Anda di halaman 1dari 13

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
SMF ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI BOGOR

Nama : Vanya Genevieve Orapau Tanda Tangan

NIM : 112014105 ........................................

Dokter Pembimbing/Penguji: dr. Nanda Lessi, Sp.M ....

I. IDENTITAS
Nama : Ny. N
Umur : 26 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Kp. Babakan
Tanggal pemeriksaan : 9 Januari 2017

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 9 Januari 2017, Pkl. 11:30 WIB
Keluhan utama : Mata kanan dan kiri terasa nyeri sejak 1 tahun yang lalu.
Keluhan tambahan : Terasa gatal dan juga terkadang penglihatannya buram.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluh mata kanan dan kirinya terasa nyeri sejak 1 tahun yang lalu, namun
nyeri yang dirasakan hilang timbul. Selain itu, pasien juga mengatakan bahwa kedua
matanya sering terasa gatal. Terkadang penglihatan pasien juga buram dan juga mata
sering berair. Sebelumnya pasien tidak pernah berobat kemana-mana. Sebelumnya juga
pasien tidak mempunyai riwayat penyakit pada mata. Namun, akhir-akhir ini dirasakan
semakin gatal pada kedua matanya sehingga ia pun memutuskan utuk pergi ke dokter.

Riwayat Penyakit Dahulu


1. Umum
a. Asma : tidak ada
b. Alergi : tidak ada
c. DM : tidak ada
d. Hipertensi : tidak ada

1
e. Dislipidemia : tidak ada
2. Mata
a. Riwayat sakit mata sebelumnya : tidak ada
b. Riwayat penggunaan kaca mata : tidak ada
c. Riwayat operasi mata : tidak ada
d. Riwayat trauma mata sebelumnya : tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


a. Penyakit mata serupa : tidak ada
b. Penyakit mata lainnya : tidak ada
c. Hipertensi, DM, Jantung, Asma : tidak ada
d. Alergi : tidak ada

Riwayat Pengobatan
Tidak ada

III.PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Tanda Vital : TD 120/80 mmHg; HR 88 x/menit; RR 18 x/menit; T 36,6oC
d. Kepala/leher : Normocephali, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
e. Mulut : Tidak dilakukan pemeriksaan
f. Paru : Suara napas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
g. Jantung : BJ I-II murni regular, murmur (-), gallop (-)
h. Abdomen : Supel, bising usus (+), nyeri (-)
i. Ekstremitas : Dalam batas normal

Status Ophtalmologi
KETERANGAN OD OS
1. VISUS
- Visus 20/25 PH 20/20 F1 20/20
- Koreksi - -
- Addisi - -
- Distansia pupil - -
- Persepsi warna - -
2
2. KEDUDUKAN BOLA MATA
- Ukuran Normal Normal
- Eksoftalmus - -
- Endoftalmus - -
- Deviasi - -
- Gerakan Bola Mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah
3. SUPERSILIA
- Warna Hitam Hitam
- Simetris Normal Normal
4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
- Edema - -
- Nyeri tekan - -
- Ekteropion - -
- Entropion - -
- Blefarospasme - -
- Trikiasis - -
- Sikatriks - -
- Punctum lakrimal Normal Normal
- Fissure palpebral - -
- Tes anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan
5. KONJUNGTIVA SUPERIOR DAN INFERIOR
- Hiperemis - -
- Folikel - -
- Papil - -
- Sikatriks - -
- Hordeolum - -
- Kalazion - -
6. KONJUNGTIVA BULBI
- Sekret - -
- Injeksi Konjungtiva - -
- Injeksi Siliar - -
- Perdarahan - -
Subkonjungtiva/kemosis
- Pterigium + +
- Pinguekula - -
- Flikten - -
- Nevus Pigmentosus - -
- Kista Dermoid - -
7. SKLERA
- Warna Putih Putih
- Ikterik - -
- Nyeri Tekan - -
8. KORNEA
- Kejernihan Jernih Jernih
- Permukaan Rata Rata
- Ukuran Normal Normal
- Sensibilitas Baik Baik

3
- Infiltrat - -
- Keratik Presipitat - -
- Sikatriks - -
- Ulkus - -
- Perforasi - -
- Arcus senilis - -
- Edema - -
- Test Placido Tidak dilakukan Tidak dilakukan
9. BILIK MATA DEPAN
- Kedalaman Cukup Cukup
- Kejernihan Jernih Jernih
- Hifema - -
- Hipopion - -
- Efek Tyndall - -
10. IRIS
- Warna Coklat Coklat
- Kripta - -
- Sinekia - -
- Kolobama - -
11. PUPIL
- Letak Tengah Tengah
- Bentuk Bulat, isokor Bulat, isokor
- Ukuran 3 mm 3 mm
- Refleks Cahaya Langsung + +
- Refleks Cahaya Tidak Langsung + +

