap penampilan
peran
Perubahan persepsi diri mengenai peran
Tidak berdaya
Pola peran dan Cemas atau depresi
hubungan Perilaku pesimis
Kesempatan dalam melaksanakan peran tidak
adekuat
Pola istirahat dan tidur Kesulitan tidur pada malam atau demam malam
hari, menggigil
Tidur tidak nyenyak karena bersihan napas tidak

21
efektif
Perasaan tak berdaya atau tidak ada harapan
Pola Mekanisme Koping
Menyangkal
dan Toleransi Terhadap Ansietas, ketakutan, mudah tersinggung
Stress Gelisah
Kesedihan yang mendalam
Perasaan tidak mampu
Terjadi pengurangan karena kerja dan fungsi
Pola Reproduksi dan
hormon berkurang
Seksual
Adanya bagian genital yang terbakar menyebabkan
ketidakpuasan dalam seks
Pola nilai dan Marah
kepercayaan Koping buruk

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan Volume Cairan b/d Kegagalan mekanisme regulasi (pengaturan)
2. Nyeri akut b/d injuri fisik
3. Kerusakan integritas kulit b/d mekanik (luka bakar)
4. Resiko infeksi b/d ketidak adekuatan pertukaran skunder

C. Aplikasi Nanda NOC NIC

No Diagnosa NOC NIC


1. Kekurangan Setelah dilakukan Fluid management
Volume Cairan askep selama 3x24 Pertahankan catatan intake dan
berhubungan jam cairan adekuat output yang akurat
dengan Kegagala dengan Monitor status hidrasi

22
n mekanisme Kriteria Hasil: ( kelembaban membran mukosa,
regulasi Mempertahanka nadi adekuat, tekanan darah
(pengaturan) n urine output ortostatik ), jika diperlukan
sesuai dengan Monitor vital sign
usia dan BB, BJ Monitor masukan makanan /
urine normal, cairan dan hitung intake kalori harian
HT normal Kolaborasikan pemberian cairan
Tekanan darah, IV
nadi, suhu tubuh Monitor status nutrisi
dalam batas Dorong masukan oral
normal Berikan penggantian nasogatrik
Tidak ada tanda
sesuai output
tanda dehidrasi,
Dorong keluarga untuk
Elastisitas
membantu pasien makan
turgor kulit
Tawarkan snack ( jus buah, buah
baik, membran
segar )
mukosa lembab,
Kolaborasi dokter jika tanda
tidak ada rasa
cairan berlebih muncul meburuk
haus yang
Atur kemungkinan tranfusi
berlebihan
Persiapan untuk tranfusi
2 Nyeri b/d Agen Setelah dilakukan Pain Management
injuri fisik (luka Askep selama 3x24 Monitor KU dan vital sign

23
bakar) jam nyeri berkurang Lakukan pengkajian nyeri secara
dengan komprehensif termasuk lokasi,
Kriteria Hasil : karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
Mampu dan faktor presipitasi
mengontrol Observasi reaksi nonverbal dari
nyeri (tahu ketidaknyamanan
penyebab nyeri,
Gunakan teknik komunikasi
mampu
terapeutik untuk mengetahui pengalaman
menggunakan
nyeri pasien
tehnik
Kontrol lingkungan yang dapat
nonfarmakologi
mempengaruhi nyeri seperti suhu
untuk
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
mengurangi
nyeri, mencari Kurangi faktor presipitasi nyeri
bantuan) Pilih dan lakukan penanganan
Melaporkan
nyeri (farmakologi, non farmakologi)
bahwa nyeri
Ajarkan tentang teknik non
berkurang
farmakologi
dengan
menggunakan Lakukan perawatan luka bakar
manajemen Cek riwayat alergi
nyeri
Mampu Berikan analgetik untuk

24
mengenali nyeri mengurangi nyeri
(skala, Berikan analgesik tepat waktu
intensitas, terutama saat nyeri hebat
frekuensi dan
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
tanda nyeri)
Menyatakan Tingkatkan istirahat
rasa nyaman Kolaborasikan dengan dokter jika
setelah nyeri ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berkurang berhasil.
Tanda vital
dalam rentang
normal

3 Kerusakan Setelah dilakukan PENGAWASAN KULIT


integritas kulit b/d tindakan keperawatan Inspeksi kondisi luka operasi
mekanik (luka selama Observasi ekstremitas untuk

bakar) 3x24 jam integritas warna, panas, keringat, nadi,


jaringan: kulit dan tekstur, edema, dan luka
Inspeksi kulit dan membran
mukosa normal dengan
mukosa untuk kemerahan, panas,
indikator:
drainase
temperatur Monitor kulit pada area
jaringan dalam kemerahan

