Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

A. Latar Belakang
Konstipasi atau sering disebut sembelit merupakan kelainan pada sistem
pencernaan di mana seseorang mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan
sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat
pada penderitanya.
Lansia merupakan suatu proses yang alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap
manusia. Orang yang menjadi tua ditandai dengan kemunduran-kemunduran fungsi biologis,
yang pada lahirnya dapat terlihat gejala-gejala kemunduran fisik seperti kulit mengendor,
wajah keriput, rambut yang mulai beruba menjadi putih, gigi yang mulai ompong, cepat serta
mudah lelah, penglihatan dan pendengaran mulai memburuk, dan kerampingan tubuh mulai
menghilang.
Konstipasi pada lansia berbeda dengan konstipasi pada usia muda, ini dikarenakan
sebagian besar masalah konstipasi pada lansia berhubungan dengan penurunan fungsi
biologis seperti akibat gerakan peristaltik (gerakan semacam memompa pada usus) lebih
lambat, penumpukan sensasi saraf, tidak sempurnanya pengosongan usus, atau kegagalan
dalam menanggapi sinyal untuk defekasi.
Hasil angket yang disebarkan pada warga lansia di Desa Flogeru terkait konstipasi pada
lansia didapatkan hasil sebagai berikut: dari total angket yang disebar sebanyak 50 lembar,
didapatkan sekitar 85% lansia yang mengalami sulit BAB dan 15% lansia yang masih lancar
dalam BAB. Setelah dilakukan wawancara terhadap warga lansia di Desa Flogeru mengenai
penyuluhan terkait konstipasi, belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu kami memilih Desa
Flogeru untuk diberikan penyuluhan.
Pertemuan dengan warga lansia di Desa Flogeru akan diselenggarakan pada hari
Selasa, 7 Januari 2014 akan dilakukan penyuluhan serta pembagian leaflet terkait konstipasi
pada lansia.

B. Strategi Pelaksanaan
1. Pokok Bahasan : Konstipasi
2. Sub Pokok Bahasan : Konstipasi pada lansia
3. Waktu : 30 menit
4. Sasaran
Sasaran Penyuluhan : Warga lansia Desa Flogeru
Sasaran Program : Warga Desa Flogeru
5. Tujuan

1
a. Tujuan Umum : Setelah dilakukan penyuluhan warga desa mengetahui tentang
penanganan dan pencegahan kontsipasi pada lansia.
b. Tujuan Khusus :
Setelah penyuluhan diharapkan warga desa mampu:
1) Menyebutkan pengertian konstipasi
2) Menyebutkan penyebab konstipasi
3) Menyebutkan tanda dan gejala konstipasi
4) Menyebutkan komplikasi dari konstipasi
5) Menyebutkan pencegahan konstipasi
6) Mendemonstrasikan cara membuat larutan untuk mengatasi konstipasi
6. Materi
Terlampir
7. Metode
Ceramah, diskusi, dan demonstrasi/stimulasi
8. Media
a. Infocus
b. Leaflet
c. Alat pendukung : meja, kursi, mengkudu, parutan, saringan, gelas, air, garam,
temulawak, asam jawa, gula jawa, kompor, panci kecil, sendok.
9. Penugasan Kelompok
a. Notulen : Rendra Tri Saputra
b. Moderator : Dita Prillia Ruby
c. Penyaji : Yosepha
d. Fasilitator : Angga Kurniawan
e. Observer : Finaninda
f. Demonstrator : Noveriansyah Akbar dan Shella Ramadhani
g. Peserta : M. Berly Barabas dan Ratmawati
10. Waktu
a. Waktu pelaksanaan : Selasa/7 Januari 2014
b. Alokasi Waktu dan Kegiatan

No Tahap Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta Waktu


1 Pendahuluan 1. Mengucap salam 1. Menjawab 5 menit
salam
2. Perkenalan
3. Menjelaskan tujuan 2. Memperhatikan
penyuluhan 3. Memperhatikan

