Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR II

DOSEN PENGAMPU :
FIBRIKA RAHMAT BASUKI, S.Pd., M.Pd
WAWAN KURNIAWAN,S.Si., M.Cs

DISUSUN OLEH :
NAMA : MUHAMMAD IKHLAS
NIM : A1C314006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
DAFTAR ISI
Daftar Isi ........................................................................................................ 2
Kegiatan 1 Penguat Gandengan Rc................................................................ 3
Kegiatan 2 Penguat Operasional.................................................................... 21
Kegiatan 3 Penguat Osilator (IC Timer 555) ................................................. 34
Kegiatan 4 Gerbang Logika .......................................................................... 46
Kegiatan 5 Penggerak Motor Satu Arah Dengan Komponen Transisitor...... 58

KEGIATAN 1

2
PENGUAT GANDENGAN RC
A. Tujuan Praktikum
1. Menentukan nilai dc transistor
2. Menyelidiki tanggapan amplitudo penguat gandengan RC

B. Dasar Teori
Berbagai komponen elektronika diciptakan oleh para ilmuwan sebagai
penunjang bagi terciptanya suatu perangkat elektronika yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia. Komponen-komponen tersebut dari bahan semikonduktor
dengan ukuran dan fungsi yang berbeda-beda sehingga lebih muda dalam memilih
suatu fungsinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
Perancangan elektronika merupakan sebuah pekerjaan yang semestinya dapat
dikerjakan oleh orang-orang yang berkaitan dalam bidang elektro.
Sistem inverter mulai dibangun ketika sering terjadinya gangguan pada jalur
listrik pada perang dunia ke-2 dimana saat itu penggunaannya masih pada instansi-
instansi penting seperti rumah sakit, instansi pelayanan masyarakat dan instansi
komunikasi yang penting.
Kemampuan sebuah inverter dapat menyuplai tenaga listrik semuanya
tegantung dari besarnya kemampuan sebuah baterai dan jumlah beban yang akan
menggunakan daya tersebut.
Rectifier-charger, pada bagian tersebut merupakan rangkaian yang umum
sering dipakai pada penyearahan dan pengisian baterai. Namun rangkaian inilah yang
menjadi titik berat sistem inverter. Pada prinsipnya blok rectifier-charger ini akan
mensuplai daya yang dibutuhkan oleh inverter dalam kondisi terbeban penuh dan
pada saat itu juga dapat mempertahankan muatan di dalam baterai back-up.
Karakteristik baterai juga perlu diperhitungkan dalam desain rangkaian chargernya
karena jika sebuah baterai diisi ulang dengan arus yang melebihi batasan kemampuan
sebuah baterai dapat memperpendek umur baterai tersebut. Biasanya untuk arus
pengisian sebuah baterai back-up inverter ini adalah 80 persen dari kondisi arus yang

3
dikeluarkan oleh baterai back-up pada saat beban penuh (pada kondisi emergency,
kondisi dimana suplai tenaga konvensional terganggu) (Suyanto, 2013: 104-105).
Transistor adalah komponen yang bekerja sebagai saklar (switch on/off) dan
juga sebagai penguat (amplifier). Transistor bipolar adalah inovasi yang
menggantikan transistor tabung (vacuum tube). Selain dimensi transistor bipolar yang
relatif lebih kecil, disipasi dayanya juga lebih kecil sehingga dapat bekerja pada suhu
yang lebih dingin (Ahmad Fali Oklias, 2007: 23).
Suatu contoh penguat dengan gandengan RC adalah penguat emitor
ditanahkan seperti ditunjukkan gambar 9.1

Gambar 9.1 Penguat gandengan RC

Pada gambar 9.1 Cjc menyatakan kapasitansi dalam transistor yang timbul
pada sambungan antara basis dan kolektor, oleh karena adaya daerah pengosongan
pada sambungan p-n ini. Kapasitansi Cje menyatakan kapasitansi yang timbul pada
smabunagn p-n antara basis dan emitor.
oleh karena pengaruh kapasitansi yang ada pada penguat, nilai penguatan
tegangan Gv berubah dengan frekuensi. Grafik yang melukiskan bagaimana
penguatan tegangan (biasanya dalam Db) berubah dengan frekuensi (biasanya dalam
skala log) disebut tanggapan amplitude (Sutrisno, 1987:1)
Ada tiga bagaian daerah frekuensi pada rangkaian penguat yaitu sabagai
berikut :
1. Daerah frekuensi tinggi

4
Untuk daerah frekuensi tinggi reaktansi Xc= kapasitansis seri mempunyai niali
yang sangat kecil degan hambatan yang berhubungan dengan hambatan yang
berhubungan dengan kapasitansi ini. Sehinnga hal ini dapat dianggap terhubung.
Sebaliknya terjadi dengan kapsitansi parale seperti CJC dan CJE.
2. Pada frekuensi tengah
Pada frekusensi tengah, rekatansi (XC) = masih mempunyai reaktansi terlalu
besar, oleh kerena Cdg dan Cgs mempunyai nilai dalam orde Pf (piko Farad)
3. Daerah frekuensi rendah
Pada frekuensi rendah, reaktansi (XC) mempunyai yang sama besar. Akibatnya
kedua kapasitor ini dapat dibuat memeberikan frekuensi patah tanggapan
amplitude pada nilai frekuensi amat rendah, seperti halnya transistor dwi kutub.
Kapasitor C2 harus mempunyai nilai besar agar frekuensi patah pada tanggapan
amplitude yang disebabkan oleh CE menjadi cukup rendah (Malvino, 1992: 98)

High frequency performance of CE amplifier:


1. The small signal equivalent circuit
We now have the tools we need to analiyze the hight-frequency performance of
an amplifier circuit . we choose the common emitter amplifier to ilustrate the
techniques:

5
Now we use the hybrid- equivalent for BJT and cpnstrud the small signal
equivalent circuit for the amplifier:

2. High frequency performance


We can simply the circuit further by using a thevenin equivalent on the input
side and by using assuming the effect of r to be negligible :

Note that the thevenin resistance RS= r//(Rx+(R//Rs))


Recognizing that dominant high frequency pole accurs on the input side, we
endeavor only calculate phi . Thus we ignore the effect of C on the outside ,
calculate the voltage gain and apply the miller effect on the input side only.
3. The CE Amplifier Magnitude Response
Finally we can estimate the entire bode magnitude response of an amplifier an
example

Of this plot the lower and upper 3Db frequency of the most important as the
determine the badwitch of the amplifier.

6
Where the letter approximation assumes that adjacent poles are for away. We
have estimate that frequency response of only one amplifier configuration, the
common emitter. The techniques though can be applied to any amplifier circuit
(Zulinsky Bob, 2007; 189 192).

C. Alat dan komponen


1. AFG
2. CRO
3. Dc Power Supply
4. Bead Board dan kabel jumper

D. Prosedur kerja
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar

2. Melepas kaki basis dari transistor kemudian disambungkan dengan


multimeter. Lalu ukur arus basis dan kemudian hubungkan lagi dengan
rangkaian
3. Melepas kaki kolektor dari transistor kemudoan disambungkan dengan
multimeter lalu ukur arus kolektor. Setelah itu tentukan nilai dc dengan

Ic
persamaan
Ib
4. Menghubungkan AFG pada input penguat. Lalu atur frequensi

pada 100Hz dan atur tegangan input sehingga pada tegangan


output tidak cacat atau terpotong.