25
rentang yang Monitor penyebab tekanan
diharapkan Monitor adanya infeksi
elastisitas Monitor kulit adanya rashes dan

dalam rentang abrasi


Monitor warna kulit
yang
Monitor temperatur kulit
diharapkan Catat perubahan kulit dan
hidrasi dalam
membran mukosa
rentang yang Monitor kulit di area kemerahan
diharapkan
pigmentasi
dalam rentang
MANAJEMEN TEKANAN
yang
Tempatkan pasien pada terapeutic
diharapkan
warna dalam bed
Elevasi ekstremitas yang terluka
rentang yang Monitor status nutrisi pasien
diharapkan Monitor sumber tekanan
tektur dalam Monitor mobilitas dan aktivitas
rentang yang pasien
diharapkan Mobilisasi pasien minimal setiap
bebas dari lesi 2 jam sekali
kulit utuh Back rup
Ajarkan pasien untuk
menggunakan pakaian yang
longgar

26
4 Resiko Infeksi Setelah dilakukan Infection Control (kontrol infeksi)
- askep selama 3x24 Monitor Ku dan Vital sign
jam tidak terjadi Bersihkan lingkungan setelah

infeksi dengan dipakai pasien lain


Pertahankan teknik isolasi
Kriteria Hasil :
Batasi pengunjung bila perlu
Klien bebas dari Instruksikan pada pengunjung
tanda dan gejala untuk mencuci tangan saat
infeksi berkunjung dan setelah
Menunjukkan
berkunjung meninggalkan pasien
kemampuan Gunakan sabun antimikrobia
untuk mencegah untuk cuci tangan
timbulnya Cuci tangan setiap sebelum dan

infeksi sesudah tindakan keperawtan


Jumlah leukosit Gunakan baju, sarung tangan

dalam batas sebagai alat pelindung


Pertahankan lingkungan aseptik
normal
Menunjukkan selama pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line
perilaku hidup
central dan dressing sesuai
sehat
dengan petunjuk umum
Tingktkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila
perlu
Infection Protection (proteksi terhadap

27
infeksi)
Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit, WBC
Monitor kerentanan terhadap
infeksi
Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
Partahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi k/p
Berikan perawatan kulit pada
area luka bakar
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Ispeksi kondisi luka bakar
Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
Ajarkan pasien dan keluarga tanda
dan gejala infeksi
Ajarkan cara menghindari infeksi

28
Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif

D. Contoh Kasus
1. Identitas klien
Nama : An Z.
Umur : 1 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Belum kawin
Agama : Islam
Suku bangsa : Minang
Alamat : Padang
Tanggal Pengkajian : 20 Agustus 2016 Jam : 16.00 wib
2. Diagnosa Medis : Combustio Grade II (80%)
3. Keluhan Masuk

29
Klien datang ke IGD dengan combustio hampir seluruh tubuh akibat terbakar bensin
4. Primary Survey

A Tidak terdapat sumbatan pada jalan nafas


Frekuensi nafas 30 x / m, Tidak terdapat batuk, nafas
B
cepat, anak menangis kuat
C Nadi : 80 x/menit
D Kesadaran klien : Compos mentis ( GCS : 15)
Terdapat luka bakar pada kepala, wajah, ektrimitas,
E
punggung, grade 2 (80%)

5. Analisa Data

DATA Masalah Penyebab


DS : - Kekurangan Kegagalan mekanisme
DO : volume cairan regulasi (pengaturan)
a. Terdapat luka bakar greade 2
b. Luas luka bakar 66 %
c. An. Z menangis
d. Anak lahap saat diberi susu
e. Klien tampak gelisah
f. Terpasang DC urin tidak
keluar
g. Balance cairan
IWL = 15xBBx24 jam

30
IWL =15x10x24 jam
IWL = 3600
Intake = infus 200 + minum 120
Intake = 220
Output = tidak ada urin
Balance cairan = intake- output IWL
Balance cairan = 320-0-3600
Balance cairan = - 3280
DS Nyeri Akut Agen injury : Fisik
DO :
a. Terdapat luka bakar
greade 2pada wajah,
kepala ekstremitas dan punggung
b. Luka basah
c. Luka Berwarna kemerahan
d. Luas luka bakar 66 %
e. Terdapat bula
f. Klien tampak meringis
kesakitan
g. Klien tampak gelisah
DS : Kerusakan Mekanikal (Luka
DO : integritas kulit Bakar)
a. Terdapat luka bakar greade 2

31
pada kepala, wajah, ekstremitas dan
punggung
b. Luka basah
c. Luka Berwarna kemerahan
d. Luas luka bakar 66 %
e. Terdapat bula

6. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan b/d Kegagalan mekanismeregulasi (pengaturan)
b. Nyeri akut b/d Agen injury : Fisik
c. Kerusakan integritas kulit b/d mekanik (luka bakar)

7. Aplikasi NANDA NOC NIC

Diagnosa NOC NIC


Kekurangan Volume Setelah dilakukan askep Fluid management
Cairan berhubungan selama 3x24 jam cairan Pertahankan catatan intake
denganKegagalan adekuat dengan dan output yang akurat

32
mekanismeregulasi Kriteria Hasil: Monitor status hidrasi
(pengaturan) Mempertahankan ( kelembaban membran
urine output sesuai mukosa, nadi adekuat,
dengan usia dan BB, tekanan darah ortostatik ),
BJ urine normal, HT jika diperlukan
Monitor vital sign
normal
Tekanan darah, nadi, Monitor masukan makanan /

suhu tubuh dalam cairan dan hitung intake

batas normal kalori harian


Tidak ada tanda tanda Kolaborasikan pemberian

dehidrasi, Elastisitas cairan IV


Monitor status nutrisi
turgor kulit baik, Dorong masukan oral
membran mukosa Berikan penggantian
lembab, tidak ada nasogatrik sesuai output
rasa haus yang
berlebihan