2
2 Penyajian 1. Menjelaskan pengertian 1. Memperhatikan 20 menit
konstipasi 2. Memperhatikan
2. Menjelaskan penyebab 3. Memperhatikan
konstipasi 4. Memperhatikan
3. Menjelaskan tanda dan 5. Memperhatikan
gejala konstipasi 6. Memperhatikan
4. Menjelaskan tentang 7. Bertanya
komplikasi dari konstipasi 8. Menjawab
5. Menjelaskan pengobatan pertanyaan
konstipasi
6. Menjelaskan pencegahan
konstipasi
7. Mendemonstrasikan cara
membuat larutan mengkudu
dan temulawak
8. Memberi kesempatan
peserta untuk bertanya
9. Memberikan pertanyaan
kepada peserta secara acak
3 Penutup Meminta peserta untuk Menyimpulkan 5 menit
menyimpulkan materi
b. Mengucap salam Menjawab Salam

11. Tempat
Balai desa dengan pengaturan sebagai berikut:
26145 Keterangan:
1 = Penyaji
33333 2 = Moderator
33333 3 = Peserta
4 = Demonstrator
5 = Demonstrator
6 = Notulen
12. Kriteria evaluasi
1. Evaluasi struktur
1) Menyiapkan SAP.
2) Menyiapkan materi dan media.
3) Kontrak waktu dengan sasaran.
4) Menyiapkan tempat.

3
5) Menyiapkan pertanyaan.

2. Evaluasi proses
1) Sasaran memperhatikan.
2) Aktif bertanya.
3) Menjawab atau mengulang kembali.

3. Evaluasi hasil
1) 80% pesrta dapat memahami materi penyuluhan yang telah disampaikan.
2) 80% peserta dapat menjawab pertanyaan yang diberikan.
3) Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan rencana yang telah dirancang

Daftar Pertanyaan:
1. Apa pengertian konstipasi?
2. Apa penyebab konstipasi ? (4)
3. Apa tanda dan gejala konstipasi ? (4)
4. Apa saja komplikasi dari konstipasi?
5. Bagaimana pencegahan konstipasi?
6. Demonstrasikan cara membuat larutan mengkudu dan temulawak!

LAMPIRAN
KONSTIPASI
1. Pengertian
Konstipasi secara luas didefinisikan sebagai frekuensi jarang atau kesulitan
pergerakan feses,feses kering (Leueckenotte, 2000).
Konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi pergerakan usus yang disertai dengan
perpanjangan waktu dan kesulitan pergerakan feses (Stanley, 2007).
Konstipasi atau biasa dikenal dengan sembelit didefinisikan secara medis sebagai
buang air besar kurang dari tiga kali per minggu dan konstipasi parah sebagai kurang dari
satu kali/minggu. Konstipasi biasanya disebabkan oleh gerakan lambat dari tinja melalui
usus besar.
Pada tahun 1999 Komite Konsensus Internasional telah membuat suatu pedoman
untuk membuat diagnosis konstipasi. Diagnosis dibuat berdasar adanya keluhan paling
sedikit 2 dari beberapa keluhan berikut, minimal dalam waktu 1 tahun tanpa pemakaian
laksans (kriteria Roma II), yaitu (Whitehead, 1999) : (1) defekasi kurang dari 3x/minggu,
(2) mengejan berlebihan minimal 25 % selama defekasi, (3) perasaan tidak puas

4
berdefekasi minimal 25 % selama defekasi, (4) tinja yang keras minmal 25 %, (5)
perasaan defekasi yang terhalang, dan (6) penggunaan jari untuk usaha evakuasi tinja (G
Lindsay McCrea, 2008.)

