Anda di halaman 1dari 12

SUARA JANTUNG DAN DENYUT NADI

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Fisiologi Hewan dan Manusia
Yang dibimbing oleh Ibu Sri Rahayu Lestari dan Ibu Nuning Wulandari

Oleh :
Offering G / Kelompok 5
1. Ferni Lia Agustina (150342601904)
2. Maghfiroh Gesty M. (150342600207)
3. Muhammad Nurhasan (150342605661)
4. Nur Qomariyah. (150342600324)
5. Raudhatur Fatiha (150342600342)
6. Stefanus Nahas (120342410319)
7. Tita Putri Milasari (150342601163)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
November 2016
SUARA JANTUNG DAN DENYUT NADI
A. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa
sebagai berikut :
1. Mendifinisikan sistol, diastol, dan siklus jantung.
2. Menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara jantung dan
menghubungkan suara jantung dengan siklus jantung.
3. Menentukan oanjang normal siklus jantung, perubahan tekanan
relatif yang terjadi di dalam atria dan ventrikel selama siklus, dan
waktu ketika katup menutup.
4. Menentukan tempat pada toraks dimana suara jantung pertama
dan kedua secara jelas dapat didengarkan.
5. Mengukur tekanan darah subyek secara teliti dengan menggunakan
sphygmomanometer.

B. Dasar Teori

Mendengarkan suara denyut jantung dalam tubuh disebut auskultasi dan biasanya
dilakukan dengan memakai alat yang disebut stetoskop. Menurut Gray (2005), pada saat
berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah, selanjutnya jantung
berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung. Kedua atrium jantung dapat
berkontraksi dan relaksasi secara bersamaan, kedua bilik juga dapat berkontraksi dan
relaksasi secara bersamaan. Darah dari tubuh masuk ke dalam atrium kanan, ventrikel
kanan dan kemudian dipompakan ke paru-paru. Katup-katup menjaga agar darah tidak
mengalir balik dari aorta ke ventrikel, atrium dan vena. Katup-katup tersebut membuka
dan menutup karena perbedaan tekanan darah dalam ruang-ruang jantung. Adanya cairan
perikardial menghalangi gesekan membran perikardial satu dengan yang lainya pada
setiap denyutan jantung (Soewolo, 2003).
Suara denyut jantung terutama datang dari bergolaknya darah yang disebabkan oleh
menutupnya katup jantung. Pada setiap siklus jantung hanya suara jantung pertama dan
kedua yang cukup keras didengar melalui stestoskop. Suara pertama yang terdengar
adalah suara lup lebih keras dan sedikit lebih panjang daripada suara yang kedua. Suara
lup ini dihasilkan dari gerak balik darah yang menutup katup atrioventrikular segera
setelah sistol ventrikel mulai. Suara kedua lebih pendek dan tidak sekeras suara pertama
yaitu suara dup, suara ini adalah akibat gerak balik darah menutup katup semilunar
pada diastol ventrikel, sedangkan waktu antara suara jantung kedua dengan suara jantung
pertama berikutnya kira-kira dua kali lebih lama dari pada waktu antara suara jantung
pertama dengan suara jantung kedua dalam satu siklus (Soewolo, 2003).
Diantara bunyi kedua dan bunyi pertama dari siklus selanjutnya terdapat satu
periode istirahat yang lamanya dua kali daripada periode istirahat antara bunyi pertama
dan bunyi kedua dalam satu siklus. Dengan demikian, siklus jantung dapat didengarkan
sebagai lub, dup, istirahat; lub, dup, istirahat; lub, dup, istirahat; dan seterusnya (Tortora,
1984).
Denyut jantung secara lengkap terdiri atas kontraksi atrium, relaksasi atrium dan
kontraksi ventrikel serta relaksasi ventrikel. Pada manusia satu denyutan jantung secara
lengkap memerlukan waktu sekitar 0,8 detik sehingga jumlah denyutan per satu menit
(laju denyut jantung) sekitar 75 kali. Secara teoritis, semakin banyak darah yang masuk
ke jantung, semakin banyak pula darah yang akan dikeluarkan dari jantung. Menurut
Soewolo (2003) pada umumnya laju denyut jantung hewan yang bertubuh kecil lebih
tinggi dari pada hewan yang bertubuh besar.
Secara normal, katup mitral terbuka sedikit lebih cepat sebelum katup trikuspidal.
Sama dengan pada katup mitral dan trikuspidal, pada katup semilunar juga terdapat
desinkronisasi penutupan katup. Katup semilunar aortik secara normal mengatup dengan
bunyi keras lebih dulu daripada katup semilunar pulmonari. Bila nafas ditarik pelan-pelan
dan dalam, maka pengisian ventrikel kanan akan sedikit tertunda sebab pembuluh darah
pulmonari tertekan oleh peningkatan tekanan intrapulmonari (Basoeki, 2000).
Denyut nadi adalah frekwensi irama denyut/detak jantung yang dapat dipalpasi
(diraba) di permukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Frekuensi denyut nadi pada
umumnya sama dengan frekuensi denyut/detak jantung (Gray, 2005). Denyutan
dinyatakan sebagai ekspresi dan dorongan balik arteri secara berganti-ganti. Ada 2 faktor
yang bertanggungjawab bagi kelangsungan denyutan yang dapat dirasakan. Pertama,
pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek dari jantung ke aorta, yang
tekannya berganti-ganti naik turun dalam pembuluh darah. Bila darah mengalir teta dari
jantung ke aorta, tekanan akan tetap sehingga tidak ada denyutan. Faktor yang kedua,
elastisitas dari dinding arteri yang memungkinkannya meneruskan aliran darah dan aliran
balik. Bila dinding tidak elastis maka tetap ada pergantian tekanan tinggi rendah dalam
sistol dan diastole ventrikel, namun dinding tersebut tidak dapat melanjutkan alirannya
dan mengembalikan aliran sehingga denyutpun tidak dapat dirasakan (Soewolo, 2003).
Usia, jenis kelamin, kebugaran fisik dan suhu tubuh juga mempengaruhi laju jantung
sehingga berpengaruh juga pada jumlah denyutan pada nadi. Bayi yang baru lahir
mempunyai laju jantung >120 denyut/menit, kemudian akan turun di usia anak-anak dan
akan semakin turun pada usia dewasa. Wanita umumnya sedikit lebih tinggi laju
jantungnya daripada pria (Gray, 2005).

