Anda di halaman 1dari 16

TUGAS AKHIR SEKTOR PUBLIK

ANALISIS KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN GIANYAR

Oleh:

Komang Monica Cristina

1406205009

Kelompok 8

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016
Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang.

Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri
dan namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga dapat diartikan sebagai kewenangan
untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga
sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas
wilayah. Otonomi daerah merupakan adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. otonomi daerah berasal dari kata
otonomi dan daerah. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga
sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan
daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam
mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerah masing-
masing.

Otonomi daerah muncul sebagai bentuk veta comply terhadap sentralisasi yang sangat
kuat di masa orde baru. Berpuluh tahun sentralisasi pada era orde baru tidak membawa
perubahan dalam pengembangan kreativitas daerah, baik pemerintah maupun masyarakat daerah.
Ketergantungan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat sangat tinggi sehingga sama sekali
tidak ada kemandirian perencanaan pemerintah daerah saat itu.. Tidak ada perencanaan murni
dari daerah karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak mencukupi.

Ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1997 dan tidak bisa cepat bangkit,
menunjukan sistem pemerintahan nasional Indonesia gagal dalam mengatasi berbagai persoalan
yang ada. Ini dikarenakan aparat pemerintah pusat semua sibuk mengurusi daerah secara
berlebih-lebihan. Semua pejabat Jakarta sibuk melakukan perjalanan dan mengurusi proyek di
daerah.
Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk menganalisis
lebih jauh tentang kemampuan daerah kabupaten Gianyar dalam pelaksanaan otonomi daerah.
Dalam analisis tersebut nantinya akan dapat diketahui kinerja pemerintah daerah dalam hal
pengelolaan keuangan di tahun 2014 hingga tahun 2015. Berangkat dari latar belakang tersebut,
maka studi ini akan mengkaji Analisis Kemampuan Keuangan Daerah Di Kabupaten Gianyar.

1.1 Rumusan Masalah.


Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimana kemampuan keuangan daerah kabupaten Gianyar dalam pelaksanaan
otonomi daerah khususnya pada tahun 2014-2015, jika ditinjau dari indikator Derajat
Desentralisasi Fiskal (DDF), Derajat Otonomi Fiskal (DOF), Kapasitas Fiskal,
Kebutuhan Fiskal?
2. Bagaimana tingkat kemandirian keuangan daerah kabupaten Gianyar pada tahun
2014-2015 dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah yang diukur dengan
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah dan Pola Hubungannya?

1.2 Tujuan Penulisan.


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui kemampuan keuangan daerah kabupaten Gianyar dalam
pelaksanaan otonomi daerah khususnya pada tahun 2014-2015, jika ditinjau dari
indikator Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF), Derajat Otonomi Fiskal (DOF),
Kapasitas Fiskal.
2. Untuk mengetahui tingkat kemandirian keuangan daerah kabupaten Gianyar pada
tahun 2014-2015 dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah yang diukur
dengan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah dan Pola Hubungannya.

Bab II
Metode Penelitian

2.1 Lokasi Penelitian.


Lokasi penelitian di Kabupaten Gianyar.

2.2 Objek Penelitian.

Objek penelitiannya adalah indikator Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF), Derajat


Otonomi Fiskal (DOF), Kapasitas Fiskal, Upaya dan Posisi Fiskal, Rasio Efektivitas
Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta Indikator Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah,
tingkat kemandirian keuangan daerah kabupaten Gianyar.

2.3 Identifikasi Variabel.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a Derajat Desentralisasi Fiskal.

Derajat desentralisasi fiskal merupakan indikator utama yang menunjukkan seberapa


tergantungnya pemerintah daerah terdaap pemerintah pusat. Jika hasil perhitungan tinggi
maka kemandirian daerahnya juga semakin tinggi dalam hal pendanaan daerah dan
belanja daerahnya (Sukanto Reksohadiprojo, 2001).

b Derajat Otonomi Fiskal.

Kemandirian keuangan daerah (Otonomi Fiskal) menunjukkan kemampuan Pemerintah


Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan
dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai
sumber pendapatan yang diperlukan daerah (Abdul Halim, 2004)

c Kebutuhan Fiskal.

