Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA KULIAH

SEMINAR PERPAJAKAN
Aspek Perpajakan Perusahaan Persewaan Tanah BangunanPT
Bumi Serpong Damai Tbk

Kelas BY Kelompok 8

Kevin Kendi 125130082


Angelina Setya D. 125130129
Lina Meliany 125130132
Michelle Gracia D. 125130142
Yolanda 125130145
Selly Tan 125130146
Florencia 125130443

SEMESTER GANJIL 2016/2017

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS


TARUMANAGARA
TAHAP I

1. Gambaran Umum Tentang Industri Persewaan Tanah Bangunan

Industri real estate dan properti pada umumnya merupakan dua hal yang berbeda. Real estate
merupakan tanah dan semua peningkatan permanen di atasnya termasuk bangunan-
bangunan, seperti gedung, pembangunan jalan, tanah terbuka, dan segala bentuk
pengembangan lainnya yang melekat secara permanen. Menurut peraturan perundang-
undangan di Indonesia, pengertian mengenai industri real estate tercantum dalam
PDMN No. 5 Tahun 1974 yang mengatur tentang industri real estate. Dalam peraturan
ini, pengertian industri real estate adalah perusahaan properti yang bergerak dalam
bidang penyediaan, pengadaan, serta pematangan tanah bagi keperluan usaha-usaha
industri, termasuk industri pariwisata. Sedangkan definisi property menurut SK
Menteri Perumahan Rakyat No.05/KPTS/BKP4N/1995, Pasal 1 ayat 4, properti
adalah tanah hak dan atau bangunan permanen yang menjadi objek pemilik dan
pembangunan. Dengan kata lain, properti adalah industri real estate ditambah
dengan hukum-hukum seperti sewa dan kepemilikan.

Produk yang dihasilkan dari industri real estate dan properti berupa perumahan,
apartemen, rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan), gedung perkantoran (office
building), pusat perbelanjaan berupa mall, plaza, atau trade center. Perumahan, apartemen,
rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan), dan gedung perkantoran (office building)
termasuk dalam landed property. Sedangkan mall, plaza, atau trade center termasuk dalam
commercial building. Perusahaan real estate dan properti merupakan salah satu sektor
industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perkembangan industri real
estate dan properti begitu pesat saat ini dan akan semakin besar di masa yang akan
datang. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk sedangkan
suplai tanah bersifat tetap. Diawal tahun 1968, industri real estate dan properti mulai
bermunculan dan mulai tahun 80-an, industri real estate dan properti sudah mulai
terdaftar di BEI. Adapun jumlah perusahaan real estate dan properti yang terdaftar di
BEI pada tahun 2003 berjumlah 30 perusahaan dan pada tahun 2009 terdapat 41
perusahaan.

Mengingat perusahaan yang bergerak pada sektor real estate dan properti tersebut
adalah perusahaan yang sangat peka terhadap pasang surut perekonomian, maka seiring
perkembangannya sektor real estate dan properti dianggap menjadi salah satu sektor yang

1
mampu bertahan dari kondisi ekonomi secara makro di Indonesia. Terbukti dengan
semakin banyaknya sektor real estate dan properti yang memperluas landbank (aset berupa
tanah), melakukan ekspansi bisnis, dan hingga tahun 2012 sektor real estate dan
properti yang terdaftar di BEI bertambah menjadi 55 perusahaan.

2. Kegiatan Usaha

Industri real estate dan properti memiliki berbagai aktivitas dalam operasionalnya. Secara
umum, kegiatan usaha pada industri real estate dan properti adalah sebagai berikut:

1. Bertindak atas nama pemilik dalam segala hal mengenai pemeliharaan dan
pengelolaan baik rumah tinggal, kondominium apartemen, dan bangunan
lainnya.
2. Industri real estate dan properti bertindak untuk mengelola proyek-proyek
pembangunan dan pengembangan, melakukan perbaikan dan pemeliharaan
gedung.
3. Bergerak dalam bidang usaha pengembang dan pembangunan (real estate)
dengan melakukan investasi melalui anak perusahaan.
4. Usaha konstruksi dan pembangunan real estate serta perdagangan umum.
5. Persewaan perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel, pembangunan
perumahan, hotel, dan apartment beserta segala fasilitasnya.
6. Menjalankan usaha di bidang kawasan industri berikut sarana penunjangnya,
seperti pembangunan perumahan atau apartemen, perkantoran/pertokoan,
pembangunan dan pengelolaan instalasi air bersih, limbah, telepon, listrik,
penyediaan fasilitas olahraga dan rekreasi di kawasan industri, serta ekspor
dan impor barang.
7. Pengembangan kota (urban development), yang meliputi pengembangan
kawasan perumahan dan industri, pembangunan infrastruktur dan fasilitas
umum, penyediaan jasa-jasa pendukung.
8. Pengembangan real estate, golf dan country club, serta kantor dan
perdagangan.
9. Pengelolaan fasilitas rekreasi dan restoran.