2. Etiologi Konstipasi pada Lansia


Menurut Dudek (1997, dalam Leueckenotte, 2000), kejadian konstipasi pada lansia
dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu :
a. Asupan Serat
Konsumsi serat makanan, khususnya serat tak larut (tak dapat dicerna dan tak
larut air panas) menghasilkan kotoran yang lembek. Insoluble fibre bersifat menahan
air pada fragmen serat sehingga menghasilkan tinja yang lebih banyak dan berair.
Akibatnya akan terjadi stimulasi gerakan peristaltik, mempercepat waktu transit
kolon, peningkatan frekuensi defekasi, dan penurunan tekanan di dalam kolon
(Wirakusumah E. , 2003). Sumber makanan yang tinggi serat antara lain:
1) Sayur-sayuran : daun bawang, bawang prei, kecipir muda, kangkung, tauge,
tomat, lobak, kembag kol, daun kelor, brokoli, buncis, kentang, kol, wortel,
timun, daun singkong, daun kemangi, dan lain-lain.
2) Buah-buahan : jambu biji, belimbing, anggur, kedondong.
3) Sereal : oat, gandum, rye jagung, beras, dan beras merah.
4) Biji-bijian : sunflower seed dan sesame seed.
5) Kacang-kacangan : kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo,
kacang bogor (Kusharto, 2007)
b. Masukan Cairan
Pada lansia, proses penuaan normal dapat mempengaruhi keseimbangan cairan.
Perubahan fisiologi yang terjadi antara lain respons haus sering menjadi tumpul,
nefron (unit fungsional ginjal) menjadi kurang mampu menahan air, penurunan TBW
(total body water) yang berhubungan dengan FFM (Fat Free Mass). Perubahan normal
karena penuaan ini meningkatkan resiko dehidrasi (Audrey Berman et.al, 2009).
Angka kecukupan air untuk usia di atas 50 tahun keatas menurut AKG, tahun 2004
dalam Devi (2010) adalah 1,5-2 liter/hari.
Intake cairan berpengaruh pada eliminasi fekal. Kolon menggunakan banyak air
untuk memecah makanan padat. Bahan sisa metabolisme dalam saluran cerna akan
membawa sejumlah air yang telah digunakan untuk mencairkan makanan, dan hal ini
tergantung pada ketersediaan air di dalam tubuh. Air yang membawa sisa metabolisme
akan bertindak sebagai pelumas untuk membantu sisa metabolisme ini bergerak di
sepanjang kolon. Semakin tubuh membutuhkan air, semakin besar usahanya untuk
menyerap kembali air yang tersedia di dalam usus. Proses ini memberikan tekanan

5
besar pada sisa metabolisme agar airnya dapat diabsorbsi kembali oleh mukosa atau
dinding selaput dari kolon. Dampaknya tinja menjadi lebih kering dari normal,
menghasilkan feses yang keras (Guyton & Hall, 1996).
c. Aktivitas Fisik
Mempertahankan mobilisasi optimal sangat penting untuk kesehatan mental dan
fisik semua lansia. Pada umumnya, para lansia akan mengalami penurunan aktifitas
fisik. Salah satu faktor penyebabnya adalah pertambahan usia yang dapat
menyebabkan terjadinya kemunduran biologis. Kondisi ini setidaknya akan
membatasi aktifitas yang menuntut ketangkasan fisik. Aktivitas fisik juga merangsang
terhadap timbulnya peristaltik. Penurunan aktivitas fisik dapat mengakibatkan
terjadinya penurunan gerak peristaltik dan dapat menyebabkan melambatnya feses
menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses
mengeras. Aktivitas fisik juga membantu seseorang untuk mempertahankan tonus
otot. Tonus otot yang baik dari otot-otot abdominal, otot pelvis dan diafragma sangat
penting bagi defekasi (Asmadi, 2008).
d. Depresi
Depresi yaitu keadaan jiwa yang tertekan dan penurunan fungsi kognitif hingga
berpotensi menimbulkan bergagai kendala (Noorkasiani, 2009).
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia baik fungsi psikis
mupun fungsi fisik, yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala
penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotorik,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan
bunuh diri (Ilmu kedokteran jiwa darurat, 2004).
e. Penggunaan obat-obatan
Pengobatan kadang-kadang bertambahnya usia identik dengan ketergantungan
obat. Pada dasarnya, pengobatan dapat memperbaiki kondisi kesehatan dan
meningkatkan kualitas hidup, tetapi di lain pihak pengobatan pun dapat
mempengaruhi asupan kebutuhan gizi lansia. Efek ini timbul karena obat-obatan
tertentu dapat mempengaruhi proses penyerapan zat gizi. Tidak jarang lansia harus
mengkonsumsi obat-obatan dalam waktu yang cukup lama. Banyak obat
menyebabkan efek samping konstipasi. Beberapa di antaranya seperti obat-obatan
antikolinergik, antasida aluminium, golongan narkotik, golongan analgetik,
antihipertensi dan diuretik.
Obat antikolinergik mengurangi sekresi asam lambung dengan menghambat
aktivitas nervus vagus. Ini berakibat penurunan motilitas gastrointestinal (efek
antispasmodik). Obat antikolinergik yang umum dipakai, misalnya Robinul, Pamine,