C. Alat dan Bahan


Alat :
1. Stetoskop
2. Sphygmomanometer
3. Penggaris milimeter
Bahan :
1. Alkohol 70 %
2. Kapas
D. Cara Kerja
1. Mendengarkan Suara Jantung

Stetoskop dibersihkan terlebih dahulu menggunakan alcohol 70%, dibiarkan kering,


dipasang dengan cara pemasangan yang benar

Bel stetoskop ditempelkan pada dada subyek, pada ruang sela iga ke 5 di sebelah kiri
sternum dekat putting susu kiri. Suara jantung didengarkan baik-baik, suara
pertama lebih panjang, lebih keras daripada suara kedua yang lebih pendek namun
lebih nyaring
Setelah didengarkan beberapa menit, dihitung waktu istirahat antara suara kedua dari
satu denyut jantung dan suara pertama dari denyut jantung berikutnya

Dicatat hasilnya dalam detik.


Bagaimana interval waktu tersebut jika dibandingkan dengan interval waktu antara
suara pertama dan kedua dari suatu denyut jantung tunggal

Dilakukan pengamatan pada katup semilunar. Bel stetoskop ditempelkan pada ruang
sela iga ke 2, tepat di kanan sternum.

Subyek diminta menarik nafas dalam-dalam dengan pelan. Kemudian stetoskop


dipindahkan secara horizontal ke kiri sternum untuk mendengarkan katup
pulmonari
Hasil

2. Palpasi Denyut Nadi Radialis

Subyek diminta duduk tenang, dicari posisi arteri radial di permukaan pergelangan
tangan, persis pada pangkal ibu jari

Dilakukan palpasi. Mula-mula arteri radial ditekan dengan ujung jari ke 2 dan ke 3.
Kemudian tekanan dikendorkan pelan-pelan sampai dapat dirasakan adanya
denyut nadi
Dilakukan penghitungan denyut nadi per menit
Percobaan diulangi 2 kali. Diambil rata-ratanya.
Hasil
3. Perbandingan Kecepatan Denyut Jantung dan Denyut Nadi
Perbandingan kecepatan denyut jantung (baian apeks) dan denyut nadi radial
dilakukan secara simultan