12. LENSA
- Kejernihan Jernih Jernih
- Letak Tengah Tengah
- Test Shadow Tidak dilakukan Tidak dilakukan
13. BADAN KACA
- Kejernihan Jernih Jernih
14. FUNDUS OCCULI : Tidak dilakukan
- Batas - -
- Warna - -
- Rasio arteri : vena - -
- C/D rasio - -
- Makula lutea - -
- Eksudat - -
- Perdarahan - -
- Sikatriks - -
- Ablasio - -
15. PALPASI
- Nyeri tekan - -
- Masa tumor - -
- Tensi Occuli - -
- Tonometry Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan
4
16. KAMPUS VISI
- Tes Konfrontasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak ada

V. RESUME
Pasien mengeluh mata kanan dan kirinya terasa nyeri sejak 1 tahun yang lalu, namun
nyeri yang dirasakan hilang timbul. Selain itu, pasien juga mengatakan bahwa kedua
matanya sering terasa gatal dan berair. Terkadang penglihatan pasien juga buram.
Status Oftalmologi:
OD OS
Visus 20/25 PH 20/20 F1 20/20
Palpebra Tenang Tenang
Cts Tenang Tenang
Cti Tenang Tenang
Cb Pterigium (+) Pterigium (+)
C Jernih Jernih
CoA Cukup Cukup
P Bulat, 3 mm, RC + Bulat , 3 mm, RC +
I Sinekia (-) Sinekia (-)
L Jernih Jernih

VI. DIAGNOSIS KERJA


Pterigium ODS
VII. DIAGNOSIS BANDING
Pinguekula
Pseudopterigium

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


a. Slitlamp
b. Tes sonde

IX. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa:
a. Cendo xitrol (Dexamethsaone 1 mg/ml, Neomycin Sulfat 3,5 mg/ml, Polymyxin B
Sulfat 10.000 IU/ml) 3x1 tetes.
b. Cendo lyteers (Kalium Chloride 0,8 mg/ml; Sodium Chloride 4,4 mg/ml) 6x1 tetes.

Edukasi:
5
a. Menjelaskan tentang penyakit yang dideritanya.
b. Menjelaskan kepada pasien untuk memakai tetes mata sesuai dengan yang
disarankan dokter.

c. PROGNOSIS
OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)
Ad Vitam : ad bonam ad bonam
Ad Fungsionam : ad bonam ad bonam
Ad Sanationam : ad bonam ad bonam

Tinjauan Pustaka

Pterigium

Pendahuluan
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal
ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke kornea berbentuk segitiga dengan puncak di
bagian sentral di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, akan
berwarna merah dapat mengenai kedua mata.
Pterigium diduga disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari,
dan udara yang panas. Ptergium juga dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan
keluhan mata iritatif, merah dan mungkin menimbulkan gangguan penglihatan.
Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau dilakukan pembedahan
bila terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya astigmatsme irregular atau pterygium
yang telah menutupi media penglihatan. Bila terdapat radang, maka dapat diberikan air mata
buatan dan bila pelu diberi steroid. Tindakan pembedahan kombinasi autograf konjungtiva
dan eksisi adalah suatu tindakan bedah plastik yang dilakukan bila pterygium telah
mengganggu penglihatan dan menguramgi risiko kekambuhan.1
6
Anatomi
1. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sclera dan kelopak mata
bagian belakang. Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva.
Konjungtiva inimengandung sel musin yang dihasilkan oleh sel goblet.1
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :
a. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal ini sukar digerakkan dari
tarsus.
b. Konjungtiva bulbi, menutupi sclera dan mudah digerakan dari sclera dibawahnya.
c. Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan
konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di
bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.1

2. Anatomi Kornea
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan
lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan.
Kornea terdiri dari lima lapis, yaitu :
a. Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal
berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya
melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air,
elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.
Epitel berasal dari ektoderm permukaan.
b. Membran Bowman
Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.
c. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan
lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer
serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu
7
yang lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma
kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara seratkolagen stroma. Diduga
keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio
atau sesudah trauma.
d. Membrane descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan selendotel dan merupakan membran basalnya.
Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal
40m.
e. Endotel
Berasal dari mesotellium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40m.
endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula
okluden.1

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam
stroma kornea, menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya. Seluruh
lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus
Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah
dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.1
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa
endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel
tidak mempunyai daya regenarasi.1
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di
sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50
dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.