Kebutuhan fiskal menunjukkan seberapa besar dana yang dibutuhkan oleh daerah untuk
membiayai pelayanan umum bagi masyarakat daerahnya. Semakin tinggi hasilnya, maka
kebutuhan fiskal suatu daerah semakin besar.

d Kapasitas Fiskal (Fiscal Capacity).

Kapasitas fiskal merupakan sumber pendanaan daerah yg berasal dr PAD dan Dana Bagi
Hasil. Semakin tinggi hasilnya, maka kapasitas fiskal suatu daerah semakin tinggi.
f Rasio Kemandirian Keuangan Daerah.

Kemandirian keuangan daerah menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam


membiayai sendiri penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada
masyarakat. Kemandirian keuangan daerah dapat juga menggambarkan sampai seberapa
besar tingkat ketergantungan finansial Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat.

2.4 Jenis Data.

Jenis data yang digunakan dalam paper ini adalah data sekunder, yaitu data yang
diperoleh dari publikasi kabupaten Gianyar dan Badan Pusat Statistik Kabupaten
Gianyar.

2.5 Metode Pengumpulan Data.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan dokumen yang diperoleh


dari www.gianyarkab.go.id yang diperoleh laporan realisasi anggaran (LRA) kabupaten
Gianyar tahun 2014 hingga 2015 serta publikasi Gianyar Dalam Angka Tahun 2014
hingga 2015 yang diperoleh dari www.gianyarkab.bps.go.id

2.7 Teknik Analisa Data.

Teknik analisa data yang digunakan dalam makalah ini adalah deskriptif dan kuantitatif.

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Pertumbuhan APBD.
Pada dasarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan rencana
keuangan tahunan Pemerintahan Daerah yang dibahas dan disetujui oleh Pemerintah
Daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. APBD dapat menjadi sarana
bagi pihak tertentu untuk mengetahui kemampuan keuangan daerah, baik dari sisi
pendapatan maupun dari sisi belanja. Tabel berikut merupakan gambaran pertumbuhan
APBD Kota Gianyar tahun 2014-2015.
Tabel 2. Pertumbuhan APBD Gianyar Tahun 2014-2015

Tahun Pendapatan Belanja Daerah Surplus/Defisit


2014 1.464.193.988.493 1.324.357.379.197 47.099.933.811
2015 1.527.797.536.120 1.364.772.697.481 23.360.866.985
Sumber : Statistik Keuangan Pemerintah Kabupaten Kota Se-Bali.
Berdasarkan tabel 2 diatas, dapat diketahui bahwa selama tahun 2014 hingga tahun 2015
terus terjadi peningkatan anggaran pendapatan daerah yang dibarengi pula dengan
peningkatan belanja daerah. Sehingga, di tiap tahun tersebut secara berturut-turut terjadi
defisit anggaran.
Kontribusi PAD terhadap APBD.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencerminkan potensi ekonomi daerah tersebut. Untuk
dapat mengetahui tingkat kemampuan suatu daerah maka, hal tersebut dapat dilakukan dengan
melihat besarnya kontribusi PAD terhadap total penerimaan APBD. Berikut adalah tabel
kontribusi PAD terhadap APBD di kabupaten Gianyar tahun 2014-2015:
Tabel 3. Kontribusi PAD Terhadap APBD Kab. Gianyar

Tahun PAD Pendapatan Kontribusi


PAD
2014 Rp. 424.782.236.418 Rp1.464.193.988.493 29%
2015 Rp. 457.321.018.460 Rp 1.527.797.536.120 30 %
Rata-rata 44 %
Sumber : Publikasi BPS Gianyar,data diolah.