Didiskusikan perbedaan antara kecepatan denyut jantung apical dan denyut nadi
radial dilakukan secara simultan

Hasil

E. Data pengamatan
1. Mendengarkan suara jantung

Waktu istirahat (detik)


Suara pertama
N Suara kedua dari
Perlakuan dari denyut
o satu denyut
jantung
jantung
selanjutnya
1. Katup mitral 0,04 s 0,05 s
2. Palpasi Denyut Nadi Radialis

No Waktu (menit)
Perlakuan
. Ulangan 1 Ulangan 2 Rata-rata
Palpalis denyut
1. 58 64 61
nadi radialis

3. Perbedaan Kecepatan Denyut Jantng dan Denyut Nadi

No
Perlakuan Hasil (second)
.
1. Denyut Jantung 89
2. Denyut Nadi 44
4. Pengukuran Sistol dan Diastol
Sistol / Diastol = 128 / 90
5. Pengukuran Tekanan Vena
1,056 . Xa
Pv = 13,6 mm Hg

= 11, 26 mm Hg

F. Analisis

Pada praktikum suara jantung dan denyut nadi yang dilakukan


pada hari rabu tanggal 1 November 2016 dilakukan 4 percobaan yaitu
yang pertama mendengarkan suara jantung yang diamati yaitu katup
mitral. Yang kedua yaitu palpasi denyut nadi radialis. Yang ketigat
yaitu perbedaan tekanan denyut jantung dan denyut nadi. Yang ke
empat yaitu pengukuran sistol dan distol. Dan dilakukan pengukuran
tekanan pada vena.
Pada percobaan pertama yaitu mendengarkan suara jantung,
pada percobaan ini terbagi menjadi dua bagian yaitu yang pertama
pada katup mitral, dilakukan dengan menempelkan stetoskop pada
ruang sela iga ke 5 di sebelah kiri sternum dekat puting susu kiri
sehingga diperoleh hasil untuk suara kedua dari satu denyut jantung
yaitu 0,04 second, sedangkan untuk suara pertama dari denyut
jantung selanjutnya yaitu 0,05 second. Yang kedua yaitu pada katup
semilunar, dilakukan dengan menempelkan stetoskop pada ruang sela
iga ke 3 di sebelah kiri sternum dekat puting susu kiri sehingga
diperoleh hasil untuk suara kedua dari satu denyut jantung yaitu 0,04
second, sedangkan untuk suara pertama dari denyut jantung
selanjutnya yaitu 0,06 second. Pada percobaan kedua yaitu denyut
nadi radialis dilakukan dua kali pengulangan, percobaan ini dilakukan
dengan menekan arteri dengan ujung jari kedua dan ketiga dan
kemudian dikendorkan secara pelan-pelan sehingga diperoleh hasil
pada ulangan pertama yaitu 58 kali per menit, pada ulangan kedua
yaitu 64 kali per menit, sehingga dapat diperoleh rata-rata yaitu 61
kali per menit .
Pada percobaan ke tiga yaitu perbedaan kecepatan denyut
jantung dan denyut nadi, untuk denyut jantung dilakukan dengan
menepelkan stetoskop pada ruang sela iga ke 5 di sebelah kiri sternum
dekat puting susu kiri sehingga diperoleh hasil yaitu 89 kali denyut
sedangkan untuk denyut nadi dilakukan dengan menekan arteri
dengan ujung jari kedua dan ketiga dan kemudian dikendorkan secara
pelan-pelan sehingga diperoleh hasil yaitu 44 kali denyut. Pada
percobaan ke empat yaitu pengukuran tekanan arteri (sistol dan
diastol) dengan menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop
yang diletakkan pada lengan sehingga diperoleh hasil yaitu sistol 128
dan diastol 90. Sedangkan untuk pengukuran tekanan pada vena
dipeoleh hasil dengan rumus yaitu :
1,056 . Xa
Pv = 13,6 mm Hg

= 11, 26 mm Hg
Dari hasil diatas dapat diperoleh kesimpulan sementara yaitu
untuk waktu dari suara pertama dari denyut jantung selanjutnya lebih
lama dibandingkan dengan suara kedua dari satu denyut jantung.
Untuk perbedaan denyut jantung dan denyut nadi mendapatkan
kesimpulan sementara yaitu denyut jantung lebih banyak
dibandingkan dengan denyut nadi.