6
Tyrimide, Monodral, Pro-Banthine. Antasida dipakai untuk mengobati ulkus
ventrikuli, ulkus duodeni, dispepsia dan esofagitis. Garam aluminium dapat
mengakibatkan konstipasi. Contoh obat antasida aluminium yang umum dipakai
seperti Mylanta, Gastrogel, Aludox, Simeco, dan lain-lain.
Analgesik lemah mempengaruhi produksi substansi penyebab nyeri pada tempat
luka, dan meliputi aspirin dan salisilat, paracetamol, NSAID (non-steroidal anti-
inflammatory drugs), dan opiat lemah (kodein dan dekstropropoksifen). Obat
analgesik non-narkotika memberikan beberapa efek samping yang tidak diinginkan.
Efek samping yang paling umum terjadi adalah pada saluran pencernaan yaitu
menghambat aktivitas kontraktil dan melambatkan pengosongan lambung. NSAID
yang umum dipakai seperti Asam mefenamat (Ponstan, Mefic, Stanza), ibuprofen,
aspirin, naproksen, piroksikam, indometasin, dan lain sebagainya (Tambayong, 2001).
Keburukan narkotik adalah depresi pernapasan, konstipasi, toleransi dan
ketergantungan bila sering digunakan. Alkaloid yang berasal dari opium adalah
morfin, codein, papaverine dan noscapin. Obat golongan ini merangsang otot polos,
berakibat spasme otot gastrointestinal, saluran biliaris, dan saluran kemih. Selain itu
mengurangi motilitas usus dan mengakibatkan konstipasi. Pengobatan diuretik akan
mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga mempengaruhi proses
absorpsi di usus. Obat diuretik yang umum dipakai misalnya Furosemide, Torsemide,
Metolazone, Hydroflumethiazide, Bendroflumethazide, dan lain sebagainya (Katzung,
2001).
f. Gangguan metabolik
Hiperkalsemia mengacu pada kelebihan kalsium dalam plasma. Secara umum,
gejala-gejala hiperkalsemia adalah sebanding dengan tingkat kenaikan kadar kalsium
serum. Hiperkalsemia mengurangi eksitabilitas neuromuskular karena hal ini menekan
aktivitas pertemuan mioneural. Gejala-gejala seperti kelemahan muskular,
inkoordinasi, anoreksia, dan konstipasi dapat karena penurunan tonus pada otot lurik
dan polos. Hipotiroid yaitu dimana produksi hormon pada kelenjar tiroid mengalami
penurunan sehingga kecepatan metabolisme tubuh terganggu, sehingga ketika proses
metabolisme makanan dalam tubuh terhambat maka proses pengeluarannya pun juga
lebih lambat (Smeltzer & Bare, 2001).
g. Kurang privasi untuk BAB
Kurang privasi untuk BAB, mengabaikan dorongan BAB dapat menjadi stimulus
psikologis bagi individu untuk menahan buang air besar dan dapat menyebabkan
konstipasi (Darmojo&Martono, 2006).
h. Obstruksi mekanik

7
Kanker kolon adalah tumor ganas yang berasal dari mukosa kolon. Kanker yang
berada pada kolon kiri cenderung mengakibatkan perubahan pola defekasi sebagai
akibat iritasi dan respon refleks, perdarahan, mengecilnya ukuran feses, dan konstipasi
karena lesi kolon kiri yang cenderung melingkar mengakibatkan obstruksi (Darmojo
& Martono, 2006).