Berdasarkan tabel diatas, kontribusi PAD terhadap APBD di tahun 2014 hingga tahun
2015 berfluktuatif. Di tahun 2014, kontribusi PAD naik dari tahun 2015 dari 29% menjadi 30%.
Hal tersebut mengindikasikan peranan yang masih sangat kecil dan Pemerintah Daerah
Kabupaten Gianyar masih perlu mengoptimalkan lagi penggalian potensi-potensi daerahnya
yang potensial bagi pemasukan PAD.
4.2 Indikator Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF).
penghitungan Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) dapat dilakukan dengan menggunakan
tiga (3) formula, yakni rasio antara Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Total
Pendapatan Daerah (TPD), rasio Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHPBP) dengan TPD
dan rasio Sumbangan dan Bantuan Daerah (SBD) dengan TPD. Jika hasil rasio antara
PAD dengan TPD maupun BHPBP dengan TPD lebih dari 50% maka kemampuan
keuangan daerah dapat dikatakan semakin baik/mandiri. Sebaliknya jika nilainya kurang
dari 50% maka kemampuan keuangan daerah dikatakan belum mandiri. Sedangkan
untuk rasio antara SBD dengan TPD, jika nilainya lebih dari 50% berarti tingkat
ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat semakin tinggi. Tetapi jika
kurang dari 50% maka tingkat ketergantungan finansial terhadap Pemerintah Pusat berkurang.
Berikut adalah data TPD, SPD, PAD dan BHPBP Kabupaten Gianyar Tahun 2014-2015 :
Tabel 4. Uraian Jumlah PAD, TPD, BHPBP dan SBD Kab. Gianyar.

Tahun PAD TPD BHPBP SBD


2014 Rp Rp Rp 0,00
424.782.236.418,8 1.464.193.988.493,7 22.906.730.090
8 4
2015 Rp Rp Rp Rp
457.321.018.460,8 1.527.797.536.120,0 18.983.900.733 4.741.965.000,00
6 0
Sumber : Publikasi Gianyar Dalam Angka Tahun 2014-2015.

Berdasarkan uraian tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah PAD dan TPD meningkat
setiap tahunnya. di tahun 2014 Rp 424.782.236.418 dan Rp 457.321.018.460 di tahun 2015.
Sedangkan tingkat SBD juga meningkat pada tahun 2014 hingga 2015 .
Tabel 5. Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) Kab. Gianyar Tahun 2014-2015

DDF%
Tahun PAD/TPD BPHPB/TPD SBD/TPD
2014 29,01% 0.016* 0%
2015 29.93% 0.012% 0.31%
Rata 2.94 % 1.4% 15.5%
%Sumber : Publikasi Gianyar Dalam Angka Tahun 2014-2015.
Berdasarkan tabel perhitungan DDF diatas dapat diketahui bahwa persentase rasio PAD
terhadap TPD meningkat dimana di tahun 2014 rasio PAD terhadap TPD tergolong paling
tinggi sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja pemerintah daerah di tahun tersebut cukup
baik. Sementara di tahun 2015 persentase sebesar 2,94% Persentase tersebut menujukkan
bahwa kinerja pemerintah daerah di tahun 2015 mengalami peningkatan dibandingkan dengan
tahun 2014. Kondisi tersebut mengindikasi bahwa di tahun 2015 kemampuan keuangan
daerah gianyar dikatakan sudah mandiri. Penyebabnya karena pemerintah daerah cukup
memperluas potensi-potensi ekonomi di daerahnya sehingga pemerintah daerah masih
memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pendanaan dari pemerintah pusat.
Sementara untuk rasio BHPBP terhadap TPD menunjukkan bahwa kinerja pemerintah
daerah di tahun 2014 lebih baik dibanding tahun-tahun lainnya. Dengan persetase sebesar
0,016% menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pendanaan
yang bersumber dari pemerintah pusat mengalami penurunan dan dapat dikatakan bahwa
kemampuan keuangan daerah Gianyar telah mandiri. Sementara persentase tersebut kembali
turun di tahun 2015 .
Untuk rasio SBD terhadap TPD di tahun 2015 mengalami peningkatan drratis karna
ditahun 2014 tidak ada sumbangan daerah dibandingkan tahun 2014. Dengan persentase di
tahun 2014 sebesar 0,00% dan ditahun 2015 sebesar 0,31% menunjukkan nilai yang kurang
dari 50%. Sehingga dapat dikatakan bahwa di tahun 2014 dan juga di tahun 2015 tingkat
ketergantungan pendanaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat telah semakin
berkurang.