G. Pembahasan
a. Mendengarkan Suara Jantung
Katup jantug terbagi menjadi dua, yang pertama merupakan katup yang
menghubungkan antara atrium dengan ventrikel yang disebut dengan katub
atrioventrikuler, sedangkan yang kedua merupakan katub yang menghubungkan sirkulasi
pulmonal dengan sirkulasi sistemik, katub ini disebut dengan katub semilunar. Katub
atrioventrikular dibagi menjadi dua bagian yaitu katub trikuspidalis dan katub mitral.
Katub mitral merupakan katub yang menghubungkan antara atrium kiri dengan ventrikel
kiri. Katub mitral ini berada disekitar ruang iga kiri kelima (Tortora, 1984).
Bunyi jantug merupakan getaran dengan berbagai intensitas (kekerasan), frekuensi
(tinggi nada) dan kualitas (warna suara). Suara jantung digambarkan dengan lup dan
dup dengan urutan lup-dup istirahat lup-dup istirahat dan seterusnya. Suara jantung
pertama (lup) diasosiasikan dengan penutupan klep atrioventrikuler (AV) pada permulaan
sistol. Suara jantung yang kedua (dup) umumnya diasosiasikan dengan menutupnya
katup semilunar yang bertepatan dengan akhir sistol (Basoeki, 2000).
Murmur merupakan bunyi aliran darah dalam saluran vaskular. Daerah mitral
biasanya disebut dengan daerah prekordial, trikuspid, aortik, dan pulmonal. Murmur
yang berasal dari katup katup tersebut selalu terdengar lebih jelas dibandingkan dengan
daerah lain (Gray, 2005). Hal ini sesuai dengan praktikum yang kami lakukan, dimana
pada saat kami membandingkan suara jantung dari katup mitral dan katup semilunar,
suara dari katup mitral terdengar lebih jelas dibandingkan dengan katup semilunar.
Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa interval waktu lup-dup lebih cepat
jika dibandingkan dengan interval waktu dup-lup. Katup mitral mempunyai interval
waktu lup-dup 0,04 s, dan katup semilunar memiliki interval waktu lup-dup 0,04 s.
Sedangkan interval waktu dup-lup dari katup mitral adalah 0,05 s dan katup semilunar
0,06 s. Data yang kami dapatkan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Gray
(2005) dimana fase istirahat antara dup-lup mempunyai rentang waktu lebih lama jika
dibandingkan dengan fase istirahat antara lup-dup baik pada katup mitral maupun pada
katub semilunar. Menurut Tortora (1984) lamanya fase istirahat antara satu siklus dengan
siklus lainnya (lup-dup) merupakan dua kali periode istirahat dup-lup, hal ini tidak sesuai
dengan praktikum yang kami lakukan, dimana fase istirahat pertama dan kedua hanya
selisih 0,01 s untuk katup mitral dan 0,02 s untuk katup semilunar (tidak mencapai dua
kali lipatnya). Ketidakcocokan ini merupakan kesalahan praktikan dalam melakukan
pengamatan salah satu penyebabnya adalah kurang teliti pada saat mengukur lama waktu
istirahat dari kedua fase istirahat.
b. Palpasi Denyut Nadi Radialis
Denyut nadi merupakan frekuensi irama denyut jantung yang dapat dipalpasi
(diraba) dipermukaan kulit pada tempat tempat tertentu. Denyut nadi ini biasanya dipakai
sebagai tolok ukur kondisi jantung seseorang (Basoeki, 2000).
Frekuensi denyut nadi seseorang sama dengan frekuensi denyut dari jantung.
Denyutan dinyatakan sebagai ekspansi dan dorongan balik arteri secara bergantian.
Faktor penyebab terjadinya denyutan, sehingga dapat dirasakan yang pertama adalah
pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek dari jantung ke aorta, yang
tekanannya secara bergantian naik-turun dalam pembuluh darah. Bila darah mengalir
tetap dari jantung ke aorta, tekanan akan tetap, sehingga tidak ada denyutan. Kedua,
elastisitas dinding arteri yang memungkinkan meneruskan aliran darah dan aliran balik.
Bila dinding tidak elastis, masih tetap ada pergantian tekanan tinggi-rendah dalam sistol
dan diastol ventrikel, namun dinding tersebut tidak dapat melanjutkan aliran dan
mengembalikan aliran sehingga denyut pun tidak dapat dirasakan (Soewolo, 1999).