7
5. Mengukur nilai Vi pada frekuensi 50Hz kemudian mengukur Vo

6. Mengulangi langkah 5 untuk frekuensi 100-500Hz

7. Menggambarkan kuva tanggapan amplitude masukan setiap

frekuensi

E. Lembar Data
1. Data Pengamatan percobaan penguat gandengan RC
a. Menentukan dc
IB = 0,11
IC = 0,01
dc =0,09

b. Menyelidiki tanggapan amplitude


Tabel 1 data percobaan penguat gandengan RC

F Vin Vout

50 Hz 0,85 V 1,11 V

100 Hz 0,825 V 1,14 V

200 Hz 0,85 V 1,125 V

300 Hz 0,825 V 1,125 V

400 Hz 0,81 V 1,125 V

500 Hz 0,825 V 1,11 V

2. Grafik Percobaan

8
9
F. Pembahasan
Penguat gandengan RC merupakan penguat yang menggunakan kapasitor.
Kapasitor tersebut merupakan beban. Pada praktikum kali ini kami menggunakan
rangkaian penguat emitor ditanahkan. Penguat emitor ditanahkan merupakan salah
satu contoh dari penguat gandengan RC.
Gambar rangkaiannya yaitu:

Gambar. Rangkaian penguat gandengan RC

10
Dari gambar di atas juga sudah dijelaskan komponen-komponen yang
digunakan beserta nilai komponennya.
Kemudian setelah kami mengikuti prosedur yang digunakan, kami
mendapatkan data percobaan pada hasil percobaan. Pada percobaan tersebut kami
melakukan frekuensi yang berbeda-beda, dari 50 Hz, 100 Hz, 200 Hz, 300 Hz, 400
Hz, dan 500 Hz. Kemudian kami cari Vin dan Vout masing-masing dan kami
bandingkan.
Sebelum mendapatkan itu tentu kami mengukur Bdc terlebih dahulu yaitu
dengan cara mengukur Ib dan Ic, maka dari sana kita bisa mengukur Bdc, dengan
persamaan:
Bdc = Ic/Ib
Dari pengukuran yang kami lakukan, kami merasa ada yang janggal, yaitu
arus dari Ib lebih besar dari Ic sehingga Bdc sangat kecil, padahal Bdc haruslah besar
tidak mungkin mengecil , jadi kami mengganggap ada kesalahan waktu mengukur Ic
dan Ib.
Selanjutnya baru kita mengukur Vin, Vout dan frekuensi gelombang 50 Hz
500 Hz. Didapatkan hubungan gelombang yaitu semakin kecil frekuensi maka jarak
gelombang (terhadap fungsi x) semakin besar, jika frekuensi dinaikan maka
gelombang akan semakin rapat.
Kemudian jika dihubungkan dengan Vpp dengan frekuensi tidak
mempengaruhi Vpp. Jika digrafikkan yaitu:

11
Grafik. Vpp Vin terhadap f

Kemudian grafik Vpp Vout terhadap f

Grafik. Vpp Vout terhadap f


Dari grafik di atas jelas frekuensi tidak mempengaruhi tinggi dari Vpp.
Setelah itu kita cari Vin dan Vout dari tinggi gelombang yang dihasilkan yaitu
menggunakan persamaan.
Vin = Vout = V = Vp/2
Vp = Vpp/2
V = (Vpp/2)/2
V = Vpp/2.2
V = Vpp/ 2,8284
Setelah itu didapatkan Vin dan Vout seperti yang tertera pada tabel hasil
percobaan. Vin dan Vout ini juga tidak dipengaruhi oleh frekuensi, dikarenakan Vpp
juga tidak dipengaruhi oleh frekuensi.
Dalam mencari Vin dan Vout kami beranggapan sudah benar karena Vout yang
kami hasilkan lebih besar dari pada Vin yang diberikan. Untuk Vcc pada percobaan
ini sebesar 6 V. dengan Vout lebih besar dari Vin maka akan terjadi penguatan
sebagaimana persamaan
Kv = Vo/Vi

12
Hanya pada percobaan untuk mencari Bdc yang patut dipertanyakan karena
tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan, kemungkinan ini disebabkan oleh banyak
faktor, besar kemungkinan ketika kami mengangkat kaki basis atau kolektor
menyebabkan rangkaian yang terputus atau terhubung dengan yang lain.

G. Kesimpulan
1. dc dapat ditentukan dengan cara mebandingkan nilai Ic dan Ib
2. Tanggapan amplitude penguat gandengan RC dapat diselidiki dengan
percobaan menghubungkan sinyal generator pada rangkaian yang telah
dibuat sehingga dihasilkan nilai Vin dan Vout pada osiloskop.

H. Daftar Pustaka
Malvino.1992.Dasar-Dasar Elektronika. Jakarta : Ghalia Indonesia
Oklilah, Ahmad Fali. 2007. Elektronika Dasar. Palembang: Universitas Sriwijaya
Suyanto, M. 2013. Jurnal Teknologi Technocienta. Aplikasi Sistem Inverter 1
Fasa dengan Kapasitas Beban 1200 watt. Vol. 6. No. 1. Yogyakarta:
AKPRND
Sutrisno. 1998. Elektronika Teori Dan Penerapannya Jilid 2. Bandung :ITB
Zukinsky, Bob. 1999. Introduction To Electronic United Stater. Technological
University

13
LAMPIRAN
- Lampiran Hitung
1. Menetukan dc
Ib = 0,11 A
Ic = 0.01 A
0,11 A
dc=
0,01 A
= 0,09
2. Menyelidiki Tanggapan Amplitudo
Vin
- f = 50,475 Hz
Vpp = 2,41 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 2,41 V / 2,8284
Vin = 0,85 V

- f = 100 Hz = 101,316 Hz
Vpp = 2,33 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 2,33 V / 2,8284
Vin = 0,825V

- f = 200 Hz = 201,48 Hz
Vpp = 2,37 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 2,37 V / 2,8284
Vin = 0,84 V

- f = 300 Hz
Vpp = 2,41 V
Vin = Vpp/2,8284

14
Vin = 2,41 V / 2,8284
Vin = 0,85 V

- f = 400 Hz = 410 Hz
Vpp = 2,29 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 2,29 V / 2,8284
Vin = 0,81 V

- f = 500 Hz = 505,79 Hz
Vpp = 2,33 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 2,33 V / 2,8284
Vin = 0,825 V

Vout
- F = 50 Hz = 50,907 Hz
Vpp = 3,14 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 3,14 V / 2,8284
Vin = 1,11 V

- f = 100 Hz = 101,21 Hz
Vpp = 3,22 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 3,22 V / 2,8284
Vin = 1,14 V

- f = 200 Hz = 200,40 Hz
Vpp = 3,18 V

15
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 3,18 V / 2,8284
Vin = 1,125 V

- f = 300 Hz = 300,11 Hz
Vpp = 3,18 V
Vin = Vpp/2,8284
Vin = 3,18 V / 2,8284
Vin = 1,125 V

- f = 400 Hz = 402,19 Hz
Vpp = 3,18 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 3,18 V / 2,8284
Vin = 1,125 V

- f = 500 Hz = 505,14 Hz
Vpp = 3,14 V
Vin =Vpp/2,8284
Vin = 3,14V / 2,8284
Vin = 1,11 V

Kv
- Kv=Vo/Vi
- f = 50 Hz
Kv = 1,11 V / 0,85 V = 1,30
- f = 100 Hz
Kv = 1,14 V / 0,825 V = 1,38
- f = 200 Hz
Kv = 1,125 V / 0,85 V = 1,32