4.3 Indikator Derajat Otonomi Fiskal (DOF).


Perhitungan derajat otonomi fiskal dapat dilakukan dengan langkah menyusun terlebih
dahulu jumlah pajak daerah serta retribusi daerah yang berhasil dihimpun oleh pemerintah
daerah kabupaten Gianyar di tahun 2014-2015 serta jumlah belanja daerah yang dikeluarkan
di kedua tahun tersebut. Kemudian jumlah pajak daerah dan retribusi daerah dibandingkan
dengan total belanja daerah yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.
Tabel 6. Derajat Otonomi Fiskal Kab. Gianyar Tahun 2014-2015

Retribusi DOF
Tahun Pajak Daerah Daerah Belanja Daerah (%)
276.603.965. 35.472.013.59 1.324.357.379 23.5
2014 735 7 .197 %
307.668.563. 40.055.119.66 1.364.772.697 25.4
2015 048 3 .481 %
24.45
Rata-rata %
Sumber : Hasil ringkasan pengolahan data sekunder.

Berdasarkan perhitungan pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa persentase DOF
meningkat di tiap tahunnya. Seperti yang diperlihatkan pada tabel di atas., persentase DOF di
tahun 2015% naik menjadi 2,1% dibanding tahun 2014 sebelumnya. Peningkatan persentase
tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah untuk Daerah dalam membiayai sendiri
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat
sudah cukup.

4.4 Indikator Kebutuhan Fiskal.


Kebutuhan Fiskal menggambarkan seberapa besar kebutuhan per kapita penduduk jika
jumlah seluruh pengeluaran dibagi secara adil kepada seluruh penduduk daerah tersebut.
Kebutuhan Fiskal juga menunjukkan besarnya indeks pelayanan publik per kapita. Untuk
menghitung tingkat kebutuhan fiskal daerah Gianyar maka terlebih dahulu harus dihitung
Standar Kebutuhan Fiskal (SKF) provinsi Bali. Tabel berikut menunjukkan jumlah penduduk
kabupaten Gianyar tahun 2014- 2015 :

Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali (000), 2014-2015

Kabupaten/Kota 2014 2015


Jembrana 269,8 271,6

Tabanan 433,3 435,9

Badung 602,7 616,4

Gianyar 490,5 495,1

Klungkung 174,8 175,7

Bangli 221,3 222,6


Karangasem 406,6 408.7

Buleleng 642,3 646,2

Kota Denpasar 863,6 880,6

BALI 4 104,9 4 152,8

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali


Berdasarkan informasi tersebut maka besarnya kebutuhan fiskal kabupaten Gianyar
adalah sebagai berikut :
Tabel 8. Kebutuhan Fiskal Standar Provinsi Bali dan Kabupaten Gianyar Tahun 2014-
2015

Tahun Jlh Jlh Pengeluaran SKhf IPPP Khf Kab


Penduduk Penduduk Rutin Provinsi Gianyar
Prov. Bali Kab. Bali
Gianyar
2014 4.104.900 490 500 429.042.507.000 450..100.00 0.00000721 Rp 0.50
2015 4.152.800 493.100 453.288.333.540 471.533.55 0.00000820 Rp 0.29
Rata-rata Rp 441.165.420 Rp 0.39

Sumber : Badan Pusat Statistik provinsi Bali, data olahan.


Dari tabel di atas terlihat bahwa dari tahun 2014 hingga tahun 2015 rata-rata standar
kebutuhan fiskal provinsi Bali adalah sebesar Rp 441.165.420 dan rata-rata kebutuhan fiskal
daerah Gianyar dari tahun 2014-2015 adalah sebesar Rp 0,39. Angka tersebut menunjukkan
Indeks Pelayanan Publik Perkapita (IPPP) kabupaten Gianyar adalah sebesar Rp 0,39 dan
kebutuhan fiskal kabupaten Gianyar 0,39 kali lebih besar dari rata-rata kebutuhan standar
provinsi Bali.