3. Tanda dan Gejala


Pada anamnesis, didapatkan riwayat berkurangmya frekuensi defekasi. Dengan
terjadinya retensi feses, gejala dan tanda lain konstipasi berangsur muncul seperti nyeri
dan distensi abdomen, yang sering hilang setelah defekasi. Riwayat feses yang keras dan/
feses yang sangat besar yang mungkin menyumbat saluran toilet. Kecepirit
(enkopresis) di antara feses yang keras sering salah didiagnosis sebagai diare.
Sedangkan menurut Stanley (2007), tanda dan gejala dari konstipasi adalah
sebagai berikut:
a. Mengejan berlebihan saat BAB
b. Massa feses yang keras
c. Perasaan tidak puas saat BAB
d. Sakit pada daerah rektum saat BAB
e. Menggunakan jari-jari untuk mengeluarkan feses

4. Komplikasi
Menurut Darmojo&Martono (2006) akibat-akibat konstipasi antara lain:
a. Impaksi feses
Impaksi feses merupakan akibat dari terpaparnya feses pada daya penyerapan dari
kolon dan rektum yang berkepanjangan.
b. Volvulus daerah sigmoid
Mengejan berlebihan dalam jangka waktu lama pada penderita dengan konstipasi
dapat berakibat prolaps dari rektum.
c. Haemorrhoid
Tinja yang keras dan padat menyebabkan makin susahnya defekasi sehingga ada
kemungkinan akan menimbulkan haemorrhoid.
d. Kanker kolon
Bakteri menghasilkan zat-zat penyebab kanker. Konsistensi tinja yang keras akan
memperlambat pasase tinja sehingga bakteri memiliki waktu yang cukup lama
untuk memproduksi karsinogen dan karsinogen yang diproduksi menjadi lebih
konsentrat.
e. Penyakit divertikular
Mengejan berlebihan (peningkatan tekanan intraabdominal) pada penderita
konstipasi dapat menyebabkan terbentuknya kantung-kantung pada dinding

8
kolon, di mana kantung-kantung ini berisi sisa-sisa makanan. Kantung-kantung
ini dapat meradang dan disebut dengan divertikulitis.

5. Pencegahan
Konstipasi dapat dicegah bila Anda:
Berolahraga secara rutin
Menjaga diet tinggi serat
Minum banyak air untuk membasuh zat beracun dari kandung kemih anda

6. Pengobatan
Penanganan dan pengobatan konstipasi dapat berbeda tergantung pada kondisi
pasien dan penyakit yang dideritanya. Pilihan pengobatan adalah:
Kolektomi
Obat Laktulosa
Obat Pencahar

7. Cara Membuat Larutan Mengkudu dan Temulawak


Untuk menggunakan mengkudu caranya dengan memarut 2 buah mengkudu
kemudian saring airnya. Beri air perasan mengkudu dengan sedikit garam dan minum 2
kali sehari. Mengkudu mengandung morindon yang merupakan zat warna merah dan
berkhasiat sebagai pencahar.
Dan yang terahir menggunakan temulawak yang memiliki banyak manfaat untuk
mengatasi radang, sembelit dan masih banyak manfaat kesehatan lainya. Cara
penggunaannya temulawak diiris ditambah dengan asam jawa dan gula jawa. Setelah itu
masak dengan air hingga mendidih, kemudian saring airnya. Setelah itu minum airnya
selagi hangat.

Daftar Pustaka

9
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/133/jtptunimus-gdl-srimulyani-6619-3-babii.pdf.21-12-
2013 diakses tanggal 23 Desember 2013

10