16
- f = 300 Hz
Kv = 1,125 V / 0,825 V = 1,36
- f = 400 Hz
Kv = 1,125 V / 0,81 V = 1,38
- f = 500 Hz
Kv = 1,11 V / 0,825 V = 1,34

17
- Lampiran Poto

18
19
20
KEGIATAN 2
PENGUAT OPERASIONAL

A TUJUAN
Untuk mendemonstrasikan bagaimana sebuah Op-Amp Inverting (membalik)
digunakan sebagai penguat dalam suatu rangkaian DC dan AC sederhana

B DASAR TEORI
Penguat Operasional atau Op-Amp adalah penguat diferensial dengan dua
masukan dan satu keluaran yang mempunyai penguatan yang amat tinggi, yaitu
dalam orde 105.
Sifat-Sifat Ideal Op-Amp

Gambar 13.1 lambang Op-Amp


Tampak adanya dua masukan, yaitu masukan membalik (INV) dan masukan
tak membalik (NON-INV). Masukan mebalik diberi tanda minus (-) dan masukan tak
membalik diberi tanda positif (+). Jika isyarat masukan dihubungkan dengan
masukan membalik maka daerah frekuansi tengah isyarat keluaran berlawana fasa
atau berlawanan tanda dengan isyarat masukan.
Sebaliknya jika isyarat masukan dihubungkan dengan masukan tak membalik,
maka isyarat keluaran akan sefasa atau
Pada umumnya op-amp menghasilkan tegangan keluaran yang sebanding
dengan beda tegangan isyarat antara kedua masukannya. Op-amp semacam ini
dikenal sebagai op-amp biasa ada pula op-amp yang menghasilkan tegangan isyarat

21
keluaran sebanding dengan beda arus masukan. Op-amp semacam ii dikenal dengan
sebutan op-amp biasa.
Disamping Op-Amp biasa ada pula op-amp yang menghasilkan tegangan
isyarat keluaran sebanding dengan beda arus masukan. Op-amp semacam ini dikenal
sebagai op-amp Norton. Satu contoh op-amp Norton adalah IC LM 3900 buatan
national semiconductor. Satu macam lagi adalah op-amp yang menghasilkan arus
keluaran yang sebanding dengan beda tegangan isyarat antara kedua masukannya.
Op-amp semacam ini disebut penguat transkonduktansi operasional (Operational
Transconductanse Amplifier OTA). Satu contoh OTA adalah IC CA3080 buatan
RCA.
Penguatan menggunakan op-amp
- Penguat membalik

Gambar 13.3 Penguat membalik


- Penguat tak membalik

Gambar 13.6 Penguat tak membalik

22
- Penguat jumlah

Gambar 13.9 Rangkaian penguat jumlah


(Sutrisno, 1987: 117-123)

Gregorian R dan Temes G (1986) pada bukunya yang berjudul Analog MOS
Integrated Circuits For Signal Processing menyatakan bahwa penguat operasional
ideal memiliki karakteristik sebagai penguatan tegangan diferensial tak berhingga,
resistans masukan yang besar, resistans keluaran nol, tidak tergantung pada frekuensi
(bandwidth tak berhingga), tidak terpengaruh oleh temperatur dan tidak memiliki
distorsi atau derau.
Elmunsyah (1994) pada skripsinya yang berjudul Perancangan Penguat Kerja
CMOS Untuk Beban Resistansi Rendah menyatakan bahwa dalam teknologi CMOS,
perancang rangkaian mempunyai keluwesan yang lebih besar daripada teknologi
bipolar untuk menyesuaikan sifat-sifat tiap devais terhadap peranannya pada suatu
rangkaian (Beauty, 2009: 17).
Penguat operasinal atau disebut dengan op-amp (operational amplifier) adalah
suatu beda (penguat diferensial) yang mempunyai penguatan tegangan sangan tinggi
dengan impedansi masukan tinggi dan imoedansi keluaran rendah. Op-amp
merupakan rangakian terintegrasi yang dikemas dalam bentuk chip, sehingga sangat
praktis penggunaanya. Penggunaan op-amp sangat luas termasuk diantaranya sebagai
osilator, filter dan rangkaian instrumentasi.

- Penguat beda

23
Penguat beda atau differensial amplifier merupakan rangkaian yang banyak
dipakai dalam rangkaian terintergrasi termasuk op-amp. Pada prinsipnya rangkaian
penguat beda terdiri atas dua buah emitor yang dihubungkan jadi satu. Umumnya
masukan penguat beda ada dua buah (berasal dari masing-masing transistor) dan
keluarannya ada satu atau dua buah (berasal dari salah satu atau kedua transistor).

- Analisis DC
Analisis DC dilakukan pada satu sisi transistor , dengan asumsi bahwa kedua
transisitir adalah identik. Rangkaian ekuivalen DC untuk satu sisi transistor adalah
trelihat pada gambar.

Gambar 42. Rangkaian Ekivalen DC

- Analisis AC
Analisi AC dilakukan untuk menentukan faktor penguatan common-mode
(AC). Untuk itu kedua masukan harus dibuat sama yakni V1=V2. Rangakian satu sisi
transisitor untuk common-mode adalah pada gambar berikut:

Gambar 43. Rangkaian pada common mode

(Herman Dwi Surjono, 2011: 53-56)

First in operational (here atter op-amp) is a differential input, single ended,


output amplifier, as shown symbolically in figure 1.1. this device is an amplifier
intended for use with eksternal feedback element. Whwre these element determine
the resultan function, or operation.

24
Figure 1-1. The ideal op-amp and its attributes

This give rise to the name, operational amplifier denoting an amplifier that,
by viutue of different feedback kroups, can perform a variety of operation. At this
point not that for concern with any virtual technologic to implement the amplifier.
Attention is toused more on the behavioral natire of this building blook device (James
Bryant, et all, 2004: 5)

C ALAT DAN KOMPONEN


1 Power Supply
2 Voltmeter
3 Osiloskop
4 Signal generator
5 IC 741
6 Potensiometer
7 Bread board dan kael jumper
8 Resistor
9 Kapsitor

D PROSEDUR KERJA
1 merangkai alat seperti pada gambar (gunakan baterai 1,5V sebagai sumber
tegangan)

25
2 mengatur potensio sedemikian rupa, sehingga keluarannya merupakan
masukan Vin=0,1 volt
3 mengatur keluaran Vout dan mencatatnya
4 mengulangi prosedur 1-3 dengan Vin 0,15 volt
5 merangkai alat seperti pada gambar

6 mengatur sumber tegnagan audio generator sehingga keluarannya o,1 Vpp


dengan frekuensi 1 KHz. Keluaran audio generator tersebut merupakan
masukan Vin dari rangkaian penguat AC (gunakan osiloskop untuk
pengukuran).

E LEMBAR DATA
1 Grafik Yang Dihasilkan
a Rangkaian DC
Pada Percobaan ini praktikan gagal melakukan pengukuran terhadap Vout
pada osiloskop.
b Rangkaian AC
- Vin = 0,1 Vpp

26
- Vin = 0,15 Vpp

2 Data Hasil Tabel


a Rangkaian (2a)
No Vin Vout
1 0,1 V - (gagal)
2 0,15 V - (gagal)

b Rangkaian (2b)
No Vin Vout Ain
1 0,1 Vpp 0,7 Vpp 7
2 0,15 Vpp 0,7 Vpp 4,67

F PEMBAHASAN

27
Kita ketahui Op-amp merupakan suatu penguat gandengan langsung yang
memperkuat sinyal arus searah (DC) atau tegangan yang berubah-rubah terhadap
satuan waktu.
Isi dari sebuah OP-Amp terdiri dari puluhan transistor, resistor dan kapasitor
yang dikemas dalam suatu rangkaian terpadu, sehingga Op-Amp dapat disebut juga
rangkaian terpadu (IC= Integrated Circuit).