4.5 Indikator Kapasitas Fiskal.


Kapasitas Fiskal menunjukkan berapa besar usaha dari daerah yang diwujudkan dalam
PDRB untuk memenuhi semua kebutuhannya, dalam hal ini adalah total pengeluaran daerah.
Hasil dari indeks Kapasitas Fiskal menunjukkan seberapa besar hasil yang didapatkan oleh
setiap penduduk dalam setiap daerah. Dalam perhitungan kapasitas fiskal, salah satu variabel
yang digunakan yaitu PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Gianyar.
PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha
dalam suatu wilayah, atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang
dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. PDRB atas dasar harga berlaku
menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap
tahun, dan digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi. Sedangkan PDRB atas
dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan
harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. Secara lebih jelas PDRB kabupaten Gianyar
berdasarkan harga berlaku dan harga kontan dapat dilihat pada kedua tabel dibawah ini :
Tabel 9. Produk Domestik Regional Bruto di Kab. Gianyar Atas Dasar Harga Berlaku
(Juta Rupiah), 2011-2015

Kategori Lapangan Usaha 2014 2015


A Pertanian 38.098 41.035
B Industry Pengolahan 58 866 59.777
C Konstruksi 19 485 15.444
D Perdagangan 76 346 80.122
E Transportasi&pergudangan 11 745 10.214
F Jasa Keuangan 7 727 7.654
G Jasa Masyarakat 53 520 56.211
Jumlah 265 787 270.457

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Gianyar


Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sejak tahun 2014 hingga tahun 2015,
sektor industry pengolahan dan Jasa masyarakat menjadi sektor unggulan di kabupaten
Gianyar. sektor jasa keuangan merupakan sektor terendah di kabupaten Gianyar.
Tabel 10. Kapasitas Fiskal Prov. Bali dan Kabupaten Gianyar Tahun 2014-2015

Tahun Jumlah PDRBHK KFs Provinsi KF


Penduduk Kab. Gianyar Bali Kabupaten
Provinsi Bali Gianyar
2014 4.104.900 13.208.321 456.100 27.40

2015 4.152.800 14.600.388 461.422 28.10

Rata-rata 458.761 27.75


Sumber : Hasil olahan data sekunder.
Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata kapasitas fiskal standar provinsi Bali dari
tahun 2014-2015 adalah Rp 458.761. Sedangkan rata-rata kapasitas fiskal standar kabupaten
Gianyar sebesar 27,75. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kapasitas fiskal kabupaten Gianyar
27,75 kali lebih besar dari kapasitas fiskal provinsi Bali.

4.6 Indikator Kemandirian Daerah.


Kemandirian keuangan daerah menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam
membiayai sendiri penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada
masyarakat. Kemandirian keuangan daerah dapat juga menggambarkan sampai seberapa besar
tingkat ketergantungan finansial Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat.. Berikut
adalah tabel yang menunjukkan tingkat kemandirian keuangan daerah kabupaten Gianyar
beserta dengan pola hubungannya.
Tabel 13. Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah dan Pola Hubungannya Selama
Kurun Waktu 2014-2015.

Tahun PAD Bantuan+Sumbangan Rasio Kemampuan Pola


+pinjaman
Kemnadirian Keuangan hubungan
2014 1.464.193.988 64.250.470.908 28,09 Rendah Konsultati
.493
f
2015 1.527.797.536 71.207.425.000 56,18 Sedang konsultatif
.120