Industri properti, terdiri dari properti komersial dan properti nonkomersial. Di dalam
perusahaan, properti terbagi kedalam tiga bagian, yaitu properti berwujud, properti tidak
berwujud, dan surat berharga. Properti berwujud dibagi menjadi dua bagian, yaitu
real properti yang merupakan perusahaan pengembangan tanah, bangunan, dan lain-lain,
dan personal properti yang meliputi mesin, peralatan, perlengkapan dan furnitur, barang
bergerak, peralatan operasional, dan perhiasan. Properti tidak berwujud meliputi goodwill,
2
hak paten, franchises, merek dagang, hak cipta, dan proses kepemilikan. Adapun surat
berharga meliputi saham, investasi, deposito, dan piutang dagang. Beberapa jenis usaha
industri real estate dan properti meliputi:

1. Penilaian, yaitu profesional penilaian layanan.


2. Brokerages, yaitu membantu pembeli dan penjual dalam transaksi.
3. Pengembangan, yaitu meningkatkan lahan untuk penggunaan dengan
menambahkan atau mengganti bangunan.
4. Manajemen properti, yaitu pengelola properti untuk pemiliknya.

3. Aspek Perpajakan dari Kegiatan Usaha

Dasar Hukum

1. PP 29 TAHUN 1996 yang telah dubah terakhir dengan PP-5 TAHUN 2002 tentang
Pembayaran PPh Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
2. KMK-394/KMK.04/1996 yang telah diubah terakhir dengan KMK-
120/KMK.03/2002 Tentang Pelaksanaan Pembayaran dan Pemotongan PPh Atas
Penghasilan Dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
3. KEP - 227/PJ./2002 Tentang tatacara Pemotongan dan Pembayaran, serta Pelaporan
PPh Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
4. KEP - 50/PJ./1996 Tentang Penunjukan WP OP dalam negeri tertentu sebagai
pemotong PPh Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan

Pengertian

Penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan sehubungan dengan
persewaan tanah dan/atau bangunan berupa tanah, rumah, rumah susun, apartemen,
kondominium, gedung perkantoran, pertokoan, atau pertemuan termasuk bagiannya, rumah
kantor, toko, rumah toko, gudang dan bangunan industri, terutang Pajak Penghasilan yang
bersifat final.

Objek dan Tarif

Besarnya Pajak Penghasilan yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi maupun Wajib
Pajak badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari persewaan tanah dan atau
bangunan adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan atau
bangunan dan bersifat final.

Yang dimaksud dengan jumlah bruto nilai persewaan adalah semua jumlah yang dibayarkan
atau terutang oleh pihak yang menyewa dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
3
berkaitan dengan tanah dan atau bangunan yang disewa, termasuk biaya perawatan, biaya
pemeliharaan, biaya keamanaan dan service charge baik yang perjanjiannya dibuat secara
terpisah maupun yang disatukan dengan perjanjian persewaan yang bersangkutan.

Pemotong PPh

(1) Apabila penyewa adalah badan pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, kerjasama operasi, perwakilan perusahaan luar
negeri lainnya, dan orang pribadi yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak, Pajak
Penghasilan yang terutang wajib dipotong oleh penyewa. *)

(2) Apabila penyewa adalah orang pribadi atau bukan Subjek Pajak Penghasilan selain yang
tersebut pada butir (1) maka Pajak Penghasilan yang wajib dibayar sendiri oleh pihak yang
menyewakan **)

orang pribadi yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak

a. Akuntan, arsitek, dokter, Notaris, Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) kecuali PPAT
tersebut adalah Camat, pengacara, dan konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas;

b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan;

yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam negeri.

Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri tsb wajib memotong Pajak Penghasilan atas
penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan.

Kepala Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan Surat Keputusan Penunjukan sebagai


Pemotong Pajak Penghasilan atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan
kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri

Saat Terutang

PPh atas Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan tsb terutang pada saat
pembayaran atau terutangnya sewa

Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan

*) Dalam melaksanakan pemotongan Pajak Penghasilan persewaan tanah dan/atau bangunan


tsb pihak penyewa wajib:

4
a. Memotong Pajak Penghasilan yang terutang pada saat pembayaran atau terutangnya sewa,
tergantung peristiwa mana lebih dahulu terjadi;

b. Menyetor Pajak penghasilan yang terutang ke Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro
paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan takwin berikutnya setelah bulan pembayaran atau
terutangnya sewa;

c. Melaporkan pemotongan dan penyetoran Pajak penghasilan yang terutang ke Kantor


Pelayanan Pajak paling lambat tanggal 20 (dua puluh) bulan takwin berikutnya setelah bulan
pembayaran atau terutangnya sewa;

**) Dalam melaksanakan penyetoran sendiri Pajak Penghasilan atas persewaan tanah
dan/atau bangunan tsb, pihak yang menyewakan wajib:

a. Menyetor Pajak penghasilan yang terutang ke Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro
paling lambat tanggal 15 (lima belas) bulan takwin berikutnya setelah bulan pembayaran atau
terutangnya sewa;

b. Melaporkan pemotongan dan penyetoran Pajak penghasilan yang terutang ke Kantor


pelayanan Pajak paling lambat tanggal 20 (dua puluh) bulan takwin berikutnya setelah bulan
pembayaran atau terutangnya sewa;

Dalam pembukuan Wajib Pajak yang menyewakan, wajib dipisahkan antara penghasilan dan
biaya yang berhubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan dengan penghasilan dan
biaya lainnya.