Menurut Basoeki (2000) denyut nadi biasanya terdapat pada arteri karotid disisi
leher, arteri radial pada sisi lateral permukaan pergelangan tangan pada pangkal ibu jari,
arteri brakhial pada fosa antekubital, serta pada arteri temporal anterior telinga didaerah
pelipis. Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa rata rata palpasi denyut nadi
model adalah 61 permenit, data ini diperoleh dengan cara melakukan palpasi denyut nadi
radialis pada pergelangan tangan. Data yang didapat tidak sesuai dengan teori yang
diungkapkan oleh Campbell (2004), dimana manusia dewasa normal yang sedang
beristirahat memiliki denyut nadi sekitar 75 kali permenit. Ketidaksesuaian data yang
didapat dengan teori ini disebabkan karena berbagai macam faktor, salah satunya adalah
tidak telitinya praktikan saat melakukan pengukuran frekuensi denyut jantung, faktor lain
yang dapat mempengaruhi denyut jantung adalah jenis kelamin, usia, berat badan,
keadaan fikiran (tingkat emosi), serta suhu lingkungan (Gray, 2005).
c. Perbedaan Denyut Jantung dengan Denyut Nadi
Denyut jantung merupakan jumlah detak jantung dalam satu menit. Detak tersebut
disebabkan karena adanya darah yang didorong keseluruh tubuh sehingga mengubah
tekanan darah dan sehingga terjadi denyutan arteri utama. Denyut nadi merupakan
berapa kali arteri (pembuluh darah bersih) mengembang dan berkontraksi dalam satu
menit sebagai respon terhadap detak jantung (Tortora, 1984).
Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa denyut jantung model dalam satu
menit adalah 89 kali hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Djojodibroto
(2001) bahwa denyut jantung normal manusia dewasa rata rata adalah 70-90 kali
permenit. Denyut jantung akan naik seiring dengan dengan kenaikan suhu badan
(Djojodibroto, 2001).
Menurut Gray (2005) jumlah denyut nadi sama dengan detak jantung, hal ini
dikarenakan kontraksi jantung menyebabkan peningkatan tekanan darah dan denyut nadi
di arteri. Namun pada praktikum kami jumlah denyut jantung permenit memiliki selisish
yang cukup banyak jika dibandingkan dengan denyut nadi, denyut jantung model adalah
89 kali permenit, sedangkan denyut nadi nya adalah 44 kali permenit. Ketidaksesuaian
praktikum yang kami lakukan dengan teori yang ada ini merupakan suatu kesalahan yang
dilakukan oleh praktikan pada saat melakukan pengukuran, faktor lain yang
menyebabkan terjadinya kesalahan adalah pengaruh internal atau eksternal seperti suhu
lingkungan dan keadaan emosi dari model ketika dilakukan pengukuran denyut jantung
dan denyut nadi berbeda, sehingga hasil dari keduanya juga berbeda, karena pengukuran
dari denyut jantung dan denyut nadi tidak dilakukan tidak dilakukan secara bersamaan.
d. Tekanan Vena dan Tekanan Arteri
Tekanan vena merupakan tekanan didalam atrium kanan atau vena vena besar
dalam rongga toraks. Tekanan darah pada arteri dibagi menjadi tekanan sistol dan
tekanan diastol. Tekanan sistol merupakan tekanan darah pada saat ventrikel kiri
berkontraksi. Sedangkan tekanan diastol merupakan tekanan darah ketika ventrikel kiri
berelaksasi (Gray, 2005).
Menurut Djojodibroto tekanan vena rata rata adalah 5,5 mmHg, sedangkan data
yang didapat dari praktikum yang kami lakukan adalah 11,26 mmHg. Data tersebut tidak
sesuai dengan teori, ketidak sesuaian data dengan teori tersebut merupakan kesalahan
yang dilakukan praktikan pada saat melakukan penelitian.
Berdasarkan data dapat diketahui bahwa tekanan arteri dari model adalah 128/90
mmHg. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Gray (2005) dimana
tekanan arteri orang normal dewasa adalah 120/80 mmHg, ketidaksesuaian data dengan
teori ini disebabkan karena model yang diukur tekanan darahnya pernah mempunyai
riwayat penyakit tekanan darah tinggi.