Dari tabel di atas terlihat bahwa kemandirian keuangan kabupaten Gianyar dalam
mencukupi kebutuhan pembiayaan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan, di tahun 2014
dan 2015 yang terjadi adalah Konsultatif. Pola partisipatif tersebut menunjukkan peranan
pemerintah yang semakin berkurang dalam hal pendanaan keuangan diderahnya dan
pemerintah daerah telah mampu melaksanakan prinsip otonomi daerah dengan baik.
Simpulan
Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan
namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga dapat diartikan sebagai kewenangan
Otonomi daerah muncul sebagai bentuk veta comply terhadap sentralisasi yang sangat kuat di
masa orde baru. Berpuluh tahun sentralisasi pada era orde baru tidak membawa perubahan dalam
pengembangan kreativitas daerah, baik pemerintah maupun masyarakat daerah. Ketergantungan
pemerintah daerah kepada pemerintah pusat sangat tinggi sehingga sama sekali tidak ada
kemandirian perencanaan pemerintah daerah saat itu. Tidak ada perencanaan murni dari daerah
karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak mencukupi. Berdasarkan analisa diatas maka dapat
disimpulkan :
1) Selama tahun 2014 hingga tahun 2015 terjadi peningkatan anggaran pendapatan daerah
yang dibarengi pula dengan peningkatan belanja daerah. Sehingga, di tiap tahun tersebut
terjadi peningkatan anggaran.
2) Kontribusi PAD terhadap APBD di tahun 2014 hingga tahun 2015 meningkat. Di tahun
2014, kontribusi PAD naik 1% dari tahun 2015 menjadi 30%. Hal tersebut
mengindikasikan peranan yang masih sangat kecil dan Pemerintah Daerah Kabupaten
Gianyar masih perlu mengoptimalkan lagi penggalian potensi-potensi daerahnya yang
potensial bagi pemasukan PAD.
3) bahwa jumlah PAD dan TPD meningkat setiap tahunnya. di tahun 2014 Rp
424.782.236.418 dan Rp 457.321.018.460 di tahun 2015. Sedangkan tingkat SBD juga
meningkat pada tahun 2014 hingga 2015 . perhitungan DDF diatas dapat diketahui bahwa
persentase rasio PAD terhadap TPD meningkat dimana di tahun 2014 rasio PAD terhadap
TPD tergolong paling tinggi sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja pemerintah daerah di
tahun tersebut cukup baik. Sementara di tahun 2015 persentase sebesar 2,94% Persentase
dari pemerintah Untuk rasio SBD terhadap TPD di tahun 2015 mengalami peningkatan
drratis karna ditahun 2014 tidak ada sumbangan daerah dibandingkan tahun 2014. Dengan
persentase di tahun 2014 sebesar 0,00% dan ditahun 2015 sebesar 0,31% .
4) persentase DOF meningkat di tiap tahunnya. Seperti yang diperlihatkan pada tabel di atas.,
persentase DOF di tahun 2015% naik menjadi 2,1% dibanding tahun 2014 sebelumnya.
Peningkatan persentase tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah untuk
Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan
dan pelayanan kepada masyarakat sudah cukup.
5) bahwa sejak tahun 2014 hingga tahun 2015, sektor industry pengolahan dan Jasa
masyarakat menjadi sektor unggulan di kabupaten Gianyar. sektor jasa keuangan
merupakan sektor terendah di kabupaten Gianyar. Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-
rata kapasitas fiskal standar provinsi Bali dari tahun 2014-2015 adalah Rp 458.761.
Sedangkan rata-rata kapasitas fiskal standar kabupaten Gianyar sebesar 27,75. Nilai
tersebut menunjukkan bahwa kapasitas fiskal kabupaten Gianyar 27,75 kali lebih besar dari
kapasitas fiskal provinsi Bali.
6) kemandirian keuangan kabupaten Gianyar dalam mencukupi kebutuhan pembiayaan untuk
melakukan tugas-tugas pemerintahan, di tahun 2014 dan 2015 yang terjadi adalah
Konsultatif. Pola partisipatif tersebut menunjukkan peranan pemerintah yang semakin
berkurang dalam hal pendanaan keuangan diderahnya dan pemerintah daerah telah mampu
melaksanakan prinsip otonomi daerah dengan baik.
Daftar Pustaka
www.gianyarkab.bps.go.id
www.bali.bps.go.id

Mulyanto. 2001. Identifikasi dan Analisis Potensi Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah di
Eks-Karesidenan Surakarta. Usul Penelitian Dosen Muda FE UNS Surakarta.
Abdul Halim dan Theresia Damayanti. 2007. Pengelolaan Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP
STIM YKPN.
Sukanto Reksohadiprojo. 2001. Ekonomika Publik (Edisi Pertama). Yogyakarta: BPFE.
Adrianus Dwi Siswanto. 2008. Analisis Dampak Kebijakan Desentralisasi Fiskal terhadap
Derajat Otonomi Pemerintahan Propinsi di Seluruh Indonesia.Jurnal Kajian Ekonomi dan
Keuangan Vol. 12, No. 1 Maret 2008, 91-117.