Lambang Op-Amp, yaitu:

Pada praktikum ini, kami menggunakan komponen utama yaitu IC741. IC741
ini memiliki 8 kaki, yaitu:

Pada praktikum ini dilakukan 2 percobaan untuk penguat operasional yaitu


penguat operasional sinyal masukan DC dan penguat operasional sinyal masukan AC.
Untuk rangkaian yang kami gunakan, yaitu:

28
a. Rangkaian penguat operasional (DC)

b. Rangkaian penguat operasional (AC)


Dari gambar jelas bahwa tidak terlalu banyak perbedaan antara rangkaian DC
dan rangkaian AC. Perbedaan yang mencolok yaitu pada rangkaian DC digunakan
potensiometer 10 Kohm pada sinya masukan sedangkan rangkaian AC tidak
menggunakan. Selain itu juga pada rangkaian AC digunakan 2 kapasitor yang
diletakkan 1 pada daerah masukan dan satu lagi pada daerah keluaran, sedangkan
pada rangkaian DC tidak ada kapasitor. Jadi jelas bahwa perbedaannya hanya terletak
pada potensiometer dan kapasitor.
Pada tabel data percobaan yang praktikan berikan yaitu untuk rangkaian DC
dinyatakan gagal, karena kami gagal dalam mengukur Vout yang dihasilkan dimana
pada osiloskop tidak menghasilkan apa-apa. Pada percobaan tersebut kami telah
merancang percobaan sesuai dengan rangkaian yang diberikan, yaitu dengan cara
merangkai kaki-kaki IC 741 sesuai dengan gambar rangkaian DC, seperti
menghubungkan kaki-2 ke sinyal masukan, kaki-3 ke ground dan lain sebagainya.
Praktikan sangat yakin bahwasannya rangkaian yang praktikan gunakan itu
benar, hal itu terbukti dengan adanya Vin yang bisa praktikan hitung menggunakan

29
voltmeter, dengan memutar-mutarkan potensiometer praktikan bisa mendapatkan Vin
yang diinginkan seperti 0,1 V atau 0,2 V dan lain sebagainya. Untuk skala 0,15 V itu
sulit digunakan karena skala pada voltmeter terbatas pada keteitian 0,1 V.
Dengan demikian praktikan berkesimpulan bahwasannya percobaan praktikan
gagal itu dikarenakan banyak faktor dan yang paling praktikan curigai yaitu osiloskop
yang praktikan gunakan dimana osiloskop tersebut tidak bisa membaca sinyal output
yang praktikan inginkan.
Kemudian pada rangkaian AC didapatkan data Vout lebih besar daripada Vin
yang digunakan, dengan demikian praktikan berkesimpulan bahwasannya percobaan
tersebut berhasil dilaksanakan. Hanya saja praktikan kesulitan membaca Vout yang
diberikan karena Vin yang diberikan perbedaannya sangat kecil yaitu hanya 0,05
Vpp. Untuk frekuensi yang digunakan yaitu 1000-1500 Hz sementara yang dihasilkan
oleh osiloskop 1428,57 Hz. Itu didapatkan dari time/div yang diperoleh pada
osiloskop yaitu sebesar 0,5 msekon / div. jika dihitung:
t = 0,5 ms/div x 1,4 cm = 0,7 ms
f = 1/t = 1/ 0,7 ms = 1428,57 Hz
Dengan demikian praktikan berkesimpulan percobaan ini sudah benar,
diperkuat juga dengan penguatan yang dihasilkan yaitu 7 x dan 6,47 x. Hanya saja
mustahil jika Vin berbeda menghasilkan Vout yang sama dengan rangkaian yang
sama pula. Dari itu diharapkan ke depannya untuk lebih teliti lagi dalam melakukan
praktikum.

G KESIMPULAN
Penguat Op-Amp inverting (membalik) dapat digunakan sebagai penguat
dalam suatu rangkaian DC maupun AC sederhana. Dimana nantinya akan dihasilkan
Vout yang lebih besar dari pada Vin yang diberikan

H DAFTAR PUSTAKA

30
Beauty, dkk. 2009. Jurnal EECC15 Vol III. No. 2. Perancangan rangkaian
terpadu penguat Operasional untuk pengatur Nada. Malang: UB
Bryant, James, dkk. 2004. Op-Amp Application. Oxford: Elsevier
Surjono, HD. 2009. Elektronika Lanjut. Jember: Cerdas Ulet Kreatif
Sutrisno. 1987. Elektronik Terori dan Penerapannya. Bandung : ITB

31
LAMPIRAN
- Lampiran Hitung
Rangkaian AC
- Vin = 0,1 Vpp
Vout = Volt / div x cm
Vout = 0,5/div x 1,4 cm
Vout = 0,7 V
- Vin = 0,15 Vpp
Vout = Volt / div x cm
Vout = 0,5/div x 1,4 cm
Vout = 0,7 V
Penguatan
- Vin = 0,1 Vpp
Ain = Vo/Vi
Ain = 0,7 / 0,1
Ain = 7 X
- Vin = 0,15 Vpp
Ain = Vo/Vi
Ain = 0,7 / 0,15
Ain = 4,67 X
-

32
- Lampiran Foto

33
KEGIATAN III

PENGUAT OSILATOR (IC 555 TIMER)

A. Tujuan
Untuk mendemonstrasikan IC 555 timer sebagai osilator dan bagaimana
perhitungan frekuensi keluarannya.

B. Dasar Teori
Osilator adalah suatu rangkaian yang menghasilkan keluaran yang
amplitudonya berubah-ubah secara periodik dengan waktu. Osilator merupakan
piranti elektronik yang menghasilkan keluaran berupa isyarat tegangan. Bentuk
isyarat tegangan terhadap waktu ada bermacam-macam, yaitu bentuk sinusoidal,
persegi, segitiga, gigi gergaji, atau denyut. Osilator berbeda dengan penguat, oleh
karena penguat memerlukan isyarat masukan untuk menghasilkan isyarat keluaran.
Pada osilator tak ada isyarat masukan, hanya ada isyarat keluaran saja, yang frekuensi
dan amplitudonya dapat dikendalikan.
Osilator digunakan secara luas sebagai sumber isyarat untuk menguji suatu
rangkaian elektronik. Osilator seperti ini disebut pembangkit isyarat, atau pembangkit
fungsi jika isyarat keluarannya dapat mempunyai berbagai bentuk.
Osilator juga digunakan pada pemancar radio dan televise, dan juga dalam
komunikasi radio, gelombang mikro, maupun optic untuk menghasilkan gelombang
elektromagnetik yang dapat ditumpangi berbagai informasi.
Pesawat penerima radio dan televisi juga menggunakan osilator untuk
mengolah isyarat yang datang.
Osilator juga digunakan untuk mendeteksi dan menentukan jarak dengan
gelombang mikro (radar) ataupun gelombang ultrasonic (sonar).
Selain itu, hampir semua alat digital seperti jam tangan, digital kalkulator,
komputer, alat-alat pembantu komputer, dan sebagainya menggunakan osilator.
Pada dasarnya, ada tiga macam osilator, yaitu osilator RC, osilator LC, dan
osilator relaksasi.
1. Osilator RC

34
1) Osilator Jembatan RC

2) Osilator Jembatan Wien

3) Osilator T-Kembar

2. Osilator LC

35
(sutrisno. 1987: 153-159)

Multiplexing dan Oscillator


Rangkaian multiplexing dan oscilator ini terdiri dari Komponen IC 40106 dan
IC 40528 dimana rangkaian IC 40106 merupakan penguat osilator yang
membangkitkan frekuensi 1,5 KHz sampai dengan 2,5 KHz disamping itu juga
terdapat rangkaian input audio yang berfungsi untuk memberikan inputan sinyal
sebagai pembanding dari sinyal RF yang diterima oleh antenna (Kristiyana. 2005:
194)

Dari blok diagram pada Gambar 12, sistem flanger terdiri dari 4 bagian utama
yaitu untai penunda (delay line), osilator terkendali tegangan (voltage controlled
oscillator/VCO), osilator frekuensi rendah (low frequency oscillator/ LFO), dan
pencampur (mixer).