Nyeri akut b/d Agen Setelah dilakukan Askep Pain Management


injury : Fisisk selama 3x24 jam nyeri Monitor KU dan vital sign
berkurang dengan
Lakukan pengkajian nyeri
Kriteria Hasil :
secara komprehensif termasuk
Mampu mengontrol
lokasi, karakteristik, durasi,
nyeri (tahu penyebab frekuensi, kualitas dan faktor

33
nyeri, mampu presipitasi
menggunakan tehnik Observasi reaksi nonverbal
nonfarmakologi dari ketidaknyamanan
untuk mengurangi
Gunakan teknik komunikasi
nyeri, mencari
terapeutik untuk mengetahui
bantuan)
Melaporkan bahwa pengalaman nyeri pasien

nyeri berkurang Kontrol lingkungan yang


dengan menggunakan dapat mempengaruhi nyeri seperti
manajemen nyeri suhu ruangan, pencahayaan dan
Mampu mengenali kebisingan
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
Tanda vital dalam
rentang normal
Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan PENGAWASAN KULIT
kulit b/d mekanik keperawatan selama Inspeksi kondisi luka
(luka bakar) 3x24 jam integritas jaringan: operasi
kulit dan Observasi ekstremitas untuk

mukosa normal dengan warna, panas, keringat,

34
indikator: nadi, tekstur, edema, dan
temperatur jaringan luka
Inspeksi kulit dan membran
dalam rentang yang
mukosa untuk kemerahan,
diharapkan
elastisitas dalam panas, drainase
Monitor kulit pada area
rentang yang
kemerahan
diharapkan
Monitor penyebab tekanan
hidrasi dalam
Monitor adanya infeksi
rentang yang
diharapkan
pigmentasi dalam
rentang yang
diharapkan
warna dalam rentang
yang diharapkan
tektur dalam rentang
yang diharapkan
bebas dari lesi
kulit utuh

35
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh terutama kulit akibat trauma panas, elektrik, kimia dan radiasi
(Smith, 1998). Luka bakar adalah kerusakan pada kulit diakibatkan oleh panas, kimia atau radio aktif (Wong, 2003).
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut dapat dipindahkan melalui
konduksi dan radiasi elektro magnetic. (Effendi. C, 1999).

36
Jadi, Luka bakar merupakan kerusakan jaringan kulit yang disebabkan perpindahan energi dari sumber panas ke
tubuh melalui konduksi dan radiasi elektro magnetic serta bahan kimia

B. Saran
Sebagai perawat haruslah memahami dan mengetahui dalam kondisi kegawatdaruratan pada pasien yang mengalami luka
bakar dimana terjadi ketidakseimbangan asam dan basa yang akan mengakibatkan kondisi yang fatal pada pasien

37
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. PT EGC.Jakarta.

Anonim. (2009). Kumpulan Artikel Keperawatan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Luka Bakar (Combustio).

http://digilib.unila.ac.id/2418/10/BAB%20II.pdf

Syaifuddin, Anatomi fisiologi untuk mahasiswa keperawatan, editor: Monica Ester,-edisi 3- Jakarta : EGC, 2006.

Potter, Perry.2009:Fundamental Keperawatan, Edisi 7 Buku. Jakarta: Salemba Medika.

Syaifudin, Drs. 2012. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi Edisi 4. Jakarta: EGC.

http://eprints.ums.ac.id/16543/3/BAB_I.pdf

38
A PATHWAYS Panas, kimia

radiasi, listrik Luka bakar

Kerusakan jaringan

(epidermis,dermis)

Port de entry

GangguanMerangsang Kerusakan Kapiler Takut Bergerak Mikroorganisme Syaraf


Gangguan
perifer
Integritas
Integritas
Kulit
kulit Permeabilitas
Resti
RestiInfeksi
Alarm Nyeri Meningkat Pergerakan Terbatas
Infeksi
Gangguan rasa Aman Nyaman : nyeri

Gangguan Cairan merembes Cairan merembes


Gangguan Mibilitas Fisik
Rasa Aman
Ke Interstisial jaringan sub kutan Oedema
Nyaman Nyen Fisik
Vesikulasi

39
Penurunan Volume Vesikel pecah dalam Darah
yang Bersirkulasi keadaan luas

Penurunan Curah Luka Terbuka, Kulit

Jantung Terkelupas Kebutuhan 02 meningkat

Penguapan yang berlebihan

Gangguan
Gangguan Perfusi Jaringan Peningkatan metabolisme

:Perfusi Dehidrasi dan Katabolisme


jaringann
(Huddak &Gallo, 1996) Gangguan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan
(Nelson, 1992) Gangguan Nutrisi
Defisit Voleme
Defisit Cairan
volume Kurang dari
Kebutuhan
cairan

40