Gambar 1. Lapisan Kornea


8
Etiologi
Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara
panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma,
radang, dan degenerasi.
Pterigium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, pengeringan dan
lingkungan dengan angin banyak. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan pterygium
antara lain uap kimia, asap, debu dan benda-benda lain yang terbang masuk ke dalam mata.
Beberapa studi menunjukkan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini.1

Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi
geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk
daerah diatas 40olintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Terdapat
hubungan antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih
tinggi di bawah garis lintang. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di
lintang atas dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah.2
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, prevalensi pterigium di Indonesia
pada kedua mata didapatkan 3,2% sedangkan pterigium pada satu mata 1,9% dengan
prevalensi yang meningkat dengan bertambahnya umur. Jawa timur menduduki peringkat
keenam di Indonesia dengan prevalensi 4,9% pada kedua mata, dan 2,7% pada satu mata.
Prevalensinya lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, karena laki-laki lebih banyak
melakukan aktivitas di luar ruangan sehingga lebih sering berhubungan dengan faktor risiko
terjadi pterigium seperti sinar ultraviolet, debu, angin dan udara yang kering.3

Patofisiologi
Pterigium ini biasanya bilateral, karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama
untuk kontak dengan sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Semua kotoran pada konjungtiva
akan menuju ke bagian nasal, kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi
inferior.
Daerah nasal konjungtiva juga relatif mendapat sinar ultraviolet yang lebih
banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain, karena di samping kontak
langsung, bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak langsung

9
akibat pantulan dari hidung, karena itu pada bagian nasal konjungtiva lebih sering didapatkan
pterigium dibandingkan dengan bagian temporal.
Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi
fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium, Histopatologi kolagen
abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan
hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan
tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan
oleh elastase.2

Manifestasi Klinis
Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan
sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain:
a. Mata sering berair dan tampak merah.
b. merasa seperti ada benda asing.
c. timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium tersebut, biasanya
astigmatisme sehingga akan mengganggu penglihatan.
d. Pada terigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual
sehingga tajam penglihatan menurun.4

Derajat Pterigium
Jaringan fibrovascular berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke
kornea dan badan. Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea
yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis
menurut Youngson):
a. Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea.
b. Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih
dari 2 mm melewati kornea.
c. Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi
pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3
atau 4 mm).
d. Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu
penglihatan.5

10
Gambar 2. Derajat Pterigium
Diagnosis Banding
1. Pinguekula
Pinguekula merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva. Penebalan
terbatas pada konjungtiva bulbi, berbentuk nodul yang berwarna kekuningan.1

Gambar 3. Pinguekula
2. Pseudopterigium
Pterigium umumnya didiagnosis banding dengan pseudopterigium yang merupakan
suatu reaksi dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea. Pada pengecekan dengan sonde,
sonde dapat masuk di antara konjungtiva dan kornea.
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat akibat
ulkus. Sering terjadi saat proses penyembuhan dari ulkus kornea, dimana konjungtiva
tertarik dan menutupi kornea. Pseudopterigium dapat ditemukan dimana saja bukan hanya
pada fissura palpebra seperti halnya pada pterigium. Pada pseudopterigium juga dapat
diselipkan sonde di bawahnya sedangkan pada pterigium tidak. Pada pseudopterigium
melalui anamnesa selalu didapatkan riwayat adanya kelainan kornea sebelumnya, seperti
ulkus kornea.1

Tabel 1. Perbedaan Pterigium dan Pseudopterigium

Pterigium Pseudopterigium

Reaksi tubuh penyembuhan dari


Sebab Proses degenerative
luka bakar, GO, difteri, dll.

Sonde Tak dapat dimasukkan di bawahnya Dapat dimasukkan dibawahnya


Kekambuhan Residif Tidak

11
Usia Dewasa Anak

Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang
mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan
steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid
tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami
kelainan pada kornea.4
2. Bedah
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Sedapat
mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut
ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior
untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu
memberikan hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal
mungkin, angka kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya
hanya pada kasus pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC
juga cukup berat.4
Indikasi operasi pada pnderita pterigium:
a. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
b. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil
c. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena
astigmatisme
d. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.1

Komplikasi
Komplikasi yang disebabkan oleh pterygium dapat berupa:
a. Gangguan penglihatan-Mata kemerahan
b. Iritasi
c. Gangguan pergerakan bola mata.
d. Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea
e. Dry Eye sindrom.2

Pencegahan

12
Pada penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti nelayan, petani
yang banyak kontak dengan debu dan sinar ultraviolet dianjurkan memakai kacamata
pelindung sinar matahari.

Prognosis
Secara umum, prognosis dari pterigium adalah baik. Penglihatan dan kosmetik pasien
setelah dieksisi adalah baik. Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post
operasi. Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan
konjungtiva auto graft atau transplantasi membran amnion.2

Daftar Pustaka

1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2013. h.
2-6, 116-117.
2. Fisher JP. Pterygium. 2015. http://emedicine.medscape.com/article/1192527-
overview#a6.
3. Erry E, Mulyani UA, Susilowati D. Distribusi dan Karakterisitik Pterigium di Indonesia.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol 14(1); 2011. h. 84-9.
4. Aminlari D, Singh R, Liang AD. Management of Pterygium. American Academy of
Ophtalmology; 2012.
5. Diunduh dari: http://www.inascrs.org/old/doc/PPM_2_pterigium_rev02.pdf, 9 Januari
2017.

13