Gambar 12. Blok Diagram Efek Flanger

36
Untai penunda akan digunakan untuk menunda isyarat masukan untai flanger.
Osilator terkendali tegangan berguna untuk menetapkan waktu tundaan pada untai
penunda. Osilator frekuensi rendah digunakan sebagai pengubah waktu tundaan yang
ditetapkan oleh osilator terkendali tegangan. Sementara pencampur digunakan untuk
mencampurkan dua isyarat, yaitu isyarat yang telah ditunda dengan isyarat masukan
asli (Budhianto, dkk. 2013: 27).

Oscillation Operation
The use of positive feedback that results in a feedback amplifier having
closed-loop gain |Af| greater than 1 and satisfies the phase conditions will result in
operation as an oscillator circuit. An oscillator circuit then provides a varying output
signal. If the output signal varies sinusoidally, the circuit is referred to as a sinusoidal
oscillator. If the output voltage rises quickly to one voltage level and later drops
quickly to another voltage level, the circuit is generally referred to as a pulse or
square-wave oscillator.

Phase-Shift Oscillator
An example of an oscillator circuit that follows the basic development of a feedback
circuit is the phase-shift oscillator.

37
(Boylestad. 2013: 766-767)
Osilator adalah suatu gabungan dari alat element aktif dan pasif untuk
mneghasilkan bentuk gelombang sinusoida atau bentuk gelombang periodiknya.
Suatu osilator memberikan tegangan keluaran dari suatu bentuk gelombang yang
diketahui menggunakan sinyal masukan dari luar (Chattopadday, D. 1989: 256)
Osilator merupakan peralatan penting dalam komunikasi radio. Pada dasarnya
osilator merupakan penguat sinyal dengan umpan balik positif dimana rangkaian
resonansi sebagai penentu frekuensi osilator (Malvino. 1985: 225).
Osilator adalah rangkaian yang dapat menghasilkan sinyal output tanpa
adanya sinyal input yang diberikan. Keluaran osilator bisa berupa bentk gelombnag
sinusoida atau segitiga (Susanti. 2014: 48)

C. ALAT DAN BAHAN


1. Power supply
2. Voltmeter
3. Osiloskop
4. Signal generator
5. IC555
6. Bread board dan kabel jumper
7. Resistor
8. Kapasitor

D. PROSEDUR KERJA
1. Membuat rangkain seperti gambar

38
2. Menghitung Fout dan mencatat pada table pengamatan
3. Digambarkan bentuk gelombang keluaran yang terlihat pada osiloskop
4. Megulangi langkah 1-3 dengan Rb dan I sesuai table
1,49
5. Menghitung Fout dengan persamaan Fout=
( RA+ RB)/c 1
6. Diukur Fout menggunakan osiloskop

E. LEMBAR DATA
No RA () RB () C1 (F) Fout Teori Fout Gelombang FInput
(Hz) Praktek (Hz)
(Hz)
1 22 K 10 K 0,1 645,625 26,96 Kotak 26,68
2 22 K 22 K 0,1 338,636 27,6 Kotak 27,6
3 22 K 10 K 0,2 232,8125 27, 63 Kotak 27,62
4 22 K 22 K 0,2 169,318 27, 94 Kotak 27,7

Grafik Percobaan Gelombang (Fout Praktek)


- Fout = 26,96 Hz

- Fout = 27,6 Hz

39
- Fout = 27,63 Hz

- Fout = 27,94 Hz

F. PEMBAHASAN
Osilator merupakan piranti elektronika yang menghasilkan keluaran berupa
isyarat tegangan. Osilator banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya
pada pemancar radio, televise, penerima radio dan televise, menentukan jarak dengan
gelombang radar bahkan sampai yang kecil sekalipun seperti jam tangan, kalkulator,
komputer dan lain sebagainya.
Pada percobaan kali ini digunakan osilator berupa IC timer 555. IC timer 555
adalah sirkuit terpadu (chip) yang digunakan dalam berbagai pembangkit timer, pulsa
dan aplikasi osilator.
Rangkaian yang digunakan yaitu:

40
Gambar. Rangkaian penguat osilator (Penuntun Praktikum Eldas 2. 2016:6)

Dari percobaan yang praktikan gunakan yaitu 2 buah resistor 1 buah IC, 2
buah kapasitor, 1 buah IC timer 555. Dari rangkaian jelas bahwa RA dan kaki IC
timer 4, 8, 7 terhubung menjadi satu membentuk Vcc, untuk Voutnya hanya kaki 3 IC
timer 555, sedangkan groundnya yaitu RB dan C1, kaki 6, 2 terhubung dengan kaki 1,
5 dan C2.
Pada tabel percobaan, jelas bahwa RA yang praktikan gunakan selallu tetap
yaitu sebesar 22 K, sedangkan yang berubah-rubah adalah RB dan C1, dan untuk
C2 juga digunakan nilai kapasitor yang tetap yaitu sebesar 1 F. untuk RB digunakan
2 buah nilai yang berbeda yaitu 10 K dengan 22 K dan C1 yaitu 0,1 F dengan 0,2
F. Dari tabel tersebut praktikan bisa membandingkan fout untuk RB = 10 K terhadap
C1 = 0,1 F dan C1 = 0,2 F dan RB = 22 K terhadap C1 = 0,1 F dan C1 = 0,2 F.
Mengapa kita membandingkan pengaruh RB dan C1 yang berbeda-beda? Itu
karena kita ingin melihat pengaruh RB dan C1 yang berbeda, dimana RB dan C1
diletakkan pada ground.
Dari tabel data yang didapatkan jelas bahwa Finput yang diberikan sama
dengan Fout yang didapatkan atau bisa dikatakan mendekati, tidak persis sama
dikarenakan frekuensi yang dihasilkan selalu berubah-rubah tiap waktunya. Tetapi
ada sebuah permasalah yaitu Fin, Fout Praktek, tidak sama dengan Fout Teori,
dimana Fout teori lebih besar dari Fout praktek bahkan bisa dikatakan besar sekali.
Menurut praktikan Fout haruslah sama dengan Fin, karena pada dasarnya pada
sebuah osilator itu berfungsi untuk membuat sebuah rangkaian berosilasi, sesuai
diagram yaitu:

41
Diagram. Dasar Osilator

Dari gambar tersebut jelas bahwa setelah gelombang melewati rangkaian


umpan balik maka gelombang akan kembali seperti gelombang input yang diberikan.
Perbedaan gelombang terjadi pada saat gelombang masukan melewati sebuah
penguat berupa IC.
Dari percobaan yang praktikan lakukan jelas bahwa menghasilkan gelombang
kotak dan ini sudah benar sesuai dengan gelombang yang dihasilkan oleh IC timer
555, dimana IC tersebut menghasilkan gelombang kotak pada gelombang outputnya.
Hanya saja VPP yang dihasilkan tiap percobaan berbeda-beda, hal ini disebabkan
oleh adanya pengaruh dari RB dan C1 yang diberikan.
Dari percobaan yang praktikan lakukan diharapkan untuk lebih teliti lagi
dalam merangkai rangkaian yang diberikan dan rangkaian pada bread board harus
kuat, serta jangan sampai bersentuhan antara komponen satu dengan yang lainnya,
karena dapat menyebabkan kesalahan pengukuran percobaan.