H. Kesimpulan
1. Diastol adalah fase relaksasi atrium dan ventrikel. Hal ini terjadi setelah repolarisasi
berikutnya dari otot jantung. Sedangkan sistol adalah fase kontraksi atrium dan
ventrikel. Hal ini terjadi karena penyebaran perangsangan (eksitasi) seberang jantung.
Tindakan kontraksi atrium disebut sistol atrium, sedangkan untuk kontraksi ventrikel
disebut sistol ventrikel. Selama sistol atrium, darah pada atrium dipaksa ke ventrikel
melalui katup atrioventrikular. Kemudian, siklus jantung adalah periode dimulainya
satu denyutan jantung dan awal dari denyutan selanjutnya. Setiap siklus dimulai oleh
pembentukan potensial aksi yang spontan di nodus sinus.
2. Stetoskop merupakan alat untuk mendengarkan suara jantung, yang memberikan
informasi penting tentang kondisi jantung. Stetoskop tidak memperkeras suara, tetapi
hanya merupakan alat penghantar suara. Dengan stetoskop, dapat terdengar bunyi
jantung normal, yang biasanya dideskripsikan sebagai lub, dub, lub, dub. Bunyi
lub dikaitkan dengan penutupan katup atrioventrikulat (mitral dan trikuspid) pada
permulaan sistol, dan bunyi dub dikaitkan dengan penutupan katup semilunar (aorta
dan pulmonalis) pada akhir sistol. Bunyi lub disebut suara jantung pertama (S1) dan
bunyi dub disebut suara jantung kedua (S2), karena siklus normal jantung dianggap
dimulai pada permulaan sistol ketika katup atrioventrikular menutup lebih jelasnya
pada saat bunyi lub.
3. Panjang normal antara suara jantung kedua dengan suara jantung pertama berikutnya
kira-kira dua kali lebih lama daripada waktu antara suara jantung pertama dan suara
jantung kedua dalam siklus jantung. Secara normal, katup mitral terbuka sedikit lebih
cepat sebelum katup trikuspidal. Sama dengan pada katup mitral dan trikuspidal, pada
katup semilunar juga terdapat desinkronisasi penutupan katup. Katup semilunar aortik
secara normal mengatup dengan bunyi keras lebih dulu daripada katup semilunar
pulmonari. Bila nafas ditarik pelan-pelan dan dalam, maka pengisian ventrikel kanan
akan sedikit tertunda sebab pembuluh darah pulmonari tertekan oleh peningkatan
tekanan intrapulmonari. Penutupan katup tersebut kurang lebih selama 0,4 detik.
4. Tempat pada toraks yang mendengar suara jantung pertama dan kedua dengan jelas
disebelah kiri dinding toraks, dengan cara meletakkan jari tengah kiri pada dinding
kiri pada dinding toraks dan mengetuk dengan jari tengah tangan kanan.
5. Tekanan vena rata rata adalah 5,5 mmHg, sedangkan tekanan daah model pada
paktikum ini adalah 11,26 mmHg. Sedangkan tekanan arteri rata rata orang normal
adalah 120/80 mmHg, dan tekanan arteri model pada praktikum ini adalah 128/90
mmHg.
DAFTAR PUSTAKA
Basoeki, Soedjono., Soewolo., Annie, Istanti., dkk. 2000. Petunjuk Praktikum Anatomi dan
Fisiologi Manusia. Malang : Universitas Negeri Malang
Campbell, Neil A., Reece, John B. Mitchell, Lawrence G. 2004. Biologi Jilid III. Jakarta :
Erlangga
Djojodibroto, Darmanto. 2001. Seluk Beluk Pemeriksaan Kesehatan. Jakarta : Pustaka
Populer Obor
Gray, Huon H., Dawkinds, Keith D., Morgan, John M., dkk. 2005. Kardiologi. Jakarta :
Erlangga
Tortora, G. dan Nicholas P.A.. 1984. Principles of Anatomy and Physiology. New York: D
Van Nostran Company
Soewolo., Basoeki, Soedjono., Yudani, Titi. 1999. Fisiologi Manusia. Malang : Universitas
Negeri Malang
Soewolo. 2003. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.