Bagi Wajib Pajak yang semata-mata bergerak di bidang usaha persewaan tanah dan atau
bangunan tidak diwajibkan membayar Pajak Penghasilan Pasal 25.

TAHAP II

1. Gambaran Umum Tentang PT Bumi Serpong Damai Tbk

PT Bumi Serpong Damai Tbk, salah satu pengembang kota mandiri terbesar di Indonesia,
yang juga merupakan bagian dari Sinar Mas Land, berdiri sejak tahun 1984 untuk
membangun kota BSD City yang terletak di sebelah abrat daya Jakarta. Dengan luas area

5
kurang separuh dari kota Paris, BSD city merupakan sebuah perencanaan tata area komersil
dan bisnis. Dengan luas sekitar 6000 hektar, BSD city masih menyisakan 3/4 luas lahan yang
menantikan pembangunan selanjutnya.

Pembangunan BSD City bertumpu pada satu hal, bagi orang yang menetap, bekerja dan
bersenang-senang di dalamnya. Penghuni kelak akan menikmati berbagai Kenyamanan
Hidup Berkualitas dalam rumah yang nyaman, ruang bisnis, dan tempat berbelanja, serta
berbagai sarana pendidikan sekaligus berrekreasi dalam satu kota, lingkungannya pun lebih
sehat untuk dihuni.

Perencanannya didasarkan pada visi komunitas berbasis kota, sehingga dapat dijumpai
berbagai perumahan berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, kawasan bisnis berteknologi
tinggi serta dikelola secara profesisonal, dan tersediannya berbagai fasilitas hiburan dan
rekreasi. Sejak tahun 2008, Perusahaan menjadi perusahaan publik yang tercatat di Bursa
Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar per 31 Desember 2011 sebesar 17 triliun.

VISI
Menjadi pengembang kota mandiri terkemuka dengan membangun kota yang nyaman,
dinamis, dan lingkungan yang sehat.

MISI
Membangun kota baru yang menyediakan produk pemukiman untuk semua segmen
serta produk komersil yang meliputi usaha kecil, mengengah sampai dengan
perusahaan besar.
Meningkatkan nilai tambah kepada para pemangku kepentingan

Board of Commisioners

1. Muktar Widjaja - President Commisioner


2. Franky Oesman Widjaja - Vice President Commisioner
3. Benny Setiawan Santoso - Commisioner
4. Welly Setiawan Prawoko - Commisioner
5. Teky Mailoa - Commisioner
6. Teddy Pawitra - Independent Commisioner
7. Susiyati Bambang Hirawan - Independent Commisioner
8. Edwin Hidayat - Independent Commisioner

Board of Directors

1. Franciscus Xaverius Ridwan Darmali - President Director


2. Michael J.P. Widjaja - Vice President Director
6
3. Petrus Kusuma - Director
4. Syukur Lawigena - Director
5. Hermawan Wijaya - Director
6. Lie Jani Harjanto - Director
7. Hongky Jeffry Nantung - Director
8. L. Herry Hendarta - Director
9. Monik Wiliam - Independent Director

2. Kegiatan Usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (Bentuk & Jenis Kegiatan dan
Perjanjian)

PT Bumi Serpong Damai Tbk mengembangkan real estate termasuk infrastruktur perumahan,
komersial, dan kawasan industri , kursus golf, dan berbagai sarana dan fasilitas umum.

Dengan melihat tabel di bawah, kita melihat perusahaan memiliki berbagai macam portofolio
properti kota besar di Indonesia di mana mereka dapat mengembangkan asetnya, kemudian
mereka dapat menjual atau menyewakan aset tersebut kepada pelanggan sebagai aliran
pendapatan mereka.

Untuk gambaran besar, aliran pendapatan perusahaan berasal dari penjualan pendapatan
pengembangan ( 83 % di FY14 ) dan pendapatan berulang ( 17 % di FY14 ). 3 segmen
kontributor pendapatan pengembangan berasal dari segmen pembangunan kota dan
perkotaan, tanah dan segmen residensial, dan segmen apartemen. Selain itu, 3 segmen
kontributor perusahaan berulang pendapatan berasal dari segmen gedung perkantoran, pusat
perbelanjaan dan segmen superblok , dan segmen hotel dan rekreasi.

7
3. Aspek Perpajakan dari Kegiatan Usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk

Terlampir

4. Laporan Keuangan PT Bumi Serpong Damai Tbk

Terlampir