G. KESIMPULAN
Praktikan dapat mendemonstrasikan IC timer 555 sebagai osilator dan dapat
menghitung Fout.
Fout = 1,49/(RA+RB)C1

H. DAFTAR PUSTAKA

42
Boylestad, Robert L dan L. Nashelsky. 2013. Electronic Devices and Circuit Theory.
Boston: Pearson
Budhianto, M, dkk. 2015. Jurnal Nasional Teknik Elektro. Perancangan Penguat
Awal Menggunakan Tabung Hampa Pada Arah Tegangan Rendah, Vo. 4,
No.1 Maret 2015. Salatiga: Universitas Kristen Satyawacana
Chattopadhday, D. 1989. Dasar Elektronika. Jakarta: Universitas Indonesia
Kristiyana, Samuel. 2015. Jurnal. Teknologi Technoscientia. Sistem Detektor Arah
Sinyal RF menggunakan Antena Doppler. Vol. 7 No. 2 Februari 2015.
Yogyakarta: AKPRIND
Malvino, Arbert Paul. 1985. Prinsip-Prinsip Elektronika. Jakarta: Erlangga
Susanti, Eka. 2014. Bahan Ajar Praktek Perancangan Telekomunikasi. Palembang:
Politeknik Negeri Sriwijaya
Sutrsino. 1984. Elektronika Dasar. Bandung : ITB
Penuntun Praktikum Elektronika Dasr 2. 2016. Penuntun Praktikum Elektronika
Dasar 2. Jambi: UNJA

43
LAMPIRAN
- Lampiran Hitung
Fout (Rb = 10 K, C1 = 0,1 F)
1,49
Fout =
(RA+ RB)/c 1
1,49
Fout = 3 3 6
(22 x 10 +10 x 10 )/0,1 x 10
1,49
Fout =
3,2 x 103
Fout = 465,625 Hz

Fout (Rb = 22K, C1 = 0,1 F)


1,49
Fout =
(RA+ RB)/c 1
1,49
Fout = 3 3 6
(22 x 10 +22 x 10 )/ 0,1 x 10
Fout = 338,636 Hz

Fout (Rb = 10 K, C1 = 0,2 F)


1,49
Fout =
(RA+ RB)/c 1
1,49
Fout = 3 3 6
(22 x 10 +10 x 10 )/0,2 x 10
Fout = 232,8125 Hz

Fout (Rb = 22 K, C1 = 0,2 F)


1,49
Fout =
(RA+ RB)/c 1
1,49
Fout = 3 3 6
(22 x 10 +22 x 10 )/ 0,2 x 10
Fout = 169,318 Hz

44
45
- Lampiran Gambar

46
KEGIATAN IV
GERBANG LOGIKA

A. TUJUAN
1. Mengenal beberapa IC yang mengandung gerbang logika
2. Membuat rangakian gerbang logika dengan menggunakan IC gerbang logika
3. Membuat tbel kebenaran untuk rangkaian gabungan gerbang logika dibuat
dengan IC gerbang logika

B. DASAR TEORI
Menurut Muhsin (2004:153), Gerbnag logika yang diterjemahkan darinistilah
asing gate adalah elemen dasar yang semau rangkaian yang menggunkaan sistem
digital. Semua fungsi digital tersusun atas gabungan beberapa gerbang logika dasar
yang disusun berdasarkan fungsi yang diinginkan. Gerbnag-gerbang ini bekerja atas
dasar logika tegangan yang digunakan dalam teknik igital. Logika tegangan adalah
dua kondisi tegangan yang saling berlawanan. Kondisi tegangan ada tegangan
mempunyai istilah lain berlogika satu atau berlogika tinggi sedangkan tidak ada
tegangan memiliki istilah lain berlogika nol atau berloika rendah.
Gerbang logika merupakan dasar pembentukan sisitem digital. Gerbamg
logika beroperasi dengan bilangan biner, sehingga disebut juga dengan gerbamg
biner.
Menurut Albert, Paul (1994:245), Gerbang logika Boolean adalah terdiri dari
beberapa jenis. Masing-masing dapat melakukan proses yang berbeda. Maka
gerbang-gerbnag ini nantinya akan dikombinasi untuk mmebuat sistem pemrosesan
yang lebihbesar lagi. Berikut ini merupakan beberapa contoh gerbang logika dasar:
a. Gerbang AND, merupakan gerbang logika yang penulisan aljabar boole biasanya
dilambangkan dengan perkalian
b. Gerbang OR, merupakan gerbang logika yang dalam penulisan aljabar boole
biasanya dilambangkan dengan penjumlahan

47
c. Gerbang NOT, merupakan gerbang logika yang dapat menjadi pembalik fungsi
logika dari gerbang logika lainnya. Gerbang logika NOT dilambangkan dengan
BAR.
Menurut Kurniawan (2005:17 vol 3), gerbang logika memenuhi aturan main
aljabar Boolean atau sistem biner. Gerbang logika memiliki satu atau lebih masukan
dan hanya satu keluaran. Hubungan antara keadaan keluaran dan kombinasi keadaan
masukan ditunjukkan melalui table kebenaran.
1. Gerbang OR, hubungan antara keluaran dan masukan pada gerbnag OR dapat
dihasilkan sebagai Y=A OR B atau Y=A+B.
Tebel kebenaran gerbnag OR dengan dua masukan
A B A+B
0 0 0
0 1 1
1 0 1
1 1 1

2. Gerbang AND, hubungan antara masukan dan keluaran pada gerbnag AND dapat
dituliskan sebagai: Y=A AND B atau Y=A.B atau Y=AB
Table kebenaran Gerbang AND dengan dua masukan
A B A+B
0 0 0
0 1 0
1 0 0
1 1 1

3. Gerbang NOT,jika A menyatakan saluran masukan dan Y merupakan keluaran


pada gerbang NOT maka hubungna antara A dan Y dituliskan : Y=NOT A atau
Y=A. table kebenaran untuk gerbang NOT :
A Y=A.
0 1
1 0

4. Gerbang NOR dan NAND,gerbang OR ataupun AND masing-masing dapat


digabungkan denngan gerbang NOT. AND yang diikuti dengan gerbang NOT

48
menghasilkan gerbang NAND. Serbang OR yang diikuti dengna gerbang NOT
menghasilkan gerbang OR. Tebel kebenaran gerbang NAND dan NOR
A B A NAND B A NOR B
0 0 1 1
0 1 1 0
1 0 1 0
1 1 0 0

5. Gerbang EX-OR dan EX-NOR, keluaran gerbang EX-OR akan tinggi bila hanya
nilai logic pada kedua masukannya saling berlawanan. Keluaran gerbang EX-
NOR akan tinggi bila hanya nilai logic pada kedua masukan sama. Kedua
gerbang ini tidak pernah memiliki lebih dari dua masukan. Tebl kebenaran untuk
kedua table ini adalah sebagai berikut:
A B A EX OR B A-EX-NOR B
0 0 1 1
0 1 0 0
1 0 0 0
1 1 1 1

Menurut Atul P. Godse and Mrs Deepali A Godse (2009:3), Logic gates are
the basic element that make up a digital system the electronic gate is a circuit gate is
able to operate on a number of binary input in order to perform particular logical
function. The types of gate available are the NOT, AND, OR, NAND, NOR, Exluisve
OR and Exslusive NOR. Except for the exclusive NOR gate the are available in
monolithic integrated circuit form.
C. ALAT DAN KOMPONEN
1. Papan Rnagkaian 5 buah
2. Batterai 1,5 Volt 1 buah
3. Resistor 150 Ohm 4 buah
4. IC 74LSO8, IC 74LS32, IC 74LS00, IC 74LSO2 masing-masing 1 buah
5. LED 6 buah
6. Kabel jumper secukupnya

49
D. PROSEDUR KERJA
1. Buat rangkaian untuk masing-masing gerbnag logika diatas papan rangkaian

Rangkaian gerbang Logika OR

Rangkaian gerbang Logika AND

Gerbang Logika NAND

50
Gerbang Logika NOR

2. Menghubungkan tegangan sumber ke rangkaian


3. Menghubungkan saklar secara bergantian sesuia dengan table kebenaran
4. Mengamati display LED
5. Mengisi table kebenaran dari percobaan yang telah dilakukan.

E. LEMBAR DATA
1. Rangkaian Gerbang Logika Sederhana
a. Tabel Kebenaran Gerbang OR
A B Y
0 0 0
0 1 1
1 0 1
1 1 1

b. Tabel Kebenaran Gerbang AND


A B Y
0 0 0
0 1 0
1 0 0
1 1 1

2. Rangkaian Gerbang logika perluasan


a. Tabel Kebenaran Gerbang OR

51
A B Y
0 0 0
0 1 1
1 0 1
1 1 1

b. Tabel Kebenaran Gerbang AND


A B Y
0 0 1
0 1 0
1 0 0
1 1 0

c. Tabel Kebenaran Gerbang NAND


A B Y
0 0 0
0 1 0
1 0 0
1 1 0

d. Tabel Kebenaran Gerbang NOR


A B Y
0 0 0
0 1 0
1 0 0
1 1 0

F. PEMBAHASAN
Dari percobaan yang praktikan didapatkan hasil seperti pada tabel lembar data
yang tertera di atas.
a. Gerbang Logika OR
Untuk membuktikan tabel kebenaran gerbang OR dilakukan dengan dua cara,
yaitu:
1) Gerbang Logika OR dengan rangkaian sederhana, dan
2) Gerbang Logika OR dengan menggunakan IC 74LS32.

52
IC74LS32 merupakan sebuah IC yang sudah dirancang sesuai dengan
rangkaian OR, sehingga prinsip kerja dari IC tersebut sama dengan prinsip kerja
gerbang logika OR. Gerbang OR merupakan gerbang logika yang dalam penulisan
aljabar Boole biasanya dilambangkan dengan penjumlahan. Di dalam gerbang OR,
jika salah satu atau kedua inputnya bernilai 1 maka hasil outputnya adalah 1, artinya
apabila ada rangkaian yang terhubung maka rangkaian akan hidup. Dalam praktikum
ini, praktikan menggunaan indicator output dengan sebuah lampu LED, setelah
dilakukan dengan tabel kebenaran, maka praktikan menyimpulkan bahwa praktikum
untuk gerbang logika OR ini telah berhasil.
b. Gerbang Logika AND
Sama seperti gerbang OR, digunakan dua cara. IC yang digunakan yaitu IC
74LS08. Di dalam gerbang-gerbang logika AND, jika salah satu input atau keduanya
bernilai 0, maka hasil outputnya 0. Dari percobaan yang telah praktikan lakukan ada
perbedaan antara cara 1 dan cara 2, dan hasil yang sesuai dengan tabel kebenaran
yaitu cara 1 dengan rangkaian gerbang logika AND sederhana. Sementara dengan
menggunakan IC 74LS08 tidak sesuai dengan tabel kebenaran. Prinsip kerja gerbang
AND sama seperti prinsip kerja rangkaian seri, semuanya harus terhubung, jika salah
satu terputus maka rangkaian tidak akan bekerja. Dari itu pratikan menyimpulkan
bahwa praktikum gerbang AND hanya berhasil pada rangkaian sederhana.
c. Gerbang Logika NAND dan NOR
Untuk dua praktikum terakhir digunakan satu cara, yaitu menggunakan IC. IC
untuk gerbang logika NAND adalah IC74LS00, sedangkan gerbang logika NOR
adalah IC74LS02.
Prinsip kerja dari kedua gerbang di atas yaitu memodifikasi gerbang induk
(AND atau OR) dengan menambahkan gerbang NOT di dalam prosesnya, sehingga
hasil yang diperoleh kebalikan dari hasi tabel kebenaran gerbang induknya.
Untuk hasil yang diperoleh dari dua gerbang di atas diperoleh hasil output
yaitu 0 semua, artinya tidak ada lampu LED yang menyala saat menggunakan
rangkaian dua gerbang di atas. Hal ini menandakan bahwa praktikum yang dilakukan

53
adalah gagal. Hasil yang seharusnya didapat ialah sesuai dengan tabel kebenaran
gerbang logika NAND, maupun NOR.
Kegagalan tersebut banyak faktor yang mempengaruhi, bisa jadi faktor alami
seperti IC yang digunakan tidak berkerja (rusak) atau kesalahan dari praktikan itu
sendiri, seperti kesalahan praktikan dalam merangkai gerbang logika tersebut, atau
kurang telitinya praktikan, serta kurang tekunnya praktikan dalam mengamati
rangkaian yang digunakan. Dari itu untuk kedepannya praktikan harus lebih teliti dan
tekun dalam melaksanakan praktikum ini.

G. KESIMPULAN
1. Praktikan mengenal beberapa IC yang mengandung gerbang logika seperti IC
74LS08 (AND), IC 74LS32 (OR), IC 74LS00 (NAND), dan IC 74LS02
(NOR).
2. Praktikan dapat membuat rangkaian gerbang logika dengan menggunakan IC
gerbang logika.
3. Praktikan dapat membuat tabel kebenaran untuk rangkaian gabungan gerbang
logika dibuat dengan IC gerbang logika.

H. DAFTAR PUSTAKA
Albert, Paul dan Tjia.1994. Elektronika Digital Komputer Dan Pengantar Komputer
Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Kurniawan, Fredly.2005. Jurnal Sistem Digital Konsep Dam Aplikasi Volume
3.Yogyakarta: Gava Media
Muhsin. 2004. Elektronika Digital Teori Dan Penyelesaiannya. Yogyakarta. Grana
Ilmu
P. Grade , Atul dan Mrs Deepali A Godse. 2009. Digital Logics Circuits. India :
Technical Publications Pune

54
LAMPIRAN GAMBAR

55
56
57
KEGIATAN V
PENGGERAK MOTOR SATU ARAH DENGAN KOMPONEN
TRANSISTOR

A. TUJUAN
1. Merangkai penggerak motor searah dengan rangkaian darlington
2. Melihat kondisi dynamo saat diberi tegangna rendah dan tegangan tinggi

B. DASAR TEORI
Menurut Muhsaman (2009:184), motor lstrik merupakan sebuah perangkat
elektromagnetis yang merubah energy listri menjadi energy mekanik. Energy
mekanik ini digunakan untuk menggerakkan kompresor. Prinsip kerja motor listrik
diantaranya :
a. Arus listrik dalam medan magnet harus atau akan memberikan gaya
b. Ikatan kawat yang membawa arus dibengkokkan menjadi sebuah lingkaran,
maka kedua sisi lingkaran akan mendapat arah yang berlawanan
c. Pasangan gaya yang menghasilkan tenaga putar untuk memutar kumparan
d. Motor-motor memiliki beberapa loop pada dinamonya untuk memberikan tenaga
putaran yang lebih seragam dan medan magnet yang dihasilkan disebut
kumparan medan.
Pada dasarnya motor listrik dibagi menjadi dua yaitu motor listrik AC dan
motor listrik DC. Kemudian dari jenis tersebut diklasifikasikan lagi sesuia dengan
karakteristiknya.

Bagan 1. Jenis-jenis motor listrik

58
Menurut Nugroho dan Agustina (2015:2), motor DC merupakan suatu piranti
yang memerlukan suplay tegangan searah pada kumparan medan untuk diubah
menjadi energy mekanik. Dalam motor dc terdapat dua kumparan yaitu kumparan
medan berfungsi untuk menghasilkan medan magnetdan kumparan jangkar yang
berfungsi sebagai tempat terbentuknya gaya gerak listrik. Jika arus dalam kumparan
jangkar berinteraksi dengan medan magnet akan timbuk torsi yang akan memutar
motor.
Motor DC dengan pengat sendiri didefinisikan sebagai motor dc dimana arus
kumparan medan diperoleh dari sumber arus dc yang sama dengan arus yang
digunakan pada kumparan jangkar. Berdasarkan cara menghubungkan kumparan
medan dan kumparan jangkar. Secara umum motor dc diklasifikasikan dalam tiga
macam yaitu:
1. Motor arus searah berpenguat shunt
2. Motor arus searah berpenguat seri
3. Motor arus searah berpenguat kompon.
Menurut Perea (2015: 69), Motor Driver, this kind of circuit usually user a
transistor as an intermediate device that receiver audio signal and provider a
proportional current coming from an external power sources to the device.
In the following schematic, you can see typical assembly when operating, DC
motor from aurdino.

Figure motor driver circuit

The key element of the circuit is the transistor component the one with the
arrow painting cut that has three legs:

59
- Base : This is the leg that we connect to the arduino board throught a resistor
and the octs as the control element.
- Colector : This simply said, is the leg where current corner into the
transistor.
- Emittor : This is the leg throught which current florn out of the transistor.

Menurut Maryanto (2013:11-12), Driver motor digunakan untuk menggerkkan


motor dc menggunakan mikrokontroler. Arus yang mampu diteirma atau yang
dikeluarkan mikrokontroler sangan kecil. Sehingga agar mikrokontroler dapat
menggerakkan motor dc diperlukan suatu rangkaian driver motor yang mampu
mnegalirkan arus sampai dengan beberapa amper.
Rangkaian driver motor dc dapat berupa rangkaian transistor relay atau IC
(Integrated Circuit). Rangkaian yang umum digunakan adalah dengan IC L2930.
Motor dc digunkana untuk menggerakkan pintu. Gerakan motor dc ini dapat diatur
dengan pemberian data paad IC L2930 sebagai driver motor dc.
Untuk mengendalikan motor ini dibutuhkan sebuah rangkaian yang disebut
rabgkaian half bridge. Rangkaian ini akan membuat arus mengalir pada motor
melalui dua kurubnya secara bergantian sesuia arah yang diinginkan. Pada rangkaian
ini hal yang tidak boleh terjadi adalah keempat bagian transistor yaitu NPN kiri ,
NPN kanan, PNP kiri, PNP kanan aktif secara bersamaan. Hal ini akan
menghubungkan sumber daya positif dan negative.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Power supply
2. Transisitor TIP41 2 buah
3. Diode 1N4001 1 buah
4. Motor DC I buah
5. Resisitor 10 K 1 buah

D. PROSEDUR KERJA
1. Susunlah komponen elektronika seperti gambar rangkaian dibawah ini:

60
2. Hubungkan power supply pada rangkaian
3. Amati apa yang terjadi pada motor DC
4. Berilah tegangan pada input dan amati kembali motor Dc
5. Catat apa yang terjadi pada motor Dc sebelum dan sesudah diberikan
masukan input

E. LEMBAR DATA
Masukan Kondisi Motor (MI)
0 Tidak Berputar
1 Berputar

F. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, praktikan menggunakan rangkaian seperti gambar:

Gambar. Penggerak DCMP satu arah dengan komponen transistor

Rangkaian di atas dikenal dengan istilah konfigurasi Darlington. Konfigurasi


Darlington merupakan rangkaian indentik menggunakan dua buah transistor.
Transistor yang digunakan ialah tipe TIP41.
Pada tabel data yang praktikan peroleh, didapatkan kondisi motor berputar
ketika masukan = 1, dan tidak berputar pada masukan = 0. Hal ini tidak sesuai dengan

61
landasan teori yang diberikan dimana seharusnya motor berputar ketika diberikan
input 0, terjadi beda potensial pada ujung-ujung kutub MI, yaitu ketika basis (B)
diberi logika tegangan rendah (0) sehingga transistor Q1 benda dalam kondisi putus.
Kondisi ini menyebabkan kaki kolektor (C) transistor Q1 dan Q2 dalam kondisi
logika tegangan rendah.
Tetapi ada sumber lain yang menyatakan bahwasannya masuka 1 adalah
rangkaian tersambung, sedangkan rangkaian dengan masukan 0 adalah tidak
tersambung. Sama halnya dengan praktikum gerbang logika pada sebelumnya.
Jika berpacu pada sumber ini maka bisa dikatakan praktikum yang telah
dilakukan oleh praktikan berhasil dilaksanakan, hal ini bisa dilihat pada hasil tabel
lembar data, ketika masukkannya 0 kondisi motor tidak berputar, dan ketika
masukkannya 1 kondisi motor berputar.
Dalam praktikum ini, kita sebagai praktikan harus berhati-hati dalam hal
merangkai rangkaian, dan rangkaian kita harus benar-benar sesuai dengan penuntun
yang diberikan. Khawatirnya kita sudah yakin dengan rangkaian yang kita rangkai,
sejatinya rangkaian tersebut belum sesuai dengan penuntun berikan. Berdasarkan hal
inilah praktikan ke depannya harus lebih tekun, lebih mandiri dan lebih ulet lagi.

G. KESIMPULAN
1. Setelah melakukan parktikum kami dapat Merangkai penggerak motor
searah dengan rangkaian darlington
2. Setelah melakukan parktikum kami dapat Melihat kondisi dynamo saat
diberi tegangna rendah dan tegangan tinggi. Dimana pada saat tegangan
tinggi dynamo berputar kearah kiri dan pada masukan tegangan rendah
dynamo tidak berputar.

H. DAFTAR PUSTAKA
Maryanto, Hendra.2013. Membuat Sendiri Robot Humanoid. Jakarta: Elex Media
Komputindo
Muhsaman.2009. Penggerak Motor DC.Yogyakarta: Andi Offset
Nugroho, Agustina. 2015. Pembuatan Prototape Pintu Satu Arah. Jurnal FTI
UNSA 2015. Surakarta: UNSA
Perea, Francis. 2015. Arduino Esemmbels. Birmingham: PACKT Publishing

62
63
Lampiran Gambar

64

Anda mungkin juga menyukai